1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

orang kaya BERANI gagal (2) … 181110_080917 27 September 2017

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 12:21 am

ezgif.com-resize

resveratrol dalam anggur merah: amat BERMANFAAT pada kondisi pembuluh darah koroner jantung

INVES + TRADING 20 saham di warteg OTC gw, TELAH MENINGKATKAN LABA gw +34% dalam periode 3 bulan, awal 2016

doraemon

Jakarta detik TUNG Desem W- Dari data Forbes, ada 10 orang Indonesia yang masuk jajaran 1.000 orang terkaya di dunia 2014. Nama-nama mereka sudah tidak asing lagi didengar di Indonesia.

Mereka menjadi tokoh sukses yang menginspirasi orang Indonesia. Kesuksesan orang-orang kaya tersebut tidak dihasilkan dengan cara yang mudah. Mereka bekerja keras untuk meraih kesuksesan bisnis mereka.

1. Jasa dan Ritel
Bisnis ritel memang cukup sulit. Tapi pasar selalu membutuhkan produk-produk jasa dan ritel. Chairul Tanjung mampu membawa orang Indonesia masuk jajaran miliuner dunia. Pada daftar peringkat 2014, Chairul Tanjung yang memiliki CT Corp berada di peringkat 375 dunia dengan nilai kekayaan US$ 4 miliar atau sekitar Rp 46 triliun.

Peringkat CT, sapaan akrabnya, naik dari 395 dunia pada 2013 dengan nilai kekayaan US$ 3,4 miliar. Ditarik mundur setahun sebelumnya, grafik naik makin terasa mengingat pada 2012, CT masih ada di peringkat 634 dunia dengan kekayaan US$ 2 miliar. “Perusahaannya CT Corp juga memiliki Bank Mega, Carrefour Indonesia dan waralaba seperti Mango dan Versace,” tulis Forbes.

2. Sumber Daya Alam
Salah satu produk unggulan Indonesia yang telah dikenal luas di dunia internasional adalah minyak sawit atau crude palm oil (CPO). Anda 3 orang kaya yang ada di sektor ini yaitu:

Nama pertama adalah Bachtiar Karim. Dalam daftar 1.000 orang terkaya dunia 2014 yang dilansir Forbes, Bachtiar Karim ada di peringkat 869. Harta kekayaannya, menurut Forbes, mencapai US$ 2 miliar. Bachtiar adalah bos dari PT Musim Mas yang bergerak di lini bisnis utama minyak sawit atau CPO.

Perusahaan yang dikelolanya memiliki kapal tanker dan terminal sendiri. Pabrik pengolahan sawit milik Musim Mas disebut-sebut sebagai yang terbesar di dunia.

Ada nama lain yang juga dikenal sebagai raja sawit Indonesia yaitu Lim Hariyanto Wijaya Sarwono. Dari laporan Forbes, harta kekayaan Lim saat ini menembus US$ 2 miliar. Dengan harta sebanyak itu, pria berusia 86 tahun ini ada di urutan 1.565 orang terkaya dunia.

Yang ketiga adalah Sukanto Tanoto. Dari data yang dilansir Forbes, harta kekayaan Sukanto Tanoto menembus US$ 2,1 miliar. Saat ini, raja sawit berusia 64 tahun ini mengendalikan bisnisnya dari Singapura. Dia sukses mengibarkan bendera PT Raja Garuda Mas yang lini bisnis utamanya kelapa sawit.

3. Infrastruktur dan alat berat
Achmad Hamami membuktikan bahwa bisnis sektor ini mampu menjadikan orang Indonesia sebagai miliuner dunia. Pria ini mulai aktif berbisnis pada dekade 1970-an. Dengan mendirikan Trakindo Utama, Achmad Hamami mendapat kepercayaan menjadi agen produk Caterpillar di Indonesia. Trakindo menjadi pemain utama bisnis sektor alat berat, konstruksi, dan infrastruktur di dalam negeri.

Di usianya yang kini menginjak 83 tahun, Achmad Hamami masih sukses bertahan di jajaran miliuner dunia. Achmad masuk 1.000 orang terkaya dunia. Menurut versi Forbes, harta kekayaan Achmad saat ini menyentuh US$ 1,6 miliar.

4. Properti
Pernah mendengar kata Iwan Sunito? Anda tahu Crown Property? Nah itulah pemiliknya. Beliau orang Indonesia tapi sukses berbisnis properti di Australia.

Kata Iwan, semua bermula dari hal kecil. “You think big in a start really small,” kata dia, mengenang masa dirinya mengerjakan apa saja pekerjaan yang ditawarkan pelanggan. Dari sekadar merenovasi pagar, garasi, atau kamar mandi, sampai membangun satu unit rumah utuh. Dan akhirnya kini Iwan Sunito bersama perusahaannya sedang mengincar untuk melakukan pembangunan sebuah Apartemen mewah di Barat Sydney. Luar biasa bukan?

Berikut adalah beberapa bidang bisnis yang mampu menjadikan Anda Seorang miliuner Dunia. Geluti apapun bisnis yang Anda tekuni saat ini, sekecil apapun usaha yang Anda miliki saat ini dapat menjadi modal untuk membangun usaha yang jauh lebih besar bagi Anda di masa depan. Semoga bermanfaat.

ets-small

NEW YORK, KOMPAS.com – Howard Schultz tidak hanya dikenal sebagai CEO jaringan gerai kopi ternama Starbucks, namun juga seorang miliarder yang merintis usahanya dari bawah.

Akan tetapi, tidak banyak yang tahu bahwa Schultz pernah begitu putus asa dan nyaris menyerah untuk membangun kopi impiannya.

Dalam sebuah seri wawancara orang tua-anak yang dirilisHuffington Post bertajuk Talk To Me, Schultz berbincang dengan sang putra, Jordan Schultz.

Ia bercerita tentang momen di mana ia hampir saja menanggalkan impiannya untuk memiliki perusahaan kopi yang sukses.

Setelah berjuang selama bertahun-tahun, Schultz hampir saja berhenti berusaha setelah terlibat pembicaraan dengan ayah mertuanya.

Sang mertua mendorong Schultz untuk berhenti melakukan hobinya, yakni berkutat dengan kopi.

Untungnya, Schultz juga sempat berbincang dengan Sheri, sang istri yang kala itu tengah mengandung dan merupakan satu-satunya pencari nafkah di dalam keluarga muda itu.

Schultz pun berubah pikiran. “Ia (Sheri) berkata, ‘Kita akan mengejar mimpi yang kau miliki ini. Kita akan melihatnya terwujud.’ Dan sampailah kita di masa seperti ini,” ujar Schultz kepada sang putra.

Schultz pun berpesan kepada para orang tua tentang pentingnya para orang tua yang sudah sukses tidak terlibat terlalu jauh dan membiarkan anak-anak mengejar mimpi mereka sendiri.

“Kami (orang tua) akan membantu kalian kalau dibutuhkan, tapi kalian harus mewujudkan mimpi kalian sendiri, apa yang kalian sukai, dan ke depannya pasti akan berbuah manis,” ungkap Schultz.

Di akhir wawancara, Schultz pun berpesan kepada sang putra untuk tidak menjadi seseorang yang hanya mengamati.

Ia meminta sang putra untuk menjadi orang yang bertindak, memiliki rasa ingin tahu, dan tak takut menciptakan perbedaan.

 dollar small

NEW YORK – Warren Edward Buffett atau Warren Buffet dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia akibat keahliannya dalam hal investasi. Namun siapa menyangka, kemampuan Buffett dalam menciptakan nilai tambah suatu investasi ternyata sudah terlihat sejak dia kecil.Seperti dilansir dari laman TIME, Selasa (10/11/2015), Buffett kecil ternyata pernah menjadi loper koran guna menambah uang sakunya ketika dia berusia 11 tahun. Dengan kombinasi keuletan serta kedisiplinan, Buffett sudah mampu meraup pendapatan sebesar USD175 per bulan atau Rp2.390.150 (kurs Rp13.658) dan bahkan melebihi guru-gurunya.

Menjadi seorang loper koran hanya salah satu dari pekerjaan yang pernah dijalankannya. Selain menjadi loper koran, Buffett kecil juga pernah menjual barang-barang bekas lainnya untuk tambahan uang sakunya.

Buffett kecil pernah menghasilkan pendapatan melalui penjualan bola golf bekas. Untuk mendapatkan bola golf bekas, dia memanfaatkan waktu luangnya untuk berkeliling lapangan golf untuk mencari bola-bola golf yang hilang.

Selain menjual bola golf bekas, dia juga menghasilkan pendapatan lainnya melalui penjualan perangko, menjadi jasa menggosok mobil, mendirikan sebuah bisnis mesin pinball, dan mengubah trayek balap kuda menjadi taman bermain yang menguntungkan.

Dengan demikian, dia berhasil meraup pendapatan sebesar USD53 ribu atau Rp723,8 juta (kurs Rp13.658) tepat saat dia berusia 16 tahun.
http://economy.okezone.com/read/2015/11/09/213/1246164/raup-rp723-juta-di-usia-16-tahun-ini-yang-dilakukan-warren-buffet
Sumber : OKEZONE.COm

bird_bbri_unvr

reuters: The vast majority of the world’s nearly two thousand billionaires are entirely self-made, according to Forbes’ annual list of the world’s billionaires.

So how did they get their start on the road to that vast wealth? For the latest in Reuters’ “First Jobs” series, we went out and asked a few of them exactly that:

James Dyson: Inventor and founder of the Dyson company

Estimated net worth on Forbes’ 2016 list: $4 billion

First job: Engineer

“In my last year at the Royal College of Art, I met Jeremy Fry, chairman of the engineering company Rotork (ROR.L). He invited me to his home for dinner, and that’s where it all began. I wanted him to invest in a building I had designed for a theater in London. He said, ‘I’m not going to give you any money, but I’ll give you a few jobs.’

“Under his wing I worked on my first engineering project, the Sea Truck, a high-speed amphibious landing craft. We built the first prototype together. He pointed me to the welding gear and said, ‘Go do it.’ I’d never used any welding gear, but I did it.

“He let me make mistakes and learn things myself. After we finished the prototype, I said, ‘Now what?’ He said, ‘We make it.’ And then? ‘We sell it.’ It was simple as that.”

Jim Goodnight: Co-founder & CEO, SAS

Estimated net worth: $8 billion

First job: Hardware store

“When I was 12, my family moved down to Wilmington, North Carolina, so my dad could open up a store called Hanover Hardware. Of course, he put me to work and I did everything from stocking shelves to waiting on customers.

“Eventually, I got paid around a dollar an hour, which I spent on things like gas for my car. Remember at the time, gas was only 25 cents a gallon.

“Later on, my dad expanded into appliances, so I had to learn how to install refrigerators and stoves and washer-dryers and air conditioners. To this day, I’m still pretty handy. At that job, I learned a lot about responsibility, how to deal with people and interact with customers. It was a good start in life – and I’ve been working ever since.”

Thomas Peterffy: Founder, Chairman & CEO, Interactive Brokers Group (IBKR.O)

Estimated net worth: $11.1 billion

First job: Land surveyor

“I got my first job during summer vacation at age 12 as a land surveyors’ helper in the Hungarian countryside. The job consisted mostly of carrying measuring instruments, food and water for the team of surveyors.

“I recall struggling with my heavy load across an endless wheat field in the August heat, trying to hide my tears. They were not supposed to hire me under 14. Living in Budapest, this was my first opportunity to see how people lived in the country. I slept in a barn on a hay loft.

“At the time, all the lands were cultivated as socialist communal farms, but each family was allowed to have about two acres of their own around their house and a few animals. This was where the bulk of the food for the nation came from.

“This experience led me to study civil engineering, and when I came to America at age 21, I eventually became a computer programmer.”

Mikhail Prokhorov: Businessman, owner of the NBA’s Brooklyn Nets and Barclays Center

Estimated net worth: $7.6 billion

First job: Unloading cargo from train cars

“When I finished my obligatory service in the Soviet army, I took a job unloading train cars while I completed my education. We made good money – 40 to 120 rubles per car, depending on the cargo. For comparison, the average monthly salary in the Soviet Union was around 200 rubles.

“Sometimes, if we did good work, we would be tipped in the product we had unloaded, as a kind of bonus. So I’d bring home a sack of tomatoes or apples to my parents and that made everyone happy. After a little while, I started to organize various brigades and sort of run the operation.

“It was hard physical labor, but looking back, I can say it was the first time I realized my leadership abilities as a businessman. It all happened kind of naturally, not consciously. I just became the organizer and ran the thing. Basically been the same way ever since!”

SOURCE: Forbes.com

(Editing by Beth Pinsker and G Crosse)

valentineEVERYsmall

Jakarta – Setelah menjatuhkan suspensi berkepanjangan, akhirnya PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus (delisting) saham PT Inovisi Infracom Tbk (INVS). Lalu bagaimana nasib investor yang uangnya nyangkut di saham INVS?

Sebenarnya nasib para pemegang saham INVS sudah terkatung-katung sejak sahamnya di-delisting pada 13 Februari 2015. Sejak saat itu, mereka yang masih menaruh uang di saham INVS tak bisa keluar, lantaran dibekukan hingga akhirnya kena delisting.

Menurut Direktur Utama BEI, Tito Sulistio, berinvestasi di pasar modal juga mengandung risiko. Dihapusnya saham INVS salah satu risiko yang dimaksud. Oleh karena itu perlu pengetahuan dan tetap berhati-hati dalam berinvestasi di pasar modal.

“Menjadi investor bukan suatu paksaan, tapi juga harus jeli membaca, melihat dan memperhatikan kinerja perseroan,” tuturnya kepada detikFinance, Selasa (26/9/2017).

Tito mengatakan, langkah BEI menghapus saham INVS sebenarnya juga bertujuan melindungi para investor. Menurutnya, emiten yang tidak jelas keberlangsungan kinerjanya patut diberikan tindakan tegas agar investor tidak dirugikan.

“Kalau investor inginnya Bursa tegas menghukum emiten yang tidak beri laporan keuangan tidak transparan, atau bursa yang loyo tidak berdaya terhadap emiten yang tidak bisa menunjukan transparansi?” tegasnya.

Memang, BEI menjatuhkan suspensi lantaran perusahaan yang dulunya bernama PT Cipta Media Rekatama itu bermasalah dalam penyajian laporan keuangan kuartal III-2014. BEI menilai banyak angka yang disajikan terkesan mencurigakan.

Sejak saat itu, saham INVS tak kunjung dicabut suspensinya, sebab belum ada upaya perseroan melakukan pembenahan. Bahkan BEI terus memperpanjang suspensi lantaran perusahaan tersebut tak membayar biaya listing tahunan. Hingga akhirnya tidak jelas keberlangsungan hidup perusahaan tersebut.

“Kami percaya tindakan ini justru membuat investor termasuk manca negara makin punya dan menambah kepercayaan terhadap kerja bursa meningkatkan pertahanan pasar modal,” tukasnya. (wdl/wdl)

 

ezgif.com-resize

JAKARTA, KOMPAS.com – Siapa tidak ingin menjadi kaya. Meskipun tidak hidup berfoya-foya, setidaknya dengan kekayaan yang cukup, Anda tidak perlu khawatir dengan masa depan Anda, pasangan, maupun buah hati Anda.

Ada yang meyakini bahwa sebenarnya semua orang memiliki kemungkinan untuk kaya. Namun, ternyata ada beberapa jenis orang yang diyakini tidak akan bisa kaya.

Mengutip Business Insider, Kamis (7/9/2017), ada tujuh tanda yang bisa menjelaskan bahwa Anda tidak akan bisa kaya. Berikut uraiannya.

(Baca: 8 Pelajaran Hidup Sederhana dari Orang-Orang Super Kaya Dunia)

1. Kerja keras, tapi tidak kerja cerdas

“Jika yang Anda lakukan sepanjang hidup Anda adalah kerja keras, Anda tidak akan menjadi kaya. Tidak cukup hanya kerja keras untuk memperoleh penghasilan,” jelas Ric Edelman, penasihat keuangan.

Menurut Edelman, salah satu cara kerja cerdas adalah menginvestasikan uang Anda di pasar saham atau dana pensiun.

Sehingga, uang Anda akan kembali menghasilkan uang. “Anda bisa melakukan ini tanpa banyak risiko, tanpa banyak usaha, dan tanpa banyak waktu,” tutur Edelman.

2. Hanya fokus pada menabung

Salah satu cara kerja cerdas lainnya adalah dengan meningkatkan pendapatan, bukan hanya menabung.

Memang, menabung sangat penting untuk membangun kekayaan, tapi jangan lupakan juga pendapatan, yang merupakan fokus para orang kaya.

“Berhenti khawatir tentang kekurangan uang dan fokuslah pada bagaimana memperoleh lebih banyak,” kata miliuner Steve Siebold.

3. Beli barang terlalu mahal

Jika Anda hidup di atas standar kehidupan yang wajar bagi Anda, maka Anda tidak akan pernah kaya. Bahkan jika pendapatan Anda mulai meningkat, jangan jadikan itu pembenaran untuk menaikkan gaya hidup.

“Saya tak beli jam atau mobil mewah sampai bisnis dan investasi saya menghasilkan banyak arus pendapatan yang aman,” ujar miliuner Grant Cardone.

4. Bahagia dengan penghasilan tetap

Rata-rata orang memilih untuk digaji berdasarkan waktu, misal bulanan atau upah per jam. Namun, orang kaya memilih digaji berdasarkan hasil dan biasanya malah berwirausaha.

“Bukan berarti tidak ada orang kelas dunia yang dibayar dengan gaji (bulanan), namun untuk sebagian besar, ini adalah langkah paling lambat untuk kemakmuran,” ungkap Siebold.

5. Tidak investasi

Salah satu cara paling efektif untuk memperoleh kekayaan adalah dengan berinvestasi. Semakin cepat Anda mulai investasi, maka semakin baik.

“Rata-rata, miliuner menginvestasikan 20 persen penghasilan mereka setiap tahun. Kekayaan mereka tak dihitung dari jumlah yang mereka hasilkan tiap tahun, namun dari bagaimana mereka berinvestasi sepanjang waktu,” terang penasihat keuangan Ramit Sethi.

6. Tidak keluar dari zona nyaman

Jika ingin kaya, sukses, atau maju dalam hidup, maka Anda harus terbiasa dengan ketidakpastian atau ketidaknyamanan. Orang-orang kaya merasa nyaman dengan ketidakpastian.

“Kenyamanan fisik, fisiologis, dan emosional adalah tujuan utama pola pikir kelas menengah. Para pemikir kelas dunia mempelajari lebih dulu bahwa menjadi miliuner tidak mudah. Mereka belajar untuk nyaman bekerja dalam ketidakpastian,” ungkap Siebold.

7. Tidak punya tujuan finansial

Jika ingin membangun kekayaan, prosesnya akan lebih mudah dan menyenangkan jika Anda memiliki tujuan yang jelas dan spesifik dalam merencanakan tujuan finansial.

Apakah Anda akan beli rumah, melancong sebulan sekali, atau menikmati masa pensiun yang tenang, tulislah semua rencana Anda untuk diwujudkan.

“Orang-orang kaya memilih untuk berkomitmen dalam memperoleh kekayaan. Butuh fokus, keberanian, pengetahuan, dan banyak usaha, namun segalanya mungkin jika Anda memiliki tujuan dan visi yang jelas,” kata miliuner T Harv Eker.

rose KECIL

Badai krisis moneter (krismon) yang melanda Indonesia pada 1997-1998 juga mengempaskan bisnis kopi kemasan milik Sarman Simanjorang. Semua aset, mulai pabrik, mobil boks, hingga sarana dan prasarana produksi lainnya terpaksa dijual.

 

Bahkan, 40 karyawan terpaksa diberhentikan. Namun pria kelahiran Sumbul, Sumatera Utara, pada 14 Juni 1965, itu pantang kembali ke kampong halamannya. Sarman memilih bertahan di Jakarta, kembali memulai usaha dari titik nol.

 

Untuk bangkit dari keterpurukan tidaklah mudah. Selain harus memiliki mental pantang menyerah, kemampuan membaca peluang bisnis di tengah kolapsnya perekonomian sangatlah dibutuhkan. Hal inilah yang dimiliki Sarman Simanjorang sehingga ia bisa kembali berbisnis usai krisis.

 

“Usai krisis tak banyak peluang bisnis yang tersedia. Peluang bisnis di sektor swasta nyaris tidak ada, yang ada adalah proyek-proyek pemerintah. Di sinilah peluangnya. Sejak itu, saya masuk bisnis kontruksi, ikut menggarap proyek-proyek pemerintah,” ungkap Presiden Direktur PT Welhesa Abadi Perkasa itu kepada wartawati Investor Daily Tri Listiyarini di Jakarta, baru-baru ini.

 

Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta itu ternyata tidak pernah bermimpi menjadi pengusaha. Awalnya, Sarman hanya ingin menjadi PNS atau setidaknya pegawai kantoran berdasi nan necis.

 

Bagaimana awal mula Sarman Simanjorang menjadi pengusaha? Mengapa ia lolos dari badai krismon? Benarkah pengusaha tahan banting adalah pengusaha yang berani melangkah saat berada di titik terendah? Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.

 

Bagaimana awal mula Andamenjadi pengusaha?

Saya tidak pernah bermimpi menjadi pengusaha. Tamat SMP di Sumatera Utara pada 1981, saya merantau ke Jakarta. Modal saya hanya dua. Pertama, doa ibu saya. Kedua, nasihat ibu saya. Ibu saya bilang, kalau kamu merantau maka kamu harus lebih baik dari saya. Di Jakarta, saya melanjutkan SMA dan ikut kakak yang sudah menikah.

 

Meski saya laki-laki, saya harus tahu diri dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Saat SMA, saya sudah aktif berorganisasi. Setelah lulus, saya juga banyak mengikuti berbagai kursus. Harapannya, lulus SMA saya bisa langsung kerja, kuliah sambil bekerja saja.

 

Kenyataannya, mencari pekerjaan tidaklah mudah. Saya melamar sebagai PNS di berbagai departemen dan Pemda DKI, tapi gagal. Begitu pun di perusahaan swasta. Saya pernah melamar ke sebuah bank, ikut seleksi hingga delapan tahap, bahkan sudah diwawancarai direksi, tapi ternyata tidak diterima. Sejak itulah saya bertekad tidak akan lagi mencari pekerjaan, tapi menciptakan pekerjaan. Saya ingin menjadi

pengusaha.

 

Bisnis yang pertama kali Anda jalankan?

Saya tidak langsung menjadi pengusaha. Saya memang punya tekad, tapi modalnya dari mana? Tekad yang kuat membuat saya mencari modal sendiri dengan menjadi salesman, mulai asuransi, mobil, hingga advertising, pernah juga menjadi surveyor. Jadi salesman tidak dapat gaji, hanya komisi. Komisi inilah yang saya tabung dan dijadikan modal usaha. Pada 1991-1992, saya mendirikan PT Welhesa Abadi Perkasa.

 

Bisnis pertama yang saja jalankan adalah media publikasi dan eventorganizer (EO). Pengalaman saya di advertising menjadi bekal utama. Saat itu, media promosi bagi pengusaha atau perusahaan masih sangat terbatas, televisi baru ada satu, radio masih terbatas, begitupun koran. Apalagi di Jakarta, saya melihat potensinya sangat besar. Saya buat baliho, spanduk, umbul-umbul, billboard, hingga balon udara. Klien kami hingga skala nasional.

 

Bisnis Anda pernah terpuruk?

Selama tujuh tahun, bisnis saya berjalan sangat bagus. Pada 1997, saya mencoba melakukan ekspansi dengan mendirikan pabrik kopi cap Rajawali. Tujuan saya saat itu adalah memperkenalkan kopi dari kampung saya yang memang sudah terkenal, yakni kopi Sidikalang. Saya ingin memperkenalkannya ke tingkat nasional.

 

Kami buat pabrik di Pulogadung (Jakarta Timur), membuat kopi sendiri, targetnya masyarakat kelas bawah. Kami promosikan juga dengan mengontrak bintang iklan. Tapi krismon menghantam semua perusahaan, kecil menengah- besar, termasuk bisnis kopi saya.

 

Puncaknya terjadi pada 1998. Kopi cap Rajawali waktu itu bukan tidak laku. Semua kopi habis, namun uang dari agen tidak kembali. Kami punya pelanggan 1.000 warung tegal (warteg). Waktu saya cek ke lapangan, ternyata hampir semua warteg tutup diam-diam. Bagaimana tidak tutup, para pekerja bangunan yang umumnya pelanggan warteg tidak lagi memiliki pekerjaan karena proyeknya terhenti, mereka pulang kampung. Padahal, biasanya mereka membayar kopi di warteg setelah gajian. Kalau begini siapa yang mau dituntut?

 

Saya waktu itu menghadapi dilema, kalau diteruskan begitu banyak pengeluaran, padahal pemasukan kritis. Dengan berat hati, akhirnya semua aset saya jual, mulai pabrik, mobil operasional, mobil boks, hingga aset lainnya untuk menutup pengeluaran. Karyawan juga saya rumahkan.

 

Bagaimana Anda bisa bangkit lagi?

Saya sadar bahwa pasang surut itu bagian dari hidup. Tidak semua berjalan mulus. Kegagalan adalah bagian dari gelombang hidup, kadang untung kadang rugi. Artinya, kita harus siap menghadapi segala sesuatu di depan kita. Tuhan member cobaan, pasti ada sesuatu yang perlu kita koreksi. Kalau bisnis saya mulus terus, mungkin muncul kesombongan dalam diri saya. Karena itu, ketika tiba-tiba ada krismon dan bisnis kopi saya kolaps, saya terima dan anggap itu sebagai bagian dari kehidupan, ambil hikmahnya.

 

Saya juga sadar bahwa kejadian itu bukan hanya menimpa saya. Dari situ muncul kekuatan mental dalam diri saya untuk bangkit kembali membangun usaha. Dalam kekuatan itu tersimpan semangat untuk tidak patah hati, tidak memandang bahwa itu semua sudah selesai, meskipun semua aset dalam waktu singat terkuras habis.

 

Memang tidak mudah, apalagi waktu krismon potensi bisnis sangat terbatas. Tapi saya yakin dan meyakinkan keluarga bahwa saya bisa bangkit lagi. Waktu itu yang tersedia hanyalah peluang proyek pembangunan dari pemerintah, semua proyek milik swasta tumbang. Karena itu, satusatunya jalan untuk bangkit lagi adalah masuk bisnis kontruksi, ikut mengerjakan proyek-proyek pemerintah. Dari situlah saya mulai bangkit lagi hingga sekarang.

 

Intinya, saat berada di titik terendah, kita harus berani melangkah, berani berbuat, berani memulai kembali. Saya beruntung menjadi pengusaha yang tumbuh secara alami, sehingga ketika bisnis bangkrut karena krismon saya cepat-cepat ambil keputusan mau bisnis apa lagi. Berhubung waktu itu yang jalan hanya proyek pemerintah, saya belajar untuk bagaimana menjadi rekanan pemerintah, terutama Pemda DKI, seperti dalam pengadaan barang dan jasa serta pembangunan infrastruktur.

 

Mulai 1999, saya berbisnis di bidang konstruksi serta pengadaan barang dan jasa, menjadi rekanan Pemda DKI. Sampai sekarang masih jalan, seperti rehabilitasi gedung, membangun drainase, jalan raya, pengadaan alat-alat olahraga, dan pengadaan mebel. Karena saya merupakan pengusaha alami, inovasi itu selalu ada, tidak ada patah semangat. Kalau tidak punya jiwa bisnis, saya mungkin sudah pulang kampung. Saya melihat potensi bisnis di kota besar sangat terbuka, tinggal kecerdikan dan kecakapan kita menangkap mana yang pas.

 

Apa sebetulnya kunci sukses Anda?

valentineEVERYsmall

Pertama, punya niat dan tekad. Modal itu nomor sekian. Saya memulai usaha dari nol, tak punya modal. Inilah yang membuat saya menjadi pengusaha yang alami. Ada teman saya memulai usaha dengan modal dari orang tuanya, tapi baru enam bulan tutup.

 

Kedua, mau bekerja keras dan jangan merasa gengsi. Kesampingkan gengsi, misalnya malu jadi salesman, padahal dari sales bisa dapat komisi untuk ditabung menjadi modal. Kalau seseorang lulus di bagian sales asuransi, ke manapun dia pergi tidak akan pernah kelaparan karena sales asuransi hanya bermodal kertas.

 

Ketiga, semangat dan jangan pernah cepat menyerah. Apabila ada salah diperbaiki, kalau gagal coba lagi. Kalau menyerah berarti semua akan selesai. Keempat, perbanyak jaringan dengan berorganisasi. Saya ikut organisasi yang mampu menciptakan jaringan dan mengasah kepemimpinan. Kepemimpinan akan tumbuh secara alami dalam sebuah organisasi karena kita akan berbaur dengan banyak orang, banyak beda pendapat, beradu argumentasi, belajar menghargai orang lain, dan mengendalikan emosi.

 

Strategi Anda untukmemajukan perusahaan?

Pertama, harus mampu dan pintar membaca peluang. Sebagai perusahaan jasa, kami tidak harus fokus di bidang tertentu. Jika ada peluang bisnis lain yang bisa dikerjakan, kenapa kita tidak ambil saja. Kedua, kita harus mampu memperbanyak jaringan (network). Saya melakukannya dengan aktif di berbagai organisasi, di organisasi biasanya banyak informasi yang dibutuhkan dan bisa kita tangkap menjadi peluang.

 

Pencapaian palingmonumental yang sudah Andaraih?

big-dancing-banana-smiley-emoticon

Ketika saya mampu mempekerjakan orang, memberikan nafkah bagi orang lain melalui pekerjaan yang saya sediakan, itu sebuah kepuasan. Ketika saya mampu menciptakan kekompakan, karyawan berlibur bersama, itu juga kepuasan bagi saya. Merintis usaha dari nol, dari tidak ada menjadi ada, itu kepuasan dan pencapaian monumental saya.

 

Gaya kepemimpinan Anda?

Pertama, di manapun saya berada, baik di perusahaan maupun di organisasi dengan jabatanjabatan tertentu, saya menerapkan pola kerja sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi).

 

Kedua, saya selalu memandang sesuatu secara positivethinking. Jangan cepat memandang sesuatu dari sisi negatif, arahkan pola berpikir untuk selalu melihat sesuatu dari sisi positifnya.

 

Ketiga, dalam sebuah manajemen atau organisasi, tujuannya hanya satu, yaitu mewujudkan visi misi yang sama. Karena itu, harus ada kekompakan dan kebersamaan untuk mencapainya. Untuk menjaga kekompakan di perusahaan, misalnya, saya buat acara liburan bersama atau olahraga bersama di waktu tertentu. Ini penting juga untuk menjaga komunikasi.

