1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

maen saham bukan cuma … WAJIB (2) 4 Januari 2011

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:25 am

Transaksi Material
Senin, 12 Desember 2011 07:52 wib

DALAM dunia bisnis, seringkali terjadi transaksi yang bersifat material. Hanya saja, seringkali kita hanya dapat menyebut kata ’’material’’ tanpa mengetahui apalagi memahami makna yang terkandung di dalamnya.

Apa indikatornya sehingga sebuah transaksi bisnis dapat dikategorikan sebagai transaksi material? Apakah ukuran materialitas itu sama antara perusahaan yang satu dengan yang lain, antara lokasi yang satu dengan lokasi yang lain, antara saat ini dengan masa lalu atau masa datang? Apakah batasan materialitas itu juga dibatasi oleh ruang dan waktu?

Pertanyaan tersebut sifatnya sangat mendasar. Bagi seseorang yang kaya raya, misalnya dengan nilai kekayaan mencapai Rp100 miliar, menderita kerugian sebesar Rp1 miliar bisa jadi tidak ada apa-apanya alias tidak material mengingat kekayaannya masih sebesar Rp99 miliar. Bandingkan dengan Si Kuncung yang kekayaannya hanya mencapai Rp100 juta dan bisnisnya mengalami kerugian sebesar Rp50 juta, kerugian sebesar Rp50 juta itu bagi Si Kuncung adalah pengalaman yang sangat pahit, sangat bersifat material karena kerugian itu telah menguras separuh nilai kekayaannya.

Nah, ilustrasi di atas akan mengantarkan pada pemahaman tentang materialitas tadi. Materialitas tidak bersifat absolut, melainkan relatif. Meski begitu, materialitas semestinya memang harus memiliki ukuran yang jelas dan pasti. Dasar perhitungan parameternya juga harus jelas untuk semua perusahaan, apapun sektor usahanya dan seberapa pun size dari perusahaan tersebut. Dengan begitu kata material bisa lebih objektif, bukan subjektif.

Dalam peraturan pasar modal, transaksi material ini mendapatkan perhatian khusus dari regulator, yaitu Bapepam-LK. Transaksi yang bersifat material dituangkan ke dalam peraturan No: IX.E.2, Lampiran Keputusan Ketua Bapepam-LK No: Kep-614/BL/2011 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama. Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa yang termasuk dalam kategori transaksi material adalah transaksi penyertaan dalam badan usaha, proyek, dan/atau kegiatan usaha tertentu; pembelian, penjualan, pengalihan, tukar-menukar aset atau segmen usaha; sewa-menyewa aset; pinjam-meminjam dana; penjaminan aset; dan/atau pemberian jaminan perusahaan dengan nilai 20 persen atau lebih dari ekuitas perusahaan, yang dilakukan dalam satu kali atau dalam suatu rangkaian transaksi untuk suatu tujuan atau kegiatan tertentu.

Sebagai contoh, PT ABC memiliki ekuitas sebesar Rp500 miliar. Untuk kebutuhan ekspansinya, manajemen PT ABC memutuskan untuk melakukan pinjaman ke bank sebesar Rp125 miliar. Tentu saja, jaminannya adalah aset perseroan. Nah, dalam hal ini, transaksi antara PT ABC dengan pihak perbankan tadi bersifat material karena nilai pinjaman mencapai lebih dari 20 persen dari nilai ekuitas PT ABC. Karena sifatnya material, maka untuk melakukan pinjaman tadi PT ABC harus mengikuti Peraturan Bapepam-LK tersebut.

Transaksi material itu dihitung berdasarkan laporan keuangan tahunan yang diaudit; atau laporan keuangan tengah tahunan yang disertai laporan akuntan dalam rangka penelaahan terbatas minimal untuk akun ekuitas. Selain itu, bisa juga dasar perhitungannya berupa laporan keuangan interim yang diaudit selain laporan keuangan interim tengah tahunan, dalam hal perusahaan mempunyai laporan keuangan interim, tergantung mana yang lebih dahulu terbit.

Perusahaan yang melakukan transaksi material dengan nilai transaksi 20 persen sampai dengan 50 persen dari ekuitas perusahaan tidak diwajibkan untuk memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), namun wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:

1. Mengumumkan informasi mengenai transaksi material kepada masyarakat melalui paling sedikit satu surat kabar harian berbahasa Indonesia yang berperedaran nasional dan menyampaikan dokumen pendukungnya kepada Bapepam-LK paling lambat dua hari kerja setelah tanggal ditandatanganinya perjanjian Transaksi Material;

2. Informasi sebagaimana dimaksud dalam butir (1) mencakup: (a) uraian mengenai transaksi material yang dilakukan, paling sedikit meliputi objek transaksi, nilai transaksi, dan pihak-pihak yang melakukan transaksi (nama, alamat, telepon, faksimili, pengurusan, dan pengawasan); (b) penjelasan, pertimbangan, dan alasan dilakukannya transaksi material serta pengaruh transaksi tersebut pada kondisi keuangan perusahaan; (c) ringkasan laporan penilai.

(Tim BEI)

(//wdi)

Cash Flow
Senin, 4 April 2011 – 09:09 wib

Istilah cash flow sudah terlalu sering didengar dalam setiap kali perbincangan yang berbau bisnis. Mulai dari mereka yang bisnis di pinggir jalan, dagang eceran, asongan hingga mereka yang bisnisnya dikendalikan dari gedung-gedung pencakar langit yang mentereng selalu bicara soal cash flow. Apapun bisnisnya, cash flow kuncinya. Lantas, apa yang disebut dengan cash flow?

Cash flow jika di-Indonesiakan berarti arus kas, atau ada juga yang menyebut aliran kas. Cash flow bisa dibilang istilah keren dalam dunia bisnis. Apapun jenis bisnisnya, Anda tidak mungkin lepas dari masalah cash flow.

Begitu Anda mulai bicara soal bisnis, hampir tidak mungkin Anda tidak bicara cash flow. Ia sangat strategis, memegang peranan vital dalam aktifitas atau operasional perusahaan. Bahkan di rumah tangga bahkan tingkat individu sekalipun, masalah cash flow tidak luput dari bahan perbincangan.

Di level individu misalnya. Saat kalender sudah menunjukkan tanggal tua, banyak orang yang mengeluh kantongnya tipis, cekak, seret, atau berbagai istilah lain yang menggambarkan betapa uang yang dipegang di tangan sudah tinggal sedikit, sementara pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan tidak bisa dihentikan.

Orang-orang yang seperti ini memiliki masalah dalam pengelola arus kas pribadinya atau cash flow-nya. Orang yang pintar mengatur cash flow ia selalu berhitung kapan uang harus keluar dan untuk apa pengeluaran dilakukan.

Jika kebutuhan bisa ditunda, maka ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli kebutuhan itu saat ini. Dengan begitu, cash flow-nya selalu terjaga dan kebutuhan utama (pokok) bisa terpenuhi.

Penambahan pengeluaran hanya dilakukan jika ada penambahan pendapatan, sehingga antara pengeluaran dan pendapatan selalu terjaga dalam kondisi yang stabil atau sehat.

Nah, kira-kira pola pengelolaan keuangan seperti itu juga dan pasti diterapkan dalam rumah tangga, perusahaan, atau berbagai organisasi yang memperhatikan kontinuitas atau kesinambungan (going concern). Bagi perusahaan, apalagi yang sudah berstatus public company, cash flow sangat penting.

Begitu pentingnya cash flow, seorang bisnisman mengibaratkan cash flow adalah raja dalam perusahaan, bukan CEO atau board of directors ataupun board of commissioners. Alasannya sederhana, cash flow-lah yang menentukan jalannya perusahaan, hidup mati perusahaan, bukan CEO, direksi dan atau komisaris.

Jika tidak ada cash flow, direksi tidak akan bisa berbuat apa-apa. Sepintar apapun CEO atau direksi, dan secanggih apapun perencanaan dan ekspansi yang akan dilakukan, jika tidak didukung cash flow yang sehat maka semua itu tidak ada artinya.

Karena itu, dalam kaitan dengan publikasi laporan keuangan emiten 2010 yang berakhir pada 31 Maret lalu, sebaiknya perhatian investor atau pelaku pasar jangan cuma tertuju ke masalah klasik seperti neraca keuangan (balance sheet) dan laporan laba rugi (income statement).

Dua hal itu memang penting dalam laporan keuangan, tapi hal yang juga sangat penting diperhatikan adalah masalah laporan arus kas (cash flow). Cash flow adalah bagian yang tidak boleh dilewatkan.

Mengapa? Kesalahan yang sering terjadi adalah adanya anggapan atau asumsi bahwa jika pendapatan dan laba naik atau meningkat bagus, performance perusahaan juga ikut bersinar. Asumsi seperti ini terkadang suka menjebak pemikiran banyak orang.

Sebab, meningkatnya pendapatan dan laba tidak selalu menunjukkan kondisi cash flow yang bagus. Ada perusahaan yang dari sisi neraca dan laba rugi bagus, ternyata cash flow-nya jeblok, kering kerontang.

Cash flow ibarat energi bagi sebuah perusahaan. Semakin kecil energi yang tersimpan berarti semakin terbatas daya gerak perusahaan tersebut. Selanjutnya bisa dibayangkan, apa yang bisa dilakukan oleh sebuah perusahaan yang energinya terbatas? Mau belanja modal tidak bisa, mau ini dan itu juga tidak mampu.

