1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

time2buy @IHSG ANJL0K … 270813- 100913 10 September 2013

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:56 am

Tips Ini Jadi Strategi Saat Pasar Bergejolak

Oleh: Seno Tri Sulistiyono
pasarmodal – Selasa, 10 September 2013 | 00:05 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Dalam menghadapi tantangan pasar modal, yang saat ini sedang mengalami gejolak, investor harus menyiapkan strategi khusus.

Menurut Direktur Investasi PT CIMB Principal Asset Management, Fajar Rachman Hidajat enam tips tersebut, di antaranya :

1. Stay in the Market

Ketika market mulai recovery para investor malah sering kehilangan kejadian penting tersebut, akibatnya investor menjual sahamnya terlalu cepat. Padahal kejadian tersebut, kadang hanya berlangsung sesaat. Di harapkan, untuk menghindari kehilangan kejadian penting tersebut, sebaiknya investor untuk stay-invested dan menghindari perilaku panic selling.

2. Investor for Long Term

Studi menunjukan semakin lama investor memegang posisi investasinya, sehingga semakin besar keuntungannya. Keuntungan dari investasi jangka panjang ditemukan dalam hubungan antara volatilitas dan waktu. Selain itu, investasi jangka panjang juga menghemat biaya lainnya, seperti biaya transaksi dari perdagangan aktif.

3. Diversify Your Portofolio

Penyebaran investasi di sejumlah jenis pilihan investasi, pada gaya dan kapitalisasi pasar saham dan obligasi yang berbeda. Diversifikasi meningkatkan manfaat aset alokasi, sehingga portofolio investasi mungkin tidak terlalu berpengaruh oleh volatilitas pasar jangka pendek dibandingkan jika hanya berinvestasi dalam satu jenis aset. Akan tetapi, dengan catatan diversifikasi aset tidak menjamin keuntungan atau melindungi terhadap kerugian.

4. Consider Asset Allocation Portofolios

Lamanya masa kontraksi dalam siklus bisnis adalah sekitar seperenam dari lamanya masa ekspansi. Sementara tidak ada yang tahu kapan resesi akan berakhir, jadi saat ini mungkin saat yang tepat untuk mengevaluasi kembali toleransi risikonya. Beberapa investor jangka panjang mungkin ingin merealokasi eksposur portofolio investasinya. Sehingga, jika ingin berinvestasi yang dikelola oleh seorang profesional, ada baiknya menentukan target waktu dan toleransi risiko dari asset alokasi portofolio yang diinginkan.

5. Remember the Benefit of Long Term-Investing

Intinya dibutuhkan kedisiplinan untuk mengendalikan diri dari berita buruk yang dapat mengubah tujuan investasi jangka panjang anda. Harus diakui bahwa investasi yang sukses adalah bersifat maraton atau sprint.

6. Stay in Touch with Your Financial Propessional

Setiap headline dari berita dapat membuat para investor khawatir. Untuk tetap fokus, ada baiknya untuk tetap berhubungan dengan profesional keuangan, guna mendapatkan tepat untuk mencapai tujuan keuangan yang diinginkan.
KAPAN IHSG AKAN REBOUND?
Oleh Dityasa H Forddanta – Selasa, 27 Agustus 2013 | 18:23 WIB
kontan

JAKARTA. Tren penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terus terjadi. Bahkan, hari ini, (27/6), indeks kembali ditutup anjlok 159,8 poin atau 3,7% ke 3.967,84. Lantas, sampai kapan tren penurunan ini terus terjadi?

Fajar Hidajat, Chief Investment Officer Director CIMB Principal Asset Management, mengatakan, ada tiga hal yang menjadi indikator kapan IHSG bisa kembali rebound. “Indikatornya adalah, kestabilan nilai tukar rupiah, inflasi, serta yield Surat Utang Negara (SUN),” tambahnya.

Lebih lanjut Fajar menjelaskan, fluktuasi IHSG mulai mereda ketika pergerakan rupiah sudah tidak volatile seperti ini. Rupiah ada di level berapa pun tak masalah, asal diam di posisi tertentu, tidak terus bergerak seperti saat ini.

Lalu, yang kedua masalah inflasi. Saat ini, investor sedang mencari masa peak (puncak) inflasi. Jika posisi puncak itu sudah tercapai, maka investor berpotensi kembali masuk ke pasar.

