1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

c3m4$ itu PENGECUT 29 November 2013

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:40 am

Dahlan Iskan: Mau Sukses, Kalahkan 4 Musuh Besar Ini
Bambang Supriyanto – Kamis, 28 November 2013, 13:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri BUMN Dahlan Iskan berpendapat manusia setidaknya memiliki empat musuh besar dalam hidupnya, yaitu rasa takut, kepercayaan diri, kekuasaan, dan umur, yang jika dikelola dengan baik maka diyakini mampu meraih sukses.

“Kalau ke empat musuh besar tersebut dapat diatasi dan dikelola dengan baik, maka siapapun orangnya kemungkinan bisa menyelesaikan tantangan dalam kehidupannya,” kata Dahlan, pada pembukaan Corporate Management Training: Profesionalism in non Military Life bagi Perwira Tinggi TNI AD, di Ragunan, Kamis (28/11).

Dihadapan 33 Perwira Tinggi TNI yang mengikuti pelatihan manajemen korporasi tersebut, Dahlan memberikan masukan bahwa semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam mengembangkan diri dan wawasan menjadi lebih profesional.

“Apapun latar belakangnya, profesinya, asal bisa mengelola empat musuh tersebut, maka seseorang bisa lebih maju dalam hal apapun, sebagai militer, pejabat, maupun sebagai pengusaha,” kata Dahlan.

Mantan Direktur Utama PT PLN ini pun membeberkan, bahwa musuh pertama dialami oleh seluruh orang hidup yaitu rasa takut.

“Semua manusia dilahirkan dengan memiliki rasa takut. Umumnya bisa mengalahkan rasa takut tersebut namun kadarnya berbeda-beda ada yang 100 persen, 80 persen. Bahkan ada yang hanya mampu mengatasi takut 10 persen, maka jadilah dia sebagai penakut,” ujarnya.

Setelah seseorang berhasil mengatasi rasa takut, maka timbul rasa percaya diri.

Namun tambahnya, yang jadi masalah lagi adalah tidak semua orang memiliki rasa percaya diri.

“Rasa percaya diri menjadi musuh kedua. Ada yang mampu membangkitkan percaya diri ada yang tidak percaya diri. Bahkan ada yang terlalu percaya diri,” ujarnya.

Dahlan mengingatkan bagi orang yang belum memiliki rasa percaya diri sebaiknya bisa meningkatkannya, tetapi asalkan jangan terlalu percaya diri karena akan memberi dampak yang kurang bagus.

“Kalau terlalu percaya diri itu bisa kalah. Tapi yang tidak percaya diri juga bisa kalah,” ujarnya.

Sedangkan musuh ketiga diakui pria kelahiran Magetan, 17 Agustus 1951 ini, adalah kekuasaan.

“Pada tahapan ini seseorang dihadapkan pada kesulitan menguasai kekuasaan yang diemban. Ada orang yang menggunakan kekuasaan melebihi porsinya, akhirnya dikategorikan sok berkuasa. Tapi ada juga yang sudah dapat kekuasaan, tapi tidak mau menggunakan kekuasaanya, sehingga tidak bisa langgeng,” tegas Dahlan.

Adapun musuh yang keempat, menurut Menteri yang menjadi peserta konvensi Capres Partai Demokrat ini, adalah persoalan umur.

“Umur menjadi musuh abadi manusia. Tidak ada satu orang pun yang bisa dan mampu menahannya,” ujarnya.

Menurut Dahlan, manusia sudah digariskan memiliki umur tinggal bagaimana mengisi kehidupan dengan hal-hal yang positif dengan tingkat kematangan hidup yang lebih tinggi.
BEI Keluarkan Surat Delisting Saham KARK Besok

Oleh: Seno Tri Sulistiyono
pasarmodal – Selasa, 26 November 2013 | 16:20 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini sedang memproses surat penghapusan saham (delisting) PT Dayaindo Resources Interntional Tbk (KARK).

“Suratnya sudah ditandatangani, jadi suratnya akan keluar besok (27/11/2013),” kata Direktur Utama BEI, Ito Warsito di gedung BEI, Jakarta, Selasa (26/11/2013).

Sebulan dari surat keputusan delisting dikeluarkan, maka saham KARK akan ditendang dari BEI. “Sebulan lagi dihapus, jadi ada proses lain yang harus diselesaikan perseroan setelah surat keluar, seperti pemegang saham yang harus diselesaikan oleh kurator,” ucap Ito.

