1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

maen saham BUKAN CUMA … wajib terma$uk 20 November 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 9:16 pm

Peraturan yang semakin ketat menggiring banyak emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) menuai sanksi. Sanksi yang diberikan tersebut terkait kepatuhan peraturan pencatatan efek.

Dari data yang diberikan BEI, sepanjang tahun macan ini ada 291 sanksi peringatan tertulis I, 52 sanksi peringatan tertulis II, 27 sanksi peringatan tertulis III. Sementara BEI pun telah memberikan 89 sanksi denda kepada beberapa emiten yang melantai di BEI.

Selain itu di 2010 ini sudah terdapat 91 saham dan 10 waran yang masuk dalam Unusual Market Activity (UMA) atau bergerak secara tidak wajar. Jumlah ini meningkat drastis dari tahun sebelumnya yang hany sebanyak 57 saham dan 7 waran.

Tahun ini pula, BEI telah mengeluarkan 11 sanksi suspensi alias pemberhentian sementara perdagangan saham. Bahkan ada beberapa perusahaan yang hingga Desember ini suspensinya belum juga di cabut oleh otoritas bursa tersebut.

Sumber : KONTAN.CO.ID
Tahun 2010 Ada 93 Saham Masuk UMA
Headline

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Kamis, 30 Desember 2010 | 04:56 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Sekitar 93 saham saham ditambah 10 waran masuk dalam kategori unusual market acitivity (UMA) hingga 29 Desember 2010.

Adapun empat saham masuk UMA sebanyak dua kali. Saham-saham yang masuk UMA sebanyak dua kali antara lain saham PT Eatertainment International Tbk (SMMT) yang masuk UMA pada April dan Juni.

Demikian seperti dikutip dari data Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (29/12). Untuk saham PT Inovisi Infracom Tbk (INVS) masuk UMA pada Juni dan Oktober, saham PT Bumi Tekno Cultura Tbk (BTEK) masuk UMA pada Juni dan Oktober. Sedangkan waran yang masuk UMA sebanyak dua kali yaitu waran INVS-W pada Juni dan Oktober 2010.

Pada 2009, sebanyak 61 saham dan 9 waran masuk dalam UMA dengan 4 saham dan 2 waran masuk UMA sebanyak dua kali.

UMA adalah aktifitas perdagangan atau suatu pergerakan harga suatu efek yang tidak biasa pada suatu kurun waktu tertentu di bursa yang menurut penilaian bursa dapat berpotensi menganggu terselenggaranya perdagangan efek yang teratur, wajar dan efisien. Tetapi pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran di bidang pasar modal. [hid]

Awal Tahun, 10 Perusahaan Siap Masuk Bursa
Di antaranya adalah PT Mitrabahtera Segara Sejati dan PT Martina Berto.
Rabu, 29 Desember 2010, 13:10 WIB
Antique, Purborini

VIVAnews – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mensinyalir sepuluh perusahaan yang siap masuk bursa dan mencatatkan sahamnya (listing) pada kuartal pertama 2011.

Saham tersebut di antaranya adalah PT Mitrabahtera Segara Sejati, PT Sidomulya Selaras, dan PT Martina Berto.

“Mereka (masuk bursa) di kuartal pertama tahun depan. Di agenda ada sembilan sampai 10 perusahaan,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Eddy Sugito, di Jakarta, Rabu 29 Desember 2010.

Mitrabahtera Segara Sejati akan melepas saham perdana (initial public offering/IPO) sebanyak 15 persen kepada publik pada Maret 2011. Sedangkan Sidomulya Selaras, perusahaan transportasi bahan kimia dan berbahaya akan melepas 20 persen sahamnya kepada publik.

Sementara itu, induk produsen kosmetik Sari Ayu, PT Martina Berto menawarkan harga saham perdananya ke publik sebesar Rp675-975 per unit. Perseroan pun memastikan akan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 13 Januari 2011.

Indeks Akhir 2011

Di tempat terpisah, PT Samuel Sekuritas memprediksikan pada akhir 2011 indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup pada level 4.209, dengan asumsi rasio price to earning (PE) 16,7 kali.

“Pasar saham Indonesia masih memberikan imbal yang menarik,” kata ekonom Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih.

Saat ini, rasio PE indeks bursa sudah mencapai 17 kali, atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata historikal dalam lima tahun terakhir, yaitu 13,15 kali.

Sedangkan return on equity (ROE) IHSG saat ini mencapai 34 persen, termasuk yang tertinggi di kawasan Asia.

Sebab, ROE indeks bursa di negara-negara berkembang Asia lainnya lebih rendah dibandingkan ROE indeks BEI. ROE indeks bursa India misalnya, tercatat 27,1 persen dan ROE indeks bursa Filipina 25,5 persen. (art)
• VIVAnews

Bapepam Terbitkan 3 Aturan Baru Pasar Modal
Headline

Oleh: Charles MS
Pasar Modal – Rabu, 29 Desember 2010 | 12:38 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Bapepam-LK menerbitkan penyempurnaan 3 peraturan baru pasar modal.

Hal ini disampaikan Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany dalam keterangan tertulisnya yang dikutip INILAH.COM, Rabu (29/12). Ketiga pertauran tersebut meliputi:
1) Peraturan Bapepam dan LK Nomor V.D.3 tentang Pengendalian Internal Perusahaan Efek Yang Menjalankan Kegiatan Usaha Sebagai Perantara Pedagang Efek.
2) Peraturan Bapepam dan LK Nomor V.D.4 tentang Pengendalian dan Perlindungan Efek Yang Disimpan Oleh Perusahaan Efek.
3) Peraturan Bapepam dan LK Nomor V.D.5 tentang Pemeliharaan dan Pelaporan Modal Kerja Bersih Disesuaikan.

Adapun latar belakang dan pokok-pokok penyempurnaan dalam ketiga peraturan dimaksud adalah:
1. Peraturan Bapepam dan LK Nomor V.D.3 tentang Pengendalian Internal Perusahaan Efek Yang Menjalankan Kegiatan Usaha Sebagai Perantara Pedagang Efek.

Penyempurnaan atas Peraturan Nomor V.D.3 bertujuan untuk meningkatkan pengendalian internal Perusahaan Efek yang menjalankan kegiatan usaha sebagai Perantara Pedagang Efek yang mengadministrasikan rekening Efek nasabah.

Adapun pokok-pokok penyempurnaan peraturan antara lain:
a. Peningkatan fungsi-fungsi manajemen yang wajib dilaksanakan oleh Perantara Pedagang Efek menjadi 6 (enam) fungsi yaitu fungsi pemasaran, fungsi manajemen risiko, fungsi pembukuan, fungsi Kustodian, fungsi teknologi informasi, dan fungsi kepatuhan, serta satu fungsi yang bersifat opsional yaitu fungsi riset.
b. pemisahan fungsi-fungsi kegiatan manajemen dalam Perantara Pedagang Efek melalui larangan rangkap pelaksanaan tugas pegawai pada lebih dari satu fungsi manajemen.
c. untuk Perusahaan Efek yang melakukan kegiatan usaha Perantara Pedagang Efek, Penjamin Emisi Efek dan/atau Manajer Investasi, maka:
1) prosedur operasi standar fungsi-fungsi dalam menjalankan kegiatan sebagai Penjamin Emisi Efek dan/atau Manajer Investasi wajib terpisah dari prosedur operasi standar fungsi-fungsi Perantara Pedagang Efek; dan
2) pelaksanaan masing-masing fungsi manajemen risiko, fungsi pembukuan, fungsi teknologi informasi, fungsi kepatuhan, dan/atau fungsi riset yang terdapat dalam kegiatan Perantara Pedagang Efek, Penjamin Emisi Efek, dan/atau Manajer Investasi dapat dilaksanakan oleh satu unit kerja yang melaksanakan fungsi tersebut.
d. Penambahan ketentuan bahwa setiap pembukaan rekening Efek wajib diikuti dengan pembukaan Sub Rekening Efek pada Kustodian dan pembukaan rekening dana atas nama nasabah pada bank untuk masing-masing nasabah dan pembuatan nomor tunggal identitas nasabah (Single Investor Identification) pada Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian serta kewajiban Perusahaan Efek menempatkan Efek milik nasabah ke Sub Rekening Efek masing-masing Nasabah.
e. Penambahan kewajiban Perantara Pedagang Efek untuk menyusun laporan buku pembantu dana.
f. Diperkenankannya Perantara Pedagang Efek untuk menyerahkan pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut kepada Pihak lain (outsourcing) sepanjang memenuhi ketentuan peraturan ini.

Adapun Perusahaan Efek yang telah memiliki izin usaha sebagai Perantara Pedagang Efek sebelum berlakunya Keputusan atas peraturan ini diberi waktu untuk:
a. menyesuaikan dengan peraturan ini termasuk tetapi tidak terbatas untuk memperbaharui kontrak pembukaan rekening Efek nasabah yang ada berupa antara lain pembukaan rekening dana dan pembuatan atau pencantuman nomor tunggal identitas nasabah (Single Investor Identification) bagi nasabah paling lambat 31 Januari 2012; dan
b. melaporkan kepada Bapepam dan LK perkembangan pelaksanaan penyesuaian tersebut setiap 6 (enam) bulan sejak berlakunya Keputusan atas peraturan ini.

2. Peraturan Bapepam dan LK Nomor V.D.4 tentang Pengendalian dan Perlindungan Efek Yang Disimpan Oleh Perusahaan Efek

Penyempurnaan atas Peraturan Nomor V.D.4 bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan dan administrasi rekening Efek nasabah di Perusahaan Efek.
Adapun pokok-pokok penyempurnaan peraturan tersebut antara lain:
a. Penegasan ketentuan terkait penyusunan pembukuan pada Buku Pembantu Efek dimana saldo di sisi debit dalam Buku Pembantu Efek menunjukkan kepemilikan atas Efek dan saldo di sisi kredit dalam Buku Pembantu Efek menunjukkan lokasi Efek.
b. Restrukturisasi akun-akun yang dibukukan dalam saldo kredit dalam Buku Pembantu Efek menjadi terdiri dari 2 bagian yaitu Efek dalam pengendalian langsung Perusahaan Efek dan Efek tidak dalam pengendalian langsung Perusahaan Efek.
c. Penambahan pengaturan terkait perlindungan Efek nasabah yaitu:
1) larangan bagi Perusahaan Efek untuk menggunakan Efek nasabah sebagai Efek Jaminan kecuali apabila disetujui oleh nasabah yang bersangkutan dengan perjanjian khusus yang jelas dan terpisah dari perjanjian lainnya;
2) kewajiban Perusahaan Efek untuk membuka rekening Efek pada perusahaan sekaligus membuka Sub rekening Efek pada Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian untuk masing-masing Nasabah Umum yang mendapatkan penjatahan Efek pada Penawaran Umum, serta menempatkan Efek Nasabah Umum dari penjatahan dimaksud pada masing-masing sub rekeningnya; dan
3) kewajiban Perusahaan Efek untuk memberikan akses informasi kepada nasabahnya yang memungkinkan nasabahnya dapat secara langsung memonitor mutasi dan/atau saldo Efek dan/atau dana yang disimpan pada Sub Rekening Efek atas nama nasabah tersebut pada Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian.

Adapun Perusahaan Efek yang telah mendapatkan izin usaha dari Bapepam dan LK sebelum berlakunya Keputusan atas peraturan ini wajib melakukan penyesuaian dengan peraturan ini paling lambat tanggal 31 Januari 2012.

