1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

modal 20 jt, mau laba 1 jt dalam 22 hari transaksi … 220510 2 Mei 2010

Filed under: Teknik Maen Saham — bumi2009fans @ 11:19 pm

kalo elo ga ada waktu trading, dan elo cuma pengen pilih saham yang paling bagus dan bisa memberikan imbal hasil PASTI 5% per bulan, ELO BERMIMPI DOANK 😛 have a nice sleep bobo dengan 20 juta loh dah 😛

ok ini bukan pertanyaan yang berat … tapi gw biasanya menjanjikan minimum 2% bisa gw capai dalam 1 bulan karena itu adalah berdasarkan pengalaman gw … nah, supaya 20 juta menghasilkan 1 juta, itu berarti 2 1/2 kali lipat dari minimum imbal hasil per bulan yg gw janjikan … ini artinya elo harus menguasai analisis teknikal sederhana yang ada di blog ini, yaitu ROC, slow stochastic, bollinger bands, parabolic sar, moving avg 20 …

analisis teknikal sederhana ini bisa membantu elo memperkirakan momentum ke arah jual atawa beli yang lebih kuat, serta ke batas harga teratas dan terendah untuk jual dan beli … elo baca2 lage teori tentang analisis teknikal sederhana di posting ini : https://transaksisaham.wordpress.com/2009/12/09/analisis-teknikal-sederhana-saham2-yang-gw-transaksikan-everyday/ … nah supaya elo beneran bisa menghayati analisis teknikal ini, maka elo sebaiknya memantau analisis teknikal sehari-hari dulu di link ini :  http://sites.google.com/site/ekonomibanget/order-transaksi-saham2-gw-every/analisis-teknikal-saham-sederhana-harian dan http://sites.google.com/site/ekonomibanget/order-transaksi-saham2-gw-every/analisis-teknikal-harian-sederhana … anjuran gw: elo nikmatin dulu dengan melakukan prediksi tren dan tingkat harga saham dengan cara mencermati fluktuasi grafik di ke dua link tersebut

karena analisis teknikal sederhana ini bisa membantu elo memperkirakan momentum ke arah jual atawa beli yang lebih kuat, serta ke batas harga teratas dan terendah untuk jual dan beli … elo baca2 lage teori tentang analisis teknikal sederhana di posting ini : https://transaksisaham.wordpress.com/2009/12/09/analisis-teknikal-sederhana-saham2-yang-gw-transaksikan-everyday/ … nah supaya elo beneran bisa menghayati analisis teknikal ini, maka elo sebaiknya memantau analisis teknikal sehari-hari dulu di link ini :  http://sites.google.com/site/ekonomibanget/order-transaksi-saham2-gw-every/analisis-teknikal-saham-sederhana-harian dan http://sites.google.com/site/ekonomibanget/order-transaksi-saham2-gw-every/analisis-teknikal-harian-sederhana … anjuran gw: elo nikmatin dulu dengan melakukan prediksi tren dan tingkat harga saham dengan cara mencermati fluktuasi grafik di ke dua link tersebut … ENJOY lah

… nah, sebenarnya di file2 gw soal rumus trading sudah selalu diarahkan supaya trader bisa mencapai imbal hasil 1% dalam 1 hari trading yaitu dengan mencapai gain 1 poin, terutama pada maen saham: (lihat di tabel gain 1 poin) elo sebaiknya maen saham wika, elsa, mapi, dan bnii … kenapa? karena dengan 1 langkah aja yaitu gain 1 poin elo sudah dapat sekira 1% (dipotong fee beli 0,19% dan jual 0,25%) … namun memang harus sabar dan tabah, karena frekuensi trading keempat saham ini saat ini (saat laen bisa berubah tergantung momentum dan perilaku investor) SEDANG PELAN jalannya (seperti orang memancing gitu lho, karena tergantung panjangnya antrian beli dan jual) … gimana 1 poin maen saham wika bisa gain lebih dari 1%? misalnya, elo beli saham wika di harga 410 dan langsung pasang jual di harga 420 itu berarti elo berekspektasi gain 1 poin yaitu 10 perak … itu berarti gain : 10/410=2,43% (elo harus tau bahwa gw selalu memasang harga beli lebih rendah daripada harga penutupan sehari sebelumnya atawa sesaat sebelumnya; dan harga jual yang lebe tinggi daripada harga penutupan sehari sebelumnya atawa sesaat sebelumnya; dengan cara ini gw menghindarkan diri dari kemungkinan beli di harga yang mahal atau jual di harga yang murah)