Jika kondisi cash flow tidak dikelola dengan baik, perusahaan seperti ini tinggal menghitung hari. Nah, Anda tentu tidak ingin membeli saham perusahaan seperti ini bukan? Karena itu dalam analisa laporan keuangan, jangan lupa simak cash flow perusahaan. (Tim BEI)
(//ade)
Melinda Dee Bobol Citibank, Nasabah Diminta Jangan Panik

Republika – Min, 3 Apr 2011 20.16 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA– Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani mengatakan, nasabah tidak perlu khawatir dengan dananya di bank jika tidak melakukan kesalahan. “Nasabah tak perlu khawatir, kalau kesalahannya ada di bank, dana nasabah pasti diganti,” kata Aviliani di Jakarta, Ahad.
Ia menyebutkan, bisnis perbankan merupakan bisnis kepercayaan sehingga setiap bank akan menjaga kepercayaan nasabah kepada bank. Menurut dia, yang perlu diperhatikan oleh nasabah adalah adanya produk keuangan yang bukan merupakan produk perbankan.
“Produk ini bisa saja ditawarkan oleh bank di mana bank hanya menjadi agen saja,” katanya. Ia mencontohkan kasus yang terjadi pada Bank Century di mana nasabah harus kehilangan dananya karena membeli produk non perbankan.
Kasus pembobolan mencuat ketika seorang pegawai Citibank berinisial MD diduga menggelapkan dana nasabah hingga lebih dari Rp17 miliar. Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Anton Bahrul Alam memastikan bahwa wanita berusia 47 tahun itu dijerat dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.
Modus kejahatan yang dilakukan MD adalah mengaburkan transaksi dan pencatatan tidak benar terhadap beberapa slip transfer penarikan dana pada rekening nasabah. Sesudah itu, memindahkan sejumlah dana milik nasabah tanpa izin ke beberapa rekening yang dikuasai oleh pelaku.
Sementara itu Citibank memberikan komitmen untuk secepatnya mengembalikan dana nasabah yang hilang menyusul kasus penggelapan dana itu. “Adalah komitmen kami untuk melindungi kepentingan nasabah kami, termasuk secepatnya mengembalikan kerugian yang dialami oleh nasabah yang hilang melalui transaksi tidak sah di dalam rekening mereka secara adil dan tepat waktu,” sebut Direktur Country Corporate Affairs Citi Indonesia, Ditta Amahorseya.
Menurut Ditta Amahorseya , kejadian itu hanya terjadi di satu tempat dan pihaknya telah bertindak cepat untuk menghubungi seluruh nasabah yang mungkin terkena dampak. Pihaknya bekerja sama penuh dengan seluruh pihak berwenang. Staf yang terlibat tidak lagi bekerja di Citibank. “Mengingat kasus ini masih dalam tahap penyelidikan, kami tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut,” sebut Ditta.
3 Alasan Penting Menabung
Minggu, 13 Maret 2011 – 10:40 wib
Yuni Astutik – Okezone

JAKARTA – Seorang perencana keuangan menjelaskan beberapa pentingnya menabung serta berinvestasi. Menurutnya, alasan utama adalah karena tidak ada manusia yang bisa memprediksi masa depan.

“Manusia tidak dapat mempredikasi masa depan. Selain itu karena kita perlu mengantisipasi kebutuhan kita,” ungkap Pengamat keuangan Manuel Pakpahan, dikutip dalam bukunya “Saya tak mau jadi hamba dinar”.

Selain itu, alasan kedua yang tidak kalah penting adalah kebanyakan orang mengharapkan kehidupan yang lebih baik untuk masa depan. Ketiga adalah karena menabung/berinvestasi merupakan konsekuensi kehidupan.

“Berapapun pendapatan bersihmu, sisihkan untuk tabungan. Investasi dan asuransi antara 10-30 persen dari pendapatan bulanan,” ungkapnya.

Menurutnya, cara yang tepat selain menyimpan sejumlah uang sebagai investasi, atau benda berharga lainnya, investasi dalam bentuk asuransi juga patut dipertimbangkan. Disebutkannya, ada empat asuransi yang layak dipertimbangkan.

“Yang pertama adalah asuransi jiwa. Yaitu asuransi untuk pencadangan mengantisipasi kematian. Sementara itu, asuransi yang kedua adalah asuransi cacat tetap. Di mana asuransi ini untuk pencadangan menghadapi risiko kecacatan selama usia produktif,” pungkasnya.

Selanjutnya, asuransi penyakit kritis juga perlu. Karena hal ini untuk mengantisipasi apabila suatu ketika kita didiagnosa mengidap penyakit kritis dalam usia produktif. Terakhir, asuransi kesehatan. Yaitu asuransi yang digunakan sebagai pencadangan apabila kita mengalami kondisi kesehatan.

“Di luar asuransi tersebut, sebebnarnya juga masih banyak asuransi yang peru dipertimbangkan. Di antaranya asuransi rumah dan isinya, asuransi kendaraan, dan lainnya,” ungkapnya.(ade)
Indonesia’s Exchange Seeks to Extend Hours to Align With Asia
By Anna Kitanaka and Takako Iwatani – Mar 10, 2011
The Indonesia Stock Exchange is seeking approval from the country’s regulators to begin market trading hours an hour earlier to align itself with other Asian markets, President Director Ito Warsito said.

The bourse hopes to introduce the extension by July, Warsito said yesterday in an interview in Tokyo. The move may boost trading volumes as it brings Southeast Asia’s third- largest stock market in line with exchanges in Hong Kong and Singapore, he said.

“Right now, the emerging market is more dependent on what happened in the morning in Hong Kong and Singapore because we open later,” Warsito said on the sidelines of a conference organized by Daiwa Securities Group Inc. “But if we open the market earlier, global investors will already have a trading strategy in Singapore, Hong Kong and Indonesia, unlike right now, where Indonesia is left behind.”

Warsito’s comments on the bourse’s plans come the same week that the Hong Kong exchange extended its own hours to complement China’s trading times. Hong Kong lengthened its trading day from March 7, with the market opening 30 minutes earlier and a lunch break that was cut to 90 minutes from two hours.

Trading hours in Jakarta are from 9:30 a.m. to 4 p.m. local time, with a 1 1/2-hour break from Monday to Thursday and a 2 1/2-hour break on Friday for prayers. Stock trading in Singapore starts at 8 a.m. Jakarta time and 8:30 a.m. in Hong Kong.

Attracting Investors

“Longer trading hours will enable us to synchronize trading with the regional markets,” said Soni Wibowo, vice president of PT Bahana TCW Investment Management in Jakarta, which manages about $2 billion. “But, I don’t think it will be what attracts more investors. Investors are focusing more on the fundamentals and attractiveness of the Indonesian market when deciding to invest, not the trading hours.”

About 3 billion shares traded each day on average this year in Jakarta, compared with 163.6 billion in Hong Kong, Asia’s third-biggest stock market after Japan and China.

The Indonesian bourse also expects the Jakarta Composite index (JCI) to rise 25 percent to 30 percent in 2011 as profits for listed companies grow, and as the number of initial public offerings increase, Warsito said. The stock gauge has fallen 3.1 percent this year, after surging 46 percent last year.
Rekening Investor dan Rekening Efek Dipisah
KAMIS, 03 MARET 2011 | 15:14 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Perusahaan efek diarahkan untuk memisahkan rekening investor dengan membuka sub rekening efek atas nama nasabah di bank pembayaran yang telah ditentukan. Hal itu sebagai bagian dari pengembangan infrastruktur pasar modal.

Keempat bank pembayaran yang ditunjuk sebagai tempat penyimpanan dana adalah Bank Mandiri, Bank Central Asia, Bank Permata, dan Bank CIMB Niaga. Kontrak kesepakatan telah ditandatangani antara PT Kustodian Efek Sentral Indonesia (KSEI) dan empat bank pembayaran tersebut.

Direktur Utama KSEI Ananta Wiyogo berharap ini akan memberi kepastian bagi program pemisahan rekening dana nasabah. Karenanya perusahaan efek diharapkan berlaku kooperatif dengan memisahkan dana nasabahnya sebelum Februari 2012. “Agar investor memperoleh transaparansi atas dananya,” ungkap Ananta seusai penandatanganan kesepakatan di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (3/3).

Saat ini 80 persen investor telah memiliki identitas tunggal investor. Namun baru 60 ribu yang memiliki kartu Akses. Kepemilikan kartu akses sendiri memungkinkan investor melihat jumlah dana dan saham yang dimilikinya melalui koneksi dalam jaringan.

Direktur BCA Sumignyo Budiman mengatakan, pemisahan rekening dana nasabah ini akan mendorong transaksi di bursa. Transparansi di pasar modal juga akan memacu ekonomi ke arah yang lebih baik.

Bagi bank pembayar, dibutuhkan dana yang tak sedikit untuk mengembangkan infrastruktur dan jaringan teknologi informasi. Namun bank melihat potensi besar dari dana investor ini. Direktur Bank Mandiri Thomas Arifin mengatakan, bank-bank memperebutkan Rp 5 triliun dari ceruk transaksi pasar modal. Bank Mandiri berharap bisa menjadi pemain dominan dalam pengelolaan dana investor. “Saat ini kami mengelola Rp 3,5 triliun. Bisa naik lagi,” ujar dia pada kesempatan terpisah.

Guna mewujudkan ambisinya, Bank Mandiri bernegosiasi dengan perusahaan efek agar membebaskan investor memilih dana bank pembayar. Hal ini dimungkinkan selama investor tak memiliki rekening ganda.

KSEI sendiri membuka kesempatan kepada bank lain untuk bergabung menjadi bank pembayar. Namun KSEI menerapkan standar tinggi sebelum meluluskan proposal bank yang hendak menjadi bank pembayar. Persyaratan tersebut antara lain kesiapan infrastruktur dan jaringan informasi teknologi.

ANTON WILLIAM
Back Door Listing
Senin, 21 Februari 2011 – 08:55 wib

Setiap perusahaan dimanapun di dunia selalu punya mimpi untuk tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan besar. Berbagai upaya ditempuh dan banyak strategi yang dimainkan untuk menuju ke sana, antara lain menjadi perusahaan publik (public company). Bisa dimaklumi, karena status sebagai perusahaan publik memiliki beberapa nilai tambah dibandingkan hanya menjadi perusahaan tertutup.

Nilai tambah sebagai perusahaan publik antara lain misalnya, pengelolaan perusahaan lebih transparan, lebih akuntable sehingga manajemen dituntut lebih professional. Perusahaan memiliki akses pembiayaan yang lebih luas, tidak hanya terbatas ke perbankan dan atau lembaga pembiayaan konvensional tetapi langsung ke sumber-sumber keuangan itu sendiri yakni investor.

Pendek kata, status sebagai perusahaan publik lebih memudahkan bagi perusahaan memperoleh akses pendanaan. Status sebagai perusahaan publik menjadikan perusahaan masuk dalam radar perhatian publik melalui berbagai pemberitaan di media massa. Hal ini merupakan promosi gratis bagi perusahaan. Selain itu, nilai perusahaan diukur dari perkembangan harga saham di pasar.

