1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

saham2 IHSGW non-stabil (the mathematics) … 020810 21 Juli 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:32 pm

AKSes
Senin, 23 Agustus 2010 – 09:19 wib
TEXT SIZE :

Logo BEI. Foto: Candra Setya/okezone.com
Ibarat menabung, maka sebaiknya nasabah memiliki buku tabungan. Dari buku tabungan akan diketahui aliran keluar masuk uang karena disana tercatat setiap transaksi yang dilakukan.

Dari buku tabungan itu juga dapat diketahui berapa saldo tabungan yang ada di rekening, berapa bunga yang dibayarkan oleh bank dan sebagainya, termasuk keluar masuknya uang melalui transfer. Singkat kata, nasabah dapat mengetahui setiap transaksi di rekening tabungan. Kapan saja dengan melakukan print out buku tabungan.

Nah, investasi di saham pun kini mulai menerapkan hal seperti itu. Teknologi back office yang diterapkan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), kini memungkinkan setiap investor melakukan pengecekan aset-aset yang tercatat dalam rekening efek di perusahaan broker.

Hal ini memungkinkan karena setiap nasabah di perusahaan broker akan diwajibkan membuka subrekening di KSEI. Data rekening efek nasabah yang tertera pada perusahaan broker harus persis sama dengan data nasabah pada subrekening KSEI. Data aset di rekening efek dapat berupa portofolio saham dan kas atau tunai.

Dengan adanya sub rekening efek di KSEI, paling tidak ada dua pencatatan yang dapat di cross chek setiap saat, terutama jika terjadi perbedaan angka. Jika investor juga membuat catatan atas semua transaksi di rekening efek berarti ada tiga pencatatan yakni pencatatan di investor atau nasabah (dilakukan sendiri oleh nasabah), di perusahaan broker dan di KSEI.

Jika data rekening efek nasabah yang tertera di perusahaan broker berbeda dengan data sub rekening nasabah di KSEI berarti ada yang salah dalam pencatatan. Jika hal ini terjadi maka investor dapat langsung melakukan konfirmasi ke perusahaan broker.

Mengapa terjadi perbedaan pencatatan di perusahaan broker dengan KSEI? Begitu pun jika perbedaan terjadi antara catatan yang dibuat sendiri oleh investor dengan catatan di subrekening efek KSEI, investor dapat langsung melakukan klarifikasi.

Pertanyaannya, bagaimana investor dapat melihat data subrekening yang disimpan di KSEI? Inilah kuncinya. Investor melalui perusahaan broker dapat meminta kunci untuk membuka data di KSEI.

Kunci itu bernama AKSes, sebuah akronim dari Acuan Kepemilikan Sekuritas. Untuk mendapatkan AKSes sama sekali tidak dipungut biaya alias gratis. Untuk mengetahui lebih detil tentang AKSes dapat disimak melalui http://akses.ksei.co.id.

Dengan AKSes, investor dapat memantau portofolionya setiap hari dan setiap saat. Hal ini sangat bermanfaat bagi investor terutama jika ada emiten yang melakukan aksi korporasi (corporate action), seperti: penawaran umum terbatas (right issue), pemecahan saham (stock split), pembagian saham bonus, dividen dan atau dividen saham.

Dalam kaitan aksi korporasi tersebut, melalui AKSes investor dapat mengetahui, apakah hak-haknya sebagai pemegang saham sudah terpenuhi atau belum oleh emiten?

Pemantauan aset yang tercatat di rekening efek merupakan hal yang penting bagi investor karena dapat mencegah terjadinya tindakan moral hazard atau penyalahgunaan rekening efek milik investor oleh perusahaan broker atau oknum di perusahaan broker. Selama ini cukup banyak kasus tentang penyalahgunaan aset nasabah oleh perusahaan broker atau oknum di perusahaan broker.

Dalam praktik, rekapitulasi kegiatan transaksi yang dilakukan investor akan dilaporkan setiap bulan oleh perusahaan broker ke setiap investornya, baik melalui surat konvensional maupun lewat surat elektronik atau email.

