1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

keajaiban ekon indon 2010 21 Desember 2010

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:31 am

Indonesia Si Putri Cantik
Jumat, 6 Mei 2011 | 9:38
investor daily

Indonesia menjadi negara tujuan investasi kedua yang paling difavoritkan oleh investor dunia. Indonesia hanya kalah oleh Vietnam yang berada di peringkat pertama, tiga tahun berturut-turut.

Pada 2030, kata Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, RI bagaikan Putri Cantik di mata investor. Hal ini menyangkut banyaknya investor yang akan berbondong-bondong ke Indonesia, khususnya dari AS.

Kita harus bisa memanfaatkan secara maksimal masuknya para investor itu untuk terbukanya lapangan kerja dan mengatasi pengangguran. Setiap negara memiliki minat pada sektor tertentu. Contohnya investor Taiwan dinilai memiliki minat besar pada sector industri alas kaki, elektronik, tenaga surya, dan infrastruktur.

Kemudian, pemodal India cenderung meminati proyek infrastruktur, seperti pembangunan rel kereta api. Sedangkan, investor Korsel lebih meminati sektor industri manufaktur, otomotif, elektronik, dan infrastuktur. JP Morgan Chase Co menilai Indonesia sebagai tujuan investasi paling menarik di antara negara-negara emerging economy lainnya, khususnya untuk investasi portofolio dan asing langsung.

Daya pikat itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat, membeludaknya animo investor membeli obligasi global Indonesia, pengelolaan fiskal yang bijaksana, dan kondisi ekonomi yang stabil.

Semoga dengan rasa percaya para investor asing yang tinggi terhadap Indonesia, investasi mereka di Indonesia pun bisa terus meningkat. Di sisi lain, pemerintah juga harus menjaga iklim investasi di Indonesia agar negeri kita ini tetap diincar orang asing yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia.

Adya Pramesthi
Masyarakat Konsumtif, Pengutang, dan Spekulatif
Rabu, 16 Maret 2011 – 08:35 wib

TOPIK yang diajarkan dalam mata kuliah ekonomi makro salah satunya adalah perbedaan antara kepentingan mikro dan makro. Apa yang baik untuk seorang individu belum tentu baik untuk perekonomian.

Dari sisi individu, menabung dan berhemat adalah kegiatan sehat. Seorang individu memang sebaiknya membeli barang hanya bila punya uang, bukan berutang. Seorang individu sebaiknya juga tidak melakukan kegiatan spekulasi. Sebab, jika salah berhitung, kondisi keuangannya dapat menjadi berantakan. Namun, dalam pelajaran ekonomi makro disebutkan bahwa masyarakat yang hidup hemat,tidak suka berutang dan tidak mau berspekulasi justru merugikan perekonomian.

Semakin besar keinginan untuk mengonsumsi, semakin baiklah perekonomian. Jika masyarakat suka berhemat, bisnis akan lesu. Sebab, tidak banyak pembeli. Jika bisnis lesu, ekonomi tidak akan tumbuh. Artinya, kita memang diajari hidup boros. Lihatlah betapa berbagai reklame terus memupuk hasrat konsumsi kita. Lebih lanjut,dalam pelajaran teori ekonomi makro kita juga belajar betapa perluasan kredit baik untuk pertumbuhan ekonomi.

Semakin banyak orang mau berutang, semakin besar tingkat konsumsi mereka dan semakin bergairahlah perekonomian. Selain itu,semakin banyak orang mau berutang, semakin maju sektor keuangan. Kemajuan sektor keuangan ini biasanya juga membantu pertumbuhan ekonomi yang cepat. Artinya, kita memang diajari untuk hidup dengan pola berutang.Lihatlah betapa agresifnya bank mengajak kita untuk berutang. Lebih parah lagi, kegiatan spekulasi juga mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kalau orang berani berspekulasi, masyarakat tidak perlu meningkatkan produksi. Barang yang sama dapat diperjualbelikan dengan harga yang makin tinggi. Masyarakat secara umum memang tidak memperoleh keuntungan dari spekulasi ini karena barang yang diproduksi tidak bertambah.

Namun, secara individu para pelaku spekulasi mendapatkan keuntungan banyak sekali.Keuntungan para spekulan ini dihitung dalam pertumbuhan ekonomi.Dengan demikian, kegiatan spekulasi (yang sesungguhnya tidak ada gunanya untuk masyarakat) dapat tercatat sebagai penyumbang penting dalam pertumbuhan ekonomi. Artinya, kita memang diajari hidup dengan melakukan tindakan spekulasi.

Peningkatan Inflasi

Harga yang terus naik (inflasi) juga baik untuk bisnis. Harga yang turun (deflasi) pertanda bisnis suram.Pertumbuhan ekonomi pun akan melambat, bahkan dapat negatif. Jadi, dari yang dibahas di teori ekonomi makro, konsumen memang tidak boleh berharap menikmati harga yang menurun. Sebab, harga yang lebih murah berarti bisnis yang lesu dan pertumbuhan ekonomi yang menurun.

Celakanya, untuk individu, harga yang naik dengan makin cepat (inflasi yang meningkat) menyebabkan individu malas menabung. Uang yang ditabung akan berkurang nilainya. Kalau pun mendapat bunga, suku bunga sangat kecil, lebih rendah dari inflasi.Akibatnya, secara netto nilai tabungan justru menurun. Lebih parah, jika terkena biaya administrasi dan pajak, nilai tabungan akan makin kecil.

Akibatnya, dengan inflasi yang makin tinggi,orang makin malas menabung. Kalau orang menduga harga barang akan terus menaik, mereka akan terdorong untuk meningkatkan konsumsi. Sebab, menunda konsumsi berarti mereka akan harus membayar konsumsi dengan harga yang lebih mahal. Saat inflasi meningkat, berutang menjadi pilihan yang makin menarik,walau pengutang harus membayar bunga. Karena itu, orang terpicu untuk berutang, ketika harga belum naik lebih lanjut.

Utang biasanya diberikan lembaga keuangan, baik bank maupun bukan bank. Namun, akhir-akhir ini kita juga makin melihat adanya lembaga perdagangan eceran yang menjual barang secara kredit, bahkan tidak melayani penjualan tunai. Lembaga eceran ini sesungguhnya telah mendorong orang untuk berutang. Mereka juga telah berfungsi sebagai lembaga keuangan dan bukan lembaga perdagangan.

Lebih serius lagi,ketika orang kemudian juga terpacu untuk berspekulasi. Mereka membeli barang dengan harapan harga barang akan meningkat. Mereka kemudian akan mendapatkan keuntungan dari peningkatan harga itu.Dalam keadaan demikian, harga yang makin mahal bukan menurunkan permintaan, melainkan justru meningkatkan permintaan. Harga yang naik memberi tanda bahwa harga akan terus naik. Dengan demikian, orang akan berlomba membeli sebelum harga naik lebih lanjut.

Tingkah laku ini kemudian benar-benar memacu harga untuk naik lagi.Kenaikan harga ini kembali memicu orang untuk membeli lebih banyak lagi. Harga makin naik. Para spekulator makin diuntungkan, sedangkan masyarakat secara makro tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Tingkah laku spekulasi ini dapat dilakukan untuk barang yang “nyata” seperti tanah dan rumah.Namun, ini juga dapat terhadap barang yang “tidak nyata” seperti surat utang, saham, dan berbagai turunan (derivatif) dalam pasar keuangan.

