1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

2010: tutup buku dengan tinta emas @bursa :) 17 Desember 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:10 pm

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh 46% menjadi 3.073 pada 30 Desember 2010 tertinggi di Asia Pasifik.

“IHSG mencatat pertumbuhan yang membesarkan hati naik 46% menjadi 3.073 pada 30 Desember 2010. Level tersebut merupakan level tertinggi di kawasan Asia Pacifik,” ujar Agus, Senin (3/1).

Lebih lanjut ia mengatakan, kapitalisasi pasar menjadi Rp3.240 triliun pada 2010 atau rasio sebesar 50% terhadap PDB, dan sekitar 30% pada 2009. Selain itu, jumlah perusahaan Indonesia yang tercatat di
Indonesia sebesar 23 emiten pada 2010 dibandingkan tahun sebelumnya hanya 13 emiten tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2009.

Seperti diketahui, IHSG juga sempat mencapai level tertinggi pada 9 Desember 2010. Nilai kapitalisasi pasar saham di akhir Desember 2010 mencapai nilai Rp3.243,8 triliun mengalami kenaikan sebesar 60,63%
dibanding akhir Desember 2009 sebesar Rp2019,4 triliun. Demikian seperti dikutip INILAH.COM dari siaran pers BEI yang diterbitkan Kamis (30/12).

Rata-rata nilai transaksi harian saham pada 2010 senilai Rp4,8 triliun naik sebesar 18,74% dari 2009 senilai Rp4,05 triliun. Sedangkan rata-rata frekuensi transaksi harian saham pada 2010 mencapai 5,44
miliar saham atau turun sebesar 10,76% dari 2009 yang sebesar 6,09 miliar saham.

Selain itu, aktifitas perdagangan di pasar obligasi konvensional, syariah, dan sukuk korporasi serta efek beragun aset mencapai Rp90,01 triliun atau naik 132% dari 2009 sebesar Rp38,86 triliun. Frekuensi
transaksi mencapai 15.017 kali atau naik 51% dari 2009 yang sebesar 9.936 kali. Rata-rata volume transaksi harian naik 128% dari Rp160,58 miliar per hari pada 2009 menjadi Rp365,90 miliar per hari pada
2010.

Sedangkan aktifitas perdagangan Surat Berharga Negara (SBN) termasuk SBSN, ORI, dan sukuk ritel mencapai Rp1.429,55 triliun atau naik 79% dari 2009 yang sebesar Rp799,89 triliun. Frekuensi transaksi pada
2010 mencapai 81.484 kali atau naik 55% pada 2009 yang sebesar 52.693 kali. Rata-rata transaksi harian naik Rp3,31 triliun per hari pada 2009 menjadi Rp5,81 triliun pada 2010 atau naik 76%. [

Sumber : INILAH.COM
Kapitalisasi Pasar Bursa RI Tembus Rp3.243 T
“Peningkatan ini terjadi karena kenaikan harga saham di bursa dan penambahan emiten baru.”
Kamis, 30 Desember 2010, 15:06 WIB
Antique, Purborini

VIVAnews – Kapitalisasi pasar PT Bursa Efek Indonesia (BEI) meningkat sebesar 60,63 persen dari Rp2.019 triliun pada akhir 2009 menjadi Rp3.243 triliun tahun ini.

“Peningkatan ini terjadi karena kenaikan harga saham di bursa dan penambahan emiten baru sebanyak 23 perusahaan,” kata Direktur Utama BEI, Ito Warsito, di Jakarta, Kamis 30 Desember 2010.

Sebanyak 22 saham emiten baru ditutup naik pada perdagangan hari pertama. Rata-rata penguatan saham-saham baru tersebut sebesar 29 persen.

Namun, hanya satu saham, yakni PT Wintermar Offshore Marine Tbk yang ditutup turun tujuh persen menjadi Rp335 dari harga penawaran Rp380 pada hari pertama perdagangannya.

Sementara itu, untuk rata-rata perdagangan harian juga menciptakan rekor baru sebesar Rp4,8 triliun. “Terakhir, rekor diciptakan pada 2008 sebesar Rp4,46 triliun per hari,” ujar Ito.

Bursa juga telah melakukan delisting atau penghapusan pencatatan saham terhadap satu emiten yang melakukan merger yaitu PT BAT Indonesia Tbk.

Sedangkan total dana yang berhasil dihimpun pada tahun ini sebesar Rp79,36 triliun, terdiri atas penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) Rp29,67 triliun, rights issue Rp48 triliun, dan waran Rp1,52 triliun. (art)
• VIVAnews
Menebak Level Indeks Bursa Akhir 2010
Aksi beli pelaku pasar terhadap sejumlah saham di bursa diprediksi tetap tinggi.
Kamis, 30 Desember 2010, 09:13 WIB
Antique

VIVAnews – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam tiga hari terakhir berhasil ditutup menguat, meski sudah mendekati hari terakhir perdagangan saham 2010, hari ini, Kamis 30 Desember 2010.

Namun, apakah pada perdagangan tutup tahun hari ini indeks masih berpeluang menguat seperti pada hari terakhir transaksi 2008 dan 2009? Berikut, penuturan para analis dalam prediksinya.