… setelah dipotong fee pun elo maseh gain/laba di atas 1% itu kalo berhasil jual secara full matched… namun soalnya adalah elo tidak bisa menghabiskan semua saham beli menjadi semua saham jual karena terbentur aturan NO SHORT SELLING untuk modal cuma sebesar itu … jadi elo mesti menyisakan 1 lot untuk hari tersebut … berarti pada harga beli 410, elo punya modal inves saham wika di harga 410X500=205.000 … namun besok harinya, elo bisa habiskan modal itu, cuma tergantung harganya lage tukh … kalo misalnya turun, ya elo mesti tunggu supaya modal 205.000 itu benar2 satu hari bisa di jual dengan harga yang lebe tinggi … kebetulan elo punya waktu kira2 20 hari transaksi, jadi, cukup lama untuk merealisasikannya … ATAWA ELO PAKE CARA gw FOKUS LABA dalam TREN TURUN :  https://transaksisaham.wordpress.com/2010/01/01/fokus-laba-dalam-tren-turun-4-010110/

nah setiap hari elo bisa maen sebagian besar dana elo selama 22 hari dengan ekspektasi rata2 1% gain per hari … yang biasanya sangat mudah pada saat tren harga saham naek … karena dengan cara pasang posisi harga seperti contoh di atas (liat contoh di saham wika) maka gain 1% gampang tercapai, asal momentum belinya kuat oleh investor bursa … tapi kalo tren turun, elo mesti menguasai strategi FOKUS LABA dalam TREN TURUN juga

salah satu alasan kenapa gw lebe menyukai strategi trading ini karena tidak butuh terlalu lama untuk mencapai 5% (berdasarkan pengalaman gw) asal serius menjalaninya minimum 5 hari transaksi, dan berarti maksimum 22 hari elo uda bisa meraih 5%, asal beneran disiplin dan serius maennya

dengan menguasai strategi teknik maen saham tersebut maka elo sebenernya uda melakukan dan memanfaatkan strategi teknik maen saham sama yang dilakukan oleh Edy Joenardi yaitu sistem bunga berbunga :  https://transaksisaham.wordpress.com/2010/04/03/gw-bobol-rahasia-investasi-edy-joenardi-030410/ … dan seperti yang gw uraikan soal cara meraup 1M dalam waktu 2 taon (470 hari) :  https://transaksisaham.wordpress.com/aksi-donk/

dengan menguasai strategi teknik maen saham tersebut maka elo sebenernya uda melakukan dan memanfaatkan strategi teknik maen saham sama yang dilakukan oleh Edy Joenardi yaitu sistem bunga berbunga :  https://transaksisaham.wordpress.com/2010/04/03/gw-bobol-rahasia-investasi-edy-joenardi-030410/ … dan seperti yang gw uraikan soal cara meraup 1M dalam waktu 2 taon (470 hari) :  https://transaksisaham.wordpress.com/aksi-donk/

… jadi UP2U , apakah elo mau menggunakan cara TRADING SEPERTI ini atawa mo pake CARA BODOH, yaitu inves lalu diemin selama 22 hari transaksi, dengan ekspektasi moga2 dapat 5% gain … gw LEBE YAKIN PAKE CARA TRADING daripada inves 1 bulan, karena inves 1 taon aja BISA BOBOL, apalagi 1 bulan … que sera sera

  • situasi ekonomi global beneran lage tak menentu, KECEMASAN MEMUNCAK, dan sulit menghindarkan EKSPEKTASI KRISIS FINANSIAL EURO MENJADI KRISIS FINANSIAL GLOBAL BABAK II lage … kalo elo ga yakin bisa maen strategi fokus laba dalam tren turun, mendingan elo keluar dari gelanggang aja dah … kalo gw mah uda kepalang basah, dan gw uda siapin alat2 yang menjaga aset juga lebe luas
  • Aktifitas Perdagangan BEI Kuartal I-2010 Meningkat Drastis
    Sabtu, 22 Mei 2010 – 16:11 wib
    Rheza Andhika Pamungkas – Okezone

    JAKARTA – Aktifitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada kuartal I-2010 mengalami kenaikan yang signifikan jika dibandingkan dengan kurtal I-2009. Hal ini tercermin dari rata-rata nilai transaksi harian yang naik 99,76 persen dari Rp2,10 triliun pada kuartal I-2009 menjadi Rp4,36 triliun pada kuartal I-2010.

    “Kapitalisasi pasar pada kuartal I-2010 naik 76,78 persen dari Rp1,370 triliun di kuartal I-2009 menjadi Rp2,422 trilun di kuartal I-2010. Selain itu rata-rata frekuensi transaksi harian juga mengalami lonjakan sebesar 52,91 persen dari 59.759 transaksi di kuartal I-2009 menjadi 91.379 transaksi,” jelas Direktur BEI, Supandi dalam acara 3rd Anniversary of IDX Investor Club, di Hotel Nikko, Jakarta, Sabtu (22/5/2010).

    Selain itu, dia juga menjelaskan, rata-rata volume transaksi harian juga naik 20,23 persen dari 3,87 miliar lembar di kuartal I-2009 menjadi 4,66 miliar lembar pada kuartal I-2010.