Selanjutnya, lihatlah betapa bisnis terus menerus mendorong orang untuk konsumsi, konsumsi, dan konsumsi. Bersamaan dengan itu,lembaga keuangan terus mendorong orang untuk pinjam, pinjam, dan pinjam. Perhatikanlah pula cara para investor mengajari masyarakat melakukan tindakan spekulasi ,misalnya, dengan membeli rumah karena harga rumah diharapkan akan meningkat dengan pesat.

Semua kegiatan yang mendorong masyarakat untuk makin boros, berani berutang, dan bertingkah laku spekulatif ini telah dilakukan dengan semakin agresif, yang semuanya diharapkan dapat memicu pertumbuhan ekonomi. Namun sampai kapan? Pernah melihat orang yang mampu bekerja keras, tidak mengenal lelah, dengan bantuan kopi? Sampai kapan orang dapat bekerja keras dengan bantuan kopi? Tubuh sebenarnya telah lelah,sudah harus beristirahat.

Namun, pemilik tubuh tidak merasa lelah,berkat kafein dalam kopi.Namun,suatu ketika, orang ini akan ambruk. Demikian juga dengan perekonomian. Gaya hidup boros, suka berutang,dan spekulatif memang dapat meningkatkan gairah bisnis, tetapi sampai kapan? Di negara yang tidak ada jaminan sosial bagi seluruh masyarakat, termasuk bagi para lansia, gaya hidup semacam ini sangat penuh risiko.

Kalau terjadi sesuatu pada mereka (tiba-tiba sakit, menjadi cacat, kehilangan pekerjaan, atau pun menjadi lansia), dari mana mereka akan dapat hidup jika mereka tidak mempunyai tabungan dan justru punya utang? Sudah saatnya kita mengkaji ulang yang diajarkan di teori ekonomi makro.Betulkah para konsumen harus selalu menjadi pahlawan ekonomi melalui pola hidup boros, suka berutang,dan berspekulasi?

ARIS ANANTA
Ekonom

(Koran SI/Koran SI/wdi)
Ekspor 2010 dan Prospek 2011
Senin, 7 Maret 2011 – 08:14 wib
okezone

2010 ternyata menghasilkan kinerja ekspor yang sangat membanggakan bagi Indonesia. Sepanjang 2010, ekspor tercatat sebesar USD157,7 miliar, jauh melampaui ekspor 2009 yang mencapai USD116,5 miliar.

Ini berarti terdapat kenaikan lebih dari 35 persen, suatu peningkatan yang sangat tinggi. Kendati demikian, untuk fair-nya, kita juga harus melihat, ekspor yang relatif rendah pada 2009 terjadi karena pada tahun itu terjadi krisis global.

Sebelumnya, pada 2008, ekspor Indonesia juga meningkat tajam. Pada 2008 ekspor Indonesia mencapai USD137 miliar. Ini berarti kenaikan ekspor pada 2010 bukan hanya mengalami pemulihan (recovery) dari penurunan pada 2009, melainkan mulai meneruskan tren yang dibangun kinerja ekspor sampai 2008.

2010, ekspor naik 14 persen dari 2008. Dalam kinerja ekspor 2010, kita melihat ekspor komoditas naik cukup tinggi. Sebagian di antaranya tentu karena kenaikan harga komoditas global seperti minyak bumi, minyak sawit, karet, dan batu bara.

Kendati demikian, dari kenaikan ekspor tersebut, sebagian besar lagi berupa peningkatan volume dari ekspor itu sendiri, misalnya minyak sawit. Pada 2010, produksi minyak sawit Indonesia mencapai 22,3 juta ton, jauh melampaui Malaysia yang 17 juta ton.

Lantaran konsumsi di dalam negeri hanya sekira lima juta ton, ekspor minyak sawit Indonesia akhirnya mencapai sekira 17 juta ton, baik dalam bentuk minyak sawit mentah (crude palm oil) maupun produk jadi. Demikian juga batu bara yang mengalami kenaikan produksi.

Beberapa perusahaan batu bara besar bahkan sudah menguji ulang berapa besar depositnya dan ternyata mendapatkan deposit yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang diperhitungkan sebelumnya.

Sementara itu, kenaikan produksi batu bara PT Bukit Asam sangat tergantung dari sarana pengangkutannya. Begitu sarana pengangkutan mampu mengangkut lebih banyak, produksi juga mengalami kenaikan.

Satu hal yang menarik dari ekspor kita adalah ekspor minyak sawit dan karet yang masing-masing mencapai USD16,3 miliar dan USD9,4 miliar pada 2010 telah mendekati ekspor minyak dan gas yang pada tahun tersebut mencapai USD28 miliar.

Akan tetapi jika kita memilih batu bara ditambah karet, ekspor kedua komoditas tersebut telah menyamai ekspor seluruh minyak dan gas pada 2010 tersebut. Bagaimanapun, hal tersebut merupakan suatu kinerja yang sangat bagus dari komoditas nonmigas.

Saya bahkan meyakini minyak sawit ditambah karet Indonesia akan melampaui ekspor minyak dan gas dalam waktu tidak terlalu lama. Hal ini penting dikemukakan karena bagaimanapun minyak dan gas bumi adalah komoditas yang tidak renewable.

Jika mereka habis, kita tidak akan memperolehnya kembali. Adapun karet dan sawit adalah produk renewable. Selain komoditas, Indonesia berhasil meningkatkan ekspor produk industrinya. Di masa lalu, produk industri yang banyak kita ekspor adalah tekstil dan pakaian jadi.

Ekspor produk tersebut pada 2010 mencapai sekira USD10,5 miliar meskipun ekspor produk tersebut tidak termasuk dalam daftar 10 barang ekspor utama Indonesia. Dewasa ini ekspor barang industri telah semakin meningkat macam ragamnya.

Produk mesin/peralatan listrik (HS 85),misalnya, mengalami kenaikan ekspor dari USD8 miliar menjadi USD10,3 miliar. Kita mengetahui, selain perusahaan domestik, banyak investor asing yang memproduksi berbagai hal di Indonesia. Sebagian produk mereka diekspor.

Samsung dan Lucky Goldstar, dua raksasa elektronik Korea, selain melakukan ekspansi di pasar domestik, juga terus meningkatkan ekspor. Demikian juga berbagai perusahaan Jepang di Indonesia. Panasonic, misalnya, telah meningkatkan kapasitas produksi untuk pembuatan komponen elektronik yang diekspor ke seluruh dunia.

Perusahaan tersebut bahkan akan menambah kapasitas pabriknya lagi dengan melakukan relokasi lebih lanjut dari pabriknya di China dan Vietnam ke Indonesia. Dalam suatu pertemuan Pacific Economic Cooperation Council (PECC) di Jepang baru-baru ini, seorang teman delegasi dari Indonesia mengagumi kamera Nikon yang dipergunakan seorang anggota delegasi dari Jepang.

Setelah diperhatikan secara teliti, ternyata kamera yang dikagumi tersebut adalah buatan Indonesia. Bahkan berdasarkan penelitian lebih lanjut, ternyata kamera Olympus, Canon, dan Nikon (mungkin juga merek lain) untuk sebagian produknya memang dibuat di Bandung.

Produk-produk inilah yang akhirnya ikut meningkatkan ekspor Indonesia di bidang elektronik. Produk industri lainnya yang meningkat adalah mesinmesin dan pesawat mekanik (HS 84).

Ekspor produk ini naik dari USD4,7 miliar pada 2009 menjadi hampir USD5 miliar pada 2010. Sementara itu ekspor kendaraan dan bagiannya (HS 87) juga naik tajam, yaitu dari USD1,957 miliar menjadi USD2,899 miliar, suatu kenaikan hampir separuhnya. Indonesia memang banyak mengekspor komponen kendaraan bermotor atau kendaraan yang diekspor dalam bentuk terurai (completely knocked down atau CKD) dan mobil jadi atau completely built up (CBU).