 

Filosofi hidup Anda?

rose KECIL

Hidup ini biarkan mengalir seperti air. Artinya kita bekerja keras, lakukan yang terbaik sesuai kemampuan, biarlah Tuhan yang menentukan nasib kita. Jangan menjadi seorang yang ambisius. Manusia memang harus punya ambisi, tapi jangan ambisius. Sebab, kalau sudah ambisius, kadang-kadang kita sebagai manusia akan menghalalkan segala cara. Saya sangat yakin hidup ini adalah rahasia Tuhan. Saya yakin Tuhan memiliki rencana terhadap kehidupan kita, cuma kita tidak tahu.

 

Obsesi atau mimpi yang belum Anda capai?

Mimpi dan obsesi saya hanya satu, yaitu anak-anak saya ke depan bisa berhasil lebih baik dari saya. Apa yang sudah saya capai saat ini mungkin belum sesuai yang saya inginkan. Saya akui semua pasti ada batasnya.

 

Peran keluarga dalam karierAnda?

Saya harus bersyukur memiliki istri yang mau mengalah, dalam arti tidak ngotot bekerja. Istri saya tadinya seorang guru, namun kemudian memilih mengurus keluarga. Istri saya sangat pengertian. Saya yakin apa yang saya raih saat ini tidak lepas dari doa istri yang selalu mendampingi. Dia sangat mengerti aktivitas saya dalam berwirausaha maupun berorganisasi

 

Sepulang bekerja saya masih aktif di organisasi, baru pulang pukul 11 malam. Tapi saya juga harus punya pengertian, saya usahakan Sabtu-Minggu benarbenar untuk keluarga. Jadi, dukungan keluarga begitu luar biasa bagi saya. Maka tidak salah kalau ada pernyataan bahwa kesuksesan suami tidak lepas dari dukungan perempuan di sampingnya. (*)

 

Baca juga http://id.beritasatu.com/home/memancing-untuk-menguji-kesabaran/155310

ets-small

TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA – Perasaan bahagia tak dapat disembunyikan dari wajah Bardi Syafii (53), warga Cokrokusuman, JT II, Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta.

Setelah bertahun-tahun menabung, akhirnya bapak dua anak yang sehari-hari bekerja sebagai seorang tukang parkir di jalan Mangkubumi Kota Yogyakarta ini akan berangkat naik hajibersama istrinya Rumiyati (49) pada 17 Agustus 2016.

Bardi bercerita, dia memiliki cita-cita untuk naik haji sekitar tahun 1985. Sejak niat itu tercetus, dia lantas mulai menabung untuk biaya naik haji bersama istrinya.

“Saya menabung sejak tahun 1985. Saat itu saya buka lapak jualan koran dan rokok,” ucap Bardi di sela jaga parkir di Kawasan Jalan Mangkubumi, Selasa (2/8/2016).

Uang yang ditabungnya saat itu pun tidak besar. Dalam sehari, Bardi hanya bisa menyisihkan penghasilanya Rp 500 sampai Rp 1.000.

Demi menyisihkan uang untuk naik haji, Bardi pun rela membuka lapaknya dari pagi sampai malam hari. Sebab selain mencari uang untuk menabungnaik haji, dia juga harus mencari nafkah bagi keluarga sekaligus membiayai sekolah kedua anaknya.

“Yang saya tabung itu di luar uang biaya sekolah anak. Anak-anak harus tetap sekolah, demi masa depan mereka,” tegasnya.

rose KECIL

JAKARTA, KOMPAS.com –  Lulusan perguruan tinggi Indonesia sedang mengalami dilema, sebab gelar ijazah pendidikan tinggi yang mereka raih tak lagi jadi jaminan mudah untuk mendapat pekerjaan. Kesulitan mereka terserap dunia kerja semakin bertambah berat, karena mulai 1 Januari tahun ini mereka juga bersaing dengan tenaga kerja asing dari negara-negara ASEAN sebagai dampak berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)

Sulitnya lulusan universitas lokal memperoleh pekerjaan sudah terlihat dari angka pengangguran terdidik Indonesia yang meningkat setiap tahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2014, di Indonesia ada 9,5 persen (688.660 orang) dari total penganggur yang merupakan alumni perguruan tinggi.

Mereka memiliki ijazah diploma tiga atau ijazah strata satu (S-1) . Dari jumlah itu, penganggur paling tinggi merupakan lulusan universitas bergelar S-1 sebanyak 495.143 orang.

Angka pengangguran terdidik pada 2014 itu meningkat dibandingkan penganggur lulusan perguruan tinggi pada 2013 yang hanya 8,36 persen (619.288 orang) dan pada 2012 sebesar 8,79 persen (645.866 orang).

“Tingkat pengangguran terbuka Indonesia berdasarkan pendidikan yang ditamatkan cukup membahayakan,” kata mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Djalal, pada Kompas,(27/4/2015).

Menurut Fasli, Indonesia perlu mendesain ulang konsep pendidikan tinggi agar lulusannya mudah diserap industri.

“Apa masih perlu mendidik anak selama empat tahun di perguruan tinggi atau cukup memberikan pelatihan bersertifikat internasional enam bulan agar mereka bisa langsung bekerja di sejumlah negara,” ujarnya.

Banyaknya lulusan perguruan tinggi menganggur karena adanya ketimpangan antara profil lulusan universitas dengan kualifikasi tenaga kerja siap pakai yang dibutuhkan perusahaan. Berdasarkan hasil studi Willis Towers Watson tentang Talent Management and Rewards sejak tahun 2014 mengungkap, delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai.

Masih menurut hasil studi itu, semestinya perusahaan tidak sulit mencari tenaga kerja, sebab angka pertumbuhan lulusan perguruan tinggi di Indonesia setiap tahun selalu bertambah. Sementara itu, angka permintaan perusahaan terhadap tenaga kerja selalu lebih rendah dari pada jumlah lulusannya.

“Setelah India dan Brasil, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan pertumbuhan lulusan universitas lebih dari 4 persen dan rata-rata surplus 1.5 persen per tahun. Tapi, perusahaan tetap kesulitan mendapatkan karyawan yang berpotensi tinggi,” ujar Consultant Director, Willis Tower Watson Indonesia, Lilis Halim pada diskusi A Taste Of L’oreal, Rabu (20/4/2016).

Susah terserapnya lulusan perguruan tinggi Indonesia karena tidak memiliki skill yang dibutuhkan perusahaan dan tidak punya critical skill.

Skill adalah langkah utama memasuki dunia kerja, setelah itu harus punya critical skill jika ingin berkembang dan masuk jajaran manajemen perusahaan,” kata Lilis.

Berdasarkan studi itu, Lilis mengatakan bahwa di era digital saat ini lulusan perguruan tinggi harus punya digital skills, yaitu tahu dan menguasai dunia digital. Agile thinking ability – mampu berpikir banyak skenario- serta interpersonal and communication skills – keahlian berkomunikasi sehingga berani adu pendapat.

Terakhir, menurut dia, para lulusan juga harus punya global skills.Skil tersebut meliputi kemampuan bahasa asing, bisa padu dan menyatu dengan orang asing yang berbeda budaya, dan punya sensitivitas terhadap nilai budaya.

Harus bersinergi

Pakar pendidikan Indonesia, Arief Rachman, yang juga jadi panelis dalam diskusi tersebut mengatakan bahwa kualitas lulusan perguruan tinggi yang tak sesuai kebutuhan dunia industri adalah akibat kesalahan sistem pendidikan Indonesia selama 20 tahun lalu.

“Selama ini mahasiswa hanya disuruh belajar untuk lulus jadi sarjana. Mereka hanya mengejar status bukan proses untuk menjadi sarjana. Akhirnya mereka jadi tak punya pemahaman apa-apa terhadap proses pendidikan yang sudah dilalui,” ujarnya.

Arief juga mengajak orang tua, guru dan dosen untuk  mengajarkan kepada generasi muda agar tidak takut terhadap perubahan. Ia juga mengkiritik terhadap orang yang kontra dengan perubahan kurikulum pendidikan.

“Jangan takut kurikulum pendidikan berubah, sebab perubahan itu juga untuk menyesuaikan dengan kebutuhan industri dan dunia yang dinamis,” kata Arief.

Guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu juga berharap agar pemerintah dan perguruan tinggi bisa mengajak pihak swasta untuk menyusun kurikulum yang tepat bagi perguruan tinggi.

“Kurikulum harus dibentuk juga oleh teman-teman dari swasta, sebab dari swasta kita jadi tahu pengalaman di lapangan dan itu merupakan guru paling hebat bagi mahasiswa,” ujarnya.

bird

 

the economist: IN 1998 Peter Mandelson, a leading member of Britain’s then Labour government, said he was “intensely relaxed about people getting filthy rich as long as they pay their taxes.” Today Lord Mandelson is more uptight; he worries about the rising inequality and stagnating middle-class incomes brought about by globalisation. His volte-face is typical of the global elite. The head of the IMF, Christine Lagarde, says that rising inequality casts a “dark shadow” over the global economy. A recent OECD report warns that rising inequality will be a “major policy challenge” for all countries.

In a new study, “Rich People, Poor Countries: The Rise of Emerging-Market Tycoons and their Mega Firms”, Caroline Freund of the Peterson Institute in Washington, DC, makes an important contribution to understanding this challenge. She draws a distinction between rich-world billionaires and those of the emerging economies, whose numbers have been rising at a faster rate. In 2004 the emerging world accounted for 20% of the 587 billionaires in Forbes magazine’s annual survey. By 2014 it accounted for 43% of the 1,645 billionaires on the list. In the rich world the share who were self-made, rather than heirs to a fortune, was fairly stable between 2001 and 2014, at about 60%. In the emerging world the self-made proportion rose from 56% to 79%.

Being self-made is not automatically a virtue. Some self-made tycoons acquire their fortunes through cronyish connections. But Ms Freund argues that the fastest-growing group of emerging-world billionaires consists of what might be called “Schumpeterian” entrepreneurs—people building or managing big companies that have to fight for their lives in global markets. The rise of this type of tycoon, she says, can be a healthy consequence of structural transformation and rapid development. When economies expand quickly—as they did in America in the late 19th century, say—they develop big firms that produce concentrations of wealth but that also contribute to broad growth by pioneering productive techniques and creating jobs. Such economies lift up those at the bottom of the income scale as well as enriching those at the top.

Ms Freund scrutinises the lists of billionaires, excludes those whose wealth was inherited and then classifies the self-made billionaires into four categories: those whose wealth came from government concessions and other forms of rent; those in finance or property; the founders of businesses that genuinely compete in the market; and highly paid executives at such Schumpeterian businesses. She treats only the last two categories as real entrepreneurs. In 2001 just 17% of all emerging-market billionaires made it into this classification; in 2014 roughly 35% did.

Among the leading examples is Terry Gou of Taiwan, who founded Hon Hai, an electronics giant (also known as Foxconn), in 1974 with just $7,500. Its massive expansion on the mainland has made it China’s biggest exporter, with a workforce of nearly 1m. Dilip Shanghvi founded Sun Pharmaceutical Industries in 1983 with a $1,000 loan from his father. It is now India’s largest drugmaker, with 16,000 workers and a market value of $29 billion. Zhou Qunfei started out working on the family farm in Hunan and was then a factory worker in Guangdong before starting a firm that makes touchscreens. Ms Zhou is now the world’s richest self-made woman. Her company, Lens Technology, employs 60,000 and is worth close to $12 billion. The American dream of going from rags to riches appears more achievable in developing Asia than in America itself, which seems ever more in thrall to vested interests.

The emergence of these goliaths is similar to the emergence of big companies in the United States and Europe in the late 19th and early 20th centuries, Japan in the 1950s and 1960s, and South Korea in the 1960s and 1970s. The comparison to America during the gilded age is particularly striking. Chinese tycoons such as Jack Ma of Alibaba and Robin Li of Baidu, two internet giants, are becoming fabulously wealthy by learning how to serve a huge new market in much the same way that Andrew Carnegie and John D. Rockefeller did with steel and oil. Tee Yih Jia Foods of Singapore has become a colossus of spring rolls by mechanising their production and improving marketing, much as H.J. Heinz did with sauces and pickles in 1890s Pittsburgh.

Where’s the anti-billionaire backlash?

There are significant regional variations in this happy picture. East Asia has the lion’s share of Schumpeterian billionaires, whereas Latin America still has a disproportionate share of inheritors, and South Asia and eastern Europe a continuing problem with cronyism. However, the anti-billionaire backlash that is such a marked feature of Western politics is, thus far, much less pronounced in the emerging world. This may be because emerging-market billionaires seem more dynamic: more than half of them are under 60 compared with less than a third in the rich world. But it is partly because ordinary people in the emerging world have been getting richer alongside the billionaires; in the rich world the masses have seen their incomes stagnate.

You can pick holes in Ms Freund’s arguments. The line between Schumpeterian and crony firms can be hard to draw in China, where the government exercises huge influence behind the scenes. And if a recent slowdown in emerging economies worsens, it may show that some entrepreneurial stars built their empires on sand. But if anything, she errs on the side of caution. She excludes financiers, even though they can also be wealth-creators; and heirs, even though some—such as Ratan Tata of India, who increased the value of the Tata group enormously—are Schumpeterians. Although cronyism is far from extinct, the emerging world has witnessed a big increase in the number of true entrepreneurs. They are a symptom of economic dynamism, not a cause of rising inequality.

 

reaction_1

NEW YORK – Warren Edward Buffett atau Warren Buffet dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia akibat keahliannya dalam hal investasi. Namun siapa menyangka, kemampuan Buffett dalam menciptakan nilai tambah suatu investasi ternyata sudah terlihat sejak dia kecil.

Seperti dilansir dari laman TIME, Selasa (10/11/2015), Buffett kecil ternyata pernah menjadi loper koran guna menambah uang sakunya ketika dia berusia 11 tahun. Dengan kombinasi keuletan serta kedisiplinan, Buffett sudah mampu meraup pendapatan sebesar USD175 per bulan atau Rp2.390.150 (kurs Rp13.658) dan bahkan melebihi guru-gurunya.

Menjadi seorang loper koran hanya salah satu dari pekerjaan yang pernah dijalankannya. Selain menjadi loper koran, Buffett kecil juga pernah menjual barang-barang bekas lainnya untuk tambahan uang sakunya.

Buffett kecil pernah menghasilkan pendapatan melalui penjualan bola golf bekas. Untuk mendapatkan bola golf bekas, dia memanfaatkan waktu luangnya untuk berkeliling lapangan golf untuk mencari bola-bola golf yang hilang.

Selain menjual bola golf bekas, dia juga menghasilkan pendapatan lainnya melalui penjualan perangko, menjadi jasa menggosok mobil, mendirikan sebuah bisnis mesin pinball, dan mengubah trayek balap kuda menjadi taman bermain yang menguntungkan.

Dengan demikian, dia berhasil meraup pendapatan sebesar USD53 ribu atau Rp723,8 juta (kurs Rp13.658) tepat saat dia berusia 16 tahun.
http://economy.okezone.com/read/2015/11/09/213/1246164/raup-rp723-juta-di-usia-16-tahun-ini-yang-dilakukan-warren-buffet
Sumber : OKEZONE.COM

dollar small

NEW JERSEY – Saham Berkshire Hathaway, perusahaan milik Warren Buffett, telah mengalami penurunan lebih dari 11 persen tahun ini. Lebih buruk lagi, saham Berkshire telah berada di bawah level yang diharapkan (underperform) dengan turun lebih dari 10 persen.

Penurunan harga saham Buffett ini menjadi sangat tidak biasa. Pasalnya, ketika indeks S&P meroket dan unggul, saham Berkshire malah cenderung underperform. Cukup mengherankan, mengingat rekam jejak Buffett yang selalu berhasil membuat investasinya naik dalam jangka waktu panjang.

Perlu dicatat bahwa ini akan menjadi tahun pertama bahwa saham Berkshire mengalami underperform di indeks S&P 500 sejak 1990, tidak termasuk 2011, ketika S&P turun kurang dari 0,05 persen. Tahun yang paling mencolok sejak 1999, ketika saham Berkshire turun 20 persen sedangkan S&P 500 naik dengan hampir jumlah yang sama.

Saham Berkshire adalah korban dari masa sulit untuk industri transportasi dan bisnis yang Buffett miliki. Selain itu, saham-saham terbesar Buffett, IBM dan American Express telah terpukul tahun ini, sementara saham Wells Fargo dan Coca-Cola bergerak flat. Selain itu, penurunan dalam harga energi telah memukul Buffett secara keras.

“Berkshire adalah salah satu operator terbesar dari portofolio minyak dan batu bara. Seperti harga komoditas telah turun, lokomotif besar Buffett jelas telah terkena dampaknya,” kata seorang analis, Macrae Sykes, seperti dilansir dari CNBC.

Meski demikian, sejak nilainya tertekan, Berkshire belum mampu menemukan hal-hal menarik untuk dilakukan dengan semua modal usahanya. Padahal, Buffett telah berhasil menjaga dirinya tetap bekerja tahun ini.

Sebut saja akuisisi USD37,2 miliar dari pemasok kedirgantaraan bernama Presisi Castparts pada Agustus. Meski begitu, Sykes menilai kesepakatan tersebut lebih mahal dibandingkan dengan standarnya.

Meski demikian, Buffett dan Berkshire Hathaway telah menghasilkan performa yang besar dan cukup memukau di setiap jangka waktu yang panjang.
http://economy.okezone.com/read/2015/11/19/278/1252544/miliarder-warren-buffett-telan-kerugian-terbesar-sejak-1999
Sumber : OKEZONE.COM

bird_bbri_unvr

NEW YORK – Empat ratus orang terkaya di Amerika Serikat (AS) memiliki total kekayaan sebesar USD2,34 triliun di 2015. Angka ini meningkat USD50 miliar dibandingkan tahun lalu.

Seperti dilansir dari Forbes, Rabu (30/9/2015), berikut ini adalah 50 miliarder teratas dari daftar yang 400 orang terkaya di Amerika.

1. Bill Gates

Dengan total kekayaan USD76 miliar, yang bersumber dari perusahaan software Microsoft.

2. Warren Buffett

Dengan total kekayaan USD62 miliar, yang bersumber dari perusahaan investasi Berkshire Hathaway.

3. Larry Ellison

Dengan total kekayaan USD47,5 miliar, yang bersumber dari perusahaan software Oracle.

4. Jeff Bezos

Dengan total kekayaan USD47 miliar, yang bersumber dari toko online Amazon.com.

5. Charles Koch

Dengan total kekayaan USD41 miliar, yang bersumber dari diversifikasi aset dan investasi.

6. David Koch

Dengan total kekayaan USD41 miliar, yang bersumber dari diversifikasi aset dan investasi.

7. Mark Zuckerberg

Dengan total kekayaan USD40,3 miliar, yang bersumber dari jejaring sosial Facebook.

8. Michael Bloomberg

Dengan total kekayaan USD38,6 miliar, yang bersumber dari perusahaannya Bloomberg LP.

9. Jim Walton

Dengan total kekayaan USD33,7 miliar, yang bersumber dari tokok ritel Wal-Mart.

10. Larry Page

Dengan total kekayaan USD33,3 miliar, yang bersumber dari perusahaan mesin pencari Google.

11. Sergey Brin

Dengan total kekayaan USD32,6 miliar, yang bersumber dari perusahaan mesin pencari Google.

12. Alice Walton

Dengan total kekayaan USD32 miliar, yang bersumber dari Wal-Mart.

13. S. Robson Walton

Dengan total kekayaan USD31,7 miliar, yang bersumber dari Wal-Mart.

14. Christy Walton & keluarga

Dengan total kekayaan USD30,2 miliar, yang bersumber dari Wal-Mart.

15. Sheldon Adelson

Dengan total kekayaan USD26 miliar, yang bersumber dari kasino.

16. George Soros

Dengan total kekayaan USD24,5 miliar, yang bersumber dari dana lindung nilai.

17. Phil Knight

Dengan total kekayaan USD24,4 miliar, yang bersumber dari perusahaan alat olahraga Nike.

18. Forrest Mars Jr

Dengan total kekayaan USD23,4 miliar, yang bersumber dari perusahaan permen.

 

18. Jacqueline Mars

Dengan total kekayaan USD23,4 miliar, yang bersumber dari perusahaan permen.

18. John Mars

Dengan total kekayaan USD23,4 miliar, yang bersumber dari perusahaan permen.

21. Steve Ballmer

Dengan total kekayaan USD21,6 miliar, yang bersumber dari Microsoft.

22. Carl Icahn

Dengan total kekayaan USD20,5 miliar, yang bersumber dari investasi.

23. Laurene Powell Jobs & keluarga

Dengan total kekayaan USD19,1 miliar, yang bersumber dari Apple dan Disney.

23. Michael Dell

Dengan total kekayaan USD19,1 miliar, yang bersumber dari Dell.

25. Anne Cox Chambers

Dengan total kekayaan USD18 miliar, yang bersumber dari media.

26. Paul Allen

Dengan total kekayaan USD17,8 miliar, yang bersumber dari investasi.

27. Len Blavatnik

Dengan total kekayaan USD17,7 miliar, yang bersumber dari diversifikasi dan investasi.

28. Charles Ergen

Dengan total kekayaan USD16,4 miliar, yang bersumber dari TV satelit.

29. Ray Dalio

Dengan total kekayaan USD15,3 miliar, yang bersumber dari dana lindung nilai.

30. Donald Bren

Dengan total kekayaan USD15,2 miliar, yang bersumber dari real estate.

31. Abigail Johnson

Dengan total kekayaan USD14,2 miliar, yang bersumber dari pengelolaan uang.

32. James Simons

Dengan total kekayaan USD14 miliar, yang bersumber dari dana lindung nilai.

33. Thomas Peterffy

Dengan total kekayaan USD13,5 miliar, yang bersumber dari broker diskon.

34. Elon Musk

Dengan total kekayaan USD13,3 miliar, yang bersumber dari Tesla Motors.

35. Patrick Soon-Shiong

Dengan total kekayaan USD12,9 miliar, yang bersumber dari obat-obatan.

36. Ronald Perelman

Dengan total kekayaan USD12,5 miliar, yang bersumber dari akusisi perusahaan.

37. Steve Cohen

Dengan total kekayaan USD12 miliar, yang bersumber dari dana lindung nilai.

38. David Tepper

Dengan total kekayaan USD11,6 miliar, yang bersumber dari dana lindung nilai.

38. Rupert Murdoch & keluarga

Dengan total kekayaan USD11,6 miliar, yang bersumber dari media.

38. Stephen Schwarzman

Dengan total kekayaan USD11,6 miliar, yang bersumber dari investasi.

41. John Paulson

Dengan total kekayaan USD11,4 miliar, yang bersumber dari dana lindung nilai.

42. Andrew Beal

Dengan total kekayaan USD11 miliar, yang bersumber dari bank, real estate.

43. Philip Anschutz

Dengan total kekayaan USD10,9 miliar, yang bersumber dari investasi.

44. Charles Butt & keluarga

Dengan total kekayaan USD10,7 miliar, yang bersumber dari supermarket.

45. Donald Newhouse

Dengan total kekayaan USD10,6 miliar, yang bersumber dari media.

46. Samuel Newhouse Jr

Dengan total kekayaan USD10,3 miliar, yang bersumber dari media.

47. Jack Taylor & keluarga

Dengan total kekayaan USD10,1 miliar, yang bersumber dari perusahaan sewa mobil, Rent-A-Car.

48. Eric Schmidt

Dengan total kekayaan USD9,9 miliar, yang bersumber dari Google.

 

49. John Menard Jr

Dengan total kekayaan USD9,2 miliar, yang bersumber dari retail.

50. Blair Parry-Okeden

Dengan total kekayaan USD9 miliar, yang bersumber dari media.
http://economy.okezone.com/read/2015/09/30/213/1223436/daftar-orang-paling-kaya-di-amerika-serikat
Sumber : OKEZONE.COM

long jump icon

Kenapa Makin Banyak Orang Kaya Baru Indonesia
Reformasi ekonomi dan politik telah menciptakan banyak orang kaya baru Indonesia.
KAMIS, 13 JANUARI 2011, 08:18 WIB Heri Susanto

VIVAnews – Kelas menengah Indonesia terus mengalami pertumbuhan pesat. Bahkan, dalam satu dekade dari 1999 hingga 2009, kelompok ini telah melonjak dua kali lipat dari 45 juta jiwa menjadi 93 juta jiwa.
Menurut ekonom Dradjad Hari Wibowo, ada sejumlah penyebab mengapa kelompok kelas menengah ini mengalami pertumbuhan pesat. Dradjad mengistilahkan mereka sebagai kelompok orang kaya baru Indonesia.
Pertama, tingkat pendidikan masyarakat Indonesia yang semakin membaik. Belakangan ini, semakin banyak penduduk yang mengenyam akses pendidikan sejak diberlakukannya wajib belajar dulu. “Makin banyak sarjana dan pasca sarjana,” kata Dradjad kepada VIVAnews di Jakarta, Kamis, 13 Januari 2011.

Kedua, reformasi ekonomi dan politik telah menciptakan banyak orang kaya baru terutama dari perkebunan, pertambangan khususnya batu bara dan sebagian kehutanan. Kalau sebelumnya akses terhadap kekayaan sumber alam hanya dikuasai kelompok terbatas, sekarang lebih meluas ke elit-elit politik, daerah, ormas.

“Tetapi, yang punya akses relatif terbatas juga, belum meluas ke rakyat juga,” kata dia.

Ketiga, imbas dari booming sektor keuangan, teknologi informasi dan industri kreatif menciptakan orang kaya baru dari kelompok muda. Kelompok ini perlu diperbesar.

Booming ini bukan hanya terjadi di sektor industri. Namun, sektor pertanian juga berkembang lebih pesat. Ini merupakan resep yang ampuh untuk mengentaskan penduduk miskin.

Namun, pertumbuhan kelas menengah tersebut masih disertai dengan ketimpangan yang cukup besar, terutama dengan buruh, petani dan nelayan.
“Jumlah penduduk miskin yang masih di atas 31 juta jiwa perlu jadi perhatian,” kata Dradjad.
Mengacu hasil survei Badan Pusat Statistik pada 1999 dan 2009, kelompok menengah-tengah meningkat hampir tiga kali lipat ,dari 7,5 juta menjadi 22 juta jiwa. Kelompok menengah-atas bahkan naik lima kali lipat dari 0,4 juta menjadi 2,23 juta jiwa. Sedangkan, kelompok berkecukupan naik 0,1 juta menjadi 0,37 juta jiwa.
Bursa Efek Indonesia (BEI) siap memberi sanksi terhadap PT Macquarie Capital Securities Indonesia (RX), menyusul sistem perseroan diaudit oleh pihak independen.

Menurut Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Wan Wei Yiong, pekan lalu RX sudah didampingi oleh auditor independen. Ppelaksanaan audit sendiri sudah rampung. BEI tinggal menetapkan sanksi dalam waktu dekat.

“Ada sanksi tapi belum ditetapkan. Mereka Sabtu-Minggu sudah didampingi oleh independent reviewer. Sistem selama ini sudah berjalan,” ujarnya.

Ia menambahkan, sanksi kepada Macquarie kemungkinan tidak akan diumumkan kepada publik. Namun, keputusan sanksi tetap akan dilaporkan kepada Bapepam, sehingga jika Macquarie tidak menerima keputusan BEI, perseroan dapat mengajukan banding.

“Dari sisi teknis sudah selesai dan tidak perlu dipermasalahkan,” jelasnya.

Menurutnya, selama ini penetapan sanksi BEI kepada Anggota Bursa (broker) terdiri dari empat tingkatan. Sanksi paling ringan adalah teguran tertulis, kemudian meningkat sanksi denda.

Teguran tertulis dan denda, tidak diumumkan kepada publik. Sedangkan dua sanksi lain yang dipublikasi adalah peringatan tertulis, serta penghentian perdagangan (suspensi). “Kemungkinan ini sanksi (kepada Macquarie ) tidak diumumkan ke publik,” ucapnya.

Seperti diketahui, BEI Senin (8/11/2010) memanggil manajemen PT Macquarie Capital Securities Indonesia (RX) untuk meminta klarifikasi soal adanya kesalahan input order saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Menurutnya, kesalahan order yang dilakukan oleh pialang Macquarie tidak membuat sistem perdagangan karena langsung dilakukan koreksi dengan segera. “Ini data real time, tapi langsung dikoreksi. Awalnya kita tahu karena orang dari Macquarie lapor ke kita dan langsung kita perbaiki,” jelas Yiong.

Berdasarkan data transaksi perdagangan BEI seperti dikutip detikFinance akhir pekan lalu atau Jumat (5/11/2010), RX tercatat memasukkan order sebanyak 2.000 lot atau 1 juta lembar saham ICBP pada pukul 15.46.11 waktu JATS.

Transaksi terjadi di pasar negosiasi melalui mekanisme tutup sendiri (crossing). Harga per saham yang dimasukkan sebesar Rp 46.303.884 per saham, sehingga total order tersebut mencapai Rp 46,303 triliun. Kesalahan ini menyebabkan nilai transaksi IHSG membengkak tajam menjadi Rp 52,180 triliun.

Sumber: detikcom

long jump icon

Pentingnya menjadi pengusaha muda
OLEH IQBAL FARABI Wakil Ketua Komite Tetap Telematika Kadin Indonesia

Perekonomian baik bila peran swasta & masyarakat dominan Pemuda sering diiden tikkan sebagai orang yang sedang mencari jatidiri dan menyukai hal hal yang berbau tan tangan. Konsekuensi nya, mereka mudah sekali terkena dampak ne gatif dari suatu ling kungan.
Pemuda yang baik akan memilih lingkungan yang tepat dan mengelimi nasi dampak negatif dari lingkungan sekitarnya. Sikap tersebut pada akhirnya akan membentuk mental yang kuat sebagai bekal menjadi seorang pengusaha.

Pilihan menjadi seorang pengusaha mengandung banyak risiko yang terkadang lebih besar dibandingkan orang yang hanya memilih karier sebagai karyawan. Tetapi hal tersebut merupakan trade-off karena dalam ilmu ekonomi ada pepatah high riskhigh return (semakin besar risiko yang kita hadapi maka semakin besar imbalan yang dapat kita terima).

Fenomena ini jangan membuat kita takut untuk maju, tetapi harus menjadi suatu tantangan yang harus dijawab oleh semua para pengusaha maupun calon pengusaha. Banyak hal positif yang dapat diambil sebagai imbas keputusan untuk menjadi seorang pengusaha muda–selain keuntungan yang bersifat materi.

Dengan menjadi seorang pengusaha, maka secara otomatis kita akan berperan penting dalam jalannnya roda perekonomian.
Sebab secara otomatis pengusaha akan memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat dan me ningkatkan GDP di negaranya.