    “Dan pada 30 April kemarin indeks saham Indonesia juga mencatat transaksi tertinggi sepanjang sejarah, yakni 2.971.252 atau hampir menembus level 3000. Aktivitas perdagangan obligasi korporasi juga meningkat 125,96 persen dari Rp12,42 triliun pada kuartal I-2009 menjadi Rp28,07 triliun di kuartal I-2010,” tambahnya.

    Dia melanjutkan, frekuensi perdagangan obligasi korporasi juga meningkat 96,17 persen yakni dari 2.638 kali pada kuartal I-2009 menjadi 5.175 kali pada kuartal I-2010. Untuk aktivitas perdagangan surat Berharga Negara (SBN) termasuk ORI mengalami peningkatan sebesar 125,94 persen Rp210,18 triliun pada kuartal I-2009 menjadi Rp478,88 pada kuartal I-2010.

    Adapun frekuensi perdagangan SBN termasuk ORI mengalami peningkatan sebesar 112,08 persen dari 12.897 kali pada kuartal I-2009 menjadi 27.652 kali di kuartal I-2010.

    Dia berharap sampai dengan akhir 2010 IHSG akan tembus sampai level 3.000. (adn)
    (rhs)

  • Markets also took little comfort in Mr. Trichet’s statement that “Portugal is not Greece, Spain is not Greece.” The risk premium, or spread, on Spanish 10-year bonds over equivalent German debt rose to its highest level since the introduction of the euro in 1999, while the spread on Portuguese debt also widened. nyt 06/05/10 … dow jones turun 1000 poin atawa 9% lalu mantul naek sehingga tutup dengan penurunan 370 poin saja aka 4% akibat bank sentral eropa TIDAK BERHASIL MEYAKINKAN PASAR bahwa kasus Yunani akan berakhir happy ending.

10,09 miliar Saham baru bakal diguyurkan ke bursa
Kamis, 13/05/2010 20:16:32 WIBOleh: Irvin Avriano A.
JAKARTA (Bisnis.com): Sedikitnya sebanyak 10,09 miliar saham akan diguyurkan ke pasar modal pada pertengahan tahun ini terkait dengan banyaknya perusahaan yang akan menerbitkan sahamnya.

Hingga saat ini, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) tengah memproses sedikitnya delapan berkas pernyataan pendaftaran, baik melalui skema pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) ataupun penawaran umum terbatas (rights issue).

Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Bapepam-LK Noor Rachman mengatakan dari delapan saham itu, lima emiten sedang diproses bironya. “Ada sekitar 5 emiten yang akan IPO saham dan rights issue di biro kami,” ujarnya kepada pers pekan ini.

Dia mengatakan rencana pencatatan saham perdana PT BPD Jabar Banten, yang IPO-nya ditangani PT Bahana Securities dan PT CIMB Securities Indonesia, lebih cepat dibandingkan dengan pencatatan saham BPD lain. BPD itu, tuturnya, yaitu PT BPD Sulawasi Utara (Sulut) yang juga berencana menerbitan sahamnya di bursa.

BPD Sulut mengawali perkenalannya kepada pasar modal setelah menerbitkan obligasi I/2010 pada senilai Rp200 miliar.

Data itu juga menunjukkan ada calon emiten yang sudah mengajukan dokumen pencatatan sahamnya kepada bironya yaitu PT Bukit Uluwatu Villa yang dibawa oleh PT Danareksa Sekuritas sebagai penjamin emisi. Perusahaan itu bergerak di bidang penyediaan jasa akomodasi dan perhotelan. “Kalau tidak salah perusahaannya di Bali,” ujar Noor Rachman. (mrp)
Pekan Ini, Sri Mulyani & Global Pukul IHSG
Tercatat, tiga hari perdagangan berturut-turut, investor asing melakukan penjualan bersih.
SABTU, 8 MEI 2010, 08:05 WIB
Antique

VIVAnews – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan Jumat, 7 Mei 2010 kembali melemah dan melanjutkan penurunan besar yang terjadi sehari sebelumnya.

Menurut Research Analyst PT Panin Sekuritas Tbk Purwoko Sartono dalam risetnya hari ini, tercatat dalam tiga hari perdagangan berturut-turut, investor asing melakukan penjualan bersih (net selling) besar-besaran.

Hal itu, kata dia, merupakan imbas dari krisis Yunani yang dikhawatirkan merambat ke negara lain seperti Portugal, Spanyol, dan Italia. Selain itu, berita mundurnya Sri Mulyani pada pekan lalu turut menjadi berita terpanas dan secara langsung berpengaruh terhadap pasar finansial.

Sementara itu, nilai tukar rupiah melemah, imbal hasil obligasi dan credit default swap (CDS) bergerak naik, merefleksikan meningkatnya risiko Indonesia di mata investor asing.

Pada transaksi sesi II Jumat, IHSG terempas 71,28 poin atau 2,54 persen ke level 2.739,33. Sedangkan di akhir sesi pertama turun 48,88 poin atau 1,74 persen ke level 2.761,73.

