1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

UANG PANAS asienk, jelas … 070110_241115 24 November 2015

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 1:05 am

Bisnis.com, SURABAYA – Menjelang penutupan tahun, persepsi investor asing terhadap Indonesia masih belum pulih sebagai akibat kondisi ekonomi yang melambat dan paket kebijakan ekonomi yang belum dieksekusi.

Managing Director Head of Global Markets HSBC Indonesia Ali Setiawan mengatakan minat investor yang bergerak di capital market di Indonesia masih mengalami penurunan. Kendati tidak menyebut presentasenya, data HSBC menyebutkan pada tahun ini hampir tidak ada uang masuk dalam bentuk equitas.

“Yang ada adalah uang keluar. Investor mencabut investasinya dari Indonesia,” katanya di Surabaya, Senin (29/11/2015).

Adapun uang masuk dalam bentuk bond pada tahun ini hanya bertambah Rp40 triliun. Jumlah tersebut dinilai tidak banyak apabila dibandingkan dengan jumlah tahun lalu yang bisa mencapai dua kali lipatnya.

Dia menjelaskan dana portofolio investor asing sifatnya berputar. Apabila asing tidak melihat keuantungan investasi di Indonesia maka dana tersebut otomatis akan ditarik.

“Investor asing melihat negara mana yang return of investment nya lebih bagus. Persepsi mereka terhadap Indonesia mulai goyah alhasil mulai Maret udah gak ada duit masuk, pada ditarik semua,” terangnya.

Menurutnya, elemen yang paling dibutuhkan investor asing adalah komitmen. Selama ini, pemerintah Indonesia dinilai tidak  memiliki komitmen terhadap peraturan yang dibuat, salah satunya adalah beberapa jilid paket kebijakan ekonomi yang ditelurkan.

Dari beberapa perusahaan yang didata HSBC, mereka belum dapat memanfaatkan satu pun dari relaksasi aturan paket kebijakan ekonomi.

“Eksekusinya masih nol. Pemerintah kita terlalu reaktif terhadap sentimen negatif di luar sana tapi hanya sebatas gembar-gembor tanpa realisasi,” ujarnya,

Kondisi tersebut dinilai membahayakan untuk iklim investasi di Indonesia, terlebih bagi investor asing yang membutuhkan kejelasan. Salah satu contoh yaitu pemberian insentif pajak berupa tax holiday atau tax allowance yang belum dapat dinikmati.

Ali menilai kebijakan paket kebijakan ekonomi terlalu akademis dan idealis. Padahal ekonomi di Indonesia masih belum ideal.

Implementasi paket kebijakan ekonomi dinilainya masih belum tersampaikan dengan baik di baik di tingkat pusat, daerah maupun kepada pelaku usaha.

Ketua Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Surabaya Mulyanto mengatakan hingga saat ini keterkaitan kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah masih minim.

“Sinkronisasi harus sampai ke daerah karena investasi melibatkan perizinan di setiap daerah,” ujarnya.

Dia menerangkan seharusnya paket kebijakan ekonomi di pusat harus diteruskan kepada pihak terkait di daerah seperti Gubernur dan asosiasi pengusaha daerah.

Sebelumnya, Sekretaris Umum ISEI Aviliani menuturkan selama ini seringkali terdapat perbedaan pandangan di antara pemerintah pusat, daerah dan pengusaha yang pada akhirnya menghambat implementasi dan kesinambungan kebijakan.

Aviliani menekankan, paket kebijakan yang sudah dirilis memang belum bisa dirasakan dalam jangka pendek. Hal inilah yang kemudian memicu kritik dari pihak pengusaha. Pasalnya para pelaku bisnis juga membutuhkan kebijakan bersifat jangka pendek yang dapat segera dirasakan dampaknya.

Bisnis.com, JAKARTA – Wakil Presiden Jusuf Kalla menyayangkan kepemilikan saham perusahaan nasional di pasar modal didominasi oleh asing dengan porsi mencapai 65%.

Menurut dia, kegiatan investasi di pasar modal bertujuan memperluas dan memeratakan kepemilikan perusahaan nasional. Dengan begitu, masyarakat dapat ikut merasakan keuntungan dari ekspansi usahanya.

Namun, dengan adanya dominasi kepemilikan asing, niat yang semula ingin memberikan pemerataan kepada seluruh masyarakat atas perusahaan yang beroperasi di Indonesia menjadi tidak tercapai.

