1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

keajaiban ekonomi INDON 2011 13 Juni 2011

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 2:19 pm

Kinerja Investasi yang Kian Impresif
Oleh Didiek Hadjar Goenadi | Senin, 15 Agustus 2011 | 8:51
investor daily

Kinerja perekonomian makro Indonesia dalam beberapa tahun terakhir dihela oleh dua faktor utama, yaitu ekspor dan investasi. Kinerja dua sektor ini, ke depan, akan terus terdongkrak bersamaan semakin meningkatnya kebutuhan pasar global dan perbaikan-perbaikan iklim investasi yang terus dilakukan pemerintah.

Banyak yang belum menyadari bahwa Indonesia memiliki potensi kekuatan perekonomian yang luar biasa dan sudah mulai menampakkan posisinya dalam persaingan dengan negara-negara lain di dunia.

Kelimpahan komoditas minyak kelapa sawit, karet alam, dan kakao telah mengundang banyak investor dalam negeri (PMDN) dan luar negeri (PMA) menanamkan modalnya di sektor ini. Kekayaan sumber daya alam lainnya juga telah mendorong investasi di sektor pertambangan yang meningkat luar biasa.

Indonesia saat ini adalah pemain utama dunia di pasar batubara, pemilik sumber gas alam terbesar di Asia Pasifik, dan menguasai 40% sumberdaya panas bumi dunia yang setara dengan 28,1 GW pembangkit listrik.

Di sisi lain, kekuatan dinamika populasi generasi muda Indonesia juga sangat menjanjikan dalam menuju knowledge based society. Pada 2010 pengguna internet Indonesia mencapai 45 juta orang. Pengguna Facebook per Juni 2011 mencapai 38 juta orang atau kedua setelah Amerika Serikat (AS). Di kancah Asia, pengguna Twitter di Indonesia adalah yang tertinggi yaitu mencapai 5,6 juta orang.

Ketersediaan sumber daya alam yang berlimpah dan jumlah penduduknya yang besar merupakan potensi yang bisa mengantar Indonesia sebagai kekuatan ekonomi dunia.

Menyebar ke Luar Jawa
Terkait pengelolaan potensi sumber daya alam, pemerintah mengambil kebijakan memfasilitasi penanaman modal sektor hilir dan relatif membiarkan secara alamiah investasi di sektor hulu (penyediaan bahan baku). Tapi ada hal yang selalu menjadi perhatian, dan hal itu sangat membantu meningkatnya investasi, yakni perbaikan iklim investasi.

Beberapa perubahan kebijakan untuk memperbaiki iklim investasi, antara lain, kebijakan terpadu satu pintu, regional champion, dan tax allowances. Inilah yang membuat kinerja investasi tumbuh dan berkembang dengan sangat impresif. Satu terobosan baru dalam kerjasama kemitraan swasta-pemerintah juga menjadi pendorong meningkatnya nilai investasi di semester I-2011.

Realisasi investasi dalam lima tahun terakhir menunjukkan kinerja yang menjanjikan. Selama 2006-2009 rata-rata di bawah US$ 17,1 miliar, sedang pada 2010 mencapai US$ 23,4 miliar dan semester I-2011 sudah mencapai US$ 12,9 miliar. Kinerja tahun 2010 tersebut 54,2% lebih tinggi dari tahun 2009 dan 30,2% dari target US$ 17,9 miliar.

Komposisi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) untuk tahun 2010 dan dalam semester I-2011 adalah 29:71. Penanam modal terbesar untuk tahun 2011 adalah Singapura (20,8%), AS (10,2%), Jepang (8%), Belanda (7,9%), Korea Selatan (3,7%), dan negara-negara lain (49%). PMDN didominasi oleh investasi industri makanan (14%), tanaman pangan dan perkebunan (14%), transport tasi-gudang-telekomunikasi (13%), industri non-metal (10%), industri logam dasar-produk logam-permesinan- elektronik (10%), dan lainnya (39%). Sementara itu, untuk PMA, investasi pertambangan (28%) mendominasi, disusul transportasi (11%), kimia dasar dan farmasi (10%), industri metal dan lain-lain (9%), tanaman pangan dan perkebunan (8%), dan lain-lainnya (34%).

