1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

maen saham BUKAN cuma … WAJIB (4) 10 Agustus 2011

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 7:39 am

Gagal Serah & Gagal Bayar
Senin, 19 September 2011 10:40 wib
okezone
TRANSAKSI atau jual beli saham di Bursa Efek tidak selamanya berjalan mulus, sesuai dengan alur mekanisme transaksi saham yang ada. Kadangkala, meski probabilitasnya sangat kecil sekali ada risiko bahwa proses transaksi tidak berlangsung sebagaimana mestinya sehingga ada pihak atau investor yang merasa dirugikan.

Sebuah transaksi dikatakan berjalan sesuai dengan mekanisme dan prosedur jika investor jual mendapatkan uang pada saat penyelesaian transaksi (setlement) jatuh tempo yakni H+3. Di sisi lain pada saat yang sama investor beli akan mendapatkan saham yang dibelinya. Singkat kata, sebuah proses transaksi saham disebut lancar jika investor jual mendapatkan uang dan investor beli mendapatkan saham pada waktu yang sudah ditentukan.

Gambarannya begini. Investor X melalui broker-nya PT Sekuritas Indonesia mengajukan order beli saham ABCD sebanyak 20 lot di harga Rp2.000 per saham. Ketika order itu dieksekusi ternyata bertemu (matching) dengan order jual yang dilakukan investor Y yang mengajukan order jual saham ABCD di harga Rp2.000. Nah, proses transaksi belum selesai disini. Proses selanjutnya berlangsung di lembaga kliring dan penjaminan (LKP) dalam hal ini PT Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan di lembaga penyimpanan dan penyelesaian (LPP) yang dalam hal ini diperankan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Dalam mekanisme transaksi yang berlaku di Bursa Efek Indonesia (BEI), proses penyelesaian setiap transaksi membutuhkan waktu H+3. Artinya, tiga hari setelah transaksi dilakukan investor X akan mendapatkan saham ABCD yang dibelinya dan investor Y akan mendapatkan uang sebesar Rp20 juta (dipotong biaya transaksi) hasil penjualan saham ABCD. Begitulah gambaran sederhananya sebuah transaksi yang berlangsung secara normal sesuai mekanisme di bursa.

Pertanyaannya bagaimana dengan transaksi yang tidak normal, tidak sesuai dengan mekanisme transaksi? Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu dipahami bahwa ada syarat bagi investor yang melakukan transaksi saham di bursa. Bagi investor jual, harus memiliki barang atau saham yang akan dijual dan bagi investor beli harus memiliki uang sebesar nilai pembelian yang akan dilakukan. Dengan kata lain, investor jual punya barang sedangkan investor beli punya uang. Nah, prasyarat ini harus dipastikan oleh perusahaan broker yang menjadi perantara transaksi.

Jika prasyarat itu tidak dipenuhi, maka risiko bahwa transaksi akan berlangsung tidak normal, tidak sesuai prosedur bisa terjadi. Harus dipahami, jumlah investor yang melakukan transaksi jual beli saham di bursa mencapai puluhan ribu orang, bahkan ratusan ribu. Mereka tidak saling kenal antara satu dengan yang lain. Dalam ilustrasi di atas, investor X tidak saling mengenal dengan investor Y. Karena itu, prasyarat agar transaksi berjalan lancar harus dipatuhi oleh setiap investor maupun perusahaan broker.

Salah satu risiko jika prasyarat itu tidak dipatuhi adalah kemungkinan terjadinya apa yang disebut dengan istilah gagal serah dan atau gagal bayar. Risiko gagal serah sangat mungkin terjadi jika investor yang tidak punya saham atau barang tapi berani menjual saham. Saat proses setlement, si investor tidak bisa menyerahkan saham yang mestinya diserahkan. Demikian juga dengan risiko gagal bayar, bisa terjadi pada investor yang tidak punya kecukupan dana tetapi nekad untuk membeli saham. Saat kliring jatuh tempo, si investor tidak mampu membayar saham yang sudah dibelinya.

Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi risiko gagal serah dan gagal bayar seperti itu? Seharusnya investor yang bertanggung jawab. Namun, dalam praktek bentuk tanggung jawab itu tidak hanya dibebankan ke investor. PT KPEI dan atau KSEI akan membebankan tanggung jawab itu ke perusahaan broker sebagai anggota kliring dan kustodian. walaupun, perusahaan broker juga akan membebankan tanggung jawab ke investor.

Per definisi, sesuai dengan peraturan di KPEI disebutkan gagal serah adalah tidak dipenuhinya sebagian atau seluruh kewajiban Anggota Bursa (AB) untuk melakukan penyerahan efek tertentu dalam rangka penyelesaian transaksi bursa. Sedangkan gagal bayar diartikan sebagai tidak dipenuhinya sebagian atau seluruh kewajiban AB untuk melakukan pembayaran sejumlah uang dalam rangka penyelesaian transaksi bursa.

Jika disimak definisi di atas sesuai dengan peraturan di KPEI maka jelas bahwa pelaku gagal serah dan gagal bayar itu adalah AB, bukan investor. Karena itu, AB-lah yang bakal dikenai sanksi oleh KPEI maupun KSEI. Karena itu, AB perlu mencermati dan memastikan bahwa investornya bertransaksi sesuai dengan syarat yang ada: Investor beli punya uang dan investor jual punya saham. Jika prinsip ini dipegang teguh, tidak akan terjadi apa yang disebut dengan gagal serah dan atau gagal bayar. (Tim BEI)
(//wdi)

Wall Street
Senin, 12 September 2011 09:58 wib
okezone

WALL Street bukanlah kata yang asing di dunia finansial. Jika Anda buka Wikipedia maka di sana tertulis bahwa Wall Street sebenarnya sekadar nama sebuah jalan (Jalan Wall) di pinggiran Kota Manhattan, New York, yang membujur mulai dari Timur yaitu dari Broadway menuruni lembah ke arah South Street di East River, melewati pusat historis dari distrik keuangan Amerika yaitu Manhattan.

