1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

widely, wisely @investas1 (3) … BERL1AN 18 Juli 2015

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:25 am

Just because you have a Ph.D. in economics doesn’t mean you know how to invest for retirement.

Alicia Munnell, the director of Boston College’s Center for Retirement Research, was a member of the president’s Council of Economic Advisers for two years before joining Boston College as a professor of management sciences in 1997. Before the council, she was assistant secretary of the Treasury for economic policy for two years. That was after working for the Federal Reserve Bank of Boston for two decades. And that was after getting her Ph.D. at Harvard.

But taking responsibility for your own investing is “too hard,” she says. Like everyone else out there, Munnell, 72, is nervous about whether she’s doing the right thing. She did make a couple of smart financial decisions in her early 50s that firmed up her financial footing. They had nothing to do with stocks or bonds.

Now Munnell tries to help people learn from her mistakes by talking about them as often as possible. The “not-so-smart things,” she calls them.

The situation

Munnell and her 76-year-old husband, Henry Healy, a lawyer, both still work. She analyzes retirement issues, works on papers, writes a retirement blog, and suggests changes to policy1. You don’t get rich in academia, but “you get in benefits what you don’t get in salary,” she says. She loves working and has no plans to stop, though she has broadened her interests in recent years. She’s taken up duplicate bridge, plays in tournaments, and daydreams more about such things as cruises down the Danube.

Munnell says that like many people she probably has too much money in cash—she guesses she has a third in cash, a third in stocks, and a third in bonds. She’d have much less in stocks if her son weren’t a private wealth manager at Goldman Sachs. “He probably got us out of hoarding our money under the mattress,” she says. “He only intervenes when he’s kind of horrified.”

Smart thing No. 1

One Sunday in the mid-1990s, when she was around 50, Munnell began to wonder about how much she and her husband were spending and how much they might have to live on in retirement. This was after she worked in the Clinton administration and was back in Boston looking for a job. She looked at their earnings, savings, and mortgage payments to get a rough idea. The result: a “mind-boggling mismatch” between the money they needed to maintain their present and future lifestyles.

One of the couple’s major assets was a stately home on Boston’s Beacon Hill. It was a “huge single-family house with six bedrooms and a garden,” Munnell says. “We could’ve had people living upstairs and would never have known it.” She and her husband talked with a financial planner she knows from her work at the center, who emphasized that they had a budget constraint and needed to set up their budget to reflect that. In other words, get rid of the house.

Then, one day, someone just showed up at their house to buy it. “Normally I would have said no,” Munnell says. “And we could’ve been fine in that house for a good number of years. But because I did that [budget] exercise, I took advantage of the opportunity when it arose.” The couple still lives on Beacon Hill but in a co-op, and they have no debt on either that or a house they own in Vermont.

Smart thing No. 2

Working longer is a solution to inadequate retirement savings that Munnell is passionate about. It helps you postpone taking Social Security so you get a far bigger monthly benefit, and it allows tax-deferred retirement savings to grow. What both of her smart retirement moves have in common, she stresses, is that neither had anything to do with investment options.

“One was controlling your spending, and the other is a labor force decision,” she says. “If I have a message, it’s that I’m stymied like everyone else about how to invest my money, but for one reason or another I made good lifestyle decisions that saved me.”

The not-so-smart stuff

Most of Munnell’s mistakes involved using retirement savings for current lifestyle needs. When she worked at the Boston Fed, she had a defined-benefit pension plan, now a coveted rarity. When she left that job to work in Washington, she asked a neighbor there whether she should take her benefits in a lump sum. He said yes, that she could invest it and make more money than if she left it in the defined-benefit plan.

Wrong. She spent it all. She wasn’t buying anything particularly lavish, but she and her husband were maintaining two homes. “I should have just left it in there, and it would have turned into a meaningful amount,” she says.

She also tapped the money in her 401(k) plan at the time, albeit from her after-tax 401(k) savings. “I used my after-tax account like a bank account,” she says. “I used it to pay for the honeymoon of one of my sons. I was a little cavalier. I’d tell anyone else not to touch it, ever.”

Another, smaller regret is moving money out of the government’s thrift savings plan. She wanted to consolidate her accounts in one place to get a better feel for her asset allocation. “I’m not happy I did that,” she says. “It has such low fees.”

