1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

qu0 vad1$ @2014-2015ihsg … 291213_191114 19 November 2014

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 1:38 am

PERANG KEBIJAKAN EKONOMI MAKRO: semoga IHSG NAEK ya 🙂

PERANG KEBIJAKAN EKONOMI MAKRO: semoga IHSG NAEK ya 🙂

 

 

2015, IHSG akan Tembus 6.000
Oleh Rausyan Fikry | Jumat, 24 Oktober 2014 | 9:49

 

JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan bakal menyentuh level 6.000 pada 2015 atau tumbuh hingga 16% dari proyeksi tahun ini pada level 5.000–5.300. Profil kabinet baru yang sesuai ekspektasi pasar serta rencana pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi merupakan faktor pendorong pergerakan positif IHSG tahun depan.

Profil para menteri, terutama menteri ekonomi, yang bakal mengisi kabinet pemerintahan Jokowi-JK bakal berpengaruh signifikan terhadap pergerakan IHSG. Figur para menteri akan menentukan arah kebijakan pemerintahan nantinya.

“Profil menterinya seperti apa, agresif, moderat, atau pasif?” ucap analis First Asia Capital David Setyanto, di Jakarta, Kamis (23/10).

Dia melanjutkan, pemerintahan Jokowi-JK harus mampu mengambil kebijakan tepat yang dapat mendukung pasar modal Indonesia.Karena bukan tidak mungkin pasar modal Indonesia bakal stagnan apabila dana asing terus keluar karena kebijakan pemerintah dianggap tidak pro pasar.

Salah satu kebijakan yang dinanti pasar adalah rencana menaikkan harga BBM bersubsidi. David mengungkapkan, apabila harga BBM bersubsidi naik dalam waktu dekat maka dampak negatifnya dirasakan tahun ini juga. Namun, dampak positif dari kebijakan tersebut mulai dirasakan tahun depan, sehingga IHSG dapat mencapai level 6.000.

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php

RABU, 25 DESEMBER 2013 | 10:51 WIB

Ekonom UGM Prediksi Kondisi 2014 Memburuk

 

TEMPO.CO, Yogyakarta – Sejumlah ekonom dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) kompak memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan selama 2014.

Guru Besar Ekonomi UGM, Sri Adiningsih, mengatakan penurunan kinerja perekonomian di tanah air yang terus terjadi sampai akhir tahun ini dan kebiasaan pelaku pasar menahan investasi saat menjelang pemilu akan memicu pelambatan pertumbuhan. “Selama 2014, perekonomian Indonesia masih akan memburuk, potensi ketidakstabilan perekonomian besar di tengah tahun politik,” ujar dia di sela pemaparan Economic Outlook 2014 FEB UGM pada Selasa sore, 24 Desember 2013.

Menurut Adiningsih, defisit di sektor fiskal, neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia, yang bermula pada pertengahan 2013 dan berlanjut sampai sekarang, berpeluang besar terus terjadi di tahun 2014. Meskipun perekonomian Amerika dan Eropa tampak mulai membaik, namun kata dia perekonomian dalam negeri tidak akan menerima dampak positifnya. “Harus diingat, ada tapering off di Amerika dan Pemilu 2014,” ujar Adiningsih.

Dalam situasi seperti ini, Adiningsih menyarankan pemerintah fokus menjaga situasi menjelang pemilu agar tetap normal dan konstelasi politik berlangsung damai. Menurut dia, konsentrasi pemerintahan SBY harus ada untuk mencegah pelambatan pertumbuhan ekonomi dan produktivitas industri dalam negeri memburuk secara drastis. “Harapannya, kalau pemilu memunculkan figur yang bisa dipercaya oleh pelaku ekonomi, optimisme pasar naik dan pertumbuhan membaik lagi,” kata Adinngsih.

Ekonom FEB UGM lainnya, I Wayan Nuka Lantara memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan sulit beranjak dari harga angka 4000-an. Dia menganggap selama 2014 sulit berharap harga saham bisa kembali seperti awal tahun ini, yakni sampai menembus angka 5.200. “Masalahnya, bursa saham Indonesia terlalu didominasi investor asing yang jumlahnya 54 persen. Mereka suka melepas sahamnya ketika harga turun, tapi untungnya pada September lalu, investor domestik berani membeli saham yang dilepas mereka,” kata dia.

Pada 2014, dia menambahkan sektor industri seperti properti dan otomotif bakal terus tertekan. Sebabnya, dia menjelaskan kurs rupiah yang terus melemah membuat sejumlah sektor industri dengan bahan impor kesulitan berkembang. “Apalagi, tingkat bunga terus naik, misalnya ada bank swasta yang berencana jual deposito berbunga 10 persen, tapi menaikkan bunga kredit sampai 23 persen,” kata dia.