Namun, jalan itu bukan sekadar jalan biasa karena di sanalah terdapat Gedung Wall Street yang merupakan gedung permanen pertama dari New York Stock Exchange (NYSE). Banyak sekali bursa saham dan bursa perdagangan lainnya berkantor pusat di Wall Street dan di Distrik Keuangan (Financial District) termasuk NYSE, NASDAQ, AMEX, NYMEX, dan NYBOT. Tak ayal, Wall Street adalah sebuah tempat dimana di dalamnya terjadi transaksi keuangan yang nilainya mencapai miliaran dolar AS setiap hari. Tidak berlebihan jika Wall Street disebut sebagai sentral atau pusat keuangan dunia.

Wall Street sangat menentukan nasib jutaan manusia dan juga nasib puluhan bahkan ratusan perusahaan kakap dunia. Jika Wall Street terserang “flu” hingga bersin-bersin misalnya, maka bisa dipastikan banyak orang akan terkena efeknya. Para pelaku pasar di belahan dunia lain pasti akan merasakan getarannya. Indikator ekonomi negeri Paman Sam juga sangat mudah terbaca di Wall Street. Indikasinya, jika indeks saham di Wall Street turun dalam berarti ada sesuatu yang tidak beres di perekonomian AS. Sebaliknya, jika indeks di Wall Street mengalami kenaikan secara konsisten maka hal itu menggambarkan bahwa ekonomi negeri adidaya itu sedang bersinar cerah.

Di Wall Street ada banyak indikator saham yang seringkali menjadi acuan pelaku pasar dunia. Selain indeks NYSE sendiri, di sana ada indeks yang sangat terkenal di dunia yakni indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang terdiri dari 30 saham papan atas. Tidak ada yang ragu dengan kredibilitas indeks DJIA.

Ia selalu menjadi motor ataupun panutan bagi investor. Jika indeks DJIA terkoreksi maka biasanya saham-saham lain di NYSE dan bursa dunia juga ikut merosot. Tak terkecuali Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Begitupun jika indeks DJIA naik signifikan, maka indeks-indeks bursa regional juga akan terbawa-bawa naik. Selain DJIA, juga masih ada indeks S&P 500, berisi 500 jenis saham yang tercatat di NYSE.

Pengaruh Wall Street terhadap bursa-bursa regional dan negara berkembang (emerging market) seperti BEI memang cukup signifikan. Ini bisa dimaklumi, mengingat sektor keuangan negara adidaya itu memang tengah menjadi sorotan dunia. Ratingnya turun dari AAA menjadi AA+, harga saham sedang measuki fase bearish atau pelemahan yang banyak diperbincangkan orang. Paling tidak ada dua hal yang bisa dijabarkan disini. Pertama, suka tidak suka harus diakui bahwa selama ini aktifitas ekonomi dan tentu saja transaksi keuangan dunia didominasi oleh Amerika Serikat.

Lembaga-lembaga keuangan papan atas di dunia mayoritas bercokol di AS, seperti Merril Lynch, Goldman Sach, Citibank, American Express, Bank of America, Asuransi AIG dan masih banyak lagi yang bertebaran dengan nilai kekayaan ratusan miliar dolar AS. Mereka memiliki cabang-cabang hampir di seluruh dunia, termasuk negara berkembang seperti Indonesia. Lembaga keuangan itu mengelola dana dalam jumlah yang fantastis dan diinvestasikan di seluruh dunia.

Kedua, pasar saham di Wall Street selama ini memang menjadi pusat investasi sektor keuangan terbesar dunia. Berbagai produk keuangan diperdagangkan di sana. Hampir seluruh perusahaan besar dunia mencatatkan sahamnya di pasar saham Amerika Serikat. Ribuan perusahaan tercatat di sana. Investor memiliki pilihan investasi yang sangat beragam dan didukung oleh tehnologi canggih dan diatur oleh peraturan yang ketat. Dua BUMN Indonesia yang sahamnya tercatat dsn diperdagangkan di sana, yakni PT Telkom Tbk dan PT Indosat Tbk.

Dengan kapasitas seperti itu, apa yang terjadi di Wall Street sangat berpengaruh terhadap sektor keuangan dunia. Dan ketika Wall Street nyaris kolaps -seperti yang terjadi pada kuartal empat 2008 lalu- maka seluruh bursa efek dunia ikut kena getahnya. Indeks Harga Saham Gabungan di seluruh bursa dunia terpukul gara-gara anjloknya indeks saham di Wall Street. Dari sinilah mengapa berita soal kejatuhan Wall Street menjadi bahan perbincangan yang heboh. (Tim BEI)
(//wdi)

Selasa, 06/09/2011 16:55 WIB
‘Kongkalikong’ IPO KS, 8 Sekuritas Didenda Rp 1,35 Miliar
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengenakan sanksi kepada 8 perusahaan sekuritas yang dinilai melanggar peraturan mengenai aturan transaksi afiliasi pada penawaran saham perdana (IPO) PT Krakatau Steel Tbk (KS).