3. Peraturan Bapepam dan LK Nomor V.D.5 tentang Pemeliharaan dan Pelaporan Modal Kerja Bersih Disesuaikan

Penyempurnaan atas Peraturan Nomor V.D.5 ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) sehingga sesuai dengan perkembangan kegiatan usaha Perusahaan Efek yang terjadi melalui pendekatan kecukupan modal berbasis risiko.
Adapun pokok-pokok penyempurnaan peraturan tersebut antara lain:
a. Perubahan minimal MKBD yang wajib dimiliki oleh Perusahaan Efek sesuai dengan kegiatan usahanya, sebagai berikut:

1. Penjamin Emisi Efek, minimal MKBD berubah dari Rp25 miliar menjadi Rp25 miliar atau 6,25% dari total liabilitas tanpa utang subordinasi dan utang dalam rangka penawaran umum/penawaran terbatas ditambah ranking liabilities tertinggi.
2. Perantara Pedagang Efek yang mengadministrasikan rekening Efek nasabah, minimal MKBD berubah dari Rp25 miliar menjadi Rp25 miliar atau 6,25% dari total kewajiban tanpa Utang Sub-Ordinasi dan Utang Dalam Rangka Penawaran Umum/Penawaran Terbatas ditambah Ranking Liabilities tertinggi.
3. Perantara Pedagang Efek yang tidak mengadministrasikan rekening Efek nasabah, minimal MKBD berubah dari Rp200 juta menjadi Rp200 juta atau 6,25% dari total kewajiban tanpa Utang Sub-Ordinasi dan Utang Dalam Rangka Penawaran Umum/Penawaran Terbatas ditambah Ranking Liabilities tertinggi
4. Manajer Investasi, minimal MKBD berubah dari Rp200 juta menjadi Rp200 juta ditambah 0,1% dari total dana yang dikelola.
5. Perantara Pedagang Efek yang mengadministrasikan rekening Efek nasabah dan Manajer Investasi, minimal MKBD berubah dari Rp25.200 juta menjadi Rp25 miliar atau 6,25% dari total kewajiban tanpa Utang Sub-Ordinasi dan Utang Dalam Rangka Penawaran Umum/Penawaran Terbatas ditambah Ranking Liabilities, mana yang lebih tinggi, ditambah Rp200 juta dan 0,1% dari total dana yang dikelola.
6. Penjamin Emisi Efek dan Manajer Investasi, minimal MKBD berubah dari Rp25.200 juta menjadi Rp25 miliar atau 6,25% dari total kewajiban tanpa Utang Sub-Ordinasi dan Utang Dalam Rangka Penawaran Umum/Penawaran Terbatas ditambah Ranking Liabilities, mana yang lebih tinggi ditambah Rp200 juta dan 0,1% dari total dana yang dikelola.
7. Perantara Pedagang Efek yang tidak mengadministrasikan rekening Efek nasabah dan Manajer Investasi, minimal MKBD tetap Rp200 juta atau 6,25% dari total kewajiban tanpa Utang Sub-Ordinasi dan Utang Dalam Rangka Penawaran Umum/Penawaran Terbatas ditambah Ranking Liabilities, mana yang lebih tinggi, ditambah Rp200 juta dan 0,1% dari total dana yang dikelola.

b. Menyempurnakan penghitungan haircut atas portofolio milik Perusahaan Efek dengan besaran yang lebih mencerminkan kondisi pasar saat ini.
c. Penambahan ketentuan mengenai tata cara penghitungan MKBD
Agar penerapan peraturan ini berjalan dengan baik, maka diberlakukan peralihan sebagai berikut:
a. Bursa Efek dan Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP) memfasilitasi dan melakukan sosialisasi kepada Perusahaan Efek dan mengembangkan dan menyediakan sistem pelaporan MKBD yang terhubung antara Perusahaan Efek, Bursa Efek, LKP, dan Bapepam dan LK, paling lambat tanggal 31 Oktober 2011;
b. LKP membentuk Komite dalam rangka penentuan Haircut untuk Efek Bersifat Ekuitas atau Efek Beragun Aset Arus Kas Tidak tetap yang tercatat di Bursa Efek di Indonesia dan Reksa Dana yang Unit Penyertaannya Diperdagangkan di Bursa Efek, paling lambat tanggal 30 Juni 2011;
c. Perusahaan Efek yang telah mendapatkan izin usaha dari Bapepam dan LK sebelum Keputusan Ketua Bapepam dan LK atas peraturan ini wajib mengembangkan dan mempersiapkan sistem back office dalam rangka pemeliharaan dan pelaporan MKBD dan melakukan penyesuaian dengan peraturan ini paling lambat tanggal 31 Januari 2012, serta melakukan uji coba pelaporan MKBD berdasarkan peraturan ini pada periode pelaporan antara 1 November 2011 sampai dengan 31 Januari 2012.

Kapitalisasi Pasar
Senin, 27 Desember 2010 – 10:22 wib

nilai kapitalisasi pasar ditentukan oleh dua hal, yakni jumlah saham beredar dan harga di pasar

ISTILAH kapitalisasi pasar begitu sering dijumpai dan didengar. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kapitalisasi pasar (market capitalisation)? Seberapa pentingkah dia sehingga sering disebut-sebut dalam ulasan pasar dan juga ulasan tentang satu jenis saham tertentu? Apakah ia mempunyai pengaruh besar terhadap proses pengambilan keputusan investor yang dilakukan investor? Dan sebagainya.

Kapitalisasi pasar sebenarnya merupakan nilai dari saham perusahaan yang beredar di pasar. Harap dipahami bahwa nilai perusahaan berbeda dengan nilai aset perusahaan, sehingga kapitalisasi pasar sebuah perusahaan tidak menggambarkan nilai aset perusahaan. Kapitalisasi pasar sangat mungkin nilainya lebih besar atau lebih kecil dari nilai aset perusahaan.

Bagi perusahaan publik, kapitalisasi pasar ini penting sekali karena ia juga mencerminkan nilai total perusahaan. Bagaimana menghitung kapitalisasi pasar? Sederhana sekali, cukup dengan mengalikan jumlah saham beredar dengan harga saham di pasar. Gambarannya begini, perusahaan XYZ memiliki jumlah saham beredar sebesar 1 miliar lembar dengan harga saham di pasar Rp2.000. Itu berarti kapitalisasi pasar perusahaan XYZ adalah Rp2 triliun.

Perhatikan, bahwa nilai kapitalisasi pasar ditentukan oleh dua hal, yakni jumlah saham beredar dan harga di pasar. Dari sini dapat disimpulkan bahwa nilai kapitalisasi pasar perusahaan dapat dan selalu berubah dari waktu ke waktu, baik naik ataupun turun. Jika harga saham naik, berarti nilai perusahaan itu naik dan sebaliknya jika harga turun berarti nilai perusahaan itu turun.

Dalam dunia investasi, kita mengenal banyak sekali jenis saham. Di Bursa Efek Indonesia (BEI) saja misalnya, tercatat 419 perusahaan yang listing dan sahamnya diperjualbelikan di pasar. Nilai kapitalisasi pasar 419 perusahaan tadi tentu tidak sama. Ada yang kecil (small cap), sedang (midle cap) dan juga besar (big cap atau large cap). Perbedaan semacam itu merupakan sebuah upaya klasifikasi untuk memudahkan dalam analisa.

Meski begitu, tidak ada ketentuan atau ukuran kapitalisasi pasar sehingga dapat disebut kecil, menengah atau besar. Namun, di bursa luar negeri yang pasar modalnya sudah maju, perusahan disebut memiliki kapitalisasi pasar besar jika nilainya di atas USD10 miliar dólar AS. Kapitalisasi pasar sedang berada di kisaran USD2 miliar hinggá USD10 miliar dan kapitalisasi pasar kecil di bawah USD2 miliar. Bayangkan jika batasan seperti itu diterapkan di BEI, maka sebagian besar emiten di BEI tergolong perusahaan dengan kapitalisasi pasar kecil.

Dalam investasi portofolio, nilai kapitalisasi pasar memiliki makna yang penting bagi bagi investor. Ia juga memiliki kekuatan yang mampu mempengaruhi minat investor untuk menjadikannya sebagai instrumen portofolio atau tidak. Pada umumnya, semakin besar nilai kapitalisasi pasar suatu saham, maka semakin besar juga daya pikat saham tersebut bagi investor. Begitu pula sebaliknya, semakin kecil nilai kapitalisasi semakin kurang menarik bagi investor.

Para perusahaan pengelola dana atau fund manager, biasanya selalu mempertimbangkan besar kecilnya nilai kapitalisasi pasar untuk setiap saham yang akan masuk dalam daftar portofolio investasi. Kecenderungan seperti ini tidak hanya tertuju pada instrumen saham semata, tetapi juga tertuju pada pasar secara keseluruhan. Pasar yang memiliki kapitalisasi pasar besar biasanya selalu diramaikan oleh fund manager. Saat ini, kapitalisasi pasar BEI sudah lebih dari Rp3.000 triliun. Fund manager akan semakin deras menanamkan dana di BEI, jika nilai kapitalisasi pasar BEI semakin meningkat. Ini bukan janji kosong, karena memang begitulah karakter investasi portofolio. (Tim BEI)(adn)(//rhs)
Di Mana Simpan Uang Tahun Depan?
Headline

Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Jumat, 24 Desember 2010 | 05:54 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Krisis finansial global diperkirakan masih akan berlanjut di 2011. Investasi aset keras emas dan obligasi dinilai akan menguntungkan. Sebab, dunia dihadapkan pada ancaman inflasi.

Mike Rini Sutikno, konsultan perencanaan keuangan mengatakan, dalam berinvetasi, investor harus melihat korelasinya dengan kondisi ekonomi baik domestik maupun global. Menurutnya, dalam investasi selalu ada return sekaligus risiko.

Selain mendapatkan keuntungan, lanjutnya, investor juga harus bisa mengantisipasi risiko kerugiannya sesuai dengan kondisi ekonomi tahun depan. “Investor harus melihat bagaimana prediksi para ekonom soal kondisi ekonomi di 2011,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (13/12).

Setelah itu, tambah Mike, investor bisa menetapkan tindakan yang tepat dalam berinvestasi. Investor juga harus menetapkan apa tujuan investasinya.

Lebih jauh Mike mengatakan, berdasarkan perkiraan ekonom, RI masih bisa tumbuh 6,5-7% di 2011. Hanya saja, secara global krisis finansial masih akan berlanjut. Karena itu, di akhir 2010 ini, rupiah cenderung melemah terhadap dolar AS. “Pada saat yang sama, harga emas melonjak. Sejak 2008, harga emas terus naik ke level US$1.400-an per troy ons saat ini,” paparnya.

Bagi orang-orang kaya, lanjut Mike, emas menjadi pelindung harta kekayaan dari penurunan nilai mata uang. Sebab, harganya tidak fluktuatif. Mereka juga menempatkan investasi mereka pada aset keras yang lain seperti properti.

“Dalam situasi ekonomi eksternal yang mengalami krisis finansial, orang lebih banyak memegang aset keras daripada memegang aset keuangan,” ucapnya. Dia menegaskan, dalam situasi kondisi ekonomi global belum stabil, harga emas cenderung naik.

Karena itu, pembelian aset keras (nyata) seperti emas sangat efektif untuk mempertahankan portofolio investasi. Investasi jenis ini sangat berbeda dengan aset keuangan yang bergejolak. “Jadi, favorit investasi 2011 adalah emas,” tandasnya.

Sementara itu, tabungan dan deposito merupakan jenis investasi yang setara dengan uang kas karena nilainya tidak bergejolak. Namun, dari sisi return sangat kecil meskipun paling aman. “Dalam kaidah investasi, tabungan di urutan pertama, disusul deposito, emas dan properti,” imbuhnya.

Setelah itu, lanjut Mike, investor bisa melirik aset-aset keuangan seperti obligasi, saham dan reksadana. Semua penempatan itu disesuaikan dengan kemampunan finansial investor dan tujuan investasinya. “Intinya, investor jangan menempatkan dana pada satu keranjang investasi,” ucap Mike mewanti-wanti.

Usman Hidayat, konsultan keuangan dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef) mengatakan, secara umum perekonomian global masih sensitif terhadap isu-isu makro. Di antaranya, China menghadapi masalah tingginya inflasi sehingga suku bunganya cenderung terus mengalami kenaikan.

Karena itu, imbuhnya, harga-harga surat utang di pasar finansial negara itu akan turun. Harga saham pun terancam melemah. “Ppemerintah China kemudian menggunakan instrumen suku bunga untuk meredam inflasi dan memelihara ekspektasi atas mata uangnya,” ujarnya.

Di sisi lain, lanjutnya, AS juga secara ekonomi masih dihadapkan pada ketidakpastian. Salah satunya tarik ulur kebijakan terkait perpanjangan pemangkasan pajak (tax cut) untuk memacu konsumsi rumah tangga. “Demikian juga buy back surat utang pemerintah sebagai rangkaian dari kebijakan quantitative easing (QE) tahap dua,” ucapnya.

Pemangkasan pajak maupun buy back surat utang dapat meningkatkan likuiditas di pasar yang berakibat terjadinya inflatoir. Dolar AS pun melemah terhadap mata uang utama dunia. Tapi, dolar AS sulit turun tajam karena semua negara menggunakan dolar AS sebagai base currency.

Karena itu, Usman memperkirakan, investasi berbasis suku bunga (interest based investment) akan lebih menarik. Sebab, dunia dihadapkan pada kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi. Sementara itu, invetasi saham menjadi kurang menarik di 2011 mengingat kinerja korporasi akan terhambat karena mengkerutnya perekonomian dunia terutama China, AS dan Jepang.

Investasi yang berbasis suku bunga adalah obligasi. Investasi inilah yang paling menarik di 2011. Yield obligasi akan meningkat dan saham dengan sendirinya akan tertekan. “Tapi, obligasi cocok untuk investasi 3-6 bulan sambil mencermati perkembangan ekonomi selanjutnya,” ucapnya.

Karena itu, lanjut Usman, kalaupun investor mau melirik reksadana harus reksadana fixed income. Sedangkan emas, harganya tidak fluktuatif sehingga sama posisinya dengan mata uang. Sedangkan sektor properti sangat cocok untuk invetor jangka panjang, 5 tahun ke atas.

Sementara itu, investor juga bisa mulai meninggalkan deposito seiring mengkerutnya margin perbankan. “Kecenderungan bank adalah menerbitkan obligasi untuk mendapatkan dana dan bukan dari ritel seperti deposito,” tutur Usman. [mdr]

BEI: Investor Bertambah 150 Rb Sejak 30 Juni 2009
Headline

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Rabu, 22 Desember 2010 | 13:13 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengatakan, ada penambahan jumlah investor sekitar 150 ribu dalam 1,5 tahun terakhir.

“Ada sekitar 150 ribu investor baru sejak 30 Juni 2009. Yang lalu ada sekitar 335 ribu termasuk dorman,” ujar Ito, Rabu (22/12).

Lebih lanjut ia mengatakan, sebelumnya ada aturan dorman, di mana rekening tidak aktif harus ditutup. Diperkirakan jumlah investor mencapai 316 ribu investor setelah ada aturan dorman tersebut. Ito juga menargetkan jumlah investor mencapai 2,3 juta investor terdaftar pada 2012. Untuk mencapai target jumlah investor tersebut dibutuhkan sarana dan prasarana yang memadai seperti kualitas sumber daya manusia yang memiliki integritas dan kemampuan.