Menurut Ito, keputusan BEI mendelisting saham KARK karena perusahaan tersebut sudah dinyatakan pailit oleh majelis hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. “Saham KARK belum dua tahun di suspend tapi kita delisting karena emiten tersebut tidak terlihat keberlangsung membaik ke depannya,” ujar Ito.

Tercatat pada Rabu (17/7/2013) Majelis hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat yang diketuai Dwi Sugiarto, menyatakan pailit atas KARK dan PT Daya Mandiri Resources Indonesia (DMRI).

Pada saat yang bersamaan, pengadilan juga mengakhiri masa penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) kedua perusahaan itu, setelah tidak ada transaksi sedikitpun selama tujuh bulan lamanya.

Majelis hakim menyatakan karena sampai batas pembayaran utang dan waktu PKPU berakhir tidak ada perdamaian di antara semua pihak, maka KARK dan DMRI harus dinyatakan pailit. [hid]
Saatnya Pergi Dari Bursa Saham?

Oleh: Bastaman
pasarmodal – Kamis, 21 November 2013 | 09:30 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Bagi investor yang memiliki potensi penyakit jantung, kinilah waktunya bagi mereka untuk mengalihkan dananya ke deposito atau obligasi. Sebab, dalam beberapa hari ke depan ada beberapa kejadian yang kemungkinan besar akan merontokan indeks harga saham gabungan (IHSG).

Salah satunya adalah rencana pemotongan dana stimulus oleh The Fed, akhir tahun ini. Jika itu terjadi, hampir bisa dipastikan dana jangka pendek (hot money) akan hengkang dari Indonesia. Hal lainnya adalah aksi window dressing (mempercantik port folio) oleh manajer investasi (MI). Ada kemungkinan MI akan mengalihkan dananya dari bursa ke investasi lain yang masih bisa memberikan untung besar.

Yang juga harus menjadi perhatian investor adalah pelambatan pertumbuhan ekonomi akibat kebijakan uang ketat. Kenaikan BI rate ke level 7,5% mau tak mau akan berdampak pada kinerja emiten, terutama sektor keuangan, konsumsi, dan infrastrktur. Sejumlah analis memperkirakan, hingga akhir tahun ini kinerja emiten hanya tumbuh 20%-22%. Bahkan tahun depan laba bersih emiten diperkirakan hanya akan tumbuh 15% – 18%.

Makanya, IHSG yang pekan ini berada di level 4.390-an, diperkirakan akan longsor ke level 4.200-an di akhir tahun. Artinya, dalam stau dua bulan ke depan indeks berpeluang melemah sekitar 3,8%. “Jangan harap indeks di akhir tahu akan tembus level 5.000. Paling banter hanya 4.750,” ujar Wilson Sofan, Kepala Riset Reliance Securities.

Betul, perkiraan itu bersifat umum atau rata-rata industri. Artinya, tidak tertutup kemungkinan beberapa saham harganya bisa jatuh lebih dalam lagi. Tak, jika investor jeli memilih saham, justru mereka bisa menikmati gain besar. Itu sebabnya, Wilson lebih merekomendasikan saham-saham defensif seperti saham dan infrastruktur. “Tapi yang penting, jangan lupakan fundamentalnya,” ujar Wilson. [mdr]

Gading Development (GAMA) Diawasi Ketat Setelah Alami Fluktuasi Hebat
Giras Pasopati – Jum’at, 15 November 2013, 14:51 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini sedang mengawasi perkembangan harga dan aktivitas transaksi saham PT Gading Development Tbk. (GAMA) setelah adanya fluktuasi yang cukup signifikan pada harga sahamnya.

Dalam keterbukaan informasi Jumat (15/11/2013), Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI Irvan Susandy menjelaskan telah terjadi penurunan harga dan aktivitas transaksi saham GAMA yang di luar kebiasaan dibanding periode sebelumnya atau biasa disebut Unusual Market Activity (UMA).

BEI telah meminta konfirmasi pada 7 November 2013 lalu. Atas dasar konfirmasi dari perseroan, bursa mengumumkan jawaban tersebut melalui IDX Net pada 12 November 2013.

Sehubungan dengan terjadinya UMA ini, BEI mengharapkan para investor untuk memperhatikan jawaban perseroan tercatat atas permintaan konfirmasi bursa, mencermati kinerja dan keterbukaan informasinya.

