1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

indonesia2012, ANALISIS (3) 30 November 2011

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 1:36 pm

KRISIS EROPA: Ekspansi sekarang, bukan besok

Oleh Arief Budisusilo

Selasa, 29 November 2011 | 23:14 WIB
bisnis indonesia

Jika belakangan ini di Amerika Serikat, tepatnya di New York, sekelompok orang terus berteriak Occupy Wall Street, mereka tentu punya alasan.

Bukan pula kebetulan, bilamana akhir-akhir ini mulai dicibir pula masa depan Uni Eropa, padahal telah berhasil menyatukan 17 perekonomian di kawasan makmur itu dengan mata uang tunggal, euro.

Wall Street telah dianggap gagal oleh segelintir orang, yang menilai simbol kapitalisme itu sebagai biang keladi bagi jutaan orang yang terpaksa kehilangan pekerjaan di Amerika Serikat beberapa tahun terakhir ini.

Sebagai institusi yang menjadi salah satu instrumen mekanisme pasar, New York Stock Exchange, yang kondang dengan sebutan Wall Street, dinilai tak mampu mempertahankan eksistensi dan koeksistensinya dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Wall Street tetap floating. Namun, isunya adalah stabilitas versus volatilitas. Ada gejolak dari waktu ke waktu, yang kini frekuensinya makin cepat dan sering. Di masa lalu, tentu kita ingat krisis semacam itu terjadi paling tidak 30 tahun sekali, lalu belakangan setiap dekade, dan kini bahkan nyaris tiap tiga atau lima tahun terjadi gelombang krisis. Catatan terakhir bisa dilihat, krisis global selama dekade terakhir ini terjadi pada 2005, 2008, dan terakhir 2011.

Maka, jadi masuk akal, kapitalisme yang berjalan di atas jalan tol globalisasi telah dituduh sebagai biang keladi gejolak perekonomian. Tak heran jika kemudian sebagian orang, bahkan di Amerika sendiri, mulai membenci Wall Street yang dianggap sebagai simbol kapitalisme yang tak ber-Tuhan.

Repotnya, kegagalan Wall Street kemudian ditransmisikan ke dalam perekonomian dan kehidupan sehari-hari warga AS dan warga dunia, lewat apa yang disebut “flow of capital” yang memengaruhi banyak aspek kehidupan ekonomi dan bisnis global.

Maka, ketika banyak warga AS dan Eropa bahkan dunia kehilangan pekerjaan, Wall Street menjadi sasaran kemarahan.

Di Eropa begitu rupa, dengan kadar yang berbeda. Bahkan boleh jadi, krisis Eropa bakal lebih berat daripada AS, karena absennya konsensus politik. Uniknya, tidak ada disain politik yang disiapkan sejak awal untuk menopang integrasi kawasan Uni Eropa itu.

Anda tentu bisa bayangkan, bagaimana Eropa mengatasi krisis utang pemerintahan, sementara tidak ada kebijakan (policy) tunggal dalam manajemen fiskalnya?

Ada, bahkan, guyonan kalangan terbatas yang mengatakan jangan berharap Eropa bisa lebih stabil sepanjang state budget-nya masih dikelola oleh 17 pemerintahan, dengan selera yang berbeda-beda, dan latar belakang politik yang begitu beragam.

KRISIS JUSTRU DIPERLUKAN?

Maka saya tidak heran tatkala mendengar Faisal Basri, pengajar politik ekonomi Universitas Indonesia, yang tengah berburu tiket untuk calon Gubernur DKI Jakarta, menyitir situasi krisis global –yang dipicu Amerika dan Eropa—akhir-akhir ini sebagai bentuk pemaksa supaya dunia melakukan penyesuaian.

Merujuk dua krisis terakhir, yakni 2008 dan 2011, pelajaran berharga pantas dipetik. Yang pertama tahun 2008, adalah kegagalan sektor swasta, yang menyebabkan bangkrutnya Lehman Brothers. Kedua krisis 2011, yang disebut sebagai kegagalan pemerintahan (government failure/sovereign debt), namun Yunani tetap ada, tidak bangkrut, tulis Faisal.

