1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

ekon indon tumbuh 7%: WB 20 November 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 10:59 am

Pertumbuhan Ekonomi 2011 Adalah 8%
Senin, 17 Januari 2011 – 09:54 wib

JUDUL artikel ini sebetulnya berangkat dari pernyataan Wakil Presiden (Wapres) Boediono dalam rapat kerja pemerintah di Jakarta Convention Center pekan lalu bahwa pertumbuhan ekonomi 6,4 persen sebagaimana termuat dalam APBN 2011, terlalu rendah. Pertumbuhan ekonomi 7-8 persen bisa dicapai pada 2011.

Pernyataan ini serta-merta memperoleh banyak reaksi,sebagian di antaranya positif. Dari perkenalan pribadi saya dengan beliau yang cukup intens di waktu lalu, saya mengenal Wapres sebetulnya orang yang sangat berhati-hati dan bisa dikatakan konservatif.

Karena itu, membaca pernyataan beliau pada akhirnya membuka mata kita bahwa ada hal-hal yang mungkin tidak kita lihat. Wapres mengatakan, dari berbagai kunjungan ternyata perekonomian di daerah-daerah sangat hidup.

Rasanya tidak berlebihan, perekonomian Indonesia tumbuh lebih tinggi dari sekadar 6,4 persen. Kurang optimalnya tingkat pertumbuhan tersebut banyak disebut karena masalah koordinasi. Saya sendiri melihat rendahnya angka pertumbuhan disebabkan oleh data statistik kita yang kurang akurat.

Dalam artikel yang saya tulis di salah satu media baru-baru ini, Deindustrialisasi: Mitos atau Realitas?, saya mengatakan bukan tidak mungkin pada 2010 (jadi bukan hanya untuk 2011) pertumbuhan ekonomi kita sebetulnya mencapai antara 8-9 persen. Bukan enam persen sebagaimana dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS).

Hal yang lebih penting, pertumbuhan sektor industri sebetulnya sangat tinggi, bukan empat persen seperti yang dilaporkan selama ini. Itulah sebabnya saya sangat meyakini fenomena deindustrialisasi di Indonesia sebetulnya hanyalah mitos lantaran tidak didukung realitas.

Keyakinan saya mengenai dinamisnya perekonomian Indonesia didasari oleh beberapa fenomena pertumbuhan ekonomi yang terjadi saat ini. Penjualan mobil, misalnya, ternyata tumbuh 57 persen. Ini adalah pertumbuhan riil karena dihitung dari jumlah unit mobil yang terjual, bukan dari nilai penjualannya.

Pada 2009, penjualan mobil di Indonesia mencapai 486 ribu unit, sedangkan tahun 2010 penjualan mencapai 764 ribu unit. Penjualan motor juga meningkat 25 persen, yaitu dari 5,88 juta unit di tahun 2009 menjadi 7,36 juta unit pada 2010.

Industri mobil dan motor merupakan bagian paling penting dari industri transportasi, yang merupakan salah satu subsektor industri pengolahan dalam perhitungan produk domestik bruto (PDB).

Jika kita asumsikan mobil dan motor memiliki pangsa 80 persen dari subsektor industri transportasi, sementara industri transportasi lain tumbuh empat persen saja (empat persen ini saya ambil dari angka pertumbuhan sektor industri sebagaimana yang dilaporkan oleh BPS), maka pertumbuhan rata-rata untuk subsektor industri transportasi ini akan mencapai 33,2 persen.

Angka ini adalah angka konservatif lantaran secara sporadis kita mengetahui subsektor industri transportasi lainnya juga tumbuh tinggi. Jika subsektor industri transportasi (dalam klasifikasi BPS nama lengkapnya adalah industri peralatan, mesin dan perlengkapan transportasi) tersebut tumbuh 33,2 persen.