Benefit sebagai perusahaan publik itu bagi sebagian perusahaan (yang masih tertutup) cukup menggiurkan. Apalagi bagi perusahaan yang porsi saham publiknya (floating share) di atas 40 persen, ia bisa menikmati fasilitas fiskal berupa pemotongan pajak penghasilan dari pemerintah. Karena itu, jangan heran jika banyak perusahaan yang ingin tumbuh dan berkembang dan berubah menjadi perusahaan terbuka.

Yang jadi soal, untuk menjadi perusahaan terbuka bukanlah proses yang gampang. Banyak hal yang harus dipersiapkan dan banyak prosedur yang harus dilewati sesuai dengan peraturan yang berlaku di pasar modal. Nah, syarat-syarat untuk menjadi perusahaan terbuka ini kadang-kadang tidak semua perusahaan bisa melakukannya dalam waktu singkat, meskipun ia kebelet untuk terbuka.

Setiap perusahaan membutuhkan waktu yang berbeda-beda untuk menyiapkan diri agar bisa melakukan penawaran umum saham dan menjadi perusahaan terbuka. Ada yang butuh waktu satu tahun, tapi ada juga yang menghabiskan waktu hingga dua atau tiga tahun. Hal itu tergantung pada kompleksitas masalah yang tengah dihadapi perusahaan.

Meski begitu bukan berarti tidak ada cara untuk menjadi perusahaan terbuka dalam waktu yang lebih singkat, tidak harus melakukan persiapan yang rumit. Dunia keuangan selalu memiliki cara untuk mengantarkan perusahaan agar menjadi perusahaan publik. Salah satu cara yang ditempuh untuk itu adalah melalui pintu belakang atau yang selama ini dikenal dengan istilah backdoor listing.

Apa yang dimaksud dengan backdoor listing? Berbagai literatur investasi keuangan menyebutkan backdoor listing merupakan bentuk merger akuisisi yang melibatkan di satu sisi perusahaan terbuka dan di sisi lain perusahaan tertutup sehingga perusahaan yang tertutup menyatu atau menjadi bagian dari perusahaan terbuka.

Backdoor listing lazimnya memang dilakukan melalui proses merger dan atau akuisisi. Dalam hal ini ada dua pihak yang terlibat, yakni pihak yang akan melakukan akuisisi dan di sisi lain ada perusahaan yang menjadi target akuisisi. Karena salah satu tujuan utama backdoor listing adalah menjadi perusahaan tercatat (listed company) maka dalam hal ini target akuisisi harus perusahaan yang sudah berstatus sebagai perusahaan publik yang saham dicatat dan diperdagangkan di bursa.

Bagaimana skenario backdoor listing itu dilakukan? Pada umumnya upaya backdoor listing diawali dengan pergantian pemegang saham pengendali pada perusahaan yang akan dijadikan kendaraan untuk backdoor listing. Selanjutnya perusahaan yang mayoritas sahamnya sudah dikuasai itu akan melakukan akuisisi terhadap perusahaan yang sudah disiapkan melakukan backdoor listing.

Untuk pembiayaan akuisisi itu perusahaan tadi akan melakukan penawaran saham terbatas (right issue). Dengan begitu, perusahaan akan memperoleh dana segar dari masyarakat, sekaligus status sebagai perusahaan publik.

Untuk lebih jelasnya ikuti ilustrasi berikut, PT XYZ Tbk, adalah perusahaan yang sudah berstatus sebagai perusahaan terbuka dan listed di bursa. Di sisi lain ada PT ABCD masih berstatus sebagai perusahaan tertutup yang disiapkan melakukan backdoor listing. Langkah awal, pemilik PT ABCD membeli mayoritas saham PT XYZ Tbk.

Pembelian mayoritas saham PT XYZ Tb dimaksudkan untuk memuluskan proses aksi korporasi yang akan dilakukan oleh PT XYZ Tbk. Jika pemilik PT ABCD sudah menguasai mayoritas saham PT XYZ Tbk, berarti dua perusahaan itu yakni PT ABCD dan PT XYZ Tbk dimiliki oleh satu pihak yang sama.

Langkah berikutnya, PT XYZ Tbk mengakuisisi mayoritas atau 100 persen saham PT ABCD. Akuisisi ini dibiayai oleh penerbitan saham baru yang ditawarkan melalui penawaran umum terbatas (right issue). Jika PT XYZ Tbk tuntas mengakuisisi PT ABCD maka proses backdoor listing PT ABCD bisa dibilang selesai. Selanjutnya, PT XYZ Tbk bisa berganti nama menjadi PT ABCD International Tbk atau nama lain yang disukai oleh pemegang saham mayoritas.

Begitulah, dalam tempo yang relatif singkat PT ABCD tadi telah berubah menjadi sebuah perusahaan terbuka. Dari sini bisa dilihat bahwa backdoor listing bisa menjadi jalan tol bagi perusahaan untuk menjadi perusahaan terbuka. (Tim BEI)(//wdi)
Rudy
Trading Saham Bukan Gambling

Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Senin, 21 Februari 2011 | 11:11 WIB
INILAH.COM, Jakarta – Masyarakat masih banyak yang enggan masuk ke dunia pasar modal. Praktik ilegal yang kerap terjadi, merusak citra investasi yang satu ini.

Rudy, Direktur Pengembangan Bisnis PT OSK Nusadana Securities mengatakan, selama ini masyarakat khawatir bersentuhan dengan pasar modal. “Selain anggapan bahwa trading saham adalah aktivitas gambling (berjudi), maraknya kejahatan di sektor ini menjadi penyebabnya,” ujarnya kepada INILAH.COM.

Ia mencontohkan masalah insider trading yang banyak terjadi di pasar modal. Hal ini membuat masyarakat memandang sebelah mata terhadap saham. Padahal, lanjutnya, insider trading adalah ilegal dan termasuk tindakan kriminal, “Sehingga para pelaku seharusnya dihukum berat dan jadi perbaikan di kemudian hari,” katanya.

Rudy mengakui, negara besar dengan pasar modal maju di seluruh dunia mempunyai historis kejahatan di pasar modal. Bahkan, pasar modal AS pernah melakukan semua transaksi yang ilegal, mulai penipuan melalui mekanisme pasar hingga penipuan harga.

Namun, berkaca pada kesalahan negara-negara maju itu, pertumbuhan pasar modal Indonesia justru lebih cepat dan tidak melakukan pelanggaran separah negara-negara maju. “Untuk tumbuh pesat, kita tidak perlu 5-10 tahun, karena semua peraturan di dunia tinggal dilihat,” tandasnya.

Rudy menambahkan, kurangnya edukasi ke masyarakat luas, memicu mispersepsi tentang pasar modal. Oleh karena itu, pihaknya mulai tahun ini menyediakan online trading bagi mahasiswa. “Tapi, ini bukan virtual game, melainkan sebagai edukasi bahwa trading saham bukan gambling. Ini adalah investasi,” tandasnya.

Rudy mencontohkan, emiten PT Telkom (TLKM) yang merupakan perusahaan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Menurutnya, secara fundamental emiten telekomunikasi ini sangat bagus dan berkembang.

Karena itu, jika publik membeli sahamnya berarti turut memiliki perusahaan tersebut. “Kita diam saja, petugas Telkom yang bekerja tiap hari, mereka bekerja untuk kita. Itu contoh sederhananya mengapa membeli saham bukan gambling melainkan investasi,” tegas Rudy.

Begitu juga jika membeli saham PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP), PT Astra Internasional (ASII) dan lain-lain yang perusahannya terus berkembang.

Menurutnya, mendidik mahasiswa sekarang, hasilnya baru akan dirasakan 5-10 tahun mendatang. “Kita memerlukan generasi, dari tingkat mahasiswa hingga mereka lulus dan bekerja. Mereka ini harus terbiasa dengan capital market,” ujarnya. [ast]
“Kapitalisasi Pasar Saham Indonesia Ketinggalan dari Singapura”
Rabu, 16 Februari 2011 – 11:26 wib
Idris Rusadi Putra – Okezone

JAKARTA – Kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk sekarang ini masih ketinggalan jika dibandingkan dengan bursa efek Singapura.

Kendati demikian, Direktur Utama BEI Ito Warsito menjelaskan jika prospek dari pasar modal di Indonesia yang menjanjikan bakal terus membuat kapitalisasi terus tumbuh.

“Saat ini kapitalisasi pasar kita memang ketinggalan dari Singapura, tapi secara jangka panjang kapitalisasi pasar kita bagus,” ungkapnya di sela acara Investor Daily Forum di Jakarta, Rabu (16/2/2011).

Apalagi, sekarang ini Indonesia tengah dalam tahap akhir proses naik peringkat menjadi investment grade. Jika hal itu sampai terealisasi, maka bursa saham di Indonesia otomatis bakal terkena imbasnya.

“Dan BEI masih berpotensi, karena kredit rating bakal naik menjadi investment grade,” pungkasnya. (wdi)
(ade)
Nasabah Online Trading Melonjak
Oleh Jauhari Mahardhika | Sabtu, 19 Februari 2011 | 15:12
Investor Daily
JAKARTA – Perusahaan sekuritas kini berlomba-lomba menerapkan fasilitas perdagangan saham secara langsung atau online trading. Sebab, online trading terbukti mujarab mendongkrak jumlah nasabah para broker saham tersebut.

Saat ini, broker saham yang telah menerapkan online trading berbasis internet mencapai 45 perusahaan. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan per Oktober 2010 sebanyak 33 perusahaan. Jumlah broker saham yang menggunakan online trading bakal bertambah. Pasalnya, sekitar 20 perusahaan sedang bersiap-siap meluncurkan produk baru online trading.

Dengan demikian, tahun ini jumlahnya bisa mencapai 65 perusahaan, atau sekitar 55% dari total broker yang menjadi anggota Bursa Efek Indonesia sebanyak 119 perusahaan. Beberapa perusahaan yang sudah eksis dengan online trading antara lain PT e-Trading Securities, PT Indo Premier Securities, PT BNI Securities, PT Danareksa Sekuritas, PT CIMB Securities Indonesia, PT Reliance Securities, PT Phillip Securities Indonesia, PT Dongsuh Securities, dan PT Panin Sekuritas Tbk.

