1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

kaitan Peristiwa dan pageviews : 021210 30 November 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 5:18 am

ada 4 gejala atawa peristiwa besar yang berpengaruh terhadap pageviews blog ini … sila simak dari tabel statistik pageviews yang gw posting ini :

DPR Resmi Bentuk Panja Krakatau Steel
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Kamis, 2 Desember 2010 | 06:44 WIB

Menteri BUMN Sambut Positif Panja KS
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Kamis, 2 Desember 2010 | 06:55 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar berharap pembentukan panitia kerja (Panja) dapat memberikan penjelasan sedetil-detilnya mengenai penawaran umum saham perdana PT Krakatau Steel Tbk (KRAS).
“Sebetulnya Panja itu kesempatan memberikan penjelasan sedetil-detilnya,” ujar Mustafa, Rabu (1/12) malam sesuai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR.
Dia menilai positif pembentukan Panja KS ini. Setiap pihak terlibat penawaran umum saham perdana KRAS mulai underwriter, emiten dan lainnya akan dipanggil sesuai kebutuhan. Dengan pembentukan panja ada pendalaman dengan mitranya. Mustafa juga mengharapkan Panja ini tidak berlangsung lama agar manajemen PT Krakatau Steel dapat bekerja.Selain itu, dengan polemik PT Krakatau Steel Tbk, Mustafa menuturkan komunikasi publik akan lebih diutamakan. “Komunikasi dan sosialisasi go public dan rights issue dijelaskan kepada DPR dan masyarakat,” tambah Mustafa. [cms]

INILAH.COM, Jakarta – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) resmi membentuk panitia kerja untuk memperdalam penyelidikan penawaran umum saham perdana PT Krakatau Steel Tbk (KRAS).
“Panja sudah resmi. Data-data yang diminta DPR belum dapat. Dengan panja kita memperoleh data dan analisa,” ujar Ketua Komisi VI Airlangga Hartarto, Rabu (1/12).
Ia menilai ada data yang diminta belum diberikan oleh pemerintah. Keterbukaan data ini mulai dari proses penjatahan saham, penetapan harga dan distribusi saham KRAS. Airlangga menambahkan Panja ini diharapkan dapat dilakukan minggu depan. “Segera dan minggu depan. Kita maunya kemarin,” ujar Airlangga.
Selain itu, pihaknya akan meminta penjelasan penasihat laporan keuangan Price Water House Cooper mengenai valuasi saham. Penilaian valuasi saham ini sebagai acuan untuk pembanding. Airlangga juga belum dapat memastikan, kapan waktu panja selesai. “Tergantung data. Kalau data tidak keluar mau bagaimana,” kata Airlangga.
Airlangga mengataka panja ini tertutup dan terbuka tergantung undang-undang pasar modal. [cms]

Komisi XI DPR RI belum bisa memutuskan apakah polemik pelepasan saham perdana PT Krakatau Steel Tbk akan ditindaklanjuti dengan pemeriksaan audit investigasi atau berujung kepada pembentukan Panitia Kerja (Panja) atau Panitia Khusus (Pansus).

Sumber : BISNIS.COM
Selasa, 30/11/2010 06:31 WIB
DPR Ancam IPO KS Jadi ‘Century Jilid II’
Wahyu Daniel – detikFinance

Jakarta – Komisi XI DPR meminta manajemen PT Krakatau Steel Tbk (KS) untuk memberikan penjelasan yang transparan dan seterbuka mungkin. Jika tidak, DPR mengancam membuat Pansus dan ini bisa menjadikan kasus IPO KS seperti kasus Century.

Demikian disampaikan oleh Anggota Komisi XI DPR Maruarar Sirait dalam rapat dengan Direksi KS beserta 3 penjamin emisi (underwriter) yaitu Danareksa, Bahana Securities, dan Mandiri Sekuritas di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (29/11/2010) malam.

“Anda tahu konsekuensinya kalau dibentuk Pansus. Itu situasinya politis dan sangat bergesekan dengan hukum. Jika dibentuk Pansus, kasus ini bisa jadi Century kedua,” ancam anggota DPR dari FPDIP ini.

Maruarar mempertanyakan pembentukan harga IPO KS Rp 850 per saham, padahal saat itu kondisi pasar saham sedang bullish.

Sebelumnya, dalam rapat yang sama, Direktur Utama KS Fazwar Bujang mengatakan, ekspektasi awal manajemen dan komisaris soal harga IPO KS adalah Rp 950-1.000 per lembar. Namun ternyata penjamin emisi dan pemerintah menentukan harga di kisaran Rp 800-1.150, dan akhirnya harga saham ditentukan Rp 850 per lembar.

KS melepaskan 3.155.000.000 saham baru ke publik dan mencatatkannya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 November 2010. Dengan harga Rp 850, maka total perolehan dana IPO sebesar Rp 2,681 triliun.

Dalam proses bookbuilding yang telah digelar dan berakhir pekan lalu, KS berhasil memperoleh pesanan hingga 30 miliar saham atau hampir 9 kali dari jumlah saham yang dilepas ke publik. Namun penetapan harga saham IPO Rp 850 itu dinilai sangat murah dan berpotensi merugikan negara. IPO KS ini juga menuai gugatan dari 13 ekonom.

(dnl/qom)

Iklan
 

maen saham BUKAN CUMA … wajib terma$uk 20 November 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 9:16 pm

Peraturan yang semakin ketat menggiring banyak emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) menuai sanksi. Sanksi yang diberikan tersebut terkait kepatuhan peraturan pencatatan efek.

Dari data yang diberikan BEI, sepanjang tahun macan ini ada 291 sanksi peringatan tertulis I, 52 sanksi peringatan tertulis II, 27 sanksi peringatan tertulis III. Sementara BEI pun telah memberikan 89 sanksi denda kepada beberapa emiten yang melantai di BEI.

Selain itu di 2010 ini sudah terdapat 91 saham dan 10 waran yang masuk dalam Unusual Market Activity (UMA) atau bergerak secara tidak wajar. Jumlah ini meningkat drastis dari tahun sebelumnya yang hany sebanyak 57 saham dan 7 waran.

Tahun ini pula, BEI telah mengeluarkan 11 sanksi suspensi alias pemberhentian sementara perdagangan saham. Bahkan ada beberapa perusahaan yang hingga Desember ini suspensinya belum juga di cabut oleh otoritas bursa tersebut.

Sumber : KONTAN.CO.ID
Tahun 2010 Ada 93 Saham Masuk UMA
Headline

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Kamis, 30 Desember 2010 | 04:56 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Sekitar 93 saham saham ditambah 10 waran masuk dalam kategori unusual market acitivity (UMA) hingga 29 Desember 2010.

Adapun empat saham masuk UMA sebanyak dua kali. Saham-saham yang masuk UMA sebanyak dua kali antara lain saham PT Eatertainment International Tbk (SMMT) yang masuk UMA pada April dan Juni.

Demikian seperti dikutip dari data Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (29/12). Untuk saham PT Inovisi Infracom Tbk (INVS) masuk UMA pada Juni dan Oktober, saham PT Bumi Tekno Cultura Tbk (BTEK) masuk UMA pada Juni dan Oktober. Sedangkan waran yang masuk UMA sebanyak dua kali yaitu waran INVS-W pada Juni dan Oktober 2010.

Pada 2009, sebanyak 61 saham dan 9 waran masuk dalam UMA dengan 4 saham dan 2 waran masuk UMA sebanyak dua kali.

UMA adalah aktifitas perdagangan atau suatu pergerakan harga suatu efek yang tidak biasa pada suatu kurun waktu tertentu di bursa yang menurut penilaian bursa dapat berpotensi menganggu terselenggaranya perdagangan efek yang teratur, wajar dan efisien. Tetapi pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran di bidang pasar modal. [hid]

Awal Tahun, 10 Perusahaan Siap Masuk Bursa
Di antaranya adalah PT Mitrabahtera Segara Sejati dan PT Martina Berto.
Rabu, 29 Desember 2010, 13:10 WIB
Antique, Purborini

VIVAnews – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mensinyalir sepuluh perusahaan yang siap masuk bursa dan mencatatkan sahamnya (listing) pada kuartal pertama 2011.

Saham tersebut di antaranya adalah PT Mitrabahtera Segara Sejati, PT Sidomulya Selaras, dan PT Martina Berto.

“Mereka (masuk bursa) di kuartal pertama tahun depan. Di agenda ada sembilan sampai 10 perusahaan,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Eddy Sugito, di Jakarta, Rabu 29 Desember 2010.

Mitrabahtera Segara Sejati akan melepas saham perdana (initial public offering/IPO) sebanyak 15 persen kepada publik pada Maret 2011. Sedangkan Sidomulya Selaras, perusahaan transportasi bahan kimia dan berbahaya akan melepas 20 persen sahamnya kepada publik.

Sementara itu, induk produsen kosmetik Sari Ayu, PT Martina Berto menawarkan harga saham perdananya ke publik sebesar Rp675-975 per unit. Perseroan pun memastikan akan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 13 Januari 2011.

Indeks Akhir 2011

Di tempat terpisah, PT Samuel Sekuritas memprediksikan pada akhir 2011 indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup pada level 4.209, dengan asumsi rasio price to earning (PE) 16,7 kali.

“Pasar saham Indonesia masih memberikan imbal yang menarik,” kata ekonom Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih.

Saat ini, rasio PE indeks bursa sudah mencapai 17 kali, atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata historikal dalam lima tahun terakhir, yaitu 13,15 kali.

Sedangkan return on equity (ROE) IHSG saat ini mencapai 34 persen, termasuk yang tertinggi di kawasan Asia.

Sebab, ROE indeks bursa di negara-negara berkembang Asia lainnya lebih rendah dibandingkan ROE indeks BEI. ROE indeks bursa India misalnya, tercatat 27,1 persen dan ROE indeks bursa Filipina 25,5 persen. (art)
• VIVAnews

Bapepam Terbitkan 3 Aturan Baru Pasar Modal
Headline

Oleh: Charles MS
Pasar Modal – Rabu, 29 Desember 2010 | 12:38 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Bapepam-LK menerbitkan penyempurnaan 3 peraturan baru pasar modal.

Hal ini disampaikan Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany dalam keterangan tertulisnya yang dikutip INILAH.COM, Rabu (29/12). Ketiga pertauran tersebut meliputi:
1) Peraturan Bapepam dan LK Nomor V.D.3 tentang Pengendalian Internal Perusahaan Efek Yang Menjalankan Kegiatan Usaha Sebagai Perantara Pedagang Efek.
2) Peraturan Bapepam dan LK Nomor V.D.4 tentang Pengendalian dan Perlindungan Efek Yang Disimpan Oleh Perusahaan Efek.
3) Peraturan Bapepam dan LK Nomor V.D.5 tentang Pemeliharaan dan Pelaporan Modal Kerja Bersih Disesuaikan.

Adapun latar belakang dan pokok-pokok penyempurnaan dalam ketiga peraturan dimaksud adalah:
1. Peraturan Bapepam dan LK Nomor V.D.3 tentang Pengendalian Internal Perusahaan Efek Yang Menjalankan Kegiatan Usaha Sebagai Perantara Pedagang Efek.

Penyempurnaan atas Peraturan Nomor V.D.3 bertujuan untuk meningkatkan pengendalian internal Perusahaan Efek yang menjalankan kegiatan usaha sebagai Perantara Pedagang Efek yang mengadministrasikan rekening Efek nasabah.

Adapun pokok-pokok penyempurnaan peraturan antara lain:
a. Peningkatan fungsi-fungsi manajemen yang wajib dilaksanakan oleh Perantara Pedagang Efek menjadi 6 (enam) fungsi yaitu fungsi pemasaran, fungsi manajemen risiko, fungsi pembukuan, fungsi Kustodian, fungsi teknologi informasi, dan fungsi kepatuhan, serta satu fungsi yang bersifat opsional yaitu fungsi riset.
b. pemisahan fungsi-fungsi kegiatan manajemen dalam Perantara Pedagang Efek melalui larangan rangkap pelaksanaan tugas pegawai pada lebih dari satu fungsi manajemen.
c. untuk Perusahaan Efek yang melakukan kegiatan usaha Perantara Pedagang Efek, Penjamin Emisi Efek dan/atau Manajer Investasi, maka:
1) prosedur operasi standar fungsi-fungsi dalam menjalankan kegiatan sebagai Penjamin Emisi Efek dan/atau Manajer Investasi wajib terpisah dari prosedur operasi standar fungsi-fungsi Perantara Pedagang Efek; dan
2) pelaksanaan masing-masing fungsi manajemen risiko, fungsi pembukuan, fungsi teknologi informasi, fungsi kepatuhan, dan/atau fungsi riset yang terdapat dalam kegiatan Perantara Pedagang Efek, Penjamin Emisi Efek, dan/atau Manajer Investasi dapat dilaksanakan oleh satu unit kerja yang melaksanakan fungsi tersebut.
d. Penambahan ketentuan bahwa setiap pembukaan rekening Efek wajib diikuti dengan pembukaan Sub Rekening Efek pada Kustodian dan pembukaan rekening dana atas nama nasabah pada bank untuk masing-masing nasabah dan pembuatan nomor tunggal identitas nasabah (Single Investor Identification) pada Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian serta kewajiban Perusahaan Efek menempatkan Efek milik nasabah ke Sub Rekening Efek masing-masing Nasabah.
e. Penambahan kewajiban Perantara Pedagang Efek untuk menyusun laporan buku pembantu dana.
f. Diperkenankannya Perantara Pedagang Efek untuk menyerahkan pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut kepada Pihak lain (outsourcing) sepanjang memenuhi ketentuan peraturan ini.

Adapun Perusahaan Efek yang telah memiliki izin usaha sebagai Perantara Pedagang Efek sebelum berlakunya Keputusan atas peraturan ini diberi waktu untuk:
a. menyesuaikan dengan peraturan ini termasuk tetapi tidak terbatas untuk memperbaharui kontrak pembukaan rekening Efek nasabah yang ada berupa antara lain pembukaan rekening dana dan pembuatan atau pencantuman nomor tunggal identitas nasabah (Single Investor Identification) bagi nasabah paling lambat 31 Januari 2012; dan
b. melaporkan kepada Bapepam dan LK perkembangan pelaksanaan penyesuaian tersebut setiap 6 (enam) bulan sejak berlakunya Keputusan atas peraturan ini.

2. Peraturan Bapepam dan LK Nomor V.D.4 tentang Pengendalian dan Perlindungan Efek Yang Disimpan Oleh Perusahaan Efek

Penyempurnaan atas Peraturan Nomor V.D.4 bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan dan administrasi rekening Efek nasabah di Perusahaan Efek.
Adapun pokok-pokok penyempurnaan peraturan tersebut antara lain:
a. Penegasan ketentuan terkait penyusunan pembukuan pada Buku Pembantu Efek dimana saldo di sisi debit dalam Buku Pembantu Efek menunjukkan kepemilikan atas Efek dan saldo di sisi kredit dalam Buku Pembantu Efek menunjukkan lokasi Efek.
b. Restrukturisasi akun-akun yang dibukukan dalam saldo kredit dalam Buku Pembantu Efek menjadi terdiri dari 2 bagian yaitu Efek dalam pengendalian langsung Perusahaan Efek dan Efek tidak dalam pengendalian langsung Perusahaan Efek.
c. Penambahan pengaturan terkait perlindungan Efek nasabah yaitu:
1) larangan bagi Perusahaan Efek untuk menggunakan Efek nasabah sebagai Efek Jaminan kecuali apabila disetujui oleh nasabah yang bersangkutan dengan perjanjian khusus yang jelas dan terpisah dari perjanjian lainnya;
2) kewajiban Perusahaan Efek untuk membuka rekening Efek pada perusahaan sekaligus membuka Sub rekening Efek pada Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian untuk masing-masing Nasabah Umum yang mendapatkan penjatahan Efek pada Penawaran Umum, serta menempatkan Efek Nasabah Umum dari penjatahan dimaksud pada masing-masing sub rekeningnya; dan
3) kewajiban Perusahaan Efek untuk memberikan akses informasi kepada nasabahnya yang memungkinkan nasabahnya dapat secara langsung memonitor mutasi dan/atau saldo Efek dan/atau dana yang disimpan pada Sub Rekening Efek atas nama nasabah tersebut pada Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian.

Adapun Perusahaan Efek yang telah mendapatkan izin usaha dari Bapepam dan LK sebelum berlakunya Keputusan atas peraturan ini wajib melakukan penyesuaian dengan peraturan ini paling lambat tanggal 31 Januari 2012.

3. Peraturan Bapepam dan LK Nomor V.D.5 tentang Pemeliharaan dan Pelaporan Modal Kerja Bersih Disesuaikan

Penyempurnaan atas Peraturan Nomor V.D.5 ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) sehingga sesuai dengan perkembangan kegiatan usaha Perusahaan Efek yang terjadi melalui pendekatan kecukupan modal berbasis risiko.
Adapun pokok-pokok penyempurnaan peraturan tersebut antara lain:
a. Perubahan minimal MKBD yang wajib dimiliki oleh Perusahaan Efek sesuai dengan kegiatan usahanya, sebagai berikut:

1. Penjamin Emisi Efek, minimal MKBD berubah dari Rp25 miliar menjadi Rp25 miliar atau 6,25% dari total liabilitas tanpa utang subordinasi dan utang dalam rangka penawaran umum/penawaran terbatas ditambah ranking liabilities tertinggi.
2. Perantara Pedagang Efek yang mengadministrasikan rekening Efek nasabah, minimal MKBD berubah dari Rp25 miliar menjadi Rp25 miliar atau 6,25% dari total kewajiban tanpa Utang Sub-Ordinasi dan Utang Dalam Rangka Penawaran Umum/Penawaran Terbatas ditambah Ranking Liabilities tertinggi.
3. Perantara Pedagang Efek yang tidak mengadministrasikan rekening Efek nasabah, minimal MKBD berubah dari Rp200 juta menjadi Rp200 juta atau 6,25% dari total kewajiban tanpa Utang Sub-Ordinasi dan Utang Dalam Rangka Penawaran Umum/Penawaran Terbatas ditambah Ranking Liabilities tertinggi
4. Manajer Investasi, minimal MKBD berubah dari Rp200 juta menjadi Rp200 juta ditambah 0,1% dari total dana yang dikelola.
5. Perantara Pedagang Efek yang mengadministrasikan rekening Efek nasabah dan Manajer Investasi, minimal MKBD berubah dari Rp25.200 juta menjadi Rp25 miliar atau 6,25% dari total kewajiban tanpa Utang Sub-Ordinasi dan Utang Dalam Rangka Penawaran Umum/Penawaran Terbatas ditambah Ranking Liabilities, mana yang lebih tinggi, ditambah Rp200 juta dan 0,1% dari total dana yang dikelola.
6. Penjamin Emisi Efek dan Manajer Investasi, minimal MKBD berubah dari Rp25.200 juta menjadi Rp25 miliar atau 6,25% dari total kewajiban tanpa Utang Sub-Ordinasi dan Utang Dalam Rangka Penawaran Umum/Penawaran Terbatas ditambah Ranking Liabilities, mana yang lebih tinggi ditambah Rp200 juta dan 0,1% dari total dana yang dikelola.
7. Perantara Pedagang Efek yang tidak mengadministrasikan rekening Efek nasabah dan Manajer Investasi, minimal MKBD tetap Rp200 juta atau 6,25% dari total kewajiban tanpa Utang Sub-Ordinasi dan Utang Dalam Rangka Penawaran Umum/Penawaran Terbatas ditambah Ranking Liabilities, mana yang lebih tinggi, ditambah Rp200 juta dan 0,1% dari total dana yang dikelola.

b. Menyempurnakan penghitungan haircut atas portofolio milik Perusahaan Efek dengan besaran yang lebih mencerminkan kondisi pasar saat ini.
c. Penambahan ketentuan mengenai tata cara penghitungan MKBD
Agar penerapan peraturan ini berjalan dengan baik, maka diberlakukan peralihan sebagai berikut:
a. Bursa Efek dan Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP) memfasilitasi dan melakukan sosialisasi kepada Perusahaan Efek dan mengembangkan dan menyediakan sistem pelaporan MKBD yang terhubung antara Perusahaan Efek, Bursa Efek, LKP, dan Bapepam dan LK, paling lambat tanggal 31 Oktober 2011;
b. LKP membentuk Komite dalam rangka penentuan Haircut untuk Efek Bersifat Ekuitas atau Efek Beragun Aset Arus Kas Tidak tetap yang tercatat di Bursa Efek di Indonesia dan Reksa Dana yang Unit Penyertaannya Diperdagangkan di Bursa Efek, paling lambat tanggal 30 Juni 2011;
c. Perusahaan Efek yang telah mendapatkan izin usaha dari Bapepam dan LK sebelum Keputusan Ketua Bapepam dan LK atas peraturan ini wajib mengembangkan dan mempersiapkan sistem back office dalam rangka pemeliharaan dan pelaporan MKBD dan melakukan penyesuaian dengan peraturan ini paling lambat tanggal 31 Januari 2012, serta melakukan uji coba pelaporan MKBD berdasarkan peraturan ini pada periode pelaporan antara 1 November 2011 sampai dengan 31 Januari 2012.

Kapitalisasi Pasar
Senin, 27 Desember 2010 – 10:22 wib

nilai kapitalisasi pasar ditentukan oleh dua hal, yakni jumlah saham beredar dan harga di pasar

ISTILAH kapitalisasi pasar begitu sering dijumpai dan didengar. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kapitalisasi pasar (market capitalisation)? Seberapa pentingkah dia sehingga sering disebut-sebut dalam ulasan pasar dan juga ulasan tentang satu jenis saham tertentu? Apakah ia mempunyai pengaruh besar terhadap proses pengambilan keputusan investor yang dilakukan investor? Dan sebagainya.

Kapitalisasi pasar sebenarnya merupakan nilai dari saham perusahaan yang beredar di pasar. Harap dipahami bahwa nilai perusahaan berbeda dengan nilai aset perusahaan, sehingga kapitalisasi pasar sebuah perusahaan tidak menggambarkan nilai aset perusahaan. Kapitalisasi pasar sangat mungkin nilainya lebih besar atau lebih kecil dari nilai aset perusahaan.

Bagi perusahaan publik, kapitalisasi pasar ini penting sekali karena ia juga mencerminkan nilai total perusahaan. Bagaimana menghitung kapitalisasi pasar? Sederhana sekali, cukup dengan mengalikan jumlah saham beredar dengan harga saham di pasar. Gambarannya begini, perusahaan XYZ memiliki jumlah saham beredar sebesar 1 miliar lembar dengan harga saham di pasar Rp2.000. Itu berarti kapitalisasi pasar perusahaan XYZ adalah Rp2 triliun.

Perhatikan, bahwa nilai kapitalisasi pasar ditentukan oleh dua hal, yakni jumlah saham beredar dan harga di pasar. Dari sini dapat disimpulkan bahwa nilai kapitalisasi pasar perusahaan dapat dan selalu berubah dari waktu ke waktu, baik naik ataupun turun. Jika harga saham naik, berarti nilai perusahaan itu naik dan sebaliknya jika harga turun berarti nilai perusahaan itu turun.

Dalam dunia investasi, kita mengenal banyak sekali jenis saham. Di Bursa Efek Indonesia (BEI) saja misalnya, tercatat 419 perusahaan yang listing dan sahamnya diperjualbelikan di pasar. Nilai kapitalisasi pasar 419 perusahaan tadi tentu tidak sama. Ada yang kecil (small cap), sedang (midle cap) dan juga besar (big cap atau large cap). Perbedaan semacam itu merupakan sebuah upaya klasifikasi untuk memudahkan dalam analisa.

Meski begitu, tidak ada ketentuan atau ukuran kapitalisasi pasar sehingga dapat disebut kecil, menengah atau besar. Namun, di bursa luar negeri yang pasar modalnya sudah maju, perusahan disebut memiliki kapitalisasi pasar besar jika nilainya di atas USD10 miliar dólar AS. Kapitalisasi pasar sedang berada di kisaran USD2 miliar hinggá USD10 miliar dan kapitalisasi pasar kecil di bawah USD2 miliar. Bayangkan jika batasan seperti itu diterapkan di BEI, maka sebagian besar emiten di BEI tergolong perusahaan dengan kapitalisasi pasar kecil.

Dalam investasi portofolio, nilai kapitalisasi pasar memiliki makna yang penting bagi bagi investor. Ia juga memiliki kekuatan yang mampu mempengaruhi minat investor untuk menjadikannya sebagai instrumen portofolio atau tidak. Pada umumnya, semakin besar nilai kapitalisasi pasar suatu saham, maka semakin besar juga daya pikat saham tersebut bagi investor. Begitu pula sebaliknya, semakin kecil nilai kapitalisasi semakin kurang menarik bagi investor.

Para perusahaan pengelola dana atau fund manager, biasanya selalu mempertimbangkan besar kecilnya nilai kapitalisasi pasar untuk setiap saham yang akan masuk dalam daftar portofolio investasi. Kecenderungan seperti ini tidak hanya tertuju pada instrumen saham semata, tetapi juga tertuju pada pasar secara keseluruhan. Pasar yang memiliki kapitalisasi pasar besar biasanya selalu diramaikan oleh fund manager. Saat ini, kapitalisasi pasar BEI sudah lebih dari Rp3.000 triliun. Fund manager akan semakin deras menanamkan dana di BEI, jika nilai kapitalisasi pasar BEI semakin meningkat. Ini bukan janji kosong, karena memang begitulah karakter investasi portofolio. (Tim BEI)(adn)(//rhs)
Di Mana Simpan Uang Tahun Depan?
Headline

Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Jumat, 24 Desember 2010 | 05:54 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Krisis finansial global diperkirakan masih akan berlanjut di 2011. Investasi aset keras emas dan obligasi dinilai akan menguntungkan. Sebab, dunia dihadapkan pada ancaman inflasi.

Mike Rini Sutikno, konsultan perencanaan keuangan mengatakan, dalam berinvetasi, investor harus melihat korelasinya dengan kondisi ekonomi baik domestik maupun global. Menurutnya, dalam investasi selalu ada return sekaligus risiko.

Selain mendapatkan keuntungan, lanjutnya, investor juga harus bisa mengantisipasi risiko kerugiannya sesuai dengan kondisi ekonomi tahun depan. “Investor harus melihat bagaimana prediksi para ekonom soal kondisi ekonomi di 2011,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (13/12).

Setelah itu, tambah Mike, investor bisa menetapkan tindakan yang tepat dalam berinvestasi. Investor juga harus menetapkan apa tujuan investasinya.

Lebih jauh Mike mengatakan, berdasarkan perkiraan ekonom, RI masih bisa tumbuh 6,5-7% di 2011. Hanya saja, secara global krisis finansial masih akan berlanjut. Karena itu, di akhir 2010 ini, rupiah cenderung melemah terhadap dolar AS. “Pada saat yang sama, harga emas melonjak. Sejak 2008, harga emas terus naik ke level US$1.400-an per troy ons saat ini,” paparnya.

Bagi orang-orang kaya, lanjut Mike, emas menjadi pelindung harta kekayaan dari penurunan nilai mata uang. Sebab, harganya tidak fluktuatif. Mereka juga menempatkan investasi mereka pada aset keras yang lain seperti properti.

“Dalam situasi ekonomi eksternal yang mengalami krisis finansial, orang lebih banyak memegang aset keras daripada memegang aset keuangan,” ucapnya. Dia menegaskan, dalam situasi kondisi ekonomi global belum stabil, harga emas cenderung naik.

Karena itu, pembelian aset keras (nyata) seperti emas sangat efektif untuk mempertahankan portofolio investasi. Investasi jenis ini sangat berbeda dengan aset keuangan yang bergejolak. “Jadi, favorit investasi 2011 adalah emas,” tandasnya.

Sementara itu, tabungan dan deposito merupakan jenis investasi yang setara dengan uang kas karena nilainya tidak bergejolak. Namun, dari sisi return sangat kecil meskipun paling aman. “Dalam kaidah investasi, tabungan di urutan pertama, disusul deposito, emas dan properti,” imbuhnya.

Setelah itu, lanjut Mike, investor bisa melirik aset-aset keuangan seperti obligasi, saham dan reksadana. Semua penempatan itu disesuaikan dengan kemampunan finansial investor dan tujuan investasinya. “Intinya, investor jangan menempatkan dana pada satu keranjang investasi,” ucap Mike mewanti-wanti.

Usman Hidayat, konsultan keuangan dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef) mengatakan, secara umum perekonomian global masih sensitif terhadap isu-isu makro. Di antaranya, China menghadapi masalah tingginya inflasi sehingga suku bunganya cenderung terus mengalami kenaikan.

Karena itu, imbuhnya, harga-harga surat utang di pasar finansial negara itu akan turun. Harga saham pun terancam melemah. “Ppemerintah China kemudian menggunakan instrumen suku bunga untuk meredam inflasi dan memelihara ekspektasi atas mata uangnya,” ujarnya.

Di sisi lain, lanjutnya, AS juga secara ekonomi masih dihadapkan pada ketidakpastian. Salah satunya tarik ulur kebijakan terkait perpanjangan pemangkasan pajak (tax cut) untuk memacu konsumsi rumah tangga. “Demikian juga buy back surat utang pemerintah sebagai rangkaian dari kebijakan quantitative easing (QE) tahap dua,” ucapnya.

Pemangkasan pajak maupun buy back surat utang dapat meningkatkan likuiditas di pasar yang berakibat terjadinya inflatoir. Dolar AS pun melemah terhadap mata uang utama dunia. Tapi, dolar AS sulit turun tajam karena semua negara menggunakan dolar AS sebagai base currency.

Karena itu, Usman memperkirakan, investasi berbasis suku bunga (interest based investment) akan lebih menarik. Sebab, dunia dihadapkan pada kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi. Sementara itu, invetasi saham menjadi kurang menarik di 2011 mengingat kinerja korporasi akan terhambat karena mengkerutnya perekonomian dunia terutama China, AS dan Jepang.

Investasi yang berbasis suku bunga adalah obligasi. Investasi inilah yang paling menarik di 2011. Yield obligasi akan meningkat dan saham dengan sendirinya akan tertekan. “Tapi, obligasi cocok untuk investasi 3-6 bulan sambil mencermati perkembangan ekonomi selanjutnya,” ucapnya.