Namun, pengiriman secara berkala inipun kadangkala tidak dilakukan setiap bulan secara rutin sehingga investor apalagi tidak membuat catatan transaksi sendiri mengalami kesulitan untuk mengetahui nilai asetnya di rekening efek.

Seperti diketahui, nilai atau harga efek di bursa selalu berubah setiap hari. Portofolio yang sama pada hari ini misalnya bernilai Rp200 juta, maka esok harinya dapat berubah karena faktor perubahan harga pasar. Nilai portofolio dapat berkurang atau bertambah.

Nah, dengan melalui pemantauan melalui AKSes, maka investor akan mengetahui setiap perubahan nilai portofolio setiap hari. (Tim BEI)(//ade)
Kamis, 26/08/2010 03:00:56 WIB
BEI restrukturisasi lantai perdagangan saham
Oleh: Irvin Avriano A.
JAKARTA: PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menghapus lantai perdagangan (trading floor) yang selama ini menjadi lambang pergerakan bursa saham Indonesia.

Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia BEI Supandi mengatakan penghapusan itu bertujuan untuk mengefisienkan ruang lantai bursa yang sebagian besar tidak digunakan selama ini.

“Dari sekitar 444 kursi yang ada, kurang dari 30 kursi yang digunakan anggota bursa, karena pada dasarnya transaksi tidak perlu lewat floor lagi,” ujarnya kepada Bisnis pekan ini.

Dia mengatakan dalam waktu dekat restrukturisasi trading floor akan dilakukan dan akan menggantikannya dengan museum pasar modal, perluasan galeri, dan ruang simulasi perdagangan yang dapat diakses tamu-tamu dalam setiap kunjungan ke bursa.

Menurut dia, nantinya otoritas bursa dapat memanfaatkan ruang simulasi perdagangan untuk seremonial yang selama ini digelar di lantai bursa, misalnya untuk akhir dan awal tahun.

Dia menuturkan praktik tanpa lantai perdagangan (floorless) itu sudah dipraktikkan lebih dulu di beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan beberapa negara lain seperti Jepang. Sedangkan untuk menerapkan sistem perdagangan ganda seperti yang dilakukan di AS tidak memungkinkan karena membutuhkan anggaran yang besar.

Direktur Perdagangan dan Pengawasan Anggota Bursa BEI Wan Wei Yiong menambahkan perdagangan yang dilakukan melalui trading floor oleh anggota bursa sudah tidak efisien.

“Bahkan, semua transaksi yang lewat floor harus diproses lagi di back office anggota bursa dulu sehingga prosesnya lama.”

Dia mengatakan saat ini terminal sekuritas di floor sekaligus digunakan sebagai terminal cadangan jika sistem perdagangan anggota bursa di kantornya terganggu, sehingga otoritas bursa masih memikirkan solusi bagi permasalahan pengganti terminal cadangan itu.

Ketika dikonfirmasi, Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Ahmad Fuad Rahmany belum mengetahui rencana itu secara mendetail.

Kordinator Komite Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Lily Widjaja mengatakan salah satu hal yang diusulkan anggotanya terkait masalah floorless itu adalah masalah pengganti terminal cadangan yang menjadi fasilitas business continuity plan (BCP) itu.

“Kami harapkan nanti ada pemecahan masalah yang bisa dikomunikasikan dan menguntungkan bagi sekuritas.”

Dia mengakui hingga saat ini ada dua bagian dari anggota bursa yang berpendapat untuk mempertahankan floor atau menghapusnya sama sekali. Lily hanya berpendapat banyak hal yang bisa diambil untuk mengatasi kendala dari rencana itu, salah satunya adalah adanya mini floor bagi sekuritas.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Abiprayadi Riyanto menyayangkan penutupan lantai bursa itu, tetapi tetap mendukung rencana itu demi efisiensi biaya yang harus dikeluarkan otoritas bursa. (faa)
Chart forBumi Resources Tbk (BUMI.JK)
Neraca
Senin, 16 Agustus 2010 – 08:41 wib

LAPORAN keuangan adalah informasi paling fundamental bagi perusahaan publik. Manfaat laporan keuangan tidak hanya dibutuhkan oleh perusahaan tersebut tetapi juga oleh pihak pengguna lain yang berkepentingan, seperti: bank, vendor, kantor pajak dan investor. Pada dasarnya laporan keuangan setiap perusahaan menyajikan tiga hal, yakni: laporan rugi laba (profit and loss), laporan aruas kas (cash flow statement) dan neraca (balance sheet).

