1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

bursa 2011 lebe baek, hope so 19 November 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 12:17 pm

DBS Indonesia: 2011, Bursa Masih Bullish
Derasnya arus modal yang masuk ke Tanah Air membuat saham masih menjadi pilihan.
Kamis, 16 Desember 2010, 15:21 WIB

Hadi Suprapto, Syahid Latif

VIVAnews – Direktur Manajemen Risiko Kredit PT Bank DBS Indonesia, Birman Prabowo, menilai investasi saham pada tahun depan masih menarik.

Derasnya arus modal yang masuk ke Tanah Air membuat saham masih menjadi pilihan. “Saham masih akan bullish,” kata Birman kepada VIVAnews.com di Wisma Nusantara, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis, 16 Desember 2010.

Menurut Birman, derasnya arus modal terjadi karena investor memandang Indonesia masih menjadi alternatif investasi. Investor melihat, pasar modal Indonesia lebih tahan terhadap krisis global dibandingkan negara lain.

Faktor pendukung lainnya adalah tingkat suku bunga. Birman memperkirakan tahun depan masih terjadi kenaikan suku bunga, sehingga indeks saham pun masih berpotensi naik.

Birman memperkirakan investasi saham komoditas mineral dan agribisnis masih menjadi pilihan. Selain itu, saham produk-produk kebutuhan dasar juga masih menggiurkan.

Sebagai catatan, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2010 terus menunjukkan kenaikan. Pada penutupan perdagangan bursa 2009, indeks saham ditutup pada level 2.530,92. Pada penutupan perdagangan siang ini, IHSG ditutup pada level 3.576. Artinya, belum genap setahun IHSG telah naik lebih dari 1.000 poin.

Sedangkan investasi valuta asing, Birman memperkirakan masih memiliki potensi tekanan. Sebab, kondisi ekonomi global, khususnya di Amerika Serikat dan Eropa, belum stabil. Hal ini menyebabkan nilai tukar mata uang, terutama dolar AS tetap bergejolak.

Investasi dalam bentuk emas juga masih menarik. “Karena komoditas emas masih menjadi patokan,” ujar Birman.

• VIVAnews

Korelasi Transaksi Asing Terhadap IHSG
Rabu, 15 Desember 2010 – 08:34 wib

SETELAH tembus level 3.700-an pada 9 November 2010, pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) seakan sulit melanjutkan penguatannya dan selalu cenderung terkoreksi.

Ini membuat semua profit di hari-hari sebelumnya kembali tergerus atau bahkan hilang. Bahkan, di akhir bulan lalu IHSG sempat menyentuh titik terendahnya, di level 3.530-an, setelah sejumlah sentimen negatif kembali melanda bursa saham. Beragamnya sentimen,baik dari dalam maupun luar negeri,diperkirakan menjadi penyebab utama fluktuasi IHSG. Dari luar negeri, seperti data-data ekonomi AS, masalah krisis utang di Irlandia, masalah inflasi dan suku bunga di China, hingga konflik di semenanjung Korea yang kembali meningkatkan risiko investasi di negaranegara berkembang.

Sedangkan sentimen dari dalam negeri juga cukup beragam, seperti ramainya penawaran umum (initial public offering/IPO) emitenemiten baru,kisruh hasil IPO saham Krakatau Steel Tbk (KRAS),hingga aksi korporasi spektakuler dari beberapa emiten lama, seperti aksi akuisisi Bumi Resources Tbk (BUMI) terhadap Vallar Plc dan penerbitan saham baru (rights issue) Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang mencapai Rp10,4 Triliun.

Meski prospek fundamental ekonomi Indonesia dan kinerja mayoritas emiten saham Bursa Efek Indonesia (BEI) masih positif,IHSG masih ragu untuk melaju lebih tinggi menjelang akhir tahun. Bahkan,transaksi asing akhir-akhir ini yang dianggap paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Memang berdasarkan data statistik Bapepam per Oktober 2010, porsi kepemilikan asing di saham ternyata lebih dominan dibanding lokal hingga mencapai 62,38 persen.

Namun, apakah dominasi tersebut pasti menentukan pergerakan IHSG? Jawabannya, belum tentu. Besar kecilnya pengaruh transaksi asing tercermin dari nilai transaksi bersihnya.Misalnya, jika asing banyak melakukan aksi beli dibanding aksi jual, maka asing dikatakan melakukan transaksi bersih beli (net foreign buy).Demikian sebaliknya,jika banyak melakukan transaksi jual dibanding transaksi beli,maka asing dikatakan melakukan transaksi bersih jual (net foreign sell).