Sementara itu, Direktur PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Sulistyo Budhi menuturkan, aturan dorman terus diberlakukan sejak Juni 2010. Dengan ada aturan dorman diperkirakan ada penutupan jumlah rekening sekitar 100 ribu rekening. “Ketika awal aturan dorman ada sejak Juni turun 100 ribu kalau sekarang relatif kecil untuk penutupan rekening tidak aktif,” tambah Sulistyo.

Sulistyo menambahkan pihaknya tetap memberikan peringatan kepada perusahaan efek yang tidak menutup rekening tidak aktif. Menurutnya, saat ini jumlah rekening sekitar 300 ribu. Selain itu, transaksi saham pun masih didominasi oleh asing. [cms]

Investor
Senin, 20 Desember 2010 – 09:09 wib

HAMPIR setiap hari kata ‘investor’ selalu disebut, baik dalam ulasan tentang pasar modal secara umum, maupun ulasan tentang suatu saham tertentu. Ini dapat dimaklumi karena pada hakekatnya investor adalah pelaku utama di pasar modal. Investor yang menentukan keaktifan, ke-likuid-an, ramai atau sepi, bullish atau bearish dan segala macam situasi yang berkembang di pasar.

Investor adalah pihak yang memiliki dana dan menanamkan uang di pasar modal untuk melakukan transaksi, jual beli saham. Jika investor memperdagangkan saham, maka emiten adalah pihak yang membutuhkan dana dan menerbitkan atau menawarkan saham ke investor.

Selanjutnya, emiten memanfaatkan dana hasil penerbitan saham untuk keperluan ekspansi usaha. Di satu sisi, emiten terus berusaha melakukan ekspansi untuk meningkatkan kinerja. Di sisi lain, investor memperdagangkan saham emiten di bursa efek. Jika kinerja emiten bagus dan meningkat, maka minat investor untuk membeli saham semakin besar sehingga harga saham naik. Jika kinerja emiten turun, maka minat beli investor akan turun dan seharusnya harga saham juga terkoreksi. Begitulah logikanya.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin transaksi saham bisa terjadi setiap hari? Perlu dipahami bahwa investor di pasar modal jumlahnya banyak sekali, ratusan ribu bahkan mengarah ke jutaan. Di negara yang memiliki pasar modal maju, jumlah investor mencapai jutaan orang. Di Indonesia jumlah investor (aktif) belum mencapai satu juta, baru ratusan ribu.

Dari sisi status kewarganegaraan dibedakan antara investor domestik (dalam negeri) dan investor asing (luar negeri). Dari sisi kelembagaan dibedakan antara investor lembaga dan investor individu atau ritel. Investor lembaga, misalnya: dana pensiun, reksadana atau fund manager, asuransi, perusahaan efek dan lembaga-lembaga investasi lainnya. Dalam melakukan investasi, investor lembaga tidak dapat seenaknya karena ada pakem atau Standard Operating Procedure (SOP) yang harus dipatuhi.

Pakem atau SOP ini merupakan bagian dari kebijakan investasi yang harus diterapkan. Misalnya, alokasi investasi di saham sektor pertambangan tidak boleh lebih dari 30 persen. Pakem ini harus dipenuhi. Jika investor lembaga tadi melakukan investasi di saham sektor pertambangan di atas 30 persen, maka itu berarti melanggar kebijakan investasi.

Berbeda halnya dengan investor lembaga, investor individu atau ritel memiliki tingkat kebebasan yang tinggi dalam membuat kebijakan atau strategi investasi. Investor ritel dapat mengubah kebijakan investasinya sewaktu-waktu, kapan saja dikehendaki. Perilaku investasi investor individu biasanya sangat ditentukan oleh karakter individu yang bersangkutan, apakah ia termasuk individu yang suka mengambil risiko ataukah ia merupakan tipikal individu yang lebih suka sesuatu yang aman dan tidak meledak-ledak.

Nah dari sisi ini, ada dua tipe investor, yakni: investor yang berani mengambil risiko (risk taker) dan investor yang cenderung berinvestasi dengan aman (risk averter). Bagi investor yang berkarakter risk taker, ia sangat gemar menantang maut (bahaya, red), berani spekulatif dan bahkan kadang-kadang melakukan transaksi tanpa dasar pertimbangan yang matang. Tidak jarang investor menantang risiko dengan melakukan transaksi harian (daily trading) hingga jauh di atas nilai dana yang dimilikinya.

Gambarannya begini: investor X yang hanya punya deposit Rp 50 juta, dapat membeli saham ABCD sebanyak 10.000 lembar (20 lot) di harga Rp11.000 per lembar. Itu berarti investor harus membayar Rp110 juta plus fee transaksi. Dengan system netting, investor tidak perlu membayar sebesar itu, asal saham yang di beli tadi harus dijual kembali sebelum jam perdagangan hari itu berakhir. Jika misalkan saham ABCD itu ketika dijual kembali laku Rp 10.700, berarti investor X rugi Rp 300 per saham atau total Rp 3 juta.

Nah, nilai Rp 3 juta itulah yang harus dibayar oleh X. Akan tetapi, jika investor X berhasil menjual saham ABCD di Rp 11.400 maka artinya ia berhasil meraih untung Rp 4 juta dalam satu kali transaksi di hari itu. Ini contoh investor yang melakukan transaksi harian.

Berbeda halnya dengan investor yang bersifat risk averter. Investor seperti ini biasanya lebih bersikap konservatif, sangat hati-hati dan selalu berhitung masak-masak sebelum mengambil keputusan untuk beli ataupun jual. Yang seperti ini biasanya tidak meledak-ledak. Ia membaca riset dahulu sebelum membeli portofolio investasi. Dan kebanyakan bersifat jangka panjang. Artinya, investor ini tidak mudah terpengaruh dengan segala macam jenis informasi yang beredar, termasuk rumor yang menjatuhkan harga saham.

Investor risk averter biasanya juga melakukan pembelian untuk horizon investasi jangka panjang. Mereka akan lebih suka menerima dividen daripada mendapatkan gain dalam jangka pendek.

Dalam praktek, jarang ada perbedaan tegas seperti di atas. Umumnya, karakter investasi investor merupakan paduan dua karakter tadi. Artinya, ia membuat alokasi investasi, sekian persen dialokasikan untuk investasi yang sifatnya jangka panjang dan sekian persen dialokasikan untuk investasi yang sifatnya menantang risiko dan membangkitkan enduren. (Tim BEI)(//wdi)

Menelusuri bursa tertua dunia
Oleh Abraham Runga Mali | 14 December 2010

bisnis

Indikator perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melejit. Posisinya saat ini bertengger di atas level 3.700. Banyak investor meraup untung. Dana segar yang diraup perusahaan pun menumpuk.

Sekadar merekonstruksi ingatan, lima abad silam gairah bursa yang sama menjadi cerita dari negeri ini. Negeri yang subur dan kaya menjadi ‘ibu yang menyusui’ bayi bursa yang lahir di pelabuhan Amsterdam. Itulah cikal bakal bursa saham dunia yang dikenal hingga sekarang.

Wartawan Bisnis yang sempat menelusuri bursa tertua itu pada akhir September silam menulis percikan cerita berikut:

AMSTERDAM: Ceritanya berawal dari Amsterdam, tepatnya di kawasan Dam Square atau Damrak dalam bahasa setempat. Dari stasiun pusat Amsterdam, Amsterdam Centralal (Amstaal) saya bergerak menuju tempat itu. Dalam sejumlah peta resmi kota itu, jaraknya berkisar sekitar 750 meter.

Jalur ini sangat ramai, mungkin paling ramai di kota ini. Yang pernah mampir di sini tentu ingat, di bagian kanan jalan berjejer pertokoan kafe dan restoran.

Persis di depan toko India, Gandi namanya, saya melemparkan pandangan ke kiri. Ada gedung tua besar bergaya klasik berdiri di sana. “Jangan-jangan ini gedung bersejarah itu,” saya coba menerka.

Nama gedung itu Beurs Van Berlage. “Apa itu gedung stock exchange?” saya bertanya kepada seorang gadis Belanda, Marina yang sedang melepas tali ikatan sepedanya di pinggir jalan itu.

“Bukan, “jawabnya.” Atau mungkin kalau itu bekas gedung bursa jaman dulu?”

saya menimpali lagi. “Ya barang kali, tapi saya tidak tahu pasti,” jawabnya.”

Yang menjadi rujukan saya adalah buku Pasar Modal Indonesia, Restropeksi Lima Tahun Swastanisasi BEJ (1997). Di situ tertulis bahwa bursa tertua dunia adalah Amsterdam Effektenbeurs yang didirikan di Dam Square 1611. “Para pedagang mondar mandir di jalanan sekitar katedral sembari meneriakkan dagangannya,” demikian tulis buku itu.

Di Damrak, saya pernah berdiri di bawah patung National Monument, memandang ke depan ke arah istana. Di samping Royal Palace berdiri gedung tua dengan menara seperti pada bangunan gereja.

Saya sempat bertanya kepada Yohanes yang sedang sibuk mencuil roti untuk dibagikan kepada merpati yang berkerumun di pusat keramaian itu. Kepada lelaki tua dengan usia di atas 60 tahun itu saya cek. “Apa Anda tahu apa dulu itu gedung katedral?”

Dia mengerutkan dahi sambil berpikir. “Ya dulu hampir di setiap sudut kota ini ada gereja. Saya kira ya”, jawab orang tua itu. Sekarang gedung itu adalah salah satu pusat perbelanjaan.

Tapi dia tidak tahu ketika saya bertanya lagi apakah dia tahu kalau di sekitar itu pada 400 tahun yang silam para pendatang mulai melakukan transaksi saham. Maklum dia orang kebanyakan yang awam soal sejarah kotanya.

Lalu saya menuju Beursplein 5. Letaknya persis setelah Beurs Van Berlage dari arah stasiun. Hanya saat menelusuri jalan itu, saya kelewatan karena posisinya menjorok ke dalam. Ke samping lagi adalah pusat belanja De Bijenkorf yang langsung berhadapan dengan National Monument dengana lata berlakang Hotel Krasnapolsky.

Depan gedung itu terpampang tulisan kecil Eronext. Nama itu mengingatkan kita bahwa 22 September 2000 bursa Amsterdam sudah bergabung dengan bursa Brussel dan Paris. Tahun 2007 New York Stock Exchange (NYSE) dan Euronex bergabung menjadi bursa terbesar dunia dengan nama NYSE Euronext.

Kepada para penjaga gedung itu saya minta bertemu dengan orang yang betanggungjawab menjelaskan informasi soal bursa. Mereka lalu memanggil seseorang.

Datanglah perempuan muda yang memperkenalkan dirinya sebagai Hanna Muller.

Dari penjalasan saya, dia langsung mengambil buku berjudul. Beursplein, Een Capital Monument (2000).

“Sejarah bursa ada di buku ini. Persediaan buku habis, tapi saya pegang buku ini. Kalau mau, Anda bisa beli dari saya seharga 10 euro.” Ada buku lain yang diberikan cuma-cuma. Judulnya Verenining Voor De Effectenhandel 1876-1996.

“Hanna terima kasih” Saya pamit sambil berjanji akan menulis email buat dia untuk mendalami informasi ini.

Saya kembali ke Denhaag. Dalam perjalanan pulang sambil membolak-balik buku Beursplein 5 yang juga dimuat terjemahan dalam bahasa Ingris, saya menulis email untuk Hanna. “Hanna it is very kind of you today. Would you tell me where I can find the oldest share in the world.”

Dia menjawab, “In the national archic there is so many document about VOC. But I don’t think they will show you this kind of document, except in the special occasion….”

Kesokan harinya saya bergerak menuju gedung Archive National, disamping stasiun Denhaag. Saya diberi buku panduan berjudul: The Archives of the Dutch East India Company (1602-1795).

Benar seperti pesan Hanna, dokumen itu tidak bisa dilihat. Saya diminta untuk mengirim permintaan dulu melalui email.

Kemudian saya sadar bahwa mestinya saya tidak perlu bersemangat memburu sejumlah dokumen yang lain. Karena pada saya sudah cukup pegangan hanya untuk sekadar sebuah konstruksi ingatan.

Apalagi pada saya ada dua buku dari penulis sejarah maritim yang dibeli dari toko buku di kawasan De Passage, Den Haag, yang populer itu. Yang satu adalah The Ditch East India Company, Expansion and Decline (Femme S. Gaastra 2003). Dan yang lain adalah Ships, Sailors, and Spices: East India Companies and the Shipping in the 16th, 17th and 18 th Centuries (ed. Jaap R. Bruijn and Femme S. Gaastra, 1993)

Penopang kolonialisme

AMSTERDAM: Mari kita mulai dari Beursplein 5. Ini adalah puncak perkembangan bursa selama empat abad di Amsterdam. Adalah Jos Cuypers yang mengajukan diri untuk merancang gedung itu tahun 1910. Orang ini pula yang merancang Niewe Sint Bavo, sebuah katedral terkenal di Haarlem.

Dia mewarisi bakat sebagai arsitek dari ayahnya Pj. H Cuypers yang mendesain Risjkmuseum dan Central Station di Amsterdam. Setelah selesai dibangun Desember 1913, bursa itu resmi dipakai pada 2 Januari 1914.