LAPORAN keuangan adalah informasi paling fundamental bagi perusahaan publik. Manfaat laporan keuangan tidak hanya dibutuhkan oleh perusahaan tersebut tetapi juga oleh pihak pengguna lain yang berkepentingan, seperti: bank, vendor, kantor pajak dan investor. Pada dasarnya laporan keuangan setiap perusahaan menyajikan tiga hal, yakni: laporan rugi laba (profit and loss), laporan aruas kas (cash flow statement) dan neraca (balance sheet). Artikel kali ini akan lebih fokus pada pembahasan mengenai neraca.

Neraca berarti sebuah keseimbangan yang disimbolkan dengan sebuah timbangan, dimana terdapat dua beban di kanan dan kiri. Timbangan disebut seimbang apabila beban di kanan sama dengan beban di kiri. Dalam dunia keuangan, istilah neraca berkaitan dengan masalah akuntansi, yaitu sistem pencatatan yang menggambarkan posisi keuangan dalam periode tertentu di satu lembaga atau perusahaan. Sistem pencatatan pun harus mengikuti kaidah standar akuntansi yang sedang berlaku.

Dalam akuntansi keuangan neraca terdiri dari tiga unsur, yakni: aset, modal atau ekuitas dan utang atau kewajiban. Dalam formula sering ditulis aset = ekuitas + kewajiban. Aset menunjukkan kekayaan yang dimiliki perusahaan atau lembaga. Sedangkan, ekuitas dan kewajiban merupakan sumber perolehan kekayaan perusahaan. Dalam laporan keuangan aset ada di sebelah kiri, sedangkan ekuitas dan kewajiban ada di sebelah kanan.

Sekilas tampak sederhana sekali. Namun, dalam penerapannya tidak mudah. Sebab, aset dapat berwujud macam-macam. Ada aset lancar dan tidak lancar, ada aset bergerak dan tidak bergerak atau tetap. Nah, nilai aset tidak selamanya tetap, terutama untuk aset yang bersifat tetap, seperti: bangunan, tanah, pabrik, mobil, dan semacamnya. Ada aset yang setiap tahun nilainya berkurang karena ada penyusutan, seperti: pabrik, mesin, mobil dan lainnya. Tapi ada juga aset yang nilainya justru naik, seperti: tanah, emas dan lainnya.

Di sisi kanan, ekuitas dan kewajiban juga selalu berubah setiap periode laporan keuangan diterbitkan. Bagi sebuah perusahaan nilai ekuitas tahun ini tidak sama dengan tahun lalu atau tahun depan. Begitu juga dengan nilai kewajiban selalu berubah dari waktu ke waktu. Nilai ekuitas dan kewajiban berubah dalam periode semesteran bahkan kuartalan.

Yang masuk dalam unsur ekuitas antara lain: modal disetor dari pemegang saham, agio saham dan laba ditahan. Modal disetor dilakukan pada saat pendirian perusahaan. Misalnya begini, perusahaan X didirikan dengan modal dasar Rp 10 miliar yang terdiri dari 10 juta lembar saham dengan nilai nominal Rp 1.000 per saham. Sedangkan modal ditempatkan dan disetor penuh ditetapkan Rp 2,5 miliar atau 25% dari modal dasar dengan jumlah saham sebesar 2,5 juta lembar (Ada ketentuan sendiri yang mengatur besarnya modal disetor pada saat mendirikan perusahaan). Maka pada saat didirikan ekuitas perusahaan X adalah Rp 2,5 miliar.

Jika dalam perjalanannya perusahaan X tadi berkembang pesat dan membutuhkan dana baru, maka ia dapat menerbitkan saham baru dan dijual di atas nominal. Misalkan, perusahaan X menerbitkan saham baru sebanyak 2,5 juta lembar lagi dengan nominal Rp 1.000 dan saham itu dijual pada harga di atas nominal misalnya Rp 1.500. Dengan begitu, unsur ekuitas perusahaan X tidak hanya terdiri dari modal disetor saja, tetapi sudah ada agio saham sebesar 500 x 2,5 juta lembar yakni Rp 1,25 miliar.