Total nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp 5,67 triliun dan volume tercatat 8,70 juta lot, dengan frekuensi 93.160 kali. Sebanyak 33 saham menguat, 206 melemah, 45 ditutup stagnan, serta sebanyak 216 sedang tidak terjadi transaksi.

Pemodal asing di pasar reguler melakukan pembelian saham Rp 1,31 triliun, sedangkan penjualan mencapai Rp 1,94 triliun.

Sementara berdasarkan data transaksi Bloomberg, Jumat, pukul 16.00 WIB, nilai tukar rupiah bercokol di posisi 9.225/US$ dari transaksi siang yang berada di level 9.255/US$.

Berdasarkan data kurs transaksi BI, rupiah kemarin sore berakhir di posisi 9.293/US$. Pada perdagangan Kamis, 6 Mei 2010, mata uang lokal tersebut berakhir di level 9.205/US$. (umi)

antique.putra@vivanews.com

• VIVAnews
LAGI, KESALAHAN KOMPUTER DAN MANUSIA BISA MEMPENGARUHI SENTIMEN PASAR :
Dow plummets by almost 1,000 points
By Adam Shell and Matt Krantz, USA TODAY
NEW YORK — In a late-day plunge eerily reminiscent of famous Wall Street stock market meltdowns in 1987 and the fall of 2008, the Dow Jones industrials nosedived almost 1,000 points Thursday in a volatile day that began with heavy selling on Greek debt fears and was followed by a waterfall decline that was allegedly caused by erroneous trades and “unusual trading activity.”
In a roughly 15-minute span that began around 2:30 p.m. on Wall Street, the Dow, which was already down almost 300 points, suffered the bulk of its biggest-ever intraday dive, falling as much as 998.50 points, or 9.2%, to 9869.62. The violent drop was followed by a rebound nearly as steep, with the Dow finishing down 347.80 points, or 3.2%, to 10,502.32.

The fast-and-furious drop caught traders off guard, sparking a vicious rumor mill, as there was no apparent news event to spark such a sudden plunge. While it was occurring, Andy Brooks, a trader at T. Rowe Price, guessed that it was a so-called “fat finger” trade, a term used to describe a trade that is entered incorrectly by human hands. “I have no idea why it happened; when it falls that far and fast and bounces back that quickly, you figure it’s an error or tech snafu,” Brooks said.

It turns out the veteran trader’s suspicions were on target. Some unusual trades — which are believed to have been made in error — in well-known, big-name stocks such as Procter & Gamble, which dropped 37% in the blink of an eye, and 3M, which plunged 25% in what seemed like a nanosecond, set off a chain reaction of computer-generated selling that amounted to “a crash” for the market, says Joe Battipaglia, strategist at Stifel Nicolaus.

There were rumors that a trader at a large Wall Street bank had inadvertently entered “b” for billions instead of “m” for millions. There were rumors of a large liquidation by a hedge fund.

While no definitive explanation of what caused the massive decline has been confirmed, the Securities and Exchange Commission, Wall Street’s top cop, said it was looking into the “unusual trading activity” but had yet to issue its findings or determine what actions it would take.

In a statement, the SEC and the Commodity Futures Trading Commission said: “(We) are working closely with the other financial regulators, as well as the exchanges, to review the unusual trading activity that took place briefly this afternoon. We are also working with the exchanges to take appropriate steps to protect investors pursuant to market rules. We will make public the findings of our review along with recommendations for appropriate action.”

The House Capital Markets Subcommittee has scheduled a hearing Tuesday on the causes of the market drop.

The bad trades occurred on electronic stock exchanges. Both the Nasdaq and the NYSE Group’s electronic Arca exchanges said they would cancel trades executed between 2:40 and 3 p.m. Nasdaq said it would cancel trades at prices that were 60% higher or lower than the last trade at 2:40 p.m.

In a statement, Nasdaq said it “had no technology or system issues associated with the trading that occurred between 2 and 3 p.m. ET today. Our market-close process ran successfully.”

While the exact number of stocks affected by abnormal activity could not be determined, at least nine stocks were flagged with strange activity, including stocks such as Accenture, which dropped to 1 cent from its $42.17 close Wednesday.

The timing of the market’s massive drop, however, kept the New York Stock Exchange’s circuit breakers from being triggered. For a trading halt to occur, the Dow must fall at least 10%. If that drop occurs before 2 p.m., trading is halted for one hour; a 30-minute halt occurs if the drop occurs between 2 and 2:30 p.m. After 2:30 p.m., there is no halt to trading, according to the NYSE’s website.

The Dow’s 3.2% loss on the day signals that the market remains under tremendous pressure due to fears that the debt crisis in Greece would spread to other countries in Europe. Investors worry that the need for bailouts of Greece and possibly other indebted countries such as Portugal, Spain and Italy will require austerity measures that could impede the global economic recovery.