The bottom line

Munnell spends a lot of time thinking about other people’s retirement rather than her own. She worries that a whole cohort will arrive at retirement without enough money to live comfortably. Instead of fretting over whether you should be in stocks or bonds, she recommends that people focus on the things they can control, such as their lifestyles.

For many people, that won’t be enough, and Munnell says a lot needs to be done on the policy front. That’s why she keeps working.

KOMPAS.com – Indonesia dilanda pesimisme. Duh ini berbahaya sekali. Pesimisme adalah gejala “merasa susah” tanpa dibarengi kemampuan melihat fakta-fakta kemajuan (yang meski ada selalu dipertanyakan kebenarannya). Dalam era social media, pesimisme amat cepat menular. Ia bisa menjadikan suatu bangsa kalah, karena mereka memilih bertengkar, tak sabaran menunggu rebound.

Seorang pengusaha sawit merespons begini:  Sewaktu harga TBS (tandan buah segar) Rp 95/kilogram, biaya pokok kami Rp 2 juta-Rp 4 juta per bulan dan perusahaan kami sudah untung. Sekarang harga TBS sudah di atas Rp 1.000 per Kg dan biaya pokok sudah bisa dibuat di bawah Rp 1 juta. Tapi entah kenapa teman-teman pengusaha sawit bilang dewasa ini mereka rugi.

Entah mengapa, juga  banyak yang merasa bangsanya menjadi yang paling susah, seakan-akan akan terisolasi. Perasaan susah itu seakan masih bisa sendirian. Padahal ini era borderless, free flow, interconnected, complex relationship. Semua saling mempengaruhi. Satu bangsa susah yang lain jadi ikut terganggu karena kita sudah saling bergantung satu sama lain.

Lalu kalau yang lain ikut susah, kita cuma melihat bahwa mereka masih lebih baik dari kita. Padahal di sana, perilaku yang sama juga terjadi saat mereka melihat kita di sini.

Lantas teman-teman saya mengajurkan langkah berhemat, tunda belanja, tunda investasi. Duh, makin ngeri saja. Kalau semua saran itu dituruti, ekonomi kita bisa makin sulit, tertekan. Bahkan iseng-iseng copas berita negatif saja bisa merugikan diri sendiri. Indonesia bisa dilanda depresi, lalu benar-benar stagnasi.

Tapi syukurlah selalu saja ada orang-orang yang berpikir sebaliknya. Tak percaya dengan situasi itu, mereka justru mengambil langkah investasi besar-besaran. Nah begitu proyeknya selesai, pesaing-pesaingnya masih tertidur, maka cuma dialah yang berjaya.

Susahnya di mana?

Inilah awal dari segala kesulitan itu. Diberitakan penjualan beragam komoditas kuartal pertama 2015 mengalami penurunan: semen turun 3,3 persen, mobil 15 persen, motor 19 persen, properti bahkan turun 50 persen, dan nilai ekspor turun 11,67 persen.

Setelah itu satu persatu perusahaan publik melaporkan penurunan pendapatan bersihnya. Adhi Karya turun 34,5 persen, Agung Podomoro Land 65 persen, Astra International  15,64 persen, Bank Danamon 21,47 persen, Holcim bahkan merosot  sebesar 89,78 persen. Dan masih banyak lagi.

Setelah itu, peluru bertubi-tubi diarahkan ke pemerintah yang sudah mengalihkan subsidi BBM. Harga-harga sudah kadung naik, buruh terus menuntut kenaikan upah secara progresif, sementara kurs rupiah tiba-tiba jeblok karena langkah besar Amerika, dan koordinasi antar lembaga belum terlihat solid.

Beras dan gula mulai banyak dijadikan permainan mafioso, apalagi setelah presiden mengumumkan agar jangan lagi impor. Belum lagi pupuk yang harusnya bisa digunakan untuk memicu produktivitas sektor pertanian. Subsidinya  masih menjadi permainan para elit.

Dan puncaknya, terjadilah harga-harga saham merosot. IHSG turun 6.4 persen dalam sepekan. Rekan-rekan saya menambahkan dalam daftar jokes. Yang naik adalah penjualan Narkoba (katanya naik 28 persen, cuma bagaimana menghitungnya ya?), miras (naik 63 persen), bisnis prostitusi (naik 200 persen), dan batu akik (katanya ini bisa naik 300 persen).