Hal yang menarik untuk dicatat adalah bahwa sebaran investasi selama tahun 2009 82% berada di Pulau Jawa, tapi pada 2010 sudah mulai menyebar lebih banyak di luar Jawa dari 18 menjadi 33%.

Pembangunan Infrastruktur
Dengan sumber daya alam yang kita miliki, baik yang terbarukan maupun yang tidak terbarukan, perolehan nilai tambah dari bahan baku menjadi produk olahan harus diperoleh semaksimal mungkin di dalam negeri. Produk-produk seperti kakao memiliki nilai tambah 19x dari biji menjadi produk olahan cokelat. Produk bauksit menjadi aluminium akan mengalami peningkatan nilai tambah 30x, bijih besi menjadi baja stainless meningkat 30x, dan bijih emas menjadi batangan meningkat 960x.

Hal kedua adalah untuk mencapai masyarakat berbasis pengetahuan maka jumlah tenaga kerja lulusan pendidikan tinggi harus ditingkatkan. Menurut data Bank Dunia tingkat pendidikan di Indonesia 56% didominasi oleh pendidikan primer dengan alokasi dana pendidikan hanya 3,5% dari produk domestik bruto (PDB). Malaysia dan Thailand masing-masing mengalokasikan 4,5 dan 4% dari PDB-nya. Kondisi lainnya yang dibutuhkan adalah investasi di sektor teknologi tinggi dan riset dan pengembangan.

Anggaran R & D Indonesia tergolong sangat kecil hanya berkisar antara 0,05 hingga 0,02% dari PDB. Negara-negara yang tergolong new growth markets (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) mengalokasikan 40-50 kali lipat dari Indonesia. Di aspek fisik, pembangunan investasi ke depan sangat membutuhkan dukungan infrastruktur.

Dalam laporan Global Competitiveness 2010-2011, dari 139 negara, Indonesia baru menduduki peringkat 82 dibanding Singapura (5), Malaysia (30), dan Thailand (35). Lepas dari itu, kinerja penanaman modal selama semester I-2011 memang cukup impresif dan memberi keyakinan akan melampaui target yang telah ditetapkan. Namun, beberapa kendala yang masih mengakibatkan laju investasi belum secepat yang diharapkan secara terus-menerus diperbaiki.

Salah satunya adalah terbitnya kebijakan Public-Private Partnership (Perpres No 13 dan 78/2010 dan No 12/2011) untuk mendorong pembangunan infrastruktur. Selain itu, percepatan pembangunan ekonomi berbasis kawasan juga sudah mulai digulirkan dengan membentuk enam koridor spesifik, yaitu Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Bagaimanapun, kerja keras dan dukungan sektoral masih sangat diperlukan untuk mencapai target realisasi penanaman modal Rp 10 ribu triliun hingga 2015.

Penulis adalah Komite Penanaman Modal Bidang Agribisnis Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)
Managing Director of Economic Recovery and Research DBS Bank, David W Carbon, menilai keberhasilan pembangunan ekonomi Indonesia selama beberapa tahun terakhir pantas menyandang predikat salah satu kisah paling sukses di Asia Tenggara pada abad 21.

“Bagi investor asing yang berpengalaman, Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbanyak keempat di dunia tentunya ideal sebagai tempat investasi,” kata David dalam keterangan pers yang diterima VIVAnews.com di Jakarta, Rabu, 20 Juli 2011.

David menjelaskan, Indonesia merupakan negara yang memiliki siklus perkembangan ekonomi yang mudah diprediksi. Satu faktor yang tentunya menarik perhatian investor dunia.

