1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

bagus lah, semakin rame WIRASWASTAWAN neo : 170410 17 April 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 10:49 am

6 Tips Menjadi Pengusaha Bermodal Dengkul
Sabtu, 17 April 2010 – 10:27 wib

Ade Hapsari Lestarini – Okezone

JAKARTA – Tuntutan zaman yang semakin menggila saat ini mau tak mau bikin orang untuk tetap membuat dapur mereka tetap ngebul, alias bisa menghidupi keluarga mereka.

Tak ayal, menjadi pebisnis walaupun kecil-kecilan pun pasti akan dilakoni, kendati memang sudah mempunyai pekerjaan tetap. Namun, terkadang untuk memulai suatu bisnis bukanlah suatu hal yang mudah.

Modal akan menjadi persoalan utama yang dihadapi setiap pebisnis atau pengusaha. Hal inilah yang selalu membuat orang urung untuk menjalankan bisnis mereka. Uang akan selalu menjadi patokan kegagalan atau keberhasilan dari bisnis mereka. Padahal, tidak selamanya uang menjadi masalah utama.

Dalam buku 20 Peluang Usaha Modal Dengkul karya Reny Y yang diterbitkan daras books, seperti dikutip okezone, Sabtu (17/4/2009), dikatakan bila salah satu usaha mandiri yang tidak membutuhkan modal sama sekali adalah dengan bekerja lepas alias menjadi freelance.

Untuk menjadi editor, penerjemah, penulis, guru privat, desainer web atau grafis, bahkan seorang agen properti, pada dasarnya Anda tidak membutuhkan modal uang sama sekali. Yang Anda butuhkan hanyalah modal keahlian yang sesuai dengan pekerjaan lepas Anda.

Kendati demikian, untuk menjadi seorang pekerja lepas atau freelance tersebut, ada baiknya Anda melihat enam tips untuk menjadi pengusaha bermodal dengkul ini.

1. Pilih Pekerjaan yang Benar-Benar Disukai.
Tujuan Anda bekerja freelance agar bisa bekerja tanpa tekanan dan bebas stres. Hasilnya? Tak perlu ditanya lagi. Selain mendapatkan penghasilan yang lumayan, Anda pun bisa menikmati pekerjaan tersebut. Nah, alangkah baiknya bila Anda memilih pekerjaan yang disukai atau memang menjadi hobi Anda.

2. Pilih Pekerjaan yang Benar-Benar Dikuasai.
Ada masanya, apa yang Anda sukai bukanlah menjadi sesuatu yang bisa Anda lakukan dengan baik. Saat menentukan pekerjaan yang akan ditekuni, Anda pun juga harus mempertimbangkan hal ini.

Seperti contoh, bagi Anda yang memiliki bakat berjualan, lebih baik Anda menjadi pedagang ketimbang desainer web yang sebenarnya lebih Anda sukai walaupun tak begitu menguasainya. Tetapi, Anda juga harus ingat saat memilih profesi tersebut, tidak ada unsur keterpaksaan di dalamnya.

3. Terus Belajar dan Pantang Menyerah.
Kunci utama kesuksesan seorang freelancer (sebutan untuk para pekerja lepas) salah satunya adalah kemauan untuk terus belajar dan terbuka terhadap hal-hal baru yang dapat menunjang pekerjaannya. Karena, hal ini pada dasarnya menyangkut kepercayaan terhadap orang lain.

Selain itu, sikap pantang menyerah juga dibutuhkan. Terutama ketika Anda sedang menemui kebuntuan berusaha. Cara mengatasinya dengan mencari berbagai alternatif promosi atau ide-ide usaha baru yang dapat membangkitkan usaha Anda.

4. Disiplinkan Diri Sendiri.
Menjadi freelancer sudah pasti tidak terikat dengan jam kerja yang monoton dan selalu santai. Namun bukan berarti Anda bisa seenaknya dan meremehkan pekerjaan Anda begitu saja.

Sikap disiplin mutlak dimiliki, karena hanya dengan kedisiplinan, pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik. Tanpa kedisiplinan, seorang pengusaha tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.

5. Perluas Jaringan Kerja.
Tak peduli apapun pekerjaan lepas Anda, mempunyai jaringan yang luas adalah suatu keharusan. Tanpa ada jaringan kerja, akan sangat sulit bagi Anda untuk bertahan di tengah persaingan.

Bagi seorang freelancer, kontinuitas kerja berarti juga makin bertambahnya pundi-pundi uang ke kantong mereka. Segepok dana pun automatis akan deras mengalir ke rekening Anda, selama Anda konsisten dengan bidang usaha yang Anda pilih.

6. Pandai Berpromosi.
Bukan hanya sekadar mempromosikan barang dagangan saja, Anda pun juga harus bisa mempromosikan diri sendiri di depan para klien. Suksesnya promosi yang dilakukan dapat dilihat dari seberapa besar jaringan kerja Anda peroleh.

Saat ini, cara berpromosi bisa dilakukan dengan cara-cara yang tidak melulu mengeluarkan uang banyak. Salah satunya dengan mengikuti milis, komunitas pertemanan di dunia maya, dan yang paling sederhanaya yakni promosi gratis dari mulut ke mulut.