Nilai ekspor hampir USD3 miliar tersebut berarti sekira 300 ribu unit kendaraan roda empat. Kendaraan roda empat yang kita ekspor banyak ditemui di Timur Tengah maupun negara-negara ASEAN.

Bagaimana prospek ekspor pada 2011? Beberapa faktor yang menentukan ekspor Indonesia pada 2011 adalah prediksi harga komoditas serta kapasitas yang memungkinkan pertumbuhan volume produksi. Dari sisi harga, fluktuasi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini rasanya mempersulit upaya untuk melakukan prediksi tersebut.

Namun dengan semakin kuatnya pemulihan ekonomi global, rasanya harga komoditas dunia akan meningkat. Sementara itu hasil penanaman beberapa tahun yang lalu akan meningkatkan volume produksi minyak sawit dan karet lebih lanjut.

Demikian juga produksi batu bara juga akan meningkat. Investasi yang terus berlanjut juga akan memungkinkan ekspor produksi barang industri naik. Dengan melihat tren pada tahun-tahun lalu serta kinerja ekspor Januari 2011 yang mencapai sekira USD14 miliar, bisa diperkirakan ekspor Indonesia pada 2011 akan mencapai USD170 miliar–180 miliar. Kendati demikian, saya tidak akan terkejut jika ekspor tersebut melebihi kisaran itu.(*)

CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi(Koran SI/Koran SI/ade)

Faisal Basri: Ekonomi Indonesia Bergerak Naik
Sabtu, 12 Februari 2011 | 22:42

JAKARTA- Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengatakan, tren ekonomi nasional akan bergerak naik dan baru memulai periode ekspansi, seiring dengan meningkatnya kepercayaan asing pada prospek investasi di Indonesia.

“Ekonomi kita sekitar 99% akan naik terus, setidaknya sampai tahun 2012,” kata dosen pasca-sarjana Universitas Indonesia (UI) itu pada diskusi industri manufaktur berbasis elektronika dan telematika, di Jakarta, Jumat.

Oleh karena itu, ia meminta kalangan dunia usaha khususnya di sektor elektronik dan telematika, optimistis dan melakukan ekspansi agar bisa mendapat keuntungan dari membaiknya ekonomi nasional.

“Jangan sampai salah prediksi, karena tren ekonomi Indonesia ekspansif,” kata dia. Apalagi, pada tahun ini semua lembaga asing maupun dalam negeri memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh lebih dari 6,1% yang dicapai tahun lalu.

Ia menyebut Lembaga Keuangan Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011 sebesar 6,2%, Bank Pembangunan Asia (ADB) memprediksi sebesar 6,3%, serta Bank Danamon dan Danareksa lebih optimistis yaitu 6,4%.

Diakuinya pertumbuhan ekonomi nasional lebih ditopang pada konsumsi sektor swasta dibandingkan pemerintah. Ia mencontohkan pada 2010, kontribusi pemerintah terhadap GDP hanya sekitar 0,3%, sedangkan konsumsi swasta mencapai 4,6%, ditambah kontribusi investasi sebesar 8,5%.

Faisal menyebut industri elektronik dan telematika menjadi salah satu industri yang memberi kontribusi besar dalam pertumbuhan industri nasional pada 2010 yang mencapai 5,1%.

“Industri elektronika yang berada dalam cabang industri alat angkut, permesinan, dan peralatan memberi kontribusi yang besar, setelah otomotif,” katanya.

Berdasarkan data BPS, cabang industri alat angkut, permesinan, dan peralatan memiliki pertumbuhan tertinggi yaitu 10,4%, dibandingkan cabang industri lainnya seperti industri pupuk, kimia, dan barang dari karet (4,7%), serta industri makanan, minuman, dan tembakau (2,7%).

“Yang sangat disayangkan justru industri yang berbasis sumber daya alam tidak tumbuh signifikan. Pertumbuhan industri Indonesia justru ditopang industri yang minim kaitannya dengan sumber daya alam yaitu otomotif dan elektronik,” ujar Faisal.

Sementara itu, Ketua Umum Federasi Gabungan Elektronika (Gabel) Rachmat Gobel mengatakan untuk mendorong investasi sektor elektronika, pemerintah perlu menghilangkan disparitas harga di dalam negeri, melalui penghapusan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) barang elektronik.

“Semakin rendah pajaknya, maka semakin besar dampaknya bagi pemerintah, berupa meningkatnya permintaan pasar dan masuknya investasi,” ujarnya.

Ditambahkan Ketua Gabel Ali Subroto, selama ini akibat penerapan PPnBM yang masih tinggi, maka banyak barang elektronik illegal yang masuk ke Indonesia tanpa membayar berbagai pajak.

Ia memperkirakan barang elektronik illegal yang masuk ke Indonesia mencapai 30% dari total pasar elektronik nasional.

“Namun dengan penerapan SNI berbagai produk elektronik, banyak produsen juga kini mulai membangun pabrik di Indonesia, terutama untuk barang elektronik yang besar seperti kulkas dan mesin cuci,” kata Ali. (gor/ant)
Nasib Sektor Pertanian dan Industri
Senin, 14 Februari 2011 – 10:35 wib

Kecemasan terhadap masa depan ekonomi nasional telah mendapatkan konfirmasi yang meyakinkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa hari lalu.

Para pengamat ekonomi sudah lama mengingatkan bahaya involusi pertanian dan gejala deindustrialisasi sehingga diharapkan pemerintah memberikan perhatian yang serius terhadap persoalan ini.

Namun, data yang disampaikan BPS menyodorkan fakta yang kian membuat prihatin karena sektor pertanian hanya tumbuh 2,9 persen dan sektor industri tumbuh 4,5 persen (padahal pertumbuhan ekonomi sepanjang 2010 mencapai 6,1 persen).

Seperti tahun-tahun sebelumnya, penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia didominasi sektor-sektor non-tradeable seperti pengangkutan dan komunikasi (13,5 persen), konstruksi (7 persen), perdagangan, hotel dan restoran (8,7 persen). Jika dibuat rata-rata, sektor non-tradeable mencapai pertumbuhan 7,7 persen sepanjang 2010.

Tragedi Pertanian

Sektor pertanian merupakan kisah sukses perekonomian nasional pada masa lampau. Secara tegas GBHN yang pernah dimiliki Indonesia menempatkan sektor pertanian sebagai fondasi pembangunan ekonomi.

GBHN itu kemudian diperinci berdasarkan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang berisi tahap-tahap modernisasi pembangunan sektor pertanian. Tidak mengherankan bila sejak dekade 1980-an Indonesia telah bisa swasembada beras dan memproduksi beberapa komoditas penting dalam jumlah yang besar seperti gula, kedelai, dan jagung.

Di kawasan Asia, Indonesia dianggap sebagai pemain penting sektor pertanian, bahkan dapat memasok kebutuhan negara-negara lain lewat ekspor yang dilakukan, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Pendeknya, selama kurang lebih 15-20 tahun Indonesia telah menempatkan dirinya sebagai pemain besar sektor pertanian di dunia. Namun, setelah krisis 1997/1998 keadaan tiba-tiba berubah sangat cepat.

Secara nasional Indonesia tidak memiliki lagi panduan strategi pembangunan ekonomi yang tegas untuk mendudukkan sektor pertanian sebagai basis perekonomian.