Seperti diketahui, pada transaksi terakhir tahun lalu atau 30 Desember 2009, IHSG ditutup menguat 15,36 poin atau 0,60 persen ke level 2.534,36. Sedangkan di hari terakhir perdagangan 30 Desember 2008, indeks menguat 14,52 poin (1,08 persen) di posisi 1.355,41.

Satrio Utomo, kepala riset PT Universal Broker Indonesia berpendapat, peluang IHSG ditutup positif di hari terakhir tahun ini cukup besar. Sebab, aksi beli pelaku pasar terhadap sejumlah saham di bursa diprediksi tetap tinggi.

“Terutama, pada saham-saham blue chips (unggulan) yang memiliki fundamental menjanjikan dan rencana aksi korporasi,” tuturnya kepada VIVAnews.com di Jakarta.

Saham-saham tersebut, menurut dia, antara lain PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT United Tractors Tbk (UNTR).

Selain itu, Tomi, panggilan akrab Satrio Utomo menambahkan, biasanya di hari terakhir akan ada saham-saham yang mengalami window dressing atau cenderung naik hingga akhir tahun.

“Bahkan, harga minyak yang bisa menembus US$100-105 per barel yang akan diikuti harga komoditas turut memberikan sentimen positif ke bursa,” ujarnya.

Dia memperkirakan, IHSG berakhir menguat di akhir transaksi 2010 dan berpotensi menembus level 3.700. Sebab, bursa regional Asia yang positif dan harga minyak mentah dunia yang cenderung naik bisa menjadi pemicunya.

“Namun, kalau untuk menembus rekor tertinggi yang pernah dicapai indeks tahun ini di level 3.777 agak susah ya. Bahkan, untuk mencapai level 3.750,” tutur Tomi.

Pada transaksi kemarin, Rabu 29 Desember 2010, IHSG ditutup naik 39,22 (1,07 persen) ke level 3.699,22.

Sementara itu, Pardomuan Sihombing, kepala riset PT Recapital Securities berpendapat, indeks diperkirakan bergerak mendatar (mixed) karena window dressing sudah terealisasi dan kalau pun terjadi kenaikan relatif terbatas.

“Sebab, tetap diwaspadai adanya aksi profit taking (ambil untung) investor di akhir tahun,” ujarnya.

Dia memperkirakan IHSG pada hari ini bergerak pada kisaran batas bawah (support) di posisi 3.670 dan batas atas (resistance) pada level 3.723. (art)
• VIVAnews
Penguatan Indeks Saham Bakal Berlanjut pada 2011
Selasa, 21 Desember 2010 | 16:03

investordaily

JAKARTA – Situasi kondusif di pasar modal yang ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia pada 2010, dinilai akan berlanjut pada 2011.

“IHSG diperkirakan bergerak naik pada kisaran 20-25 persen dibanding tahun sebelumnya (2010). Ini prediksi saya,” kata Direktur Utama PT Danareksa (Persero) Edgar Ekaputra, di sela Publik Ekspose Emisi Obligasi V, di Jakarta, Selasa.

Menurut Edgar, pasar modal Indonesia selama 2010 menunjukkan kinerja yang sangat positif.

IHSG yang ditutup pada level 2.534,3 poin pada akhir 2010, menembus kisaran 3.000 poin pada pertengahan tahun, serta ditutup pada tingkat 3.568 poin pada 20 Desember 2010.

Dengan begitu, IHSG selama tahun 2010 naik di atas 40 persen. Bahkan pertumbuhan Bursa Efek Indonesia mengungguli Bursa Saham China dan India.

Menurut Edgar, pertumbuhan itu memberi dampak positif terhadap pelaku pasar yang dapat memicu bertambahnya pelaku pasar, baik lokal maupun asing, untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Menurutnya, berdasarkan data, investor yang masuk ke pasar modal saat ini cukup besar atau mencapai 70 persen, sedangkan sisanya investor asing. “Secara keseluruhan ekonomi Indonesia sangat bagus, tercermin dari indikator-indikator ekonomi,” ujarnya.

”Dengan begitu, tidak ada alasan apapun untuk investor asing keluar. Justru asing juga sangat gencar untuk masuk ke dalam negeri,” ujarnya.

Meski begitu, Edgar berpendapat yang perlu diwaspadai adalah adanya tekanan inflasi terutama dari kenaikan harga bahan pangan. “Bank Indonesia menganut sistem `targeting inflation,` yang menggunakan instrumen suku bunga untuk mengendalikan inflasi,” katanya.

Ia menuturkan, sejumlah sektor yang akan aktraktif meliputi konsumer hingga 70 persen, infrastruktur tumbuh 15 persen, dan termasuk sektor perbankan.

Untuk itu, Edgar meminta pelaku pasar dan investor lebih percaya diri dan tidak justru menjelekkan kondisi ekonomi yang sudah dicapai. “Pelaku pasar harus memiliki `confidence` yang besar terhadap ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Secara keseluruhan, membaiknya indeks pada 2010 dipicu meningkatnya saham berkapitalisasi besar, dan akan terus berlanjut pada tahun depan. (tk/ant)

Hiruk Pikuk Peristiwa Ekonomi 2010
Headline

Oleh: Wahid Ma’ruf
Ekonomi – Jumat, 24 Desember 2010 | 15:30 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Geliat ekonomi tahun ini tidak hanya perkembangan pencapaian target dalam APBN 2010 saja. Namun juga terpengaruh situasi politik dengan pergantian Menteri Keuangan.

