1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

maen saham BUKAN cuma … wajib (3) 14 April 2011

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:50 am

Sebanyak 14 perusahaan tercatat (emiten) masih belum menyampaikan laporan keuangan interm per 31 Maret 2011. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengacam akan mengenakan sanksi kepada emiten yang tetap mangkir dari kewajibannya, mulai dari surat peringatan hingga denda.

Menurut Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Jasa, BEI, Umi Kulsum, dari 435 emiten (termasuk reksadana KIK) yang tercatat di pasar modal, baru 419 perseroan yang telah menyampaikan laporan keuangan.

Dengan demikian masih ada 14 emiten yang belum juga memenuhi kewajiban mereka. Dimana, dua emiten hingga 29 Juli belum menyampaikan laporan yang telah ditelaah secara terbatas, atau tidak diaudit oleh Akuntan publik.

“Dua perusahaan tercatat telah disuspen sejak 1 Agustus 2011,” jelas Umi di Jakarta, Selasa (9/8/2011).

Selanjutnya, satu emiten belum memenuhi kewajiban menyampaikan laporan keuangan. Atas kealfaannya, BEI telah memberi sanksi surat peringatan tertulis II dan denda Rp 50 juta.

“Satu perusahaan tercatat mengacu pada ketentuan Bapepam-LK No.X.K.7. 19 perusahaan tercatat belum wajib menyampaikan laporan. Perusahaan tercatat listing pada bulan Mei, Juni dan Juli 2011,” tambah Umi. Sementara terdapat dua reksa dana KIK yang memang tidak diwajibkan menyampaikan laporan keuangan.

Sumber: detikcom
Jumat, 05 Agustus 2011 | 18:08 oleh Dupla Kartini
DELISTING DYNA
DYNA resmi delisting dari BEI
kontan

JAKARTA. PT Dynaplast Tbk (DYNA) resmi hengkang dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Keterbukaan informasi BEI (5/8) menyebutkan, saham produsen plastik dan kemasan ini sudah dihapus dari papan pencatatan (delisting) efektif sejak 27 Juli 2011.

Kepala Divisi Perdagangan Saham BEI Andre PJ Toelle mengatakan, dengan pencabutan status sebagai perusahaan terbuka, maka perseroan tidak lagi memiliki kewajiban sebagai perusahaan tercatat.

Namun, jika masih ada pemegang saham minoritas yang ingin menjual sahamnya, direksi perseroan telah mendapat komitmen dari PT Hambali Dina Mitra sebagai pemegang saham mayoritas, untuk membeli saham tersebut. Harga pembelian saham sesuai harga penawaran tender yaitu Rp 4.500 per saham.

Harga saham DYNA terakhir kali diperdagangkan di level Rp 3.500 per saham.

Delisting Dynaplast disetujui
Oleh Achmad Aris

bisnis indonesia

Published On: 06 August 2011

JAKARTA: Otoritas bursa Indonesia menyetujui penghapusan pencatatan efek (delisting) PT Dynaplast Tbk dari Bursa Efek Indonesia yang terhitung efektif sejak 27 Juli.

Kepala Divisi Pencatatan Sektor Riil BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan dengan dicabutnya status perseroan sebagai perusahaan tercatat maka perseroan tidak lagi memiliki kewajiban sebagai perusahaan tercatat dan BEI akan menghapus nama perseroan dari daftar perusahaan tercatat yang mencatatkan sahamnya di BEI.

“Dalam hal perseroan akan kembali mencatatkan sahamnya di BEI, proses pencatatan saham dapat dilakukan dengan mengacu pada ketentuan yang berlaku,” katanya dalam keterangan resmi, kemarin.

Dia menjelaskan persetujuan penghapusan pencatatan efek tersebut tidak menghapuskan kewajiban yang belum dipenuhi oleh perseroan selama masih menjadi perusahaan tercatat. “Jika ada kewajiban yang belum dipenuhi,” tambahnya.

Sebelumnya pada 12 Juli, menajemen Dynaplast telah mengajukan permohonan delisting sekaligus menyampaikan hasil tender offer yang telah dilaksanakan oleh pemegang saham pengendali perseroan yaitu PT Hambali Dina Mitra. (Bsi)
Undervalued
Senin, 25 Juli 2011 09:06 wib
okezone

ISTILAH murah (undervalued ) menunjuk pada sebuah angka, harga atau nilai. Ia juga menunjukkan sebuah perbandingan antara satu dengan yang lain. Jika sebuah barang dinilai undervalued, berarti ia sedang diperbandingkan dengan sebuah standar atau ukuran tertentu.

Tanpa adanya standar atau ukuran yang bisa dijadikan tolok ukur, maka tidak mungkin bisa mengatakan sebuah barang itu undervalued, normal (wajar) atau overvalued. Sebuah aset disebut undervalued, hanya jika nilainya atau harganya di bawah harga wajar atau harga normal.

Begitupun jika kita melakukan investasi di saham atau instrumen pasar modal lainnya. Siapapun orangnya, jika hendak membeli barang (termasuk saham) pasti akan mencari yang harganya murah, tapi punya kualitas. Sekali lagi, istilah murah disini pasti diasosiasikan dengan sebuah tolok ukur atau standar tertentu. Contoh riilnya begini.
Misalnya X membeli mangga manalagi di pasar seharga Rp 5.000 per kg. Padahal harga normal atau rata-rata di pasar untuk mangga manalagi untuk jenis, ukuran dan kualitas yang sama adalah Rp 6.000 per kg. Itu artinya X telah membeli mangga manalagi dengan harga murah.

Begitupun jika investor hendak membeli (baca : investasi) saham di Bursa Efek. Secara instingtif investor akan membeli saham yang harganya murah. Jika di bursa terdapat 10 saham sektor pertambangan maka investor akan mencari saham pertambangan yang harganya murah. Ini sudah merupakan naluri investor, karena saham yang harganya murah mempunyai potensi besar menghasilkan keuntungan (capital gain)

Fabozzi (1999) seorang pakar investasi, dalam bukunya tentang investasi menyebut saham yang diperdagangkan pada harga murah (undervalued), maka harga saham itu cenderung akan bergerak mendekati nilai intrinsiknya. Yang dimaksud nilai intrinsik disini adalah nilai wajar saham tersebut. Fabozzi juga menyebut, jika saham diperdagangkan pada harga mahal (overvalued), maka saham tersebut akan cenderung turun mendekati harga wajarnya. Dengan karakter seperti itu, insting investor di pasar saham selalu mencari saham yang undervalued karena memiliki kemungkinan naik jauh lebih besar dibandingkan saham lain.

