1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

ihsg bagian dari tren global … seh : 031009_110317 7 Maret 2017

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 1:25 am

tren IHSG dalam jangka panjang MENGALAHKAN TREN INDEKS BURSA SAHAM AMRIK, china, n oz

CHINA MEMANGKAS SUKU BUNGA PINJAMAN, memangkas BIAYA BISNIS n INDUSTRI supaya TUMBUH LEBE KUAT

big-dancing-banana-smiley-emoticon

 

analisis gw soal BREXIT 2016

 

BLOOMBERG menyatakan tren NAEK @ ihsg, kok, sama sperti analisis sederhana gw

 

TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hamdi Hassyarbaini mengatakan BEI merupakan salah satu bursa saham terbaik di dunia.

“Selama 10 tahun terakhir, BEI satu-satunya bursa saham terbaik dengan imbal hasil mencapai 317 persen. Itu mengalahkan bursa-bursa lainnya,” kata Hamdi dalam sambutannya pada “Investment Discussion and Economic Analysis” (IDEA) 2017 di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Sabtu 11 Maret 2017.

Hamdi mengatakan bursa saham saat ini tumbuh secara signifikan. Dia berharap IDEA 2017 dapat menarik minat pemain-pemain saham baru sehingga jumlah investor juga semakin bertambah.

“Kami berharap melalui acara ini, pasar modal Indonesia bisa lebih maju dan berkembang serta hasilnya bisa bermanfaat bagi kita semua,” tuturnya.

IDEA 2017 bertema “Membuka Potensi Pasar Modal Melalui Teknologi Keuangan Untuk Pembangunan Berkelanjutan” diadakan atas kerja sama Perum LKBN Antara dan Universitas MH Thamrin.

Diskusi yang merupakan rangkaian peringatan 10 windu Kantor Berita Indonesia Antara itu didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), Bank Rakyat Indonesia, Maybank, Panin Aset Management dan lain-lain.

BISNIS.COM

ets-small

bisnis.com: Berbagai jenis investasi menjadi pilihan masyarakat yang ingin menumbuh kembangkan uangnya.

Salah satu yang dirasakan gencar ditawarkan saat ini adalah berinvestasi di pasar modal.

BEI mulai meningkatkan promosinya.

Saat ini makin mensasarkan pelaku pasar ritel, yaitu kalangan masyarakat menengah, antara lain dengan program literasi keuangan terutama di pasmod.

Menarikkah berinvestasi di bursa saham, apalagi untuk pasar eceran?

Market saham itu dinamis. Ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi pergerakannya.

Faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah kinerja emiten, kondisi perekonomian, pola investasi investor, dan kondisi sektor riil.

Satu hal yang menarik di bursa saham adalah dari pola investasinya. Mengingat setiap keputusan yg diambil dalam berinvestasi menjadi tanggung jawab masing masing individu sebagai investor.

Untuk itu lah dikatakan bursa saham itu sebagai bagian dari investasi dengan pasar yang dinamis.

Kedinamisan investasi ini menjadi tantangan sendiri bagi pemilik modal dan karena kedinamisan inilah peluang untuk mendapat capital gain terbuka cukup lebar bagi investor.

Tentunya setiap investor memiliki prilaku yang berbeda beda. Baik dari sisi pemilihan, pendapat dan pemikiran, pengamatan, timeframe, dan emotional/psikologi

Perilaku investor seperti apa yang cocok untuk ber investasi di bursa saham?

Menurut saya, dalam hal ini mindset awal kita sudah harus benar sejak awal. Ini adalah investasi saham, bukan main saham. Namun bisa juga menggunakan istilah main untuk membuat kita enjoy dalam berinvestasi.

Mengingat begitu banyak faktor yang mempengaruhi pergerakan harga satu emiten.

Gerak saham tidak hanya bergantung kinerja positif perusahaan, karyawan emiten yang sejahtera, dan keberhasilan mencetak laba.

Gerak saham yang juga terkait dengan keamanan suatu negara, kestabilan ekonomi, kestabilan politik.

Saham itu jika kita melakukan investasi didalamnya , maka doanya tentunya semua yang diharapkan selalu berjalan baik, baik itu terhadap negara, perusahaan, bahkan dunia.

 

*William Surya Wijaya

Kepala Riset Asjaya Indosurya Securities

rose KECIL

JAKARTA. Perusahaan jasa finansial UBS Wealth Management menyatakan klien-kliennya siap untuk meningkatkan kepemilikan mereka di emerging markets.

Michael Bolliger, head of emerging-market asset allocation UBS, memprediksikan return kelas aset berdigit tunggal tahun ini.

Klien-klien UBS, dengan total aset senilai US$2,1 triliun, merasa nyaman berinvestasi di negara-negara berkembang.

Menurutnya, keinginan klien UBS tersebut berdasarkan kuatnya performa saham dan obligasi di negara berkembang dinilai pada 2016 serta berlanjutnya aliran uang pada tahun ini.

“[2016] merupakan tahun yang baik dan memberi kesan pada orang-orang. Diperlukan beberapa kuartal performa yang baik bagi mereka untuk memanas dan menjadi lebih tertarik. Inilah yang terjadi sekarang,” kata Bolliger, seperti dikutip dari Bloomberg (Rabu, 1/2/2017).

Stimulus bank sentral yang belum pernah terjadi sebelumnya telah memicu perburuan global untuk return yang lebih tinggi tahun lalu serta mendorong permintaan untuk aset negara berkembang.