Meskipun panasnya kasus bailout Bank Century terjadi pada 2009, tetapi dampaknya terjadi di tahun ini. Bahkan Sri Mulyani yang meninggalkan kursi menteri keuangan menjadi catatan penting tahun ini. Selain keputusan kenaikan TDL 10% pada bulan Juli lalu.

Pada 1 Januari 2010, mulai berlakunya perdagangan bebas di kawasan ASEAN dan China. Isinya memerlakukan 7.306 pos tarif yang menjadi nol persen.

Pada 4 Maret, pengumuman Hasil Pansus Century DPR yang isinya cenderung menyalahkan keterlibatan Gubernur BI saat dijabat Boediono dan Menkeu Sri Mulyani.

Tanggal 31 Maret, presiden menyerahkan dua nama calon pengganti Miranda Goeltom untuk dipilih DPR sebagai Geputi Senior Gubernur BI, yaitu Darmin Nasution dan Gunarni Soewarno.

Untuk 1 April, pertama kalinya, Badan Pusat Statistik mengumumkan pada Maret 2010 terjadi deflasi 0,14 persen. Penyebabnya karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh penurunan indeks pada kelompok bahan makanan 0,91 persen. Akibat deflasi, inflasi tahun kalender 2010 mencapai 0,99 persen.

Tanggal 3 Mei, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mensahkan perubahan Undang-Undang 47 tentang perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2010. Perubahan untuk asumsi dasar APBNP 2010 tersebut mencakup pertumbuhan ekonomi disepakati sebesar 5,8% dari sebelumnya 5,3 %. Inflasi meningkat menjadi 5,3% dari 5%. Nilai tukar rupiah yang semula diasumsikan Rp10 ribu turun menjadi Rp9.200. Tingkat suku bunga acuan tetap pada tingkat 6,5%.

Asumsi harga rata-rata minyak mentah ditingkatkan hingga US$80 per barel dari harga sebelumnya US$65 per barel. Perkiraan produksi minyak tetap 965 ribu barel per hari.

Pada 5 Mei, Menkeu Sri Mulyani terpilih menjadi Direktur Pengelola (Managing Director) menggantikan Juan Jose Daboub, yang akan habis masa kerjanya per 30 Juni 2010. Sri Mulyani akan berperan untuk memperkuat dukungan dan implementasi reformasi Bank Dunia.

Bertepatan dengan 11 Mei, Darmin Nasution terpilih menjadi Deputi Senior Gubernur BI oleh Komisi XI DPR mengalahkan calon lain Gunarni Soewarno dan menggantikan Miranda Goeltom.

Untuk 19 Mei, Presiden umumkan Agus Martowardojo terpilih sebagai menteri keuangan menggantikan Sri Mulyani.

Tanggal 20 Mei, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantik Agus Martowardojo dan Anny Ratnawati sebagai Menteri Keuangan dan Wakil Menteri Keuangan di Istana Negara Jakarta.

Pada 17 Juni, Halim Alamsyah dilantik dan diambil sumpahnya sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia untuk masa jabatan 2010 – 2015.

Selain itu 17 Juni, Menteri ESDM telah menandatangani pengembangan gas bumi Donggi Senoro memberikan prioritas gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri.

Untuk 27 Juli Darmin Nasution dilantik sebagai Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia (BI) yang baru, menggantikan Miranda Goeltom.

Bertepatan dengan 1 Juli, pemerintah menaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) 10%.

Pada 18 Agustus Menkeu dan DPR sepakat membahas RUU OJK lagi setelah seluruh fraksi di Komisi XI DPR RI menyetujui RUU Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dilanjutkan pembahasannya.

Pada 1 September, Darmin Nasution dilantik menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) mengisi kursi BI-1 setelah ditinggalkan Boediono yang mengikuti Pemilu 2009 menjadi cawapres dari capres SBY.

Pada 3 September, BI mengumumkan keenaikan Giro Wajib Minimum (GWM), sebagai alat untuk mengendalikan arus likuiditas yang saat ini besar. Rasio GWM, atau jumlah dana minimum yang wajib disimpan oleh suatu bank, naik menjadi 8% dari 5%. Peraturan ini mulai berlaku 1 November 2010.

Pada 24 September, Komisi VII dan pemerintah membatalkan rencana kenaikan TDL 2011 sebesar 15% yang akan menghemat dana subsidi listrik Rp12,7 triliun.

Pada 25 September, Suryo Bambang Sulisto terpilih menjadi Ketua Umum Dewan Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia periode 2010 – 2015 setelah memenangkan perolehan suara putaran kedua pemilihan.

Untuk 26 Oktober 2010, APBN 2011 disetujui DPR, yang terdiri dari asumsi yang lain seperti asumsi pertumbuhan ekonomi 6,1%-6,4%, inflasi 4,9 -5,3%, rupiah Rp9.100-Rp9.400 per US$ dan suku bunga SBI 3 bulan 6,2% -6,5% dan harga minyak diasumsikan sebesar US$75-90 per barel.

Sedangkan pada 21 November, PT Garuda Indonesia Persero mengalami gangguan sistem Integrated Operating Control System (IOCS) yang mengakibatkan jadwal penerbangan menjadi kacau. Akibatnya Garuda harus membatalkan jadwal penerbangan hingga 25 November 2010.