Selanjutnya adalah melihat ada tidaknya hubungan antara nilai transaksi bersih asing terhadap pergerakan IHSG. Misalnya, jika asing tercatat melakukan transaksi pembelian bersih, maka IHSG cenderung menguat, dan sebaliknya. Untuk menjawabnya, diperlukan alat ukur untuk menentukan apakah transaksi asing itu benar-benar mempengaruhi IHSG atau tidak,yaitu korelasi. Umumnya, korelasi diartikan sebagai besaran yang mencerminkan kuat lemahnya hubungan pergerakan dari dua variabel.Kedua variabel tersebut, yaitu nilai transaksi bersih asing dan pergerakan IHSG.

Jika keduanya sama-sama bergerak naik, maka dikatakan berkorelasi positif. Sedangkan jika nilai transaksi bersih asing meningkat,sedangkan IHSG menurun, maka dikatakan berkorelasi negatif. Dalam tulisan ini,korelasi yang digunakan adalah korelasi dari delta (perubahan) antara nilai transaksi asing terhadap IHSG. Delta adalah selisih antara data hari ini dengan data hari sebelumnya.Jika angka korelasi lebih besar dari 50 persen,maka kedua variabel tersebut dikatakan berkorelasi tinggi (kuat), dan sebaliknya.

Selain itu, penulis juga menghitung korelasi untuk dua periode asumsi, yaitu T+0 dan T+1. Periode T+0 mengasumsikan pengaruh transaksi asing terjadi di hari yang sama. Misalnya, hari ini asing melakukan net buy, maka IHSG juga berpeluang ditutup positif hari ini. Sedangkan periode T+1 mengasumsikan pengaruh transaksi asing terjadi di hari berikutnya. Misalnya, jika hari ini asing melakukan net buy, maka besok IHSG akan berpotensi naik.

Untuk membuktikannya, penulis menggunakan periode data harian sejak akhir Desember 2008 hingga 24 November 2010.Alasan penulis menggunakan nilai transaksi bersih bukan lembar saham adalah asumsi bahwa pergerakan IHSG dipengaruhi oleh pergerakan harga saham-saham yang berkapitalisasi besar.Jadi,jika sahamsaham tersebut terkoreksi, maka IHSG juga cenderung terkoreksi. Dari pengamatan tersebut, terlihat bahwa korelasi nilai transaksi bersih asing terhadap IHSG untuk periode T+0 ternyata cukup lemah, yaitu 33,47 persen atau masih di bawah 50 persen.

besar kecilnya transaksi asing yang terjadi setiap hari tidak berpengaruh kuat terhadap pergerakan IHSG

Ini menunjukkan bahwa besar kecilnya transaksi asing yang terjadi setiap hari tidak berpengaruh kuat terhadap pergerakan IHSG. Artinya, jika hari ini asing tercatat melakukan net buy,IHSG belum tentu akan ditutup menguat. Dengan kata lain, 66,53 persen pergerakan IHSG dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar transaksi asing. Begitu juga dengan korelasi nilai transaksi bersih asing terhadap IHSG untuk periode T+1 yang semakin menurun menjadi 6,16 persen.

Hal ini menunjukkan secara tidak langsung bahwa nilai transaksi asing sebenarnya bukanlah acuan untuk menentukan apakah IHSG akan berpeluang menguat atau terkoreksi. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan bahwa investor lokal lebih berpengaruh pada pergerakan IHSG karena lebih aktif bertransaksi. Meski mendominasi kepemilikan saham, asing belum tentu aktif bertransaksi di bursa atau lebih berorientasi pada investasi jangka panjang.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa pergerakan IHSG sebenarnya tidak banyak dipengaruhi oleh transaksi bersih asing namun bisa disebabkan oleh berbagai faktor lain. Salah satunya, lebih aktifnya transaksi investor lokal dibanding transaksi asing. Jadi, sangat kurang bijak rasanya jika investor lokal cenderung mengekor investor asing demi sebuah keuntungan. Selamat berinvestasi!

bagaimana membaca metode penelitian sederhana ini? menurut gw: asumsi penelitian tersebut BISA DIPERLUAS dan DIPERDALAM, misalnya diperluas dengan mengkalkulasi juga PENGARUH FAKTOR INVESTOR INSTITUSI LOKAL, tren Rupiah, tren suku bunga kredit, dst … diperdalam misalnya dengan MEMPERPANJANG PERIODE PENELITIAN, misalnya hingga 1996 (setaon sebelum krismon)  … WELL, UNTUK AWAL, oke-lah 🙂

THEODORUS P PUTRANTYO
Analis Infovesta

(Koran SI/Koran SI/wdi)

Target IHSG 5000: Dari mana asalnya?

