1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

2 ekstrim kondisi pasar … 250813 25 Agustus 2013

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 1:47 am

IHSG Sensitif pada 4 Isu, Apa Saja?
Linda Teti Silitonga – Sabtu, 24 Agustus 2013, 09:47 WIB

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks harga saham gabungan (IHSG) pekan lalu anjlok 9,56% menjadi 4.169,83 dari akhir pekan sebelumnya 4.568,65.

Analis PT Indo Premier Securities Ikhsan Binarto mengatakan setidaknya ada empat isu yang mempengaruhi pergerakan IHSG.

“[Sejumlah hal bisa menyebabkan] bursa turun,” kata Ikhsan saat dihubungi melalui telepon genggamnya hari ini, Sabtu (24/8/2013).

Empat isu tersebut adalah,

Jika dolar Amerika serikat (AS) mengalami penguatan, bisa menekan bursa
Jika bunga perbankan meningkat, bursa bisa menjadi turun
Jika harga komoditas turun, bursa juga akan bisa melemah. Mengingat sejumlah emiten bidang usahanya di sektor komoditas, seperti minyak sawit mentah (CPO) dan batu bara
Data perekonomian turun, bisa mendorong pelemahan bursa (ltc)
Editor : Linda Teti Silitonga
Membaca Indikator Siklus Ekonomi
Oleh Hasan Zein Mahmud | Selasa, 23 Juli 2013 | 10:51

Siklus ekonomi nyaris merupakan suatu keniscayaan. Ia seperti perubahan musim, seperti naik turun ritme tubuh manusia. Ia, juga bagaikan gelombang yang memberi karakter pada samudera, terjadinya resesi, ekspansi, dan puncak kegiatan usaha, merupakan alunan gelombang yang manjadi karakter perekonomian.

Berbagai istilah muncul untuk menggambarkan gelombang ekonomi tersebut. Ada yang menyebutnyaeconomic cycle, ada yang menyebutnya business cycle, ada pula economic fluctuation. Banyak teori yang dikembangkan untuk menjelaskan gejala naik turunnya kegiatan ekonomi dan naik turunnya pertumbuhan ekonomi tersebut, mulai dari teori astronomi yang mengaitkan ekspansi dan resesi dan gejala alam, sampai teori underconsumption dan overinvestment.Mulai dari teori ekonomi klasik yang tidak mengakui adanya siklus dan menyalahkan faktor ekseternal seperti perang dan bencana alam, sampai Teori Keynes yang mengaitkan fluktuasi ekonomi dengan tingkat kesempatan kerja.

Burns and Mitchell (1946) lebih dari 60 tahun lalu mencoba menggambarkan siklus ekonomi, yang uraiannya boleh jadi masih cukup memadai saat ini.“Business cycles are a type of fluctuation found in the aggregate economic activity of nations that organize their work mainly in business enterprises: a cycle consists of expansions occurring at about the same time in many economic activities, followed by similarly general recessions, contractions, and revivals which merge into the expansion phase of the next cycle; in duration, business cycles vary from more than one year to ten or twelve years; they are not divisible into shorter cycles of similar characteristics with amplitudes approximating their own”.

Bagi akademisi tanggung seperti saya, lebih praktis mengambil realitasnya saja: cycle is economic reality, business reality. Economic cycle is given. Ekonom yang jenius tidak bisa mengubah kontraksi menjadi booming. Ekonom yang jenius bisa memperkirakan kapan akan terjadinya suatu gelombang. Berbagai kebijakan fiskal dan moneter diyaikini banyak ekonom mampu memengaruhi tingkat kedalaman (amplitude, menurut Burns) suatu resesi, atau memperpendek periodenya, namun tidak serta merta mampu membalikkan arah tren.

Tiga Kelompok Indikator
Berhadapan dengan keniscayaan siklus demikian itu, siasat yang paling jitu adalah melengkapi diri dengan indikator. Indikator ekonomi dan bisnis merupakan kompas terbaik untuk menerka arah ekonomi. Itu merupakan “lampu aladin” terbaik yang bisa digunakan untuk memperkirakan keadaan ekonomi yang akan datang. Itu sebabnya Negara maju seperti Amerika Serikat menciptakan, menghitung, mempublikasikan puluhan – bahkan ratusan indikator ekonomi – untuk menginformasikan, mendidik, sekaligus mengarahkan masyarakat mengambil keputusan secara reasonable.

Tiap hari kita bisa menyimak sederet panjang indikator ekonomi yang diumumkan melalui media massa seperti Bloomberg, Yahoo! Finance, Market Watch dan banyak lagi. Begitu banyaknya, sehingga tak seorang pun mampu mengingat semuanya, apalagi untuk mengerti semuanya. Indikator ekonomi pada dasarnya merupakan statistik yang dihitung dan disajikan untuk menggambarkan keadaan ekonomi saat ini dan alat prediksi keadaan ekonomi yang akan datang.