Kepala Biro Perundang-undangan Bapepam Robinson Simbolon memberikan data lengkap nama beserta jumlah sanksinya kepada detikFinance, Selasa (6/9/2011).

Sanksi dijatuhkan pada tiga perusahaan pelaksana emisi/Joint Lead Underwriter (JLU) dan lima perusahaan efek. Ketiga JLU tersebut yaitu:
PT Bahana Securities didenda Rp 100 juta
PT Danareksa Sekuritas didenda Rp 500 juta
PT Mandiri Sekuritas didenda Rp 500 juta
Sementara, kelima perusahaan efek lain masing-masing terkena dengan Rp 50 juta adalah:
Samuel Sekuritas
UOB Kay Hian Securities
Bapindo Bumi Sekuritas
Masindo Artha Sekuritas
Minna Padi Investama
Perusahaan-perusahaan yang terbukti melanggar peraturan Bapepam-LK tersebut akan dikenai sanksi berupa denda yang bervariasi. Bapepam-LK juga memberi batas waktu pembayaran denda paling lambat satu bulan setelah surat dikirim, yaitu pada 24 Agustus 2011 lalu.
(ang/dnl)

Harga Tidak Selalu Mencerminkan Nilai
Minggu, 28 Agustus 2011 11:18 wib
okezone

AGAR cerdas finansial, saya katakan Anda harus mampu membedakan antara nilai dan harga. Inilah prinsip dasar investasi.

Definisi sederhana saya untuk keduanya, nilai adalah what we get dan harga adalah what we pay. Sulitnya adalah harga ada di depan mata kita, sementara nilai bersifat unobservable. Dalam banyak kesempatan,harga sebuah aset mencerminkan nilainya. Dalam berinvestasi, kita ingin mencari aset apa pun yang nilainya di atas harganya.

Investor percaya bahwa dalam jangka panjang harga akan konvergen menuju nilainya. Namun, dalam jangka pendek harga tidak jarang berada di atas nilainya atau sebaliknya. Harga adalah konsensus para pelaku pasar mengenai nilai sebuah aset pada waktu tertentu. Karena terpengaruh sentimen pasar, investor dapat menjadi terlalu pesimistis atau terlalu optimistis.

Akibatnya, mereka bisa salah dalam menilai aset dan harga aset pun menyimpang dari nilainya sehingga tidak mencerminkan nilainya. Tidak berbeda dengan investasi, ketika ingin membeli barang dan jasa, kita juga menimbang antara nilai dan harga. Kita akan bersedia membeli sesuatu jika nilainya lebih besar daripada harganya atau mempunyai value for money yang tinggi dan menghindari barang yang nilainya di bawah harganya.

Menariknya, nilai suatu barang dan jasa untuk seseorang adalah relatif dan subjektif, tergantung daya beli, hobi, dan gaya hidup. Makan di restoran mewah atau di hotel bintang lima berharga ratusan ribu rupiah per orang bernilai sesuai untuk sebagian orang tetapi tidak untuk saya.

Sebaliknya,bepergian ke luar negeri sekeluarga satu-dua kali setahun memberikan nilai yang memadai untuk uang saya,walaupun biaya yang dibayarkan tidak sedikit. Tetapi,saya tidak mendapatkan value for money yang sama dari tiket pesawat kelas eksekutif atau sebuah mobil mewah. Di sisi lain, harga yang ditetapkan perusahaan atau penjual pun tidak selalu mencerminkan nilainya ataupun biaya produksinya.

Ada sekelompok barang dan jasa yang harganya ditetapkan mengikuti demand. Produk yang masuk kelompok ini adalah produk yang memiliki diferensiasi dengan sedikit atau bahkan tidak ada substitusinya.

Contohnya adalah biaya jalan tol. Jika di luar negeri biaya tol tidak pernah naik atau malah diturunkan, di sini ongkos tol justru dinaikkan.Untuk menarik investor baru dan karena tingginya permintaan, biaya tol kita dinaikkan setiap dua tahun mengikuti inflasi. Contoh ekstrem lain,kita juga menyaksikan banyak produk yang harganya beberapa kali lipat biaya produksinya.

Produk teknologi tinggi dan obat baru yang belum ada saingannya masuk kategori ini.Yang juga masuk kelompok ini adalah produk branded.Jika Anda membeli tas Hermes dan mobil Lamborghini misalnya, harga yang Anda bayarkan sebagian besar untuk membeli gengsi.

Produk ini sengaja dihargai tinggi di atas biayanya agar hanya terjangkau segelintir konsumen saja untuk identitas mereka sebagai kelompok atas yaitu segelintir orang yang berpunya. Karena mencari uang buat saya tidak semudah seperti pengusaha besar, saya pun tahu diri untuk menghindari produk-produk bermerek ini.

Boros Juga Baik

Jika ekonomi Anda juga belum masuk kelompok atas,mestinya Anda setuju dengan saya soal nilai produk super mahal. Namun, kita harus berterima kasih kepada kelompok atas yang bersedia mengoleksi produk- produk itu. Karena merekalah, mal-mal kelas atas seperti Plaza Indonesia, Plaza Senayan, dan Pondok Indah Mal 2 dapat terus bertahan.

Tanpa adanya orang-orang kaya yang boros, mal-mal di atas sangat mungkin harus turun kelas. Untuk dapat berputar cepat dan menciptakan banyak pekerjaan baru, perekonomian memerlukan orang-orang kaya yang royal dalam membelanjakan uangnya.