Sementara yang terakhir soal yield obligasi. Penurunan yield menandakan adanya kepastian sarana investasi sudah kembali dari emas, dan surat berharga yang sifatnya aman (heaven) ke pasar modal sehingga jadi titik pelemahan IHSG tidak akan berlanjut lagi.

“Dari awal tahun sampai dengan sekarang Yield SUN sudah menaik sebanyak 300 basis poin sehingga menjadi 8% dalam tenor 10 tahun. Jika yield SUN sudah mulai menurun maka memberikan peluang bagi investor untuk masuk,” papar Fajar.

Tapi, lanjut Fajar, jangan lupakan sentimen yang datang dari rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 18 September mendatang yang menentukan pembelian obligasi oleh The Fed dari yang selama ini sebesar US$85 miliar dan kabarnya akan dikurangi menjadi US$65 miliar per bulan.

“Andai dibatasi hanya menjadi US$80 miliar saja, sentimen positif bisa kembali menghampiri IHSG,” pungkasnya
Rupiah Melemah, Menkeu Chatib Gelar Dialog dengan 540 Investor Seluruh Dunia
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Senin, 26/08/2013 16:19 WIB

Jakarta – Situasi ekonomi Indonesia masih bergejolak. Pemerintah harus bekerja ekstra menghadapi hal ini, seperti yang dilakukan Menteri Keuangan Chatib Basri.

Ia mengaku sudah berdialog dengan sedikitnya 540 investor dari seluruh dunia melalui sambungan telepon jarak jauh. Ia ingin meminta pendapat pelaku pasar atas paket kebijakan ekonomi pemerintah yang baru diumumkan akhir pekan lalu.

“Saya waktu Jumat lalu baru lakukan conference call dengan 540 investor dari seluruh dunia dan mereka baru muai mau mencerna mengenai ini,” kata Chatib saat ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (26/8/2013).

Menurut Chatib, investor-investor tersebut memberikan respon positif atas dialog yang digelarnya.

“Mereka merespon positif di dalamnya dan mereka istilahnya akan mencoba memahami mengenai ini tapi sejauh ini mereka melihat ada upaya dari pemerintah untuk mengatasi current account deficit,” ujarnya.

Chatib mengakui paket kebijakan ekonomi yang disampaikan pemerintah memang untuk kebutuhan jangka panjang, sementara untuk jangka pendek akan berkaitan dari sektor keuangan.

“Short term itu harus dari monetary, financial sector. Itu kalau dalam short term tentu akan berkaitan dari financial sector. Kalau yang short term bisa itu yang biodiesel,” kata Chatib.

(drk/ang)

 

Aug. 25, 2013, 8:02 a.m. EDT

Stock investor sentiment sinks, teeing up rebound

By William L. Watts, MarketWatch

NEW YORK (MarketWatch) — Bulls have turned tail and are on the run, according to investment-sentiment surveys, leaving traders to gauge whether the usually contrarian indicator means stocks could be poised to test all-time highs set earlier this month.

Enlarge Image

The latest weekly survey from the American Association of Individual Investors, probably the most closely watched gauge of investor sentiment, found 42.9% of respondents were bearish on the outlook for stocks, versus 29% bullish and 28.2% neutral.

That marked a more than 14 percentage point rise in bearishness from the previous week, marking the highest level of pessimism since mid-April. Bull sentiment minus bear sentiment, as illustrated in the above chart, has now fallen to negative 14%.

Yet another way to slice the sentiment data, the bull ratio, dropped to less than 40% from more than 73% less than two months earlier, said Jason Goepfert of Sentimenttrader.com. The bull ratio is bullish sentiment versus total bullish and bearish sentiment.

Such a rapid deterioration in sentiment from such a high level has occurred 11 other times in the last 26 years, Goepfert said. Nine out of those eleven times, the S&P 500 index was positive a month later, averaging a gain of 1.7%, he said. The outcome less than a month or more than three months later was much more mixed, Goepfert noted, adding that while sentiment has fallen sharply, it’s not yet at a level showing “extreme pessimism.”

That would require a bull ratio of less than 35%, with a reading closer to 25% usually required to signal that investors are entering the “throwing-in-the-towel” phase.