Maka sampailah ia pada tesis bahwa keterbukaan dan demokratisasi menjadi persyaratan penting bagi berjalannya kapitalisme yang berbasis mekanisme pasar. “Kapitalisme hanya kompatibel dengan demokrasi,” ujar Faisal saat ditanggap sebagai pembicara bersama Anggito Abimanyu pada Permata Bank Economic Outlook 2012, baru-baru ini.

Lantas mengapa kapitalisme seolah-olah jahat? Merujuk pendapat Faisal, sistem pasar kerap menyediakan situasi yang melahirkan perilaku binatang, di mana ketika orang baik berkumpul dipicu satu orang jahat, maka sangat terbuka peluang menjadi jahat semua. Oleh sebab itu, barangkali krisis justru diperlukan supaya ada mekanisme teguran.

Memakai analogi teologis, Faisal mengatakan bahwa kapitalisme tanpa krisis ibarat agama tanpa neraka. “Kalau tidak ada takut neraka, nggak ada agama. Ada neraka saja kita masih ugal-ugalan,” tutur Faisal.

Jadi, bersiaplah untuk semakin akrab dengan krisis.

PENYESUAIAN SEPANJANG HAYAT

Berbasis analogi Faisal, krisis global belakangan ini hendaknya dilihat sebagai pendorong penyesuaian kerkesinambungan. Seperti beribadah sepanjang waktu, agar tidak terbakar api neraka, begitulah kira-kira.

Lantas, penyesuaian seperti apa yang diperlukan?

Bagi Amerika, krisis bisa jadi melahirkan peluang baru melalui apa yang disitir sebagai “wisdom ekonomi, wisdom intelektual, dan wisdom politik” untuk menghasilkan solusi. “AS kan pusat inovasi,” ujar Faisal.

Eropa bagaimana? Krisis utang Yunani telah menelan korban politik, dengan mundurnya Perdana Menteri Papandreou, begitu pula di Italia yang memaksa penguasa flamboyan Silvio Berlusconi angkat kaki dari kantor yang telah dikuasainya selama 17 tahun, rezim terlama di Italia pasca pemerintahan diktator di era Perang Dunia II.

Banyak pihak mengira, memberikan pertolongan kepada Yunani yang menjadi episentrum krisis Eropa akibat kecerobohan anggaran yang dibebani utang yang besar akan menolong Eropa secara keseluruhan.

Terlebih lagi bagi Italia, yang memiliki eksposur utang empat kali lipat lebih besar daripada Yunani. Malah, Italia juga memiliki eksposur utang ke bank-bank di Prancis dan Jerman. Maka tidak heran jika Prancis dan Jerman getol untuk membantu Italia, karena tidak imgin terpapar krisis utang yang menghantui sektor perbankannya.

Namun sampai kapan krisis Eropa ini akan berakhir?

Tidak ada yang berani tegas menjawab pertanyaan ini. Banyak kalangan di dunia tidak yakin Eropa akan tuntas dengan segera. Pakar di China menilai paling cepat lima tahun. Bahkan Lee Kuan Yew, mantan perdana menteri yang kini sesepuh menteri di Singapura, menduga akan lebih dari tujuh tahun.

Jadi, jika merujuk beberapa perkiraan itu, rasanya tidak terlalu relevan lagi membicarakan kapan krisis Eropa selesai.

Apalagi, beberapa negara yang memiliki amunisi kuat seperti China tampak jual mahal membantu Eropa. Mungkin China ingin Eropa benar-benar berubah lebih drastis, atau memiliki komitmen internal untuk melakukan penyesuaian diri.

Terlebih lagi, banyak kalangan juga meyakini “the worst is not started yet”. Ada beberapa faktor yang bisa dirujuk, mengutip penjelasan Anggito Abimanyu:

Pertama, Pada September 2011 lalu, World Economic Outlook IMF menyebutkan prospek ekonomi global saat ini berada pada “fase berbahaya baru”.