Menurut data EPFR Global, minat investor masih kuat sepanjang pekan yang berakhir pada 25 Januari, dengan aliran dana untuk pembelian saham-saham emerging market senilai US$1 miliar. Jumlah tersebut adalah yang terbesar dalam tiga bulan.

http://finansial.bisnis.com/read/20170201/9/624814/ubs-investor-siap-kejar-aset-di-negara-berkembang
Sumber : BISNIS.COM

big-dancing-banana-smiley-emoticon

marketwatch: With U.S. stocks in record territory, investors need to take their emotional temperature. Emotions can be your worst enemy when it comes to money and stocks, especially during big, rapid market moves that can warp your thinking in unforgiving ways — like these:

1. Forgetting that purchase price matters (HARGA BELI mesti tetap diperhatikan, mesti rendah)

Since the presidential election, the Dow Jones Industrial Average DJIA, +0.58% the S&P 500 SPX, +0.65% the Nasdaq COMP, +0.95%  and other major U.S. stock indexes have posted big gains. Understandably, you may be wanting to throw money at stocks right now.

Not so fast. You are guaranteed a worse return with money invested today than you’ll get with money invested before the election, when U.S. stocks were considerably cheaper. Stocks are ownership units of businesses that are worth the profits they deliver in the future. Pay more for future profits, and your return necessarily declines. Wait for your pitch.

2. Giving in to greed (Keserakahan akan saham saat naik, malah akan memberangus modal saat ternyata terpaksa jual saat harga jatuh)

Maybe your allocation is too low on stocks, and you should add. But why does it take a surge in stocks to make you think you don’t have enough in stocks? The time to consider your allocation was before a big market move. Chances are your allocation isn’t too light on stocks. You just think it is because you’re being greedy. This line of thinking will lead you to add to stocks after they’ve gone up, and sell after they’ve dropped, trapping you in a vicious cycle.

3. Playing momentum

What goes up, stays up. Until it doesn’t. And the smart-money investors can never tell you when the momentum will stop. Except there is ample evidence for investors to realize when stocks have peaked. It’s when investors have thrown their last dollars at the market, because the data show investors buy high and sell low, following momentum in both directions just before it’s about to turn. The momentum factor may exist, but individual investors have proved remarkably adept at letting it punish them with losses rather than being able to exploit it.

4. Giving in to social pressure

Closely linked to momentum is social pressure. You see other people enjoying gains, and you want to enjoy them too. Also, you see other people buying stocks, so it feels safe for you to do the same thing, at any price. And even if you have a big slug of assets in stocks, you always want more. You want to enjoy the good times with everyone else to the maximum extent possible.

What if you never had to pull out an ID card at the airport, at the doctor’s office, or even at the voting poll? Here’s how biometric IDs could replace wallets, passwords, keys and tickets

Be wary. A little misanthropy can serve you well in investing. If other investors are buying stocks at nosebleed prices, sell them your shares.

5. Forgetting that earnings matter

Some investors believe corporate profits will be higher than previously thought because of Donald Trump’s election. Accordingly, higher stock prices are justified. But no one knows if earnings will be higher, or by how much. Is it justifiable, for example, that shares of United States Steel Corp. X, +0.60%  are up more than 60% since the November election? Will U.S. Steel produce so much more profits because of increased government infrastructure spending? Maybe. But anyone who tells you they’re certain is kidding themselves — and you.

 ets-small

JAKARTA. Jumlah aliran dana keluar dari pasar negara-negara berkembang di Asia mencapai sekitar US$11 miliar setelah kemenangan Donald Trump sebagai presiden terpilih AS.

Kemenangan Trump sebagai Presiden terpilih AS dalam kancah pemilihan Presiden AS 8 November lalu membawa ekspektasi kebijakan ekonominya mendorong imbal hasil obligasi naik serta memicu reli terkuat dolar dalam delapan tahun.

Menurut perhitungan data Bloomberg, India menderita kerugian aliran dana keluar dengan nilai terbesar antara 9 November dan 18 November, diikuti oleh Thailand.

Pelarian modal telah mengikis aliran dana masuk year-to-date hingga senilai US$55 miliar ke India, Indonesia, Filipina, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand.

“Aliran dana keluar dari emerging markets kemungkinan akan berlanjut untuk sementara dan kemudian para investor akan melihat apakah Trump akan menerapkan sejumlah kebijakan yang telah dicanangkan sebelum pemilihan, seperti kebijakan stimulus fiskal dan proteksionisme terhadap perdagangan,” ujar Masakatsu Fukaya, emerging markets trader dengan Mizuho Bank Ltd., seperti dilansir Bloomberg hari ini (Selasa, 22/11/2016).

Ditambahkan olehnya, kebijakan-kebijakan Trump berpotensi mendorong dolar lebih kuat dan berdampak negatif terhadap emerging markets.

Indeks dolar AS telah mencatat kenaikan terbesar sejak 2008 selama dua pekan terakhir di tengah spekulasi bahwa kebijakan Trump akan memacu suku bunga lebih tinggi.

Sebaliknya, nilai tukar won Korea Selatan telah drop 3,4%, rupiah telah melemah 2,7%, dan peso Filipina telah melandai 2,5% sejak pemilihan Presiden AS.

Dalam rilis videonya, Trump menyatakan rencananya menarik AS dari perjanjian perdagangan Trans-Pacific Partnership pada hari pertamanya sebagai Presiden AS. Dia juga telah berkomitmen mengucurkan US$1 triliun untuk membangun kembali serta memperbaiki infrastruktur negara.

http://kabar24.bisnis.com/read/20161122/19/605064/efek-trump-berikut-catatan-aliran-dana-keluar-emerging-markets-
Sumber : BISNIS.COM

 bird_bbri_unvr

JAKARTA kontan. Seperti sudah diprediksi, bank sentral Amerika Serikat (AS) masih mempertahankan Fed funds rate. Di saat yang sama, Bank Indonesia (BI) memangkas BI 7-day reverse repo rate dari 5,25% jadi 5%.