Pantaslah tarif kencan AA konon bisa mencapai Rp 80 juta-Rp 200 juta. Dan pantas pula Gubernur DKI mengancam akan memperkarakan warganya yang membongkar trotoar bila  mengambil batu-batu kali yang diduga batu akik. Ada-ada saja gurauan ini ya.

Tetapi pesimisme semua itu akhirnya secara ilmiah terbaca dalam sebuah indeks, yaitu Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang diukur oleh badan-badan resmi. Meski bukan menggambarkan kenyataan yang sebenarnya, indeks ini sejatinya mengukur persepsi konsumen yang menggambarkan apakah mereka mau melakukan pembelian terhadap barang-barang yang dapat ditunda. Secara hipotetis, semakin pesimis manusia semakin menunda.

Bank Indonesia misalnya, beberapa hari lalu mengumumkan IKK dalam sebulan terakhir yang merosot 9,5 poin. Ini angka kemerosotan yang lumayan merepotkan bagi pemerintahan Jokowi-JK tentunya.

Apalagi kalau kita lihat, proses penurunan itu sudah terjadi terjadi sejak awal tahun. Dari sekitar 120,2 (Januari 2015) menjadi 116,9 ( Maret ), lalu turun lagi menjadi 107,4 (April 2015) angkanya memang masih di atas 100. Ternyata optimisme masih ada.

Tetapi nyali ekonomi bangsa kita mulai menciut. Kalau turunnya lebih tajam lagi, maka saya khawatir akan semakin banyak pesan-pesan negatif yang tidak sehat yang beredar luas dimasyarakat yang “merasa susah” meski hidup sebenarnya belum tentu susah-susah amat. Lagi pula apa salahnya berhenti belanja yang tak perlu-perlu amat dalam waktu sesaat?

Pesimisme itu seperti virus. Perasaan susah apa tidak semua tergantung pada tekanan psikologis dari luar yang bisa  ditiupkan banyak pihak. Ini membuat orang-orang yang mudah digoyahkan merasa benar-benar susah, meski ia masih tetap kaya.

Apartemennya ada banyak, anak-anaknya sehat, penjualan usahanya masih berputar, tetapi mereka tidak siap menerima berita kesusahan. Itulah realita ekonomi abad ini, abad komersial dan materialisme di mana orang merasa susah kala tak bisa menangguk untung lebih besar.

Di sana juga susah

Perasaan susah itu ternyata beredar luas. Di berbagai grup dalam media sosial yang saya ikuti, selalu saja ada orang-orang yang mudah terganggu dengan berita negatif itu. Lalu semua mulai mengaitkan dengan kehidupannya.

Tetapi kalau ditunjukkan fakta-fakta lain dan ancaman depresi dari penyebaran berita negatif itu, sebagian dari mereka pun masih bisa diajak berpikir jernih.

Maka, meski jalan tol tetap macet, mereka mengaku harga BBM sangat memberatkan. Toh jalan raya keluar kota tetap penuh. Tiket kereta api untuk mudik lebaran begitu cepat habis diborong masyarakat. Pulsa telepon tetap laku. Telkomsel mengklaim mengalami kenaikan pendapatan sebesar 31,1 persen per kuartal I-2015).

Harga kebanyakan properti di kawasan metropolitan terlihat masih tetap naik, tetapi di berbagai group WA para pemilik properti merasa hidup mereka terganggu. Pertikaian antara pemilik unit dan pengembang mulai meruncing dengan sejumlah alasan termasuk kekhawatiran harga unit propertinya bakal terganggu.

Dengan cepat “rasa susah” itu menyebar luas. Seakan-akan kita sedang menuju resesi dan seakan-akan pemerintah ini mudah gagal. Bahkan ada yang mengolok-olok orang lain sebagai “salah pilih” pemimpin.

Benar, bahwa PR yang harus dikerjakan pemerintah masih banyak. Koordinasi belum bekerja dengan baik. Konsistensi masih diperlukan. Beberapa menteri mungkin belum menunjukkan “kinerja” terbaiknya. Mungkin karena merasa kedudukannya telah dijamin oleh partai politik pendukungnya.

Tetapi data berikut ini juga perlu kita renungkan. Ini saya dapatkan dari The Nielsen Global tentang penurunan volume bisnis eceran. Menurut Nielsen penurunan itu sudah terjadi di Asia Pasifik sejak 2013. Dari pertumbuhan sekitar 6-7 persen pada 2012, tiba-tiba pertumbuhan volume retail di kawasan tersebut menjadi 2,7 persen pada kuartal I-2013, hingga hanya 0,3 persen pada kuartal III-2014.

