1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

kebodohan finansial indon, ce n co SAMI MAWON: 210410 21 April 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 11:55 am

Kenapa Wanita Indonesia Tak Mandiri
Separuh wanita Indonesia tidak mempunyai rencana keuangan.
SELASA, 20 APRIL 2010, 13:05 WIB
Heri Susanto
… dalam sebuah keluarga, ada 2 pihak utama, walau pun tetap ada juga pihak ketiga seh, yaitu suami dan istri … seorang suami dalam sistem patriakal model budaya indon, memang SUDAH LANGSUNG DIBEBANI oleh PARADIGMA dan Kenyataan bahwa seorang laki-laki ada penanggungjawab utama keuangan keluarga … alasan utama adalah karena sudah dari sononya dan kenyataan bahwa hampir semua Kepala Keluarga adalah laki-laki dan biasanya bekerja mencari nafkah …
… sistem budaya ini yang DIHABISI oleh PARADIGMA dan Pemahaman sang bunda yang BANYAK BERINTERAKSI dengan kaum PEREMPUAN dari barat yang SUDAH MENGALAMI DAN MERASAKAN NIKMATNYA PARADIGMA dan kenyataan BARU KEMANDIRIAN YANG SEJAJAR, laki-laki dan perempuan … kemandirian yang setara ini AMAT DIBENCI OLEH SISTEM BUDAYA PATRIAKAL HANYA karena alasan GENDER bukan karena alasan lain apa pun … alasan yang paling umum dan bisa diterima adalah bentuk FISIK yang berbeda … di semua etnik yang bernaung di bawah PARADIGMA dan KENYATAAN PATRIAKAL akan sangat menerima alasan PERBEDAAN FISIK tersebut sebagai AWAL PEMAHAMAN PEMBEDAAN BUDAYA dan akhirnya, juga TANGGUNGJAWAB dalam KELUARGA sebagai PENGHASIL PEMASUKAN KELUARGA …
… gw seh sejak awal pacaran uda bilank bahwa istri gw nante bole berkarier dan mencari uank, padahal gw dan calon istri gw adalah dibesarkan dalam budaya yang sama, PATRIAKAL … ternyata berhasil tukh … kalo tidak ada aral melintang, semoga anak gw akan menjadi seorang bachelor di luar negeri … bokin gw tetap bekerja dan berkarier …
… soal keuangan gw selalu membagi ilmu kepada keluarga gw, walau pun bokin gw SEHARUSNYA LEBE CANGGIH DARIPADA GW dalam hal Pengelolaan Keuangan keluarga, karena doi bekerja di perusahaan keuangan … memang bedanya gw pernah sekolah bisnis tingkat master seh, doi belum pernah …
… tapi implementasi ilmu keuangan keluarga sama-sama canggih karena hampir semua alat bantu keuangan sudah terpakai: asuransi, tabungan, saham, reksa dana, pinjaman, donasi, insentif/bonus, valas, properti, dll sudah menjadi ALAT BANTU SEHARI-HARI KELUARGA gw … berkat keyakinan pada pasangan, keuangan keluarga gw lumayan maju dah dan semoga semakin nikmat setelah anak gw bekerja sendiri dan berinvestasi sendiri … gw cuma ingin doi memahami 4 kuadran aliran dana masuk keluarga ala Kiyosaki: investasi, bisnis, bekerja pada orang lain dan bekerja untuk diri sendiri … bekerja pada orang lain dulu, lalu nyambi ngelesin kalo bisa, dan so pasti mulai TABUNG dan INVES dah … so simple

VIVAnews – Hasil survey Citibank Indonesia dalam Citi Fin-Q (Financial Quotient) 2009 yang melibatkan responden wanita menunjukkan bahwa separuh wanita Indonesia tidak mempunyai rencana keuangan.

“Sebagian yang telah mempunyai rencanapun belum tentu melaksanakan rencana keuangannya,” ujar Sonitha Poernomo, Vice President Corporate Affairs Head, Citibank N.A. dalam siaran pers yang diterima VIVAnews, 20 April 2010.

