Menabung tidak bisa membuat orang menjadi kaya. Ketika uang itu disimpan di tabungan dan diakumulasi di masa depan, kebutuhan yang diinginkan senilai yang diperkirakan di awal menabung akan jauh lebih tinggi nilainya. Artinya, uang di tabungan akan menggerus kemampuan atau daya beli seseorang.

Apa penyebabnya? Jawabannya adalah inflasi. Si inflasi inilah yang menyebabkan orang selalu mengatakan biaya hidup terus meningkat. Coba bayangkan, 10 tahun lalu harga rumah di perumahan pinggiran ibu kota bisa terbeli di kisaran harga Rp 150 juta smapai Rp 200 juta. Tetapi saat ini, rumah di lokasi yang sama sudah meningkat menjadi Rp 500 jutaan.

Peningkatan harga rumah setinggi itu disebabkan rata-rata inflasi atau kenaikan harga properti sepanjang 10 tahun sebesar 8,5 persen. Sementara kenaikan harga rumah di tengah kota, di kawasan premium, bisa lebih tinggi lagi.

Bagaimana dengan kenaikan biaya pendidikan? Ternyata angka inflasi biaya sekolah rata-rata per tahun mencapai 15 persen. Tidak heran bila uang pangkal sekolah-sekolah premium saat ini untuk masuk sekolah dasar saja, misalnya bisa mencapai Rp 20 juta. Bila seorang ayah menabung untuk uang pangkal anaknya yang baru lahir saat ini misalnya, ia berpikir cukup dengan Rp 3,3 juta per tahun, di tahun keenam ia berhasil mengumpulkan Rp 20 juta.

Apa yang terjadi, di tahun keenam, saat si buah hati siap masuk ke sekolah dasar, uang pangkal yang enam tahun lalu masih Rp 20 juta, melonjak menjadi sekitar Rp 50 juta. Si ayah tidak lagi sanggup menyekolahkan anaknya di sekolah idaman.

Benar menyimpan uang di bank ada bunga tabungan. Tetapi bunga bank paling tinggi hanya 3 persen sampai 4 persen saja. Jauh di bawah angka inflasi. Nah, bagaimana agar nilai uang yang dimiliki saat ini tidak berkurang? Jawabannya adalah menginvestasikan uang di produk investasi yang menghasilkan keuntungan di atas inflasi. Atau paling tidak menyamai inflasi barang yang ingin dibeli di masa datang.

Apa saja produk investasi? Macam-macam. Emas merupakan salah satu produk investasi. Kenaikan harga emas per tahun bila dihitung selama 10 tahun sejak 2004-2014 rata-rata 15 persen. Alternatif lain adalah berinvestasi di pasar modal. Ada banyak produk pasar modal. Saham misalnya, bila dihitung dari kenaikan rata-rata harga saham, dalam kurun waktu yang sama, selama sepuluh tahun, menghasilkan return atau keuntungan rata-rata 32,9 persen. Bisa juga memilih obligasi ritel Indonesia (ORI) yang bisa memberi kupon atau bunga sekitar 6 persen.

Apabila investor tidak terlalu memahami seluk-beluk berinvestasi saham secara langsung, reksa dana bisa dijadikan pilihan. Tetapi harus diingat, dalam berinvestasi ada rumus yang tak boleh dilupakan, yakni high risk, high return. Semakin tinggi return, risikonya semakin tinggi pula. Untuk itu, investasi pada produk dengan return tinggi hanya disarankan untuk investasi dalam jangka waktu panjang, di atas lima tahun.

 

Penulis: Putu Anggreni/AB

Sumber:Berbagai sumber, Majalah Inves