Suasana terburuk justru terjadi di luar negeri. Di Australia, kuartal ke IV-2014 bahkan growth-nya minus 1,1 persen. Jepang lebih buruk lagi yang awal tahun lalu, pertumbuhan ekonominya minus 3,2 persen. China dan India rata-rata mengalami penurunan serupa. Korea bahkan lebih buruk, negatifnya sekitar 3-4 persen.

Di antara negara tetangga, hanya Filipina yang volume bisnisnya masih bagus. Retailnya tumbuh diatas 5 persen akhir tahun lalu. Singapura saja memburuk dan pelanggan-pelanggannya mulai membeli merek-merek yang lebih murah. Wajarlah bila investasi dalam pembangunan pusat-pusat belanja di Asia-Pasifik berhenti .

Ketika disurvei, hampir semua konsumen di Asia mengkhawatirkan kenaikan harga BBM dan voltilitas ekonomi global. Bahkan presiden terbaik pun bisa saja gagal mengendalikan gejolak ekonomi global dalam perekonomian di negaranya. Volatility, uncertainty, complexity dan ambuguity.

Berhenti atau Berhemat?

Jadi harusnya Indonesia bisa lebih bersyukur bahwa kita masih diberi kenikmatan yang tak buruk-buruk amat. Meski mengabaikan fakta-fakta kinerja yang buruk dalam waktu yang singkat, sangatlah tidak bijaksana, saya kira pesimisme bukanlah pilihan sikap usahawan dan profesional yang tepat.

Justru sebaliknya, kita harus cerdas mengambil peluang dari perubahan besar-besaran yang tengah terjadi di Asia-Pasifik, maupun dari kerja keras dari presiden baru. Apa saja? Pertama, properti untuk kalangan rakyat bawah. Ini adalah pasar besar yang udah pasti akan sangat besar peluangnya. Betul margin-nya tipis. Tapi kalau volume-nya besar, sudah pasti anda akan untung juga kan.

Kedua, bisnis dari proyek-proyek infrastruktur yang baru akan bergerak banyak akhir tahun ini. Semen, bahan bangunan, alat-alat berat , semua akan akan berpindah dari sektor pertambangan ke infrastruktur.

Ketiga, pendidikan keterampilan. MEA sudah pasti memberikan opportunity pada tenaga-tenaga terampil nonsarjana, apalagi bila dilengkapi dengan kemampuan IT, etos kerja positif dan bahasa Inggris.

Keempat, alternatif pembiayaan selain perbankan. Dengan financial deepening yang dangkal, biaya investasi di sini menjadi mahal. Padahal menurut Gubernur BI, pengusaha Indonesia dikenal gemar berhutang. Tentu saja ini tak akan terjadi kalau pilihan pembiayaannya tak terbatas pada sektor perbankan saja. Maka dibutuhkan banyak alternatif pembiayaan baru, termasuk keuangan syariah dengan akad-akad yang lebih kreatif dan memenuhi hajat pengusaha.

Rasanya masih banyak kesempatan yang terbuka lebar. Apalagi pemerintahnya berkomitmen mempercepat pembangunan infrastruktur, membuat ekonomi lebih seimbang antara barat-timur, transportasi laut, dan tentu saja birokrasi yang lebih agile.

Susah, sudah pasti ada hikmahnya. Kita juga perlu sedikit jeda untuk merenungi hidup kita dalam menghadapi ralita baru. Pemerintah ini memang perlu terus dilecut agar tidak lupa bekerja lebih keras lagi. Tetapi kreativitas di pemerintahan dan kalangan usahawan perlu terus dibangun.

Berhenti investasi? Janganlah, itu malah berbahaya bagi kita semua. Pengangguran harus dikurangi, pemerintah harus lebih aktif memberi perangsang ekonomi. Jalan saja terus, siapa cepat dia dapat. Siapa yang benar-benar mampu menjawab kebutuhan pasar, dialah yang akan didekati konsumen. Ayo kita buktikan.

Prof. Rhenald Kasali

 

VIVA.co.id – Ketika membuat sebuah pilihan, pastinya Anda menginginkan hal-hal yang lebih baik.