Namun, faktor yang paling penting adalah Indonesia dianggap mampu mengatasi persoalan krisis keuangan global yang melanda beberapa tahun lalu dengan lebih baik dibandingkan negara-negara Asia lainnya.

Hal itu terlihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia berupa tingkat konsumsi, produksi industri, dan ekspor yang meningkat.

Lebih jauh, perekonomian Indonesia masa depan diperkirakan sangat terbantu dengan karakter kelas menengah Indonesia yang memberikan kesempatan luas untuk berinvestasi.

”Mereka yang berkembang dengan cepat cenderung muncul dari negara-negara berpendapatan rendah,” kata David.

Pada kuartal pertama tahun ini, DBS mencatat, Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan yang tergambar dari perkembangan produk domestik bruto (PDB) sebesar 7,2 persen atau lebih baik dibandingkan kuartal keempat 2010.

Selain itu, persoalan kenaikan harga barang atau inflasi tidak menjadi masalah yang serius, mengingat inflasi di Tanah Air telah menurun dari 7 persen pada Januari 2011 menjadi 6 persen pada Mei 2011.

Di sisi lain, DBS menemukan bahwa Indonesia telah menunjukkan kenaikan suku bunga hingga 20 poin tahun ini. Diperkirakan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) juga tetap naik antara 20 hingga 25 poin pada akhir tahun ini.

“Meski demikian, pada akhir tahun ini, kebijakan moneter di Asia akan kembali normal,” ungkap David.

Dengan berbagai indikator ekonomi itu, DBS optimistis Indonesia bisa merasakan perkembangan industri sebagaimana yang dialami China. Dengan model pertumbuhannya bisa mempekerjakan lebih banyak orang, kemudian menghubungkan industri di Indonesia dengan dunia.

”Penting untuk melakukan apa yang dilakukan China. Namun, secara keseluruhan, Indonesia dan Asia kini sedang memimpin,” pungkasnya

Sumber : VIVANEWS.COM
BI Optimistis Indonesia Segera Masuk Investment Grade
Kamis, 14 Juli 2011 | 19:36
investor daily
JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution optimistis Indonesia segera mencapai level “investement grade” di tengah-tengah pemulihan perekonomian dunia yang melambat.

“Indonesia kita masih tetap percaya dalam waktu tidak terlalu lama, kita akan naik ke investment grade dan itu patut disyukuri bahwa kalau negara lain terancam turun, kita malah arahnya naik,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Kamis.

Darmin menjelaskan lembaga pemeringkat selalu memberikan penilaian pada awal tahun dan untuk itu tidak dapat dipastikan kapan tepatnya Indonesia segera mendapatkan level investasi.

“Mereka kan memberikan penilaian di awal tahun. Kita kan sedang coba untuk berdiskusi apakah ada penilaian lebih cepat, sehingga kita susah mengatakan akhir tahun ini bisa lebih baik,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi perekonomian Indonesia sangat baik dan potensi untuk meraih “investment grade” tinggal menunggu waktu namun ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan bagi lembaga pemeringkat tersebut dalam memberikan penilaian.

“Memang tetap ada hal-hal mereka masih anggap perlu kejelasan, perlu ada perbaikan. Itu selalu, mereka mau kok bicara, apa sih hambatannya, apa yang harus diperbaiki,” ujar Darmin seperti dikutip Antara.

Ia mengatakan apabila sudah masuk dalam level tersebut dapat dipastikan Indonesia akan kebanjiran sumber dana jangka panjang dan murah seperti dana pensiun serta asuransi.

“Biasanya dana pensiun di negara maju akan menahan diri masuk kalau belum ‘investment grade’. Dana pensiun adalah dana jangka panjang dan murah, sehingga kalau sudah ‘investment grade’, arus dana memang lebih besar,” ujarnya.