Di tengah kondisi ini, strategi investasi bagaimana yang bisa diterapkan investor? Menurut perencana keuangan Finansia Consulting Eko Endarto, saat ini merupakan kesempatan bagi investor jangka panjang mendapatkan keuntungan tinggi. “Produk jangka panjang akan naik keuntungannya,” ujar Eko.

Eko bilang, strategi investasi jangka panjang bisa diterapkan investor usia muda di bawah 30 tahun. Investor ini bisa menempatkan mayoritas portofolio investasi, yakni sekitar 75%, di saham atau reksadana saham. “Saran saya di atas tiga tahun untuk spekulasi dan di atas lima tahun untuk investasi,” ujar Eko.

Dia optimistis pasar saham bullish tahun ini. Penopangnya, suku bunga kredit yang menuju single digit, pembangunan infrastruktur serta pelaksanaan amnesti pajak. Direktur Bahana TCW Investment Soni Wibowo juga meyakini saham berpotensi membagi imbal hasil tinggi.

Ia menyarankan investor menempatkan mayoritas portofolio pada saham, yakni sekitar 96%. Porsi sama juga bisa ditempatkan pada obligasi dengan durasi jangka panjang. “Outlook kami masih sama, overweight di equity dan bond,” ujar Soni.

Instrumen lain, seperti pasar uang, emas dan properti masih underweight. Vice President Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi Riawan mengatakan, investor bisa masuk ke saham secara perlahan.

Ditundanya kenaikan Fed funds rate serta hasil amnesti pajak yang menggembirakan membuat iklim investasi akan cerah beberapa waktu ke depan. “Penurunan BI 7-day RR rate juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Reza.

Sebagai alternatif, perencana keuangan Fahima Advisory Dida Nurhaida menyebut investor bisa menaruh sekitar 25% dana pada sukuk. Penurunan BI 7-day RR rate membuat prospek instrumen tersebut menarik. “Sisanya bisa 25% pada logam mulia, sekitar 30% pada saham dan sisanya tabungan,” ujar Dida.

 ets-small

JAKARTA – Perkumpulan Chief Information Officer (CIO) melakukan kerjasama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menggelar iCIO Exchange . Sebuah acara program edukasi, peer interaction dan networking untuk CIO dan staf senior di bidang teknologi informasi dan teknologi (TIK).

Acara yang digelar di Main Hall Gedung BEI itu memungkinkan para CIO dan staf senior TIK untuk mendengar dan mendiskusikan berbagai tantangan dan kesuksesan dari beberapa perusahaan atau organisasi di bidang sistem. Terutama dari PT BEI yang telah sukses mengimplementasikan sistem manajemen keamanan informasi berstandar internasional dan berhasil meraih sertifikat ISO 27001 dari British Standard Institute (BSI)

“ISO 27001 telah menjadi standar pengelolaan keamanan informasi yang diakui seluruh dunia dan lebih dari 96 persen perusahaan yang telah mengimplementasikannya, mengakui pentingnya penerapan sistem manajemen keamanan informasi berbasis ISO 27001 dalam meningkatkan strategi untuk mengantisipasi ancaman serangan siber,” tutur Chairman iCIO Community Agus Wicaksono di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (8/9/2016).

Sekedar informasi BEI berhasil mendapatkan ISO 27001 pada 2014. Sertifikat itu diberikan untuk fungsi operasi teknologi informasi, manajemen proyek perkantoran teknologi informasi, pengembangan teknologi informasi, riset dan pengembangan, serta manajemen disaster recovery center (DRC).

“Komitmen BEI akan menjadi tolak ukur pengelolaan keamanan informasi. Tidak saja di bidang jasa keuangan tapi juga bisa ditularkan ke sektor lain. Dalam lingkup yang lebih luas, ketahanan siber perlu menjadi agenda nasional untuk menjaga kelangsungan bisnis dan pertumbuhan ekonomi di era digital,” kata Agus.

http://economy.okezone.com/read/2016/09/08/278/1484329/bei-adakan-pelatihan-bagi-industri-informasi-dan-teknologi
Sumber : OKEZONE.COM

 rose KECIL

bisnis.com:

JAKARTA — Membaiknya data ekonomi dan upaya reformasi anggaran yang tengah dijalankan pemerintah diyakini terus menjadi sentimen positif terhadap kinerja pasar modal sepanjang tahun ini. Aliran modal investor asing berpotensi makin deras.

Hingga penutupan perdagangan akhir pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) telah melonjak sebesar 18,01%. Catatan itu menjadi rekor tertinggi di antara bursa global sejak awal tahun ini. Indeks bertengger di level 5.420,25.

Imbal hasil atau return IHSG juga tercatat yang tertinggi di antara sejumlah bursa lain di kawasan Asia Pasifik.

Penguatan IHSG secara year to date lebih tinggi bila dibandingkan dengan bursa utama dunia seperti Thailand (17,80%), Filipina (14,65%), Inggris (8,33%), India (7,53%), Australia (4,51%), Dow Jones Amerika Serikat (4,25%), KOSPI Korea Selatan (2,89%), dan Hang Seng Hong Kong (1,06%). (Lihat ilustrasi)

Nilai beli bersih (net buy) oleh investor asing sejak Januari hingga akhir pekan lalu telah mencapai Rp32,50 triliun. Lonjakan nilai net buy paling tajam terjadi sejak pengesahan UU Pengampunan Pajak pada 28 Juni 2016. Sejak 28 Juni hingga 5 Agustus 2016, nilai beli bersih oleh asing mencapai Rp18,74 triliun atau 57,66% dari total nilai net buy.