Dalam konteks itu kita perlu mengelompokkan indikator-indikator itu ke dalam tiga kelompok. Pertama adalah leading indicators, yakni suatu besaran statistik yang terjadi atau berubah sebelum atau mendahului perubahan ekonomi. Karena itu, leading indicators merupakan alat bantu untuk memperkirakan kedaan ekonomi dalam jangka relatif pendek. Yang paling popular dalam kelompok ini, antara lain, rata rata jam kerja mingguan sektor manufaktur (average weekly hours manufacturing), klaim terhadap tunjangan pengangguran (average weekly jobless claims for unemployment insurance ), indeks harga saham, dan kurva imbal hasil obligasi.

Kelompok kedua adalah coincident indicators, yakni besaran statistik yang terjadi atau berubah bersamaan atau hampir bersamaan dengan perubahan ekonomi. Karena itu, indikator kelompok ini representatif untuk menggambarkan keadaan ekonomi saat ini. Yang sering menjadi acuan dalam kelompok ini, antara lain, indeks produksi, personal income dan nonfarm payroll.

Kelompok yang ketiga adalah lagging indicators, yakni besaran statistik yang terjadi atau berubah setelah keadaan ekonomi berubah. Biasanya ada time lag beberapa bulan hingga satu tahun. Bayangkan laporan keuangan yang dipublikasikan oleh satu perusahaan. Ia mencerminkan kinerja historis perusahaan tersebut.

Di dataran makro contohnya antara lain kesempatan kerja, inflasi sector jasa, dan lain-lain. Mohon maaf dengan analogi berikut. Kalau saya melihat seorang ibu dengan perut membuncit keluar dari klinik ibu dan anak, saya bisa memprediksikan bahwa beberapa waktu lagi akan ada seorang bayi lahir ke dunia. Indikatornya kasat mata. Indikator ekonomi – dan indicator sosial pada umumnya – harus dicari datanya, dikumpulkan, dihitung, lalu dibuktikan secara empiris kebenarannya. Kalau pada minggu ini rata-rata jam kerja mingguan di satu subsektor manufaktur meningkat,  itu berarti minggu depan hamper bisa dipastikan bahwa indeks produksi sektor tersebut akan naik.

Kalau rata-rata klaim terhadap tunjangan pengangguran, di satu subsektor industri minggu ini naik, maka hampir bisa dipastikan bahwa indeks produksi sektor tersebut minggu depan akan turun. Kalau pembelian pabrik baru, untuk tujuan penambahan kapasitas, dibuatkan dan dihitung indeksnya, kita jelas akan lebih mampu meprediksikan ekspansi yang terjadi di industri tersebut beberapa bulan mendatang.

Terbiasa Lagging Indicators
Pengembangan dan pemanfaatan indikator semacam itu di Tanah Air masih sangat terbatas. Mungkin karena tidak ada insentif ekonomis untuk menciptakan dan menyajikan leading indicators, yang sejatinya sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan ekonomis. Kita tampaknya berpuas diri dengan lagging indicators, seperti angka inflasi, ekspor-impor, penjualan mobil, jumlah uang beredar dan semacamnya.

Indikator yang lebih memiliki nilai prediksi, seperti Indeks Kepercayaan Konsumen (Indonesia Consumers Confidence) yang diterbitkan Bank Indonesia, masih bisa dihitung dengan jari. Dari sudut pemakai, paling tidak ada dua kendala. Pertama, masyarakat kita pada umumnya masih alergis terhadap statistik. Kedua, statistik sering kali terbukti dipelintir untuk tujuan tertentu, sehingga tak sepenuhnya dapat dipercaya.

Hasan Zein Mahmud, Tim Ekselensi Learning Center, pengajar pada Kwik Kian Gie School of Business

Here’s What 8 Economic Cycle Theories Say About The World Today

ROB WILE OCT. 24, 2012, 6:38 PM 98,510 18

Economic and market phenomena occur in cycles.

The basic business cycle can be loosely defined a series of economic expansions and contractions.

But how long are these cycles and how can they be applied?

We compiled eight “cycle” theories that tell us varying things about where markets and the economy are going.

Some have been around for decades, others are fairly new.

One is even based on sun spots.

The Kondratiev Cycle

Creator: Nikolai Kondratiev (1892-1938)

Duration: 50-60 years

Theory: Economic growth in capitalist countries comes in long waves and are determined by technological innovations.

What it predicts: Prices, interest rates, foreign trade, coal, pig iron production

Where we are now: The Kondtratiev cycle indicates we’re in a blank period and at least 30 years away from the next economic expansion period.

Source: Andrey V. Korotayev

The Schumpeter Cycle

Creator: Joseph Schumpeter (1883-1950)

Duration: 50-60 years

Theory: Shumpeter cycles actually revolve around periodic clusters of innovation”

What it predicts: Global economic paradigms

Where we are now: Schumpeter’s cycle says we’re on the downswing from the most recent innovation cluster.