December 14th, 2010 satrio

Selamat siang…

Bagi anda yang sudah agak lama kenal saya (mengikuti ulasan saya melalui weblog http://www.rencanatrading.com), anda pasti sudah familier dengan grafik yang pernah saya sebut sebagai ‘Skenario Naga‘ yang saya publikasikan di bulan Juni lalu:

Dibalik gambar Naga tersebut, grafik pergerakan IHSGnya adalah sebagai berikut (maaf…hanya bisa di akses pada Member Area):

Terlepas adanya fakta bahwa ‘koreksi kedua’ yang ada dalam prediksi tersebut, ternyata tidak sebesar yang saya perkirakan (terima kasih kepada JCRA yang telah melakukan upgrade credit rating Indonesia menjadi investment grade), outlook tersebut sebenarnya adalah outlook yang masih saya pegang hingga saat ini. Mungkin anda juga sudah sering membaca dalam ulasan saya, bahwa saya memprediksikan IHSG akan mencapai kisaran 4400 – 5000 dalam waktu 1 – 2 tahun (semenjak Juni 2010 lalu).

Pertanyaannya sekarang adalah: Apakah IHSG akan mencapai 5000 tahun depan? Apakah IHSG sudah bisa mencapai 5000 ‘hanya’ dalam 1 tahun (bukan 2 tahun yang merupakan batas waktu terpanjang dalam prediksi saya itu)?

Belakangan sih… kita juga sudah mendengar. Banyak analis-analis yang memprediksikan bahwa IHSG akan mencapai level 5000. Kalau alasan teknikalnya, anda mungkin sudah bisa melihat pada chart di atas (atau nanti saya akan perlihatkan satu chart teknikal lagi yang dipakai orang sebagai dasar untuk memprediksikan IHSG ke 5000). Akan tetapi, saya mau sedikit share.. bagaimana para analis ‘menemukan’ target IHSG 5000 tersebut.

Fundamentalnya masih belum ‘ngejar’
Salah satu cara yang digunakan oleh analis fundamental dalam menentukan target IHSG, adalah dengan menggunakan pendekatan bottom-up (dari bawah ke atas). Para analis menghitung valuasi dari beberapa saham dan setelah itu kapitalisasinya dijumlahkan, kemudian hasil penjumlahannya, dibandingkan dengan kapitalisasi saham terakhir. Dari potensial kenaikan atau penurunannya, para analis tersebut kemudian menentukan target IHSG untuk masa yang akan datang. Untuk jelasnya bisa dilihat dari tabel di bawah ini:

Dengan potensi kenaikan sebesar 12.63% dari posisi IHSG pada 26 November lalu di 3642, maka itu berarti IHSG masih memiliki potensi kenaikan hingga 4102 untuk 12 bulan kedepan. Sebagai tambahan (karena data tersebut adalah data akhir November yang saya gunakan untuk presentasi dalam Market Outlook 2011), target IHSG konsensus untuk per hari ini sudah berada di kisaran 4200 – 4250. Tetap saja jauh dari level 5000 yang digembar-gemborkan sebagai target IHSG untuk 2011.

Lah.. kok hanya 4100 – 4250? Tadi katanya IHSG tahun depan bisa 5000. Dari mana asalnya?

Alasannya: IHSG 5000 = P/E IHSG 18x hingga 20x

Cerita yang paling banyak ‘dijual’, atau sentimen positif yang paling sering diharapkan bisa menjadi pendorong IHSG menuju ke level 5000 adalah masuknya surat hutang Indonesia kedalam investment grade dari lembaga pemeringkat dunia: Fitch, S&P, dan Moody. Masuknya Indonesia ke dalam investment grade akan berarti masuknya pula dana asing. Nah… masuknya dana asing inilah yang kemudian akan membuat harga naik hingga Price to Earning Ratio (P/E) IHSG bisa mencapai angka 18 kali hingga 20 kali. Sebagai informasi, EPS konsensus untuk tahun 2011, berada di kisaran sekitar level Rp 250, naik 25% dari EPS konsensus di tahun 2010 yang berkisar pada angka Rp 190 – Rp 200. Dari mana asalnya angka ‘P/E 18 kali hingga 20 kali’ ini? Saya melihat kebelakang, ternyata angka tersebut berasal dari angka P/E IHSG pada tahun 1994 – 1996. Tepat sebelum Krisis Moneter.