Pada 1 Desember, BPS mengumumkan ekspor Oktober 2010 bukukan rekor baru dengan nilai US$14,22 miliar. Angka tersebut tembus pertama kalinya di atas US$14 miliar sejak akhir 2009.

Untuk 14 Desember, Komisi VII DPR dan pemerintah memutuskan untuk menunda pembatasan pemakaian BBM bersubsidi pada Maret 2011.

Haru Biru Peristiwa Penting IHSG 2010
Headline
inilah.com
Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Kamis, 23 Desember 2010 | 17:35 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Perjalanan bursa saham Indonesia 2010 diwarnai haru birunya berbagai peritiwa penting. Mulai dari dihentikannya trading floor hingga pencapaian rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Pada Senin 4 Januari 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi membuka perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tepat pukul 9.30 waktu JAT (Jakarta Automated Trading) presiden memencet tombol sebagai tanda dimulainya perdagangan awal 2010.

Selasa 12 Januari, saham pendatang baru PT Elang Mahkota Teknologi (Emtek) menjadi emiten pertama yang melantai di BEI. Anak usaha stasiun televisi SCTV tersebut mulai diperdagangkan di pasar sekunder.

Bulan berikutnya, Februari, kasus Grup Optima terus mencuat. Grup ini diduga melakukan penyelewengan dana nasabahnya. Menurut data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, kerugian nasabah Optima terdiri atas kerugian di Optima Securities Rp300 miliar dan di PT Optima Kharya Capital Management sebanyak Rp400 miliar.

Lalu, tepat 1 September 2010, aktivitas trading floor dihentikan. Padahal, sejarah trading floor sama panjangnya dengan sejarah berdirinya pasar modal sejak 1912. Kini semua transaksi beralih ke remote trading (jarak jauh) alias online trading.

Di bulan yang sama, Presiden SBY mempertanyakan libur panjang BEI pada Idul Fitri 2010. Namun, Direktur Utama BEI Ito Warsito menanggapinya secara santai. Bahkan, Ito justru merasa tersanjung dengan kritikan tersebut.

Menurutnya, masa libur bursa sejak 8-14 September 2010, tidak diputuskan secara sepihak oleh BEI. Melainkan sudah ditetapkan melalui konsultasi dengan para pelaku pasar serta anggota bursa.

14 Oktober 2010, BEI memutuskan untuk menghentikan sistem transaksi DMA (Direct Market Acces) PT Trimegah Securities (TRIM). Hal ini dipicu oleh nasabah luar negeri TRIM yang melakukan order saham hingga 18.000 kali. Namun, saham yang diorder secara bertahap itu juga dibatalkan secara bertahap.

Pada 10 November saham PT Krakatau Steel resmi dicatatkan di BEI sebagai emiten ke-16 di tahun 2010 dengan kode KRAS. Tahapan IPO emiten ini menuai kontroversi.

Penetapan harga saham perdana di level Rp850 per saham menuai pro-kontra. Ada yang menilai wajar tapi ada juga yang mengkritiknya sebagai obral saham pemerintah. Karena pemerintah bisa mematok harganya di atas Rp1.150 per saham.

Pada 15-22 November 2010, PT Bank Negara Indonesia (BBNI) melakukan proses pendaftaran pemesanan (book building) terkait rights issue. Penerbitan saham baru ini, menuai ketegangan dengan PT Bank Mandiri (BMRI). Masing-masing pihak ingin melakukan rights issue lebih dulu. Tapi, pemerintah akhirnya memutuskan rights issue BNI tahun ini dan Bank Mandiri baru di awal tahun depan.

Pada 16 November, PT Bakrie and Brothers (BNBR) melakukan share swap alias tukar guling saham dengan Rothschild untuk memiliki saham di Vallar Plc. BNBR melepaskan sebanyak 5,2 miliar saham PT Bumi Resources (BUMI) di harga Rp 2.500 per saham. BNBR melepas sahamnya di BUMI dengan nilai sebanyak Rp13 triliun.

Saham BUMI ini ditukar dengan 90,1 juta saham baru Vallar, di mana BNBR akan menerima 50,5 juta saham baru di Vallar. Aksi korporasi ini, kembali memulihkan kepercayaan investor terhadap emiten BUMI sehingga harganya kembali bertenger di atas Rp3.000.

Padahal, sebelumnya, saham ini terimbas sentimen negatif dari masalah pajak dan lilitan utang. Bahkan, dengan IPO anak usahanya, PT Bumi Resourses Minerals (BRMS) dan komitmen pembayaran utang jelang akhir 2010, saham BUMI berhasil mengubah sebagian utangnya jadi aset.

Pada 9 Desember 2010, IHSG ditutup di level tertingginya sepanjang sejarah bursa Indonesia di level 3.786,10. Level tertinggi sebelumnya di level 3.756 pada 10 November dan 3.769 pada 8 Desember. Setelah mecapai rekor tertinggi baru itu, indeks domestik kembali melemah ke level 3.568,81 pada 20 Desember. [mdr]

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak kinerja kemilau pada 2010. Sepekan sebelum tutup tahun, IHSG telah mencatatkan kenaikan sebesar 40,82% ke level 3.568 .