Karena itu, lanjut Usman, kalaupun investor mau melirik reksadana harus reksadana fixed income. Sedangkan emas, harganya tidak fluktuatif sehingga sama posisinya dengan mata uang. Sedangkan sektor properti sangat cocok untuk invetor jangka panjang, 5 tahun ke atas.

Sementara itu, investor juga bisa mulai meninggalkan deposito seiring mengkerutnya margin perbankan. “Kecenderungan bank adalah menerbitkan obligasi untuk mendapatkan dana dan bukan dari ritel seperti deposito,” tutur Usman. [mdr]

BEI: Investor Bertambah 150 Rb Sejak 30 Juni 2009
Headline

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Rabu, 22 Desember 2010 | 13:13 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengatakan, ada penambahan jumlah investor sekitar 150 ribu dalam 1,5 tahun terakhir.

“Ada sekitar 150 ribu investor baru sejak 30 Juni 2009. Yang lalu ada sekitar 335 ribu termasuk dorman,” ujar Ito, Rabu (22/12).

Lebih lanjut ia mengatakan, sebelumnya ada aturan dorman, di mana rekening tidak aktif harus ditutup. Diperkirakan jumlah investor mencapai 316 ribu investor setelah ada aturan dorman tersebut. Ito juga menargetkan jumlah investor mencapai 2,3 juta investor terdaftar pada 2012. Untuk mencapai target jumlah investor tersebut dibutuhkan sarana dan prasarana yang memadai seperti kualitas sumber daya manusia yang memiliki integritas dan kemampuan.

Sementara itu, Direktur PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Sulistyo Budhi menuturkan, aturan dorman terus diberlakukan sejak Juni 2010. Dengan ada aturan dorman diperkirakan ada penutupan jumlah rekening sekitar 100 ribu rekening. “Ketika awal aturan dorman ada sejak Juni turun 100 ribu kalau sekarang relatif kecil untuk penutupan rekening tidak aktif,” tambah Sulistyo.

Sulistyo menambahkan pihaknya tetap memberikan peringatan kepada perusahaan efek yang tidak menutup rekening tidak aktif. Menurutnya, saat ini jumlah rekening sekitar 300 ribu. Selain itu, transaksi saham pun masih didominasi oleh asing. [cms]

Investor
Senin, 20 Desember 2010 – 09:09 wib

HAMPIR setiap hari kata ‘investor’ selalu disebut, baik dalam ulasan tentang pasar modal secara umum, maupun ulasan tentang suatu saham tertentu. Ini dapat dimaklumi karena pada hakekatnya investor adalah pelaku utama di pasar modal. Investor yang menentukan keaktifan, ke-likuid-an, ramai atau sepi, bullish atau bearish dan segala macam situasi yang berkembang di pasar.

Investor adalah pihak yang memiliki dana dan menanamkan uang di pasar modal untuk melakukan transaksi, jual beli saham. Jika investor memperdagangkan saham, maka emiten adalah pihak yang membutuhkan dana dan menerbitkan atau menawarkan saham ke investor.

Selanjutnya, emiten memanfaatkan dana hasil penerbitan saham untuk keperluan ekspansi usaha. Di satu sisi, emiten terus berusaha melakukan ekspansi untuk meningkatkan kinerja. Di sisi lain, investor memperdagangkan saham emiten di bursa efek. Jika kinerja emiten bagus dan meningkat, maka minat investor untuk membeli saham semakin besar sehingga harga saham naik. Jika kinerja emiten turun, maka minat beli investor akan turun dan seharusnya harga saham juga terkoreksi. Begitulah logikanya.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin transaksi saham bisa terjadi setiap hari? Perlu dipahami bahwa investor di pasar modal jumlahnya banyak sekali, ratusan ribu bahkan mengarah ke jutaan. Di negara yang memiliki pasar modal maju, jumlah investor mencapai jutaan orang. Di Indonesia jumlah investor (aktif) belum mencapai satu juta, baru ratusan ribu.

Dari sisi status kewarganegaraan dibedakan antara investor domestik (dalam negeri) dan investor asing (luar negeri). Dari sisi kelembagaan dibedakan antara investor lembaga dan investor individu atau ritel. Investor lembaga, misalnya: dana pensiun, reksadana atau fund manager, asuransi, perusahaan efek dan lembaga-lembaga investasi lainnya. Dalam melakukan investasi, investor lembaga tidak dapat seenaknya karena ada pakem atau Standard Operating Procedure (SOP) yang harus dipatuhi.

Pakem atau SOP ini merupakan bagian dari kebijakan investasi yang harus diterapkan. Misalnya, alokasi investasi di saham sektor pertambangan tidak boleh lebih dari 30 persen. Pakem ini harus dipenuhi. Jika investor lembaga tadi melakukan investasi di saham sektor pertambangan di atas 30 persen, maka itu berarti melanggar kebijakan investasi.

Berbeda halnya dengan investor lembaga, investor individu atau ritel memiliki tingkat kebebasan yang tinggi dalam membuat kebijakan atau strategi investasi. Investor ritel dapat mengubah kebijakan investasinya sewaktu-waktu, kapan saja dikehendaki. Perilaku investasi investor individu biasanya sangat ditentukan oleh karakter individu yang bersangkutan, apakah ia termasuk individu yang suka mengambil risiko ataukah ia merupakan tipikal individu yang lebih suka sesuatu yang aman dan tidak meledak-ledak.

Nah dari sisi ini, ada dua tipe investor, yakni: investor yang berani mengambil risiko (risk taker) dan investor yang cenderung berinvestasi dengan aman (risk averter). Bagi investor yang berkarakter risk taker, ia sangat gemar menantang maut (bahaya, red), berani spekulatif dan bahkan kadang-kadang melakukan transaksi tanpa dasar pertimbangan yang matang. Tidak jarang investor menantang risiko dengan melakukan transaksi harian (daily trading) hingga jauh di atas nilai dana yang dimilikinya.

Gambarannya begini: investor X yang hanya punya deposit Rp 50 juta, dapat membeli saham ABCD sebanyak 10.000 lembar (20 lot) di harga Rp11.000 per lembar. Itu berarti investor harus membayar Rp110 juta plus fee transaksi. Dengan system netting, investor tidak perlu membayar sebesar itu, asal saham yang di beli tadi harus dijual kembali sebelum jam perdagangan hari itu berakhir. Jika misalkan saham ABCD itu ketika dijual kembali laku Rp 10.700, berarti investor X rugi Rp 300 per saham atau total Rp 3 juta.

Nah, nilai Rp 3 juta itulah yang harus dibayar oleh X. Akan tetapi, jika investor X berhasil menjual saham ABCD di Rp 11.400 maka artinya ia berhasil meraih untung Rp 4 juta dalam satu kali transaksi di hari itu. Ini contoh investor yang melakukan transaksi harian.

Berbeda halnya dengan investor yang bersifat risk averter. Investor seperti ini biasanya lebih bersikap konservatif, sangat hati-hati dan selalu berhitung masak-masak sebelum mengambil keputusan untuk beli ataupun jual. Yang seperti ini biasanya tidak meledak-ledak. Ia membaca riset dahulu sebelum membeli portofolio investasi. Dan kebanyakan bersifat jangka panjang. Artinya, investor ini tidak mudah terpengaruh dengan segala macam jenis informasi yang beredar, termasuk rumor yang menjatuhkan harga saham.

Investor risk averter biasanya juga melakukan pembelian untuk horizon investasi jangka panjang. Mereka akan lebih suka menerima dividen daripada mendapatkan gain dalam jangka pendek.

Dalam praktek, jarang ada perbedaan tegas seperti di atas. Umumnya, karakter investasi investor merupakan paduan dua karakter tadi. Artinya, ia membuat alokasi investasi, sekian persen dialokasikan untuk investasi yang sifatnya jangka panjang dan sekian persen dialokasikan untuk investasi yang sifatnya menantang risiko dan membangkitkan enduren. (Tim BEI)(//wdi)

Menelusuri bursa tertua dunia
Oleh Abraham Runga Mali | 14 December 2010

bisnis

Indikator perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melejit. Posisinya saat ini bertengger di atas level 3.700. Banyak investor meraup untung. Dana segar yang diraup perusahaan pun menumpuk.

Sekadar merekonstruksi ingatan, lima abad silam gairah bursa yang sama menjadi cerita dari negeri ini. Negeri yang subur dan kaya menjadi ‘ibu yang menyusui’ bayi bursa yang lahir di pelabuhan Amsterdam. Itulah cikal bakal bursa saham dunia yang dikenal hingga sekarang.

Wartawan Bisnis yang sempat menelusuri bursa tertua itu pada akhir September silam menulis percikan cerita berikut:

AMSTERDAM: Ceritanya berawal dari Amsterdam, tepatnya di kawasan Dam Square atau Damrak dalam bahasa setempat. Dari stasiun pusat Amsterdam, Amsterdam Centralal (Amstaal) saya bergerak menuju tempat itu. Dalam sejumlah peta resmi kota itu, jaraknya berkisar sekitar 750 meter.

Jalur ini sangat ramai, mungkin paling ramai di kota ini. Yang pernah mampir di sini tentu ingat, di bagian kanan jalan berjejer pertokoan kafe dan restoran.

Persis di depan toko India, Gandi namanya, saya melemparkan pandangan ke kiri. Ada gedung tua besar bergaya klasik berdiri di sana. “Jangan-jangan ini gedung bersejarah itu,” saya coba menerka.

Nama gedung itu Beurs Van Berlage. “Apa itu gedung stock exchange?” saya bertanya kepada seorang gadis Belanda, Marina yang sedang melepas tali ikatan sepedanya di pinggir jalan itu.

“Bukan, “jawabnya.” Atau mungkin kalau itu bekas gedung bursa jaman dulu?”

saya menimpali lagi. “Ya barang kali, tapi saya tidak tahu pasti,” jawabnya.”

Yang menjadi rujukan saya adalah buku Pasar Modal Indonesia, Restropeksi Lima Tahun Swastanisasi BEJ (1997). Di situ tertulis bahwa bursa tertua dunia adalah Amsterdam Effektenbeurs yang didirikan di Dam Square 1611. “Para pedagang mondar mandir di jalanan sekitar katedral sembari meneriakkan dagangannya,” demikian tulis buku itu.

Di Damrak, saya pernah berdiri di bawah patung National Monument, memandang ke depan ke arah istana. Di samping Royal Palace berdiri gedung tua dengan menara seperti pada bangunan gereja.

Saya sempat bertanya kepada Yohanes yang sedang sibuk mencuil roti untuk dibagikan kepada merpati yang berkerumun di pusat keramaian itu. Kepada lelaki tua dengan usia di atas 60 tahun itu saya cek. “Apa Anda tahu apa dulu itu gedung katedral?”

Dia mengerutkan dahi sambil berpikir. “Ya dulu hampir di setiap sudut kota ini ada gereja. Saya kira ya”, jawab orang tua itu. Sekarang gedung itu adalah salah satu pusat perbelanjaan.

Tapi dia tidak tahu ketika saya bertanya lagi apakah dia tahu kalau di sekitar itu pada 400 tahun yang silam para pendatang mulai melakukan transaksi saham. Maklum dia orang kebanyakan yang awam soal sejarah kotanya.

Lalu saya menuju Beursplein 5. Letaknya persis setelah Beurs Van Berlage dari arah stasiun. Hanya saat menelusuri jalan itu, saya kelewatan karena posisinya menjorok ke dalam. Ke samping lagi adalah pusat belanja De Bijenkorf yang langsung berhadapan dengan National Monument dengana lata berlakang Hotel Krasnapolsky.

Depan gedung itu terpampang tulisan kecil Eronext. Nama itu mengingatkan kita bahwa 22 September 2000 bursa Amsterdam sudah bergabung dengan bursa Brussel dan Paris. Tahun 2007 New York Stock Exchange (NYSE) dan Euronex bergabung menjadi bursa terbesar dunia dengan nama NYSE Euronext.

Kepada para penjaga gedung itu saya minta bertemu dengan orang yang betanggungjawab menjelaskan informasi soal bursa. Mereka lalu memanggil seseorang.

Datanglah perempuan muda yang memperkenalkan dirinya sebagai Hanna Muller.

Dari penjalasan saya, dia langsung mengambil buku berjudul. Beursplein, Een Capital Monument (2000).

“Sejarah bursa ada di buku ini. Persediaan buku habis, tapi saya pegang buku ini. Kalau mau, Anda bisa beli dari saya seharga 10 euro.” Ada buku lain yang diberikan cuma-cuma. Judulnya Verenining Voor De Effectenhandel 1876-1996.

“Hanna terima kasih” Saya pamit sambil berjanji akan menulis email buat dia untuk mendalami informasi ini.

Saya kembali ke Denhaag. Dalam perjalanan pulang sambil membolak-balik buku Beursplein 5 yang juga dimuat terjemahan dalam bahasa Ingris, saya menulis email untuk Hanna. “Hanna it is very kind of you today. Would you tell me where I can find the oldest share in the world.”

Dia menjawab, “In the national archic there is so many document about VOC. But I don’t think they will show you this kind of document, except in the special occasion….”

Kesokan harinya saya bergerak menuju gedung Archive National, disamping stasiun Denhaag. Saya diberi buku panduan berjudul: The Archives of the Dutch East India Company (1602-1795).

Benar seperti pesan Hanna, dokumen itu tidak bisa dilihat. Saya diminta untuk mengirim permintaan dulu melalui email.

Kemudian saya sadar bahwa mestinya saya tidak perlu bersemangat memburu sejumlah dokumen yang lain. Karena pada saya sudah cukup pegangan hanya untuk sekadar sebuah konstruksi ingatan.

Apalagi pada saya ada dua buku dari penulis sejarah maritim yang dibeli dari toko buku di kawasan De Passage, Den Haag, yang populer itu. Yang satu adalah The Ditch East India Company, Expansion and Decline (Femme S. Gaastra 2003). Dan yang lain adalah Ships, Sailors, and Spices: East India Companies and the Shipping in the 16th, 17th and 18 th Centuries (ed. Jaap R. Bruijn and Femme S. Gaastra, 1993)

Penopang kolonialisme

AMSTERDAM: Mari kita mulai dari Beursplein 5. Ini adalah puncak perkembangan bursa selama empat abad di Amsterdam. Adalah Jos Cuypers yang mengajukan diri untuk merancang gedung itu tahun 1910. Orang ini pula yang merancang Niewe Sint Bavo, sebuah katedral terkenal di Haarlem.

Dia mewarisi bakat sebagai arsitek dari ayahnya Pj. H Cuypers yang mendesain Risjkmuseum dan Central Station di Amsterdam. Setelah selesai dibangun Desember 1913, bursa itu resmi dipakai pada 2 Januari 1914.

Pada awal tahun itu, busa Amsterdam memperdagangkan saham dari 850 emiten luar negeri dan 700 perusahaan Belanda. Sebagian besar emiten Belanda merupakan warisan dari peruahaan VOC yang sudah bangkrut dua abad yang silam. Sebagian besar perusahaan-perusahaan beroperasi di Indonesia.

Bagi Belanda di awal abad 20, bursa sangat penting dalam menopang eksistensi kolonialismenya di Indonesia yang sekaligus memberi manfaat signifikan bagi perekonomian di negerinya.

Itu terbukti ketika pada 14 Desember 1912 Belanda serius mendirikan cabang bursa Amsterdam di Batavia. Di tingkat Asia, bursa di Batavia adalah yang tertua keempat setelah Bombay (1830), Hong Kong (1871) dan Tokyo (1878).

Sebelum memiliki gedung sendiri, seperti tertulis dalam buku Effectengids (1939) kegiatan jual beli saham dan obligasi di Batavia sudah berlangsung sejak 1880.

Bahkan, tercatat pada 1892 perusahaan Belanda Cultuurmaactchappij Goalpara yang berkantor di Batavia menerbitkan prospektus terkait penjualan 400 lembar saham dengan harga 500 gulden per lembar.

Empat tahun kemudian, surat kabar Yogyakarta dengan nama Het Centrum juga menjual saham senilai 5 ribu gulden dengan harga perdaga 100 gulden per lembar.

Bursa Batavia saat itu berkembang pesat. Saham dan obligasi yang diperdagangkan adalah terkait perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang diterbitkan pemerintah Hindia Belanda, baik pemerintah pusat, kota praja dan efek-efek Belanda lainnya.

Saham-saham multinasional yang ditransaksikan di Belanda juga diperdagangkan di sini, antara lain AFC Industry, American Motors, Anaconda Copper dan betlehem Steel.

Sekadar catatan Betlehem Steel adalah blue Chip do New York Stock Exchange yang masuk dalam perhitungan harga Dow Jones sejak 1928.

Selain itu obligasi dari negara lain juga dijual di bursa Batavia. Seminggu setelah bursa Batavia di buka misalnya Harian Perniagaan atau 13 Tjap It Gwe 2463 membuat berita tentang penawaran tentang obligasi tersebut.

Itoe pindjeman dikasih nama “Tiong Hoa Bin Kok Pat Li Kong The” yang artinya: “Pinjaman dengan rente 8 pCt dari Repoebliek Tiongkok. Pindjeman itoe soeda diperkenalkan oleh Nationale Vergadering di Peking dan soeda dibikin sah serta dititahkan boeat dikeloerkan oleh President dari Repoebliek Tiongkok.

Ini Pindjeman besarnya 100 million dollar’ boat ini pindjeman dikeloearkan bon bon dari 1000, 100, 10 dan 5 dollar, jang disertakan nomor djalan boenjinja ada ‘Aan Toonder”…

Pindjeman ini dibikin aken goena pri keamanan di Tiongkok dan dikeloearkan dengan dibajar rente 8 pCt satoe boelan menoeroet itoengan Jan lek. Segala bangsa bole bli ini soerat oetang.

Di Betawi Soeda ditentoekan masing-masoing perekonomian jang ternama dari orang-orang Tionghoa nanti bisa bli itoe bon bon dengan sebagituoe banjak ia poenja fonds masing-masing, kemoedian ini semoea bon nanti dijoeal lagi boeat harga dari pada siapa jang soeka bli.

Liatwi Tong jang tjinta tanah aernja kita silaken bli ini soerat oetang, akan bantoe pada pemeranta Repoeblik dengan dapat rente dari oewang jang ia kasi pinjem.

Dari berita surat kabar ini tampak bahwa tingkat bunga obligasi pemerintah Cina itu menguntungkan karena suku bunga pada 30 Oktober 1912 di Bank Escomto saja hanya empat persen per tahun untuk deposito 12 bulan.

Pemerintah Belanda benar-benar memanfaatkan bursa cabangnya di Batavia secara optimal. Pada saat pendirian ada 13 anggota bursa yang semuanya adalah milik pemerintah Belanda.

Ketika bursa kian ramai, tiga bank besarnya juga masuk ke bursa pada tahun 1928, yaitu NHM, Escomto dan NIHB, Maka anggotanya menjadi 16. Sebagian catatan tambahan, NHM (Nederlandsche Handel Maatchappij) adalah perusahaan keuangan dan perdagangan yang didirikan 1824.

Mayoritas sahamnya dipegang oleh Raja Belanda. Ketika merdeka, bank inidinasionalisasi dan berubah nama menjadi Bank Ekspor Impor (Bank Exim).

Kemudian Escomto yang didirikan 1857 dinasionalisasi persis seabad kemudian dengan nama baru Bank Dagang Negara (BDN). Lalu Nederland Indiache Handels Bank (NIHN) yang didirikan 1863 kemidian berubah menjadi Bank Bumi Daya (BBD).

NHN, NIHB dan Escomto adalah tiga bank yang dirikan oleh Kerajaan Belanda untuk menggantikan peran VOC yang bangkrut dengan meninggalkan utang 137,7 kita gulden 1799.

Kita lalu teringat bahwa dalam perkembangan terakhir Bank Exim, BDN dan BBD pada 1999 bergabung menjadi Bank Mandiri yang menjadi bank plat merah paling besar saat ini.

Kuil pencinta uang

Saya tidak keliru ketika menduga Beurs Van Berlage sebagai gedung bursa yang bersejarah. Di gedung itu transaksi hanya dilaksanakan dalam satu dekade, yaitu dari 1903 sampai 1913.

Di Berlage, pada dinding bagian dalam ada batu peringatan dengan tulisan ini

Door Godes zeeegebn is tot gerief der coopluyden deze Borse gestigt, an MDCVIII meye den I steen geleyt. (Didirikan dengan berkat Tuhan untuk kenyamanan para pedagang, batu pertama untuk bangunan bursa ini diletakan pada 29 Mei 1608).

Sebenarnya, batu ini bukanlah bagian dari gedung ini, tetapi diambil dari bangunan dari galeri pertama bagi para pedagang yang dibangun di kawasan Rokin pada tahun 1608.

Gedung di Rokin dikenal sebagai gedung bursa yang pertama. Pemerintah membangunnya untuk kenyamanan para pedagang yang sebelumnya masih berkeliaran di lorong-lorong kota Amsterdam.

Pembangunan gedung bursa di Rokin ini melibatkan seorang arsiteknya kawakan, Hendrik de Keyser (1565-1621). Orang ini pula yang bertanggungjawab membangun bagian kota yang disebut Zuiderk (Southers Church) tahun 1612. Munttoren (MintTower) tahun 1619 dan Westenkerk 9western church) tahun 1631.

Itu sebabnya bursa di Rokin ini juga dikenal dengan nama Bursa Keyser. Pembangunan gedung bursa yang bergaya renaisan ini rampung tahun 1611 dan berfungsi hingga 1873.

Di bursa ini, transaksi tidak hanya saham dan obligasi tetapi juga komoditas lain. Tercatat pada tahun 1662 terdapat lebih dari 400 jenis komoditas yang diperdagangkan mulai dari tembakau hingga tekstil.

Di dinding bursa tergantung sebuah lonceng yang dibunyikan untuk menandai pembukaan dan penutupan perdagangan. Dari berbagai catatan, pada periode ini berbagai peraturan tentang perdagangan saham mulai dilengkapi secara`perlahan.

Tahun 1789 Fraternity for Debenture Trading didirikan. Ini semacam organisasi dari pedagang yang berkonsentrasi pada likuiditas dan regulasi perdagangan. Organisasi inilah yang selalu mengecek penentuan harga dan menjamin ketersediaan data dan informasi di lantai bursa.

Makanya baru tahun 1796 mulai dibuat daftar harga saham yang diperdagangkan setiap hari.

Untuk kelengkapan sistem perdagangan dan regulasi di bursa, organisasi ini terus berkembang dan berubah selama 7 kali hingga terbentuknya Amsterdam Stock Exchange tahun 1997. (lihat ilustrasi)

Sebelum tahun 1789 tradisi bursa lebih ditentukan secara tunggal oleh VOC sampai menjelang bangkrutnya perusahaan itu pada tahun 1799.

Tahun 1800, seiring dengan resesi ekonomi, gedung Bursa Keyser tersebut mulai kropos. Tahun 1835 fundasinya goyah sehingga diambil keputusan untuk merobohkan gedung ini pada tahun 1836. Selanjutnya untuk sementara tempat transaksi diungsikan di Nieuwe Kerk (New Church), Dam Square.

Kemudian dalam satu dekade (1835-1845) perdagangan dilangsungkan di ruang terbuka dekat Istana (Dam Palace). Itulah sebenarnya pada periode itu Hulpbeurs dikenal sebagai bursa sementara. (Temporary Exchange).

Solusi darurat ini diambil bersamaan dengan kecemasan akan masa depan industri pasar modal saat itu. Sampai akhirnya pada 1841 mulai dibangun gedung bursa kedua oleh arsitek J.D Zocher (1791-1870).

Pada tahun 1880 di bursa itu diperdagangkan 222 perusahaan asing, 66 perusahaan Belanda, dan 11 perusahaan milik Hindia-Belanda.

Tetapi banyak yang mengajukan kritik kalau ini sebuah gedung bursa bergaya klasik yang tidak menarik bagi selera publik. Seorang penulis Van Lennep melukiskan gedung itu mirip kuil pemujaan jaman Yunani kuno: An lonic portal with a Doric temple behind itu,”katanya.

Namun, apapun komentar Lenne, gedung bursa pernah lama digunakan hingga dihancurkan pada tahun 1903 dan diganti perannya oleh Beurs Van Berlage. Di sini, untuk pertama kalinya perdagangan saham dan surat berharga memiliki lantai sendiri, tidak bergabung dengan komoditas lain.

Van der Borse punya nama

Kendati gedung bursa pertama adalah Rokin pada tahun 1608, eksistensi bursa sudah muncul jauh sebelum itu yaitu sekitar periode 1400. Karena itu kita perlu menengok ke belakang, awal mula bursa tertua di dunia itu muncul di Amsterdam dan apa gerangan yang terjadi ketika saham-saham mulai diperdagangkan di sana pada awal 17.

Sebenarnya, sejauh tercatat, efek tertua di dunia adalah saham bertanggal 16 Juni 1228 atas nama perusahaan tambang tembaga Swedia, Storakkopparberg. Hanya tidak diketahui apakah saham itu sempat diperdagangkan atau tidak. Kemudian beredar saham-saham perbankan di Venesia tahun 1400.

Dua abad kemudian, tahun 1600 mulai ditransaksikan East India Company di Inggris. Baru setelah itu, sejak 1602, muncul saham Cemere der Oost-Indische Compagnie (COIC) atau kemudian lebih dikenal VOC.

Bahakan. hingga saat ini lembaran saham tertua dunia yang masih tersimpan adalah efek VOC yang diterbitkan tahun 1606. Di bagian depan efek tersebut tertulis:

Vvy onerghefchreven van weghende Camere der Oost Indische Compagnie tot Horn Bekennen by defen ontsanghe tefebben van den E. Dirk Pieterz Straetmaker de vommen van vyvtich guldens daer mede de voornoeemde Dirk Pieterz inde voorz.ompagnie gheregistreert state te herideren opt vande voorz.ompagnie gheregistreert state te herideren opt vande voorz.amere folio 10.hier mede de voorschieven 600 inde voorz.ompagnie voorde eerste Tien Yarighe Rekeningheparticipeert, ten vollen opghebracht ende betaelt: Ende voortz gheanmullert te niere ghedaen alle de Recipissen.over de batalinghen opde ghemelde partye ghedaen.voor desen ghegheven.Actum de 8 December 1606.

(Kami tandatangani atas nama “ Camere der Oost-Indische Compagnie” di Hoorn, sebagai penegasan telah diterimanya kembali dari (Tuan Dirk Pietersz Straetmaker) sejumlah (50 gulden) sebagai sisa dari (600 gulden) yang jumlahnya telah disebutkan di depan bahwa (Dirk Pietersz) yang terdaftar pada “Compagnie” berhak menerima warisan berupa uang dari buku besar “Camere” dibayar penuh sebanyak (600 gulden) karena dikatakan bahwa (Tuan Dirk Pietersz) berhak mendapat bagian dari keuntungan yang diperoleh selama 10 tahun pertama beroperasinya “Compagnie”. Pemotongan dan semua pembayaran tahunan yang diterima digunakan untuk tujuan baik. Perjanjian ini dibuat pada tanggal 8 Desember 1606). (lihat ilustrasi)

Lembaran saham tuan Dirk bisa memandu kita untuk membayangkan lebih jauh apa yang terjadi 5 abad yang silam, sebuah fenomena ’pertukaran’ (exchange phenomenon) terjadi di sana. Bahkan, fenomena itu muncul sejak tahun 1400.

Bermula dari sejumlah saudagar yang berkumpul di De Nieuwe Brug (New Bridge). Dikisahakan, di tempat itu mereka bertukaran barang dagangan seperti keju, mentega, ikan, gandum, kayu dan seterusnya.

Lokasi tukar menukar ala barter ini dilakukan di jalan Warmoestraat, persis berhadapan dengan Stasiun Pusat Amsterdam saat ini, tak jauh dari pelabuhan kota.

Pada tahun 1400 pertukaran terjadi di properti seorang pedagang perantara (dealer) bernama Van der Borse. Dari nama orang inilah kemudian gedung tempat pertukaran itu dinamakan. Walaupun kemudian Beurs dalam arti tempat perdagangan justru lebih dahulu dipakai di Antwerpen.

Pada tahun 1586, pemerintah kota mengijinkan mereka untuk menggunakan St. Olofskapel sebagai pasar, terutama ketika cuaca buruk.

Sekitar 1592, di Oude Kerk (Old Church), mulai dibuat peraturan sederhana seperti jam buka dan tutup dengan tanda bunyi lonceng. Orang pertama yang bertugas sebagai penjaga aturan adalah John De Paep.

Lalu bursa Amsterdam terus berkembang dan perdagangan antar kota dunia terus meluas. Perdagangan dengan Asia, khususnya Indonesia juga makin ramai. Spanyol dan Portugis adalah pioneer dari Eropa.

Persaingan untuk mendapatkan rempah-rempah yang begitu sulit memaksa para saudagar dari Amsterdam dan beberapa kota di Belanda untuk memiliki akses secara langsung ke sumber utamanya di Indonesia.

Dengan berpedoman pada buku panduan perjalanan ke Asia berjudul Itineratio (Itinerary) karangan Jan Huigen van Linschoten beberapa saudagar Belanda memulai misinya ke Indonesia.

Linschotten pada tahun bekerja di bawah perusahaan Lisbon yang berada di wilayah Goa. Dia kembali ke Eropa tahun 1592 dan kemudian membuat catatan itu.

Tahun 1602 sejumlah saudagar dari beberapa perusahaan membentuk persekutuan yang kemudian dikenal dengan VOC untuk mencari keuntungan melalui rempah-rempah. (lihat daftar ekspedisi)

Antara tahun 1595 hingga 1602 tercatat 65 kapal Belanda yang dikirim ke Asia. Bandingkan pada periode yang sama hanya 46 kapal Portugis yang melakukan perjalanan yang sama.

Misi Belanda membutuhkan biaya yang besar dan membutuhkan dukungan finansial yang kuat. Pada bulan September 1601 muncul kesepakatan di antara para saudagar di Amsterdam untuk membentuk sebuah monopoli.

“If a monopoly should be granted to a united company for 20 or 25 years then it would be possible to give every inhabitant of the Dutch Republic the opportunity to take part in the enterprice as participant or sharehoder”, begitulah inti kesepakatan itu.

Sejumlah penulis sejarah seperti Femme S. Gaastra mencatat bahwa tanpa dukungan dan keterlibatan banyak orang susah dibayangkan pendanaan untuk misi dagang itu sukses.

