1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

TaperinG @ihsG … 201213_291213 29 Desember 2013

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:49 am

… 2003-2008 saat EDY JOENARDI MERAUP Rp 5 TRILIUN dari bermodalkan cuma Rp 62 Jt aja … saat itu HARGA SAHAM BUMI RESOURCES MELESAT 170 KALI LIPAT dari Rp 50 s/d Rp. 8500 … EJ MENUNGGANG TREN HARGA SAHAM BUMI TERSEBUT dan TIDAK PERNAH ADA LAGE LESATAN HARGA SAHAM SEGEDE ITU LAGE sejak 2008 … well, sila BACA TREN YANG GW BWAT dengan BANTUAN YAHOO FINANCE: DATANG LAH (maranatha) PERIODE KEEMASAN ihsg n rupiah LAGE
Secara sederhana: (gw TETAP BISA KELIRU BANGET) ¬†dalam melakukan SIMPLIFIKASI / PENYEDERHANAAN penjelasan soal IMPACTS OF TAPERING OFF BUYING BONDS PROGRAM BY THE FED ON INDONESIA’S CURRENT ECONOMY … )

… sebagai analogi (perbandingan yang mirip, tapi tidak sama kasusnya, dan bukan dalam hal ekonomi): tapering off pada pengobatan dengan steroid … dalam dunia medis sudah jauh lebe dulu dikenal istilah tapering off, contoh pada peresepan obat steroid untuk penderita yang membutuhkan obat jenis ini … karena steroid dalam jangka panjang memberikan dampak buruk sekali pada penderita, maka pengobatan penyakit dengan steroid wajib dibatasi dan diperpendek jangka waktunya … soalnya: jika steroid sudah diberikan dalam jangka waktu yang panjang walau pun dalam dosis kecil, untuk mengurangi dosis TANPA menimbulkan kembalinya gejala penyakit yang sebenarnya sudah ditolong dengan steroid tersebut maka TAPERING OFF dilakukan … secara perlahan-lahan dan bertahap peresepan steroid bwat penderita penyakit tersebut akan DIKURANGI s/d DIHENTIKAN SAMA SEKALI … pada saat pengurangan dosis dan penjarangan penggunaan steroid tersebut maka dokter akan memantau dengan seksama 2 hal: gejala penyakit yang sebenarnya sudah ditolong dengan steroid, dan efek samping steroid pada penderita tersebut … jika tapering off sukses, maka 2 hal yang dibebaskan dari penderita: PENYAKIT YANG SUDAH DITOLONG DENGAN STEROID dan EFEK SAMPING PENGOBATAN STEROID … ūüôā

