1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

Asien-K MASEH ga kap0k … 150311 18 Desember 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 11:26 am

Dana Asing Masih Deras
Senin, 14 Maret 2011 | 10:21

Likuiditas yang membanjiri pasar global bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, aliran dana asing itu mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan karenanya sangat didambakan. Tapi, di lain sisi, capital inflows yang menyerbu emerging market bisa membawa petaka jika terjadi sudden reversal.

Pasar global kini sedang kebanjiran likuiditas. Setelah krisis likuiditas tahun 2008 yang dipicu kasus subprime mortgage di AS, berbagai negara berlomba menerbitkan surat utang untuk menstimulasi perekonomian. Angka pengangguran yang membengkak akibat kelesuan dunia usaha harus diatasi dengan suntikan likuiditas. Harapan pun diletakkan di pundak negara ketika perbankan belum bisa diandalkan untuk meningkatkan kredit.

Penerbitan surat utang dalam jumlah besar oleh negara maju memicu masalah baru, yakni krisis fiskal. Negara terancam tidak mampu membayar bunga dan cicilan pokok surat utang. Bukan hanya Portugal, Italia, Irlandia, Greece (Yunani), dan Spanyol (PIIGS) yang didera krisis fiskal. Negara besar seperti AS dan Inggris pun mengalami masalah serupa. Untuk mengatasi masalah ini, lahirlah quantitative easing. Bank sentral memompakan likuiditas ke pasar dengan membeli surat utang pemerintah agar terhindar dari masalah default.

Pemompaan dana dalam jumlah besar oleh bank sentral negara maju sedikit menolong perekonomian negara bersangkutan. Tapi, bagi pasar global, banjirnya likuiditas akibat quantitative easing mengundang masalah baru lagi. Para manajer investasi dan hedge funds yang kebanjiran dana masuk pasar komoditas. Kelebihan likuiditas digunakan untuk spekulasi di pasar komoditas. Aksi mereka melambungkan harga komoditas pangan dan minyak mentah dunia.

Lonjakan harga komoditas pangan tidak semata-mata disebabkan oleh perubahan iklim ekstrem. Begitu pula dengan melesatnya harga minyak mentah. Krisis politik di Tunisia, Mesir, dan kini perang saudara di Libya, belum mengganggu pasokan. Tapi, masuknya para spekulan yang memiliki kelebihan dana meningkatkan permintaan berlebihan. Harga minyak mentah pun terus merangkak naik.

Potensi krisis baru kini terpampang di depan mata dengan naiknya harga minyak mentah. Bila harga minyak mentah menembus batas toleransi, 10% dari harga patokan APBN, US$ 80 per barel, pemerintah kemungkinan akan menaikkan harga BBM. Jika harga BBM dinaikkan, inflasi akan melaju kencang dan bisa jadi tidak terkontrol. Inflasi tinggi harus diikuti kenaikan suku bunga. Bila kenaikan suku bunga tidak memenuhi ekspektasi para pelaku pasar, sudden reversal akan terjadi. Para pemodal akan melepaskan surat utang negara (SUN). Dengan kepemilikan yang sudah cukup besar, pelepasan SUN secara tiba-tiba oleh pemodal asing bisa meruntuhkan pasar finansial.

Kondisi inilah yang kini sangat dikhawatirkan oleh otoritas moneter dan para pelaku pasar. Berbeda dengan krisis 1998, BI kini tidak lagi mudah diminta untuk menalangi kebutuhan dana pemerintah. SUN yang dilepas asing pada harga murah tidak serta-merta harus dibeli oleh bank sentral. UU Perbankan tidak lagi membolehkan. Belajar dari kasus Bank Century, BI takkan memberikan dana talangan. Oleh karena itu, kehadiran jaring pengaman system keuangan (JPSK) sangat mendesak.

Pemerintah dan DPR RI harus segera membahas RUU JPSK yang pernah ditolak ini agar Indonesia memiliki bantalan saat terjadi krisis finansial. Untuk mengantisipasi pembalikan arah capital inflows, BI sudah memiliki sejumlah instrumen yang teruji. Nilai tukar rupiah dibiarkan menguat terhadap dolar AS. Agar dana asing lebih lama bertahan di Indonesia, tenor SBI dan term deposit diperpanjang. Giro wajib minimum (GWM) valas dinaikkan, dan GWM rupiah dikaitkan dengan loan to deposit ratio (LDR). Cadangan devisa yang dikuasai BI saat ini sudah menembus US$ 101 miliar.

