1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

saham bobo siap dikualikan … 180310 18 Maret 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:21 pm

Wahyu Sidarta
Associate Analyst Vibiz Research Center
Industri-industri Paling “Tidur” di IHSG, Hati-hati Terjebak
Kamis, 18 Maret 2010 16:32 WIB

(Vibiznews – Stocks) – Memilih saham-saham yang memiliki potensi dan prospek yang cerah adalah tidak mudah. Dibutuhkan suatu upaya dan analisis yang komprehensif untuk mengidentifikasinya. Hal tersebut dikarenakan banyaknya jumlah saham yang listing di Bursa Efek Jakarta yang terbagi dalam 9 sektor industri dan masing- masing industri ini mempunyai karakteristik yang berbeda.

Saham tidur bisa diibaratkan pisau bermata dua. Di satu sisi bisa sangat menguntungkan, di sisi lain sangat merugikan. Adapula risiko yang sangat tinggi di balik saham-saham tidur.

Dengan analisa yang matang, kita dapat memilih saham-saham tidur yang berprospek baik, sehingga pada saat harga mulai naik, kita dapat mendapat keuntungan maksimal. Namun risiko sangat tinggi, karena jika analisa kita salah, maka dana investasi kita akan terjebak di saham-saham tidur tersebut karena tidak likuid.

Tiga Besar Industri Paling Tidur di IHSG Tahun 2009

Industri mana yang paling tidur? Menurut data statistik BEI kuartal keempat 2009, dari sembilan industri (pertanian, pertambangan, industri dasar dan kimia, aneka industri, barang konsumsi, properti, infrastruktur, keuangan, serta perdagangan), yang tampak pergerakan harganya cukup terbatas adalah industri properti.

Sedangkan industri paling tidur kedua diduduki oleh industri infrastruktur dan posisi ketiga oleh industri perbankan.

Berikut beberapa contoh saham-saham yang kurang aktif diperdagangkan di periode Q4 2009:

Bagi anda yang ingin menginvestasikan dananya ke saham-saham tidur perlu berhati-hati karena saham-saham ini sangat tidak likuid dan berpotensi membuat dana investasi anda terjebak. Tetapi jika anda yakin betul kinerja keuangan dan prospek bisnisnya bagus, anda bisa saja mengoleksinya.

Mengapa Ketiga Industri Tersebut Tidur?

Dapat dilihat dari data historis bahwa indeks yang penguatannya tampak cukup terbatas adalah indeks properti dan infrastruktur yang hanya naik sekitar 40%-an sepanjang tahun 2009, di mana indeks lain rata-rata melesat sekitar 100%-an bahkan lebih.

Saham-saham properti memang lebih tergolong defensif, tetapi krisis yang terjadi di Amerika Serikat pada pertengahan 2008 lalu, di mana kasus subprime mortgage terjadi diakibatkan oleh ambruknya harga properti. Kasus tersebut menciptakan krisis ekonomi global, sehingga para investor tidak ingin menginvestasikan dananya ke investasi-investasi yang berhubungan dengan properti karena masih berisiko tinggi.

Sedangkan untuk indeks infrastruktur, pada tahun 2009 tampak ekspansi perseroan kurang agresif, terutama sektor telekomunikasi. Khususnya sektor telekomunikasi persaingannya tampak sudah cukup ketat.

Lalu indeks keuangan juga tercatat hanya meningkat 70%-an, hal ini karena pada tahun 2009 bank-bank swasta masih cukup hati-hati terhadap dampak krisis di Amerika Serikat sehingga masih cukup ketat dalam hal pemberian kredit, hanya saham bank-bank BUMN saja yang meningkat cukup signifikan karena lebih agresif memberikan kredit.

Kesimpulannya, lebih dianjurkan untuk tidak bermain saham-saham tidur karena berpotensi membuat dana investasi anda terjebak lantaran tidak ada pembelinya.

Selamat berinvestasi dan tetap waspada !!!

(Wahyu Sidarta/WS/vbn)
Nanda Sitepu
Associate Analyst Vibiz Research Center
Saham Lapis Ketiga: Lapisan Terbawah, Bisa Tawarkan Profit Tanpa Batas
Senin, 22 Februari 2010 15:35 WIB

(Vibiznews – Stocks) Hingga saat ini ada sekitar 404 emiten yang tergabung dalam listing Bursa Efek Indonesia. Namun dari 400-an emiten tersebut hanya sedikit sekali yang aktif di perdagangkan. Sebagai informasi, saham-saham yang di perdagangkan di Bursa Efek Indonesia bisa di bagi menjadi beberapa lapisan, yaitu lapis pertama (first liner), lapis kedua (second liner), dan lapis ketiga (third liner).

Saham lapis pertama biasa kita kenal sebagai saham-saham blue chip (berkapitalisasi besar), memiliki likuiditas yang tinggi (biasanya LQ 45) atau lebih sering disebut sebagai saham-saham unggulan. Saham-saham yang bisa dikategorikan saham lapis pertama antara lain saham PT Telekomunikasi Indonesia tbk (TLKM), PT Astra International Indonesia tbk (ASII), PT Bumi Resources tbk (BUMI), PT Tambang Batubara Bukit Asam tbl (PTBA), dan PT Bank Rakyat Indonesia tbk (BBRI).