Pada awal tahun itu, busa Amsterdam memperdagangkan saham dari 850 emiten luar negeri dan 700 perusahaan Belanda. Sebagian besar emiten Belanda merupakan warisan dari peruahaan VOC yang sudah bangkrut dua abad yang silam. Sebagian besar perusahaan-perusahaan beroperasi di Indonesia.

Bagi Belanda di awal abad 20, bursa sangat penting dalam menopang eksistensi kolonialismenya di Indonesia yang sekaligus memberi manfaat signifikan bagi perekonomian di negerinya.

Itu terbukti ketika pada 14 Desember 1912 Belanda serius mendirikan cabang bursa Amsterdam di Batavia. Di tingkat Asia, bursa di Batavia adalah yang tertua keempat setelah Bombay (1830), Hong Kong (1871) dan Tokyo (1878).

Sebelum memiliki gedung sendiri, seperti tertulis dalam buku Effectengids (1939) kegiatan jual beli saham dan obligasi di Batavia sudah berlangsung sejak 1880.

Bahkan, tercatat pada 1892 perusahaan Belanda Cultuurmaactchappij Goalpara yang berkantor di Batavia menerbitkan prospektus terkait penjualan 400 lembar saham dengan harga 500 gulden per lembar.

Empat tahun kemudian, surat kabar Yogyakarta dengan nama Het Centrum juga menjual saham senilai 5 ribu gulden dengan harga perdaga 100 gulden per lembar.

Bursa Batavia saat itu berkembang pesat. Saham dan obligasi yang diperdagangkan adalah terkait perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang diterbitkan pemerintah Hindia Belanda, baik pemerintah pusat, kota praja dan efek-efek Belanda lainnya.

Saham-saham multinasional yang ditransaksikan di Belanda juga diperdagangkan di sini, antara lain AFC Industry, American Motors, Anaconda Copper dan betlehem Steel.

Sekadar catatan Betlehem Steel adalah blue Chip do New York Stock Exchange yang masuk dalam perhitungan harga Dow Jones sejak 1928.

Selain itu obligasi dari negara lain juga dijual di bursa Batavia. Seminggu setelah bursa Batavia di buka misalnya Harian Perniagaan atau 13 Tjap It Gwe 2463 membuat berita tentang penawaran tentang obligasi tersebut.

Itoe pindjeman dikasih nama “Tiong Hoa Bin Kok Pat Li Kong The” yang artinya: “Pinjaman dengan rente 8 pCt dari Repoebliek Tiongkok. Pindjeman itoe soeda diperkenalkan oleh Nationale Vergadering di Peking dan soeda dibikin sah serta dititahkan boeat dikeloerkan oleh President dari Repoebliek Tiongkok.

Ini Pindjeman besarnya 100 million dollar’ boat ini pindjeman dikeloearkan bon bon dari 1000, 100, 10 dan 5 dollar, jang disertakan nomor djalan boenjinja ada ‘Aan Toonder”…

Pindjeman ini dibikin aken goena pri keamanan di Tiongkok dan dikeloearkan dengan dibajar rente 8 pCt satoe boelan menoeroet itoengan Jan lek. Segala bangsa bole bli ini soerat oetang.

Di Betawi Soeda ditentoekan masing-masoing perekonomian jang ternama dari orang-orang Tionghoa nanti bisa bli itoe bon bon dengan sebagituoe banjak ia poenja fonds masing-masing, kemoedian ini semoea bon nanti dijoeal lagi boeat harga dari pada siapa jang soeka bli.

Liatwi Tong jang tjinta tanah aernja kita silaken bli ini soerat oetang, akan bantoe pada pemeranta Repoeblik dengan dapat rente dari oewang jang ia kasi pinjem.

Dari berita surat kabar ini tampak bahwa tingkat bunga obligasi pemerintah Cina itu menguntungkan karena suku bunga pada 30 Oktober 1912 di Bank Escomto saja hanya empat persen per tahun untuk deposito 12 bulan.

Pemerintah Belanda benar-benar memanfaatkan bursa cabangnya di Batavia secara optimal. Pada saat pendirian ada 13 anggota bursa yang semuanya adalah milik pemerintah Belanda.

Ketika bursa kian ramai, tiga bank besarnya juga masuk ke bursa pada tahun 1928, yaitu NHM, Escomto dan NIHB, Maka anggotanya menjadi 16. Sebagian catatan tambahan, NHM (Nederlandsche Handel Maatchappij) adalah perusahaan keuangan dan perdagangan yang didirikan 1824.

Mayoritas sahamnya dipegang oleh Raja Belanda. Ketika merdeka, bank inidinasionalisasi dan berubah nama menjadi Bank Ekspor Impor (Bank Exim).

Kemudian Escomto yang didirikan 1857 dinasionalisasi persis seabad kemudian dengan nama baru Bank Dagang Negara (BDN). Lalu Nederland Indiache Handels Bank (NIHN) yang didirikan 1863 kemidian berubah menjadi Bank Bumi Daya (BBD).

NHN, NIHB dan Escomto adalah tiga bank yang dirikan oleh Kerajaan Belanda untuk menggantikan peran VOC yang bangkrut dengan meninggalkan utang 137,7 kita gulden 1799.

Kita lalu teringat bahwa dalam perkembangan terakhir Bank Exim, BDN dan BBD pada 1999 bergabung menjadi Bank Mandiri yang menjadi bank plat merah paling besar saat ini.

Kuil pencinta uang

Saya tidak keliru ketika menduga Beurs Van Berlage sebagai gedung bursa yang bersejarah. Di gedung itu transaksi hanya dilaksanakan dalam satu dekade, yaitu dari 1903 sampai 1913.

Di Berlage, pada dinding bagian dalam ada batu peringatan dengan tulisan ini

Door Godes zeeegebn is tot gerief der coopluyden deze Borse gestigt, an MDCVIII meye den I steen geleyt. (Didirikan dengan berkat Tuhan untuk kenyamanan para pedagang, batu pertama untuk bangunan bursa ini diletakan pada 29 Mei 1608).

Sebenarnya, batu ini bukanlah bagian dari gedung ini, tetapi diambil dari bangunan dari galeri pertama bagi para pedagang yang dibangun di kawasan Rokin pada tahun 1608.

Gedung di Rokin dikenal sebagai gedung bursa yang pertama. Pemerintah membangunnya untuk kenyamanan para pedagang yang sebelumnya masih berkeliaran di lorong-lorong kota Amsterdam.

Pembangunan gedung bursa di Rokin ini melibatkan seorang arsiteknya kawakan, Hendrik de Keyser (1565-1621). Orang ini pula yang bertanggungjawab membangun bagian kota yang disebut Zuiderk (Southers Church) tahun 1612. Munttoren (MintTower) tahun 1619 dan Westenkerk 9western church) tahun 1631.

Itu sebabnya bursa di Rokin ini juga dikenal dengan nama Bursa Keyser. Pembangunan gedung bursa yang bergaya renaisan ini rampung tahun 1611 dan berfungsi hingga 1873.

Di bursa ini, transaksi tidak hanya saham dan obligasi tetapi juga komoditas lain. Tercatat pada tahun 1662 terdapat lebih dari 400 jenis komoditas yang diperdagangkan mulai dari tembakau hingga tekstil.

Di dinding bursa tergantung sebuah lonceng yang dibunyikan untuk menandai pembukaan dan penutupan perdagangan. Dari berbagai catatan, pada periode ini berbagai peraturan tentang perdagangan saham mulai dilengkapi secara`perlahan.

Tahun 1789 Fraternity for Debenture Trading didirikan. Ini semacam organisasi dari pedagang yang berkonsentrasi pada likuiditas dan regulasi perdagangan. Organisasi inilah yang selalu mengecek penentuan harga dan menjamin ketersediaan data dan informasi di lantai bursa.

Makanya baru tahun 1796 mulai dibuat daftar harga saham yang diperdagangkan setiap hari.

Untuk kelengkapan sistem perdagangan dan regulasi di bursa, organisasi ini terus berkembang dan berubah selama 7 kali hingga terbentuknya Amsterdam Stock Exchange tahun 1997. (lihat ilustrasi)

Sebelum tahun 1789 tradisi bursa lebih ditentukan secara tunggal oleh VOC sampai menjelang bangkrutnya perusahaan itu pada tahun 1799.

Tahun 1800, seiring dengan resesi ekonomi, gedung Bursa Keyser tersebut mulai kropos. Tahun 1835 fundasinya goyah sehingga diambil keputusan untuk merobohkan gedung ini pada tahun 1836. Selanjutnya untuk sementara tempat transaksi diungsikan di Nieuwe Kerk (New Church), Dam Square.

Kemudian dalam satu dekade (1835-1845) perdagangan dilangsungkan di ruang terbuka dekat Istana (Dam Palace). Itulah sebenarnya pada periode itu Hulpbeurs dikenal sebagai bursa sementara. (Temporary Exchange).

Solusi darurat ini diambil bersamaan dengan kecemasan akan masa depan industri pasar modal saat itu. Sampai akhirnya pada 1841 mulai dibangun gedung bursa kedua oleh arsitek J.D Zocher (1791-1870).

Pada tahun 1880 di bursa itu diperdagangkan 222 perusahaan asing, 66 perusahaan Belanda, dan 11 perusahaan milik Hindia-Belanda.

Tetapi banyak yang mengajukan kritik kalau ini sebuah gedung bursa bergaya klasik yang tidak menarik bagi selera publik. Seorang penulis Van Lennep melukiskan gedung itu mirip kuil pemujaan jaman Yunani kuno: An lonic portal with a Doric temple behind itu,”katanya.

Namun, apapun komentar Lenne, gedung bursa pernah lama digunakan hingga dihancurkan pada tahun 1903 dan diganti perannya oleh Beurs Van Berlage. Di sini, untuk pertama kalinya perdagangan saham dan surat berharga memiliki lantai sendiri, tidak bergabung dengan komoditas lain.

Van der Borse punya nama

Kendati gedung bursa pertama adalah Rokin pada tahun 1608, eksistensi bursa sudah muncul jauh sebelum itu yaitu sekitar periode 1400. Karena itu kita perlu menengok ke belakang, awal mula bursa tertua di dunia itu muncul di Amsterdam dan apa gerangan yang terjadi ketika saham-saham mulai diperdagangkan di sana pada awal 17.

Sebenarnya, sejauh tercatat, efek tertua di dunia adalah saham bertanggal 16 Juni 1228 atas nama perusahaan tambang tembaga Swedia, Storakkopparberg. Hanya tidak diketahui apakah saham itu sempat diperdagangkan atau tidak. Kemudian beredar saham-saham perbankan di Venesia tahun 1400.

Dua abad kemudian, tahun 1600 mulai ditransaksikan East India Company di Inggris. Baru setelah itu, sejak 1602, muncul saham Cemere der Oost-Indische Compagnie (COIC) atau kemudian lebih dikenal VOC.

Bahakan. hingga saat ini lembaran saham tertua dunia yang masih tersimpan adalah efek VOC yang diterbitkan tahun 1606. Di bagian depan efek tersebut tertulis:

Vvy onerghefchreven van weghende Camere der Oost Indische Compagnie tot Horn Bekennen by defen ontsanghe tefebben van den E. Dirk Pieterz Straetmaker de vommen van vyvtich guldens daer mede de voornoeemde Dirk Pieterz inde voorz.ompagnie gheregistreert state te herideren opt vande voorz.ompagnie gheregistreert state te herideren opt vande voorz.amere folio 10.hier mede de voorschieven 600 inde voorz.ompagnie voorde eerste Tien Yarighe Rekeningheparticipeert, ten vollen opghebracht ende betaelt: Ende voortz gheanmullert te niere ghedaen alle de Recipissen.over de batalinghen opde ghemelde partye ghedaen.voor desen ghegheven.Actum de 8 December 1606.

(Kami tandatangani atas nama “ Camere der Oost-Indische Compagnie” di Hoorn, sebagai penegasan telah diterimanya kembali dari (Tuan Dirk Pietersz Straetmaker) sejumlah (50 gulden) sebagai sisa dari (600 gulden) yang jumlahnya telah disebutkan di depan bahwa (Dirk Pietersz) yang terdaftar pada “Compagnie” berhak menerima warisan berupa uang dari buku besar “Camere” dibayar penuh sebanyak (600 gulden) karena dikatakan bahwa (Tuan Dirk Pietersz) berhak mendapat bagian dari keuntungan yang diperoleh selama 10 tahun pertama beroperasinya “Compagnie”. Pemotongan dan semua pembayaran tahunan yang diterima digunakan untuk tujuan baik. Perjanjian ini dibuat pada tanggal 8 Desember 1606). (lihat ilustrasi)

Lembaran saham tuan Dirk bisa memandu kita untuk membayangkan lebih jauh apa yang terjadi 5 abad yang silam, sebuah fenomena ’pertukaran’ (exchange phenomenon) terjadi di sana. Bahkan, fenomena itu muncul sejak tahun 1400.

Bermula dari sejumlah saudagar yang berkumpul di De Nieuwe Brug (New Bridge). Dikisahakan, di tempat itu mereka bertukaran barang dagangan seperti keju, mentega, ikan, gandum, kayu dan seterusnya.

Lokasi tukar menukar ala barter ini dilakukan di jalan Warmoestraat, persis berhadapan dengan Stasiun Pusat Amsterdam saat ini, tak jauh dari pelabuhan kota.

Pada tahun 1400 pertukaran terjadi di properti seorang pedagang perantara (dealer) bernama Van der Borse. Dari nama orang inilah kemudian gedung tempat pertukaran itu dinamakan. Walaupun kemudian Beurs dalam arti tempat perdagangan justru lebih dahulu dipakai di Antwerpen.