Langkah paling ideal untuk menahan capital inflows adalah foreign direct investment (FDI). Dana yang digunakan untuk membangun pabrik dan berbagai jenis perusahaan di Indonesia tidak akan mudah untuk ditarik kembali. Kita menghargai kenaikan FDI dalam beberapa tahun terakhir. Tapi, melihat tingginya kebutuhan dalam negeri dan besarnya dana asing yang masuk, FDI di Indonesia masih terlalu minim.

Infrastruktur dan kepastian hukum adalah kendala investasi langsung yang belum bisa terurai hingga saat ini. Pemerintah diharapkan fokus pada pembangunan infrastruktur, perbaikan kepastian hukum, dan birokrasi agar FDI meningkat lebih cepat.
Selasa, 04/01/2011 19:02 WIB
Dana Asing Rp 119,5 Triliun Banjiri RI di 2010
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Sepanjang 2010 aliran dana asing secara net yang masuk ke Indonesia nilainya mencapai Rp 119,5 triliun. Aliran dana ini masuk ke semua aset keuangan dan terbesar adalah ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN).

Demikian hasil Operasi Pasar Terbuka (OPT) pekan terakhir Desember 2010 yang disampaikan oleh Kepala Biro Hubungan Masyarakat BI Difi Ahmad Johansyah melalui surat elektroniknya di Jakarta, Selasa (4/1/2011).

“Hal tersebut didorong oleh sentimen global yang positif terkait rilis data ekonomi AS yang membaik dan optimisme pasar akan pemulihan ekonomi global di 2011,” tutur Difi.

Di akhir 2010, porsi kepemilikan asing di Surat Utang Negara (SUN) naik daro 29,76% atau Rp 194,83 triliun menjadi 29,93% atau Rp 195,75 triliun.

Sedangkan kepemilikan asing di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) hingga akhir 2010 meningkat dari 26,95% atau Rp 53,92 triliun menjadi 27,45% atau Rp 54,93 triliun.

Difi mengatakan, sepanjang 2010 jumlah obligasi yang diterbitkan mencapai Rp 38,4 triliun, naik dari 2009 yang sebesar Rp 29,1 triliun. Hal ini didorong oleh kondisi ekonomi yang kondusif serta suku bunga yang rendah.

“Emiten masih didominasi oleh lembaga pembiayaan dan bank dengan porsi keduanya melebihi 50%,” jelas Difi.
(dnl/qom)
BEI Lakukan Diversifikasi Investor Global
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal – Kamis, 30 Desember 2010 | 20:07 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) akan melakukan diversifikasi investor global untuk mengantisipasi dana asing yang terus masuk ke Indonesia.

Hal itu disampaikan Direktur Utama BEI Ito Warsito, Kamis (30/12). “Kita terus melakukan road show untuk diversifikasi investor global. Selama ini investor global Asia dari Eropa dan Amerika Serikat. Sekarang kita banyak lakukan road show kepada investor Jepang,” ujar Ito.

Selain itu, Ito menuturkan, korporasi dan industri keuangan biasanya masuk ke Indonesia. Saat ini, pihaknya akan melakukan diversifikasi investor kepada asuransi dan dana pensiun Jepang jadi tidak hanya Eropa dan Amerika Serikat. Hal ini dilakukan untuk menggantikan bila ada investor yang membalikkan dana.

Untuk mengantisipasi dana asing yang terus masuk ke Indonesia, BEI akan terus mencoba memperbanyak emiten baru. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan capital inflow. Dana asing yang masuk tersebut dapat masuk ke sektor riil..

Seperti diketahui, net buy asing di pasar modal mencapai Rp20 triliun pada 2010. Dana dari pasar modal yang masuk ke sektor riil mencapai Rp118 triliun terdiri dari penerbitan saham baru, rights issue dan obligasi pada 2010. [hid]

Dana Asing Dorong IHSG Berjaya di 2010
Rabu, 29 Desember 2010 – 16:34 wib
R Ghita Intan Permatasari – Okezone

SEPANJANG tahun 2010 ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampak mengikuti tren penguatan. Bahkan, IHSG pun sempat menyentuh level tertingginya pada 8 Desember lalu yang mencapai 3.769,99.