Jika perusahaan X, untuk kebutuhan ekspansi masih membutuhkan dana segar lagi, maka ia dapat mengajukan pinjaman ke bank, lembaga keuangan lain dan pemegang saham. Perusahaan juga dapat menerbitkan surat utang yang bisa dijual seperti obligasi, medium term notes (MTN) dan sejenisnya. Jika sudah seperti ini, berarti sumber asset perusahaan X tidak hanya berasal dari ekuitas tetapi juga berasal dari pinjaman bank atau penjualan surat utang ke pihak lain. Dari sini terlihat bahwa jenis pinjaman dapat berupa pinjaman jangka pendek, menengah dan panjang. Pinjaman dan penerbitan surat utang termasuk kategori kewajiban perusahaan yang harus dibayar. Tentu saja setiap kewajiban dibebani juga dengan bunga pinjaman.

Nilai aset dan sumber aset (ekuitas dan kewajiban) harus matching alias sama. Dengan kata lain, sisi kiri neraca keuangan harus sama dengan sisi kanan. Jika angka yang muncul tidak sama, maka hal tersebut menunjukkan kesalahan dalam pencatatan. (Tim BEI)
(//rhs)
Jumat, 30/07/2010 09:50:23 WIB
Matematika, keuangan, & investasi
Oleh: Budi Frensidy
Sebagai penulis buku Matematika Ekonomi dan Matematika Keuangan, saya sering mendapat pertanyaan tentang perbedaan keduanya. Penjelasan singkat saya adalah matematika ekonomi berguna untuk mempelajari ekonomi mikro dan makro, sedangkan matematika keuangan sangat relevan untuk memahami akuntansi, keuangan, dan investasi.
Tanpa mempelajari matematika keuangan, mahasiswa dan lulusan keuangan akan sulit membedakan tingkat bunga versus tingkat diskonto, bunga biasa vs bunga tepat, bunga sederhana vs bunga majemuk, bunga diskrit vs bunga kontinu, bunga flat vs bunga efektif, anuitas biasa vs anuitas di muka, aplikasi present value vs future value, skedul amortisasi utang (KPR dan KKB) vs skedul akumulasi dana (sinking fund), return berdasarkan waktu vs return berdasarkan uang, return aritmetik vs return geometrik, dan macam-macam metode penghitungan indeks saham.

Ada tiga pasar dalam perekonomian yaitu pasar barang dan jasa atau sektor riil, pasar finansial yang terdiri atas pasar uang dan pasar modal, dan pasar tenaga kerja. Dalam pasar barang dan jasa, variabel utama adalah harga, dan dalam pasar tenaga kerja adalah gaji dan upah.

Adapun, dalam pasar finansial, variabel paling penting itu adalah tingkat bunga dan istilah lain yang berkaitan dengannya yaitu yield, tingkat diskonto, dan return. Karena itu, memahami matematika keuangan yang sering juga disebut matematika tingkat bunga adalah kunci untuk menguasai akuntansi, keuangan, dan investasi.

Kalkulus dalam akuntansi

Ini tidak berarti mahasiswa akuntansi dan keuangan tidak memerlukan matematika ekonomi. Sama seperti manfaat dari mempelajari ekonomi mikro dan makro, tidak ada ruginya mereka diajari matematika ekonomi sebagai prioritas kedua setelah matematika keuangan.

Dalam akuntansi dan manajemen keuangan, mahasiswa belajar bahwa ada dua biaya yang berhubungan dengan persediaan yaitu biaya pemesanan dan biaya penyimpanan.

Ada tradeoff antara keduanya. Jika pemesanan dilakukan dalam jumlah besar, biaya pemesanan tahunan rendah, tetapi biaya penyimpanan besar. Sebaliknya, untuk pemesanan dalam jumlah kecil, pemesanan tahunan akan sering, sehingga biaya pemesanan tinggi sementara biaya penyimpanan rendah.