Di samping itu, investor sebaiknya mengkaji kembali rencana aksi korporasi perseroan apabila rencana itu belum mendapatkan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Pihak BEI juga menyarankan dalam rilis agar investor mempertimbangkan juga berbagai kemungkinan yang dapat timbul dikemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi.

Pada penjelasan 12 November 2013 lalu ke BEI, manajemen perseroan mengatakan bahwa aksi korporasi saat ini yang akan dilakukan adalah rencana penerbitan obligasi.
BEI Hentikan Sementara Saham GAMA

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Senin, 18 November 2013 | 11:09 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham PT Gading Development Tbk (GAMA) mulai sesi I hari ini.

BEI menilai saham GAMA terjadi penurunan saham komulatif yang signifikan sebesar Rp365 atau turun 80,2 persen. Tren tersebut dari harga penutupan Rp455 pada 31 Oktober 2013 menjadi Rp90 pada penutupan perdagangan 15 November 2013. Demikian mengutip keterangan resmi BEI, Senin (18/11/2013).

Penutupan terjadi untuk perdagangan saham GAMA di pasar reguler dan pasar tunai. BEI pada 15 November telah mengawasi perdagangan saham GAMA dengan alasan tersebut.

Demikian juga pada 15 November 2013 telah menghentikan sementara perdagangan waran Seri I PT Gading Development Tbk (GAMA-W). Alasannya, harga waran GAMA-W berada di harga Rp140 atau lebih besar dari harga penutupan saham GAMA pada sesi I perdagangan Jumat kemari sebesar Rp102.
 

BEI Awasi Saham Gading Development

Oleh: Seno Tri Sulistiyono
pasarmodal – Jumat, 15 November 2013 | 14:09 WIB

tren harga GAMA 2yr Nov2013

INILAH.COM, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan saham PT Gading Development Tbk (GAMA) telah terjadi penurunan harga dan aktivitas di luar kebiasaan dibandingkan periode sebelumnya atau Unusual Market Activity (UMA).

BEI telah meminta konfirmasi terhadap perseroan pada 7 November 2013. Jawaban perseroan telah diumumkan pada 12 November 2013. Demikian mengutip keterangan resmi BEI, Jumat (15/11/2013).

Saat ini, BEI sedang mencermai perkembangan harga dan aktivitas transaksi saham GAMA. BEI meminta para investor mencermati kinerja perseroan, mengkaji kembali rencana corporate action perusahaan tercatat dan memperhatikan jawaban perseroan atas permintaan konfirmasi bursa.

GADING DEVELOPMENT TBK IDR100 (GAMA.JK)

90.00 Down 42.00(31.82%) Nov 15, 4:00AM EST

Prev Close: 132.00
Open: 133.00
Bid: 90.00
Ask: 91.00
1y Target Est: N/A
Beta: N/A
Next Earnings Date: N/A
Day’s Range: 90.00 – 133.00
52wk Range: 90.00 – 510.00
Volume: 115,988,000
Avg Vol (3m): 34,285,000
Market Cap: N/A
P/E (ttm): N/A
EPS (ttm): N/A
Div & Yield: N/A (N/A)
CATATAN: dibandingkan antara jumlah unit saham YANG DITAWARKAN dan jumlah unit saham YANG DITRANSAKSIKAN pada tgl terakhir : yaitu 4 Miliar unit dan 115 Jt unit maka SAHAM INI TERKATEGORIKAN saham yang KURANG LIKUID

Saat ini saham GAMA pada perdagangan pukul 14:12 WIB melemah Rp22,7% menjadi Rp102. Tercatat, saham GAMA pada 30 Oktober 2013 berada di level Rp495 dan pada akhir sesi satu (Jumat, 15/11/2013) berada di level Rp102 atau turun hampir 80%. [hid]
cek info resmi tentang kinerja keuangan GAMA:

Penjualan Gading Development Capai Rp74,1 M

Oleh: Seno Tri Sulistiyono
pasarmodal – Selasa, 12 November 2013 | 00:07 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Gading Development Tbk (GAMA) mencatat penjualan pada kuartal ketiga 2013 sebesar Rp74,17 miliar atau tumbuh 12,24% dari sebelumnya sebesar Rp65,10 miliar.