Pertanyaannya apa tolok ukur sebuah saham disebut undervalued atau tidak? Apa parameternya yang bisa dipertanggung jawabkan. Tolok ukur itu bisa macam-macam, misalnya book value dari saham yang diperdagangkan. Bisa juga menggunakan ukuran price earning ratio (PER), dividen pay out ratio (DPR), pertumbuhan revenue, laba bersih per saham (earning per share) atau indikator-indikator lainnya.

Kembali ke contoh di atas, soal 10 saham sektor pertambangan. Misalnya setelah dihitung dari seluruh data 10 emiten diketahui ternyata rata-rata harga saham sektor pertambangan diperdagangkan pada harga 3 (tiga) book value. Jadi misalnya ada saham ABCD yang bergerak di bidang pertambangan ditransaksikan pada harga atau kurs Rp 4.200. Harga itu mencerminkan 2,5 kali book value. Itu artinya, saham ABCD ditransaksikan pada harga yang murah (undervalued), karena masih di bawah rata-rata. Seperti disampaikan Fabozzi, saham yang undervalued cenderung akan bergerak menuju harga wajar.

Meski begitu perlu dipahami bahwa memilih atau membeli saham di Bursa Efek tidak semata-mata didasarkan pada harga murah, tetapi ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi investor mengambil keputusan. Pada contoh di atas, misalnya ternyata dibandingkan dengan saham sejenis lainnya, saham ABCD kurang likuid sehingga tidak banyak investor yang menanamkan uangnya di saham ABCD. Dalam hal ini, meskipun harga saham ABCD undervalued, tapi karena tidak likuid maka tidak banyak investor yang investasi di saham tersebut. Jadi murah saja ternyata tidak cukup. (Tim BEI)
(//and)

Lock Up
Senin, 18 Juli 2011 09:22 wib

ISTILAH ini sudah cukup dikenal di pasar modal. Lock up berarti terkunci. Dalam konteks pasar modal, istilah lock up diartikan bahwa ada sejumlah saham yang tidak dapat diperjualbelikan hingga periode tertentu. Beberapa perusahaan BUMN pernah memberlakukan lock up sebagian saham yang dijual saat IPO seperti yang dilakukan oleh PT Telkom Tbk (TLKM). Mengapa begitu?

Sebagaimana diketahui peran pasar modal bisa dilihat dari dua sisi kepentingan. Dari kacamata masyarakat atau investor, pasar modal adalah alternatif investasi untuk mengembangbiakkan kekayaan atau aset. Tapi dari sisi perusahaan – yang membutuhkan dana untuk ekspansi atau keperluan lain – kehadiran pasar modal adalah sumber baru untuk memenuhi kebutuhan dana atau modal ekspansi. Pasar modal adalah lahan untuk mencari dana segar yang murah dan fleksibel. Dengan adanya pasar modal, peluang terhadap akses dana menjadi kian terbuka.

Dalam perkembangannya, tidak sedikit yang menjadikan pasar modal sebagai ajang untuk memberikan apresiasi bagi karyawan lewat program ESOP (employee stock option program), bahkan untuk menyalurkan warisan oleh pihak pendiri kepada sang buah hati. Nah, dalam konteks ini, istilah lock up sering digunakan. Di samping itu, melakukan lock up atas sebagian saham saat IPO dianggap mampu mengurangi tekanan jual saham di hari-hari pertama saat listing perdana. Dengan lock up, investor dan karyawan yang membeli saham di pasar perdana tidak bisa menjual saham yang dimilikinya.

Misalnya sebuah perusahaan akan go public dengan melakukan penawaran umum ke publik sebesar 20 persen dari modal disetor. Di samping itu, perusahaan juga merencanakan akan mengalokasikan sekitar lima persen untuk jatah ESOP dan 5 persen lagi akan diberikan kepada ahli waris pendiri. Komposisi alokasi saat penawaran umum (initial public offering/IPO) ditetapkan bahwa yang 10 persen—yang merupakan bagian ESOP dan warisan sebesar 5 persen — tidak dapat diperjualbelikan selama 12 bulan terhitung sejak IPO. Begitu juga dengan 70 persen saham pendiri juga tidak akan diperdagangkan dalam kurun waktu tersebut. Praktis dalam masa satu tahun IPO, jumlah saham yang ditransaksikan hanya 20 persen saham yang ditawarkan tadi.

Dari kaca mata investor, ada tidaknya ketentuan saham yang di-lock up ini merupakan informasi penting. Sebab, penetapan masa lock up ini cukup menentukan dalam perkembangan harga saham dan likuiditas saham di lantai bursa. Bisa saja selama masa lock up harga saham naik karena besarnya permintaan di satu sisi dan terbatasnya suplai di sisi lain.

Karena itu, sebagai pemegang saham publik kapan periode lock up tersebut dibuka juga perlu diingat dan diperhatikan sebagai tambahan informasi. Misalnya, 12 bulan kemudian setelah IPO, investor perlu memperhatikan apakah saham tersebut dijual atau tidak oleh karyawannya. Perlu dilihat juga bagaimana mekanisme penjualan atas saham-saham yang di lock up tadi.

Dengan mengetahui waktu kapan saham lock up dibuka, maka investor bisa menghitung atau mengantisipasi efeknya di bursa. Pada contoh di atas, jika lock up diberlakukan untuk saham pendiri, karyawan dan ahli waris yang totalnya mencapai 80 persen, maka itu berarti di atas kertas ada tambahan atau suplai barang di pasar. Jika sebelumnya, selama 12 bulan setelah IPO, jumlah saham yang bisa diperdagangkan hanya 20 persen saja, maka kini ada tambahan sehingga saham yang bisa diperdagangkan menjadi 100 persen.

Di lantai bursa sendiri tiap penjualan saham hasil lock up ini akan diinformasikan kepada publik,. Tujuannya adalah agar investor, pemilik saham mengetahui dan bisa mengambil keputusan investasi. Karena itu setelah membeli saham di pasar perdana, disarankan jangan jauh-jauh dari bursa saham, tetap keep in touch sehingga sebagai investor Anda tidak pernah ketinggalan informasi. Terlebih lagi informasi tersebut terkait dengan investasi, monitor terus aktivitas pasar modal. (Tim BEI)
(//wdi)
PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) mencatatkan saham perdananya di lantai bursa hari ini. Bukannya menguat, saham perdananya justru rontok di hari pertama.

