1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

menunggu keajaiban: jangka panjang abis, OK KOk 12 April 2014

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:48 am

Jokowi akan Jaga Stabilitas Pasar Modal
Jumat, 11 April 2014 | 19:22

JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) akan mendorong pembangunan infrastruktur dan meningkatkan investasi di Indonesia untuk menjaga stabilitas pasar modal Indonesia.

“Pembangunan infrastruktur, peningkatan investasi akan kita dorong, dengan begitu indeks harga saham gabungan (IHSG) akan naik sehingga dapat menguntungkan emiten,” ujar Jokowi usai melakukan seremoni penutupan IHSG BEI di Jakarta, Jumat.

Melihat kondisi itu, Jokowi mengatakan bahwa pihaknya akan memaparkan kebijakan-kebijakan terkait ekonomi untuk menjaga stabilitas. “Nanti kita jabarkan terkait itu,” ucapnya.

Jokowi mengerti bahwa investor tidak dapat menerima kebijakan yang sifatnya tidak pasti karena kondisi itu akan membuat gejolak di pasar keuangan. “Pasar tidak bisa ditipu, pasar akan bereaksi cepat. Pasar akan menunggu kebijakan yang dikeluarkan,” ujar Jokowi.

Untuk mendorong kinerja industri pasar modal Indonesia, Jokowi mengungkapkan bahwa Pemerintah DKI sedang mengkaji PT Bank DKI untuk masuk ke pasar modal atau melakukan penawaran umum perdana saham (IPO).

Pada Jumat (11/4) ini, Jokowi mendatangi gedung Bursa Efek Indonesia pada Pukul 15.35 WIB dan langsung melakukan pertemuan tertutup dengan direksi BEI. Acara temu dengan direksi BEI itu merupakan agenda nonformal.

Sementara itu, Direktur Utama BEI, Ito Warsito mengatakan bahwa naik-turunnya pasar saham tergantung dari reaksi investor dalam menanggapi kebijakan calon Presiden mendatang.

“Pergerakan pasar saham tergantung dari reaksi investor, tentunya masyarakat akan menunggu program apa yang dijalankan oleh calon Presiden,” ucapnya. (ant/gor)
 

gw KEJAR n KEJAR n akhirnya SALIP HARGA SAHAM JSMR @desemberrruarbiasa 2013, raup double digit potential gain% @january effect

gw KEJAR n KEJAR n akhirnya SALIP HARGA SAHAM JSMR @desemberrruarbiasa 2013, raup double digit potential gain% @january effect

Warren Buffett, Investor Paling Sukses 2013

Oleh: Wahid Ma’ruf
pasarmodal – Jumat, 20 Desember 2013 | 00:03 WIB

INILAH.COM, New York – Inilah alasan Warren Bufett menjadi salah satu investor paling sukses di dunia. Tahun 2012 lalu, dia mengumpulkan keuntungan US$37 juta per hari.

Catatan terbaru dari Oracle of Omaha tersebut mengantarkan Buffett masuk miliarder papan atas. Untuk tahun ini, dia menjadi miliarder dengan perolehan keuntungan terbesar. Demikian mengutip marketwatch.com.

Miliarder legendaris dan dermawan di akhir tahun 2013 ini mencatat kekayaan bersih US$59,1 miliar atau naik US$46,4 miliar dari awal tahun.

Sebuah studi menyebutkan jumlah miliarder baru dari Juli 2012 sampai Juni 2013 total kekayaan meningkat 5,3%. Pelemahan indeks di level terendah pada Maret 2009 saat krisis global, miliarder telah mencatat totak kekayaan hingga dua kali lipat dari US$3,1 triliun menjadi US$6,5 triliun.

Tetapi meski kekayaan Buffett melesat bak roket, pendiri Mocrosoft, Bill Gates masih menjadi miliarder terkaya di dunia saat ini. Gates mengakhiri tahun ini dengan total kekayaan bersih US$72,6 miliar.

Studi terebut mencatat jumlah miliarder di dunia mencapai 2.170 orang bila dihitung jumlah kekayaan mereka US$6,5 triliun. Namun terdapat empat teratas dengan kekayaan US$50 miliar. Mereka adalah Bill Gates. Carlos Slim, Amancia Ortego dan Warren Buffett.