Pada tahun 1586, pemerintah kota mengijinkan mereka untuk menggunakan St. Olofskapel sebagai pasar, terutama ketika cuaca buruk.

Sekitar 1592, di Oude Kerk (Old Church), mulai dibuat peraturan sederhana seperti jam buka dan tutup dengan tanda bunyi lonceng. Orang pertama yang bertugas sebagai penjaga aturan adalah John De Paep.

Lalu bursa Amsterdam terus berkembang dan perdagangan antar kota dunia terus meluas. Perdagangan dengan Asia, khususnya Indonesia juga makin ramai. Spanyol dan Portugis adalah pioneer dari Eropa.

Persaingan untuk mendapatkan rempah-rempah yang begitu sulit memaksa para saudagar dari Amsterdam dan beberapa kota di Belanda untuk memiliki akses secara langsung ke sumber utamanya di Indonesia.

Dengan berpedoman pada buku panduan perjalanan ke Asia berjudul Itineratio (Itinerary) karangan Jan Huigen van Linschoten beberapa saudagar Belanda memulai misinya ke Indonesia.

Linschotten pada tahun bekerja di bawah perusahaan Lisbon yang berada di wilayah Goa. Dia kembali ke Eropa tahun 1592 dan kemudian membuat catatan itu.

Tahun 1602 sejumlah saudagar dari beberapa perusahaan membentuk persekutuan yang kemudian dikenal dengan VOC untuk mencari keuntungan melalui rempah-rempah. (lihat daftar ekspedisi)

Antara tahun 1595 hingga 1602 tercatat 65 kapal Belanda yang dikirim ke Asia. Bandingkan pada periode yang sama hanya 46 kapal Portugis yang melakukan perjalanan yang sama.

Misi Belanda membutuhkan biaya yang besar dan membutuhkan dukungan finansial yang kuat. Pada bulan September 1601 muncul kesepakatan di antara para saudagar di Amsterdam untuk membentuk sebuah monopoli.

“If a monopoly should be granted to a united company for 20 or 25 years then it would be possible to give every inhabitant of the Dutch Republic the opportunity to take part in the enterprice as participant or sharehoder”, begitulah inti kesepakatan itu.

Sejumlah penulis sejarah seperti Femme S. Gaastra mencatat bahwa tanpa dukungan dan keterlibatan banyak orang susah dibayangkan pendanaan untuk misi dagang itu sukses.

Sebagai contoh dibutuhkan dana 1,7 juta gulden pada tahun 1602 untuk membiayai 6 kapal Belanda di bawah pimpinan Van Warwijk.

Kebutuhan dana untuk misi VOC mengundang para penyandang dana seperti Tuan Dirk menjadikan momentum itu sebagai kesempatan mencari keuntungan yang besar melalui aksi spekulasi melalui bursa. Mereka berharap meraup keuntungan keuntungan ketika kapal-kapal itu kembali dengan membawa sejumlah komoditas. Komoditas dijual dan para penyandang dana itu mendapatkan dividen.

Walaupun tentu saja banyak juga para partisipan atau spekulan ini yang rugi karena tidak semua kapal yang kembali dengan selamat.

Tahun 1619, Jan Pieterz Coen yang menjadi gubernur jendral, mendesak agar semakin banyak kapal dan dana yang harus dikirim untuk memantapkan monopoli. Dana dibutuhkan bukan saja untuk pembuatan kapal tetapi juga untuk membiayai awak dan tentara bayaran yang mengamankan misi ini.

Waktu itu Belanda menyewa banyak tentara bayaran dari negara tetangga, termasuk dari Jerman.

Seperti analisis Femme S. Gaastra, pendanaan secara tetap, terutama melalui bursa melalui penerbitan saham dan obligasi menjadi kunci keberhasilan VOC mengalahkan saingannya dari Spanyol dan Portugis, termasuk saingan utamanya Inggris melalui East India Company.

Ilustrasi data jumlah dana investasi di VOC dan pendanaan saudagar Amsterdam untuk beberapa ekspedisi membuktikan hal itu.

Demikianlah peran bursa di Amsterdam terus menjadi penopang utama VOC hingga entitas dagang itu bangkrut pada tahun 1789.

Peran bursa itu tetap penting hingga kegiatan dagang di Asia, khususnya Indonesia diambilalih pemerintahan Kerajaan Belanda hingga saat-saat terakhir mereka di Nusantara.

Catatan di atas hanya menegaskan bahwa sejarah hampir empat abad Belanda di Indonesia tak bisa dipisahkan dari peran pasar modal. Bahkan, peran bursa jauh lebih dasyat dari sekadar sepatu lars para tentara Belanda dengan bedil-bedilnya. Cerita yang mengetuk kesadaran bahwa negeri yang kaya raya ini tak pernah lelah memuaskan dahaga para saudagar dunia. Entah sampai kapan.

Perlengkapan Kargo Investasi

1. 1595 : 4 kapal, De Hotman 170.000 120.000 290.000

2. 1598 : 8 kapal, Van Neck 372.000 396.738 768.466

3. 1599 : 3 kapal, Van der Haghen 158.408 ? ?

4. 1599/ : 4 kapal, Wilekens 638.121 294.500 914.205

1600 :

5. 1601 : 6 kapal, Van Neck

5 kapal, Harmenz 224.601 ? ?

6. 1601 : 8 kapal, Van Heemskerck608.741 704.900 1.334.473

7. 1602 6 kapal Amsterdam VOV,

Van Warwijck 622.382 1.115.994 1.738.325

Dana yang diinvestasi oleh Dewan Dagang Amsterdam

Perlengkapan Kargo Investasi

1. 1603 : 7 kapal,Van der Haghen 580.006 413.052 922.379

2. 1605 : 7 kapal, Matelieff 813.058 624.624 1.220.719

3. 1606 : 3 kapal, Van Caerden 462.559 367.587 1.217.368

4. 1607 : 8 kapal, Verhoeff 763.605 532.300 308.550

2.619.228 1.937.563 3.669.016

Sumber: National Archief

Dana yang diinvestasikan di VOC (gulden)

Dewan Dagang Amsterdam : 3.679.915

Dewan Dagang Zeeland : 1.300.405

Dewan Dagang Delft : 469.400

Dewan Dagang Rotterdam : 173.000

Dewan Dagang Hoorn : 266.868

Dewan Dagang Enkhuizen : 540.000

Total : 6.424.588 (ln)

Menelusuri bursa tertua dunia (bagian II)
Oleh Abraham Runga M. | 14 December 2010

bisnis

AMSTERDAM: Mari kita mulai dari Beursplein 5. Ini adalah puncak perkembangan bursa selama empat abad di Amsterdam. Adalah Jos Cuypers yang mengajukan diri untuk merancang gedung itu tahun 1910. Orang ini pula yang merancang Niewe Sint Bavo, sebuah katedral terkenal di Haarlem.

Dia mewarisi bakat sebagai arsitek dari ayahnya Pj. H Cuypers yang mendesain Risjkmuseum dan Central Station di Amsterdam. Setelah selesai dibangun Desember 1913, bursa itu resmi dipakai pada 2 Januari 1914.

Pada awal tahun itu, bursa Amsterdam memperdagangkan saham dari 850 emiten luar negeri dan 700 perusahaan Belanda.

Sebagian besar emiten Belanda merupakan warisan dari perusahaan VOC yang sudah bangkrut dua abad yang silam. Sebagian besar perusahaan-perusahaan beroperasi di Indonesia. Bagi Belanda di awal abad 20, bursa sangat penting dalam menopang eksistensi kolonialismenya di Indonesia yang sekaligus memberi manfaat signifikan bagi perekonomian di negerinya.

Itu terbukti ketika pada 14 Desember 1912 Belanda serius mendirikan cabang bursa Amsterdam di Batavia. Di tingkat Asia, bursa di Batavia adalah yang tertua keempat setelah Bombay (1830), Hong Kong (1871) dan Tokyo (1878).

Sebelum memiliki gedung sendiri, seperti tertulis dalam buku Effectengids (1939) kegiatan jual beli saham dan obligasi di Batavia sudah berlangsung sejak 1880. Bahkan, tercatat pada 1892 perusahaan Belanda Cultuurmaactchappij Goalpara yang berkantor di Batavia menerbitkan prospektus terkait penjualan 400 lembar saham dengan harga 500 gulden per lembar.

Empat tahun kemudian, surat kabar Yogyakarta dengan nama Het Centrum juga menjual saham senilai 5 ribu gulden dengan harga perdana 100 gulden per lembar. Bursa Batavia saat itu berkembang pesat. Saham dan obligasi yang diperdagangkan adalah terkait perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang diterbitkan pemerintah Hindia Belanda, baik pemerintah pusat, kota praja dan efek-efek Belanda lainnya.

Saham-saham multinasional yang ditransaksikan di Belanda juga diperdagangkan di sini, antara lain AFC Industry, American Motors, Anaconda Copper dan Betlehem Steel. Sekadar catatan Betlehem Steel adalah blue Chip do New York Stock Exchange yang masuk dalam perhitungan harga Dow Jones sejak 1928.

Selain itu obligasi dari negara lain juga dijual di bursa Batavia. Seminggu setelah bursa Batavia di buka misalnya Harian Perniagaan atau 13 Tjap It Gwe 2463 membuat berita tentang penawaran tentang obligasi tersebut.

Itoe pindjeman dikasih nama “Tiong Hoa Bin Kok Pat Li Kong The” yang artinya: “Pinjaman dengan rente 8 pCt dari Repoebliek Tiongkok. Pindjeman itoe soeda diperkenalkan oleh Nationale Vergadering di Peking dan soeda dibikin sah serta dititahkan boeat dikeloerkan oleh President dari Repoebliek Tiongkok.

Ini Pindjeman besarnya 100 million dollar’ boat ini pindjeman dikeloearkan bon bon dari 1000, 100, 10 dan 5 dollar, jang disertakan nomor djalan boenjinja ada ‘Aan Toonder”… Pindjeman ini dibikin aken goena pri keamanan di Tiongkok dan dikeloearkan dengan dibajar rente 8 pCt satoe boelan menoeroet itoengan Jan lek. Segala bangsa bole bli ini soerat oetang. Di Betawi Soeda ditentoekan masing-masoing perekonomian jang ternama dari orang-orang Tionghoa nanti bisa bli itoe bon bon dengan sebagituoe banjak ia poenja fonds masing-masing, kemoedian ini semoea bon nanti dijoeal lagi boeat harga dari pada siapa jang soeka bli.

Liatwi Tong jang tjinta tanah aernja kita silaken bli ini soerat oetang, akan bantoe pada pemeranta Repoeblik dengan dapat rente dari oewang jang ia kasi pinjem. Dari berita surat kabar ini tampak bahwa tingkat bunga obligasi pemerintah Cina itu menguntungkan karena suku bunga pada 30 Oktober 1912 di Bank Escomto saja hanya empat persen per tahun untuk deposito 12 bulan.

Pemerintah Belanda benar-benar memanfaatkan bursa cabangnya di Batavia secara optimal. Pada saat pendirian ada 13 anggota bursa yang semuanya adalah milik pemerintah Belanda. Ketika bursa kian ramai, tiga bank besarnya juga masuk ke bursa pada tahun 1928, yaitu NHM, Escomto dan NIHB, maka anggotanya menjadi 16.

Sebagian catatan tambahan, NHM (Nederlandsche Handel Maatchappij) adalah perusahaan keuangan dan perdagangan yang didirikan 1824. Mayoritas sahamnya dipegang oleh Raja Belanda. Ketika merdeka, bank inidinasionalisasi dan berubah nama menjadi Bank Ekspor Impor (Bank Exim).

Kemudian Escomto yang didirikan 1857 dinasionalisasi persis seabad kemudian dengan nama baru Bank Dagang Negara (BDN). Lalu Nederland Indiache Handels Bank (NIHN) yang didirikan 1863 kemudian berubah menjadi Bank Bumi Daya (BBD).

NHN, NIHB dan Escomto adalah tiga bank yang dirikan oleh Kerajaan Belanda untuk menggantikan peran VOC yang bangkrut dengan meninggalkan utang 137,7 kita gulden 1799. Kita lalu teringat bahwa dalam perkembangan terakhir Bank Exim, BDN dan BBD pada 1999 bergabung menjadi Bank Mandiri yang menjadi bank plat merah paling besar saat ini.(mmh)

Otoritas China kini tengah mempersiapkan perdagangan saham non-stop 24 jam. Langkah itu merupakan bagian dari rencana China untuk menggaet lebih banyak investor asing untuk bertransaksi di negeri Tirai Bambu itu.

Demikian tertuang dalam rencana pengembangan jangka panjang Bursa Shanghai yang dilansir Shanghai Securities News dan dikutip oleh AFP, Senin (13/12/2010).

“Shanghai Stock Exchange ingin menjadi salah satu bursa paling berpengaruh di dunia pada 2020,” demikian tertuang dalam rencana jangka panjang tersebut.

Tidak disebutkan kapan tepatnya perdagangan saham non-stop 24 jam itu akan diluncurkan, namun diperkirakan sekitar 10 tahun lagi.

“Perdagangan sepanjang pergerakan jarum jam adalah impian dari setiap bursa saham. Berdasarkan teknologi terbaru kami, sepertinya kami akan meluncurkan ini dalam 10 tahun. Kami melakukan upaya yang besar guna mencapai tujuan itu,” ujar Liu Xiaodong, Deputi General Manager Shanghai Stock Exchange.