Menjadi pengusaha juga memperluas kesempatan untuk menambah jaringan (network), sehingga secara otomatis semakin menyambung tali silaturahim tanpa mengesampingkan kerja sama yang saling menguntungkan.

Penulis pernah mendapat wejangan dari seorang guru bahwa sebaik-baik rezeki adalah rezeki yang juga mendatangkan manfaat bagi orang lain. Dengan demikian, hanya dengan menjadi pengusaha hal ini dapat ini dapat diwujudkan.

Menjadi pengusaha juga sangat dianjurkan oleh agama dan juga contohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Hal-hal tersebut cukup menjelaskan pentingnya menjadi pengusaha, baik dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Partisipasi pengusaha dalam perekonomian nasional pada hakikatnya di topang oleh tiga pilar (the three pillars) yaitu pemerintahan, swasta (pengusaha) dan masyarakat (rakyat).

Suatu sistem perekonomian yang baik terjadi apabila peran serta masyarakat dan pengusaha lebih dominan dibandingkan dengan peran pemerintah.
Mengapa harus seperti itu?
Kalau kita identifikasi peran pemerintah dalam perekonomian adalah sebagai regulator dan pembuat kebijakan.

Peran swasta adalah pelaksana dan penggerak perekonomian. Sedangkan masyarakat sebagai pelaku berfungsi mengawasi pelaksanaan kebijakan pemerintah.

Oleh karena itu, di sini pe nulis BISNIS/ILHAM NISABAN menitikberatkan pada peran pengusaha/swasta sebagai peng gerak perekonomian, khususnya pengusaha muda. Mangapa peran pengusaha muda begitu perting?
Jawabannya karena mereka merupakan cikal bakal pengusa ha yang akan membalik paradig ma Indonesia. Saat ini paradigma pembangunan nasional adalah pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh besarnya belanja pemerintah.
Berperan ganda Pengusaha muda dapat berperan ganda yaitu di satu sisi sebagai pengger ak perekonomian, di sisi lain juga sebagai pengawas jalannya roda perekonomian.

Pengusaha muda diharapkan dapat men jadi cikal bakal peng usaha yang memegang role/ peranan penting dalam perekonomian nasional–walaupun mere ka identik dengan istilah UMKM (usaha mikro kecil dan menengah).
A Peran pengusaha muda juga siknifikan karena dapat meng gerakkan perekonomian, khu susnya di daerah yang luput dari perhatian pemerintah pusat.

Label pengusaha kecil jangan membuat para pengusaha muda terlena. Memang istilah pengusa ha UMKM sebaiknya diganti dengan UBB (usaha bakal besar) di mana akan menimbulkan semangat yang lebih tinggi dari para pengusaha untuk memacu diri menggapai yang terbaik.

Ke depan, pengusaha muda diharapkan semakin berperan dalam menjalankan perekonomian dengan tetap memegang prinsip melakukan yang terbaik untuk bangsa dan negara.

Setiap usaha yang dilakukan oleh pengusaha tidak akan optimal jika tidak ada dukungan yang baik dari pemerintah.
Peran pemerintah di sini dapat dibagi dua jenis yaitu sebagai regulator dan sebagai penyedia layanan serta fasilitas.

Sebagai regulator, pemerintah harus menjamin terciptanya iklim usaha yang baik dan keamanan yang kondusif untuk mendorong peningkatan investasi di dalam negeri.

Pemerintah juga diharapkan mampu melakukan pembenahan terhadap infrastruktur dan fasilitas publik yang menentukan kelancaran operasional perusahaan baik untuk sektor privat maupun pemerintah itu sendiri.

Salah satu caranya adalah pemerintah melakukan pendekatan money follow function.
Setiap pajak atau retribusi yang dibayarkan oleh masyarakat-yang menggunakan fasilitas negara–dipakai untuk merawat dan membangun fasilitas tambahan, sehingga ada kesediaan yang tinggi dari masyarakat untuk selalu menjalan kan setiap kewajibannya kepada negara.

Dua hal tadi semestinya diperhatikan oleh pemerintah supaya ada kesinambungan dan hubungan mutualisme antara pemerintah dan swasta.

Karena semakin besar sekup usaha sektor swasta, maka secara tidak langsung akan meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak.

Dengan demikian, pergerakan ekonomi yang dilakukan sektor swasta bisa mengurangi jumlah pengangguran, sehingga dapat meningkatkan indikator pertumbuhan ekonomi nasional. Setiap artikel yang dikirim ke redaksi hendaknya diketik dengan spasi ganda maksimal 5.000 karakter, disertai riwayat hidup (curriculum vitae) singkat tentang diri penulis. Artikel yang masuk merupakan hak redaksi Bisnis Indonesia dan dapat diterbitkan di media lain yang tergabung dalam Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI). Apabila lebih dari 1 minggu artikel yang diterima belum diterbitkan tanpa pemberitahuan lain dari redaksi, penulis berhak mengirimkannya ke media lain. Setiap tulisan yang dimuat merupakan pendapat pribadi penulis.

long jump icon
… gw SETUJU ABIS DENGAN RENCANA BERIKUT:
Setelah Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) menetapkan peraturan tentang Pengeluaran saham dengan nominal saham berbeda, institusi ini mempunyai rencana besar untuk menghapuskan nilai nominal saham. Bapepam LK berpikir, nilai nominal saham berbeda tidak relevan di pasar modal.

Menurut Fuad Rachmany, Ketua Bapepam LK, nilai nominal bukanlah hal penting. “Mau nominal Rp 50, Rp 100, Rp 300, it’s doesn’t matter,” katanya. Menurut Fuad, ke depannya, Bapepam LK akan mengarah pada penghapusan nilai harga nominal.

Tapi sayang, belum ada pembahasan secara gamblang mengenai hal ini. Jika rencana tersebut dijalankan, akan banyak hal yang harus diubah pada aturan pasar modal. Sejatinya, nominal saham ini berguna untuk menentukan modal perusahaan.

Ketua Asosiasi Emiten Indonesia, Erlangga Hartanto menjelaskan, semua perusahaan punya nominal saham untuk penentuan modal perusahaan. “Tanpa nominal saham, besaran modal menjadi tidak jelas,” terang Erlangga. Sehingga, dia menilai, penghapusan nilai nominal saham akan menjadi masalah tersendiri nantinya.

Penerbitan nilai nominal saham biasanya dilakukan di awal pendirian perusahaan. Atau bisa juga dilakukan pada aksi korporasi lain yang berkaitan dengan saham. Hanya pada saat IPO, saham bisa dibedakan menjadi beberapa kelas. Misalnya saham kelas A dan B dengan nilai nominal berbeda. Fungsi dari nominal saham berbeda ini, menurut Erlangga, untuk membedakan founder shareholder dan strategic investor pada saat rights issue.

Sumber : KOMPAS.COM

long jump icon

Selasa, 16/11/2010 07:40 WIB
Wall Street ‘Ramai’ oleh Kabar Akuisisi
Nurul Qomariyah – detikFinance

New York – Saham-saham di bursa Wall Street ditutup mixed, di tengah beragamnya data dan juga mencuatnya sejumlah rencana merger dan akuisisi. Indeks saham beragam dalam transaksi perdagangan yang sangat tipis.

Mengawali perdagangan, saham-saham sempat bergerak menguat setelah data menunjukkan angka penjualan ritel meningkat lebih cepat dari ekspektasi selama Oktober. Sektor otomotif memimpin penjualan. Menurut BPS AS, sektor ritel dan jasa makanan meningkat 1,2% dibandingkan September menjadi lebih dari US$ 373 miliar. Angka itu juga lebih tinggi dari ekspektasi analis sebesar 0,7%.

“Secara keseluruham, laporan angka penjualan ritel adalah data kunci lain yang menyatakan perekonomian AS berada pada jalur pertumbuhan yang menjadi potensi untuk menghasilkan beberapa kejutan positif,” ujar Patrick O’Hare, analis dari Briefing.com seperti dikutip dari AFP, Selasa (16/11/2010).

Pada perdagangan Senin (15/11/2010), indeks Dow Jones ditutup menguat tipis 9,39 poin (0,08%) ke level 11.201,97. Indeks Standard & Poor’s 500 melemah 1,46 poin (0,12%) ke level 1.197,75 dan Nasdaq melemah 4,39 poin (0,17%) ke level 2.513,82.

Namun sentimen itu selanjutnya tergerus oleh data yang menunjukkan sektor manufaktur negara bagian New York yang secara mengejutkan merosot selama November. Ini adalah pertama kalinya terjadi kontraksi sejak Juli 2009, ketika perekonomian AS mulai keluar dari resesi.

Para pialang juga mendapatkan sentimen dari rencana akuisisi Caterpillar senilai US$ 8,6 miliar. Produsen alat berat terbesar dunia itu menyatakan akan membeli Bucyrus International dalam sebuah kesepakatan untuk memasuki pasar emerging. Saham Bucyrus langsung melonjak 30%, saham Caterpillar naik 1%.

Kabar akuisisi lain adalah produsen alat penyimpan data EMC yang mengatakan akan membeli rivalnya, Isilon senilai US$ 2,2 miliar. Saham EMC turun 1,2% dan Isilon melonjak 28,5%.

Saham BHP Billiton melonjak 0,8% setelah raksasa pertambangan itu mengumumkan telah membatalkan rencana akuisisi produsen pupuk Potash senilai US$ 39 miliar.

Namun perdagangan berjalan sangat tipis dengan transaksi di New York Stock Exchange hanya sebesar 6,71 miliar lembar saham, di bawah estimasi rata-rata tahun lalu yang sebesar 9,65 miliar lembar saham.

(qom/qom)

long jump icon

Senin, 15/11/2010 05:24:33 WIB
40 Emiten diminta tambah porsi saham publik
Oleh: Stefanus Arief Setiaji
JAKARTA: Bursa Efek Indonesia (BEI) mendorong sekitar 40 emiten dengan porsi saham publik di bawah 10%, untuk melepas kepemilikannya melalui skema rights issue, seiring bergairahnya pasar modal dalam negeri.

Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan himbauan kepada para emiten tersebut sudah disampaikan sejak tahun lalu dengan tujuan agar valuasi saham emiten tersebut meningkat dan terbentuk harga saham yang wajar.

“Kami sudah himbau sekitar 40 emiten yang kepemilikan publiknya masih di bawah 10% untuk meningkatkan porsinya. Ada beberapa yang sudah menambah. Ini sifatnya himbauan,” ujarnya.

Menurut dia, para emiten ini harus memanfaatkan momentum pasar modal dalam negeri yang tengah bergairah, ditandai dengan semakin maraknya perusahaan yang mengincar dana segar melalui instrumen pasar bursa.

Selain itu, dia menuturkan bursa Indonesia tengah dibanjiri dana dari para investor asing yang memilih melakukan investasi di Indonesia. “Kenapa kita dorong untuk melepas porsi kepemilikannya, karena saat ini momentumnya tepat ketika banyak dana yang mengalir di pasar modal,” ungkapnya.

Sebagai gambaran, Ito membandingkan selisih beli oleh investor asing (net foreign buy) per September tahun ini mencapai lebih dari Rp20 triliun. Artinya, investor asing yang menanamkan modal di pasar bursa Indonesia optimistis dengan perkembangan pasar saat ini, sehingga tidak menarik modalnya secara cepat.

Jika mengacu data Januari-Oktober 2010, net foreign buy telah mencapai Rp20,88 triliun. Sejumlah emiten yang porsi kepemilkan saham publiknya masih di bawah 10% di antaranya PT Bank Agroniaga Tbk, PT HM Sampoerna Tbk, PT Aqua Golden Mississipi Tbk, PT Asuransi Bintang Tbk dan lainnya.(yn)

long jump icon

What You Should Know Before You Retire
Experts share some of the best ways to plan for retirement in a post-recession world.
by Julie HalpertNovember 11, 2010
Angela Jimenez / Getty Images

By the end of 2010 roughly 2.3 million people are expected to retire, according to the Social Security Administration. But on the heels of one of the country’s worst economic crises, this group of future retirees is facing far grimmer golden years. Instead of looking forward to ritualistic rounds of golf and travel to exotic places, many of them find themselves concerned that their money may not hold out for the duration of their life. According to a 2010 survey by the Employee Benefit Research Institute, 35 percent of Americans—up from 30 percent just a year ago—feel financially ill-prepared for retirement. “A distressing number [of Americans] have no savings at all,” says Jack VanDerhei, a coauthor of the survey. So how can you be sure you’re in the best position to take the plunge and leave the workforce? NEWSWEEK consulted a variety of experts, who shared some of the best ways to plan for retirement in a post-recession world.

Run a projection.
You need to know what your retirement expenses will be, and that your retirement income will cover them. There are two good ways to do this: use a retirement calculator or hire a certified financial adviser. If you plan to use a calculator, Teresa Ghilarducci, Bernard Schwartz professor of economics at the New School for Social Research, suggests using ones that presumes a zero rate of return on investments. Some good examples can be found at Choose to Save and at AARP. Or check to see whether your financial-services provider offers a calculator that can preload your information. If you would rather have a professional do the work, then consider hiring a fee-for-service financial adviser.

Once you pick a way to get projections, it’s important to distinguish between guaranteed sources of income, like pensions, and those that fluctuate over time, like 401(k)s, says Jean Setzfand, director of financial security for AARP. Then make sure the guaranteed income sources can cover your basic living expenses, like home-maintenance costs, food, and medicine.

Assess future health-care costs
According to a recent University of Michigan Law School study, medical costs are a major contributor to bankruptcy among older Americans. So it’s critical to pay special attention to this expense. Setzfand says that an important part of planning for long-term care is deciding how you’ll pay for it, since Medicare coverage will not cover most of these services. For help with the process of factoring in these costs, an estate attorney or a financial planner is the best bet.

Pay down debt.
Don’t even think about retirement until you can pay down any nondeductible debt you have, such as credit cards and car loans, says Bill Losey, a certified financial planner. If possible, Losey suggests you also pay off your mortgage, but if you can’t, make sure it’s your only outstanding debt.

Consider downsizing.
For most people, their house is their largest asset and biggest expense. Selling it and moving to a smaller residence frees up money, plus it saves on real-estate taxes, insurance, and maintenance costs, says Steven Sass, program director for the Center for Financial Literacy at Boston College. You could also consider relocating to an area with a lower cost of living, like the Sun Belt. Although it’s not the best time to sell, your home may still be worth more than one in another area. By moving from San Diego to Arizona, for example, you can reduce your cost of living by 40 percent, says Jonathan Pond, AARP’s financial ambassador.
Got God, Need Job A Connecticut church offers job seekers sandwiches, support, and networking, while a Jewish congregation encourages reluctant entrepreneurs

Hit the reset button on retirement.
There are several reasons to postpone retirement, the biggest being an added layer of safety to your nest egg. Already, the economy has caused the average person to delay retirement for three to five years, says Jim Firman, president and CEO of the National Council on Aging. But it can really pay off. For example, you can double your monthly income from Social Security and retirement by delaying retirement for eight years. Don’t want a full-time job? Working part time for an additional five years can increase your total post-retirement lifetime income by 40 percent.

Make a post-retirement résumé.
If everything goes according to plan and you retire with a comfortable amount of savings, you should still update your résumé in case you need to re-enter the workforce. John Nelson, author of What Color Is Your Parachute? For Retirement, suggests turning your leisure pursuits into transferable skills. For example, you can emphasize the leadership abilities you developed by running a local committee or club. Also, stay in touch with your professional network since you’re more likely to find a better job through your previous work contacts.

Jesse Palti Tampubolon

long jump icon

Jangan Takut Bermain Saham
inilah.com/Ahamad Munjin
Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Rabu, 10 November 2010 | 18:18 WIB
INILAH.COM, Jakarta – Jesse Palti Tampubolon, nasabah BNI Securities mengharapkan masyarakat agar tidak takut bermain saham. Sebab, rasa takut justru menyebabkan orang jauh dari pasar.

Orang jangan terlalu takut bertransaksi saham. Waspada boleh untuk masuk ke pasar modal. Jangan melihat pasar modal menakutkan sehingga harus menghindar, kata Jesse Palti Tampubolon, nasabah BNI Securities kepada INILAH.COM di sela acara Investor Summit & Capital Market Expo 2010, di The Ritz-Carlton Pacipic Place, Jakarta, Rabu (10/11).

Menurutnya, banyak orang yang merasa tidak cocok dengan atmosfir pasar modal. Terutama dari sisi transaksi atau mekanisme perdagangan, serta risiko yang terlalu tinggi. Namun, ia menilai hal ini disebabkan cara pandang masyarakat Indonesia yang belum mencakup semua aspek di pasar modal.
Karena itu, mereka terkendala untuk masuk ke pasar modal, ucapnya.

Jesse mengakui, calon investor kerap merasa, bahwa berinvestasi di saham selalu dibayangi adanya pihak yang bermain. Kekhawatiran akan isu goreng saham atau insider trading kadang jadi penghambat mereka masuk ke pasar modal, Padahal, itu belum tentu terbukti, ucapnya.

Ia pun memberi contoh aksi menimbun aset, yang sering ditakutkan calon investor, tidak hanya terjadi di pasar modal. Namun juga di sektor riil. Biasanya kan kita juga dengar ada yang menimbun barang di gudang kan. Sama saja itu,ucapnya.

Karena itu ia mengharapkan media bisa mendorong agar nasabah lebih memahami sudut demi sudut pasar modal. Di antaranya, dengan memberikan informasi bursa dari bursa-bursa regional, pusat keuangan dunia, Eropa, dan produk apapun yang bisa men-triger pasar. Artinya, informasi-informasi itu perlu masyarakat umum tahu. Informasi dari media sangat berharga. Media juga harus mengetahui prioritas informasi yang harus diberikan ke masyarakat pasar modal, ungkapnya.

Bagaimanapun, Jesse menilai, transaksi di pasar modal merupakan pilihan dan tergantung bagaimana investor menyikapinya. Kalau ingin gain yang cepat dan banyak, pasar modal bisa untuk investasi. Tapi kalau ingin transaksi yang smooth , pasar modal kurang pas, tutupnya. [ast]

long jump icon

Kembangkan Aset dengan Wealth Management
Rabu, 10 November 2010 – 10:24 wib

Bagi kalangan berduit, mengelola kekayaan yang jumlahnya relatif besar merupakan sebuah perkara yang tidak mudah. Layanan wealth management bisa jadi solusinya.

Perencana Keuangan dari Financial Consulting Eko Endarto mengungkapkan, pada dasarnya wealth management hampir sama dengan perencanaan keuangan. Hanya saja difokuskan kepada masyarakat yang memiliki penghasilan besar dengan fokus bukan saja investasi tetapi juga ingin mengembangkan aset.

Menurut Eko, saat ini masyarakat mudah untuk mendapatkan layanan wealth management, pasalnya hampir semua perbankan memiliki produk wealth management. Produk yang dikeluarkan tentu lebih bersifat personal. “Tentu saja, untuk golongan masyarakat ini, perbankan memberikan berbagai fasilitas khusus dan memadai,” katanya kemarin.

Kondisi ini, kata dia, sangat berbeda dengan yang terjadi di luar negeri. Di mana masyarakatnya lebih menyukai mempergunakan jasa lembaga independen wealth management yang dianggap lebih bebas dari kepentingan. “Padahal belum tentu sesuai dengan profil investasi nasabah,” paparnya.

Eko menjelaskan, masyarakat bisa saja mengelola sendiri kekayaan yang dimilikinya tanpa mempergunakan jasa lembaga perbankan. Namun, karena keterbatasan waktu yang dimiliki masyarakat, maka ada baiknya kekayaan tersebut dikelola pada institusi yang tepat.

“Belum ditambah dengan minimnya informasi sehingga kalau salah menempatkan kekayaan yang dimiliki, malah akan mengurangi nilai kekayaan. Itulah kenapa dibutuhkan strategi planner yang mumpuni,” katanya.

Dengan menempatkan kekayaan pada lembaga wealth management, lanjut dia, masyarakat bisa lebih mengetahui risiko-risiko yang dihadapi. Khususnya berbagai produk yang bisa menghasilkan keuntungan lebih tinggi dari pada tingkat inflasi. ”Bisa reksa dana, produk derivatif atau properti,” bebernya.

Perencana keuangan dari Mr Edu Mike Rini menerangkan, jasa di bidang wealth management ada karena banyak orang kaya yang ingin mengembangkan kekayaannya.

Untuk itu, perbankan sebagai produsen layanan wealth management harus menciptakan fitur layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah. Menurut Rini, pada tahun depan, produk wealth management yang masih dicari adalah yang bisa meningkatkan pertumbuhan kekayaan, namun tetap aman. Beberapa produk yang menawarkan hal seperti itu adalah fix income dan obligasi.

Dihubungi terpisah, Chief Research Officer Capital Price Roy Sembel menjelaskan, pendapatan perkapita penduduk Indonesia sudah semakin meningkat, bahkan diperkirakan mencapai USD3.000.

Tentu tidak salah kalau, semakin banyak masyarakat yang mengamankan kekayaannya kepada lembaga wealth management. ”Produk standar seperti tabungan dan deposito sudah tidak menarik lagi. Bunganya rendah dan kalah dari tingkat inflasi,” ungkapnya.

Kalaupun mempergunakan tabungan, kata dia, itu hanya untuk kepentingan jangka pendek. Sedangkan jangka panjang mempergunakan produk wealth management. Misalkan produk asuransi, atau futures. Bahkan untuk melengkapi hidupnya, sejumlah kalangan masyarakat juga mulai mengikuti perusahaan jasa warisan.

Tujuannya agar kelak, anak-anaknya bisa menikmati dan mewarisi kekayaan yang dimiliki. Ada baiknya masyarakat tidak hanya mengelola kekayaan yang dimiliki pada produk wealth management, tapi juga masuk ke sektor riil, seperti pertambangan dan komoditas. Agar ada keseimbangan dan keuntungan yang diperoleh bisa lebih maksimal.

”Saya selalu mengatakan perlu ada diversifikasi dalam mengelola kekayaan. Masuk ke sektor riil juga merupakan salah satu bentuk diversifikasi,” katanya. (hermansah/didik purwanto)(Koran SI/Koran SI/ade)

long jump icon

Enam Kiat Miliarder Top Yang Bisa Ditiru
Mereka bisa berfoya-foya dengan uang yang mereka miliki. Namun, mereka memilih hemat.
Selasa, 9 November 2010, 05:00 WIB
Antique, Nur Farida AhniarVIVAnews – Miliarder memang identik dengan kepemilikan uang “segunung”. Mereka bisa membelanjakan kekayaannya atau berfoya-foya sesuka hati. Bahkan, seolah-olah tak bakal habis meski sang miliarder sudah tutup usia.Simak saja misalnya, Carlos Slim Helu, konglomerat di bidang telekomunikasi. Menurut majalah Forbes, ia memiliki kekayaan US$60,6 miliar. Dengan asumsi tidak ada perubahan kekayaan, ia bisa menghabiskan US$1.150 per menit hingga 100 tahun ke depan sebelum ia kehabisan uang.Namun, Carlos memilih hidup berhemat. Dia, seperti beberapa contoh miliarder top dunia lainnya, juga tidak gemar berfoya-foya menghabiskan uangnya. Bahkan, beberapa sikap dan perilaku miliarder pun bisa dicontoh. Berikut beberapa contoh yang bisa ditiru:1. Tetap tinggal di rumah sederhanaSeorang miliarder mampu tinggal di apartemen yang paling ekslusif lebih dari yang Anda bayangkan. Seperti Bill Gates yang memiliki luas rumah 66.000 kaki persegi, senilai US$147,5 juta di Medina-Washington.Namun miliarder hemat seperti Warren Buffet memilih untuk tetap tinggal di rumah yang sederhana. Ia tinggal di rumah dengan lima kamar tidur di Omaha yang dibeli pada 1957 sebesar US$31.500.2. Gunakan transportasi publikMiliarder hemat seperti John Caudwell, David Cheriton dan Chuck Feeney memilih untuk jalan kaki, mengendarai sepeda, dan menggunakan transportasi publik untuk berkeliling kota.Tentu saja orang kaya itu bisa menggunakan helikopter untuk pertemuan jamuan makan siang atau naik mobil Bentleys dengan dikemudikan sopir, namun mereka memilih sedikit berolahraga atau menggunakan angkutan umum. Ini menguntungkan untuk berhemat, sekaligus juga baik untuk lingkungan.3. Membeli pakaian dari rak malBeberapa orang memakai pakaian dengan disainer ternama, namun beberapa miliarder hemat memutuskan menggunakan baju simpel, karena menurutnya baju yang mahal tidak sebanding dengan usaha mereka.Anda dapat menemukan Cheriton, profesor Stanford, pendiri Google Sergey Brin dan Larry Page yang mengenakan jins dan T shirt.Invard Kampard, pendiri perusahaan furnitur Ikea juga menghindari memakai jas, dan miliarder ponsel Caudwell membeli pakaiannya dari rak toko baju dibanding menghabiskan kekayaan dari perancang.4. Gunakan salon biasa untuk memotong rambut.

Biaya rata-rata untuk memotong rambut sekitar US$45 di Amerika, namun orang kaya dapat menghabiskan US$800 untuk mengganti model rambut. Jika dikalikan setiap enam minggu selama satu tahun, maka akan menghabiskan US$7.200. Itu tidak termasuk dengan tip.

Para miliarder itu dapat mengganti model rambutnya dengan mode paling gaya dan tarif mahal di salon mewah. Tetapi, miliarder seperti Caudwell dan Cheriton memilih memotong rambut sendiri di rumah.

5. Mengendarai mobil biasa

Sementara itu, miliarder seperti Larry Ellison (pendiri dan CEO Oracle) gemar menghabiskan jutaan uang untuk mobil, kapal, dan pesawat tapi yang lain tetap rendah hati dengan menggunakan kendaraan pilihannya.

Jim Walton (keluarga Wal Mart) mengendarai truk pick up selama 15 tahun. Azin Preji, taipan India mengendarai Toyota Corolla. Sedangkan Kamprad dari Ikea, mengendarai mobil volvo selama 10 tahun.

Mereka berpendapat, daripada untuk membeli mobil, lebih baik memilih membeli tanah. Tidak perlu mengendari mobil yang berganti dalam seminggu.

6. Hindari membeli barang mewah

Mungkin ini mengejutkan bagi kita, namun orang terkaya di dunia, Slim-orang yang bisa menghabiskan lebih dari US$1.000 per menit ternyata tidak memiliki kapal pesiar atau pesawat.

Namun, banyak miliarder lainnya memilih menghindari barang mewah. Buffet juga menghindari barang mewah kendati materi berlimpah. Menurutnya, “mainan itu kebanyakan menyebabkan sakit leher.”
• VIVAnews

long jump icon

Enam Kiat Miliarder Top Yang Bisa Ditiru
Mereka bisa berfoya-foya dengan uang yang mereka miliki. Namun, mereka memilih hemat.
Selasa, 9 November 2010, 05:00 WIB
Antique, Nur Farida Ahniar

VIVAnews – Miliarder memang identik dengan kepemilikan uang “segunung”. Mereka bisa membelanjakan kekayaannya atau berfoya-foya sesuka hati. Bahkan, seolah-olah tak bakal habis meski sang miliarder sudah tutup usia.

Simak saja misalnya, Carlos Slim Helu, konglomerat di bidang telekomunikasi. Menurut majalah Forbes, ia memiliki kekayaan US$60,6 miliar. Dengan asumsi tidak ada perubahan kekayaan, ia bisa menghabiskan US$1.150 per menit hingga 100 tahun ke depan sebelum ia kehabisan uang.

Namun, Carlos memilih hidup berhemat. Dia, seperti beberapa contoh miliarder top dunia lainnya, juga tidak gemar berfoya-foya menghabiskan uangnya. Bahkan, beberapa sikap dan perilaku miliarder pun bisa dicontoh. Berikut beberapa contoh yang bisa ditiru:

1. Tetap tinggal di rumah sederhana

Seorang miliarder mampu tinggal di apartemen yang paling ekslusif lebih dari yang Anda bayangkan. Seperti Bill Gates yang memiliki luas rumah 66.000 kaki persegi, senilai US$147,5 juta di Medina-Washington.

Namun miliarder hemat seperti Warren Buffet memilih untuk tetap tinggal di rumah yang sederhana. Ia tinggal di rumah dengan lima kamar tidur di Omaha yang dibeli pada 1957 sebesar US$31.500.

2. Gunakan transportasi publik

Miliarder hemat seperti John Caudwell, David Cheriton dan Chuck Feeney memilih untuk jalan kaki, mengendarai sepeda, dan menggunakan transportasi publik untuk berkeliling kota.

Tentu saja orang kaya itu bisa menggunakan helikopter untuk pertemuan jamuan makan siang atau naik mobil Bentleys dengan dikemudikan sopir, namun mereka memilih sedikit berolahraga atau menggunakan angkutan umum. Ini menguntungkan untuk berhemat, sekaligus juga baik untuk lingkungan.

3. Membeli pakaian dari rak mal

Beberapa orang memakai pakaian dengan disainer ternama, namun beberapa miliarder hemat memutuskan menggunakan baju simpel, karena menurutnya baju yang mahal tidak sebanding dengan usaha mereka.

Anda dapat menemukan Cheriton, profesor Stanford, pendiri Google Sergey Brin dan Larry Page yang mengenakan jins dan T shirt.

Invard Kampard, pendiri perusahaan furnitur Ikea juga menghindari memakai jas, dan miliarder ponsel Caudwell membeli pakaiannya dari rak toko baju dibanding menghabiskan kekayaan dari perancang.

4. Gunakan salon biasa untuk memotong rambut.

Biaya rata-rata untuk memotong rambut sekitar US$45 di Amerika, namun orang kaya dapat menghabiskan US$800 untuk mengganti model rambut. Jika dikalikan setiap enam minggu selama satu tahun, maka akan menghabiskan US$7.200. Itu tidak termasuk dengan tip.

Para miliarder itu dapat mengganti model rambutnya dengan mode paling gaya dan tarif mahal di salon mewah. Tetapi, miliarder seperti Caudwell dan Cheriton memilih memotong rambut sendiri di rumah.

5. Mengendarai mobil biasa

Sementara itu, miliarder seperti Larry Ellison (pendiri dan CEO Oracle) gemar menghabiskan jutaan uang untuk mobil, kapal, dan pesawat tapi yang lain tetap rendah hati dengan menggunakan kendaraan pilihannya.

Jim Walton (keluarga Wal Mart) mengendarai truk pick up selama 15 tahun. Azin Preji, taipan India mengendarai Toyota Corolla. Sedangkan Kamprad dari Ikea, mengendarai mobil volvo selama 10 tahun.

Mereka berpendapat, daripada untuk membeli mobil, lebih baik memilih membeli tanah. Tidak perlu mengendari mobil yang berganti dalam seminggu.