Sementara dengan dasar tahun 2009 lalu pangsa industri ini dari keseluruhan sektor industri pengolahan termasuk migas (yang jumlah nilai tambahnya Rp1.480,9 triliun) adalah sebesar 23,3 persen, pertumbuhan sektor industri pengolahan yang disumbang oleh subsektor industri transportasi ini saja sudah sebesar 7,73 persen.

Angka ini sudah hampir dua kali lipat dari pertumbuhan sektor industri pengolahan yang dilaporkan oleh BPS yaitu sebesar empat persen. Subsektor industri pengolahan lain ternyata juga tumbuh sangat tinggi. Unilever, Indofood, Wings dan GarudaFood, misalnya, tumbuh paling tidak 10 persen.

Industri elektronik bahkan banyak yang melaporkan tumbuh 15–30 persen. Mengenai industri tekstil yang dikatakan tumbuh negatif, saya justru melihat betapa dinamisnya industri ini.

South Pacific Viscose, produsen rayon yang menjadi bahan baku tekstil dan merupakan bagian dari Lenzing Group Austria, pada 2010 meresmikan pabriknya yang keempat di Subang, Jawa Barat, sehingga menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

Industri polyester juga berkembang lebih baik setelah mengalami stagnasi selama 14 tahun. Hasil ini juga diperkuat oleh ekspor tekstil yang juga meningkat. Jika pertumbuhan berbagai sektor industri tersebut dirata-ratakan sebesar 10 persen saja, sumbangan dari subsektor industri lain (yang pangsanya sebesar 76,7 persen), akan mencapai 7,67 persen.

Angka ini saya yakin sudah sangat konservatif. Jika kedua kontribusi pertumbuhan tersebut dijumlahkan, maka pertumbuhan sektor industri pengolahan akan mencapai sekira 15 persen. Pertumbuhan sektor industri pengolahan yang sebesar 15 persen tersebut dengan jelas menjawab bahwa isu yang berkembang saat ini yaitu terjadinya fenomena deindustrialisasi adalah tidak benar terjadi di Indonesia.

Jika pertumbuhan sektor industri pengolahan mencapai 15 persen, dengan pangsa sebesar 26,38 persen (dengan menggunakan basis PDB atas dasar harga yang berlaku tahun 2009), maka kontribusi seluruh sektor industri pengolahan pada pertumbuhan PDB pada 2010 sebesar 3,96 persen.

Sementara itu, dengan menggunakan angka pertumbuhan yang dilaporkan saat ini, yaitu sebesar empat persen, maka sektor industri pengolahan hanya menyumbang 1,05 persen. Ini berarti untuk industri pengolahan sumbangannya ke pertumbuhan PDB harus ditambah dengan 2,91 persen.

Jika angka ini ditambahkan pada pertumbuhan PDB yang sebesar enam persen di 2010, seharusnya PDB 2010 adalah 8,91 persen, untuk lebih konservatifnya lagi bisa dibulatkan ke bawah menjadi delapan persen.

Angka ini tidaklah berbeda dengan angka yang digunakan oleh Wapres Boediono untuk memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011. Pelaporan pertumbuhan yang lebih rendah dari yang seharusnya di sisi industri ini tampaknya sepele dan menunjukkan kita low profile.

Namun, pelaporan yang demikian pada akhirnya akan menyebabkan kacaunya perencanaan dalam pembangunan infrastruktur seperti listrik, jalan raya, dan sebagainya.

Dalam hal pemenuhan kebutuhan listrik, PLN bagaimanapun pasti menggunakan angka pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan sektor industri dalam memperhitungkan kebutuhan penyediaan listrik secara nasional.