Pada 4 Januari 2010, IHSG dibuka di level 2.533,95. Seperti gelombang, IHSG pun berfluktuatif, meskipun terus menunjukkan tren penguatan. IHSG pun berhasil mencatatkan level tertinggi dengan menyentuh level 3.013 pada 21 Juli 2010.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Eddy Sugito mengatakan, kenaikan IHSG didukung arus dana asing yang masuk dan performa emiten yang baik pada kuartal toga 2010. Selain itu, suplai emiten baru pada semester kedua yang cukup besar juga turut menyerap dana asing yang masuk ke pasar saham.

Jumlah emiten baru yang tercatat pada 2010 sebanyak 23 emiten dengan nilai penjaminan emisi mencapai Rp30 triliun. “IHSG mencatatkan rekor di level 3.786 dan year to date naik 48,89% tertinggi di kawasan dan dunia, kenaikan IHSG didukung arus dana asing dan performa emiten naik 25% pada kuartal ketiga 2010,” tegas Eddy.

Kalangan analis menilai, fundamental ekonomi Indonesia yang baik dan aliran dana asing yang terus masuk ke Indonesia memberikan sentimen positif untuk pasar modal. Perlahan-lahan tapi pasti, IHSG pun melaju hingga mencetak rekor tertinggi di level 3.786 pada 9 Desember 2010.

CEO Vibiz Consulting Alfred Pakasi mengatakan, dana asing terus masuk ke Indonesia. Dana asing tersebut masuk ke pasar Surat Utang Negara (SUN) sekitar 62%, Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sekitar 23%, dan ke bursa saham Indonesia sekitar 15%. Dana asing yang masuk ke Indonesia mengingat keadaan ekonomi Amerika Serikat yang belum pulih dan krisis utang Eropa.

Sumber : INILAH.COM
Lima Saham yang Paling Menguat Hingga Kini
Peningkatan harga terlihat sejak 30 Desember 2009 hingga Senin 20 Desember 2010.
Selasa, 21 Desember 2010, 09:06 WIB
Antique

VIVAnews – Saham-saham apa saja yang menempati urutan teratas daftar saham yang mengalami peningkatan harga paling banyak sejak 30 Desember 2009 hingga transaksi awal pekan ini, Senin 20 Desember 2010?

Berikut, penjelasan Gifar Indra Sakti, analis PT Sucorinves Central Gani saat dimintai pendapatnya oleh VIVAnews mengenai saham-saham tersebut hari ini, Selasa 21 Desember 2010.

Menurut Gifar, berdasarkan data Bloomberg terlihat, saham PT Global Mediacom Tbk (BMTR), PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Indika Energy Tbk (INDY) menduduki peringkat teratas saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar.

“BMTR naik 190 persen, ASRI 176 persen, KLBF 140 persen, BBNI 95 persen, dan INDY sebanyak 87 persen,” ujarnya. FUNDAMENTAL SAHAM INDY

Lebih lanjut, dia menuturkan, kenaikan persentase saham-saham itu terlihat karena pada akhir 2009, harga BMTR hanya Rp210 tapi hingga Senin kemarin harganya sudah mencapai Rp610.

“ASRI per 30 Desember 2009 masih Rp105, tetapi pada 20 Desember 2010 sudah mencapai Rp290. KLBF, dari Rp1.300 menembus level Rp3.125. BBNI, dari Rp1.980 ke posisi Rp3.675. Sedangkan INDY, dari Rp2.225 ke Rp4.175,” kata Gifar.

Adapun alasanya, kata Gifar, BMTR berhasil mengalami peningkatan harga besar hingga saat ini sejak akhir tahun lalu terkait gencarnya aksi korporasi perseroan. ASRI, seiring proyek properti dan penyelesaian jalan tol yang menjadi akses ke proyek perumahaannya. KLBF, terkait aksi korporasi seperti divestasi anak usahanya PT Kageo Igar Jaya Tbk.

“Kalau BBNI, karena aksi penawaran saham terbatas (rights issue) dan INDY terkait harga komoditas yang cenderung meningkat,” tuturnya.
• VIVAnews

Artikel ini merupakan artikel kedua dalam blog ini yang membahas tentang window dressing. Artikel sebelumnya dapat dilihat pada link ini. Dalam artikel kedua ini, kami memberikan definisi baru untuk istilah window dressing tanpa terlalu mengubah arti dalam sebelumnya. Artikel ini juga merupakan artikel yang saya tulis bersama analis baru di Infovesta, Calvin M. Sidjaya. Selamat menikmati…

Menjelang akhir tahun, biasanya kata “Window Dressing” akrab terdengar di telinga para investor. Tidak hanya investor saham, tapi juga investor reksa dana. Apa yang sebenarnya dimaksud dengan “Window Dressing” dan apa manfaat fenomena ini bagi para investor?

Window dressing biasanya diartikan sebagai kondisi di mana harga saham akan cenderung menguat menjelang penutupan akhir tahun. Umumnya kenaikan tersebut terjadi pada bulan Desember. Momen ini dapat dimanfaatkan bagi investor untuk mengambil keuntungan jangka pendek karena harga saham diperkirakan akan naik pada bulan tersebut.