“Semula diniatkan agar terjadi oemerataan kepemilikan, tapi justru didominasi asing 65%. Artinya perusahaan besar di Indonesia yang go public masih dimiliki oleh asing. Niat jadi tak tercapai,”katanya, Kamis (12/11/2015),

Kalla menilai dominasi investor asing dalam pasar keuangan disebabkan kurangnya pemahaman masyarakat domestik terhadap pasar modal.

Sebagian besar masih menganggap investasi pasar modal hanya untuk kalangan tertentu. Selain itu, adapula stigma yang muncul bahwa investasi di pasar modal berbahaya karena cenderung spekulasi.

Untuk itu, Kalla mengimbau PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lebih gencar melakukan sosialisasi terkait manfaat dan keunungan berinvestasi di pasar modal.

WE Online, Manado – Investor asing masih mendominasi pasar modal di Indonesia hingga saat ini, kata pengamat ekonomi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado Joubert Maramis.

Pasar modal Indonesia, kata Dr. Joubert Maramis di Manado, Kamis (19/3/2015), relatif sangat sensitif terhadap kondisi global.

“Itu disebabkan karena kepemilikan investor asing di pasar modal masih mendominasi, yakni sekitar 60 persen,” kata Joubert.

Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan kepemilikan saham investor asing per Februari 2015 mencapai Rp1.969,51 triliun, sementara lokal Rp1.065,94 triliun.

“Memang pasar modal kita masih banyak investor institusi asing dengan total investasi yang besar dibanding investor domestik. Salah satu penyebabnya adalah masih kurangnya minat masyarakat umum masuk ke bursa efek,” jelasnya.

Joubert mengatakan bahwa investor mikro dengan dana investasi kecil masih memilih tabungan atau deposito, bukan investasi efek.

Khususnya masyarakat di luar Jakarta, lanjut dia, masih melihat investasi di pasar modal adalah investasi dalam jumlah besar dan sangat ekslusif.

“Mereka masih kurang pengetahuan soal pasar saham. Hal ini membuat disparitas jumlah dan kualitas investasi oleh investor domestik di Indonesia,” katanya.

Ia mengatakan bahwa masih relatif banyak konglomerat yang memarkir uangnya di luar negeri, misalnya di Singapura dan Tiongkok.

Pemerintah, kata Joubert, harus memberikan insentif bagi baliknya dana yang diparkir di luar negeri untuk masuk di Indonesia kembali.

“Jadi, strateginya adalah realisasikan insentif bagi industri dan bagi dana parkir konglomerat di luar negeri serta sosialisasi investasi efek di pasar modal ke seluruh Indonesia,” kata Joubert.

Di samping itu, lanjut dia, ciptakan “trust” (kepercayaan) dan komitment tinggi pemerintah dalam menjaga dan mengembangkan ekonomi di Indonesia.

“Saya yakin jika strategi ini diterapkan, bursa kita akan lebih maju, baik dari sisi komposisi dana dan investor luar maupun dalam negeri, serta bursa kita menjadi lokasi investasi global yang menguntungkan dan stabil,” jelasnya. (Ant)

Editor: Cipto

Jakarta ID – Dana investor asing semakin deras mengalir ke pasar modal Indonesia. Aliran dana asing diperkirakan masih akan tinggi hingga akhir bulan ini dipicu oleh realisasi program infrastruktur, dukungan modal pemerintah kepada BUMN, bertambahnya jumlah saham beredar, serta marjin yang tinggi. Kebijakan stimulus moneter (quantitative easing/QE) oleh Bank Sentral Eropa (ECB) juga ikut memberi sentimen positif ke pasar modal Indonesia.

Hingga Senin (9/2) kemarin atau year to date (YTD), investor asing telah mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp 3,07 triliun di pasar saham. Net buy tersebut sebagian besar berasal dari enam hari transaksi pada Februari yang tercatat Rp 2,85 triliun, dibandingkan Januari sebesar Rp 212,19 miliar. Sedangkan penempatan dana asing (capital inflow) di Surat Berharga Negara (SBN) sepanjang tahun ini sudah mencapai Rp 39,62 triliun.

Sementara itu, pada perdagangan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG)di Bursa Efek Indonesia (IHSG) kembali mencetak rekor baru setelah ditutup menguat 5,96 poin (0,11 persen) ke posisi 5.348 pada perdagangan kemarin. Sedangkan investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 365,4 miliar.