IHSG 5000 secara analisis teknikal

Cara lain untuk menyatakan bahwa IHSG bisa mencapai level 5000 (bahkan 5500 – 5600) untuk tahun depan.  Cara yang pertama mungkin anda sudah lihat di awal dari tulisan ini.  Tapi, jika anda adalah pembaca dari buku tulisan saya, anda pasti sudah melihat cara untuk mencari resisten ketika harga mencapai rekor harga baru, adalah dengan menggunakan retracement 161.8%, dan retracement 261.8% dari swing harga terakhir yang sebelum penembusan rekor.   Gambarnya seperti berikut ini:

Dari gambar diatas dapat dilihat, bahwa retracement 161.8% dari swing 2008, ada di level 3900-4000.  Sedangkan.. jika ternyata resisten dari retracement 161.8% ditembus, maka resisten selanjutnya ada di sekitar 5600-5700.  Jadi.. tidak perlu penghitungan yang rumit bukan untuk mengetahui target IHSG di 5600?

Jadi… Apakah IHSG bakal 5000 tahun depan (2011)?

Hehehe… saya belum menjawab pertanyaan ini ya?  Saya memang biasanya menghindari untuk menjawab karena saya sebenarnya juga masih belum terlalu yakin.  Untuk menjadi yakin, saya biasanya harus menemukan alasan fundamentalnya dulu.  Dan alasan P/E bisa mencapai 20 kali, itu masih kurang kuat (kalau menurut saya).  Biasanya, valuasinya memang harus ngejar dulu.  Valuasinya harus confirm dulu, sebelum kita bisa yakin bahwa IHSG bisa mencapai level 5000 tersebut.  Akan tetapi, ini bukan berarti saya bearish.  Karena secara fundamental sudah confirmed…

saya melihat peluang bahwa IHSG bisa mencapai kisaran 4100 – 4200 pada kuartal pertama 2011 (1Q2011) atau setidaknya untuk paruh pertama 2011 (1H2011)..

Cuman.. berapa titik tertinggi IHSG di 2011? Kita lihat deh…   Saya mau nunggu sampai laporan keuangan 1Q2011 keluar.  Karena itu akan sangat menentukan.  Keraguan saya untuk IHSG 5000 juga karena saya terpengaruh sama data di bawah ini:

Negara-negara tersebut adalah negara-negara di sekitar kita, atau negara-negara yang kira-kira sebanding dengan kita.  Kalau IHSG memang mau ngejar P/E dari India… berarti target IHSG 5000 di tahun 2011 masih bisa tercapai.  Tapi, bukankah itu berarti Brazil masih jauh lebih murah dari Indonesia? Atau… bagaimana dengan Malaysia, Thailand dan Singapore yang expected P/E tahun depan masih berkisar pada angka 14.5 – 16 kali?

IHSG mungkin memang bisa 5000 tahun depan.  Tapi jalan menuju 5000, bukanlah jalan yang mudah.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Traders Trainer, Market Analyst, Peminat Analisis Teknikal

Bekerja sebagai Head of Research di PT Universal Broker Indonesia.

Penulis buku ‘Membuat perencanaan trading dengan menggunakan suport, resisten, trend, dan FIBONACCI RETRACEMENT

blog pribadi: www.rencanatrading.com

Indeks 2011 diyakini tembus 4.000
Oleh Gita Arwana Cakti | 08 December 2010
bisnis

JAKARTA: Sejumlah analis menyatakan optimistis indek harga saham gabungan (IHSG) pada 2011 bisa menembus kisaran level 4.000.

Analis Valbury Asia Futures Nico Omer Jonckhere memprediksi IHSG akan naik sekitar 15%-20% mencapai level 4.200 – 4.500. Laporan keuangan akhir tahun emiten yang diprediksi memeroleh peningkatan laba rata-rata 20% menjadi salah satu sentimen positif yang memengaruhi pergerakan indeks tahun depan.

“2011, earning per share per perusahaan kan diperkirakan naik 20%. Ini berpengaruh pada indeks dan sepertinya peningkatan indeks juga sekitar 15%-20%,” ujarnya, tadi malam.

Selain itu, prediksi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang bisa kembali ke kisaran Rp8.800 – Rp8.900 menjadi sentimen positif lainnya. Rencana moody’s untuk meningkatkan peringkat Indonesia menjadi investment grade dan perkiraan pergerakan indeks bursa global yang masih datar juga menjadi pengaruh besar bagi pergerakan indeks dan menarik investor asing untuk berinvestasi di Indonesia.