Kedua, aktivitas gloval terus melemah, tingkat kepercayaan merosot tajam, dan risiko turun (downside risks) sedang terjadi.

Ketiga, kerapuhan struktural di berbagai negara (dan kawasan) saat ini belum terpecahkan.

Keempat, kenaikan harga komoditas dan defisit anggaran yang besar di berbagai negara.

Kelima, pemulihan global melemah, terutama di negara maju, yang meningkatkan angka pengangguran pada level yang sulit ditoleransi.

Keenam, suhu pasar finansial terus meningkat akibat risiko utang pemerintah di Eropa.

Ketujuh, tanda-tanda gejolak mulai tampak di emerging markets. Kenaikan harga komoditas telah menghambat pertumbuhan dan memukul perekonomian yang rentan. Volatilitas nilai tukar mata uang telah menciptakan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi global dan stabilitas finansial.

Sejumlah faktor itu, bagaimanapun, terlalu penting untuk tidak dipertimbangkan.

BAGAIMANA DENGAN INDONESIA?

Indonesia tampaknya cukup lega dengan situasi ekonomi yang berkembang akhir-akhir ini. Kendati krisis global berkecamuk, perekonomian tetap tumbuh dengan meyakinkan, di atas 6% tahun ini. Hingga kuartal ketiga tahun ini, perekonomian mampu tumbuh 6,5%.

Tidak hanya itu, rapor pasar modal Indonesia termasuk yang terbaik saat ini. Ibaratnya, meskipun menurun sebenarnya cuma terpeleset, tidak sampai terjungkal jika dibandingkan dengan rapor negara lain.

Potret mata uang rupiah juga solid, didukung cadangan devisa yang terus meningkat, yang saat ini lebih dari US$120 miliar. Bandingkan dengan jumlah cadangan devisa yang hanya US$60 miliar pada 2008 silam.

Namun apakah itu semua membuat kita puas? Seharusnya tidak. Justru banyak pelaku usaha dan pelaku ekonomi kini merasa, kinerja perekonomian Indonesia itu sesungguhnya masih berada di bawah potensinya.

Apalagi, ada kecemasan bahwa figur ekonomi Indonesia bisa saja tergerus jika eskalasi krisis global saat ini, yang lebih menyerang sektor pemerintahan, merambah ke sektor privat terutama finansial.

Maka, langkah antisipasi hendaknya dipikirkan sungguh-sungguh. Jangan sampai kita kaget karena serangan fundamental yang tiba-tiba, seperti ambruknya jembatan Mahakam di Kutai Kartanegara.

Apa saja yang diperlukan? Konsensus di kalangan ekonom meyakini langkah utama adalah perlunya memperbarui effort untuk melakukan reorientasi kebijakan dari “orientasi global” ke “orientasi domestik”.

Langah itu diperlukan mengingat krisis global paling tidak ditransmisikan ke dalam dua aktivitas transaksi ekonomi: perdagangan dan flow of capital. Anda bisa mengamati, negara yang memiliki orientasi global besar, akan terpukul oleh situasi saat ini, begitu sebaliknya.

Apalagi ekonomi Indonesia saat ini tengah dihiasi oleh kabar baik berupa permintaan domestik yang tinggi, didorong oleh pertumbuhan kelas menengah yang besar. Lebih dari 40 juta kelas menengah Indonesia memiliki daya beli tinggi, selain struktur demografis yang didominasi usia produktif.

Fakta makroekonomi lain yang menonjol adalah tingkat pendapatan perkapita yang telah melampai US$3.200, yang diyakini akan kian memperkuat lompatan ekonomi ke depan.

Berdasarkan pengalaman berbagai negara, kenaikan pendapatan per kapita akan terus berkelanjutan saat sudah melampaui US$3.000 per kapita, yang dengan mudah menembus US$5.000 per kapita. Begitu kira-kira, yang berarti daya pompa terhadap daya beli akan terus meningkat, bahkan melonjak.