Berkat online trading, Indo Premier mencatat lonjakan nasabah yang signifikan. Saat ini, jumlah nasabah perusahaan sekuritas swasta itu mencapai 40 ribu. Sekitar 70% di antaranya merupakan nasabah aktif. Padahal, pada 2007 atau sebelum online trading, jumlah nasabah Indo Premier hanya 500.

Selengkapnya baca di Investor Daily versi digital di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php
Warren Buffet Mulai Lakukan Profit Taking
Oleh:
Pasar Modal – Kamis, 17 Februari 2011 | 10:40 WIB

INILAH.COM, San Francisco – Berkshire Hathaway Inc, konglomerat asuransi yang dijalankan Warren Buffet, menjual saham di beberapa perusahaan. Hal ini menyusul peningkatan pasar saham pada kuartal keempat.

Demikian ungkap otoritas bursa awal pekan ini. Berkshire menjual saham di Bank of America Corp, Becton Dickinson dan Co, Comcast Corp, Fiserv Inc, Lowe’s Cos, Nalco Holding, Ltd Nestle dan Nike Inc selama kuartal keempat. Hali ni berdasarkan perbandingan pengajuan yang mencakup kepemilikian ekuitas Buffett pada 30 September dan akhir 2010.

Buffett dikenal sebagai investor jangka panjang, dan juga investor nilai yang menghindari dari harga saham yang terlalu mahal.

Indeks S & P 500 melonjak lebih dari 10% selama kuartal keempat, sebagai tanda-tanda munculnya pemulihan ekonomi AS yang kuat.

Selama itu, saham Nestle naik 10%, sementara Lowe naik 13%, Becton 14%, Comcast 22% dan Nalco 27%. Demikian juga Bank of America yang naik 2%, Fiserv naik hampir 9% dan Nike naik mendekati 7%.

Saham Berkshire di Wells Fargo & Co naik dari hanya 336 juta lembar saham pada akhir September hingga lebih dari 342 juta lembar saham pada akhir 2010. Saham Wells Fargo melonjak lebih dari 23% pada kuartal keempat tahun lalu. [ast]
All You Need to Know About Why Things Fell Apart: Michael Lewis
By Michael Lewis – Feb 15, 2011
Bloomberg Opinion

A surprising number of my fellow citizens appear to be unaware of my service these past 18 months as a member of the Financial Crisis Inquiry Commission.

Thus it may come as news that I have declined to sign the report issued by the majority, or the dissent by the three- member minority, or even the dissent from their dissent, written by the now-immortal Peter J. Wallison. I hereby dissent from the dissent from the dissent. My dissent is different from all those other dissents, which is why I am dissenting.

I do this, of course, not to call attention to myself. Still less do I seek to enhance the status of my application for employment with JPMorgan Chase. I seek merely to inform the general public of the true causes of our so-called financial crisis.

The task is not a simple one. In limiting me to a mere two pages at the end of their 633-page book, the majority and the other dissenters have suppressed not only several apt metaphors, but deep truths.

Here, in a far-too-brief executive summary, they are:

Financial Crisis Cause No. 1: Wall Street’s shifting demographics.

In the commission’s report Federal Reserve Chairman Ben Bernanke describes recent events as “the worst financial crisis in global history, including the Great Depression.” The event, in other words, was unprecedented. To understand an event that has never before occurred, we must logically begin with those factors that have never before been present. On Wall Street, the most obvious such factor is women.
Distorted Judgment

Of course, the women who flooded into Wall Street firms before the crisis weren’t typically permitted to take big financial risks. As a rule they remained in the background, as “helpmates.” But their presence clearly distorted the judgment of male bond traders — though the mechanics of their influence remains unexplored by the commission (on which several women sat).

They may have compelled the male risk takers to “show off for the ladies,” for instance, or perhaps they merely asked annoying questions and undermined the risk takers’ confidence.

At any rate, one sure sign of the importance of women in the financial crisis is the market’s subsequent response: to purge women from senior Wall Street roles. Wall Street’s gender problem is, for the moment, of merely academic interest. Less academic is…

Moral Collapse

Financial Crisis Cause No. 2: The moral collapse of the American working class.

AIG head Robert Benmosche has recently pointed out that the reason his firm has enjoyed such great success is precisely because it has avoided selling insurance to the large number of Americans who believe, as Benmosche put it, “that the government is responsible for what happens to me.” (As we know, the government is responsible only for what happens to AIG).

The CEO of JPMorgan, Jamie Dimon, has often called our attention to the outrageous amount of banker bashing by Americans outside the financial sector, who seek to blame their troubles on others.

Wall Street leaders now understand that they made a mistake, one born of their innocent and trusting nature. They trusted ordinary Americans to behave more responsibly than they themselves ever would, and these ordinary Americans betrayed their trust.

Amazingly, these ordinary Americans don’t even appear to feel guilty for their actions. Like wild animals that have lost their fear of humans, they continue to wander down from the hills to rummage through our garbage cans for sustenance.

Best Subprime

Frankly, the commission’s report does nothing to improve public morals. In discussing the role of the 1977 Community Reinvestment Act, for instance, the report notes that the loans made by big banks to meet the act’s requirements — that is, loans to poor people in crap neighborhoods — outperformed, dramatically, the general run of subprime loans.

Such nitpicking merely obscures the critical point. For at least two centuries the U.S. government has encouraged people who didn’t work on Wall Street to think of themselves as “equal.” Government policies have emboldened ordinary Americans to borrow money they never intended to repay, just like rich people do, and cowed the financial elite into lending it to them. You can’t forget to bear-proof the garbage cans, and expect the bears won’t notice.

Along these same lines I cannot help but point out…
Blame China

Financial Crisis Cause No. 3: The Chinese.

The willingness of this remote and curious people to sell us goods at ridiculously low prices is disruptive. It encourages our poor to believe they can afford many items which they should not be able to, for instance. And the vast number of dollars these same Chinese people willingly lend to us at absurdly low rates of interest places an unfair burden on our financiers, who must find someplace to put them.

This is a far more difficult job than is commonly understood; it often leaves Wall Street people feeling overworked and underappreciated. If we want our financiers to perform even better than they do, we must cease to expect more from them than they can give.

Which brings me to…

Financial Crisis Cause No. 4: Upon our trusting, hard- working and underappreciated financiers we thrust the impossible task of overcoming impersonal historical forces.

The most distressing aspect of the commission’s report is its attempt to blame actual human beings for the financial crisis: fraudulent CDO managers, greedy ratings companies, Wall Street bond traders and, especially, Wall Street CEOs. Think about this: If everyone on Wall Street is guilty, how can anyone be? If no one on Wall Street saw it coming, how can anyone be expected to have seen it?
Details for Dummies

Anyway, as several Wall Street CEOs tried patiently to explain to the commission, the details were never their responsibility. Martin Sullivan, the CEO of AIG in the three years leading up to its near collapse, even went so far as to prove that he had no idea how much he’d been paid ($107 million).

The commission proved incapable of grasping the point: the rare man capable of running a big Wall Street firm remains focused on the big picture. And in the big picture, from the point of view of their firms and their earnings potential, the so-called financial crisis was a blip. They’ve already forgotten about it.

And they assume that, eventually, you will, too.

(Michael Lewis, most recently author of the best-selling “The Big Short,” is a columnist for Bloomberg News. The opinions expressed are his own.)
Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta pengelola dana lebih aktif mengembangkan produk derivatif. Hal ini seiring langkah bursa mengintegrasikan produk derivatif dengan sistem perdagangan efek JATS-Next G (Jakarta Automatic Trading System Next Generation).

Dengan semakin banyaknya produk di pasar modal, maka akan memberi banyak pilihan investor untuk berinvestasi. Menurut dia, saat ini pengembangan produk-produk tersebut sangat terbuka, seiring masuknya platform perdagangan derivatif pada sistem JATS. Namun, jika pengelola dana tidak merespons kemudahan itu dengan baik, tentu produk itu tidak berkembang seperti yang diharapkan.

Saat ini,otoritas bursa tengah mengaktifkan kembali produk-produk tersebut, di antaranya adalah produk Kontrak Opsi Saham. Pasar saat ini cukup dinamis. Karena itu, dengan pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang cukup tinggi selama dua tahun terakhir ini, diyakini permintaan terhadap produk-produk pasar modal lain pun meningkat. Permintaan ini terutama berasal dari luar negeri.

http://economy.okezone.com/read/2011/02/14/278/424470/pengelola-dana-diminta-kembangkan-derivatif

Sumber : OKEZONE.COM
Revenue
Senin, 7 Februari 2011 – 10:18 wib

Dalam laporan keuangan, revenue menunjukkan nilai pendapatan perusahaan. Setelah dipotong dengan biaya-biaya operasional atau penjualan, maka ia menghasilkan pendapatan bersih (net revenue). Artinya berapa nilai total pendapatan bersih dari perusahaan tersebut yang berasal dari lini bisnis utama.

Apa pentingnya menyimak pendapatan perusahaan? Dalam analisa fundamental, kebanyakan investor atau pelaku pasar terperangkap hanya menyimak ujungnya semata yakni laba bersih perusahaan (net profit) tanpa menyimak lagi lebih detil dari mana asal muasal laba bersih itu diperoleh, apakah seratus persen benar-benar diperoleh dari operasional perusahaan atau kah ada sumber lain yang ikut mengkontribusi terhadap akumulasi laba bersih.

Menyimak laba bersih sebuah perusahaan publik memang sangat penting untuk mengukur kemilau performance perusahaan. Namun, akan lebih baik jika perhatian tidak hanya berhenti pada perolahan laba bersih semata.

Sebab jika perhatian semata-mata hanya ditujukan kepada laba bersih, maka dikuatirkan investor tidak mengetahui asal-usul diperolehnya laba bersih tersebut. Nah, jika ingin menelusuri maka tidak ada jalan lain kecuali mengetahui bagaimana struktur pendapatan dari perusahaan tersebut.

Sekilas, revenue hanya menginformasikan nilai pendapatan semata. Padahal tidaklah demikian. Banyak hal yang bisa dikupas dari revenue perusahaan, apalagi jika perusahaan itu merupakan holding atau perusahaan investasi.