Sebagai contoh dibutuhkan dana 1,7 juta gulden pada tahun 1602 untuk membiayai 6 kapal Belanda di bawah pimpinan Van Warwijk.

Kebutuhan dana untuk misi VOC mengundang para penyandang dana seperti Tuan Dirk menjadikan momentum itu sebagai kesempatan mencari keuntungan yang besar melalui aksi spekulasi melalui bursa. Mereka berharap meraup keuntungan keuntungan ketika kapal-kapal itu kembali dengan membawa sejumlah komoditas. Komoditas dijual dan para penyandang dana itu mendapatkan dividen.

Walaupun tentu saja banyak juga para partisipan atau spekulan ini yang rugi karena tidak semua kapal yang kembali dengan selamat.

Tahun 1619, Jan Pieterz Coen yang menjadi gubernur jendral, mendesak agar semakin banyak kapal dan dana yang harus dikirim untuk memantapkan monopoli. Dana dibutuhkan bukan saja untuk pembuatan kapal tetapi juga untuk membiayai awak dan tentara bayaran yang mengamankan misi ini.

Waktu itu Belanda menyewa banyak tentara bayaran dari negara tetangga, termasuk dari Jerman.

Seperti analisis Femme S. Gaastra, pendanaan secara tetap, terutama melalui bursa melalui penerbitan saham dan obligasi menjadi kunci keberhasilan VOC mengalahkan saingannya dari Spanyol dan Portugis, termasuk saingan utamanya Inggris melalui East India Company.

Ilustrasi data jumlah dana investasi di VOC dan pendanaan saudagar Amsterdam untuk beberapa ekspedisi membuktikan hal itu.

Demikianlah peran bursa di Amsterdam terus menjadi penopang utama VOC hingga entitas dagang itu bangkrut pada tahun 1789.

Peran bursa itu tetap penting hingga kegiatan dagang di Asia, khususnya Indonesia diambilalih pemerintahan Kerajaan Belanda hingga saat-saat terakhir mereka di Nusantara.

Catatan di atas hanya menegaskan bahwa sejarah hampir empat abad Belanda di Indonesia tak bisa dipisahkan dari peran pasar modal. Bahkan, peran bursa jauh lebih dasyat dari sekadar sepatu lars para tentara Belanda dengan bedil-bedilnya. Cerita yang mengetuk kesadaran bahwa negeri yang kaya raya ini tak pernah lelah memuaskan dahaga para saudagar dunia. Entah sampai kapan.

Perlengkapan Kargo Investasi

1. 1595 : 4 kapal, De Hotman 170.000 120.000 290.000

2. 1598 : 8 kapal, Van Neck 372.000 396.738 768.466

3. 1599 : 3 kapal, Van der Haghen 158.408 ? ?

4. 1599/ : 4 kapal, Wilekens 638.121 294.500 914.205

1600 :

5. 1601 : 6 kapal, Van Neck

5 kapal, Harmenz 224.601 ? ?

6. 1601 : 8 kapal, Van Heemskerck608.741 704.900 1.334.473

7. 1602 6 kapal Amsterdam VOV,

Van Warwijck 622.382 1.115.994 1.738.325

Dana yang diinvestasi oleh Dewan Dagang Amsterdam

Perlengkapan Kargo Investasi

1. 1603 : 7 kapal,Van der Haghen 580.006 413.052 922.379

2. 1605 : 7 kapal, Matelieff 813.058 624.624 1.220.719

3. 1606 : 3 kapal, Van Caerden 462.559 367.587 1.217.368

4. 1607 : 8 kapal, Verhoeff 763.605 532.300 308.550

2.619.228 1.937.563 3.669.016

Sumber: National Archief

Dana yang diinvestasikan di VOC (gulden)

Dewan Dagang Amsterdam : 3.679.915

Dewan Dagang Zeeland : 1.300.405

Dewan Dagang Delft : 469.400

Dewan Dagang Rotterdam : 173.000

Dewan Dagang Hoorn : 266.868

Dewan Dagang Enkhuizen : 540.000

Total : 6.424.588 (ln)

Menelusuri bursa tertua dunia (bagian II)
Oleh Abraham Runga M. | 14 December 2010

bisnis

AMSTERDAM: Mari kita mulai dari Beursplein 5. Ini adalah puncak perkembangan bursa selama empat abad di Amsterdam. Adalah Jos Cuypers yang mengajukan diri untuk merancang gedung itu tahun 1910. Orang ini pula yang merancang Niewe Sint Bavo, sebuah katedral terkenal di Haarlem.

Dia mewarisi bakat sebagai arsitek dari ayahnya Pj. H Cuypers yang mendesain Risjkmuseum dan Central Station di Amsterdam. Setelah selesai dibangun Desember 1913, bursa itu resmi dipakai pada 2 Januari 1914.

Pada awal tahun itu, bursa Amsterdam memperdagangkan saham dari 850 emiten luar negeri dan 700 perusahaan Belanda.

Sebagian besar emiten Belanda merupakan warisan dari perusahaan VOC yang sudah bangkrut dua abad yang silam. Sebagian besar perusahaan-perusahaan beroperasi di Indonesia. Bagi Belanda di awal abad 20, bursa sangat penting dalam menopang eksistensi kolonialismenya di Indonesia yang sekaligus memberi manfaat signifikan bagi perekonomian di negerinya.

Itu terbukti ketika pada 14 Desember 1912 Belanda serius mendirikan cabang bursa Amsterdam di Batavia. Di tingkat Asia, bursa di Batavia adalah yang tertua keempat setelah Bombay (1830), Hong Kong (1871) dan Tokyo (1878).

Sebelum memiliki gedung sendiri, seperti tertulis dalam buku Effectengids (1939) kegiatan jual beli saham dan obligasi di Batavia sudah berlangsung sejak 1880. Bahkan, tercatat pada 1892 perusahaan Belanda Cultuurmaactchappij Goalpara yang berkantor di Batavia menerbitkan prospektus terkait penjualan 400 lembar saham dengan harga 500 gulden per lembar.

Empat tahun kemudian, surat kabar Yogyakarta dengan nama Het Centrum juga menjual saham senilai 5 ribu gulden dengan harga perdana 100 gulden per lembar. Bursa Batavia saat itu berkembang pesat. Saham dan obligasi yang diperdagangkan adalah terkait perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang diterbitkan pemerintah Hindia Belanda, baik pemerintah pusat, kota praja dan efek-efek Belanda lainnya.

Saham-saham multinasional yang ditransaksikan di Belanda juga diperdagangkan di sini, antara lain AFC Industry, American Motors, Anaconda Copper dan Betlehem Steel. Sekadar catatan Betlehem Steel adalah blue Chip do New York Stock Exchange yang masuk dalam perhitungan harga Dow Jones sejak 1928.

Selain itu obligasi dari negara lain juga dijual di bursa Batavia. Seminggu setelah bursa Batavia di buka misalnya Harian Perniagaan atau 13 Tjap It Gwe 2463 membuat berita tentang penawaran tentang obligasi tersebut.

Itoe pindjeman dikasih nama “Tiong Hoa Bin Kok Pat Li Kong The” yang artinya: “Pinjaman dengan rente 8 pCt dari Repoebliek Tiongkok. Pindjeman itoe soeda diperkenalkan oleh Nationale Vergadering di Peking dan soeda dibikin sah serta dititahkan boeat dikeloerkan oleh President dari Repoebliek Tiongkok.

Ini Pindjeman besarnya 100 million dollar’ boat ini pindjeman dikeloearkan bon bon dari 1000, 100, 10 dan 5 dollar, jang disertakan nomor djalan boenjinja ada ‘Aan Toonder”… Pindjeman ini dibikin aken goena pri keamanan di Tiongkok dan dikeloearkan dengan dibajar rente 8 pCt satoe boelan menoeroet itoengan Jan lek. Segala bangsa bole bli ini soerat oetang. Di Betawi Soeda ditentoekan masing-masoing perekonomian jang ternama dari orang-orang Tionghoa nanti bisa bli itoe bon bon dengan sebagituoe banjak ia poenja fonds masing-masing, kemoedian ini semoea bon nanti dijoeal lagi boeat harga dari pada siapa jang soeka bli.

Liatwi Tong jang tjinta tanah aernja kita silaken bli ini soerat oetang, akan bantoe pada pemeranta Repoeblik dengan dapat rente dari oewang jang ia kasi pinjem. Dari berita surat kabar ini tampak bahwa tingkat bunga obligasi pemerintah Cina itu menguntungkan karena suku bunga pada 30 Oktober 1912 di Bank Escomto saja hanya empat persen per tahun untuk deposito 12 bulan.

Pemerintah Belanda benar-benar memanfaatkan bursa cabangnya di Batavia secara optimal. Pada saat pendirian ada 13 anggota bursa yang semuanya adalah milik pemerintah Belanda. Ketika bursa kian ramai, tiga bank besarnya juga masuk ke bursa pada tahun 1928, yaitu NHM, Escomto dan NIHB, maka anggotanya menjadi 16.

Sebagian catatan tambahan, NHM (Nederlandsche Handel Maatchappij) adalah perusahaan keuangan dan perdagangan yang didirikan 1824. Mayoritas sahamnya dipegang oleh Raja Belanda. Ketika merdeka, bank inidinasionalisasi dan berubah nama menjadi Bank Ekspor Impor (Bank Exim).

Kemudian Escomto yang didirikan 1857 dinasionalisasi persis seabad kemudian dengan nama baru Bank Dagang Negara (BDN). Lalu Nederland Indiache Handels Bank (NIHN) yang didirikan 1863 kemudian berubah menjadi Bank Bumi Daya (BBD).

NHN, NIHB dan Escomto adalah tiga bank yang dirikan oleh Kerajaan Belanda untuk menggantikan peran VOC yang bangkrut dengan meninggalkan utang 137,7 kita gulden 1799. Kita lalu teringat bahwa dalam perkembangan terakhir Bank Exim, BDN dan BBD pada 1999 bergabung menjadi Bank Mandiri yang menjadi bank plat merah paling besar saat ini.(mmh)

Otoritas China kini tengah mempersiapkan perdagangan saham non-stop 24 jam. Langkah itu merupakan bagian dari rencana China untuk menggaet lebih banyak investor asing untuk bertransaksi di negeri Tirai Bambu itu.

Demikian tertuang dalam rencana pengembangan jangka panjang Bursa Shanghai yang dilansir Shanghai Securities News dan dikutip oleh AFP, Senin (13/12/2010).

“Shanghai Stock Exchange ingin menjadi salah satu bursa paling berpengaruh di dunia pada 2020,” demikian tertuang dalam rencana jangka panjang tersebut.

Tidak disebutkan kapan tepatnya perdagangan saham non-stop 24 jam itu akan diluncurkan, namun diperkirakan sekitar 10 tahun lagi.

“Perdagangan sepanjang pergerakan jarum jam adalah impian dari setiap bursa saham. Berdasarkan teknologi terbaru kami, sepertinya kami akan meluncurkan ini dalam 10 tahun. Kami melakukan upaya yang besar guna mencapai tujuan itu,” ujar Liu Xiaodong, Deputi General Manager Shanghai Stock Exchange.

Liu mengatakan, perdagangan 24 jam non-stop itu akan membantu untuk memfasilitasi transaksi di papan internasional yang sedang direncanakan, termasuk membantu para pialang di luar negeri yang mengalami perbedaan waktu.

Sementara untuk tahun 2013, bursa Shanghai menargetkan bisa menjadi bursa saham paling besar di Asia.
Dalam 3 tahun ke depan, Shanghai akan gencar mempromosikan konstruksi papan perdagangan internasional yang memperbolehkan perusahaan asing dan perusahaan China yang terdaftar di luar negeri untuk mencatatkan sahamnya.

Sumber: detikcom

Rekening Efek
Senin, 13 Desember 2010 – 09:16 wib

Pasar modal atau pasar saham sudah cukup banyak dikenal masyarakat luas. Tapi sejauh ini masih banyak masyarakat yang belum tahu dan paham bagaimana melakukan transaksi di bursa saham, membeli dan atau menjual saham di bursa saham.

Umumnya masyarakat hanya tahu bahwa untuk membeli saham tidak bisa melakukan sendiri karena harus lewat perusahaan broker yang punya izin usaha sebagai broker dealer dari Bapepam-LK dan sebagai anggota bursa (AB).

Harus diingat bahwa pada dasarnya transaksi saham di bursa efek merupakan kegiatan investasi. Jika seseorang akan menyimpan uangnya di bank atau menabung maka ia harus datang sendiri ke bank dan membuka rekening tabungan.

Mengisi identitas diri dengan menyerahkan foto copy tanda pengenal dan menyetor sejumlah uang yang akan ditabung. Nah, dalam investasi di pasar modal juga berlaku ketentuan seperti itu.

Setiap orang yang berniat menanamkan uangnya di pasar modal dan aktif melakukan transaksi jual beli saham wajib memiliki rekening efek. Jika menabung di bank, orang harus membuka rekening tabungan maka untuk berinvestasi di efek (surat berharga) orang harus membuka rekening efek. Di mana investor bisa membuka rekening efek ? Nasabah atau calon investor bisa membuka rekening efek di perusahaan efek anggota bursa (PE AB).

Status sebagai anggota bursa di sini perlu digarisbawahi, mengingat ada juga perusahaan efek yang bukan anggota bursa (PE Non AB). PE Non AB tidak bisa melayani investor untuk melakukan transaksi di bursa. Saat ini tercatat ada 117 PE AB yang aktif.

Seperti halnya mengisi aplikasi rekening tabungan di bank, calon investor atau nasabah di pasar modal juga harus datang sendiri ke kantor perusahaan broker AB dan mengisi aplikasi rekening efek.

Pembukaan rekening efek ini tidak boleh diwakilkan ke orang atau pihak lain. Di pasar modal ada satu ketentuan tentang mengenal nasabah (know your customers/KYC) sehingga siapapun yang membuka rekening efek diwajibkan untuk bertatap muka datang langsung ke kantor perusahaan broker AB.

Ketentuan ini juga berlaku untuk nasabah online trading. Khusus online trading, meskipun pembukaan rekening efek bisa dilakukan secara online tetapi tetap saja ada satu tahapan di mana investor harus melakukan tatap muka dengan perusahaan brokernya.

Saat pembukaan rekening efek, calon investor juga diwajibkan untuk menyetor sejumlah dana deposit. Nilai deposit minimal bervariasi di antara perusahaan broker, namun kisarannya antara Rp10 juta-Rp50 juta. Untuk rekening efek online, nilai deposit minimal lebih rendah lagi yakni hanya Rp5 juta saja.

Calon investor akan menerima tanda bukti pembukaan rekening efek dan nomor rekening efek. Bagi nasabah online juga diberikan nomor pin dan password untuk akses ke sistem online trading di perusahaan broker tersebut.

Pada saat pembukaan rekening efek, investor juga mendapatkan penjelasan tentang hak dan kewajibannya dalam melakukan transaksi di bursa, berapa biaya (fee) transaksi yang harus di bayar dan sebagainya. Jika seluruh proses di sini selesai maka nasabah resmi menjadi investor di pasar modal dan bisa bertransaksi beli dan atau jual.

Sementara pihak broker AB meneruskan proses pembukaan rekening efek tadi ke Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk dibuatkan subrekening efek bagi investor tersebut.

Manfaat

Dengan memiliki rekening efek dan subrekening efek di KSEI, ada manfaat yang bisa dinikmati investor. Aset investor dicatat secara terpisah dari buku perusahaan broker tersebut sehingga tidak menjadi satu dengan aset perusahaan broker.

Nasabah juga bisa mengontrol secara langsung keberadaan asetnya di KSEI. Data aset nasabah yang ada di perusahaan broker harus sama dengan data nasabah yang ada di KSEI. Investor tidak perlu kuatir bahwa nilai asetnya berkurang.

Hal lain yang bisa dinikmati manfaatnya oleh investor adalah saat emiten melakukan aksi korporasi seperti pembagian dividen, right issue, pemecahan saham atau penyelenggaraan RUPS.

Seluruh hak investor secara otomatis langsung didistribusikan ke rekening efek investor bersangkutan. Investor juga tidak perlu melakukan registrasi sendiri setiap saham yang dibelinya, karena tugas untuk itu sudah ditangani oleh perusahaan broker. Karena itu, saat pembukaan rekening efek harus diisi dengan benar. (Tim BEI)(//ade)
Bisnis Day Trading di China (2)
Headline

Oleh: Asteria
Pasar Modal – Minggu, 12 Desember 2010 | 16:31 WIB

INILAH.COM, Beijing– Perusahaan trading Amerika dan Kanada banyak yang berekspansi ke China. Salah satu pertimbangannya adalah tenaga kerja yang murah. Kesempatan ini pun dimanfaatkan bagi trader pemula untuk cepat kaya.

Sebelum bel pembukaan terdengar di New York Stock Exchange awal pekan ini, sekelompok lulusan baru perguruan tinggi terlihat memasuki sebuah perusahaan trading kecil di pinggiran ibukota China.Mereka disewa untuk terlibat dalam perdagangan saham gerak cepat, dengan beberapa investment house terkuat dunia di New York, London dan Tokyo, dan mereka diperintahkan untuk waspada.

“Pasar bisa volatile hari ini,” teriak King Chan, manajer umum di Lazer Trade, ke arah kelompok dengan semangat.”Hati-hati pada pembukaan.Dan jangan mengambil risiko bodoh! ”

Perusahaan trading Chan adalah salah satu dari banyak yang bermunculan di China dan kota-kota besar sekitarnyabeberapa tahun terakhir,seperti Title Trading dan Hold Brothers.

Perusahaan trading yang berbasis di Amerika Serikat dan Kanada merekrut pekerja murah di China dan mengajar mereka dalam perdagangan spekulatif, yang berarti berulang kali membeli dan menjual saham yang tercatat di New York Stock Exchange dan Nasdaq. Tentu dengan harapan dapat cepat meraup keuntungan.

Seorang manajer di Title Trading mengatakan, sebelumnya, ketika trader bisa mendapatkan US$ 4- 5 ribu per bulan, orang-orang di Kanada ingin melakukannya. “Tapi tidak kalau hanya US$ 1.000. Jadi, kita outsourcing ke China. ”

Dengan estimasi beberapa industri, sebanyak 10ribu orang di China melakukan perdagangan spekulatif atas saham Amerika. Sebagian besar pemuda yang agresif bekerja disini dengan waktu pada 9:30-4:00, dengan puluhan ribu transaksi saham sehari.”Grup trading telah meledak ke China,” kata Stephen Ehrlich, chief executive di Lightspeed Financial, perusahaan di New York yang menjual perangkat lunak trading untuk operasional perusahaan di China.

Beberapa perusahaan trading mengatakan mereka dapat keuntungan dari operasi trading di China melalui kombinasi overhead murah, potongan harga dan insentif keuangan lainnya dari bursa saham utama. Selain permintaan khusus untuk pilihan investasi yang lebih luas di kalangan elit China.

Kebanyakan perusahaan menggunakan modal sendiri atau modal dari investor swasta di Amerika Serikat atau Kanada untuk membuka toko trading terafiliasi di China.Mereka menyewa lulusan baru China untuk melakukan trading bagi mereka, seringkali tanpa gaji standar tapi janji pembagian laba.

Lulusan universitas biasanya mendapatkan US$ 300-400 per bulan di China, namun para ahli tenaga kerja di China mengatakan, pasar kerja untuk para pekerja kerah putih telah melemah, sehingga mereka bersedia mengambil kesempatan bekerja tanpa jaminan upah, tapi dengan kesempatan berbagi keuntungan.

Chan mengatakan, sekitar 200 orang melamar pekerjaan di perusahaannya dalam dua bulan terakhir. “Turnover sangat tinggi, dan pekerja biasanya bergerak setelah empat atau lima bulan. Sangat sedikit yang tinggal lebih dari setahun,”ujarnya.

Jika trader membuat keuntungan, mereka mendapat antara 10 -50 persen, dan sisanya dibagi antara perusahaan perdagangan dan investor. (Jika para pedagang menghasilkan kerugian, mereka membawa risiko ke klien perusahaan dan mungkin pekerjaan mereka sendiri.)

John C. Coffee Jr, ahli hukum sekuritas di Columbia University mengatakan, pengaturan jumlah untuk biaya broker besar dan juga aneh. “Ini kompensasi luar biasa tinggi. Jika ini terjadi di AS, biaya akan menjadi berlebihan, “katanya. Dia menambahkan bahwa meskipun para trader bisa mengungguli pasar secara keseluruhan, biaya transaksi akan memangkas keuntungan.”

Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan trading mengatakan punya strategi yang menguntungkan. Ada yang mengatakan menggunakan perangkat lunak manajemen risiko yang canggih, yang dapat mengganggu perdagangan, setelah serangkaian kerugian. Hal ini untuk mencegah kerugian besar dalam satu hari. Tapi mereka mengakui bahwa kerugian juga dapat berkembang.

Namun, pertumbuhan trading disini mengharapkan seseorang menghasilkan uang, dan banyak trading house mengatakan dapat menghasilkan volume perdagangan yang sangat besar. Chan di Lazer Trade misalnya, mengatakan cabang kantornya, dengan sekitar 20 karyawan, mentransaksikan lebih dari lima juta lembar saham per hari.

Terlepas dari hal itu, banyak trader China yang melihat ini sebagai kesempatan untuk cepat kaya, dengan membeli dan menjual saham lebih dari 100 kali sehari, biasanya setelah memegang saham kurang dari lima menit, dan berharap adanya kenaikan bahkan yang terkecil.

Meskipun banyak pedagang mengatakan mereka menghasilkan kurang dari US$ 200 sebulan, beberapa membual tentang penghasilan US$ 10 ribu per bulan dan siap berbisnis dengan bermain game online.

“Day trading seperti medan perang,” kata Qu Zheng, 24, yang telah terlibat dalam trading selama lebih dari dua tahun dan biasanya mentransaksikan satu juta lembar saham per hari di kantor Lazer Trade, Beijing. “Ini sangat menantang karena Anda bisa merasakan denyut nadi pasar.” [mdr]

Bisnis Day Trading di China (1)
Headline

Oleh: Asteria
Pasar Modal – Minggu, 12 Desember 2010 | 11:11 WIB

INILAH.COM, Beijing – Transaksi Day Trading ternyata masih marak dilakukan. Fenomena ini kini beralih ke China, dimana tenaga kerja murah direkrut untuk terlibat dalam grup perdagangan spekulatif. Bagaimana regulasinya?

Peter Beck, pendiri Swift Trade, perusahaan Kanada dengan 1.500 trader di China mengatakan,operasinya berkembang dan perusahaan memperoleh bagian dari keuntungan perdagangan.”Klien kami, membuka kantor, memberi kami uang dan kemudian menyewa orang untuk trading bagi mereka.Itu struktur kita, “katanya.

Swift Trade dianggap salah satu pelopor dalam outsourcing day trading. Awalnya tumbuh dengan menawarkan layanan broker di Kanada, kemudian menyewa orang Kanada untuk mentransaksikan modal perusahaan dari markas besar di Toronto.Perusahaan menawarkan gaji moderat untuk trader dengan kesepakatan bagi hasil.

Tapi setelah 2001, ketika bursa saham Amerika menggunakan harga secara desimal, bukan fraksi, perdagangan kian ketat dan keuntungan anjlok. Akibatnya, banyak day trader , yang mengambil keuntungan dari selisih besar dari ayunan harga, dipaksa untuk berhenti.

Dengan sedikitnya trader yang menggunakan perangkat lunak atau berbagi keuntungan perdagangan mereka, Swift didorong ke Asia. Perusahaan itu membuka pusat pelatihan di China dan mendorong beberapa pedagang Kanada dengan akar Cina untuk pindah ke Cina untuk mengatur dan mengelola perusahaan trading berafiliasi dengan Swift.

Apalagi China melarang warganya menggunakan mata uang China untuk membeli atau menjual saham perusahaan yang tercatat di bursa efek asing. Namun nampaknya tidak ada larangan terhadap perdagangan saham untuk rekening yang dimiliki entitas asing.

Daerah abu-abu tersebut tersebut menjadi daya tarik perusahaan trading Amerika dan Kanada untuk mendirikan toko di sini, setidaknya sebagian untuk melayani klien kaya mencari alternatif investasi yang lebih beragam.

Usaha tersebut meningkat, dan pada 2007 Swift dan perusahaan trading lainnya, seperti Title Trading dan Hold Brothers, yang menawarkan jasa untuk ribuan day trader, sering melalui rekening yang terdaftar oleh orang kaya China atau ekspatriat dari Amerika Serikat dan Kanada.

Salah satu pengambil risiko adalah King Chan, warga Amerika 25 tahun yang meninggalkan pekerjaan di JPMorgan di Amerika Serikat tahun lalu untuk berinvestasi dan mengelola Lazer Trade.

Sedangkan pada perusahaan yang terafiliasi di Beijing untuk Title Trading, manajer yang tidak ingin disebutkan namanya, karena khawatir sulit mencari pekerjaan lain jika operasi itu gagal mengatakan, ia pindah ke China dari Kanada karena keuntungan dari mengoperasikan perdagangan dengan China yang bersedia untuk memulai trading dengan gaji rendah, bahkan tidak dibayar.

Beberapa ahli di sekuritas bingung dengan operasiini.Mereka mempertanyakan bagaimana perusahaan dapat keuntungan dengan menggunakan trader yang tidak berpengalaman.Mereka juga heran apakah penggunaan trader di Cina melanggar undang-undang sekuritas Amerika dan Kanada.

“Ini adalah kekacauan yurisdiksi untuk regulator AS,” kata Thomas J. Rice, ahli hukum surat berharga di Baker & McKenzie.”Apakah trader Cina ini pada dasarnya bertindak sebagai broker?Jika ya, mereka mereka harus terdaftar di AS. ”

Pejabat di Bapepam AS, Securities and Exchange Commission (SEC) dan rekan-rekan mereka di Kanada dan China menolak memberikan komentar ketika ditanya tentang pertumbuhan day trading di China.New York Stock Exchange dan Nasdaq juga menolak memberikan komentar.

Juru bicara Swift Trade, yang menyediakan perangkat lunak untuk Lazer Trade dan mengambil bagian dari laba tradingbersikeras operasi China telah didaftarkan dengan benar dan sepenuhnya legal.Dua perusahaan lain dengan operasi day trading, Hold Brothers dan Title Trading, menolak permintaan ulang untuk wawancara.

Beberapa perusahaan trading memang telah mengalami kesulitan dengan regulator Amerika Serikat dan Kanada atas praktek bisnis mereka. Pada 2002, National Association of Securities Dealers, sekarang dikenal sebagai Financial Industry Regulatory Authority, mencapai penyelesaian dengan perusahaan yang berafiliasi dengan Swift Trade dan ketuanya, Peter Beck, yang terlibat skema perdagangan penipuan yang melibatkan perdagangan fiktif.

Pada 2009 lalu, Beck dan perusahaan afiliasi lainnya dari Swift Trade membayar denda US$ 20 ribu untuk Komisi Keamanan Ontario, setelah regulator menuduh perusahaan membuat kekeliruan tentang klien. klien itu ternyata sebagian juga dikendalikan oleh keluarga Beck dan diikat menjadi sekitar 1.100 pedagang internasional di 50 kantor internasional dan 30 kantor Kanada.

Eksekutif Swift Trade bersikukuh mereka mematuhi hukum. Saat ini, perusahaan tidak beroperasi di Amerika Serikat, tetapi membeli dan menjual saham melalui afiliasi perdagangan yang terdaftar di SEC. [ast]
Senin, 29/11/2010 13:19 WIB
IHSG Berpotensi Tumbuh 20% di 2011
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mempunyai ruang untuk tumbuh sebesar 20% di 2011. IHSG masih bisa bergerak di level 4.400-4.500.

Demikian dikatakan oleh Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito ketika ditemui di sela acara Economic Outlook 2011 di Hotel JW Marriot, Jakarta, Senin (29/11/2010).

“IHSG di 4.400-4.500, bukan prediksi BEI ya, itu dibaca dari berbagai analis. Intinya Masih ada ruang untuk tumbuh 20% tahun depan,” ujar Eddy.

Dikatakan Eddy, sampai saat ini saham-saham BUMN masih menjadi idola yang selalu menjadi buruan para investor di pasar modal. Jadi dengan semakin banyaknya BUMN yang masuk pasar modal, ini akan membantu mengerek kinerja IHSG.

Menurut Eddy, saat ini kondisi bursa saham di Indonesia sudah normal dan cenderung meningkat. Sampai saat ini belum ada indikasi terjadinya bubble (penggelembungan) karena suplai saham di bursa masih bisa mengimbangi penawaran investor yang sangat besar.

“Saya kira suplai ini mengimbangi permintaan dari pasar sehingga tidak membuat harga-harga saham terkerek,” tukas Eddy.
(dnl/qom)

Jumat, 19/11/2010 08:39:57 WIB bisnis
Selektif mengalokasikan aset
Oleh: Budi Frensidy
Dalam banyak kesempatan, ada saja kawan dan kerabat yang bertanya mengenai alokasi investasi di pasar modal untuk mereka. Berapa persen sebaiknya investasi dalam saham dan dalam ORI (obligasi negara ritel) dan SR (sukuk ritel)?

Sebelum adanya ORI dan SR, investor individual di Indonesia yang tertarik dengan obligasi hanya dapat melakukannya melalui reksa dana pendapatan tetap. Namun, sejak diterbitkannya ORI pada 2006 dan SR 3 tahun kemudian, investor ritel dapat melakukannya langsung.

Jika saham berisiko tinggi karena merupakan sekuritas ekuitas, ORI dan SR adalah sekuritas pendapatan tetap yang berisiko rendah. Kesamaannya, semuanya produk pasar modal yang berbeda dengan deposito yang merupakan produk pasar uang.

Perbedaannya, saham memberikan return dalam bentuk dividen, yang biasanya dibayarkan sekali setahun, dan capital gain. Sedangkan ORI dan SR menjanjikan kupon yang dibayarkan bulanan serta kemungkinan capital gain jika terjadi penurunan yield investor akibat semakin rendahnya inflasi dan suku bunga.

Dividen saham akan ada jika perusahaan memperoleh laba dan memutuskan untuk dibagikan. Adapun, capital gain saham terjadi karena adanya laba yang tidak dibagikan dan faktor pertumbuhan perusahaan pada masa depan.

