1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

godAan inVestas1 … 180813_1602201empat 16 Februari 2013

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:47 am

KPEI Tak Jamin Saham-saham Risiko Tinggi

INILAH.COM, Jakarta – PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) akan melakukan pengembangan infrastruktur pasar modal jilid II. Salah satunya, tidak akan menjamin saham-saham yang berisiko tinggi.

Direktur Utama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia, Hasan Fawzi mengatakan, saham-saham yang beresiko akan dikelompokan tersendiri dengan nama pre-emptive action. Sehingga nantinya, para pelaku pasar dapat mengetahui saham tersebut beresiko tinggi.

Dengan begitu para pelaku pasar yang tetap masuk ke dalam saham beresiko tinggi dan ketika terjadi resiko, maka KPEI tidak menjamin transaksinya. “Kami hanya menjamin saham yang masuk kriteria penjaminan,” ucap Hasan di Jakarta, kemarin.

Menurut Hasan, saham yang mendapatkan penjaminan meliputi pergerakan saham yang berjalan normal sesuai lelang dari permintaan dan penawaran, aktivitas perusahaannya berjalan normal, dan tidak terindikasi ada permainan harga saham oleh pihak-pihak tertentu.

Langkah ini dinilai sangat penting guna mengurangi dampak sistemik terhadap market risk (risiko pasar) di bursa saham. KPEI sebagai salah satu Self Regulatory Organization (SRO) bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) merasa langkah ini bisa menjadi salah satu penunjang peningkatan keamanan, kenyamanan, dan kepercayaan investor terhadap pasar.

Lebih lanjut dia mengatakan, aturan tersebut masih dalam proses pembasahan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan ditargetkan akan rampung pada akhir tahun ini. [jin]

Inilah Aturan Baru BEI untuk Januari 2014

Oleh: Seno Tri Sulistiyono
pasarmodal – Selasa, 12 November 2013 | 09:27 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menerbitkan peraturan baru, tentang perubahan satuan perdagangan dan fraksi harga yang berlaku pada 6 Januari 2014.

Peraturan ini tertuang dalam peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas (Lampiran Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia No.: Kep-00071/BEI/11-2013 perihal Perubahan Satuan Perdagangan dan Fraksi Harga tanggal 8 November 2013). Demikian mengutip surat keterangan resmi BEI, Jakarta, Senin (11/11/2013) malam.

Berikut hal pokok yang diatur dalam perubahan peraturan tersebut:
1. Perubahan satu satuan perdagangan (round lot). Awalnya diatur satu satuan perdagangan (round lot) Efek Bersifat Ekuitas ditetapkan 500 Efek Bersifat Ekuitas, diubah menjadi 100 Efek Bersifat Ekuitas.

2. Perubahan besaran fraksi harga di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, seperti :
a. Untuk Efek Bersifat Ekuitas dengan Harga Previous kurang dari Rp500, ditetapkan fraksi sebesar Rp1, dan untuk setiap jenjang perubahan harga, maksimum yang diperkenankan adalah Rp20.

b. Untuk Efek Bersifat Ekuitas dengan Harga Previous berada dalam rentang Rp500 sampai dengan kurang dari Rp5.000 ditetapkan fraksi sebesar Rp5 dan untuk setiap jenjang perubahan harga, maksimum yang diperkenankan adalah Rp100.

c. Untuk Efek Bersifat Ekuitas dengan Harga Previous Rp5.000 atau lebih, ditetapkan fraksi sebesar Rp25 dan untuk setiap jenjang perubahan harga, maksimum yang diperkenankan adalah Rp500.

3. Perubahan maksimum volume penawaran jual dan atau permintaan beli untuk pelaksanaan perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler dan Pasar Tunai. Awalnya diatur bahwa Jakarta Automated Trading System (JATS), akan melakukan Auto Rejection apabila volume penawaran jual atau permintaan beli Efek Bersifat Ekuitas lebih dari 10.000 lot.

Atau 5% dari jumlah Efek yang tercatat di Bursa (mana yang lebih kecil), diubah menjadi 50.000 lot atau 5% dari jumlah Efek yang tercatat di Bursa (mana yang lebih kecil).