Liu mengatakan, perdagangan 24 jam non-stop itu akan membantu untuk memfasilitasi transaksi di papan internasional yang sedang direncanakan, termasuk membantu para pialang di luar negeri yang mengalami perbedaan waktu.

Sementara untuk tahun 2013, bursa Shanghai menargetkan bisa menjadi bursa saham paling besar di Asia.
Dalam 3 tahun ke depan, Shanghai akan gencar mempromosikan konstruksi papan perdagangan internasional yang memperbolehkan perusahaan asing dan perusahaan China yang terdaftar di luar negeri untuk mencatatkan sahamnya.

Sumber: detikcom

Rekening Efek
Senin, 13 Desember 2010 – 09:16 wib

Pasar modal atau pasar saham sudah cukup banyak dikenal masyarakat luas. Tapi sejauh ini masih banyak masyarakat yang belum tahu dan paham bagaimana melakukan transaksi di bursa saham, membeli dan atau menjual saham di bursa saham.

Umumnya masyarakat hanya tahu bahwa untuk membeli saham tidak bisa melakukan sendiri karena harus lewat perusahaan broker yang punya izin usaha sebagai broker dealer dari Bapepam-LK dan sebagai anggota bursa (AB).

Harus diingat bahwa pada dasarnya transaksi saham di bursa efek merupakan kegiatan investasi. Jika seseorang akan menyimpan uangnya di bank atau menabung maka ia harus datang sendiri ke bank dan membuka rekening tabungan.

Mengisi identitas diri dengan menyerahkan foto copy tanda pengenal dan menyetor sejumlah uang yang akan ditabung. Nah, dalam investasi di pasar modal juga berlaku ketentuan seperti itu.

Setiap orang yang berniat menanamkan uangnya di pasar modal dan aktif melakukan transaksi jual beli saham wajib memiliki rekening efek. Jika menabung di bank, orang harus membuka rekening tabungan maka untuk berinvestasi di efek (surat berharga) orang harus membuka rekening efek. Di mana investor bisa membuka rekening efek ? Nasabah atau calon investor bisa membuka rekening efek di perusahaan efek anggota bursa (PE AB).

Status sebagai anggota bursa di sini perlu digarisbawahi, mengingat ada juga perusahaan efek yang bukan anggota bursa (PE Non AB). PE Non AB tidak bisa melayani investor untuk melakukan transaksi di bursa. Saat ini tercatat ada 117 PE AB yang aktif.

Seperti halnya mengisi aplikasi rekening tabungan di bank, calon investor atau nasabah di pasar modal juga harus datang sendiri ke kantor perusahaan broker AB dan mengisi aplikasi rekening efek.

Pembukaan rekening efek ini tidak boleh diwakilkan ke orang atau pihak lain. Di pasar modal ada satu ketentuan tentang mengenal nasabah (know your customers/KYC) sehingga siapapun yang membuka rekening efek diwajibkan untuk bertatap muka datang langsung ke kantor perusahaan broker AB.

Ketentuan ini juga berlaku untuk nasabah online trading. Khusus online trading, meskipun pembukaan rekening efek bisa dilakukan secara online tetapi tetap saja ada satu tahapan di mana investor harus melakukan tatap muka dengan perusahaan brokernya.

Saat pembukaan rekening efek, calon investor juga diwajibkan untuk menyetor sejumlah dana deposit. Nilai deposit minimal bervariasi di antara perusahaan broker, namun kisarannya antara Rp10 juta-Rp50 juta. Untuk rekening efek online, nilai deposit minimal lebih rendah lagi yakni hanya Rp5 juta saja.

Calon investor akan menerima tanda bukti pembukaan rekening efek dan nomor rekening efek. Bagi nasabah online juga diberikan nomor pin dan password untuk akses ke sistem online trading di perusahaan broker tersebut.

Pada saat pembukaan rekening efek, investor juga mendapatkan penjelasan tentang hak dan kewajibannya dalam melakukan transaksi di bursa, berapa biaya (fee) transaksi yang harus di bayar dan sebagainya. Jika seluruh proses di sini selesai maka nasabah resmi menjadi investor di pasar modal dan bisa bertransaksi beli dan atau jual.

Sementara pihak broker AB meneruskan proses pembukaan rekening efek tadi ke Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk dibuatkan subrekening efek bagi investor tersebut.

Manfaat

Dengan memiliki rekening efek dan subrekening efek di KSEI, ada manfaat yang bisa dinikmati investor. Aset investor dicatat secara terpisah dari buku perusahaan broker tersebut sehingga tidak menjadi satu dengan aset perusahaan broker.

Nasabah juga bisa mengontrol secara langsung keberadaan asetnya di KSEI. Data aset nasabah yang ada di perusahaan broker harus sama dengan data nasabah yang ada di KSEI. Investor tidak perlu kuatir bahwa nilai asetnya berkurang.

Hal lain yang bisa dinikmati manfaatnya oleh investor adalah saat emiten melakukan aksi korporasi seperti pembagian dividen, right issue, pemecahan saham atau penyelenggaraan RUPS.

Seluruh hak investor secara otomatis langsung didistribusikan ke rekening efek investor bersangkutan. Investor juga tidak perlu melakukan registrasi sendiri setiap saham yang dibelinya, karena tugas untuk itu sudah ditangani oleh perusahaan broker. Karena itu, saat pembukaan rekening efek harus diisi dengan benar. (Tim BEI)(//ade)
Bisnis Day Trading di China (2)
Headline

Oleh: Asteria
Pasar Modal – Minggu, 12 Desember 2010 | 16:31 WIB

INILAH.COM, Beijing– Perusahaan trading Amerika dan Kanada banyak yang berekspansi ke China. Salah satu pertimbangannya adalah tenaga kerja yang murah. Kesempatan ini pun dimanfaatkan bagi trader pemula untuk cepat kaya.

Sebelum bel pembukaan terdengar di New York Stock Exchange awal pekan ini, sekelompok lulusan baru perguruan tinggi terlihat memasuki sebuah perusahaan trading kecil di pinggiran ibukota China.Mereka disewa untuk terlibat dalam perdagangan saham gerak cepat, dengan beberapa investment house terkuat dunia di New York, London dan Tokyo, dan mereka diperintahkan untuk waspada.

“Pasar bisa volatile hari ini,” teriak King Chan, manajer umum di Lazer Trade, ke arah kelompok dengan semangat.”Hati-hati pada pembukaan.Dan jangan mengambil risiko bodoh! ”

Perusahaan trading Chan adalah salah satu dari banyak yang bermunculan di China dan kota-kota besar sekitarnyabeberapa tahun terakhir,seperti Title Trading dan Hold Brothers.

Perusahaan trading yang berbasis di Amerika Serikat dan Kanada merekrut pekerja murah di China dan mengajar mereka dalam perdagangan spekulatif, yang berarti berulang kali membeli dan menjual saham yang tercatat di New York Stock Exchange dan Nasdaq. Tentu dengan harapan dapat cepat meraup keuntungan.

Seorang manajer di Title Trading mengatakan, sebelumnya, ketika trader bisa mendapatkan US$ 4- 5 ribu per bulan, orang-orang di Kanada ingin melakukannya. “Tapi tidak kalau hanya US$ 1.000. Jadi, kita outsourcing ke China. ”

Dengan estimasi beberapa industri, sebanyak 10ribu orang di China melakukan perdagangan spekulatif atas saham Amerika. Sebagian besar pemuda yang agresif bekerja disini dengan waktu pada 9:30-4:00, dengan puluhan ribu transaksi saham sehari.”Grup trading telah meledak ke China,” kata Stephen Ehrlich, chief executive di Lightspeed Financial, perusahaan di New York yang menjual perangkat lunak trading untuk operasional perusahaan di China.

Beberapa perusahaan trading mengatakan mereka dapat keuntungan dari operasi trading di China melalui kombinasi overhead murah, potongan harga dan insentif keuangan lainnya dari bursa saham utama. Selain permintaan khusus untuk pilihan investasi yang lebih luas di kalangan elit China.

Kebanyakan perusahaan menggunakan modal sendiri atau modal dari investor swasta di Amerika Serikat atau Kanada untuk membuka toko trading terafiliasi di China.Mereka menyewa lulusan baru China untuk melakukan trading bagi mereka, seringkali tanpa gaji standar tapi janji pembagian laba.

Lulusan universitas biasanya mendapatkan US$ 300-400 per bulan di China, namun para ahli tenaga kerja di China mengatakan, pasar kerja untuk para pekerja kerah putih telah melemah, sehingga mereka bersedia mengambil kesempatan bekerja tanpa jaminan upah, tapi dengan kesempatan berbagi keuntungan.

Chan mengatakan, sekitar 200 orang melamar pekerjaan di perusahaannya dalam dua bulan terakhir. “Turnover sangat tinggi, dan pekerja biasanya bergerak setelah empat atau lima bulan. Sangat sedikit yang tinggal lebih dari setahun,”ujarnya.

Jika trader membuat keuntungan, mereka mendapat antara 10 -50 persen, dan sisanya dibagi antara perusahaan perdagangan dan investor. (Jika para pedagang menghasilkan kerugian, mereka membawa risiko ke klien perusahaan dan mungkin pekerjaan mereka sendiri.)

John C. Coffee Jr, ahli hukum sekuritas di Columbia University mengatakan, pengaturan jumlah untuk biaya broker besar dan juga aneh. “Ini kompensasi luar biasa tinggi. Jika ini terjadi di AS, biaya akan menjadi berlebihan, “katanya. Dia menambahkan bahwa meskipun para trader bisa mengungguli pasar secara keseluruhan, biaya transaksi akan memangkas keuntungan.”

Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan trading mengatakan punya strategi yang menguntungkan. Ada yang mengatakan menggunakan perangkat lunak manajemen risiko yang canggih, yang dapat mengganggu perdagangan, setelah serangkaian kerugian. Hal ini untuk mencegah kerugian besar dalam satu hari. Tapi mereka mengakui bahwa kerugian juga dapat berkembang.

Namun, pertumbuhan trading disini mengharapkan seseorang menghasilkan uang, dan banyak trading house mengatakan dapat menghasilkan volume perdagangan yang sangat besar. Chan di Lazer Trade misalnya, mengatakan cabang kantornya, dengan sekitar 20 karyawan, mentransaksikan lebih dari lima juta lembar saham per hari.

Terlepas dari hal itu, banyak trader China yang melihat ini sebagai kesempatan untuk cepat kaya, dengan membeli dan menjual saham lebih dari 100 kali sehari, biasanya setelah memegang saham kurang dari lima menit, dan berharap adanya kenaikan bahkan yang terkecil.

Meskipun banyak pedagang mengatakan mereka menghasilkan kurang dari US$ 200 sebulan, beberapa membual tentang penghasilan US$ 10 ribu per bulan dan siap berbisnis dengan bermain game online.

“Day trading seperti medan perang,” kata Qu Zheng, 24, yang telah terlibat dalam trading selama lebih dari dua tahun dan biasanya mentransaksikan satu juta lembar saham per hari di kantor Lazer Trade, Beijing. “Ini sangat menantang karena Anda bisa merasakan denyut nadi pasar.” [mdr]

Bisnis Day Trading di China (1)
Headline

Oleh: Asteria
Pasar Modal – Minggu, 12 Desember 2010 | 11:11 WIB

INILAH.COM, Beijing – Transaksi Day Trading ternyata masih marak dilakukan. Fenomena ini kini beralih ke China, dimana tenaga kerja murah direkrut untuk terlibat dalam grup perdagangan spekulatif. Bagaimana regulasinya?

Peter Beck, pendiri Swift Trade, perusahaan Kanada dengan 1.500 trader di China mengatakan,operasinya berkembang dan perusahaan memperoleh bagian dari keuntungan perdagangan.”Klien kami, membuka kantor, memberi kami uang dan kemudian menyewa orang untuk trading bagi mereka.Itu struktur kita, “katanya.

Swift Trade dianggap salah satu pelopor dalam outsourcing day trading. Awalnya tumbuh dengan menawarkan layanan broker di Kanada, kemudian menyewa orang Kanada untuk mentransaksikan modal perusahaan dari markas besar di Toronto.Perusahaan menawarkan gaji moderat untuk trader dengan kesepakatan bagi hasil.

Tapi setelah 2001, ketika bursa saham Amerika menggunakan harga secara desimal, bukan fraksi, perdagangan kian ketat dan keuntungan anjlok. Akibatnya, banyak day trader , yang mengambil keuntungan dari selisih besar dari ayunan harga, dipaksa untuk berhenti.

Dengan sedikitnya trader yang menggunakan perangkat lunak atau berbagi keuntungan perdagangan mereka, Swift didorong ke Asia. Perusahaan itu membuka pusat pelatihan di China dan mendorong beberapa pedagang Kanada dengan akar Cina untuk pindah ke Cina untuk mengatur dan mengelola perusahaan trading berafiliasi dengan Swift.

Apalagi China melarang warganya menggunakan mata uang China untuk membeli atau menjual saham perusahaan yang tercatat di bursa efek asing. Namun nampaknya tidak ada larangan terhadap perdagangan saham untuk rekening yang dimiliki entitas asing.

Daerah abu-abu tersebut tersebut menjadi daya tarik perusahaan trading Amerika dan Kanada untuk mendirikan toko di sini, setidaknya sebagian untuk melayani klien kaya mencari alternatif investasi yang lebih beragam.

