1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

gelaaa(dana inve$tor)aap … 170412 15 Maret 2012

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 7:51 am

Jika sudah siap, kami akan lakukan pengecekan dan kemudian di uji coba, sebelum akhirnya kami berikan izin live

Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah memproses 19 pengajuan izin online trading dan 2 otomatic order yang diajukan oleh Anggota Bursa (AB).

Otoritas bursa mengaku telah menerima dokumen pengajuan dari para AB tersebut, dan kini tengah menanti proses pengembangan sistem yang dilakukan oleh perusahaan efek yang bersangkutan.

“Jika sudah siap, kami akan lakukan pengecekan dan kemudian di uji coba, sebelum akhirnya kami berikan izin live. Kami rasa prosesnya tidak akan lama, mudah-mudahan tahun ini sudah dapat berjalan semua,” ujar Adikin Basirun Direktur Teknologi Informasi Bursa Efek Indonesia, dalam wawancaranya, di Jakarta, hari ini.

Meski begitu, pihaknya tidak dapat memastikan kapan dan berapa lama izin tersebut dapat keluar. “Semua bergantung pada kesiapan dan pengembangan AB, kami sifatnya hanya administratif saja,” lanjut Adikin.

Hingga saat ini, sudah ada 59 AB yang memiliki izin online trading dan 14 AB yang memperoleh izin otomatic order serta 14 AB yang diperbolehkan menggunakan Direct Market Access (DMA).

“Kedepan, jumlahnya kami perkirakan akan lebih banyak, karena penerapan online trading, DMA dan otomatic trading juga terkait efisiensi yang dapat dilakukan oleh perusahaan efek,” tutup Adikin.

http://www.beritasatu.com/ekonomi/42974-bursa-efek-indonesia-proses-19-izin-online-trading.html

Sumber : BERITASATU.COM
Sebanyak empat AB belum menyampaikan laporan keuangan 2011 dari 114 AB aktif di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sepanjang 2011, ada 41 perusahaan efek Anggota Bursa (AB) atau 37 persen dari total AB aktif di Bursa Efek Indonesia (BEI) menderita kerugian. Penerapan aturan baru Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) menjadi pemicunya.

Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Uriep Budhi Prasetyo mengungkapkan, dari total 110 AB yang menyampaikan laporan keuangan, sebanyak 69 AB atau 63 persen mencatat laba bersih. “Sementara sisanya sebanyak 41 AB tercatat mengalami rugi bersih,” kaat Urip di Jakarta, hari ini.

Uriep mengakui, jumlah AB yang mengalami kerugian pada 2011 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2010, dari 113 AB yang menyerahkan laporan keuangan, tercatat 25 AB mengalami kerugian dan 88 AB mencetak laba bersih.

Neiknya jumlah AB yang menderita kerugian pada 2011 dibanding tahun 2010 akibat aturan baru yang soal MKBD. “Mungkin karena ada perubahan komposisi MKBD, di bulan Februari ada aturan MKBD baru sehingga perusahaan merubah komposisi portofolionya,” katanya,

Hal ini diperburuk dengan kondisi market yang kurang kondusif pada 2011 silam. “Kalau kita lihat di Agustus kemarin terjadi penurunan indeks,” kaat Urip

Salah satu masalah akibat aturan baru MKBD adalah dana nasabah yang dikembalikan ke Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) karena belum adanya rekening dana terpisah. Kebijakan ini mempengaruhi penghitungan MKBD sehingga berpengaruh pada kinerja.

Namun Uriep optimis, pada 2012 kinerja keuangan AB akan meningkat. Selain sudah yang menyesuaikan diri dengan aturan MKBD baru, adanya emiten-emiten baru dan jumlah investor yang terus meningkat juga menjadi pendorong kinerja AB. “Harusnya tumbuh positif,” ujarnya.

Sementara Urip juga mengungkapkan, sebanyak empat belum menyampaikan laporan keuangan 2011 dari 114 AB aktif di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sayangnya, doa enggan memaparkan nama-nama keempat AB tersebut. Sebagai informasi, saat ini tercatat ada 125 AB di bursa efek, dari jumlah tersebut, yang aktif ada 114 AB.

http://www.beritasatu.com/ekonomi/42959-37-persen-ab-tekor-akibat-aturan-baru-mkbd.html

Sumber : BERITASATU.COM
JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat dari 114 Anggota Bursa (AB) yang aktif di pasar modal, 110 di antaranya menyampaikan laporan keuangan 2011 tepat waktu. Ini berarti, sebanyak 96,49 persen AB telah melaporkan laporan keuangannya tepat waktu.

Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Anggota Bursa BEI Uriep Budi Prasetyo menyampaikan, dari total 110 yang tepat waktu tersebut, 41 di antaranya tercatat mengalami rugi bersih. Serta sisanya sebanyak 69 perusahaan tercatat mengantongi laba.

“Jumlah yang mencatat laba mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya pada 2010,” katanya saat ditemui seusai pembukaan perdagangan di Galeri BEI, Jakarta, Selasa (17/4/2012).

Pada 2010, jumlah AB yang mengantongi laba memang lebih banyak yaitu sekira 88 AB. Sementara itu, untuk AB yang merugi tercatat lebih kecil yaitu sebesar 25 AB.

Dia memaparkan, ada beberapa faktor terkait dengan semakin menurunnya jumlah AB yang mengalami laba. “Kalau dilihat, Agustus 2011 kan ada penurunan indeks,” akunya.

Adapun faktor lain yang bisa menjadi salah satu penyebab, adalah adanya komposisi Modal Dasar Bersih Disesuaikan (MKBD). “Jadi perusahaan mulai mengubah komposisi portofolionya, tapi itu semua harus dilihat lagi apakah memang karena hal itu,” jelasnya.

Lebih jauh dia mengungkapkan, pada 2012 performa dari seluruh AB bisa menunjukkan peningkatan. Hal tersebut sejalan dengan terus positifnya pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mulai merangkak menembus level lebih dari 4.000. “Juga banyak emiten baru yang mencatatkan namanya di pasar modal,” pungkasnya singkat.

http://economy.okezone.com/read/2012/04/17/278/612933/96-laporan-keuangan-anggota-bursa-tepat-waktu

INILAH.COM, Jakarta – PT Paramitra Alfa Sekuritas terhitung sesi I perdagangan Senin (2/4/2012) tidak diperkenankan melakukan aktivitas perdagangan di Bursa sampai dengan pemberitahuan lebih lanjut.

Hal ini disampaikan Direktur Utama BEI Ito Warsito dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (2/4/2012).

Pelarangan berdagang di BEI ini karena Paramitra Alfa Sekuritas tidak menyampaikan laporan keuangan auditan tahun 2011 sampai batas waktu yang ditetapkan yaitu 30 Maret 2012.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1846923/paramitra-alfa-sekuritas-dilarang-dagang-di-bursa

Sumber : INILAH.COM
Batavia Prosperindo Melanggar Aturan Administrasi
Selasa, 27 Maret 2012 | 16:28
investor daily
JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan tidak melihat adanya indikasi penggelapan dana nasabah di PT Batavia Prosperindo Sekuritas (BPS) Cabang Medan, tetapi perusahaan ini telah melakukan pelanggaran administratif.

“Batavia sudah kami periksa. Ada pelanggaran administratif di Batavia Cabang Medan, tetapi kami tidak melihat adanya indikasi penggelapan dana nasabah,” kata Direktur Pengawasan dan Kepatuhan BEI Uriep Budhiprasetyo di Jakarta, Selasa.

Meski demikian, dia belum mengungkapkan lebih detail terkait dengan pelanggaran administratif itu. Ia hanya mencontohkan pelanggaran administratif itu seperti pelaksanaan standar operation prosedur (SOP) perdagangan yang tidak sesuai ketentuan.

Uriep mengatakan pihak Bursa akan memberikan hasil pemeriksaan ke Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). “Pemeriksaan pasti akan kami laporkan ke Bapepam-LK karena institusi ini yang menugaskan bursa untuk memeriksa kasus itu,” kata dia.

Pihak BEI, kata Uriep, juga belum memberikan sanksi kepada Batavia Prosperindo Sekuritas. Saat ini, otoritas pasar modal tengah memberikan pembinaan agar tetap melakukan SOP yang berlaku. “Sanksinya nanti dulu. Kami memberikan pembinaan terlebih dahulu, tidak ada denda,” ucapnya.

Pihak Bursa, lanjut dia, tengah meminta perusahaan sekuritas itu untuk berbicara dengan nasabahnya dan melakukan penjelasan agar tidak terjadi kabar simpang siur.