Source: Andrey V. Korotayev

The Kitchin Cycle

Creator: Joseph Kitchin (1861-1932)

Duration: 40 months

Theory: The market gets ‘flooded’ with commodities as growth accelerates. When demand declines, prices drop and the produced commodities get accumulated in inventories. But there is a delay between this and when entrepreneurs must reduce output.

What it predicts: Demand, prices, output

Where we are now: The Kitchin cycle indicates prices are in an upswing period, according toTimingSolution.com. 

Source: Andrey V. Korotayev

The Juglar Cycle

Creator: Clément Juglar (1819-1905)

Duration: 7-11 years

Theory: In addition to Kitchin’s lagging inventory signal, there is an additional lagging fixed investment signal.

What it predicts: Capital investment levels

Where we are now: The Juglar cycle says we’re at the beginning of an upswing in capital investment, according to TimingSolution.com.

Source: Andrey V. Korotayev

The Kuznets Cycle

Creator: Simon Kuznets (1901-1985)

Duration: 15-25 years

Theory: As a country develops, there is a market-driven cycle that at first increases inequality, and then decreases it after a certain average income is attained.

What it predicts: Income

Where we are now: The Kuznets cycle indicates that given current high income inequality, the U.S. should be at a new stage of development

Source: Andrey V. Korotayev

The 17.6 Year Cycle

 

Creator: Unknown, popularized by Art Cashin

Duration: 17.6 years

Theory: Stocks cycle through “fat” and “lean” years. 

What it predicts: Stocks

Where we are now:  The Cashin cycle says we are half-way thru a lean period for stocks, Cashin said recently.

Source: Art Cashin

The Lehman Wave

Creator: Robert Peels, Maximiliano Udenio et. al

Duration: 12-18 months

Theory: During periods of market instability, sales drop substantially more with companies upstream in the supply chain.

What it predicts: Sales

Where we are now: The Lehman wave says market volatility has dampened but is still a factor for companies’ sales figures. 

Source: Peels and Udenio

The Jevons Cycle

Creator: William Jevons (1835-1882)

Duration: 11 years

Theory: Business cycles move in concert with sunspots.

What it predicts: Food prices, inflation

Where we are now: The Jevons cycle says prices are still on an upswing, according to solar data from NASA.

Source: Cycle Research Institute

Read more: http://www.businessinsider.com/economic-cycle-theories-2012-10?op=1#ixzz2Zqil0n4a

 

Macroeconomics: The Business Cycle

By Stephen Simpson

The business cycle is the pattern of expansioncontraction and recovery in the economy. Generally speaking, the business cycle is measured and tracked in terms of GDP and unemployment – GDP rises and unemployment shrinks during expansion phases, while reversing in periods of recession. Wherever one starts in the cycle, the economy is observed to go through four periods – expansion, peak, contraction and trough.

Recession is typically used to mean a downturn in economic activity, but most economists use a specific definition of “two consecutive quarters of declining real GDP” for recession. By comparison, there is no formal definition of depression. While recessions have averaged around 10 months in length since the 1950s, the recovery/expansion phases have a much wider range of lengths, though around three years is relatively common.

The movement of the economy through business cycles also highlights certain economic relationships. While growth will rise and fall with cycles, there is a long-term trend line for growth; when economic growth is above the trend line, unemployment usually falls. One expression of this relationship isOkun’s Law, an equation that holds that every 1% of GDP above trend equates to 0.5% less unemployment.

The relationship between inflation and growth is not as clear, but inflation does tend to fall during recessions and then increase through recoveries. (To learn more about the business cycle, seeRecession: What Does It Mean To Investors?)

While the business cycle is a relatively simple concept, there is great debate among economists as to what influences the length and magnitude of the individual parts of the cycle, and whether the government can (or should) play a role in influencing this process. Keynesians, for instance, believe that the government can soften the impact of recessions (and shorten their duration) by cutting taxes and increasing spending, while also preventing an economy from “overheating” by increasing taxes and cutting spending during expansion phases.

In comparison, many monetarist economists disagree with the notion of business cycles altogether and prefer to look at changes in the economy as irregular (non-cyclical) fluctuations. In many cases, they believe that declines in business activity are the result of monetary phenomena and that active government inflation is ineffective at best and destabilizing at worst.

There are numerous other alternate theories on the business cycle and its causes/influences. Real business cycle theorists, for instance, believe that it is external shocks like innovation and technological progress that drive cycles, and that issues like excessive overcapacity can drive downturns. Other theorists suggest that excess speculation or the creation of excess levels of bank capital drive business cycles. (To learn more about the Keynesian theory, check out Can Keynesian Economics Reduce Boom-Bust Cycles?)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s