“The epicenter of the financial earthquake is in Greece,” says Dan Seiver, finance professor at San Diego State University. Thursday’s frightening fall emphasizes just how intertwined world markets are today, he adds. “It shows that panic can spread around the world in seconds.” The market’s recent struggles, Battipaglia says, are simply investors dealing with the “next round of the financial crisis.”

In recent years, much of stock trading has gone electronic, as the need for speed has intensified in a globally linked financial world. Traders on the floor of the NYSE have less control of market dislocations than in the past. However, when the NYSE spotted odd trading patterns in stocks such as Procter & Gamble, it halted trading of the stocks for roughly 60 to 90 seconds to get a better read on what was happening. But due to new trading rules, trades are allowed to bypass the NYSE floor and move directly to electronic exchanges. The faulty trades allegedly occurred somewhere within the less transparent labyrinth of electronic exchanges.

The move to all-electronic marketplaces for stocks is a big reason for the market’s meltdown, says Joseph Saluzzi, trader at Themis Trading. Previously, when sell orders hit at the same time, a market maker or specialist would buy shares to prevent a sudden crash. But those safeguards have been largely removed as electronic trading is allowed to go on with little intervention, Saluzzi says. If there are many sell orders, and if buyers decide to wait, selling overwhelms a stock much like a panic can overwhelm a bank.

“You can’t have the U.S. stock market have this happen to it,” Saluzzi says, adding that regulators need to examine this closely. “The SEC just got something new to look at,” he says. “Regardless of the cause, the bottom line is that the system failed. This could happen again.”

If it does, fear and panic are bound to soar as they did Thursday, when a closely followed Wall Street fear gauge jumped nearly 50%.

Investors rushed into sectors viewed as havens, such as U.S. government bonds. The yield on the benchmark 10-year Treasury note, which moves opposite price, dropped to 3.40%, from nearly 3.6% on Wednesday. Gold jumped $22.30 to $1,196.20 an ounce,

Like the brutal sell-offs during the darkest days of the recent financial crisis, much of the selling in recent days is coming from increasingly jittery and emotional investors. “A lot of it is emotional,” says Jack Ablin, chief investment officer at Harris Private Bank. “Emotion can only take you a certain distance, and at some point, reality will kick in.”

The reality, according to bulls such as Brian Belski, chief investment strategist at Oppenheimer, is that despite the “fear of the unknown” now facing investors, business prospects in the U.S. are much better today than they were in the fall of 2008, when Lehman Bros. collapsed, setting off the financial crisis. “The U.S. is the best house in the worst neighborhood right now,” he says. Corporate earnings are rising, interest rates remain low, and investors are flocking to the U.S. dollar as a safe-haven play.

One rumor that was making its rounds around Wall Street trading desks is that the so-called “fat finger” trade occurred at Citigroup. But the firm says it has found no such proof.

In a statement, the bank said: “We, along with the rest of the financial industry, are investigating to find the source of today’s market volatility. At this point, we have no evidence that Citi was involved in any erroneous transaction.”

P&G’s Rotha Penn said in a statement that its business fundamentals are strong. The company also said it was not “in a position to comment on the details of the individual trade today, but we believe the trade was in error.”

If the market rout was exacerbated by a bad trade, it was a costly mistake. The value of the stock market as measured by the Wilshire 5000 Total Market index fell $1 trillion between the price of the index at the open and the day’s low.

The fact that an error, either technical or human, could cause such a market meltdown could shake some individual investors’ confidence in the stock market just as many were regaining it, says Randy Frederick, director of trading and derivatives at Charles Schwab.

“These types of things are rare and infrequent, but I hope it doesn’t shake investor confidence too much,” he says. “We were starting to see retail investors come back in; to have this happen at this time is unnerving.”

BI: Ini Jauh dari Krisis Ekonomi Kedua
“Sebenarnya Eropa jauh lebih baik, kecuali Yunani.”
JUM’AT, 7 MEI 2010, 15:07 WIB
Antique, Syahid Latif

VIVAnews – Bank Indonesia (BI) memastikan bahwa krisis keuangan yang terjadi di Eropa, khususnya Yunani serta pelemahan mata uang global terhadap dolar Amerika Serikat tidak bisa dianggap sebagai krisis ekonomi global jilid II.

“Tidak, jauh dari itu,” kata Pjs Gubernur BI Darmin Nasution usai sholat Jumat di Kantor BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat 7 Mei 2010.

Darmin menilai, saat ini, fundamental ekonomi sejumlah negara sudah cukup kuat. Selain itu, perekonomian AS menunjukkan adanya pemulihan setelah sebelumnya dilanda krisis keuangan.

“Sebenarnya Eropa jauh lebih baik, kecuali Yunani. Kemudian (memang) orang meragukan Portugal dan Spanyol. Jadi, ini bukan fenomena, belum memburuk,” ujar Darmin.