Penurunan pada beban pokok penjualan menjadi Rp46,35 miliar mampu mendorong laba bersih hingga September tahun ini menjadi Rp15,55 miliar atau tumbuh 66,84% dari sebelumnya sebesar Rp5,16 miliar pada 2012. Demikian mengutip laporan keuangan perseroan, Senin (11/11/2013).

Sementara laba per saham naik menjadi Rp1,55 per saham dari sebelumnya Rp0,52 per saham di kuartal ketiga 2012. Adapun total aset meningkat menjadi Rp1,24 triliun dari sebelumnya Rp1,23 triliun di akhir Desember 2012. Untuk jumlah kas dan setara kas akhir periode sebesar Rp55,80 miliar. [hid]

Saham Gading Development Melesat 42%

Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
pasarmodal – Rabu, 11 Juli 2012 | 10:05 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Harga saham perdana PT Gading Development Tbk (GAMA) naik 42% ke Rp150 per lembar saham, dari harga penawaran Rp105 per lembar saham.

Pada perdagangan perdana di lantai bursa, Rabu (11/7/2012), saham GAMA menyentuh level tertinggi Rp150 per lembar saham dan terendah Rp140 per lembar saham, dengan frekuensi perdagangan 34 kali dan volume 5.313 lot senilai Rp400 juta.

1 lot = 500 unit saham; transaksi perdagangan = 5313 X 500= 2.656.500 saham (KECIL BANGET transaksinya)

Perseroan menawarkan 4 miliar lembar saham dengan harga penawaran Rp105 per lembar. Nilai penawaran umum sekitar Rp420 miliar, dengan harga nilai nominal Rp100 per lembar. Selain itu perseroan turut menyertakan waran seri I sebanyak 2 miliar lembar saham atau 33,31% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Waran diberikan secara cuma-cuma, dimana setiap dua pemegang saham baru berhak atas satu lembar waran. Waran bernilai nominal Rp100 per lembar, dengan harga pelaksanaan Rp105 per lembar. Penukaran waran dilakukan pada periode 11 Januari 2013 hingga 16 Juli 2015.

Rencananya, perseroan akan menggunakan dana hasil penawaran umum saham perdana (IPO) sebesar Rp95,87 miliar (23,97%) untuk membayar kewajiban kepada Palazzo Properti Holdings Ltd. Selain itu, perseroan akan mengalokasikan dana sebesar Rp130 miliar (32,5%) untuk pembayaran kewajiban ke PT AB Sinar Mas Multifinance.

Selanjutnya, perseroan akan mengalokasikan Rp13,51 miliar (3,28%) untuk pembayaran kewajiban di PT Bank Sinarmas Tbk, sebesar Rp50 miliar (12,5%) untuk pembayaran kewajiban ke PT Bank Capital Indonesia Tbk, sebesar Rp50 miliar (12,5%) untuk peningkatan modal anak usaha PT Gading Hotel & Resort, sebesar Rp60 miliar (15%) untuk meningkatkan modal anak usaha PT Swakarsa Adimanunggal, dan sisanya (0,15%) untuk modal kerja.

… kesimpulan sederhana: saham YANG KURANG LIKUID, walau pun jumlah sahamnya DI ATAS 1 MILIAR UNIT, wajib DIWASPADAI, walau pun SAAT IPO HARGANYA MELESAT; SECARA UMUM SAAT INI SAHAM

Key Statistics for GAMA

Current P/E Ratio (ttm) 109.7561

… APALAGI PERnya TERLALU MAHAL, maka risiko PENURUNAN HARGA SAHAM amat tinggi

… well, bersamaan saat YAHOO FINANCE mengeluarkan analisis keuangan GAMA per tgl 16 November 2013, yang berharga $138. Amat mungkin secara fundamental ada persoalan keuangan dengan emiten ini.

xxxxxxxxxxxxxxYYYYYYYYYYYYYYYYYxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

… kesimpulan tulisan berikut CUMA SATU: TIDAK MELAKUKAN APA-APA sama seperti 100% KEHILANGAN KESEMPATAN
Nov. 6, 2013, 6:09 a.m. EST
Fear is killing your investments
The high cost of being afraid of the stock market

By Chuck Jaffe, MarketWatch

Shutterstock
Wayne Gretzky—the greatest hockey player of all time—famously said that “you miss one-hundred percent of the shots you don’t take.” Of the ice, however, the Great One confesses he was “not a big risk taker…I stay away from things that I don’t know anything about.”

