1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

daftar jawara kapital BEI Juni 2013/ Juli 2016/Feb 2017 … 190713_180417 18 April 2017

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:38 am

INI ALASAN UTAMA Sri Mulyani KEMBALI menjadi MENKEUrose KECIL

DETIK X : Akhirnya Tirto Utomo menjatuhkan ultimatum pada Aqua. Saat itu, menjelang Oktober 1977, seperti biasa Tirto mengumpulkan pimpinan PT Aqua Golden Mississippi, perusahaan Aqua, di Restoran Oasis miliknya di Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat.

Agenda hari itu sangat genting, yakni memutuskan nasib Aqua. Sudah sekian lama kondisi Aqua memang tak kunjung sehat. Sejak pertama menjual air minum dalam botol pada 1 Oktober 1974, Aqua tak kunjung mendatangkan untung. Malah setiap bulan Tirto, pendiri dan pemilik Aqua, harus menombok dari kantongnya untuk membayar gaji karyawan.

Saat itu, kata Willy Sidharta, karyawan pertama dan mantan Direktur Utama Aqua Tirto menombok lumayan besar. “Sekitar Rp 5-6 juta setiap bulan,” kata Willy kepada detikX dua pekan lalu. Padahal segala cara sudah dilakukan Willy dan karyawan Aqua supaya bisa menjual air minum kemasan itu lebih banyak lagi. Pabrik Aqua di Bekasi sudah jadi rumah bagi Willy. Dia memboyong keluarganya tinggal dalam kompleks pabrik. Dan dia bekerja dari pagi hingga larut malam setiap hari.

Lantaran mesin pengolahan air di pabrik Aqua lebih banyak menganggur, Willy, yang kala itu menjabat kepala produksi, juga tak punya banyak pekerjaan. Ketimbang bengong menganggur, Willy dengan sukarela ikut membantu jualan Aqua. Dia menyetir sendiri pikap Mitsubishi milik Aqua dan berkeliling dari kampung ke kampung di Jakarta.

Semula Willy tak percaya dengan informasi dari bagian penjualan bahwa tak ada orang Jakarta yang mau beli Aqua. Dia membuktikan sendiri dengan menawarkan contoh gratis Aqua. “Kami berikan contoh gratis untuk mencoba pun orang-orang tetap tak mau,” kata Willy.

Asia Salim, karyawan Aqua yang sudah bekerja di perusahaan itu selama 41 tahun, merasakan sendiri beratnya berjualan air minum botolan kala itu. Sama seperti Willy, Salim bekerja di bagian produksi. Tapi dia juga merangkap jadi tenaga penjualan. Kecuali orang-orang asing, kata Salim, kini supervisor water treatment di pabrik Aqua di Bekasi, tak ada warga Jakarta yang biasa beli dan minum “air putih” dalam botol.

“Waktu itu kan air dari sumur masih bagus,” Salim menuturkan. Seharian berjualan, dari 65 krat Aqua yang dia bawa, biasanya hanya laku 5 krat. Pembelinya masih terbatas di lingkungan orang-orang kaya dan ekspatriat. “Orang-orang belum percaya pada Aqua,” Willy menuturkan. Seretnya penjualan membuat keuangan Aqua babak-belur.

Di depan beberapa anak buahnya, Tirto menyampaikan kabar bahwa dia tak sanggup lagi terus-menerus menopang hidup Aqua. Jika tak memberikan untung juga, kata Tirto, dia akan menutup perusahaan itu per Januari 1978. Artinya, Aqua hanya punya umur tiga bulan lagi.

Kendati Tirto sudah memberikan batas waktu, menurut Willy, mereka belum mau lempar handuk, tanda menyerah. “Pak Tirto terus mengajak kami berdiskusi mencari jalan bagaimana menyelamatkan Aqua,” kata Willy. Di satu ruangan di Restoran Oasis, di tengah kepulan asap cerutu yang diisap Tirto, mereka berdiskusi dan berdebat menentukan masa depan Aqua. “Asap cerutu Pak Tirto menyebar ke mana-mana. Saya sampai kliyengan dan harus sering-sering keluar dari ruangan.”