Pendapat itu adalah asumsi dari teori pemilihan rasional. Teori tersebut, meyakini bahwa seorang individu bertindak untuk memaksimalkan keuntungan pribadi yang bisa mereka dapatkan.

Teori pemilihan secara rasional (rational choice theory) menemukan jalan menuju diktat ekonomi, terkait tindakan manusia dalam melakukan pilihan ekonomi dan menggaris bawahi bahwa setiap keputusan yang dipikirkan secara matang supaya pengambil keputusan mendapatkan keuntungan maksimal dari apa pun yang dilakukan.

Namun, pada kenyataannya kita tidak selalu bersikap rasional setiap waktu.

Kalau teori pilihan rasional itu benar, semua orang akan pergi ke bank untuk menabung dan memiliki jumlah tabungan yang banyak, karena itu adalah hal yang logis untuk dilakukan.

Tapi pada kenyataannya, kita masih bisa melihat banyak orang hidup dari kegiatan “gali lubang tutup lubang“.

Bahkan, dengan kondisinya yang seperti itu, masih banyak orang yang pergi bersenang-senang ke kafe, atau bahkan pergi berjudi dan mempertaruhkan banyak uang, meskipun kecil sekali peluang mereka untuk menang dan mendapatkan uang.

Seringkali kita mengedepankan perasaan, atau insting kita dalam mengambil keputusan. Untuk itu, seringkali kita membeli sesuai dengan dorongan emosi.

Itulah, mengapa iklan di TV seringkali muncul dalam wujud memengaruhi emosi Anda, terutama untuk membeli sebuah barang.

Jadi, bagaimana kita mengakali otak kita, sehingga mau untuk menyimpan uang dan tidak terbawa emosi, atau dorongan ingin membeli secara impulsif? Mari kita intip beberapa riset yang berkaitan dengan hal ini:

Test Marshmallow dan mengontrol diri

Tes Marshmallow adalah eksperimen yang dilakukan pada tahun 1960-an, di mana anak-anak yang mengikuti penelitian ini diberikan sebuah marshmallow dan diberikan pilihan untuk memakan marshmallow itu sekarang, atau mendapat tambahan satu marshmallow lagi, jika mereka menunggu 15 menit dan tidak memakan marshmallow pertama saat itu juga.

Tentu saja, beberapa anak tidak menunggu sampai 15 menit untuk mendapat dua marshmallow, yang mana menjadi suatu pukulan bagi teori pilihan rasional.

Studi lanjutan beberapa tahun kemudian menunjukkan bahwa mereka, anak-anak yang mempunyai kontrol diri bagus dan menunggu 15 menit kemudian untuk mendapat dua marshmallow, mempunyai performa lebih baik secara sosial dan kognitif.

Anak-anak yang bisa mengontrol diri mereka juga mempunyai gaya hidup yang lebih sehat.

Jakarta detik -Jumlah total simpanan nasabah pada bank di Indonesia hingga Februari 2015 mencapai Rp 4.222,462 triliun. Naik Rp 53,503 triliun (1,27%) dibanding bulan sebelumnya.Dari total tersebut, ada 228.689 rekening yang memiliki simpanan di atas Rp 2 miliar. Jumlah simpanan nasabah di atas Rp 2 miliar mencapai Rp 2.369,456 triliun.Dalam data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang dikutip, Sabtu (25/4/2015), jumlah rekening nasabah dengan simpanan di atas Rp 2 miliar naik 0,11% dari bulan sebelummya, yang mencapai 228.433 rekening.Sementara rekening nasabah dengan simpanan Rp 2 miliar ke bawah mencapai 161.939.414 rekening. Total simpanannya turun dari 1.855,368 triliun menjadi Rp 1.853,006 triliun.Simpanan dalam jumlah rupiah naik 1,44% dalam sebulan menjadi Rp 3.513,395 triliun. Sementara simpanan dalam valuta asing naik 0,51% dalam sebulan menjadi Rp 709,067 miliar.

(dnl/dnl)

Bisnis.com, JAKARTA – Selama ini, berlian kerap diasosiasikan dengan perempuan matang, yang identik dengan kesan mewah, elegan, dan abadi. Bahkan, batu mulia ini juga menunjukkan status sosial seseorang dalam sebuah komunitas.