Dengan demikian, Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas (Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor: Kep-00399/BEI/11-2012 tanggal 14 November 2012 perihal Perubahan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas) dinyatakan tidak berlaku lagi. [hid]
Aturan Perubahan Lot Saham Ditunda
Selasa, 29 Oktober 2013 12:12 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Realisasi kebijakan perubahan fraksi harga (tick price) dan jumlah lot saham nampaknya belum bisa berlaku tahun ini. Hal ini lantaran banyak yang harus dipersiapkan.
Samsul Hidayat, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI mengatakan, pelaksanaan kebijakan ini kemungkinan akan dilakukan pada 6 Januari 2014 mendatang. Rencana semula, perubahan fraksi harga jumlah lot saham itu diberlakukan mulai 1 Desember tahun ini.
“Banyak yang harus disiapkan, seperti sistem perdagangan, dan lainnya, isu lebih ke persiapan,” ujarnya, Selasa (29/10/2013).
Adapun, pemberlakuan aturan baru mengenai fraksi harga dan jumlah lot saham ini akan dilakukan secara bersamaan. Seperti diketahui, BEI akan mengubah jumlah satuan lot saham dari 500 saham menjadi hanya 100 saham.
Kebijakan ini diambil agar transaksi di BEI lebih likuid. Pasalnya, investor bisa melakukan transaksi dengan lebih murah. Misal, harga per saham A sebesar Rp 5.000.
Maka, untuk mentransaksikan satu lot saham, investor harus menyiapkan dana Rp 2,5 juta. Namun, dengan kebijakan baru, maka investor hanya perlu mengeluarkan dana Rp 500.000.
Selain perubahan jumlah lot saham, otoritas BEI juga akan memberlakukan ketentuan tick price baru. Saat ini, semua saham yang berada di bawah Rp 200 per saham memiliki fraksi Rp 1. Artinya, batas harga antara transaksi jual dan beli yang diajukan investor memiliki kelipatan Rp 1.
Misal, saham X yang memiliki harga Rp 50 per saham, maka pengajuan harga jual dan beli harus kelipatan Rp 1, yaitu Rp 51 per saham dan Rp 52 per saham, dan seterusnya.
Lalu, untuk kelompok saham Rp 200-Rp 500 memiliki fraksi Rp 5, kemudian, bagi saham di kisaran Rp500-Rp2.000 fraksi sahamnya sebesar Rp10, dan Rp 2.000-Rp 5.000 sebesar Rp 25. Terakhir saham yang memiliki harga di atas Rp 5.000 memiliki fraksi sebesar Rp 5.
Dalam ketentuan baru, BEI mempersempit kelompok saham tersebut. Saham dengan harga di bawah Rp 500 fraksi harganya Rp 1, kelompok saham di harga Rp 500-Rp 5.000 memiliki fraksi Rp 5, untuk saham di atas Rp 5.000 dicatatkan dengan fraksi harga Rp 25.
Adapun, tujuan dari perubahan fraksi harga ini adalah meningkatkan likuiditas pasar, meningkatkan efisiensi, dan meningkatkan kedalaman dalam transaksi.
Ketentuan mengenai perubahan fraksi harga ini akan mendekatkan jarak antara permintaan dan penawaran (bid and offer). Sehingga, realisasi transaksi diharapkan bisa lebih banyak terjadi. (Amailia Putri Hasniawati/Kontan)
BEI tetap ubah ubah fraksi harga lot saham
Oleh Amailia Putri Hasniawati – Kamis, 10 Oktober 2013 | 19:29 WIB