Sementara menanggapi kemungkinan penurunan rating utang Amerika Serikat (AS) oleh lembaga pemeringkat Moody’s, Darmin menjelaskan hal tersebut belum akan berpengaruh banyak terhadap perekonomian AS.

“Itu biasanya kalau audit ada tanpa pengecualian, ini dengan pengecualian. Ada satu hal yang dianggap belum terselesaikan dengan baik, itu biasanya belum akan mempengaruhi banyak terhadap penilaian dan perekonomian negara itu,” kata dia. (tk)
Kurniawan: Ada Ruang Ekonomi Tumbuh Lebih Tinggi
Rabu, 13 Juli 2011 | 11:18
investor daily

JAKARTA- Pengamat ekonomi, Ifan Kurniawan memperkirakan ekonomi Indonesia pada semester kedua 2011 akan meningkat lebih besar, karena ada ruang untuk tumbuh lebih tinggi apabila pemerintah dapat menyalurkan belanja modal lebih besar.

Belanja miodal pemerintah kemungkinan akan dapat diserap lebih besar, karena pada semester kedua banyak proyek yang akan dikerjakan dalam upaya meningkatkan infrastruktur yang masih berjalan lambat, katanya yang juga analis PT First Asia Capital di Jakarta, Rabu (13/7).

Ifan Kurniawan mengatakan, pertumbuhan ekonomi nasional saat ini masih didukung sektor konsumsi yang mencapai 50% yang akan berkurang menjadi 40%.

“Hal ini disebabkan sektor investasi akan tumbuh mencapai 30% dan ekspor yang semula hanya 20 % akan naik menjadi 30%, karena pendapatan dari ekspor meningkat US$200 miliaR dibanding sebelumnya US$168 miliar,” katanya.

Kondisi ini, lanjut dia akan sangat mendukung ekonomi nasional tumbuh lebih tinggi dengan batas atas mencapai 6,8% dan batas bawah 6,3%.

Bank Indonesia (BI) sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi semester kedua meningkat mencapai 6,3 sampai 6,8% dari proyeksi sebelumnya 6,1 hingga 6,6% yang didukung oleh sektor konsumsi dan investasi.

Peningkatan proyeksi itu menunjukkan bahwa masih ada ruang gerak bagi ekonomi nasional tumbuh lebih besar, kata Ifan Kurniawan.

Menurut dia, peluang ekonomi tumbuh lebih besar lagi itu juga terlihat dari keinginan investor asing yang ingin menempatkan dananya di pasar domestik lebih besar.

Bahkan Indonesia diperkirakan akan dijadikan basis relokasi produksi oleh asing karena pasarnya masih menarik dan memberikan imbal hasil yang tinggi.

Investasi asing bukan hanya ditempatkan di pasar saham, pasar uang, obligasi pemerintah, dan instrumen BI, mereka juga telah memasuki sektor infrastruktur, ucapnya.

Karena itu, lanjut dia , besarnya investasi asing maka pertumbuhan ekonomi akan makin tumbuh yang pada gilirannya mendorong meningkatkan pendapatan masyarakat.

Hal ini disebabkan infrastruktur makin tumbuh dan lapangan kerja baru bagi tenaga kerja terbuka lebar, ujarnya.

Kondisi ini juga didukung oleh negara-negara Asia seperti China dimana biaya-produksinya mengalami kenaikan yang cukup besar, selain itu juga di India mengalami inflasi tinggi dengan suku bunga yang cukup besar membuat pelaku pasar asing sulit untuk melakukan investasinya.

Selain itu di Vietnam dimana inflasinya mengalami kenaikan hingga mencapai 11 persen, kata Ifan Kurniawan.(ant/hrb)

RI Menuju Arah Pertumbuhan yang Diharapkan
Senin, 4 Juli 2011 | 19:57
investor daily

DEPOK – Melihat gejala geopolitik, statistik demografi, pertumbuhan ekonomi, dan posisi di dunia internasional, Indonesia menunjukkan perjalanan ke arah pertumbuhan yang sudah diharapkan.