Masyarakat mampu yang jarang makan di luar, jarang rekreasi,dan hanya sesekali berbelanja di mal membuat ekonomi mengalir lambat. Intinya, untuk yang mampu,hemat dan irit itu tidak baik untuk perekonomian,walaupun mungkin baik untuk keluarga mereka.Kondisi ini dikenal sebagai paradox of thrifty.

Indahnya Perbedaan

Inilah indahnya kehidupan kita.Yang tidak kalah indahnya adalah perbedaan dalam kehidupan ini.Yang kaya harus berterima kasih kepada yang miskin dan yang bernasib kurang beruntung.

Karena sangat banyak orang berpenghasilan rendah, mereka yang berpenghasilan dua puluhan juta rupiah atau lebih per bulan di sini dapat julukan kaya dan mampu mempekerjakan pembantu rumah tangga dan sopir. Bayangkan apa yang terjadi jika hampir semua orang di negeri ini kaya seperti di negara maju.

Senada dengan ini, orang yang pintar dan berpendidikan tidak boleh sombong kepada yang bodoh atau kurang berpendidikan. Karena banyak yang kurang pintar, mereka disebut pandai atau berpendidikan sehingga layak memperoleh posisi terhormat di perusahaan dengan gaji besar.

Mereka yang mempunyai pekerjaan tetap harus menghargai belasan hingga puluhan juta orang di negeri ini yang kurang beruntung karena tidak berpenghasilan tetap.Karenanya, mereka mesti menciptakan pekerjaan sendiri agar dapat tetap hidup seperti berdagang kaki lima, buka warung di rumah,dan lainnya.

Tidak adanya tunjangan pengangguran atau bantuan sosial untuk para tunakarya membuat mereka tidak mampu ”menganggur”. Hanya orang yang kaya yaitu yang memiliki banyak aset/tabungan atau memiliki orang tua dan saudara yang bersedia ditumpangi yang mampu menganggur di negara kita. Menganggur adalah sesuatu yang ”mahal”.

Demikian juga dengan mereka yang dikaruniai wajah yang tampan dan cantik.Mereka mesti menghargai orang yang parasnya kurang menarik atau biasa-biasa saja. Yang mayoritas sebaiknya juga tidak memandang rendah minoritas.Karena ada minoritas, kelompok mayoritas mempunyai kepercayaan diri dan bargaining power yang lebih besar.

Kesimpulannya, hidup ini sangat indah karena banyaknya perbedaan di antara kita. Dengan semangat indahnya perbedaan ini, perkenankan saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H.

BUDI FRENSIDY Penasihat Investasi dan Penulis Buku Matematika Keuangan

(Koran SI/Koran SI/wdi)

Kilas balik: ‘Pesta’ dana murah di pasar modal

Oleh

Selasa, 23 Agustus 2011 | 05:06 WIB

bisnis indonesia

“Kalau ada yang murah, buat apa bayar lebih mahal?” Potongan iklan salah satu produk antinyamuk ini diamini betul oleh dunia usaha. Sektor korporasi pun berbondong-bondong mencari dana murah di pasar modal, jauh lebih murah dibandingkan ngutang ke bank.

Antusiasme “mengail” dana dari pasar modal itu bukan tanpa sebab. Aliran dana masuk ke pasar negara-negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia, yang kian deras sepanjang tahun ini menjadi pemantik keberanian dunia usaha untuk mengandalkan pasar modal sebagai sumber pendanaan.

Alhasil, hampir setiap hari di sepanjang tahun ini, lembaran prospektus ringkas dari perusahaan yang menawarkan saham maupun obligasi muncul di halaman surat kabar.

Sejumlah perusahaan tertutup memberanikan diri masuk ke pasar modal lewat penawaran umum perdana (IPO). Sejak awal tahun hingga 29 Desember 2010, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mencatat ada 22 perusahaan baru yang mencatatkan sahamnya di papan perdagangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Total dana yang diraup oleh 22 perusahaan tercatat atau emiten anyar ini mencapai Rp29,3 triliun, jauh lebih besar dibandingkan dengan dana yang diraup oleh 13 emiten baru pada tahun lalu yakni Rp4,08 triliun.

Bukan hanya emiten baru yang memanfaatkan kencangnya arus dana masuk (capital inflow) ke Indonesia sepanjang tahun ini, perusahaan tercatat yang sudah lama menghuni papan perdagangan BEI pun tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

Mengusung tema ekspansi maupun pembiayaan kembali (refinancing), 31 emiten menerbitkan saham baru (rights issue), baik dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau tanpa hak memesan efek terlebih dahulu.

Total dana yang diraup dari penjualan saham baru tersebut mencapai Rp48,67 triliun, melampaui total nilai IPO yang diterima oleh para emiten baru. Dibandingkan dengan total nilai rights issue tahun lalu yang hanya Rp15,67 triliun untuk 15 emiten, dana yang dihasilkan dari penerbitan saham baru pada tahun ini jelas spektakuler.

Penerbitan obligasi juga menjadi alat mencari dana segar murah yang jadi incaran dunia usaha, meskipun peningkatannya tidak setinggi perolehan dana lewat  IPO dan rights issue.

Total nilai emisi obligasi dari 24 perusahaan sepanjang tahun ini mencapai Rp35,4 triliun. Sepanjang 2009, ada 29 perusahaan yang menerbitkan obligasi dengan total emisi Rp31,09 triliun.

Dengan demikian, total dana yang dihimpun dunia usaha dari pasar modal sepanjang tahun ini mencapai Rp113,37 triliun, naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan Rp50,85 triliun pada tahun lalu.

