1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

INDONESIA2012, analisis (16) 23 Desember 2011

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 8:54 am

Kamis, 22 Desember 2011 | 11:00 oleh Anastasia Lilin Y
KIAT INVESTASI
Anak nyaman berkuliah, investasi pun merekah
KONTAN

JAKARTA. Impian kadang tidak selalu menjadi kenyataan. Namun, lebih baik jika kita merancang masa depan kita sejak sekarang ketimbang berjalan tanpa tujuan.

Prinsip ini pun berlaku bagi pendidikan anak kita kelak. Lebih baik sedini mungkin kita mempersiapkan biaya pendidikan mereka. Nah, agar bisa mendekati biaya yang mereka butuhkan kelak, kita mesti menggunakan asumsi. Ini dimulai dengan memperkirakan universitas yang menjadi tujuan belajar anak kita.

Ya, memang, belum tentu kelak anak kita masuk ke universitas tersebut. Tapi, dengan menetapkan target universitas dan bidang studinya, setidaknya kita akan membayangkan biayanya. Biaya pendidikan ini tak melulu biaya masuk, biaya kuliah per tahun, serta buku-buku. Ada biaya di luar itu, yakni biaya hidup yang meliputi makan dan transportasi. Biaya akan bertambah jika universitas yang menjadi pilihan berada di luar kota atau bahkan luar negeri.

Ada beragam pilihan tempat untuk tinggal anak yang jauh dari orangtuanya. Sebutlah asrama, indekos, rumah kontrak-an, atau bisa juga apartemen. Bukan kebetulan, saat ini banyak pengembang membangun apartemen yang khusus membidik pasar mahasiswa, terutama di kota-kota besar semacam Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Ambil contoh, di Surabaya ada apartemen High Point yang dikembangkan oleh PT Sambandha Wahana Development. Apartemen ini terletak di Jalan Siwalankerto, tak jauh dari Universitas Kristen Petra (UK Petra) dan Universitas Pelita Harapan (UPH) Surabaya. “UK Petra sebagai universitas swasta terbesar di Surabaya adalah pasar potensial,” ujar Juli Karyanto, Building Manager Sambandha Wahana Development.

Meski menyasar mahasiswa, harga jual unit apartemen High Point bukanlah harga bagi kantong pelajar. Ketika dipasarkan awal 2009, satu unit apartemen tipe studio seluas 24 meter persegi (m2) dihargai sekitar ?Rp 216 juta. Kini, harganya sudah berkisar Rp 384 juta. Selain tipe studio, ada tiga tipe lain yang lebih besar: satu kamar, dua kamar, dan tiga kamar. Masing-masing seluas 24 m2, 36 m2-44 m2, 46 m2–77 m2, dan 99 m2.

Dari 324 unit yang dibangun, Sambandha mempertahankan 40 unit untuk disewakan. Selebihnya dilepas ke pembeli. Meski mengusung konsep student apartement, Sambandha pun tidak membatasi tipe pembelinya. “Sebanyak 70% pembelinya adalah investor. Barulah sisanya orangtua mahasiswa dan masyarakat umum,” beber Juli.

Pemain lain yang juga tergiur menggarap pasar mahasiswa adalah PT Ciputra Surya Tbk. Anak kandung Grup Ciputra ini mengembangkan proyek Universitas Ciputra Apartement (UC Apartement) sejak 2008 di Surabaya juga. Mengenai pasar, Ciputra Surya tidak perlu repot mencari. Pasalnya, UC Apartement berada di satu lokasi dengan Universitas Ciputra.

Seperti halnya Swambandha, Ciputra Surya memperbolehkan siapa saja membeli unit apartemennya. Kini, satu tower bernama Barkeley yang terdiri dari 504 unit apartemen memiliki tingkat hunian lebih dari separonya. Direktur Ciputra Surya Sutoto bilang, karena menyasar mahasiswa, 90% unit apartemen ini bertipe studio.

Pertimbangan biaya

Nah, di antara pilihan tempat tinggal sementara tadi, asrama boleh jadi yang paling hemat dari sisi bujet. Tapi, tidak semua universitas menyediakan asrama. Sudah begitu, belum tentu, si anak nyaman berada di asrama. Pertanyaan bagi orangtua, apakah membeli apartemen memang pilihan tepat untuk tempat tinggal anak Anda? Atau, lebih baik sewa saja apartemen, rumah, atau indekos?