Secara teknis, kebijakan ekonomi banyak didikte oleh asing, khususnya melalui perjanjian letter of intent dengan IMF, yang meliberalisasi sektor pertanian secara drastis. Kenyataan itu membuat insentif melakukan kegiatan produksi di sektor pertanian menjadi menurun karena banjir produk impor.

Implikasinya, produksi beberapa komoditas andalan seperti kedelai dan jagung turun drastis. Sejak saat itu pula, Indonesia telah menjadi importir untuk beberapa komoditas pangan penting.

Pada semester pertama 2008 Indonesia pernah mengalami keadaan yang pahit ketika harga pangan internasional melonjak sangat tajam dan kita sudah menjadi importir pangan. Pada periode 2000-2004 sektor pertanian sempat tumbuh lumayan, rata-rata 3,9 persen, tetapi pada 2005 pertumbuhan sektor pertanian anjlok menjadi 1,79 persen.

Pada periode itu terdapat anomali yang aneh karena pada 2001 pertumbuhan ekonomi sebesar 3,81 persen dan meningkat menjadi 5,76 persen pada 2005, tetapi saat bersamaan sektor pertanian malah merosot pertumbuhannya dari 4,08 persen (2001) menjadi 1,79 persen (2005).

Pola ini seperti berulang saat ini ketika pertumbuhan ekonomi 2010 sebesar 6,1 persen, tetapi sektor pertanian hanya mampu tumbuh 2,9 persen. Celakanya, sampai saat ini sektor pertanian masih menyerap sekitar 41 persen dari total tenaga kerja.

Kehancuran ini bisa terjadi karena sektor pertanian tidak dinafkahi dengan kebijakan dan kelembagaan yang memadai untuk menghidupkannya kembali, bahkan untuk sekadar bertahan dari gempuran komoditas luar negeri pun sudah sangat sulit.

Cetak Biru Pembangunan

Sektor industri juga menyumbang penyerapan tenaga kerja yang cukup besar,yakni sekira 12 persen, dan berkontribusi terhadap PDB pada kisaran 26–27 persen (turun dari masa lalu yang hampir mencapai 29 persen).

Deskripsi ini, ditambah dengan kontribusinya terhadap ekspor, membuat sektor industri memiliki posisi strategis dalam konstelasi pembangunan ekonomi nasional. Namun, sebangun dengan yang dialami sektor pertanian, dalam beberapa tahun terakhir ini pertumbuhan sektor industri merosot sehingga kontribusinya terhadap PDB juga menurun.

Realitas inilah yang kemudian disebut dengan fenomena deindustrialisasi. Dalam subsektor industri, sebetulnya terdapat potensi yang besar untuk dikembangkan seperti industri makanan dan minuman, elektronik, tekstil, alas kaki, kimia, dan semen. Industri makanan dan minuman sampai sekarang masih menjadi penopang sektor industri nasional.

Sementara itu, industri tekstil mengalami kemunduran karena terlambat melakukan peremajaan teknologi (mesin) sehingga saat ini kalah bersaing dengan negara-negara lain semacam China, India, dan AS.

Industri kimia potensi ekspornya bagus, tetapi juga terjebak dengan impor bahan baku yang besar. Pola yang sama juga terjadi pada industri baja yang selama bertahun-tahun tidak melakukan ekspansi produksi. Untuk industri elektronik dan automotif tidak ada insentif yang jelas dari pemerintah untuk penguatan industri nasional sehingga Indonesia hanya menjadi pasar empuk negara-negara lain, khususnya Jepang, Eropa, dan AS.

Dengan situasi seperti ini, jelas sangat sulit mengharapkan sektor industri tumbuh tinggi karena tidak ada kebijakan dan investasi yang memadai selama beberapa tahun belakangan. Jadi, fenomena deindustrialisasi merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari.

Cetak biru pengembangan sektor pertanian dan industri merupakan kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda sebagai jalan pengembalian arah pembangunan ekonomi nasional.

Melihat potensi dan sumber daya ekonomi yang dimiliki, sebetulnya pembangunan sektor pertanian dan industri merupakan satu kesatuan. Strategi industrialisasi nasional harus dikembalikan pada tumpuan sektor pertanian (dan sumber daya alam lainnya) karena di sinilah keunggulan yang dimiliki Indonesia.

Terlalu banyak kesalahan yang dibuat dengan menjual murah (ekspor) komoditas penting di sektor pertanian dan SDA tanpa melalui pengolahan terlebih dulu seperti ikan, buah-buahan, batu bara, kelapa sawit. Jika semua itu diolah terlebih dulu, sektor industri bergerak, lapangan kerja tercipta, nilai tambah diperoleh,dan ekspor menjulang. Hal yang sangat sederhana ini pun tidak kunjung pemerintah lakukan!(*)

Ahmad Erani Yustika
Guru Besar FE Universitas Brawijaya,
Direktur Eksekutif Indef(Koran SI/Koran SI/ade)
Minggu, 06/02/2011 16:10 WIB
BPS : Pertumbuhan Ekonomi 2010 Tembus 6%
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) optimistis pertumbuhan ekonomi RI pada 2010 bakal menembus 6%. Hal ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2010 yang mendekati 7%.

Demikian disampaikan Kepala BPS Rusman Heriawan melalui pesan singkatnya kepada detikFinance di Jakarta, Minggu (6/2/2011).

“Secara keseluruhan selama 2010 pertumbuhan ekonomi bisa menembus 6%, angka tepatnya sedang difinalkan,” jelas Rusman.

Menurut Rusman, walau pertumbuhan ekonomi selama triwulan IV-2010 cukup tinggi namun belum bisa menembus angka 7%. “Triwulan IV-2010 itu belum bisa menembus 7% tetapi memang mendekati,” terangnya.

BPS sendiri akan merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2010 pada Senin, 7 Februari 2011.

Sebelumnya, Bank Indonesia juga optimistis perekonomian Indonesia pada 2010 dapat tumbuh sekitar 6%. Capaian ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2010 yang diperkirakan mencapai 6,1%, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya.

Untuk 2011, prospek ekonomi dunia terus membaik dan diperkirakan lebih tinggi dari perkiraan semula. Kecenderungan ini memperkuat keyakinan bank sentral terhadap prospek perekonomian Indonesia sehingga diperkirakan mencapai kisaran 6,0%-6,5% pada tahun 2011. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2011 diperkirakan dapat mencapai 6,4%, ditopang oleh masih kuatnya permintaan domestik dan membaiknya sisi eksternal. Kinerja ekspor masih cukup tinggi sejalan dengan pemulihan ekonomi global.

(dru/dru)
Selamat Datang, Tahun Kelimpahan!

Thursday, January 6th, 2011
oleh : Harmanto Edi Djatmiko

2011 bakal menjadi tahun kelimpahan bagi Indonesia: menikmati boom bisnis yang kini menjadi barang mewah. Inilah saatnya Anda, para pemimpin bisnis, menyusun agenda bisnis yang brilian.

“Anomali” tampaknya masih akan terus kita akrabi. Di mana-mana, dari kedai kopi pinggiran jalan hingga ruang diskusi serius di hotel berbintang, orang masih saja sibuk berkatarsis dan mencaci maki karut-marutnya kondisi sosial politik negara-bangsa yang disebut Indonesia ini. Anehnya, pada saat bersamaan, situasi ekonomi dan kegiatan bisnis jalan terus. Aman-aman saja.