“Arah pertumbuhan yang tepat ini tentu saja akan mempermudah rakyat Indonesia untuk merealisasikan Indonesian Dream-nya” kata Business Trainer Beny Bevly, dalam Seri Dialog The Indonesian Dream: Perspektif Tokoh Muda Tionghoa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI, Depok, Senin.

Menurut dia, kemungkinan menanjaknya posisi Indonesia di dunia internasional, terutama dalam organisasi BRIC (Brazil, Russia, India, dan China).

Ia mendapat informasi kemungkinan Rusia hendak digeser dari BRIC dan digantikan dengan Indonesia, karena persepsi internasional menilai Indonesia lebih sukses membina perekonomian dan pertumbuhan perekonomiannya dibandingkan dengan Rusia.

Dikatakannya, secara keseluruhan, terlepas dari sistem diktator militerisme di masa lalu dan korupsi, kini Indonesia dilihat sebagai negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat.

Indonesia termasuk salah satu dari sedikit negara yang pertumbuhan GDP-nya tetap kuat setelah krisis ekonomi dunia tahun 2008. Pada 2009, pertumbuhan ekonomi RI sebesar 5 persen, tahun 2010 sebesar 6 persen dan pada 2011 hingga 2015 diprediksikan mencapai 7-8 persen.

Penulis buku “Aku Orang China” tersebut mengatakan, di samping kekayaan alamnya, Indonesia juga dikenal sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak dengan total 240 juta penduduk melebihi gabungan tiga negara Prancis, Jerman, dan Inggris yang berhasil menerapakan demokrasinya cukup baik.

Standar hidup masyarakat Indonesia yang masih cukup rendah, kini dilihat semakin membaik dengan GDP per capita berkisar 4.000 dolar AS yang berarti masih sangat berpotensi untuk perkembangan masa depan. Pada tahun 2050, dengan menggunakan nilai dolar AS sekarang, petensial GDP diperkirakan akan mencapai 9,3 triliun dolar AS atau 65 persen dari GDP AS.

Kekayaan alam Indonesia juga banyak mengundang projeksi yang positif, seperti kepemilikan akan minyak, gas, batu bara, timah, tembaga, perak, dan emas. Dari segi geografi, Indonesia juga dekat dengan India dan China — mempermudahkan hubungan dagang yang melibatkan kedua negara ini.

Diprediksikan bahwa Indonesia mempunyai potensi jangka panjang menjadi consumer market yang luar biasa karena pada tahun 2050 akan memiliki 313 juta penduduk yang melebihi penduduk AS sekarang.

Namun ia mengakui perkembangan dalam negeri akhir-akhir ini memang masih banyak yang perlu dipelajari dan diperbaiki. Paling tidak kita bisa belajar dan membantu memperbaiki hal yang bisa dikontrol demi perwujudan Indonesian Dream, seperti memberantas korupsi secara serius.

Selain itu, perlu juga menciptakan iklim investasi yang lancar, meningkatkan mutu demokrasi, mengurangi gerakan ekstrim yang mengancam pluralisme sebagai tonggak demokrasi, memberdayakan institusi sosial, ekonomi dan politik secara fair, dan menciptakan stabilitas politik. (tk/ant)

Aviliani: Ekonomi Nasional Bisa di Atas 7%
Jumat, 24 Juni 2011 | 10:17
Investor Daily

JAKARTA-Pengamat ekonomi, Aviliani memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2012 akan dapat tumbuh di atas 7%, karena arus modal (capital inflow) asing akan banyak masuk ke pasar domestik.

Hal ini disebabkan pertumbuhan ekonomi global masih belum tumbuh dalam jangka waktu tiga sampai empat tahun mendatang, yang mendorong pelaku asing mengalihkan dananya ke negara lain yang lebih menjanjikan, katanya di Jakarta, Jumat (24/6).

