1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

emang ada rumor yang bener :P … 200110_150616 14 Juni 2016

Filed under: Teknik Maen Saham — bumi2009fans @ 4:47 pm

 

reaction_1LINK k posting gw JUGA @ RUMOR:

HUKUM RUMOR SAHAM neh

RUMOR NEGATIF apa imbasnya

RUMOR POSITIF apa imbasNYA

valentineEVERYsmall

rumor: harga saham BUMI mo digoreng s/d Rp700,- per saham dari Rp 76,- (Juni 2016)

Arman Boy
Associate Analyst Vibiz Research Centre
Mengukur Hubungan Volume Dengan Rumor ; Apakah Rumor Hanya Untuk Menggoreng Saham?Selasa, 12 Januari 2010 16:24 WIB

(Vibiznews – Stocks) – Mungkin kita semua sudah tahu bahwa penggerak utama pergerakan harga saham di bursa adalah volume serta rumor yang beredar. Volume berhubungan dengan besarnya permintaan dan penawaran dari pasar. Sedangkan rumor berhubungan dengan sentimen atau ekspektasi positif atau negatif terhadap kondisi ekonomi makro, industri, atau perusahaan khususnya.

Dalam kasus yang pernah terjadi di BEI, biasanya ada 2 macam hubungan antara volume perdagangan dengan rumor. Yang pertama adalah: kasus dimana volume perdagangan yang sangat besar yang disertai dengan rumor di bursa. Sedangkan kasus kedua adalah : volume perdagangan besar yang tidak disertai dengan rumor. Untuk lebih jelas lagi, kita akan melihat contoh dari masing – masing kasus tersebut dibawah ini.

Volume Besar Disertai Dengan Rumor.

Grafik Harga Saham DOID Sepanjang 2009

Contoh kasus dapat kita lihat dari pergerakan saham PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) pada tahun 2009. Pada bulan Juni 2009, mulai beredar rumor bahwa perusahaan akan mengakusisi PT Bukit Makmur Mandiri Utama (Buma). Seiring dengan beredarnya rumor tersebut, volume perdagangan terhadap saham ini mulai meningkat, dan harga juga terkerek drastis ke atas.

Pada pertengahan bulan Juli ke Agustus, saham DOID terkerek sampai 50,89% dari Rp 1.120 per saham pada 19 Juli 2009 menjadi Rp 1.690 per saham pada 20 Agustus 2009. Hal tersebut juga disertai dengan volume transaksi harian yang sangat besar.

Bahkan harga saham sempat menyentuh level 2000 pada akhir Agustus 2009. Setelah adanya kepastian akan akuisisi dan sumber pendanaannya, harga saham kemudian perlahan-lahan terkoreksi hingga perdagangan hari(07/01/2010) di level Rp 1660. Northstar Tambang Persada Pte Ltd menghabiskan dana USD350 juta untuk membeli 40,05 persen saham PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID). Transaksi sendiri dilakukan pada 6 November 2009. Jadi untuk kasus ini, kita bisa simpulkan bahwa volume besar yang disertai rumor mampu menggerakkan harga saham dengan kuat.

Volume Besar yang Tidak Disertai Rumor


Grafik Harga Saham KARK Agustus 2009 – Desember 2009

Pada kasus tertentu, tidak semua volume yang besar pada perdagangan saham disertai dengan rumor pasar. Hal tersebut seperti yang terjadi pada saham PT Dayaindo Resources Tbk (KARK).

Pada perdagangan tanggal 1 Oktober 2009, saham dibuka pada harga Rp 81. Kemudian mengalami kenaikan saham selama 3 hari berturut-turut hingga mencapai Rp 173 atau naik lebih dari 100%. Kenaikan ini disertai oleh volume yang membesar tiba-tiba. Pada hari berikutnya, harga saham masih dikerek ke Rp 181 pada sesi pagi hari. Kemudian saham tiba-tiba dilepas pada sesi ke dua hingga harga penutupan berada pada Rp 121. Harga terus tergelincir ke level Rp 109 pada tanggal 13 September 2009.

Ini adalah tanda-tanda saham yang sedang digoreng. Saham yang biasanya tidur, langsung bergerak dengan aktif tanpa ada rumor. Saham gorengan ini biasanya adalah saham yang berharga recehan sehingga dana yang dibutuhkan oleh bandar tidak terlalu besar. Namun terkadang saham digoreng juga disertai dengan rumor yang terlebih dahulu dihembuskan ke pasar.