Jika pertumbuhan yang sebenarnya jauh melampaui yang dari yang dilaporkan, maka PLN akan tergagap untuk menyediakan tambahan energi sehingga memerlukan crash program sebagaimana terjadi saat ini. Ini terjadi pula pada penyediaan jasa pelabuhan, bandara, jalan raya dan sebagainya. Karena itu, seyogianya Kementerian Perindustrian bekerja sama dengan BPS untuk membahas masalah ini, sehingga data-data tersebut dapat tercatat lebih akurat.(*)

CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi(Koran SI/Koran SI/ade)
World Bank : Target Pertumbuhan 6,4 Persen Tak Pesimistis
KAMIS, 13 JANUARI 2011 | 17:21 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Bank Dunia menyatakan, angka pertumbuhan yang ditargetkan pemerintah sebesar 6,4 persen bukan pesimistis. Indonesia dinilai mampu untuk mencapai target tersebut. Namun ada beberapa prasayarat yang harus dipenuhi, yaitu mengatasi kendala infsrastruktur dan menggiatkan ekonomi domestik.

“Pertumbuhan 6,4 persen, itu bukan angka pesimistis,” ujar World Bank Senior Economist for Indonesia Enrique Blanco Armas saat menanggapi ihwal pernyataan Wakil Presiden Boediono. Dalam pandangannya, angka itu sudah pantas ditetapkan pemerintah. Bank Dunia dunia sendiri menargetkan, pertumbuhan GDP (Gross Domestic Product) mencapai 6,2 persen tahun ini.

Untuk mencapai pertumbuhan di level ini, pemerintah diminta untuk mengatasi kendala infrastuktur dan menggiatkan ekonomi domestik. Untuk infrastruktur ini, kata Enrique, sangat tergantung juga dengan kebijakan anggaran pemerintah 2011.

Sementara itu, Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan Wimboh Santoso menyatakan, realisasi kredit infrastruktur hingga November 2010 kemarin mencapai Rp 6,655 triliun. Dengan pertumbuhan year to date, Desember 2009-November 2010, mencapai 9,01 persen.

Ada tujuh sektor kredit infrastruktur yang dipantau. Yaitu, Jalan tol-arteri-konstruksi, kelistrikan, transportasi, telekomunikasi, minyak dan gas bumi, pengairan, air minum, dan sanitasi. “Khusus infrastruktur, itu paling banyak itu pencairannya ada di migas, kalau outstandingnya paling besar di kelistrikan,” ujarnya.

Namun pernyataan Wimboh ini dibantah Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia. Sofyan menyatakan, kredit infrastruktur tidak macet. Hanya jangka waktu pencairannya memerlukan tenggat waktu tahunan. “Plafonnya sudah besar, tapi pencairannya masih relatif kecil,” ujar Sofyan. Kendalanya, kata Sofyan, misal penyediaan lahan dalam pembangunan jalan tol. Kemudian proyek pelabuhan yang harus mengurus perizinan. Soal draw down atau pencairan, butuh tenggat waktu bertahun-tahun.

FEBRIANA FIRDAUS
Wajah Ekonomi 2011, Pertumbuhan Eksklusif vs Pertumbuhan Inklusif
Oleh Primus Dorimulu, wartawan Investor Daily | Selasa, 21 Desember 2010 | 8:20

JAKARTA—Dunia memasuki 2011 dengan ancaman kelaparan akibat kenaikan harga pangan. Pemanasan global dan perubahan iklim ekstrem telah menyebabkan gagal panen di berbagai belahan dunia. Kelaparan yang pada 2010 menyerang 925 juta jiwa atau 1,6% penduduk dunia, tahun depan kemungkinan menembus 1 miliar jiwa. Sekitar 62,5% penduduk yang kelaparan berada di kawasan Asia Pasifik.

Ekonomi dunia yang sudah mencatat pertumbuhan positif, 4,8% pada 2010, demikian perkiraan Dana Moneter Internasional (IMF), akan sedikit menurun ke 4,2% pada 2011. Semua negara maju meraih pertumbuhan ekonomi positif kecuali beberapa negara Eropa yang sedang didera krisis fiskal serius. Laju pertumbuhan ekonomi AS tahun depan sekitar 2,3%, turun dari 2,6% tahun ini. Begitu pula laju pertumbuhan ekonomi Jepang yang menurun dari 2,8% ke 1,5% pada periode yang sama.