Anak usaha Grup Salim itu tidak sendirian, sebelumnya sudah ada beberapa initial public offering (IPO) atau penawaran umum saham perdana yang juga jatuh di hari pertama. Metland merupakan emiten kelima yang menderita hal ini.

Kinerja saham-saham yang listing perdana di BEI, memang tidak lepas dari strategi emiten dalam menjalankan struktur penawaran. Meski faktor sentimen pasar juga mempengaruhi pergerakan saham baru tersebut.

“Kita harus melihat struktur dari IPO-nya. Strategi harga, dan distribusi kepada investor ke publik. Jika strategi baik, harusnya tidak seperti ini,” jelas Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Eddy Sugito, usai pencatatan saham perdana MTLA di gedung BEI, Sudirman CBD, Jakarta, Senin (20/6/2011).

Saham MTLA, anak usaha grup Salim menjadi salah satu contoh nyata. Memulai perdagangan dengan kenaikan Rp 10, dari harga penawaran Rp 240 per lembar, pergerakan MTLA langsung menurun.

Perdagangan di pasar bursa berjalan lima menit, saham Metland jeblok dan berada pada level Rp 190 per lembar saham dan sempat menyentuh harga terendah Rp 185 per lembar.

Hingga pukul 10.15 harga saham MTLA berada di level Rp 205 per lembar, dengan total frekuensi 794 kali. Volume saham yang diperdagangkan mencapai 124.054, dengan total nilai Rp 12,53 miliar.

Eddy menambahkan, faktor sentimen IHSG juga menjadi pemicu awal pergerakan saham-saham perdana yang baru tercatat (listed). “Awalnya pasti sentimen, kan pasar terus bergerak. Bursa memerah dalam beberapa hari terakhir,” terangnya.

Dalam kondisi saham MTLA yang turun, bagi Eddy justru menjadi celah bagi investor melakukan aksi buy. Terlebih dalam analisa investor, saham-saham tersebut memiliki fundamental yang baik.

“Kalau mereka yang paham betul fundamental perusahaan, tidak perlu panik. Investor yang memiliki komitmen jangka panjang, saatnya masuk,” paparnya.

MTLA tidak sendiri, pada listing perdana PT Jaya Agra Wattie (JAWA) juga mengalami hal yang sama. Di awal perdagangan saham JAWA naik Rp 40 ke level Rp 540 per lembar.

Namun secara berangsur-angsur saham JAWA turun Rp 15 menjadi Rp 485 per lembar. Hingga perdagangan hari ini, saham JAWA berada pada level Rp 460 per lembar. Ini berarti saham JAWA masih berada di bawah harga perdana mereka, Rp 500 per lembar.

Tiga saham sebelumnya yang juga mencatat kinerja buruk adalah, yakni PT Megapolitan Development Tbk (EMDE), PT Martina Berto Tbk (MBTO) dan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).

Saham EMDE pada perdagangan perdananya, Rabu (12/01/2011), langsung turun dan berada pada posisi Rp 215 per lembar, meskipun sempat naik di level Rp 270 per lembar. Hingga perdagangan hari ini, saham EMDE berada di posisi Rp 164 per lembar.

Saham MBTO juga mengalami hal yang sama. Di awal perdagangan saham grup Martha Tilaar ini meningkat Rp 60 dari penetapan harga sebelumnya, Rp 740 per lembar.

Namun selanjutnya saham perseroan pun Rp 710 per lembar saham, dan sempat menyentuh harga terendah di Rp 670 per lembar. Sampai perdagangan hari ini, saham MBTO ditutup pada level Rp 500 per lembar.

Satu lagi, saham BUMN penerbangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Pada awal pembukaan perdagangan saham Jumat (11/2/2011), saham GIAA menurun signifikan Rp 50 dari penetapan harga sebelumnya, Rp 750 per lembar.

Sampai pada penutupan bursa, saham Garuda di Rp 620 per lembar, terkoreksi Rp 130 (17,33%) dari harga pembukaan Rp 750 per lembar saham. Hingga perdagangan hari ini , saham GIAA berada di level Rp 520 per lembar.

Sumber: detikcom
Untuk mendo rong transaksi yang masih tergolong minim di pasar saham, Bursa Efek Indonesia (BEI) bekerja sama dengan Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) membuat kajian pada sa ham emiten yang tergolong kurang aktif agar bergerak lebih agresif. “Kita bekerja sama dengan Pefi ndo untuk membuat kajian terhadap saham-saham yang kurang aktif itu, dengan aktifnya saham tidur maka akan meningkatkan transaksi,” kata Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Frederica Widyasari Dewi, di Jakarta, Rabu (18/5). Dengan aktifnya saham tidur itu transaksi perdagangan saham dan pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) akan bisa ditingkatkan.

“Membangunkan saham tidur bisa meningkatkan indeks karena investor akan tertarik masuk berinvestasi dan memperdagangkan saham tersebut. Lagipula tidak semua emiten yang sahamnya masuk dalam kategori saham tidur memiliki fundamental kurang baik,” kata dia. Sementara, menurut hasil riset BEI saham sektor manufaktur dan transportasi merupakan sektor yang sahamnya tergolong kurang aktif. Sosialisasi-Edukasi Selain dengan membangunkan saham tidur, BEI juga terus melakukan sosialisasi dan edukasi pasar modal. Bahkan, otoritas bursa mengklaim langkah itu efektif dan mengundang minat banyak investor.

Indikasinya, pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus berada di jajaran teratas bursa utama dunia, dan tak sedikit manajer investasi yang ingin membuat produk dengan aset dasar (underlying asset) indeks di Indonesia. Menurut Friderica, ukuran keberhasilan sosialisasi edukasi memang tak selalu bisa dilihat dari sisi jumlah pertumbuhan investor. “Jumlah investor yang kini tercatat di subrekening Kustodian Sentral Efek Indonesia belum termasuk catatan investor yang ada di reksa dana dan obligasi,” tutur Friderica.