“Ini sejarah. Total emisi tahun ini [dari sektor korporasi] mencapai Rp100 triliun. Belum lagi penerbitan obligasi negara [lewat pasar modal] yang mencapai Rp140 triliun,” kata Ketua Bapepam-LK A. Fuad Rahmany..

Dianggap bonus

Bagi dunia usaha, murahnya dana dari pasar modal memang bukan satu-satunya tujuan untuk terjun ke pasar modal.

Bryan Tilaar, Direktur Utama PT Martina Berto Tbk, salah satu calon emiten yang akan mencatatkan sahamnya awal tahun depan, menyebutkan tujuan go public adalah untuk membuat bisnisnya berkembang dan terus tumbuh.

“Kalau soal dana murah, bagi kami, itu hanya bonus dari IPO. Kami mau IPO memang bukan sekadar untuk murah-murahan dana,” ujarnya.

Pernyataan Bryan tersebut didukung oleh rencana penggunaan dana hasil IPO perseroan, di mana mayoritas dana akan dipakai untuk ekspansi. Hanya sekitar 20% atau Rp54 miliar yang dialokasikan untuk membayar utang.

Namun, berdasarkan prospektus yang diterbitkan oleh emiten maupun calon emiten, pembiyaan kembali (refinancing) memang menjadi salah satu dari tujuan penggunaan dana hasil emisi.

“Untuk penerbitan obligasi, kuponnya sekitar 300 basis poin di atas bunga deposito. Jadi, bisa 11%. Kalau rating-nya bagus, bisa 10-an persen,” ujar Harry Wiguna, Presdir PT Eagle Capital, perusahaan yang memberikan jasa konsultasi kepada korporasi.

Sekadar pembanding, mengacu pada prospektus ringkas IPO PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk yang diterbitkan pada Oktober lalu, perseroan memiliki utang dalam rupiah kepada bank dengan tingkat bunga yang dipatok 15% per tahun.

Utang itu merupakan salah satu yang akan dipercepat pelunasannya oleh Borneo dengan menggunakan dana hasil IPO.

Adapun, bagi Executive Chairman PT BW Plantation Tbk Tjipto Widodo, dana dari IPO merupakan salah satu pilihan terbaik untuk perusahaan yang memiliki visi untuk berkembang dan memerlukan dana investasi. “Karena tidak ada biaya interest [bunga].”

Untuk obligasi, penentuan waktu penerbitan yang tepat menjadi faktor penting bagi perusahaan. “Disamping keuntungan dari segi biaya, ada juga keuntungan lain [dari pendanaan lewat pasar modal], seperti image, keterbukaan, corporate planning yang lebih matang, pengembangan, dan lain sebagainya,” kata Tjipto.

Aliran dana

Sambutan pasar terhadap emiten pendatang baru maupun saham-saham baru dari emiten lama memang cukup antusias. Seperti sering disebut-sebut, aliran dana masuk (capital inflow) yang kian deras sepanjang tahun ini menjadi pendorongnya.

Mengutip Senior Economist Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan, sepanjang 9 bulan pertama tahun ini saja ada Rp115 triliun dana asing berbentuk hot money yang masuk ke Indonesia.

Mayoritas atau 64,3% dari dana tersebut mengalir ke surat utang Negara (SUN), 17,8% ke sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan 17,9% ke saham.

Soal aliran hot money yang kini mengundang kekhawatiran sejumlah pihak, apabila dana tersebut tiba-tiba ditarik keluar dari Indonesia, Ketua Bapepam-LK punya jawabannya.

“Kami sama sekali tidak khawatir. Kepemilikan asing di saham sebenarnya turun 10% dibandingkan posisi sebelum krisis ekonomi global. Kami yakin daya tahan bursa kita terhadap external shock jauh lebih tinggi,” kata Fuad yakin.

Menurut dia, investor domestiklah yang banyak berperan terhadap lajunya indeks harga saham gabungan (IHSG), yang pada penutupan bursa kemarin bertengger di level 3.733,5.

Di pasar modal, tahun ini memang ditutup dengan cerita manis. “Yang repot kalau indeksnya turun. Susah cari penjelasannya.” Demikian bisikan salah satu pejabat di pasar modal kepada rekannya, saat konferensi pers akhir tahun di gedung BEI kemarin siang. (yeni.simanjuntak@bisnis.co.id)

Manajemen Puncak
Senin, 22 Agustus 2011 10:30 wib
okezone

Adakah korelasi antara harga saham di pasar dengan manajemen puncak sebuah emiten? Sepintas sepertinya tidak ada korelasi. Bagaimana mungkin seorang direktur utama di sebuah emiten bisa langsung mempengaruhi atau menyebabkan perubahan harga saham di pasar?

Mungkinkah sang direktur melakukan intervensi di pasar? Kalau memang mungkin begitu, berapa besar dana yang dibutuhkan untuk melakukan intervensi? Dengan logika seperti ini memang tampak bahwa tidak ada korelasi antara manajemen puncak dengan perubahan harga saham di pasar.

Namun, dalam banyak penelitian menyebutkan bahwa manajemen puncak di perusahaan memiliki korelasi yang kuat dengan perkembangan harga saham perusahaan di pasar. Manajemen puncak seringkali juga diartikan sebagai pola kepemimpinan (leadership) yang sedang terjadi dalam perusahaan tersebut.