Two surveys released this week show that most investors better relate to Gretzky’s second sentiment. Many are still afraid of the stock market—a fear created during the financial crisis five years ago—and those investors have not been taking their shots. As a result, they have missed out, not only on the rally of the last few years, but on the opportunity to be better positioned for what happens next.

BlackRock this week released its first Global Investor Pulse Survey, which showed that while steady gains have pushed some stock markets worldwide to all-time highs, “most people are not comfortable taking on more risks to achieve better returns.” The survey polled more than 17,500 investors (including some 4,000 Americans) across a range of income levels.

In the U.S., 48% of investible assets were being held in cash, with just 18% in stocks and 7% in bonds, according to the survey.

Click to Play
For investors, no risk means no return
Wayne Gretzky, the greatest hockey player of all time, famously said that “You miss 100 percent of the shots you don’t take.” Chuck Jaffe explains how this mantra applies to investing as well. Photo: AP.

That’s ultra-conservative even by the standards of common rules of thumb, like the old saw that says an investor should take their age, subtract it from 100 and use the result as a rough guide for how much of their portfolio should be in equities.

Meanwhile, the Investment Company Institute’s annual survey of U.S. households found that even people who own mutual funds are less willing to take investment risk than they were before the financial crisis. “The dramatic stock market decline from October 2007 to March 2009 appears to still linger in investors’ minds,” said Sarah Holden, ICI senior director of retirement and investor research.

If investors ever wanted or needed proof that Wall Street climbs a wall of worry, they have gotten it in the last five years. And they have seen it reinforced over the last six months, as everything from highly discussed Federal Reserve policy changes to international troubles in places like Syria to a government shutdown and more made the headlines feel like there could be a market implosion at any minute.

And yet, if you shut off your news feed six months ago, you would be turning it on now mostly happy with how your portfolio has grown, blissfully unaware of all of the day-to-day miseries you missed.

That’s not encouragement to “Don’t worry, be happy.”

Instead, it’s an urging to properly understand risk.

Investment pros like to say that risk generates return. Thus, a “risk-less portfolio” could also be described as a “return-less portfolio.” That’s distinctly not what most investors are looking for; if they were, they’d put their money in the mattress or the piggy bank.

The bigger problem is that investors are looking for portfolios that are devoid of risk, as if such a thing actually exists.

It doesn’t.

Put your money in the mattress and you have completely avoided stock market risk, the chance that your principal will be lost, but you have embraced purchasing-power risk, the potential for your money to fail to keep pace with inflation over time. (In your mattress, you also would have risks about how a fire, theft or other calamity might threaten your nest egg.)

It works that way for virtually every type of risk, where you can avoid each hazard only by exposing yourself to another one.

“Getting overly conservative is as risky as anything else that could hit your portfolio,” said Steve Wood, chief market strategist for Russell Investments. “A riskless portfolio is not what people would want to orient themselves around, because that would be low-return or return-less.”

In this economy and with the current market, investors also have little choice but to accept stock market risk in part because the Federal Reserve’s policies are virtually forcing their hand. While interest rates overall have been creeping up, they’re not rising on most savings vehicles yet.

And, it’s fair to say that to this point, Wall Street has been climbing the wall of “unnecessary worry.” Over the last five years, the Standard & Poor’s 500 is up 15% annualized; factor in the crisis and extend the time frame to a decade and that gain will be cut in half.

But at around 7.5%, the market has delivered in the last decade roughly what investors have been taught will be their annualized return from equities.

Ironically, studies show that those kinds of equity returns would disappoint roughly half of investors while appealing to the other half. The unhappy investors are the ones expecting a greater-than-10% return for taking the chance on equities, while the pleased investors are simply grateful that they didn’t suffer losses and got something significantly better than they could have earned staying in cash.

“You can’t get stock market returns without taking risks,” said Rob Kron, director and head of investment and retirement education for BlackRock, “but you can’t avoid stock market losses without taking other risks.”

Investors, to borrow from Gretzky, don’t need to be “big risk takers,” but they do need to take risks, and understand why they are taking them.

If you don’t “take your shots” because you are taking a calculated risk and believe your portfolio will benefit long-term by waiting until later to try to score, then you have a strategy.

But if you are not taking shots because you are still scared about events now more than five years into the rearview mirror, you need to recognize how that is going to affect your ultimate score. You’re kidding yourself when you think that kind of strategy—even if it holds you steady—is not “losing.”

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s