Jika digabung, total investor yang ada di pasar modal Indonesia diperkirakan mencapai angka 1,12 juta orang, yang terdiri dari 770 ribu investor di reksa dana dan obligasi serta 350 ribu investor yang langsung jadi pemain saham. Ke depan, pihaknya mengaku akan lebih agresif dan mengeluarkan terobosan baru dalam mengembangkan industri pasar saham di Tanah Air. “Ada beberapa program yang telah kita siapkan. Namun, kami belum bisa menginformasikannya. Meskipun, dana pengembangan yang kami miliki juga tidak terlalu besar,” tambah Friderica.

Seperti diketahui, hingga Rabu (18/5) nilai kapitalisasi pasar BEI mencapai 3.232,73 triliun rupiah, dengan tingkat pengembalian investasi (return) rata-rata sebesar 35,99 persen. Sementara sejak perdagangan awal tahun, Indeks Harga Saham Gabungan telah bertumbuh lebih dari 3 persen dan merupakan indeks dengan perkembangan terbaik di regional setelah Thailand.

http://koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=82944

Sumber : KORAN-JAKARTA.COM
Cum dan Ex Date
Senin, 16 Mei 2011 08:57 wib

Aksi korporasi (corporate action) merupakan informasi mahal bagi investor. Maklum, aksi korporasi seringkali berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham di bursa. Pada umumnya aksi korporasi memberikan dampak positif terhadap harga saham di bursa.

Artinya, harga saham akan meningkat jika ada kabar aksi korporasi yang akan dilakukan emiten. Karena itu, hanya sekedar untuk mendapatkan informasi tentang ada aksi korporasi, tidak jarang investor harus mengeluarkan biaya ekstra.

Beberapa jenis aksi korporasi yang digemari pelaku pasar misalnya, rencana menjalin aliansi strategis, masuknya investor baru, ekspansi, pergantian manajemen (direksi dan atau komisaris), penambahan modal, utang, penambahan jumlah saham baik melalui penawaran umum terbatas (right issue) maupun pemecahan saham (stock split), pembagian dividen baik tunai maupun saham, dan sebagainya.

Pada umumnya berbagai jenis aksi korporasi itu disambut antusias investor sehingga hal itulah yang menjadi pemicu kenaikan harga saham di bursa. Meski begitu, sebelum mengambil keputusan investasi yang berkaitan dengan adanya aksi korporasi itu sebaiknya investor memperhatikan jadwal dari pelaksanaan aksi korporasi itu sendiri.

Perhatikan jadwalnya dengan benar, terutama menyangkut soal cum date dan ex date. Cum date dan ex date adalah istilah yang menunjukkan keterangan waktu yang ditujukan untuk emiten yang melakukan aksi korporasi.

Bagi investor yang aktif berdagang saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), dua istilah itu tidak bisa dianggap sepele karena bisa mempengaruhi harga saham di pasar. Cum date dan ex date hanya selisih satu hari bursa. Misalnya, cum date jatuh pada Selasa, 2 Mei 2011, maka ex date akan jatuh pada Rabu, 3 Mei 2011. Jika cum date jatuh hari Jum’at maka ex date-nya Senin. Begitu seterusnya.

Cum date adalah batas waktu transaksi beli untuk bisa memiliki hak (right) dari aksi korporasi yang dilakukan emiten. Sedangkan ex date adalah batas waktu transaksi beli yang tidak lagi melekat hak atas aksi korporasi emiten. Masih berkaitan erat dengan dua istilah tadi adalah recording date yakni tanggal terakhir pencatatan sebagai pemilik saham. Semua jadwal itu penting diperhatikan oleh investor.

Ilustrasinya begini, dalam Rapat Umum Tahunan Pemegang Saham (RUPS) diputuskan bahwa PT ABCD akan membagi dividen tunai sebesar Rp300 per saham. Jadwal cum date ditetapkan 10 Juni 2011 yang bertepatan hari Jum’at. Ex date jatuh pada Senin, 13 Juni 2011. Recording date ditetapkan 17 Juni 2011.

Dengan informasi jadwal aksi korporasi tersebut berarti siapapun investor yang membeli saham PT ABCD pada saat cum date yakni tanggal 10 Juni 2011 maka ia berhak atas dividen yang akan dibagi PT ABCD. Sedangkan investor yang membeli saham PT ABCD pada saat ex date yakni 13 Juni 2011 maka ia tidak berhak atas dividen yang akan dibagikan.

Lantas, apa kaitannya dengan recording date 17 Juni 2011. Di sini jika investor yang sudah membeli saham PT ABCD saat cum date tadi tidak mendaftarkan diri (registrasi) sebagai pemegang saham PT ABCD sampai 17 Juni 2011 maka investor tersebut tidak akan mendapatkan dividen. Dividen akan diberikan kepada pemegang saham sebelumnya karena dialah yang masih tercatat sebagai pemegang saham hingga 17 Juni 2011.

Ilustrasi singkat di atas menggambarkan betapa jadwal cum date dan ex date dan juga recording date sangat penting bagi investor. Soal recording date, kini sudah tidak menjadi masalah karena proses balik nama sudah dilakukan secara otomatis saat settlement.

Ilustrasi di atas tidak hanya berlaku terhadap aksi korporasi pembagian dividen, tetapi juga berlaku pada aksi korporasi lain seperti right issue, stock split, dividen saham, saham bonus dan sebagainya. Pertanyaannya, bagaimana membuktikan bahwa jadwal cum date dan ex date berpengaruh pada perubahan harga saham di bursa?

Bukti verbal mungkin agak sulit diajukan. Tapi, data di pasar menunjukkan bahwa saat ex date dari aksi korporasi, harga saham selalu menunjukkan koreksi secara proporsional. Jika nilai dividen Rp300 per saham, maka di atas kertas saat ex date, harga saham PT ABCD mestinya ikut terkoreksi sebesar Rp300. Inilah yang disebut dengan dividen effect. (Tim BEI)
(//ade)

Bunga Efektif vs Bunga Flat
Minggu, 8 Mei 2011 12:39 wib

SEBAGAI pemegang kartu kredit yang setia dari sebuah bank besar, saya kerap menerima telepon, email, dan faks tawaran pinjaman. Bank itu menawarkan dana tunai hingga 90 persen saldo maksimal kartu kredit atau sebesar Rp2 juta hingga 100 juta dengan tingkat bunga satu persen per bulan dan biaya administrasi satu persen dari pinjaman awal untuk periode 12 bulan.

