1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

fundamental EMITEN … 250613_180915 18 September 2015

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 1:29 am

MANFAATken MOMENTUM PENUNDAAN KENAEKAN THE FED FUND RATE K 2016 dengan KEBIJAKSANAAN BI RATE DI BAWAH 7%

JAKARTA. Gejolak yang terjadi di pasar modal sejak beberapa waktu lalu membuat saham-saham berkapitaliasi besar (big cap) keok. Hal ini kemudian berimbas pada tergerusnya nilai kapitalisasi pasar saham-saham jumbo tersbut.

Penurunan terdalam terjadi pada PT Gas Negara Tbk (PGAS). Sejak Januari-Agustus 2015 penurunan nilai kapitalisasi pasar emiten pelat merah ini mencapai Rp 55,02 triliun atau sekitar 44,95%. Per akhir Agustus 2015, market cap PGAS tercatat sebesar Rp 67,39 triliun.

Bahkan, perusahaan infrastruktur gas ini terdepak dari daftar 10 besar emiten dengan nilai kapitalisasi terbesar. PGAS ada di posisi 14 per akhir bulan lalu. Kemudian, penurunan terbesar ke dua adalah PT Astra International Tbk (ASII) dengan penurunan sebesar 24,52% atau berkisar Rp 77,93 triliun.

Lalu, ada PT Gudang Garam Tbk (GGRM) yang mengalami penurunan nilai kapitalisasi pasar hingga 23,01% menjadi Rp 85,62 triliun. Kendati sama-sama produsen rokok, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) justru mencatatkan peningkatan nilai kapitalisasi pasar sekitar 13,09% selama periode Januari-Agustus 2015.

“Nilai buku HMSP lebih bagus ketimbang GGRM,” ujar Lucky Bayu Purnomo, Analis LBP Enterprises, Kamis (17/9).

Dari segi margin pun HMSP lebih besar yaitu sekitar 11,45% per akhir Juni 2015. Sedangkan, GGRM berkisar 7,22%. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) juga mencatatkan kenaikan nilai kapitalisasi pasar sebesar 10,88% menjadi Rp 303,1 triliun. Begitu pula PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yang naik tipis sebesar Rp 4,03 triliun atau 1,41%.

Sementara, nilai kapitalisasi bank yang ada di jajaran 10 besar semua menyusut. Menurut Lucky, ketika ekspektasi inflasi tinggi, maka saham-saham bank akan dihindari. Akhir 2015, inflasi ditaksir ada di level 8%. Prospek negatif hinggap ke sektor perbankan lantaran adanya estimasi nilai kredit bermasalah (NPL) meningkat.

Berikut daftar saham berkapitaliasi besar sesuai urutan tertinggi per Agustus 2015:

HMSP: +Rp 38.570.400T (13,09%)

BBCA: -Rp 11.594.018 T (-3,55%)

UNVR: +Rp 29.757.000 T (10,88%)

TLKM: +Rp 4.032.000 T (1,41%)

BBRI: – Rp 25.643.594 T (-8,99%)

ASII: – Rp 77.930.840 T (-24,52%)

BMRI: – RP 43.890.000 T (-17,27%)

BBNI: – Rp 24.000.821 T (-20,8%)

GGRM: – Rp 25.590.370 T (-23,01%)

KLBF: – Rp 8.906.273 T (-10,18%)

PGAS : – Rp 55.028.223 T (-44,95%)

Sumber: BEI diolah

 

http://investasi.kontan.co.id/news/kapitalisasi-pgas-anjlok-tajam-hmsp-tetap-terbang
Sumber : KONTAN.CO.ID

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Perusahaan rokok, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) bakal menjadi kekuatan baru di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejak semester II, HMSP kukuh merajai kapitalisasi pasar alias market capitalization (market cap) BEI dan menggeser posisi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Kini market cap HMSP mencapai Rp 331 triliun atau 7,4 persen dari total market cap BEI. Meski kapitalisasi pasarnya besar, HMSP tidak diperhitungkan di pasar saham Tanah Air. Maklum jumlah saham yang aktif diperdagangkan di publik atau free float hanya 1,82 persen dari saham beredar.