6. Hindari membeli barang mewah

Mungkin ini mengejutkan bagi kita, namun orang terkaya di dunia, Slim-orang yang bisa menghabiskan lebih dari US$1.000 per menit ternyata tidak memiliki kapal pesiar atau pesawat.

Namun, banyak miliarder lainnya memilih menghindari barang mewah. Buffet juga menghindari barang mewah kendati materi berlimpah. Menurutnya, “mainan itu kebanyakan menyebabkan sakit leher.”
• VIVAnews

… he3, kok mirip yang gw anut seh 🙂

Iklan
 

cinta terlarang: Warren Buffett with love as always… 26 September 2017

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 1:23 am

rounding pen

marketwatch: An “efficient” stock market is a fair game in the sense that no investor can beat the market because they know something other investors don’t know. The so-called efficient market hypothesis, for instance, essentially states that what anyone knows isn’t worth knowing. The presumption is that stock prices take into account all information so that no investor can take advantage of other people’s ignorance.

Some investors do compile outstanding records. However, consider this coin-calling experiment: Suppose there are 32 players and half predict “heads” for the first flip while half predict tails. The coin is flipped and lands heads, making the first half right. The 16 people who were right then predict a second flip, with half saying heads and the other half tails. It comes up tails and the eight who have been right twice in a row now try for a third time. Again, half of them predict heads and half tails, and the coin lands tails again.

Now the remaining four who were right divide again on whether the next flip will be heads or tails. The result is tails and we’re down to two. One calls heads and the other tails. It is heads and we have our winner — the one who correctly predicted five in a row. Are you confident that this winner will call the next five flips correctly?

Some investors surely are more skilled than lucky. Their records mostly are brief, mixed, or exaggerated, and there is no sure way to separate the talented from the lucky and the liars. The stock market is not all luck, but it is more luck than nervous investors want to hear or successful investors want to admit.

That’ s because while some investors may substantially overestimate the value of a stock, other investors will err in the other direction and these errors will balance out so that the collective judgement of the crowd is close to the correct value.

The wisdom of crowds has a lot of appeal. The classic example is a jelly-bean experiment conducted by finance professor Jack Treynor. He showed 56 students a jar containing 850 jelly beans and asked them to write down how many beans they thought were in the jar. The average guess was 871, an error of just 2%. Only one student did better. This experiment has been cited as evidence that the average opinion of the value of a stock is likely to be close to the “correct” value.

Yet the analogy is not apt. As Treynor noted, the student guesses were made independently and had no systematic bias. When these assumptions are true, the average guess will, on average, be closer to the true value than are the majority of the individual guesses. That is a mathematical fact.

But it is not a fact if those assumptions are wrong. After the initial student guesses were recorded, Treynor advised the students that they should allow for air space at the top of the bean jar and that the plastic jar’s exterior was thinner than a glass jar. The average estimate increased to 979.2, an error of 15%. The many were no longer smarter than the few. Treynor wrote that, “Although the cautions weren’t intended to be misleading, they seem to have caused some shared error to creep into the estimates.”

 

Majority of Wall Street CFOs believe this stock market is “bubblicious”
There is a lot of shared error in the stock market. Investor opinions are not formed independently and are not free of systematic biases. Stock prices are rooted in fads, fancies, greed, and gloom — what economist John Maynard Keynes called “animal spirits.” Contagious mass psychology causes not only pricing errors, but speculative bubbles and unwarranted panics. Because of these human emotions, the stock market is only semi-efficient, which is good news for value investors — if they can control their emotions.

There is a crucial difference between possessing information and processing information. Possessing information is knowing something that others do not know. Processing information is thinking more clearly about things we all know.

Warren Buffett has not beaten the market for decades by having access to information that was not available to others, but by thinking more clearly about information available to everyone.

I once debated the efficient market hypothesis with a prominent Stanford University professor. I said that Buffett proves the market could be beaten by processing information better than other investors. The professor’s response was immediate and dismissive, “Enough monkeys hitting enough keys….”

He was referring the classic “infinite monkey theorem,” a version of which states that a handful of monkeys pounding away at typewriters will eventually write every book that humans have ever written. The Stanford professor’s argument was that so many people have been buying and selling stocks over so many decades, one person is bound to have been so much luckier than the rest as to appear to be a genius — when he is really just a lucky monkey.

I am unpersuaded. I have a personal interest in believing that some investors process information better than others, just as is true of doctors and lawyers. My belief in Buffett is fortified by the fact that, unlike monkeys, Buffett makes sense. His annual reports to shareholders of Berkshire Hathaway BRK.A, -0.03% BRK.B, -0.04% are exceptionally wise and well-written. They are also his own opinions, not a repackaging of what others are saying.

Other investors have prospered by watching the crowd and doing the opposite. In May 1932, with U.S. stock prices then at their lowest level, Dean Witter sent a memo to his company’s brokers and management saying: “All of our customers with money must some day put it to work — into some revenue-producing investment. Why not invest it now, when securities are cheap? Some people say they want to wait for a clearer view of the future. But when the future is again clear, the present bargains will have vanished. In fact, does anyone think that today’s prices will prevail once full confidence has been restored?”

That’s exactly right. Stock-market bargains appear when investors are pessimistic, not optimistic. In Buffett’s memorable words, “Be fearful when others are greedy and greedy when others are fearful.”

Fear, greed, and other human emotions often cause stock prices to overreact
Fear, greed, and other human emotions often cause stock prices to overreact, surging too high after good news and plunging too far after bad news. If investors’ emotions and herd-like instincts push stock prices too far up or down, then perhaps the road to investment success is to do the opposite. A contrarian strategy can be applied to individual stocks (buying the least-popular stocks and avoiding the most popular) and to the market as a whole (buying when other investors are the most bearish and selling when they are the most bullish).

Value investing is often an implicitly contrarian strategy. When the market overreacts and dislikes a stock too much, the price is too low relative to the company’s dividends, earnings, and assets — which makes it an attractive value investment. When the market likes a stock too much, value investors stay away.

The stock market is semi-efficient. You can’t beat the market based on news stories. But you can beat the market by resisting fear, greed, and animal spirits.

Gary Smith is the Fletcher Jones Professor of Economics at Pomona College and author of Money Machine: The Surprisingly Simple Power of Value Investing.

rose KECIL

KONTAN.CO.ID – Besok, 30 Agustus 2017, guru investasi Warren Buffett akan merayakan hari ulang tahunnya ke-87. Meskipun Buffett kian mendekati dekade ke-10 dalam hidupnya, bisnis sang miliarder belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

Pada tahun lalu, misalnya, dia berhasil mencetak pendapatan US$ 12 miliar. Dan sepanjang 2017, pendapatannya hampir mencapai US$ 2 miliar. Hal ini menjadikan Buffett sebagai satu dari lima orang terkaya di dunia.

Bagaimana dia berhasil mencetak semua uang tersebut? Well, dia adalah pimpinan Berkshire Hathaway, perusahaan konglomerasi multinasional. Pada dasarnya, Buffett dan perusahaannya memilih perusahaan lain untuk dibeli dan investasi. Beberapa perusahaan yang mereka akuisisi cukup terkenal. Sebut saja Benjamin Moore, Dairy Queen dan Geico.

Dalam lima tahun terakhir, saham-saham kelas B Berkshire yang harganya mencapai US$ 180 per saham, sudah meroket lebih dari 100%. Sementara harga saham kelas A Berkshire yang mencapai US$ 270.000.

Pada periode yang sama, indeks Dow Jones Industrial Average hanya melompat 65%. Buffett sendiri diestimasi memiliki kekayaan bersih lebih dari US$ 77 miliar. Apa rahasianya?

Jika Anda ingin seperti Buffett, berikut ada beberapa tips yang kerap diungkapkan sang miliarder di beberapa kesempatan. Tips ini bisa dijadikan pegangan untuk berinvestasi karena berlaku sepanjang masa.

1. “Mencoba merasa takut saat yang lain tamak, dan menjadi tamak saat orang lain takut.” (Buffett, 2004, dalam surat pimpinan Berkshire Hathaway dalam laporan keuangan tahunan)

Kemungkinan, quote ini merupakan quote yang paling terkenal dari Buffett-ism. Quote ini merupakan kata lain dari quote investasi yang paling populer, “Beli saat rendah, jual saat tinggi.”

Investor acapkali melakukan hal yang sebaliknya karena mentalitas yang kuat. Berbeda dengan kebanyakan orang yang secara psikologis selalu melakukan hal yang dilakukan orang banyak. Namun, menjadi orang yang berbeda bisa jadi sangat mencolok. Sebagai contoh, saat kejadian tertentu membuat investor lain hengkang dari market, Anda harus menggunakan kesempatan tersebut untuk membeli saham-saham berkualitas yang tengah terdiskon.

2. “Baik investor besar maupun kecil harus tetap menggunakan indeks dana berbiaya rendah.” (Buffett, 2016, dalam surat pimpinan Berkshire Hathaway dalam laporan keuangan tahunan)

Buffett bisa jadi merupakan pemilih saham yang terbaik. Namun ia masih mengakui kekuatan investasi sederhana dengan berpatokan pada indeks fund S&P 500 yang murah. Pada faktanya, dia sangat meyakini pendekatan ini sehingga dia bertaruh uang US$ 1 juta berdasarkan indeks ini.

Mengapa dia begitu yakin bahwa investasi pasif bisa mengalahkan manajer investasi yang aktif? Singkatnya, biaya. Dia menjelaskan, banyak manajer investasi profesional mengenakan biaya lebih besar dari yang bisa mereka dapatkan sebagai imbalan untuk klien mereka. Anda lebih baik menyimpan semua keuntungan dari seluruh indeks fund untuk diri sendiri.

3. “Investor masa kini tidak mengambil keuntungan dari pertumbuhan kemarin.” (Buffett, The Security I Like Best, December 6, 1951)

Nasehat lama ini mengingatkan kita bahwa performa masa lalu bukanlah jaminan atas hasil masa depan. Sehingga, Anda tidak bisa bergantung invetasi yang baik akan terus berlangsung. Sebaliknya, lihat masa depan. Pastikan setiap investasi yang Anda inginkan memiliki prospek baik dan dapat membantu Anda mencapai tujuan.

4. “Investasi terfavorit kami adalah yang berlaku selamanya.” (Buffett, 1988, dalam surat pimpinan Berkshire Hathaway dalam laporan keuangan tahunan)

Berbicara mengenai investasi jangka panjang. Tentu saja Buffett tidak selalu mengharapkan seseorang memegang investasi untuk selamanya. “Poin utamanya adalah Anda harus membeli sebuah perusahaan karena memang Anda menginginkannya, bukan karena ingin sahamnya terus melonjak,” kata Buffett saat diwawancara majalah Forbes pada tahun 1974.

Itu artinya, jika Anda ingin mencoba berinvestasi di saham individual, Anda harus mencari bisnis yang diyakini akan baik dan menguntungkan untuk jangka panjang. Maka, Anda harus menjualnya saat membutuhkan dana, bukan karena sudah saatnya membongkar barang-barang tak berguna.

5. “Apapun bisa terjadi di market…para analis market akan terus mengisi kuping Anda, tapi tidak pernah dompet Anda.” (Buffett, 2014, dalam surat pimpinan Berkshire Hathaway dalam laporan keuangan tahunan)

Dengarkan kata Warren, abaikan suara-suara lainnya -khususnya saat kita memiliki banyak sumber informasi. Selain itu, setiap kejadian sekecil apapun berkemungkinan menjadi headline dan menggerakkan market (setidaknya untuk jangka pendek).

Jangan biarkan hal apapun mengubah strategi investasi jangka panjang Anda. Selama Anda percaya dengan strategi dan portofolio, Anda harus tetap menjalankannya apapun yang terjadi.

6. “Seseorang duduk di tempat teduh saat ini karena dia menanam pohon sejak lama.”

Pelajaran yang bisa dipetik di sini adalah seseorang harus berpikir ke depan saat bicara soal personal finance, apakah itu investasi, menabung, atau belanja. Saat Anda memutuskan apakah akan menyisihkan sebagian dana untuk kondisi darurat, pikirkan mengenai kondisi darurat finansial yang terjadi dan bagaimana mudahnya hidup Anda jika memiliki cukup tabungan yang sudah disisihkan.

Sebagian orang bisa menjadi kaya dengan berinvestasi. Dan mayoritas orang yang mencoba, berakhir dengan kebangkrutan. Arah yang jelas untuk menuju kemakmuran yang diambil Buffett adalah membangun portofolio Anda selangkah demi selangkah dalam satu waktu. Dan tetap dengan fokus Anda untuk jangka panjang.

8. Economic moat

Buffett menemukan istilah baru ini, yang secara harafiah berarti parit perlindungan ekonomi. Tapi yang dimaksud Buffett adalah perusahaan yang punya keunggulan kompetitif.  Perusahaan bertipe economic moat dapat melindungi bisnisnya dari kompetitor karena ia punya kelebihan tersendiri.

Kelebihan ini bisa berupa merek yang kuat, paten, atau posisi geografis. Memakai prinsip ini, Buffett membeli McDonalds, Coca Cola, dan P&G.

9. Membeli saham sama dengan membeli bisnis

Jika sebuah bisnis berkinerja bagus, harga sahamnya akan mengikuti.

Bagaimana mengetahui bisnis yang bagus? Pertama-tama, Anda harus mengerjakan PR, yaitu riset fundamental perusahaan tersebut. Sebab, bagi Buffett, syarat mutlak berinvestasi adalah mengerti bisnisnya dulu. Ia berulang kali menolak berinvestasi di berbagai saham teknologi murah karena mengaku tak kenal bisnisnya. “Risiko datang ketika Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan,” tuturnya.

Karena itu, Buffett juga menyarankan untuk memastikan kekuatan manajemen perusahaan itu. Menurut buku ‘The Warren Buffett Way’, ia punya tiga pertanyaan menyangkut manajemen sebuah perusahaan. Apakah mereka rasional? Apakah mereka mengakui kesalahan? Apakah mereka bisa menahan tuntutan institusi? Buffett tak suka manajemen yang hanya mengikuti arus dan mengkopi kompetitor.

10. Beli perusahaan yang menguntungkan

Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang membukukan keuntungan dengan konsisten. Artinya, dalam jangka panjang misalnya 10 tahun, perusahaan itu konsisten meraup keuntungan.

Ia pun mengukur tingkat keuntungan perusahaan misalnya dengan melihat return on equity (ROE), return on invested capital (ROIC), dan margin laba perusahaan, lalu membandingkannya dengan perusahaan kompetitor atau industri.

Tapi hati-hati, kadang perusahaan dengan ROE tinggi memiliki utang yang besar pula. Buffett sangat menghindari perusahaan macam ini. Ia pernah bilang, “Jika Anda berada di kapal yang bocor kronis, energi untuk mengganti kapal bakal lebih produktif ketimbang energi untuk menambal kebocoran.”

(kumpulan berbagai sumber)

rose KECIL

NEW YORK kontan. Setelah menjalani tahun 2015 yang penuh tantangan, saham perusahaan milik Warren Buffett kembali ke posisinya semula dengan mengalahkan performa market.

Berdasarkan data yang dihimpun CNNMoney, dua saham Berkshire Hathaway milik Warren Buffett -yakni saham A dan saham B- melonjak hampir 11% pada tahun ini. Bandingkan dengan kenaikan indeks S&P 500 yang hanya naik 2%.

Selain itu, saham sejumlah perusahaan yang dimiliki Buffett seperti Kraft Heinz, IBM, dan Coca Cola, juga membukukan performa ciamik. Kinerja perusahaan tersebut mampu mengimbangi penurunan yang terjadi pada Wells Fargo dan sejumlah bank lain yang juga dimiliki Berkshire.

Kondisi ini dipastikan akan membuat pemegang saham Berkshire happy pada pertemuan pekan ini di Omaha.

Tapi jangan berharap Buffett akan puas dengan kondisi ini. Dia dan wakil direktur Berkshire Charlie Munger sama-sama menekankan pentingnya berinvestasi untuk jangka panjang.

Selain itu, Berkshire sudah mengalahkan market selama berpuluh-puluh tahun.

Ini pula yang menjadi alasan banyak investor akan datang ke Omaha untuk menyaksikan Buffett dan Munger berpidato di Omaha.

Ada beberapa informasi yang sangat dinanti-nantikan investor pada pertemuan tersebut. Apa saja?

– Apakah akan ada akuisisi yang lebih besar?

Investor akan mendengarkan dengan seksama petunjuk mengenai apa yang akan diakuisisi Berkshire selanjutnya.

Buffett sudah berbelanja selama beberapa tahun terakhir. Akuisisi yang paling mendapatkan perhatian adalah akuisisi Heinz, 3G, Kraft, Burlington Northern Santa Fe, dan Precission Casparts.

Precision Castparts bernilai US$ 37,2 miliar. Ini merupakan akuisisi terbesar yang dilakukan Berkshire. Namun Buffett memang seringkali memberikan petunjuk bahwa dirinya terus berupaya untuk menjadikan Berkshire perusahaan besar.

– Mempertahankan 3G dan PHK

Tahun lalu, sejumlah pemegang saham mempertanyakan langkah Buffett yang berinvestasi di 3G.

3G dan Berkshire merupakan investor terbesar di Kraft Heinz. Berkshire juga memiliki saham di Restaurant Brands, perusahaan yang memiliki Burger King dan Tim Hortons.

Namun 3G seringkali mengumumkan PHK besar-besaran pada perusahaan yang diakuisisi. Lihat saja PHK yang dilakukan di Heinz juga Kraft.

Pada surat yang dilayangkan kepada pemegang saham, Buffett mengeluarkan pernyataan yang membela 3G. Menurutnya, langkah yang diambil 3G berhasil memangkas biaya-biaya yang tidak perlu. Bahkan dia juga bilang, ada kemungkinan Berkshire dan 3G bekerjasama lagi.

– Menyerang Trump?

Buffett, seorang Demokrat, secara terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap Hillary Clinton sebagai presiden AS berikutnya.

Sementara, meski Munger lebih ke garis kanan, tapi dia sepertinya bukan penggemar kandidat president Republik Donald Trump.

Pada pertemuan tahunan pemegang saham tahun ini, Daily Journal menulis bahwa Munger menyatakan Trump tidak memiliki kualifikasi untuk duduk di Gedung Putih. Apakah tahun ini rapat pemegang saham akan mendukung pencalonan Hillary?

– Siapa penerus Warren?

Tahun ini akan menjadi rapat tahunan ke-51 Berkshire. Usia Buffett saat ini sudah 85 tahun.

Buffett sebenarnya sudah memberikan sejumlah sinyal bahwa dirinya sudah mengetahui siapa yang akan mengambil alih posisinya. Yang pasti, itu bukan Munger yang saat ini berusia 92 tahun.

Dan Munger pada tahun lalu menulis bahwa dia menilai dua letnan Berkshire -Ajit Jain dan Greg Abel- keduanya terbukti sebagai pemimpin hebat, bahkan kehebatannya melebihi Buffett.

Banyak investor yang menginterpretasikannya sebagai sinyal bahwa Buffett menginginkan eksekutif dengan keahlian menjalankan perusahaan sebagai orang yang akan menggantikannya sebagai CEO Berkshire.

Jadi, akan sangat menarik untuk melihat apakah Buffett atau Munger kembali memberikan sejumlah petunjuk mengenai hal ini.

dollar small

advfin: And this is a good reminder for anyone who reads share articles… or even writes them. Buying is Believing!

Warren Buffet doesn’t just WRITE that he thinks that a share is good value. He doesn’t just read loads of share articles… without ever BUYING SHARES!

He’s been the RICHEST MAN IN THE WORLD by buying good companies… and HOLDING. That’s it, a multi billionaire from investing in shares.

 

So you’ve read this article NOW RESOLVE TO TAKE ACTION AND BUY SHARES WHEN YOU CAN!

big-dancing-banana-smiley-emoticon

Bisnis.com, JAKARTA–Ketika harga minyak mentah dunia terus tenggelam hingga US$25 per barel, nyaris menyentuh biaya produksi, saham emiten minyak dan gas dalam negeri pun berguguran.

Bahkan, kinerja emiten Migas yang memaksa terus berproduksi bakal kolaps. Bagaimana tidak, perusahaan-perusahaan Migas di Tanah Air harus menjual rugi hasil produksinya, lantaran biaya untuk menghasilkan Migas, tak sebanding dengan harga jual di pasaran.

Lantas, bagi investor, apakah melorotnya harga minyak dunia menjadi akhir dari portofolio investasi? Untuk menjawabnya, perlu terbang ke Amerika Serikat dan belajar dari orang terkaya ke-13 dunia, Warren Buffet, versi majalah Forbes dengan kekayaan ditaksir mencapai US$60 miliar setara dengan Rp834 triliun.

Miliarder pemilik Berkshire Hathaway Inc., Warren Buffett, memang selalu memberi kejutan. Saat harga minyak terus ambrol ke level terendah dalam 12 tahun terakhir hingga di bawah US$30 per barel, Buffet justru menambah portofolionya di perusahaan kilang minyak Philips 66.

Tak tanggung-tanggung, Buffett, seperti dilansir Bloomberg, menambah kepemilikan saham dalam 7 hari perdagangan berturut-turut. Buffett merogoh kocek hingga US$450 juta setara dengan Rp6,25 triliun (Kurs Rp13.900/US$) untuk memborong lebih dari 6 juta lembar saham Phillips 66.

Perusahaan Buffett, Berkshire, menggenggam 13% saham Phillips 66 senilai US$5,3 miliar setara Rp73,67 triliun, berdasarkan penutupan saham Kamis (14/1) pada level US$79,28 per lembar.  ()

Senjata Melawan Inflasi

 

Menabung tidak bisa membuat orang menjadi kaya. Ketika uang itu disimpan di tabungan dan diakumulasi di masa depan, kebutuhan yang diinginkan senilai yang diperkirakan di awal menabung akan jauh lebih tinggi nilainya. Artinya, uang di tabungan akan menggerus kemampuan atau daya beli seseorang.

Apa penyebabnya? Jawabannya adalah inflasi. Si inflasi inilah yang menyebabkan orang selalu mengatakan biaya hidup terus meningkat. Coba bayangkan, 10 tahun lalu harga rumah di perumahan pinggiran ibu kota bisa terbeli di kisaran harga Rp 150 juta smapai Rp 200 juta. Tetapi saat ini, rumah di lokasi yang sama sudah meningkat menjadi Rp 500 jutaan.

Peningkatan harga rumah setinggi itu disebabkan rata-rata inflasi atau kenaikan harga properti sepanjang 10 tahun sebesar 8,5 persen. Sementara kenaikan harga rumah di tengah kota, di kawasan premium, bisa lebih tinggi lagi.

Bagaimana dengan kenaikan biaya pendidikan? Ternyata angka inflasi biaya sekolah rata-rata per tahun mencapai 15 persen. Tidak heran bila uang pangkal sekolah-sekolah premium saat ini untuk masuk sekolah dasar saja, misalnya bisa mencapai Rp 20 juta. Bila seorang ayah menabung untuk uang pangkal anaknya yang baru lahir saat ini misalnya, ia berpikir cukup dengan Rp 3,3 juta per tahun, di tahun keenam ia berhasil mengumpulkan Rp 20 juta.

Apa yang terjadi, di tahun keenam, saat si buah hati siap masuk ke sekolah dasar, uang pangkal yang enam tahun lalu masih Rp 20 juta, melonjak menjadi sekitar Rp 50 juta. Si ayah tidak lagi sanggup menyekolahkan anaknya di sekolah idaman.

Benar menyimpan uang di bank ada bunga tabungan. Tetapi bunga bank paling tinggi hanya 3 persen sampai 4 persen saja. Jauh di bawah angka inflasi. Nah, bagaimana agar nilai uang yang dimiliki saat ini tidak berkurang? Jawabannya adalah menginvestasikan uang di produk investasi yang menghasilkan keuntungan di atas inflasi. Atau paling tidak menyamai inflasi barang yang ingin dibeli di masa datang.

Apa saja produk investasi? Macam-macam. Emas merupakan salah satu produk investasi. Kenaikan harga emas per tahun bila dihitung selama 10 tahun sejak 2004-2014 rata-rata 15 persen. Alternatif lain adalah berinvestasi di pasar modal. Ada banyak produk pasar modal. Saham misalnya, bila dihitung dari kenaikan rata-rata harga saham, dalam kurun waktu yang sama, selama sepuluh tahun, menghasilkan return atau keuntungan rata-rata 32,9 persen. Bisa juga memilih obligasi ritel Indonesia (ORI) yang bisa memberi kupon atau bunga sekitar 6 persen.

Apabila investor tidak terlalu memahami seluk-beluk berinvestasi saham secara langsung, reksa dana bisa dijadikan pilihan. Tetapi harus diingat, dalam berinvestasi ada rumus yang tak boleh dilupakan, yakni high risk, high return. Semakin tinggi return, risikonya semakin tinggi pula. Untuk itu, investasi pada produk dengan return tinggi hanya disarankan untuk investasi dalam jangka waktu panjang, di atas lima tahun.

 

Penulis: Putu Anggreni/AB

Sumber:Berbagai sumber, Majalah Inves

 

rose KECIL

Kamis, 25 Juni 2009 | 11:15

INVESTASI CHINA

Analis: China Sebaiknya Beli Emas dan Properti AS

LOS ANGELES. Li Lianzhong, Communist Party Research Chief mengatakan bahwa China sebaiknya membeli emas dan real estate AS ketimbang surat berharga.

Lianzhong, yang mengepalai bidang ekonomi untuk partainya, menegaskan bahwa dolar AS menyeimbangkan semuanya; membikin emas dan tanah menjadi investasi yang lebih baik bagi cadangan valas China senilai US$ 1,95 triliun.

Selain itu, Lianzhong juga menegaskan bahwa Beijing sebaiknya fokus untuk membeli sumber-sumber energi dan natural. Hal ini ditegaskan usai China Petroleum & Chemical Corp. alias Sinopec telah mencapai kesepakatan untuk membeli minyak dan gas dari Addax Petroleum Corp. senilai US$ 7,2 billion.

Femi Adi Soempeno Market Watch

spiral

Buffett Acolyte Donates $2.11 Million as Thank You (Update3)

By Erik Holm and Betty Liu

June 24 (Bloomberg) — Zhao Danyang, the hedge fund manager who paid more than $2.11 million to have lunch with Warren Buffett, said he owed his firm’s 600 percent return over the past six years to lessons he learned from the Oracle of Omaha.

Zhao, general manager of Pureheart Asset Management Co. in Hong Kong, credited a book he read on Buffett during the Asian financial crisis a decade ago with changing his investment philosophy. He said the record-breaking bid in Buffett’s charity auction last year was his way of saying thank you.

“Buffett is my teacher,” he said in a Bloomberg Television interview yesterday. “In my heart, I am really thankful to him.”

Buffett, chairman of Berkshire Hathaway Inc. and the world’s most celebrated investor, met a group assembled by Zhao for lunch today at Smith & Wollensky steakhouse in Manhattan. Zhao’s bid last year was three times the previous record for the lunch, and the largest ever for an EBay Inc.-sponsored charity auction. The proceeds benefit the Glide Foundation, a San Francisco-based charity where Buffett’s late wife volunteered.

“It was a great lunch and they were great people,” Buffett said as he emerged from the steakhouse after the three- hour meal. He declined to list the topics the group discussed. “That’s what they paid $2.1 million for,” he said. “I can’t give it to you for free.”

Lifetime Benefit

Zhao brought his wife, son and friends to the steakhouse today, and said afterward the value of the experience “can’t be measured by money.” He said Buffett’s advice would “benefit me for my whole life,” and that he would be a more confident investor as a result. Two of the friends shouldered a portion of the cost of the lunch, he said, but it was “mostly me.”

Winners typically wait a year before dining with Buffett. This year’s bidding is in its fourth day on EBay’s auction site, and is set to close June 26. The price hit $135,678 at 4:30 p.m. New York time after 56 bids. In past years, bidders waited until the last minutes of the auction before driving up the price.

Buffett, ranked the world’s second-richest man by Forbes magazine, transformed Omaha, Nebraska-based Berkshire from a failing textile maker into an enterprise with businesses ranging from ice cream and underwear to power plants. His investing acumen earned him the “Oracle of Omaha” nickname. Berkshire shareholders come from around the globe to fill that city’s Qwest Center arena at the firm’s annual meeting each year.

Investment manager Mohnish Pabrai said in an interview he and his friend Guy Spier covered 54 topics in three hours with Buffett after winning the 2007 auction with a $650,100 bid.

“I got more than my money’s worth,” he said.

‘Down and Out’

Glide, founded in the 1960s by the Rev. Cecil Williams, provides job training, medical care, counseling and other services for the homeless, the HIV-positive and victims of domestic violence. It feeds the needy three times a day. The number of meals it served increased 17 percent in the 12 months ended in May compared with the prior year.

“They help tens of thousands of people, and they believe everybody has a future and every life is as important as every other life,” Buffett said in a separate interview with Bloomberg Television today.

Alan Stillman, the founder of Smith & Wollensky, is donating $10,000 to Glide for the right to host the event. He said today that he entered his own unsuccessful bid on the lunch two years ago.

butterfly

Buying Like Buffett Beats Investing With Him Amid Stock Rebound

By Ari Levy and Erik Holm

June 25 (Bloomberg) — Warren Buffett followers who invest like the billionaire instead of with him have been rewarded since the bear market bottomed more than three months ago.

Berkshire Hathaway Inc.’s 19 percent advance since U.S. equity indexes reached their lows on March 9 lags behind 15 of the company’s top 20 stock holdings. A $1 million investment mimicking Berkshire’s portfolio would have produced a $682,300 profit through yesterday, compared with a $185,900 gain for the same-sized investment in Berkshire shares. Buffett is chairman and head of investing at Omaha, Nebraska-based Berkshire.

Buffett, 78, has seen long-standing equity positions in Wells Fargo & Co. and American Express Co. more than double from their March lows after losing over half their value in the 12 months prior. Companies Berkshire owns outright, meanwhile, had declining sales amid the global recession, and the firm’s losses from derivative positions on corporate and municipal debt may not reverse as quickly as those tied to stock markets.

“His investments, because they’re based on such fundamental quality and traditional values, are going to continue to do better than the rest of the market,” said Frank Betz, a partner at Warren, New Jersey-based Carret Zane Capital Management, which oversees $700 million and owns Berkshire shares. Critics were wrongly declaring that Buffett had “lost his touch” earlier this year, Betz said.

Berkshire is the top shareholder in Wells Fargo, the fourth-largest U.S. bank by assets, and American Express, the biggest credit-card company by purchases. The company is the biggest owner of Goldman Sachs Group Inc., which has surged 93 percent since March 9, and the third-leading investor in U.S. Bancorp, which has climbed 74 percent.