Peminat dijanjikan akan menerima dana tunai itu dalam 2–3 hari kerja. Untuk menarik peminat, brosur itu juga memuat tabel simulasi cicilan 12 bulan untuk jumlah pinjaman yang berbeda. Jika jumlah dana pinjaman adalah Rp60 juta maka cicilan per bulan adalah Rp5,6 juta selama 12 bulan. Menggunakan kalkulator, kita dapat mengetahui dari mana kedua angka itu diperoleh, yaitu: Rp60 juta/12 + 1% (Rp60 juta) = Rp5,6 juta.

Sepintas tidak ada yang salah dengan hitungan di atas dan peminjam sepertinya memang hanya membayar bunga sebesar satu persen per bulan dengan cicilan bulanan sebesar Rp5,6 juta selama 12 bulan. Dalam literatur matematika keuangan, penghitungan bunga seperti di atas sah-sah saja dan disebut tingkat bunga flat, tetapi tidak boleh disebut tingkat bunga tanpa kata “flat” karena tingkat bunga dan tingkat bunga flat mempunyai pengertian yang berbeda.

Masalahnya tawaran bank itu hanya menyebutkan pinjaman dana tunai dengan bunga ringan 1% per bulan. Apakah benar tingkat bunganya serendah itu?

Tingkat Bunga Flat

Kalau satu persen per bulan adalah tingkat bunga flat,berapa dong tingkat bunga sebenarnya? Apa bedanya dan bagaimana menghitung tingkat bunga efektif? Tingkat bunga mana yang relevan untuk dipertimbangkan peminjam? Tingkat bunga flat adalah tingkat bunga yang dihitung berdasarkan saldo pinjaman awal. Istilah tingkat bunga flat muncul untuk pelunasan pinjaman dengan angsuran.

Untuk pinjaman yang dilunasi di akhir periode pada satu tanggal tertentu, tidak dengan angsuran, tidak ada istilah tingkat bunga flat dan hanya ada satu istilah tingkat bunga. Tetapi untuk setiap pinjaman dengan pelunasan cicilan, kita mempunyai dua istilah tingkat bunga yaitu flat dan efektif.

Walaupun besar pinjaman pokok mengalami penurunan seiring dengan dilakukannya pelunasan secara periodik, besarnya bunga yang dibayarkan adalah sama yaitu Rp600.000 atau 1% x Rp60 juta.Tingkat bunga flat dalam penawaran bank di atas adalah satu persen tetapi tingkat bunga efektif atau tingkat bunga sebenarnya adalah jauh lebih tinggi.

Empat Cara Menghitung

Kembali ke contoh kita, berapa sebenarnya tingkat bunga efektif dan bagaimana menghitungnya? Setidaknya ada empat cara yang bisa digunakan mulai dari yang sulit hingga yang mudah. Cara yang paling sulit dan lama, relatif terhadap cara lainnya, adalah dengan menggunakan kalkulator ilmiah (scientific) yang mempunyai tombol xn. Pencarian bunga efektif dengan cara ini, repotnya, harus trial and error dan memerlukan waktu belasan menit.

Cara kedua adalah dengan menggunakan kalkulator finansial yang mempunyai tombol PV , i atau 1/Y,N,dan PMT. Dengan memasukkan PV = 60.000.000, N = 12, dan PMT (payment atau besar angsuran) = -5.600.000,kita akan memperoleh i = 1,79% dalam hitungan detik. Cara ketiga tidak kalah mudahnya dengan cara kedua yaitu dengan menggunakan komputer tepatnya excel.

Kita cukup menginput ’=rate(nper, pmt,pv)’ ke dalam salah satu sel,yang artinya hitunglah tingkat bunga efektif (i) jika diberikan jumlah periode (nper), besar angsuran (pmt),dan jumlah pinjaman (pv). Dalam contoh di atas, kita cukup mengetikkan =rate(12,-5.600.000,60. 000.000)’ dan Enter, dalam sepersekian detik kita akan mendapatkan 1,79%. Ketiga cara ini mesti memberikan hasil yang sama jika kita tidak salah memasukkan data dan dalam trial and error.

Ternyata tingkat bunga efektif untuk kasus kita adalah 1,79 persen dan bukan satu persen seperti yang dicantumkan dalam brosur. Mengapa bisa demikian? Logikanya, bunga sebesar Rp600.000 harus dibayarkan setiap bulan padahal saldo pinjaman sebesar Rp60.000.000 hanya pada awal periode yaitu sebelum pembayaran angsuran dilakukan. Setelah angsuran pertama, saldo pinjaman menurun menjadi Rp55.000.000; kemudian menjadi Rp50.000.000 setelah angsuran kedua dan demikian seterusnya.

Tetapi bunga yang dibayarkan adalah sama yaitu sebesar Rp600.000. Inilah yang menyebabkan tingkat bunga efektif hampir dua kali lipat tingkat bunga flat. Mengapa bisa sampai hampir dua kali lipatnya adalah karena sebenarnya saldo pinjaman rata-rata selama 12 bulan adalah Rp32.500.000 ((Rp60.000.000 + Rp55.000.000 + … + Rp5.000. 000)/12) sedangkan bunga yang dibayar adalah Rp600.000/bulan sehingga tingkat bunga efektif secara kasar adalah ± Browser Anda mungkin tidak bisa menampilkan gambar ini.= 1,85%.

Inilah cara keempat yang dapat diselesaikan dengan kalkulator dagang. Sayangnya, hasilnya kurang akurat. Berdasarkan pemahaman ini, di kalangan praktisi keuangan berkembang semacam aturan praktis atau rule of thumb kalau tingkat bunga efektif adalah sekitar dua kali tingkat bunga flat. Ringkasnya ada empat cara mendapatkan tingkat bunga efektif yaitu dengan menggunakan kalkulator ilmiah,kalkulator finansial, komputer, dan kalkulator dagang.

Tingkat bunga mana yang relevan dan harus dipertimbangkan oleh peminjam? Sudah tentu tingkat bunga efektif karena tingkat bunga inilah yang sebenarnya dibayar peminjam berdasarkan penjelasan di atas.Tingkat bunga efektif menjadi lebih besar lagi untuk belanja barang secara kredit dengan cicilan pertama dilakukan saat pembayaran uang muka atau jika untuk pembelian tunai barang itu diberikan diskon tunai seperti yang banyak kita temui.