Perusahaan yang rugi tidak akan membagikan dividen dan jika perusahaan itu tidak menjanjikan pertumbuhan, yang akan diperoleh investor adalah capital loss atau penurunan harga saham di pasar.

Berbeda dengan saham, ORI dan SR mempunyai tanggal jatuh tempo, biasanya 3-4 tahun. Jika ORI dan SR dipegang hingga tanggal jatuh tempo, tidak ada risiko perubahan harga karena semua obligasi pemerintah termasuk ORI dan SR pasti dilunasi pada nilai nominal saat jatuh tempo.

Tiga fase investor

Soal alokasi investasi di pasar modal, saya tidak membicarakan jumlah uang dan memiliki dana Rp20 juta saya pikir sudah cukup. Persentase dalam saham dan obligasi yang dianjurkan bergantung pada umur, sikap investor terhadap risiko, dan paradigma investasinya.

Reilly dan Brown dalam bukunya Investment Analysis and Portfolio Management membagi usia investor dalam tiga kelompok yaitu fase akumulasi, fase konsolidasi, dan fase belanja (spending).

Fase akumulasi dimulai saat kekayaan investor masih sedikit atau sekitar usia 25 tahun, fase konsolidasi dimulai pada usia 35-40 tahun, dan fase belanja ketika usia menginjak 60 atau 70 tahun.

Rekomendasi Reilly dan Brown adalah pada fase akumulasi, persentase saham: obligasi sebaiknya 80% : 20%, dan turun menjadi 50% : 50% pada fase konsolidasi, dan terakhir menjadi 100% obligasi pada fase belanja. Ini tentunya dengan asumsi investor bersikap netral terhadap risiko.

Untuk investor yang berani mengambil risiko (risk taker), porsi saham untuk masing-masing fase dapat ditingkatkan 10%-20% menjadi sekitar 90%-100% untuk fase akumulasi dan 60%-70% untuk fase konsolidasi, misalnya.

Sebaliknya investor yang menghindari risiko (risk averter) harus menurunkan porsi saham (menaikkan porsi obligasi) untuk setiap fasenya menjadi 60%-70% saham pada fase akumulasi dan 30%-40% pada fase konsolidasi.

Tiga paradigma investasi

Intinya, sekuritas yang cocok untuk pencinta risiko dengan paradigma investasi maksimalisasi return adalah saham yang harga pasarnya sangat fluktuatif sedangkan untuk yang ingin meminimumkan risiko adalah sekuritas berpendapatan tetap seperti ORI dan SR.

Sementara itu, investor yang takut risiko tetapi ingin menikmati return tinggi dianjurkan mengambil porsi seimbang dalam saham dan obligasi. Portofolio ini ternyata diterapkan Markowitz, sang penemu teori portofolio yang juga pemenang nobel ekonomi.

Walaupun mengakui tingginya return saham dalam jangka panjang, dia hanya menempatkan separuh uangnya dalam aset berisiko ini. Separuhnya lagi dialokasikan dalam obligasi pemerintah dan obligasi korporasi tripel A.

Ketika ditanyakan alasannya, Markowitz hanya menjawab singkat kalau paradigma investasinya adalah minimalisasi penyesalan dan bukan maksimalisasi return atau minimalisasi risiko.

Dengan strategi berimbang ini Markowitz memastikan tidak akan mengalami penyesalan besar soal keputusan investasinya. Jika pasar bullish, dia senang karena separuh portofolionya dalam saham.

Namun, saat pasar bearish, dia juga tidak terlalu bersedih dibandingkan investor dengan paradigma maksimalisasi return, karena obligasi melindunginya dari jatuh miskin.

Sayangnya, persentase alokasi investasi di atas pada praktiknya hanya dilakukan di negara-negara maju yang pasar obligasinya relatif likuid dan sekitar sepertiga penduduknya berinvestasi di pasar modal.

Kondisi ini sangat kontras dengan Indonesia yang investor pasar modalnya hanya sekitar 0,5% dari jumlah penduduk. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih menyimpan uang lebihnya dalam deposito.

Padahal bunga deposito selalu lebih rendah daripada kupon ORI atau SR sementara keamanan dan kepastian pengembalian ORI dan SR juga lebih tinggi. Pajak penghasilan atas bunga deposito juga lebih besar yaitu 20% berbanding 15% untuk ORI dan SR sehingga selisih bunga efektif deposito dan ORI (SR) sekitar 2-3% p.a.

Yang juga penting diketahui para kas surplus Indonesia adalah investasi di pasar modal di atas sebaiknya dilakukan setelah Anda mempunyai dana darurat sebesar minimal tiga kali pengeluaran bulanan dan maksimal enam kali, sesuai dengan anjuran Kapoor dalam bukunya Personal Finance.

Dana darurat ini dibentuk untuk memastikan dana yang ditanam dalam pasar modal tidak akan digunakan, paling tidak dalam beberapa tahun ke depan. Dana darurat ini bisa disimpan dalam tabungan atau reksa dana pasar uang.

Kini setelah Anda memahami saham dan obligasi, tiga fase investor, dan tiga paradigma investasi di atas, Anda masih takut menjadi investor pasar modal?

Apakah Penurunan IHSG Berlanjut?
Kamis, 25 November 2010 – 07:52 wib

JAKARTA – Memanasnya suhu politik Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) atas bursa regional hanya sementara.Tapi,bursa Indonesia diprediksi masih akan terkoreksi hingga akhir November.

“Minimnya sentimen saat ini membuat kondisi negatif di global dan regional menjadi kesempatan bagi pelaku pasar melakukan aksi ambil untung sehingga potensi koreksi hingga akhir November cukup kuat,” ujar VP Research PT Valbury Asia Securities Nico Omer di Jakarta.

Pada perdagangan kemarin indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali mengalami koreksi. Namun,pelemahan yang terjadi tidak terlalu besar. IHSG hanya turun 19,417 poin (0,53 persen) ke level 3.658,777. Sementara bursa regional justru menunjukkan penguatan, dengan rata-rata kenaikan mendekati satu persen.

Nico mengungkapkan, bursa regional mulai membaik karena Pemerintah Korut dan Korsel mengisyaratkan tidak akan terjadi perang. “Keduanya tidak menginginkan perang.Saya pikir itu cukup menenangkan pasar,” ucapnya.

Sementara kondisi Eropa juga sudah mulai membaik.Krisis utang Irlandia sudah bukan jadi persoalan lagi. Seperti Yunani, Spanyol, dan Portugal, krisis keuangan itu pun bisa terselesaikan. “Pelaku pasar sebenarnya sudah mengantisipasi itu. Karena cepat atau lambat akan di-bailout (ditalangi). Persoalan pun selesai,”katanya.

Rencana Pemerintah Irlandia melakukan percepatan pemilu, menurutnya, tidak menjadi masalah sebab secara tegas Perdana Menteri Irlandia Brian Cowen mengatakan tidak akan mundur sebelum bailoutterlaksana.“Ini menunjukkan kalau secara politik tidak ada masalah,”tegasnya.

Dari dalam negeri, sentimen penurunan sangat besar.Indeks telah mengalami penguatan sehingga koreksi hanya tinggal menunggu momentum. Isu geopolitik Korut dan Korsel dan krisis Irlandia menjadi momentum koreksi. Hingga akhir November ini, kata Nico, indeks diproyeksikan bergerak mendatar pada kisaran 3.600 hingga 3.700. Namun jika kondisi memburuk,indeks bisa meluncur ke level 3.500 dengan batas support 3.535.

“Saya pikir koreksi ini justru dinantikan.Ini kesempatan untuk mulai melakukan akumulasi lagi sebelum kondisi kembali normal,”katanya.

Nico mengaku yakin IHSG akan kembali rally mengantisipasi tahun baru. Dia optimistis IHSG 2010 bisa bertengger di posisi 2.830.“November ini menjadi kesempatan untuk akumulasi,” tambahnya.

Senada,Vice Presiden Erdhika Sekuritas Muhammad Reza juga menilai IHSG dalam tren koreksi dalam jangka pendek. Hingga November ini IHSG masih dilanda sejumlah aksi ambil untung,memanfaatkan sentimen global dan regional.“ Dengan kenaikan indeks kita yang sudah cukup tinggi,wajar ada koreksi saat ini,”katanya.

Reza menambahkan, kondisi ini sebenarnya merupakan peluang baik bagi pelaku pasar untuk kembali masuk, melakukan akumulasi sebab rally lanjutan indeks tidak lama lagi terjadi. Begitu sentimen baik global dan regional mereda, indeks akan rally kencang hingga akhir tahun. “Kemungkinan hingga akhir tahun indeks bisa mencapai level 3.800-3900 jadi koreksi saat ini merupakan momen baik untuk beli,”ungkapnya.

Dia menilai investor terutama asing akan melakukan pembelian cukup besar di akhir tahun guna mengantisipasi penguatan IHSG tahun depan. Dengan posisi pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil dan terjaga, serta menghitung fairvaluasi pertumbuhan dari industri-industri dalam negeri,Reza berpendapat indeks berpotensi tumbuh sekitar 20 persen di 2011.

“Levelnya kemungkinan berada di 4.600-5.000, dan itu sudah menghitung berbagai risiko yang terjadi.Wajar bila akumulasi akan dilakukan sebelum tutup tahun,” tambahnya.

Kepala Riset Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Hotradero menilai pengaruh Korut-Korsel hanya sementara. Investor menilai ini sebagai masalah eksternal dan kekhawatiran investor hanya jangka pendek.

“Ini merupakan ekses eksternal dan tidak terkait langsung. Pengaruhnya tentu ada,tapi ini belum mengkhawatirkan,”katanya.

Dengan begitu, koreksi wajar terjadi dalam jangka pendek. Namun, secara fundamental IHSG sangat baik untuk melanjutkan di akhir tahun.(Koran SI/Koran SI/wdi)
Akhir Tahun, IHSG Bisa Tembus 3.900
Headline

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Rabu, 24 November 2010 | 19:47 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksikan mencapai level 3.800-3.900 pada akhir tahun 2010. Potensi window dressing mendorong IHSG tembus kisaran tersebut.

Hal itu disampaikan Head of Technical Analyst PT Batavia Prosperindo Sekuritas Billy Budiman, Rabu (24/11). “Potensi window dressing membuat IHSG tembus 3.900 pada akhir tahun,” ujar Billy.

IHSG naik di atas 45 persen sejak Januari hingga November 2010. IHSG pada Januari di kisaran 2.533 menjadi 3.741 pada 22 November 2010.

Kepala Riset PT Recapital Securities Pardomuan mengatakan, kenaikan IHSG didukung dari sektor saham consumer dan perbankan. Saham-saham dengan orientasi domestik mendorong IHSG mengingat keadaan ekonomi di luar negeri belum pulih. “Saham-saham sektor domestik seperti perbankan dan consumer memberikan return besar,” tambah Pardomuan.

Selain, IHSG tembus 3.700 didukung dana asing terus masuk ke Indonesia, fundamental ekonomi Indonesia relatif baik.

Direktur Vibiz Consulting Alfred Vakasi menuturkan, Indonesia menjadi target global untuk investasi. Selain itu, dana asing banyak masuk ke pasar uang dan pasar modal. “Jadi hot money telah cukup lama bertahan membuat pasar atraktif dan return yang jauh lebih menarik dari kebanyakan negara besar dunia,” kata Alfred.

Alfred mengatakan, dana masih akan bertahan khususnya selama ekonomi global belum pulih pada 2011. Selain itu, pelaku pasar akan profit taking tetapi hanya dalam jangka pendek. [hid]

… baca perbedaan pandangan gw dan analis prof soal CUT LOSS : gw mah FOKUS LABA DALAM TREN TURUN AJA dan juga bukti keberhasilan FLDTT : saat genting, gw mah sante dan tetap trading

baca perbedaan pandangan gw dan analis prof soal CUT LOSS : gw mah FOKUS LABA DALAM TREN TURUN AJA dan juga bukti keberhasilan FLDTT : saat genting, gw mah sante dan tetap trading

Monday, Nov. 29, 2010
It’s Not the Economy
By Zachary Karabell

A recent story on the daily peregrinations of the stock market concluded that, at least for the day, “U.S. stocks erased their losses to finish in positive territory, as investors weighed an improving domestic economy against heightened global concerns.” That seems an innocuous enough statement. The markets did well because investor concerns about the economy were allayed by some data or shift in sentiment. Pretty simple, right? Yes, but also pretty wrong.

Reading markets in light of economic data is common, but it is using a deeply flawed lens. Not only can markets rise when the economy is weak and fall when the economy is strong, but the fate of an increasingly large number of companies has little to do with the fate of their home countries. Using national economic data as a barometer of companies and stocks may have once made sense — when firms were intimately tethered to their homelands — but no longer. In fact, using national economic data as a guide to how companies will perform is almost certain to lead to the wrong conclusions.

companies have become increasingly global

In part, this is because companies have become increasingly global in their business, especially publicly listed companies that trade on the world’s stock exchanges. Nearly 50% of the earnings of the S&P 500 companies came from outside the U.S. last year, and if you take out companies that are closely tied to the American economy such as utilities and health care services, that percentage is almost certainly above 50%. Even some prominent, dynamic U.S. consumer companies like Nike are seeing their most dramatic growth by selling to China and its rapidly emerging middle class, along with a host of other emerging countries. The swoosh is as familiar in Guangdong province as it is in Galveston, Texas.

In fact, it is now easier to list examples of companies that aren’t exposed to global trends than it is to tell stories of those that are. Yes, Universal Health Services, a $4 billion company that operates hospitals in the U.S., depends on local revenue, but that is increasingly the exception, rather than the rule, for the stocks that make up a typical investor’s portfolio. Even an iconic though troubled American company like General Motors, which is about to relist its shares following a government bailout, is no longer so American or so iconic. GM sells more cars in China, accounting for about a third of its profit, than it does in North America.

The result of the decoupling of U.S.-listed companies from the U.S. economy is that corporate and national growth rates have also diverged. While the U.S. economy will be fortunate if it can eke out 2% to 3% growth this year and next, the S&P 500’s third-quarter earnings grew by an astonishing 31% (year over year), down from an even more astonishing 51% in the second quarter. Granted, that was coming off a very weak 2009, but over the past decade, companies have on the whole grown much more quickly than the economy itself.

And this isn’t purely an American phenomenon. After all, is Nestlé really a Swiss company, Siemens a German company — it employs 60,000 Americans — or Samsung a Korean company? Companies inhabit Corporate Land, which may not have a seat on the U.N. Security Council but surely exerts as much influence as any of the five permanent members do.

What this means for investors is that national economic data may be of little use. Using gauges like GDP, employment and sales to navigate investing decisions will lead to wrong decisions based on flawed assumptions.

Instead, investors should be guided by what those companies are, in fact, doing. Almost any publicly traded technology company today is enmeshed in global supply chains of production and consumption that treat the U.S. as one large market in a world of burgeoning markets. There’s no better example than Corning, once a classic American company that made glass, then kitchenware, then fiber optics and is now a multinational that provides the core glass elements for flat-screen panels as well as laser technology.
… well, itu sebabnya gw MENYAJIKAN SEGITIGA TRISILA INVESTOR YANG SUDUT-SUDUTPERSPEKTIFNYA TERDIRI DARI INFO EKONOMI GLOBAL, MAKRO, dan FUNDAMENTAL PERUSAHAAN, lalu ANALISIS TEKNIKAL SAHAM, serta RUMUS TRADING SEHARI-HARI :

TRISILA INVESTOR PENTING BWAT SEMUA INVESTOR APA AJA

So while there remain industries like health care that are inextricably linked to the domestic economy, those are the exceptions. The new rule for investing should be to put aside the quaint notion that getting the economy right helps you get stocks right. Once, what was good for GM might have been good for America, but that was another time, another age, one that should be remembered as history. And only as history.

IHSG Bisa Capai Level 5.000 pada 2011
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Minggu, 21 November 2010 | 14:44 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksikan dapat mencapai level 5.000 pada 2011. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksikan masih cukup baik akan mendukung IHSG.

Hal itu disampaikan Vice President Erdhika Elite Securities Muhammad Reza, pada pelatihan wartawan pasar modal, Jumat (19/11). “Dengan asumsi PE 15X-17X pada 2011 akan berada di level 4.125-4.675 atau masih memberikan potensi kenaikan sebesar 11,5%-26,38% jadi IHSG tahun depan bisa sampai 5.000,” tutur Reza.

Selain itu, Reza mengatakan, pertumbuhan rata-rata EPS 2011 sebesar 25% maka pada 2011 EPS average saham menjadi 275 per saham. Sedangkan estimasi EPS rata-rata saham yang mewakili IHSG sebesar 220 per saham pada 2010.

Kepala Riset PT Recapital Securities Pardomuan Sihombing mengatakan, pemerintah juga sebaiknya menyiapkan kebijakan moneter agar dana asing tetap berada di Indonesia. Bila dana asing keluar maka kasus Irlandia bisa terjadi di Indonesia. Selain itu, konsumsi masyarakat terhadap barang impor pun mulai naik sehingga Indonesia mulai tergantung pada dolar AS. “Jadi nanti kalau ada pelemahan terhadap dolar AS maka 30% akan menyumbang ke inflasi,” kata Pardomuan.

Menurut Pardomuan, penawaran umum saham perdana yang banyak dilakukan oleh para calon emiten pun dapat menunjang IHSG dan mengantisipasi agar dana asing tidak keluar dari Indonesia.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan. Ia mengatakan, bila Garuda Indonesia dan perusahaan perkebunan milik BUMN masuk ke lantai bursa maka akan diikuti perseroan lain. “Menunda IPO jadi kasihan pada penawaran umum saham perdana sektor swasta karena investor selalu melihat IPO BUMN,” tambah Haryajid. [hid]

IHSG Diprediksikan Tembus 5.600 Tahun 2011
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Kamis, 25 November 2010 | 06:23 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksikan berpotensi menguat hingga level 5.000-5.600 pada tahun 2011.

Hal itu disampaikan Head of Technical Analyst PT Batavia Prosperindo Sekuritas Billy Budiman, Rabu (24/11). “IHSG tahun depan diperkirakan akan mengalami dejavu seperti 2006-2007 dengan motor IHSG untuk melaju adalah saham sektor pertambangan dan CPO,” ujar Billy.

Billy mengatakan, harga CPO diprediksikan akan menguat pada 2011 seiring naiknya inflasi dunia. Selain itu, harga tambang batu bara dan metal diprediksikan akan meningkat tahun depat. Ada pun sektor saham berbasis batu bara, metal, CPO, consumer dan automotive menjadi pilihan pada 2011.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Riset PT Recapital Securities Pardomuan Sihombing. Pardomuan menuturkan, ekonomi pulih maka harga komoditas akan naik. Permintaan batu bara pun meningkat.

Untuk saham-saham pilihan pada 2011, Billy menuturkan, saham sektor batu bara yang jadi pilihan yaitu saham ITMG dan PTBA. Pilihan saham metal antara lain saham ANTM dan INCO sedangkan CPO yaitu saham AALI, LSIP, dan SGRO. Sedangkan saham sektor consumer yaitu saham INDF dan MYOR. Saham ASII pun masih menjadi pilihan. “Semua saham tersebut diharapkan naik minimum 20 persen dan maksimum 50 persen pada 2011,” kata Billy.

Sementara itu, Direktur Vibiz Consulting Alfred Vakasi menjelaskan, faktor global seperti keadaan krisis utang Eropa dan pemulihan ekonomi Amerika Serikat masih mempengaruhi bursa saham.

Diprediksikan tingkat pengangguran di Amerika Serikat akan tetap tinggi di kisaran 9,5 persen, kuantatif easing hingga pertengahan semester 2011, inflasi karena kenaikan harga komoditas akan mempengaruhi ekonomi global. “Krisis utang di Eropa dan beberapa negara di Eropa membutuhkan bailout masih mempengaruhi situasi global,” jelas Alfred.

China yang mengetatkan kebijakan moneter masih menjadi motor penggerak ekonomi.” Pemulihan ekonomi akan masih melambat dan Indonesia masih menjadi tempat menarik untuk investasi,” tambah Alfred. [hid]

 

ekon indon tumbuh 7%: WB

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 10:59 am

Pertumbuhan Ekonomi 2011 Adalah 8%
Senin, 17 Januari 2011 – 09:54 wib

JUDUL artikel ini sebetulnya berangkat dari pernyataan Wakil Presiden (Wapres) Boediono dalam rapat kerja pemerintah di Jakarta Convention Center pekan lalu bahwa pertumbuhan ekonomi 6,4 persen sebagaimana termuat dalam APBN 2011, terlalu rendah. Pertumbuhan ekonomi 7-8 persen bisa dicapai pada 2011.

Pernyataan ini serta-merta memperoleh banyak reaksi,sebagian di antaranya positif. Dari perkenalan pribadi saya dengan beliau yang cukup intens di waktu lalu, saya mengenal Wapres sebetulnya orang yang sangat berhati-hati dan bisa dikatakan konservatif.

Karena itu, membaca pernyataan beliau pada akhirnya membuka mata kita bahwa ada hal-hal yang mungkin tidak kita lihat. Wapres mengatakan, dari berbagai kunjungan ternyata perekonomian di daerah-daerah sangat hidup.

Rasanya tidak berlebihan, perekonomian Indonesia tumbuh lebih tinggi dari sekadar 6,4 persen. Kurang optimalnya tingkat pertumbuhan tersebut banyak disebut karena masalah koordinasi. Saya sendiri melihat rendahnya angka pertumbuhan disebabkan oleh data statistik kita yang kurang akurat.

Dalam artikel yang saya tulis di salah satu media baru-baru ini, Deindustrialisasi: Mitos atau Realitas?, saya mengatakan bukan tidak mungkin pada 2010 (jadi bukan hanya untuk 2011) pertumbuhan ekonomi kita sebetulnya mencapai antara 8-9 persen. Bukan enam persen sebagaimana dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS).

Hal yang lebih penting, pertumbuhan sektor industri sebetulnya sangat tinggi, bukan empat persen seperti yang dilaporkan selama ini. Itulah sebabnya saya sangat meyakini fenomena deindustrialisasi di Indonesia sebetulnya hanyalah mitos lantaran tidak didukung realitas.

Keyakinan saya mengenai dinamisnya perekonomian Indonesia didasari oleh beberapa fenomena pertumbuhan ekonomi yang terjadi saat ini. Penjualan mobil, misalnya, ternyata tumbuh 57 persen. Ini adalah pertumbuhan riil karena dihitung dari jumlah unit mobil yang terjual, bukan dari nilai penjualannya.

Pada 2009, penjualan mobil di Indonesia mencapai 486 ribu unit, sedangkan tahun 2010 penjualan mencapai 764 ribu unit. Penjualan motor juga meningkat 25 persen, yaitu dari 5,88 juta unit di tahun 2009 menjadi 7,36 juta unit pada 2010.

Industri mobil dan motor merupakan bagian paling penting dari industri transportasi, yang merupakan salah satu subsektor industri pengolahan dalam perhitungan produk domestik bruto (PDB).

Jika kita asumsikan mobil dan motor memiliki pangsa 80 persen dari subsektor industri transportasi, sementara industri transportasi lain tumbuh empat persen saja (empat persen ini saya ambil dari angka pertumbuhan sektor industri sebagaimana yang dilaporkan oleh BPS), maka pertumbuhan rata-rata untuk subsektor industri transportasi ini akan mencapai 33,2 persen.

Angka ini adalah angka konservatif lantaran secara sporadis kita mengetahui subsektor industri transportasi lainnya juga tumbuh tinggi. Jika subsektor industri transportasi (dalam klasifikasi BPS nama lengkapnya adalah industri peralatan, mesin dan perlengkapan transportasi) tersebut tumbuh 33,2 persen.

Sementara dengan dasar tahun 2009 lalu pangsa industri ini dari keseluruhan sektor industri pengolahan termasuk migas (yang jumlah nilai tambahnya Rp1.480,9 triliun) adalah sebesar 23,3 persen, pertumbuhan sektor industri pengolahan yang disumbang oleh subsektor industri transportasi ini saja sudah sebesar 7,73 persen.

Angka ini sudah hampir dua kali lipat dari pertumbuhan sektor industri pengolahan yang dilaporkan oleh BPS yaitu sebesar empat persen. Subsektor industri pengolahan lain ternyata juga tumbuh sangat tinggi. Unilever, Indofood, Wings dan GarudaFood, misalnya, tumbuh paling tidak 10 persen.

Industri elektronik bahkan banyak yang melaporkan tumbuh 15–30 persen. Mengenai industri tekstil yang dikatakan tumbuh negatif, saya justru melihat betapa dinamisnya industri ini.

South Pacific Viscose, produsen rayon yang menjadi bahan baku tekstil dan merupakan bagian dari Lenzing Group Austria, pada 2010 meresmikan pabriknya yang keempat di Subang, Jawa Barat, sehingga menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

Industri polyester juga berkembang lebih baik setelah mengalami stagnasi selama 14 tahun. Hasil ini juga diperkuat oleh ekspor tekstil yang juga meningkat. Jika pertumbuhan berbagai sektor industri tersebut dirata-ratakan sebesar 10 persen saja, sumbangan dari subsektor industri lain (yang pangsanya sebesar 76,7 persen), akan mencapai 7,67 persen.

Angka ini saya yakin sudah sangat konservatif. Jika kedua kontribusi pertumbuhan tersebut dijumlahkan, maka pertumbuhan sektor industri pengolahan akan mencapai sekira 15 persen. Pertumbuhan sektor industri pengolahan yang sebesar 15 persen tersebut dengan jelas menjawab bahwa isu yang berkembang saat ini yaitu terjadinya fenomena deindustrialisasi adalah tidak benar terjadi di Indonesia.

Jika pertumbuhan sektor industri pengolahan mencapai 15 persen, dengan pangsa sebesar 26,38 persen (dengan menggunakan basis PDB atas dasar harga yang berlaku tahun 2009), maka kontribusi seluruh sektor industri pengolahan pada pertumbuhan PDB pada 2010 sebesar 3,96 persen.

Sementara itu, dengan menggunakan angka pertumbuhan yang dilaporkan saat ini, yaitu sebesar empat persen, maka sektor industri pengolahan hanya menyumbang 1,05 persen. Ini berarti untuk industri pengolahan sumbangannya ke pertumbuhan PDB harus ditambah dengan 2,91 persen.

Jika angka ini ditambahkan pada pertumbuhan PDB yang sebesar enam persen di 2010, seharusnya PDB 2010 adalah 8,91 persen, untuk lebih konservatifnya lagi bisa dibulatkan ke bawah menjadi delapan persen.

Angka ini tidaklah berbeda dengan angka yang digunakan oleh Wapres Boediono untuk memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011. Pelaporan pertumbuhan yang lebih rendah dari yang seharusnya di sisi industri ini tampaknya sepele dan menunjukkan kita low profile.

Namun, pelaporan yang demikian pada akhirnya akan menyebabkan kacaunya perencanaan dalam pembangunan infrastruktur seperti listrik, jalan raya, dan sebagainya.

Dalam hal pemenuhan kebutuhan listrik, PLN bagaimanapun pasti menggunakan angka pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan sektor industri dalam memperhitungkan kebutuhan penyediaan listrik secara nasional.

Jika pertumbuhan yang sebenarnya jauh melampaui yang dari yang dilaporkan, maka PLN akan tergagap untuk menyediakan tambahan energi sehingga memerlukan crash program sebagaimana terjadi saat ini. Ini terjadi pula pada penyediaan jasa pelabuhan, bandara, jalan raya dan sebagainya. Karena itu, seyogianya Kementerian Perindustrian bekerja sama dengan BPS untuk membahas masalah ini, sehingga data-data tersebut dapat tercatat lebih akurat.(*)

CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi(Koran SI/Koran SI/ade)
World Bank : Target Pertumbuhan 6,4 Persen Tak Pesimistis
KAMIS, 13 JANUARI 2011 | 17:21 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Bank Dunia menyatakan, angka pertumbuhan yang ditargetkan pemerintah sebesar 6,4 persen bukan pesimistis. Indonesia dinilai mampu untuk mencapai target tersebut. Namun ada beberapa prasayarat yang harus dipenuhi, yaitu mengatasi kendala infsrastruktur dan menggiatkan ekonomi domestik.

“Pertumbuhan 6,4 persen, itu bukan angka pesimistis,” ujar World Bank Senior Economist for Indonesia Enrique Blanco Armas saat menanggapi ihwal pernyataan Wakil Presiden Boediono. Dalam pandangannya, angka itu sudah pantas ditetapkan pemerintah. Bank Dunia dunia sendiri menargetkan, pertumbuhan GDP (Gross Domestic Product) mencapai 6,2 persen tahun ini.

Untuk mencapai pertumbuhan di level ini, pemerintah diminta untuk mengatasi kendala infrastuktur dan menggiatkan ekonomi domestik. Untuk infrastruktur ini, kata Enrique, sangat tergantung juga dengan kebijakan anggaran pemerintah 2011.

Sementara itu, Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan Wimboh Santoso menyatakan, realisasi kredit infrastruktur hingga November 2010 kemarin mencapai Rp 6,655 triliun. Dengan pertumbuhan year to date, Desember 2009-November 2010, mencapai 9,01 persen.

Ada tujuh sektor kredit infrastruktur yang dipantau. Yaitu, Jalan tol-arteri-konstruksi, kelistrikan, transportasi, telekomunikasi, minyak dan gas bumi, pengairan, air minum, dan sanitasi. “Khusus infrastruktur, itu paling banyak itu pencairannya ada di migas, kalau outstandingnya paling besar di kelistrikan,” ujarnya.

Namun pernyataan Wimboh ini dibantah Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia. Sofyan menyatakan, kredit infrastruktur tidak macet. Hanya jangka waktu pencairannya memerlukan tenggat waktu tahunan. “Plafonnya sudah besar, tapi pencairannya masih relatif kecil,” ujar Sofyan. Kendalanya, kata Sofyan, misal penyediaan lahan dalam pembangunan jalan tol. Kemudian proyek pelabuhan yang harus mengurus perizinan. Soal draw down atau pencairan, butuh tenggat waktu bertahun-tahun.