Railroad Shares

A rally in railroad stocks has also lifted Berkshire’s investment portfolio. The company owns 23 percent of Burlington Northern Santa Fe Corp., which has gained 43 percent since March 9, and is among the top 10 holders of Union Pacific Corp. shares, up 50 percent.

The decline in world stock markets at the start of the year contributed to Berkshire’s worst loss in at least two decades in the first quarter. The company wrote down derivatives tied to corporate-debt indexes and took a charge on ConocoPhillips shares purchased when oil prices were near their peak.

Berkshire’s liability on derivatives at its finance and financial products operations widened to $15.4 billion as of March 31, from $14.6 billion three months earlier. Some of those liabilities, on derivatives tied to four of the world’s stock markets, may have reversed in the second quarter as the indexes recovered, said Whitney Tilson, managing director of T2 Partners LLC, a New York-based hedge fund that owns Berkshire shares.

Berkshire’s Value

“Berkshire is cheaper today relative to its intrinsic value than it was on March 9, when its stock portfolio was in the tank and its index puts were marked to market,” Tilson said. “The intrinsic value of Berkshire, when you just factor in those two things, is easily up well over $10,000 a share and the stock really hasn’t moved that much.”

Buffett didn’t respond to a request to comment on this story left with assistant Carrie Kizer.

Berkshire Class A shares rose $1,000 to $86,800 yesterday on the New York Stock Exchange. The gain since March 9 compares with a 33 percent advance in the Standard & Poor’s 500 Index.

The so-called equity puts reduce Berkshire net income when markets fall. They don’t represent cash paid out because the payments aren’t required until 2019 or later.

Buffett said earlier this year that the economic slump depressed revenue at Berkshire’s jewelry businesses and operations related to real estate. Profit at its retail operations, a category that includes furniture and candy stores as well as jewelry, fell by half in the first quarter to $16 million before taxes, the seventh straight decline.

Hesitant Consumers

“The change in the American consumer’s behavior in the last six months is like nothing that’s ever happened,” Buffett, said in an interview with Bloomberg Television in March. “They won’t go in our jewelry stores. They’ve got the money, but when Valentine’s comes along, they think: ‘I still love my wife, you know, but I’ll just tell her this year.’”

Berkshire last year cut jobs at units including Clayton Homes Inc., which builds manufactured housing, and brickmaker Acme Building Brands. The U.S. unemployment rate in May climbed to 9.4 percent, the highest since 1983.

Berkshire has a smaller number of derivatives tied to municipal bonds or debt issued by corporations. Berkshire, which collected $3.4 billion in premiums on the derivatives related to corporate debt as of the end of last year, paid $1.13 billion to buyers of the contracts this year through May 8.

The company may be forced to pay out more as state and local budget deficits lead public institutions to default, said Charles Ortel, managing director of New York-based Newport Value Partners, who advises clients to sell Berkshire shares short.

“It’s the next shoe to drop,” Ortel said. “We may find ourselves very quickly where not only are companies seeking bailouts but states and municipalities and school districts and other worthy entities are all clamoring for scarce capital.”

doraemon

Buying Like Buffett Beats Investing With Him Amid Stock Rebound

By Ari Levy and Erik Holm

June 25 (Bloomberg) — Warren Buffett followers who invest like the billionaire instead of with him have been rewarded since the bear market bottomed more than three months ago.

Berkshire Hathaway Inc.’s 19 percent advance since U.S. equity indexes reached their lows on March 9 lags behind 15 of the company’s top 20 stock holdings. A $1 million investment mimicking Berkshire’s portfolio would have produced a $682,300 profit through yesterday, compared with a $185,900 gain for the same-sized investment in Berkshire shares. Buffett is chairman and head of investing at Omaha, Nebraska-based Berkshire.

Buffett, 78, has seen long-standing equity positions in Wells Fargo & Co. and American Express Co. more than double from their March lows after losing over half their value in the 12 months prior. Companies Berkshire owns outright, meanwhile, had declining sales amid the global recession, and the firm’s losses from derivative positions on corporate and municipal debt may not reverse as quickly as those tied to stock markets.

“His investments, because they’re based on such fundamental quality and traditional values, are going to continue to do better than the rest of the market,” said Frank Betz, a partner at Warren, New Jersey-based Carret Zane Capital Management, which oversees $700 million and owns Berkshire shares. Critics were wrongly declaring that Buffett had “lost his touch” earlier this year, Betz said.

Berkshire is the top shareholder in Wells Fargo, the fourth-largest U.S. bank by assets, and American Express, the biggest credit-card company by purchases. The company is the biggest owner of Goldman Sachs Group Inc., which has surged 93 percent since March 9, and the third-leading investor in U.S. Bancorp, which has climbed 74 percent.

Railroad Shares

A rally in railroad stocks has also lifted Berkshire’s investment portfolio. The company owns 23 percent of Burlington Northern Santa Fe Corp., which has gained 43 percent since March 9, and is among the top 10 holders of Union Pacific Corp. shares, up 50 percent.

The decline in world stock markets at the start of the year contributed to Berkshire’s worst loss in at least two decades in the first quarter. The company wrote down derivatives tied to corporate-debt indexes and took a charge on ConocoPhillips shares purchased when oil prices were near their peak.

Berkshire’s liability on derivatives at its finance and financial products operations widened to $15.4 billion as of March 31, from $14.6 billion three months earlier. Some of those liabilities, on derivatives tied to four of the world’s stock markets, may have reversed in the second quarter as the indexes recovered, said Whitney Tilson, managing director of T2 Partners LLC, a New York-based hedge fund that owns Berkshire shares.

Berkshire’s Value

“Berkshire is cheaper today relative to its intrinsic value than it was on March 9, when its stock portfolio was in the tank and its index puts were marked to market,” Tilson said. “The intrinsic value of Berkshire, when you just factor in those two things, is easily up well over $10,000 a share and the stock really hasn’t moved that much.”

Buffett didn’t respond to a request to comment on this story left with assistant Carrie Kizer.

Berkshire Class A shares rose $1,000 to $86,800 yesterday on the New York Stock Exchange. The gain since March 9 compares with a 33 percent advance in the Standard & Poor’s 500 Index.

The so-called equity puts reduce Berkshire net income when markets fall. They don’t represent cash paid out because the payments aren’t required until 2019 or later.

Buffett said earlier this year that the economic slump depressed revenue at Berkshire’s jewelry businesses and operations related to real estate. Profit at its retail operations, a category that includes furniture and candy stores as well as jewelry, fell by half in the first quarter to $16 million before taxes, the seventh straight decline.

Hesitant Consumers

“The change in the American consumer’s behavior in the last six months is like nothing that’s ever happened,” Buffett, said in an interview with Bloomberg Television in March. “They won’t go in our jewelry stores. They’ve got the money, but when Valentine’s comes along, they think: ‘I still love my wife, you know, but I’ll just tell her this year.’”

Berkshire last year cut jobs at units including Clayton Homes Inc., which builds manufactured housing, and brickmaker Acme Building Brands. The U.S. unemployment rate in May climbed to 9.4 percent, the highest since 1983.

Berkshire has a smaller number of derivatives tied to municipal bonds or debt issued by corporations. Berkshire, which collected $3.4 billion in premiums on the derivatives related to corporate debt as of the end of last year, paid $1.13 billion to buyers of the contracts this year through May 8.

The company may be forced to pay out more as state and local budget deficits lead public institutions to default, said Charles Ortel, managing director of New York-based Newport Value Partners, who advises clients to sell Berkshire shares short.

“It’s the next shoe to drop,” Ortel said. “We may find ourselves very quickly where not only are companies seeking bailouts but states and municipalities and school districts and other worthy entities are all clamoring for scarce capital.”

 

ihsg bagian dari tren global … seh : 031009_110317 24 September 2017

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 1:25 am

tren IHSG dalam jangka panjang MENGALAHKAN TREN INDEKS BURSA SAHAM AMRIK, china, n oz

CHINA MEMANGKAS SUKU BUNGA PINJAMAN, memangkas BIAYA BISNIS n INDUSTRI supaya TUMBUH LEBE KUAT

big-dancing-banana-smiley-emoticon

 

analisis gw soal BREXIT 2016

 

BLOOMBERG menyatakan tren NAEK @ ihsg, kok, sama sperti analisis sederhana gw

JAKARTA okezone– Keterbatasan pendanaan menjadi persoalan utama yang dihadapi pemerintah dalam menjalankan program kerja. Karena itu pemerintah dan seluruh pe mang ku kepentingan sering bersinergi dalam mengeluarkan kebijakan untuk meng gali potensi pendanaan.

Diantaranya dengan mempermudah perizinan hingga mendorong pemanfaatan instrumen pasar modal untuk pembiayaan infra struktur. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso me ngatakan, OJK sangat berkepentingan mendorong dan mempercepat pemanfaatan regulasi pasar modal mengenai infrastruktur secara lebih konkret dan dalam jumlah atau ni lai yang signifikan.

”Upaya ini telah membuahkan hasil dengan telah dikeluarkannya pernyataan efektif untuk penerbitan instru men pasar modal yang di gunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur jalan tol, bandara, dan ketenagalistrikan,” katanya. Prioritas jangka pendek lain yang masih terkait dengan perwujudan dukungan pasar modal untuk pembia yaan pembangunan infrastruktur adalah mendorong pemanfaatan instrumen pasar modal untuk pembiayaan in frastruktur lainnya.

Di antaranya berupa dana investasi infrastruktur berbentuk kontrak investasi kolektif (KIK), efek beragun aset (EBA) termasuk EBA surat partisipasi, da na investasi real estat baik yang konvensional mau pun syariah, reksadana penyertaan terbatas, rek sadana target waktu, dana investasi multiaset berbentuk KIK. Selain itu penerbitan dan penyempurnaan regulasi yang memungkinkan penerbitan instrumen-instrumen pasar modal baru seperti perpetual bonds, infrastructure bond dan project bond.

Hal itu guna memfasilitasi pembiayaan pembangunan infrastruktur baik yang telah dalam taraf pengembangan (brown field projects) mau pun yang masih dalam taraf awal pembangunan (green field projects). Juga sekaligus mendalami isu atau permasalahan lintas sektor keuangan (pasar modal, perbankan, industri keuangan nonbank) maupun lintas kelembagaan (OJK, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia) yang menghambat atau berpotensi menghambat pertumbuhan instrumen pembiayaan pembangunan infrastruktur nasional.

Melalui pasar modal dari berbagai perspektif seperti dari sisi supply dan demand, harmonisasi aturan dan kebijakan, sistem dan mekanisme perdagangan, keberadaan hedging instruments di pasar uang dan pasar derivatif, serta kemungkinan pemberian insentif atau kebijakan di bidang fiskal maupun akses pembiayaan.

”Ini merupakan peran dan kontribusi pasar modal dalam mendukung program-program ekonomi prioritas Pemerintah akan signifikan, serta mempunyai dampak lebih kongkret dalam mendorong pertumbuhan sek tor riil di Tanah Air,” tuturnya. Di sisi lain pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy mengatakan, langkah yang diambil OJK tersebut tidak memberatkan pemerintah.

Dia mengungkapkan bahwa pada saat ini pemerintah sedang membutuhkan dana tidak sedikit untuk membiayai pembangunan infrastruktur. Sementara perolehan pajak belum sesuai yang diharapkan. Langkah OJK tersebut diyakini akan meningkatkan minat BUMN sektor infrastruktur untuk mencari dana mempergunakan pasar modal. Apalagi dana yang diperoleh di pasar modal relatif lebih murah daripada meminjam diperbankan.

Dana yang diperoleh pun jauh lebih besar daripada meminjam uang dari perbankan. Jika kondisi ekonomi nasional semakin membaik, maka emiten sektor lain juga akan memperluas usahanya. Salah satunya melalui ekspansi usaha dengan membuka pabrik atau membuka jaringan pemasaran baru. Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Emi ten Indonesia (AEI) Isakayoga, ekspansi yang dilakukan emiten tentunya akan membuka lapangan pekerjaan baru.

Sekaligus me ningkatkan perekonomian di daerah tersebut. ”Kalau pembangunan infrastruktur berjalan maka ekonomi semakin membaik. Tentunya emiten akan melakukan ekspansi. Dananya bisa melalui instrumen yang tersedia di pasar modal,” tuturnya. Perusahaan yang masuk kepasar modal memang akan memperoleh beberapa ke untungan. Pertama, pembiayaan dari pasar modal semestinya lebih murah.

Sebab pasar modal mempertemukan langsung kelebihan dana pada masyarakat dengan kebutuhan dana oleh perusahaan. Dengan begitu biaya dana (cost of fund) dari pasar modal menjadi lebih rendah. Keuntungan lain, perusahaan yang masuk kepasar modal bisa meningkatkan tata kelola perusahaan menjadi lebih baik. Reputasi perusahaan juga semakin meningkat dan bahkan dapat memperoleh insentif pajak.

(Trio Hamdani)

doraemon

TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hamdi Hassyarbaini mengatakan BEI merupakan salah satu bursa saham terbaik di dunia.

“Selama 10 tahun terakhir, BEI satu-satunya bursa saham terbaik dengan imbal hasil mencapai 317 persen. Itu mengalahkan bursa-bursa lainnya,” kata Hamdi dalam sambutannya pada “Investment Discussion and Economic Analysis” (IDEA) 2017 di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Sabtu 11 Maret 2017.

Hamdi mengatakan bursa saham saat ini tumbuh secara signifikan. Dia berharap IDEA 2017 dapat menarik minat pemain-pemain saham baru sehingga jumlah investor juga semakin bertambah.

“Kami berharap melalui acara ini, pasar modal Indonesia bisa lebih maju dan berkembang serta hasilnya bisa bermanfaat bagi kita semua,” tuturnya.

IDEA 2017 bertema “Membuka Potensi Pasar Modal Melalui Teknologi Keuangan Untuk Pembangunan Berkelanjutan” diadakan atas kerja sama Perum LKBN Antara dan Universitas MH Thamrin.

Diskusi yang merupakan rangkaian peringatan 10 windu Kantor Berita Indonesia Antara itu didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), Bank Rakyat Indonesia, Maybank, Panin Aset Management dan lain-lain.

BISNIS.COM

ets-small

bisnis.com: Berbagai jenis investasi menjadi pilihan masyarakat yang ingin menumbuh kembangkan uangnya.

Salah satu yang dirasakan gencar ditawarkan saat ini adalah berinvestasi di pasar modal.

BEI mulai meningkatkan promosinya.

Saat ini makin mensasarkan pelaku pasar ritel, yaitu kalangan masyarakat menengah, antara lain dengan program literasi keuangan terutama di pasmod.

Menarikkah berinvestasi di bursa saham, apalagi untuk pasar eceran?

Market saham itu dinamis. Ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi pergerakannya.

Faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah kinerja emiten, kondisi perekonomian, pola investasi investor, dan kondisi sektor riil.

Satu hal yang menarik di bursa saham adalah dari pola investasinya. Mengingat setiap keputusan yg diambil dalam berinvestasi menjadi tanggung jawab masing masing individu sebagai investor.

Untuk itu lah dikatakan bursa saham itu sebagai bagian dari investasi dengan pasar yang dinamis.

Kedinamisan investasi ini menjadi tantangan sendiri bagi pemilik modal dan karena kedinamisan inilah peluang untuk mendapat capital gain terbuka cukup lebar bagi investor.

Tentunya setiap investor memiliki prilaku yang berbeda beda. Baik dari sisi pemilihan, pendapat dan pemikiran, pengamatan, timeframe, dan emotional/psikologi

Perilaku investor seperti apa yang cocok untuk ber investasi di bursa saham?

Menurut saya, dalam hal ini mindset awal kita sudah harus benar sejak awal. Ini adalah investasi saham, bukan main saham. Namun bisa juga menggunakan istilah main untuk membuat kita enjoy dalam berinvestasi.

Mengingat begitu banyak faktor yang mempengaruhi pergerakan harga satu emiten.

Gerak saham tidak hanya bergantung kinerja positif perusahaan, karyawan emiten yang sejahtera, dan keberhasilan mencetak laba.

Gerak saham yang juga terkait dengan keamanan suatu negara, kestabilan ekonomi, kestabilan politik.

Saham itu jika kita melakukan investasi didalamnya , maka doanya tentunya semua yang diharapkan selalu berjalan baik, baik itu terhadap negara, perusahaan, bahkan dunia.

 

*William Surya Wijaya

Kepala Riset Asjaya Indosurya Securities

rose KECIL

JAKARTA. Perusahaan jasa finansial UBS Wealth Management menyatakan klien-kliennya siap untuk meningkatkan kepemilikan mereka di emerging markets.

Michael Bolliger, head of emerging-market asset allocation UBS, memprediksikan return kelas aset berdigit tunggal tahun ini.

Klien-klien UBS, dengan total aset senilai US$2,1 triliun, merasa nyaman berinvestasi di negara-negara berkembang.

Menurutnya, keinginan klien UBS tersebut berdasarkan kuatnya performa saham dan obligasi di negara berkembang dinilai pada 2016 serta berlanjutnya aliran uang pada tahun ini.

“[2016] merupakan tahun yang baik dan memberi kesan pada orang-orang. Diperlukan beberapa kuartal performa yang baik bagi mereka untuk memanas dan menjadi lebih tertarik. Inilah yang terjadi sekarang,” kata Bolliger, seperti dikutip dari Bloomberg (Rabu, 1/2/2017).

Stimulus bank sentral yang belum pernah terjadi sebelumnya telah memicu perburuan global untuk return yang lebih tinggi tahun lalu serta mendorong permintaan untuk aset negara berkembang.

Menurut data EPFR Global, minat investor masih kuat sepanjang pekan yang berakhir pada 25 Januari, dengan aliran dana untuk pembelian saham-saham emerging market senilai US$1 miliar. Jumlah tersebut adalah yang terbesar dalam tiga bulan.

http://finansial.bisnis.com/read/20170201/9/624814/ubs-investor-siap-kejar-aset-di-negara-berkembang
Sumber : BISNIS.COM

big-dancing-banana-smiley-emoticon

marketwatch: With U.S. stocks in record territory, investors need to take their emotional temperature. Emotions can be your worst enemy when it comes to money and stocks, especially during big, rapid market moves that can warp your thinking in unforgiving ways — like these:

1. Forgetting that purchase price matters (HARGA BELI mesti tetap diperhatikan, mesti rendah)

Since the presidential election, the Dow Jones Industrial Average DJIA, +0.58% the S&P 500 SPX, +0.65% the Nasdaq COMP, +0.95%  and other major U.S. stock indexes have posted big gains. Understandably, you may be wanting to throw money at stocks right now.

Not so fast. You are guaranteed a worse return with money invested today than you’ll get with money invested before the election, when U.S. stocks were considerably cheaper. Stocks are ownership units of businesses that are worth the profits they deliver in the future. Pay more for future profits, and your return necessarily declines. Wait for your pitch.

2. Giving in to greed (Keserakahan akan saham saat naik, malah akan memberangus modal saat ternyata terpaksa jual saat harga jatuh)

Maybe your allocation is too low on stocks, and you should add. But why does it take a surge in stocks to make you think you don’t have enough in stocks? The time to consider your allocation was before a big market move. Chances are your allocation isn’t too light on stocks. You just think it is because you’re being greedy. This line of thinking will lead you to add to stocks after they’ve gone up, and sell after they’ve dropped, trapping you in a vicious cycle.

3. Playing momentum

What goes up, stays up. Until it doesn’t. And the smart-money investors can never tell you when the momentum will stop. Except there is ample evidence for investors to realize when stocks have peaked. It’s when investors have thrown their last dollars at the market, because the data show investors buy high and sell low, following momentum in both directions just before it’s about to turn. The momentum factor may exist, but individual investors have proved remarkably adept at letting it punish them with losses rather than being able to exploit it.

4. Giving in to social pressure

Closely linked to momentum is social pressure. You see other people enjoying gains, and you want to enjoy them too. Also, you see other people buying stocks, so it feels safe for you to do the same thing, at any price. And even if you have a big slug of assets in stocks, you always want more. You want to enjoy the good times with everyone else to the maximum extent possible.

What if you never had to pull out an ID card at the airport, at the doctor’s office, or even at the voting poll? Here’s how biometric IDs could replace wallets, passwords, keys and tickets

Be wary. A little misanthropy can serve you well in investing. If other investors are buying stocks at nosebleed prices, sell them your shares.

5. Forgetting that earnings matter

Some investors believe corporate profits will be higher than previously thought because of Donald Trump’s election. Accordingly, higher stock prices are justified. But no one knows if earnings will be higher, or by how much. Is it justifiable, for example, that shares of United States Steel Corp. X, +0.60%  are up more than 60% since the November election? Will U.S. Steel produce so much more profits because of increased government infrastructure spending? Maybe. But anyone who tells you they’re certain is kidding themselves — and you.

 ets-small

JAKARTA. Jumlah aliran dana keluar dari pasar negara-negara berkembang di Asia mencapai sekitar US$11 miliar setelah kemenangan Donald Trump sebagai presiden terpilih AS.

Kemenangan Trump sebagai Presiden terpilih AS dalam kancah pemilihan Presiden AS 8 November lalu membawa ekspektasi kebijakan ekonominya mendorong imbal hasil obligasi naik serta memicu reli terkuat dolar dalam delapan tahun.

Menurut perhitungan data Bloomberg, India menderita kerugian aliran dana keluar dengan nilai terbesar antara 9 November dan 18 November, diikuti oleh Thailand.

Pelarian modal telah mengikis aliran dana masuk year-to-date hingga senilai US$55 miliar ke India, Indonesia, Filipina, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand.

“Aliran dana keluar dari emerging markets kemungkinan akan berlanjut untuk sementara dan kemudian para investor akan melihat apakah Trump akan menerapkan sejumlah kebijakan yang telah dicanangkan sebelum pemilihan, seperti kebijakan stimulus fiskal dan proteksionisme terhadap perdagangan,” ujar Masakatsu Fukaya, emerging markets trader dengan Mizuho Bank Ltd., seperti dilansir Bloomberg hari ini (Selasa, 22/11/2016).

Ditambahkan olehnya, kebijakan-kebijakan Trump berpotensi mendorong dolar lebih kuat dan berdampak negatif terhadap emerging markets.

Indeks dolar AS telah mencatat kenaikan terbesar sejak 2008 selama dua pekan terakhir di tengah spekulasi bahwa kebijakan Trump akan memacu suku bunga lebih tinggi.

Sebaliknya, nilai tukar won Korea Selatan telah drop 3,4%, rupiah telah melemah 2,7%, dan peso Filipina telah melandai 2,5% sejak pemilihan Presiden AS.

Dalam rilis videonya, Trump menyatakan rencananya menarik AS dari perjanjian perdagangan Trans-Pacific Partnership pada hari pertamanya sebagai Presiden AS. Dia juga telah berkomitmen mengucurkan US$1 triliun untuk membangun kembali serta memperbaiki infrastruktur negara.

http://kabar24.bisnis.com/read/20161122/19/605064/efek-trump-berikut-catatan-aliran-dana-keluar-emerging-markets-
Sumber : BISNIS.COM

 bird_bbri_unvr

JAKARTA kontan. Seperti sudah diprediksi, bank sentral Amerika Serikat (AS) masih mempertahankan Fed funds rate. Di saat yang sama, Bank Indonesia (BI) memangkas BI 7-day reverse repo rate dari 5,25% jadi 5%.

Di tengah kondisi ini, strategi investasi bagaimana yang bisa diterapkan investor? Menurut perencana keuangan Finansia Consulting Eko Endarto, saat ini merupakan kesempatan bagi investor jangka panjang mendapatkan keuntungan tinggi. “Produk jangka panjang akan naik keuntungannya,” ujar Eko.

Eko bilang, strategi investasi jangka panjang bisa diterapkan investor usia muda di bawah 30 tahun. Investor ini bisa menempatkan mayoritas portofolio investasi, yakni sekitar 75%, di saham atau reksadana saham. “Saran saya di atas tiga tahun untuk spekulasi dan di atas lima tahun untuk investasi,” ujar Eko.

Dia optimistis pasar saham bullish tahun ini. Penopangnya, suku bunga kredit yang menuju single digit, pembangunan infrastruktur serta pelaksanaan amnesti pajak. Direktur Bahana TCW Investment Soni Wibowo juga meyakini saham berpotensi membagi imbal hasil tinggi.

Ia menyarankan investor menempatkan mayoritas portofolio pada saham, yakni sekitar 96%. Porsi sama juga bisa ditempatkan pada obligasi dengan durasi jangka panjang. “Outlook kami masih sama, overweight di equity dan bond,” ujar Soni.

Instrumen lain, seperti pasar uang, emas dan properti masih underweight. Vice President Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi Riawan mengatakan, investor bisa masuk ke saham secara perlahan.

Ditundanya kenaikan Fed funds rate serta hasil amnesti pajak yang menggembirakan membuat iklim investasi akan cerah beberapa waktu ke depan. “Penurunan BI 7-day RR rate juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Reza.

Sebagai alternatif, perencana keuangan Fahima Advisory Dida Nurhaida menyebut investor bisa menaruh sekitar 25% dana pada sukuk. Penurunan BI 7-day RR rate membuat prospek instrumen tersebut menarik. “Sisanya bisa 25% pada logam mulia, sekitar 30% pada saham dan sisanya tabungan,” ujar Dida.

 ets-small

JAKARTA – Perkumpulan Chief Information Officer (CIO) melakukan kerjasama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menggelar iCIO Exchange . Sebuah acara program edukasi, peer interaction dan networking untuk CIO dan staf senior di bidang teknologi informasi dan teknologi (TIK).

Acara yang digelar di Main Hall Gedung BEI itu memungkinkan para CIO dan staf senior TIK untuk mendengar dan mendiskusikan berbagai tantangan dan kesuksesan dari beberapa perusahaan atau organisasi di bidang sistem. Terutama dari PT BEI yang telah sukses mengimplementasikan sistem manajemen keamanan informasi berstandar internasional dan berhasil meraih sertifikat ISO 27001 dari British Standard Institute (BSI)

“ISO 27001 telah menjadi standar pengelolaan keamanan informasi yang diakui seluruh dunia dan lebih dari 96 persen perusahaan yang telah mengimplementasikannya, mengakui pentingnya penerapan sistem manajemen keamanan informasi berbasis ISO 27001 dalam meningkatkan strategi untuk mengantisipasi ancaman serangan siber,” tutur Chairman iCIO Community Agus Wicaksono di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (8/9/2016).

Sekedar informasi BEI berhasil mendapatkan ISO 27001 pada 2014. Sertifikat itu diberikan untuk fungsi operasi teknologi informasi, manajemen proyek perkantoran teknologi informasi, pengembangan teknologi informasi, riset dan pengembangan, serta manajemen disaster recovery center (DRC).

“Komitmen BEI akan menjadi tolak ukur pengelolaan keamanan informasi. Tidak saja di bidang jasa keuangan tapi juga bisa ditularkan ke sektor lain. Dalam lingkup yang lebih luas, ketahanan siber perlu menjadi agenda nasional untuk menjaga kelangsungan bisnis dan pertumbuhan ekonomi di era digital,” kata Agus.

http://economy.okezone.com/read/2016/09/08/278/1484329/bei-adakan-pelatihan-bagi-industri-informasi-dan-teknologi
Sumber : OKEZONE.COM

 rose KECIL

bisnis.com:

JAKARTA — Membaiknya data ekonomi dan upaya reformasi anggaran yang tengah dijalankan pemerintah diyakini terus menjadi sentimen positif terhadap kinerja pasar modal sepanjang tahun ini. Aliran modal investor asing berpotensi makin deras.

Hingga penutupan perdagangan akhir pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) telah melonjak sebesar 18,01%. Catatan itu menjadi rekor tertinggi di antara bursa global sejak awal tahun ini. Indeks bertengger di level 5.420,25.

Imbal hasil atau return IHSG juga tercatat yang tertinggi di antara sejumlah bursa lain di kawasan Asia Pasifik.

Penguatan IHSG secara year to date lebih tinggi bila dibandingkan dengan bursa utama dunia seperti Thailand (17,80%), Filipina (14,65%), Inggris (8,33%), India (7,53%), Australia (4,51%), Dow Jones Amerika Serikat (4,25%), KOSPI Korea Selatan (2,89%), dan Hang Seng Hong Kong (1,06%). (Lihat ilustrasi)

Nilai beli bersih (net buy) oleh investor asing sejak Januari hingga akhir pekan lalu telah mencapai Rp32,50 triliun. Lonjakan nilai net buy paling tajam terjadi sejak pengesahan UU Pengampunan Pajak pada 28 Juni 2016. Sejak 28 Juni hingga 5 Agustus 2016, nilai beli bersih oleh asing mencapai Rp18,74 triliun atau 57,66% dari total nilai net buy.

Analis PT Bahana Securities Muhammad Wafi mengatakan merangseknya investor asing ke lantai bursa terjadi seiring dengan positifnya data-data ekonomi domestik. Dari sisi eksternal, ekonomi AS terbilang belum kondusif sejalan dengan belum dinaikkannya suku bunga acuan Fed Fund Rate oleh Federal Reserve.

Tidak hanya itu. Perekonomian Uni Eropa juga masih terguncang setelah keputusan Inggris keluar dari keanggotaan Uni Eropa. Keputusan tersebut ditengarai mengganggu stabilitas politik dan ekonomi Benua Biru.

“Akhirnya, investor kehilangan tempat untuk berinvestasi. Tujuannya sekarang adalahemerging market. Pilihan investor sangat terbatas hanya dua atau tiga negara, Indonesia salah satunya karena dari sisi politik lebih stabil dibandingkan dengan negara lain,” ujarnya, Minggu (7/8).

LEVEL BARU

Menurutnya, IHSG pekan ini berpeluang menguji level psikologis 5.400. Tidak menutup kemungkinan, IHSG bakal menembus level 6.000 pada tahun ini apabila tren masuknya investor asing ke lantai bursa terus terjaga.

Sementara itu, saham-saham sektor pertambangan yang terus meroket sejak awal tahun dinilai telah memasuki area jenuh beli. Peluang saham pertambangan untuk terkoreksi cukup besar lantaran telah terjadi sinyalemen jual.

Saham-saham sektor properti dan konstruksi dinilai mulai menggeliat. Dalam dua hari terakhir perdagangan, saham sektor properti dan subsektor konstruksi mulai menanjak.

IHSG pekan ini diproyeksi cenderung menguat dengan level resistance 5.500 dan support 5.400. Sementara itu, nilai tukar rupiah cenderung sedikit melemah dengan level Rp13.050–Rp13.200 per dolar AS.

Kepala Riset PT Nong Hyup Koorindo Securities Indonesia Reza Priyambada menuturkan IHSG berpeluang kembali menyentuh level resistance sepanjang pekan ini. “Sentimen positif datang dari pertumbuhan ekonomi, harapan realisasi tax amnesty, dan kondisi bursa global yang cenderung menguat.”