Sekarang setelah Anda mengetahui tingkat bunga pinjaman dari bank di atas adalah sebenarnya 1,79 persen dan bukan satu persen, apakah Anda masih berminat mengambil dana tunai dari bank itu? Terserah Anda. Yang penting Anda kini tidak dapat dibohongi bank lagi soal tingkat bunga sebenarnya pinjaman.

BUDI FRENSIDY
Penasihat Investasi dan
Penulis Buku Matematika Keuangan
214 Saham Diperdagangkan Di Indeks Syariah
Oleh Chandra Setya S. bisnis indonesia
Published On: 03 May 2011

JAKARTA: PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana memperdagangkan 214 saham dalam indeks syariah mulai 12 Mei.

Direktur Pengembangan BEI Friderica Widyasari Dewi mengatakan sebanyak 214 saham tersebut mewakili 43,6% dari nilai kapitalisasi pasar dan 50,3% dari jumlah saham tercatat di bursa.

“Sebanyak 214 saham tersebut akan masuk dalam Indeks Saham Syariah Indonesia,” ujarnya, hari ini.

Dia memaparkan saham yang diperdagangkan dalam indeks syariah itu tidak dikhususkan untuk investor muslim saja.

“Ke depan, masalah sanksi dan peraturan tetap sama. Setidaknya, ada sekitar 14 transaksi terlarang sesuai dengan fatwa No. 80/2011, a.l. soal transaksi short selling dan transaksi marjin,” ujarnya.

Fatwa DSN No 80/DSN-MUI/III/2011 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar.

Indeks ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah investor, khususnya di daerah yang masih memiliki pemahaman halal atau haram berinvestasi pada saham.

Menurut dia, indeks syariah sudah lama ditunggu oleh investor dan calon investor. Selain itu, pelaku pasar, seperti perusahaan efek dan manajer investasi, juga menyambut baik indeks tersebut.

Indeks Syariah merupakan penambahan indeks sejenis yang sudah ada, Jakarta Islamic Indeks. Indeks Saham Syariah Indonesia berisi saham-saham yang sudah meraih sertifikasi Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia. Indeks ini akan dikaji tiap 6 bulan, sesuai dengan laporan Daftar Efek Syariah.

BEI juga telah mengantongi fatwa Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler pada 8 Maret lalu.

BEI bekerja sama dengan Masyarakat Ekonomi Syariah dalam melakukan sosialisasi dan edukasi di sejumlah daerah. Tidak hanya memperkenalkan saham sebagai alternatif investasi, kepada masyarakat, tetapi juga kepada kyai-kyai di daerah. (spr)
RI Rayu JPMorgan Soal Investment Grade
K. Yudha Wirakusuma – Okezone
Selasa, 3 Mei 2011 19:18 wib

JAKARTA – Pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerima Chairman dengan CEO JP Morgan Chase & Co Jamie Dimon, membuahkan beberapa komitmen.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan, ada berbagai isu yang dibicarakan, namun utamanya menyinggung Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), sebagai misi utama yang dibawakan oleh Presiden. Bahwa, pemerintah akan memfinalisasi program tersebut. Tentunya, jelas Gita, pemerintah minta agar bisa bank-bank besar seperti JP Morgan memberikan atensi terlibat dalam program tersebut.

“Kalau bisa bantuan. Karena ini kan kebutuhan dananya enggak kecil. BUMN saja sudah diminta untuk melakukan pembiayaan sebesar USD100 miliar dari Rp835 triliun. Belum lagi yang non BUMN dan yang dari luar negeri. (Program) Ini kan semua perlu pinjaman itu saya rasa peran dari JP Morgan,” ujarnya di Istana, Jakarta, Selasa (3/4/2011).

Dalam pertemuan itu, lanjut Gita, tidak disebutkan nilai komitmen yang akan diberikan JPMorgan. Namun, mereka menyampaikan akan membantu Pemerintah Indonesia melalui menteri keuangan, dalam hal obligasi global.

“Itu sudah mencerminkan bahwa Indonesia sudah bisa menjadi investment grade. Kami berharap personality seperti Jamie Dimon itu bisa menyuarakan ke kawan-kawan di lembaga internasional bahwa Indonesia ini sudah berhak menjadi negara yang statusnya investment grade. Kan kita sudah DD+ (double D plus) mudah-mudahan kita menjadi C- (C minus),” jabarnya.
(rhs)
Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) ingin transaksi marjin dan short selling tidak diberlakukan di pasar modal Indonesia. Meski pengaturan dan pengawasan kedua transaksi ini sudah dilakukan secara tepat, namun tetap berpotensi melanggar prinsip syariah.

Demikian disampaikan Anggota DSN MUI, Gunawan Yasni di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD Jakarta, Selasa (3/5/2011).

Transaksi marjin adalah transaksi pembelian efek untuk kepentingan nasabah yang dibiayai oleh Perusahaan Efek atau broker. Sedangkan transaksi Short Selling adalah transaksi penjualan efek, dimana efek dimaksud tidak dimiliki oleh penjual pada saat transaksi dilaksanakan.

“Secara prinsip saja sudah tidak sesuai. Kalau berinvestasi kan mereka yang memiliki modal, masak itu saja pinjam,” katanya.

Hal ini akan terus diperjuangkan DSN MUI dalam komite yang dibentuk bersama dengan Manajemen BEI. Dengan peniadaan dua transaksi ini, pasar modal berjalan lebih fair dan transaparan.

“Margin trading jangan masuk Indeks Syariah, juga short selling. Namun ke depan kami terus komunikasi dengan Bapepam untuk dihilangkan,” tutur Gunawan.

Sementara itu, terkait penetapan fatwa No. 80 tentang mekanisme perdagangan efek bersifat ekuitas, DSN MUI mengaku masih belum 100% menerapkan prnisip syariah. Setidaknya terdapat transaksi larangan yang masih diperbolehkan regulator diantaranya:

Perjudian dan permainan yang tergolong judi.

Perdagangan yang dilarang menurut syariah, antara lain perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa dan perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu.

Jasa keuangan ribawi, antara lain bank berbasis bunga dan perusahaan pembiayaan berbasis bunga.

Jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan/atau judi (maisir), antara lain asuransi konvensional.

Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau menyediakan antara lain, barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi), barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram li-ghairihi) yang ditetapkan oleh DSN-MUI

Melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah)

“Mekanisme pembatasan sudah sedemikian rupa, hingga perjudian atau spekulasi sudah jauh berkurang. Fatwa 80 ini merupakan endorsment untuk BEI. Mekanisme ini sebagian besar sudah menerapkan prinsip syariah. Transaksi yang masih dilarang, diantaranya jangan ada penimbunan atau penawaran palsu,” ucap Gunawan.