Tidak jarang sebuah perusahaan, tiba-tiba mencatat pendapatan yang sangat besar meski ia tidak mencatat prestasi apa pun. Pendapatan itu bisa jadi berasal dari penjualan aset perusahaan seperti yang pernah terjadi pada sebuah emiten beberapa waktu lalu.

Struktur pendapatan setiap perusahaan sangat berbeda, tergantung jenis usaha yang digeluti. Perlu diingat bahwa pada umumnya perusahaan besar-apalagi yang sudah berstatus public company-memiliki struktur usaha yang tidak sederhana.

Biasanya, perusahaan besar memiliki anak-anak usaha bahkan cucu perusahaan. Tidak sedikit perusahaan memiliki struktur vertikal di atas lima tingkat. Struktur semacam ini sengaja dibuat dengan tujuan tertentu dalam kaitan dengan strategi pertumbuhan perusahaan.

Jika sebuah perusahaan publik dengan anak usaha, cucu usaha bahkan cicit usaha bergerak di bidang yang sama misalnya properti, maka untuk melakukan analisa terhadap struktur pendapatan perusahaan tidaklah terlalu rumit karena semuanya bergerak di sektor usaha yang sama.

Karena sektornya sama, maka seluruh perusahaan dalam group usaha itu memiliki risiko dan rentabilitas yang sama terhadap perubahan lingkungan yang terjadi.

Lain halnya jika sebuah perusahaan publik memiliki beberapa anak usaha yang bergerak di bidang yang sama sekali beda. Misalnya perusahaan ABCD memiliki sepuluh anak perusahaan yang bergerak di bidang berbeda, ada di sektor perkebunan, properti, pertambangan, transportasi, telekomunikasi, perbankan, dan sebagainya.

Sementara kontribusi pendapatan dari masing-masing anak perusahaan itu berbeda sama sekali. Ada yang dominan, dan ada yang biasa-biasa saja.

Untuk perusahaan yang seperti ini maka pelaku pasar perlu menyimak lebih detil lagi. Anak perusahaan mana yang memberikan kontibusi terbesar, sedang dan kecil. Hal seperti ini perlu identifikasi untuk memastikan dan menghindari kesalahan analisa.

Misalnya saja kontribusi terbesar terhadap perolehan revenue PT ABCD tadi berasal dari anak usaha yang bergerak di bidang perkebunan. Jika strukturnya seperti itu berarti PT ABCD memiliki rentabilitas yang tinggi terhadap setiap perkembangan yang terjadi di sektor perkebunan. Jika industri sektor perkebunan suram, maka investor cenderung melepas portofolio sahamnya di pasar.

Kembali pada permisalan di atas, jika sektor usaha yang lain sedang mengalami krisis maka efeknya tidaklah terlalu besar terhadap performance PT ABCD, karena kontribusi dari sektor lain kurang material.

Nah, dengan menyimak secara detil nilai pendapatan perusahaan maka investor atau pelaku pasar akan tahu lebih detil dari mana sumber perolehan laba bersih perusahaan. (Tim BEI)(//ade)
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut berlakunya tiga surat edaran lantaran telah diterbitkannya Peraturan Nomor II-A tentang perdagangan efek bersifat ekuitas.

Tiga surat edaran yang dicabut itu adalah surat edaran nomor SE-002/BEJ/06-2007 tanggal 28 Juni 2007 perihal pesanan titipan jual dan atau beli, surat edaran nomor SE-002/BEI/02-2008 tanggal 6 Maret 2008 perihal pengumuman unusual market activity pada website bursa.

Terakhir, surat edaran nomor SE-00001/BEI.PSH/01-2009 tanggal 14 Januari 2009 perihal pembatasan terhadap harga penawaran tertinggi atau terendah atas saham yang dimaukan ke JATS di pasar reguler dan pasar tunai (auto rejection).

Terkait dengan penerapan auto rejection terhadap harga perdagangan saham hasil penawaran umum yang pertama kali diperdagangkan di bursa (perdagangan perdana) ditetapkan sebesar dua kali dari persentase batasan auto rejection yang diatur dalam peraturan nomor II-A tentang perdagangan efek bersifat ekuitas.

http://economy.okezone.com/read/2011/02/08/278/422440/bei-auto-rejection-perdagangan-perdana-2x-lebih-besar

Sumber : OKEZONE.COM
Hacker Berkali-kali Tembus Jaringan Komputer Nasdaq
Sabtu, 5 Februari 2011 – 16:02 wib
Defanie Arianti – Okezone

NEW YORK – Jaringan komputer Bursa Saham Nasdaq rupanya telah beberapa kali ditembus hacker sepanjang 2010, demikian seperti dilansir Reuters, Sabtu (5/2/2011).

Harian Wall Street Journal memberitakan, petugas investigasi federal saat ini tengah mencari tahu identitas kumpulan hacker itu sekaligus motif mereka.

Meski jaringan komputernya beberapa kali jebol oleh hacker, Nasdaq beruntung karena sistem trading mereka tidak terkena dampak apapun. Menurut salah satu petugas investigasi, para hacker itu “hanya ingin melihat-lihat”.

Beberapa dugaan motif yang menjadi alasan kejahatan ini termasuk: menambah pemasukan, pencurian data-data rahasia, atau bahkan ancaman terhadap keamanan negara yang didesain untuk menghancurkan bursa saham tersebut.

Kawanan hacker itu meninggalkan pesan berisi ancaman dan mengklaim telah membuat akun email pada sistem komputer Nasdaq, sehingga dikhawatirkan adanya kerusakan yang lebih parah pada sistem komputer. Namun, saat ini, para ofisial Nasdaq mengklaim, tidak ada bukti jika hacker itu memanipulasi data finansial.
(srn)
Pialang Saham Lebih Senang Temui Klien

Oleh: Wahid Ma’ruf
Pasar Modal – Sabtu, 5 Februari 2011 | 16:56 WIB

INILAH.COM, Hong Kong – Krisis keuangan 2008 telah menghilangkan tradisi jam makan siang di pasar saham Hong Kong dan Singapura. Para pialang lebih senang bertemu klien dan menghadiri presentasi IPO saham.

Tradisi jam makan siang merupakan sisa zaman kolonial dulu. Padahal London sudah melepaskan kebiasaan itu sejak 60 tahun lalu. Namun pengaruh Inggris masih bertahan hingga beberapa dekade terakhir.

“Ketika saya pertama kali datang (Hong Kong dan Singapura) sangat Inggris. Ada setengah hari di hari Sabtu terlihat orang duduk-duduk dan membaca koran serta membersihkan meja mereka,” kata Todd Martin, Strategic Equitas di Hong Kong untuk Bank Perancis Societe Generale, yang telah bekerja di pasar Asia sejak 18 tahun terakhir.

Saat ini, istirahat makan siang sudah menghilang. Walaupun sebuah langkah yang agak kontroversial di Hong Kong dan Singapura. Pialang saham dan profesional pasar lainnya menunjukkan kalau mereka tidak hanya bekerja di belakang meja dan keluar untuk makan dengan santai dan lama. Namun waktunya dihabiskan untuk pertemuan dengan klien dan menghadiri acara bisnis seperti presentasi IPO.

“Krisis Asia telah mengubah semuanya. Ini benar-benar mengguncang tradisi industri dan mengubah tradisi dari broker asal Inggris,” kata Martin seorang warga Kanada mengingat pasar keuangan asia pada akhir tahun 1990 saat ekonomi masih stabil, demikian dikutip dari finance.yahoo.com.

Beberapa pendapat mengusulkan untuk memperpanjang jam perdagangan. Walaupun akan menempatkan perusahaan trading yhang lebih kecil pada posisi yang kurang menguntungkan. Sebab mereka akan terpaksa menambah biaya pengadaaan staff. Ini merupakan jam ekstra yang akan diterjemahkan dalam volume perdagangan yang lebih tinggi dan keuntungan lebih besar.

Namun pendirian sebagian perusahaan sekuritas lokal menjadi alasan pasar Asia tetap memiliki istirahat makan siang yang lama. “Ini mengerikan. Saya pikir mereka diposisikan karyawan yang dapat bekerja seperti mesin,” kata Francis Lun, Manajer Umum di Fulbright Securities di Hong Kong.

Namun ada pedagang yang mengatakan istirahat makan siang ternyata menjadi masalah. Program trading komputer yang diandalkan banyak perusahaan tidak berfungsi secara efektif jika aktifitas saham berhenti di tengah hari. Perubahan juga sangat mengurangi risiko kesenjangan. Saat harga saham bergerak secara signifikan karena ada berita keluar saat istirahat.

Good luck hedging against inflation
Feb 3, 2011 08:42 EST

Looking to hedge against a spike in inflation? Equities may not be much help.

Neither, for that matter, will you do all that well over the longer haul with bonds, cash or even commodities, at least on the historical evidence. In short, when it comes to investing, inflation is a real drag.

It’s impossible to know if, much less when, the current very stimulative monetary policy in the developed world will spur inflation, but increasingly indicators are raising concerns. Emerging market economies show signs of overheating, while prices of food and many other commodities are surging.

The traditional view has been that equities are an effective hedge against inflation, in least over the long term, because companies will, all things being equal, eventually pass on inflation to their clients as higher prices.

That’s the theory, but the practice may prove to be much different, according to a study by IMF economists Alexander Attie and Shaun Roache, who examined the performance of a range of traditional asset classes in the aftermath of inflation shocks.

“Among traditional asset classes, inflation hedges are imperfect at best and unlikely to work at worst,” according to Attie and Roache.

First, the authors looked at returns in the 12 months after inflation shocks in the period after the 1973 end of the Bretton Woods system of fixed currencies. The results were not surprising; bonds got killed, equities did badly, as did cash, while commodities were an effective hedge. Real estate investment trusts (REITs) did about as badly as equities, somewhat undermining the argument for real estate during inflationary periods.

All well and good, but really only of use for the small number of daredevils who are willing to make big asset allocation shifts over a short period of time.

For most savers, not to mention pension funds and endowments, the more useful question is how do you hedge against inflation for the longer term?

The results for equities were not encouraging.

“Equity returns decline in the months following an inflation shock and do not experience a meaningful recovery thereafter, leaving them as the worst performing asset class in our sample,” according to the study.