Penyebab terjadinya window dressing berasal dari beberapa hal, manajemen perusahaan menggenjot kinerja secara signifikan pada akhir tahun sehingga perusahaan mencatat laba di atas ekspektasi, positifnya data-data ekonomi menjelang akhir tahun, hingga pola anomali pasar saham yang secara historis sering terulang dan menjadi sebuah kebiasaan.

Selain terjadi di saham, fenomena window dressing juga terjadi di reksa dana khususnya reksa dana saham. Hal ini disebabkan karena Manajer Investasi berusaha mendongkrak kinerja reksa dana yang dikelolanya pada akhir tahun sehingga kinerja secara keseluruhan terlihat bagus di mata investor.

Untuk membuktikan apakah fenomena tersebut ada atau tidak, kami mencoba membuktikannya dengan melihat data IHSG selama 8 tahun terakhir. Caranya adalah dengan membandingkan return IHSG pada bulan Desember dengan rata-rata return bulanan pada tahun yang sama dari bulan Januari hingga November.

Kami memberikan definisi tersendiri terhadap fenomena window dressing yaitu:

1. IHSG membukukan return yang positif pada bulan Desember

2. Return tersebut minimal sama atau lebih besar dibandingkan dengan rata-rata return bulanan pada tahun yang sama.

Definisi Window Dressing secara umum adalah semata-mata return positif pada bulan Desember saja. Berdasarkan data return bulanan IHSG selama 8 tahun terakhir, kami mendapatkan informasi sebagai berikut:

Berdasarkan data di atas, maka dapat dilihat bahwa setiap bulan Desember, baik dalam kondisi market bullish ataupun bearish, IHSG selalu membukukan return positif. Namun jika ditilik dari definisi Window Dressing yang sudah ditetapkan di awal, dimana tingkat return juga harus lebih tinggi dari rata-rata return Januari – November, maka fenomena tersebut hanya terjadi selama 5 dari 8 tahun yaitu 2002, 2003, 2005, 2006, dan 2008.

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah apakah Window Dressing akan kembali terjadi di tahun ini? Ada beberapa kondisi yang perlu dipertimbangkan, antara lain:

1. IHSG sudah menguat secara signifikan dari awal tahun hingga akhir November 2010 dengan return mencapai 39,33%. Apakah masih tersisa energi untuk terus menguat lagi mengingat pada tahun 2007 dan 2009 dimana ketika IHSG melambung tinggi, return pada bulan Desember lebih rendah dibandingkan rata-rata Januari – November.

2. Faktor ketidakpastian ekonomi global antara lain seperti krisis hutang Eropa dan efek sampingnya, spekulasi kenaikan suku bunga China dan dampak perang Korea. Setiap saat, salah satu dari ketiga faktor tersebut dapat memicu penurunan harga saham apalagi mengingat kondisi bursa dunia terkait satu sama lain.

Berdasarkan data di atas, kami meyakini bahwa return pada bulan Desember masih akan positif seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Dari sisi return, rata-rata return bulan Januari – November 2010 adalah sebesar 3.2%. Dengan harga penutupan IHSG per November 2010 pada 3531,21 , maka window dressing dikatakan terjadi jika IHSG mencapai level 3644,20. Pada saat artikel ini ditulis, harga penutupan IHSG telah mencapai 3571,74 (positif 1.15% per 16 Desember 2010). Supaya window dressing dapat terjadi pada tahun ini, IHSG masih harus naik 72.46 poin atau sekitar 2% lagi dari posisi per 16 desember 2010. Kami melihat kemungkinan ini masih tetap ada.

Ada beberapa cara bagi investor untuk memanfaatkan fenomena window dressing ini. Cara pertama adalah membeli saham-saham yang memiliki kinerja menyerupai dengan pasar. Salah satu cara untuk melihat apakah kinerja saham akan menyerupai pasar atau tidak adalah dengan melihat besaran angka beta. Beta 1,2 menunjukkan apabila IHSG mengalami kenaikan 10%, maka kenaikan saham adalah 12%.

Saham-saham yang memiliki beta 1 atau lebih besar dari 1, dapat menjadi pilihan investor. Sebab dengan beta 1 atau lebih dari 1, maka kenaikan saham tersebut akan sama atau lebih besar daripada kenaikan IHSG. Selain beta, investor juga harus memperhatikan kinerja fundamental perusahaan. Sebisa mungkin pilih perusahaan dengan fundamental yang kuat.

Cara kedua adalah dengan membeli reksa dana saham yang memiliki portofolio menyerupai pergerakan IHSG. Sama seperti saham, angka beta reksa dana juga dapat dihitung. Dengan memilih reksa dana yang memiliki beta 1 atau lebih besar dari 1 diharapkan dapat memperoleh tingkat return yang lebih besar dibandingkan dengan IHSG.

Faktor yang membedakan antara beta saham dengan beta reksa dana adalah bahwa fundamental dari kinerja suatu saham dapat diukur sementara fundamental reksa dana tidak. Hal ini disebabkan karena portofolio reksa dana dapat berubah sewaktu-waktu sehingga bisa saja portofolio yang hari ini terdiri dari saham bagus besoknya sudah tidak sama lagi.

Oleh karena itu, khusus untuk reksa dana, investor harus memperhitungkan faktor konsistensi. Selain return yang positif, reksa dana juga sebisa mungkin diharapkan secara konsisten membukukan kinerja return historis yang lebih baik dibandingkan IHSG pada bulan-bulan desember.

