1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

hikmah dari INVESTOR dewasa : JUAL saat EUFORIA: 080410 8 April 2010

Filed under: Mentalitas Investor — bumi2009fans @ 7:51 am

… gw jadi terkenang betapa berharganya PENGALAMAN SEORANG SUKSES … Sondakh bukan SEMBARANGAN SUKSES, doi mengerjakan SEMUA KEBERHASILANNYA (+faktor X tentu saja atawa KEBETULAN versi Taleb) … nah, soal entry & exit , WARREN BUFFETT juga sama pikirannya … when there is blood in the streets, BUY … when there are no more fear everywhere let’s SELL :
Peter Sondakh, berakhirnya mata pedagang

Peter Sondakh bukannya hendak memulai sebuah risalah. Tapi suatu pagi yang cerah, hampir persis setahun silam, pembaca Bibel yang menyukai rokok ini berkata dengan sejenis keyakinan yang tak mudah dilupakan.
“Jangan pernah terlibat secara emosional dengan bisnis. Jika Anda berpikir sudah berhasil memaksimalkan keuntungan, itulah saatnya Anda keluar,” katanya. “Anda tahu, hal tersulit dalam hidup ini adalah menjual. Yang termudah, membeli.”

Beberapa pekan setelah kalimat yang jarang itu muncul-dikutip dari Forbes edisi 30 Maret 2009-harga saham PT Bentoel Internasional Investama Tbk meroket, persisnya sejak 12 Mei, dari Rp420-475 ke Rp540 per saham, hingga menjadi Rp750 pada 16 Juni.

Keesokan harinya, Sondakh diketahui telah menjual 85,13% sahamnya di Bentoel kepada British American Tobacco senilai US$494 juta. Transaksi terbesar yang terjadi pada saat krisis keuangan global masih mendera pasar modal Indonesia.

Penjualan Bentoel juga punya nilai lain karena Rajawali Corporation, induk usaha yang dikendalikan Sondakh, masuk ke Bentoel pada 1991 saat Bentoel sudah gulung tikar. Utang perseroan waktu itu mencapai US$700 juta dan kekayaan bersihnya minus US$350 juta.

Sondakh, yang diminta Soeharto masuk ke Bentoel, lalu melakukan pembenahan besar-besaran, merestrukturisasi utang, merombak manajemen.

Sembilan tahun kemudian, 2 tahun setelah krisis moneter, Bentoel membukukan laba bersih, dan terdaftar di bursa setahun berikutnya.

Menarik melihat Sondakh membawa Bentoel melewati krisis 1997 itu. Seperti konglomerat lain, Sondakh harus melepaskan lebih dari 30% asetnya untuk menutup utang, termasuk melepas Bank Pos yang akhirnya merger dengan Bank Danamon. Di sini, Bentoel jadi perkecualian.

Unit bisnis lain Rajawali yang jadi perkecualian selama krisis itu adalah PT Excelcomindo Pratama, operator seluler yang dibelinya pada 1993. Dua tahun setelah pencatatan Bentoel di bursa, Excelcomindo menyusul. Tiga tahun berselang, harga sahamnya menyentuh rekor.

Tepat saat itulah Sondakh melepas sebagian sahamnya dan meraup US$314 juta. Dengan modal dari penjualan Excelcomindo itu kemudian, setahun berikutnya, Rajawali membeli 25% saham PT Semen Gresik Tbk dari Cemex US$337 juta.

Pada 2007, setelah pembelian Semen Gresik yang dinilai sebagian kalangan terlalu berisiko karena forecast perekonomian saat itu dibayang-bayangi kenaikan harga minyak, pundi-pundi Sondakh kembali bertambah dengan menjual sisa sahamnya di Excelcomindo, US$438 juta.

Dan pekan lalu, saat perekonomian mulai membaik dan kebutuhan semen meningkat, Sondakh menjual 24,9% sahamnya di Semen Gresik. Total dana yang diperoleh dari penjualan saham itu tidak tanggung-tanggung, US$1,1 miliar.