Usaha tersebut meningkat, dan pada 2007 Swift dan perusahaan trading lainnya, seperti Title Trading dan Hold Brothers, yang menawarkan jasa untuk ribuan day trader, sering melalui rekening yang terdaftar oleh orang kaya China atau ekspatriat dari Amerika Serikat dan Kanada.

Salah satu pengambil risiko adalah King Chan, warga Amerika 25 tahun yang meninggalkan pekerjaan di JPMorgan di Amerika Serikat tahun lalu untuk berinvestasi dan mengelola Lazer Trade.

Sedangkan pada perusahaan yang terafiliasi di Beijing untuk Title Trading, manajer yang tidak ingin disebutkan namanya, karena khawatir sulit mencari pekerjaan lain jika operasi itu gagal mengatakan, ia pindah ke China dari Kanada karena keuntungan dari mengoperasikan perdagangan dengan China yang bersedia untuk memulai trading dengan gaji rendah, bahkan tidak dibayar.

Beberapa ahli di sekuritas bingung dengan operasiini.Mereka mempertanyakan bagaimana perusahaan dapat keuntungan dengan menggunakan trader yang tidak berpengalaman.Mereka juga heran apakah penggunaan trader di Cina melanggar undang-undang sekuritas Amerika dan Kanada.

“Ini adalah kekacauan yurisdiksi untuk regulator AS,” kata Thomas J. Rice, ahli hukum surat berharga di Baker & McKenzie.”Apakah trader Cina ini pada dasarnya bertindak sebagai broker?Jika ya, mereka mereka harus terdaftar di AS. ”

Pejabat di Bapepam AS, Securities and Exchange Commission (SEC) dan rekan-rekan mereka di Kanada dan China menolak memberikan komentar ketika ditanya tentang pertumbuhan day trading di China.New York Stock Exchange dan Nasdaq juga menolak memberikan komentar.

Juru bicara Swift Trade, yang menyediakan perangkat lunak untuk Lazer Trade dan mengambil bagian dari laba tradingbersikeras operasi China telah didaftarkan dengan benar dan sepenuhnya legal.Dua perusahaan lain dengan operasi day trading, Hold Brothers dan Title Trading, menolak permintaan ulang untuk wawancara.

Beberapa perusahaan trading memang telah mengalami kesulitan dengan regulator Amerika Serikat dan Kanada atas praktek bisnis mereka. Pada 2002, National Association of Securities Dealers, sekarang dikenal sebagai Financial Industry Regulatory Authority, mencapai penyelesaian dengan perusahaan yang berafiliasi dengan Swift Trade dan ketuanya, Peter Beck, yang terlibat skema perdagangan penipuan yang melibatkan perdagangan fiktif.

Pada 2009 lalu, Beck dan perusahaan afiliasi lainnya dari Swift Trade membayar denda US$ 20 ribu untuk Komisi Keamanan Ontario, setelah regulator menuduh perusahaan membuat kekeliruan tentang klien. klien itu ternyata sebagian juga dikendalikan oleh keluarga Beck dan diikat menjadi sekitar 1.100 pedagang internasional di 50 kantor internasional dan 30 kantor Kanada.

Eksekutif Swift Trade bersikukuh mereka mematuhi hukum. Saat ini, perusahaan tidak beroperasi di Amerika Serikat, tetapi membeli dan menjual saham melalui afiliasi perdagangan yang terdaftar di SEC. [ast]
Senin, 29/11/2010 13:19 WIB
IHSG Berpotensi Tumbuh 20% di 2011
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mempunyai ruang untuk tumbuh sebesar 20% di 2011. IHSG masih bisa bergerak di level 4.400-4.500.

Demikian dikatakan oleh Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito ketika ditemui di sela acara Economic Outlook 2011 di Hotel JW Marriot, Jakarta, Senin (29/11/2010).

“IHSG di 4.400-4.500, bukan prediksi BEI ya, itu dibaca dari berbagai analis. Intinya Masih ada ruang untuk tumbuh 20% tahun depan,” ujar Eddy.

Dikatakan Eddy, sampai saat ini saham-saham BUMN masih menjadi idola yang selalu menjadi buruan para investor di pasar modal. Jadi dengan semakin banyaknya BUMN yang masuk pasar modal, ini akan membantu mengerek kinerja IHSG.

Menurut Eddy, saat ini kondisi bursa saham di Indonesia sudah normal dan cenderung meningkat. Sampai saat ini belum ada indikasi terjadinya bubble (penggelembungan) karena suplai saham di bursa masih bisa mengimbangi penawaran investor yang sangat besar.

“Saya kira suplai ini mengimbangi permintaan dari pasar sehingga tidak membuat harga-harga saham terkerek,” tukas Eddy.
(dnl/qom)

Jumat, 19/11/2010 08:39:57 WIB bisnis
Selektif mengalokasikan aset
Oleh: Budi Frensidy
Dalam banyak kesempatan, ada saja kawan dan kerabat yang bertanya mengenai alokasi investasi di pasar modal untuk mereka. Berapa persen sebaiknya investasi dalam saham dan dalam ORI (obligasi negara ritel) dan SR (sukuk ritel)?

Sebelum adanya ORI dan SR, investor individual di Indonesia yang tertarik dengan obligasi hanya dapat melakukannya melalui reksa dana pendapatan tetap. Namun, sejak diterbitkannya ORI pada 2006 dan SR 3 tahun kemudian, investor ritel dapat melakukannya langsung.

Jika saham berisiko tinggi karena merupakan sekuritas ekuitas, ORI dan SR adalah sekuritas pendapatan tetap yang berisiko rendah. Kesamaannya, semuanya produk pasar modal yang berbeda dengan deposito yang merupakan produk pasar uang.

Perbedaannya, saham memberikan return dalam bentuk dividen, yang biasanya dibayarkan sekali setahun, dan capital gain. Sedangkan ORI dan SR menjanjikan kupon yang dibayarkan bulanan serta kemungkinan capital gain jika terjadi penurunan yield investor akibat semakin rendahnya inflasi dan suku bunga.

Dividen saham akan ada jika perusahaan memperoleh laba dan memutuskan untuk dibagikan. Adapun, capital gain saham terjadi karena adanya laba yang tidak dibagikan dan faktor pertumbuhan perusahaan pada masa depan.

Perusahaan yang rugi tidak akan membagikan dividen dan jika perusahaan itu tidak menjanjikan pertumbuhan, yang akan diperoleh investor adalah capital loss atau penurunan harga saham di pasar.

Berbeda dengan saham, ORI dan SR mempunyai tanggal jatuh tempo, biasanya 3-4 tahun. Jika ORI dan SR dipegang hingga tanggal jatuh tempo, tidak ada risiko perubahan harga karena semua obligasi pemerintah termasuk ORI dan SR pasti dilunasi pada nilai nominal saat jatuh tempo.

Tiga fase investor

Soal alokasi investasi di pasar modal, saya tidak membicarakan jumlah uang dan memiliki dana Rp20 juta saya pikir sudah cukup. Persentase dalam saham dan obligasi yang dianjurkan bergantung pada umur, sikap investor terhadap risiko, dan paradigma investasinya.

Reilly dan Brown dalam bukunya Investment Analysis and Portfolio Management membagi usia investor dalam tiga kelompok yaitu fase akumulasi, fase konsolidasi, dan fase belanja (spending).

Fase akumulasi dimulai saat kekayaan investor masih sedikit atau sekitar usia 25 tahun, fase konsolidasi dimulai pada usia 35-40 tahun, dan fase belanja ketika usia menginjak 60 atau 70 tahun.

Rekomendasi Reilly dan Brown adalah pada fase akumulasi, persentase saham: obligasi sebaiknya 80% : 20%, dan turun menjadi 50% : 50% pada fase konsolidasi, dan terakhir menjadi 100% obligasi pada fase belanja. Ini tentunya dengan asumsi investor bersikap netral terhadap risiko.

Untuk investor yang berani mengambil risiko (risk taker), porsi saham untuk masing-masing fase dapat ditingkatkan 10%-20% menjadi sekitar 90%-100% untuk fase akumulasi dan 60%-70% untuk fase konsolidasi, misalnya.

Sebaliknya investor yang menghindari risiko (risk averter) harus menurunkan porsi saham (menaikkan porsi obligasi) untuk setiap fasenya menjadi 60%-70% saham pada fase akumulasi dan 30%-40% pada fase konsolidasi.

Tiga paradigma investasi

Intinya, sekuritas yang cocok untuk pencinta risiko dengan paradigma investasi maksimalisasi return adalah saham yang harga pasarnya sangat fluktuatif sedangkan untuk yang ingin meminimumkan risiko adalah sekuritas berpendapatan tetap seperti ORI dan SR.

Sementara itu, investor yang takut risiko tetapi ingin menikmati return tinggi dianjurkan mengambil porsi seimbang dalam saham dan obligasi. Portofolio ini ternyata diterapkan Markowitz, sang penemu teori portofolio yang juga pemenang nobel ekonomi.

Walaupun mengakui tingginya return saham dalam jangka panjang, dia hanya menempatkan separuh uangnya dalam aset berisiko ini. Separuhnya lagi dialokasikan dalam obligasi pemerintah dan obligasi korporasi tripel A.

Ketika ditanyakan alasannya, Markowitz hanya menjawab singkat kalau paradigma investasinya adalah minimalisasi penyesalan dan bukan maksimalisasi return atau minimalisasi risiko.

Dengan strategi berimbang ini Markowitz memastikan tidak akan mengalami penyesalan besar soal keputusan investasinya. Jika pasar bullish, dia senang karena separuh portofolionya dalam saham.

Namun, saat pasar bearish, dia juga tidak terlalu bersedih dibandingkan investor dengan paradigma maksimalisasi return, karena obligasi melindunginya dari jatuh miskin.

Sayangnya, persentase alokasi investasi di atas pada praktiknya hanya dilakukan di negara-negara maju yang pasar obligasinya relatif likuid dan sekitar sepertiga penduduknya berinvestasi di pasar modal.

Kondisi ini sangat kontras dengan Indonesia yang investor pasar modalnya hanya sekitar 0,5% dari jumlah penduduk. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih menyimpan uang lebihnya dalam deposito.

Padahal bunga deposito selalu lebih rendah daripada kupon ORI atau SR sementara keamanan dan kepastian pengembalian ORI dan SR juga lebih tinggi. Pajak penghasilan atas bunga deposito juga lebih besar yaitu 20% berbanding 15% untuk ORI dan SR sehingga selisih bunga efektif deposito dan ORI (SR) sekitar 2-3% p.a.

Yang juga penting diketahui para kas surplus Indonesia adalah investasi di pasar modal di atas sebaiknya dilakukan setelah Anda mempunyai dana darurat sebesar minimal tiga kali pengeluaran bulanan dan maksimal enam kali, sesuai dengan anjuran Kapoor dalam bukunya Personal Finance.

Dana darurat ini dibentuk untuk memastikan dana yang ditanam dalam pasar modal tidak akan digunakan, paling tidak dalam beberapa tahun ke depan. Dana darurat ini bisa disimpan dalam tabungan atau reksa dana pasar uang.

Kini setelah Anda memahami saham dan obligasi, tiga fase investor, dan tiga paradigma investasi di atas, Anda masih takut menjadi investor pasar modal?

Apakah Penurunan IHSG Berlanjut?
Kamis, 25 November 2010 – 07:52 wib

JAKARTA – Memanasnya suhu politik Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) atas bursa regional hanya sementara.Tapi,bursa Indonesia diprediksi masih akan terkoreksi hingga akhir November.

“Minimnya sentimen saat ini membuat kondisi negatif di global dan regional menjadi kesempatan bagi pelaku pasar melakukan aksi ambil untung sehingga potensi koreksi hingga akhir November cukup kuat,” ujar VP Research PT Valbury Asia Securities Nico Omer di Jakarta.

Pada perdagangan kemarin indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali mengalami koreksi. Namun,pelemahan yang terjadi tidak terlalu besar. IHSG hanya turun 19,417 poin (0,53 persen) ke level 3.658,777. Sementara bursa regional justru menunjukkan penguatan, dengan rata-rata kenaikan mendekati satu persen.

Nico mengungkapkan, bursa regional mulai membaik karena Pemerintah Korut dan Korsel mengisyaratkan tidak akan terjadi perang. “Keduanya tidak menginginkan perang.Saya pikir itu cukup menenangkan pasar,” ucapnya.

Sementara kondisi Eropa juga sudah mulai membaik.Krisis utang Irlandia sudah bukan jadi persoalan lagi. Seperti Yunani, Spanyol, dan Portugal, krisis keuangan itu pun bisa terselesaikan. “Pelaku pasar sebenarnya sudah mengantisipasi itu. Karena cepat atau lambat akan di-bailout (ditalangi). Persoalan pun selesai,”katanya.

Rencana Pemerintah Irlandia melakukan percepatan pemilu, menurutnya, tidak menjadi masalah sebab secara tegas Perdana Menteri Irlandia Brian Cowen mengatakan tidak akan mundur sebelum bailoutterlaksana.“Ini menunjukkan kalau secara politik tidak ada masalah,”tegasnya.

Dari dalam negeri, sentimen penurunan sangat besar.Indeks telah mengalami penguatan sehingga koreksi hanya tinggal menunggu momentum. Isu geopolitik Korut dan Korsel dan krisis Irlandia menjadi momentum koreksi. Hingga akhir November ini, kata Nico, indeks diproyeksikan bergerak mendatar pada kisaran 3.600 hingga 3.700. Namun jika kondisi memburuk,indeks bisa meluncur ke level 3.500 dengan batas support 3.535.