Bahkan, selama setahun lalu, kinerja perekonomian dan bisnis negeri ini bisa dibilang kinclong. Simak saja sejumlah indikator penting berikut ini. Pertumbuhan ekonomi 2010 yang baru saja kita lalui mencapai sekitar 6% – lebih tinggi dari prediksi para ekonom yang dulu rata-rata menyebut angka 5,3%. Laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia 2010 sekitar 6,2% (tahun 2011 diperkirakan naik lagi ke angka 6,5%). Pertumbuhan PDB ini didorong oleh konsumsi domestik yang kuat berkat meningkatnya daya beli masyarakat, rendahnya tingkat bunga global, dan tingginya harga komoditas.

Sementara itu, ekspor nasional pada 2010 menembus angka US$ 150 miliar, mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah ekspor Indonesia. Indikator penting lain, praktis sepanjang 2010, perdagangan saham di lantai bursa Indonesia bullish. Indeks harga saham gabungan (IHSG), selama bulan Desember 2010 sudah menembus level 3.700 poin. Melesat 1.000 poin lebih dibanding penutupan IHSG tahun lalu, persisnya pada 30 Desember 2009, di level 2.534 poin.

Memang, teoretis, kalau kondisi sosial politik suatu negara berantakan, perekonomian dan bisnisnya pasti ambles. Dalam konteks Indonesia, setelah menyimak paparan fakta di atas, asumsi tersebut nyatanya tak berlaku. Sejumlah ekonom menyebut fenomena tersebut sebagai decoupling, yakni terlepasnya kaitan antara kehidupan sosial politik dan ekonomi. Betulkah demikian? Menurut saya, istilah decoupling yang sempat amat populer itu terlalu menyederhanakan persoalan: fakta yang terjadi di berbagai realitas sosial dilihat secara terkotak-kotak.

Dengan pikiran dingin, cobalah kita lihat mozaik-mozaik fakta sosial itu secara gestalt, menyeluruh. Niscaya terlihatlah, dalam konteks Indonesia, yang tengah berlangsung sekarang justru kaitan yang begitu erat antara dinamika sosial politik dan kehidupan ekonomi. Yang perlu dicurigai justru cara pandang masyarakat kita (termasuk kaum intelektualnya) terhadap realitas sosial yang belakangan tampaknya (sekali lagi: tampaknya) semakin karut-marut.

Untuk mudahnya, sejenak, mari kita bayangkan kehidupan yang sama sekali lain. Bayangkanlah, di tengah masyarakat yang baru belajar berdemokrasi ini, para warganya lebih suka berdiam diri, seolah-olah segalanya serba aman tenteram. Tak ada gejolak apa-apa. Sepi dari silang pendapat. Tak ada lagi lembaga independen yang berani bersuara lantang mempertanyakan kebobrokan di berbagai sendi kehidupan. Media massa, asal menyentil sedikit kebijakan penguasa, langsung diberedel. Demo-demo, sekecil apa pun, tahu-tahu digelandang tentara – belakangan, para pelakunya pulang tinggal nama. Bahkan, seorang penyair (yang audiensnya pasti sangat terbatas) dianggap berbahaya dan bisa hilang kapan saja tak tentu rimbanya. Maukah Anda kembali ke zaman seperti itu?

Tak bisa dimungkiri, masih banyak kekurangan – bahkan mungkin kebobrokan – pada pilar-pilar demokrasi kita. Baik di level eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Di level eksekutif, misalnya, hampir setiap hari terdengar keluhan dan kritik dari masyarakat atas lambannya pemerintah mengatasi beragam persoalan yang muncul di tengah masyarakat. Di level legislatif tak kalah menyedihkan: masih banyak anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang suka disuap oleh pihak tertentu untuk menggolkan RUU. Demikian pula di level yudikatif, masih kita saksikan aparat penegak hukum yang doyan sekali duit sehingga menyulitkan upaya penegakan hukum.

Sangat manusiawi jika kemudian banyak orang berteriak, “Kami butuh pemerintahan yang kuat.” Sedemikian frustrasinya, mereka lupa bahwa ekesekutif yang terlalu kuat, tanpa dibentengi lembaga legislatif dan yudikatif yang kuat, justru mengundang bangkitnya kediktatoran.

Bagaimanapun, sejelek-jeleknya kondisi sekarang, masih jauh lebih bagus dibanding era-era sebelumnya. Indonesia telah memilih dan menyambut dengan gegap gempita datangnya era keterbukaan, yang meniscayakan fungsi kontrol dari segala lapisan masyarakat. Kebobrokan memang masih menyeruak di sana sini, tetapi kontrol sosial dan tawaran jalan keluar yang konstruktif pun tak henti-hentinya mengalir. Baik dari lembaga swadaya masyarakat, pers, organisasi profesi, kaum intelektual, institusi keagamaan, perorangan, maupun komunitas dunia maya. Maka, tak usahlah terlalu merisaukan masa depan negeri ini. Yang kita butuhkan sekarang adalah kesabaran dan tanggung jawab bersama untuk berpartisipasi membangun infrastruktur demokrasi yang lebih kokoh lagi.

Itulah kabar baik bagi Anda, para pemimpin bisnis Indonesia. Dan, melihat semakin bergairahnya perekonomian Asia (terutama Cina dan India), plus pulihnya perekonomian negara-negara maju pascakrisis global, percayalah, tahun ini Indonesia bakal menikmati boom bisnis yang selama beberapa tahun terakhir tak pernah kita nikmati.

Maka, sudah seharusnya, Anda menyambut tahun yang penuh kelimpahan ini dengan agenda bisnis yang brilian dan – tentu saja – penuh optimisme.

Perbaikan Rating dan Anomali Bursa
Rabu, 19 Januari 2011 | 10:06

Indonesia baru saja mendapat kado dari lembaga pemeringkat internasional, Moody’s Investor Service. Peringkat utang domestic dan luar negeri Indonesia dinaikkan dari Ba2 menjadi Ba1, dengan prospek stabil. Peringkat baru ini satu level di bawah investment grade (peringkat layak investasi).

Ibarat sebuah rapor, kenaikan peringkat ini merefleksikan pengakuan internasional atas pencapaian pengelolaan ekonomi makro Indonesia. Moody’s menaikkan peringkat setelah melihat ketahanan ekonomi Indonesia disertai keseimbangan ekonomi makro yang berkelanjutan.

Selain itu, pengelolaan utang pemerintah membaik, cadangan devisa memadai, serta prospek aliran investasi asing kian membaik, didukung kuatnya permintaan domestik. Kita berharap perbaikan peringkat tersebut berdampak positif terhadap penurunan biaya pinjaman (cost of borrowing) maupun bunga surat utang. Bunga obligasi, baik yang diterbitkan pemerintah maupun korporasi akan lebih rendah. Hal ini terjadi karena adanya penurunan risiko.

Perbaikan peringkat diharapkan mendorong semakin derasnya aliran modal yang masuk ke Indonesia, baik yang masuk ke portofolio maupun dalam bentuk investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI). Di tengah kecemasan banyak pihak tentang potensi pembalikan secara tiba-tiba arus modal asing (sudden reversal), kenaikan peringkat oleh Moody’s tentu bisa meredam. Asing diharapkan masih betah dan nyaman untuk berinvestasi di portofolio.

Namun, harapan acap kali tidak sesuai dengan kenyataan. Berita segar yang digulirkan Moody’s tak sanggup membangun sentiment positif di lantai bursa. Saat Moody’s mengumumkan kenaikan peringkat, Senin (17/1), indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia justru terpangkas 33 poin.

Tekanan jual oleh asing masih berlangsung. Kemarin, IHSG juga terus berada di teritori negatif sepanjang sesi pertama, meski ditutup positif 12 poin karena terangkat oleh membaiknya indeks saham di bursa regional. Padahal, data empiris selama ini menunjukkan bahwa perbaikan peringkat cenderung berdampak positif terhadap pergerakan harga saham.

