1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

rasio ASIENK banding lokal, wah, lokal mah cetek … 221209_221116 22 November 2016

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 12:07 am

doraemon

NBER APRIL 2013: teks lengkap penelitian SPEKULASI Conclusion:  We have shown how a simple model of equilibrium in the cash and storage markets for a commodity can be used to assess the role of speculation as a driver of price changes.

With reasonable assumptions about elasticities of supply and demand, the model can be used  to determine whether speculation is consistent with the data on production, consumption, inventory changes, and spot and futures prices.

Given its simplicity and transparency, we believe that our approach yields results that are quite convincing. We have focused on the price of crude oil because sharp increases in oil prices have often been blamed on speculators, but our approach can be applied equally well to other commodities. We found that although we cannot rule out that speculation had any effect on oil prices, we can indeed rule out speculation as an explanation for the sharp changes in prices since 2004. Unless one believes that the price elasticities of both oil supply and demand are close to zero, the behavior of inventories and futures-spot spreads are simply inconsistent with the view that speculation has been a significant driver of spot prices.

If anything, speculation had a slight stabilizing effect on prices. The simplicity of our approach to speculation is a benefit, but also implies limitations.

For example, we assume that demand and supply in the cash market are isoelastic functions of price, and that the elasticities do not change over time.

We also assume that imports can be combined with domestic supply and respond to price changes in the same way.

Finally, we assume that apart from shifts in the multiplicative parameter kN , the demand for storage is stable. We believe these assumptions are all reasonable and similar in nature to functional form assumptions that are required in related econometric studies.

Finally, as we explained at the outset, it is difficult or impossible to distinguish “speculation” from an “investment.” The latter might involve buying or selling futures, not to “beat the market,” but instead to hedge against large price fluctuations. Mutual funds, hedge funds, and other institutions often hold futures positions, but it is usually impossible to know whether they are doing so to make a “naked” (unhedged) bet on future prices, or instead to diversify or hedge against other commodity-related risks. Thus when we examined the impact of increased purchases of futures contracts, we were not concerned with whether this represented an investment or pure speculation, and our use of the word “speculation” should always be interpreted as including investment activities—but not a shift in fundamentals.

ets-small

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTAOtoritas Jasa Keuangan (OJK) terus menggenjot jumlah investor domestik agar pasar modal Indonesia tidak mudah tergoncang ketika terjadi ketidakpastian global, seperti kabar kenaikan suku bunga The Fed.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadadmengatakan, jumlah investor di pasar modal saat ini masih sangat kecil dibandingkan jumlah penduduk Indonesia, bahkan paling sedikit di lingkup Asean.

“Kami ingin basis investor semakin hari semakin kuat, sehingga perilaku (investor asing) di luar sana bisa diimbangi oleh investor dalam negeri dan akhirnya bisa menstabilkan pasar keuangan kita,” tutur Muliaman di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (22/11/2016).

Menurut Muliaman, investor domestik baru banyak berasal dari pulau Jawa seperti Jakarta dan Surabaya, sehingga kota-kota lainnya masih belum terjamah oleh berbagai produk investasi di pasar modal.

“Kami ingin investor di pasar modal datang dari seluruh kota di Indonesia, kalau ini dimobilisasi maka dananya bisa membiayai proyek infrastruktur atau proyek jangka panjang,” tutur Muliaman.

Muliaman melihat, kerja sama 100 pelaku industri pasar modal dengan Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, sejalan dalam program peningkatan literasi dan inklusi keuangan khususnya di pasar modal yang saat ini digencarkan oleh OJK.

“‎Kerja sama ini membuat nyaman dan mudah bagi masyarakat berinvestasi di pasar modal,” ucap Muliaman.

Tercatat, jumlah investor saham di pasar modal domestik yang mengacu pada jumlah Single Investor Identification (SID) hingga September 2016 mencapai 500.037.

Sementara jumlah investor ritel yang melakukan transaksi di pasar modal Indonesia sebanyak 487.713 SID dan sisanya yakni investor insititusi 12.324 SID.

ets-small

JAKARTA, KOMPAS.com – Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistyo mengungkapkan bahwa pasar saham Indonesia memiliki kejanggalan. Ia menyebut kejanggalan itu dengan istilah tanda kutip.