JAKARTA. Kendati mendapat protes dari para investor, Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap akan melakukan perubahan fraksi harga (tick price). Kebijakan ini akan diatur satu paket dengan ketentuan perubahan jumlah satuan saham dalam lot dari semula 500 saham menjadi 100 saham.
Samsul Hidayat, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI mengatakan, saat ini pihaknya sudah melakukan sosialisasi, khususnya mengenai fraksi saham kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk investor.
BEI juga sudah melakukan sosialisasi kepada para broker. Sedangkan kepada investor akan dilakukan kemudian. Menurut Samsul, perubahan fraksi harga bertujuan meningkatkan likuiditas pasar, meningkatkan efisiensi, dan meningkatkan kedalaman dalam transaksi.
Ketentuan mengenai perubahan fraksi harga ini akan mendekatkan jarak antara permintaan dan penawaran (bid and offer). ”Yang terjadi sekarang spread (jarak) antara bid dan offer terlalu lebar. Misal, harga saham yang diminta ada di level Rp 310, tetapi harga penawaran di level Rp 325, harga ini tidak turun-turun sehingga susah terjadi transaksi,” kata Samsul.
Akibatnya, kata dia, banyak order yang tidak terealisasi. Saat ini rasio antara order dengan realisasi penjualan sebuah saham di BEI rata-rata dua banding satu alias dari dua order, yang terealisasi hanya satu. ”Malah di beberapa saham itu lima banding satu. Karena ya spread terlalu jauh,” imbuhnya.
Untuk menyiasati hal itu, otoritas BEI mengubah kebijakan fraksi ini. Dalam ketentuan yang lama, semua saham di bawah Rp 200 per saham memiliki fraksi Rp 1. Artinya, batas harga antara transaksi jual dan beli yang diajukan investor memiliki kelipatan Rp 1.
Misalnya, saham X yang memiliki harga Rp 50 per saham, maka pengajuan harga jual dan beli harus kelipatan Rp 1, yaitu Rp 51 per saham dan Rp 52 per saham, dan seterusnya.
Lalu, untuk kelompok saham Rp 200-Rp 500 memiliki fraksi Rp 5, kemudian, bagi saham di kisaran Rp500-Rp2.000 fraksi sahamnya sebesar Rp10, dan Rp2.000-Rp5.000 sebesar Rp25. Terakhir saham yang memiliki harga di atas Rp5.000 memiliki fraksi sebesar Rp5.
Nah, untuk ketentuan baru, BEI mempersempit kelompok saham. Bagi saham yang harganya di bawah Rp500 fraksi harganya Rp1, kelompok saham di harga Rp500-Rp5.000 memiliki fraksi Rp5, untuk saham di atas Rp5.000 dicatatkan dengan fraksi harga Rp25. BEI akan memberlakukan kebijakan baru ini pada Desember 2013 mendatang.
Sebelumnya, Sanusi, Ketua Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (MISSI) menilai, ketentuan baru itu merugikan investor. Pasalnya, jika ingin mendapat keuntungan, investor harus melakukan transaksi yang lebih intens, agar kenaikan bisa terjadi. Keuntungan yang diperoleh dari transaksi dengan rentang fraksi yang lebih besar akan sangat minim. Selain itu, keuntungan akan tergerus oleh komisi (fee) broker.
Siswa Rizali: Disiplin diversifikasi investasi
Oleh Narita Indrastiti – Sabtu, 19 Oktober 2013 | 09:03 WIB