Fokus baru

Beberapa yang menonjol a.l. kedekatannya dengan kroni Soeharto dan lingkaran Susilo Bambang Yudhoyono kini, melalui hibah US$20,5 juta ke Kennedy School’s tempat Agus Harimurti, putra sulung SBY, belajar.

Tapi hari ini, dengan fresh money hampir US$1,5 miliar, ditambah dengan kecanggihan dan kejelian membeli perusahaan biasa lalu menjualnya dengan harga tinggi, Sondakh dengan 29.000 karyawannya terlihat kian memfokuskan usahanya ke sektor perkebunan dan tambang.

Unit bisnis lain seperti Taksi Express, serta perusahaan penerbangan Kamboja; sektor ritel dengan jaringan Metro Departement Store, serta turisme dan hotel dengan jaringan St. Regis, dan Starwood masih terus dijalankan.

Namun, pilihan fokus ke sektor perkebunan dan tambang itu bukannya tanpa alasan. Sejak lonjakan harga minyak 5 tahun silam terutama, kinerja kedua sektor tersebut terus meningkat. Harga komoditas seperti batu bara, emas, juga CPO, terus membuat rekor baru.

Apalagi, sejak beberapa tahun lalu, Rajawali telah secara perlahan menggarap dua sektor tersebut, a.l. dengan membeli tambang batu bara di Kalimantan Timur, tambang emas di Sulawesi Utara, kebun sawit di Sumatra & Papua, serta kebun tebu di Merauke, Papua.

Managing Director Rajawali Corporat Darjoto Setiyawan saat berbincang dengan pers di Jakarta, kemarin mengungkapkan perseroan telah menyiapkan dana US$1,3 miliar untuk menggarap sektor-sektor itu.

Kebun tebu dan pabrik gula, ada alokasi US$400 juta, pertambangan US$400 juta, kelapa sawit US$300 juta, serta properti US$200 juta.

Fokus ke perkebunan, terutama gula dan sawit, menjadi lebih bernilai karena sebelum Rajawali berdiri di Surabaya pada 1984 dan, Sondakh sendiri sudah akrab dengan bisnis itu. (Bambang P. Jatmiko/ Wisnu Wijaya) (bastanul.siregar@bisnis.co.id)

Oleh Bastanul Siregar
6 Institusi kuasai saham Rajawali
Semen Gresik tarik pinjaman Rp2,5 triliun dari Bank Mandiri

JAKARTA: Sebanyak 80 hingga 90 investor menjadi pembeli saham PT Semen Gresik (Persero) Tbk yang dilepas Rajawali Group dalam private placement 1,40 miliar saham pada harga Rp7.000 per saham.
Seorang eksekutif yang mengetahui pembicaraan itu mengungkapkan dari puluhan investor itu, enam pembeli institusi terbesarnya adalah Fortis Investment, Schroder Investment, Fidelity Investment, PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Persero) (Jamsostek), Genesis Capital, dan Capitol Group

“Mereka membeli saham Semen Gresik yang ditawarkan oleh Rajawali. Namun, persentase saham yang dibeli oleh institusi-institusi itu di bawah 5%, sehingga tidak wajib untuk lapor ke otoritas bursa,” ujarnya kemarin.

Menurut dia, perusahaan-perusahaan tersebut tertarik untuk membeli saham Semen Gresik yang dikendalikan konglomerat Peter Sondakh, lantaran perusahaan itu dinilai memiliki prospek bisnis yang cukup bagus.

Managing Director Rajawali Corporation Darjoto Setiyawan saat dikonfirmasi mengenai hal ini mengaku belum mendapat laporan dari JP Morgan selaku broker penjual saham. Laporan resmi mengenai nama pembeli paling lambat dikirimkan pada 9 April.