Aviliani mengatakan, negara-negara Asia Tenggara khususnya Indonesia merupakan salah satu sasaran bagi pelaku asing yang ingin menempatkan dananya.

“Kami optimis arus modal asing yang masuk akan makin besar dan dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan sektor riil, sehingga ekonomi akan tumbuh lebih cepat lagi,” ucapnya.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi pada semester pertama 2011 mencapai 6,2% dan semester kedua naik menjadi 6,4%.

Pada 2012 pertumbuhan ekonomi akan makin cepat dan diperkirakan akan tumbuh di atas 7% ujarnya.

Karena itu, pemerintah harus dapat mempersiapkan diri lebih baik untuk menarik modal asing masuk ke pasar domestik, selain masalah birokrasi yang sampai saat ini masih belum dapat dituntaskan, juga kenyamanan dan keamanan perlu ditingkatkan.

Pemerintah juga harus dapat mengatasi berbagai persoalan yang terjadi, sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran pelaku asing menginvestasikan dana di pasar domestik.

Selama ini dana asing yang masuk ke pasar domestik hanya di pasar modal dan pasar uang saja. Dana tersebut belum menyentuh ke sektor riil yang dapat memberikan lapangan kerja bagi masyarakat luas, tuturnya.

Ditanya mengena IPO BUMN, ia mengatakan, DPR harus dapat mendukung pertumbuhan BUMN untuk dapat melakukan penawaran saham perdana (IPO) di pasar modal.

BUMN yang sudah melakukan IPO saat ini hanya PT Garuda dan PT Krakatau Steel, padahal masih banyak BUMN yang juga akan melakukan IPO namun belum mendapat persetujuan DPR, ucapnya.

Investor dari Abu Dhabi juga berminat melakukan investasi di Indonesia, namun mereka mempertanyakan sarana dan prasarana yang masih belum mendukung kegiatan usaha tersebut.(ant/hrb)

Edwin Sinaga: Indonesia Jadi Tumpuan Investasi Asing
Jumat, 24 Juni 2011 | 10:50
investor daily

JAKARTA- Pengamat pasar, Edwin Sinaga memperkirakan kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia akan menjadi tumpuan investasi bagi asing , karena pasar domestik masih merupakan pasar yang menarik bagi asing.

Karena itu, pemerintah harus dapat menjaga momentum tersebut dengan melakukan perbaikan-perbaikan seperti sarana dan prasana maupun birokrasi, katanya yang juga Dirut PT Finan Corpindo Nusa di Jakarta, Jumat (24/6).

Menurut dia, investor asing melihat kondisi global yang masih belum menarik, segera mengalihkan perhatiannya ke Indonesia dan Korea Selatan dapat memberikan keuntungan lebih baik.

Fokus investasi asing ke pasar domestik merupakan peluang bagi ekonomi nasional tumbuh lebih tinggi lagi, katanya.

Edwin Sinaga mengatakan, pemerintah harus dapat menarik dana asing itu untuk membuka lapangan kerja baru tidak hanya bermain di pasar saham dan uang.

Apabila lapangan kerja baru terwujud maka akan memberikan nilai tambah bagi negara, ujarnya.

Menurut dia, fundamental ekonomi makro Indonesia yang tetap positif dan tingkat suku bunga rupiah yang tinggi masih merupakan faktor menarik bagi asing.

Selain itu pemerintah harus terus meningkatkan usaha dalam upaya meningkatkan pendapatannya terutama dari ekspor, ucapnya.

Peluang investasi asing ke dalam negeri, menurut dia akan memicu berbagai sektor tumbuh lebih besar apalagi didukung dengan mulai bergerak sektor riil.

Pemerintah sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya agar dapat menggerakkan sektor riil, namun dana yang diperlukan untuk menggerakkan sektor tersebut sangat besar, ucapnya.(ant/hrb)

Kondisi tiga bandara Internasional di Indonesia ternyata kelebihan kapasitas penumpang.