“Untuk bursa global justru sepertinya tidak banyak tumbuh. Dan Indonesia kan sudah hampir dipastikan naik menjadi investment grade. Ini pengaruhnya sangat besar dan bisa menarik investor masuk ke Indonesia,” jelasnya.

Adapun kekhawatiran menaiknya tingkat inflasi di Indonesia dan berpengaruh kepada tingkat suku bunga acuan (BI rate), Nico menilai hal tersebut seharusnya tidak menjadi kekhawatiran yang besar.

“Karena BI rate di 6,5% itu sudah cukup rendah sebenarnya. Jadi kalaupun inflasi naik dan BI rate naik menjadi 7% sebenarnya tidak perlu khawatir berlebihan. Itu masih mendukung perseroan, karena Indonesia biasa dengan suku bunga yang tinggi,” tambahnya.

Sebelumnya, Direktur PT Schroder Investment Management Indonesia Michael Tjandra Tjoajadi juga berharap IHSG bisa tumbuh 20% pada 2011.

Sebagai negara berkembang (emerging market), lanjutnya, Indonesia berpotensi untuk menerima aliran dana asing. Namun, hal tersebut harus diimbangi dengan penambahan perusahaan terbuka serta peningkatan pendidikan masyarakat Indonesia terkait pasar modal.

Michael mengatakan setidaknya ada tiga hal yang dilihat oleh investor untuk berinvestasi di suatu negara, yakni regulasi, infrastruktur, dan kebijakan moneter dan fiskal. Dengan kondisi Amerika dan Eropa yang kurang baik, negara berkembang menjadi alternatif investor untuk berinvestasi.

Adapun untuk sektor saham yang masih berpotensi meningkat pada tahun depan adalah sektor komoditas seiring dengan peningkatan harga komoditas. Serta sektor perbankan dan properti seiring dengan suku bunga yang diprediksi tidak akan naik banyak. (bsi)

Rabu, 08 Desember 2010 | 14:10 oleh Barratut Taqiyyah, Bloomberg kontan
OUTLOOK IHSG
BNP Paribas: Bursa Indonesia bakal terbang 20% dalam setahun

JAKARTA. Bursa saham Indonesia diprediksi bisa naik 20% hanya dalam kurun waktu setahun. Menurut BNP Paribas, hal ini sangat mungkin terjadi seiring adanya kemungkinan kenaikan peringkat kredit atau utang Indonesia.

“Adanya pemberian rating ulang mengenai tingkat utang Indonesia akan berdampak luas mulai dari struktur suku bunga acuan, mata uang, investasi, harga aset, dan valuasi,” jelas Elvira Tjandrawinata dalam laporan yang dirilis hari ini. BNP menetapkan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam 12 bulan ke depan mencapai 4.500. Saham-saham yang direkomendasikan antara lain PT Astra International (ASII) dan PT Bank Mandiri.

Asal tahu saja, sepanjang tahun ini, indeks sudah naik 48% yang didongkrak oleh cepatnya pertumbuhan ekonomi dan rendahnya suku bunga acuan. Tak heran IHSG menjadi pasar saham terbaik di antara 10 pasar besar di Asia.

Sekadar mengingatkan, beberapa waktu lalu Moody’s Investor Service sedang meninjau ulang peringkat surat utang luar negeri. Dalam siaran persnya, Moody’s kemungkinan menaikkan peringkat surat utang luar negeri. Sebelumnya, Moody’s telah menetapkan peringkat surat utang Indonesia di level Ba2, dua level dibawah peringkat Investment Grade.

Inilah Tantangan Bursa Indonesia ke Depan
Headline

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Minggu, 5 Desember 2010 | 14:39 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Bursa saham Indonesia memiliki tantangan tidak mudah ke depan seperti menambah jumlah investor dan perusahaan untuk go public.

Hal itu disampaikan Direktur PT Schroder Invesment Indonesia Michael Tjoajadi menuturkan, Jumat (3/12) lalu. Michael mengatakan, saat ini jumlah emiten Indonesia yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya sekitar 421 semiten sedangkan negara lain seperti India mencapai 6.000 emiten. Tantangan bagi bursa untuk menambah perusahaan besar dan small enterprise seperti usaha kecil menengah.

“Tantangan bagi bursa untuk melihat small enterprise atau usaha kecil menengah. Usaha ini dapat go public tapi yang harus dilihat revenuenya. Apa karena culture dan persepsi membuat small enterprise tidak bisa go public,” ujar Michael.