“Our findings are consistent with evidence from a range of earlier studies and add further weight to the evidence against the theoretical arguments for equities as a real asset class providing inflation protection when inflation is rising.”

Over the 18 months after the shock, real returns were negative, though less negative than bonds, which get hammered by inflation. Equities improve a bit over the next couple of years, but even when looked at in the long run of more than five years an inflation shock makes for losses in real terms.

IN THE LONG RUN WE’RE ALL …
As for the other asset prices, inflation proves very difficult to hedge against even over the longer term. Take commodities, the star performer in the first 18 months after inflation bites; spot prices decline in the medium term and when you get above five years after the inflationary event you are looking at actual losses in spot prices. This might be because inflation hits demand, but also might be because high prices spur greater investment in efficiency, which over the long term also moderates demand.

While bonds get killed in the first couple of years after an inflation shock, after about three years returns improve, presumably partly because investors demand higher yields to make up for nasty recent experiences.

Cash returns do a bit better, but even cash, which can go where it likes in search of better returns as inflation increases, fails to serve as a perfect hedge over the longer term.

So, how to hedge against inflation? Inflation-protected bonds such as TIPS would work, but to be a hedge you have to buy and hold to maturity, as outside forces can easily distort returns through the life of a given bond.

Given that inflation is a portfolio killer, why then are equity markets booming? Well, in emerging markets where inflation is kicking in first they are not. In developed markets, investors seem to be placing a touching amount of faith in central bankers. After all, if the Federal Reserve and ECB don’t pull the plug on stimulus in time, inflation can easily get out of control.

Or perhaps equity markets are betting the central banks will fail to stoke growth and be forced to blow a larger asset market bubble as a consequence.

Or maybe everybody thinks they will be the genius who gets out in time.

(At the time of publication James Saft did not own any direct investments in securities mentioned in this article. He may be an owner indirectly as an investor in a fund. email: jamessaft@jamessaft.com)

Tahun Kelinci, Pasar Saham Bakal “Loncat-Loncat”
Rabu, 2 Februari 2011 – 13:32 wib
Idris Rusadi Putra – Okezone

MEMASUKI tahun baru China yang mewakili kelinci emas, pasar saham diproyeksikan akan ‘loncat-loncat’ layaknya kelinci.

“Tahun ini tahun kelinci, bagi yang percaya fengshui. Market akan bertingkah rabbitly, loncat-loncat. Sekarang waktu yang bagus untuk tradding saat ini karena volatile, tapi bagusnya untuk buy and sell. Harga rendah kita beli, harga tinggi langsung kita jual,” ujar Vice President Research and Analyst Valbury Asia Futures Nico Omer Jonckheere dalam acara Launching Indonesia Financial Expo & Forum 2011 di FX, Jakarta, Rabu (2/2/2011).

Dia menambahkan, bullish-nya market akan dilanjutkan pada tahun ini, tetapi volatilitas cenderung akan tinggi dibandingkan tahun lalu. “Kemungkinan besar the bull market akan dilanjutkan tahun ini,” imbuhnya.

Masalah market untuk tahun ini, menurutnya adalah kondisi perekonomian sejumlah negara maju serta negara berkembang di dunia yang tengah memiliki masalah. “Situasi terlalu dingin di negara maju, di negara berkembang panas. Misalnya Amerika yang mempunyai banyak, Amerika masalah besar saat ini, utangnya banyak,” pungkasnya.(wdi)
5 Saham Baru Masuk LQ45
Senin, 31 Januari 2011 – 17:16 wib
Widi Agustian – Okezone
Ilustrasi

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) memasukan lima saham baru ke dalam indeks LQ45. Selanjutnya, lima saham juga dikeluarkan dari perhitungan indeks yang merupakan kumpulan 45 saham terlikuid ini.

“Kami sampaikan daftar saham yang masuk dan keluar dalam perhitungan indeks LQ45 untuk periode perdagangan Februari 2011 sampai dengan Juli 2011,” kata Kepala Divisi Perdagangan Saham BEI Andre PJ Toelle dalam laporan tertulisnya di Jakarta, Senin (31/1/2011).

Lima saham baru tersebut adalah PT Bank Bukopin Tbk (BBKP), PT BPD Jabar dan Banten Tbk (BJBR), PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL).

Sementara lima saham yang keluar dari indeks ini adalah PT Global Mediacom Tbk (BVMTR), PT Barito Pasipic Tbk (BRPT), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) dan PT Benakat Petrleum Energy Tbk (BIPI).(wdi)
Inilah 6 Saham Baru untuk Transaksi Marjin-Short Sell
Senin, 31 Januari 2011 – 16:54 wib
Widi Agustian – Okezone

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) memasukan enam saham baru yang dapat ditransaksikan secara marjin dan short selling.

Enam saham baru tersebut adalah PT BW Plantations Tbk (BWPT), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).

Dengan demikian total saham yang dapat ditransaksikan secara marjin sejumlah 46 saham. Sementara total saham yang dapat ditransaksikan secara short sell ada 42 saham.

“Daftar efek tersebut mulai berlaku tanggal 1 Februari 2011,” kata Kepala Divisi Perdagangan Saham BEI Andre PJ Toelle dalam laporan tertulisnya di Jakarta, Senin (31/1/2011).

Dengan keluarnya daftar saham ini, maka pengumuman bursa tentang daftar saham yang dapat ditransaksikan secara marjin dan short sell pada akhir Desember 2010 lalu tidak berlaku lagi.(wdi)

Book Value

What Does It Mean?
What Does Book Value Mean?
1. The value at which an asset is carried on a balance sheet. To calculate, take the cost of an asset minus the accumulated depreciation. 

2. The net asset value of a company, calculated by total assets minus intangible assets (patents, goodwill) and liabilities.

3. The initial outlay for an investment. This number may be net or gross of expenses such as trading costs, sales taxes, service charges and so on.

Also known as “net book value (NBV)”.

In the U.K., book value is known as “net asset value”.

Watch: Book Value
Investopedia Says
Investopedia explains Book Value
Book value is the accounting value of a firm. It has two main uses: 

1. It is the total value of the company’s assets that shareholders would theoretically receive if a company were liquidated.

2. By being compared to the company’s market value, the book value can indicate whether a stock is under- or overpriced.

3. In personal finance, the book value of an investment is the price paid for a security or debt investment. When a stock is sold, the selling price less the book value is the capital gain (or loss) from the investment.

Price-To-Book Ratio – P/B Ratio

What Does It Mean?
What Does Price-To-Book Ratio – P/B Ratio Mean?
A ratio used to compare a stock’s market value to its book value. It is calculated by dividing the current closing price of the stock by the latest quarter’s book value per share. 

Also known as the “price-equity ratio”.

Calculated as:

Price-To-Book Ratio (P/B Ratio)

Watch: Understanding The P/B Ratio
Investopedia Says
Investopedia explains Price-To-Book Ratio – P/B Ratio
A lower P/B ratio could mean that the stock is undervalued. However, it could also mean that something is fundamentally wrong with the company. As with most ratios, be aware that this varies  by industry. 

This ratio also gives some idea of whether you’re paying too much for what would be left if the company went bankrupt immediately.

Lembaga pemeringkat, Moody’s Rating menaikkan peringkat surat utang Indonesia dari Ba2 menjadi Ba1, atau satu peringkat di bawah ‘investment grade’. Perbaikan peringkat ini diberikan karena Moody’s menilai ada perbaikan dari sisi surat utang pemerintah, membaiknya prospek Penanaman Modal Asing (PMA) dan cadangan devisa yang cukup besar.

Peringkat Moody’s ini setara dengan peringkat yang diberikan lembaga pemeringkat lain, Fitch Ratings di ‘BB+’ dan satu peringkat lebih tinggi dari peringkat S&P di ‘BB’.

“Hari ini Moody’s sudah meng-upgrade rating dari Ba2 menjadi Ba1, satu notch di bawah investment grade dengan outlook stabil,” ujar Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Rahmat Waluyanto kepada detikFinance, Senin (17/1/2010).

Rahmat menegaskan, kenaikan peringkat dari Moody’s ini sangat spesial bagi Indonesia karena diberikan kepada suatu negara di tengah situasi negara-negara lain di berbagai kawasan yang sedang mengalami masa sulit.

“Ini akan menambah confidence investor khususnya asing untuk bertahan di Indonesia,” tegas Rahmat.

Rahmat menambahkan, Moody’s menaikkan peringkat Indonesia dengan alasan ketahanan ekonomi terhadap krisis, posisi utang yang membaik, serta cadangan devisa yang meningkat, dan prospek PMA yang membaik.

“Outlook stabil karena upaya stabilisasi pasar obligasi domestik dengan adanya persiapan bond stabilization fund,” ungkap Rahmat.

Mengenai catatan dari Moody’s soal non-resident holdings yang patut diwaspadai, Rahmat mengatakan hal itu sudah diantisipasi oleh pemerintah.

“Untuk itu, pemerintah selama ini sudah melakukan dengan deepening domestik bond market melalui diversifikasi instrumen dan dengan menjaga stabilitas pasar dengan pembentukan bond stabilization fund serta meningkatkan koordinasi dengan berbagai otoritas termasuk moneter dan pasar modal,” jelasnya.

Sumber: detikcom
Keinginan Bunuh Diri Mayoritas Keluhan Hotline 500-454
Jumat, 14 Januari 2011 | 20:40

JAKARTA-Setelah diluncurkan sejak 10 Oktober 2010 lalu, hotline 500-454 yang ditujukan bagi masyarakat yang merasa depresi dan membutuhkan teman bicara kebanjiran telepon dari mereka yang mengaku ingin bunuh diri.

“Memang mayoritas penelepon adalah mereka yang ingin bunuh diri, selebihnya adalah mereka yang mengalami depresi dan gangguan jiwa lainnya,” kata Direktur Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan dr. Bella Patriajaya, Sp.KJ dalam temu media rutin Kementerian Kesehatan di Jakarta, Jumat (14/1).

Meskipun belum mendapatkan data rinci mengenai jumlah penelepon dan gejala gangguan jiwa yang diderita penelepon, Patriajaya mengatakan, lebih dari 50 persen telepon yang masuk memang membahas mengenai keinginan bunuh diri mereka.