Wakil Dekan FEB UGM, Muhammad Edhie Purnawan, juga meramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 2014 maksimal hanya di kisaran 5,9 persen. Menurut dia, Indonesia harus segera melepaskan ketergantungan dari dana stimulus asing dengan menghidupkan sektor riil agar tidak mudah didera efek krisis global seperti sekarang. “Selama ini, Indonesia belum mampu menciptakan transmisi modal dari sektor moneter, lalu ke perbankan, dan kemudian menuju sektor riil,” kata dia.

ADDI MAWAHIBUN IDHOM

 

Akan Ada Rotasi Investasi ke Negara Maju
20 December 2013 10:39 WIB

infobank

Jakarta–Perekonomian negara di emerging market tengah mengalami perlambatan. Akan ada rotasi investasi dari negara berkembang menuju negara maju yang tidak hanya dilandasi dari keringkihan makroekonomi negara berkembang.

Sepanjang 2013 ini, harga emas anjlok sekitar 26%. Kejatuhan harga emas ini dipercaya menandai berakhirnya siklus besar kenaikan komoditas yang terkait perubahan struktural penyeimbangan ekonomi global dan kelimpahan likuiditas.

“Bersamaan dengan kejatuhan harga emas, harga komoditas promer yang menjadi andalan ekspor negara berkembang justru mengalami penurunan”, kata Chief Economist and Director for Investor Relation PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat, di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Budi, penurunan harga komoditas itu memangkas pendapatan penduduk dan penerimaan pajak pemerintah. Pelemahan pendapatan ini melandasi terkendalinya demand-pull inflation yang secara teoritis memungkinkan suku bunga tidak perlu dinaikkan.

“Kami mencermati ekonomi Indonesia sebetulnya sudah melambat sebelum kenaikan harga BBM Juni 2013″, jelas Budi.

Budi berpandangan, akan terjadi rotasi investasi dari negara berkembang menuju negara maju. Bukan hanya didasari dari rentanya makroekonomi negara emerging market. Nampaknya proses deleveraging dan reformasi ekonomi yang telah dilakukan memungkinkan pertumbuhan ekonomi di negara maju, khususnya AS mulai membaik.

“Perlambatan ekonomi dan melorotnya kinerja pasar modal di negara berkembang juga terimbas oleh kenaikan yield obligasi negara setelah merebaknya spekulasi The Fed mengenai tapering off“, ungkap Budi. (*)
Tahun ini jeblok, tahun depan bisa bangkit lagi
Oleh Narita Indrastiti – Rabu, 11 Desember 2013 | 11:30 WIB

kontan

JAKARTA. Dua hari pertama pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bangkit. Namun jika menghitungnya sejak awal tahun hingga Selasa (10/12) atau year to date (ytd) yang berada di angka 4.275,68, posisi IHSG masih minus 0,95%.

Harga sejumlah saham unggulan yang rontok di tahun ini turut andil menurunkan IHSG. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham unggulan penggerus indeks (laggard stock) di tahun ini didominasi saham sektor pertambangan, semen dan telekomunikasi.

Ambil contoh, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang turun hingga 50,8% sejak akhir tahun 2012 hingga kemarin. Saham ini telah mengoreksi 8,1 poin terhadap IHSG.

Beberapa saham emiten tambang lain yang punya performa negatif di tahun ini adalah saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (IMTG), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Dari sisi kapitalisasi pasar, penurunan harga saham PT Astra International Tbk (ASII) memberi dampak terbesar bagi IHSG. Kontribusinya sebesar 47,4 poin terhadap penurunan IHSG. Sebagai catatan, sejak awal tahun hingga kemarin, harga saham ASII minus 13,8%. Setelah ASII, saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) memangkas 41,6 poin pada bobot penurunan IHSG.

Return saham emiten semen juga negatif. Misal, return saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) minus 17%. Pun, saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) sudah terkoreksi 12,5%. Sementara dari emiten telekomunikasi, harga saham PT Indosat Tbk (ISAT) minus 37,2%.

Thendra Chrisnanda, analis BNI Securities mengatakan, saham-saham penggerus IHSG tersebut, umumnya terserempet sentimen negatif kenaikan suku bunga acuan (BI rate) dan pelemahan rupiah. “Laporan keuangannya mengecewakan, jadi wajar saja kalau turunnya paling mencolok,” tukas Thendra.

Selain itu, saham-saham itu banyak digenggam investor asing. Dus, ketika asing menarik diri dari pasar, saham-saham tersebut ikut tergerus.