 

 

Barang kalau dijual terlalu murah kan kita malah curiga.”

Willy Sidharta, mantan Direktur Utama Aqua

Tirto menimbang-nimbang untuk menaikkan harga jual. “Bagian penjualan ditanya, jika harga naik segini, kira-kira penjualannya akan turun berapa?” Willy bercerita. Saat itu, satu botol Aqua dengan volume 950 mililiter dijual hanya Rp 75. Padahal saat itu produk sejenis di beberapa negara dijual sekitar US$ 1 atau Rp 350. Orang di bagian penjualan memperkirakan penjualan Aqua akan turun 30 persen.

Setelah dihitung-hitung, Tirto memutuskan harga Aqua 950 mililiter akan dijual Rp 175 atau US$ 0,5, naik hampir tiga kali lipat. Tak ada yang menyangka, keputusan nekat itu malah jadi penyelamat perahu Aqua yang hampir karam. Hingga Desember 1977, penjualan Aqua malah melompat tiga kali lipat. Willy menduga, dengan mendekati harga pasar, kepercayaan konsumen tumbuh. “Barang kalau dijual terlalu murah kan kita malah curiga,” Willy menjelaskan.

Sejak hari itu, grafik penjualan Aqua terus naik. Pasarnya juga terus melebar. Sementara semula hanya beredar terbatas di lingkungan orang asing di Jakarta, terutama di kalangan ekspatriat Jepang, sejak akhir 1970-an, Aqua sudah banyak dikenal warga lokal. Bahkan pada 1980-an, pasar lokal Aqua sudah melampaui penjualan di kalangan ekspatriat.

Apalagi dengan makin memburuknya kualitas air tanah di kota-kota besar di Indonesia, air minum dalam galon yang dirintis Aqua sejak 1975 sudah jadi minuman standar di rumah tangga perkotaan. Saat pertama dijual, Aqua belum punya tabung galon plastik seperti hari ini. Menurut Willy, mereka menjual Aqua dalam tangki yang dikemas menyerupai tabung es putar keliling. “Pelanggan pertama kami adalah Citibank,” kata Willy.

Entah mengapa, suatu kali, tabung air dingin yang dipasang Aqua di kantor Citibank dirubung semut. Pelanggan tentu mengajukan protes kepada Willy. Lantaran belum ada tabung plastik, manajemen Aqua memutuskan beralih ke tabung gelas. Mereka memanfaatkan tabung-tabung gelas bekas cuka. “Kami beli dari loakan…. Setiap hari saya berkeliling pasar loak mencari tabung cuka bekas. Untuk tutupnya, saya beli di Pasar Glodok lama,” kata Willy.

Asia Salim mengenang, mereka harus mencuci tabung-tabung gelas besar itu dengan air panas secara manual satu per satu. Air panas dimasukkan dalam tabung dan dikocok-kocok. “Kadang saya sampai pusing,” kata Asia. Belum lagi urusan distribusinya. Ketika itu, urusan distribusi air dalam galon kaca ini masih diurus sepenuhnya oleh Aqua.

Mengurus air dalam galon plastik saja sudah sulit, apalagi air dalam galon kaca yang rentan pecah. Salim pernah mengantarkan pesanan 200 galon Aqua ke Cilegon, kini di wilayah Provinsi Banten. Ternyata 200 galon air itu untuk mengisi kolam renang. Baru pada 1980, Aqua beralih ke galon plastik impor. Untuk menekan ongkos, Aqua mendirikan pabrik pembuatan galon plastik di Bekasi pada 1984. Itulah pabrik galon plastik pertama di Indonesia. Sekarang, air minum dalam galon jadi salah satu tumpuan pendapatan Aqua.