BI memastikan bahwa pihaknya sampai saat ini belum menganggap krisis yang terjadi belum terlalu mengkhawatirkan karena fundamental Indonesia dalam kondisi baik.

Selain itu, ujar Darmin, hubungan antara mata uang rupiah dan dolar AS baik. Bahkan, seharusnya cenderung ke arah penguatan. “Jadi, ini sementara saja,” kata dia.

Satu hal yang menarik perhatian BI adalah perekonomian Spanyol yang selama ini dianggap lebih baik dari Indonesia mulai dipertanyakan pasar. Hal itu terkait kondisi Credit Default Swap (CDS) Spanyol.

“Apakah CDS-nya lebih jelek dari Indonesia misalnya. Padahal, dulu itu dia negara yang relatif baik berdasarkan penilaian pasar,” ujar Darmin. (art)

antique.putra@vivanews.com

• VIVAnews
Anjloknya Pasar Saham Hanya Sementara
JUM’AT, 07 MEI 2010 | 14:25 WIB

Indeks saham. TEMPPO/Dinul Mubarok

TEMPO Interaktif, Jakarta – Badan Pengawasan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan menyatakan turunnya indeks harga saham gabungan (IHSG) dan anjloknya pasar regional hanya bersifat sementara. “Rontoknya bursa ini reaksi pasar menanggapi krisis di Yunani dan Eropa,” ujar Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany di Jakarta, Jumat (7/5).

Fuad menilai, anjloknya indeks harga saham dalam negeri merupakan koreksi terhadap pertumbuhan indeks setelah krisis yang terjadi pada 2008. “Wajar saja kalau dalam proses pemulihan ada kondisi yang naik-turun,” kata Fuad, yang yakin hal ini tidak berlangsung lama.

Pada sesi perdagangan siang, indeks harga saham kembali mengalami penurunan sebesar 48,89 poin. Indeksi dibuka pada level 2808,74 dan turun menjadi 2761,73 saat penutupan sesi siang. Indeks sempat menyentuh angka terendah 2705,21 namun kembali naik.

Saham-saham di kawasan Asia dibuka menurun tajam seiring rontoknya saham-saham di bursa New York, Kamis (6/5) waktu setempat, di tengah ketakutan terhadap krisis utang yang melanda Yunani akan berimbas ke kawasan Eropa dan sekitarnya.

Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 3,8 persen setelah terpuruk 3 persen sehari sebelumnya. Indeks Hang Seng di Hong Kong juga jatuh 1,4 persen di awal perdagangan setelah menurun tipis sehari sebelumnya.

Indeks komposit Shanghai, bursa terpandang di Cina daratan, terperosok 2,2 persen, menambah beban bursa itu setelah rontok 4,1 persen pada Kamis. Indeks acuan Australia di Sydney juga turun 2,2 persen lebih rendah.

Nilai tukar euro melanjutkan penurunan terhadap dolar Amerika Serikat yang menyentuh US$ 1,2522 dalam perdagangan hingga malam di Asia. Menjelang perdagangan sesi siang di Asia, euro ditransaksikan sekitar US$ 1,2669, level terendah sejak Maret lalu.

FAMEGA SYAVIRA
Bank Indonesia (BI) menegaskan pelemahan mata uang yang terjadi di beberapa negara saat ini bukan merupakan krisis global jilid II. Kondisi perekonomian AS dan beberapa negara Eropa sudah lebih baik, kecuali tentu saja Yunani yang sedang didera krisis utang.

“Tidak, jauh dari itu (krisis global jilid II). Karena secara fundamental ekonomi AS juga lebih baik, kemudian Eropa juga menuju lebih baik. Kecuali Yunani dan memang kemudian orang meragukan Portugal dan Spanyol,” ujar Pjs Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (7/5/2010).

Mengenai kepanikan yang sempat melanda pasar finansial hari ini, Darmin menyatakan bahwa hal itu merupakan dampak dari kesalahan teknis yang terjadi di bursa AS dan juga krisis di Yunani.

“Ini fenomena global, kelihatannya ketidakpastian solusi atas krisis. Itu yang membikin panik pasar dan itu berimbas kepada pasar AS, sehingga terjadi kejatuhan ini,” katanya.

“Dan agak diperparah di AS, itu ada salah entry quotasi. Waktu entry penjualan saja, memang masukan angka terlalu besar sehingga terjadi kepanikan. Itu memperparah,” imbuhnya.

Bursa Wall Street pada perdagangan Kamis memang mengalami koreksi yang besar, dengan indeks Dow Jones merosot hampir 1.000 poin. Kejatuhan Wall Street langsung diikuti oleh merosotnya bursa-bursa regional pada perdagangan Jumat ini.

Menurut Darmin, pelemahan yang terjadi di pasar finansial Indonesia, termasuk melemahnya nilai tukar rupiah hingga 9.300-an per dolar AS tidak terjadi sendirian.

“Kita tidak sendirian mengalami hal ini, semua mengalaminya. Kita bukan yang terburuk walaupun bukan yang terbaik,” ujarnya.