Selain itu, tercatat AS menyumbang 34% dari gabungan kekayaan miliarder dunia. AS tetap menjadi pusat miliarder dunia atau tiga kali lipat dari jumlah miliarder dari China
Tanam Uang di Tempat yang Diketahui
Sabtu, 14 Desember 2013 | 3:28

PRIA murah senyum yang akrab disapa Adi ini memiliki pengalaman berinvestasi di pasar modal sekitar 17 tahun. Sebagai seorang investor, dia rajin mengikuti perkembangan perekonomian dan dinamika di pasar uang dan pasar modal, untuk dijadikan panduan dalam berinvestasi serta mengelola keuangan.

Dalam berinvestasi, dia memiliki filosofi simpel, yakni tanam uang di tempat yang kita ketahui. Pengalaman yang diperoleh selama bekerja di bidang keuangan juga menjadi salah satu nilai tambah bagi Adi, untuk memahami seluk-beluk investasi di pasar uang dan pasar modal. Dia kerap memantau berbagai indikator ekonomi, antara lain perkembangan suku bunga untuk mendukung pengelolaan keuangan.

Lulusan program Pascasarjana GRIPS di Tokyo, Jepang, tahun 2004 ini memaparkan, sebisa mungkin sebagian dari penghasilan rutin sekitar 25% ditempatkan di investasi. Sedangkan sisanya untuk membiayai pengeluaran rutin.

Guna menjamin pemenuhan kebutuhan dana di masa depan ketika masuk masa pensiun, Adi juga menabung di dana pensiun lembaga keuangan (DPLK). Secara umum, porsi investasi Adi saat ini sekitar 25% dialokasikan di reksa dana, sisanya di tabungan serta properti.

“Dulu (sejak tahun 1996), saya memutuskan untuk berinvestasi di saham. Namun, karena keterbatasan waktu dan sudah mulai penakut, saya berinvestasi melalui reksa dana saham dan properti,” ujar dia kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Adi mengaku memiliki kesadaran berinvestasi sejak mulai masuk dunia bekerja (tahun 1995). Sang ayahanda tercinta menjadi motivator Adi untuk mempelajari dan mempraktikkan metode berinvestasi. Dia mengisahkan, meskipun sudah berusia 71 tahun, sang ayah masih berusaha untuk update dengan hal-hal baru terkait investasi, seperti di instrumen reksa dana. Orangtua Adi ini juga selalu berusaha untuk menabung di reksa dana serta tidak boros.

Bagi Adi, tujuan berinvestasi adalah untuk persiapan memasuki hari tua dan membiayai pendidikan anak. Hal ini dinilai penting sebagai upaya untuk mengantisipasi kebutuhan biaya yang jauh lebih tinggi daripada sekarang, sehingga investasi sejak dini berguna untuk memenuhi kebutuhan masa depan.

Dia mencontohkan, hasil investasi bisa memenuhi kebutuhan dana pendidikan anak-anak ketika mereka akan masuk perguruan tinggi, dan pada saat itu, Adi memasuki usia pensiun. “Hal ini jika tidak disiapkan sejak dini tentu akan merepotkan di kemudian hari,” ujar dia.

Selain berinvestasi di pasar uang dan pasar modal, Adi berinvestasi di properti. Meski demikian, investasi properti yang dipilih adalah yang bersifat likuid. Artinya, jika properti yang dimiliki tersebut akan disewakan atau dijual, tidak memerlukan waktu yang lama (hitungan bulan). “Latar belakang investasi properti ini, saya membeli rumah tipe kecil.

Beberapa tahun kemudian, rumah itu bisa saya jual dengan cepat serta dan harganya naik berlipat-lipat. Jika lokasinya bagus, soal harga seringkali bukan menjadi masalah utama bagi pembeli. Harga rumahnya pun akan cepat naik,” papar Adi. (teh)
Merdeka.com – Pasar modal berbasis syariah terus mengalami pertumbuhan. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Friderica Widyasari Dewi memaparkan, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) maupun Jakarta Islamic Index (JII) bertumbuh masing-masing 24,8 persen dan 21,3 persen dibanding triwulan II 2012.

Frederica menyebutkan, dari total 483 jumlah saham di pasar modal, sudah 313 saham masuk kategori syariah. “Saat ini jumlah saham syariah ada 313 saham dari total saham yang ada 483 jumlah saham. Ini angka terus meningkat. Dulu tahun 2007, jumlahnya baru 200 saham. Ada peningkatan 100 emiten lebih,” kata Frederica di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (13/12).

Selain saham syariah, Frederica mengatakan, produk reksadana syariah diperkirakan akan tetap menarik bagi investor berprofil risiko moderat yakni masyarakat yang cenderung mencari imbal hasil (return) di atas imbal hasil deposito.