FEBRIANA FIRDAUS
Wajah Ekonomi 2011, Pertumbuhan Eksklusif vs Pertumbuhan Inklusif
Oleh Primus Dorimulu, wartawan Investor Daily | Selasa, 21 Desember 2010 | 8:20

JAKARTA—Dunia memasuki 2011 dengan ancaman kelaparan akibat kenaikan harga pangan. Pemanasan global dan perubahan iklim ekstrem telah menyebabkan gagal panen di berbagai belahan dunia. Kelaparan yang pada 2010 menyerang 925 juta jiwa atau 1,6% penduduk dunia, tahun depan kemungkinan menembus 1 miliar jiwa. Sekitar 62,5% penduduk yang kelaparan berada di kawasan Asia Pasifik.

Ekonomi dunia yang sudah mencatat pertumbuhan positif, 4,8% pada 2010, demikian perkiraan Dana Moneter Internasional (IMF), akan sedikit menurun ke 4,2% pada 2011. Semua negara maju meraih pertumbuhan ekonomi positif kecuali beberapa negara Eropa yang sedang didera krisis fiskal serius. Laju pertumbuhan ekonomi AS tahun depan sekitar 2,3%, turun dari 2,6% tahun ini. Begitu pula laju pertumbuhan ekonomi Jepang yang menurun dari 2,8% ke 1,5% pada periode yang sama.

Beda dengan kondisi global, ekonomi Indonesia 2011 justru diprediksi bertumbuh 6,5%, meningkat dari 6% tahun ini. Konsumsi masyarakat menjadi mesin penghela pertumbuhan ekonomi Indonesia di samping investasi dan ekspor. Seperti dikatakan Bambang BS Brodjonegoro, ekonom FE UI, jika pemerintah bekerja lebih keras, pertumbuhan ekonomi di atas 6,5% bisa dicapai.

Persoalan Indonesia 2011 dan tahun-tahun mendatang, bukan hanya pada upaya memacu laju pertumbuhan ekonomi, tapi juga ikhtiar jitu untuk membuat laju pertumbuhan ekonomi lebih berkeadilan, lebih merata, lebih inklusif. Selama sepuluh tahun terakhir, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata 5,2%. Tapi, angka kemiskinan dan pengangguran tetap tinggi akibat pertumbuhan ekonomi yang terlalu eksklusif. Hanya sebagian penduduk negeri ini yang menikmati pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi eksklusif vs inklusif akan menjadi isu hangat yang menjadi perhatian para pengambil kebijakan di sektor publik maupun privat pada 2011 dan tahun-tahun mendatang. Pertumbuhan ekonomi eksklusif sudah berlangsung beberapa dekade. Sektor usaha yang padat modal dan teknologi –seperti sektor finansial, migas, pertambangan, telekomunikasi, dan teknologi informasi-, menghasilkan orang kaya baru. Miliaran hingga triliunan rupiah dicetak oleh mereka yang berinvestasi di pasar modal.

Dengan pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) di atas 40% tahun ini, mereka yang cermat memilih saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) meraih keuntungan sekitar 40% pula, bahkan lebih. Dengan menginvestasikan dana Rp 100 miliar, keuntungan Rp 40 miliar bisa dipanen. Mereka yang sudah kaya bertambah kaya. Tidak ada yang salah dengan kondisi ini. Namun, alangkah baiknya jika keuntungan juga bisa dinikmati oleh rakyat kecil.

Ekonomi Bisa Tumbuh 7 Persen jika …
Kamis, 23 Desember 2010 | 19:48 WIB
KOMPAS.com/Caroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengatakan, tahun depan pertumbuhan ekonomi nasional bisa mencapai 7 persen kalau pemerintah mampu mengatasi faktor-faktor penghambat pertumbuhan.

“Pertumbuhan ekonomi tahun 2010 cukup baik. Tahun depan beberapa lembaga memprediksi pertumbuhan ekonomi antara 6,3 persen sampai 6,5 persen. Tapi, Kadin beranggapan ekonomi bisa tumbuh sampai 7 persen kalau syarat-syarat yang dibutuhkan terpenuhi,” katanya saat menyampaikan keterangan pers di kantor Kadin Indonesia, Jakarta, Kamis (23/12/2010).

Syarat-syarat yang dia maksud, antara lain, pembangunan infrastruktur energi, jalan, dan pelabuhan, serta perbaikan sistem logistik nasional. Di samping itu, menurut Suryo, pemerintah bersama pelaku usaha juga harus bahu-membahu menyelesaikan persoalan dunia usaha.

Ia melanjutkan, Kadin Indonesia mengusulkan sepuluh program aksi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 7 persen tahun depan.

Pertama, menurut Kadin, pemerintah sebaiknya menaikkan level defisit yang selama ini ditetapkan 1,7 persen menjadi minimal 2,5 persen supaya tersedia cukup dana untuk memacu pergerakan sektor riil. “Dana itu seyogianya diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur, seperti pelabuhan, bandara, kereta api, dan lahan untuk kawasan industri,” katanya.

Selanjutnya, Kadin Indonesia merekomendasikan agar pemerintah menitikberatkan orientasi pembangunan pada industri manufaktur bernilai tambah tinggi di sektor pangan, pertanian, ataupun pertambangan supaya Indonesia tak lagi menjadi pengekspor bahan mentah. “Ketiga, Kadin mengusulkan pemerintah menetapkan insentif fiskal dan moneter untuk mendukung upaya swasembada energi dan pangan,” katanya.

Organisasi pengusaha itu juga menyarankan agar pemerintah memperbaiki kebijakan-kebijakan makro bidang investasi, perdagangan, dan perbankan yang selama ini menghambat upaya korporasi dalam meningkatkan daya saing.

Selain itu, menurut Suryo, pemerintah harus mendorong perbankan mengarahkan untuk investasi sektor riil, utamanya untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur yang sampai sekarang masih menjadi penghambat utama pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah, ia melanjutkan, juga harus mengupayakan penurunan tingkat suku bunga menjadi di bawah 10 persen seperti di negara-negara pesaing. “Supaya daya saing industri kita lebih kuat dan pertumbuhan sektor riil terpacu,” katanya.

Program aksi lain yang direkomendasikan Kadin Indonesia adalah pembuatan rencana pengembangan industri prioritas, kampanye penggunaan produk dalam negeri, dan peningkatan investasi di daerah. “Kalau usul-usul itu dijalankan, kami yakin pertumbuhan ekonomi bisa sampai 7 persen,” katanya.

Kilas 2010

Setelah mampu menghadapi dampak krisis ekonomi global tahun 2009, pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik pada 2010.

Pada triwulan III-2010, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,8 persen (year on year) dan surplus neraca pembayaran 6,9 miliar dollar AS.

Kinerja ekspor Indonesia juga positif. Selama Januari-Oktober 2010, nilai ekspor Indonesia mencapai 125,1 miliar dollar AS, naik 35,5 persen dari nilai ekspor pada periode yang sama tahun 2009.

Penanaman modal asing yang masuk ke Indonesia pun cukup tinggi, mencapai 3,4 miliar dollar AS pada triwulan III-2010 atau naik 24,4 persen dari kurun waktu yang sama tahun sebelumnya.

Investasi asing di dalam negeri diperkirakan meningkat tahun depan karena The Global Competitiveness Report 2010-2011 mencatat kenaikan peringkat daya saing Indonesia dari peringkat 54 ke peringkat 44.
Perekonomian nasional tumbuh 6,3%
Oleh Ema Sukarelawanto | 12 December 2010
bisnis

DENPASAR, Bali: Perekonomian nasional yang diperkirakan tumbuh sekitar 6,3% pada 2011 kendati belanja infrastruktur masih menjadi kendala.

Ekonom A Tony Prasetiantono, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM memprediksi pada tahun depan Indonesia menghadapi tiga isu yang berpengaruh terhadap preakonomian yakni perang kurs, kemungkinan krisis global berikutnya, dan lambatnya pembangunan infrastruktur dalam negeri.
”Pada kondisi seperti itu inflasi bakal menyentuh angka 6% dan estimasi produk domestik bruto [PDB] sebesar 6,3%,” katanya, akhir pekan ini.
Dia mempredikasi pada tahun 2011 sejumlah negara Eropa dan Amerika masih dirundung persoalan ekonomi dan sengaja akan melemahkan nilai mata uangnya. Bahkan Amerika Serikat menempuh kebijakan ekstrem dengan mencetak uang sebesar US$600 miliar.
Menurut Tony tidak ada yang bisa menjamin AS tidak mencetak uang lagi di tahun-tahun mendatang. Padahal, Cina dengan pertumbuhan ekonomi di atas 10% akan tetap melemahkan nilai tukar mata uangnya.
Dia mengatakan Cina sudah nyaman dengan kondisinya sekarang mengingat pertumbuhan ekonomi dan cadangan devisa menjadi kekuatan negara tersebut dalam mempertahankan nilai tukar yuan pada angka rendah.
Dia menilai krisis dunia yang menimpa negara-negara Eropa dan Amerika hingga kini sudah mengalami perbaikan, namun belum bisa terselesaikan dengan nyata. Ekonomi negara ini masih tetap tergoncang, kondisi ini tentu akan menjadi persoalan global yang akan mempengaruhi ekonomi Indonesia pada 2011.
Persoalan ketiga yang dihadapi Indonesia adalah minimnya belanja infrastruktur.
Tony mencontohkan belanja infrastruktur Cina 10%, Vietnam 8%, India 4,5%, Laos 4%, sedangkan Indonesia hanya 2%. Menurut dia idealnya belanja infrastruktur minimal 5% untuk mendorong bertumbuhnya ekonomi di segala bidang.
Kendati banyak kendala pada 2011, namun Tony menilai Indonesia memiliki modal yang kuat dengan nilai tukar yang kuat dan stabil. Dia mengungkapkan pada 2011 nilai tukar rupiah diprediksi dikisaran Rp9.000-9.200 per dolar.(mmh)

Pertumbuhan RI banyak disumbang primary product
Senin, 29/11/2010 11:47:28 WIB bisnis
Oleh: Achmad Aris, Agust Supriadi, Dewi Mayestika
JAKARTA: Sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ternyata lebih banyak disumbang oleh primary product ketimbang manufacturing.

Ekonom UI Chatib Basri mengatakan bahwa hal itu terlihat dari tren penjualan semen yang menjadi indikator kegiatan ekonomi, dengan pertumbuhan konsumsi terbesar di daerah luar Jawa.

“Bisa terjadi seperti ini karena di luar Jawa itu sumber perekonomiannya datang dari komoditas, apakah itu mining atau kelapa sawit. Sedangkan di Jawa manufacturing,” katanya dalam seminar Bisnis Indonesia-BNI Outlook 2011 di Jakarta, hari ini.

Rendahnya daya dorong sektor manufacturing terhadap pertumbuhan ekonomi beberapa tahun terakhir, jelasnya, merupakan masalah besar yang mau tidak mau harus segera diperbaiki. “Ini juga menunjukkan adanya gejala deindustrialisasi,” ujarnya.

Terkait dengan prediksi makroekonomi 2011, Chatib memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini sebesar 6% dan mencapai 6,2% – 6,3% pada 2011. Laju inflasi diperkirakan akan berada di level 7% – 7,5%, SBI 6,5% – 7,5%, dan nilai tukar rupiah berkisar antara Rp8.700 – Rp9.200 per dolar AS.

Beberapa risiko yang harus diwaspadai pada tahun depan, menurut Chatib, a.l. tekanan capital inflow yang diperkirakan akan lebih besar lagi, tingginya harga bahan makanan dan harga minyak mentah dunia, serta stabilitas tingkat inflasi dan BI rate.(er)
World Bank: Indonesian economy to continue growing
Published: 6 July 2010

The World Bank predicts Indonesia`s economy will continue to grow although economic reports in the first quarter showed uncertainty in the world market. World Bank senior economist Enrique Blanco Armas said here on Tuesday the country`s economy is expected to rise in 2011 due to domestic demand. He said Indonesia`s economy would reach above seven percent in the long term if the ambitious reform agenda in the 2010-2014 national development plan was met. He said imports would increase surpassing exports while inflation would also increase in line with higher lending rates and commodity prices. The World Bank records Indonesia`s economy would grow from 5.7 percent in the first quarter to 6.5 percent in the third quarter.

Source: AntaraNews.com, 29 June 2010

Business Monitor International (BMI) are forecasting real GDP growth will average 5.9% over the coming decade driven by vibrant private sector demand. Unemployment has reached a 5 year low of 7.1%, benign inflation allowing lending rates to stay low, strong investment growth and rising per capita income suggest that the Indonesian consumer will have greater spending power.

Moreover they believe that foreign investors are starting to take notice of Indonesia and that foreign direct investment is likely to pick up in a big way. They project investment growth to reach 7% in 2011.

Source: BMI July 2010

 

bursa 2011 lebe baek, hope so 19 November 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 12:17 pm
DBS Indonesia: 2011, Bursa Masih Bullish
Derasnya arus modal yang masuk ke Tanah Air membuat saham masih menjadi pilihan.
Kamis, 16 Desember 2010, 15:21 WIB

Hadi Suprapto, Syahid Latif

VIVAnews – Direktur Manajemen Risiko Kredit PT Bank DBS Indonesia, Birman Prabowo, menilai investasi saham pada tahun depan masih menarik.

Derasnya arus modal yang masuk ke Tanah Air membuat saham masih menjadi pilihan. “Saham masih akan bullish,” kata Birman kepada VIVAnews.com di Wisma Nusantara, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis, 16 Desember 2010.

Menurut Birman, derasnya arus modal terjadi karena investor memandang Indonesia masih menjadi alternatif investasi. Investor melihat, pasar modal Indonesia lebih tahan terhadap krisis global dibandingkan negara lain.

Faktor pendukung lainnya adalah tingkat suku bunga. Birman memperkirakan tahun depan masih terjadi kenaikan suku bunga, sehingga indeks saham pun masih berpotensi naik.

Birman memperkirakan investasi saham komoditas mineral dan agribisnis masih menjadi pilihan. Selain itu, saham produk-produk kebutuhan dasar juga masih menggiurkan.

Sebagai catatan, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2010 terus menunjukkan kenaikan. Pada penutupan perdagangan bursa 2009, indeks saham ditutup pada level 2.530,92. Pada penutupan perdagangan siang ini, IHSG ditutup pada level 3.576. Artinya, belum genap setahun IHSG telah naik lebih dari 1.000 poin.

Sedangkan investasi valuta asing, Birman memperkirakan masih memiliki potensi tekanan. Sebab, kondisi ekonomi global, khususnya di Amerika Serikat dan Eropa, belum stabil. Hal ini menyebabkan nilai tukar mata uang, terutama dolar AS tetap bergejolak.

Investasi dalam bentuk emas juga masih menarik. “Karena komoditas emas masih menjadi patokan,” ujar Birman.

• VIVAnews

Korelasi Transaksi Asing Terhadap IHSG
Rabu, 15 Desember 2010 – 08:34 wib

SETELAH tembus level 3.700-an pada 9 November 2010, pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) seakan sulit melanjutkan penguatannya dan selalu cenderung terkoreksi.

Ini membuat semua profit di hari-hari sebelumnya kembali tergerus atau bahkan hilang. Bahkan, di akhir bulan lalu IHSG sempat menyentuh titik terendahnya, di level 3.530-an, setelah sejumlah sentimen negatif kembali melanda bursa saham. Beragamnya sentimen,baik dari dalam maupun luar negeri,diperkirakan menjadi penyebab utama fluktuasi IHSG. Dari luar negeri, seperti data-data ekonomi AS, masalah krisis utang di Irlandia, masalah inflasi dan suku bunga di China, hingga konflik di semenanjung Korea yang kembali meningkatkan risiko investasi di negaranegara berkembang.

Sedangkan sentimen dari dalam negeri juga cukup beragam, seperti ramainya penawaran umum (initial public offering/IPO) emitenemiten baru,kisruh hasil IPO saham Krakatau Steel Tbk (KRAS),hingga aksi korporasi spektakuler dari beberapa emiten lama, seperti aksi akuisisi Bumi Resources Tbk (BUMI) terhadap Vallar Plc dan penerbitan saham baru (rights issue) Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang mencapai Rp10,4 Triliun.

Meski prospek fundamental ekonomi Indonesia dan kinerja mayoritas emiten saham Bursa Efek Indonesia (BEI) masih positif,IHSG masih ragu untuk melaju lebih tinggi menjelang akhir tahun. Bahkan,transaksi asing akhir-akhir ini yang dianggap paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Memang berdasarkan data statistik Bapepam per Oktober 2010, porsi kepemilikan asing di saham ternyata lebih dominan dibanding lokal hingga mencapai 62,38 persen.

Namun, apakah dominasi tersebut pasti menentukan pergerakan IHSG? Jawabannya, belum tentu. Besar kecilnya pengaruh transaksi asing tercermin dari nilai transaksi bersihnya.Misalnya, jika asing banyak melakukan aksi beli dibanding aksi jual, maka asing dikatakan melakukan transaksi bersih beli (net foreign buy).Demikian sebaliknya,jika banyak melakukan transaksi jual dibanding transaksi beli,maka asing dikatakan melakukan transaksi bersih jual (net foreign sell).

Selanjutnya adalah melihat ada tidaknya hubungan antara nilai transaksi bersih asing terhadap pergerakan IHSG. Misalnya, jika asing tercatat melakukan transaksi pembelian bersih, maka IHSG cenderung menguat, dan sebaliknya. Untuk menjawabnya, diperlukan alat ukur untuk menentukan apakah transaksi asing itu benar-benar mempengaruhi IHSG atau tidak,yaitu korelasi. Umumnya, korelasi diartikan sebagai besaran yang mencerminkan kuat lemahnya hubungan pergerakan dari dua variabel.Kedua variabel tersebut, yaitu nilai transaksi bersih asing dan pergerakan IHSG.

Jika keduanya sama-sama bergerak naik, maka dikatakan berkorelasi positif. Sedangkan jika nilai transaksi bersih asing meningkat,sedangkan IHSG menurun, maka dikatakan berkorelasi negatif. Dalam tulisan ini,korelasi yang digunakan adalah korelasi dari delta (perubahan) antara nilai transaksi asing terhadap IHSG. Delta adalah selisih antara data hari ini dengan data hari sebelumnya.Jika angka korelasi lebih besar dari 50 persen,maka kedua variabel tersebut dikatakan berkorelasi tinggi (kuat), dan sebaliknya.

Selain itu, penulis juga menghitung korelasi untuk dua periode asumsi, yaitu T+0 dan T+1. Periode T+0 mengasumsikan pengaruh transaksi asing terjadi di hari yang sama. Misalnya, hari ini asing melakukan net buy, maka IHSG juga berpeluang ditutup positif hari ini. Sedangkan periode T+1 mengasumsikan pengaruh transaksi asing terjadi di hari berikutnya. Misalnya, jika hari ini asing melakukan net buy, maka besok IHSG akan berpotensi naik.

Untuk membuktikannya, penulis menggunakan periode data harian sejak akhir Desember 2008 hingga 24 November 2010.Alasan penulis menggunakan nilai transaksi bersih bukan lembar saham adalah asumsi bahwa pergerakan IHSG dipengaruhi oleh pergerakan harga saham-saham yang berkapitalisasi besar.Jadi,jika sahamsaham tersebut terkoreksi, maka IHSG juga cenderung terkoreksi. Dari pengamatan tersebut, terlihat bahwa korelasi nilai transaksi bersih asing terhadap IHSG untuk periode T+0 ternyata cukup lemah, yaitu 33,47 persen atau masih di bawah 50 persen.

besar kecilnya transaksi asing yang terjadi setiap hari tidak berpengaruh kuat terhadap pergerakan IHSG

Ini menunjukkan bahwa besar kecilnya transaksi asing yang terjadi setiap hari tidak berpengaruh kuat terhadap pergerakan IHSG. Artinya, jika hari ini asing tercatat melakukan net buy,IHSG belum tentu akan ditutup menguat. Dengan kata lain, 66,53 persen pergerakan IHSG dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar transaksi asing. Begitu juga dengan korelasi nilai transaksi bersih asing terhadap IHSG untuk periode T+1 yang semakin menurun menjadi 6,16 persen.

Hal ini menunjukkan secara tidak langsung bahwa nilai transaksi asing sebenarnya bukanlah acuan untuk menentukan apakah IHSG akan berpeluang menguat atau terkoreksi. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan bahwa investor lokal lebih berpengaruh pada pergerakan IHSG karena lebih aktif bertransaksi. Meski mendominasi kepemilikan saham, asing belum tentu aktif bertransaksi di bursa atau lebih berorientasi pada investasi jangka panjang.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa pergerakan IHSG sebenarnya tidak banyak dipengaruhi oleh transaksi bersih asing namun bisa disebabkan oleh berbagai faktor lain. Salah satunya, lebih aktifnya transaksi investor lokal dibanding transaksi asing. Jadi, sangat kurang bijak rasanya jika investor lokal cenderung mengekor investor asing demi sebuah keuntungan. Selamat berinvestasi!

bagaimana membaca metode penelitian sederhana ini? menurut gw: asumsi penelitian tersebut BISA DIPERLUAS dan DIPERDALAM, misalnya diperluas dengan mengkalkulasi juga PENGARUH FAKTOR INVESTOR INSTITUSI LOKAL, tren Rupiah, tren suku bunga kredit, dst … diperdalam misalnya dengan MEMPERPANJANG PERIODE PENELITIAN, misalnya hingga 1996 (setaon sebelum krismon)  … WELL, UNTUK AWAL, oke-lah 🙂

THEODORUS P PUTRANTYO
Analis Infovesta

(Koran SI/Koran SI/wdi)

Target IHSG 5000: Dari mana asalnya?

December 14th, 2010 satrio

Selamat siang…

Bagi anda yang sudah agak lama kenal saya (mengikuti ulasan saya melalui weblog http://www.rencanatrading.com), anda pasti sudah familier dengan grafik yang pernah saya sebut sebagai ‘Skenario Naga‘ yang saya publikasikan di bulan Juni lalu:

Dibalik gambar Naga tersebut, grafik pergerakan IHSGnya adalah sebagai berikut (maaf…hanya bisa di akses pada Member Area):

Terlepas adanya fakta bahwa ‘koreksi kedua’ yang ada dalam prediksi tersebut, ternyata tidak sebesar yang saya perkirakan (terima kasih kepada JCRA yang telah melakukan upgrade credit rating Indonesia menjadi investment grade), outlook tersebut sebenarnya adalah outlook yang masih saya pegang hingga saat ini. Mungkin anda juga sudah sering membaca dalam ulasan saya, bahwa saya memprediksikan IHSG akan mencapai kisaran 4400 – 5000 dalam waktu 1 – 2 tahun (semenjak Juni 2010 lalu).

Pertanyaannya sekarang adalah: Apakah IHSG akan mencapai 5000 tahun depan? Apakah IHSG sudah bisa mencapai 5000 ‘hanya’ dalam 1 tahun (bukan 2 tahun yang merupakan batas waktu terpanjang dalam prediksi saya itu)?

Belakangan sih… kita juga sudah mendengar. Banyak analis-analis yang memprediksikan bahwa IHSG akan mencapai level 5000. Kalau alasan teknikalnya, anda mungkin sudah bisa melihat pada chart di atas (atau nanti saya akan perlihatkan satu chart teknikal lagi yang dipakai orang sebagai dasar untuk memprediksikan IHSG ke 5000). Akan tetapi, saya mau sedikit share.. bagaimana para analis ‘menemukan’ target IHSG 5000 tersebut.

Fundamentalnya masih belum ‘ngejar’
Salah satu cara yang digunakan oleh analis fundamental dalam menentukan target IHSG, adalah dengan menggunakan pendekatan bottom-up (dari bawah ke atas). Para analis menghitung valuasi dari beberapa saham dan setelah itu kapitalisasinya dijumlahkan, kemudian hasil penjumlahannya, dibandingkan dengan kapitalisasi saham terakhir. Dari potensial kenaikan atau penurunannya, para analis tersebut kemudian menentukan target IHSG untuk masa yang akan datang. Untuk jelasnya bisa dilihat dari tabel di bawah ini:

Dengan potensi kenaikan sebesar 12.63% dari posisi IHSG pada 26 November lalu di 3642, maka itu berarti IHSG masih memiliki potensi kenaikan hingga 4102 untuk 12 bulan kedepan. Sebagai tambahan (karena data tersebut adalah data akhir November yang saya gunakan untuk presentasi dalam Market Outlook 2011), target IHSG konsensus untuk per hari ini sudah berada di kisaran 4200 – 4250. Tetap saja jauh dari level 5000 yang digembar-gemborkan sebagai target IHSG untuk 2011.

Lah.. kok hanya 4100 – 4250? Tadi katanya IHSG tahun depan bisa 5000. Dari mana asalnya?

Alasannya: IHSG 5000 = P/E IHSG 18x hingga 20x

Cerita yang paling banyak ‘dijual’, atau sentimen positif yang paling sering diharapkan bisa menjadi pendorong IHSG menuju ke level 5000 adalah masuknya surat hutang Indonesia kedalam investment grade dari lembaga pemeringkat dunia: Fitch, S&P, dan Moody. Masuknya Indonesia ke dalam investment grade akan berarti masuknya pula dana asing. Nah… masuknya dana asing inilah yang kemudian akan membuat harga naik hingga Price to Earning Ratio (P/E) IHSG bisa mencapai angka 18 kali hingga 20 kali. Sebagai informasi, EPS konsensus untuk tahun 2011, berada di kisaran sekitar level Rp 250, naik 25% dari EPS konsensus di tahun 2010 yang berkisar pada angka Rp 190 – Rp 200. Dari mana asalnya angka ‘P/E 18 kali hingga 20 kali’ ini? Saya melihat kebelakang, ternyata angka tersebut berasal dari angka P/E IHSG pada tahun 1994 – 1996. Tepat sebelum Krisis Moneter.

IHSG 5000 secara analisis teknikal

Cara lain untuk menyatakan bahwa IHSG bisa mencapai level 5000 (bahkan 5500 – 5600) untuk tahun depan.  Cara yang pertama mungkin anda sudah lihat di awal dari tulisan ini.  Tapi, jika anda adalah pembaca dari buku tulisan saya, anda pasti sudah melihat cara untuk mencari resisten ketika harga mencapai rekor harga baru, adalah dengan menggunakan retracement 161.8%, dan retracement 261.8% dari swing harga terakhir yang sebelum penembusan rekor.   Gambarnya seperti berikut ini:

Dari gambar diatas dapat dilihat, bahwa retracement 161.8% dari swing 2008, ada di level 3900-4000.  Sedangkan.. jika ternyata resisten dari retracement 161.8% ditembus, maka resisten selanjutnya ada di sekitar 5600-5700.  Jadi.. tidak perlu penghitungan yang rumit bukan untuk mengetahui target IHSG di 5600?

Jadi… Apakah IHSG bakal 5000 tahun depan (2011)?

Hehehe… saya belum menjawab pertanyaan ini ya?  Saya memang biasanya menghindari untuk menjawab karena saya sebenarnya juga masih belum terlalu yakin.  Untuk menjadi yakin, saya biasanya harus menemukan alasan fundamentalnya dulu.  Dan alasan P/E bisa mencapai 20 kali, itu masih kurang kuat (kalau menurut saya).  Biasanya, valuasinya memang harus ngejar dulu.  Valuasinya harus confirm dulu, sebelum kita bisa yakin bahwa IHSG bisa mencapai level 5000 tersebut.  Akan tetapi, ini bukan berarti saya bearish.  Karena secara fundamental sudah confirmed…

saya melihat peluang bahwa IHSG bisa mencapai kisaran 4100 – 4200 pada kuartal pertama 2011 (1Q2011) atau setidaknya untuk paruh pertama 2011 (1H2011)..

Cuman.. berapa titik tertinggi IHSG di 2011? Kita lihat deh…   Saya mau nunggu sampai laporan keuangan 1Q2011 keluar.  Karena itu akan sangat menentukan.  Keraguan saya untuk IHSG 5000 juga karena saya terpengaruh sama data di bawah ini:

Negara-negara tersebut adalah negara-negara di sekitar kita, atau negara-negara yang kira-kira sebanding dengan kita.  Kalau IHSG memang mau ngejar P/E dari India… berarti target IHSG 5000 di tahun 2011 masih bisa tercapai.  Tapi, bukankah itu berarti Brazil masih jauh lebih murah dari Indonesia? Atau… bagaimana dengan Malaysia, Thailand dan Singapore yang expected P/E tahun depan masih berkisar pada angka 14.5 – 16 kali?

IHSG mungkin memang bisa 5000 tahun depan.  Tapi jalan menuju 5000, bukanlah jalan yang mudah.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal

Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Indeks 2011 diyakini tembus 4.000
Oleh Gita Arwana Cakti | 08 December 2010
bisnis

JAKARTA: Sejumlah analis menyatakan optimistis indek harga saham gabungan (IHSG) pada 2011 bisa menembus kisaran level 4.000.

Analis Valbury Asia Futures Nico Omer Jonckhere memprediksi IHSG akan naik sekitar 15%-20% mencapai level 4.200 – 4.500. Laporan keuangan akhir tahun emiten yang diprediksi memeroleh peningkatan laba rata-rata 20% menjadi salah satu sentimen positif yang memengaruhi pergerakan indeks tahun depan.

“2011, earning per share per perusahaan kan diperkirakan naik 20%. Ini berpengaruh pada indeks dan sepertinya peningkatan indeks juga sekitar 15%-20%,” ujarnya, tadi malam.

Selain itu, prediksi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang bisa kembali ke kisaran Rp8.800 – Rp8.900 menjadi sentimen positif lainnya. Rencana moody’s untuk meningkatkan peringkat Indonesia menjadi investment grade dan perkiraan pergerakan indeks bursa global yang masih datar juga menjadi pengaruh besar bagi pergerakan indeks dan menarik investor asing untuk berinvestasi di Indonesia.

“Untuk bursa global justru sepertinya tidak banyak tumbuh. Dan Indonesia kan sudah hampir dipastikan naik menjadi investment grade. Ini pengaruhnya sangat besar dan bisa menarik investor masuk ke Indonesia,” jelasnya.

Adapun kekhawatiran menaiknya tingkat inflasi di Indonesia dan berpengaruh kepada tingkat suku bunga acuan (BI rate), Nico menilai hal tersebut seharusnya tidak menjadi kekhawatiran yang besar.