 

Big misses in the next round of economic data could push off expectations for when the Fed starts to taper. Investors watch the speeches in Jackson Hole with an eye to Haruhiko Kuroda. Retailers including Coldwater Creek, Express, Guess, and Salesforce.com report earnings.

U.S. stocks ended higher on Friday, allowing the S&P 500 (SNC:SPX) and the Nasdaq Composite(NASDAQ:COMP) to snap two-week losing streaks. The S&P rose 0.5% last week, while the Nasdaq jumped 1.5%, aided as Microsoft Corp. (NASDAQ:MSFT) led a Friday surge in the wake of Chief Executive Steve Ballmer’s plan to retire within the 12 months.

The S&P 500 remains 2.7% off its all-time closing high of 1,709.67 set on Aug. 2.

The Dow Jones Industrial Average (DJI:DJIA) , however, logged a third consecutive week of declines despite Friday’s higher finish, marking its longest weekly losing streak since Nov. 16, 2012.

Fund flows show investors are taking their money out of the market. U.S. equity mutual and exchange-traded funds lost a net $12.3 billion in the week ended Wednesday, the worst week since 2008, according to a Bank of America analysis of EPFR Global data.

John Goltermann, senior vice president at Obermeyer Asset Management in Aspen, Colo., argues that the overall evidence, including fund-flow data, indicate retail investors remain a “pretty reliable contrarian indicator.”

The fact that sentiment has started to sink as stocks come off their all-time highs likely reflects retail investors reacting to market cues rather than fundamentals, he said. That’s been illustrated by heavy retail outflows from emerging-market equity and fixed-income assets, he said, a move he contends isn’t consistent with fundamentals.

But J.J. Kinahan, chief derivatives strategist at TD Ameritrade in Chicago, says the data indicates retail investors are becoming more savvy. The AAII data, which is largely consistent with the brokerage firm’s own survey data, shows traders prudently taking some money off the table as equities trade near highs.

“I think people are more aware of what’s going on around them in the economy” and recognize that while the situation may be improving, the recovery is still sluggish, he said.

Meanwhile, retail and institutional investors alike are still grappling with uncertainty surrounding the ramifications of the Federal Reserve’s expected decision in coming weeks or months to begin slowing the flow of monetary stimulus into the economy.

 

That uncertainty — and the Fed’s insistence that the decision will be dictated by economic data — ensures investors will keep a close eye on any clues in the coming week.

With tapering talk keeping U.S. Treasury yields high, investors will be keeping a close eye on the U.S. housing market next week, while Mark Carney makes his first public speech as Bank of England governor following his “forward guidance” press conference.

The data calendar, however, remains light. Durable goods orders on Monday are the highlight. They’re expected to be weighed down by the aircraft component, but the underlying report may look “decent,” said economists at RBC Capital Markets.

Weekly jobless claims are due on Thursday.

In Europe, Germany’s Ifo index, a closely watched gauge of business sentiment in Europe’s largest economy, is expected to marginally add to recent gains.

If the Ifo reading keeps pace with the recent rise in the German purchasing managers’ index, it would “lift expectations not only of a gaining German recovery but of a building recovery across the euro zone,” wrote strategists at Investec in London.

European stocks over recent weeks have started to narrow the year-to-date gap in performance with Wall Street. The Stoxx 600 Europe Index (STX:XX:SXXP) is up nearly 9% year-to-date versus the 16.6% gain by the S&P 500. There is still significant skepticism, however, over whether the euro zone’s long-delayed return to growth marks an economic renaissance rather than stabilization at weak levels. See: Beware a false dawn for Europe stocks.

On the corporate front, retailers will remain in focus for a second week. Earnings from Tiffany & Co. (NYSE:TIF) on Tuesday morning will offer clues to the luxury market, while clothing-retailer Guess Inc. (NYSE:GES) is due Wednesday and discount retailer Big Lots Inc. (NYSE:BIG) reports Friday.

Modal Asing Incar Asia Lagi

1

Oleh: Wahid Ma’ruf
ekonomi – Jumat, 5 Juli 2013 | 15:34 WIB

INILAH.COM, Hong Kong – Saat pasar keuangan Asia mengkhawatirkan Fed mengurangi stimulus moneter, Bank Pembangunan Asia (ADB) justru menyatakan arus modal sedang mengalir ke kawasan Asia.