Per Maret 2013, pangsa pasar reksadana syariah baru 7,71 persen dari total produk reksadana yang ada di Indonesia dengan jumlah 624 reksadana syariah. Sementara itu, obligasi syariah (sukuk) korporasi mencapai 34 seri, dan sukuk negara 25 seri dan 1 ETF Syariah.

“Mayoritas dari saham syariah 28 persen di bidang perdagangan dan jasa, kemudian banyak juga sektor properti, industri dasar dan kimia,” kata Frederica.

Frederica juga menyoroti kinerja ISSI yang unggul dibandingkan dengan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Per Januari 2012, kinerja ISSI tumbuh 13 persen dengan nilai kapitalisasi pasar saham syariah mencapai Rp 3.000 triliun.

“IHSG pertumbuhannya masih di bawah ISSI. Ini membuktikan bahwa ISSI bagus walaupun market terkena dampak keluarnya investor asing,” tutup Frederica.

http://www.merdeka.com/uang/saham-dan-reksadana-syariah-makin-diminati-jadi-alat-investasi.html

Sumber : MERDEKA.COM
Saham blue chip Indonesia punya return tertinggi?
Oleh Oginawa R Prayogo – Kamis, 05 Desember 2013 | 19:07 WIB

kontan

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengklaim, bahwa pasar modal Indonesia masih menjadi instrumen investasi yang memberikan imbal hasil terbaik dibanding pasar modal di negara lain.
Paling tidak, hal ini tercermin dalam 10 tahun terakhir sejak tahun 2003. Informasi ini dilontarkan oleh Poltak Hotradero, Kepala Riset BEI di Jakarta, Kamis (5/12).
Poltak bilang, kesimpulannya itu mengacu pada data riset 10 tahun terakhir, tepatnya periode November 2003 sampai November 2013.
“Jika investor berinvestasi saham blue chip pasar modal Indonesia sebesar US$ 100 di tahun 2003, maka tahun 2013 nilainya naik menjadi US$ 463,” kata Poltak di Hotel Ritz Carlton, Kamis (5/12).
Poltak membandingkan, jika investor menginvestasikan US$ 100 itu kepada emas, maka hasilnya menjadi US$ 313. Jika investasi di saham blue chip di Brazil, Rusia, India, dan China (BRIC), maka uang itu hanya naik menjadi US$ 296.
Poltak bilang, jika dana US$ 100 itu diinvestasikan di saham blue chip di negara berkembang, maka akan berkembang menjadi US$ 246. Kemudian jika diinvestasikan di saham blue chip di seluruh dunia maka hanya berkembang menjadi US$ 166.
“Data ini menunjukkan bahwa investasi di pasar modal Indonesia memang menguntungkan,” klaim Poltak.

investasi jangka panjang di amrik, nyatanya saham masih memberikan gain rata2 pertahun yang lumayan bo… nyaris 7% p.a.

… untuk ukuran amrik, masih lebe besar daripada suku bunga deposito amrik …

Case Closed: Stocks Workby Gene Epstein
Wednesday, March 11, 2009
barron

Investing for retirement — If past is prologue, returns over the next five and 10 years will be better than average — so don’t give up yet.

This year marks the 30th anniversary of a famous Business Week cover story “The Death of Equities.” Along with those scary words, the magazine’s Aug. 13, 1979, cover read, “How inflation is destroying the stock market.” But starting around that time, investors could have beaten inflation quite handily by snapping up stocks and holding them for five or 10 years.

More from Barrons.com:

• A History of Family Secrets, Madoff-Style

• Girding Wal-Mart’s Stock Against a Union Drive

• Contrarian Investors Have Lots of Company

Buying the stock market at the close of 1979 would have yielded, after inflation, an average annual return of 7.3% over the next five years. An even higher five-year return of 9.47% could have been captured by going long at the end of 1978. The 10-year performance would have been healthier still, yielding 9.52% or 10.75%, depending on whether the investor bought at the close of ’78 or ’79.

With the stock market in the throes of yet another near-death experience, another rebirth could be in the offing. Five- and 10-year returns on stocks through year-end 2008 have run negative, and would have looked even worse at the lows of last week. But based on the historical record, performances like these bode well for the next five to 10 years.

The historical record shows that for 20- and 30- year periods, inflation-adjusted returns on stocks have never been negative. Over the 137 years from 1871 through 2008, returns after inflation for 20- and 30-year intervals have been consistently positive. Median returns over the 20-year intervals have been 6.85%, and for 30-year intervals, 6.23%.