“Kebanyakan penelepon adalah di usia produktif, mulai dari 30 hingga 50 tahun dan sebagian besar diantaranya mengaku dorongan (bunuh diri) itu adalah karena alasan ekonomi. Bisa bermacam-macam, mulai dari kehilangan pekerjaan, turun pangkat dan semacam itu,” ujarnya.

Namun ada juga anak remaja dan usia lanjut yang menelepon hotline tersebut dan Patriajaya mengungkapkan kedua kelompok umur itu memiliki keluhan yang mirip yakni mengenai masalah cinta.

“Kalau yang remaja biasanya bermasalah dengan masalah percintaan dengan lawan jenis sementara kalau yang usianya diatas 50 tahun mengeluhkan tentang kasih sayang, kadang karena anaknya semua tinggal di kota berbeda,” paparnya.

Kemenkes meluncurkan nomor hotline 500-454 (atau disebut 500-ASA/harapan) untuk masyarakat luas yang merasa depresi dan ingin menyampaikan curahan hatinya.

Hotline itu antara lain diluncurkan untuk mengerem laju kasus bunuh diri yang sepertinya meningkat di Indonesia belakangan ini dimana para konselor yang merupakan tenaga kesehatan berpengalaman akan mendengarkan mereka yang memiliki permasalahan dan mendeteksi adanya gejala gangguan jiwa.

Selain memberikan relaksasi dengan mendengarkan “curhat” dari anggota masyarakat yang depresi, para konselor akan merujuk para penelpon ke ahli kesehatan jiwa jika dinilai perlu.

Saat ini, di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan (biasa dikenal sebagai RSJ Grogol) sebanyak 10 orang konselor siap menerima telepon di nomor hotline tersebut selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu dan mengidentifikasi gejala gangguan jiwa para penelepon.

Ke depannya, jumlah konselor akan ditingkatkan dan akan disebar ke seluruh daerah di Indonesia sehingga jika ada telepon dari daerah tertentu maka dapat disalurkan ke konselor terdekat.

“Kita perkirakan mungkin lebih mudah jika penelepon orang Sulawesi ditangani oleh orang dari pulau itu juga. Kalau ditangani oleh orang Jawa misalnya, mungkin ada perbedaan budaya yang kadang tidak dimengerti,” kata Direktur Bina Kesehatan Jiwa Direktorat Jenderal Layanan Medik Kementerian Kesehatan Dr. Irwansyah Sp.KJ.

Penelepon nomor hotline itu akan dikenakan biaya pulsa lokal, dimana nomor juga dapat diakses menggunakan telepon genggam dengan menambahkan nomor kode wilayah.

Di bulan pertama beroperasinya hotline tersebut, jumlah penelepon sangat sedikit, hanya dua atau tiga orang per harinya namun setelah diekspos oleh media masa setelah diresmikan oleh Menteri Kesehatan, Patriajaya menyebut lalu lintas penelepon menjadi sangat ramai, rata-rata mencapai 50 penelepon sehari dan pernah mencapai 90 orang per hari.

“Banyaknya penelepon membuktikan bahwa layanan ini sangat dibutuhkan masyarakat,” kata Irwansyah.

Namun saat ini layanan hotline tersebut belum maksimal karena jumlah konselor yang masih terbatas dan belum terbangunnya infrastruktur yang dibutuhkan.

“Memang konselor tidak segera dapat memecahkan masalah orang tapi setidaknya mendengarkan. Jika dibutuhkan, maka penelepon akan dianjurkan untuk mencari layanan optimal di rumah sakit. Akan diinformasikan layanan kesehatan jiwa terdekat oleh konselor,” kata Irwansyah.

Ia menjamin bahwa setiap konselor akan menanggapi serius para penelepon yang masuk dan menyatakan bahwa layanan kesehatan jiwa merupakan layanan kesehatan dasar yang harus diberikan oleh Kementerian.

Irwansyah mengatakan layanan hotline itu muncul karena masalah kejiwaan di Indonesia termasuk unik, dimana banyak penderita yang tidak tahu kalau menderita gangguan jiwa dan bahkan bagi mereka yang tahu mereka mengalami gangguan jiwa, tidak tahu harus kemana mencari bantuan.

“Hotline ini sebagai perantara antara orang yang gak tahu dengan layanan kesehatan yang dibutuhkannya. Para konselor akan menginformasikan hal tersebut, akan diberitahukan layanan rumah sakit terdekat,” katanya.

Sebanyak 20 konselor saat ini berada di Jakarta, 10 orang diantaranya berasal dari RS Soeharto Heerdjan dan 10 lainnya tersebar di wilayah Jakarta untuk sementara menerima telepon yang masuk.

“Sekarang masih di Jakarta semua, tapi nantinya telepon akan diterima di nomor 500-454 dan didistribusikan ke daerah. Kami akan menggandeng crisis center di daerah untuk menangani kasus-kasus ini juga,” ujar Irwansyah.

Hotline tersebut juga bekerjasama dengan penyedia jaringan telekomunikasi Telkom dan lembaga swadaya masyarakat yang memiliki visi serupa serta didukung oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Tingkat kejadian bunuh diri di Indonesia dari data WHO adalah 1,6-1,8 per 100.000 penduduk pada tahun 2001 namun angka ini diperkirakan jauh meningkat saat ini.

“Saya yakin angka ini jauh lebih besar, di Jakarta saja diperkirakan tingkat bunuh diri lebih dari 10 kasus perbulan,” kata Irwansyah.

Sementara itu, dari penelitian yang pernah dilakukan di Gunung Kidul, dengan jumlah penduduk sebesar 720.465 orang, tingkat bunuh diri mencapai 4,48 per 100.000 penduduk.

JAKARTA-Setelah diluncurkan sejak 10 Oktober 2010 lalu, hotline 500-454 yang ditujukan bagi masyarakat yang merasa depresi dan membutuhkan teman bicara kebanjiran telepon dari mereka yang mengaku ingin bunuh diri.

“Memang mayoritas penelepon adalah mereka yang ingin bunuh diri, selebihnya adalah mereka yang mengalami depresi dan gangguan jiwa lainnya,” kata Direktur Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan dr. Bella Patriajaya, Sp.KJ dalam temu media rutin Kementerian Kesehatan di Jakarta, Jumat.

Meskipun belum mendapatkan data rinci mengenai jumlah penelepon dan gejala gangguan jiwa yang diderita penelepon, Patriajaya mengatakan, lebih dari 50 persen telepon yang masuk memang membahas mengenai keinginan bunuh diri mereka.

“Kebanyakan penelepon adalah di usia produktif, mulai dari 30 hingga 50 tahun dan sebagian besar diantaranya mengaku dorongan (bunuh diri) itu adalah karena alasan ekonomi. Bisa bermacam-macam, mulai dari kehilangan pekerjaan, turun pangkat dan semacam itu,” ujarnya.

Namun ada juga anak remaja dan usia lanjut yang menelepon hotline tersebut dan Patriajaya mengungkapkan kedua kelompok umur itu memiliki keluhan yang mirip yakni mengenai masalah cinta.

“Kalau yang remaja biasanya bermasalah dengan masalah percintaan dengan lawan jenis sementara kalau yang usianya diatas 50 tahun mengeluhkan tentang kasih sayang, kadang karena anaknya semua tinggal di kota berbeda,” paparnya.

Kemenkes meluncurkan nomor hotline 500-454 (atau disebut 500-ASA/harapan) untuk masyarakat luas yang merasa depresi dan ingin menyampaikan curahan hatinya.

Hotline itu antara lain diluncurkan untuk mengerem laju kasus bunuh diri yang sepertinya meningkat di Indonesia belakangan ini dimana para konselor yang merupakan tenaga kesehatan berpengalaman akan mendengarkan mereka yang memiliki permasalahan dan mendeteksi adanya gejala gangguan jiwa.

Selain memberikan relaksasi dengan mendengarkan “curhat” dari anggota masyarakat yang depresi, para konselor akan merujuk para penelpon ke ahli kesehatan jiwa jika dinilai perlu.

Saat ini, di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan (biasa dikenal sebagai RSJ Grogol) sebanyak 10 orang konselor siap menerima telepon di nomor hotline tersebut selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu dan mengidentifikasi gejala gangguan jiwa para penelepon.

Ke depannya, jumlah konselor akan ditingkatkan dan akan disebar ke seluruh daerah di Indonesia sehingga jika ada telepon dari daerah tertentu maka dapat disalurkan ke konselor terdekat.

“Kita perkirakan mungkin lebih mudah jika penelepon orang Sulawesi ditangani oleh orang dari pulau itu juga. Kalau ditangani oleh orang Jawa misalnya, mungkin ada perbedaan budaya yang kadang tidak dimengerti,” kata Direktur Bina Kesehatan Jiwa Direktorat Jenderal Layanan Medik Kementerian Kesehatan Dr. Irwansyah Sp.KJ.

Penelepon nomor hotline itu akan dikenakan biaya pulsa lokal, dimana nomor juga dapat diakses menggunakan telepon genggam dengan menambahkan nomor kode wilayah.

Di bulan pertama beroperasinya hotline tersebut, jumlah penelepon sangat sedikit, hanya dua atau tiga orang per harinya namun setelah diekspos oleh media masa setelah diresmikan oleh Menteri Kesehatan, Patriajaya menyebut lalu lintas penelepon menjadi sangat ramai, rata-rata mencapai 50 penelepon sehari dan pernah mencapai 90 orang per hari.

“Banyaknya penelepon membuktikan bahwa layanan ini sangat dibutuhkan masyarakat,” kata Irwansyah.

Namun saat ini layanan hotline tersebut belum maksimal karena jumlah konselor yang masih terbatas dan belum terbangunnya infrastruktur yang dibutuhkan.

“Memang konselor tidak segera dapat memecahkan masalah orang tapi setidaknya mendengarkan. Jika dibutuhkan, maka penelepon akan dianjurkan untuk mencari layanan optimal di rumah sakit. Akan diinformasikan layanan kesehatan jiwa terdekat oleh konselor,” kata Irwansyah.

Ia menjamin bahwa setiap konselor akan menanggapi serius para penelepon yang masuk dan menyatakan bahwa layanan kesehatan jiwa merupakan layanan kesehatan dasar yang harus diberikan oleh Kementerian.