… nah, pada soal tapering off program beli obligasi oleh bank sentral amrik, sebenarnya bisa diawali dengan penjelasan soal program penyelamatan ekonomi amrik (karena amrik lokomotif ekonomi global, maka penyelamatan amrik berarti penyelamatan ekonomi global juga) akibat krisis finansial global 2008 … pada saat krisis finansial tersebut, maka the fed aka bank sentral amrik melakukan program pembelian obligasi secara besar-besaran dan menekan TINGKAT YIELDS / imbal hasil surat utang / obligasi amrik … dengan 2 KEGIATAN UTAMA the fed ini maka 2 hal terjadi: ekonomi amrik TUMBUH LAGE BAHKAN BISA DI ATAS 2% pada kuartal tertentu, dan tanda tekanan inflasi mulai ada walau pun masih rendah (di bawah 2% p.a. / setaon) … 1 HAL YANG PALING DIUKUR oleh the fed juga adalah IMBAS PERTUMBUHAN EKONOMI amrik yaitu ANGKA PENGANGGURAN … jika ekonomi tumbuh, maka angka pengangguran TURUN … terbukti atau faktanya: angka pengangguran amrik TURUN dari di atas 9% menjadi 7% dalam waktu 5 taon … nah, the fed mulai menimbang-nimbang APAKAH TUJUAN PENYELAMATAN EKONOMI AMRIK TELAH TERCAPAI, sehingga PROGRAM PEMBELIAN OBLIGASI dan PENGETATAN YIELDS/imbal hasil THE FED FUNDS BISA DIHENTIKAN dan KAPAN WAKTU PENGHENTIANNYA …
… well, tarik nafas dulu ya, gw akan meliat sisi laen dari situasi penyelamatan ekonomi amrik tersebut, yaitu PENYELAMATAN EKONOMI GLOBAL … ekonomi global pasca krisfinalo 2008 memang MASEH BELUM PULIH dan TETAP TERJADI TERGUNCANG dahsyat … fakta pada 2007-2013 ini krisis ekonomi eurozone (kawasan ekonomi eropa yang bersatu: sekira 16 negara) ditambah Inggris (yang bukan ekonomi eurozone) masih berlangsung … krisis eurozone + Inggris tersebut amat MEMPERLEMAH TINGKAT PERMINTAAN EKSPOR negara berkembang (emerging markets), khususnya CHINA dan ASIA … karena 70% ekspor CHINA diserap oleh kawasan eurozone, maka angka pertumbuhan ekonomi (GDP) China ikut MELAMBAT … artinya: TUMBUH tapi AKSELERASI PERTUMBUHAN TELAH TURUN … ibarat manusia: pada usia yang makin dewasa / akil balik TINGGI BADAN TETAP NAEK tapi TIDAK SECEPAT USIA YANG LEBE MUDA … akselerasi yang TURUN INI LAH YANG MENYEBABKAN EKONOMI ASIA, khususnya CHINA, dan ASIA TENGGARA mengalami GUNCANGAN juga (mini krisis) … gdp kita maseh di atas +5% setaon (TURUN DARI RATA2 +6% p.a.) … nah, imbas krisis finansial global 2008, menurut gw (dan sebenarnya gw kutip dari para ekonom global), MASEH BERLANGSUNG pada ekonomi global, amrik, China dan Indonesia …

… mari kita tonton segmen khusus PERILAKU INVESTOR GLOBAL (termasuk ASIENk di bursa efek kita: obligasi, reksa dana, dan saham) … investor global MEMAHAMI SEKALE KONDISI EKONOMI GLOBAL tersebut di atas … mereka bahkan MEMAHAMI DETIL / rinci SITUASI dan KONDISI perubahan ekonomi global di semua kawasan … investor global TAU APA YANG MESTI DILAKUKAN … kalkulasi prediksi ekonomi dikerjakan … interaksi perlambatan ekonomi dan pemulihan ekonomi pada saat krisis maseh berlangsung dipahami SEBAGAI KESEMPATAN (dalam kesempitan) dan PELUANG terjadinya LABA INVESTASI mereka JUGA … mereka BELI dan JUAL produk2 investasi (saham, emas, komoditas, properti, surat utang, derivatif, lukisan, patung, karya seni rupa, koleksi produk unik, dll) … mereka BELI produk bernilai investasi pada saat 2 hal masuk pikiran investasi mereka: MURAH dan MENGUNTUNGKAN DI MASA DEPAN … itu lah yang terjadi sejak 2008, investor global BELI dan JUAL produk2 investasi guna MERAUP LABA MAKSIMUM …