Beda dengan kondisi global, ekonomi Indonesia 2011 justru diprediksi bertumbuh 6,5%, meningkat dari 6% tahun ini. Konsumsi masyarakat menjadi mesin penghela pertumbuhan ekonomi Indonesia di samping investasi dan ekspor. Seperti dikatakan Bambang BS Brodjonegoro, ekonom FE UI, jika pemerintah bekerja lebih keras, pertumbuhan ekonomi di atas 6,5% bisa dicapai.

Persoalan Indonesia 2011 dan tahun-tahun mendatang, bukan hanya pada upaya memacu laju pertumbuhan ekonomi, tapi juga ikhtiar jitu untuk membuat laju pertumbuhan ekonomi lebih berkeadilan, lebih merata, lebih inklusif. Selama sepuluh tahun terakhir, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata 5,2%. Tapi, angka kemiskinan dan pengangguran tetap tinggi akibat pertumbuhan ekonomi yang terlalu eksklusif. Hanya sebagian penduduk negeri ini yang menikmati pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi eksklusif vs inklusif akan menjadi isu hangat yang menjadi perhatian para pengambil kebijakan di sektor publik maupun privat pada 2011 dan tahun-tahun mendatang. Pertumbuhan ekonomi eksklusif sudah berlangsung beberapa dekade. Sektor usaha yang padat modal dan teknologi –seperti sektor finansial, migas, pertambangan, telekomunikasi, dan teknologi informasi-, menghasilkan orang kaya baru. Miliaran hingga triliunan rupiah dicetak oleh mereka yang berinvestasi di pasar modal.

Dengan pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) di atas 40% tahun ini, mereka yang cermat memilih saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) meraih keuntungan sekitar 40% pula, bahkan lebih. Dengan menginvestasikan dana Rp 100 miliar, keuntungan Rp 40 miliar bisa dipanen. Mereka yang sudah kaya bertambah kaya. Tidak ada yang salah dengan kondisi ini. Namun, alangkah baiknya jika keuntungan juga bisa dinikmati oleh rakyat kecil.

Ekonomi Bisa Tumbuh 7 Persen jika …
Kamis, 23 Desember 2010 | 19:48 WIB
KOMPAS.com/Caroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengatakan, tahun depan pertumbuhan ekonomi nasional bisa mencapai 7 persen kalau pemerintah mampu mengatasi faktor-faktor penghambat pertumbuhan.

“Pertumbuhan ekonomi tahun 2010 cukup baik. Tahun depan beberapa lembaga memprediksi pertumbuhan ekonomi antara 6,3 persen sampai 6,5 persen. Tapi, Kadin beranggapan ekonomi bisa tumbuh sampai 7 persen kalau syarat-syarat yang dibutuhkan terpenuhi,” katanya saat menyampaikan keterangan pers di kantor Kadin Indonesia, Jakarta, Kamis (23/12/2010).

Syarat-syarat yang dia maksud, antara lain, pembangunan infrastruktur energi, jalan, dan pelabuhan, serta perbaikan sistem logistik nasional. Di samping itu, menurut Suryo, pemerintah bersama pelaku usaha juga harus bahu-membahu menyelesaikan persoalan dunia usaha.

Ia melanjutkan, Kadin Indonesia mengusulkan sepuluh program aksi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 7 persen tahun depan.

Pertama, menurut Kadin, pemerintah sebaiknya menaikkan level defisit yang selama ini ditetapkan 1,7 persen menjadi minimal 2,5 persen supaya tersedia cukup dana untuk memacu pergerakan sektor riil. “Dana itu seyogianya diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur, seperti pelabuhan, bandara, kereta api, dan lahan untuk kawasan industri,” katanya.