Padahal, kata dia, memperingatin Hari Kartini, semangat pahlawan wanita itu dicerminkan melalui peran wanita Indonesia dalam bentuk pergerakan hak dan keadilan yang diekspresikan di kehidupan ekonomi, sosial dan politik, namun untuk permasalahan keuangan, boleh dibilang para kaum hawa tidak memiliki kompetensi yang sepadan..

Lantas, mengapa wanita Indonesia belum mandiri secara finansial? Berikut 5 alasan utama:

1. Terbuai Asmara
Pada umumnya, saat memasuki jenjang pernikahan, wanita mempersilakan pria untuk bertanggung jawab soal keuangan. Banyak wanita yang diajarkan, bahkan bercita-cita untuk bergantung semata pada pasangannya. Kaum pria sering dianggap lebih memiliki kemampuan untuk memperoleh penghasilan dan bertahan dalam kondisi sulit (survive) sementara wanita tidak.

Dalam beberapa kebiasaan ataupun tradisi yang dianut di Indonesia, wanita dituntut untuk menurut saja pada suami dengan imbalan proteksi dari segi keuangan. Ketergantungan ini membuat wanita tidak siap jika pasangan mereka kehilangan pekerjaan, mengalami kecelakaan, atau meninggal dunia – sehingga menyebabkan seorang istri harus mengasuh dan membesarkan anak seorang diri.

Untuk itu hidup di zaman sekarang, wanita semakin dituntut untuk mandiri dan saling mendukung dalam kehidupan berkeluarga.

2. Terlalu Muda Untuk Menabung
Pada saat masih berusia muda, umumnya wanita tidak menaruh prioritas untuk menabung demi masa depan. Wanita lebih mementingkan pengeluaran untuk memperbaiki penampilan dan memperoleh hal-hal yang tidak dimilikinya saat masa kanak-kanak. Kecenderungan ini pada akhirnya menjurus pada kebiasaan belanja kompulsif. Dengan berjalannya waktu, jumlah pengeluaran semakin meningkat dan semakin sulit untuk menciptakan kebiasaan menabung.

Hal yang terbaik untuk mengajarkan nilai uang pada generasi muda adalah dengan memberikan kesempatan pada mereka untuk mulai bekerja selepas usia remaja dan membiasakan mengelola keuangan pribadi.

3. Tergoda Belanja & Terlilit Utang
Iklan dan promosi untuk kecantikan, fashion dan kebutuhan rumah tangga semakin meningkatkan selera belanja wanita. Hal ini membuat para wanita merasa bahwa mereka memiliki kendali terhadap pengeluaran, tetapi sayangnya belanja kompulsif ini semakin menggali utang lebih dalam.

4. Terintimidasi Sukses
Walaupun tingkat penghasilan wanita cenderung lebih rendah daripada pria, kaum wanita terus memperjuangkannya di dunia kerja. Namun kesuksesan di dunia kerja dapat membawa keretakan pada hubungan rumah tangga. Wanita yang memiliki penghasilan lebih tinggi dari pasangan, tangkas menangani pengeluaran dan mengendalikan uang rumah tangga sering dianggap agresif dan tidak feminin baik di mata laki-laki maupun sesama wanita. Untuk menjaga hubungan rumah tangga, terdapat sejumlah wanita yang merelakan hak finansialnya demi keutuhan keluarga.

5. Terdorong untuk Membantu Orang Lain
Wanita selalu mengutamakan suami, anak, orangtua, anggota keluarga bahkan orang-orang yang tidak mampu. Membantu orang lain memberikan rasa bermanfaat dan rasa senang karena telah berbuat baik pada orang lain. Terkadang wanita melupakan dirinya sendiri, sehingga pengeluaran untuk orang lain terus berjalan dan hal ini sangat berbahaya jika ia dan keluarga terlilit utang.

Untuk melanjutkan semangat Kartini guna menciptakan kemandirian wanita Indonesia, maka seyogyanya wanita memperhatikan pengelolaan keuangan. Perlu dilakukan skala prioritas dalam mengatur pengeluaran sehari-hari, sehingga sebisa mungkin mementingkan fungsi daripada sekedar gengsi. Wanita perlu menanam kebiasaan menabung dan berinvestasi, menyiapkan dana darurat dan hidup seimbang dengan mementingkan kebutuhan pribadi dan keluarga.

• VIVAnews

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s