Senior Financial Planner dari Akbar’s Financial Check Up Lisa Soemarto berpendapat, jika dana yang dianggarkan untuk biaya akomodasi lebih dari Rp 200 juta, membeli apartemen di dekat kampus bisa menjadi pilihan. Lisa mengatakan, pilihan untuk membeli apartemen atau merencanakan biaya indekos sangat bergantung pada kemampuan keuangan masing-masing keluarga.

Namun, ketika membeli apartemen jadi pilihan, Lisa mewanti-wanti soal angsuran kredit pemilikan apartemen (KPA) tiap bulannya. “Jika digabung dengan cicilan lain, jangan sampai lebih dari 30% dari total pendapatan keluarga,” ujarnya.

Managing Director Independent Financial Planner One Consulting M. Andoko menambahkan, baik indekos maupun membeli apartemen memiliki keuntungan dan kerugian. Dilihat dari segi biaya, biaya indekos lebih murah ketimbang membeli apartemen. Tapi, uang yang disetor hilang begitu saja. Sementara jika membeli apartemen, Anda akan menikmati kenaikan harga (capital gain) dan jika tak lagi dipakai, Anda bisa menyewakannya. Itu berarti, ada peluang meraih pendapatan pasif (passive income).

Namun, tentu saja, Anda harus menyisihkan dana lebih banyak jika ingin membeli apartemen. Lisa membandingkan antara indekos dan membeli apartemen, dana yang mesti persiapkan bisa selisih sekitar Rp 1 juta lebih saban bulan (lihat tabel simulasi).

Pilihan investasi

Andoko menambahkan, agar lebih efisien dan terukur, sebaiknya dana itu diinvestasikan di satu keranjang investasi. Ada beberapa jenis instrumen investasi yang bisa Anda pilih untuk merencakan biaya pendidikan.

Tabungan pendidikan

Kelebihan tabungan adalah nilai pokoknya tidak akan turun. Produk ini cocok bagi investor konservatif. Tapi, Andoko bilang, instrumen ini lebih cocok untuk kebutuhan dana pendidikan anak jangka pendek. Untuk jangka panjang, imbal hasilnya tidak optimal karena hanya 5%–8% per tahun.

Kelebihan lain, instrumen ini kadang dikombinasikan dengan produk asuransi yang memberi manfaat bila si nasabah meninggal, tertanggung akan mendapat uang pertanggungan.

Reksadana

Kelebihan reksadana, dengan modal yang relatif kecil, investor berkesempatan mendapatkan return relatif besar. Jangka waktu jadi faktor penting dalam menentukan jenis reksadana. Jika anak baru kuliah 12 tahun–17 tahun lagi, saran Andoko, orangtua memilih reksadana saham karena memberikan return rata-rata 12%–20% per tahun.

Tapi, jika jangka waktu investasi hanya 6 tahun–12 tahun, orangtua bisa memilih reksadana campuran yang secara historis memberikan return 10%–15%. “Kelemahan produk ini, nilai pokok uang yang kita setorkan bisa naik turun sesuai kondisi market,” ujarnya.

Saham

Masyarakat kita memang belum lazim memakai saham sebagai wadah persiapan dana pendidikan anak. Maklum, banyak yang masih awam dengan instrumen ini. Padahal, saham berpotensi menghasilkan return tertinggi dibanding dengan investasi lain. Cuma, memang ada risiko dana investasi awal Anda tergerus jika harga saham pilihan Anda anjlok.

Asuransi

Kelebihan asuransi yang tidak dimiliki instrumen investasi lain, seperti tabungan, reksadana, ataupun saham, yakni bila nasabah atau orangtua meninggal, iuran preminya bisa terus berjalan sesuai dengan kontrak dalam polis asuransi.

Dengan asuransi, nilai investasi setiap bulan akan berjalan terus sesuai kontrak polis, misalnya 14 tahun. “Kelemahan produk ini, bila tidak bisa membayar premi sampai masa kontrak selesai, nilai tunai asuransinya sangat kecil jika dibanding premi yang dibayar atau polis hangus,” ujar Andoko.

Nah, selamat menyusun rencana. Semakin dini Anda memulainya, hasilnya akan semakin maksi.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s