With this consistently strong performance over long periods, it stands to reason that below-par returns over five- and 10-year intervals would tend to be followed by much better results over the subsequent five- and 10-year intervals. And in fact, the historical record shows that, following below-average returns over five and 10 years, subsequent periods of similar length do tend to perform better than average.

good_news_bad_news.gif

An investor whose retirement is drawing near might take heed: Investing in stocks today could help produce the cash you will need five or 10 years down the road.

Those who plan to retire in less than 10 years would benefit if the historical trends hold true. Positive returns over the next 20 or 30 years would only make retirement more of a breeze.

Critics of stocks as vehicles for retirement often rig their case by assuming that investors entered and exited with the worst possible timing, buying at peaks and liquidating at bottoms.

But diversification over time — buying and selling periodically, rather than all at once — can be quite effective. Most investors would be foolish to liquidate all their stock holdings on the day their retirement begins, unless they feel endowed with timing skills that few can claim. If they plan to live 20 years past their retirement, they might plan to hold on to at least part of their holdings for 15 to 20 years.

And of course, retirement accounts are set up in such a way that buying can occur in installments over many years. The acquisition of stocks can therefore be diversified over time, along with the process of liquidation.

From this perspective, useful insights can be gleaned from the exhaustive record originally pieced together by Wharton School finance professor Jeremy Siegel for his best-selling book, Stocks for the Long Run, now in its fourth edition.

Siegel has amassed data on rolling five-year periods dating back to 1871 (1871-1876, 1872-1877 and so on). He has similar data on rolling 10-, 20- and 30-year periods.

Why begin with 1871? Prof. Siegel can also provide data going back to 1802, but prior to 1871, the quality of the data isn’t particularly reliable, and data over the past 137 years are more than sufficient to reveal the long-term performance of stocks as an asset class.

The data can track all failed stocks into bankruptcy, so there is no “survivors’ bias,” a common flaw in historical analysis. And Siegel adds that, even in the 1800s, the U.S. stock market featured a fair range of different industries, roughly similar to more recent eras.

Siegel has analyzed the data in terms of “total returns” after inflation. All publicly traded stocks are bought on a capitalization-weighted basis, with all dividends reinvested. Average annual returns benefit from the magic of compounding. Thus, for example, $1 invested at 6.26% over 30 years becomes an inflation-adjusted $6.13 with compounding.

For any given holding period from year-end close to year-end close, no taxes are assumed — not unrealistic, given the advent of tax-deferred accounts. Perhaps a tad unrealistically, management fees aren’t factored in, either. But in the era of index funds and exchange-traded funds, such fees are lower than ever. Some ETFs charge as little as seven one-hundredths of a percent.

Jeremy Schwartz, research director of WisdomTree Asset Management — a firm with which Siegel is affiliated — updated Siegel’s figures at Barron’s request. We asked him to line up the worst-performing quartile of 10-year stretches since 1971 and then see how the following 10 years performed in each case. That meant examining about 30 intervals of poor performance.

reason_for_hope.gif

The result: In each case — without exception — the subsequent 10-year periods performed better and ran positive. The median performance for each was 8.17%, 1.33 percentage points higher than the median for all 10-year intervals.

Schwartz performed the same exercise for the worst quartile of five-year returns. Here the finding was that, in 25 out of the 31 cases, the subsequent five-year periods performed better and ran positive. The median performance for all these cases was 9.47%, 2.50 percentage points higher than the median for all five-year intervals.

Prof. Siegel also compares long-term equity performance with returns in U.S. Treasury bonds — an apt comparison for risk-averse investors seeking reliable income in retirement. Assuming buy-and-hold strategies in Treasuries over 20- and 30-year intervals, how often did the inflation-adjusted income and possible capital gains from bonds prove superior to the returns of stocks?

Answer: Through 2008, stocks have always done better than Treasury bonds over 30-year periods. And over 20 years, stocks bested Treasuries in all but a little over 5% of the cases.

Despite the bear market of 2008, long-term returns through year end were fairly good, running 5.17% annually for the previous 20 years and 6.6% for the previous 30. But what if the investor had the bad luck to liquidate at of the close of February ’09? Add these two disastrous months to the 20- and 30-year holding periods, and returns would have been 4.09% and 5.86%, respectively.

Why do stocks tend to do better over the long run than either bonds or inflation? Mainly because their returns are driven by rising profits — which in turn are driven by real growth in the U.S. economy. That’s why stocks can be indispensable for retirement planning.

Copyrighted, Dow Jones & Company, Inc. All Rights Reserved.
Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s