… adonan di atas: krisis finansial global, program the fed, pemulihan ekonomi amrik (sebagai loko ekonomi global), krisis eurozone + Inggris, perlambatan pertumbuhan ekonomi Asia (khususnya China, India, asia tenggara termasuk Indonesia), dan PERILAKU INVESTASI para investor global ternyata MEMBERIKAN IMBAS NEGATIF pada EKONOMI kita … harga bbm bersubsidi NAEK dan pemberian subsidi bbm malah BERTAMBAH besar … INFLASI imbas kenaekan harga bbm bersubsidi telah mencapai setidaknya DI BAWAH 9% … ekspor kita TURUN terutama komoditas yang menjadi ANDALAH ekspor kita … impor kita MALAH RELATIF STABIL dan CENDERUNG NAEK sedikit sebagai imbas PERTUMBUHAN EKONOMI yang sempat 6% … situasi ekspor dan impor tersebut dihitung sebagai neraca perdagangan / transaksi berjalan kita … ujungnya: Ekspor – Impor = MINUS aka DEFISIT NERACA PERDAGANGAN baik jasa mau pun produk … DEFISIT ini disebabkan oleh permintaan impor yang lebe tinggi daripada permintaan ekspor … permintaan impor yang TINGGI karena SEGMEN KELAS MENENGAH kita TUMBUH seiring PERTUMBUHAN EKONOMI kita dan MANUFAKTUR kita BELUM PULIH DARI KRISIS EKONOMI 1997-2000 … jadi: kelas menengah punya DAYA BELI yang LEBE TINGGI, tapi PRODUK YANG TERSEDIA BUAT PERMINTAAN mereka BERASAL DARI LUAR INDONESIA (harus diimpor) … sementara ekspor kita TERGANGGU SEKALE oleh KONDISI EKONOMI CHINA, AMRIK, EUROZONE dan ASIA laennya … sebagai catatan penting: SEMUA TRANSAKSI DAGANG INTERNASIONAL didominasi penggunaan MATA UANG US DOLLAR aka dolar amrik … sehingga ekspor yang menyedot devisa GAGAL MENGIMBANGI impor yang melepas devisa … cadangan devisa kita (dominasi oleh dolar amrik) pun TERGUNCANG dan cenderung TURUN (walau pun belakangan mulai naek sedikit, tapi tetap lom stabil) … karena dolar amrik lebe banyak keluar dari negara kita, maka setiap permintaan dolar ini akan MENINGKATKAN KEMUNGKINAN TINGKAT PENAWARAN JUAL DOLAR amrik yang LEBE RENDAH … rendahnya penawaran dolar amrik akibat semakin kurang likuid cadangan dolar di luar Bank Indonesia … hukum ekonomi utama: PERMINTAAN TINGGI, PERSEDIAAN RENDAH, maka HARGA PRODUK/JASA AKAN TINGGI/ naek menuju KE EKUILIBRIUM TINGKAT HARGA YANG BARU (tinggi) dan bergantung sekale pada ELASTISITAS HARGA / KURS DOLAR tersebut di PASAR GLOBAL … saat kurs dolar amrik terhadap MATA UANG GLOBAL MENGUAT, maka imbasnya juga terasa oleh pasar domestik, yaitu KURS DOLAR/RUPIAH TERUS NAEK (bahkan saat ini sekira 12K rupiah per dolar amrik) .. defisit neraca perdagangan kita telah menimbulkan imbas kenaekan kurs dolar/rupiah …
… lalu gimana perilaku investor global terhadap kondisi ekonomi kita SAAT INI … well, mereka TIDAK SUKA KONDISI DEFISIT neraca perdagangan / transaksi berjalan ini, bahkan dengan DEFISIT APBN 2013 (yang diwarnai MASEH OLEH SUBSIDI BBM yang SEMAKIN GEDE oleh PERUBAHAN KURS dolar/rupiah, karena sebagian bbm bersubsidi maseh diimpor) … DEFISIT KEMBAR ini menunjukkan bahwa ekonomi kita memang TIDAK STABIL … ada KECENDERUNGAN KETERGANTUNGAN pada GLOBALISASI maseh KENTAL … jadi perilaku investor global