Akan tetapi, dia mengingatkan agar pelaku pasar tetap berhati-hati. Pasalnya, setiap kali IHSG menyentuh level tertinggi, maka akan dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung. Kendati demikian, dalam sejumlah aksi ambil untung, investor asing masih mencatatkan nilai beli bersih yang mencerminkan kepercayaan terhadap prospek ekonomi di Indonesia.

Reza memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2016 lebih rendah dari capaian kuartal II/2016 yang mencapai 5,18%.

Senior Market & Technical Analyst PT KDB Daewoo Securities Indonesia Heldy Arifien menilai seiring derasnya aliran modal investor asing, IHSG berpotensi menyentuh level 5.500 dengan support 5.425 dan resistance 5.480–5.525.

Menurut Heldy, pelaku pasar menilai optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal III dan IV tahun ini akan positif. Pertumbuhan ekonomi yang baru dirilis di atas ekspektasi membuat saham sektor perbankan dan big cap melambung.

“Seharusnya pekan ini masih sejalan. Lihat sektor banking masih bisa mendorong, akan ada bantuan dari sektor infrastruktur dan konsumer,” paparnya.

Kepala Komunikasi Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, Dwi Shara Soekarno mengungkapkan sepekan lalu, rerata nilai transaksi hari an naik 14,28% menjadi Rp9,83 triliun dari Rp8,6 triliun pada akhir pekan lalu.

Rerata volume transaksi harian sepanjang pekan lalu naik 16% ke posisi 7,81 miliar lembar saham dari 6,73 miliar lembar saham di akhir pekan sebelumnya.

 dollar small

JAKARTA okezone– Pasar modal Indonesia berhasil menyandang return investasi terbesar di dunia. Tercatat selama 10 tahun terakhir pasar modal Indonesia memberikan return investasi hingga 317 persen atau 15 persen per tahun.

Namun belakang ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung tertekan. Kendati begitu BEI tetap yakin pasar modal Indonesia masih tetap bisa mempertahankan predikat return investasi tertinggi di dunia tersebut.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat mengatakan, ada empat hal yang membuat pihaknya yakin akan hal tersebut. Pertama terkait upaya pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty. Diharapkan dana repatriasi tax amnesty sebagian besar bisa masuk ke pasar modal

“Kami usulkan dana hasil repatriasi ke reksadana, penyertaan terbatas obligasi dan saham di hadapan DPR. Dan kami akan mengirim surat resmi Kementerian Keuangan,” terangnya di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (25/5/2016).

Kedua, lanjut Samsul, kemungkinan penurunan harga BBM yang akan terus berlangsung juga akan berdampak tidak langsung kepada pasar modal. Pasalnya diperkirakan setiap kali ada penurunan harga BBM Rp1.000 per liter maka diperkirakan akan penambahan dana yang beredar di masyarakat sebesar Rp31 triliun.

“Ketiga belanja pemerintah ini juga akan mendukung industri. Keempat pelonggaran moneter khususnya pemangkasan suku bunga acuan. Ini yang akan mendorong pasar modal,” pungkasnya.

(mrt)

ezgif.com-resize

JAKARTA sindonews – Kepala Komunikasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Dwi Shara Soekarno mengatakan rata-rata nilai transaksi harian di BEI sepanjang pekan ketiga Mei 2016 mencatat kenaikan 11,39%. Meningkat menjadi Rp6,08 triliun dari sebelumnya Rp5,46 triliun.

Lanjut dia, peningkatan nilai transaksi di pasar saham diimbangi rata-rata volume transaksi harian yang juga naik 2,11% meski frekuensinya menurun.

“Kenaikan tersebut juga diimbangi dengan rata-rata volume transaksi harian yang juga ikut mengalami kenaikan 2,11%, walaupun rata-rata frekuensi harian mengalami perubahan 3,64%,” ujarnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (22/5/2016).

Sementara, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang periode 16-20 Mei 2016 terkoreksi 1,05% ke posisi 4.711,88 poin jika dibandingkan penutupan pekan sebelumnya yang berada di level 4.761,72 poin.

Selain itu, lanjut Dwi, nilai kapitalisasi pasar di bursa tercatat menurun dari Rp5.055,36 triliun menjadi Rp5.001,81 triliun.

“Kapitalisasi pasar BEI juga ikut mengalami perubahan menjadi Rp5.001,81 triliun dari Rp5.055,36 triliun di akhir pekan sebelumnya,” katanya.

Dia menambahkan investor asing sepanjang perdagangan pekan kemarin mencatatkan jual bersih di pasar modal Indonesia dengan nilai Rp403 miliar.

“Sementara secara tahunan, aliran dana investor asing di pasar saham masih tercatat beli bersih dengan nilai Rp2,05 triliun,” pungkasnya.

(ven)

doraemon

INILAHCOM, Jakarta Tidak semua pelaku pasar atau investor memahami benar apa yang dilakukannya saat melepas saham di pasar modal akibat gejolak ekonomi. Sebagian ikut-ikutan dan justru menambah keresahan pasar.

Menurut Ekonom Universitas Atmajaya, Prasetyantoko mengatakan, tidak sedikit pelaku market keluar dari pasar modal dan terjebak pada pada sikap sekedar ikut-ikutan. “Melepas saham akibat behaviour, enggak jelas alasannya,” kata dia di Jakarta, Selasa (15/9/2015).

Ia menilai, pasar sudah terbawa arus yang tidak rasional dengan gejolak eksternal yang berdampak ke internal. Padahal, seharusnya rupiah yang telah memicu capital outflow di pasar saham, secara fundamental mata uang RI berada di kisaran 12.500 hingga 13.000. “Walupun, realitasnya sekarang di atas Rp14 ribu per dolar AS,” timpal dia.

“Sesuatu yang sulit diprediksi untuk rupiah, nyatanya melewati asumsi APBNP 2015,” imbuhnya. [jin] – See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2237736/rupiah-melemah-investor-doyan-lepas-saham#sthash.d6hxUHKJ.dpuf

 

spiral

Tuesday 8 September 2015 06.30 BST
Last modified on Tuesday 8 September 2015 06.56 BST

 

China is planning a “circuit breaker” mechanism to prevent any further losses on its volatile stock markets as both of the country’s leading indexes continued to slide.

According to draft regulation, trading would be suspended for 30 minutes when the market rose or fell by 5%. If the index went up or down by 7% or more, trading would be suspended for the day.
Analysis China’s market turmoil: leaders’ refusal to learn lessons makes more volatility a sure bet

The mechanism could only be triggered once a day. “Circuit breaker in both directions will be conducive to curbing excessive transactions and reining in market fluctuations,” the draft from the securities regulator said.

It is the latest in a string of measures introduced by the Chinese authorities as they continue to grapple with wild fluctuations in the share market, which have fallen by 40% since June.

There were more jitters on Tuesday after figures showed that China’s foreign trade dropped 9.7% in August. Customs data showed that exports for August were down 6.1% but imports fell a whopping 14.3%, raising more questions about the strength of the country’s economy. In the first 8 months of this year, imports were down 14.6% while exports fell 1.6%.

On Tuesday, Shanghai’s Composite index was down 0.76% in trading after the lunch break with the Shenzhen Component index down almost 1%.

In Japan, the Nikkei index in Japan was off 2.4%, the Kospi index was down 0.5% in Korea but the Hang Seng in Hong Kong was up 0.7%.

It was a better day in Australia where the S&P/ASX200 was up more than 1% at 5,089 points on news of possible takeovers in the energy sector.

According to Tuesday’s draft plan, the circuit-breaker mechanism would help prevent “excessive reactions of investors”. China’s stock market investors are mostly individual investors which can lead to panic selling.
Advertisement

Yang Delong, chief strategy analyst at the Southern Fund, said the idea showed “the government’s good intentions”.

“The introduction of the circuit-breaker aims at preventing future market plunges and stabilising the market. The A-share market has seen violent plunges recently, and with the circuit breaker mechanism investors would have a cooling period before taking irrational actions.”

The stock exchanges were soliciting public opinions on the plan and the public have until 21 September to comment.

In another bid to stabilise the markets, it was announced that Chinese investors who hold their stock for over a year will be exempt from a 5% dividend tax.

The ministry of finance said in a joint statement with the taxation authority and the securities regulator on Monday that if investors sold a stock after holding it for a month or less, they would be liable for a 20% payment of income tax on the dividend they receive. Investors who held a stock for between one month and a year would pay a 10% to encourage long-term investment instead of the short selling of stocks.

On Sunday, China’s securities regulator said that the country’s stock markets had stabilised and that market transactions are now normal for the most part. In a comment to the state news agency Xinhua, the China Securities Regulatory Commission said: “Gains on the stock market had been too rapid and large, forming stock market bubbles, therefore subsequent plunges and adjustments were inevitable.”

Additional reporting by Luna Lin

 ezgif.com-resize

Bursa Saham China Berayun Akibat Penurunan Harga Tembaga

Indeks saham China berayun antara keuntungan dan kerugian seiring penguatan saham perusahaan listrik terkait prospek reformasi harga, sementara saham produsen tembaga merosot.

Indeks Shanghai Composite tergelincir sebesar 0,2 persen ke level 3,215.17 pukul 09:40 waktu setempat. Indeks acuan turun sebesar 4,5 persen dalam sepekan terakhir melalui perdagangan kemarin seiring senilai $5 triliun keluar dari pasar saham china yang mengalami kehilangan momentum pasca menhentikan reli duni mengirim indeks ke level tertingginya sejak Agustus 2009 lalu. Volume perdagangan. anjlok 60 persen di bawah moving average 30-hari untuk hari ini.

Indeks Hang Seng Hong Kong China Enterprises turun sebesar 0,3 persen. Indeks CSI 300 turun sebesar 0,1 persen. Indeks Hang Seng kehilangan kurang dari 0,1 persen. Indeks saham China-AS Bloomberg, Indeks saham perusahaan china terdaftar yang paling diperdagangkan di AS, merosot 0,8 persen di New York.

Indeks Shanghai Composite masih pemain terbaik di antara 93 indeks global yang dilacak oleh Bloomberg selama tahun lalu indeks melonjak sebesar 59 persen. Indeks diperdagangkan pada 12,3 kali 12 bulan proyeksi pendapatan pekan lalu, level tertinggi sejak Mei 2011, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg.

China mungkin merilis data pada pasokan uang, pinjaman baru dan investasi asing langsung untuk Desember sedini hari ini. Pinjaman baru mungkin mencapai 880 miliar yuan ($142.miliar) bulan lalu, dibandingkan dengan 852.700.000.000 yuan pada bulan November, menurut estimasi median dari survei Bloomberg. (izr)

Sumber: Bloomberg

dollar small

IMF: Gejolak China Bukanlah Krisis

Strategydesk – Perlambatan ekonomi China dan kejatuhan bursa sahamnya bukanlah pertanda krisis, tapi lebih sekedar penyesuian penting bagi ekonomi terbesar kedua itu.

China StockHal itu disampaikan oleh Direktur Pelaksana IMFCarlo Cottarelli dalam jumpa pers akhir pekan lalu. “Kebijakan moneter sangat agresif dalam beberapa tahun terakhir dan penyesuaian harus terjadi,”katanya. Menurutnya, terlalu dini untuk menyebut adanya krisis di China.

Data manufaktur China Jumat lalu memperlihatkan semakin dalamnya kontraksi. Bukti terbaru akan perlambatan di China menghujam saham global sepanjang akhir pekan, membuat Wall Street mengalami kejatuhan harian terbesar dalam empat tahun. Bursa saham di seluruh Eropa dan Asia juga bertumbangan. Hampir $3 triliun nilai saham global hilang.

Pejabat IMF itu mengumumkan kembali proyeksi pertumbuhan China tahun ini di 6,8%, lebih rendah dari pertumbuh 7,4% yang dicapai tahun lalu. “Ekonomi riil China melambat, tapi ini suatu hal yang lumrah terjadi. Apa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di pasar keuangan adalah gejolak yang alami,”sebutnya.

Bursa saham China sudah anjlok 30% sejak pertengahan tahun. Menyusul serangkaian data ekonomi buruk, China mendevaluasi yuan minggu lalu. Cottarelli mengatakan IMF akan meminta penjelasan pemerintah China soal keputusan melemahkan mata uang mereka.

By soegeefx|August 24, 2015 5:01 am|Bisnis & Ekonomi|

The foreign exchange market, with global daily turnover of some US$5.3 trillion, is by far the world’s largest financial market—and its importance is only expected to grow. One leading global wealth management company has suggested daily volumes could reach $8 trillion within the next decade.

“The growth of foreign exchange markets is likely to continue,” agrees Professor Mark Taylor, dean of Warwick Business School in the U.K. One of the main drivers, he says, is the continued growth of international trade and investments, though he notes that “a large amount of forex transactions are not for goods or services—or indeed for external financial transactions—but is proprietary trading.”

It is generally accepted that efficient currency markets provide an essential lubricant to global trade and investment, while floating exchange rates act as shock-absorbers during macroeconomic shifts. Yet Michael Kitson, an economist at the University of Cambridge Judge Business School in the U.K., sees “an increasing disconnect between forex markets, now driven more by speculative behaviour, and the real economy.”

“This makes exchange-rate movements less predictable,” Mr. Kitson adds, “and it is this inconsistency, rather than pure volatility, that seems to be growing.” A recent example was the euro-dollar spot rate’s rollercoaster ride in early June, rising 2% on the day that more positive data on euro-zone inflation was released (see chart) and then gyrating more than 1% as the market struggled to establish a new trading range.

Much of that turbulence was caused by traders unwinding overcrowded positions that assumed the euro zone’s continuing slide towards deflation—for many investors, a “one-way bet.” The first data suggesting otherwise caused the euro to surge, triggering stop/loss fire sales that pushed it even higher.

“Uncertainties over the timing of interest-rate rises tend to unsettle markets,” Prof. Taylor says. And then there are extreme events, he adds, such as when the policy of pegging the Swiss franc to the euro was abandoned [see chart). Many major market players—including the big Swiss banks—suffered huge losses.

Patrick Teng, founder and chief dealer of Singapore-based Six Capital, predicts: “Financial markets across all asset classes will be volatile and daily swings unprecedented,” adding that the 50% plunge in oil prices “is just the tip of the iceberg.”

Chiara Banti, lecturer in finance at the University of Essex in the U.K., who has studied the relationship between liquidity and volatility, believes that “we have seen higher volatility since the financial crisis.” And it is not just macroeconomic uncertainties or fast-moving global capital flows that are responsible.

“Given its size, the forex market is considered to be highly liquid,” Dr. Banti observes. But she has found that higher volatility can trigger illiquidity because it impacts on the funding market, making it more expensive for dealers to hold a position.

“Dealers are increasingly seeking to match customer orders in-house, without themselves having to step in and provide liquidity,” she notes. But when markets move sharply, such risk-aversion may suddenly drain liquidity and widen bid-ask spreads, thereby fuelling even greater volatility.

Mr. Kitson argues that “excess liquidity globally is generating price volatility.” Huge capital flows seeking better returns in a low-interest-rate environment only increases instability; and with the negative feedback between volatility and liquidity when markets are stressed, it looks like we are all in for a bumpy ride.

“Debating the causes has become a secondary issue,” Mr Teng says. “What matters now is how best to manage and benefit from increased volatility. We need to look the future rather than the past.”

rose KECIL

TEMPO.COJakarta – Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengakui bursa saham Indonesia sedang melemah. Menurut dia, pelemahan ekonomi ini juga dialami banyak negara, baik negara maju maupun berkembang.

Pelemahan bursa saham ini, kata dia, konsekuensi dari melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia. “Kita tidak usah merasa yang melambat ekonominya hanya Indonesia, tidak! Penegasan ini perlu, karena yang sering diangkat adalah ekonomi kita melemah, iya, tapi negara lain juga melambat,” ucapnya saat berkunjung di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Agustus 2015.

Jokowi berujar, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di peringkat lima besar dunia. “Kalau ada rasa pesimistis, menurut saya, itu keliru. Kita harus optimistis, karena negara-negara lain ada yang turun,” ujarnya.

Menurut Jokowi, pertumbuhan ekonomi negara-negara lain turun 1,5-3 persen. “Kita turun 0,3 persen saja sudah ramai. Lihat nanti semester kedua,” tuturnya.

Hari ini Jokowi hadir dalam peringatan 38 tahun pasar modal Indonesia di gedung BEI. Jokowi berharap BEI terus berbenah agar dapat mendorong inklusi investasi bagi investor dalam negeri. Dalam acara ini, hadir pula Ketua Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, pimpinan BEI, dan para pelaku pasar.

ALI HIDAYAT

doraemon

Bisnis.com, JAKARTA- Gejolak ekonomi dan pasar modal yang terjadi saat ini turut mengancam bisnis sekuritas di dalam negeri. Bisnis sekuritas tahun ini dinilai tidak menggairahkan dan diprediksi akan berkinerja di bawah tahun lalu.

Padahal, pada awal 2015, sejumlah sekuritas masih optimistis pertumbuhan pendapatan di bisnis ini bisa mencapai 20%-30% seiring mulai jalannya pemerintahan baru dan proyek infrastruktur pemerintah. Namun, di tengah tahun, sekuritas justru tidak begitu optimistis dengan bisnis ini dan memilih menghitung-hitung kembali.

Tidak begitu menggairahkannya bisnis sekuritas tahun ini sudah terlihat dari sejumlah kinerja sekuritas sepanjang kuartal I/2015. Sekuritas, khususnya sekuritas anak usaha pelat merah rata-rata mengalami penurunan pendapatan. Adapun, kinerja yang sama diprediksi akan berlanjut hingga akhir tahun seiring belum terlihatnya sentimen positif, baik dari domestik maupun global.

Direktur Strategy, Treasury & Propietary Mandiri Sekuritas C. Paul Tehusijarana mengatakan bisnis sekuritas secara keseluruhan kurang menggembirakan sepanjang semester I/2015. Kondisi pasar modal dan ekonomi yang tidak begitu mendukung, membuat kinerja masing-masing lini bisnis tidak begitu optimal.

Menurut Paul, hingga akhir tahun kinerja sekuritas belum bisa diprediksi. Namun, melihat belum adanya sentimen positif yang menghampiri, dia tidak begitu optimistis. “Tidak terlalu menggembirakan tahun ini. Lihat saja sampai akhir tahun bagaimana, kami akan melihat lagi, kami terus mengembangkan bisnis di semua lini bisnis usaha,” kata Paul, Kamis (9/7).

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, sepanjang kuartal I/2015 pendapatan usaha Mandiri Sekuritas tercatat Rp148,52 miliar atau turun 13,22% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp171,15 miliar. Sementara, sepanjang tahun lalu pendapatan Mansek tumbuh sekitar 14,42%.

Pada kuartal I/2015, penurunan pendapatan paling tajam terjadi pada bisnis kegiatan perantara perdagangan efek. Namun demikian, Paul memprediksi bisnis tersebut masih menjadi andalan yang memberikan pendapatan paling tinggi dibandingkan dengan bisnis lainnya hingga akhir tahun ini.

“Ya masih dari sana. Untuk investment banking, kami juga terus kejar, banyak penjaminan emisi yang kami lakukan tahun ini, semoga bisa mendongkrak kinerja kami,” jelasnya.

Bukan hanya Mansek yang mengalami penurunan pendapatan pada kuartal I lalu. Pendapatan usaha Bahana Securities turun 26,97% menjadi Rp31,62 miliar pada kuartal I/2015 dari perolehan periode yang sama sebelumnya, yakni Rp43,30 miliar.

Begitu juga dengan BNI Securities yang pendapatannya turun hingga 44,91% menjadi Rp24,50 miliar dari perolehan periode yang sama sebelumnya yang mencapai Rp44,48 miliar. Padahal, sepanjang tahun lalu pendapatan perseroan masih tumbuh 8,11%.

Panin Sekuritas Tbk. juga mengalami hal yang sama. Pendapatannya pada kuartal I/2015 turun 23,22% menjadi Rp148,08 miliar dari perolehan sebelumnya Rp192,88 miliar. Sementara, pada awal tahun perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan sekitar 20% hingga akhir tahun ini.

Handrata Sadeli, Presiden Direktur Panin Sekuritas mengatakan turunnya pendapatan disebabkan kondisi pasar saham yang kurang baik lantaran dipengaruhi oleh kondisi global dan perekonomian dalam negeri. Dia berharap kondisi ini tidak berlangsung lama lantaran bisa mengganggu kinerja bisnis sekuritas lebih dalam.

Adapun, penurunan kinerja tidak terjadi pada Danareksa Sekuritas yang justru naik hingga 29,61% menjadi Rp64,42 miliar dari sebelumnya yang senilai Rp49,70 miliar.

Marciano Herman, Direktur Utama Danareksa Sekuritas mengatakan sejak awal perseroan melakukan strategi yang memang tidak sensitif terhadap kondisi pasar. Hal ini membuat, gejolak di pasar modal yang sedang terjadi saat ini tidak begitu banyak memberikan pengaruh terhadap kinerja perusahaan.

“Kami mendesain strategi bisnis yang tidak rentan. Dari dulu, kinerja kami memang datar-datar saja. Namun, memang dibandingkan dengan bisnis brokerage, bisnis investment banking tahun ini akan lebih baik,” kata Marciano saat dihubungi Bisnis, Kamis (9/7).

reaction_1

EKONOMI
03/10/2009 – 05:15
IHSG Sepekan, Tertekan Data Ekonomi AS
Wahid Ma’ruf

(inilah.com/Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta – Pergerakan IHSG pada pekan ini dipengaruhi oleh faktor ekternal yang berasal dari data ekonomi AS sehingga mempengaruhi indeks Wall Street. Walaupun ekspektasi inflasi dan laporan keuangan kuartal III menahan pelemahan IHSG.

Menurut analis saham Milenium Danatama Securiteis, Ahmad Riyadi, Data ekonomi di AS yang turun mendorong pelemahan di bursa global yang diikuti penurunan di bursa regional.Sentimen positif yang masih ditunggu investor adalah keluarnya laporan keuangan kuartal III 2009 sehingga mereka lebih memilih untuk menahan beli saat ini. “Indeks masih terpengaruh pelemahan bursa global karena data ekonomi yang turun, minyak juga turun. Transaksi lebih didominasi investor lokal,” katanya.

Sentimen dari ekonomi AS yang mempengaruhi bursa pada pekan ini seperti tentang akuisisi yang dilakukan Abbot Laboratories dan Xerox Corp. Aksi korporasi ini meningkatkan kepercayaan para investor tentang pemulihan ekonomi. Data yagn jelek juga tentang pendapatan domestik bruto (PDB), dan penurunan industri manufaktur di wilayah Midwestern.Selain itu data Departemen Tenaga Kerja AS tentang jumlah klaim insentif pengangguran naik menjadi 551 ribu pada pekan lalu.

Sedangkan sentimen dari dalam negeri adalah ekspektasi dari grup Astra yang kinerja kuartal III diperkirakan akan meningkat. Dengan sentimen itu investor-investor asing melakukan pembelian masif atas saham PT Astra International Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) senilai Rp 175,36 miliar. Pembelian ini mendorong kenaikan tajam harga dua saham tersebut pada perdagangan hari Rabu lalu.

Ekspektasi investor terhadap data pengumuman BPS soal inflasi September juga sempat menahan penurunan IHSG yang saat itu bursa regional dan global tertekan dengan penurunan PDB AS. Inflasi akhirnya melebihi ekspektasi investor yaitu berada di 1,05% dari ekspektasi di bawah 1% sehingga mendorong melakukan profit taking.

Setelah libur panjang lebaran lalu, volume transaksi di BEI belum kembali ke volume normal. Untuk itu investor masih lebih memilih strategi spekulasi sehingga sering melakukan akti ambil untung. Sedangkan investor asing masih dalam posisi wait and see terhadap data kinerja emiten pada kuartal ketiga. [hid]

Indeks Kembali Tembus Rekor Tertinggi Sejak Mei 2008
Kamis, 01 Oktober 2009 | 17:10 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Indeks berhasil naik dalam tiga hari berturut-turut, sehingga mengantarkan indeks kembali mencetak level tertinggi sejak 23 Mei 2008. Pada perdagangan sore ini, indeks ditutup di 2.477,971 atau naik 10,38 poin (0,42 persen) dari posisi kemarin.

Saham BCA yang naik Rp 200 per saham, BRI Rp 150, Unilever Rp 200, Perusahaan Gas Negara Rp 50, Indocement Rp 200, Telkom Rp 50, serta Astra International yang naik Rp 150 per saham mampu menopang kenaikan indeks.

Menurut analis PT Milenium Datanama Sekuritas, Abidin, saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga, seperti saham perbankan, justru menjadi pemicu kenaikan indeks. Walau harganya saat ini sudah sangat mahal,” kata Abidin kepada Tempo di Jakarta sore ini.

Dia menambahkan, laju inflasi September yang meningkat di atas 1,05 persen yang melebihi ekpektasi pasar, tidak banyak mempengaruhi indeks. “Pasar menilai inflasi masih terkendali,” ujarnya. “Pasar juga memperkirakan minggu depan Bank Indonesia masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di 6,5 persen.”

VIVA B KUSNANDAR

 

sejarah indo maen saham … 18 September 2017

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:54 am

tren ihsg 1997_2017sep

 
… sejarah tren Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia / Jakarta yang tergambar sebagai grafik tren, menunjukkan bahwa KETIDAKPASTIAN itu begitu tinggi … setidaknya ketidakpastian yang langsung terlihat dari sejarah tren ini: sejak 30 Juni 1997 s/d 15 September 2017 tlah terjadi TREN KENAEKAN ihsg dari sekira 700-an s/d 5800an… ketidakpastian ini TENTU AZA dikehendaki oleh semua pihak yang terlibat dalam BEI/BEJ, termasuk investor
… ketidakpastian seperti ini menarik disimak lebe jauh: simak dalam periode lebe singkat, yaitu 2008, saat ihsg TURUN dari 2700an k 1100an. Lalu tren ihsg NAEK lage setidaknya dalam periode 2009 s/d 30 April 2013, saat dari 1300an k 5000an. Lalu turun lage k area 4200an. Lalu naek s/d 28 Feb 2015 k 5400an, ekh turun lage k 4200an s/d Agustus 2015. Sejak bottom 4200an, maka ihsg naek lage secara relatif lebe stabil k 5800an @ 2017.
… kesimpulan kecil sederhana: periode ketidakpastian 1997-2017 diisi oleh berbagai periode ketidakpastian singkat (pasca krismon 1997-2000): 2008, 2009-2013, 2013-2015, n 2015-2017. Periode ketidakpastian panjang memang dibangun oleh periode ketidakpastian pendek.
… bwat investor, sila dipilih mo maen jangka panjang atwa jangka pendek. gw pilih keduanya demi hasil yang lebe baek daripada sekedar jangka panjang aza atwa jangka pendek aza 🙂
 

 

 

JAKARTA okezone – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso menyatakan, melalui infrastruktur yang lebih mumpuni dan dukungan emiten, regulator dan seluruh insan Pasar Modal Indonesia, OJK pun meyakini bahwa pasar modal di Indonesia mampu melesat menjadi salah satu pasar modal yang terbaik di dunia.
BERITA REKOMENDASI
Sangat Istimewa! Harga Patung Banteng Wuluh Tidak Sampai Rp1 Miliar
BUSINESS HITS: Sri Mulyani Berharap Makin Banyak Perusahaan yang IPO, Ini Alasannya!
BUSINESS HITS: Misteriusnya Asal Usul Banteng Wulung, Ikon Baru Bursa Efek Indonesia
Pasar modal di Indonesia saat ini sudah berkembang sangat pesat. Pada tahun 1977, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG baru berada di level 98,00 sementara per 11 Agustus kemarin IHSG sudah berada di level 5.766,13, atau meningkat lebih dari 5.000%. “Sementara itu nilai kapitalisasi pasar yang pada tahun 1977 baru mencapai Rp2,73 miliar, maka per 11 Agustus kemarin nilai kapitalisasi pasar kita sudah mencapai Rp6.319,55 triliun, atau meningkat lebih dari 200.000%,” ujarnya. Dia menyakini, pasar modal akan berkembang sedemikian pesat. Bahkan pasar modal di Indonesia saat ini mulai disejajarkan dengan beberapa negara maju baik di kawasan ASEAN maupun dunia. Baca juga: 40 Tahun Pasar Modal, Hebat! Kapitalisasi Pasar di Indonesia Meningkat 200.000%
(wdi)

rose KECIL

PUTRA JAYA, MALAYSIA ID- PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) meraih penghargaan sebagai kustodian sentral efek terbaik di Asia Tenggara dari majalah Alpha Southeast Asia. Penyerahan penghargaan berlangsung di Putra Jaya-Malaysia, Rabu (25/1).

 

Pencapaian itu didorong atas sejumlah pengembangan yang telah dituntaskan perseroan. Misalnya, implementasi S-Invest, penunjukan KSEI sebagai penerbit nomor SID untuk surat berharga yang diterbitkan BI.

 

Inisiatif KSEI untuk bekerja sama dengan 100 pelaku industri pasar modal dengan Dirjen Dukcapil juga ikut menjadi alasan peraihan penghargaan tersebit. KSEI sebelumnya telah memanfaatkan data kependudukan untuk mempercepat pembukaan rekening efek dari berhari-hari menjadi hanya dalam hitungan jam.

 

Dirut KSEI Frederica Widyasari Dewi mengatakan, penghargaan ini akan memotivasi KSEI untuk pasar modal Indonesia lebih reliable dan menjadi tujuan investasi lokal maupun asing. “Penghargaan ini akan memotivasi kami berkinerja lebih baij ke depan,” ungkapnya di Putra Jaya-Malaysia, Rabu(25/1).

 

KSEI sebelumnya telah menerapkan aplikasi sistem pengelolaan investasi S-Invest. Aplikasi ini dikembangkan
KSEI bekerja sama dengan Korea Securities Depository (KSD) sebagai lembaga kustodian di Korea Selatan yang telah mengimplementasikan sistem serupa di pasar modalnya.

 

S-Invest diharapkan membuat Pasar Modal Indonesia memiliki platform dan sistem yang terintegrasi untuk industri pengelolaan investasi. S-Invest juga salah satu rencana strategis KSEI selain pengembangan sistem utama C-BEST Next-G dan AKSes Financial Hub. S-InveHal juga bisa mempermudah masyarakat membeli produk pasar modal, khususnya reksa dana.

doraemon

ID: Kepala Komunikasi Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia Yulianto Aji Sadono mengatakan, pada Kamis pekan lalu (27/10), total frekuensi dan volume transaksi perdagangan saham mencapai rekor tertinggi sepanjang berdirinya PT BEI sejak 13 Juli 1992.