Ketiga bandara itu di antaranya pertama, Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Jakarta, kedua, Bandara Djuanda Surabaya, ketiga, Bandara Ngurah Rai Bali. Peningkatannya mencapai 20-45 persen di tiga bandara tersebut.

Bandara Soetta misalnya, dari 23 juta penumpang di tahun 2010 kini membengkak mencapai 43 juta penumpang. Sementara jumlah penumpang di Bandara Djuanda meningkat 4 juta penumpang, dari 12 juta penumpang tahun 2010 menjadi 16 juta penumpang pada tahun 2011. Sedangkan jumlah penumpang di Bandara Ngurah Rai saat ini ada di kisaran 11 juta penumpang yang di tahun lalu hanya 8 juta penumpang.

“Fakta tersebut menandakan situasi ekonomi Indonesia tumbuh dengan pesat. Namun, di sisi lain situasi itu dapat mempengaruhi citra Indonesia di mata internasional. Mengingat fasilitas bandara merupakan salah satu tolak ukur status perkembangan dan pembangunan sebuah negara,” ujar Chairman CIDEV, Muhamad Rifai Darus dalam siaran persnya, Senin (13/6).

CIDEV merupakan lembaga independen di bidang pengkajian strategis atas masalah-masalah pembangunan nasional. Lembaga ini didirikan oleh para profesional muda dari berbagai latar belakang, profesi dan keahlian.

Menurut Rifai, infrastruktur bandara pun menjadi soal manakala tidak mampu mengatasi aspek non-teknis. Misalnya, masalah banjir atau genangan air di lokasi bandara. Efeknya tidak hanya penerbangan domestik yang terganggu. Penerbangan internasional dari dan menuju Indonesia turut merasakan imbasnya.

Pengamatan CIDEV menunjukkan, banjir yang melanda Jakarta dua tahun lalu, telah mengganggu operasional Bandara Soekarno-Hatta selama dua hari, yaitu 1-3 Februari 2008. Selain kerugian materil yang ditaksir mencapai Rp3,1 miliar, sedikitnya 669 penerbangan mengalami gangguan. Mulai dari keterlambatan (delay) sampai pembatalan jadwal penerbangan baik keberangkatan maupun kedatangan.

“Hal tersebut menjadi ironi justru di saat pemerintah Indonesia tengah mencanangkan tahun wisata, ”Visit Indonesia Year” pada awal 2008. Akibatnya, penumpukan penumpang tidak hanya terjadi di bandara Cengkareng, tetapi juga di sejumlah bandar udara internasional seperti Changi Airport Singapura, Kuala Lumpur International Airport, bandar udara Suvarnabhumi di Bangkok Thailand serta beberapa bandara internasional lainnya,” ujar Rifai pula.

CIDEV melihat bahwa penanganan tersebut tidak hanya menjadi pekerjaan rumah PT Angkasa Pura semata. Kasus banjir yang mengganggu bandara ini terkait dengan sistem tata kota dan ekologi perkotaan. Diperlukan upaya gabungan dan koordinasi pihak-pihak terkait.

Bandara sebagai salah satu infrastruktur penting bagi pertumbuhan ekonomi, mendesak untuk segera ditangani melalui kebijakan strategis. Selain dituntut inovasi dan kreatifitas dari PT Angkasa Pura sebagai operator bandara, dalam implementasinya perusahaan ini membutuhkan payung kebijakan strategis Pemerintah.

Misalnya dalam hal percepatan pembangunan dan investasi. “Dengan langkah tersebut, diharapkan masalah penumpukan penumpang itu, bisa segera dijawab dengan action plan pengembangan secara strategis dan taktis,” ujar Rifai pula.

http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1598742/3-bandara-internasioanl-ri-kelebihan-kapasitas

Sumber : INILAH.COM

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s