Lebih lanjut ia mengatakan, dengan jumlah emiten yang banyak tercatat di bursa juga dapat membuat pasar lebih likuid. Selain itu, bursa saham juga diharapkan dapat menambah jumlah investor yang berkualitas. Michael menuturkan, investor cenderung mengikuti pergerakan asing dalam bertransaksi. Jumlah rekening efek investor pun masih sekitar kurang lebih 300 ribuan. Sehingga jumlah investor masih belum besar dibandingkan dari jumlah penduduk Indonesia.

Michael menambahkan, ASEAN Free Trade pada 2014 dengan adanya integrasi bursa juga akan menjadi tantangan bursa ke depan. Selain itu, Michael mengatakan, hukuman terhadap pelaku pasar modal yang melakukan penipuan di pasar modal pun dinilai masih terlalu ringan. “Punishment terhadap kejahatan di pasar modal masih ringan,” tegas Michael.

Terkait ekonomi global pada 2011, Michael mengatakan, dana asing masih akan masuk ke Indonesia hingga 2011. Kebijakan moneter Amerika Serikat dengan melakukan quantative easing membuat orang tidak menaruh deposito tetapi akan membelanjakan uang dan berinvestasi. Masyarakat pun bisa investasi ke seluruh dunia dengan investasi ke tempat dengan pertumbuhan ekonomi dan keuntungan tinggi. “”Orang akan investasi ke negara yang pertumbuhan ekonomi dan keuntungan tinggi di emerging market,” ujar Michael.

Pertumbuhan ekonomi emerging market akan tumbuh lebih besar dibandingkan negara maju. Michael menuturkan, Indonesia dan Vietnam akan menjadi pilihan untuk berinvestasi. Indonesia dan Vietnam dinilai memiliki regulasi, infrastruktur serta kebijakan moneter dan fiskal yang cenderung baik. Dana asing terbesar masuk ke obligasi.

“Orang akan menyimpan dana dalam jangka panjang di Indonesia dengan catatan negara tersebut dapat menjaga infrastruktur, pertumbuhan ekonono Indonesia cukup stabil menjadi kesempatan bagi investor, ” tambah Michael. [hid]
Minggu, 28/11/2010 18:02 WIB
IHSG Bakal Sentuh Level 5.600 di Tahun Depan
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Indonesia masih dianggap menjadi tempat yang nyaman berinvestasi untuk tahun 2011 nanti. Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan terus merayap naik bahkan bisa menyentuh level 5.600.

Pada awal tahun 2010, level IHSG berada di kisaran 2.533,95. Menjelang berakhirnya bulan November 2010, IHSG telah melesat menjadi 3.741,23 dan
tercatat sebagai indeks bursa saham dengan pertumbuhan tertinggi di kawasan regional (47,6%). Lalu bagaimana menatap IHSG di tahun 2011?

Sebagaian analis pasar modal menyatakan optimismenya tentang laju IHSG tahun depan. Head of Technical Analyst PT Batavia Prosperindo Sekuritas,
Billy Budiman menyatakan IHSG bisa menembus level 5.600 tahun depan, atau naik 43,58% dari perkiraan penutupan indeks di akhir 2010 sebesar 3.900.

Billy dalam risetnya, seperti dikutip detikFinance di Jakarta, Minggu (28/11/2010), menyebut tren indeks di tahun depan seperti halnya ‘Dejavu’
tahun 2006-2007. Dimana, laju IHSG akan ditopang oleh saham-saham sektor pertambangan dan CPO.

“Harga CPO diprediksi akan menguat seiring naiknya inflasi dunia dan juga harga beberapa metal serta coal (batubara) turut diekspektasikan akan
meningkat tahun depan,” ungkapnya.

Berdasarkan analis teknikal dengan menggunakan fibonacci retracement, level IHSG berada di level 5.600. Angka ini ditarik dari posisi terendah pada
Oktober 2008 dengan posisi tertinggi di Januari 2008, maka didapat fibonacci 261,8%.

Pengurangan pada indeks 2.838 (posisi tertinggi) dengan 1.089 (posisi terendah), menghasilkan level baru 1.749. Kemudian dikalikan 161 ditemukan
hasil 2.830. Hasil terakhir dijumlahkan dengan capaian indeks tertinggi sebesar 2.838, dan hasilnya adalah 5.668.

Penggerak IHSG tahun depan tetap didominasi oleh saham sektor komoditas, diantaranya batubara, metal, CPO. Kemudian juga ada saham-saham konsumer dan otomotif.