“Kan sekarang ada satu di bursa yang tanda kutip. Transaksi itu setiap hari 60 persen lokal, kenapa kepemilikannya (saham di BEI) 65 persen asing? Berarti ini kan ada yang salah,” ujar Tito di sela-sela acara World Islamic Economic Forum (WIEF) 2016 di Jakarta, Selasa (2/8/2016).

Ia menduga, para investor lokal sengaja mengatasnamakan sahamnya mengunakan nama investor asing. Hal itu dilakukan lantaran para investor lokal enggan mengakui kepemilikan saham di BEI.

Mereka kerap memanfaatkan Special purpose vehicle (SPV) di luar negeri untuk memiliki saham di BEI.

Tito percaya, dari 60-65 persen kepemilikan saham asing di BEI, sekitar 15 persen-20 persennya merupakan milik investor lokal.

Bila di dirupiahkan, total saham investor lokal yang diatasnamakan menggunakan nama investor asing diperkirakan mencapai Rp 200 triliun-Rp 400 triliun. Saat ini nilai kapitalisasi pasar BEI sekitar Rp 5.772 triliun.

BEI sendiri optimistis bisa mencapai total kapitalisasi pasar Rp 6.000 triliun pada tahun ini. Sebenarnya, harapan perbaikan komposisi kepemilikan saham di BEI terbuka lebar karena adanya program amnesti pajak.

Para investor bisa memanfaatkan program tersebut untuk mengakui atau mendeklarasikan kepemilikan asetnya sehingga tidak perlu ada lagi kejanggalan di pasar saham.

Sebutan bahwa BEI dikuasai asing pun bisa berubah bila deklarasi bisa mengubah porsi kepemilikan saham di BEI.

Bahkan kata Tito, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan memberikan insentif kepada investor yang mendeklarasikan asetnya.

“Dari kami (BEI) bisa biaya yang lebih murah, biaya crossing kan bisa dibicarakan,” kata Tito.

dollar small

Kuasa Investor Asing di Bursa Indonesia
Selasa, 22 Desember 2009 18:45 WIB
JAKARTA–MI: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) seringkali digadang-gadang sebagai salah satu bursa saham terbaik di Asia Tenggara. Namun, jika diamati lebih dalam, ternyata dua pertiga dari total investor pasar modal saat ini merupakan investor berbendera asing.

Kenyataan bahwa investor asing jauh mendominasi perdagangan IHSG dibanding dengan investor dalam negeri diakui oleh Direktur Perdagangan BEI Wan Wei Yong. Menurut dia, porsi investor lokal di bursa masih sangat minim, hanya sekitar 300 ribu orang atau sepertiga dari jumlah total investor. Sedangkan yang dua pertiga adalah investor asing.

“Kalau dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia memang tidak ada apa-apanya. Mereka semua sudah melek pasar modal. Singapura misalnya, 50% penduduknya aktif bermain di pasar modal. Demikian juga Malaysia 20% penduduknya melek pasar modal,” kata Wei di Jakarta, Selasa (22/12).

Wei menuturkan, penambahan jumlah investor domestik sangat minim, bahkan seolah jalan di tempat. Untuk itu, pihak BEI terus berusaha melakukan edukasi, sosialisasi dan bahkan mendirikan pusat-pusat pendidikan pasar modal.

Di samping itu, demi memberikan rasa aman dalam bertransaksi kepada investor, kata dia, Bapepam-LK selaku otoritas pasar modal saat ini tengah mengembangkan Straight Trough Processing (STP), yaitu integrasi sistem dan proses dengan mengotomasi semua proses dari mulai order, eksekusi transaksi, konfirmasi/afirmasi hingga settlement, yang diharapkan dapat mulai diimplementasikan pada 2011.