Jumlah investor aktif yang bertransaksi di perdagangan saham juga mencatatkan rekor terbanyak.

“Rekor total frekuensi perdagangan saham yang tercipta Kamis lalu sebanyak 428.640 kali, jauh di atas rekor tertinggi sebelumnya pada 13 Juli 2016 sebanyak 376.777 kali transaksi.

Volume perdagangan saham juga mencetak rekor total 39,04 miliar unit saham, dibanding rekor sebelumnya pada 8 April 2011 sebanyak 29,83 miliar unit saham.

Jumlah investor aktif yang melakukan transaksi saham juga mencapai rekor sebanyak 38.734, dibanding rekor sebelumnya pada 9 Agustus 2016 sebanyak 35.455 investor,” paparnya. (bersambung)

Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/home/bei-miliki-likuiditas-terbaik-tahun-ini/152016

spiral

Bisnis.com, JAKARTA – Rata-rata nilai transaksi harian di PT Bursa Efek Indonesia pekan ini melonjak 7,58% menjadi Rp7 triliun sepanjang pekan ini dari Rp6,5 triliun.

Kepala Komunikasi Perusahaan BEI Dwi Shara Soekarno mengatakan kenaikan tersebut juga diikuti dengan peningkatan rata-rata volume transaksi harian saham sebesar 4,41% menjadi 7,18 miliar unit saham dari 6,87 miliar unit saham.

“Meski demikian rata-rata frekuensi harian transaksi perdagangan saham pada periode 5 sampai 9 September 2016 mengalami perubahan 4,17% menjadi 249,56 ribu kali transaksi dari 260,41 ribu kali transaksi di pekan sebelumnya,” katanya dalam keterangan resmi pada Jumat (9/9/2016).

Dia menyebutkan, performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini juga ikut mengalami perubahan 1,34% ke posisi 5.281,92 poin dari 5.353,46 poin di pekan lalu.

Selama sepekan terakhir, nilai kapitalisasi pasar IHSG ikut mengalami perubahan 1,39% ke posisi Rp5.683,44 triliun dari Rp5.763,71 triliun. Investor asing mencatatkan jual bersih Rp814 miliar di periode 5 hingga 9 September 2016.

Pekan ini diramaikan dengan pencatatan Obligasi dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap IV Tahun 2016. Obligasi yang diterbitkan oleh PT Indosat Tbk. (ISAT) ini mulai dicatatkan di BEI pada Senin (5/9/2016) dengan nilai nominal sebesar Rp3,46 triliun.

ets-small

Dalam setiap aktivitas yang menyangkut sejumlah pihak, sewaktu-waktu bisa muncul persengketaan atau konflik perdata. Tak terkecuali aktivitas di pasar modal. Apabila pihak yang bersengketa tak bisa menyelesaikan sendiri persoalannya, bagaimana mengatasinya? Di pasar modal Indonesia ada lembaga yang membantu penyelesaian sengketa yaitu, Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI) atau Indonesian Capital Market Arbitration Board.

BAPMI didirikan oleh SRO (Self Regulatory Organization) yaitu Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) serta asosiasi-asosiasi di lingkungan pasar modal Indonesia. BAPMI menjadi tempat menyelesaikan persengketaan perdata di bidang pasar modal melalui mekanisme penyelesaian di luar pengadilan.

Lembaga yang didirikan pada tahun 2002 ini akan memberikan tiga alternatif penyelesaian sengketa, yaitu pendapat mengikat, mediasi, dan arbitrase. Pendapat mengikat BAPMI adalah pendapat yang diberikan oleh BAPMI atas dasar permintaan para pihak mengenai penafsiran suatu ketentuan yang kurang jelas di dalam perjanjian agar di antara para pihak tidak terjadi lagi perbedaan penafsiran yang bisa membuka perselisihan lebih jauh.

BAPMI akan memberikan pendapat mengikat secara tertulis dan ditandatangani oleh ketua BAPMI selambat-lambatnya dalam waktu 30 hari kerja setelah dimulainya pemeriksaan, yang disampaikan melalui surat tercatat, bukan dalam suatu forum pertemuan. Pendapat mengikat yang diberikan oleh BAPMI ini bersifat final dan mengikat para pihak yang memintanya, oleh karenanya tidak dapat diajukan perlawanan atau bantahan. Pendapat mengikat itu harus segera dilaksanakan dalam waktu 30 hari sejak diterbitkan, dan setiap tindakan yang bertentangan dengan pendapat mengikat merupakan pelanggaran perjanjian.

Berikutnya, mediasi BAPMI adalah cara penyelesaian masalah melalui perundingan di antara para pihak yang bersengketa dengan bantuan pihak ketiga yang netral dan independen yang disebut mediator. Sifat mediator adalah fasilitator pertemuan guna membantu masing-masing pihak memahami perspektif, posisi, dan kepentingan pihak lain sehubungan dengan permasalahan yang tengah dihadapi dan bersama-sama mencari solusi penyelesaiannya. Tujuan dari Mediasi adalah dicapainya perdamaian di antara para pihak yang bermasalah.

Proses mediasi yang dilakukan BAPMI berlangsung selama 14 hari kerja dalam pertemuan (hearing) tertutup untuk umum yang dilaksanakan di tempat yang ditetapkan oleh BAPMI atau tempat lain yang disepakati oleh para pihak.

Yang terakhir adalah arbitrase BAPMI, yaitu cara penyelesaian sengketa dengan menyerahkan kewenangan kepada pihak ketiga yang netral dan independen. Pihak ketiga disebut arbiter yang bertugas memeriksa dan mengadili perkara pada tingkat pertama dan terakhir. Keputusan yang dijatuhkan oleh arbiter tersebut bersifat final, dan mengikat bagi para pihak yang tidak dapat diajukan banding.

Pemeriksaan dalam proses arbitrase BAPMI akan berlangsung paling lama 180 hari kerja terhitung sejak arbiter tunggal/majelis arbitrase terbentuk. Arbiter dapat memperpanjang jangka waktu tersebut dengan persetujuan pemohon dan termohon. Ada dua jenis arbiter, yakni arbiter tetap (arbiter BAPMI) dan arbiter tidak tetap (ad hoc) yang diseleksi, dan diangkat oleh pengurus BAPMI berdasarkan integritas dan kompetensi di bidang pasar modal sesuai latar belakang keahliannya masing-masing. Sebagian abiter dapat berlatar belakang praktisi, ahli hukum, akuntan, dan akademisi.

http://economy.okezone.com/read/2015/01/05/278/1088106/menyelesaikan-persengketaan-di-pasar-modal

Sumber : OKEZONE.COM

big-dancing-banana-smiley-emoticon

okezone Pasar Modal Indonesia tengah merayakan HUT yang ke-37. Dibanding pasar modal di negara maju di dunia, usia pasar modal Indonesia tergolong masih belia. Usia ke-37 dihitung sejak pasar modal Indonesia dibuka kembali dan diresmikan pada masa pemerintahan Orde Baru, yakni  pada tanggal 10 Agustus 1977 seperti tertuang dalam Keputusan Presiden RI No.52 Tahun 1976.
Namun, praktik perdagangan saham di Indonesia telah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Menurut buku “Effectengids” yang dikeluarkan Vereneging voor den Effectenhandel pada tahun 1939, transaksi efek telah berlangsung sejak 1880 namun dilakukan tanpa organisasi resmi sehingga catatan tentang transaksi tersebut tidak lengkap. Pada tahun 1878 terbentuk perusahaan untuk perdagangan komuitas dan sekuritas, yakti Dunlop & Koff, di Batavia (sekarang Jakarta).

Tahun 1892, perusahaan perkebunan Cultuur Maatschappij Goalpara di Batavia mengeluarkan prospektus penjualan 400 saham dengan harga 500 gulden per saham. Empat tahun berikutnya (1896), harian Het Centrum dari Djoejacarta juga mengeluarkan prospektus penjualan saham senilai 105 ribu gulden dengan harga perdana 100 gulden per saham. Tetapi, tidak ada keterangan apakah saham tersebut diperjualbelikan. Menurut perkiraan, yang diperjualbelikan adalah saham yang terdaftar di bursa Amsterdam tetapi investornya berada di Batavia, Surabaya dan Semarang. Inilah periode permulaan sejarah pasar modal Indonesia sebagaimana tertulis dalam Wikipedia.


Ketika pemerintah Kolonial Belanda membangun perkebunan secara besar-besaran di Tanah Air, sekitar awal abad ke- 19, mulailah ditawarkan saham perusahaan perkebunan kepada masyarakat kalangan elit ketika itu. Sejak itulah pemerintahan kolonial mendirikan cabang pasar modal  Amsterdamse Effectenbueurs atau Bursa Efek Amsterdam di Batavia (Jakarta) pada tanggal 14 Desember 1912, yang menjadi penyelenggara adalah Vereniging voor de Effectenhandel dan langsung memulai perdagangan.

Bursa Efek Batavia merupakan bursa keempat tertua di Asia, setelah Bombay (1830), Hong Kong (1847), dan Tokyo (1878). Pada saat awal terdapat 13 anggota bursa yang aktif yaitu: Fa. Dunlop & Kolf; Fa. Gijselman & Steup; Fa. Monod & Co.; Fa. Adree Witansi & Co.; Fa. A.W. Deeleman; Fa. H. Jul Joostensz; Fa. Jeannette Walen; Fa. Wiekert & V.D. Linden; Fa. Walbrink & Co; Wieckert & V.D. Linden; Fa. Vermeys & Co; Fa. Cruyff dan Fa. Gebroeders.

Pada awalnya bursa ini memperjualbelikan saham dan obligasi perusahaan atau perkebunan Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang diterbitkan pemerintah (provinsi dan kotapraja), sertifikat saham perusahaan-perusahaan Amerika yang diterbitkan oleh kantor administrasi di negeri Belanda dan efek perusahaan Belanda lainnya.

Pada 1914 bursa di Batavia sempat ditutup karena meletusnya Perang Dunia I dan dibuka kembali pada tahun 1918. Karena perkembangan yang pesat, pada 11 Januari 1925 di kota Surabaya dan 1 Agustus 1925 di Semarang  dibuka pula Bursa Efek Surabaya dan Bursa Efek Semarang. Namun, pertumbuhan pasar modal yang sebelumnya pesat berubah anjlok ketika  terjadi resesi ekonomi dunia  tahun 1929 dan pecahnya Perang Dunia II. Keadaan yang semakin memburuk membuat Bursa Efek Surabaya dan Semarang ditutup terlebih dahulu. Kemudian pada 10 Mei 1940 disusul oleh Bursa Efek Batavia.

Baru pada 3 Juni 1952, ketika Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, Bursa Efek Jakarta dibuka kembali. Operasional bursa pada waktu itu dilakukan oleh PPUE (Perserikatan Perdagangan Uang dan Efek) yang beranggotakan bank negara, bank swasta dan para pialang efek. Pada tanggal 26 September 1952 dikeluarkan Undang-undang No 15 Tahun 1952 sebagai Undang-Undang Darurat yang kemudian ditetapkan sebagai Undang-Undang Bursa.

Dalam perjalanan, ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi yang menyebabkan inflasi melambung tinggi hingga mencapai 650 persen, pasar modal kembali ditutup. Baru pada Orde Baru ketika situasi perekonomian Indonesia  membaik, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden RI ke-2 Soeharto, mengeluarkan Keputusan Presiden No. 52 Tahun 1976 tentang pendirian Pasar Modal, membentuk Badan Pembina Pasar Modal, serta membentuk Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam). Saat ini pengawas pasar modal menjadi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan bursa efek yang ada di Indonesia menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI).
(//mrt)

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0032

Bursa Batavia ke Bursa Efek Indonesia

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Indeks harga saham gabungan (IHSG)
/
KAMIS, 17 SEPTEMBER 2009 | 10:12 WIB
Oleh Reinhard Nainggolan

”Perusahaan-perusahaan diberi kesempatan untuk menjual sahamnya kepada masyarakat dan masyarakat diberi kesempatan membeli saham-saham tersebut. Dengan cara ini, kita mulai melangkah maju dalam usaha kita membangun ekonomi kekeluargaan seperti yang disyaratkan Pasal 33 UUD 1945.”

Sambutan itu disampaikan Presiden Soeharto saat mengaktifkan kembali Pasar Modal Indonesia, 10 Agustus 1977. Isinya menyiratkan bahwa pasar modal Indonesia diaktifkan kembali dengan mengedepankan asas pemerataan kepemilikan saham (baca: kekayaan). Adapun kata ”diaktifkannya” menunjukkan bahwa pasar modal telah ada sebelumnya.

Namun, adanya patahan sejarah mengesankan perdagangan saham di negeri ini baru dimulai 32 tahun lalu. Patahan sejarah itu adalah terbaginya kisah pasar modal dalam tiga periode yang tak saling terkait.

Periode pertama, yaitu sejarah berdirinya pasar modal di Indonesia, yang dimulai dari kegiatan jual-beli efek tahun 1880. Saat itu saham perusahaan ataupun obligasi Pemerintah Belanda telah diperjualbelikan kepada investor di Batavia, Surabaya, dan Semarang.

Dalam buku Pasar Modal Indonesia: Retrospeksi Lima Tahun Swastanisasi BEJ diceritakan, untuk mengatur aktivitas jual beli surat berharga, Amsterdamse Effectenbueurs, yang merupakan bursa efek tertua di dunia (didirikan di Dam Square, Belanda, tahun 1611), akhirnya membuka cabangnya di Batavia 14 Desember 1912. Cabang ini kemudian dikenal sebagai Bursa Batavia yang tercatat sebagai bursa tertua keempat di Asia setelah Bursa Bombay (tahun 1830), Bursa Hongkong (1871), dan Bursa Tokyo (1878).

Pendirian Bursa Batavia ini bertujuan mendukung keuangan kolonial. Penghimpunan dana memang bukan dari orang Indonesia yang saat itu masih susah, tetapi dari pemodal Belanda, Arab, dan China.

Namun, perputaran uang dari pasar saham inilah yang menopang Belanda mengeksploitasi hasil bumi Indonesia sebesar-besarnya. Sampai pada periode ini jelas tidak ada tujuan pemerataan kekayaan melalui pasar modal di Indonesia.

Perang Dunia

Karena memiliki emiten-emiten cukup menjanjikan, Bursa Batavia berkembang menjadi bursa internasional. Saham American Motors, Anaconda Copper, dan Bethlehem Steel—yang saat itu merupakan saham unggulan di New York Stock Exchange juga diperdagangkan di Bursa Batavia.

Perkembangan ini mendorong Pemerintah Hindia Belanda membuka bursa efek di Surabaya dan Semarang tahun 1925. Namun, akibat Perang Dunia II, seluruh kegiatan pasar modal di Indonesia terhenti pada 10 Mei 1940. Saat ditutup, Bursa Batavia, Surabaya, dan Semarang telah memperdagangkan 250 jenis saham yang jika dihitung berdasarkan harga beras tahun 1982 memiliki total kapitalisasi pasar Rp 7 triliun.

Pemerintah Belanda akhirnya membuka kembali bursa efek di Jakarta pada 23 Desember 1940. Namun, aktivitas jual-beli saham tidak kunjung pulih hingga Indonesia merdeka.

Untuk menggalang dana dengan surat utang, tahun 1947 pemerintah berencana mengaktifkan kembali pasar modal, tetapi tertunda karena labilnya perekonomian. Baru tahun 1952 Menteri Keuangan Sumitro Djojohadikusumo membuka kembali bursa efek di gedung De Javasche Bank atau Bank Indonesia di Jakarta Kota.

Namun, karut-marutnya situasi politik-ekonomi saat itu, konfrontasi Irian Barat, serta nasionalisasi perusahaan asing mengakibatkan aktivitas perdagangan saham tak bergairah.

Semangat itu baru disampaikan Presiden Soeharto saat meresmikan ”Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia” tahun 1977, yang bisa disebut sebagai awal periode ketiga dari sejarah bursa saham Indonesia.

Untuk mengembangkan pasar modal, sejak itu pemerintah memberikan fasilitas berupa keringanan pajak perseroan, pendapatan, dividen, dan kesempatan bagi investor asing memiliki saham sampai 49 persen. Fasilitas itu spontan mendorong perusahaan swasta ataupun BUMN untuk go public. Era itu dikenang sebagai masa ”kasmaran” pasar modal Indonesia.

Di tengah kentalnya spekulasi itu, perkembangan pasar modal luar biasa. Kini Bursa Efek Indonesia memiliki 406 emiten dengan kapitalisasi pasar Rp 1.850 triliun dan rata-rata nilai transaksi Rp 4-5 triliun per hari.

Namun, apakah cita-cita diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia telah tercapai, yaitu terjadinya pemerataan kekayaan melalui bursa saham?

Saat ini jumlah investor domestik 300.000 orang, 0,1 persen dari populasi. Betapa rendahnya daya jangkau pasar modal Indonesia sebagai wadah pemerataan kekayaan. Tertinggal dibanding Malaysia dengan 3 juta investor (12,8 persen populasi) atau Singapura 1,26 juta investor (30 persen populasi).

Minimnya jumlah investor lokal ini juga berdampak pada mudahnya bursa dikendalikan investor asing. Pergerakan harga saham di BEI ditentukan keluar-masuknya modal asing sekalipun nilai transaksi mereka hanya 20-25 persen dari nilai transaksi keseluruhan.

Sebagian hal ini dipengaruhi minimnya pengetahuan investor lokal tentang dunia investasi dan keuangan sehingga kerap berperilaku ikut-ikutan.

Selain melalui proses edukasi dan sosialiasi, upaya peningkatan jumlah investor domestik juga sangat terkait dengan perlindungan investor. Masyarakat tidak akan tertarik berinvestasi di bursa jika masih terdengar berita praktik penggorengan saham. Apalagi, jika masih muncul kasus penyelewengan dana nasabah, seperti kasus Sarijaya Sekuritas dan Bank Century.

Karena itu, mewujudkan pasar modal yang teratur, wajar, dan efisien adalah harga mati. Tanpa itu, cita-cita memperbesar basis investor lokal hanya menjadi impian semata.

Jika demikian, pendirian Bursa Batavia yang dulu untuk kepentingan Belanda tidak berbeda dengan pasar modal Indonesia saat ini yang manfaatnya lebih banyak dikecap investor asing.

doraemon

JAKARTA okezone – Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor di pasar modal mencapai 500 ribu dengan 99 persennya merupakan investor lokal. Hal ini menunjukkan pertumbuhan pasar modal setiap tahun terus mengalami peningkatan.

“Jumlah Investor asing sekitar di bawah 10 ribu termasuk investor institusi. Tidak ada jumlah emiten, makin banyak makin bagus. Mulai dari kapitalisasi pasar, jumlah perusahaan yang mencatatkan sahamnya di pasar modal, hingga level indeks harga saham gabungan (IHSG),” ujar Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito saat ditemui di gedung BEI, Jakarta, Senin (15/9/2014).

Dia mengatakan, meski regulator pasar modal terus berupaya untuk memperkuat basis investor domestik, namun pasar modal Indonesia dapat menjadi lebih tangguh dan lebih memiliki daya tahan ketika menghadapi krisis. “Dengan demikian peran pasar modal dapat semakin optimal sebagai mesin penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, salah satu cara untuk meningkatkan basis investor adalah melalui program sosialisasi. “Dan edukasi yang lebih terpadu kepada masyarakat,” tambah dia.

Sementara itu, aksi beli investor asing dari awal tahun hingga saat ini berjumlah Rp 55 triliun. Meskipun dalam dua pekan aksi beli investor asing turun sekitar Rp2,3 triliun. “Signifikan kalau bicara minggu ini. Tapi kalau dari awal tahun, masuknya yang signifikan,” tutupnya.
(mrt)

 

 

widely, wisely @investas1 (4) 16 September 2017

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:34 am

 

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0032

KONTAN.CO.ID – Ada yang mengatakan bahwa perbedaan antara orang kelas atas dan orang kelas menengah tampak dari cara pandangnya.

Cara pandang orang kelas atas selalu fokus pada satu hal yang menurutnya dapat menguntungkan dengan mempertimbangkan risikonya.

Selain itu, orang kelas atas juga selalu memiliki mimpi yang sangat tinggi sehingga bekerja keras tanpa henti untuk bisa mewujudkanya.

Walaupun begitu, orang kelas menengah kadang sering menganggap bahwa hal tersebut tidak mungkin bisa dicapai.

Perbedaan tersebut yang menjadikan mengapa orang kelas atas bisa semakin kaya. Sementara orang kelas menengah membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menjadi orang kelas atas.

Ada beberapa cara pandang yang sepertinya harus dimiliki kita ingin sukses seperti orang-orang kelas atas di luar sana. Cara pandangnya cukup sederhana dan penuh perhitungan pastinya.

Berikut ini cara pandang yang harus diubah orang kelas menengah agar bisa mengikuti langkah orang kelas atas.

1.Kelas Atas Mengejar Pemasukan, sedangkan Kelas Menengah Menumpuk Simpanan

Mungkin dari dulu hingga sekarang, kita selalu berpikir bahwa orang yang rajin menabung akan menjadi kaya.

Nyatanya, orang kelas atas bisa semakin kaya bukan karena mereka rajin menabung. Namun, karena mereka rajin memikirkan untuk terus menambah pendapatan mereka supaya semakin kaya.

Oleh sebab itu, orang kelas atas hanya fokus pada pemasukan yang diperolehnya. Orang kelas atas juga lebih berani untuk berinvestasi dengan tujuan agar pemasukannya jadi maksimal.

Namun, untuk bisa seperti itu, orang kelas atas tidak menjalankan bisnis dalam skala kecil. Hanya bisnis tertentu seperti properti yang prospeknya memang menjanjikan.

Saat orang kelas atas penuh keyakinan dalam menambah pemasukannya, orang kelas menengah malah sibuk memikirkan risiko apabila mereka juga melakukan hal yang sama.

2.Kelas Atas Membuat Uangnya Bertumbuh, Kelas Menengah Menghamburkan Uangnya

Orang kelas atas yang identik dengan banyak uang, selalu mendapat stigma sebagai orang yang boros.

Sebab orang kelas atas pasti akan belanja banyak hal, seperti barang-barang bagus, pakaian bagus, hingga makanan-makanan enak.

Tapi, tahukah Anda ternyata yang sering melakukan hal seperti ini adalah orang kelas menengah?

Saat punya uang, orang kelas menengah cenderung akan menghabiskan uang  supaya terlihat sudah punya banyak uang.

Sebaliknya, orang kelas atas malah cenderung membuat uangnya bertumbuh dengan tujuan akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi dari sebelumnya.

3.Kelas Atas Tak Puas dengan Pengetahuannya, Kelas Menengah Merasa Cukup Pintar

Ternyata orang-orang kelas atas tidak pernah merasa sudah cukup segalanya, termasuk dalam menimba ilmu tentang berbagai hal.

Orang kelas menengah selalu ingin belajar hal baru dan mengasah kemampuannya. Untuk mempelajari hal baru tersebut, kelas menengah bahkan tidak segan untuk menyediakan waktu luang cuma untuk belajar.

4.Orang Kelas Atas Jauh dari Kesan Konsumtif

Karena mungkin saat perjuangan hingga bisa berada di atas, mereka sangat menghargai hal tersebut.

Sebab untuk meraihnya tidaklah mudah. Hal tersebut juga yang membuat mereka tidak memiliki gaya hidup yang konsumtif.

Sebagian dari mereka bahkan ada yang menjalani hidup secara sederhana saja. Kelas menengah terkadang bisa lebih konsumtif dengan banyak membeli barang yang hanya diinginkan, bukan yang dibutuhkan.

5.Kelas Atas Selalu Optimis, Kelas Menengah Sebentar-Sebentar Sudah Pesimis

Berbicara soal mimpi, ternyata banyak orang kelas atas yang sukses karena punya mimpi. Seperti lagu Band Nidji, bahwa “Mimpi adalah kunci untuk menaklukan dunia”.

Antara orang kelas atas dan orang kelas menengah, mereka sama-sama punya mimpi yang sedang berusaha untuk diraih. Tapi, orang kelas atas ternyata memiliki mimpi yang sangat tinggi.

Mungkin menurut kita, mimpi orang kelas atas kadang tidak rasional dan mustahil. Namun, orang kelas atas secara spontan membentuk cara pandangnya dengan sangat baik.

Selain itu, mereka juga memusatkan seluruh usahanya untuk meraih mimpinya.

Ubah Cara Pandang Mulai dari Hal yang Sederhana

Tidak usah terlalu memaksakan diri untuk mengubah total cara pandang agar sama dengan pemikiran orang-orang kelas atas. Anda bisa mulai mengubah cara pandang dari hal-hal yang sederhana terlebih dulu.

Misalnya, lebih giat mencari tambahan pemasukan ataupun berhenti hidup boros. Jika sudah begitu, silakan Anda mulai mengikuti semua cara pandan orang kelas atas agar hidup jauh lebih baik.

Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Kompas.com, berjudul: 5 Penyebab Orang Kelas Menengah Sulit Naik Jadi Kelas Atas

Sumber Kompas.com

ets-small

Jum’at, 09 Juni 2017 | 17:05 WIB
Ingin Santai Tapi Penghasilan Besar? Begini 10 Caranya
TEMPO.CO, Jakarta – Menghasilkan uang sambil tidur? Kedengarannya sungguh tidak mungkin. Tapi karena kita hidup di era internet, ternyata tidak sulit mendapatkan ekstra penghasilan.

Berikut adalah 10 cara yang dilansir Entrepreneur agar Anda benar-benar bisa mendapatkan uang sambil tiduran atau minum kopi.

1. Menulis blog
Untuk membuat blog, Anda hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk memulai. Cukup beli nama domain dan bayar hosting saja. Lalu, mulailah membuat konten yang baik sehingga orang tertarik untuk membaca atau membagikannya ke orang lain.

Tidak perlu pusing mengenai isi blog. Cari hal yang Anda kuasai atau betul – betul Anda sukai. Misalnya, jika Anda seorang akuntan yang telah membantu pemilik usaha kecil dengan pajak mereka, jadikanlah itu blog. Anda bisa mencari topik agar tulisan populer atau bermanfaat.

 

Setelah mendapatkan orang yang mengikuti blog, Anda bisa mulai menghasilkan uang dari blog dengan berafiliasi. Anda bisa mengajak atau menampilkan produk atau layanan orang lain di situs. Pastikan produk atau layanan ini relevan dengan blog Anda. Misalnya, blog akuntansi bisa berafiliasi dengan akuntansi atau perangkat lunak faktur. Setelah menemukan mitra afiliasi, Anda akan diberi kode unik sehingga setiap kali pengunjung mengklik link di situs, Anda akan mendapatkan komisi.

Jika situs memiliki lalu lintas untuk menjadi afiliasi, mungkin cukup baik bagi pengiklan untuk membeli iklan di situs Anda. Temukan sponsor. Ini sedikit berbeda dengan hanya menjual iklan di situs. Sponsor dapat berupa konten yang bersponsor atau logo permanen yang ada di kaki blog.

2. Jual produk informasi sendiri
Jika memiliki pengetahuan di area tertentu, Anda dapat mulai membuat produk, seperti eBook atau video, dan menjualnya di blog. Mungkin dibutuhkan banyak usaha untuk menciptakan dan memasarkan produk Anda, tapi begitu semua pekerjaan selesai, Anda bisa mengatur dan mengumpulkan hasilnya.

3. Dapatkan royalti
Jika Anda seorang musisi, aktor, atau penulis berbakat, Anda bisa mendapatkan royalti dari pekerjaan. Dengan kata lain, orang akan membayar untuk menggunakan karya atau aset kreatif Anda. Jika Anda tidak cukup berbakat tapi tetap tertarik untuk mendapatkan royalti, kemudian check out Royalty Exchange. Ini adalah pasar tempat Anda bisa membeli dan menjual royalti.

4. Buat komunitas keanggotaan
Jika berhasil membuktikan diri sebagai orang yang berpengaruh, Anda dapat membuat komunitas keanggotaan di mana Anda membayar biaya bulanan untuk menerima konten berkualitas tinggi dan informasi tambahan yang tidak tersedia bagi non-anggota. Salah satu contoh adalah Timothy Sykes yang menghasilkan pendapatan pasif lebih dari USD 100.000 per bulan melalui komunitas anggotanya yang membahas bagaimana orang bisa menghasilkan uang dalam perdagangan saham.

5. Instal autoresponder
Model bisnis daring lain yang umum adalah menggunakan penjawab otomatis untuk menjual layanan, produk, atau keanggotaan. Di sinilah orang meninggalkan alamat surel mereka di situs Anda dan kemudian mereka akan menerima surel otomatis yang berisi tautan untuk mengunduh produk atau informasi berkualitas yang ditawarkan. Anda akan membutuhkan layanan seperti OptinMonster untuk membuat ini menjadi mungkin. Sebaiknya Anda membaca panduan Quick Sprout untuk memulai penjawab otomatis terebut.

6. Laman Flip
Jika Anda telah memasukkan waktu dan usaha untuk membangun sebuah situs dan telah mendapatkan banyak respons positif, Anda mungkin bisa menjualnya ke pihak yang berkepentingan dengan mencantumkan di pasar seperti Flippa. Di Flippa, Anda dapat membeli dan menjual banyak situs di sini dan menghasilkan banyak uang.

7. Jual produk fisik
Sama seperti dengan situs blogging, ada beberapa cara untuk mendapatkan penghasilan pasif dengan menjual produk fisik, misalnya lewat eBay. Tetapi jika tidak memiliki barang yang tersisa untuk dijual, Anda bisa mulai dengan sistem drop shopping di mana Anda bisa berjualan tanpa harus pusing memikirkan soal pengiriman.

Anda juga bisa meluncurkan toko eCommerce sendiri dengan menggunakan Shopify. Mereka benar-benar memberi semua yang Anda butuhkan untuk menjual produk secara daring.

8. Berinvestasi dalam saham
Bila berinvestasi di suatu saham, maka Anda resmi menjadi pemangku kepentingan/stakeholder. Berinvestasi dalam saham telah menjadi cara yang populer untuk mendapatkan penghasilan pasif selama bertahun-tahun dan berkat internet lebih mudah daripada sebelumnya untuk meneliti dan berinvestasi pada saham sendiri. Ingatlah bahwa saham yang Anda investasikan dapat berubah sepanjang waktu.

9. Peminjaman uang dalam jaringan pertemanan
Perusahaan seperti LendingClub, Propser, dan Harmoney telah menciptakan industri baru di mana setiap orang bisa menjadi pemberi pinjaman. Mereka kemudian akan mencocokkan Anda dengan konsumen yang memiliki masalah dalam mengamankan pinjaman dari bank. Anda bisa mendapatkan tingkat bunga yang lebih tinggi atas pinjaman yang Anda keluarkan karena berhadapan langsung dengan peminjam.