“Kami belum bisa mengetahui nama-nama investor yang membeli saham Semen Gresik, karena nama-nama pembeli berada di tangan JP Morgan selaku pelaksana penjualan,” ujar Darjoto.

Namun, Direktur Investasi Jamsostek Elvyn G. Masasya membenarkan bahwa pihaknya membeli saham Semen Gresik yang ditawarkan Rajawali.

“Jamsostek akan memegang saham Semen Gresik dalam jangka waktu mid-longterm, atau di atas 1 tahun. Ini sebagai salah satu portofolio investasi kami di saham,” ujarnya.

Dalam perkembangan lain, melalui penjelasan resmi kepada sejumlah media kemarin, Darjoto Setiyawan menuturkan keputusan Rajawali untuk melepas saham Semen Gresik muncul pada Januari.

Menurut Darjoto, keputusan itu muncul setelah perseroan melakukan evaluasi terhadap portofolio bisnisnya, yang salah satunya adalah Semen Gresik. “Kami cukup puas dengan kepemilikan di Semen Gresik, sehingga kami memutuskan untuk keluar ketika posisi perusahaan sedang bagus.”

Menurut Darjoto, sebelum saham tersebut diputuskan untuk dilepas, Rajawali sudah banyak menerima pertanyaan dari berbagai investor mengenai kemungkinan penjualan saham yang dikuasai oleh perusahaan milik Peter Sondakh ini.

Hingga kemarin, Rajawali mencatat kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 1,5 kali atau sekitar US$1,5 miliar.

Tarik pinjaman

Di tempat yang sama, Direktur Utama Semen Gresik Dwi Sutjipto mengatakan akan menarik pinjaman dari PT Bank Mandiri Tbk senilai Rp2,5 triliun untuk membiayai belanja modal perseroan tahun ini.

Menurut dia, dana yang akan dipenuhi dari Bank Mandiri itu merupakan bagian dari belanja modal yang akan dialokasikan perseroan sepanjang tahun ini sebesar Rp4 triliun.

“Kami akan mengembangkan pabrik di Tuban Jawa Timur dan di Tonasa, yang akan selesai pada 2011. Dengan pabrik baru itu kami menargetkan mampu memproduksi semen hingga 25 juta ton per tahun pada 2015.”

Menurut Dwi, prospek industri semen di Indonesia masih cukup besar, mengingat permintaan yang ada selama ini masih dari segmen pasar rumah tangga. Sementara itu, permintaan untuk mendukung infrastruktur belum maksimal.

Hingga saat ini pangsa pasar semen nasional mencapai 41 juta ton per tahun, dan kapasitas produksi mencapai 52 juta ton. Hingga akhir Februari, Semen Gresik mencatat pertumbuhan volume penjualan sebesar 9% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

“Utilisasi industri semen nasional mencapai 90%-95% atau setara dengan 47 juta ton per tahun. Hingga saat ini suplai masih memadai. Namun ke depan permintaan akan cukup besar.”

Dalam perdagangan kemarin, harga emiten berkode SMGR ini ditutup pada Rp8.250 per saham atau naik 1,23% dibandingkan dengan penutupan sebelumnya, Rp8.150 per saham. Dengan price to aerning ratio 14,55 kali, nilai kapitalisasinya mencapai Rp48,93 triliun.(bambang.jatmiko@bisnis.co.id/wisnu.wijaya@bisnis.co.id)

Oleh Bambang P. Jatmiko & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia

Wartawan Bisnis Indonesia

Iklan
 

One Response to “hikmah dari INVESTOR dewasa : JUAL saat EUFORIA: 080410”

  1. […] lah … silakan juga baca PENGALAMAN PETER SONDAKH sang PEMAEN SAHAM INDON KELAS GLOBAL :    https://transaksisaham.wordpress.com/2010/04/08/hikmah-dari-investor-dewasa-jual-saat-euforia-080410/ … LANGKAH PERTAMA: Be Optimistic … tanpa ekspektasi LABA BESAR maka maen saham sama sekali […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s