“Karena BI rate di 6,5% itu sudah cukup rendah sebenarnya. Jadi kalaupun inflasi naik dan BI rate naik menjadi 7% sebenarnya tidak perlu khawatir berlebihan. Itu masih mendukung perseroan, karena Indonesia biasa dengan suku bunga yang tinggi,” tambahnya.

Sebelumnya, Direktur PT Schroder Investment Management Indonesia Michael Tjandra Tjoajadi juga berharap IHSG bisa tumbuh 20% pada 2011.

Sebagai negara berkembang (emerging market), lanjutnya, Indonesia berpotensi untuk menerima aliran dana asing. Namun, hal tersebut harus diimbangi dengan penambahan perusahaan terbuka serta peningkatan pendidikan masyarakat Indonesia terkait pasar modal.

Michael mengatakan setidaknya ada tiga hal yang dilihat oleh investor untuk berinvestasi di suatu negara, yakni regulasi, infrastruktur, dan kebijakan moneter dan fiskal. Dengan kondisi Amerika dan Eropa yang kurang baik, negara berkembang menjadi alternatif investor untuk berinvestasi.

Adapun untuk sektor saham yang masih berpotensi meningkat pada tahun depan adalah sektor komoditas seiring dengan peningkatan harga komoditas. Serta sektor perbankan dan properti seiring dengan suku bunga yang diprediksi tidak akan naik banyak. (bsi)

Rabu, 08 Desember 2010 | 14:10 oleh Barratut Taqiyyah, Bloomberg kontan
OUTLOOK IHSG
BNP Paribas: Bursa Indonesia bakal terbang 20% dalam setahun

JAKARTA. Bursa saham Indonesia diprediksi bisa naik 20% hanya dalam kurun waktu setahun. Menurut BNP Paribas, hal ini sangat mungkin terjadi seiring adanya kemungkinan kenaikan peringkat kredit atau utang Indonesia.

“Adanya pemberian rating ulang mengenai tingkat utang Indonesia akan berdampak luas mulai dari struktur suku bunga acuan, mata uang, investasi, harga aset, dan valuasi,” jelas Elvira Tjandrawinata dalam laporan yang dirilis hari ini. BNP menetapkan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam 12 bulan ke depan mencapai 4.500. Saham-saham yang direkomendasikan antara lain PT Astra International (ASII) dan PT Bank Mandiri.

Asal tahu saja, sepanjang tahun ini, indeks sudah naik 48% yang didongkrak oleh cepatnya pertumbuhan ekonomi dan rendahnya suku bunga acuan. Tak heran IHSG menjadi pasar saham terbaik di antara 10 pasar besar di Asia.

Sekadar mengingatkan, beberapa waktu lalu Moody’s Investor Service sedang meninjau ulang peringkat surat utang luar negeri. Dalam siaran persnya, Moody’s kemungkinan menaikkan peringkat surat utang luar negeri. Sebelumnya, Moody’s telah menetapkan peringkat surat utang Indonesia di level Ba2, dua level dibawah peringkat Investment Grade.

Inilah Tantangan Bursa Indonesia ke Depan
Headline

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Minggu, 5 Desember 2010 | 14:39 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Bursa saham Indonesia memiliki tantangan tidak mudah ke depan seperti menambah jumlah investor dan perusahaan untuk go public.

Hal itu disampaikan Direktur PT Schroder Invesment Indonesia Michael Tjoajadi menuturkan, Jumat (3/12) lalu. Michael mengatakan, saat ini jumlah emiten Indonesia yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya sekitar 421 semiten sedangkan negara lain seperti India mencapai 6.000 emiten. Tantangan bagi bursa untuk menambah perusahaan besar dan small enterprise seperti usaha kecil menengah.

“Tantangan bagi bursa untuk melihat small enterprise atau usaha kecil menengah. Usaha ini dapat go public tapi yang harus dilihat revenuenya. Apa karena culture dan persepsi membuat small enterprise tidak bisa go public,” ujar Michael.

Lebih lanjut ia mengatakan, dengan jumlah emiten yang banyak tercatat di bursa juga dapat membuat pasar lebih likuid. Selain itu, bursa saham juga diharapkan dapat menambah jumlah investor yang berkualitas. Michael menuturkan, investor cenderung mengikuti pergerakan asing dalam bertransaksi. Jumlah rekening efek investor pun masih sekitar kurang lebih 300 ribuan. Sehingga jumlah investor masih belum besar dibandingkan dari jumlah penduduk Indonesia.

Michael menambahkan, ASEAN Free Trade pada 2014 dengan adanya integrasi bursa juga akan menjadi tantangan bursa ke depan. Selain itu, Michael mengatakan, hukuman terhadap pelaku pasar modal yang melakukan penipuan di pasar modal pun dinilai masih terlalu ringan. “Punishment terhadap kejahatan di pasar modal masih ringan,” tegas Michael.

Terkait ekonomi global pada 2011, Michael mengatakan, dana asing masih akan masuk ke Indonesia hingga 2011. Kebijakan moneter Amerika Serikat dengan melakukan quantative easing membuat orang tidak menaruh deposito tetapi akan membelanjakan uang dan berinvestasi. Masyarakat pun bisa investasi ke seluruh dunia dengan investasi ke tempat dengan pertumbuhan ekonomi dan keuntungan tinggi. “”Orang akan investasi ke negara yang pertumbuhan ekonomi dan keuntungan tinggi di emerging market,” ujar Michael.

Pertumbuhan ekonomi emerging market akan tumbuh lebih besar dibandingkan negara maju. Michael menuturkan, Indonesia dan Vietnam akan menjadi pilihan untuk berinvestasi. Indonesia dan Vietnam dinilai memiliki regulasi, infrastruktur serta kebijakan moneter dan fiskal yang cenderung baik. Dana asing terbesar masuk ke obligasi.

“Orang akan menyimpan dana dalam jangka panjang di Indonesia dengan catatan negara tersebut dapat menjaga infrastruktur, pertumbuhan ekonono Indonesia cukup stabil menjadi kesempatan bagi investor, ” tambah Michael. [hid]
Minggu, 28/11/2010 18:02 WIB
IHSG Bakal Sentuh Level 5.600 di Tahun Depan
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Indonesia masih dianggap menjadi tempat yang nyaman berinvestasi untuk tahun 2011 nanti. Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan terus merayap naik bahkan bisa menyentuh level 5.600.

Pada awal tahun 2010, level IHSG berada di kisaran 2.533,95. Menjelang berakhirnya bulan November 2010, IHSG telah melesat menjadi 3.741,23 dan
tercatat sebagai indeks bursa saham dengan pertumbuhan tertinggi di kawasan regional (47,6%). Lalu bagaimana menatap IHSG di tahun 2011?

Sebagaian analis pasar modal menyatakan optimismenya tentang laju IHSG tahun depan. Head of Technical Analyst PT Batavia Prosperindo Sekuritas,
Billy Budiman menyatakan IHSG bisa menembus level 5.600 tahun depan, atau naik 43,58% dari perkiraan penutupan indeks di akhir 2010 sebesar 3.900.

Billy dalam risetnya, seperti dikutip detikFinance di Jakarta, Minggu (28/11/2010), menyebut tren indeks di tahun depan seperti halnya ‘Dejavu’
tahun 2006-2007. Dimana, laju IHSG akan ditopang oleh saham-saham sektor pertambangan dan CPO.

“Harga CPO diprediksi akan menguat seiring naiknya inflasi dunia dan juga harga beberapa metal serta coal (batubara) turut diekspektasikan akan
meningkat tahun depan,” ungkapnya.

Berdasarkan analis teknikal dengan menggunakan fibonacci retracement, level IHSG berada di level 5.600. Angka ini ditarik dari posisi terendah pada
Oktober 2008 dengan posisi tertinggi di Januari 2008, maka didapat fibonacci 261,8%.

Pengurangan pada indeks 2.838 (posisi tertinggi) dengan 1.089 (posisi terendah), menghasilkan level baru 1.749. Kemudian dikalikan 161 ditemukan
hasil 2.830. Hasil terakhir dijumlahkan dengan capaian indeks tertinggi sebesar 2.838, dan hasilnya adalah 5.668.

Penggerak IHSG tahun depan tetap didominasi oleh saham sektor komoditas, diantaranya batubara, metal, CPO. Kemudian juga ada saham-saham konsumer dan otomotif.

Laju IHSG yang demikian tinggi memang dipahami sebagai dampak dari masih derasnya aliran modal asing (capital inflow) ke Indonesia. Dengan dukungan
fundamental ekonomi yang terjaga, menjadikan arus modal asing terus masuk ke berbagai instrumen investasi, seperti Surat Utang Negara (SUN), Sertifikat
Bank Indonesia (SBI) juga bursa saham.

Pandangan lain datang dari Analis dari Vibiz Consulting, Alfred Pakasi. Meski sepakat IHSG akan terus meningkat di tahun depan, namun pergerakaanya
hanya sampai level 4.500-5.000. Menurut Alfred, dengan dukungan saham komoditas dan pergerakan inflasi serta suku bunga Bank Indonesia (BI rate) yang stabil, membawa IHSG tumbuh konservatif 25% pada tahun 2011.

“Penggerak ekonomi di IHSG ditopang oleh saham infrastruktur, konsumer dan properti. Dengan semakin banyaknya IPO (pencatatan saham perdana), khususnya
dari BUMN (Badan Usaha Milik Negara) menjadi pemicu pertumbuhan indeks antara 4.500-5.000 tahun depan,” ucap Alfred dalam outlook-nya.

Pada tahun depan, ekonomi dunia utamanya Amerika Serikat diprediksi mulai pulih, yang bisa menjadi catatan. Pasalnya, sebagaian modal akan kembali ke
AS meskipun tidak sekaligus.

“Hot money sebagai akan tertahan karena yield (imbal hasil) yang lebih menarik dan dana terserao di pasar modal. Foreign Direct Investment (FDI) ke sektor riil meningkat dan memberi kekuatan pada industri dan infrastruktur,” tambahnya.

Dengan wacana BUMN yang masuk pasar modal, dengan mencatatkan saham perdananya (IPO), diharapkan semakin memperbesar kenaikan IHSG ke depan.
Sampai triwulan III-2010 saja ada 16 BUMN listed telah menyumbang 29,5% dari kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan nilai Rp 803
triliun.

(wep/hen)
Terbaik di Asia, Bursa Indonesia Naik Kelas
Indeks harga saham gabungan (IHSG) bursa Indonesia telah melesat 48,22 persen. Fantastis!
Jum’at, 19 November 2010, 00:09 WIB
Arinto Tri Wibowo

VIVAnews – Sepanjang Januari hingga pertengahan November 2010, bursa saham Indonesia menunjukkan kinerja terbaik di kawasan Asia. Sejak awal tahun hingga 15 November 2010, berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), indeks harga saham gabungan (IHSG) telah tumbuh 44,28.

Pada akhir 2009, IHSG berada di level 2.534,36, sedangkan per 15 November 2010, indeks harga saham gabungan berada di posisi 3.656,46. Bahkan, bila mengacu posisi tertinggi IHSG sepanjang sejarah, yakni pada 10 November 2010 yang berada di level 3.756, indeks telah melesat 48,22 persen. Fantastis!

Meski demikian, bila dibandingkan kinerja tahun lalu, pertumbuhan IHSG masih jauh dibanding penguatan selama 2009 yang mencapai 86,98 persen. Dengan pertumbuhan tersebut, IHSG tahun lalu menempati kinerja terbaik kedua setelah bursa Shenzhen, China.

“Tahun lalu, memang luar biasa kenaikannya, karena 2008 juga turun tajam,” kata Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Wan Wei Yiong kepada VIVAnews.com di Jakarta, Kamis 18 November 2010.

Namun, Yiong mengakui, untuk mencapai pertumbuhan setinggi 2009 cukup berat. “Agak sulit,” ujarnya. Pertimbangannya, sisa waktu hingga akhir 2010 tinggal 1,5 bulan lagi.

“Tapi, kami memang tidak bisa memprediksi, karena biasanya analis yang bisa melakukan itu,” tuturnya.

Kendati demikian, Yiong optimistis bursa saham Indonesia dapat mempertahankan kinerja terbaik di kawasan Asia tahun ini. Bahkan, kemungkinan bisa naik kelas menjadi nomor satu mengalahkan bursa Shenzen yang memegang rekor tahun lalu. “Mudah-mudahan,” tuturnya.

Berdasarkan data, lonjakan pertumbuhan IHSG tahun ini mengalahkan indeks saham di Bursa Malaysia yang meningkat 17,97 persen. Pada akhir Desember 2009, Kuala Lumpur Composite Index (KLCI) berada di posisi 1.272,78, sedangkan per 15 November 2010 di posisi 1.501,56.

Pertumbuhan IHSG tersebut juga melampaui indeks bursa saham Korea. Indeks Kospi di Korea naik 13,73 persen menjadi 1.913,81 dibanding posisi akhir tahun lalu 1.682,77.

Sementara itu, di bursa Singapura, indeks Straits Times tahun ini naik 11,71 persen dari 2.897,62 per akhir tahun lalu menjadi 3.236,8 pada 15 November 2010.

Indeks bursa Shenzhen yang tahun lalu memuncaki pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 108,21 persen, per pertengahan November masih terpuruk di peringkat kelima dengan kenaikan 10,54 persen. Akhir tahun lalu, indeks bursa Shenzhen berada di level 1.201,34 sebelum ditutup pada 1.327,99 per 15 November 2010.

Ketua Bapepam-LK, Fuad Rahmany mengatakan, kenaikan IHSG tersebut di antaranya tertopang potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan mencapai enam persen pada akhir 2010.

Sementara itu, pada 2011, pertumbuhan ekonomi diperkirakan mampu tumbuh tujuh persen. Kinerja ekonomi domestik membangkitkan kepercayaan investor, sehingga aliran modal masuk meningkat, mendorong kinerja pasar modal, nilai tukar, dan cadangan devisa.

Tren Menguat
Kinerja terbaik bursa saham Indonesia itu sudah terlihat sejak periode Januari hingga Oktober 2010. Perkembangan itu didorong oleh kondisi fundamental perekonomian Indonesia yang cukup positif.

Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) yang dipublikasikan belum lami ini menunjukkan meskipun sempat bergerak melemah pada awal periode laporan, IHSG terus menunjukkan tren penguatan pada akhir Oktober 2010. IHSG ditutup pada level 3.635,2 atau menguat 3,8 persen dibanding bulan sebelumnya.

Perkembangan beberapa indikator penting dari sisi makro ekonomi, seperti stabilnya nilai tukar serta membaiknya prospek pertumbuhan ekonomi, semakin menambah kepercayaan investor asing untuk menempatkan dananya di pasar saham.

Secara sektoral, BI mencatat kenaikan IHSG lebih didukung oleh sektor pertambangan, pertanian dan keuangan. Kenaikan saham-saham di sektor pertambangan dan perkebunan terkait dengan meningkatnya harga komoditas, sedangkan sektor keuangan lebih banyak didukung oleh membaiknya kondisi fundamental emiten berupa membaiknya laba perbankan pada triwulan III-2010.

Dari sisi mikro emiten, kondisi fundamental emiten masih cukup terjaga. Kondisi tersebut tercermin pada pergerakan IHSG dan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang relatif sejalan serta membaiknya indikator return on asset (ROA) secara sektoral, seiring dengan laporan keuangan semester II-2010 yang membaik.

Sementara itu, dari sisi return on equity (ROE), posisi Indonesia lebih tinggi dibandingkan beberapa negara kawasan. Hal itu memberikan keuntungan kompetitif bagi perkembangan pasar saham domestik.

Selama Oktober 2010, investor cenderung wait and see meskipun masih menaruh minat yang relatif besar pada pasar saham domestik.

Meski demikian, selama Oktober pembelian bersih (net buying) asing turun dibandingkan September 2010 menjadi Rp80 miliar. Hal tersebut terutama disebabkan oleh aksi ambil untung (profit taking) secara terbatas dan antisipasi arah kebijakan Quantitative Easing tahap II oleh The Fed.

Tahun depan, Bursa Efek Indonesia menargetkan peningkatan rata-rata nilai transaksi harian menjadi Rp4,85 triliun per hari dibanding Rp4,5 triliun per hari pada 2010. Otoritas bursa memperkirakan kondisi pasar saham tahun depan lebih baik.

Sedangkan untuk transaksi hari ini, indeks diperkirakan masih volatile dengan kecenderungan menguat. Saham perbankan dan pertambangan diperkirakan menjadi pilihan untuk transaksi hari ini. “Kisaran support 3.649 dengan resistance 3.698,” kata analis PT Panin Sekuritas Tbk, Purwoko Sartono.

Pada transaksi kemarin, seiring melesatnya bursa regional pada sesi kedua perdagangan, IHSG mampu ditutup di area positif. Pergerakan indeks masih diwarnai oleh aksi beli terhadap saham grup Bakrie menyusul konsolidasi Bakrie-Rothschild. IHSG menguat 3,87 poin (0,11 persen) ke level 3.677,9. (hs)
• VIVAnews

 

ekonomi makro indon 2011: PMTB

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:19 am

Korupsi, Pertumbuhan, Kemiskinan
Editor: TI Produksi
Senin, 28 Februari 2011 | 04:25 WIB

FAISAL BASRI

Pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat, mencapai 6,1 persen pada tahun 2010. Pendapatan per kapita pun naik lumayan, telah mencapai di atas 3.000 dollar AS pada tahun yang sama.

Angka kemiskinan dan tingkat pengangguran juga turun. Masih cukup banyak data lainnya yang menunjukkan bahwa perekonomian kita mengalami perbaikan.

Namun, mengapa persepsi masyarakat berdasarkan berbagai survei mengindikasikan bahwa keadaan semakin sulit. Ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah di bidang ekonomi juga meningkat.

Mengapa pedagang kaki lima kian menjamur di kota-kota besar? Mengapa preman merajalela? Mengapa semakin banyak saja tenaga kerja Indonesia terpaksa mengadu nasib di luar negeri dengan taruhan nyawa sekalipun?

Tentu ada yang salah dari proses pembangunan yang dari sosok luarnya menunjukkan perbaikan. Perbaikan itu pun masih perlu dipertanyakan kualitasnya. Kalau saja pertumbuhan ekonomi cukup berkualitas, tentu tak akan banyak muncul anomali ataupun kontradiksi.

Salah satu penyebab utama rendahnya kualitas pertumbuhan adalah korupsi. Praktik-praktik korupsi di segala lini kehidupan menyebabkan investasi terhambat. Pengusaha membutuhkan dana lebih besar untuk menjalankan usahanya.

Di masa Orde Baru yang kita yakini tingkat korupsinya sangat parah, pengusaha masih bisa meraup laba karena persaingan dari luar negeri dibatasi dengan berbagai bentuk perlindungan.

Korupsi juga menyebabkan kualitas infrastruktur rendah. Penggelembungan nilai proyek dan pemotongan standar baku yang dipersyaratkan dalam kontrak membuat kualitas bangunan sangat buruk sehingga cepat rusak.

Teramat mudah menemukan buktinya dengan kasatmata: jalan yang mudah berlubang dan menjelma menjadi kubangan, jalan khusus bus transjakarta, dan bangunan-bangunan pemerintah. Ongkos pemeliharaan jadi mahal sehingga mengorbankan anggaran yang sepatutnya lebih banyak dialokasikan untuk orang miskin.

Agaknya tak berlebihan kalau kita kian meyakini bahwa sumber kebocoran terbesar adalah dari penerimaan perpajakan. Bagaimana mungkin nisbah penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto (tax ratio) justru mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir dibandingkan dengan selama lima tahun sebelumnya berturut-turut.

Dengan penurunan penerimaan pajak, peran pemerintah untuk melayani rakyat melemah. Porsi pengeluaran pemerintah di dalam produk domestik bruto tak kunjung menembus 10 persen. Padahal, di negara yang sangat liberal seperti Amerika Serikat sekalipun, porsinya mencapai 20 persen.

Bukankah menyerahkan kegiatan ekonomi pada mekanisme pasar juga mensyaratkan hadirnya peran negara yang lebih kuat, terutama dalam menciptakan jaring-jaring pengaman pasar agar kelompok-kelompok yang rentan bisa terlindungi.

Jaring-jaring pengaman pasar wajib ada dan melekat di dalam sistem pasar. Dana untuk itu dari mana lagi kalau bukan dari pajak, yang merupakan perangkat untuk meredistribusikan pendapatan dari yang lebih mampu ke yang kurang mampu.

Kalau begini terus, APBN kian mandul untuk memberdayakan rakyat. Tanda-tandanya mulai tampak. Tahun 2010 kita sudah mengalami defisit dalam keseimbangan primer (penerimaan negara dikurangi belanja negara di luar pembayaran bunga utang). Defisit keseimbangan primer baru pertama kali terjadi dalam 10 tahun terakhir.

APBN yang kian mandul berdampak pula pada pelemahan kemampuan pemerintah untuk menyuntikkan dana segar ke sektor-sektor yang seharusnya memperoleh prioritas, seperti sektor pertanian dan atau pedesaan. Bagaimana mungkin hendak memerangi kemiskinan jika basis kemiskinan yang notabene ada di pedesaan—hampir dua pertiga penduduk miskin ada di desa—tak kunjung disentuh dengan serius.

Justru sektor pertanian kian terbebani karena sumbangsih sektor industri manufaktur—yang seharusnya jadi pengimbang—terus saja menurun. Terbebani karena pilihan bagi pencari kerja adalah kembali ke sektor pertanian atau memadati sektor informal. Karena itu, pekerja informal bertambah banyak, sekitar 70 persen dari semua orang yang bekerja. Tak diragukan lagi, pertumbuhan gagal menciptakan lapangan kerja yang berkualitas.

Selanjutnya, pertumbuhan yang tidak berkualitas akan membuat hampir separuh penduduk rentan terhadap gejolak ekonomi. Sedikit saja harga-harga pangan naik membuat penduduk yang nyaris miskin jadi benar-benar miskin, tak lagi mampu menopang kebutuhan hidup minimumnya: 2.100 kalori per kapita sehari ditambah dengan pendidikan dasar dan kesehatan dasar.

Kalau sekadar mengurangi kemiskinan, pemerintah bisa saja memberikan bantuan langsung tunai, pelayanan kesehatan, dan pendidikan dasar gratis. Namun, mengisi kemerdekaan tak cukup sampai di situ. Yang harus dilakukan adalah memerangi kemiskinan, membongkar akar-akar kemiskinan.

Yang paling jitu adalah dengan menciptakan lapangan kerja bermutu. Untuk itu, tak ada pilihan lain kecuali memberdayakan sektor pertanian, membangun pedesaan dengan sungguh-sungguh, dan memacu industrialisasi.

Menyerahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar saja tak cukup. Peran aktif negara harus lebih mengedepan. Dengan memberantas korupsi, peran negara niscaya akan lebih mumpuni. Plus, perubahan paradigma pembangunan, tentu saja.

Tidak boleh ada kemiskinan di bumi Indonesia Merdeka, kata Bung Karno. Syarat perlunya adalah berantas korupsi. Sebab, sesuai dengan slogan PBB: ”The cost of corruption is poverty, human suffering and under development. Everyone pays.”

Faisal Basri Pengamat Ekonomi

CSIS: Pertumbuhan 2011 Dibayangi Inflasi
Kamis, 13 Januari 2011 | 14:04

JAKARTA – Center for Strategic and International Studies (CSIS) memproyeksikan perekonomian Indonesia tahun ini masih akan tumbuh pada level yang tinggi, meski dibayangi tekanan inflasi, meningkatnya impor, dan konstraksi pada neraca berjalan.

“Pertumbuhan ekonomi nasional kami perkirakan berkisar 6-6,5%, sama dengan yang diprediksi Bank Indonesia,” kata Peneliti Departemen Ekonomi CSIS Deni Friawan di Jakarta, Selasa (11/1).

Menurut Deni, pertumbuhan ekonomi pada tahun ini ditentukan oleh faktor fundamental membaiknya ekonomi pada 2010. “Meskipun pertumbuhan pada 2010 di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi selama satu dekade terakhir, namun masih lebih rendah dibanding tingkat pertumbuhan sebelum krisis 1997/98,” ujar dia.

Investasi dan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang mesin pertumbuhan sekaligus dapat mengimbangi penurunan pada pengeluaran pemerintah. Dari sisi penawaran, pertumbuhan sektor pertanian akan melambat akibat cuaca buruk. Sedangkan pertumbuhan sektor industri melemah karena penurunan di sektor pertambangan dan konstruksi.

Menurut Deni, peluang Indonesia untuk tetap mampu mempertahankan pertumbuhan pada level di atas 6%, sangat beralasan. Hal ini karena pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara terutama Eropa dan Amerika Serikat masih sangat rendah dan dibayangi krisis. “Ini menjadi peluang Indonesia memanfaatkan derasnya “capital inflow” (arus modal masuk) ke dalam negeri,” tegas dia.

Selain arus modal yang masuk dalam bentuk portofolio di pasar saham dalam negeri, foreign direct investment (investasi asing langsung) juga menjadi pendorong tumbuhnya ekonomi nasional. Karena itu, pemerintah harus mampu menjaga momentum pertumbuhan investasi yang cukup tinggi pada 2010 dapat dipelihara atau bahkan meningkat tahun ini.

Selain investasi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga ditandai dengan indikator ekspor nasional yang terus melonjak. Namun, untuk mempertahankan ekspor pada level yang signfikan, diperlukan peningkatan daya saing produk yang dihasilkan dan diversifikasi pasar ekspor. “India dan Tiongkok juga akan lebih menekankan pertumbuhan berorientasi ekspor demi mempertahankan pertumbuhannya,” kata dia.

Tantangan
Meski diproyeksikan tinggi, CSIS menilai terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi antara lain faktor regional dan global. Perekonomian dunia masih dibayangi ketidakpastian. Negara-negara maju masih akan menerapkan kebijakan moneter yang longgar, suku bunga rendah, sementara negara-negara berkembang masih akan melanjutkan kebijakan normalisasi dan menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi.

Suku bunga global yang rendah dan perkiraan stimulus moneter tahap kedua di negara maju akan mendorong kenaikan bursa saham global, dan pelemahan nilai tukar dolar AS yang berdampak pada peningkatan harga-harga komoditas.

“Peningkatan arus masuk modal asing telah meningkatkan cadangan devisa nasional, namun juga meningkatkan kerentanan pada perekonomian domestik terhadap guncangan dari perubahan sentimen investor yang dapat berbalik arah secara tiba-tiba,” kata Deni,

Dari dalam negeri, faktor juga penting dilakukan adalah peningkatan daya saing produksi dengan mempercepat pembangunan infrastruktur dan perbaikan iklim investasi. Pemerintah harus mencari cara yang tepat dalam membiayai pembangunan infrastruktur, termasuk melibatkan sektor swasta.

“Pemerintah harus memberi jaminan dalam pembangunan infrastruktur tidak merugikan investor, dengan adanya kepastian hukum misalnya menyangkut pembebasan lahan,” tutur dia.

Sedangkan untuk investasi asing langsung, bisa dengan menyederhanakan peraturan dan perbaikan kerangka perundang-undangan yang berkaitan dengan aktivitas usaha sebagai jaminan kenyamanan berinvestasi. (ef)

Hot Money Masih Melimpah di 2011
Headline
inilah.com
Oleh: Ahmad Munjin
Ekonomi – Jumat, 24 Desember 2010 | 18:46 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Derasnya arus hot money di 2010, masih akan terjadi tahun depan. Investor akan mengambil keuntungan dari perbedaan tingkat suku bunga antar negara (carry trade).

Pengamat ekonomi David Sumual mengatakan, deras tidaknya aliran hot money di 2011, sangat tergantung pada pemulihan ekonomi global. Tapi, dilihat dalam konteks ekonomi AS, arus dana panas itu masih akan mengalir deras tahun depan.

Sebab menurut David, The Fed sudah menggulirkan quantitative easing (QE) tahap kedua sejak November 2010. Bank Sentral AS itu membeli US Treasury secara bertahap senilai US$600 miliar hingga Juni 2011.

“Tujuannya untuk membiayai defisit fiskal karena pembelian surat utang AS dari Asia terutama China sudah melambat,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (21/12).

Dari sisi fiskal, AS juga melakukan pemangkasan pajak untuk dua tahun ke depan. Diharapkan, stimulus dari sisi moneter dan fiskal itu dapat memulihkan ekonomi dunia. Pada saat yang sama, AS masih akan mempertahankan suku bunga rendah hingga 2011. “Karena itu, hot money masih akan melimpah ke Indonesia di 2011,” tandasnya.

Namun, David menjelaskan, pengaruh QE tidak otomatis memicu derasnya hot money ke pasar domestik. “Kebijakan suku bunga rendah yang akan dipertahankan selama 2011 bakal berpengaruh langsung pada derasnya hot money,” timpalnya.

Menurutnya, investor bisa meminjam dana dengan suku bunga rendah di negara-negara maju seperti AS di level 0-0,25%, Eropa 1% dan Jepang 0-0,1% untuk diinvestasikan di negara-negara berkembang termasuk RI. Sementara RI, berpeluang menaikkan suku bunga acuannya dari level 6,5% saat ini ke level 7% di 2011. “Selama suku bunga rendah, carry trade akan terjadi,” ucap David.

Carry Trade adalah aksi mengambil keuntungan dari perbedaan tingkat suku bunga antar negara. Dalam aktivitas carry trade, seorang investor atau pelaku pasar akan meminjam sejumlah uang di negara bersuku bunga kecil, lalu menginvestasikannya ke negara yang bersuku bunga tinggi seperti RI.

Hingga Oktober 2010, hot money yang masuk ke pasar modal seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Utang Negara (SUN) dan saham mencapai Rp133 triliun. Hanya saja, pada November-Desember terjadi profit taking invetor asing. Karena itu, hingga November 2010, terjadi penurunan Rp37,4 triliun ke level Rp95,6 triliun.

Menurut David, besaran hot money tahun depan, sangat tergantung pada harga minyak yang potensial naik tahun depan. Pada saat yang sama, pemerintah akan melarang Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi untuk mobil pelat hitam. “Jika kebijakan itu memicu inflasi yang tidak bisa dikendalikan, arus hot money akan terhambat,” imbuh David.

Inflasi 2011, juga akan terdorong oleh melambungnya harga bahan pokok terutama beras. Hanya saja, peluang Indonesia untuk mendapatkan gelar investment grade di 2011, bisa memicu derasnya hot money. “Jika inflasi bisa dikontrol, aliran hot money bisa lebih deras dibandingkan 2010,” ungkapnya.