Pergeseran sektor

Adrianus Bias, Analis Samuel Sekuritas, menyatakan, ada beberapa saham penggerus IHSG yang memiliki prospek fundamental cukup baik. Contohnya adalah SMGR dan INTP.

Penurunan harga saham dua emiten tersebut di tahun ini lebih disebabkan oleh imbas perlambatan ekonomi dan sektor properti. “Penggunaan semen melambat dan menghadapi tekanan biaya,” tutur Adrianus.

Justru, lanjut Adrianus, saham-saham dengan fundamental yang masih bagus namun sudah terdiskon besar, seperti SMGR, layak dikoleksi mulai sekarang. “Pada dasarnya, di level sekarang valuasinya cukup menarik,” kata dia. Cuma, ia belum merekomendasikan saham emiten tambang karena dalam jangka menengah belum pendorong harga saham emiten tambang.

Tahun ini, saham pemberi gain tertinggi masih banyak berasal dari saham sektor konsumsi. Tahun depan, Thendra yakin akan ada pergeseran sektoral penggerak IHSG. Di tahun depan, saham-saham sektor perkebunan diperkirakan bakal berjaya.

Penggerak prospek sektor perkebunan adalah harga komoditas yang mulai pulih. “Dari outlook yang kami buat, di tahun depan akan terjadi switching sector. Sektor perkebunan akan memimpin pergerakan dan memberi katalis positif,” terang Thendra.

Saham sektor konsumsi juga masih menjadi penggerak IHSG. Jika ingin mengakumulasi, Thendra menyarankan, saham yang cenderung defensif seperti UNVR, ICBP, AALI dan LSIP. Adrianus menjagokan saham sektor konsumsi serta konstruksi untuk tahun 2014. Kedua sektor ini masih prospektif.
Editor: Yuwono Tri
Investor Saham Jangan Harap Valuasi Premium 2014

Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal – Selasa, 17 Desember 2013 | 06:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Pemerintah dinilai sengaja memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan. Karena itu, investor saham jangan terlalu berharap valuasi premium pada tahun politik tersebut.

David Cornelis, kepala riset KSK Financial Group mengatakan, secara terang-terangan, Menteri Keuangan malah menegaskan apabila pertumbuhan ekonomi melebihi 6,2%, pemerintah justru gagal. “Itupun tambahan 0,2% hanya terbantu akibat konsumsi belanja Pemilu 2014, ironis,” katanya kepada INILAH.COM.

Berpegang pada asumsi Menteri Keuangan tersebut, kata dia, investor saham jangan harap ada valuasi premium di bursa di tahun 2014. “Kenaikan BI Rate tidak efektif dan salah sasaran dari segala sisi, karena hanya secara semu menekan defisit transaksi berjalan, apalagi defisit yang terjadi lebih diakibatkan oleh impor migas,” ujarnya.

Dari sisi moneter pun, kata dia, yang terjadi adalah tingginya inflasi karena dorongan biaya, bukan karena tarikan permintaan (cost-push inflation, bukan demand-pull inflation). “Senjata moneter dipakai melawan monster fiskal, teori jadul ala tahun 80-an,” tuturnya.

BI beberapa bulan lalu pernah memproyeksikan inflasi tahun ini hingga 9,8%, lalu direvisi kembali ke 9%, yang artinya inflasi Desember ini seharusnya tidak boleh lebih dari 0,63%, kalau tidak, prakiraan BI akan kembali meleset. “Sebagai informasi saja, rata-rata inflasi Desember selama 12 tahun terakhir mencapai 0,87%,” ucapnya.

Secara teoritis, kata dia, kenaikan suku bunga mestinya direspons dengan penguatan rupiah. “Dolar menguat secara global, rupiah kena imbas domestik yang tidak beres ditambah situasi yang bersifat struktural-fundamental di sektor moneter dan fiskal,” papar dia.

Semua itu, kata dia, lalu direspons gebyah uyah geng Kebon Sirih dan klub Lapangan Banteng hanya dengan kebijakan populis nan politis demi pemilu 2014 dan tindakan normatif (atau “ecek-ecek”, meminjam inuendo Anwar Nasution) yang senantiasa menimbulkan anomali dan paradoks. “Mesti ada langkah konkret dan advokasi lebih lanjut terhadap implementasi kebijakan yang diambil tersebut,” tandas David.

Usaha pemerintah menjual obligasi pertama kali di pasar sekunder senilai US$450 juta dengan kupon 3,5% akhir November lalu pun berlalu tak laku, tidak membantu penguatan rupiah. “Justru sebaliknya, rupiah makin melemah,” ujarnya.