Otoritas pasar modal juga tengah berusaha mewujudkan sistem identitas tunggal (single ID) bagi investor. Adanya single ID akan membuat otoritas pasar modal mudah melakukan pengawasan atas segala transaksi efek yang dilakukan investor. Saat ini single ID mulai digunakan pada investor area, yang telah berjumlah 7.895.

“Kami terus melakukan sosialisasi STP (Straight Trough Processing), single ID, bahwa investasi di pasar modal terjamin dalam hal proteksi,” kata dia. (*/OL-03)

big-dancing-banana-smiley-emoticon

Negara Berkembang Sasaran Investasi 2010
Meski demikian, kasus Century perlu segera diselesaikan karena bisa menjadi polemik.
SELASA, 22 DESEMBER 2009, 15:38 WIB
Arinto Tri Wibowo, Nerisa

BERITA TERKAIT
Dampak Century Tak Signifikan ke Pasar
Polemik Century Ikut Picu Turunnya Transaksi
BEI Belum Berniat Ubah Peraturan
Integrasi Sistem, SRO Siapkan Rp 95 Miliar
Transaksi Online, BEI Incar 700 Investor Baru
Web Tools

VIVAnews – Indeks harga saham gabungan (IHSG) PT Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berpeluang menguat pada 2010. Hal tersebut dipicu oleh pertumbuhan ekonomi global dan domestik dan ekspansi manajer investasi asing ke pasar negara berkembang.

Meski demikian, kasus PT Bank Century Tbk perlu segera diselesaikan karena bisa menjadi polemik memasuki 2010.

Hal itu disampaikan pengamat pasar modal Haryajid Ramelan dan Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk Ryan Kiryanto pada acara diskusi wartawan pasar modal di Pacific Place, Jakarta, Selasa 22 Desember 2009.

“IHSG tahun depan bisa menguat ke level 2.800,” kata Haryajid.

Dia menjelaskan, ekonomi global serta domestik menunjukkan tren positif pada 2010. Selain itu, penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham diharapkan bisa menjadi sentimen positif bagi pasar modal.

“Manajer investasi global masih menyasar negara berkembang sebagai tujuan investasinya,” ujarnya.

Namun, dia mengungkapkan, pelaku pasar dan otoritas pasar modal perlu mencermati kasus Bank Century dan harga komoditas. “Selain itu, inflasi dan tingkat suku bunga (juga perlu dicermati),” tuturnya.

Ryan menambahkan, kasus Bank Century menjadi isu menjelang 2010. Hal itu perlu segera diantisipasi agar tidak menganggu stabilitas politik di dalam negeri, seperti yang terjadi di Thailand, Malaysia, dan Filipina.

Dia menjelaskan, investor perlu kepastian hukum dan stabilitas politik untuk menempatkan investasinya. “Bahkan, beberapa manajer investasi asing mulai mempertanyakan kondisi politik (di dalam negeri),” ujarnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menurut Haryajid, sebaiknya juga perlu berhati-hati memberi pernyataan. Hal itu terkait dengan banyaknya investasi asing yang mengalir ke pasar dalam negeri.

Apalagi, IHSG juga mengalami kenaikan di tengah penurunan indeks bursa negara lain.

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), hingga akhir November 2009, nilai transaksi investor lokal sekitar Rp 360,35 triliun dan investor asing Rp 748,76 triliun. Porsi investor lokal hanya 1/3, sedangkan asing 2/3.

Sementara itu porsi kepemilikan saham oleh investor asing mencapai 67,5 persen, atau sekitar Rp 748,76 triliun dari total Rp 1.109,11 triliun.

Porsi itu hanya turun tipis dari periode sama 2008 senilai Rp 446,178 triliun (67,8 persen). Sedangkan investor lokal memiliki 32,5 persen, atau Rp 360,35 triliun, atau naik dari 2008 senilai Rp 211,53 triliun (32,2 persen).

arinto.wibowo@vivanews.com

• VIVAnews

bird

22/12/2009 – 14:55
Kasus Bank Century
Sentimen Negatif Pasar Modal 2010
Agustina Melani

INILAH.COM, Jakarta – Kasus isu politik terkait kasus Century dan harga komoditas, inflasi dan tingkat suku bunga akan menjadi sentimen negatif terhadap pasar modal pada 2010.

Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan, Selasa (22/12).

Haryajid mengatakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan berpeluang menguat pada 2010. IHSG mencapai 2.800. Hal ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi global dan domestik yang positif. Penawaran saham umum perdana atau initial public offering (IPO) diharapkan bisa memberikan supply baru ke pasar modal.

“Emerging market masih menjadi sasaran investasi bagi fund manager global,tetapi yang harus dicermati adalah kasus Century dan harga komoditas,inflasi dan tingkat suku bunga,” tutur Haryajid.

Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengatakan, isu kasus bank Century menjadi isu memasuki pada 2010. “Jangan sampai kasus Century mengubah kondisi politik menjadi tak stabil seperti yang dialami Thailand, Malaysia dan Filipina,” kata Ryan.

Ryan menambahkan, investor membutuhkan kepastian hukum dan kestabilan politik saat asing mulai menanyakan kondisi politik,” tutur Ryan.

Hal sama diungkapkan oleh Haryajid. Kasus Century ini harus segera diselesaikan secepatnya agar tidak memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan pasar modal.

Haryajid mengingatkan, pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk berhati-hati pada 2010. Hal ini mengingat dana dari AS yang digelontorkan begitu besar dan IHSG mengalami bullish dan negara lain alami tetap dan penurunan indeks. “Efek domino capital inflow, nanti ada kemungkinan capital outflow yang dilakukan investor asing dan hedge fund asing,” tambah Haryajid.

Seperti diketahui, jumlah transaksi investor lokal sekitar Rp360,350triliun dan investor asing mencapai Rp748,760triliun. Sekitar 1/3 investor lokal dan 2/3 investor asing. [san/cms]

ezgif.com-resize

Selasa, 22 Desember 2009 | 15:02

INVESTOR PASAR MODAL

Investor Lokal Hanya Kuasai Sepertiga Kepemilikan Saham di BEI

JAKARTA. Kepemilikan saham investor lokal di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih minim. BEI menghitung, sampai 17 Desember 2009, kepemilikan saham investor lokal hanya 32,5% atau setara Rp 360,35 triliun. Sedangkan kepemilikan saham investor asing mencapai 67,5% atau setara Rp 748,76 triliun. Angka ini terlihat dari jumlah kepemilikan saham total yang nilainya mencapai Rp 1.100 triliun per November 2009.

“Ini hanya untuk data scripless saja. Perbandingannya sepertiga investor lokal, dua pertiganya investor asing,” ujar Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Efek Indonesia (BEI) Wan Wei Yiong dalam Diskusi Prospek Pasar Modal Indonesia 2010, Selasa (22/12).

Memang dibandingkan dengan porsi kepemilikan saham tahun 2008, ada peningkatan pporsi investor lokal. Pada 2008 lalu, jumlah kepemilikan saham investor lokal sebesar Rp 211,53 triliun atau sekitar 32,2%. Sedangkan kepemilikan saham investor asing mencapai Rp 446,18 triliun atau sekitar 67,8%.

Wan mengatakan, saat ini BEI menargetkan peningkatan jumlah investor. Soalnya, perbandingan jumlah investor pasar modal dengan jumlah penduduk masih sangat kecil. Saat ini jumlah investor hanya sekitar 1% dari total populasi Indonesia. Angka ini, imbuh Wan, jauh lebih kecil ketimbang negara tetangga. Misal, Malaysia yang investor pasar modalnya mencapai 20% dari total populasi dan Singapura yang mencapai 50% dari total populasi.

“Fokusnya meningkatkan jumlah investor lokal. Kalau investor lokal kuat, kita lebih punya bargaining power,” jelasnya.

Wan menambahkan, tantangan pasar modal saat ini mencakup pengembangan produk

baru, jumlah emiten, dan jumlah investor yang masih minim. Makanya, BEI juga gencar menarik emiten baru untuk masuk bursa dan mengeluarkan produk-produk baru. Untuk produk baru, BEI tengah mempersiapkan produk jenis derivatif dan futures.

Irma Yani kontan

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s