Analis PT Bahana Securities Muhammad Wafi mengatakan merangseknya investor asing ke lantai bursa terjadi seiring dengan positifnya data-data ekonomi domestik. Dari sisi eksternal, ekonomi AS terbilang belum kondusif sejalan dengan belum dinaikkannya suku bunga acuan Fed Fund Rate oleh Federal Reserve.

Tidak hanya itu. Perekonomian Uni Eropa juga masih terguncang setelah keputusan Inggris keluar dari keanggotaan Uni Eropa. Keputusan tersebut ditengarai mengganggu stabilitas politik dan ekonomi Benua Biru.

“Akhirnya, investor kehilangan tempat untuk berinvestasi. Tujuannya sekarang adalahemerging market. Pilihan investor sangat terbatas hanya dua atau tiga negara, Indonesia salah satunya karena dari sisi politik lebih stabil dibandingkan dengan negara lain,” ujarnya, Minggu (7/8).

LEVEL BARU

Menurutnya, IHSG pekan ini berpeluang menguji level psikologis 5.400. Tidak menutup kemungkinan, IHSG bakal menembus level 6.000 pada tahun ini apabila tren masuknya investor asing ke lantai bursa terus terjaga.

Sementara itu, saham-saham sektor pertambangan yang terus meroket sejak awal tahun dinilai telah memasuki area jenuh beli. Peluang saham pertambangan untuk terkoreksi cukup besar lantaran telah terjadi sinyalemen jual.

Saham-saham sektor properti dan konstruksi dinilai mulai menggeliat. Dalam dua hari terakhir perdagangan, saham sektor properti dan subsektor konstruksi mulai menanjak.

IHSG pekan ini diproyeksi cenderung menguat dengan level resistance 5.500 dan support 5.400. Sementara itu, nilai tukar rupiah cenderung sedikit melemah dengan level Rp13.050–Rp13.200 per dolar AS.

Kepala Riset PT Nong Hyup Koorindo Securities Indonesia Reza Priyambada menuturkan IHSG berpeluang kembali menyentuh level resistance sepanjang pekan ini. “Sentimen positif datang dari pertumbuhan ekonomi, harapan realisasi tax amnesty, dan kondisi bursa global yang cenderung menguat.”

Akan tetapi, dia mengingatkan agar pelaku pasar tetap berhati-hati. Pasalnya, setiap kali IHSG menyentuh level tertinggi, maka akan dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung. Kendati demikian, dalam sejumlah aksi ambil untung, investor asing masih mencatatkan nilai beli bersih yang mencerminkan kepercayaan terhadap prospek ekonomi di Indonesia.

Reza memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2016 lebih rendah dari capaian kuartal II/2016 yang mencapai 5,18%.

Senior Market & Technical Analyst PT KDB Daewoo Securities Indonesia Heldy Arifien menilai seiring derasnya aliran modal investor asing, IHSG berpotensi menyentuh level 5.500 dengan support 5.425 dan resistance 5.480–5.525.

Menurut Heldy, pelaku pasar menilai optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal III dan IV tahun ini akan positif. Pertumbuhan ekonomi yang baru dirilis di atas ekspektasi membuat saham sektor perbankan dan big cap melambung.

“Seharusnya pekan ini masih sejalan. Lihat sektor banking masih bisa mendorong, akan ada bantuan dari sektor infrastruktur dan konsumer,” paparnya.

Kepala Komunikasi Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, Dwi Shara Soekarno mengungkapkan sepekan lalu, rerata nilai transaksi hari an naik 14,28% menjadi Rp9,83 triliun dari Rp8,6 triliun pada akhir pekan lalu.

Rerata volume transaksi harian sepanjang pekan lalu naik 16% ke posisi 7,81 miliar lembar saham dari 6,73 miliar lembar saham di akhir pekan sebelumnya.

 dollar small

JAKARTA okezone– Pasar modal Indonesia berhasil menyandang return investasi terbesar di dunia. Tercatat selama 10 tahun terakhir pasar modal Indonesia memberikan return investasi hingga 317 persen atau 15 persen per tahun.

Namun belakang ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung tertekan. Kendati begitu BEI tetap yakin pasar modal Indonesia masih tetap bisa mempertahankan predikat return investasi tertinggi di dunia tersebut.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat mengatakan, ada empat hal yang membuat pihaknya yakin akan hal tersebut. Pertama terkait upaya pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty. Diharapkan dana repatriasi tax amnesty sebagian besar bisa masuk ke pasar modal

“Kami usulkan dana hasil repatriasi ke reksadana, penyertaan terbatas obligasi dan saham di hadapan DPR. Dan kami akan mengirim surat resmi Kementerian Keuangan,” terangnya di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (25/5/2016).

Kedua, lanjut Samsul, kemungkinan penurunan harga BBM yang akan terus berlangsung juga akan berdampak tidak langsung kepada pasar modal. Pasalnya diperkirakan setiap kali ada penurunan harga BBM Rp1.000 per liter maka diperkirakan akan penambahan dana yang beredar di masyarakat sebesar Rp31 triliun.

“Ketiga belanja pemerintah ini juga akan mendukung industri. Keempat pelonggaran moneter khususnya pemangkasan suku bunga acuan. Ini yang akan mendorong pasar modal,” pungkasnya.

(mrt)

ezgif.com-resize

JAKARTA sindonews – Kepala Komunikasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Dwi Shara Soekarno mengatakan rata-rata nilai transaksi harian di BEI sepanjang pekan ketiga Mei 2016 mencatat kenaikan 11,39%. Meningkat menjadi Rp6,08 triliun dari sebelumnya Rp5,46 triliun.