Meski telah berlaku, Fatwa 80 ini masih dapat direvisi sesuai dengan perkembangan industri pasar saham dan diselaraskan dengan prinsip syariah. “Ini bisa dirubah dan ditinjau kembali. Halal dan haram kan ada dua hal, yakni zat atau substansinya dan itu sudah diatur pada Fatwa 20 dan 40, juga non isi, yakni mekanismenya,” tegasnya.

Sumber: detikcom
Bapepam Terbitkan 4 Aturan Akutansi Emiten

Oleh: Tio Sukanto
Pasar Modal – Minggu, 1 Mei 2011 | 08:02 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) segera menerbitkan 4 peraturan akuntansi bagi emiten menyesuaian dengan ketentuan internasional.

Keempat peraturan akutansi itu adalah pertama peraturan No.X.K.2 tentang kewajiban penyampaian laporan keuangan berkala. Kedua, peraturan No. VIII.G.7 tentang pedoman penyajian laporan keuangan. Ketiga, adalah surat edaran No. 2 tentang peraturan penyajian dan pengungkapan laporan keuangan emiten atau perusahaan publik dan ke empat pedoman akuntansi perusahaan efek (PAPE).

“Saat ini sedang kita kerjakan, mudah-mudahan saja pertengahan tahun ini bisa selesai semua,” ungkap Kepala Biro Standar Akutansi Bapepam LK, Etty Retno Wulandari di kantornya, Jakarta Jum’at kemarin.

Dia menjelaskan dengan adanya peraturan baru tersebut maka Bapepam LK bisa mendapatkan laporan keuangan dari emiten yang selama ini sesuai dengan aturan bursa efek.

“Kita tidak ngatur MKBD (modal kerja bersih disesuaikan), itu sudah aturannya sendiri. Kita memberi pedoman bagi perusahan efek dalam mendukung laporan keuangan dan laporan MKBD kalau selama ini jadi peraturan bursa efek dan sekarang kita tingkatkan menjadi laporan Bapepam LK,” tukas dia. [hid]
19 Sekuritas Garap Online Trading
Oleh Arif Gunawan S.
Published On: 19 April 2011
JAKARTA: Sebanyak 19 perusahaan efek berencana membangun fasilitas online trading dan mengajukan persetujuan kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memperkuat basis nasabah.
Direktur Teknologi Informasi BEI Adikin Basirun mengatakan pihaknya telah mendapat permohonan pengajuan fasilitas tersebut, setelah meloloskan izin untuk 54 perusahaan yang telah mengaplikasikan sistem tersebut

“Dalam pipeline kami ada 19 anggota bursa [AB] yang mengajukan izin online trading,” tuturnya kepada pers, siang ini.

Izin online trading, lanjutnya, harus dikantongi sebelum perusahaan sekuritas melakukan testing area development. Kesiapan sistem pengembangan ini membutuhkan waktu cukup lama untuk pengajuan online trading.

Salah satu perusahaan efek yang akan meluncurkan fasilitas tersebut adalah PT Andalan Artha Advisindo Sekuritas yang menargetkan peluncuran fasilitas terebut pada akhir tahun ini. Selain itu, PT Mandiri Sekuritas juga berencana membangun layanan tersebut.

Menanggapi penggunaan algo trading (algoritma) yang meningkat, Adikin menilai investor mulai banyak meminta fasilitas tersebut karena mempermudah mereka melakukan pemesanan transaksi dalam jumlah besar secara lebih cepat.(mmh)

Peningkatan Kualitas PDB per Kapita
Kamis, 31 Maret 2011 – 10:24 wib

Pemerintah optimistis bahwa pada akhir 2014 rata-rata pendapatan per kapita masyarakat Indonesia mencapai USD5.000. Angka ini diperoleh dengan asumsi produk domestik bruto (PDB) mampu menembus USD1 triliun.

Optimisme muncul berdasarkan data masa lalu di mana untuk 2004 PDB per kapita kita hanya USD1.184 dan meningkat sebesar USD3.000 pada akhir 2010.

Sementara untuk mengejar selisih total PDB sebesar USD300 selama tiga tahun (2011-2014) juga cukup besar melalui program percepatan pembangunan infrastruktur dan capital inflow untuk mendukung investasi sektor riil di Indonesia.

Besaran pendapatan per kapita merefleksikan kemakmuran (wealth), daya beli (purchasing power parity), dan kemajuan pembangunan suatu negara. Angka ini didapatkan melalui pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tersebut. Semakin besar PDB per kapita suatu negara, semakin makmur masyarakatnya.

Karena itu, PDB per kapita juga seringkali digunakan untuk membandingkan pertumbuhan ekonomi antarnegara. Namun, optimisme peningkatan PDB per kapita ini perlu dicermati dengan penuh kehati- hatian. Hal ini karena data PDB dihitung dengan menjumlahkan total output/pendapatan yang diproduksi di dalam negeri.

Hanya saja, data ini perlu dilengkapi dengan melihat distribusi dan kualitas kontribusi sektoral maupun kelompok pendapatan masyarakat sehingga pencapaian PDB per kapita perlu dilengkapi dengan indikator yang lebih mencerminkan pemerataan akses, kontribusi, dan distribusi agar PDB per kapita menjadi lebih berkualitas.

Beberapa data terakhir menunjukkan ada pola pertumbuhan ekonomi berdasarkan sektoral menunjukkan pertumbuhan positif untuk sektorsektor non-tradable seperti keuangan, transportasi dan telekomunikasi, hotel dan restoran, perdagangan, konstruksi, gas dan air bersih,listrik, serta jasa lain.

Sementara itu tren sebaliknya ditunjukkan oleh sektor tradable seperti pertanian, pertambangan dan galian, serta industri manufaktur nasional. Persoalan terjadi karena mayoritas tenaga kerja dan masyarakat Indonesia hidup dari sektor tradable.

Dikhawatirkan, ketimpangan kontribusi sektoral terhadap total pertumbuhan ekonomi nasional memunculkan persoalan atas ketimpangan pendapatan antara pekerja di sektor non-tradable dan tradable.