Situasi anomali tersebut bisa dimaknai bahwa pelaku pasar dan investor cenderung mengabaikan hasil pemeringkatan. Semenjak krisis finansial global 2008, kredibilitas lembaga pemeringkat memang mulai diragukan. Mereka kerap mengecoh investor dengan hasil pemeringkatan yang tidak menggambarkan kondisi riil.

Kejatuhan bank-bank investasi di Amerika Serikat yang ternyata menyandang peringkat bagus adalah contoh gamblang bagaimana kredibilitas lembaga pemeringkat internasional mulai dipertanyakan. Hal sama berlaku pada surat-surat utang di negara-negara Eropa, yang ternyata belakangan menimbulkan krisis baru di kawasan tersebut.

Namun, ada pula faktor lain yang membuat IHSG tidak berjalan paralel dengan kenaikan peringkat Indonesia. Para analis menyebut bahwa isu-isu domestik saat ini begitu kuatnya memengaruhi keputusan investor. Ketakutan terhadap kenaikan inflasi dan belum jelasnya sikap Bank Indonesia soal BI rate membuat investor diliputi ketidakpastian.

Hal itu diperburuk lagi oleh berbagai isu politik yang sensitif. Kendati demikian, penilaian lembaga pemeringkat tetap harus dijadikan pegangan. Setidaknya, keputusan sebuah investasi oleh asing tetap membutuhkan referensi, salah satunya hasil pemeringkatan. Lagi pula, pemeringkatan dilakukan secara periodik dan hasilnya dipublikasikan secara internasional.

Justru yang terpenting adalah bagaimana Indonesia mengejar peringkat layak investasi yang tinggal selangkah lagi. Aspek-aspek yang harus dituntaskan untuk meraih peringkat tersebut adalah bagaimana mengatasi hambatan infrastruktur, baik jalan, bandara, pelabuhan, dan listrik. Termasuk juga hambatan investasi lain seperti birokrasi, perizinan, serta ekonomi biaya tinggi lainnya. ***

Refleksi Perekonomian 2010
Kamis, 30 Desember 2010 – 10:37 wib

Perekonomian 2010 sebetulnya berada dalam kondisi yang menguntungkan bagi perekonomian Indonesia. Pertama, perekonomian global secara umum menunjukkan tren membaik sehingga terdapat peluang bagi Indonesia memanfaatkan situasi tersebut, misalnya melalui ekspor.

Kedua, modal asing mengalir deras ke pasar domestik (capital inflow) sehingga secara teoretis perekonomian nasional mendapatkan keuntungan seperti ekspansi korporasi atau mendongkrak investasi di sektor riil.

Ketiga, stabilitas makroekonomi domestik terjaga dengan baik sehingga terbuka oportunitas untuk mengurus soal-soal yang lebih mikro seperti penguatan daya saing.

Peluang-peluang itu sebagian bisa dimanfaatkan, namun sebagian besar justru menguap, bahkan menjadi masalah karena ketidaksiapan pemerintah menggunakan kesempatan tersebut. Hasilnya, portofolio ekonomi domestik tidak banyak mengalami perbaikan berarti.

Inefisiensi Birokrasi

Keterlambatan pemerintah yang paling mencolok adalah perbaikan pembangunan infrastruktur dan kapabilitas birokrasi untuk mendukung investasi. Daya saing perekonomian pada 2010 mengalami perbaikan yang berarti, yakni dari peringkat 54 ke 44 (menurut versi WEF), tapi hal itu tidak diikuti perbaikan pada aspek pembangunan infrastruktur dan kapabilitas birokrasi.

Studi WEF 2010 juga menyatakan bahwa hambatan investasi terbesar Indonesia berturut-turut adalah inefisiensi birokrasi, korupsi, dan keterbatasan infrastruktur.

Ditambah dengan kebijakan ekonomi dalam negeri yang kurang menguntungkan, seperti kenaikan tarif dasar listrik pada Juli 2010, membuat kemampuan daya saing produk di pasar internasional menjadi merosot. Untungnya pasar komoditas primer, misalnya kelapa sawit, sedang bagus sehingga mendongkrak nilai ekspor dan membuat neraca perdagangan tetap positif.

Keterlambatan pemerintah memperbaiki mesin birokrasi dan membangun infrastruktur juga berakibat modal asing yang masuk terperangkap di sektor keuangan (SBI dan SUN).

Akibatnya, capital inflow itu bukan menjadi berkah, tapi kutukan. Disebut kutukan karena modal asing itu tidak dapat menggerakkan sektor riil (akibat infrastruktur dan birokrasi yang tidak mendukung), serta membebani sektor keuangan (membayar bunga tinggi).

Bank Indonesia (BI) sampai akhir tahun ini diperkirakan defisit sebesar Rp30 triliun, yaitu antara lain defisit itu berasal dari pembayaran bunga SBI. Modal asing yang deras itu juga menyebabkan penguatan nilai tukar rupiah, yang dalam beberapa hal juga membuat daya saing komoditas nasional menjadi lebih merosot.

Jadi, modal asing yang masuk ke pasar domestik itu lebih banyak menciptakan masalah ketimbang manfaat, sehingga tahun depan mestinya mendapatkan perhatian lebih saksama dari pemerintah.

Sementara itu, kebijakan domestik untuk membangun ekonomi yang benar-benar melayani kepentingan sebagian besar masyarakat tidak juga segera dimulai. Sektor tradeable (pertanian, industri, dan pertambangan) yang menjadi tumpuan sebagian besar hidup masyarakat tumbuh sangat lemah, misalnya pada kuartal I 2010 hanya tumbuh 3,4 persen, kuartal II-2010 3,8 persen, dan kuartal III 2010 2,1 persen.

Sebaliknya, sektor non-tradeable melesat dengan pertumbuhan kuartal I 8,3 persen, kuartal II 8,8 persen, dan kuartal III 8,1 persen (BPS,2010). Kesenjangan pertumbuhan ini berakibat sangat serius karena menjadi sumber pengangguran dan ketimpangan kesejahteraan.

Sektor non-tradeable memiliki ciri padat modal sehingga pertumbuhannya tidak banyak menyerap tenaga kerja. Ini membuat program pengurangan pengangguran (pro-job) menjadi sulit direalisasikan. Berikutnya, kesenjangan pendapatan makin terjadi karena yang tumbuh hanya sektor nontradeable yang dihuni oleh sedikit tenaga kerja.

Navigasi Solusi

Seterusnya, problem klasik lain yang tidak mengalami perbaikan adalah penurunan kemiskinan. Pada 2009 pemerintah menganggarkan dana Rp66 triliun untuk mengurangi kemiskinan, sementara pada 2010 angkanya mencapai Rp94 triliun.

Namun, dari 2009 ke 2010 persentase kemiskinan hanya turun dari 14,2 persen menjadi 13,3 persen. Bahkan di pedesaan persentase kemiskinan meningkat. Dengan anggaran sebesar itu jumlah penduduk miskin yang berhasil dientaskan hanya turun sangat sedikit. Kalkulasi yang dilakukan LIPI (2010) menunjukkan rata-rata setiap penduduk miskin mendapat dana sebesar Rp47 juta.

Tentu ini menjadi pertanyaan besar, ke mana saja larinya anggaran itu? Secara teoretis, dengan dana sebesar itu mestinya jumlah penduduk miskin dapat dikurangi dalam jumlah yang besar.

Faktor korupsi dan ketidakjelasan konsep pengurangan kemiskinan diduga menjadi penyebab utama menguapnya anggaran tersebut. Melihat neraca ekonomi 2010 tersebut, bisa dikatakan kita gagal memanfaatkan peluang yang baik buat mendongkrak perekonomian nasional.

Pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan berada pada kisaran enam persen tidak banyak menimbulkan manfaat bagi masyarakat akibat situasi seperti yang dijelaskan di muka. Karena itu, pada 2011 perlu ada perubahan besar-besaran agar struktur perekonomian mengalami perbaikan yang berarti.

Pertama, pembangunan infrastruktur dan efisiensi birokrasi harus menjadi agenda prioritas demi menyelamatkan investasi. Reformasi birokrasi harus dipacu lebih kencang jika ingin ada dukungan yang berarti bagi kegiatan ekonomi. Kedua, dukungan kepada tradeable sektor harus makin ditunjukkan, baik ditopang dengan kebijakan fiskal maupun nonfiskal.

Tanpa pertumbuhan besar di sektor tradeable mustahil pengurangan kemiskinan dan pengangguran dapat dicapai. Ketiga, bank sentral dan pemerintah perlu duduk bersama merumuskan pembatasan capital inflow sehingga tidak menjadi racun perekonomian.

Insentif bunga yang sangat tinggi, misalnya SBI yang mencapai 6,5 persen, menjadi salah satu motif terbesar masuknya modal asing ke Indonesia, di samping tidak bagusnya dukungan di sektor riil. BI dan pemerintah perlu mencari jalan keluar pembatasan, misalnya dengan pemajakan atau regulasi pemanjangan waktu beli jual (minimal satu tahun).

Alternatif lain yang bisa dipertimbangkan adalah percepatan pembayaran utang (luar negeri) di saat nilai tukar sedang menguat seperti sekarang. BI saat ini memiliki cadangan devisa hampir USD100 miliar, sehingga cukup memadai jika sebagian dipakai untuk membayar utang.

Tidak ada gunanya juga jika cadangan devisa hanya ditumpuk tanpa dipakai untuk hal yang bermanfaat. Beberapa solusi ini bisa dimatangkan untuk memastikan tahun depan kita tidak akan membuang kesempatan bagus lagi yang ada di depan mata.(*)

Ahmad Erani Yustika
Direktur Eksekutif Indef,
Dosen FE Universitas Brawijaya(Koran SI/Koran SI/ade)

Rp 2.242 Triliun Dana Asing Masuk Indonesia Tahun Depan (2)
Tribunnews.com – Minggu, 26 Desember 2010 15:40 WIB

Rp 2.242 Triliun Dana Asing Masuk Indonesia Tahun Depan (2)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kalangan pengamat dan Bank Indonesia (BI) berpendapat aliran modal masuk (capital inflow) ke Indonesia masih akan berlanjut hingga 2011. Perekonomian Indonesia pada tahun 2010 memang banyak didominasi sektor keuangan terutama oleh inflow.

Para Peneliti Indef dalam presentasenya pada ‘Prospek Ekonomi Indonesia 2011″ di Jakarta akhir pekan lalu menyebutkan pada 2011 mendatang, total aliran modal masuk ke Indonesia bisa mencapai 200-250 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2.242 triliun.

Ini setara dengan 25-30 persen dari todal modal yang diperkirakan masuk ke emerging market (pasar negara berkembang) yakni keseluruhan mencapai 833,5 miliar dolar AS.

Indef mencatat derasnya hot money ke Indonesia didorong beberapa faktor. Diantaranya kondisi makroekonomi yang saat cukup stabil, banyaknya IPO (penawaran saham perdana) yang menarik seperti saham BUMN serta masih tingginya imbal hasil (yield) dipasar uang Indonesia.

Peneliti Indef Deniey Adi Purwanto mengatakan derasnya inlfow ini selain mendatangkan banyak manfaat namun juga dapat menimbulkan sejumlah efek samping yang dapat mengganggu stabilitas perekonomian. “Potensi arus pembalikan modal patut diwaspadai,” kata Deniey.

Dana yang sifatnya jangka pendek (hot money) ini umumnya ditempatkan dalam investasi portofolio atau surat berharga yang bisa dijual cepat dan uangnya ditarik lagi keluar setiap saat jika sudah menguntungkan pemiliknya.

“Bagi pemilik dana (hegde fund) dana itu harus bisa paling gampang masuk dan gampang keluar,” kata Pengamat Pasar Uang Farial Anwar pekan lalu.

Karena itu dia meminta perlu ada pembatasan jumlah maksimal hot money yang bisa ditolerir supaya jangan terlambat untuk mengatasi atau bisa dikendalikan dampak negatifnya. “Dengan merubah rezim bebas dari devisa bebas menjadi devisa terkendali. Misalnya dana yang masuk harus bertahan jangka waktu tertentu. Mengenakan pajak atas investasi asing di portofolio dan tidak menerima dana asing di SBI,” kata Farial.

Sementara itu Bank Indonesia tidak mau tinggal diam. Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo menjelaskan jika inflow terus mengalir dan berdampak pada apresiasi rupiah yang sangat kuat maka BI telah mengantisipasi itu dengan menyiapkan langkah macroprudential maupun manajemen terhadap inflow jika pada waktunya diperlukan.

“Pengelolaan inflow akan dilakukan misalnya mendorong ke arah lebih panjang termasuk PMA, IPO saham dan penerbitan obligasi korporasi di pasar modal,” kata Perry. Meski demikian, katanya, BI tidak bisa sendiri dalam menjaga inflow dimana Pemerintah perlu sangat terlibat didalamnya

Penulis: Hasanuddin Aco | Editor: Prawira Maulana
Bahana: Enam Keajaiban Ekonomi RI 2010
Optimisme penguatan ekonomi telah melandasi kemeriahan di lantai bursa nasional tahun ini.
Selasa, 21 Desember 2010, 06:30 WIB
Heri Susanto
Penjualan Mobil Melonjak (Antara)

VIVAnews – Bahana TCW Investment Management mencatat kondisi perekonomian 2010 telah memancarkan momentum sejumlah keajaiban seperti yang diproyeksikan pada akhir 2009.

“Optimisme penguatan ekonomi telah melandasi kemeriahan di lantai bursa nasional tahun ini dan kami yakin beberapa tahun di depan,” ujar ekonom Bahana, Budi Hikmat dalam Laporan Catatan Akhir 2010 yang diterima VIVAnews di Jakarta.

Bahana mencatat beragam statistik menunjukkan momentum keajaiban (annus mirabilis) yang merona sepanjang 2010.

Pertama, per akhir November 2010, IHSG melonjak 39% atau 46% dalam dolar AS dibanding awal tahun. Kenaikan tertinggi sekawasan setelah Thailand. Pada periode yang sama, ABTRINDO sebagai indeks harga surat utang negara naik 21,9%.

Kedua, arus masuk modal asing meningkat tercermin dari posisi kepemilikan asing di dalam surat utang negara yang mencapai Rp 191,2 triliun per 30 November 2010. Angka ini melonjak dari Rp 108 triliun akhir Desember 2009. Lonjakan ini menurunkan yield SUN 10 tahun pada periode tersebut dari 10,9% menjadi 7,6%.

Ketiga, meski ikut terseret krisis fiskal Eropa, kurs rupiah terhadap dolar AS sepanjang tahun nampak stabil pada kisaran 9000 atau menguat 4%. Menarik dicermati bahwa penguatan rupiah tidak sebesar mata uang regional lainnya yang membuka peluang ekspor Indonesia tetap kompetitif.

Keempat, meski sempat melonjak akibat kenaikan harga pangan, laju inflasi tahunan November 2010 mencapai 6,3%. Angka ini lebih rendah ketimbang rata-rata sepuluh tahun terakhir yang berkisar 8,3%.