kontan

JAKARTA. Diversifikasi aset dalam berinvestasi sangat penting untuk meminimalisir risiko. Inilah yang menjadi pegangan Siswa Rizali, Head of Investment PT AAA Asset Management dalam berinvestasi.
Pria yang akrab dipanggil Rizal ini memahami bahwa, melakukan manajemen aset investasi sangat penting saat menanamkan dana. Karena itulah, ia pun menyebar aset di beberapa instrumen. Awal mulanya, ia meletakkan aset pada saham. Rizal menjajal saham dan mulai meyukai trading saham semenjak menamatkan pendidikan di perguruan tinggi. Sayangnya, ketika krisis moneter terjadi di Indonesia pada tahun 1998, portofolio sahamnya memerah.
Ia pun mengambil jeda dan berhenti melakukan trading di saham. Pada tahun 2002, saat pasar modal kembali bergairah, Rizal melanjutkan kegiatan trading saham yang sempat beberapa waktu terhenti.
Tapi, pada akhirnya, ia merasa trading saham menguras waktu dan energinya. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyebar asetnya ke beberapa instrumen. “Saya beralih ke instrumen lain, supaya tidak stres,” ujar Rizal separuh bergurau.
Kini, ia meletakkan aset di beberapa instrumen seperti properti, pasar uang, saham dan emas batangan. Ada alasan khusus Rizal memilih aset-aset itu. Properti, misalnya, ia anggap aman. Aset pertamanya adalah rumah yang sekaligus ditempati keluarganya. Dia yakin, harga properti bakal terus naik. “Aset properti cukup baik untuk investasi jangka panjang,” jelasnya.
Return nomor dua
Sementara di saham, ia masih yakin akan prospek pasar modal di Indonesia. Namun, Rizal selektif memilih saham. Dia mencari saham-saham berkapitalisasi besar. Baginya, ada dua kriteria utama dalam pemilihan saham, yakni fundamental dan valuasi. Saham yang baik adalah saham yang kinerja fundamentalnya tetap tumbuh dan valuasinya masih terjangkau.
Dia mencontohkan, saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR). Selain rajin membagi dividen, secara valuasi dan fundamental, saham SMGR terbilang bagus.
Dia tak ingin banyak meramal return yang bisa didapat dari investasi. Soalnya, return yang tinggi pasti diikuti risiko yang tinggi pula. “Kita tidak pernah tahu arah pasar akan bergerak ke mana. Jadi fokusnya adalah lebih disiplin dalam alokasi aset. Target return adalah nomor dua,” jelasnya.
Nah, memiliki dana kas yang besar juga tidak kalah penting. Dana kas bisa menjadi pertahanan di saat pasar bergejolak. Dana kas yang besar akan memudahkan investor untuk menambah alokasi aset ketika saham murah. Makanya, dia menempatkan portofolio sebesar 30% di pasar uang.
Di instrumen pasar uang itu, Rizal pun menyebar investasinya. Dia tidak hanya menaruh dana di deposito, tetapi juga di instrumen valuta asing (valas). Strategi ini dinilai mampu mengimbangi pertumbuhan portofolionya.
Di saat pasar saham tidak kondusif, semisal, Rizal akan memperbesar aset di pasar uang. Begitupun sebaliknya. “Jadi ketika ada kerugian di satu aset, tetap ada pertumbuhan di aset lainnya,” tutur pria kelahiran Banda Aceh, 28 April 1973 ini.
Instrumen emas pun tak kalah menarik. Logam kuning ini dipercaya sebagai penopang ketika ekonomi melambat. Secara historis, harga emas biasanya akan naik saat kondisi ekonomi dalam negeri atau global memburuk.
Inflasi yang terus meningkat tidak bisa dilawan hanya dengan mengandalkan pendapatan. “Maka itu, sangat penting untuk berinvestasi untuk mempertahankan daya beli,” kata dia memberi saran.
Untuk pemula, Rizal menyarankan agar memilih investasi reksadana atau emas. Keduanya cukup aman dikoleksi untuk investasi jangka panjang
Perubahan Fraksi Harga Saham Picu Pro dan Kontra, BEI Perlu Kaji Lagi
Lavinda – Minggu, 18 Agustus 2013, 23:17 WIB

Bisnis.com, JAKARTA–Meski bisa meningkatkan likuiditas pasar modal, perubahan lot dan fraksi harga saham berpotensi menurunkan omzet perusahaan efek.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Rudy Utomo menilai perubahan fraksi harga saham (tick price) membuat pergerakan naik-turun harga saham menjadi lebih lambat. Sebagai contoh, dari semula fraksi harga untuk kelompok Rp200-Rp500 sebesar Rp5 akan diubah menjadi hanya Rp1.

Fraksi harga merupakan besaran perubahan harga yang digunakan dalam transaksi jual beli saham. Untuk jenjang harga saham tertentu, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenakan fraksi harga yang berbeda.

Pergerakan harga saham yang kurang signifikan, lanjutnya, akan berimbas pada frekuensi transaksi. Investor akan lebih jarang melakukan transaksi jual beli karena menunggu pergerakan harga saham bergerak dengan rentang (spread) yang lebar. Pada akhirnya, pendapatan (fee) transaksi yang diperoleh perusahaan efek menjadi lebih rendah.

“Kalau dari sisi perusahaan efek, frekuensi bisa jadi justru menurun karena investor baru akan jual atau beli kalau harga bergerak signifikan. Total transaksi itu pengaruh juga ke fee broker,” ujarnya, Minggu (18/8/2013).

Kendati demikian, dia tidak menampik ada perusahaan efek yang mendukung perubahan fraksi harga saham karena menganggap aturan tersebut tidak akan berpengaruh apapun terhadap kinerja keuangan perseroan. “Intinya masih ada pro dan kontra juga, ada yang sepakat dan tidak,” ujarnya.

Rudy menyarankan otoritas bursa melakukan survei yang akurat untuk mengetahui dampak perubahan aturan fraksi harga saham tersebut lebih mendalam.

Direktur Utama BEI Ito Warsito memastikan pelaksanaan aturan penurunan satuan perdagangan (lot size) dan perubahan fraksi harga saham akan berlaku mulai 1 Desember 2013.