Sebelumnya, Batavia Prosperindo Sekuritas diduga menggelapkan dana nasabah senilai Rp100 miliar. Namun, pihak Batavia mengklaim hanya kerugian transaksional jual-beli saham oleh lima nasabahnya senilai Rp30,2 miliar.

PT Batavia Prosperindo Sekuritas merupakan salah satu anggota bursa (AB) di Bursa Efek Indonesia dengan kode transaksi perdagangan saham, BZ. (ant/gor)

Selasa, 27/03/2012 19:12 WIB
BEI: Tidak Ada Indikasi Penggelapan di Batavia Prosperindo
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengaku tidak indikasi pelanggaran penggelapan dana investor pada tubuh PT Batavia Prosperindo Sekuritas (BPS). Yang ada hanya pelanggaran administratif dan inipun masih terus ditelusuri perseroan.

“Sepanjang yang kita lihat tidak ada indikasi pelanggaran penggelapan,” kata Direktur Pengawasan dan Kepatuhan BEI Uriep Budhiprasetyo, Selasa (27/3/2012).

Meski demikian Uriep mengaku, proses pemeriksaan terus dilakukan. Termasuk dugaan adanya skema ‘titipan’ dari investor BPS di Medan oleh oknum perseroan.

“Selama ini juga tidak ada surat nasabah ke BEI, dan juga kepada perusahaan (BPS),” terangnya.

Direktur Utama BPS, Vientje Harijanto sebelumnya menyampaikan, tidak ada penggelapan dana. Yang terjadi, kerugian nasabah akibat transaksi saham dengan total nilai Rp 30,2 miliar. Bukan Rp 100 miliar seperti dikabarnya sebelumnya.

Kata Vientje, kelima nasabah BPS yakni HL, JWR, KR, SW, dan D. Mereka mengajukan klaim namun perseroan menolaknya.

Perseroan menjelaskan, nasabah BPS telah melakukan transaksi aktif sampai dengan Maret 2012. “Atas temuan ini, BPS telah menghadap dan menjelaskan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 8 & 9 Maret 2012. Di samping itu, BPS juga sudah melakukan pertemuan dengan para nasabah cabang Medan tersebut pada tanggal 12 Maret 2012,” kata Vientje.

(wep/dru)
BEI Janji Buka Kasus BPS Minggu Depan
Thu, 22 Mar 2012, 14:08 WIB Headline, Pasar Modal
infobank

Sejauh ini BEI masih mencari angka di lapangan dan terus mencari apa yang dilanggar oleh anggota bursa. Dwitya Putra

Jakarta–Direktur Pengawasan dan Kepatuhan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Urip Budhiprasetyo, memastikan pemeriksaan atas kasus PT Batavia Prosperindo Sekuritas (BPS) akan selesai pada minggu depan.

“Hasil pemeriksaan PT Batavia Prosperindo Sekuritas selesai minggu depan,” kata Urip, saat ditemui wartawan, di gedung BEI, Jakarta, Kamis, 22 Maret 2012.

Namun, Urip belum dapat menjelaskan lebih detil mengenai pemeriksaan terhadap PT Batavia Prosperindo Sekuritas. “Kami masih mencari angka di lapangan dan apa yang dilanggar oleh anggota bursa. Yang pasti kami melihat fakta di lapangan,” tegasnya.

Ia mengatakan, BEI masih terus mengumpulkan data dan fakta di lapangan untuk mengetahui secara jelas kronologis terjadinya dana yang raib milik lima nasabah di kantor PT Batavia Prosperindo Sekuritas cabang Medan.

Menurut Urip, dengan mengetahui secara pasti kronologis kejadian di lapangan diharapkan permasalahan bisa dipahami secara obyektif dan tidak terpengaruh oleh klaim-klaim sepihak yang disampaikan baik oleh pihak nasabah dan pihak PT Batavia Prosperindo Sekuritas.

Seperti diberitakan sebelumnya, pihak PT Batavia Prosperindo Sekuritas membantah adanya penggelapan dana sebesar Rp100 miliar yang terjadi di kantor BPS cabang kota Medan.

Manajemen BPS menyatakan, yang terjadi hanyalah kerugian transaksi saham sejumlah nasabah BPS cabang Medan. Perkiraan jumlah klaim yang keliru tersebut mencapai Rp30,2 miliar.