Kelima, terkendalinya rupiah dan kelebihan likuiditas memungkinkan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tetap 6,5% sejak Desember 2008.

Keenam, yang menggembirakan adalah kestabilan makroekonomi itu juga diikuti oleh pertumbuhan sejumlah indikator bisnis utama yang menegaskan percepatan pemulihan ekonomi.

Indikator tersebut jelas tercermin melalui lonjakan penjualan otomotif, barang eceran, semen, properti, barang elektronik, pemakaian listrik, akselerasi penyaluran kredit hingga impor bahan baku dan modal.

• VIVAnews
Ini Dia Risiko & Tantangan Ekonomi di 2011
Senin, 20 Desember 2010 – 12:31 wib
Martin Bagya Kertiyasa – Okezone

JAKARTA – Komite Ekonomi Indonesia (KEN) melihat prospek ekonomi Indonesia di 2011 akan cerah. Meski begitu ada beberapa tantangan yang perlu diantisipasi dan diperhatikan.

Dalam seminar Prospek Ekonomi Indonesia 2011, di Graha Bank Mega, Jakarta, Senin (20/12/2010), KEN menilai ada sembilan faktor yang akan menjadi tantangan dan risiko domestik serta lima tantangan dan risiko global.

Adapun tantangan dan risiko domestik tersebut adalah tantangan atas kemungkinan terjadinya gelembung nilai aset (asset bubble) dan inflasi karena kurangnya daya serap ekonomi nasional terhadap masuknya modal asing, termasuk jangka panjang.

Kemudian risiko terhentinya arus modal masuk dan bahkan terjadi penarikan kembali modal masuk dalam jumlah besar. Selanjutnya terdapat subsidi energi dan alokasi yang tidak efisien.

Selain itu, patut juga diwaspadai risiko inflasi terutama dipicu oleh komponen makanan, pendidikan, dan ekspektasi inflasi. Hal ini juga harus didukung oleh infrastruktur dan interkoneksi (transportasi) yang kurang memadai.

Selanjutnya terdapat peningkatan daya saing, perbaikan pendidikan dan pelatihan serta penambahan pasokan tenaga tehnik terdidik. Ini yang masih menjadi penghambat bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi produksi (terutama padat karya), menghambat investasi dan mengurangi penciptaan nilai tambah dan lapangan pekerjaan.

Di sisi lain, terdapat tiga faktor lain yang menjadi tantangannya yakni daya serap yang belum maksimal, risiko terkait politik dan hukum, risiko akan perubahan iklim, bencana alam, dan krisis keuangan.

Sedangkan untuk tantangan dan risiko global antara lain pemulihan ekonomi negara maju masih lama, penyelesaian perang kurs dan potensi perang Korea sangat tergantung pada G2 (China-AS). Kebijakan banjir likuiditas AS dan memperlemahkan dolar Amerika terhadap mata uang dunia, dan risiko gagal bayar utang negara-negara Eropa.(ade)

Pamor Indonesia Meningkat di Investor Dunia
Pasar modal Indonesia tiba-tiba menjadi menarik perhatian dan masuk radar investor.
Senin, 20 Desember 2010, 12:16 WIB
Heri Susanto, Agus Dwi Darmawan
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

VIVAnews – Memasuki akhir tahun 2010, Komite Ekonomi Nasional (KEN) membuat review perekonomian Indonesia selama 2010. Menurut KEN, Pemerintah Indonesia telah berhasil menjaga perekonomian stabil meski belum optimal.

Catatan Komite Ekonomi Nasional memperlihatkan keberhasilan Indonesia mengatasi krisis perekonomian global 2008/2009 telah menaikkan pamor Indonesia di mata investor, terutama investor asing.

“Ini bisa terlihat dari kondisi pasar modal Indonesia yang tiba-tiba menjadi menarik perhatian dan masuk dalam radar investor internasional,” tulis laporan singkat KEN yang dipublikasikan hari ini, Senin 20 Desember 2010. Tak heran bila kemudian pasar modal di Indonesia mengalami kenaikan signifikan. Bahkan, kata KEN, tatkala Indonesia dapat menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan semakin banyak investor asing yang masuk ke pasar modal Indonesia.

Menjelang akhir 2010, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga telah menembus 3500, bahkan pada 19 November 2010 IHSG berhasil naik ke level 3724 atau naik 46,98 persen dibandingkan dengan level terakhir 2009. Kinerja IHSG ini merupakan salah satu yang tertinggi du dunia. Penguatan IHSG terjadi karena dukungan perbaikan ekonomi yang terjadi.

Namun demikian, KEN merekomendasikan kehati-hatian pemerintah diperlukan atas penguatan ini. Tantangan yang perlu dipecahkan saat ini adalah, bagaimana mengalirkan modal asing ini masuk ke sektor produksi atau sektor riil.

Hal yang menguntungkan bagi Indonesia adalah masuknya dana asing, pada November 2010, yield surat utang Indonesia berhasil turun sampai di kisaran 6,44 persen. Rendahnya imbal hasil ini memberikan dampak positif ke pembayaran bunga surat utang baru yang diterbitkan karena lebih murah.

Khusus untuk pertumbuhan kredit investasi, Indonesia pada awal tahun juga ada di kisaran 12 persen. Namun langkah Bank Indonesia selama berjalannya tahun anggaran telah membuahkan hasil. Tercatat pada September 2010 laju pertumbuhan kredit dinilai telah normal dengan porsi pertumbuhan kredit sudah sampai 21,5 persen dengan kredit modal kerja tumbuh sebesar 21 persen dan kredit investasi tumbuh 17,6 persen. Untuk total dana pihak ketiga di perbankan sampai September 2010 tercatat mencapai Rp2.144,1 triliun atau naik 15,5 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

KEN mencatat memasuki tahun 2010 Indonesia sebenarnya memiliki modal yang cukup meyakinkan, yakni inflasi 2,8 persen pada tahun 2009. Tekanan inflasi yang relatif rendah ini sempat membuat semua pihak optimis. “Namun tekanan harga pangan membuat inflasi 2010 berada di atas target pemerintah maupun Bank Indonesia,” tulis KEN.

Selain itu, pertumbuhan kredit yang mulai meningkat dan kenaikan tarif listrik di pertengahan tahun 2010 turut memberikan tekanan inflasi tambahan. Akibatnya, inflasi 2010 diperkirakan berada pada kisaran 6-6,5 persen.

Sepanjang 2010, Bank Indonesia tetap mempertahankan BI Rate pada 6,5 persen karena tekanan inflasi masih relatif terkendali. Suku bunga dunia masih berada pada level yang rendah sehingga mengurangi tekanan terhadap Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga. Menaikkan suku bunga tidak menjadi pilihan BI karena dikhawatirkan justru akan mendorong arus modal masuk lebih deras. Artinya, BI rate akan bertahan pada 6,5 persen sampai dengan akhir tahun 2010.

Untuk rupiah, memasuki 2010, melanjutkan tren penguatan yang terjadi sejak 2009. Optimisme terhadap perekonomian Indonesia yang berhasil mengatasi tekanan krisis perekonomian global telah memicu aliran modal ke Indonesia. Ini sekaligus memberikan sentiment positif terhadap rupiah. Selain itu, pelemahan dolar terhadap hampir seluruh mata uang dunia juga memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap rupiah.

Pada Agustus rupiah menguat ke level Rp9000 per dolar. Pada akhir tahun 2010 nilai tukar diperkirakan masih akan ada di kisaran Rp9000 per dolar.
• VIVAnews

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s