Pesaing lokal pertama Aqua adalah Oasis milik PT Santa Rosa Indonesia, yang meluncur ke pasar pada 1984. Sekarang ada banyak sekali merek lokal air minum dalam botol seperti Prim-a, Le Minerale, dan Aguaria. Namun Aqua tetap nomor satu. Di kelas botol kecil, persaingan di antara merek air minum kemasan ini benar-benar keras. Tapi, untuk pasar air dalam galon, posisi Aqua masih sangat kokoh. Pada 2014 saja, Aqua memproduksi 11 miliar liter air, terbesar di antara semua merek milik Danone, perusahaan Prancis yang menjadi pemegang saham terbesar Aqua sejak 2001.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

 ets-small

Liputan6.com, Jakarta – Kapitalisasi pasar saham induk usaha PT Freeport Indonesia yaitu Freeport McMoran terus anjlok. Lantaran saham Freeport McMoran cenderung tertekan di awal 2017.

Sepanjang 2017, saham Freeport McMoran telah turun 7,13 persen. Saham Freeport McMoran bergerak di kisaran US$ 6,55-US$ 17,06 dalam satu tahun.

Pada penutupan perdagangan saham Selasa 21 Februari 2017 waktu New York, saham Freeport McMoran turun 5,23 persen menjadi US$ 14,13. Hal itu membuat kapitalisasi pasar perusahaan tambang asal Amerika Serikat (AS) menjadi US$ 19,24 miliar atau sekitar Rp 257,18 triliun (asumsi kurs Rp 13.365 per dolar AS). Jumlah saham Freeport sekitar 1,36 miliar saham.

Kapitalisasi pasar saham Freeport McMoran Inc ternyata jauh di bawah sejumlah emiten yang tercatat di pasar modal Indonesia. Berdasarkan data BEI pada perdagangan Selasa 21 Februari 2017, kapitalisasi pasar saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mencapai Rp 442 triliun.

 

Kemudian disusul kapitalisasi pasar saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom sentuh posisi Rp 391 triliun, kapitalisasi pasar saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA sebesar Rp 378 triliun.

Selain itu, kapitalisasi saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) di posisi Rp 326 triliun, disusul kapitalisasi pasar saham PT Astra International Tbk (ASII) di kisaran Rp 321 triliun, kapitalisasi pasar saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) di kisaran Rp 291 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar saham PT Bank Mandiri Tbk mencapai Rp 258 triliun.

Posisi kapitalisasi pasar saham Freeport McMoran hanya lebih unggul dari kapitalisasi pasar saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)  sebesar Rp 116 triliun, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) sebesar Rp 116 triliun dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) sebesar Rp 96 triliun.

Seperti diketahui, kapitalisasi pasar saham dihitung dengan cara mengalikan harga saham dengan jumlah saham beredar. Kapitalisasi pasar ini menunjukkan nilai efek yang tercatat di bursa saham. Penurunan harga saham akan mengakibatkan turunnya kapitalisasi pasar saham demikian juga sebaliknya.

Sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan meminta PT Freeport Indonesia untuk bertindak proporsional. Menurut Jonan, sikap Freeport yang meributkan regulasi terkait perubahan status dari Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) terlalu berlebih.

“Dulu saat saya awal masuk ke Kementerian ESDM, saya pikir Freeport itu sebesar gajah. Ternyata hanya sebesar sapi,” kata Jonan saat menjawab pertanyaan seorang mahasiswa dalam sebuah workshop di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Jawa Timur, Selasa 21 Februari 2017.

Jonan melanjutkan, nilai kapitalisasi Freeport Indonesia jika dijual ke pasar tak sebesar yang dibayangkan. Kontribusi perusahaan asal Amerika Serikat (AS) ini baik itu berupa pajak retribusi, royalti dan sebagainya ke pemerintah Indonesia juga masih kalah jauh jika dibanding beberapa perusahaan lainnya.

Jonan menyebut dari data yang dimilikinya, nilai kapitalisasi Freeport hanya sebesar US$ 20 miliar. Masih kalah dibandingkan dengan nilai kapitalisasi pasar BCA yang sebesar US$ 29 miliar, PT Telkom senilai US$ 25 miliar atau BRI yang tercatat US$ 21 miliar.

Kapitalisasi pasar Freeport juga kalah jauh dengan Exxon yang mencapai US$ 355 miliar. Freeport hanya unggul tipis atas nilai Bank Mandiri sebesar US$ 19,5 miliar.