terhadap ekonomi kita MENDUA, di sisi INVESTASI LANGSUNG sebenarnya MASEH MINAT YANG GEDE walau TERGANGGU KURS $/Rp, dan sisi INVESTASI PORTOFOLIO cenderung TURUN karena imbas PERLAMBATAN GDP ke 5% … investasi di sektor saham dan obligasi sudah terlihat sekali: ihsg rontok di atas 2% (dikalkulasi kasar sejak awal taon s/d 19 Desember 2013) dan tingkat YIELDS/ Imbal Hasil bonds/obligasi/surat utang negara @ di atas 8% (nilai obligasinya terendah sempat 6%) …
… karena investor BENCI kondisi DEFISIT KEMBAR dan PERLAMBATAN PERTUMBUHAN GDP kita maka ASIENk tampak PERGI JAUH MENINGGALKAN BURSA EFEK kita (saham + obligasi + derivatif) … BYE-BYE, GOOD LUCK, and DON’T EVER THINK GOING BACK HERE please … BECAUSE THE CAPITAL INFLOW RUSH is NOT HEALTHY for Indonesia’s or any economy … sesuatu YANG TIDAK WAJAR biasanya JUGA BERAKHIR TIDAK WAJAR … saat MODAL MASUK GEDE2AN ke bursa kita, maka EUFORIA INVESTOR LOKAL TERJADI … padahal EUFORIA ITU GEJALA PSIKOLOGIS YANG TIDAK NORMAL … yaitu gejala INVESTOR TANPA PERTIMBANGAN YANG MATANG ASAL HERD’S EFFECT (efek bergerombol ikut yang pimpin, walau yang memimpin juga cuma bermimpi) SECARA MENDADAK dan GEDE2AN … itu terjadi sejak September 2012-Mei 2013… karena investor global saat itu TERPE$0NA SELISIH ANGKA PERTUMBUHAN EKONOMI negara maju (yang NEGATIF) dibandingkan dengan GDP negara berkembang (misalnya Indonesia) … +6% p.a. itu GEDE BANGET LHO apalagi berlangsung selama setidaknya 2-3 taon, dan juga karena harga properti yang melambung +100% dalam 3 taon tersebut, jadi investor global pun TERGIUR MENCOBA PERUNTUNGAN di Greater Jakarta … setidaknya gw mencatat ada 3 GEJALA PERILAKU MENYIMPANG: buru2 tanpa kalkulasi matang, ikut-ikutan analis atawa broker sekuritas yang dianggap lebe memahami bursa kita, dan taktik hit n run (TABRAK LARI) dalam bertrading … well, gw ga bisa menyalahkan mereka 100%, tapi MEREKA JUGA RUGI BERPERILAKU SEPERTI ITU … 3 gejala psikologis investor tersebut sekarang MELANDA INVESTOR LOKAL juga, tapi MAYORITAS INVESTOR LOKAL UDA PAHAM FENOMENA HOT MONEY / uang panas seperti di atas, mereka KALEM MENJALANI ROLLER COASTER @ IHSG … enjoy AJA ūüôā
… sila bertaperingoff (itu sehat kok), sila berinvestasi jangka panjang (itu sehat kok), SEBAEKNYA GA USA JADI BERPERILAKU ALA INVESTOR GLOBAL, sebaeknya kita JADI JATIDIRI INVESTOR LOKAL YANG EMANG BEDA … ūüôā
… gw mah NUNUT WARREN BUFFETT aja, sang GURU INVESTOR GLOBAL, yang menganut: WHEN BLOOD IN THE STREET, THAT IS TIME WHEN WE ARE MORE OPTIMISTIC TO INVEST (beli saat harga anjlok, dan berinvestasi jangka panjang, sehingga MAMPU JUAL PADA SAAT HARGA SAHAM BERSUASANA EUFORIA lage, setidaknya 2015, pasca taon politis 2014)
apa indikator ekonomi makro kita bisa kembali normal? dolar/rupiah @9700? ihsg @5K ? defisit APBN MENJADI SURPLUS? defisit neraca perdagangan menjadi SURPLUS TERUS? utang tidak mengganggu kurs dan ekspektasi @ihsg? tapering off membuat AMRIK JADI SEHAT, LALU CHINA BISA EKSPOR KE AMRIK DENGAN BAGUS, sehingga EKSPOR KOMODITAS KITA KE CHINA BISA KEMBALI MELESAT?

