1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

panik, sebuah fenomena wajar bei … 180310 18 Maret 2010

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 8:25 pm

Arman Boy
Associate Analyst Vibiz Research Centre
Mengupas Fenomena Panic Selling & Panic Buying di Bursa Saham ; Apakah Sebaiknya yang Dilakukan Investor?
Kamis, 11 Februari 2010 12:18 WIB
(Vibiznews – Stocks) – Mengapa saham BUMI bisa turun hingga 20% dalam sehari? Mengapa saham BUMI juga bisa naik hingga 20% dalam sehari? Fenomena seperti ini sering terjadi di seluruh bursa saham di dunia. Situasi seperti ini ditengarai disebabkan oleh panic selling dan panic buying. Dalam tulisan ini, kita akan mengupas kedua fenomena tersebut dan apa pelajaran yang dapat kita tarik sebagai seorang investor.

Panic Selling
Panic selling bisa diartikan sebagai aksi penjualan besar-besaran pada suatu saham oleh investor. Aksi ini biasanya disebabkan karena investor panik mendengar suatu berita yang berhubungan dengan ekonomi atau emiten, sehingga mereka beramai-ramai menjual sahamnya. Tekanan jual pada suatu saham tersebut tidak disertai dengan volume pembelian, sehingga memicu penurunan secara drastis dengan volume yang sangat tipis.

Fenomena ini terjadi karena sebagian besar investor saham adalah follower atau pengikut. Bila seorang investor besar atau bandar melakukan penjualan sahamnya dalam jumlah yang besar, biasanya investor ritel akan mengikuti tindakan investor besar tersebut. Hal tersebutlah yang memicu harga saham longsor sangat dalam.

Kasus penjualan besar-besaran pernah terjadi pada saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Tanggal 1 September 2008, saham bumi masih bertengger di harga Rp 5300. Kemudian harga terus melorot hingga Rp 710 pada tanggal 21 November. Anda bisa membayangkan dalamnya koreksi ini! Penurunan yang sangat tajam dalam jangka waktu yang sangat singkat ini dipicu oleh aksi penjualan pada saham BUMI secara besar-besaran oleh investor.

Saat itu, secara fundamental BUMI nyaris tidak memiliki masalah. Penurunan harga hanya karena kepanikan investor saja. Saham BUMI saat itu berulang kali mengalami penurunan hingga batas auto rejection bawah. Bahkan saham BUMI sempat dihentikan perdagangannya sementara atau suspend.

Panic Buying
Fenomena ini merupakan kebalikan dari panic selling yang sudah dijabarkan diatas. Disini investor melakukan pembelian terhadap suatu saham tanpa melihat nilai fundamental perusahaan. Pembelian ini dipicu oleh adanya berita yang memicu ekpekstasi yang positif terhadap emiten.

Fenomena ini baru saja terjadi pada saham PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) bulan Januari lalu. Tanggal 20 Januri, harga saham berada di level Rp 205 per lembar. Saham mengalami kenaikan selama 2 hari berturut-turut hingga mencapai Rp 280 pada 22 Januari. Berarti saham mengalami kenaikan harga hampir 40% hanya dalam 2 hari.

Inilah contoh dari aksi panic buying yang dilakukan investor. Aksi ini dipicu oleh adanya berita bahwa perseroan berencana untuk memasuki bisnis sektor pertambangan yang sedang mengalami booming saat ini. Berita ini mengakibatkan investor berekspektasi positif terhadap prospek perseroan.

Kesimpulan

Ternyata ada hal yang bisa kita dapatkan dengan mempelajari kedua fenomena di pasar modal ini. Pada umumnya investor ritel membuat keputusan investasi itu bukan berdasarkan akal sehat, melainkan berdasarkan emosi. Lantas apa yang dapat kita lakukan sebagai seorang investor?

Pada saat fenomena panic selling terjadi, disinilah pentingnya disiplin dalam cut loss. Jika portofolio kita sudah mengalami loss hingga poin tertentu, segera lakukan cut loss sebelum harga saham jatuh lebih dalam. Sebaliknya pada saatpanic buying terjadi, bertindaklah berdasarkan akal sehat. Jadilah investor yang logis, jangan lakukan transaksi berdasarkan emosi. Karena cepat atau lambat, harga pasti akan kembali ke nilai wajarnya. Tetapi bagi anda yang berani berspekulasi, sekedar ikut “numpang” di saham yang sedang mengalami panic buying juga bisa menghasilkan keuntungan. Asalkan anda menerapkan disiplin yang ketat dalam take profit dan cut loss sebelum anda “buntung”. Selamat berinvestasi dengan logis!

(Arman Boy Manullang/AB/vbn)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s