1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

buyback saham (d.h.: bei tetap tidak berdaya) 10 Agustus 2016

Filed under: GREAT depression — bumi2009fans @ 2:55 am

dollar small

WE: PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) khawatir akan risiko tinggi yang akan berdampak kepada penurunan Modal Kerja Bersih Ditempatkan (MKBD) 19 perusahaan efek yang telah pemerintah tetapkan sebagai pintu masuk (gateway) dana repatriasi pengampunan pajak.

Direktur Utama Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) Hasan Fawzi mengatakan penurunan MKBD dikhawatirkan akan mencapai di bawah minimal, yakni Rp25 miliar.

Pasalnya, menurut Hasan, dengan potensi dana repatriasi yang masuk ke pasar modal akan besar dan diperkirakan besarnya transaksi crossing atau transaksi tutup sendiri dan transaksi negosiasi maka MKBD perusahaaan efek memfasilitasi transaksi itu, bisa tergerus.

“Transaksi itu berpotensi menurun sementara waktu MBKD sebab akan dicatat sebagai tambahanliabitility atau kewajiban,” katanya di Jakarta, Selasa (9/8/2016).

Menurut Hasan, jika MKBD di bawah Rp25 miliar, operator pasar modal akan menghentikan sementera aktvitas perdagangan perusahaan efek yang bersangkutan. Namun, pihaknya akan meminta pendapat OJK (Otoritas Jasa keuangan).

“Kami minta (kepada OJK) agar transaksi itu hanya dicatat sebagai liability sesaat sehingga tidak menggerus MKB sehingga mereka tetap dapat bertransaksi,” ucapnya.

Di samping itu pihaknya juga meminta agar 19 perusahaan efek itu siap siaga untuk kecukupan aset. Adapun caranya, dengan melakukan pinjaman subordanasi.

“Jadi, ini tanpa tambah modal tapi dengan kapasitas masing masing mendapatkan pinjaman sesuai yang dibutuhkan sehingga catatan asetnya bertambah,” jelas Hasan.

Selanjutnya, perusahaan efek harus segera menyelesaikan transaksi lebih awal. Seperti diketahui, saat ini berlaku settlement T+3 sehingga pada dua hari sebelum settlement menjadi masa yang kritis bagi perusahaan efek yang bersangkutan.

“Dan segerakan transfer asetnya dari nasabah ke perusahaan efek, walaupun belum settlement,” tukasnya.

doraemon

kontan: Ada musim IPO (penawaran saham perdana kepada publik), ada pula musim buyback (pembelian kembali) saham.

Jika IPO marak saat pasar sedang bullish (harga saham naik), maka buyback saham banyak dilakukan saat pasar sedang bearish, bahkan saat dihantam krisis ekonomi.

Misalnya, seiring dengan gugurnya harga saham, selama kuartal pertama tahun 2008, beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia giat menggelar program buyback. Contohnya ada PT Bank Central Asia Tbk, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk serta PT Kalbe Farma Tbk. Kondisi ini sangat kontras dengan periode 1994-2005 di mana hanya ada satu perusahaan yang melakukan buyback, yakni PT HM Sampoerna Tbk.

Ada tiga motif utama untuk melakukan buyback. Pertama, motif distribusi.Buyback dapat dipakai untuk mendistribusikan kelebihan kas kepada pemegang saham. Jika pada pembayaran dividen semua pemegang saham menerima kas, maka pada buyback hanya pemegang saham yang menjual sahamnya akan menerima kas.

Pemegang saham yang tidak menjual saham mengharapkan kenaikan harga saham setelah buyback (capital gain), karena jumlah saham beredar akan berkurang. Jika dividen dipajaki lebih tinggi daripada capital gain, pemegang saham lebih menyukai buyback daripada dividen. Motivasi ini yang diduga memicu sebagian besar buyback di AS (Jensen, 1986).

Kedua, motif pemberian sinyal dan penciptaan nilai bagi pemegang saham. Perusahaan melakukan buyback untuk memberi sinyal bahwa saham undervalued. Asumsinya, informasi tidak simetris yang terjadi antara manajemen dan investor dapat menciptakan harga pasar yang salah; yakni terlalu tinggi (overvalued) atau terlalu rendah (undervalued).

Jika investor melihat buyback sebagai sinyal bahwa manajemen yakin dengan prospek perusahaannya, kinerja saham akan terdongkrak. Misalnya, Lakonishok dan Vermaelen (1990) menemukan bahwa pengumuman buyback di AS menyebabkan harga saham naik rata-rata 14,29%.