KENAPA TIDAK?

… jadi gw mah enjoy aja, seperti kata seorang teman, mo BULLISH or BEARISH, gw selalu melihat ekspektasi yang TERBENTUK DI PASAR… keep on trading and investing @saham kita ūüôā

Apa itu Quantitative Easing? Apa itu Tapering?

Oleh Asnil Bambani Amri, Dityasa H Forddanta, Oginawa R Prayogo, Margareta Engge Kharismawati –¬†Senin, 23 Desember 2013 | 08:23 WIB

JAKARTA. Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (Fed) akhirnya membuat keputusan terkait pengurangan stimulus pada Rabu (18/12) lalu. The Fed memutuskan mengurangi stimulus (tapering off) dari semula US$ 85 miliar per bulan menjadi US$ 75 miliar per bulan berlaku Januari 2014.

Keputusan itu diambil setelah the Fed menyimpulkan adanya perbaikan ekonomi AS usai mengalami resesi terburuk sejak 1930. “Seiring kemajuan yang di pasar tenaga kerja yang positif, the Fed memutuskan mengurangi nilai pembelian aset,” jelas pernyataan the¬†Federal Open Market Committee¬†(FOMC) di Washington, Rabu (18/12).

Quantitative easing atau pembelian aset oleh the Fed dibagi menjadi dua, yakni: US$ 40 miliar untuk membeli surat utang AS dan US$ 35 miliar untuk membeli obligasi kredit perumahan yang akan dilakukan dimulai Januari tahun 2014.

Namun, pemangkasan stimulus yang dilakukan Januari itu belum usai. Sebab, the Fed akan melakukan pengurangan stimulus lanjutan jika ekonomi AS membaik lagi. ¬†“Jika kondisi tenaga kerja dan tingkat inflasi sesuai target, komite akan kembali mengurangi stimulus secara bertahap,” jelas the Fed.

Namun, sebelum membicarakan lebih lanjut dampak kebijakan tersebut terhadap Indonesia, sebaiknya kita  bahas dulu apa itu quantitative easing(QE) dan apa itu tapering off? Dan siapa itu Federal Reserve?

Siapa Federal Reserve?

The Federal Reserve disingkat the Fed merupakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang merupakan gabungan dari bank sentral yang ada di negara-negara bagian AS. Seperti bank sentral Indonesia, The Fed memiliki tugas utama mengontrol suplai uang tunai dolar AS.

Selain itu, The Fed juga mengatur ribuan bank swasta di seluruh AS dan juga memberikan pinjaman darurat kepada mereka, jika bank swasta itu mengalami kekurangan uang tunai.

Apa itu tapering off?

Sebelum memahami tapering off, sebaiknya kita memahami dulu sikap The Fed ketika membuat keputusan membeli obligasi di pasar keuangan. Keputusan membeli obligasi inilah kemudian disebut pasar sebagai pelonggaran kuantitatif atau quantitative easing (QE).

Lantas, apa pula quantitative easing (QE)?

Seperti bank sentral lainnya, the Fed mengelola perekonomian AS dengan cara menaikkan atau menurunkan suku bunga acuan. Namun, Fed tak tidak bisa menurunkan suku di bawah nol, di mana telah dipertahankan selama hampir lima tahun.

Jadi, the Fed mencoba cara lain guna merangsang ekonomi AS, dengan cara memompa uang langsung ke dalam sistem keuangan. Caranya adalah, the Fed mengeluarkan uang untuk membeli obligasi jangka panjang , baik itu obligasi berupa surat utang AS dan obligasi kredit perumahan. Harapannya adalah, uang itu kemudian bisa digunakan oleh perusahaan untuk keperluan lainnya.

Yang jelas, kebijakan QE dari The Fed itu telah membantu AS yang dilanda resesi sejak 2009. Namun, belum diketahui seberapa membantu kebijakan QE tersebut itu bagi pertumbuhan ekonomi AS sejak 2009 sampai tahun ini.