“Exxon saja yang mengelola Blok Cepu dan Bojonegoro, memproduksi sekitar seperempat kebutuhan minyak nasional tapi tidak pernah rewel dengan kita,” ujar Jonan.

Produksi tambang Freeport di Indonesia

Bila melihat laporan keuangan yang disampaikan Freeport McMoran dalam websitenya, dari produksi tambang Grasberg di Indonesia tercatat produksi tembaga mencapai 1.063 juta pounds pada 31 Desember 2016 dari posisi 31 Desember 2015 di kisaran 752 juta pounds. Sedangkan produksi emas 1.061 juta ounces pada 31 Desember 2016 dari posisi 31 Desember 2015 1.232 juta ounces.

ets-small

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Program pengampunan pajak (tax amnesty) disambut baik oleh pengusaha, investor, bahkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Hal ini dilihat pada pergadangan saham pekan lalu BEI mencetak rekor nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp 5.639 triliun atau sekitar 430 miliar dolar AS.

Menyikapi hal demikian, Analis & Pelaku Pasar Modal,Hendri Setiadi mengungkapkan pencapaian rekor di pasar modal ini sebelumnya telah diprediksi oleh para analis keuangan dan pelaku pasar modal.

Mereka, kata Hendri, berpendapat bahwa kebijakantax amnesty akan direspons positif oleh investor dan stakeholder yang optimis bahwa banyak dana yang akan masuk dari hasil repatriasi pengampunan pajak.

“Aliran dana investor perlahan-lahan masuk ke Indonesia yang sedang mengalami emerging market hingga bisa mengungguli negara- negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand,” ungkap Hendri, Rabu (27/7/2016).

Untuk menyukseskan program tax amnesty ini, Hendri menyebut pasar modal Indonesia terbuka. Hal itu untuk menampung dana repatriasi hasil tax amnesty, berbagai investasi pasar modal siap menyerap dana- dana tersebut.

“Berbagai investasi pasar modal tersedia untuk menampung dana reatriasi seperti saham, efek bersifat utang, unit penyertaan reksa dana, efek beragun aset (EBA) dana invstasi real estate (DIRE),” kata Hendri.

Seperti diketahui, bursa pasar modal Indonesia mencapai all time high frequency mengalahkan semua negara ASEAN. Bursa dalam negeri naik 377.000 frekuensi per hari untuk informasi Singapura hanya 74.000, Malaysia 153.000 per hari, Filipina 56.000. Peningkatan nilai kapitalisasi pasar ini menjadikan Indonesia sebagai pasar emerging market terbesar di kawasan ASEAN.

“Tax amnesty akan membawa dampak masuknya likuiditas sehingga berpengaruh pada penguatan rupiah,” kata Hendri.

Penulis: Adiatmaputra Fajar Pratama
Editor: Sanusi

spiral

Liputan6.com, Jakarta – Kapitalisasi pasar modal Indonesia melewati Malaysia dan Thailand. Nilai pasar gabungan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai US$ 416 miliar atau sebesar Rp 5.441,28 triliun (estimasi kurs: 13.080 per dolar AS).

Mengutip Bloomberg, Sabtu (16/7/2016), kapitalisasi pasar Indonesia ini mengalahkan Malaysia yang berada di angka US$ 401 miliar dan juga Thailand yang berada di angka US$ 393,55 miliar. Kapitalisasi pasar Indonesia terus berada di atas kedua negara tersebut dalam sepekan terakhir.

Dalam tiga tahun terakhir, kapitalisasi pasar Malaysia terus berada di puncak di antara negara-negara berkembang di Asia Tenggara. Namun seiring penurunan harga minyak dunia, harga saham perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa Malaysia ikut tertekan karena sebagian besar perusahaan tersebut bergerak di sektor minyak dan gas (migas).

Penurunan harga saham perusahaan-perusahaan di Malaysia ini menjadi jalan bagi Bursa Indonesia untuk mengambil alih posisi teratas. Kapitalisasi pasar Indonesia juga pernah menduduki posisi di atas Malaysia dan Thailand pada 2013 lalu. Pada waktu itu perekonomian Indonesia memang sedang tumbuh tinggi.