“Total kerugian tersebut terakumulasi sejak 2007 sampai sekarang. Lima nasabah yang bersangkutan juga merupakan nasabah kami yang sudah sejak lama memiliki account saham di tempat kami. Hanya satu nasabah saja yang baru membuka account pada 2011 lalu,” ujar Direktur Utama BPS, Vientje Harijanto, di kantornya, beberapa waktu lalu. (*)
Sekuritas Batavia Tak Masuk Rekomendasi Saham Calon Nasabah
Tribunnews.com – Kamis, 22 Maret 2012 14:57 WIB

Laporan Wartawan Tribun Medan, Irfan Azmi Silalahi

TRIBUNNEWS.COM, MEDAN – Kasus yang menimpa PT Batavia Prosperindo Sekuritas (BPS) yang diduga menggelapkan dana nasabah hingga Rp 30,2 miliar otomatis membuat market pemula yang akan terjun ke pasar modal menjadi ragu.

Yosep Kaburuan, Capital Market Information Center Staff-Medan Marketing Division Indonesia Stock Exchange menjelaskan pihaknya kuasa untuk melakukan eksekusi dan hanya sebagai pemberian informasi kepada calon nasabah di Medan, tidak merekomendasikan konsumen untuk masuk ke sekuritas tersebut.

“Posisi kami hanya sebatas informasi saja. Kalau ada yang butuh informasi pasar modal kami jelaskan dan dengan kejadian ini, perusahaan sekuritas tersebut untuk sementara waktu tidak kami rekomendasikan kepada calon nasabah atau masyarakat,” ujar Yosep Kaburuan saat ditemui Tribun Medan di Jalan Asia Medan, Kamis (22/3/2012).

Menurut Yosep, untuk saat ini Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bappepam-LK) telah melakukan penelusuran terkait kasus yang menimpa pimpinan sekuritas tersebut.

Ia juga mengaku, untuk wilayah Medan belum ada nasabah yang menarik dana dalam jumlah besar akan ketakutan terjadi kasus serupa. Hal itu bisa terlihat dari pergerakan IHSG yang normal.

“Medan termasuk jumlah potensial yang bermain pasar modal dan tercatat menduduki posisi ketiga setelah Jakarta dan Surabaya. Jika terjadi penarikan dana dalam jumlah besar oleh nasabah di beberapa sekuritas otomatis IHSG berpengaruh,” ujarnya sembari menunjukkan pergerakan saham di layar komputer.

Editor: Dewi Agustina | Sumber: Tribun Medan
BPS Bantah Gelapkan Dana Nasabah

Oleh: Charles MS
Pasar Modal – Rabu, 21 Maret 2012 | 03:06 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Manajeman PT Batavia Prosperindo Sekuritas (BPS) membantah terjadinya penggelapan dana nasabah yang dilakukan oleh perusahaan.

Vientje Harijanto, Direktur Utama BPS menegaskan bahwa memang ada beberapa nasabah cabang Medan yang melakukan klaim atas kerugian transaksi saham di dalam rekening efek mereka, dengan total nilai sebesar Rp30,2 miliar. “Jadi bukan Rp100 miliar, seperti yang diberitakan media massa sebelumnya,” ujar Vientje dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (20/3/2012).

Saat ini BPS masih melakukan inventarisasi dan investigasi data atas transaksi yang menyebabkan kerugian tersebut. “BPS belum dapat memastikan apakah transaksi saham tersebut dilakukan oleh ‘MD’ selaku karyawan BPS yang saat ini sudah tidak dapat dihubungi dan tidak berada di kantor cabang Medan, serta apakah ini merupakan tindakan atas intensi ‘MD’ sendiri atau di bawah pengaruh pihak lain yang berada di luar ruang lingkup kerja manajemen BPS,” ungkap Vientje.

Begitu pula, terkait tudingan ‘penggelapan’ dana nasabah, menurut Vientje, sampai saat ini belum ada kesimpulan dari otoritas berwenang yang menyatakan bahwa kasus ini merupakan penggelapan. Dalam kaitan masalah tersebut, BPS telah menghadap dan memberikan penjelasan kepada otoritas Bursa Efek Indonesia pada tanggal 8 & 9 Maret 2012, dan apabila diminta oleh Bapepam selaku otoritas pasar modal, BPS akan selalu siap untuk menjelaskan kepada Bapepam.