Sampai akhir tahun 2013, The Fed telah membeli obligasi US$ 85 miliar per bulan. Alhasil, sampai 11 Desember lalu, The Fed mengantongi hampir US$ 4 triliun dalam bentuk obligasi. Bandingkan aset yang dimiliki The Fed sebelum krisis keuangan yang hanya US$ 800 miliar.

Jadi apa tapering itu?

Yang jelas, the Fed tak ingin terus-terusan melakukan pembelian obligasi. Maka itulah, bank sentral AS ingin mengurangi stimulus berupa pembelian obligasi itu secara bertahap. Proses pengurangannya pembelian obligasi secara bertahap itulah yang kemudian dikenal dengantapering off.

Sebab, sedikit saja perubahan yang dilakukan The Fed, bisa mengundang respons pasar, tak hanya di AS tetapi juga bagi pasar di seluruh dunia. Yang jelas The Fed ingin kembali dalam kondisi normal, alias tak ada lagi program pembelian obligasi atau menyuntik dollar ke sistem keuangan ekonomi AS.

Kapan The Fed melakukan tapering?

Nah, pada bulan Juni 2013 lalu, Ketua the Fed Ben S. Bernanke sudah mengusulkan agar the Fed segera memulai pengurangan pembelian obligasi pada tahun 2013. Saat itu, Bernanke berharap pada musim panas tahun 2014 program QE sama sekali sudah berakhir.

Namun, di bulan September 2013 lalu, pasar yang sempat menanti kabar keputusan the Fed mengurangi stimulus bisa bernafas lega. Sebab, secara tiba-tiba rapat FOMC (Federal Open Market Committee) memutuskan menunda pengurangan stimulus dengan alasan ekonomi AS masih dalam kesulitan.

Hingga pada 7-18 Desember lalu, barulah rapat FOMC memutuskan untuk mengurangi pembelian stimulus berupa pembelian obligasi dari US$ 85 miliar menjadi US$ 75 miliar per bulan. Artinya, The Fed mengurangi pembelian US$ 10 miliar untuk obligasi.

Apa dampak tapering off AS bagi Indonesia?

Kita mungkin masih ingat bulan Juli 2013 lalu, ketika itu indeks harga saham gabungan (IHSG) tumbang sangat dalam. Bahkan IHSG saat itu, IHSG jatuh lebih dari 20%, atau sudah memasuki fase bearish. Nah, salah satu penyebab dari tumbangnya IHSG kala itu berasal dari rencana the Fed mengurangi stimulus.

Maklum, keinginan the Fed mengurangi stimulus atau tapering off telah membuat dana asing yang parkir di Indonesia ramai-ramai keluar dari Indonesia. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sepanjang tahun ini saja, investor asing yang mencatatkan net sell asing di pasar saham sebesar Rp 15,29 triliun. Nilai dana asing yang keluar itu hampir sama dengan nilai dana asing yang masuk tahun 2012, sebesar Rp 15,2 triliun.

Kepala Riset Batavia Prosperindo Sekuritas, Andy Ferdinand bilang, salah satu faktor yang membuat hengkangnya dana asing itu karena adanya spekulasi the Fed yang mengurangi stimulus.

Menurut Andy, fund manager asing cenderung memburu untung ke negara berkembang. Namun, sejak muncul spekulasi adanya rencana tapering, mereka mengubah portofolio, sehingga banyak dana asing di negara berkembang ditarik kembali ke negara asalnya.

Setelah tapering off pada18 Desember lalu, apa yang terjadi?

Sehari setelah the Fed memutuskan pengurangan stimulus, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis (19/12) indeks justru ditutup di zona hijau dengan penguatan 35,70 poin atau menguat 0,85% menjadi 4.231,98.

IHSG rupanya memberikan respons positif atas pengurangan stimulus dari The Fed. Edwin Sebayang, Kepala Riset MNC Securities menilai, kenaikan IHSG itu menyusul indeks Dow Jones yang juga naik tajam setelah the Fed mengumumkan penurunan stimulus.