Lanjut dia, peningkatan nilai transaksi di pasar saham diimbangi rata-rata volume transaksi harian yang juga naik 2,11% meski frekuensinya menurun.

“Kenaikan tersebut juga diimbangi dengan rata-rata volume transaksi harian yang juga ikut mengalami kenaikan 2,11%, walaupun rata-rata frekuensi harian mengalami perubahan 3,64%,” ujarnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (22/5/2016).

Sementara, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang periode 16-20 Mei 2016 terkoreksi 1,05% ke posisi 4.711,88 poin jika dibandingkan penutupan pekan sebelumnya yang berada di level 4.761,72 poin.

Selain itu, lanjut Dwi, nilai kapitalisasi pasar di bursa tercatat menurun dari Rp5.055,36 triliun menjadi Rp5.001,81 triliun.

“Kapitalisasi pasar BEI juga ikut mengalami perubahan menjadi Rp5.001,81 triliun dari Rp5.055,36 triliun di akhir pekan sebelumnya,” katanya.

Dia menambahkan investor asing sepanjang perdagangan pekan kemarin mencatatkan jual bersih di pasar modal Indonesia dengan nilai Rp403 miliar.

“Sementara secara tahunan, aliran dana investor asing di pasar saham masih tercatat beli bersih dengan nilai Rp2,05 triliun,” pungkasnya.

(ven)

doraemon

INILAHCOM, Jakarta Tidak semua pelaku pasar atau investor memahami benar apa yang dilakukannya saat melepas saham di pasar modal akibat gejolak ekonomi. Sebagian ikut-ikutan dan justru menambah keresahan pasar.

Menurut Ekonom Universitas Atmajaya, Prasetyantoko mengatakan, tidak sedikit pelaku market keluar dari pasar modal dan terjebak pada pada sikap sekedar ikut-ikutan. “Melepas saham akibat behaviour, enggak jelas alasannya,” kata dia di Jakarta, Selasa (15/9/2015).

Ia menilai, pasar sudah terbawa arus yang tidak rasional dengan gejolak eksternal yang berdampak ke internal. Padahal, seharusnya rupiah yang telah memicu capital outflow di pasar saham, secara fundamental mata uang RI berada di kisaran 12.500 hingga 13.000. “Walupun, realitasnya sekarang di atas Rp14 ribu per dolar AS,” timpal dia.

“Sesuatu yang sulit diprediksi untuk rupiah, nyatanya melewati asumsi APBNP 2015,” imbuhnya. [jin] – See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2237736/rupiah-melemah-investor-doyan-lepas-saham#sthash.d6hxUHKJ.dpuf

 

spiral

Tuesday 8 September 2015 06.30 BST
Last modified on Tuesday 8 September 2015 06.56 BST

 

China is planning a “circuit breaker” mechanism to prevent any further losses on its volatile stock markets as both of the country’s leading indexes continued to slide.

According to draft regulation, trading would be suspended for 30 minutes when the market rose or fell by 5%. If the index went up or down by 7% or more, trading would be suspended for the day.
Analysis China’s market turmoil: leaders’ refusal to learn lessons makes more volatility a sure bet

The mechanism could only be triggered once a day. “Circuit breaker in both directions will be conducive to curbing excessive transactions and reining in market fluctuations,” the draft from the securities regulator said.

It is the latest in a string of measures introduced by the Chinese authorities as they continue to grapple with wild fluctuations in the share market, which have fallen by 40% since June.

There were more jitters on Tuesday after figures showed that China’s foreign trade dropped 9.7% in August. Customs data showed that exports for August were down 6.1% but imports fell a whopping 14.3%, raising more questions about the strength of the country’s economy. In the first 8 months of this year, imports were down 14.6% while exports fell 1.6%.

On Tuesday, Shanghai’s Composite index was down 0.76% in trading after the lunch break with the Shenzhen Component index down almost 1%.

In Japan, the Nikkei index in Japan was off 2.4%, the Kospi index was down 0.5% in Korea but the Hang Seng in Hong Kong was up 0.7%.

It was a better day in Australia where the S&P/ASX200 was up more than 1% at 5,089 points on news of possible takeovers in the energy sector.

According to Tuesday’s draft plan, the circuit-breaker mechanism would help prevent “excessive reactions of investors”. China’s stock market investors are mostly individual investors which can lead to panic selling.
Advertisement

Yang Delong, chief strategy analyst at the Southern Fund, said the idea showed “the government’s good intentions”.

“The introduction of the circuit-breaker aims at preventing future market plunges and stabilising the market. The A-share market has seen violent plunges recently, and with the circuit breaker mechanism investors would have a cooling period before taking irrational actions.”

The stock exchanges were soliciting public opinions on the plan and the public have until 21 September to comment.

In another bid to stabilise the markets, it was announced that Chinese investors who hold their stock for over a year will be exempt from a 5% dividend tax.

The ministry of finance said in a joint statement with the taxation authority and the securities regulator on Monday that if investors sold a stock after holding it for a month or less, they would be liable for a 20% payment of income tax on the dividend they receive. Investors who held a stock for between one month and a year would pay a 10% to encourage long-term investment instead of the short selling of stocks.

On Sunday, China’s securities regulator said that the country’s stock markets had stabilised and that market transactions are now normal for the most part. In a comment to the state news agency Xinhua, the China Securities Regulatory Commission said: “Gains on the stock market had been too rapid and large, forming stock market bubbles, therefore subsequent plunges and adjustments were inevitable.”