Walaupun saat ini, beberapa negara sedang mengalami pelarian modal, tetapi itu hanya dalam jangka pendek. Sinyalemen tersebut terungkap dari ekonom senior ADB, Lei Lei Song kepada cnbc.com, Jumat (5/7/2013). “Saya percaya modal asing akan tetal masuk ke Asia seperti ASEAN sehingga akan menjadi kuat karena kita memiliki fundamental ekonomi yang sangat kuat,” katanya.

Song menilai kawasan ASEAN merupakan yang paling stabil di dnia. Hal ini bila mengacu pada pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara Indonesia diakui Song sebagai negara dengan ekonomi terbesar di ASEAN. Pertumbuhan ekonominya telah bertahan di atas 6 persen dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Walaupun sangat rentan terhadap fluktuasi arus modal.

Pada bulan Juni, Indonesia merupakan negara pertama di Asia yang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen sejak tahun 2011. Langkah ini sebagai langkah antisipasi melambungnya laju inflasi saat mata uang rupiah melemah.

Kondisi di Asia khususnya negara berkembang pasar saham dan pasar obligasi mengalami kejatuhan pada bulan Mei. Pemicunya karena spekulasi yang berkembang terhadap kemungkinan Federal Reserve AS mengurangi besaran stimulus moneternya dari US$85 miliar per bulan. Padahal kebijakan ini yang telah mendorong arus modal asing masuk ke kawasan tersebut.

Namun setelah aksi jual di pasar saham dan pasar obligasi dalam beberapa pekan terakhir, investor telah masuk lagi. Citi juga sudah berani merekomendasikan kepada investor untuk masuk ke pasar saham di MSCI Emerging Markets Index. Sebab, valuasinya sudah murah dengan memiliki price to earning ratio di bawah 10.

Bahkan ANZ Research mencatat arus modal asing masuk hingga US$600 juta dalam sepekan terakhir hingga Rabu ke pasar saham di Asia-Pasifik. Tren ini terjadi setelah lima pekan mereka meninggalkan pasar Asia.

Song menilai sikap yang berlebihan dengan adanya kekhawatiran terhadap ekonomi China yang mengalami perlambatan. Apalagi itu menjadi risiko terbesar di pasar Asia.

China sedang menyesuaikan struktur ekonomi China. Song menilai reformasi itu akan sangat positif terhadap perekonomian China.

Menguat, Sinyal IHSG Masih Lampu Kuning
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal – Jumat, 5 Juli 2013 | 16:40 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Meski menguat, IHSG dinilai masih mencari arah. Karena itu, sinyal indeks adalah lampu kuning setelah pelemahan sebulan terakhir dan keluarnya aliran dana asing.

Pada perdagangan Jumat (5/7/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup menguat 20,87 poin (0,46%) ke posisi 4.602,807. Intraday terendah 4.581,888 dan tertinggi 4.647,272.

Tonny W Setiadi, analis dari Indosurya Asset Management mengatakan, meski menguat, IHSG sebenarnya masih cari-cari arah sehingga belum memperlihatkan pola pergerakan yang jelas. “Tapi, kalau kita bilang, optimisme IHSG tidak sebesar satu bulan lalu,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (5/7/2013).

Sebab, lebih jauh dia menjelaskan, dalam sebulan teakhir, dana asing yang keluar dalam angka yang signifikan. Apalagi, indeks juga sudah terkoreksi dalam. “Kondisi ini menjadi sinyal lampu kuning bagi IHSG,” ujarnya.

Jadi, dia menegaskan, melihat dari pergerakan dari IHSG sendiri yang melemah dalam sebulan terakhir dan aliran dana asing yang keluar harus membuat sedikit waspada bagi investor. “Sebab, dalam jangka pendek maupun menengah, koreksi IHSG bisa berlanjut ke arah 4.000,” timpal dia.

Tapi, dia menegaskan, dengan pelemahan ini, membuat beberapa harga saham menjadi normal dibandingkan sebelumnya yang berada di atas valuasi fundamentalnya.