Karena itu, mereka diharapkan mampu menentukan jumlah pembelian untuk setiap pemesanan atau economic order quantity (EOQ) yang meminimumkan total biaya persediaan tahunan yang terdiri atas dua biaya di atas.

Dengan menguasai kalkulus dasar tepatnya turunan pertama dan kedua, mahasiswa akuntansi dan keuangan akan dapat menurunkan sendiri persamaan untuk EOQ ini. Pada praktiknya, karena terbiasa menghafal, hampir tidak ada mahasiswa yang mampu melakukannya. Inilah susahnya mahasiswa kita termasuk mahasiswa keuangan yang lebih suka menghafal daripada menggunakan logikanya.

Aplikasi dalam investasi

Dalam ilmu fisika, kita mengenal kecepatan dan percepatan sebagai turunan pertama dan kedua dari fungsi jarak yang ditempuh (dalam waktu). Dalam investasi, turunan pertama dan kedua itu adalah return nominal dan pertumbuhan return.

Aplikasinya, kita dapat merumuskan strategi investasi yang tepat dengan menggunakan turunan pertama dan turunan kedua. Pertama, carilah aset yang return nominalnya positif sebagai necessary condition dan hindari aset yang return-nya negatif.

Kedua, carilah aset yang juga mampu memberikan pertumbuhan return positif sebagai sufficient condition. Tidak sulit mencari alternatif investasi yang mampu memberikan return nominal positif. Sebagian besar aset memenuhi kriteria ini, tetapi tidak banyak yang memberikan pertumbuhan return positif.

Memahami konsep sederhana di atas, mahasiswa akuntansi dan keuangan akan dapat menjawab perbedaan antara pernyataan ‘The rich get richer’ dan ‘The rich get faster richer’.

Ungkapan ‘yang kaya semakin kaya’ mengandung arti turunan pertama adalah positif, tetapi tidak menyebutkan apa-apa tentang turunan kedua. Turunan kedua mungkin positif, negatif, atau nol.

Adapun, dalam ungkapan ‘yang kaya semakin lebih cepat kaya’, baik turunan pertama maupun turunan kedua positif. Contohnya adalah investasi dalam saham yang fungsi harganya Rp1.000, Rp1.200, Rp1.600, Rp2.500, dan seterusnya.

Orang kaya terutama pengusaha umumnya tidak hanya ingin menjadi lebih kaya. Karena, jika sekadar menjadi lebih kaya, mungkin saja diperlukan waktu yang lebih lama untuk mendobelkan kekayaan, misalnya dari sebelumnya 8 tahun menjadi 10 tahun.

Yang diinginkan adalah semakin lebih cepat kaya yaitu semakin cepat dapat mendobelkan kekayaannya. Jika sebelumnya, diperlukan waktu 8 tahun, berikutnya mesti 6 tahun, setelah itu target menjadi 4 tahun, demikian seterusnya. Ini hanya dapat terealisasi jika turunan kedua juga positif.

Aplikasi penting lainnya dari kalkulus dalam investasi adalah mengukur risiko harga atau risiko tingkat bunga sebuah obligasi. Ukuran untuk ini dikenal sebagai durasi yang tidak lain adalah elastisitas perubahan harga obligasi terhadap perubahan yield.

Elastisitas harga obligasi terhadap perubahan yield ini adalah turunan pertama fungsi harga obligasi terhadap yield. Untuk memperoleh hasil yang lebih akurat terutama untuk perubahan yield yang cukup besar, investor umumnya juga memerlukan turunan keduanya yaitu konveksitas.

Mengetahui durasi dan konveksitas sebuah obligasi, kita mudah menghitung perubahan nilai obligasi atau portofolio obligasi jika terjadi perubahan yield di pasar.

Contohnya, jika durasi sebuah obligasi adalah 4, maka kenaikan yield 1% akan menyebabkan penurunan harga sekitar 4%. Berapa persentase tepatnya hingga dua angka desimal ditentukan oleh konveksitasnya. Kesimpulannya, keuangan dan investasi itu sangat dekat dengan matematika.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s