Tidak begitu sulit bukan dalam mendalami suatu usaha setelah Anda melirik tips di atas. Dengan keteguhan dan niat di dalam diri Anda, semua hal yang dilakukan pasti akan terlaksana.(wdi)

Menyoroti maraknya sekolah kewirausahaan
Masyarakat masih agungkan profesi tanpa risiko

… KIYOSAKI dalam buku Cashflow Quadrant menjelaskan bahwa dalam hidup ini biasanya PEMASUKAN UANG/MODAL/DANA terjadi pada 4 kuadran : bekerja pada orang lain, bekerja untuk diri sendiri, berbisnis, dan berinvestasi …
… MAYORITAS INDON ADALAH PEMALAS, PENGECUT, tapi SERAKAH: yaitu cuma mau jadi PEKERJA buat KEJAYAAN ORANG LAEN, misalnya, sebagai PNS, dan pegawai swasta … TIDAK ADA SALAHNYA sama sekali bercita-cita dan berkemauan seperti itu, karena mendapatkan penghasilan juga, serta SECARA PRAGMATIS itu adalah JALUR PINTAS dan CEPAT menuju PENGEMBALIAN MODAL INVESTASI PENDIDIKAN, apalagi kalo sempat menempuh pendidikan tinggi …
… nah, yang sedikit lebe rumit adalah CARA TERPAKSA, yaitu bekerja untuk DIRI SENDIRI … misalnya, dokter, akuntan, montir, dkk … jelas sekali mereka HARUS TERPAKSA untuk bekerja sendiri, karena MEREKA TIDAK LANGSUNG SERTA MERTA DIJANJIKAN DAN DIPASTIKAN mendapat PENGHASILAN … bukan kah begitu banyak dokter HANYA MENEPUK LALAT dan NYAMUK pada JAM PRAKTEKNYA … ada lebe dari 20.000 dokter di Jakarta, SEBAGIAN BESAR, nyaris di atas 15.000 adalah DOKTER SEPI PASIEN (btw, gw seh pernah jadi yang ga sepi pasien lho :P)… buktikan sendiri dah 😛 …
… SEDIKIT SEKALI (dan hukum PARETO berlaku) yang mau MENGAMBIL RISIKO LEBE TINGGI, yaitu MENGELUARKAN MODAL SENDIRI dan MENCARI PENGHASILAN YANG TIDAK DIJANJIKAN dan TIDAK DIPASTIKAN, yaitu melalui berbisnis dan berinvestasi (rahasia umum: jumlah investor saham indo: 500.000 orang saja dari 230.000.000 penduduk indon) … tapi hukum Pareto bekerja dengan ADIL … pebisnis yang berhasil itu MEMANG PASTI JAUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUh LEBE KAYA daripada PARA PENGECUT, tapi SERAKAH, yaitu PNS (kecuali KORUPTOR KELAS DINOSAURUS) dan pegawai swasta …
… hukum Pareto bilang EKONOMI sebuah negara ditentukan HANYA OLEH SEGELINTIR ORANG BISNIS YANG SUKSES … jadi, sebenarnya jalan berbisnis dan berinvestasi adalah JALAN ADIL menuju KESEJAHTERAAN dan berujung pada KEMAKMURAN (seharusnya) …
… tapi lage2 hukum Pareto itu ADIL, yaitu hanya segelintir orang yang berhasil dari JUTAAN PEBISNIS indo … itu sebabnya, fakta KEADILAN model PARETO ini MEMBUAT INDON CUMA BERANEEEE JADEEEE pengecut tapi serakah, dan kalo perlu jadi koruptor 😦 … well, up2u lah, hidup ini cuma harus dijalani dan dinikmati kok 🙂

Fenomena meningkatnya pengangguran intelektual menjadi lahan bisnis bagi lembaga pendidikan yang mengusung pembelajaran berbasis kewirausahaan.
Tak heran jika bisnis sekolah kewirausahaan pun kini kian merebak. PPM School of Management, misalnya, sejak 2005 telah mengembangkan sekolah tinggi manajemen yang berorientasi mencetak manajer dan entrepreneur muda.

Contoh lainnya adalah Ciputra Entrepreneurship School (CES) yang menawarkan pembentukan sikap dan perilaku wirausaha melalui serangkaian sistem mentoring.

Demikian juga dengan Center for Entrepreneurship Development, Prasetiya Mulya Business School (PMBS) yang sejak 2005 membuka program sarjana (S1) Bisnis, setelah sebelumnya bertahun-tahun membuka Program S2 (Magister Manajemen). Dengan hadirnya program ini, pelajar Indonesia yang ingin mengenal lebih jauh sekolah bisnis tidak perlu pergi ke luar negeri.

Maraknya sekolah kewirausahaan tampak hendak menegaskan bahwa wirausaha itu bisa dididik, bukan dilahirkan sebagaimana selama ini dipahami oleh sebagian kalangan. Wacana apakah wirausaha itu dididik atau dilahirkan sudah lama berkembang di jagat bisnis.