Sementara itu, penguatan indeks Jumat (5/7/2013) ini, kata dia, lebih dipicu oleh pergerakan bursa regional yang cenderung menguat dalam dua hari terakhir. “Pasar terpengaruh positif oleh data-data tenaga kerja AS dan European Central Bank (ECB) yang mempertahankan tingkat suku bunganya dalam periode yang lebih lama. “Tapi, rilis data tingkat pengangguran AS nanti malam baru bisa berpengaruh awal pekan depan. Walaupun tidak terlalu besar,” timpal dia. [jin]

July 3, 2013, 10:36 a.m. EDT

Emerging markets: Source of crash or rally?

By Michael A. Gayed

My regular readers know I have been bringing up the idea for a few months now that emerging markets are likely the “next fat pitch” given how severe those overseas equities have underperformed the U.S. S&P 500.

The negativity on emerging economies is rather quite stunning, and to some extent justified. Social unrest in Brazil, an engineered credit crunch in China, deep concerns over India, and the potential that we are closer to raising rates than anyone else has caused money to flee those countries which once were considered the only place to be for those seeing returns.

“A reversal is just anything that’s a surprise. It’s a way of keeping the audience interested.”

—Tony Gilroy

However, what is most forget is that if its in the news, by definition it’s already old. It has happened. The market may have already discounted the worst-case scenarios (PASAR SAHAM UDA MELALUI PROSES HARGA SAHAM ANJLOK), and overreacted to growth concerns. This is what is so often forgotten. Some of the best trades happen amongst utter despair and panic (SAAT INVES TERBAEK JUSTRU SAAT INVESTOR PALING CEMAS dan PANIK). I have seen many on Twitter make the argument that emerging markets are more likely to be a source of crash risk, given how leveraged these economies are, and how tied they historically have been to commodities which have been extremely weak (SAHAM emerging market KATA ORANG-ORANG, terlalu tergantung pada UTANG dan KOMODITAS, misalnya, produk pertambangan dan pertanian).

This certainly can happen, but the contrarian in me says maybe the opposite happens (JUSTRU PENULIS YAKIN, sebagai seorang KONTRARIAN, yang sebaliknya AKAN TERJADI). Perhaps emerging markets can be a reason for risk sentiment to cause another leg higher in global stocks.

Take a look below at the price ratio of the iShares MSCI Emerging Markets Index EEM -0.64%  relative to the S&P 500 SPY +1.08% . As a reminder, a rising price ratio means the numerator/EEM is outperforming (up more/down less) the denominator/SPY. For a larger chart, please click here.

To assume that emerging markets are unable to lead for a multi-month period is false, as the September-to-December 2012 period proves. Note how severe the downtrend in the ratio has been this year.

The first circle I’ve highlighted was just before QE tapering talk began, after which, a collapse occurred as our yields here in the U.S. sent ripples throughout the globe.

However, bond yields appear to be stabilizing, and may even fall from here on a short-term basis, as our ATAC models used for managing our mutual fund and separate accounts seems to suggest. Some minor strength started at the very end of June, although the trend still is down (PEMBALIKAN ARAH sudah terjadi WALAU MASEH IMUT).

I maintain the idea that emerging markets are the next fat pitch. As markets inevitably overreact, mean reversion becomes ever more likely. Of course, it’s possible that emerging markets outperform as the S&P 500 corrects, but I find it a bit unlikely for now given the way various inter-market trends are behaving, with inflation expectations ever so slightly ticking up.

There is one final note which I want to emphasize here. Trading/investing is entirely about when and when, as my father wrote in his book “Intermarket Analysis and Investing.” When to buy, and when to sell. At the core, I am all about momentum, but not in the way most define it.

Momentum of conditions (inflation/deflation expectations) and momentum of relative outperformance have proven to be powerful ways of not just avoiding big declines, but also adding alpha. Yes, the trend is still down for emerging markets relative to the S&P 500. Yes, there is still a deflation pulse beating.

However, with every move comes a counter move, which can be exploitable for those listening to price. As Ed Dempsey said Tuesday on CNBC, we aren’t there just yet, but we are getting closer. If momentum returns in the coming months and strength is confirmed (SAAT MOMENTUM PEMBALIKAN TERJADI beberapa bulan ini, dan DAYA TAHAN PENGUATAN TERJADI), I think many might be surprised by how emerging markets behave (JANGAN KAGET jika BURSA emerging market BISA JUGA MEROKET).

Let the fireworks begin!

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s