Analis PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, aksi beli masih akan terus berlangsung pada bulan ini. Hal ini karena melihat pergerakan posisi net buy yang terjadi tidak teralu agresif.

Satrio mengemukakan, tingginya lonjakan net buy pada bulan ini dipengaruhi oleh penerbitan obligasi atau operasi stimulus moneter (quantitative easing/QE) oleh Bank Sentral Eropa (ECB) pada akhir Januari lalu. “Karena kebijakan QE Eropa, kita dapat limpahan (dana). Saat QE diumumkan, pemodal asing rajin melakukan posisi beli,” ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (9/2).

Pada 22 Januari lalu, ECB mengumumkan setiap bulannya akan membelanjakan dana sebesar 60 miliar Euro atau sekitar US$ 70 miliar. Sesuai rencana, belanja dana tersebut akan dimulai pada Maret 2015 hingga September 2016.

Dihubungi terpisah, analis PT Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, tingginya aksi beli asing dilatarbelakangi oleh adanya perang mata uang dengan cara menurunkan suku bunga. Hal ini menyebabkan terjadinya lonjakan dana asing yang sangat tinggi sejak awal Februari.

“Banyak negara melakukan perang mata uang sehingga mengalami pelemahan. Strategi ini dipakai untuk menggenjot ekspor,” jelas Hans.

Dia menjelaskan, bila pemerintah dapat mempertahankan kurs rupiah serta suku bunga maka bulan ini dana asing dipastikan membajiri Indonesia. “Terjadinya capital inflow ini sebagian besar akan masuk ke pasar surat utang negara (SUN), sisanya mengalir ke pasar saham,” ujar dia.

Namun, dia meminta pemerintah mencermati fenomena pelemahan mata uang dunia. Sebab, terdapat peluang rupiah nantinya juga akan ikut melemah. Selain itu, juga akan ada risiko potensi terjadinya outflow pada Mei mendatang. “Sebenarnya kebijakan suku bunga kita yang menyebabkan adanya potensi outflow,” tambah dia.

Menurut Hans, Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan tingkat suku bunga acuan (BI rate) sebesar 7,75 persen guna normalisasi kebijakan. Namun, nantinya pada semester kedua tahun ini mulai akan terjadi penurunan suku bunga.

“Semester kedua akan mulai antisipasi suku bunga, pemerintah targetkan turun hingga menjadi 6 persen. Kalau saya melihat paling besar hanya menjadi 7 persen sampai 7,25 persen,” jelas dia.

Hans menilai, proyeksi penurunan BI rate didasari oleh ekspektasi pemerintah mampu mendorong gencarnya investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) yang masuk ke Indonesia sering dengan upaya pemerintah mempermudah birokrasi melalui pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

“Pemerintah janjikan perizinan tiga hari rampung, sehingga proyek-proyek besar bisa masuk, suplai dolar pun akan meningkat. Jika demikian, rupiah mampu bergerak stabil, defisit neraca perdagangan berkurang. Oleh karena itu, BI bisa turunkan suku bunga acuan,” kata dia.

Siklus

Sementara itu, Kepala Riset Woori Korindo Securities Reza Priyambada menilai, meningkatnya net buy bukan karena sentimen tertentu, melainkan lebih sebagai siklus normal di awal tahun. “Itu merupakan siklus pasar asing di awal tahun sebagai reposisi atas portofolio mereka. Mereka melihat saham mana yang bisa masuk,” jelas dia.

Setelah kuartal I atau kuartal III, menurut Reza, investor asing baru akan mulai mengevaluasi koleksi saham-saham mereka, dengan memilah antara yang masih bisa dipertahankan sebagai portofolio dan yang harus dilepas. Keputusan tahan dan lepas itu akan sangat ditentukan oleh sejumlah hal, di antaranya kinerja emiten, kondisi ekonomi makro, dan nilai tukar rupiah.

Dalam melakukan reposisi atas portofolio mereka, kata Reza, para investor asing tetap mempertimbangkan kondisi fundamental maupun tren emiten yang seringkali informasi soal itu tidak dimiliki oleh investor lokal. “Itu sebabnya mereka berani beli di saat investor lokal memiliki sentimen negatif karena kondisi makro. Sentimen negatif ini juga menjadi kesempatan bagi asing karena mereka bisa beli saat harga turun,” papar Reza.

