1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

gadis kinclong bernama EM … 070310 7 Maret 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:58 am

EVA Momentum: Rasio Tunggal Pengukur Kinerja
Posted By Edison Lestari On March 5, 2010 @ 11:41 am In My Article

Kinerja bisnis biasanya diukur dan dievaluasi dengan menggunakan rasio. Return on equity (ROE), return on investment (ROI), return on capital employed (ROCE) merupakan beberapa rasio yang sering dipakai oleh investor untuk menilai kinerja sebuah bisnis.
Karena ingin mendongkrak rasio ini (terutama ROE), perusahaan sering berusaha memperkecil ekuitasnya dengan memakai utang (debt) sebagai leverage. Di saat ekonomi baik, utang bekerja sebagai leverage positif. Perusahaan akan memiliki ROE yang bagus terus-menerus. Sebaliknya, di saat krisis menerpa, utang ini akan menjadi beban. Perusahaan yang terlalu banyak memakai leverage dari utang kemungkinan besar akan mengalami kesulitan di saat ekonomi sulit, misalnya di krisis global 2008/09.
Tahun 1990-an, Bennett Stewart dan Joel Stern mengemukakan konsep EVA (Economic Value Added) sebagai alat ukur penciptaan nilai (value creator). EVA didefinisikan sebagai nilai sisa pengurangan opportunity cost of invested capital dari net operating profit after tax. Secara matematis, EVA dirumuskan sebagai NOPAT – (capital invested X WACC)). Konsep pengukuran penciptaan nilai dengan EVA ini begitu diakuinya sampai perusahaan sekelas Coca- Cola, GE dan AT&T pun menggunakan konsep ini sebagai alat manajemennya.
Mari kita lihat perbedaannya dari akuntansi tradisional. Katakanlah sebuah perusahaan memiliki modal (utang dan saham) Rp 10 juta dan mendapatkan untung Rp 1 juta. Akuntansi tradisional akan mengatakan bahwa perusahaan mendapatkan tingkat pengembalian modal sebesar 10%. Masalahnya, bagaimana kalau, misalnya, bunga utang dan tingkat pengembalian saham yang diminta adalah 15%? Dari sudut pandang EVA, perusahaan tersebut sebenarnya mengalami penurunan nilai pemegang saham sebesar 5%.
Pada 2006, Stewart memisahkan diri dari Stern dan mengembangkan konsep EVA lebih lanjut. Konsep EVA “turunan” ini diberi nama EVA Momentum. Pada musim semi 2009, Stewart menulis pemikirannya untuk pertama kalinya dalam artikel ”EVA Momentum: The One Ratio that Tells the Whole Story” di Morgan Stanley Journal of Applied Corporate Finance.
Apa yang membedakannya dari EVA generasi sebelumnya? EVA Momentum memakai perubahan EVA dibagi dengan penjualan dari satu periode sebelumnya. Katakanlah penjualan sebuah perusahaan di periode sebelumnya Rp 100 juta, sedangkan EVA-nya naik Rp 1 juta, berarti EVA Momentum-nya adalah 1%.
Rasio ini menjelaskan segalanya dengan gamblang mengenai kinerja sebuah bisnis. Apabila EVA Momentumnya positif, artinya kinerjanya tumbuh. Apabila negatif, artinya kinerjanya mundur. Tidak ada multiinterprestasi atas rasio ini. Stewart menyatakan bahwa rasio EVA Momentum merupakan rasio di mana “lebih besar pasti lebih baik”.
Stewart juga mengemukakan bahwa rasio ini sudah mencakup semua alat ukur, misalnya efisiensi pendapatan, kekuatan harga, business mix, pengelolaan aset, pertumbuhan dan strategi. Angka nominator (pertumbuhan EVA) merupakan hasil dari manajemen finansial dan operasional, sedangkan angka bawah (pertumbuhan penjualan) adalah hasil dari manajemen pemasaran.
“Rahasia” untuk meningkatkan rasio apa pun adalah menurunkan pembaginya sebesar mungkin. Rahasia untuk meningkatkan ROE adalah dengan menekan ekuitasnya serendah mungkin (dan memakai utang sebanyak mungkin). Dalam EVA Momentum, manajemen tidak mungkin bisa menekan pembaginya karena angka tersebut adalah nilai penjualan periode sebelumnya. Lebih lanjut, EVA Momentum juga mengukur nilai EVA dan penjualan dari waktu ke waktu, sehingga manajemen tidak memiliki insentif untuk memanipulasi angkanya untuk periode tertentu karena akan mempersulit dirinya di masa depan.
Dalam risetnya, Stewart mengemukakan bahwa perusahaan yang memiliki pertumbuhan EVA Momentum terbaik dalam waktu lima tahun terakhir adalah Gilead Sciences (24,3%), Google (22,7%) and Apple (12,1%).
Konsep EVA Momentum memang masih sangat baru. Fortune edisi 18 Januari 2010 mengklaim dirinya sebagai majalah pertama yang mengulas EVA Momentum. Mungkin SWA merupakan majalah pertama di Indonesia yang mengulas konsep ini. Semoga di edisi EVA tahun ini, SWA memelopori adopsi konsep EVA Momentum di Indonesia.
*) Penulis bekerja di development planning perusahaan minyak asing.