Bentuk korelasi itu tidak bisa digambarkan seperti logika di atas, dimana seorang direktur utama melakukan intervensi di pasar. Manajemen yang baik tidak pernah dan tidak akan pernah melakukan perbuatan intervensi pasar seperti itu. Hal semacam itu selain tidak memenuhi etika mekanisme pasar yang wajar, juga tidak etis dan berpotensi melanggar peraturan pasar modal.

Korelasi yang dimaksud di atas bisa dijelaskan dengan pola logika yang sistematis. Begini, manajemen puncak dimanapun sangat menentukan arah dan perkembangan sebuah perusahaan atau emiten. Hitam putih dari perusahaan sebenarnya sangat tergantung pada reputasi, kepiawaian dan kehandalan manajemen puncak dalam mengendalikan perusahaan. Akan dibawa kemana perusahaan, tergantung pada visi dari manajemen puncak yang mengendalikannya.

Banyak contoh bisa disimak bagaimana nasib sebuah perusahaan yang pola manajemennya amburadul, tidak tertata dengan baik, acak-acakan, tidak menerapkan good corporate governance (GCG) dengan baik dan cenderung semaunya sendiri. Pola manajemen seperti ini hampir bisa dipastikan akan kontraproduktif bagi perusahaan, kinerja perusahaan turun dan menurunkan minat investor untuk membeli sahamnya di pasar. Akibatnya harga saham akan turun.

Sebaliknya manajemen puncak yang solid yang dipimpin seorang visioner dengan leadership yang baik akan menumbuhkan produktifitas perusahaan. Pada gilirannya hal seperti ini akan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan, menaikkan penjualan dan keuntungan perusahaan.

Nah, ujungnya harga saham di pasar juga akan kena imbasnya. Jika laba perusahaan naik, maka ada kemungkinan dividen yang dibagikan ke pemegang saham juga meningkat. Karena itu minat untuk membeli saham perusahaan juga meningkat dan akhirnya harga saham juga ikut meningkat.

Seorang investor sukses mengatakan jika investasi di saham, hal pertama yang harus dipertimbangkan adalah manajemen perusahaan, ke dua manajemen perusahaan dan ke tiga manajemen perusahaan. Begitu seterusnya sampai yang ke lima. Sama halnya dengan jika investasi di properti, pertimbangan pertama sampai dengan ke lima adalah lokasi, lokasi, lokasi, lokasi, dan lokasi.

Salah satu contoh, saat ini tengah terjadi pada sebuah emiten yang bergerak di bidang pertambangan. Emiten ini memiliki kinerja dan reputasi yang sangat baik. Dari tahun ke tahun kinerja keuangannya selalu mengalami kenaikan. Investor juga senantiasa menikmati dividen yang lumayan tinggi. Kini, karena manajemen puncak sedang ada problem, imbasnya mengena pada harga saham.

Harga sahamnya terus mengalami penurunan yang cukup signifikan. Meskipun penurunan harga saham itu dipengaruhi banyak faktor, tapi faktor harmonisasi di tingkat menajemen ini dipandang sebagai salah satu faktor dominan.

Jika ditelisik lebih jauh akan ditemukan banyak sekali contoh emiten yang harga sahamnya naik stabil dari tahun ke tahun lantaran manajemen puncaknya bagus. Sebaliknya, ada juga deretan contoh emiten yang harga sahamnya stagnan, bahkan menjadi saham tidur (sleeping stock) lantaran manajemen puncaknya tidak bisa mengendalikan perusahaan dengan baik. (Tim BEI)
(//ade)

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga akhir Juli 2011 telah melakukan penghapusan pencatatan efek (delisting) terhadap tiga perusahaan tercatat, yaitu PT New Century Development Tbk (PTRA), PT Aqua Golden Mississipi Tbk (AQUA) dan PT Dynaplast Tbk (DYNA).

Dari data yang diperoleh IMQ disebutkan bahwa selain melakukan delisting pada 3 emiten tersebut, BEI juga mencatatkan 15 emiten baru yang telah listing di lantai bursa selama periode Januari- Juli 2011, yaitu PT Megapolitan Development Tbk (EMDE), PT Martina Berto Tbk (MBTO), PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS), PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), PT HD Finance Tbk (HDFA), PT Buana Listya Tama Tbk (BULL), PT Jaya Agra Wattie (JAWA), PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), PT Metropolitan Land Tbk (MTLA), PT Tifa Finance Tbk (TIFA), PT Alkindo Naratama Tbk (ALDO), PT Indo Straits (PTIS), PT Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU) dan PT Star Petrochem Tbk (STAR).

Untuk total dana yang berhasil dihimpun hingga akhir Juli 2011 tercatat sebesar Rp42,5 trilun, yang terdiri dari dana IPO sebesar Rp11,7 triliun, rights issue Rp30,4 triliun dan waran Rp374,8 miliar.

http://www.imq21.com/news/read/40281/20110812/104028/BEI-Delisting-3-Emiten.html

Sumber : IMQ JAKARTA
Pasar modal yang begitu dinamis dan memiliki banyak tantangan membuat Kepala Riset PT MNC Securities Edwin Sebayang jatuh cinta dengan dunia pasar modal.

“Bekerja di Financial Market sangat menantang dan sangat dinamis, alias tidak membosankan,” tutur Edwin kepada INILAH.COM.

Pria berkulit sawo matang ini mengaku sudah bergelut dengan dunia pasar modal selama tujuh tahun. Ia pertama kali berkarir di pasar modal sebagai analis saham di PT Evergreen Capital pada Februari 2002. “Di Evergreen, berbagai macam posisi pernah saya rasakan mulai dari equity hingga corporate finance,” ujar Edwin.