Additional reporting by Luna Lin

 ezgif.com-resize

Bursa Saham China Berayun Akibat Penurunan Harga Tembaga

Indeks saham China berayun antara keuntungan dan kerugian seiring penguatan saham perusahaan listrik terkait prospek reformasi harga, sementara saham produsen tembaga merosot.

Indeks Shanghai Composite tergelincir sebesar 0,2 persen ke level 3,215.17 pukul 09:40 waktu setempat. Indeks acuan turun sebesar 4,5 persen dalam sepekan terakhir melalui perdagangan kemarin seiring senilai $5 triliun keluar dari pasar saham china yang mengalami kehilangan momentum pasca menhentikan reli duni mengirim indeks ke level tertingginya sejak Agustus 2009 lalu. Volume perdagangan. anjlok 60 persen di bawah moving average 30-hari untuk hari ini.

Indeks Hang Seng Hong Kong China Enterprises turun sebesar 0,3 persen. Indeks CSI 300 turun sebesar 0,1 persen. Indeks Hang Seng kehilangan kurang dari 0,1 persen. Indeks saham China-AS Bloomberg, Indeks saham perusahaan china terdaftar yang paling diperdagangkan di AS, merosot 0,8 persen di New York.

Indeks Shanghai Composite masih pemain terbaik di antara 93 indeks global yang dilacak oleh Bloomberg selama tahun lalu indeks melonjak sebesar 59 persen. Indeks diperdagangkan pada 12,3 kali 12 bulan proyeksi pendapatan pekan lalu, level tertinggi sejak Mei 2011, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg.

China mungkin merilis data pada pasokan uang, pinjaman baru dan investasi asing langsung untuk Desember sedini hari ini. Pinjaman baru mungkin mencapai 880 miliar yuan ($142.miliar) bulan lalu, dibandingkan dengan 852.700.000.000 yuan pada bulan November, menurut estimasi median dari survei Bloomberg. (izr)

Sumber: Bloomberg

dollar small

IMF: Gejolak China Bukanlah Krisis

Strategydesk – Perlambatan ekonomi China dan kejatuhan bursa sahamnya bukanlah pertanda krisis, tapi lebih sekedar penyesuian penting bagi ekonomi terbesar kedua itu.

China StockHal itu disampaikan oleh Direktur Pelaksana IMFCarlo Cottarelli dalam jumpa pers akhir pekan lalu. “Kebijakan moneter sangat agresif dalam beberapa tahun terakhir dan penyesuaian harus terjadi,”katanya. Menurutnya, terlalu dini untuk menyebut adanya krisis di China.

Data manufaktur China Jumat lalu memperlihatkan semakin dalamnya kontraksi. Bukti terbaru akan perlambatan di China menghujam saham global sepanjang akhir pekan, membuat Wall Street mengalami kejatuhan harian terbesar dalam empat tahun. Bursa saham di seluruh Eropa dan Asia juga bertumbangan. Hampir $3 triliun nilai saham global hilang.

Pejabat IMF itu mengumumkan kembali proyeksi pertumbuhan China tahun ini di 6,8%, lebih rendah dari pertumbuh 7,4% yang dicapai tahun lalu. “Ekonomi riil China melambat, tapi ini suatu hal yang lumrah terjadi. Apa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di pasar keuangan adalah gejolak yang alami,”sebutnya.

Bursa saham China sudah anjlok 30% sejak pertengahan tahun. Menyusul serangkaian data ekonomi buruk, China mendevaluasi yuan minggu lalu. Cottarelli mengatakan IMF akan meminta penjelasan pemerintah China soal keputusan melemahkan mata uang mereka.

By soegeefx|August 24, 2015 5:01 am|Bisnis & Ekonomi|

The foreign exchange market, with global daily turnover of some US$5.3 trillion, is by far the world’s largest financial market—and its importance is only expected to grow. One leading global wealth management company has suggested daily volumes could reach $8 trillion within the next decade.

“The growth of foreign exchange markets is likely to continue,” agrees Professor Mark Taylor, dean of Warwick Business School in the U.K. One of the main drivers, he says, is the continued growth of international trade and investments, though he notes that “a large amount of forex transactions are not for goods or services—or indeed for external financial transactions—but is proprietary trading.”

It is generally accepted that efficient currency markets provide an essential lubricant to global trade and investment, while floating exchange rates act as shock-absorbers during macroeconomic shifts. Yet Michael Kitson, an economist at the University of Cambridge Judge Business School in the U.K., sees “an increasing disconnect between forex markets, now driven more by speculative behaviour, and the real economy.”

“This makes exchange-rate movements less predictable,” Mr. Kitson adds, “and it is this inconsistency, rather than pure volatility, that seems to be growing.” A recent example was the euro-dollar spot rate’s rollercoaster ride in early June, rising 2% on the day that more positive data on euro-zone inflation was released (see chart) and then gyrating more than 1% as the market struggled to establish a new trading range.

Much of that turbulence was caused by traders unwinding overcrowded positions that assumed the euro zone’s continuing slide towards deflation—for many investors, a “one-way bet.” The first data suggesting otherwise caused the euro to surge, triggering stop/loss fire sales that pushed it even higher.

“Uncertainties over the timing of interest-rate rises tend to unsettle markets,” Prof. Taylor says. And then there are extreme events, he adds, such as when the policy of pegging the Swiss franc to the euro was abandoned [see chart). Many major market players—including the big Swiss banks—suffered huge losses.

Patrick Teng, founder and chief dealer of Singapore-based Six Capital, predicts: “Financial markets across all asset classes will be volatile and daily swings unprecedented,” adding that the 50% plunge in oil prices “is just the tip of the iceberg.”