Darmin mengatakan, situasi pasar finansial seperti saat ini memang rentan sekali membuat investor lari ke dolar AS karena panik.

“Soalnya kalau dia panik, bingung, dia cari kepastian lari ke dolar. Menurut pasar, dia lari ke dolar, itu yang membuat dolar menguat sekali,” katanya.

Yang bisa dilakukan BI kini adalah terus berada di pasar untuk meredam volatilitas di pasar. Menurut Darmin, BI bahkan sudah berada di pasar sejak 2 hari yang lalu.

“BI terus di pasar, sebetulnya sejak 2 hari yang lalu. Kita sudah mengikuti ini dengan sangat ketat. Kita terus menjaga jangan sampai terlalu ekstrim,” jelasnya.

Darmin berharap masalah krisis di pasar finansial saat ini tidak berlangsung lama. Jika penyelesaian masalah krisis utang Yunani cepat diselesaikan, diharapkan pasar finansial bisa segera tenang.

“Kalau ditanya berapa lama, mestinya ini tidak akan lama begitu solusi untuk Yunani (tuntas),” jawab Darmin saat ditanya sampak kapan gejolak pasar akan berlangsung.

Sumber: detikcom
Senin, 03/05/2010 10:09:00 WIB
Pasar investasi belum bubble
Oleh: Rosady T. A. Montol
Pasar investasi Indonesia menggembirakan, kenaikan IHSG terus mencatat rekor. Bukan hanya itu, harga obligasi juga meningkat, capital inflow pun mengalir deras, efeknya rupiah menguat tajam.
Banyak kalangan mulai khawatir kemungkinan bubble di mana harga telah overpriced atau terlampau mahal dan ada potensi penurunan harga secara drastis. Berbagai institusi keuangan dunia pun ikut memberi prediksi dengan analisis yang beragam. Akibatnya, spekulasi makin panas.

Pertanyaannya, apakah benar pasar investasi di Tanah Air sudah mendekati bubble?

Untuk menjawabnya, ada baiknya kita menelaah terlebih dahulu fenomena yang melatarbelakangi penguatan ini.

Fenomena pertama, ekspektasi kebangkitan ekonomi dan optimisme pasar. Setelah terpuruk dalam jurang krisis, ekonomi AS mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Membaiknya beberapa indikator ekonomi AS diantaranya PDB, inflation, retail sales, market confidence, telah mendongkrak optimisme pasar, meskipun di tengah harga perumahan dan tingkat pengangguran yang belum pulih.

Membaiknya ekonomi AS memicu naiknya permintaan produksi global yang memberikan efek domino bagi perdagangan internasional. Produktivitas manufaktur bergeliat, konsumsi energi dan komoditas naik, belum lagi dampak terhadap penyerapan tenaga kerja dan konsumsi dunia yang terdongkrak.

Seakan mendapatkan darah segar, pelaku pasar optimistis dan makin agresif dalam berinvestasi dengan memburu investasi high risk- high return yang notabene memberi imbal hasil dan risiko tinggi.

Kedua, perubahan strategi portofolio. Meningkatnya optimisme pasar keuangan dunia mengubah strategi investasi global.

Fund manager yang sebelumnya melakukan aksi flight to safety dengan mengamankan portofolionya di high quality instrument seperti US Treasury yang dianggap sebagai investasi paling aman di dunia, kini berpaling pada high yield instrument.

Komoditas dan saham menjadi pilihan penempatan investasi yang terkonfirmasi dengan naiknya harga energi/komoditas dan harga saham dunia.

Kondisi di atas tentunya sangat menguntungkan bagi negara-negara emerging market yang memiliki korelasi kuat terhadap komoditas seperti Indonesia.

Didukung oleh fundamental ekonomi dan situasi polkam yang stabil serta ekspektasi memasuki peringkat investment grade tahun ini membuat Indonesia menjadi salah satu outlet investasi yang paling diburu dibandingkan peers country lainnya di Asia Tenggara.

Cukup diuntungkan

Sebagai negara berbasis komoditas, Indonesia cukup diuntungkan dengan situasi global saat ini. Ekspektasi positif di pasar komoditas memberi underlying yang kuat terhadap pasar investasi di Indonesia.

Lihat saja saham-saham di BEI yang sebagian besar berbasis komoditas, kondisi yang relevan dengan julukan IHSG sebagai commodity based index. Artinya, ada korelasi positif antara IHSG dan harga komoditas global. Membaiknya harga komoditas global akan berpengaruh positif terhadap profitabilitas perusahaan yang listed di BEI yang pada akhirnya mengangkat harga IHSG.

Kondisi yang menguntungkan bagi pasar investasi Indonesia secara keseluruhan, capital inflow cukup deras mengalir. Obligasi dan SBI juga diburu investor membuat pasar investasi kita kembali bergairah. Rupiah menguat tajam seiring dengan derasnya capital inflow yang bersinergi dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang makin solid.