Di samping menjelaskan kepada otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI), BPS juga sudah melakukan pertemuan dengan para nasabah cabang Medan tersebut pada tanggal 12 Maret 2012. Dari pertemuan BPS dengan kelima nasabah yang mengajukan klaim berinisial HL, JWR, KR, SW, D, dan juga hasil dari inventarisasi dan investigasi data, BPS menemukan fakta bahwa nasabah tersebut telah dibukakan rekening perdagangan saham oleh MD antara Maret 2007 sampai Februari 2011, dan telah melakukan transaksi aktif sampai dengan Maret 2012.

JAKARTA: Bursa Efek Indonesia masih melakukan penyelidikan kasus penggelapan dana nasabah Rp100 miliar yang diduga dilakukan oleh PT Batavia Prosperindo Sekuritas.

Direktur Pengawasan dan Kepatuhan Bursa Efek Indonesia Uriep Budhi Prasetyo mengaku saat ini bursa sedang mengumpulkan beberapa data terkait kasus tersebut.

“Data dan fakta terus kami kumpulkan untuk memastikan kronologisnya di lapangan seperti apa,” ujarnya di Jakarta, hari ini Jumat 16 Maret 2012.

Uriep menambahkan, bursa telah melakukan memanggil dan memeriksa pihak Batavia. Menurutnya, meski nasabah dan sekuritas telah menyampaikan cerita versinya , bursa tetap melanjutkan penyelidikan.

Seperti diketahui, pihak Batavia telah mengajukan versi ceritanya kemarin melalui rilis pers. Mereka membantah telah terjadi penggelapan dana di kantor Batavia Prosperindo cabang Medan.

Manajamn Batavia sendiri menyebut yang terjadi bukanlah penggelapan dana, namun merupakan kerugian transaksi. Dan jumlah dananya bukan Rp100 miliar, melainkan 30 miliar.

http://www.bisnis.com/articles/kerugian-nasabah-bursa-masih-periksa-batavia

Sumber : BISNIS.COM
Bapepam-LK : Batavia Prosperindo Positif ada Penggelapan Dana
Yuni Astutik – Okezone
Jum’at, 16 Maret 2012 08:31 wib

JAKARTA – Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menyatakan positif jika kasus penggelapan dana yang terjadi di Perusahaan Efek PT Batavia Prosperindo Sekuritas terungkap karena adanya Rekening Dana Investor (RDI).

“Tapi kan untuk kasus ini (Batavia Prosperindo) kita tidak tahu persis. Namun kalau itu terjadi (Terungkap setelah adanya RDI), yang akibatnya ada hal yang transparan, itu memang tujuan dari peraturan itu,” katanya seusai Closing Dinner An Appreciation night for media partners investor summit and capital di Jakarta, Kamis (15/3/2012) malam.

Saat ini, untuk pemeriksaan yang akan dilakukan oleh Bapepam-LK lanjutnya, masih menunggu pemeriksaan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) selaku pengawas pasar modal.

Namun yang pasti, BEI sudah melapor ke Bapepam-LK terkait dengan adanya kasus itu. “Tapi kalau untuk nilainya berapa saya belum bisa bicara, karena (pemeriksaan) belum final,” akunya.

Selanjutnya, saat dikonfirmasi apakah ada sanksi yang akan diberikan jika terbukti adanya penggelapan, dia memastikan jika sanksi itu ada.

Namun, bagaimana bentuknya, serta apa bentuk sanksi yang diberikan, lagi-lagi dia belum bisa memastikan lantaran pemeriksaan saat ini sedang berjalan. “Seandainya terbukti pasti ada sanksi. Contoh sanksi umum, ada peringatan, denda, tergantung pelanggaran. Paling berat pencabutan ijin,” tandasnya.

Sekadar informasi, kasus ini mencuat dari laporan sebuah sumber yang merupakan pelaku pasar mengungkapkan adanya kabar penggelapan dana nasabah yang dilakukan PT Batavia Prosperindo Sekuritas cabang Medan sekitar Rp100 miliar.

Namun, baru-baru ini Batavia Prosperindo Sekuritas membantah kabar yang menyebutkan terjadi penggelapan dana nasabah senilai Rp100 miliar. Perusahaan hanya menyebut terjadi kekeliruan, itu pun nilainya hanya Rp30,2 miliar. (mrt)

Rabu, 14/03/2012 16:21 WIB
Bapepam Periksa Dugaan Penggelapan Investor Rp 100 Miliar
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Dugaan penggelapan dana investor oleh salah satu sekutiras senilai Rp 100 miliar di Medan sudah sampai telinga Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Ketua Nurhaida mengaku telah melakukan pemeriksaan atas kasus baru ini.