Irwansyah mengatakan layanan hotline itu muncul karena masalah kejiwaan di Indonesia termasuk unik, dimana banyak penderita yang tidak tahu kalau menderita gangguan jiwa dan bahkan bagi mereka yang tahu mereka mengalami gangguan jiwa, tidak tahu harus kemana mencari bantuan.

“Hotline ini sebagai perantara antara orang yang gak tahu dengan layanan kesehatan yang dibutuhkannya. Para konselor akan menginformasikan hal tersebut, akan diberitahukan layanan rumah sakit terdekat,” katanya.

Sebanyak 20 konselor saat ini berada di Jakarta, 10 orang diantaranya berasal dari RS Soeharto Heerdjan dan 10 lainnya tersebar di wilayah Jakarta untuk sementara menerima telepon yang masuk.

“Sekarang masih di Jakarta semua, tapi nantinya telepon akan diterima di nomor 500-454 dan didistribusikan ke daerah. Kami akan menggandeng crisis center di daerah untuk menangani kasus-kasus ini juga,” ujar Irwansyah.

Hotline tersebut juga bekerjasama dengan penyedia jaringan telekomunikasi Telkom dan lembaga swadaya masyarakat yang memiliki visi serupa serta didukung oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Tingkat kejadian bunuh diri di Indonesia dari data WHO adalah 1,6-1,8 per 100.000 penduduk pada tahun 2001 namun angka ini diperkirakan jauh meningkat saat ini.

“Saya yakin angka ini jauh lebih besar, di Jakarta saja diperkirakan tingkat bunuh diri lebih dari 10 kasus perbulan,” kata Irwansyah.

Sementara itu, dari penelitian yang pernah dilakukan di Gunung Kidul, dengan jumlah penduduk sebesar 720.465 orang, tingkat bunuh diri mencapai 4,48 per 100.000 penduduk. (ant/hrb)
Kalau Mau Cepat Pensiun, Disiplinlah dengan Uang Anda
Kamis, 4 November 2010 | 16:56

Kalau Anda sudah mulai punya bisnis dan bisnis tersebut sudah mulai menghasilkan cash flow, maka itu adalah saat dimana Anda harus mulai berhati-hati dengan diri Anda sendiri. Musuh yang paling besar adalah diri Anda sendiri. Bisa jadi, kini mungkin Anda harus bawa pulang uang dengan kantong plastic, misalnya, karena omzet usaha Anda yang fantastis. Kalau Anda tidak mampu disiplin, mimpi Anda untuk Pensiun Dini Pensiun Kaya tinggallah mimpi tanpa realitas.

Namun pada saat yang sama biasanya Anda juga mulai kebingungan bagaimana sih posisi keuangan dari bisnis Anda. Apakah untung atau rugi. Tiba-tiba Anda berada pada ruang yang gelap dengan dana tunai di tangan Anda. Luar biasa bukan?

Di sinilah perlu kedisplinan diri yang tinggi untuk memilah-milah mana uang Anda pribadi dan mana uang perusahaan. Pisahkanlah keduanya secara tegas. Perusahaan Anda adalah organisasi sendiri dan diri Anda adalah organisasi sendiri. Treatment terhadap keuangan perusahaan sangat berbeda dengan treatment keuangan pribadi. Transfer keuangan antarkedua organisasi ini perlu justifikasi yang jelas bukan?

Begitu pula antara Anda dan bisnis Anda. Setiap sen uang yang Anda ambil dari bisnis Anda harus mempunyai justifikasi yang jelas. Misalnya, kalau Anda mau ambil uang dari bisnis Anda untuk keperluan pribadi Anda, sah-sah saja, tapi lakukan itu atas nama gaji Anda sebagai Direktur usaha Anda, bukan karena Anda owner dari usaha Anda yang bisa terabas sana terabas sini dan membeli apapun yang Anda suka.

Jadi janganlah, misalnya, Anda ambil uang dari usaha Anda untuk beli TV di rumah Anda. Akan lain ceritanya bila Anda ambil uang dari usaha Anda untuk investasi pembelian TV untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan Anda. Ini jauh lebih bertanggung jawab.

Satu hal lagi yang sangat penting dan harus Anda patuhi adalah, jangan pernah sekalipun mengambil uang dari omzet bisnis Anda karena di dalam omzet bisnis Anda terdapat sekian banyak kewajiban yang harus dipenuhi oleh bisnis Anda. Sekali Anda melanggar hal ini, bisnis Anda tinggal menunggu waktu untuk tamat dari muka bumi.

Banyak contoh lain tentang bagaimana mengelola keuangan usaha Anda yang saya bahas dengan bahasa yang sangat sederhana pada buku saya Quantum Resign: Formula Aman Berhenti Kerja Jadi Pengusaha. Bottom line-nya adalah Disiplinlah dengan Uang Anda!
Semoga bermanfaat…

Sonny B Sofjan
Penulis Buku Quantum Resign | Formula Aman Berhenti Kerja Jadi Pengusaha
http://www.quantumresign.com

Kalangan investor mendesak otoritas di pasar modal Indonesia tidak terlena dengan prestasi kenaikan indeks di bursa domestik tahun lalu. Namun, kinerja bursa saham domestik yang tumbuh signifikan tersebut harus dijadikan momentum untuk lebih meningkatkan transparansi di bursa. Hal ini diyakini bisa membuat pasar modal Indonesia semakin menarik dan diminati oleh investor global, selain ditopang prospek pertumbuhan ekonomi yang positif.

“Pasar yang lebih likuid dan efisien adalah kunci dari pasar modal yang sehat dan kami mengharapkan pasar saham yang tidak hanya tumbuh, namun juga berkembang dan lebih transparan,” ujar Head of Equity First State Investments Indonesia Hazrina R Dewi di Jakarta, Selasa (4/1). Apalagi, menurut pengamat pasar modal Yanuar Rizky, diakui bahwa transparansi di bursa domestik, khususnya soal keterbukaan pemeriksaan dan pengawasan dari otoritas, belum optimal.

Menurutnya, Bapepam-LK belum maksimal menjalankan fungsinya sebagai pengawas, pemeriksa, penyidik, dan penegak hukum di pasar modal seperti yang termaktub dalam Undang-Undang Pasar Modal. “Saya menilai Bapepam- LK lamban dan berbelit-belit menjalankan fungsinya. Dugaan pelanggaran IPO Krakatau Steel, misalnya, masih jauh harapan publik,” tegasnya. Selain itu, tingkat transparan si perusahaan publik juga masih rendah. Hal itu, misalnya, terbukti dari mencuat nya kasus

Sumber : KORAN-JAKARTA.COM
Haircut
What Does It Mean?
What Does Haircut Mean?
1. The difference between prices at which a market maker can buy and sell a security.

2. The percentage by which an asset’s market value is reduced for the purpose of calculating capital requirement, margin and collateral levels.

Investopedia Says
Investopedia explains Haircut
1. The term haircut comes from the fact that market makers can trade at such a thin spread.

2. When they are used as collateral, securities will generally be devalued since a cushion is required by the lending parties in case the market value falls.

Market Maker
What Does It Mean?
What Does Market Maker Mean?
A broker-dealer firm that accepts the risk of holding a certain number of shares of a particular security in order to facilitate trading in that security. Each market maker competes for customer order flow by displaying buy and sell quotations for a guaranteed number of shares. Once an order is received, the market maker immediately sells from its own inventory or seeks an offsetting order. This process takes place in mere seconds.
Investopedia Says
Investopedia explains Market Maker
The Nasdaq is the prime example of an operation of market makers. There are more than 500 member firms that act as Nasdaq market makers, keeping the financial markets running efficiently because they are willing to quote both bid and offer prices for an asset.

Risk-Based Haircut
What Does It Mean?
What Does Risk-Based Haircut Mean?
A reduction in the recognized value of an asset in order to produce an estimate for the level of margin or financial leverage that is acceptable to use when purchasing or continuing to own the asset. An analyst undertaking a risk-based haircut of an asset attempts to determine the chances of the asset’s value falling below its current level, so that a sufficient buffer can be established to protect against a margin call.
Investopedia Says
Investopedia explains Risk-Based Haircut
A risk-based haircut is important to do in order to provide a margin of safety to protect against the possibility of a margin call or similar type of over-leveraged position in a security. By artificially reducing the recognized value of an asset before undertaking a leveraged position in it, the actual market value of the asset must fall by an increased amount than if no haircut was applied in order for a margin call to take place. This decreases the chances of an ill-time margin call or forced sale of the security for a low price taking place in the investors account.

Komite hair cut harus dibentuk oleh PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) paling lambat pada 30 Juni 2011.
“Berdasarkan V.D.5, komite haircut harus dibentuk KPEI paling lambat 30 Juni 2011. Tujuannya terbentuk pada 30 Juni agar ada masa ujicoba MKBD dengan pola baru,” ujar Kepala Biro Transaksi Lembaga Efek Bapepam-LK Nurhaida, Senin (3/1).

Lebih lanjut ia mengatakan, ujicoba tersebut pada akhir Januari. Komite ini pun harus terbentuk sesuai kriteria. Pembentukan paling lambat November untuk daftar haircut.

Selain itu, Nurhaida menuturkan anggota komite bisa darimana saja tetapi akan dibentuk oleh KPEI.

Sebelumnya, Bapepam-LK telah merilis revisi peraturan V.D.5 mengenai penyesuaian laporan modal kerja bersih disesuaikan (MKBD). Direktur Perdagangan dan Pengawasan Anggota Bursa BEI, Wan Wei Yiong menuturkan draf revisi juga mengatur tentang peraturan haircut yang lebih baik dan lebih resiprokal. Peraturan tersebut nantinya akan dibuat suatu komite haircut dengan KPEI yang bertindak sebagai koordinatornya yang mengatur tentang daftar lead hair cut. “Nanti akan dibuat suatu komite haircut. KPEI koordinatornya. Jadi kalau BEI tiap bulan mengeluarkan daftar lead marjin, maka tiap bulan juga akan keluar daftar lead haircut. Setiap saham haircutnya berbeda-beda, termasuk efek-efek yang bersifat utang dan obligasi,” kata Yiong.

Sumber : INILAH.COM

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s