Kita telaah fenomena ketiga, yakni kekhawatiran pelaku pasar. Mudah disimpulkan, pulihnya pasar investasi terkait dengan optimisme kebangkitan pasar global. Dalam perkembangannya, ada beberapa hal yang mulai mengusik kepercayaan pasar dan dikhawatirkan menjadi pemicu berbaliknya arah pergerakan pasar yang sudah membaik, antara lain masih labilnya ekonomi AS meski PDB telah pulih.

Tingginya pengangguran AS menjadi ganjalan bagi ekonomi AS yang bertopang pada konsumsi. The Fed masih menjaga suku bunga rendah di level 0.25%, sementara bailout dan unconventional policy masih dilakukan, menunjukkan ekonomi AS belum dilepas ke mekanisme pasar normal.

Faktor lain yang dikhawatirkan menjadi pemicu berbaliknya arah pergerakan pasar yang sudah membaik ialah Yunani dan contagion effect.

Masalah defisit anggaran yang dialami Yunani dan beberapa negara di Eropa juga menjadi ganjalan. Sovereign risk atau risiko terkait dengan kemampuan untuk membayar kewajiban atas penerbitan obligasi suatu negara dikhawatirkan menular (contagion effect) ke negara Euro Zone (EZ) lainnya mengingat negara-negara di Eropa memiliki banyak kesamaan dari sisi karakteristik dan size ekonomi.

Faktor lainnya adalah China, overheated, dan global imbalance.

AS cukup intensif dalam menyerukan revaluasi yuan, terkait dengan isu global imbalance di mana negara-negara Asia mendominasi perdagangan dunia.

Overheated juga dikhawatirkan terkait dengan pertumbuhan ekonomi China yang cepat. Strategi nilai tukar adalah isu krusial yang menjadi poin penting dalam menggenjot ekspor untuk menunjang pertumbuhan ekonomi China. Apabila saluran ekspor tersumbat, maka terjadi overheated di tengah pertumbuhan aktivitas manufaktur yang sangat tinggi.

Namun demikian, kekhawatiran-kekhawatiran di atas tidak perlu berlebihan. Berikut beberapa analisis terkait dengan kondisi di atas.

Pertama, pengangguran AS diperkirakan membaik pada semester II/2010 seiring dengan pulihnya penyerapan tenaga kerja. Data nonfarm payroll AS atau pembayaran gaji di luar sektor pertanian yang meningkat menjadi sinyal positif bagi penyerapan tenaga kerja AS. Hampir dipastikan, ekonomi yang mulai ekspansi akan memberi peluang terciptanya lapangan kerja di AS.

Kedua, meski masih menjadi isu hangat saat ini, kekhawatiran terhadap sovereign risk Yunani dan beberapa negara EZ lainnya diperkirakan sudah mulai bottoming. Komitmen IMF dan European Union yang didukung oleh negara-negara utama Eropa boleh membuat para investor lega.

Ketiga, bagi China, strategi nilai tukar merupakan harga mati untuk melindungi ekonominya. China akan menghadapi propaganda AS dengan cara diplomatis. Dengan demikian, ekspor terlindungi dan isu overheated tereliminasi. Kekuatan ekonomi China yang menggurita didukung oleh cadangan devisa serta kepemilikan US Treasury yang dominan membuat China punya bargaining position yang kuat menghadapi tekanan barat.

Dari paparan di atas, berikut beberapa pesan penting yang bisa menjadi catatan.

Pertama, tren pemulihan ekonomi dunia diperkirakan terus berlangsung sepanjang 2010 di mana AS masih menjadi lokomotif. Adapun ganjalan di atas yang masih diperdebatkan akan berangsur pulih seiring dengan kuatnya optimisme pasar.

Kedua, naiknya tren kepercayaan pasar tampaknya masih berlanjut sepanjang 2010. Dengan demikian, risk appetite masih berlanjut dimana arus investasi ke high risk asset dan emerging market diperkirakan masih terus berlangsung sepanjang 2010.

Ketiga, permintaan energi dan komoditas diperkirakan naik seiring dengan peningkatan aktivitas manufaktur. Ini kabar baik bagi Indonesia dan IHSG terkait dengan posisi Indonesia sebagai commodity link country.

Dari uraian yang dikemukakan di atas, kesimpulan penting yang cukup melegakan adalah bahwa tren pertumbuhan ekonomi global memberi stimulus positif bagi investasi di Indonesia.

Membaiknya optimisme pasar global yang mendorong pelaku pasar berinvestasi di emerging market yang bersinergi dengan baiknya fundamental ekonomi Indonesia masih menjadi underlying pertumbuhan pasar investasi di tanah air sepanjang 2010. Dengan demikian, pasar investasi di Indonesia masih jauh dari bubble.

Oleh Rosady T. A. Montol
Economist /Head of Global Market Research Bank BNI

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s