Chiara Banti, lecturer in finance at the University of Essex in the U.K., who has studied the relationship between liquidity and volatility, believes that “we have seen higher volatility since the financial crisis.” And it is not just macroeconomic uncertainties or fast-moving global capital flows that are responsible.

“Given its size, the forex market is considered to be highly liquid,” Dr. Banti observes. But she has found that higher volatility can trigger illiquidity because it impacts on the funding market, making it more expensive for dealers to hold a position.

“Dealers are increasingly seeking to match customer orders in-house, without themselves having to step in and provide liquidity,” she notes. But when markets move sharply, such risk-aversion may suddenly drain liquidity and widen bid-ask spreads, thereby fuelling even greater volatility.

Mr. Kitson argues that “excess liquidity globally is generating price volatility.” Huge capital flows seeking better returns in a low-interest-rate environment only increases instability; and with the negative feedback between volatility and liquidity when markets are stressed, it looks like we are all in for a bumpy ride.

“Debating the causes has become a secondary issue,” Mr Teng says. “What matters now is how best to manage and benefit from increased volatility. We need to look the future rather than the past.”

rose KECIL

TEMPO.COJakarta – Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengakui bursa saham Indonesia sedang melemah. Menurut dia, pelemahan ekonomi ini juga dialami banyak negara, baik negara maju maupun berkembang.

Pelemahan bursa saham ini, kata dia, konsekuensi dari melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia. “Kita tidak usah merasa yang melambat ekonominya hanya Indonesia, tidak! Penegasan ini perlu, karena yang sering diangkat adalah ekonomi kita melemah, iya, tapi negara lain juga melambat,” ucapnya saat berkunjung di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Agustus 2015.

Jokowi berujar, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di peringkat lima besar dunia. “Kalau ada rasa pesimistis, menurut saya, itu keliru. Kita harus optimistis, karena negara-negara lain ada yang turun,” ujarnya.

Menurut Jokowi, pertumbuhan ekonomi negara-negara lain turun 1,5-3 persen. “Kita turun 0,3 persen saja sudah ramai. Lihat nanti semester kedua,” tuturnya.

Hari ini Jokowi hadir dalam peringatan 38 tahun pasar modal Indonesia di gedung BEI. Jokowi berharap BEI terus berbenah agar dapat mendorong inklusi investasi bagi investor dalam negeri. Dalam acara ini, hadir pula Ketua Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, pimpinan BEI, dan para pelaku pasar.

ALI HIDAYAT

doraemon

Bisnis.com, JAKARTA- Gejolak ekonomi dan pasar modal yang terjadi saat ini turut mengancam bisnis sekuritas di dalam negeri. Bisnis sekuritas tahun ini dinilai tidak menggairahkan dan diprediksi akan berkinerja di bawah tahun lalu.

Padahal, pada awal 2015, sejumlah sekuritas masih optimistis pertumbuhan pendapatan di bisnis ini bisa mencapai 20%-30% seiring mulai jalannya pemerintahan baru dan proyek infrastruktur pemerintah. Namun, di tengah tahun, sekuritas justru tidak begitu optimistis dengan bisnis ini dan memilih menghitung-hitung kembali.

Tidak begitu menggairahkannya bisnis sekuritas tahun ini sudah terlihat dari sejumlah kinerja sekuritas sepanjang kuartal I/2015. Sekuritas, khususnya sekuritas anak usaha pelat merah rata-rata mengalami penurunan pendapatan. Adapun, kinerja yang sama diprediksi akan berlanjut hingga akhir tahun seiring belum terlihatnya sentimen positif, baik dari domestik maupun global.

Direktur Strategy, Treasury & Propietary Mandiri Sekuritas C. Paul Tehusijarana mengatakan bisnis sekuritas secara keseluruhan kurang menggembirakan sepanjang semester I/2015. Kondisi pasar modal dan ekonomi yang tidak begitu mendukung, membuat kinerja masing-masing lini bisnis tidak begitu optimal.

Menurut Paul, hingga akhir tahun kinerja sekuritas belum bisa diprediksi. Namun, melihat belum adanya sentimen positif yang menghampiri, dia tidak begitu optimistis. “Tidak terlalu menggembirakan tahun ini. Lihat saja sampai akhir tahun bagaimana, kami akan melihat lagi, kami terus mengembangkan bisnis di semua lini bisnis usaha,” kata Paul, Kamis (9/7).

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, sepanjang kuartal I/2015 pendapatan usaha Mandiri Sekuritas tercatat Rp148,52 miliar atau turun 13,22% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp171,15 miliar. Sementara, sepanjang tahun lalu pendapatan Mansek tumbuh sekitar 14,42%.

Pada kuartal I/2015, penurunan pendapatan paling tajam terjadi pada bisnis kegiatan perantara perdagangan efek. Namun demikian, Paul memprediksi bisnis tersebut masih menjadi andalan yang memberikan pendapatan paling tinggi dibandingkan dengan bisnis lainnya hingga akhir tahun ini.

“Ya masih dari sana. Untuk investment banking, kami juga terus kejar, banyak penjaminan emisi yang kami lakukan tahun ini, semoga bisa mendongkrak kinerja kami,” jelasnya.

Bukan hanya Mansek yang mengalami penurunan pendapatan pada kuartal I lalu. Pendapatan usaha Bahana Securities turun 26,97% menjadi Rp31,62 miliar pada kuartal I/2015 dari perolehan periode yang sama sebelumnya, yakni Rp43,30 miliar.

Begitu juga dengan BNI Securities yang pendapatannya turun hingga 44,91% menjadi Rp24,50 miliar dari perolehan periode yang sama sebelumnya yang mencapai Rp44,48 miliar. Padahal, sepanjang tahun lalu pendapatan perseroan masih tumbuh 8,11%.