Ke depan, Reza berpendapat, saham sektor perbankan (banking), infrastruktur khususnya yang berbasis energi, properti, dan konstruksi akan menjadi saham yang banyak diburu investor. “Tapi, untuk perbankan akan sangat selektif, yakni hanya bank seperti Bank Mandiri, BRI, BCA dan BNI. Sedangkan konstruksi akan sangat ditentukan realisasi pembangunan pemerintah beberapa bulan ke depan,” kata dia.

Secara moderat, Reza memperkirakan IHSG bisa mencapai 5.400 hingga 5.425, sedangkan hingga akhir tahun bisa bertengger di angka 5.600-5.700. Perkiraan itu ditetapkan dengan asumsi rilis data makro tidak mengecewakan dan nilai tukar rupiah relatif stabil.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan mengatakan, pada tahun ini net buy diproyeksikan mencapai Rp 30–40 triliun atau di atas rata-rata net buy dalam enam tahun terakhir sekitar Rp 20 triliun. Adapun net buy investor asing tahun lalu mencapai Rp 44 triliun.

Menurut Haryajid, derasnya capital inflow sepanjang tahun ini akan dipicu oleh realisasi program infrastruktur, dukungan modal pemerintah kepada BUMN, bertambahnya jumlah saham beredar, serta marjin yang tinggi. Sementara itu, kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat (Fed Funds Rate/FFR) bisa menjadi hambatan masuknya dana asing. Selain itu, politik dalam negeri juga menjadi tantangan tersendiri.

Sejauh ini para fund manager asing masih menerapkan sikap wait and see sebelum menginvestasikan dana di negara-negara tertentu akibat adanya rasa cemas terkait kinerja pemerintah. “Jika kecemasan terhadap pemerintah terus berlanjut, maka potensi net buy akan menjadi Rp 20–30 triliun,” tanbah dia.

Saham Incaran Asing

Hans Kwee menjelaskan, saham-saham dari sektor perbankan sejauh ini menjadi incaran utama investor asing. Hal ini disebabkan net interest margin (NIM) perbankan Indonesia sangat lebar terutama pada bank dengan kapitalisasi besar.

Dia menyebut PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memiliki NIM sebesar 8 persen, kemudian diikuti PT Bank Mandiri (BMRI) sebesar 6 persen. “Inilah yang membuat saham bank sangat menarik,” ungkap dia.

Hans memprediksi harga saham sektor perbankan tahun ini akan tumbuh sebesar 18 persen. Hingga akhir tahun, dia memperkirakan harga saham BMRI bisa mencapai level Rp 13.600 dan BBRI sebesar Rp 13.500 per unit.

Selain sektor perbankan, lanjut dia, saham-saham sektor properti juga termasuk yang diborong oleh investor asing. Contohnya saham PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) yang hingga kini masih menjadi andalan investor asing.

Hans memperkirakan harga saham LPKR hingga akhir tahun mampu mencapai Rp 1.900. “Saya lihat pendapatan berulang (recurring income) Lippo Karawaci cukup menjanjikan karena sistem yang diterapkan sewa, tidak seperti BSDE yang jual lalu putus,” ujar dia.

Senada, Reza mengatakan, saham-saham perbankan menjadi primadona para investor asing, di samping saham sektor infrastruktur dan konstruksi. “Saham infrastruktur yang berbasiskan energi seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) juga banyak diminati,” tutur dia.

Reza mengungkapkan estimasi harga saham PGAS hingga akhir tahun bisa mencapai Rp 6.250 per unit.

Sedangkan dari sektor konstruksi, lanjut dia, saham emiten berpelat merah seperti PT Pembangunan Perumahan (PTPP), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), dan PT Waskita Karya (WSKT) juga diminati investor asing. “Bahkan saham PTPP ditargetkan memiliki harga saham tertinggi yakni Rp 5.690 hingga akhir tahun,” tambah dia.

Di sisi lain, Reza, keempat emiten yang sahamnya dicermati investor asing tersebut harus berhati-hati melakukan aksi korporasi. Dia menerangka, sebelumnya saham PT Adhi Karya Tbk (ADHI) banyak diminati investor namun aksi jual saham ini justru gencar terjadi saat perseroan mengumumkan rencana penawaran umum terbatas (rights issue).

“Awalnya ada rencana rights issue pada level Rp 2.525, ini jauh di bawah harga pasar saat itu Rp 4.435. Meskipun akhirnya dikoreksi pada level Rp 4.000. Tapi persepsi negatif terlanjur berkembang. Investor asing juga tidak akan menghitung harga wajar pasca rights issue,” kata dia.