Menurut data BPS per Februari 2010, jumlah tenaga kerja Indonesia di sektor pertanian Rp42,8 juta orang (40 persen) dari keseluruhan angkatan kerja nasional yang mencapai 107,4 juta orang.

Kualitas kesejahteraan mayoritas tenaga kerja nasional yang bekerja di sektor pertanian juga perlu mendapatkan serius dari pemerintah pusat dan daerah. Berdasarkan pemantauan harga-harga di 32 pedesaan yang dilakukan BPS pada Desember 2010 menunjukkan nilai tukar petani (NTP) secara nasional turun 0,13 persen dibandingkan NTP November 2010.

Penurunan ini karena indeks harga hasil produksi pertanian lebih rendah dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga petani untuk keperluan produksi. PDB per kapita tentu perlu mendapatkan pengayaan dari data dan indikator lain yang lebih bersifat sektoral dan riil di masyarakat.

Pola-pola ketimpangan akan semakin melebar apabila PDB per kapita yang tinggi hanya dikontribusikan oleh sektor yang lebih padat modal dan teknologi. Dengan begitu, penyerapan lapangan kerja juga menjadi terbatas.

Asumsi APBN 2011 telah menargetkan bahwa setiap satu persen tambahan pertumbuhan ekonomi akan menyerap tenaga kerja sebanyak 400 ribu orang. Perkembangan sektoral perlu menjadi acuan untuk mengembangkan strategi penciptaan lapangan kerja yang berkualitas. Pertumbuhan PDB per kapita adalah indikator yang mencerminkan bahwa Indonesia dapat menjadi kekuatan ekonomi utama di masa mendatang.

Namun, berbagai macam bentuk ketimpangan sepertinya akan terus membayangi peningkatan PDB per kapita Indonesia. Hal ini perlu juga mendapatkan perhatian khusus dari segenap pengambil kebijakan baik di tingkat pusat ataupun daerah.

Persoalan ketimpangan kepemilikan tanah dan lahan, kesenjangan gaji eksekutif puncak dan eselon yang ada di bawahnya, kesenjangan sektoral, serta pendidikan dan akses terhadap kualitas pelayanan publik yang lebih merata.

Selain itu juga mayoritas pola usaha dan tenaga kerja di Indonesia masih berada di sektor informal jelas akan menjadi tantangan tersendiri untuk dapat ‘mendamaikan’ (mutual existence) antara sektor formal dan informal.

Ketika persoalan ketimpangan dapat kita kurangi, niscaya peningkatan PDB per kapita akan semakin dirasakan dan dinikmati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Inilah tantangan kita bersama untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan inklusif.

PROF FIRMANZAH PHD
Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia(Koran SI/Koran SI/ade)
Dividen
Senin, 18 April 2011 08:14 wib

Tidak lama lagi musim dividen tiba. Jangan heran jika hari-hari ini, banyak investor di bursa yang pasang telinga untuk mengetahui emiten mana saja yang akan bagi dividen dan berapa besar dividen yang akan dibagikan.

Hal ini bisa dipahami mengingat mayoritas perusahaan publik yang sahamnya tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih yang lumayan.

Dividen adalah bagian dari laba bersih yang dibagikan kepada pemegang saham. Bagi sebagian investor terutama yang mengejar capital gain dividen bukanlah hal yang penting. Sebab, dibandingkan harga saham, biasanya rasionya tidaklah besar.

Selain itu, dividen dibagikan satu tahun sekali. Karena itu, investor yang orientasinya capital gain seringkali mengabaikan dividen. Apalagi, jika disimak lebih detil, di atas kertas ada atau tidak ada dividen sama saja. Bagaimana penjelasannya?

Dividen pada dasarnya adalah asset perusahaan yakni asset lancar berupa dana kas. Jika perusahaan mengambil asetnya dan menyerahkannya kepada pemegang saham sebagai dividen jelas sekali nilai aset lancar emiten tersebut berkurang. Misalnya perusahaan X selama tahun buku 2010 berhasil membukukan laba bersih Rp100 miliar.

Dalam pembukuan, jika laba bersih itu tidak dibagikan sebagai dividen, maka ia akan masuk sebagai laba ditahan. Dalam operasional perusahaan, laba ditahan ini akan memperkuat struktur modal dan juga arus kas yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan ekspansi atau kebutuhan belanja modal lainnya.

Namun, jika laba tadi sebagian dibagikan sebagai dividen maka itu berarti kas perusahaan akan berkurang dan dengan sendirinya nilai aset juga akan berkurang. Dalam contoh di atas jika manajemen X memutuskan 50 persen dari laba tadi dibagikan sebagai dividen, maka itu berarti arus kas atau aset perusahaan akan berkurang sebesar Rp50 miliar.

Bagaimana kaitannya dengan harga saham di bursa? Jika perusahaan X tadi memiliki total saham satu miliar lembar, maka setiap lembar saham akan memperoleh dividen Rp50. Dari sini bisa dilihat ada transfer aset dari perusahaan X menjadi aset pemegang saham X. Jika ada investor yang memiliki saham X sebesar satu juta lembar, maka ia akan mendapatkan tambahan kekayaan berupa dividen dari X sebesar Rp50 juta.

Dari sini tampak bahwa pembagian dividen itu tidak ada kaitannya dengan harga saham di bursa. Namun harus diingat bahwa pembagian dividen ini paling tidak mempunyai dua makna.

Pertama, kebijakan pembagian dividen menunjukkan bahwa perusahaan memiliki performa yang bagus. Jika setiap tahun perusahaan selalu membagikan dividen, maka hal itu menunjukkan bahwa arus kas perusahaan cukup stabil dan baik, tidak terganggu dengan rencana ekspansi yang akan dilakukan perusahaan.

Kedua, pembagian dividen menunjukkan bahwa kondisi keuangan perusahaan untuk masa mendatang tidak perlu diragukan. Investor atau pemegang saham akan merasa aman dengan arus kas perusahaan karena terbukti perusahaan bisa membagi dividen.

Dua hal itulah yang akan menambah kepercayaan publik terhadap performa dan kinerja perusahaan sehingga berlomba memburu sahamnya di bursa. Informasi bahwa perusahaan akan membagi dividen itulah yang menaikkan harga saham di pasar, bukan dividennya.

Dengan adanya kabar pembagian dividen, investor mempunyai ekspektasi yang baik sehingga mau membeli saham pada harga yang lebih mahal. (Tim BEI)
(//ade)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s