Laju IHSG yang demikian tinggi memang dipahami sebagai dampak dari masih derasnya aliran modal asing (capital inflow) ke Indonesia. Dengan dukungan
fundamental ekonomi yang terjaga, menjadikan arus modal asing terus masuk ke berbagai instrumen investasi, seperti Surat Utang Negara (SUN), Sertifikat
Bank Indonesia (SBI) juga bursa saham.

Pandangan lain datang dari Analis dari Vibiz Consulting, Alfred Pakasi. Meski sepakat IHSG akan terus meningkat di tahun depan, namun pergerakaanya
hanya sampai level 4.500-5.000. Menurut Alfred, dengan dukungan saham komoditas dan pergerakan inflasi serta suku bunga Bank Indonesia (BI rate) yang stabil, membawa IHSG tumbuh konservatif 25% pada tahun 2011.

“Penggerak ekonomi di IHSG ditopang oleh saham infrastruktur, konsumer dan properti. Dengan semakin banyaknya IPO (pencatatan saham perdana), khususnya
dari BUMN (Badan Usaha Milik Negara) menjadi pemicu pertumbuhan indeks antara 4.500-5.000 tahun depan,” ucap Alfred dalam outlook-nya.

Pada tahun depan, ekonomi dunia utamanya Amerika Serikat diprediksi mulai pulih, yang bisa menjadi catatan. Pasalnya, sebagaian modal akan kembali ke
AS meskipun tidak sekaligus.

“Hot money sebagai akan tertahan karena yield (imbal hasil) yang lebih menarik dan dana terserao di pasar modal. Foreign Direct Investment (FDI) ke sektor riil meningkat dan memberi kekuatan pada industri dan infrastruktur,” tambahnya.

Dengan wacana BUMN yang masuk pasar modal, dengan mencatatkan saham perdananya (IPO), diharapkan semakin memperbesar kenaikan IHSG ke depan.
Sampai triwulan III-2010 saja ada 16 BUMN listed telah menyumbang 29,5% dari kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan nilai Rp 803
triliun.

(wep/hen)
Terbaik di Asia, Bursa Indonesia Naik Kelas
Indeks harga saham gabungan (IHSG) bursa Indonesia telah melesat 48,22 persen. Fantastis!
Jum’at, 19 November 2010, 00:09 WIB
Arinto Tri Wibowo

VIVAnews – Sepanjang Januari hingga pertengahan November 2010, bursa saham Indonesia menunjukkan kinerja terbaik di kawasan Asia. Sejak awal tahun hingga 15 November 2010, berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), indeks harga saham gabungan (IHSG) telah tumbuh 44,28.

Pada akhir 2009, IHSG berada di level 2.534,36, sedangkan per 15 November 2010, indeks harga saham gabungan berada di posisi 3.656,46. Bahkan, bila mengacu posisi tertinggi IHSG sepanjang sejarah, yakni pada 10 November 2010 yang berada di level 3.756, indeks telah melesat 48,22 persen. Fantastis!

Meski demikian, bila dibandingkan kinerja tahun lalu, pertumbuhan IHSG masih jauh dibanding penguatan selama 2009 yang mencapai 86,98 persen. Dengan pertumbuhan tersebut, IHSG tahun lalu menempati kinerja terbaik kedua setelah bursa Shenzhen, China.

“Tahun lalu, memang luar biasa kenaikannya, karena 2008 juga turun tajam,” kata Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Wan Wei Yiong kepada VIVAnews.com di Jakarta, Kamis 18 November 2010.

Namun, Yiong mengakui, untuk mencapai pertumbuhan setinggi 2009 cukup berat. “Agak sulit,” ujarnya. Pertimbangannya, sisa waktu hingga akhir 2010 tinggal 1,5 bulan lagi.

“Tapi, kami memang tidak bisa memprediksi, karena biasanya analis yang bisa melakukan itu,” tuturnya.

Kendati demikian, Yiong optimistis bursa saham Indonesia dapat mempertahankan kinerja terbaik di kawasan Asia tahun ini. Bahkan, kemungkinan bisa naik kelas menjadi nomor satu mengalahkan bursa Shenzen yang memegang rekor tahun lalu. “Mudah-mudahan,” tuturnya.

Berdasarkan data, lonjakan pertumbuhan IHSG tahun ini mengalahkan indeks saham di Bursa Malaysia yang meningkat 17,97 persen. Pada akhir Desember 2009, Kuala Lumpur Composite Index (KLCI) berada di posisi 1.272,78, sedangkan per 15 November 2010 di posisi 1.501,56.