“Intinya Bapepam-LK sedang melakukan pemeriksaan,” kata Nurhaida di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (14/3/2012).

Sayangnya, Nurhaida tidak menyebut secara lugas perusahaan sekuritas yang bersangkutan. Namun pelaku pasar modal sejak akhir pekan lalu sudah ramai membicarakan, dan perusahaan yang dimaksud adalah PT Batavia Prosperindo.

“Gini kalau pemeriksaan yang sifatnya belum selesai, secara ketentuan belum bisa disampaikan. Jadi nanti biarkan dulu, diperiksa dulu sampai ada keputusan,” paparnya.

Para nasabah yang kehilangan dana investasinya terjadi di Medan dengan nilai Rp 100 miliar. Manajemen BEI pun masih belum mau berkomentar atas dugaan penggelapan dana tersebut.

Penggondolan dana sendiri, menurut sumber yang mengetahui informasi ini, dilakukan oleh pimpinan cabang perusahaan sekuritas tersebut.

Menarik dilihat bahwa dugaan penggelapan ini terjadi saat implementasi rekening dana investor (RDI) yang efektif akhir Februari 2012. RDI awalnya bertujuan memberi transparansi kepada investor, saat dana investasi tidak lagi masuk ke rekening broker melainkan ke bank pembayar (payment bank) yang ditunjuk.

(wep/ang)

… kerugian nasabah BISA JUGA TERJADI lewat permainan berikut:
Mencetak Uang ‘Aseli’ Melalui Bursa?
March 4th, 2012 satrio kontan

Saham itu adalah selembar kertas. Selembar kertas yang diberi tanda. Tanda yang berupa tulisan yang menunjukkan bahwa kertas tersebut adalah bukti kepemilikan atas sebagaian dari suatu perusahaan. Disitu baru selembar kertas yang dikatakan sebagai saham itu memiliki harga. Karena saham adalah selembar kertas, maka tanpa tanda tersebut, kertas itu tidak akan berharga. Tidak akan berguna bagi siapapun juga yang memilikinya.

Saham itu dikeluarkan oleh sebuah emiten. Emiten tersebut menjual saham kepada publik. Emiten menyalurkan saham tersebut melalui IPO, right issue, pre-emptive right issue, obligasi konversi, maupun backdoor listing. Publik, baik secara perseorangan maupun berkelompok melalui institusi, membeli saham tersebut. Publik menyerahkan uang. Emiten menyerahkan saham.

Publik membeli saham karena ingin mendapatkan keuntungan. Keuntungan jangka panjang, maupun keuntungan jangka pendek. Keuntungan berupa capital gain yang didapat dari pergerakan harga. Keuntungan yang didapat dari dividen, jika perusahaan tersebut mengalami keuntungan.

Apakah ada orang yang ingin beli saham karena berniat untuk rugi, berharap harga turun? Kalaupun ada, mungkin dia memiliki motif tersendiri. Tapi sejauh yang saya temui, tidak ada orang yang seperti itu. Orang ingin beli saham karena ingin kekayaannya bertambah. Uang yang dimilikinya berkembang. Seorang pemodal membeli saham karena berharap agar harga saham di masa yang akan datang akan bergerak naik, tidak bergerak turun.

Semua itu hal yang biasa kita temui di bursa saham. Normal. Wajar.

Permasalahannya adalah: emiten itu ada yang baik dan ada pula yang buruk. Emiten yang baik adalah emiten yang selalu berusaha untuk memperkaya pemegang sahamnya dengan berusaha dan berhasil menciptakan laba bersih yang sebesar-besarnya, dengan melalui laba operasional perusahaan yang sebesar-besarnya. Emiten yang buruk adalah emiten yang (kurang lebih) berlawanan dengan emiten yang baik. Kalau hanya gagal untuk menciptakan laba bersih saja, sekali atau dua kali, mungkin bisa saja diampuni. Akan tetapi, Emiten yang buruk ini, tidak terlalu bersemangat atau malah barangkali tidak memiliki keingingan untuk menghasilkan laba bersih untuk pemegang sahamnya. Pendapatan juga seadanya, itupun bukan dari operasional.Yang ada hanya rumor-rumor corporate action yang tidak ada juntrungannya, tidak ada arahnya. Harga bergerak naik turun bak roller coaster, dengan tanpa penyebab fundamental yang jelas. TIdak pernah mencetak laba, pendapatan operasional negatif, corporate governance dari perusahaan itu buruk. Pokoknya, perusahaan tersebut ternyata sudah tidak memiliki nilai lagi, tidak memiliki prospek untuk masa yang akan datang, dan tidak memiliki niatan yang baik dalam berusaha.