Ketika pasar saham sedang terjun bebas, buyback saham bisa berfungsi sebagai parasut. Sebagai contoh, dua minggu setelah market crash di Wall Street pada Oktober 1987, sekitar 600 korporasi AS mengumumkan rencana buyback senilai US$ 44 miliar. Ada dua alasan bagi korporasi untuk melakukan aksi yang cukup berisiko ini.

Buyback akan meningkatkan permintaan untuk saham yang sedang tertekan harganya. Lalu, buyback merupakan sinyal kepada investor bahwa manajemen tetap yakin dengan prospek korporasi sehingga menganggap harga saham saat ini undervalued. Sinyal ini dianggap penting untuk mengembalikan kepercayaan investor pada korporasi dan pasar modal yang sedang babak belur.

Hal ini dilakukan oleh Warren Buffett saat harga saham perusahaannya, Berkshire Hathaway, terus menurun. Untuk pertama kalinya sejak 1965, Buffett menyatakan akan melakukan buyback saham Berkshire Hathaway karena dianggap sudah kemurahan. Setelah muncul pernyataan itu, harga saham Berkshire langsung melambung 8%.

Ketiga, motif struktur modal. Ketika perusahaan melakukan buyback, jumlah ekuitas akan berkurang sehingga rasio utang akan meningkat. Jadi, buybackmerupakan alat untuk mencapai rasio utang yang diinginkan manajemen perusahaan. Dengan asumsi bahwa terdapat rasio utang optimal (yang meminimalkan biaya modal, sehingga memaksimalkan nilai saham), perusahaan dapat menggunakan buyback untuk mencapai rasio utang sasaran tersebut. Misalnya, manajemen dapat melakukan buyback jika merasa rasio utangnya terlalu rendah. Dittmar (2000) menemukan bukti bahwa perusahaan-perusahaan di AS mengubah rasio utangnya dengan menggunakan buyback.

Ketiga motif tersebut berasumsi bahwa jika pasar tidak sempurna, buybackdapat menciptakan nilai bagi pemegang saham.

Apa motif buyback emiten BEI tersebut di atas? Ternyata, tidak satupun yang memiliki motif distribusi. Hanya Telkom yang menyatakan bahwa buyback-nya dimotivasi oleh faktor struktur modal. Sebagian besar mengaku melakukanbuyback karena merasa harga saham murah. Mereka berniat menjual kembali saham tersebut (treasury stock) di kemudian hari ketika harga membaik.

Pada saat harga saham tertekan dan korporasi memiliki kas yang cukup besar, manajemen sebaiknya mempertimbangkan strategi buyback saham. Pada umumnya saham hasil buyback akan disimpan hingga korporasi membutuhkan dana segar. Saham ini akan dijual kembali saat harga saham lebih tinggi daripada harga saat buyback.

Ambil contoh, saat BCA menjalankan program buyback saham pada 2008. Saat itu, BCA membeli kembali sekitar 200 juta saham. Rata-rata harga pembelian kembali saham BCA adalah Rp 3.600 per saham, sehingga BCA menggelontorkan dana Rp 720 miliar untuk aksi buyback tersebut.

Saham itu akhirnya dijual kembali ke investor pada 2013 dengan harga Rp 9.900 per saham, memberikan uang tunai bagi BCA sebesar Rp 1,98 triliun. Strategi ini menciptakan nilai Rp 1,26 triliun kepada pemegang saham BCA yang setia (tidak menjual kembali sahamnya kepada korporasi).

doraemon

Kalo diperhatikan memang seller markets masih berjaya
Buybacks mungkin uda berhenti, karena secara teknikal, jelas hanya terjadi rebound2 kecil yang tidak berarti
Secara fundamental, kepanikan pasar lebih merupakan usaha buang barang untuk memenuhi kebutuhan investor, bukan saja untuk mengalihkan investasi ke safe haven (kalo itu emang ada yaow, mungkin yang dimaksud adalah us dollar, emas, atau valas lainnya), tetapi juga untuk memenuhi likuiditas di negara mereka, berlaku untuk untuk investor asing, itu sebabnya Rupiah sempat melemah sedikit, tapi tetap dijaga ketat oleh Bank Indonesia.
Apakah investor asing masih akan kabur dari BEI, jelas aja … karena likuiditas bisnis mereka adalah nyawa bisnis mereka, apalagi di perbankan … jadi, salah satu cara memonitor perubahan yang nyata di ekonomi amrik adalah harga2 saham perbankan amrik, apakah mulai stabil dan menguat … kalo tetap terpuruk, maka mereka akan mencari dana dalam bentuk apa aja, termasuk saham dan obligasi indonesia

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s