Investor Daily

Penulis: Nurjoni/Nasori/FMB

Sumber:Investor Daily

 

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat pada periode triwulanan IV tahun 2014,
kepemilikan saham masih didominasi oleh investor asing dengan total kepemilikan sebesar
65 persen, turun satu persen dari periode sebelumnya.

Meski demikian, nilai kepemilikan saham oleh investor asing meningkat tipis dari Rp 1.842,79
triliun menjadi Rp 1.864,97 triliun.(beritasatu/hla)

 

Kamis, 07/01/2010 16:59 WIB
4 Hari Perdana 2010
Pembelian Bersih Asing Tembus Rp 2 Triliun
Indro Bagus SU – detikFinance

Jakarta – Meskipun laju kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah berhenti sejak perdagangan kemarin, investor asing tampaknya masih terus melakukan pembelian saham di bursa Efek Indonesia (BEI). Selama 4 hari perdana 2010, pembelian bersih asing (foreign net buy) sudah mencapai Rp 2,018 triliun.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) seperti dikutip detikFinance, Kamis (7/1/2010), transaksi beli asing hari ini mencapai Rp 1,242 triliun, sedangkan transaksi jual asing sebesar Rp 937,185 miliar. Dengan demikian, net buy asing hari ini sebesar Rp 305 miliar.

Pada perdagangan kemarin, Rabu (6/1/2010), transaksi beli asing sebesar Rp 1,690 triliun, sedangkan transaksi jual asing sebesar Rp 993,187 miliar, sehingga net buy asing kemarin tercatat sebesar Rp 696,813 miliar.

Pada perdagangan Selasa (5/1/2010), transaksi beli asing mencapai Rp 1,459 triliun, sedangkan transaksi jual asing sebesar Rp 834,589 miliar. Net buy asing sebesar Rp 624,411 miliar.

Pada perdagangan perdana, Senin (4/1/2010), transaksi beli asing sebesar Rp 683,07 miliar, sedangkan transaksi jual asing sebesar Rp 292,4 miliar. Net buy asing sebesar Rp 390,6 miliar.

Total nilai transaksi asing selama 4 hari berturut-turut mencapai Rp 5,074 triliun, sedangkan transaksi jual asing sebesar Rp 3,056 triliun. Net buy asing selama 4 hari berturut-turut mencapai Rp 2,018 triliun.

Seperti biasa, konsentrasi terbesar net buy asing terjadi pada saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Selama 3 hari berturut-turut, net buy asing pada saham BUMI telah mencapai Rp 1,422 triliun. Pada perdagangan hari ini, posisi net buy asing pada saham BUMI mencapai Rp 204,433 miliar, padahal total net buy asing di seluruh pasar hari ini hanya sebesar Rp 305 miliar.

Laju kenaikan IHSG memang sudah berakhir. Pada dua hari terakhir, IHSG mengalami koreksi, meskipun tidak besar. Namun melihat tren arus masuknya modal asing selama 4 hari berturut-turut, sepertinya tren kenaikan IHSG masih berpeluang lanjut, tentunya setelah koreksi sehat yang diperkirakan bakal terjadi selama beberapa hari ke depan.

IHSG hari ini ditutup melemah 16,402 poin (0,64%) ke level 2.586,895. Indeks LQ 45 juga melemah 3,762 poin (0,74%) ke level 509,446. Rentang pergerakan IHSG pada sesi I hari ini berada dalam kisaran 2.570,273 dan 2.611,603.

Volume transaksi mulai menurun tipis lantaran perburuan saham-saham Bakrie 7 yang biasanya mendominasi, kini mengendur. Nilai transaksi mengalami penurunan cukup besar karena menurun drastisnya aktivitas transaksi saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi di bawah Rp 1 triliun. Aktivitas transaksi saham-saham unggulan lainnya yang mengendur juga membuat nilai transaksi menyusut.

Dari 10 indeks saham sektoral, hanya indeks saham sektor perkebunan yang mengalami kenaikan tertinggi sebesar 75,524 poin (4,08%) ke level 1.924,467. Indeks saham pertambangan yang pada sesi I berada di zona merah, di akhir perdagangan berbalik arah ke zona hijau, naik tipis 0,364 poin (0,01%) ke level 2.346,033.
(dro/qom)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s