Panin Sekuritas Tbk. juga mengalami hal yang sama. Pendapatannya pada kuartal I/2015 turun 23,22% menjadi Rp148,08 miliar dari perolehan sebelumnya Rp192,88 miliar. Sementara, pada awal tahun perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan sekitar 20% hingga akhir tahun ini.

Handrata Sadeli, Presiden Direktur Panin Sekuritas mengatakan turunnya pendapatan disebabkan kondisi pasar saham yang kurang baik lantaran dipengaruhi oleh kondisi global dan perekonomian dalam negeri. Dia berharap kondisi ini tidak berlangsung lama lantaran bisa mengganggu kinerja bisnis sekuritas lebih dalam.

Adapun, penurunan kinerja tidak terjadi pada Danareksa Sekuritas yang justru naik hingga 29,61% menjadi Rp64,42 miliar dari sebelumnya yang senilai Rp49,70 miliar.

Marciano Herman, Direktur Utama Danareksa Sekuritas mengatakan sejak awal perseroan melakukan strategi yang memang tidak sensitif terhadap kondisi pasar. Hal ini membuat, gejolak di pasar modal yang sedang terjadi saat ini tidak begitu banyak memberikan pengaruh terhadap kinerja perusahaan.

“Kami mendesain strategi bisnis yang tidak rentan. Dari dulu, kinerja kami memang datar-datar saja. Namun, memang dibandingkan dengan bisnis brokerage, bisnis investment banking tahun ini akan lebih baik,” kata Marciano saat dihubungi Bisnis, Kamis (9/7).

reaction_1

EKONOMI
03/10/2009 – 05:15
IHSG Sepekan, Tertekan Data Ekonomi AS
Wahid Ma’ruf

(inilah.com/Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta – Pergerakan IHSG pada pekan ini dipengaruhi oleh faktor ekternal yang berasal dari data ekonomi AS sehingga mempengaruhi indeks Wall Street. Walaupun ekspektasi inflasi dan laporan keuangan kuartal III menahan pelemahan IHSG.

Menurut analis saham Milenium Danatama Securiteis, Ahmad Riyadi, Data ekonomi di AS yang turun mendorong pelemahan di bursa global yang diikuti penurunan di bursa regional.Sentimen positif yang masih ditunggu investor adalah keluarnya laporan keuangan kuartal III 2009 sehingga mereka lebih memilih untuk menahan beli saat ini. “Indeks masih terpengaruh pelemahan bursa global karena data ekonomi yang turun, minyak juga turun. Transaksi lebih didominasi investor lokal,” katanya.

Sentimen dari ekonomi AS yang mempengaruhi bursa pada pekan ini seperti tentang akuisisi yang dilakukan Abbot Laboratories dan Xerox Corp. Aksi korporasi ini meningkatkan kepercayaan para investor tentang pemulihan ekonomi. Data yagn jelek juga tentang pendapatan domestik bruto (PDB), dan penurunan industri manufaktur di wilayah Midwestern.Selain itu data Departemen Tenaga Kerja AS tentang jumlah klaim insentif pengangguran naik menjadi 551 ribu pada pekan lalu.

Sedangkan sentimen dari dalam negeri adalah ekspektasi dari grup Astra yang kinerja kuartal III diperkirakan akan meningkat. Dengan sentimen itu investor-investor asing melakukan pembelian masif atas saham PT Astra International Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) senilai Rp 175,36 miliar. Pembelian ini mendorong kenaikan tajam harga dua saham tersebut pada perdagangan hari Rabu lalu.

Ekspektasi investor terhadap data pengumuman BPS soal inflasi September juga sempat menahan penurunan IHSG yang saat itu bursa regional dan global tertekan dengan penurunan PDB AS. Inflasi akhirnya melebihi ekspektasi investor yaitu berada di 1,05% dari ekspektasi di bawah 1% sehingga mendorong melakukan profit taking.

Setelah libur panjang lebaran lalu, volume transaksi di BEI belum kembali ke volume normal. Untuk itu investor masih lebih memilih strategi spekulasi sehingga sering melakukan akti ambil untung. Sedangkan investor asing masih dalam posisi wait and see terhadap data kinerja emiten pada kuartal ketiga. [hid]

Indeks Kembali Tembus Rekor Tertinggi Sejak Mei 2008
Kamis, 01 Oktober 2009 | 17:10 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Indeks berhasil naik dalam tiga hari berturut-turut, sehingga mengantarkan indeks kembali mencetak level tertinggi sejak 23 Mei 2008. Pada perdagangan sore ini, indeks ditutup di 2.477,971 atau naik 10,38 poin (0,42 persen) dari posisi kemarin.

Saham BCA yang naik Rp 200 per saham, BRI Rp 150, Unilever Rp 200, Perusahaan Gas Negara Rp 50, Indocement Rp 200, Telkom Rp 50, serta Astra International yang naik Rp 150 per saham mampu menopang kenaikan indeks.

Menurut analis PT Milenium Datanama Sekuritas, Abidin, saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga, seperti saham perbankan, justru menjadi pemicu kenaikan indeks. Walau harganya saat ini sudah sangat mahal,” kata Abidin kepada Tempo di Jakarta sore ini.

Dia menambahkan, laju inflasi September yang meningkat di atas 1,05 persen yang melebihi ekpektasi pasar, tidak banyak mempengaruhi indeks. “Pasar menilai inflasi masih terkendali,” ujarnya. “Pasar juga memperkirakan minggu depan Bank Indonesia masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di 6,5 persen.”

VIVA B KUSNANDAR

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s