Sebelumnya pada 12 Juli 2016 lalu Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan kapitalisasi pasar modal Indonesia terus naik seiring pengesahan Undang-Undang Pengampunan Pajak (Tax Amensty).

“‎Kebetulan momentum sekarang bagus,‎ kemarin PT Telekomunikasi Indonesia Tbk kapitalisasi pasar atau market capitalization Rp 400 triliun, itu rekor. Mendorong market capitalization total jadi Rp 5.500 triliun,” kata dia.

Frekuensi perdagangan saham pun juga mendekati rekor. Dia menuturkan, frekuensi tertinggi di BEI mencapai 373.400 kali. “‎Frekuensi terbesar selama sejarah tahun 2014 adalah 373.400 kemarin 368.000 ribu. Insya Allah,” tambah dia.

doraemon

Bisnis.com, JAKARTA – Kapitalisasi pasar indeks harga saham gabungan (IHSG) pada akhir pekan ini telah mencapai Rp5.055 triliun.

Jumlah tersebut telah mengalami kenaikan 3,75% jika dibandingkan dengan kapitalisasi pasar di akhir 2015 yang berada di Rp4.872 triliun.

Keterangan resmi BEI Jumat (13/5/2016) menyatakan dari jumlah tersebut, sebanyak 49,75% atau kapitalisasi pasar IHSG disumbang oleh 10 emiten dengan total nilai Rp2.514 triliun.

Lima emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di IHSG berturut-turut adalah PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP) dengan nilai kapitalisasi pasar Rp460,38 triliun, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) Rp371,95 triliun, PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) Rp338,77 triliun, PT Bank Central Asia Tbk.(BBCA) Rp320,97 triliun, dan PT Astra Internasional Tbk. (ASII) Rp256,05 triliun.

Selanjutnya di posisi 6 sampai dengan 10 ada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.(BBRI) dengan nilai kapitalisasi pasar Rp241,17 triliun, disusul oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Rp214,82 triliun dan PT Gudang Garam Tbk.(GGRM) Rp137,04 triliun.

Di posisi ke 9 dan 10 ada saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.(BBNI dengan kapitalisasi pasar masing-masing mencapai Rp90,96 triliun dan Rp82,71 triliun.

Pergerakan IHSG sendiri sepanjang periode 9 Mei hingga 13 Mei 2016 telah mengalami perubahan 1,26% ke posisi 4.761,715 poin. Pada pekan sebelumnya posisi IHSG berada di level 4.822,595 poin.

Juni 2013: 

 

No
Kode Saham
Nama Perusahaan
Kapitalisasi Pasar Saham Indonesia
1
HMSP PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk
372.555.000.000.000
2
ASII PT Astra International Tbk
283.384.871.980.000
3
BBCA PT Bank Central Asia Tbk
244.084.591.200.000
4
UNVR PT Unilever Indonesia Tbk
234.622.500.000.000
5
TLKM PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
226.799.991.900.000
6
BMRI PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
207.899.999.991.000
7
BBRI PT Bank Rakyat Indonesia Tbk
189.274.145.445.000
8
PGAS PT Perusahaan Gas Negara Tbk
139.388.672.127.000
9
SMGR PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
101.428.992.000.000
10
GGRM PT Gudang Garam Tbk
97.358.852.800.000
11
INTP PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk
90.006.115.040.550
12
CPIN PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk
84.449.700.000.000
13
BBNI PT Bank Negara Indonesia Tbk
79.387.330.539.900
14
KLBF PT Kalbe Farma Tbk
73.123.303.838.400
15
ICBP PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
71.137.638.800.000
16
UNTR PT United Tractors Tbk
67.888.459.475.200
17
INDF PT Indofood Sukses Makmur Tbk
64.536.134.775.000
18
BDMN PT Bank Danamon Tbk
55.509.462.046.350
19
MNCN PT Media Nusantara Citra Tbk
43.933.567.187.500
20
EXCL PT Excelcomindo Pratama Tbk
41.178.917.468.275
Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s