Pada 26 Juni, pengendali HMSP, Phillip Morris International mengumumkan penerbitan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue. HMSP menerbitkan 269,7 juta unit saham pada harga Rp 63.000-Rp 99.000. Dengan harga saham kemarin Rp 75.500, kini kapitalisasi pasar HMSP akan bertambah Rp 20,36 triliun.

Usai pelaksanaan HMETD, saham free float HMSP menjadi 7,51 persen. Para analis memperkirakan, HMSP akan jadi salah satu penggerak utama IHSG dengan market cap jumbo.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee, mengatakan, kenaikan likuiditas HMSP bisa menjadi incaran manajer investasi dan investor institusi. “Memang secara fundamental, HMSP masih ada beberapa tekanan. Tapi saat likuiditas naik, ini akan jadi hitungan pasar,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (9/10/2015).

Kepala Riset KDB Daewoo Securities Taye Shim, dalam riset Rabu (9/9/2015) mengatakan, usai refloat, kemungkinan besar HMSP akan menjadi komponen IHSG dan MSCI Indonesia. Ini akan menghasilkan nilai transaksi besar. Pasalnya IHSG dan MSCI Indonesia menjadi tolok ukur kinerja, sehingga tidak dapat dipungkiri manajer portofolio harus mengakumulasi HMSP.

“Agenda refloat akan memicu harga saham dalam waktu dekat,” cetus Taye.

Dia yakin, aksi free float ini bisa berjalan sesuai rencana. Pasalnya BEI sudah berikhtiar untuk meningkatkan nilai transaksi harian hingga tiga kali lipat menjadi Rp 15 triliun dalam dua tahun mendatang.

Taye mengatakan, saham HMSP memiliki valuasi 32,8 kali price earning ratio (PER). Valuasi itu mewakili 34,4 persen diskon atas emiten konsumer lain seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang memiliki PER 50 kali. Apalagi, HMSP merupakan emiten rokok terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar 35,3 persen.

Analis LBP Enterprise Lucky Bayu mengatakan, meski HMSP menjadi saham dengan market cap terbesar, perusahaan rokok ini masih punya kendala fundamental, seperti kenaikan cukai rokok. Lucky meramal, free float HMSP belum tentu mendorong minat investor meski valuasi HMSP lebih murah dibanding emiten konsumer lain.

Lucky yakin, saham emiten kelas kakap lain seperti saham perbankan akan kembali naik dan bisa menggeser posisi HMSP. Lucky menyukai saham ASII, BBRI, BMRI, BBCA dan GGRM. (Narita Indrastiti)

Editor : Erlangga Djumena
Sumber : KONTAN

 

JAKARTA – Pemerintah akan memangkas Tarif Pajak Penghasilan (PPh) bagi perusahaan yang listing di pasar saham. Hal ini dilakukan untuk mendorong peningkatan jumlah perseroan terbuka serta kepemilikan publik pada perseroan terbuka.Peraturan tersebut telah ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 3 Agustus 2015 lewat Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2015 tentang Penurunan tarif PPh Bagi Wajib Pajak Badan Negeri yang Berbentuk Perseroan Terbuka.

“Wajib Pajak badan dalam negeri yang berbentuk Perseroan Terbuka dapat memperoleh penurunan tarif Pajak Penghasilan sebesar 5 persen lebih rendah dari tarif Pajak Penghasilan Wajib Pajak badan dalam negeri,” bunyi Pasal 2 ayat (1) PP tersebut seperti dilansir dari laman Setkab, Senin (24/8/2015).

Penurunan tarif Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud, diberikan kepada Wajib Pajak badan dalam negeri yang berbentuk Perseroan Terbuka (PT) setelah memenuhi beberapa persyaratan.

Pertama, paling sedikit 40 persen dari jumlah keseluruhan yang disetor dicatat untuk diperdagangkan di bursa efek Indonesia. Kedua, saham sebagaimana dimaksud harus dimiliki oleh paling sedikit 300 Pihak.

Ketiga, masing-masing pihak sebagaimana dimaksud hanya boleh memiliki saham kurang dari 5 persen dari keseluruhan saham yang ditempatkan dan disetor penuh, dan terakhir hal ini harus dipenuhi dalam waktu paling singkat 183 hari kalender dalam jangka waktu satu Tahun Pajak.

