1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

harga berwajah majemuk … 270310 27 Maret 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 10:05 pm

Nilai Nominal
Senin, 22 Maret 2010 – 11:00 wib

ISTILAH nilai nominal telah dikenal lama di dunia bisnis. Dalam hal pendirian perusahaan baru atau perseroan terbatas misalnya selalu disebut nilai modal dasar dan modal disetor serta jumlah saham.

Dalam kaitan dengan jumlah saham itulah selalu ada nilai nominal saham. Misalnya jika PT A didirikan dengan modal dasar Rp1 miliar dan modal disetor penuh Rp250 juta dengan nilai nominal saham Rp1 juta per lembar maka jumlah saham yang diterbitkan sebanyak 250 lembar. Jika nilai nominal saham ditetapkan Rp1 ribu, maka jumlah saham yang diterbitkan sebanyak 250 ribu lembar.

Begitulah kira-kira contoh sederhana fungsi dari nilai nominal. Dari sisi akuntansi nilai nominal bisa dibilang tidak punya makna. Artinya, kalau saham yang diterbitkan tidak disertai nilai nominal, tidak ada pengaruh apa-apa terhadap pembukuan dan nilai asset perusahaan. Karena alasan itu pula pernah muncul wacana untuk menghapus saja nilai nominal saham.

Apalagi, sejak pasca krisis moneter 1997/1998 pasar modal banyak dimanfaatkan oleh emiten untuk melakukan restrukturisasi usaha demi kesinambungan bisnisnya. Dengan alasan untuk mendukung proses restrukturisasi usaha, Bapepam-LK menerbitkan peraturan baru yang membolehkan emiten menerbitkan saham baru dengan nominal berbeda. Kebijakan ini dimanfaatkan oleh banyak emiten, terutama perusahaan perbankan.

Maka jangan heran jika saat ini kita melihat ada perusahaan yang memiliki dua jenis saham dengan nilai nominal berbeda, saham yang satu memiliki nominal Rp500 misalnya, sedangkan saham baru diterbitkan dengan nilai nominal Rp5.
Meski nilai nominal beda, dari sisi hak, dua jenis saham ini memiliki hak yang sama. Dalam RUPS misalnya, pemegang saham dengan nilai nominal Rp5 memiliki hak yang sama dengan pemegang saham dengan nilai nominal Rp500. Satu saham memiliki satu (1) hak suara. Begitu seterusnya, termasuk jika ada pembagian dividen perusahaan.

Dengan terbitnya saham-saham baru dengan nilai nominal rendah mengilhami banyak emiten untuk melakukan hal yang sama, kendati bukan dalam rangka restrukturisasi. Jika dipilah berdasarkan nilai nominal sahamnya, kini di Bursa Efek Indonesia (BEI) terdapat sembilan kelompok emiten, mulai dari nilai nominal Rp1 ribu, Rp500, Rp250, Rp200, Rp125, Rp100, Rp50, Rp25 dan Rp5.
Ketika pertama kali pasar modal diaktifkan, pada umumnya emiten menerbitkan saham dengan nilai nominal Rp1 ribu.

Makanya jumlah saham yang beredar atau yang ditawarkan juga relatif kecil, sehingga pada umumnya harga penawaran juga tinggi.

Sejak munculnya fenomena nilai nominal ganda, cukup banyak emiten yang go public (initial public offering/IPO) menawarkan saham dengan nilai nominal rendah, sehingga saham yang ditawarkan tampak besar sekali. Di sisi lain harga penawaran terkesan seolah-olah murah. Selain itu, banyak juga emiten yang memecah nilai nominal sahamnya sehingga tampak lebih banyak dan lebih likuid.

Sampai 24 Februari lalu, jumlah emiten yang masih bertahan dengan nilai nominal Rp1 ribu tercatat ada 47 emiten. Dari jumlah tersebut tercatat 15 emiten yang harganya di bawah nilai nominal. Jumlah terbanyak adalah emiten dengan nilai nominal Rp500 yang tercatat 149 saham dan emiten dengan nilai nominal Rp100 yang tercatat ada 127 perusahaan.

Nilai nominal Rp250 tercatat 26 emiten, dengan nilai nominal Rp200 13 emiten, nilai nominal Rp125 tercatat 7 emiten, nilai nominal Rp50 ada 12 emiten dan nilai nominal Rp25 ada 4 emiten. Jumlah emiten yang tercatat memiliki saham dengan nilai nominal Rp5 ada dua emiten.

Fakta beragamnya nilai nominal emiten di bursa menunjukkan bahwa fungsi nilai nominal tidak cukup istimewa. Fungsinya tidak lebih dari sekadar acuan untuk memudahkan menghitung jumlah saham perusahaan. Meskipun begitu, untuk pelaku di pasar modal nilai nominal bisa dipergunakan sebagai acuan apakah suatu saham masih pantas untuk dipecah (stock split) dengan nilai nominal lebih rendah ataukah sebaliknya justru saham itu lebih baik digabung (reverse stock) karena nilai pasarnya sangat rendah. (Tim BEI)

(//rhs)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s