“Saya pikir koreksi ini justru dinantikan.Ini kesempatan untuk mulai melakukan akumulasi lagi sebelum kondisi kembali normal,”katanya.

Nico mengaku yakin IHSG akan kembali rally mengantisipasi tahun baru. Dia optimistis IHSG 2010 bisa bertengger di posisi 2.830.“November ini menjadi kesempatan untuk akumulasi,” tambahnya.

Senada,Vice Presiden Erdhika Sekuritas Muhammad Reza juga menilai IHSG dalam tren koreksi dalam jangka pendek. Hingga November ini IHSG masih dilanda sejumlah aksi ambil untung,memanfaatkan sentimen global dan regional.“ Dengan kenaikan indeks kita yang sudah cukup tinggi,wajar ada koreksi saat ini,”katanya.

Reza menambahkan, kondisi ini sebenarnya merupakan peluang baik bagi pelaku pasar untuk kembali masuk, melakukan akumulasi sebab rally lanjutan indeks tidak lama lagi terjadi. Begitu sentimen baik global dan regional mereda, indeks akan rally kencang hingga akhir tahun. “Kemungkinan hingga akhir tahun indeks bisa mencapai level 3.800-3900 jadi koreksi saat ini merupakan momen baik untuk beli,”ungkapnya.

Dia menilai investor terutama asing akan melakukan pembelian cukup besar di akhir tahun guna mengantisipasi penguatan IHSG tahun depan. Dengan posisi pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil dan terjaga, serta menghitung fairvaluasi pertumbuhan dari industri-industri dalam negeri,Reza berpendapat indeks berpotensi tumbuh sekitar 20 persen di 2011.

“Levelnya kemungkinan berada di 4.600-5.000, dan itu sudah menghitung berbagai risiko yang terjadi.Wajar bila akumulasi akan dilakukan sebelum tutup tahun,” tambahnya.

Kepala Riset Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Hotradero menilai pengaruh Korut-Korsel hanya sementara. Investor menilai ini sebagai masalah eksternal dan kekhawatiran investor hanya jangka pendek.

“Ini merupakan ekses eksternal dan tidak terkait langsung. Pengaruhnya tentu ada,tapi ini belum mengkhawatirkan,”katanya.

Dengan begitu, koreksi wajar terjadi dalam jangka pendek. Namun, secara fundamental IHSG sangat baik untuk melanjutkan di akhir tahun.(Koran SI/Koran SI/wdi)
Akhir Tahun, IHSG Bisa Tembus 3.900
Headline

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Rabu, 24 November 2010 | 19:47 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksikan mencapai level 3.800-3.900 pada akhir tahun 2010. Potensi window dressing mendorong IHSG tembus kisaran tersebut.

Hal itu disampaikan Head of Technical Analyst PT Batavia Prosperindo Sekuritas Billy Budiman, Rabu (24/11). “Potensi window dressing membuat IHSG tembus 3.900 pada akhir tahun,” ujar Billy.

IHSG naik di atas 45 persen sejak Januari hingga November 2010. IHSG pada Januari di kisaran 2.533 menjadi 3.741 pada 22 November 2010.

Kepala Riset PT Recapital Securities Pardomuan mengatakan, kenaikan IHSG didukung dari sektor saham consumer dan perbankan. Saham-saham dengan orientasi domestik mendorong IHSG mengingat keadaan ekonomi di luar negeri belum pulih. “Saham-saham sektor domestik seperti perbankan dan consumer memberikan return besar,” tambah Pardomuan.

Selain, IHSG tembus 3.700 didukung dana asing terus masuk ke Indonesia, fundamental ekonomi Indonesia relatif baik.

Direktur Vibiz Consulting Alfred Vakasi menuturkan, Indonesia menjadi target global untuk investasi. Selain itu, dana asing banyak masuk ke pasar uang dan pasar modal. “Jadi hot money telah cukup lama bertahan membuat pasar atraktif dan return yang jauh lebih menarik dari kebanyakan negara besar dunia,” kata Alfred.

Alfred mengatakan, dana masih akan bertahan khususnya selama ekonomi global belum pulih pada 2011. Selain itu, pelaku pasar akan profit taking tetapi hanya dalam jangka pendek. [hid]

… baca perbedaan pandangan gw dan analis prof soal CUT LOSS : gw mah FOKUS LABA DALAM TREN TURUN AJA dan juga bukti keberhasilan FLDTT : saat genting, gw mah sante dan tetap trading

baca perbedaan pandangan gw dan analis prof soal CUT LOSS : gw mah FOKUS LABA DALAM TREN TURUN AJA dan juga bukti keberhasilan FLDTT : saat genting, gw mah sante dan tetap trading

Monday, Nov. 29, 2010
It’s Not the Economy
By Zachary Karabell

A recent story on the daily peregrinations of the stock market concluded that, at least for the day, “U.S. stocks erased their losses to finish in positive territory, as investors weighed an improving domestic economy against heightened global concerns.” That seems an innocuous enough statement. The markets did well because investor concerns about the economy were allayed by some data or shift in sentiment. Pretty simple, right? Yes, but also pretty wrong.

Reading markets in light of economic data is common, but it is using a deeply flawed lens. Not only can markets rise when the economy is weak and fall when the economy is strong, but the fate of an increasingly large number of companies has little to do with the fate of their home countries. Using national economic data as a barometer of companies and stocks may have once made sense — when firms were intimately tethered to their homelands — but no longer. In fact, using national economic data as a guide to how companies will perform is almost certain to lead to the wrong conclusions.

companies have become increasingly global

In part, this is because companies have become increasingly global in their business, especially publicly listed companies that trade on the world’s stock exchanges. Nearly 50% of the earnings of the S&P 500 companies came from outside the U.S. last year, and if you take out companies that are closely tied to the American economy such as utilities and health care services, that percentage is almost certainly above 50%. Even some prominent, dynamic U.S. consumer companies like Nike are seeing their most dramatic growth by selling to China and its rapidly emerging middle class, along with a host of other emerging countries. The swoosh is as familiar in Guangdong province as it is in Galveston, Texas.

In fact, it is now easier to list examples of companies that aren’t exposed to global trends than it is to tell stories of those that are. Yes, Universal Health Services, a $4 billion company that operates hospitals in the U.S., depends on local revenue, but that is increasingly the exception, rather than the rule, for the stocks that make up a typical investor’s portfolio. Even an iconic though troubled American company like General Motors, which is about to relist its shares following a government bailout, is no longer so American or so iconic. GM sells more cars in China, accounting for about a third of its profit, than it does in North America.

The result of the decoupling of U.S.-listed companies from the U.S. economy is that corporate and national growth rates have also diverged. While the U.S. economy will be fortunate if it can eke out 2% to 3% growth this year and next, the S&P 500’s third-quarter earnings grew by an astonishing 31% (year over year), down from an even more astonishing 51% in the second quarter. Granted, that was coming off a very weak 2009, but over the past decade, companies have on the whole grown much more quickly than the economy itself.

And this isn’t purely an American phenomenon. After all, is Nestlé really a Swiss company, Siemens a German company — it employs 60,000 Americans — or Samsung a Korean company? Companies inhabit Corporate Land, which may not have a seat on the U.N. Security Council but surely exerts as much influence as any of the five permanent members do.

What this means for investors is that national economic data may be of little use. Using gauges like GDP, employment and sales to navigate investing decisions will lead to wrong decisions based on flawed assumptions.

Instead, investors should be guided by what those companies are, in fact, doing. Almost any publicly traded technology company today is enmeshed in global supply chains of production and consumption that treat the U.S. as one large market in a world of burgeoning markets. There’s no better example than Corning, once a classic American company that made glass, then kitchenware, then fiber optics and is now a multinational that provides the core glass elements for flat-screen panels as well as laser technology.
… well, itu sebabnya gw MENYAJIKAN SEGITIGA TRISILA INVESTOR YANG SUDUT-SUDUTPERSPEKTIFNYA TERDIRI DARI INFO EKONOMI GLOBAL, MAKRO, dan FUNDAMENTAL PERUSAHAAN, lalu ANALISIS TEKNIKAL SAHAM, serta RUMUS TRADING SEHARI-HARI :

TRISILA INVESTOR PENTING BWAT SEMUA INVESTOR APA AJA

So while there remain industries like health care that are inextricably linked to the domestic economy, those are the exceptions. The new rule for investing should be to put aside the quaint notion that getting the economy right helps you get stocks right. Once, what was good for GM might have been good for America, but that was another time, another age, one that should be remembered as history. And only as history.

IHSG Bisa Capai Level 5.000 pada 2011
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Minggu, 21 November 2010 | 14:44 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksikan dapat mencapai level 5.000 pada 2011. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksikan masih cukup baik akan mendukung IHSG.

Hal itu disampaikan Vice President Erdhika Elite Securities Muhammad Reza, pada pelatihan wartawan pasar modal, Jumat (19/11). “Dengan asumsi PE 15X-17X pada 2011 akan berada di level 4.125-4.675 atau masih memberikan potensi kenaikan sebesar 11,5%-26,38% jadi IHSG tahun depan bisa sampai 5.000,” tutur Reza.

Selain itu, Reza mengatakan, pertumbuhan rata-rata EPS 2011 sebesar 25% maka pada 2011 EPS average saham menjadi 275 per saham. Sedangkan estimasi EPS rata-rata saham yang mewakili IHSG sebesar 220 per saham pada 2010.

Kepala Riset PT Recapital Securities Pardomuan Sihombing mengatakan, pemerintah juga sebaiknya menyiapkan kebijakan moneter agar dana asing tetap berada di Indonesia. Bila dana asing keluar maka kasus Irlandia bisa terjadi di Indonesia. Selain itu, konsumsi masyarakat terhadap barang impor pun mulai naik sehingga Indonesia mulai tergantung pada dolar AS. “Jadi nanti kalau ada pelemahan terhadap dolar AS maka 30% akan menyumbang ke inflasi,” kata Pardomuan.

Menurut Pardomuan, penawaran umum saham perdana yang banyak dilakukan oleh para calon emiten pun dapat menunjang IHSG dan mengantisipasi agar dana asing tidak keluar dari Indonesia.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan. Ia mengatakan, bila Garuda Indonesia dan perusahaan perkebunan milik BUMN masuk ke lantai bursa maka akan diikuti perseroan lain. “Menunda IPO jadi kasihan pada penawaran umum saham perdana sektor swasta karena investor selalu melihat IPO BUMN,” tambah Haryajid. [hid]

IHSG Diprediksikan Tembus 5.600 Tahun 2011
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Kamis, 25 November 2010 | 06:23 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksikan berpotensi menguat hingga level 5.000-5.600 pada tahun 2011.

Hal itu disampaikan Head of Technical Analyst PT Batavia Prosperindo Sekuritas Billy Budiman, Rabu (24/11). “IHSG tahun depan diperkirakan akan mengalami dejavu seperti 2006-2007 dengan motor IHSG untuk melaju adalah saham sektor pertambangan dan CPO,” ujar Billy.

Billy mengatakan, harga CPO diprediksikan akan menguat pada 2011 seiring naiknya inflasi dunia. Selain itu, harga tambang batu bara dan metal diprediksikan akan meningkat tahun depat. Ada pun sektor saham berbasis batu bara, metal, CPO, consumer dan automotive menjadi pilihan pada 2011.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Riset PT Recapital Securities Pardomuan Sihombing. Pardomuan menuturkan, ekonomi pulih maka harga komoditas akan naik. Permintaan batu bara pun meningkat.

Untuk saham-saham pilihan pada 2011, Billy menuturkan, saham sektor batu bara yang jadi pilihan yaitu saham ITMG dan PTBA. Pilihan saham metal antara lain saham ANTM dan INCO sedangkan CPO yaitu saham AALI, LSIP, dan SGRO. Sedangkan saham sektor consumer yaitu saham INDF dan MYOR. Saham ASII pun masih menjadi pilihan. “Semua saham tersebut diharapkan naik minimum 20 persen dan maksimum 50 persen pada 2011,” kata Billy.

Sementara itu, Direktur Vibiz Consulting Alfred Vakasi menjelaskan, faktor global seperti keadaan krisis utang Eropa dan pemulihan ekonomi Amerika Serikat masih mempengaruhi bursa saham.

Diprediksikan tingkat pengangguran di Amerika Serikat akan tetap tinggi di kisaran 9,5 persen, kuantatif easing hingga pertengahan semester 2011, inflasi karena kenaikan harga komoditas akan mempengaruhi ekonomi global. “Krisis utang di Eropa dan beberapa negara di Eropa membutuhkan bailout masih mempengaruhi situasi global,” jelas Alfred.

China yang mengetatkan kebijakan moneter masih menjadi motor penggerak ekonomi.” Pemulihan ekonomi akan masih melambat dan Indonesia masih menjadi tempat menarik untuk investasi,” tambah Alfred. [hid]

Iklan
 

2 Responses to “maen saham BUKAN CUMA … wajib terma$uk”

  1. […] catatan ini : bursa TERTUA di dunia, maka 2011 adalah 400 taon bursa global telah berdiri … tentu saja sudah banyak suka duka […]

  2. […] posting gw soal UMA 2010: jumlah SAHAM YANG DIGORENk 2010 … karena jumlah saham yang DIGORENG banyak sekali, sementara jumlah hari buka bursa adalah […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s