Pasalnya, kata Edwin, meski The Fed mengurangi stimulus, namun bank sentral AS itu tetap mempertahankan suku bunga rendah. Menurut Edwin, yang menjadi perhatian investor saat ini adalah suku bunga acuan atau Fed Rate, bukan lagi pembatasan stimulus.

Jika Fed Rate naik, barulah¬†hot money¬†yang selama ini ada di negara berkembang termasuk di Indonesia akan hengkang dan kembali ke negaranya. “Jika itu terjadi, maka pasar seperti kolam yang sedang dikeringi,” tandasnya. Untungnya, kata Edwin, the Fed tetap mempertahankan bunga rendah.

Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities juga bilang hal senada. Menurutnya, pelaku pasar sudah menemukan kepastian yang selama ini nantikan. Sebelumnya, banyak investor¬†wait and seedan menunggu keputusan pengurangan stimulus. ‚ÄúKarena keputusan sudah diumumkan, maka indeks menguat,” kata Reza.

Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro menilai, keputusan The Fed mengurangi stimulus menjadi US$ 75 miliar per bulan mulai Januari tidak mempengaruhi pasar dalam negeri. Sebab, kata Bambang, pengaruh kebijakan The Fed itu sudah terasa sejak Mei lalu.

Salah satu pengaruhnya itu adalah, keluarnya¬†hot money¬†di pasar dalam negeri di bulan Juli dan setelahnya. ‚ÄúSehingga keputusan kemarin (The Fed) tidak menimbulkan gejolak, karena pasar sudah meresponsnya sejak bulan Mei lalu,‚ÄĚ terang Bambang.

Selain itu, kata Bambang, rencana pengurangan stimulus oleh AS itu sudah terdeteksi jauh-jauh hari. Sehingga, pemerintah dan Bank Sentral Indonesia sudah mempersiapkan antisipasi sejak jauh-jauh hari pula.

Namun kata Bambang, pengurangan stimulus mulai Januari 2014 oleh The Fed bukanlah akhir dari masalah tapering di AS. Bambang bilang, yang saat ini mesti diwaspadai adalah, adanya pengurangan stimulus lanjutan dengan nilai yang lebih besar.

Apa antisipasi Indonesia hadapi tapering lanjutan?

The Fed sudah mengeluarkan pernyataan, bahwa pengurangan stimulus akan terus berlanjut dengan cara bertahap mengikuti perbaikan kondisi ekonomi AS. Untuk mengantisipasi hal itu, Bambang mengaku sudah mempersiapkan jurus jitu.

Salah satu antisipasi yang dipersiapkan pemerintah dalam menyambut pengurangan stimulus yang lebih besar dari The Fed adalah; mengeluarkan Bonds Stabilization Framework (BSF), kebijakan yang memungkinkan pemerintah melakukan buyback atas surat utang milik negara dan BUMN.

Sementara itu, BI juga sudah mempersiapkan amunisinya jika ada tapering lanjutan dari the Fed dieksekusi. BI menurut Agus sudah membuat Bilateral Swap Arrangement (BSA) dengan Bank of Japan (BoJ) senilai US$ 22,78 miliar.

Selain itu, BI juga menandatangani perjanjian ASEAN Swap Arrangement senilai US$ 2 miliar, BSA dengan China senilai US$ 15 miliar, dan Korea Selatan senilai US$ 10 miliar. Di samping itu, BI juga memiliki fasilitas dana siaga dalam bentuk deferred drawdown option (DDO) senilai US$ 5,5 miliar.

“Ini adalah bentuk kesiapan kami. Kami tidak perlu berharap untuk menggunakan itu. Itu sifatnya hanya berjaga-jaga,” Kata Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo.

Adanya BSA dengan beberapa negara tersebut dijadikan sebagai second line of defence ekonomi Indonesia. Dana tersebut akan dicairkan jika keadaan ekonomi sudah dalam tahap genting. Lantas, kapan tapering lanjutan akan dilakukan The Fed? Kita tunggu saja.

Editor: Asnil Bambani Amri
Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s