Adapun ketentuan yang dalam PP sebelumnya menyebutkan, ketentuan mengenai tarif Pajak Penghasilan badan sesuai dengan PP No. 77 Tahun 2013 berlaku sejak Tahun 2013 dihapus.

Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan dan pengawasan pemberian penurunan tarif Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak badan dalam negeri yang berbentuk Perseroan Terbuka, menurut PP ini, diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.

“Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan,” bunyi Pasal II Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2015 yang telah diundangkan pada tanggal 4 Agustus 2015 itu.

http://economy.okezone.com/read/2015/08/24/20/1201331/emiten-kini-dapat-potongan-pajak-5
Sumber : OKEZONE.COM

Rasio Penting Laporan Keuangan

Senin, 24 Juni 2013 06:47 wib

Laporan keuangan perusahaan menjadi informasi penting dalam melihat kondisi perusahaan. Investor dapat mengambil keputusan investasi dengan melihat kinerja perusahaan yang tercermin dalam laporan keuangan.

Selain indikator utama pada laporan keuangan yaitu Neraca dan Laporan Laba Rugi serta Arus Kas, ada rasio-rasio penting dalam laporan keuangan yang layak dicermati.

Rasio ini dihitung dari laporan keuangan yang sudah ada, baik neraca maupun laba rugi, yang mempermudah upaya pembandingan kinerja perusahaan dari tahun ke tahun atau  dengan perusahaan lain dalam industri yang sama. Rasio-rasio tersebut terdiri dari antara lain earning per share ratiossales per shareprice ratios, dividen yieldpayout ratio,return on equity, dan credit ratios.

Earning Per Share Ratios Rasio ini didapatkan dengan membagi laba bersih perusahaan dengan jumlah saham beredar. Rasio ini ingin menyampaikan mengenai bagian dividen yang akan didapatkan oleh pemegang saham untuk setiap sahamnya. Jumlah saham telah dirata-ratakan secara tertimbang. Jumlah saham beredar yang dipergunakan sama dengan yang tercantum dalam balance sheet.

Sales per Share menunjukkan bagian dari penjualan yang akan didapatkan oleh rata-rata tertimbang saham beredar. Rasio ini menghitung bagian arus kas yang dapat diterima oleh rata-rata tertimbang saham beredar. Arus kas yang dipergunakan sebagai numerator berasal dari aktivitas operasi sebagai representasi produktivitas perusahaan dalam kegiatan utamanya.

Price Ratios atau sering disebut price earning ratio adalah perbandingan harga saham dengan laba per saham yang kemudian menjadi ukuran penting yang menjadi landasan pertimbangan seorang investor membeli saham sebuah perusahaan. Biasa disebut   rasio P/E sebagai pembanding untuk menilai pertumbuhan suatu perusahaan. Artinya, pertumbuhan sebuah perusahaan dinilai tinggi jika rasio P/E perusahaan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan rasio P/E perusahaan dalam industri yang sejenis.

Dividen Yield adalah persentase dari harga saham perusahaan dengan besarnya dividen yang dibayarkannya. Misalnya, jika sebuah perusahaan membayarkan dividen Rp10  dalam 1 kuartal dan harga sahamnya diperdagangkan Rp1.000 per lembar, maka yield dividennya adalah 4 persen.

Payout ratio  ingin menjelaskan berapa besar porsi dividen dari net income perusahaan. Apabila rasio ini makin besar, artinya perusahaan memang mengalokasikan keuntungannya saat itu untuk para pemegang sahamnya. Sebaliknya jika rasio ini makin kecil, artinya perusahaan mengalokasikan sebagian besar laba bersihnya untuk berinvestasi lagi atau memenuhi keperluan perusahaan yang lain.

Berikutnya Return on Equity (ROE) adalah sebuah ukuran besarnya jumlah laba dari sebuah perusahaan yang dihasilkan dalam setahun terakhir dibandingkan dengan nilai ekuitasnya.

Sedangkan Credit Ratios mengukur kemampuan aktiva lancar memenuhi kewajiban lancarnya. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan perusahaan memiliki kemampuan memenuhi kewajiban lancarnya. Dengan kata lain, likuiditas perusahaan bisa dikatakan cukup tinggi. (TIM BEI)
(//mrt)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s