Apalagi, lanjut David, prospek pertumbuhan ekonomi di negara lain masih rendah sehingga asing tidak punya pilihan selain mengalirkan dananya ke emerging market terutama Indonesia. Dia memperkirakan, arus hot money 2011 akan besar seperti 2010. “Tapi, sebagian dana tersebut juga akan masuk ke obligasi korporasi dan sektor riil,” paparnya.

Dihubungi terpisah, Eric Alexander Sugandi, ekonom Standard Chartered Bank mengatakan hal senada. Menurutnya, arus hot money masih akan mengalir deras ke dalam negeri. Pasalnya, fundamental ekonomi RI sangat bagus.

Hal ini bisa dilihat dari inflasi yang masih terkendali di level moderat tahun depan meskipun angkanya akan berada di atas target BI dan pemerintah. Eric memperkirakan, inflasi untuk full year 2011 akan berada di level moderat 6,5%. “Angka ini seiring kenaikan harga pangan seperti beras, cabai dan bawang merah,” urainya.

Kalaupun pembatasan BBM untuk mobil pelat hitam dilaksanakan tahun depan, inflasi tidak akan jauh dari level itu. Sebab, kuatnya fundamental ekonomi RI, juga bisa dilihat dari GDP (Gross Domestic Product) yang akan terus tumbuh. “Saya perkirakan, jika 2010 RI bisa tumbuh 6%, pada 2011 bisa mencapai 6,5%,” ucapnya.

Derasnya arus hot money juga mendapat dukungan dari rate of return investasi RI yang cukup menarik. Lihat saja, selisih BI rate di level 6,5% dengan Fed Fund Rate di angka 0-0,25%. “Begitu juga dengan yield obligasi RI yang masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yield US Treasury,” paparnya.

Namun, Eric memperkirakan, aliran dana asing ke obligasi dan pasar modal 2011, tidak akan sederas 2010 maupun 2009. “Pada 2009 dan 2010, harga saham RI masih murah dan yield obligasi masih tinggi,” tuturnya.

Sedangkan di 2011, harga saham sudah mahal dan yield obligasi semakin mengkerut karena harganya semakin mahal. “Tapi saya yakin dana asing masih akan tetap masuk di 2011 meskipun tidak akan sederas tahun-tahun sebelumnya,” ucap Eric. [mdr]
Senin, 29 November 2010 | 16:04 oleh Irma Yani
CADANGAN DEVISA
Pengamat: Cadangan devisa sukar tembus US$ 100 miliar

JAKARTA. Pengamat memperkirakan cadangan devisa sukar menembus level US$ 100 miliar pada akhir tahun nanti. Pasalnya, laju cadangan devisa itu akan tertahan aksi profit taking pada investor menjelang akhir tahun nanti.

Pengamat pasar uang Farial Anwar memperkirakan, cadangan devisa hanya berada di kisaran US$ 95 miliar pada akhir tahun nanti. Bahkan, dia menduga, cadangan devisa yang selama ini ditopang oleh aliran dana asing akan berkurang karena investor akan merealisasikan keuntungan pada awal Desember nanti. “Kemungkinan naik lagi sulit karena di berbagai negara pun sedang terjadi spekulasi,” katanya, Senin (29/11).

Menurut Farial, cadangan devisa seharusnya disokong dari hasil suatu sektor dalam negeri seperti hasil ekspor, perusahaan pemerintah yang dikelola Bank Indonesia, pinjaman luar negeri dalam valuta asing, dan hibah. “Tapi kenyataannya itu malah kecil presentasenya bila dibandingkan dengan arus modal asing (hot money),” jelasnya.

Sementara, pengamat ekonomi Purbaya Yudhi Sadhewa menduga, cadangan devisa berkisar US$ 94 miliar hingga US$ 100 miliar. Ia memperkirakan cadangan devisa masih terus naik karena arus dana asing masih akan terus mengalir ke dalam negeri. “Tergantung dari perkembangan yang terjadi di global termasuk Korea maupun Eropa sana,” terangnya.

Sebelumnya, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Bank Indonesia (BI) memprediksi, cadangan devisa bisa menembus US$ 100 miliar hingga akhir tahun ini. Akhir November 2010 lalu, cadangan devisa telah menembus US$ 93 miliar. Ini cadangan devisa tertinggi dalam sejarah RI.

Senin, 29/11/2010 09:58:39 WIB
Mengakselerasi pembangunan infrastruktur
Oleh: Sandiaga Salahuddin Uno
bisnis
Bagi kami dunia usaha, adalah kabar bahagia pemerintah meluncurkan 12 proyek pembangunan jalan dan empat proyek pembangunan fasilitas pasokan air minum dengan nilai sekitar US$1,2 miliar.

Membahagiakan karena harapan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi menjadi semakin nyata. Geregetan rasanya jika melihat pembangunan infrastruktur dalam 12 tahun terakhir yang terkesan jalan di tempat.

Indonesia adalah negara dengan sumber daya manusia dan alam yang melimpah ruah. Jika secara ekonomi kedua potensi itu tidak dapat dimaksimalkan, mungkin salah satu penyebab adalah buruknya infrastruktur.

Padahal, jika Indonesia ingin setara dengan China dan India pada 2030, tidak ada jalan lain selain mengakselerasi pembangunan infrastruktur mengingat selama ini keterbatasan infrastruktur telah menyandera potensi ekonomi suatu daerah, menjadi salah satu faktor penyebab tingginya inflasi, dan menimbulkan ekonomi biaya tinggi yang terus mendera terutama untuk sektor UMKM.

Jika persoalan ini dapat dituntaskan, hal itu merupakan sebuah prestasi besar yang dilakukan oleh pemerintahan SBY-Boediono dan akan dicatat dalam tinta emas sejarah negeri ini.

Soal pendanaan, tentu saja pemerintah tidak punya cukup dana dan karenanya perlu dukungan swasta. Skema public private partnership (PPP) adalah pilihan tepat. Hanya saja dalam merealisasikannya pemerintah harus memiliki nyali dalam membebaskan lahan dengan cepat, namun bijak, dan tidak merugikan pemilik lahan yang sebenarnya.

Hingga kini, di lapangan masih terdapat persoalan yang belum tuntas, yakni pengadaan lahan yang dikuasai oleh segelintir spekulan. Ini terjadi pada hampir semua program pembangunan infrastruktur.

Kekuatan lokal berlomba-lomba ikut meminta ‘jatah’ atas proyek pembangunan yang dilaksanakan di wilayah mereka. Padahal mereka jugalah yang kelak menikmati manfaat dari hasil pembangunan infrastruktur itu.

Ironisnya lagi, bukan hanya kekuatan lokal yang menjadi spekulan tanah. Keterlibatan oknum birokrasi dan aparat hukum kian memperparah kondisi ini. Itulah mengapa lahir paradigma ‘Aku dapat apa’ dari setiap proyek pembangunan infrastruktur.

Selain kerap mengganggu kelancaran proyek, hal ini sangat merugikan pengusaha karena menimbulkan tambahan biaya yang harus dikeluarkan.

Dari sisi regulasi, kondisinya lebih menyedihkan lagi. Rancangan Undang-Undang Pengadaan Lahan hingga kini belum juga dibahas DPR. Padahal RUU Pengadaan Lahan dirumuskan sejak 2005 dalam Infrastructure Summit.

Bahkan dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional, target penyelesaian RUU tersebut paling lambat Desember 2010. Situasi inilah yang menyebabkan pelaksanaan pembangunan infrastruktur cukup mencemaskan. Ada kegalauan akibat berbagai hambatan yang harus dituntaskan yang ironisnya belum ada tanda-tanda perbaikan.

Harus percaya diri

Harus diakui, dalam pandangan kami, pengusaha, pemerintah kurang percaya diri dalam menegakkan aturan dan hukum yang ada. Padahal sesungguhnya pemerintah telah memiliki perangkat hukum yang cukup untuk menjamin pembebasan lahan. Sayangnya, pelaksana eksekusi (eksekutor) terkesan ingin aman saja. Sikap itu sangat merugikan karena dapat menimbulkan ketidakpastian usaha.

Akibat lebih lanjut adalah perbankan tidak mau mendanai proyek yang nilainya sangat besar tersebut. Padahal, tanpa peran perbankan dan investor yang memiliki pendanaan kuat, berbagai proyek infrastruktur tersebut mustahil dilaksanakan.

Hemat saya, untuk mengakselerasi pembangunan infrastruktur, ada beberapa hal yang harus dilakukan pemerintah. Pertama, mempercepat pembahasan RUU Pengadaan Lahan bersama DPR. Sebab, bagaimanapun RUU tersebut akan menjadi payung hukum yang kuat untuk membebaskan lahan demi kepentingan umum.

Kedua, mengunci segala potensi aksi spekulan tanah. Caranya dengan membersihkan aparat hukum dan birokrasi yang berkongsi dengan kekuatan-kekuatan lokal yang mengatasnamakan kelompok masyarakat tertentu. Sampaikan secara terbuka lokasi pembangunan dan harga berdasarkan hasil penilaian tim appraisal independen yang profesional.

Ketiga, memberikan insentif. Idealnya insentif diberikan secara permanen, baik berupa fiskal (tax holiday) maupun nonfiskal (guarantee) yakni suatu jaminan jika penghasilan berkurang dan ditanggungnya biaya pembebasan lahan oleh pemerintah.

Jaminan ini dibutuhkan karena biasanya biaya pembebasan lahan yang dipermainkan spekulan tanah menjadi bengkak beberapa kali lipat dari yang dianggarkan pengusaha.

Keempat, tersedianya dana penjamin untuk memastikan kelancaran proyek pembangunan infrastruktur, misalnya, dana pembebasan lahan. Dana penjamin itulah yang menjadi salah satu wujud keseriusan pemerintah.

Kelima, melakukan penguatan masyarakat lokal yang akan terkena dampak dari pembangunan infrastruktur. Ini penting untuk meminimalisasi resistansi kekuatan lokal sekaligus membangun keswadayaan masyarakat dalam pembangunan, mengingat program yang dilakukan sifatnya top down dengan investasi yang sangat besar. Pada prinsipnya, kearifan lokal seharusnya dapat menjadi solusi jitu pengadaan lahan.

Penguatan berupa kesadaran dan antisipasi atas dampak pembangunan merupakan hal yang sangat penting. Inilah yang disebut pembangunan berkelanjutan, bukan hanya fisik namun mentalitasnya.

Aspek ini kerap kali dilupakan, padahal menjadi faktor penting untuk meminimalisasi resistansi (penolakan) dan permainan spekulan tanah. Ini adalah sebuah solusi ketika pemerintah dan aparat hukum tidak berdaya menghadapi spekulan.

Karenanya, mendorong partisipasi masyarakat lokal menjadi hal yang wajib agar rakyat terlibat aktif dan tidak menjadi bagian dari duri pengganggu atas rencana pembangunan infrastruktur yang sangat strategis tersebut.

Namun, hal lain yang juga penting, pemerintah jangan hanya dapat ‘menyanyikan lagu’ tentang indahnya program pembangunan infrastruktur, tetapi mampu menangani berbagai hambatannya.

Sebab kegagalan proyek pembangunan infrastruktur akan mendatangkan efek ketidakpercayaan dunia usaha terhadap pemerintah di samping melahirkan indeks persepsi yang semakin menempatkan Indonesia sebagai sebagai negara dengan iklim usaha yang kurang baik.

Oleh karena itu, seluruh stakeholder harus bergerak cepat. Presiden harus memantau dengan seksama dan mendorong para pembantunya untuk bergerak cepat, mengevaluasi pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional.

Jika tidak, apa yang menjadi kecemasan kita semua bisa menjadi nyata, bahwa Indonesia akan semakin tidak setara secara ekonomi dibandingkan dengan negara lain. Bukankah itu adalah hal yang kita semua tidak inginkan?

Oleh Sandiaga Salahuddin Uno
Pendiri Yayasan Indonesia Setara

Ekspansi dunia usaha meningkat
OLEH ACHMAD ARIS Bisnis Indonesia

Kegiatan dunia usaha pada triwulan III/2010 tercatat mengalami ekspansi yang lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Laju ekonomi banyak didorong pembentukan modal tetap
JAKARTA: Kegiatan dunia usaha pada triwu lan III/2010 tercatat mengalami ekspansi yang lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Hal itu terungkap dalam hasil survei Bank Indonesia terhadap kegiatan dunia usaha (SKDU) pada triwulan III/2010. Survei yang dilakukan kepada sebanyak 2.587 perusahaan tersebut menunjukkan saldo bersih tertimbang (SBT) kegiatan usaha pada triwulan III/2010 sebesar 14,39% atau lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja triwulan II/2010 sebesar 12,39%.

“Peningkatan konsumsi masyarakat sehubungan dengan bulan puasa dan hari raya Idulfitri yang terjadi pada triwulan III/2010 ditengarai menjadi faktor utama pen dorong ekspansi kegiatan usaha,“ demikian hasil survei dari situs resmi BI kemarin.

Beberapa faktor lain yang memengaruhi ekspansi usaha pada triwulan III/2010 a.l. peningkatan permintaan ekspor dan peningkatan pendapatan bunga kredit.

Berdasarkan 9 sektor ekonomi yang disurvei, 8 sektor mengalami peningkatan kegiatan usaha di mana sumbangan terbesar berasal dari sektor perdagangan, hotel & restoran sebesar 3,88% terutama dari subsektor perdagangan, kemudian sektor jasa-jasa sebesar 3,25%, dan sektor keuangan, persewaan & jasa perusahaan (2,58%).

Sementara itu, kontraksi kegiatan usaha hanya terjadi pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan yaitu -0,38% sehubungan dengan telah berakhirnya musim panen dan keadaan cuaca yang kurang mendukung.

Untuk subsektornya, lanjut survei itu, mayoritas subsektor ekonomi mengalami ekspansi ke giatan usaha dengan kontribusi terbesar berasal dari subsektor perdagangan, diikuti oleh subsektor pemerintahan umum dan subsektor bank, sedangkan kontraksi kegiatan usaha terbesar terjadi pada subsektor tanaman pangan, dan diikuti subsektor industri alat angkutan, mesin, dan peralatannya.

Lebih jauh responden memperkirakan terjadi perlambatan ekspansi kegiatan usaha pada triwulan IV/2010 yang tecermin dari SBT sebesar 23,50% atau lebih rendah dibandingkan perkiraan triwulan sebelumnya sebesar 27,27%.

“Menurut responden, pengelu aran konsumsi dalam negeri pada triwulan IV/2010 masih akan mengalami peningkatan meski tidak setinggi triwulan sebelumnya,“ tulis hasil survei itu.

Terkait laju inflasi, responden memperkirakan laju inflasi sepanjang 2010 akan berada dalam range 5%-7% di mana dari 2.563 responden yang memberikan jawaban, sebanyak 64,57% responden memperkirakan inflasi 2010 sebesar 5%-7%.
Modal tetap Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Fuad Rahmany mengatakan sum ber pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal I-III tahun ini banyak didorong oleh pembentukan modal tetap bruto (PMTB).

Hal ini berbeda dibanding dengan tahun lalu di mana pertumbuhan Indonesia masih banyak didorong oleh konsumsi rumah tangga.

“PMTB mulai besar. Peran investasi mulai ada, ini bisa menjadi dasar pertumbuhan ekonomi tahun depan,“ katanya di selasela SeminarNasional Outlook 2011 Selasa.

Fuad mengatakan selain investasi, masih ada beberapa hal yang bisa membuat potensi ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi ke depan. Salah satunya adalah penggunaan dana transfer ke daerah yang hingga kini belum dikelola dengan baik oleh pemda.

“Sebanyak 30% dari APBN kita dialokasikan untuk transfer ke daerah. Namun, ini juga belum dikelola secara benar. Anggarannya sudah ada, tapi pemdanya belum menyerap secara maksimal.“ (14) (achmad.aris@bisnis.co.id)

 

ekonomi makro indo : INFLASI 2011 18 November 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 11:29 am

Outlook RI dari Moodys Selamatkan Pasar

Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Kamis, 27 Januari 2011 | 17:59 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Rupiah dan IHSG kompak menguat. Lembaga rating Moody’s yang menyatakan, out look ekonomi Indonesia masih stabil dan inflasi yang tak perlu dikhawatirkan menjadi katalisnya.

Albertus Christian K, periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures mengatakan, penguatan rupiah hari ini dipicu pernyataan Lembaga Pemeringkat Internasional Moody’s Rating. Moody’s menyatakan, out look ekonomi Indonesia masih stabil.

Selain itu, Moody’s juga mengatakan, tingkat inflasi RI sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Sebab, jika terjadi kenaikan suku bunga dari Bank Indonesia dengan timing yang tepat, inflasi bisa terkendali.

“Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah sempat menguat ke level 9.011 setelah sempat melemah ke level 9.033 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (27/1).

Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (27/1) ditutup menguat 10 poin (0,11%) jadi 9.034/9.038 per dolar AS dari posisi kemarin 9.034/9.038. Penguatan rupiah juga didukung hasil Federal Open Market Cammittee (FOMC) yang mengecewakan investor. Hal ini terkait penilaian indikasi ekonomi AS.

“Meskipun, terjadi kelanjutan pemulihan, hanya saja pasar melihat kekhawatiran tingkat pengeluaran konsumen terutama rumah tangga yang menjadi tulang punggung ekonomi AS,” ujarnya. Pasar melihat, pengeluaran rumah tangga AS menjadi lemah sebagaimana diakui oleh The Fed sendiri.

Selain itu, lanjut Albertus, program quantitative easing untuk menopang pertumbuhan ekonomi AS, juga masih terus dilanjutkan dan belum ada satupun anggota dewan yang mengambil suara untuk menghentikannya. “Karena itu, sentimennya jadi negatif bagi dolar AS,” ungkapnya.

Tapi, karena S&P Rating men-down grade peringkat utang Jepang ke level AA- dari sebelumnya AA+ kembali menekan yuan dan memperkuat dolar AS. Alhasil, dolar AS pada akhirnya ditransaksikan variatif terhadap mayoritas mata uang utama. “Terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa), dolar AS ditransaksikan menguat ke level US$1,3675 dari sebelumnya US$1,3790 per euro,” imbuh Albertus.

Sementara pengamat pasar modal dari Capital Bridge Indonesia Aji Martono mengatakan, penguatan indeks hari ini dipicu positifnya pergerakan bursa global dan regional yang kompak kecuali bursa Brazil. “Di sisi lain, kenaikan indeks juga karena faktor teknikal setelah indeks melemah tajam sebelumnya,” paparnya.

Pada saat yang sama, lanjut Aji, penetapan harga rights issue Bank Mandiri di level Rp5.000 memicu minat investor. Selain minat pada saham PT Bank Mandiri (BMRI), investor juga mulau berburu saham-saham lain di sektor perbankan.

Apalagi, saat roadshow, aksi korporasi ini mengalami oversubscribed hingga di atas dua kali. Tapi, indeks hari ini tidak berhasil menguji resistance 3.530 sehingga tidak mendukung aksi beli kembali untuk penguatan bursa berikutnya.

Menurutnya, indeks justru tak kuat bertahan di level tersebut dan mengarah ke level support 3.510, sehingga investor merealisasikan keuntungan. Ini seiring sentimen negatif dari down grade utang Jepang.

Sebab, selain faktor global-regional, teknikal dan aksi korporasi emiten seperti rights issue Bank Mandiri, tidak ada hal lain yang bisa jadi pendongkrak IHSG. “Dari dalam negeri belum ada berita yang bisa menggerakkan pasar,” timpalnya. [mdr]
“Inflasi Tak Bisa Disembuhkan dengan BI Rate”
Kamis, 27 Januari 2011 – 20:20 wib
Martin Bagya Kertiyasa – Okezone

JAKARTA – Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Hartadi A Sarwono menegaskan jika tingkat suku bunga BI (BI Rate) bukan obat untuk inflasi.

“Penyakit inflasi tidak bisa disembuhkan dengan BI rate. Perlu instrumen lain, khususnya dari pemerintah,” ungkap Hartadi kala ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (27/1/2011).

Menurutnya, perlu ada instrumen yang dibentuk dari pusat dan daerah. “Pertama koordinasi, leadership di Menko. Selain itu, ada tim penanggulangan inflasi (TPI) yang dikoordinasikan BI dan K/L terkait. Di pusat dan daerah,” tambahnya.

Lebih lanjut, Hartadi menilai TPI di daerah harus bekerja sama dengan pemda untuk bisa mengendalikan bahan-bahan pokok. “Untuk TPID, ada pendekatan ke kepala daerah untuk mengendalikan bahan-bahan pokok. Pengendalian harga menjadi penting bagi kinerja kepala daerah karenanya langsung disambut antusias,” jelasnya.

Menurutnya tidak bisa koordinasi hanya terjadi di satu provinsi saja, harus terkait. Saat ini TPID sudah ada di 53 kota, 32 di antaranya ibukota dan dirasa sudah cukup memadai.

Selain intrumen tersebut Hartadi menilai harus terjadi perkembangan signifikan pada volitile food karena harga global yang terus meningkat.

“Harga pangan global akan terus naik. Kalau impor saja tidak cukup dan mahal. Kemandirian pangan menjadi penting. Mencetak sawah baru, membuka lahan baru. Ini hal yang menjadi strategis,” tambahnya.

Dengan demikian dirinya menilai shock yang terjadi akan bisa diredam, namun bukan berarti shock akan berhenti. “Kalau sudah bisa menyediakan sektor pangan yang mandiri, shock tidak akan terjadi lagi. Ke depan akan banyak shock, perlu bersiap dari sekarang,” jelasnya.

Selain itu dia berpendapat jika kebijakan pembebasan bea masuk ini bisa menurunkan imported inflasi.”Ada kebijakan pemerintah yang menurunkan pos tarif, ini bisa menurunkan imported inflasi,” kata Hartadi.(ade)
Rabu, 26/01/2011 16:19 WIB
Ancaman Inflasi Komoditas Pangan
Teguh Santoso – suaraPembaca

Jakarta – Banyak kalangan tidak menduga bahwa inflasi di penghujung 2010 akan mencapai 6,96 persen. Prestasi ekonomi yang dicapai selama 2010 akan tercoreng rapor merah karena pemerintah dinilai tidak bisa menjaga stabilitas harga. Padahal dalam APBNP 2010, inflasi dipatok sebesar 5,3 persen.

Berarti pemerintah salah besar dalam memperkirakan inflasi. Prediksi World Bank pun juga meleset, yang memprediksi bahwa inflasi di Indonesia pada angka 5,1 persen. Lalu pertanyaanya, apa yang menyebabkan inflasi naik sedemikian besar?.

Menurut perhitungan BPS, sepanjang 2010 penyumbang inflasi terbesar adalah beras sebesar 1,29 persen dan inflasi bahan makanan secara umum menyumbang inflasi sebesar 0,69 persen. Pada akhir 2010 masyarakat juga digegerkan dengan kenaikan harga cabai hingga ratusan persen.

Bahkan dibeberapa daerah harga cabai mencapai Rp. 70.000,- hingga Rp. 80.000,- per kilogram (kg). Harga tersebut berarti melampaui harga daging sapi yang paling mahal Rp. 60.000,- per kg.

Kenaikan harga cabai tersebut memberi andil pada angka inflasi keseluruhan sebesar 0,32 persen. Melihat cukup signifikannya kontribusi inflasi komoditas bahan makanan terhadap total inflasi, pertanyaan selanjutnya adalah mengapa kondisi tersebut bisa terjadi?

Banyak kalangan sepakat bahwa kenaikan harga komoditas bahan makanan terutama cabai dan beras disebabkan karena cuaca ekstrim dengan durasi yang panjang, sehingga menimbulkan dampak yang signifikan terhadap penurunan produksi pertanian. Kemudian ditransfer dalam bentuk tingginya harga komoditas pertanian/pangan.

Pemerintah juga telah menyadari hal yang sama. Kebijakan moneter yang dimiliki Bank Indonesia pun pasti tidak berdaya menghadapi fenomena inflasi semacam ini, karena inflasi terjadi dari sisi Agregate Supply.

Bahkan Bank Indonesia tidak melakukan antisipasi dari sisi moneter untuk meredam gejolak laju inflasi, ditandai dengan BI rate yang masih 6,5 persen. Karena otoritas moneter menyadari bahwa inflasi yang terjadi bukan semata fenomena moneter. Lalu siapa yang bertanggung jawab terhadap tingginya inflasi terutama bahan pangan?

Tanggung Jawab Pemerintah

Tingginya laju inflasi pasti berdampak pada kesejahteraan masyarakat karena daya beli yang terus menurun. Namun masyarakat disatu sisi tidak bisa berbuat banyak mengadapi lonjakan harga kecuali hanya mengkencangkan ikat pinggang. Sehingga dalam hal ini pemerintah yang sepenuhnya harus bertanggung jawab terhadap lonjakan inflasi yang jauh dari target tersebut.

Jika tidak dilakukan upaya tanggap darurat dan upaya prefentif, ancaman bencana sosial bukan tidak mungkin akan terjadi. Tingginya harga bahan pangan pokok pasti akan berpengaruh terhadap ketahanan pangan nasional. Karena indikator ketahanan pangan salah satunya adalah aksesibilitas terhadap pangan dari sisi keterjangkauan harga.

Dalam menghadapi fenomena perubahan iklim yang berpengaruh terhadap produksi komoditas pertanian pangan, pemerintah bisa dinilai lambat. Menurut pakar ekonomi pertanian Bustanul Arifin (2010) menyatakan pemerintah secara gentle mengakui lambanya mengantisipasi fenomena perubahan iklim tersebut. Padahal pengalaman seharusnya bisa menjadi cermin bagi pemerintah.

Menurut kajian Irawan (2006) lonjakan impor beras yang terjadi pada 1997/1998 terjadi karena anomali cuaca. Peristiwa anomali cuaca tersebut terjadi selama 14 bulan berturut-turut antara Maret 1997 hingga April 1998. Namun bedanya anomali cuaca pada waktu itu menimbulkan musim kemarau berkepanjangan. Sementara anomali cuaca sekarang ini menimbulkan musim hujan yang tidak berkesudahan.

Sebenarnya para pakar sudah mengkaji bagaimana dampak perubahan iklim terhadap perekonomian atau sebaliknya. Karena pada dasarnya perubahan iklim dan aktivitas perekonomian bisa mempunyai hubungan yang bersifat kausal.

Tingginya aktifitas ekonomi yang menimbulkan emisi karbon serta banyaknya aktifitas ekonomi perkantoran yang menimbulkan efek gas rumah kaca (GRK) menjadi pemicu perubahan iklim. Sektor pertanian juga menyumbang 6-18 persen emisi GRK yang terutama berasal dari penggunaan pupuk anorganik.

Seperti yang dikemukakan oleh ekonom terkenal asal inggris Sir Nicholas Stern, yang dikenal dengan Stern Review: Economics of Climate Change. Perubahan iklim yang ekstrem juga pasti berdampak pada perekonomian terutama pada sisi supply dalam hal ini sektor pertanian, yang akhirnya berdampak pada kenaikan harga-harga seperti sekarang ini.

Sebenarnya kajian tentang dampak perubahan iklim sudah dilakukan oleh Balai Litbang Kementrian Pertanian sejak 2007. Tim sintesis kebijakan Balitbang Kementrian Pertanian sudah merekomendasikan bahwa strategi antisipasi terhadap perubahan iklim merupakan aspek kunci yang harus menjadi rencana strategis Kementrian dalam rangka menyikapi perubahan iklim.

Lebih lagi lembaga-lembaga nasional dan internasional juga telah menyampaikan prakiraan iklim yang intinya meramalkan bahwa bulan basah akan terus terjadi hingga Maret 2011 (Arifin, 2010).

Namun, rekomendasi nampaknya hanya sekedar rekomendasi, dampak yang dikhawatrikan tetap saja terjadi. Meskipun sudah terlambat, pemerintah harus segera mengambil langkah antisipatif dan prefentif menghadapai fenomena alam yang berdampak pada masalah sosial dan ekonomi.

Strategi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim

Secara teknis upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim pada sektor pertanian memang tidak bisa secara instant dilakukan. Membutuhkan waktu yang cukup lama karena perlu dilakukan penelitian dan analisis yang mendalam, sehingga mustahil akan langsung dirasakan dampaknya pada 2011.

Nampaknya masyarakat tetap harus bersabar menghadapi lonjakan harga pangan yang masih akan berlangsung hingga pertengahan tahun ini. Namun demikian, pemerintah harus melakukan upaya untuk meminimalisir lonjakan harga pangan dengan melakukan operasi pasar meskipun mustahil dilakukan untuk komoditas cabai dan bawang merah.

Setidaknya jika harga beras bisa diturunkan dengan operasi pasar, maka inflasi bahan pangan juga akan bisa turun. Dalam jangka panjang, strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim pada sektor pertanian mutlak harus dengan mengedepankan sains dan teknologi, selain upaya penurunan emisi karbon dan GRK.

Dibutuhkan tanaman pangan yang bisa berdaptasi dengan perubahan iklim yang ekstrim dan hal itu membutuhkan investasi untuk R and D (research and development) yang cukup besar selain waktu yang cukup lama.

Di Indonesia, dana untuk R and D hanya Rp. 3 Trilyun atau sekitar 0,1 persen dari PDB. 13 kali lebih rendah dari China dan 7 kali lebih rendah dari negeri jiran Malaysia (Arifin, 2010). Sehingga inovasi khususnya bidang pertanian bisa dikatakan jarang terdengar.

Upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah pertama, meningkatkan alokasi fiskal untuk investasi dalam R and D khususnya untuk bidang pertanian. Dengan tingginya alokasi dan untuk R and D diharapkan akan menghasilkan inovasi komoditas pertanian yang bisa beradaptasi dengan perubahan iklim.

Kedua, pemberian insentif bagi sektor swasta untuk berinvestasi disektor pertanian komoditas pangan, serta melibatkan swasta dalam peningkatan R and D.

Ketiga, perencanaan perluasan lahan pertanian yang berkaitan dengan pengelolaan tata guna lahan yang sampai sekarang masih karut marut.

Dengan dilakukan strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, ancaman inflasi komoditas pangan akibat anomali cuaca pasti akan bisa teratasi. Tinggal bagaimana pemerintah secara melakukan secara serius atau tidak. Negara lain bisa mengapa Indonesia tidak?