Saat itu, pihak bursa sedang melakukan persiapan teknis teknologi informasi dan sistem infrastruktur yang dibutuhkan untuk menunjang perubahan tersebut.

“Aturan penurunan lot saham akan mulai berlaku pada 1 Desember 2013. Tidak hanya bursa, tetapi juga menunggu kesiapan anggota bursa, lalu testing dan lain-lain,” tuturnya dalam konferensi pers Peringatan 36 Tahun Pasar Modal Indonesia di Gedung OJK.

Untuk diketahui, jumlah saham dalam satu lot diturunkan dari 500 saham menjadi 100 saham. Adapun jumlah kelompok fraksi harga diubah dari lima menjadi tiga kelompok.

Tiga kelompok fraksi harga baru yang diusulkan antara lain, kurang dari Rp500 fraksi harganya Rp1, kelompok Rp500-Rp5.000 Rp5, dan kelompok yang lebih dari Rp5.000 dicatatkan dengan fraksi harga Rp25.

Sebelumnya, BEI menetapkan lima kelompok fraksi harga saham yakni

Rp1 untuk kelompok kurang dari Rp200

,

Rp5 untuk kelompok Rp200-Rp500

kelompok Rp500-Rp2.000 ialah Rp10

,

Rp2.000-Rp5.000 sebesar Rp25

. Terakhir Rp5.000 ke atas: Rp50.
OJK dan BEI Genjot Jumlah Investor

Oleh: Seno Tri Sulistiyono
pasarmodal – Minggu, 18 Agustus 2013 | 09:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Berbagai cara dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam meningkatkan jumlah investor domestik untuk masuk ke pasar modal. Hingga Juli 2013 baru tercatat 300 ribu investor.

Kepala Eksekutif Pengawasan Pasar Modal, OJK, Nurhaida mengatakan, pengetahuan masyarakat tentang pasar modal setelah disurvei terlihat sangat rendah, sehingga diperlukan edukasi dan sosialisasi untuk mengenalkan pasar modal kepada masyarakat.

“Sosialiasi dilakukan kepada masyarakat, sekolah, dan berbagai perusahaan di Indonesia untuk mengenalkan dan cara berinvestasi di pasar,” kata Nurhaida beberapa waktu lalu.

Menurut Nurhaida, langkah edukasi dan sosialisasi juga diiringi dengan penyerderhanaan berbagai peraturan di pasar modal. Seperti perubahan jumlah lot saham dan fraksi saham. Hal ini, dapat meningkatkan likuiditas perdagangan saham dan hingga saat ini masih dalam pembahasan perubahan peraturan tersebut. Diketahui, penurunan lot saham dari 500 per lembar menjadi 100 akan efektif telaksana pada 1 Desember tahun ini

“Perubahan lot size dan fraksi harga diharapkan mengakomodasi perdagangan yang lebih efisien dengan menambah kesempatan bertransaksi saham dalam satuan perdagangan yang lebih kecil dan mengurangi potensi tingginya fluktuasi harga,” tutur Nurhaida.

Sedangkan upaya OJK dalam mendorong perusahaan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offring/IPO) dengan mengandeng berbagai asosiasi perusahaan. Lanjut Nurhaida, untuk mencapai itu OJK dan BEI akan melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, BEI, dan tiga perusahaan Efek seperti PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Sekuritas, dan Mandiri Sekuritas.

“Nantinya berdiskusi permasalahan yang dihadapi para calon emiten potensial untuk masuk ke pasar modal dan langkah yang harus dilakukan regulator, para lembaga dan profesi penunjang pasar modal untuk membantu perusahaan tertutup masuk bursa,” ujar dia.

Sedangkan Direktur Utama BEI, Ito Warsito mengungkapkan, BEI melakukan edukasi ke masyarakat melalui Sekolah Pasar Modal secara gratis dan menerima kunjungan dari perbagai sekolah, perguruan tinggi, dan institusi dari seluruh Indonesia.

Menurut Ito, pada periode Januari sampai Juli 2013 tercatat kunjungan dari akademisi mencapai 142 rombongan dengan total 9.947 peserta, kunjungan dari institusi 27 rombongan dengan total 379 peserta dan kunjungan pribadi 758 orang.