Selanjutnya, Kadin Indonesia merekomendasikan agar pemerintah menitikberatkan orientasi pembangunan pada industri manufaktur bernilai tambah tinggi di sektor pangan, pertanian, ataupun pertambangan supaya Indonesia tak lagi menjadi pengekspor bahan mentah. “Ketiga, Kadin mengusulkan pemerintah menetapkan insentif fiskal dan moneter untuk mendukung upaya swasembada energi dan pangan,” katanya.

Organisasi pengusaha itu juga menyarankan agar pemerintah memperbaiki kebijakan-kebijakan makro bidang investasi, perdagangan, dan perbankan yang selama ini menghambat upaya korporasi dalam meningkatkan daya saing.

Selain itu, menurut Suryo, pemerintah harus mendorong perbankan mengarahkan untuk investasi sektor riil, utamanya untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur yang sampai sekarang masih menjadi penghambat utama pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah, ia melanjutkan, juga harus mengupayakan penurunan tingkat suku bunga menjadi di bawah 10 persen seperti di negara-negara pesaing. “Supaya daya saing industri kita lebih kuat dan pertumbuhan sektor riil terpacu,” katanya.

Program aksi lain yang direkomendasikan Kadin Indonesia adalah pembuatan rencana pengembangan industri prioritas, kampanye penggunaan produk dalam negeri, dan peningkatan investasi di daerah. “Kalau usul-usul itu dijalankan, kami yakin pertumbuhan ekonomi bisa sampai 7 persen,” katanya.

Kilas 2010

Setelah mampu menghadapi dampak krisis ekonomi global tahun 2009, pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik pada 2010.

Pada triwulan III-2010, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,8 persen (year on year) dan surplus neraca pembayaran 6,9 miliar dollar AS.

Kinerja ekspor Indonesia juga positif. Selama Januari-Oktober 2010, nilai ekspor Indonesia mencapai 125,1 miliar dollar AS, naik 35,5 persen dari nilai ekspor pada periode yang sama tahun 2009.

Penanaman modal asing yang masuk ke Indonesia pun cukup tinggi, mencapai 3,4 miliar dollar AS pada triwulan III-2010 atau naik 24,4 persen dari kurun waktu yang sama tahun sebelumnya.

Investasi asing di dalam negeri diperkirakan meningkat tahun depan karena The Global Competitiveness Report 2010-2011 mencatat kenaikan peringkat daya saing Indonesia dari peringkat 54 ke peringkat 44.
Perekonomian nasional tumbuh 6,3%
Oleh Ema Sukarelawanto | 12 December 2010
bisnis

DENPASAR, Bali: Perekonomian nasional yang diperkirakan tumbuh sekitar 6,3% pada 2011 kendati belanja infrastruktur masih menjadi kendala.

Ekonom A Tony Prasetiantono, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM memprediksi pada tahun depan Indonesia menghadapi tiga isu yang berpengaruh terhadap preakonomian yakni perang kurs, kemungkinan krisis global berikutnya, dan lambatnya pembangunan infrastruktur dalam negeri.
”Pada kondisi seperti itu inflasi bakal menyentuh angka 6% dan estimasi produk domestik bruto [PDB] sebesar 6,3%,” katanya, akhir pekan ini.
Dia mempredikasi pada tahun 2011 sejumlah negara Eropa dan Amerika masih dirundung persoalan ekonomi dan sengaja akan melemahkan nilai mata uangnya. Bahkan Amerika Serikat menempuh kebijakan ekstrem dengan mencetak uang sebesar US$600 miliar.
Menurut Tony tidak ada yang bisa menjamin AS tidak mencetak uang lagi di tahun-tahun mendatang. Padahal, Cina dengan pertumbuhan ekonomi di atas 10% akan tetap melemahkan nilai tukar mata uangnya.
Dia mengatakan Cina sudah nyaman dengan kondisinya sekarang mengingat pertumbuhan ekonomi dan cadangan devisa menjadi kekuatan negara tersebut dalam mempertahankan nilai tukar yuan pada angka rendah.
Dia menilai krisis dunia yang menimpa negara-negara Eropa dan Amerika hingga kini sudah mengalami perbaikan, namun belum bisa terselesaikan dengan nyata. Ekonomi negara ini masih tetap tergoncang, kondisi ini tentu akan menjadi persoalan global yang akan mempengaruhi ekonomi Indonesia pada 2011.
Persoalan ketiga yang dihadapi Indonesia adalah minimnya belanja infrastruktur.
Tony mencontohkan belanja infrastruktur Cina 10%, Vietnam 8%, India 4,5%, Laos 4%, sedangkan Indonesia hanya 2%. Menurut dia idealnya belanja infrastruktur minimal 5% untuk mendorong bertumbuhnya ekonomi di segala bidang.
Kendati banyak kendala pada 2011, namun Tony menilai Indonesia memiliki modal yang kuat dengan nilai tukar yang kuat dan stabil. Dia mengungkapkan pada 2011 nilai tukar rupiah diprediksi dikisaran Rp9.000-9.200 per dolar.(mmh)