Kejadian masa lalu juga tidak akan selalu terulang pada masa mendatang. Investor juga perlu menyadari bahwa kegiatan investasi merupakan tindakan yang mengandung risiko. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi anda.

Selama 2010 Kinerja IHSG Fantastis
Jumat, 17 Desember 2010 | 14:47 WIB
KOMPAS/RIZA FATHONI

JAKARTA, KOMPAS.com Tak ada hal yang tak mungkin terjadi di dunia ini, termasuk pada Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia yang mengalami pertumbuhan hingga 40 persen lebih, mengungguli dominasi bursa China dan India.

Indeks Harga Saham Gabungan atau yang lebih dikenal dengan nama IHSG merupakan salah satu indeks pasar saham yang digunakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebagai catatan, IHSG sempat ditutup berada pada posisi tertinggi di 3.786,09 poin pada Kamis (9/12/2010). Pertumbuhan itu memberi dampak positif terhadap pelaku pasar. Kenaikan indeks tersebut dapat memicu bertambahnya pelaku pasar, baik lokal maupun asing, untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Pada penutupan perdagangan tahun lalu, tepatnya 30 Desember 2009, IHSG ditutup di level 2.534,3 poin. Sementara titik terendah penutupan IHSG pada 2010 terjadi pada 8 Februari 2010 di level 2.475,6 poin.

Pada kuartal pertama 2010 IHSG mengalami tren menguat (bullish) berada di posisi tertinggi di level 2.813,08 poin pada 26 Maret 2010. Setelah itu pada kuartal kedua di 30 April 2010 IHSG kembali mencetak rekor. IHSG berhasil naik ke level 2.971,25 poin.

Kenaikan IHSG terjadi seiring dengan kembali masuknya investor asing di lantai bursa dengan net buy foreign (beli bersih asing) tercatat sebesar Rp 550 miliar. Namun, pada kuartal yang sama pada 2010 IHSG juga sempat anjlok ke posisi 2.514,12 poin atau turun 18,17 persen dari penguatan tertinggi pada kuartal kedua.

Dari kuartal kedua sampai kuartal ketiga IHSG kembali mengalami trend bullish (tren naik) ke posisi tertinggi di 3.501,29 poin atau mengalami peningkatan sebesar 39,26 persen dibandingkan dengan posisi terendah pada kuartal kedua.

Sementara pada kuartal keempat 2010 IHSG kembali pada posisi tren naik di posisi 3.786,09 poin, tren naik pada kuartal keempat itu disebabkan oleh dana asing masuk ke pasar modal dalam negeri. Tercatat hingga Oktober 2010 selisih nilai beli bersih (net foreign buy) sebesar Rp 23,68 triliun.

Apakah jumlah selisih itu adalah uang panas atau lebih dikenal dengan hot money (arus modal jangka pendek), menurut Direktur Utama BEI Ito Warsito, masyarakat tidak perlu mengkhawatirkannya. Ia menambahkan, investasi di pasar modal sifatnya lebih untuk investasi jangka menengah dan jangka panjang, dana pihak asing yang masuk (capital inflow) jarang yang berinvestasi untuk jangka pendek. “Di pasar modal itu investasinya lebih ke jangka menengah dan panjang. Kalau jangka pendek, risikonya akan lebih besar sehingga kekhawatiran akan dipenuhinya pasar modal kita oleh hot money,” katanya.

Jika rata-rata transaksi harian dana asing ada yang keluar dengan cepat, ia mengatakan, hal itu tidak dapat dijadikan acuan bahwa dana asing berorientasi pada jangka pendek. “Rata-rata transaksi harian asing yang minus tidak bisa dijadikan patokan bahwa mereka berorientasi jangka pendek. Itu semata-mata hanya konsolidasi saja,” ujarnya.

Saat ini IHSG telah memperlihatkan kinerja yang fantastis sepanjang 2010, pertumbuhan itu merupakan yang terbesar di Asia mengungguli China dan India. Pertumbuhan indeks dalam negeri yang signifikan tersebut tidak lepas dari pelaku pasar lokal yang sudah mulai berkembang di pasar modal. Secara komposisi nilai transaksi asing sudah tidak dominan lagi dibandingkan dengan investor lokal.

Fantastisnya pertumbuhan IHSG dalam negeri itu tidak lepas dari fundamental emiten yang tercatat di bursa dalam negeri yang baik. Pertumbuhan yang fantastis tersebut dapat menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal domestik yang sangat tinggi.

Pertumbuhan IHSG yang sangat tinggi tahun ini merupakan modal baik menyambut tahun perdagangan baru pada tahun depan. Diharapkan pertumbuhan IHSG dapat terus berkelanjutan, termasuk jumlah investor yang melakukan investasi.

Bertambahnya jumlah investor merupakan cerminan investor saham kian yakin akan perekonomian nasional ke depan stabil dan akan terus terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi.

Untuk menambah jumlah investor, otoritas bursa saat ini telah melakukan pendekatan langsung kepada calon pelaku pasar melalui beberapa jalur. Salah satunya adalah dengan pendirian Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) di daerah-daerah yang potensial.

Kegiatan-kegiatan di PIPM meliputi berbagai usaha untuk meningkatkan jumlah pemodal lokal dan perusahaan tercatat dari daerah tempat PIPM berada dan sekitarnya. Hal lain yang dilakukan adalah membuka sekolah pasar modal yang dikhususkan bagi kalangan individu.