IHSG pada awal tahun 2010 (4 Januari 2010) ditutup di 2.575,41. Pada penutupan IHSG akhir tahun 2009, indeks berada di posisi 2.534,356. IHSG pun berhasil mencatatkan level tertinggi dengan menyentuh level 3.769,99 pada 8 Desember 2010.

Jika dibandingkan dua periode tersebut maka persentase pertumbuhan 19,69 persen. Hal ini menjadikan pasar modal Indonesia pada penutupan kemarin mengalami pertumbuhan tertinggi se-Asia Pasifik dengan persentase pertumbuhan 19,69 persen.

Kenaikan IHSG apada awal tahun 2010 ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Eddy Sugito mengatakan, kenaikan IHSG didukung arus dana asing yang masuk dan performa emiten yang baik pada kuartal III-2010. Selain itu, suplai emiten baru pada semester kedua yang cukup besar juga turut menyerap dana asing yang masuk ke pasar saham.

Analis Eko Kapital Cece Ridwanullah menuturkan penguatan indeks saham ini tak lepas dari pengaruh Januarry effect. Itulah, lanjutnya yang menyebabkan naiknya IHSG di awal tahun ini dibandingkan pada penutupan IHSG di 2009.

Sementara, jelang libur Natal kali ini, IHSG bergerak di zona merah. Investor cenderung bersikap wait and see menanggapi sentimen negatif global sehingga perdagangan menjadi lesu. Menurut Cece, lesunya perdagangan diakibatkan oleh regional yang variatif, selain itu menyambut long weekend karena disertai dengan libur natal menyebabkan investor masih wait and see untuk melihat apakah di pekan keempat bulan Desember 2010 ini ada harapan atau tidak untuk IHSG kembali menguat.

Selain itu, cuaca yang buruk di Eropa dan Amerika Serikat menyebabkan ada harapan bahwa harga minyak akan naik. Harga batu bara juga diprediksi akan naik di pekan keempat ini.

Cece pun berpendapat bahwa pada 2011 negara Indonesia akan menjadi masuk dalam kategori investment grade, di mana Indonesia dipandang layak untuk Negara-negara lain untuk menanamkan investasinya. Dengan pertumbuhan ekonomi yang baik, tingkat inflasi yang cenderung stabil, lalu pergerakan rupiahnya juga stabil.(adn)(rhs)
Sabtu, 18/12/2010 10:31 WIB
Dana Asing US$ 833 Miliar Bakal ‘Serbu’ Negara Berkembang di 2011
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Aliran dana asing yang memasuki negara berkembang atau emerging ekonomi di 2011 jumlahnya diperkirakan mencapai US$ 833 miliar. Lebih tinggi dari prediksi di tahun ini yang sebesar US$ 825 miliar.

Demikian disampaikan oleh Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo di kantornya, Jalan MH. Thamrin, Jakarta, Jumat (17/12/2010).

“Kalau prediksi internasional institusi finansial, tahun ini, capital inflow seluruh emerging ekonomi sekitar US$ 825 miliar. Tahun depan US$ 833 miliar tak bisa dibayangkan betapa besarnya capital inflow ke seluruh emerging ekonomi,” tutur Perry.

Dikatakan Perry, BI terus memantau perkembangan capital inflow ini serta memperkuat pengendalian likuiditas di dalam negeri sehingga tidak tiba-tiba keluar dan mengguncangkan perekonomian.

“Jadi kita akan tetap bermain, merumuskan bauran kebijakan yang terdiri dari responsif hubungan nilai tukar, memperkuat cadangan devisa, makro prudential capital inflow,” jelas Perry.

Diakui Perry saat ini ketidakpastian ekonomi global masih tinggi terutama karena krisis utang di Eropa yang masih berlanjut. Sehingga dana-dana di negara maju akan lari ke negara-negara berkembang.

“Dalam waktu dekat akan ada pengumuman paket kebijakan apakah itu instrumen moneter atau perbankan termasuk soal GWM (Giro Wajib Minimum) valas. Bagaimana kita memperkuat visi ketahanan,” tukas Perry.

(dru/dnl)