Dengan beragam desain yang terus berinovasi dari waktu ke waktu—bisa juga dipadu dengan bebatuan semi-mulia, seperti garnet, safir, atau mutiara—kilau berlian mampu ‘menyihir’ setiap orang, khususnya perempuan.

Namun, penggunaan berlian sebagai perhiasan dan penunjang gaya hidup modern, kini mulai bergeser ke kalangan anak muda, bahkan dari usia 0 tahun. Apalagi, harga perhiasan berlian juga mulai terjangkau dengan berbagai pilihan varian kualitas.

Seperti diungkapkan Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (Apepi) Iskandar Husin, tren anak muda sekarang sebetulnya lebih menyukai perhiasan yang diikat batu-batuan yang shining, terang, putih, dan sudah mengkristal, seperti berlian dan amatis berukuran kecil serta didesain sedemikian rupa sehingga memiliki keunikan. Untuk pengikat biasanya digunakan emas kuning dan putih, atau kombinasi keduanya, dengan kadar kurang dari 75%.

Pergeseran konsumen ini pula yang kemudian ditangkap oleh beberapa perusahaan perhiasan berlian untuk menciptakan produk yang sesuai dengan karakter anak muda. Hal ini diakui oleh CEO Swan Group Vincent Claudius.

Menurutnya, gaya hidup masyarakat modern dan banyaknya edukasi dari majalah-majalah lifestyle, membuat anak-anak muda sekarang lebih memperhatikan penampilan, yang salah satunya menyukai perhiasan berlian.

Untuk memenuhi segmen tersebut, sejak 2012, Swan Group melalui Swan Jewellery menciptakan koleksi Swan Gift Collection yang bisa digunakan oleh anak muda karena perhiasannya tergolong simple  dan tidak terlalu besar, sehingga nyaman dipakai oleh anak muda.

Dengan selalu berinovasi menciptakan design  produk-produk terbaru dan modern, serta gencarnya  promosi, membuat ketertarikan generasi muda semakin meningkat akan perhiasan berlian.

Apalagi, harga spesial juga ditawarkan mulai Rp2 juta untuk Moving Diamond Collection, sehingga siapa saja bisa tampil anggun dan mewah dengan perhiasan berlian.

Tak jauh berbeda, Rose Jewellery juga memiliki brand sendiri untuk memenuhi segmen kawula muda, yakni Dellarose untuk usia 18-23 tahun dan Ruby Kids untuk anak 0-10 tahun, selain Rosette yang memang diperuntukkan bagi perempuan dewasa usia 25-40 tahun.

Retail perhiasan berlian itu mulai menyasar segmen adult dan kids, bukan lantaran konsumen dewasa mengalami kejenuhan, tetapi karena banyaknya para ibu yang menginginkan anak-anak mereka juga bisa tampil gaya dengan perhiasan berlian.

“Kita yang memakai berlian sebagai lifestyle tidak akan pernah jenuh. Yang ada, kita selalu up to date, justru kita menambah karena berlian seperti fesyen  yang merebak mulai  teen  sampai adults, bahkan kids,” ungkap General Manager Rose Jewellery Henny Setiawan.

Itu artinya, pergeseran konsumen ini bukan bersifat musiman, tetapi tren pasar yang sudah tercipta berdasarkan permintaan konsumen untuk menyediakan model sesuai kelompok usia sebagai penunjang gaya hidup.

COLOURFULL

Perhiasan berlian untuk anak-anak dan remaja lebih  colourfull dan berkarakter dengan tema animasi atau abjad. Dari segi harga, tentunya perhiasan batu mulia untuk segmen ini lebih murah dibandingkan dengan segmen dewasa.

The Palace Jeweler, bahkan membidik usia new born, balita, remaja sampai usia dewasa, baik pria maupun wanita karena pada dasarnya, perhiasan tidak hanya ditujukan untuk segmen usia maupun genre tertentu.

“Memang tidak semua toko ritel perhiasan menargetkan pemakainya di semua usia, tetapi tidak jarang merek ritel perhiasan yang sudah berpengalaman, memiliki kemampuan untuk menjangkau segala usia untuk pemakaianya,” ujar Jelita Setifa, General Manager The Palace Jeweler.

Secara umum, target pasar The Palace memang usia 25 tahun ke atas atau yang sudah memiliki pendapatan tetap atau mulai dari first jobber, tetapi koleksi remaja juga tersedia, yakni Palace Red yang sudah soft launching awal 2015 dan untuk anak-anak Little P yang sudah tersedia sejak dua tahun lalu.