Fluktuasi IHSG Sepanjang tahun ini indeks BEI memang bergerak dengan kecenderungan menguat. Namun, dalam perjalanan IHSG itu tidak selamanya mulus. IHSG sempat bergerak anjlok hingga 3 persen dan IHSG pun sempat menguat hingga 3 persen juga, menunjukkan pasar yang bergerak berfluktuasi.

Seperti kita ketahui, pergerakan IHSG yang fluktuatif hanya ada tiga arah yakni, naik, turun, dan tidak bergerak atau stagnan.  Dengan IHSG yang berfluktuasi memberi sesuatu yang menarik untuk diperhatikan. Dapat dipastikan jika IHSG hanya bergerak satu arah, indeks tidak akan menarik. Saat harga saham menguat banyak pelaku pasar (investor) yang meraih keuntungan (gain) yang signifikan, tetapi tidak sedikit juga investor yang merugi.

Salah seorang pelaku pasar, Alex Marco, pernah bercerita, ia pernah menikmati keuntungan yang fantastis dari investasi saham perusahaan yang dimilikinya di bursa hingga ratusan juta rupiah saat harga sahamnya melambung tinggi. Saat itu, kisahnya, portofolionya yang berjumlah lebih kurang Rp 50 juta dapat menjadi Rp 250 juta dalam jangka kurang dari setahun.

Namun, keadaan berbalik, saat krisis finansial global yang terjadi pada 2008, ia juga pernah merasakan getirnya harga-harga saham yang jatuh hingga sampai menjual beberapa barang berharganya untuk menambah modal diportofolionya. “Waktu krisis 2008 saya menjual mobil dan dua rumah untuk menambah modal,” katanya.

Memang naik-turunnya saham tidak ada yang dapat mengetahui, sifatnya hanya prediksi dan sebuah prediksi dapat saja melenceng dari yang diharapkan.

Sementara, pelaku pasar lainnya, Aryadi, dalam tulisan blog-nya beberapa bulan lalu memutuskan untuk berhenti dari berinvestasi di pasar modal. “Masih terbayang-bayang jumlah uang ratusan juta yang pernah saya miliki, hasil menabung selama bertahun-tahun, yang sekarang telah sirna,” tulisnya. Ia mengaku telah mencoba membeli saham blue chip, saham lapis kedua, dan saham gorengan. Suatu saat berbuah untung, tetapi lain saat lebih banyak ruginya.

Saham blue chip merupakan sebuah istilah dalam pasar modal yang mengacu pada saham dari perusahaan besar yang memiliki pendapatan stabil dan liabilitas dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Saham blue chip biasanya memberikan dividen secara reguler kendati perusahaan itu mengalami kinerja yang agak buruk dibandingkan dengan sebelumnya. Sebenarnya pelaku pasar tetap berpeluang memperoleh keuntungan seperti yang dirasakan oleh Alex.

Salah satu yang wajib dicermati oleh kalangan pelaku pasar ataupun analis pasar modal Indonesia adalah mempelajari laporan keuangannya, serta kinerja harga saham emiten itu dalam beberapa periode terakhir. Selain itu, sikap optimis, sabar, dan berpikir jangka panjang. Sebab, panik karena melihat saham turun hanya akan membuat kita mengambil keputusan yang tergesa-gesa, akibatnya malah berisiko memperbesar kerugian. Orang yang baru melakukan investasi, khususnya di pasar modal, diharapkan berhati-hati. Sebagai pemula wajib mengerti akan kebutuhan investasi. Tekun dan geluti secara serius.

Pengamat pasar modal dari Millenium Danathama Securities, Ahmad Riyadi, menyarankan pelaku pasar pemula agar tidak mempunyai portofolio yang terlalu banyak. Hal itu, kata dia, agar si pelaku dapat fokus pada saham apa yang dipegang. Cukup tiga saham dan menahan 1-2 saham untuk tetap dipegang dalam jangka satu tahun. Sisanya satu saham itu untuk mencermati pergerakannya dan mengamati kinerja perusahaan saham tersebut.

Selain itu, kata dia, simak karakteristik unik bursa, misalnya, pada waktu tertentu suatu saham ada kecenderungan naik pada akhir tahun, sebagai antisipasi window dressing dan menyambut January effect. Pada Februari-Maret biasanya terjadi koreksi  setelah window dressing dan January effect.

Kemudian, April-Mei sebagai antisipasi publikasi laporan keuangan dan pembagian dividen. Sebaliknya, pada September-Oktober biasanya kecenderungan turun karena sepi, tidak ada berita dan aktivitas dan seterusnya.

Ahmad mengatakan, ketika indeks dengan posisi tren menurun, diharapkan pelaku pasar untuk membeli, begitupun sebaliknya. “Anda harus perdagangan apa yang Anda lihat, bukan apa yang Anda pikirkan,” ujar dia.

Ucapan selamat patut dilayangkan untuk kinerja IHSG BEI. Tapi, ucapan selamat datang patut disampaikan nanti pada 2011. Dengan perkembangan teknologi dan semangat baru pasar modal Indonesia, tentu kita semua berharap perkembangannya akan menjadi lebih baik.

ANTARA

Iklan