Kesimpulan

Akhirnya mungkin timbul pertanyaan dalam hati kita, bagaimanakah caranya membedakan rumor yang benar atau rumor yang hanya sekedar membantu untuk menggoreng? Pertanyaan ini mungkin agak susah untuk dijawab. Tetapi berdasarkan pengalaman, kita bisa mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

Saham yang murni digoreng, biasanya bernilai dibawah Rp 500. Kemudian periode kenaikan saham yang digoreng itu biasanya lebih singkat. Mungkin hanya dalam sekitar 2 atau 3 hari sebelum kemudian harga dibanting lagi ke bawah. Sedangkan saham yang rumornya tidak bertujuan untuk menggoreng, periode kenaikan biasanya lebih panjang. Mungkin bisa sampai sebulan atau lebih. Jadi dapat kita simpulkan bahwa rumor itu tidak selalu bertujuan untuk menggoreng saham. Tetapi dengan catatan bahwa rumor tersebut adalah benar.

Tetapi kembali kepada prinsip dasar dari investasi, “high risk, high return”. Saham gorengan itu memang menjanjikan capital gain yang tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Tetapi, potensi untuk loss juga sangat besar jika anda terlambat menjual saham gorengan tersebut. Bandar akan tertawa puas, anda hanya bisa menangis meratapi nasib. Apakah nyali anda cukup kuat untuk mencoba saham gorengan?

… ini posting gw sendiri :  https://transaksisaham.wordpress.com/2009/12/19/saham2-contoh-bobo-dan-calon-digoreng-gorenk-191209/ soal hukum rumor bursa

(Arman Boy/AB/vbn)

dollar small

JAKARTA neraca – Turun dan naiknya laju indeks harga saham gabungan (IHSG) yang terkadang berada di luar prediksi, menjadi risiko tersendiri berinvestasi saham di pasar modal.

Oleh karena itu, berinvestasi di pasar modal perlu mempertimbangkan berbagai faktor dalam setiap transaksinya, baik itu jual ataupun beli. Hal ini dilakukan untuk menekan kerugian lebih besar lagi.

Namun demikian, bergerak fluktuatifnya IHSG menjadi gambaran hidupnya transaksi dari likuiditas pasar modal dalam negeri. Hanya saja, Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia, Nicky Hogan menegaskan, tidak ada yang bisa meramal secara pasti pergerakan harga saham di pasar modal.

Sehingga, tidak bisa dipastikan kapan saham tersebut akan naik atau turun.”Sejarahnya tidak ada seorang pun yang bisa memperkirakan secara pasti pergerakan harga saham. Tidak ada yang tahu besok, bulan depan ataupu tahun depan,” ujarnya di Jakarta.

Menurutnya, investor hanya bisa memperkirakan kinerja perusahaan terbuka atau emiten, meski bukan harga sahamnya. Apalagi, emiten sering merilis proyeksi kinerja hingga beberapa tahun ke depan. “Tapi perusahaan kinerja 5-10 tahun ke depan bisa dilakukan. Tentunya manajemen juga lakukan proyeksi,” tuturnya.

Nicky menambahkan, dalam berinvestasi tidak cocok dilihat dalam jangka waktu pendek apalagi harian. Namun, tidak dipungkiri ada beberapa investor yang bertindak seperti itu. “Kalau investasi tak valid lihat harga harian, tak lihat beli hari ini, jual hari ini atau minggu depan meski ada yang senang, namanya spekulasi,”tuturnya.

Terlepas soal plus dan minusnya menjadi investor jangka pendek di pasar modal, kata Nicky, berinvestasi di pasar modal mampu menyelamatkan aset dari inflasi yang terus membengkak. Tercatat dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir rata-rata inflasi di tanah air mencapai 5,6 persen, sehingga publik yang tidak berinvestasi di pasar modal telah mengalami penyusutan aset akibat tren kenaikan indeks harga konsumen (IHK).

Kata Nicky Hogan, institusi maupun personal yang tidak melakukan investasi di pasar modal dipastikan akan mengalami penyusutan aset akibat laju inflasi. Maka dengan demikian, publik yang tidak menempatkan dana di pasar modal, asetnya mengalami kemerosotan sebesar 5,6 persen per tahun. “Berarti selama sepuluh tahun terakhir dimiskinkan 5,6 persen oleh inflasi,” ungkapnya.

Oleh karena itu, salah satu cara yang mampu menyelamatkan asset dari inflasi adalah investasi di pasar modal, baik di reksa dana maupun saham. Apalagi selama sepuluh tahun terakhir, return dari investasi di pasar modal mencapai 16,9 persen per tahun. Sehingga, keuntungan berinvestasi jauh lebih besar dari tren kenaikan inflasi.

Di tempat yang sama, Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Denny R Thaher mengatakan, memulai investasi tidak perlu modal besar lagi. Karena, hanya dengan uang Rp100 ribu sudah bisa menjadi investor pasar modal, sehingga siapa pun termasuk mahasiswa bisa melakukannya.

(mrt)

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s