Bagi emiten yang buruk seperti ini, saham sebenarnya hanyalah selembar kertas. Kertas yang tidak bernilai. Kertas yang kemudian bisa ditukarkan dengan uang yang anda miliki. Kertas yang kemudian ditukarkan dengan uang yang dimiliki oleh pemodal. Ketika saham adalah selembar kertas tidak bernilai yang bisa ditukarkan dengan uang, maka yang terjadi adalah emiten kemudian mencetak kertas sebanyak-banyaknya, dan kemudian ditukarkan dengan uang yang anda miliki.

Saya pada dasarnya adalah orang yang secara pribadi tidak menyukai emiten buruk yang melakukan p. pencetakan saham untuk mendapatkan uang, terutama melalui right issue. Right issue dengan pemegang saham memili Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau (terutama) right issue tanpa HMETD. Right issue bagi sebuah perusahaan yang seperti ini, adalah sebagai konfirmasi bahwa perusahaan tersebut telah gagal untuk mengelola cash flow dengan baik. Selain itu, right issue juga hanya akan menggerus kepemilikan dari pemegang saham publik. Orang-orang yang sudah terlanjut nyangkut di saham itu. Right issue bagi perusahaan seperti ini, itu ibarat mencetak uang aspal (asli tapi palsu) melalui bursa saham. Emiten memang mendapatkan fresh money, uang asli. Tapi, yang dilepas kepada publik adalah kertas yang sebenarnya tidak bernilai. Yang ada, hanyalah kerugian potensial dari pemegang saham publik yang nyangkut (nyangkuters), investor, karena harga saham terus bergerak turun, dari waktu ke waktu.

Tidak suka. Tapi gimana lagi? Peraturannya boleh kok. Niatan dari pembuat peraturan (Bapepam): memang bagus: menolong perusahaan yang mengalami financial distress. Hanya sayangnya, niatan baik tersebut sering kali malah disalahgunakan atau dimanfaatkan oleh emiten nakal. Saya terkadang iri dengan peran dari Bank Indonesia yang memiliki kekuatan ‘pemaksaan’ agar sebuah bank bisa beroperasi sesuai dengan good corporate governance yang baik. Terkadang, saya berharap agar Bapepam lebih memiliki kekuatan ‘pemaksaan’, yang membuat perusahaan terbuka atau perusahaan publik, menggunakan dana yang diamanahkan oleh publik dengan sebaik-baiknya. Dengan niatan baik, dengan good corporate governance yang baik, dengan keingingan yang lebih baik, dengan keingingan untuk mendapatkan keuntungan bagi pemodal publik, yang telah menginvestasikan uangnya ke dalam perusahaan tersebut.

So… Apa yang bisa saya lakukan? Well… at least, saya membuat tulisan ini. Akan tetapi, pada dasarnya yang bisa saya lakukan hanya mengelus dada melihat kelakukan dari emiten tersebut. Saya hanya bisa terus menghimbau pemodal agar selalu berhati-hati pada emiten yang rajin mencetak uang aspal melalui pasar modal. Hindarilah. Lakukanlah hanya posisi trading, jangan posisi investasi. Bagaimana mau investasi kalau harga sahamnya untuk jangka panjang cenderung turun terus? Dan terakhir… saya hanya bisa bermimpi menjadi pejabat BEI, Bapepam, atau komisioner OJK agar bisa menghentikan hal ini.

Kedepan, fungsi pengawasan pasar modal, akan berpindah ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Terus terang, saya berharap banyak agar OJK bisa berbuat lebih banyak dalam melindungi pasar modal, terutama pemodal retail, dari permasalahan-permasalahan seperti ini.

Kasihan benar pemodal kita, terutama permodal retail yang terjebak dalam permainan ini. Semoga anda cukup waras dan berilmu untuk bisa menghindarinya.

Happy trading… semoga untung!!!

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s