Mari kita lihat hasil penelitian berikut. Mc Slelland pada 1961 telah melakukan riset di Amerika Serikat yang hasilnya menunjukkan bahwa 50% pengusaha yang dijadikan sampel penelitiannya adalah pengusaha yang dilahirkan oleh keluarga pengusaha juga.

Penelitian yang dilakukan oleh Sulasmi (1989) terhadap 22 orang pengusaha wanita di Bandung juga menunjukkan bahwa sekitar 55% pengusaha tersebut memiliki keluarga pengusaha (orang tua, suami, atau saudara pengusaha).

Keluarga Bakrie, Kalla, dan Aksa adalah contoh populer betapa dari sebuah keluarga yang kuat kultur bisnisnya akan sangat mungkin terlahir entrepeneur hebat.

Penelitian yang dilakukan oleh Mu’minah (2001) atas delapan orang pengusaha paling sukses di Pangandaran menunjukkan bahwa semua pengusaha tersebut memulai usahanya karena keterpaksaan.

Tak sedikit kisah sukses entrepreneur lantaran diawali kondisi desakan kepahitan hidup. Thomas Sugiarto adalah salah satu dari deretan kelompok ini. Kepahitan hidup merupakan energi luar biasa untuk membuat seseorang berjuang mengubah nasib.

Pada kategori yang ketiga (Emotion Modalities), menurut Muhandri (2002), merupakan pengusaha yang umumnya memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Orang yang masuk dalam kategori ini memang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang wirausaha, dengan banyak mempelajari keilmuwan (akademik) yang berkaitan dengan dunia usaha.

Dalam kategori ini terdapat pengusaha yang langsung memulai usahanya (merasa cukup dengan dasar-dasar keilmuwan yang dimiliki) dan ada yang bekerja terlebih dahulu untuk memahami dunia usaha secara riil.

Berbagai cara
nurture (faktor yang tidak dilahirkan atawa faktor lingkungan) VERSUS nature (faktor yang dilahirkan)

Mencermati tiga kategori di atas, kita mendapatkan gambaran bahwa jiwa entrepreneur itu bisa didapat dengan berbagai cara. Setidaknya ini bisa mematahkan pandangan yang selama ini masih diyakini sebagian kalangan bahwa seorang entrepreneur itu ‘dilahirkan,’ sehingga hanya mungkin terlahir dari orang-orang/keluarga yang memang kuat kultur bisnisnya.

Pendapat ini seolah menutup kemungkinan bahwa seorang entrepreneur itu sangat mungkin dicetak melalui berbagai kondisi (dididik baik sengaja maupun karena keterpaksaan kondisi) untuk menjadi wirausahawan, meski ia tidak dilahirkan dalam sebuah keluarga dengan kultur bisnis kuat.

Namun tak bisa dipungkiri, secara umum kultur masyarakat Indonesia masih mengagungkan profesi yang relatif ‘tanpa risiko’ (misalnya menjadi pegawai negeri, TNI atau bekerja di perusahaan besar).

Merujuk pada ketiga kondisi yang bisa melahirkan entrepreneur di atas, maka pemerintah perlu menyusun suatu program yang ditujukan untuk menanamkan budaya wirausaha di kalangan generasi muda.

Mengapa demikian? Entrepreneurship merupakan salah satu solusi yang dapat membantu menyelamatkan perekonomian masyarakat dan bangsa ini ke depan.

Lalu bagaimana caranya? Karena tidak semua orangtua bisa diharapkan mampu dan mau berupaya menanamkan budaya wirausaha kepada anak-anaknya maka menjadi penting bagi pemerintah untuk melakukan penanaman budaya wirausaha tersebut dengan sasaran para siswa sekolah khususnya dan pada masyarakat pada umumnya.

Pada tataran lain yang lebih operasional, usaha penciptaan wirausaha baru yang tangguh ini akan lebih baik jika dilakukan terhadap lulusan perguruan tinggi yang telah memiliki dasar keilmuwan dan intelektualitas yang tinggi.

Hal ini didasari oleh kondisi persaingan usaha pada era globalisasi yang menuntut kemampuan seorang wirausaha yang benar-benar memiliki kemampuan yang tinggi. Untuk itulah berdirinya sekolah-sekolah kewirausahaan menemukan argumentasi yang sangat jelas.

Sementara itu, salah satu pola pengembangan wirausaha yang tangguh dan unggul adalah memberikan pembinaan dan pendampingan melalui apa yang disebut inkubasi bisnis.

Beberapa perguruan tinggi melalui lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat maupun departemen teknis telah mengembangkan pola inkubasi bisnis tadi. Para tenant (unit bisnis binaan) diberikan kesempatan untuk dibina dalam periode waktu tertentu.

Para tenant diberikan bantuan pendidikan, pelatihan dan magang yang didukung oleh fasilitas/akses teknologi, manajemen, pasar, modal, serta informasi. Pada sisi inilah kita menemukan argumentasi bahwa entrepreneur itu bisa dididik, bukan semata-mata dilahirkan.

OLEH FALIK RUSDAYANTO
Alumnus Chulalongkorn University Thailand

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s