Lalu ada lagi saham lapis kedua yang merupakan saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar lumayan dan frekuensi perdagangannya relatif stabil meskipun tidak besar. Saham-saham yang bisa dikategorikan sebagai saham lapis kedua antara lain saham PT Bumi Serpong Damai tbk (BSDE), PT Bank Perhimpunan Saudara tbk (SDRA), dan PT Mayora Indah tbk (MYOR)

Terakhir ada saham lapis ketiga adalah saham-saham yang memiliki kapitalisasi sangat rendah, likuiditas minim (bahkan seringkali tidak ada transaksi), sehingga memiliki risiko cukup tinggi. Namun dibalik hal-hal negatif tersebut, ternyata masih cukup banyak investor yang menanti pergerakannya karena bisa menawarkan profit tanpa batas , berikut ulasannya.

Saham-Saham Lapis Ketiga
Salah satu ciri saham lapis ketiga adalah kapitalisasi pasar yang rendah. Hal tersebut membuat saham-saham lapis ketiga mudah “digoreng” dikarenakan harga sahamnya relatif rendah. Lalu seberapa banyak saham-saham lapis ketiga yang ada di Bursa Efek Indonesia hingga saat ini ? Saham-saham manakah yang prospek? Dan Bagaimana menyiasatinya ?

Berikut gambarannya:

Ket: Market Cap berdasarkan data 19-02-2010
*Market Cap > Rp 10 triliun
**Market Cap Rp 500 miliar-10 triliun
*** Market Cap < Rp 500 miliar
*** Likuiditas berdasarkan rata-rata bid volume 1 minggu terakhir (15-19 Februari)

Jika menilik saham lapis ketiga berdasarkan kapitalisasi pasar dibawah Rp 500 miliar, hingga (19/02) tercatat ada sekitar 215 saham atau sekitar 53% dari total emiten yang ada di bursa. Sedangkan untuk masalah likuiditas cukup sulit dicermati, namun selama 1 minggu terakhir rata-rata volume bid untuk saham lapis ketiga tercatat hanya sekitar + 214.100 saham

Dari gambaran tersebut mungkin bisa terlihat bahwa jumlah saham lapis ketiga memang jauh lebih banyak dibandingkan saham lapis pertama dan saham lapis kedua sehingga untuk pilihan portfolio masih cukup variatif. Meskipun ternyata secara rata-rata volume bid, saham lapis ketiga masih jauh dibawah saham lapis pertama ataupun saham lapis kedua.

Saham Lapis Ketiga Manakah Yang Masih Menarik ?

Beberapa saham lapis ketiga yang dinilai masih prospektif untuk dicermati antara lain:
PT Astra Graphia tbk (ASGR)
Salah satu anak usaha group konglomerasi Astra ternyata masih ada yang “terjebak” di lapis ketiga kali ini dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 472,073 miliar dan harga terakhir (19/02) sebesar Rp 350 per lembar. Dengan Price to Earning Ratio (PER) 8,83x dan Price to Book Ratio (P/B-Ratio) 1,28x, saham ASGR terbilang masih cukup murah untuk dikoleksi.

Selain itu, “status” perusahaan sebagai salah satu bagian dari group Astra sepertinya juga cukup menjamin kualitas perusahaan. Dimana secara kinerja keuangan sepanjang 9 bulan pertama tahun lalu telah menunjukkan perbaikan kinerja yang cukup signifikan. Indikasi perbaikan kinerja terlihat dari angka margin laba perusahaan yang terus naik sepanjang 3 kuartal berturut-turut dari 6,6%, 8,1%, dan 12,1%. ASGR juga dinilai bisa dengan membukukan pertumbuhan laba bersih 2,5% menjadi sekitar Rp 65 miliar untuk tahun buku 2009 dari sebelumnya sebesar Rp 62,486 miliar

PT Panin Sekuritas Indonesia tbk (PANS)
Saham group panin berhasil masuk dalam kriteria saham lapis ketiga yang cukup prospekti. Semakin maraknya kebutuhan akan online trading membuat banyak perusahaan sekuritas berlomba-lomba untuk memberikan layanan tersebut. Salah satu sekuritas yang menjawab kebutuhan tersebut adalah saham PANS.

Saham PANS memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 352,8 miliar dengan harga terakhir hingga (19/02) adalah sebesar Rp 490 per lembar saham. Saham dinilai menarik karena hingga akhir kuartal III 2009 telah berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 133,243 miliar atau naik sekitar 400% dibandingkan laba tahun 2008. Secara ratio PANS memiliki PER sebesar 3,81x dan ROE sebesar 27,77% sehingga mengindikasikan valuasi yang relatif murah jika dibandingkan saham sejenis, yaitu PT Trimegah Sekuritas tbk (TRIM) yang memiliki PER 8,60x dan ROE 14,39%

Kesimpulan
Memilih saham-saham lapis bawah memang memiliki risiko yang cukup tinggi, namun potensi kenaikannya memang tidak bisa diabaikan. Kapitalisasi pasar yang rendah kerap membuat saham-saham lapis bawah menjadi sasaran “gorengan” (manipulasi harga). Namun investor bisa menjaga diri dari jebakan saham-saham “gorengan” dengan cara mencermati kinerja keuangan historis emiten tersebut dan aksi-aksi korporasi apa saja yang akan dilakukan. Setidaknya jika harga sahamnya naik tajam memang karena didukung oleh data-data yang valid, dan bukan hanya sekedar rumor semata. Jadi Selamat Berinvestasi

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s