Teguh Santoso
Jl. Jatikusuman I Demak
uss_rockk@yahoo.com
08562718131

(wwn/wwn)
Direktur Riset Infobank Eko B. Supriyanto mengatakan tekanan inflasi masih membayangi pertumbuhan ekonomi tahun depan, yang diperkirakan bisa mencapai 6,6 persen. Tapi, dalam skenario pesimistis, pertumbuhan masih bisa 6,3 persen. Pertumbuhan ekonomi banyak ditopang peningkatan investasi dan ekspor sehingga tidak bergantung pada sektor konsumsi semata.

“Inflasi masih menjadi bahaya laten tahun depan,” kata Eko dalam seminar Infobank Outlook 2011 di Jakarta pada Selasa lalu. Inflasi akan datang silih berganti. Pada Oktober lalu, inflasi mengarah ke 5,6 persen dan diprediksi plus-minus 5 persen pada akhir 2010. Adapun inflasi 2011 diprediksi plus-minus 6 persen. Pemicunya dari penawaran yang mengalami kendala distribusi.

Sumber : TEMPOINTERAKTIF.COM
Pembangunan Ekonomi RI Cenderung Menurun
Kamis, 9 Desember 2010 – 16:08 wib
R Ghita Intan Permatasari – Okezone

JAKARTA – Pembangunan ekonomi Indonesia sampai tahun 2005 ternyata jauh dari memuaskan. Hal ini berdasarkan analisa Indonesia Institute for Financial and Economic Advancement (IIFEA) terhadap pembangunan ekonomi periode 1995-2005.

Hal ini disampaikan Executive Director, IIFEA Anthony Budiawan, dalam acara “Potret Pembangunan Ekonomi Indonesia, Apakah Kita Sudah Berada di Jalur yang Benar untuk Menjadi Negara Maju?”, di Gedung Graha Niaga, Jakarta, Kamis (9/12/2010).

“Secara kualitas pembangunan ekonomi Indonesia bahkan cenderung menurun yang tercermin dari meningkatnya kesenjangan sosial dan masih melimpahnya jumlah rakyat miskin,” ungkapnya.

Di samping itu, sektor industri manufaktur mempunyai nilai yang tambah tinggi ternyata bisa dikatakan masih sangat lemah, serta mempunyai tingkat ketergantungan atas impor yang cukup tinggi.

“Peningkatan PDB per kapita tidak terefleksi pada peningkatan pendapatan rill masyarakat. Apabila tidak ada perubahan yang signifikan pada strategi pembangunan ekonomi Indonesia maka masa depan bangsa Indonesia, khususnya rakyat kecil, terlihat suram,” pungkasnya.(ade)

 

ekonomi pasar global 2011 … 080311 16 November 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:12 am

China’s 10% Growth Threatens Inflation of 10%: William Pesek
By William Pesek – Mar 7, 2011 2:00 PM PT
Bloomberg Opinion

If any generalization can be made about China-watchers, it’s that they are an optimistic bunch. They scour government data, energy-use tables and factory output, finding loads to smile about. China can grow 10 percent a year forever.

Events on the streets of Beijing offer a timely reality check. There, economists can find ample evidence that China may be approaching the limits of its ability to grow sustainably. Inflation is among the forces unnerving the masses, a phenomenon not unlike the one inspiring uprisings in the Middle East.

China is plenty spooked by a smattering of domestic protests. Clampdowns on the Internet and the foreign media have been relentless. Yet it’s the increasing focus of Premier Wen Jiabao on inflation that serves as a warning to those used to nothing but good news from China. Overheating risks are rising before our eyes.

The economy may be at a dangerous turning point, one where jumps in asset and consumer prices derail an impressive run. It doesn’t mean China is about to crash. It does mean that the time for taking its boom for granted is over.

China is run by some talented policy makers. The question is whether the side effects of years of explosive growth are mounting too fast to count. Among the challenges China must juggle: slowing growth, surging oil and food costs, hot money zooming its way from the West, a widening gap between rich and poor and demands for greater openness.

Inflation Surge

Inflation is the most immediate concern. Wen pledges to tackle it as surging food and housing prices spark public anger. China’s 4 percent inflation target for this year was probably exceeded by almost a percentage point in February, and a growing number of China’s 1.3 billion people aren’t happy about it.

For a Communist Party obsessed with social stability, inflation is a clear and present danger. And it’s not obvious that Chinese officials get that point. If they did, they would be telegraphing big increases in China’s currency at least to get a handle on inflation expectations.

Such a move isn’t afoot, at least not yet. Neither did Wen, in a speech last week, set any lending target for banks. That leaves officials rummaging through their administrative toolbox for options, of which there are few. More interest-rate increases are a given, yet China lacks a functional bond market to bring about the multiplier effect that makes monetary policy so potent at containing inflation.

China is in a tough and unprecedented place. It must balance the need to slow overheating risks, keep growth as close to 8 percent as possible to create jobs and rein in pollution.

Chinese Slums

For all the talk of five-year plans, China is making things up as it goes along. Its rise differs from Europe’s and the U.S.’s. Aside from scale, the internationalization of finance creates control problems with which western powers don’t have to contend. Easy-money policies from Washington to Frankfurt to Tokyo are boosting Chinese real-estate values. As they climb, slums are emerging in cities including Beijing and Shanghai. Migrant workers and cash-strapped urban youth are hard-pressed to find affordable places to live.

An undervalued yuan doesn’t help. China’s $2.8 trillion of currency reserves is the most striking side effect of its state- capitalism model. It amasses ever-growing piles of U.S. debt to maintain a competitive exchange rate. While successful for now, the policy has three negatives: it inflates the money supply, creates trade tensions and prolongs an addiction to exports.

Bad-Loan Crisis?

Rebalancing the domestic economy would be easier if the world economy were sound. A financial crisis prompted China to open the fiscal floodgates, starting in 2008 with a 4 trillion yuan ($609 billion) stimulus plan. In 2010, new loans exceeded a 7.5 trillion yuan ceiling.

What worries China skeptics is how things will play out when the proverbial music stops. The quality of growth matters as much as the pace. Massive investment is needed to sustain economic expansion, yet all too much of it is going to national champions whose returns might never materialize. Is China setting itself up for a bad-loan crisis?

No one can say for sure. Yet China’s growing inflation challenge complicates things. It means the gradualist approach favored in Beijing won’t work this time. The danger, say economists such as Glenn Maguire of Societe Generale SA in Hong Kong, is that inflation may rise as high as 10 percent by, say, the third quarter. That would cause households tremendous pain and fuel social discontent.

China has made it clear that it won’t tolerate the smallest of protests. It also is warning foreign journalists about covering these gatherings and blames reporters for causing trouble, not unlike leaders from Egypt to Libya. The latest chapter of the so-called Jasmine Revolution involves people showing their frustration by taking strolls in major Chinese cities on Sundays.

Blaming the media is rarely a promising sign. It suggests a government more concerned with spin than substance. China should redouble efforts to treat the underlying cause of the turmoil, not the symptoms.

China’s people want less inflation, more government accountability and greater egalitarianism. Its leaders want to blame the messengers. Not a good omen, as economic indicators go.
China’s budget should calm investors in three ways
MAR 7, 2011 16:43 EST

CHINA
By Wei Gu
The author is a Reuters Breakingviews columnist. The opinions expressed are her own.

HONG KONG — Chinese premier Wen Jiabao’s weekend “state of the union” speech should calm investors in three ways. Wen pledged that growth would become more sustainable thanks to a focus on social welfare.

Liquidity should be boosted by higher government spending. And if both fail to impress, record expenses on police and domestic surveillance should help contain the risks of dissatisfaction.

Investors’ worries about inflation, tightening and social tensions have left the Shanghai Composite Index flat for three months. Wen’s speech gave it a 2 percent boost on March 7. His 2011 budget targeted a few key numbers: 4 percent inflation, 7 percent income growth, and 10 million new affordable homes, all clearly aimed at keeping the masses happy.

The focus on welfare is sensible. Inequality adds to China’s political risks. Income disparity, as measured by the Gini Index, surpassed the warning level in 2007 and is worse than any developed economy, according to the World Bank. Income growth should also help China move from investment-dependency to consumption, a more stable form of economic growth.

Expansionary fiscal policy to finance social projects should keep GDP growth above 8 percent, and ensure enough liquidity to shore up asset prices. Central government fiscal expenditure in 2011 will rise by almost $1 trillion, or 13 percent, from 2010, versus a 10 percent increase in 2010. The Shanghai Composite tends to do well when public expenditure picks up.

Wen’s targets won’t be easy to hit. Income growth has persistently lagged GDP, trailing by 1.9 percentage points during 2006-2010, according to official data. Even if authorities turn that around, higher minimum wages may add to inflation and hurt employment. Meanwhile, the social housing plan looks too ambitious. China aims to start almost as many affordable homes in 2011 as in the previous five years put together.

That’s where security spending comes in. Spawned by unrest in Egypt and Libya, spending on police and domestic surveillance is set to jump 14 percent to new heights this year, outstripping the defence budget for the first time. That’s by no means good for those who would hope for democracy in China, but should soothe the nerves of those who just want a more stable financial return.
Ekonomi Dunia Tahun Ini Diperkirakan Bakal Lebih Sulit
SELASA, 18 JANUARI 2011 | 15:45 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Ekonomi dunia tahun ini diperkirakan lebih berisiko dibandingkan tahun sebelumnya. “Ekonomi Indonesia mendapat tantangan untuk mengatur arus dana masuk dan mengendalikan inflasi yang terus meningkat,” kata ekonom senior Deutsche Bank Taimur Baig di Jakarta, 18 Januari 2011.

Dunia akan disibukkan dengan harga komoditas seperti pangan dan minyak yang akan terus merangkak naik. Aliran dana dari negara asing yang keluar masuk negara berkembang serta menguatnya nilai tukar mata uang beberapa negara dunia akan menjadi tantangan baru.

Bank Indonesia dinilai akan kesulitan melakukan penyesuaian cadangan devisa dengan nilai tukar rupiah. Menguatnya rupiah justru akan menurunkan nilai cadangan devisa. BI juga harus mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan yang telah dipertahankan sebesar 6,5 persen dalam setahun terakhir. Taimur memperkirakan suku bunga acuan akan naik pada semester kedua 2011. Kenaikan diperkirakan mencapai 100 bps yang akan dilakukan dalam empat bulan, masing-masing 25 bps.

Adapun pemerintah diharapkan meningkatkan penyerapan anggaran dan meningkatkan belanja. Defisit anggaran tahun 2010 dinilai terlalu rendah, padahal Indonesia seharusnya bisa menggunakan dana untuk belanja lebih banyak. “Itu bukan kabar baik, karena pembangunan infrastruktur butuh banyak dana,” kata Taimur. Terutama, pembangunan infrastruktur daerah. Sebab penyerapan dana di daerah akan lebih rendah daripada di pusat.

Indonesia juga masih berisiko terkena krisis dari luar. “Indonesia lebih berisiko terkena daripada Cina dan India,” kata dia. Rasio utang Indonesia terhadap PDB yang relatif lebih rendah membuat risiko ini lebih dapat diatasi.

FAMEGA SYAVIRA
Asian stocks will next year offer “substantial” returns given the outlook for a recovery in the global economy and earnings growth, and as the U.S. takes steps to stimulate growth, according to Deutsche Bank AG.

The shares may rise 20 percent to 30 percent next year, Deutsche Bank strategists led by Ajay Kapur said in a report dated yesterday. They upgraded China to “market weight” from “underweight” and raised Thailand to “overweight” from “market weight.” The analysts cut Malaysia to “market weight” from “overweight.”

The U.S. central bank is meeting today after announcing last month a second round of debt buying through June under a policy known as quantitative easing to spur job growth and avoid deflation. Federal Reserve policy makers may signal that they are open to boosting debt purchases beyond the amount already announced.

“Don’t fight the Fed,” the Deutsche Bank strategists wrote. “The economic cycle is inflecting up.”

The MSCI Asia Pacific excluding Japan Index rose 0.4 percent to 470.64 as of 9:38 a.m. in Shanghai, extending its gains for the year to 13 percent.

The Deutsche strategists recommended cyclical industries in Asia including auto, retail, capital goods and transport, while saying investors should “underweight” technology hardware, utilities and food and beverage companies.

The U.S., Japanese and European central banks are relying on asset purchases to revive demand and are keeping their interest rates close to record lows.

Sumber : BLOOMBERG.COM
ADB Prediksi Ekonomi Asia Tumbuh 7,3% pada 2011
Headline
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Selasa, 7 Desember 2010 | 16:49 WIB

INILAH.COM, Hong Kong -Bank Pembangunan Asia memperkirakan pertumbuhan ekonomi 45 negara berkembang Asia pada 2011 tetap di level 7,3%, dari estimasi tahun ini di 8,6%.

Dalam sebuah laporan yang dirilis Selasa (7/12), lembaga Manila menaikkan perkiraan pertumbuhan untuk 45 negara berkembangan di Asia dan Pasific dari perkiraan 8,2% yang dibuat pada September.

Namun ADB menyatakan, tingkat ekspansi akan mudah pada 2011. Prospek ekonomi global melemah ditambah stimulus fiskal dan moneter yang keluar di kawasan ini berarti pertumbuhan ekonomi di daerah harus moderat tahun depan.

Sekitar 67 anggota ADB menggambarkan dirinya sebagai yang didedikasikan untuk mengurangi kemiskinan di Asia dan Pasifik melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif ramah lingkungan dan integrasi regional. ADB menyetujui dana US$16,10 miliar untuk operasi pembiayaan pada 2009.

ADB menyatakan, peningkatan pada 2010 sebagian besar karena pertumbuhan yang lebih cepat dari yang diperkirakan di RRC yang sekarang melihat ADB sebesar 10,1% pada 2010. Yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 9,6% pada September. ADB masih mengharapkan ekonomi RRC untuk naik 9,1% pada 2011.

Selain itu, pertumbuhan rata-rata di negara berkembang Asia Timur kemungkinan 7,3% pada 2011 setelah wilayah ini diperkirakan akan tumbuh 8,8% pada 2010. Head of ADB’s Office of Regional Economic Integration Iwan Aziz mengatakan, pemulihan berbentuk V telah menjalankan program di negara berkembang Asia Timur dan tantangan bagi wilayah ini untuk menempatkan kebijakan nasional yang akan menerjemahkan pemulihan cepat ke pertumbuhan jangka panjang. [ast]

November 29, 2010
The Age of Possibility
By ROGER COHEN

The fall of the Berlin Wall freed Europe, but its broader impact only became clear in the first decade of the 21st century. We didn’t see, in our giddiness, the other walls crumbling: say between Turkey, a NATO member, and Syria, then a Soviet ally, where at least 60,000 land mines once sealed the 540-mile border. Some $2 billion in trade now flows annually across a visa-free frontier. Satellites or former republics of the Soviet Union, like Bulgaria and Georgia, similarly discovered the Turkey next door. No longer the edge of the West, Turkey quietly turned itself into the hub of Eurasia.

An Africa consumed in Cold War days by the battle between U.S. and Soviet surrogates learned to look beyond those ideological walls, allowing not only some neighborly discoveries — South Africa and Mozambique — but also the development of China-Africa trade that has risen from $10 billion in 2000 to well over $100 billion today. Africa is expected to grow 5.2 percent in 2011, more than double the predicted U.S. or European performances. Coca-Cola’s chief executive has identified the continent as one of the company’s top investment priorities.

Such changes are part of the deeper and slower, but now visible, currents that flowed out from Berlin.

If the West was thrilled two decades ago to welcome a Europe whole and free, it’s much less happy today about a world where it’s more easily bypassed. The dour set menu of Cold War relationships has morphed into an extravagant à la carte offering. How about Peruvian-Indian fusion? America’s centrality has eroded; Europe has become politically marginal; Japan, the West’s honorary member, is just plain gloomy. “Where’s our leverage?” Western diplomats complain. Often, as in Iran, they have little.

Elsewhere, however, there’s excitement. Latin America, overcoming old reflexes and resentments, now trades with China and India, explores new opportunities in Africa, and hardly cares that the United States is too consumed by war and uncertainty to pay it much attention. “A more self-confident Latin America is not unhappy about U.S. distraction,” Luis Alberto Moreno, the president of the Inter-American Development Bank, told me. “It’s looking instead to Asia, whose interest in the region is huge. South-to-south cooperation thrives while Colombian and Panamanian free trade agreements with the United States are denied ratification.”

The essential global divide today is between a worried, depressed and disoriented West (where free trade is framed as loss of jobs) and the buoyant, questing and increasingly confident emergent world of nations like Brazil and Turkey and South Africa. The West suffers from a nagging feeling its time has passed; outside it many countries believe their time is now — or near.

Although there’s talk in the West of a new Age of Anxiety, the neurosis is in fact fairly narrowly confined. True, the unease lies in what is still by far the world’s largest economy — the United States — and is shared by the European Union. The problems there — of soaring deficits, high unemployment, aging baby-boomers and sporadic anti-immigrant anger — are intractable. Excess has given way to distress. Yummy money has dried up. But the vast bulk of the world’s population lives outside these enervated and overextended enclaves. For billions of human beings opportunity is expanding rather than contracting, if very unevenly. This is in fact the new Age of Possibility.

Times of such dramatic shift are dangerous. Consider Germany’s late 19th-century burst onto the European stage as a unified nation-state and the century of bloodshed and confrontation it took to resolve the German question. Consider the global upheavals that cemented America’s 20th-century rise and Britain’s imperial decline.

I don’t believe the power transition in progress today is any less dramatic. China is one vast construction site targeting full development by mid-century and dominance by 2100. It has already created phenom enal wealth. I was chatting last autumn with Eric de Rothschild, who runs Château Lafite-Rothschild, the superb Bordeaux winery. “I know people who bought cases of the 1982 and were looking forward to drinking it,” he told me. “Now, thanks to what the Chinese are ready to pay for it, they’re looking forward to buying an apartment with the proceeds.”

Call that global churn: new wealth replacing old. But churn is of course unsettling.

Middle-class Americans and Europeans watch fungible jobs disappearing to Guangzhou or Bangalore; they see the homes against which they borrowed vast sums declining in value; they work ever longer to maintain their living standards and offer their children the education the tech-friendly modern world demands; they perceive growing inequality and notice the rich alone getting richer; they wonder if basic social entitlements, like health care and pensions, will endure. They’re over-leveraged and, it seems, dispensable. In short they empathize with the figure in Edvard Munch’s painting “The Scream.” And so the search for the scapegoat begins and the political movements that identify scapegoats get going. The thriving Tea Party is an American movement but plenty of its brew is being consumed in the Europe of Geert Wilders.

Still, I’m not too worried. This heady early 21st-century transformation is being played out with a handful of distinctive ingredients that make me hopeful the violence that has typically attended such sweeping change can be avoided.

The first is the web of social networks that now span the globe. Half a billion Facebook users constitute some sort of insurance against disaggregation. The insurance may be too intangible to satisfy underwriters but it’s not negligible. Being in touch in ways that dissolve national borders makes it more difficult to be in large-scale violent conflict across fault lines.

The second is the American garrisons in Asia that, in the area of most rapid change, offset China’s rise and reassure other powers. Pax Americana is not yet defunct.

The third is U.S. war-weariness almost a decade on from 9/11: The period of American retrenchment inaugurated by President Barack Obama will endure for some time.

The fourth is the Chinese obsession with global stability. It is seen in Beijing as the sine qua non of the 9 percent annual growth that in turn sustains Communist Party rule. And the fifth is the deep interdependency of U.S.-Chinese ties, a relationship so important to each party that breakdown is almost inconceivable.

Significant stabilizing forces therefore exist as a new world comes into being. That’s why possibility is the paradigm. But my sense, even under Obama, is of an America more inclined to preserve the make-believe of its former sway than embrace the adjustments demanded by the rebalancing of global power. This attitude fans tensions.

All the world’s major institutions, from the United Nations to the International Monetary Fund, are still in need of reform reflecting a changed world order. The G-20, unsupported by any meaningful professional structure, is a step but an inadequate one. Currency volatility is causing increasing concern without any sign of agreement on how to address it.

Conventional U.S. thinking about the Middle East — the kind of thinking that views the new Turkey as insufficiently beholden to the West; or imagines that double standards like the wink to Israel’s nuclear arsenal go unnoticed; or holds that no segment of the large political movements that are Hezbollah and Hamas might be usefully engaged; or imagines that the “option” of bombing Iran is not a recipe for almost unimaginable disaster — is still in need of a shake-up, particularly on Capitol Hill.

As a result, Obama has been much less of a change agent than his initial speeches suggested. The wall through the Holy Land rebuffs hope. The American president resembles more and more a man unsure of his core convictions onto whom misplaced idealism was projected in a moment when the United States craved renewal.

Elsewhere, renewal is real. In Turkey, where growth will reach 7 percent this year, it’s palpable. A battle between the ardent secularism of Ataturk, the founder of the modern republic, and the mild Islamism of the ruling AKP party still rages, but on the whole I find that gratifying: Turkey’s mix of the two ideological currents is bracing and a reminder of how much nonsense is mouthed about Islam’s supposed incompatibility with modernity. Istanbul is perhaps the world’s best rebuke to disciples of a clash-of-civilizations worldview.

Even as Turkey’s soul is fought over, the nation’s new outlook seems clear. “Turkey’s geography is such that it does not accept East-West or North-South compartmentalization,” Ahmet Davutoglu, the foreign minister, told me in an interview. “We are in the West but also one of the main actors in Asia and the Middle East. We are trying for a normalization of history. The Cold War was an abnormality. The Iron Curtain was not only in Berlin but around us. So therefore we had no good relations with our neighbors.”

He continued: “And we see that in order to be influential in our region you have to have a new image and you have to speak from within, not impose anything.” Davutoglu is tired of what he sees as Western double standards: “When we are active in Afghanistan they are not saying that we are turning East. Afghanistan is further east than Iran. But in Afghanistan everyone is happy that we are in the East.”

The year 2011 will be the 10th anniversary of Al Qaeda’s devastating attack on the United States that left almost 3,000 people dead in New York and Washington. Contrary to fashionable opinion America did not invade Afghanistan — take up its “savage war of peace” — for nothing. Kipling’s lines, nearly 102 years after they were written, still resonate:

The ports ye shall not enter,

The roads ye shall not tread,

Go, make them with your living

And mark them with your dead.

The limits of U.S. power are now abundantly clear even as the way power will be shared, and to what end, in this still young century remains a matter unresolved; indeed a question scarcely broached by those — both apprehensive and ascendant — whom it will principally concern and involve.

Roger Cohen is The Globalist columnist for the International Herald Tribune. Cohen moved in August from New York to London.

Wells Fargo: Here Are Three Risks Heading Into 2011
The Pragmatic Capitalist | Nov. 18, 2010, 4:25 AM | 1,312 | comment 3

Like the majority of investors these days Wells Fargo is very bullish heading into the end of the year, however, they do see some risks developing as we move into the new year:

“We believe that real GDP growth will slowly strengthen over the course of 2011 in most major economies. Further deleveraging by households should continue to constrain growth in U.S. consumer spending, although the headwinds should become less intense as the year progresses. In Europe, fiscal tightening by many governments should keep overall rates of GDP growth in check next year. In contrast to their counterparts in the developing world, we project that most major central banks will maintain accommodative policy stances well into 2011. We do not foresee the Fed hiking rates until 2012, and most other major central banks likely will be on hold for the foreseeable future as well. Unless the euro area should flirt with outright recession again, which we do not expect, we believe that the European Central Bank will refrain from increasing the size of its modest QE program.

What could go wrong? In our view, there are a few credible downside risks to global GDP growth to keep in mind over the next year or so.

* First, central banks in developing economies could respond to higher inflation by excessive monetary tightening. Although we place a low probability on this eventuality, inflation rates in the developing world bear watching.
* Second, the sovereign debt crisis in the euro area has continued to simmer. Global credit conditions could tighten again if weaker-than-expected economic growth and/or higher-than-expected budget deficits in some affected economies unnerve investors.
* Finally, a “currency war” could turn into an outright trade war, which would be in no country’s interest.

Source: Wells Fargo

Read more: http://www.businessinsider.com/wells-fargo-here-are-three-risks-heading-into-2011-2010-11#ixzz16d3iP5CA

Selasa, 16 November 2010 | 07:01 oleh Barratut Taqiyyah, Bloomberg
OUTLOOK BURSA EROPA
Bursa saham Eropa diramal bullish oleh JPMorgan dan RBS

LONDON. Bursa saham Eropa diramal bakal bullish. Hal itu diungkapkan oleh JPMorgan Chase & Co, yang merekomendasikan beli saham-saham Eropa untuk 6 hingga 12 bulan ke depan. Sementara, Royal Bank of Scotland Group Plc memprediksi akan terjadi lonjakan pasar saham Eropa yang sangat kuat di 2011.

“Kami sangat bullish terhadap saham Eropa dalam jangka waktu 6-12 bulan ke depan,” jelas Mislav Matejka dan Emmanuel Cau, strategist JPMorgan dalam hasil riset yang dirilis kemarin. Sedangkan strategist RBS Ian Richards dan Graham Bishop di London meramal adanya kenaikan sebesar 20% pada bursa saham Eropa.

Asal tahu saja, indeks acuan Stoxx Europe 600 Index sudah naik sebesar 17% sejak Mei lalu. Kondisi ini terjadi seiring dengan langkah the Fed yang menggelontorkan stimulus untuk membeli aset-aset AS. Langkah tersebut bisa mengimbangi kecemasan akan kemampuan Yunani dan Irlandia dalam mengurangi defisit anggaran negaranya.

“Dalam jangka pendek, kita masih akan melihat bursa saham sebagai aset yang menawarkan reward paling baik. Bursa saham Eropa saat ini tengah berada di posisi perputaran naik, harga saham menanjak, dan relatif lebih murah ketimbang aset-aset lainnya,” jelas JPMorgan.
Selasa, 16 November 2010 | 08:01 oleh Barratut Taqiyyah, Bloomberg
OUTLOOK BURSA AS
Analis: Bursa AS berkemungkinan melonjak 15% dalam setahun ke depan

BOSTON. Kemarin malam, bursa AS ditutup terkoreksi. Kendati begitu, sejumlah analis memprediksi bakal ada lonjakan besar pada bursa AS ke depannya. Analis Legg Mason Inc Bill Miller, salah satunya.

Menurut Miller, bursa AS kemungkinan akan naik 15% dalam 12 bulan ke depan. Kondisi itu bisa terjadi seiring dengan upaya the Federal Reserve yang terus-terusan menggelontorkan stimulus untuk mendongkrak perekonomian.

“The Fed ingin pasar saham naik. Mereka akan melakukan apapun yang dibutuhkan untuk menstimulasi hal tersebut,” jelas Miller dalam hasil risetnya yang dikirimkan kepada sejumlah pemegang saham.

Sekadar mengingatkan, pada 3 November lalu, the Fed mengumumkan rencana pembelian surat utang negara oleh the Fed senilai US$ 600 miliar dalam aksi yang dikenal dengan quantitative easing. Kendati begitu, sejumlah investor dan ekonom juga mengkritisi langkah The Fed tersebut. Bahkan mereka meminta the Fed menunda penggelontoran stimulus karena dikhawatirkan akan memicu inflasi.

 

Owning Emerging Markets The Smart Way
Daniel Fisher, 12.06.10, 12:00 AM ET

Yum Brands is the quintessential American fast-food company, operating chains like Kentucky Fried Chicken, Pizza Hut and Taco Bell. It’s also a great emerging markets play. The Chinese love KFC–breakfast with the Colonel is a huge hit in Beijing. Pretax profits from the Louisville, Ky. firm’s Chinese operations exceeded those of the U.S. parent by 18% in the first nine months of this year. Yum’s Chinese profits are growing 30% annually. Restaurant margins hover around 24%, compared with 14.5% at home. China, in fact, is the engine that’s driven up Yum’s stock 44% this year.

Forget about buying shares in emerging markets companies and rolling the dice on their murky accounting and governance standards. Instead, consider tapping into the wealth being created abroad via big U.S. stocks like Yum (market cap: $24 billion), 3M ($62 billion) and Cummins ($19 billion).

“It’s a valid strategy and one we emphasize,” says UBS strategist Thomas Doerflinger.

At Cummins, international sales through September rose to 64% of the total, up ten points in a year. It’s seeing demand for mining gear and power plants in China, India and Brazil. President Thomas Linebarger noted on a recent analyst call that Cummins’ sales to China and Brazil each rose more than 70% in the third quarter, leading it to predict a 100% increase in earnings before interest and taxes to $1.6 billion.

Sales to Asia and Latin America have also surged at 3M to one-third of its 2010 total from 16% a dozen years ago. Sales in China have more than tripled since 2003 to $1.4 billion, and 3M expects them to hit $3.1 billion by 2014, driven by demand for auto and mobile phone parts and abrasives. The company has exceeded analyst estimates for four consecutive quarters.

“Emerging markets exposure is one of the main factors that is helping them beat their numbers,” says Doerflinger.

For the Standard & Poor’s 500 itself, emerging markets now account for 13% of earnings. (Europe adds another 17%.) Revenues at 28 of the largest S&P 500 multinationals rose at a 14% annual rate outside of North America in the six years through 2008, UBS estimates, versus 6.2% in North America.

Semiconductors are a leading U.S. export, but that can be misleading since chips often return home in cellphones and other gadgets. Qualcomm, for example, reports 94% of its sales are foreign; at Advanced Micro Devices it’s 87%.

“Semiconductor companies are shipping product to Asia, but it’s going into a box and coming back,” Doerflinger says.


In contrast, products of the basic-materials, industrial and technology companies in the table below are mostly consumed abroad. Corning glass for liquid crystal displays increasingly goes into TVs in India and China. At 9.4 times next year’s estimated earnings, Corning is cheaper than rivals like Sony (18 times) and Panasonic (16 times).

Tyco Electronics also reported 43% growth in Asian sales and 21% in Europe, the Middle East and Africa in the nine months through June, as sales in the U.S. fell. Even Google is increasingly international. Its U.S. revenue grew 5.2% to $11.2 billion last year, versus a 17% gain to $9.5 billion abroad (excluding the U.K.). Expect much more of the same as a new generation of consumers in places like Indonesia and Vietnam uses its smartphones to Google the nearest KFC for breakfast.