Kreativitas memang menjadi salah satu faktor penentu untuk menjadi daya tarik konsumen muda, mulai dari desain classic dan timeless yang bisa dipakai sepanjang waktu hingga yang extravaganza.

Bagi The Palace, harga yang atraktif juga menjadi salah atau strategi untuk menarik konsumen muda, dengan cara menyediakan pilihan dari yang paling terjangkau mulai Rp1 juta karena konsumen muda banyak yang first jobber, serta sistem pembayaran yang memudahkan target pasar ini, seperti program cicilan tanpa bunga 0%, hingga hadiah langsung, dan lainnya.

Dari dua jenis berlian, yakni colorless (putih atau tanpa warna) dan fancy color (berlian berwarna, seperti pink, biru), generasi muda cenderung lebih memilih berlian colorless, sedangkan untuk generasi senior, lebih mencari experience baru seperti membeli berlian berwarna dan beragam bentuk.

Sementara itu, General Manager Adelle Jewellery Tjhan Jemmy mengungkapkan dengan harga mulai Rp6 juta-Rp50 juta, anak muda yang mulai melek berlian sudah bisa mengenakan berlian ‘My Belle’ untuk fesyen  sekaligus berinvestasi.

Senada dengan itu, CEO Elegance Jewellery Anna Berliana Budiputri mengatakan sebagai penyedia perhiasan berlian, pihaknya ingin merubah mindset pasar bahwa berlian itu hanya dipakai oleh orang berusia dan terkesan mahal, padahal ada pula harga di kisaran Rp3 juta-Rp10 juta seperti, anting, cincin, liontin, yang sangat dimungkinkan banyak digunakan anak remaja usia kuliah yakni 17-25 tahun.

Perkembangan segmen pasar adult dan kids untuk perhiasan berlian ini diyakini akan berkembang dengan cepat, menyusul ekonomi yang lebih baik, terutama perbaikan di level menengah terus naik. Dan, mereka tentunya sudah mulai paham bahwa berlian yang tidak selalu bernilai puluhan juta, tetap memiliki nilai investasi yang bagus.

Selain itu, faktor economic booming  untuk generasi ‘Y’, khususnya di Asia Tenggara memang menjadi salah satu pendukung peningkatan ekonomi yang juga berimbas pada perubahan gaya hidup yang lebih baik. Selain menunjang gaya hidup modern, beberapa kalangan juga menjadikan berlian sebagai instrumen investasi. Apalagi, nilai berlian cenderung meningkat.

“Dari sisi likuiditas, biasanya berlian agak lebih sulit dicairkan, tetapi punya harga yang pasti. Asalkan ada surat yang menunjukkan berlian itu asli sesuai dengan spesifikasinya, bisa diperjualbelikan dengan kisaran harga yang sudah ditentukan,” jelas Perencana Keuangan dari One Shildt Financial Planning Budi Raharjo.

Namun, sebelum memutuskan untuk investasi berlian, pelajari dulu seluk-beluknya.

Seperti yang diungkapkan Andry, analis permata dan batu mulia, berlian itu merupakan batu permata yang paling sempurna, dan memiliki keunggulan tingkat kekerasan paling tinggi dibandingkan dengan batu perhiasan lainnya, yakni 10 MOHS.

Pastikan Anda membeli di tempat yang dapat dipercaya dan memberikan sertifikat yang menjanjikan keaslian dan kualitas yang baik.

Ada empat kunci terpenting dalam memilih berlian karena mempengaruhi harga, yakni carat (bobot), clarity (kejernihan), colour (warna), dan cut (potongan). Bobot berlian diukur dalam carat, yakni 1 carat terdiri dari 100 poin.

Cara termudah untuk mengenal keaslian berlian adalah dengan mengalasinya dengan kertas putih. Jika warna kertas terlihat jelas melalui berlian, maka kualitas berlian tersebut baik.

Semakin jernih berlian, semakin tinggi nilai-nya. Begitu juga, semakin besar derajat warna-nya, semakin rendah harganya, kecuali berlian tertentu dengan warna langka. Mau tampil mewah dengan perhiasan berlian atau buat investasi, Anda yang menentukan.

  • AZIZAH NUR ALFI, I PAK AYU H. NURCAYA, & TISYRIN  NAUFALTY
Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s