Pertumbuhan RI banyak disumbang primary product
Senin, 29/11/2010 11:47:28 WIB bisnis
Oleh: Achmad Aris, Agust Supriadi, Dewi Mayestika
JAKARTA: Sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ternyata lebih banyak disumbang oleh primary product ketimbang manufacturing.

Ekonom UI Chatib Basri mengatakan bahwa hal itu terlihat dari tren penjualan semen yang menjadi indikator kegiatan ekonomi, dengan pertumbuhan konsumsi terbesar di daerah luar Jawa.

“Bisa terjadi seperti ini karena di luar Jawa itu sumber perekonomiannya datang dari komoditas, apakah itu mining atau kelapa sawit. Sedangkan di Jawa manufacturing,” katanya dalam seminar Bisnis Indonesia-BNI Outlook 2011 di Jakarta, hari ini.

Rendahnya daya dorong sektor manufacturing terhadap pertumbuhan ekonomi beberapa tahun terakhir, jelasnya, merupakan masalah besar yang mau tidak mau harus segera diperbaiki. “Ini juga menunjukkan adanya gejala deindustrialisasi,” ujarnya.

Terkait dengan prediksi makroekonomi 2011, Chatib memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini sebesar 6% dan mencapai 6,2% – 6,3% pada 2011. Laju inflasi diperkirakan akan berada di level 7% – 7,5%, SBI 6,5% – 7,5%, dan nilai tukar rupiah berkisar antara Rp8.700 – Rp9.200 per dolar AS.

Beberapa risiko yang harus diwaspadai pada tahun depan, menurut Chatib, a.l. tekanan capital inflow yang diperkirakan akan lebih besar lagi, tingginya harga bahan makanan dan harga minyak mentah dunia, serta stabilitas tingkat inflasi dan BI rate.(er)
World Bank: Indonesian economy to continue growing
Published: 6 July 2010

The World Bank predicts Indonesia`s economy will continue to grow although economic reports in the first quarter showed uncertainty in the world market. World Bank senior economist Enrique Blanco Armas said here on Tuesday the country`s economy is expected to rise in 2011 due to domestic demand. He said Indonesia`s economy would reach above seven percent in the long term if the ambitious reform agenda in the 2010-2014 national development plan was met. He said imports would increase surpassing exports while inflation would also increase in line with higher lending rates and commodity prices. The World Bank records Indonesia`s economy would grow from 5.7 percent in the first quarter to 6.5 percent in the third quarter.

Source: AntaraNews.com, 29 June 2010

Business Monitor International (BMI) are forecasting real GDP growth will average 5.9% over the coming decade driven by vibrant private sector demand. Unemployment has reached a 5 year low of 7.1%, benign inflation allowing lending rates to stay low, strong investment growth and rising per capita income suggest that the Indonesian consumer will have greater spending power.

Moreover they believe that foreign investors are starting to take notice of Indonesia and that foreign direct investment is likely to pick up in a big way. They project investment growth to reach 7% in 2011.

Source: BMI July 2010

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s