Pertumbuhan IHSG tersebut juga melampaui indeks bursa saham Korea. Indeks Kospi di Korea naik 13,73 persen menjadi 1.913,81 dibanding posisi akhir tahun lalu 1.682,77.

Sementara itu, di bursa Singapura, indeks Straits Times tahun ini naik 11,71 persen dari 2.897,62 per akhir tahun lalu menjadi 3.236,8 pada 15 November 2010.

Indeks bursa Shenzhen yang tahun lalu memuncaki pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 108,21 persen, per pertengahan November masih terpuruk di peringkat kelima dengan kenaikan 10,54 persen. Akhir tahun lalu, indeks bursa Shenzhen berada di level 1.201,34 sebelum ditutup pada 1.327,99 per 15 November 2010.

Ketua Bapepam-LK, Fuad Rahmany mengatakan, kenaikan IHSG tersebut di antaranya tertopang potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan mencapai enam persen pada akhir 2010.

Sementara itu, pada 2011, pertumbuhan ekonomi diperkirakan mampu tumbuh tujuh persen. Kinerja ekonomi domestik membangkitkan kepercayaan investor, sehingga aliran modal masuk meningkat, mendorong kinerja pasar modal, nilai tukar, dan cadangan devisa.

Tren Menguat
Kinerja terbaik bursa saham Indonesia itu sudah terlihat sejak periode Januari hingga Oktober 2010. Perkembangan itu didorong oleh kondisi fundamental perekonomian Indonesia yang cukup positif.

Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) yang dipublikasikan belum lami ini menunjukkan meskipun sempat bergerak melemah pada awal periode laporan, IHSG terus menunjukkan tren penguatan pada akhir Oktober 2010. IHSG ditutup pada level 3.635,2 atau menguat 3,8 persen dibanding bulan sebelumnya.

Perkembangan beberapa indikator penting dari sisi makro ekonomi, seperti stabilnya nilai tukar serta membaiknya prospek pertumbuhan ekonomi, semakin menambah kepercayaan investor asing untuk menempatkan dananya di pasar saham.

Secara sektoral, BI mencatat kenaikan IHSG lebih didukung oleh sektor pertambangan, pertanian dan keuangan. Kenaikan saham-saham di sektor pertambangan dan perkebunan terkait dengan meningkatnya harga komoditas, sedangkan sektor keuangan lebih banyak didukung oleh membaiknya kondisi fundamental emiten berupa membaiknya laba perbankan pada triwulan III-2010.

Dari sisi mikro emiten, kondisi fundamental emiten masih cukup terjaga. Kondisi tersebut tercermin pada pergerakan IHSG dan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang relatif sejalan serta membaiknya indikator return on asset (ROA) secara sektoral, seiring dengan laporan keuangan semester II-2010 yang membaik.

Sementara itu, dari sisi return on equity (ROE), posisi Indonesia lebih tinggi dibandingkan beberapa negara kawasan. Hal itu memberikan keuntungan kompetitif bagi perkembangan pasar saham domestik.

Selama Oktober 2010, investor cenderung wait and see meskipun masih menaruh minat yang relatif besar pada pasar saham domestik.

Meski demikian, selama Oktober pembelian bersih (net buying) asing turun dibandingkan September 2010 menjadi Rp80 miliar. Hal tersebut terutama disebabkan oleh aksi ambil untung (profit taking) secara terbatas dan antisipasi arah kebijakan Quantitative Easing tahap II oleh The Fed.

Tahun depan, Bursa Efek Indonesia menargetkan peningkatan rata-rata nilai transaksi harian menjadi Rp4,85 triliun per hari dibanding Rp4,5 triliun per hari pada 2010. Otoritas bursa memperkirakan kondisi pasar saham tahun depan lebih baik.

Sedangkan untuk transaksi hari ini, indeks diperkirakan masih volatile dengan kecenderungan menguat. Saham perbankan dan pertambangan diperkirakan menjadi pilihan untuk transaksi hari ini. “Kisaran support 3.649 dengan resistance 3.698,” kata analis PT Panin Sekuritas Tbk, Purwoko Sartono.

Pada transaksi kemarin, seiring melesatnya bursa regional pada sesi kedua perdagangan, IHSG mampu ditutup di area positif. Pergerakan indeks masih diwarnai oleh aksi beli terhadap saham grup Bakrie menyusul konsolidasi Bakrie-Rothschild. IHSG menguat 3,87 poin (0,11 persen) ke level 3.677,9. (hs)
• VIVAnews

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s