Setelah enam tahun berkarir di PT Evergreen Capital, Edwin pun menduduki posisi baru sebagai Head of Research di PT Finan Corpindo mulai Februari 2008 hingga Desember 2009.

Pria lulusan S2 University of Exeter-Inggris jurusan Keuangan ini juga rajin mengikuti training pasar uang dan pasar modal untuk mendukung karir di pasar keuangan. Edwin menuturkan, pasar modal yang berkembang begitu cepat dan penuh variasi menjadi daya tarik bekerja di dunia pasar modal.

Edwin pun bekerja sebagai Head of Research PT MNC Securities sejak Januari 2010 hingga sekarang. Selama berkarir di pasar modal, Ia kerap sedih apabila bursa saham turun. “Itu karena saya berempati terhadap posisi nasabah,” ujarnya.

Kendati demikian, Edwin mengaku lebih banyak mendapatkan rasa suka bekerja di pasar modal, ketimbang dukanya. Ia pun sering menjadi kontributor media massa mulai dari media elektronik, cetak dan online. Selain itu, Edwin juga menjadi kontributor media global, seperti Bloomberg dan Reuters.

Meski sibuk bekerja di pasar modal, Ayah dari satu putra ini selalu menyempatkan waktu berkumpul bersama keluarga pada akhir pekan. “Saya gunakan biasanya jalan bersama anak dan istri pada akhir pekan dengan pergi makan dan nonton. Sekali setahun diusahakan keluar negeri untuk mendapatkan suasana baru,” katanya.

Ia menilai, perkembangan pasar modal sekarang jauh lebih bagus, lebih besar dan transparan. Kendati tetap ada beberapa hal yang harus dibenahi untuk pasar modal, seperti transparansi pemeriksaan emiten dan hasilnya. “Selain itu, pasar modal sebaiknya memberikan edukasi lebih intensif terhadap calon investor agar jumlah investor bertambah lebih cepat.”

Ditanya tentang tokoh idolanya di pasar keuangan, Edwin merujuk pada Warren Buffet. Hal ini karena investor dan pengusaha kenamaan asal AS ini dinilai dapat melihat suatu target emiten yang akan dibeli dan dihasilkan, dengan capaian maksimal. “Warren juga jeli melihat emiten mana yang akan dibeli tanpa orang lain menyadarinya,”tutupnya.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1763681/jatuh-cinta-dengan-dunia-pasar-modal

Sumber : INILAH.COM
Account Payable (AP)
Senin, 8 Agustus 2011 10:35 wib

Dalam analisa laporan keuangan emiten atau perusahaan publik, seringkali ditemukan istilah account payable (AP). Istilah ini merupakan istilah dalam akuntansi yang menunjukkan kewajiban perusahaan yang timbul akibat transaksi yang dilakukan. Bahasa sederhananya adalah utang dagang, yakni utang yang ditimbulkan akibat adanya transaksi barang dan atau jasa.

Dari sudut pandang perusahaan, adanya AP adalah hal yang wajar dan normal. AP memperlihatkan adanya satu aktivitas perusahaan sesuai dengan bidangnya. Justru jika ada perusahaan yang tidak memiliki AP perlu dikritisi bagaimana mungkin itu bisa terjadi.

Sebab, dalam bisnis modern jarang sekali sebuah transaksi barang dan jasa dilakukan secara tunai, ada uang ada barang. Dalam bisnis modern, selalu ada periode atau masa tenggang untuk melakukan pembayaran atas transaksi dagang yang dilakukan. Dalam laporan keuangan, AP muncul sebagai kewajiban lancar.

Ilustrasinya begini. PT XYZ sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan kayu lapis. Dalam rangka ekspansi, XYZ akan membeli mesin baru yang diimpor dari luar negeri seharga USD5 juta. Dalam hal ini XYZ memiliki tiga opsi pembayaran yakni membayar secara langsung sekaligus, membayar dengan cara kredit atau mencicil dengan periode waktu yang sudah disepakati dengan pihak suplier dan opsi ketiga sebagian (misalnya 50 persen) dibayar tunai dan selebihnya dibayar dengan angsuran.

Pendek kata, banyak opsi pembayaran yang dimiliki XYZ. Nah, bagian atau sisa yang belum dibayar untuk membeli mesin tadi merupakan AP PT XYZ yang harus dibayar dalam waktu yang sudah ditentukan.

Dalam sebuah perusahaan, AP seperti yang digambarkan di atas tidak hanya satu jenis untuk pembelian mesin saja, tetapi terdiri dari banyak akun untuk pengadaan barang kebutuhan perusahaan lainnya. Bisa saja untuk pengadaan bahan baku, bahan pendukung, jasa konsultasi dan sebagainya. Biasanya, semakin kompleks organisasi dan struktur perusahaan semakin beragam AP yang harus dibayar oleh perusahaan.

Di perusahaan, besar kecilnya AP sangat menentukan terhadap likuiditas perusahaan. Manajemen keuangan perusahaan dituntut untuk senantiasa cermat dalam melakukan proses pembayaran. Mana AP yang perlu didahulukan dan mana yang masih bisa ditunda, tanpa melanggar komitmen dengan pihak ke tiga atau suplier.

Kelancaran dalam pembayaran AP ini juga ikut menentukan kredibilitas perusahaan. Jika perusahaan seringkali nunggak atau telat membayar AP ke suplier maka hal itu akan menimbulkan tanda tanya di benak suplier terhadap kondisi keuangan perusahaan.