Di sisi pengelolaan moneter, Bank Indonesia kini semakin prudent sekaligus agresif. Tingkat inflasi yang rendah, didukung keberanian untuk menjaga tingkat bunga yang rendah, adalah modal moneter yang penting untuk terus melakukan ekspansi, dan menjaga fleksibilitas daya beli.

Tidak kalah penting adalah pengelolaan fiskal. Ruang untuk ekspansi anggaran diyakini tersedia luas. Bahkan, banyak mata anggaran untuk kementerian dialokasikan dalam jumlah yang besar, namun cenderung hanya mampu menghabis-habiskan (jika tidak disebut menghambur-hamburkan) pada seperempat penghujung tahun alias dibelanjakan di bulan-bulan akhir.

Namun terlepas dari kabar baik tersebut, kabar buruknya adalah lemahnya respons pemerintah dalam mengantisipasi krisis.

Salah satu contoh adalah masih tingginya komponen subsidi dalam anggaran, khususnya subsidi bahan bakar yang dinikmati bukan oleh orang-orang yang sesungguhnya membutuhkan. Sayangnya, tidak ada keberanian pemerintah untuk menghapuskan subsidi bahan bakar ini, untuk ditransformasikan ke dalam bentuk subsidi lain yang lebih tepat sasaran.

Isu subsidi merupakan risiko fiskal yang bisa menjadi bom waktu dan warisan buruk bagi pemerintahan yang akan datang jika tidak dipecahkan sekarang. Apalagi, beberapa perkiraan menyebutkan dalam beberapa tahun lagi subsidi bahan bakar bisa meledak hingga mencapai Rp250 triliun. Ini ironis dengan subsidi benih untuk petani yang hanya puluhan miliar rupiah. “Itu hanya terjadi pada pemerintah yang tidak peduli rakyat,” begitu kegundahan Faisal Basri dalam berbagai kesempatan.

Sayangnya pula, meminjam Anggito Abimanyu, “mood untuk menaikkan harga BBM [salah satu cara menghapuskan subsidi] nggak ada.”

Padahal, merujuk Faisal, langkah pengendalian konsumsi bahan bakar yang dipilih pemerintah seperti saat ini, “tidak ada ilmunya.” Dengan kata lain tidak akan efektif.

Seharusnyalah, pemerintahan memiliki mood krisis, dengan menyiapkan segala instrumen untuk semakin memperkuat ketahanan ekonomi.

Tak perlu bilang fundamental ekonomi kuat, tetapi pemerintah cukup menyampaikan langkah-langkah yang konkret. “Tak perlu defensive effort, yang penting instrument to prevent,” merujuk Anggito.

Satu lagi, kita membutuhkan –saya lebih suka menyebutnya—“instrument to action”. Mengapa? Indonesia mengantongi modal kepercayaan yang kuat. Defisit anggaran yang kecil, disertai rasio utang yang rendah relatif terhadap GDP, merupakan kekuatan besar untuk dikapitalisasi. Mengapa tidak berani lebih ekspansif, dengan tetap menjunjung tingga perilaku yang prudent?

Terlebih lagi salah satu kebutuhan kita adalah infrastruktur dasar bagi perekonomian: jalan tol, jembatan, jalur kereta api, pelabuhan, bandar udara, dan moda interkoneksi yang lain bagi jejaring perekonomian. Mumpung rasio utang Indonesia rendah, mengapa pemerintah tidak ngebut sekarang; meminjam bagi investasi infrastruktur nasional?

Bukankah urgensi ketersediaan infrastruktur sudah sering digembar-gemborkan sebagai kebutuhan mutlak untuk daya saing ekonomi nasional ke depan?

Maka saya senang dengan pernyataan Anggito Abimanyu ini: “Inilah saatnya untuk ekspansi. Indonesia is darling of world economy sekarang ini. Manfaatkan saja. It’s now, not tomorrow.” Setujukah, Anda? (arief.budisusilo@bisnis.co.id)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s