Di waktu yang sama credit default swap (CDS) mengalami kenaikan di bulan November sebesar 5,73%. “Ini menggambarkan naiknya premi risiko investasi di Indonesia. Otomatis valuasi saham pun turun,” imbuhnya. [jin]
2014, IHSG Bisa Tumbuh 23%
Oleh Jauhari Mahardhika dan Agustinus Tetiro | Senin, 16 Desember 2013 | 7:28
investor daily
JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada 2014 diprediksi tumbuh lebih tinggi dibandingkan 2013, meski
tahun depan pasar modal bakal dipengaruhi oleh beberapa isu penting di dalam negeri yaitu neraca perdagangan, transaksi berjalan, nilai tukar rupiah, dan pemilu. Sedangkan sentimen dari luar negeri masih seputar rencana pengurangan stimulus moneter (tapering off) di Amerika Serikat (AS).

Kalangan analis pasar modal optimistis IHSG tahun depan mampu menembus level 5.000, bahkan bisa mencapai level 5.200-5.300. Sementara itu, pada perdagangan Jumat (13/12), IHSG ditutup pada level 4.174. Hingga
akhir tahun ini, indeks kemungkinan ditutup pada level 4.200-4.350.

Dengan prediksi tersebut, maka pertumbuhan IHSG hingga akhir 2014 bisa mencapai 22-23%. Pertumbuhan itu jauh di atas tahun ini yang diperkirakan hanya sebesar 0,8-1%. Bahkan, tahun ini IHSG bisa minus 2,7%. Pada akhir 2012, IHSG ditutup pada level 4.316. Pertumbuhan IHSG tahun depan yang lebih tinggi bakal ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang masih bagus. Bahkan, pemilu diyakini bisa menambah pertumbuhan ekonomi sebesar 0,2-0,3%.

Selain itu, defisit transaksi berjalan, inflasi, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan membaik. Sedangkan suku bunga acuan (BI rate) diperkirakan turun dan laba emiten diproyeksi tumbuh 16-18%.

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php
2014, ADPI Prediksikan Portofolio Investasi Lebih Berimbang
Tisyrin Naufalty Tsani – Rabu, 20 November 2013, 19:25 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) memprediksikan portofolio investasi industri dana pensiun sepanjang 2014 akan lebih berimbang.

Industri dana pensiun akan mencatat portofolio investasi yang hampir sama pada empat instrumen yaitu obligasi korporasi, deposito, saham dan Surat Utang Negara (SUN).

Ketua ADPI Gatut Subadio mengatakan portofolio investasi pada obligasi korporasi serta deposito akan lebih tinggi namun diiringi meningkatnya penempatan investasi pada instrumen lainnya.

saham akan meningkat

, SUN akan meningkat,” katanya Rabu (20/11/2013).

Menurutnya, dengan adanya peningkatan portofolio investasi pada saham dan SUN, sepanjang 2014 portofolio investasi industri dana pensiun akan berimbang.

Dia memprediksikan, sepanjang 2014 penempatan investasi pada instrumen obligasi korporasi akan mencapai 25%, deposito sebesar 23%, SUN sebesar 21% serta saham mencapai 20%.
Pengetatan Likuiditas, BI Rate Diproyeksi Naik Jadi 8% pada 2014
Ana Noviani – Sabtu, 14 Desember 2013, 18:01 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Suku bunga acuan (BI Rate) diproyeksi naik 50 basis poin menjadi 8% pada 2014 seiring langkah bank sentral untuk memperketat likuiditas dan mengerem pertumbuhan kredit.

Rangga Cipta, Ekonom PT Samuel Sekuritas Indonesia, menuturkan kebijakan Bank Indonesia sangat longgar sejak 2009 sebagai dampak dari bergulirnya arus modal seiring quantitative easing bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

“Sekarang yang perlu dilakukan adalah memperketat kebijakan untuk menyerap ekses likuiditas, mengerem pertumbuhan kredit, dan memperbaiki neraca transaksi berjalan,” ujarnya dalam Market Outlook 2014, Sabtu (14/12).

Untuk itu, BI diproyeksi akan kembali menaikkan suku bunga acuan dari 7,5% pada Desember 2013 menjadi 8% pada 2014.

“BI rate mungkin kembali dinaikkan tahun depan, menjadi 8%,” tuturnya.

Kendati tingkat inflasi diproyeksi relatif stabil di level 6,5% pada 2014, namun langkah penaikan BI Rate dinilai masih terbuka guna memperlambat pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan volatilitas nilai tukar rupiah.

“Inflasi sustain, tetapi growth masih cepat, volatilitas rupiah juga masih tinggi,” kata Rangga.

Selain menaikkan BI Rate sampai 8%, pertumbuhan kredit juga diproyeksi akan ditekan ke kisaran 17% year-on-year pada 2014.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s