“Ini dilakukan untuk memberi pengetahuan kepada masyarakat secara luas tentang pasar modal. Sosialiasi juga dilakukan ke berbagai perusahaan dengan menggandeng Kadin, Hipmi, Apindo dan lainnya, ” tutur Ito. [mdr]

BEI : 1 Lot Akan jadi 100 Saham pada Desember 2013

  • Kamis, 15 Agustus 2013 | 14:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Ito Warsito, memastikan rencana penurunan jumlah satuan lot saham menjadi 100 lembar per lot  akan mulai berlaku pada akhir tahun ini.

“Penurunan ukuran lot saham dari 500 menjadi 100 per lot saham akan  dimulai 1 Desember 2013, ini sudah final dan sudah disosialisasikan kepada Anggota Bursa (AB),” ujar Ito di Gedung Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jakarta, Kamis (15/8/2013).

Ito mengungkapkan, pelaksanaan penurunan jumlah satuan lot saham telah mundur dari target awal pada semester I 2013 menjadi akhir tahun atau semester II 2013. Keterlambatan ini disebabkan oleh persiapan teknis pihak-pihak terkait atas aturan ini.

“Sebab, nantinya, sistem penghitungan penurunan jumlah satuan lot saham juga harus dimiliki oleh para anggota bursa seperti perusahaan vendor dan juga PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI),” tuturnya.

Seperti diketahui, BEI menargetkan akan merilis aturan penurunan jumlah satuan lot saham dapat rampung di semester I 2013, sehingga dapat efektif pada akhir tahun ini. Namun, pemberlakukan ini terlambat lantaran masih memerlukan sosialisasi terkait aturan baru dan juga pengenalan sistem yang baru.

Menurutnya selain persiapan teknis pihak BEI juga terlebih dahulu akan melakukan edukasi kepada investor dan masyarakat luas terkait pengurangan jumlah satuan lot saham.

“Sosialisasi penting Karena, tujuan utama dari penurunan jumlah satuan lot saham adalah untuk lebih meningkatkan jumlah investor ritel di BEI, sehingga dapat memiliki lebih banyak jumlah saham dan juga dapat melakukan diversifikasi kepemilikan saham,” tuturnya. (Arif Wicaksono)

Sumber : Tribunnews.com
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

Bursa Efek Indonesia Sempat Dua Kali Tutup

Oleh: Mahbub Junaidi
pasarmodal – Kamis, 15 Agustus 2013 | 15:36 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Mungkin tak banyak yang tahu, pasar modal Indonesia sudah berdiri sejak 36 tahun lalu. Sempat ditutup dua kali, kemudian ‘dibangkitkan’ lagi.

Dalam peringatan 36 tahun pasar modal Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK (Otoritas Jasa Keuangan), Muliaman D Hadad menjelaskan secara rinci tentang geliat perkembangan pasar modal nasional.

Pada 1912, ketika Belanda berkuasa, muncullah pasar bursa efek pertama. Kemudian ditutup saat Perang Dunia (PD) ke-2. Namun dibuka kembali saat Indonesia merdeka, tepatnya pada 1952.

Namun karena adanya larangan memperdagangkan saham milik perusahaan Belanda serta tingginya inflasi di 1960-an, perkembangan pasar modal pun meredup. Akhirnya, ditutup untuk kali kedua.

Ketika transisi menuju orde Baru, Presiden Soeharto kembali menghidupkan pasar modal sejak 10 Agustus 1977. ‘’Tiap tanggal 10 Agustus diperingati sebagai titik awal munculnya bursa efek di Indonesia,’’ papar Muliaman di Jakarta, Kamis (15/08/2013).

Dalam perkembangan bursa, lanjutnya, terdapat tiga momentum penting. Yakni era deregulasi pada tahun 1987, terjadi lonjakan emiten dari 25 menjadi 145 emiten. Kedua, UU Pasar Modal yang ditelorkan pada tahun 1995, semakin memperkuat perkembangannya. Ketiga, adanya peralihan pengawasan pasar modal dan lembaga keuangan nonbank ke tangan OJK.

Kini, siapa sangka kalau perdagangan di lantai bursa berjalan cukup melesat. Bahkan, mencapai rekor tertinggi pada 20 Mei 2013, IHSG tembus sampai 5214,98. Semoga menjadi awal yang bagus bagi perekonomian Indonesia. [ipe]

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s