Misalnya begini, dalam laporan keuangan perusahaan menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kas yang besar. Tapi di sisi lain, pembayaran AP-apalagi AP yang berkaitan langsung dengan kebutuhan bahan baku untuk produksi, seringkali telat, maka kondisi ini akan menimbulkan pertanyaan: benarkah perusahaan memiliki kas yang memadai? Mengapa perusahaan sering telat membayar AP dan sebagainya. Apa masalah sesungguhnya yang terjadi di perusahaan.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak akan muncul jika perusahaan membayar AP tepat waktu, sesuai term yang disepakati. Jika pembayaran AP harus dilakukan dalam tempo dua bulan misalnya, maka sebelum jatuh tempo AP tersebut sudah dibayar. Dengan begitu kredibilitas perusahaan tetap terjaga. (Tim BEI)
(//ade)

Selasa, 09/08/2011 17:27 WIB
Baru 8 Sekuritas Penuhi Aturan Transaksi Marjin
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Hanya delapan anggota bursa (AB) yang memenuhi ketentuan transaksi marjin seperti diatur Bursa Efek Indonesia (BEI), dari total 65 AB tercatat. Meski demikian, manajemen BEI yakin kualitas AB yang berhak mentransaksikan saham marjin akan meningkat di tahun mendatang.

Demikian disampaikan Direktur Pengawasan Transasksi dan Kepatuhan BEI, Uriep Budhi Prasetyo di kantornya, SCBD, Jakarta, Selasa (9/8/2011).

“Secara umum dari 65 AB, hanya ada delapan AB yang penuhi ketentuan. Ini terlihat dari buat bobot tingkat kepatuhannya. Sisa 50 lebih dalam rasio, kita pandang masih bisa dilakukan perbaikan,” ujarnya.

Menurutnya, hasil audit transaksi marjin terlihat standar kepatuhan dari seluruh AB membaik. Dimana semakin banyak ketentuan-ketentuan yang dipenuhi AB, sehingga bobot penilaian meningkat.

Meski menunjukkan tren kenaikan, namun tetap ditemui pelanggaran. Utamanya penyesuaian atas peraturan transaksi marjin baru, dan sistem back office. “Kita membina, dengan mendengar dari AB dan apa yang dilakukan AB. Belum ada peringatan selama belum mendekati rasio tertentu,” paparnya.

Ia pun menengaskan, masih ada tiga anggota bursa masuk dalam bobot terendah. Artinya, mereka belum siap mengimplementasikan aturan baru dalam transaksi marjin. “Mereka bulam siap secara sistem dan SOP. Tiga AB perlu consider situasional,” katanya.

Audit transaksi marjin memang dilakukan secara berkala oleh BEI. Komunikasi juga telah dilakukan otoritas kepada pelaku pasar, terkait sistem penyelesaian transaksi lima hari, juga bagi saham marjin yang keluar dari daftar pada bulan berikutnya.

Tercatat ada 49 poin pemeriksanaan transaksi marjin yang dikerjakan oleh BEI. Bursa melakukan audit terhadap sistem peringatan, serta laporan audit marjin oleh masing-masing AB. Transaksi marjin adalah fasilitas sistem perdagangan kepada AB, di mana investor bisa melakukan transaksi pembelian atau penjualan saham dengan nilai yang lebih besar dari nilai uang yang telah disetorkan kepada perusahaan sekuritas.

(wep/ang)

Selasa, 09/08/2011 17:56 WIB
Bursa Belum Tentu Disuspensi Meski IHSG Anjlok 10%
Ramdhania El Hida – detikFinance

Jakarta – Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) belum berniat melakukan suspensi terhadap perdagangan saham di pasar modal, meski akhir-akhir ini terjadi penurunan cukup tajam. Meskipun seandainya bursa jatuh lebih dari 10% Bapepam akan melakukan evaluasi terlebih dahulu.

Demikian disampaikan Kepala Bapepam-LK Nurhaida dalam jumpa pers di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa, (8/8/2011).

“Kalau indeks itu sudah turun dengan persentase tertentu, bursa akan konsultasi dengan Bapepam untuk lihat apakah ini bisa disuspen atau tidak,” katanya.

“Intinya yang ada kalau turun kita kurang lebih di 10% tapi tidak otomatis bursa bisa suspen. Kita lihat dulu dampaknya apa dan sejauh apa dampaknya ke market kita. Kondisi beberapa hari terakhir ini. Bursa negara-negara lain 17% juga tidak suspen,” tambahnya.

Ia mengatakan, suspensi tersebut juga bisa bermacam, mulai dari suspen beberapa saat yang sifatnya hanya untuk cooling down sampai sepanjang satu sesi perdagangan. Suspen tergantung dampak yang terpantau di pasar.

Nurhaida menambahkan, kondisi pasar modal dalam negeri saat ini jauh berbeda dengan tahun 2008 lalu. Belajar dari pengalaman, Bapepam sudah mengubah beberapa aturan yang akan menguntungkan pasar di masa krisis.

“Tapi kondisi saat ini belum diperlukan. Namun yang sudah diantisipasi, disiapkan, dilakukan bursa ada beberapa hal misalnya bisa auto rejection diubah parameternya. Kembali lagi tergantung kondisi,” ujarnya.

Menurutnya, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) juga bisa mengubah trading limit jika terjadi risiko yang tinggi. Selain itu batas trading masing-masing broker juga bisa disesuaikan.

“Sudah dipersiapkan, tapi akan lihat bersama-bersama regulator dan SRO kapan hal-hal ini perlu diterapkan,” ungkapnya.

(ang/dnl)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s