A new financial checkup

By Geoff Colvin, senior editor at largeJanuary 11, 2010: 9:07 AM ET

(Fortune Magazine) — In business as in life, be careful what you wish for. I know a company that wished for a better return on equity. What could be wrong with that? It paid its executives according to that measure, and man, did they deliver. In some years the firm had the best ROE in its industry. It was winning bigtime.

The firm was Lehman Brothers, now dead because managing for ROE caused executives to overborrow; after all, debt is capital that earns a return (in good times). Yet it isn’t equity, so extreme leverage simply juices ROE until bad times arrive. Wishing for the wrong thing — managing for the wrong ratio — killed the company.

The larger, chilling reality is that every other ratio out there can lead to the same disaster. Gross margin? Earnings per share? It’s easy to make any of them look better while damaging the business.

Which is why a new ratio that you’ve never heard of, EVA momentum, is so intriguing. It has been developed by consultant Bennett Stewart, one of the creators (with Joel Stern) of the measure called economic value added, or EVA.

Now used by myriad firms, including Siemens (SI), Best Buy (BBY, Fortune 500), and Herman Miller (MLHR), EVA is essentially profit after deducting an appropriate charge for all the capital in the business. Because it accounts for all capital costs, its proponents say, EVA is the best measure of value creation.

Now Stewart is making a bold claim about his latest idea: EVA momentum, he says, is the one ratio that can’t be manipulated. “It’s the only percent metric where more is always better than less,” he says. “It always increases when managers do things that make economic sense.” If he’s right, it is worth knowing about — for managers at every level and for investors.

EVA momentum is a simple concept.
It’s the change in a business’s EVA divided by the prior period’s sales.

So if a company increases its EVA by $10 million and the prior period’s sales were $1 billion, then its EVA momentum is 1%. That’s not bad, considering that for most companies this figure is zero or negative, and the average for many companies is generally around zero.

Stewart’s firm, EVA Dimensions, has crunched the five-year data for firms with revenues of at least $1 billion. The three top performers by EVA momentum: Gilead Sciences (with an average annual EVA momentum of 24.3%), Google (22.7%), and Apple (12.1%).

It’s no surprise to see those names identified as excellent performers; what’s interesting is the way they did it. The key insight is that achieving high EVA momentum requires a business to do two difficult things at once. It must grow while at the same time maintaining healthy EVA profit margins or improving poor ones.

Apple (AAPL, Fortune 500) and Gilead (GILD, Fortune 500), a biopharmaceutical company, grew spectacularly while also increasing their EVA profit margins impressively; Google (GOOG, Fortune 500) simply maintained an excellent EVA profit margin while growing sales 760% during the five years. That combination of increasing sales and an excellent or improving EVA is the extremely rare basis of great financial performance.

Can this ratio be gamed?
It’s hard to see how. A popular gambit of conniving managers is to shrink a ratio’s denominator recklessly, which is what Lehman executives did when they cut the E in ROE dangerously low. But the denominator in EVA momentum is the last period’s sales, so it’s fixed going in. Relentlessly jacking up EVA — the numerator — is difficult; a proper calculation of EVA values spending on R&D and employee training, the kinds of long-term investments that help companies over time.

EVA momentum is brand-new — Fortune is the first to write about it — and while Stewart has measured it in hundreds of companies, real businesses have yet to apply it. So we don’t know what will happen when this ratio confronts actual managers trying to make actual profits. But when a big new idea comes along, adopting it first creates a major advantage. This could be one of those times.

EVA momentum: How to get it right
1. Don’t obsess about sales. Managers fixate on how to increase their company’s revenues, but if it doesn’t boost EVA, it does nothing to create value.

2. Bail out of EVA-negative businesses. Ford’s sale of capital-intensive, EVA-sapping Jaguar and Land Rover shrank the company, but in the end increased its value.

3. Annihilate wasted capital. Cutting working capital, as Wal-Mart (WMT, Fortune 500) did in 2009, and offloading unproductive assets are great opportunities to build EVA when growth is slow.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )


Connecting to %s