10. Sewa properti
Berkat Airbnb, Anda bisa menyewakan rumah saat berlibur atau tidak digunakan. Anda juga bisa menyewakan garasi, tempat parkir, atau ruang kantor yang tidak terpakai. Cara untuk menyewakan ruangan yang Anda punya adalah dengan mengiklakannya dan mendaftarkannya daring.

TABLOIDBINTANG

ets-small

 

TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)  Muhammad Syarkawi Rauf mengatakan kini jumlah pengusaha baru di Indonesia baru 1,6 persen atau sekitar 4,6 juta jiwa dari total jumlah penduduk Indonesia.

“Jumlah pelaku usaha di tingkat nasional masih 1,6 persen dari jumlah penduduk. Idealnya kita harus punya 4 persen dari jumlah penduduk yang berprofesi sebagai wirausahawan,” kata Syarkawi kepada wartawan seusai menghadiri acara Dialog Persaingan: Mendorong Tumbuhnya Wirausaha Muda Melalui Persaingan Usaha Sehat di hotel Panghegar, Kota Bandung, Jumat, 2 Juni 2017.

Oleh karena itu KPPU akan terus menggenjot kenaikan para pelaku usaha baru guna mendongkrak pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Tingkat pertumbuhan pelaku usaha baru di Tanah Air memang terbilang rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga lainnnya di lingkup Asia Tenggara.

Menurut Syarkawi, guna mencapai target tercapainya pelaku wirausaha hingga 4 persen, maka dibutuhkan sekitar 6,6 juta pelaku usaha baru lagi. Hal ini, tentu tidak terlalu sulit asalkan adanya dorongan dari berbagai pihak dari mulai regulasi pemerintah juga sokongan pihak swasta.

Dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Tenggara, kata Syarkawi, memang jumlah pelaku usaha baru di Indonesia cukup tertinggal. Di Malaysia jumlah pelaku yang baru memulai menjalankan bisnis itu mencapai 5 persen. “Untuk di Thailand mencapai 4 persen, Singapura 7 persen, makanya kami dari KPPU salah satunya adalah mendorong pelaku usaha baru untuk tetap tumbuh,” katanya.

Strategi yang dilakukan KPPU dalah mengubah regulasi yang ditetapkan pemerintah yang justru menjadi penghambat pertumbuhan pelaku usaha baru. “Kami tahun ini fokus ke daftar periksa persaingan,” tutur Syarkawi.

Soal ini, kata Syarkawi, KPPU sudah menanyakan ke pemerintah daerah, pemerintah provinsi serta pemerintah pusat. “Intinya apakah regulasi yang dibuat menghambat terhadap pengusaha baru. Nah, kalau regulasi itu menciptakan hambatan berarti tidak pro ke persaingan dan kita akan rubah,” katanya.

Hal kedua yang dilakukan KPPU dengan mendorong pengusaha baru untuk mengoreksi struktur pasar yang notabene masih dibelenggu oleh sekelompok minoritas alias incumben pengusaha besar. Daya saing yang tidak sehat menyebabkan masyarakat enggan terjun untuk turun langsung memulai membuka usaha baru.

Syarkawi menjelaskan, jumlah pelaku di beberapa jenis komoditas usaha paling strategis hanya berkisar 2-3 pelaku usaha besar. “Sementara yang masuk ke situ agak sulit, oleh sebab itu kami ingin dorong supaya struktur pasar bisa berubah tidak terkonsentrasi,” ujarnya.

Terakhir, KPPU akan terus mendorong perubahan prilaku antar pelaku usaha baru dengan menanamkan budaya persaingan yang sehat untuk menyokong pertumbuhan perekonomian Indonesia. “Kita dorong budaya persaingan di antara pengusaha kita, sehingga tercipta struktur ekonomi yang efisien meningkatkan produktivitas kemudian ujung-ujungnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sehingga untuk mencapai visi kita secara nasional tahun 2025 itu kita harus tumbuh sekitar 6 sampai 8 persen akan tercapai,” ucap dia.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan adanya industri hulu memang menjadi salah satu kunci terciptanya pelaku usaha baru di Tanah Air. Namun, saat ini industri hulu belum juga terealisasi di Indonesia.

Ade menyebutkan saat ini konsolidasi industri untuk sektor tekstil di luar negeri terjadi tapi di Indonesia tak ada industri hulu yang sukses berkembang. “Akibatnya tak ada konsolidasi industri. Padahal itu (konsolidasi) bisa membuat 10 ribu enterpreuner jika industri hulu ada di Indonesia,” ucap Ade.

AMINUDDIN A.S.

rose KECIL

TEMPO.CO, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah menutup 13 entitas usaha yang dianggap tidak berizin sepanjang Januari dan Februari lalu. Direktur Kebijakan dan Dukungan Penyidikan OJK Tongam L Tobing mengatakan Satgas Waspada Investasi kembali menutup 6 kegiatan usaha yang tidak mengantongi izin pada bulan ini.

Baca: OJK Sebut Baru Satu Perusahaan Pinjaman Online yang Terdaftar

“Setelah menutup enam entitas pada Januari dan tujuh entitas pada Februari lalu, Maret ini Satgas Waspada Investasi kembali menghentikan enam kegiatan penghimpunan dana masyarakat atau kegiatan usaha yang tidak memiliki izin dari otoritas manapun,” ujar Tongam, melalui keterangan resminya, Ahad 26 Maret 2017.

Baca: Lagi, 7 Perusahaan Investasi Bodong Ditutup OJK

Satgas Waspada Investasi menghimbau kepada masyarakat berhati-hati sebelum menjatuhkan pilihan investasi. Berikut empat saran Satgas Waspada Investasi untuk masyarakat yang ingin berinvestasi.

1. Memastikan perusahaan yang menawarkan investasi tersebut memiliki izin usaha dari otoritas yang berwenang sesuai dengan kegiatan usaha yang dijalankan.

2. Memastikan bahwa pihak yang menawarkan produk investasi, memiliki izin dalam menawarkan produk investasi atau tercatat sebagai mitra pemasar.

3. Memastikan bahwa perusahaan atau pihak yang melakukan penawaran investasi tersebut, juga memiliki domisili usaha sesuai dengan izin yang dimiliki.

4. Jika menemukan tawaran investasi yang mencurigakan, masyarakat bisa mengkonsultasikan atau melaporkan kepada Layanan Konsumen OJK 1500655, email konsumen@ojk.go.id atau waspadainvestasi@ojk.go.id.

BISNIS

ets-small

Jakarta detik- Warren Buffett masuk ke dalam jajaran salah satu orang terkaya di dunia. Ia adalah pemilik dari perusahaan Berkshire Hathaway.

Pada tahun 2015, kekayaan yang dimiliki oleh Warren Buffett US$ 11,5 miliar. Bahkan dalam sehari, Buffett pernah kehilangan kekayaan US$ 870 juta.

Semua itu terjadi karena bursa Amerika Serikat (AS) yang volatilitasnya cukup tinggi pada tahun lalu. Kemudian di awal 2016 kemarin, kekayaan Buffett tercatat US$ 61,4 miliar. Dan pada awal tahun 2017, kekayaannya mencapai US$ 75,6 miliar versi forbes.

Meskipun mengalami penurunan kekayaan cukup besar di tahun 2015, Buffett masih tercatat sebagai salah satu miliuner dunia. Ia berada di peringkat nomor 3 sebagai orang terkaya di dunia.

Agar investor lain tak terjerumus volatilitas investasi yang cukup tinggi seperti dirinya pada 2015 lalu, Buffett memiliki beberapa pesan. Aturan yang diterapkan Buffett dalam berinvestasi sebenarnya cukup sederhana. Namun untuk melaksanakannya cukup sulit.

Buffett mengatakan, ada banyak aturan dalam berinvestasi. Namun investor sebaiknya mengingat dua peraturan yang dibuat Buffett ini.

  1. Aturan pertama adalah hindari ingin kaya dengan cepat.

Sedangkan aturan kedua adalah jangan lupa aturan nomor satu.

“Pasar saham bukan permainan yang bisa dilakukan dengan satu pukulan. Untuk bisa memenangkannya, Anda hanya menunggu waktu,” kata Buffett.

Akan tetapi, masa lalu kinerja saham bukan jaminan keberhasilan di masa depan. Buffett juga menyarankan sebaiknya menanamkan investasi di tempat yang Anda kuasai, dan menahan godaan untuk investasi yang sedang digemari oleh banyak orang.

Jika melihat di belakang, kekayaan yang dimiliki oleh Buffett memang tidak datang dengan cepat. Ia mendapat 99 persen kekayaannya saat mencapai usia 50 tahun.

Buffett menghasilkan kekayaan sebesar US$ 62,7 miliar setelah ulang tahunnya yang ke-50. Bufffet butuh waktu lama membangun bisnisnya agar sukses dan akhirnya menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

dollar small

Merdeka.com – Sekalipun krisis melanda, masih ada peluang yang tercipta dan bisa diraih. Ekonomi yang tengah dalam masa krisis memang membuat banyak orang lemah secara finansial. Ekonomi menjadi lesu karena daya beli masyarakat turun dan buntutnya banyak bisnis yang harus tutup. Ancaman PHK pun membayangi orang-orang yang berstatus sebagai karyawan. Namun, haruskah bersikap pesimis menghadapi masa krisis?

Pernah Indonesia diguncang krisis hebat pada tahun 1998. Krisis waktu itu benar-benar tidak hanya menimbulkan ketidakstabilan ekonomi, tetapi juga politik. Nilai Rupiah tidak ada artinya di hadapan Dolar. Angka pengangguran membengkak akibat banyak orang yang di-PHK. Banyak perusahaan dan bank yang kolaps. Gairah orang-orang untuk melakukan aktivitas ekonomi nyaris padam saat itu.

Dilansir cermati, Minggu (19/3), situasi tersebut lantas jangan diartikan kecilnya harapan untuk pulih kembali. Nyatanya, sejak 1998 dan bergulirnya era Reformasi, perbaikan secara bertahap dari waktu ke waktu terus menunjukkan perkembangan yang positif. Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi hingga lebih dari 5 persen dan roda perekonomian terus bergerak walaupun sesekali melamban.

Bangkitnya Indonesia dari keterpurukan terlihat dari naiknya angka kelas menengah Indonesia. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang tidak takut untuk tetap melakukan investasi. Bahkan, saat kondisi ekonomi sedang tidak baik. Mereka yakin bahwa saat kondisi ekonomi kembali membaik, tidak hanya ekonomi yang akan pulih, tetapi semua bidang lain juga akan pulih.

Berikut investasi yang bisa dilakukan saat krisis ekonomi:

1. Dolar AS

Merdeka.com – Kurs atau nilai tukar Rupiah terhadap Dolar cenderung berubah-ubah. Kadang angkanya menguat terhadap Dolar, kadang melemah di hadapan Dolar. Menjadi tugas Bank Indonesia (BI) dan peran serta Pemerintah untuk tetap menjaga agar ketidakstabilan kurs tidak membahayakan. Hingga hari ini kurs Rupiah masih bisa dijaga pergerakannya.

Jika melihat pergerakan kurs pada tahun-tahun sebelumnya, nilai tukar Rupiah berada di sekitar Rp 9.000-lebih dari Rp 11.000 per USD. Sebelum krisis 1998, nilai tukar Rupiah pernah sekitar Rp 2.000-an. Pas krisis terjadi, nilai Dolar melambung tinggi mencapai harga Rp 13.000 per USD. Nilai tukar sekitar Rp 13.000-an terjadi kembali pada tahun 2015, yang sebelumnya sekitar Rp12.000-an.

Naik turunnya nilai tukar jadi keuntungan bagi yang menyimpan uangnya dalam bentuk Dolar sebagai pilihan investasi. Bisa dibayangkan bukan berapa Rupiah yang didapat bila Anda membeli Dolar sebelum krisis dan menjualnya setelah krisis. Sebagai contoh, Anda membeli Dolar pada tahun 2012 dengan kurs sekitar Rp 9.718 per USD. Kemudian diberitakan pada 2014, Rupiah melemah dengan nilai tukar mendekati Rp 14.000. Kalau Anda menukarkan Dolar Anda pada 2014, Anda akan mendapatkan laba sekitar Rp 4.282 untuk setiap Dolar.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi naik turunnya kurs Rupiah, baik dari luar maupun dalam negeri. Bila ditinjau dari faktor luar, menguatnya ekonomi Amerika Serikat dan kenaikan suku bunga acuan The Fed berdampak negatif terhadap Rupiah. Sementara ditinjau dari faktor dalam negeri, kebijakan yang diambil Pemerintah dan Bank Indonesia berdampak langsung terhadap kurs Rupiah.

Nah, bila Anda berniat berinvestasi Dolar, mulailah rajin memperbarui informasi soal ekonomi dalam negeri dan dunia. Dapatkan informasi terbaru mengenai kurs setiap harinya. Anda bisa memanfaatkan media online untuk terus mendapat informasi. Jangan sampai Anda rugi karena tidak tepat dalam membuat keputusan. Sebab setiap pergerakan Rupiah perlu dicermati dan dianalisis lebih jauh.

2. Emas

Merdeka.com – Emas juga menjadi pilihan investasi yang diambil pada masa krisis. Bila melihat data perkembangan emas 15 tahun terakhir di Indonesia, setiap tahunnya terjadi peningkatan harga emas. Pada 2000, harga emas per gram di Indonesia sekitar Rp 72.000. Lima tahun kemudian, tepatnya tahun 2005, harganya telah mencapai Rp 118.000. Pada 2010, harganya berubah lagi menjadi Rp 500.000.

Melihat kenaikan harga tersebut, emas setidaknya lebih baik sebagai investasi ketimbang tabungan. Sebab nilai emas tidak tergerus inflasi. Sementara uang yang disimpan dalam bentuk tabungan akan susut nilainya oleh inflasi. Walaupun demikian, investasi emas bukanlah investasi yang menguntungkan dalam waktu singkat. Cukup lama untuk merasakan keuntungan dari kenaikan emas.

Naik turunnya harga emas dipengaruhi sejumlah faktor. Pertama, nilai tukar/kurs, bila nilai Dolar menguat terhadap Rupiah, harga emas cenderung turun. Sebaliknya, bila melemah, harga emas akan naik. Kedua, produksi emas di dunia, bila permintaan banyak, tetapi produksi sedikit, harga emas akan naik. Ketiga, meningkatnya permintaan industri perhiasan akan berdampak pada kenaikan harga emas. Keempat, penyimpanan emas dalam jumlah besar oleh bank sentral dunia. Kelima, persoalan politik.

Dari faktor-faktor di atas, salah satu yang memengaruhi harga emas ialah nilai tukar/kurs. Saat krisis, ciri yang paling jelas tampak adalah melemahnya Rupiah terhadap Dolar secara signifikan. Menguatnya Dolar membuat harga emas turun. Situasi ini jadi kesempatan untuk membeli emas sebagai investasi. Nantinya begitu kondisi stabil seiring perbaikan ekonomi, dengan sendirinya harga emas akan naik.

Tertarik untuk berinvestasi emas? Selain memerhatikan faktor-faktor yang disebutkan tadi, Anda juga harus terus memantau pergerakan harga emas. Anda bisa mengetahui harga emas dari hari ke hari lewat media cetak ataupun media online.

3. Saham

Merdeka.com – Saham merupakan salah satu investasi yang paling bereaksi terhadap kondisi ekonomi di dunia dan dalam negeri. Saat terjadi krisis ekonomi, biasanya harga sahamlah yang paling pertama turun. Di sisi lain, saat ekonomi pulih, harga saham pulalah yang akan pertama kali mengalami kenaikan.

Reaksi seperti itulah yang membuat investasi saham dikategorikan sebagai jenis investasi yang berisiko tinggi. Harga saham yang selalu bertengger di atas bisa jatuh seketika bila krisis melanda. Investor yang lengah dalam mencermati situasi akan menderita kerugian karena harga jual saham lebih rendah dari harga waktu mereka beli dulu.

Bagi Anda yang ingin berinvestasi saham, masa krisis sebenarnya menjadi waktu yang tepat untuk memulainya. Lakukan pembelian saham dengan terlebih dahulu menganalisisnya secara fundamental dan teknikal. Dengan begitu, saham yang diproyeksikan akan menguntungkan pasca krisis bisa Anda temukan.

4. Reksa dana

Merdeka.com – Apabila Anda kesulitan mengatur waktu untuk mempelajari cara berinvestasi, reksa dana bisa menjadi pilihan lain investasi pada masa krisis. Anda tidak perlu membuang waktu untuk berlama-lama memantau dinamika yang terjadi di pasar keuangan. Sebab seluruh dana yang Anda investasikan dikelola sebaik mungkin oleh manajer investasi. Anda sebagai investor hanya tinggal menerima laporan dari manajer investasi.

Reksa dana yang beredar di Indonesia terbagi menjadi empat pilihan, yaitu reksa dana pasar uang, pedapatan tetap, saham, dan campuran. Anda tinggal memilih mana yang cocok dengan tujuan keuangan. Mau yang jangka pendek, pilihlah reksa dana pasar uang. Ingin yang keuntungannya besar, pilihlah reksa dana saham.

rose KECIL

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Gong Xi Fa Cai! Mengacu kalender Tionghoa, hari ini (28/1), adalah awal Tahun Baru Imlek 2.568. Memasuki Tahun Ayam Api ini, kepakan sayap bisnis dan ekonomi di Indonesia diharapkan semakin terbentang.

Optimisme juga membayangi pasar saham. Dari pasar global, Wall Street baru saja mengalami euforia. Maklum, indeks Dow Jones Industrial mencetak rekor baru, menembus 20.000.

Apa saja saham-saham yang menurut fengshui menarik di Tahun Ayam Api? Analis First Asia Capital David Nathanael Sutyanto memprediksi, tahun ini sektor energi bisa mencetak cuan. “Kalau Api mainnya masih di energi karena api baik untuk energi,” ungkap David, Kamis (26/1).

Di sisi lain, ayam agak jelek disandingkan dengan metal, sehingga saham-saham terkait metal, seperti saham keuangan, cenderung dihindari. Lantaran keberuntungan shio ayam tak terlalu bagus di tahun ayam, saham poultry juga dianggap tak terlalu bagus tahun ini.

David menilai awal tahun bakal agak berat bagi investor. Sentimen positif baru terlihat di akhir kuartal satu atau akhir semester satu.

Namun, David menilai IHSG tetap tidak akan menyentuh 6.000 tahun ini. Soal prospek saham energi, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee sepakat dengan David. “Saya memprediksikan sektor komoditas dan energi masih baik,” kata Hans.

Ini juga didukung prediksi perbaikan harga komoditas pada tahun 2017. Selain itu, tahun ayam memperlihatkan ego tinggi. Tengok saja, salah satu agenda Presiden AS Donald Trump. adalah menarik Amerika Serikat dari kerjasama perdagangan Trans-Pacific Partnership (TPP).

Berbeda dengan David, Hans justru melihat saham bank bakal menarik tahun ini. Infrastruktur dan konstruksi juga yang layak dipertimbangkan. Kepala Riset Bahana Securities, dalam riset per 25 Januari, merekomendasikan saham AKRA, TBLA, BWPT, PANR, SCMA, HMSP, ICBP dan CSAP.

Bahana memilih saham tersebut berdasarkan penerawangan Suhu Ong, seorang pembaca Bazi tenar. Sekali lagi, Gong Xi Fa Cai! Semoga investor meraup banyak angpao.(Elisabet Lisa Listiani Putri)

 ezgif.com-resize

JAKARTA bisnis.com — Otoritas Jasa Keuangan menetapkan 345 saham emiten dan perusahaan publik masuk dalam jajaran Daftar Efek Syariah untuk periode II/2016 yang berlaku mulai Desember 2016-Mei 2017. Jumlah tersebut merupakan rekor sejak 2013.

Sardjito, Deputi Komisioner Pengawasan Pasar Modal II OJK, menuturkan otoritas secara berkala melakukan penelaahan terhadap laporan keuangan emiten dan perusahaan publik, serta data dan informasi pendukung untuk menentukan Daftar Efek Syariah terbaru.

Berdasarkan penelaahan terhadap 584 laporan keuangan emiten dan perusahaan publik, OJK menerbitkan Keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan No.Kep-54/D.04/2016 tentang DES yang akan mulai berlaku pada 1 Desember 2016.

Dalam Keputusan OJK itu, 354 efek saham masuk dalam jajaran DES dan 239 saham tidak termasuk dalam DES. Saham yang masuk DES periode II/2016 terdiri dari 342 saham yang memenuhi kriteria screening saham syariah dan tiga entitas syariah, yakni PT Bank Panin Syariah Tbk., PT Bank Muamalat Tbk., dan PT Sofyan Hotel Tbk.

Menurut Sardjito, jumlah saham yang masuk dalam jajaran DES pada periode Desember 2016-Mei 2017 membukukan rekor terbanyak. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan DES periode II/2013 sebanyak 336 saham, DES periode II/2014 sebanyak 334 saham, DES periode II/2015 sebanyak 331 saham, dan DES periode I/2016 sebanyak 321 saham.

Komposisi saham DES, lanjutnya, didominasi oleh emiten sektor perdagangan, jasa dan investasi sebanyak 87 saham atau 25,22%, sektor properti, real estat, dan konstruksi bangunan 58 saham atau 16,81%, serta sektor industri dasar dan kimia 52 saham atau 14,64%.

“Ada tambahan 31 saham baru yang sebelumnya tidak masuk dalam DES periode I/2016, tetapi ada 11 saham yang keluar dari DES,” ungkapnya, Senin (28/11).

Berdasarkan data OJK, enam dari 11 emiten yang sahamnya terdepak dari DES membukukan rasio utang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset sebesar lebih dari threshold 45%. Emiten tersebut, antara lain PT Modernland Realty Tbk. dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Selain itu, lima emiten tersingkir dari DES lantaran rasio pendapatan nonhalal mencapai lebih dari 10% dari total pendapatan perseroan. Kondisi ini, misalnya, dialami oleh PT Surya Citra Media Tbk., PT Nirvana Development Tbk., dan PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Fadilah Kartikasasi, Direktur Pengawas Pasar Modal Syariah OJK, menuturkan emiten dan perusahaan publik harus konsisten menjaga rasio keuangan sesuai dengan batas yang diatur OJK. Dengan begitu, sahamnya menjadi kredibel untuk masuk dalam portofolio investor syariah atau produk-produk investasi berbasis syariah.

“Ada perusahaan yang keluar dari DES karena ada pergantian corporate secretary. Yang baru ini tidak aware. Jadi ini pendidikan kepada emiten, kalau mau stay harus penuhi prinsip syariah,” ujarnya.

LONGGAR

Menurutnya, kriteria screening dan rasio keuangan syariah yang diterapkan OJK relatif longgar dibandingkan dengan DES lain, seperti Dow Jones Islamic Index dan Suruhanjaya Sekuriti Malaysia yang menerapkan rasio utang maksimal 33% dan pendapatan nonhalal maksimal 5%.

“Kami sudah simulasi, kalau diperketat screening-nya banyak saham yang keluar dari DES. Industri kita belum siap kalau syaratnya diperketat,” kata Fadilah.

Berdasarkan simulasi, lanjutnya, saham yang keluar dari DES merupakan saham yang masuk dalam portofolio investasi reksa dana syariah. Syarat yang diperketat dikhawatirkan memicu goncangan di industri reksa dana syariah.

“Kalau menimbulkan goncangan berarti kan mudarat. Saya rasa perubahan kriteria akan sangat dinamis. Saat sahamnya sudah ribuan, bisa saja diperketat. Jadi sifatnya situasional,” pungkasnya.

DES merupakan panduan investasi bagi pihak pengguna DES, seperti manajer investasi (MI) pengelola reksa dana syariah, asuransi syariah, dan investor yang ingin berinvestasi pada portofolio efek syariah.

Hingga 25 November 2016, kapitalisasi saham syariah yang masuk dalam Jakarta Islamic Index mencapai Rp2.010,41 triliun atau naik 15,72% sepanjang tahun berjalan. Adapun kapitalisasi Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) mencapai Rp3.101,19 triliun dengan pertumbuhan sebesar 19,24% year to date.

Dari sisi kinerja, dua indeks syariah di Bursa Efek Indonesia membukukan return year to datelebih tinggi dibandingkan dengan IHSG dan LQ45. Berdasarkan data OJK, JII naik 12,37% dan ISSI naik 16,22% sepanjang Januari-25 November 2016.

“OJK akan berikan insentif supaya pasar modal syariah ini punya playing field yang sama. Bahkan di negara nonmuslim seperti Inggris juga ada insentif, apalagi di Malaysia,” tutur Sardjito.

Sardjito menambahkan, OJK sudah mengusulkan insentif terhadap instrumen investasi syariah ke Kementerian Keuangan. Insentif tersebut berupa diskon pungutan sebesar maksimal 75%. Instrumen investasi syariah yang berpotensi diberi kelonggaran yakni sukuk, saham, dan reksa dana.

“Ada berbagai macam, ada penerbitan sukuk, pungutan tahunan, reksa dana. Kami minta insentif untuk syariah, meminta kemudahan dan kelonggaran,” kata Sardjito.

Menurutnya, pasar keuangan syariah harus diberi kemudahan saat ini agar dapat bertumbuh kencang. Lewat insentif OJK berharap investor asing, terutama investor kakap, tertarik berinvestasi di instrumen keuangan syariah di Indonesia. Sardjito mengatakan, dalam waktu dekat akan ada langkah konkret dari OJK yang berkaitan dengan pasar syariah.

“Sebentar lagi ada pengumuman berkaitan dengan syariah di Indonesia. Saya tidak bisa katakan sekarang,” katanya.

 

 ets-small

ID: Eksklusivitas boleh jadi punya harga tersendiri. Di bursa saham, secara konvensional, para pemegang saham lebih berat pada likuiditas ketimbang eksklusivitas. Itu sebabnya, ketika harga saham menjadi sangat tinggi, dan nilai satu lot tidak lagi terjangkau oleh investor rata-rata, mereka cenderung melakukan pemecahan saham, stock split, agar harga satu lot saham kembali terjangkau dan likuiditas meningkat.

 

Semen Cibinong (SMCB, kini Holcim) memecah satu saham lamanya menjadi 15 saham baru ketika harga sahamnya mendekati Rp 200.000 saham. Astra (ASII) memecah tiap sahamnya menjadi 10 saham baru ketika harga saham mendekati Rp 80.000.

 

Saham PT Delta Djakarta yang pada November 2015 berada pada Rp 255.100 akhirnya juga dipecah dengan rasio 1:50, satu saham lama menjadi 50 saham baru. Artinya, nilai nominal yang tadinya Rp 1.000, kini tinggal Rp 20. Pasca-split tanggal 6 November 2015, harganya tercatat Rp 5.200.

 

Bir Bintang memang “bintang”- nya Bursa Efek Indonesia. Pada 4 November 2014, sehari sebelum melakukan split, harga saham MLBI tercatat Rp 1.250.000 per saham. Sama sekali tidak likuid, karena selain mahal bagi investor rata-rata, juga jumlah saham tercatat yang relatif sedikit. MLBI kemudian melakukan split dengan rasio terbesar sepanjang sejarah pasar modal Indonesia.

 

Satu saham lama dipecah menjadi 100 saham baru. Bir dan rokok! PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk, (HMSP) pada September 2001 melakukan stock split 1:5 pada saat harga sahamnya masih berkisar di tataran Rp 16.500. April lalu, perusahaan ini kembali melakukan split 1:25, karena harga sahamnya sutdah naik dari Rp 3.300 pasca-split 2001 menjadi Rp 97.150, pra split 2016.

 

Warren Buffett memang manusia langka. Termasuk di dunia investasi yang digelutinya seumur hidup. Saham perusahaan yang dimilikinya, Berkshire Hathaway Seri A (NYSE:BRK-A), pada 22 Agustus 2016, harganya tercatat US$ 223.020 per saham, menempatkannya sebagai saham dengan harga paling mahal di dunia.

 

Bayangkan untuk membeli satu lot saham BRK-A Anda harus menyediakan dana hamper US$ 2,5 juta (Rp 3 miliar lebih). Saham BRK-A tidak pernah melakukan stock split sepanjang sejarah. Bahkan ketika sahamnya masih berharga pada kisaran US$ 30.000 per saham, pada pertengahan tahun 1990-an, beberapa menajer investasi berniat menerbitkan unit trust yang di-back up saham BRK-A, agar investor kecil bisa ikut memiliki sahamnya melalui unit penyertaan.

 

Warren Buffett menentang keras rencana tersebut, dengan alasan: “……. threatened creation of unit trusts that would have marketed themselves as Berkshire look-alikes. In the process, they would have used our past, and definitely non-repeatable, record to entice naive small investors and would have charged these innocents high fees and commissions”.

 

Warren Buffett lebih jauh menyatakan bahwa penerbitan unit trust sebagai pecahan-pecahan kecil dari saham BRK-A membawa potensi speculative bubble yang mendorong volatilitas harga saham, yang ujungujungnya merusak reputasi gemilang saham BRK-A. Untuk mengakomodasi hasrat pemodal kecil, pada tahun 1996, Berkshire Hathaway menerbitkan saham seri B (NYSE: BRK-B) yang merupakan 1/30 saham BRK-A, dengan ketentuan yang “aneh”.

 

Pertama, walaupun BRK-B merupakan pecahan 1/30, tapi hak suaranya hanya 1/200 BRK-A. Kedua, saham BRK-A bisa ditukarkan dengan (di-split menjadi) saham BRK-B, setiap saat, tapi saham BRK-B tidak dapat di-reverse splitkembali menjadi BEK-A. Bisa dimengerti bahwa pemodal tajir tentu akan lebih memilih saham BRK-A. Dengan ketentuan yang “tidak adil” itu pun, saham BRK-B juga terus menerus mengalami kenaikan harga.

 

Pada 2010, ketika saham BRK-B berharga sekitar US$ 3.000, dilakukan stock split, satu saham lama menjadi 50 saham baru. Pada 22 Agustus lalu, saham BRK-B tercatat US$ 150, per saham. Harga saham Seaboard Corporation (NYSE: SEB) pada saat tulisan ini diketik, 1 September 2016, tercatat US$ 3.226,50 per saham.

 

Perusahaan yang bergerak dalam bidang transportasi laut, distribusi komoditas, peternakan babi dan energi di Republik Dominika, ini melakukan IPO pada tahun 1959, dan tidak pernah melakukan stock split. Harga saham Google pada saat yang sama tercatat US$ 791,40 per saham. Sejak IPO pada 19 Agustus 2004, saham Google telah mengalami kenaikan hampir 1.000%.

 

Google tidak pernah melakukan stock split. Fecebook (NASDAQ: FB) melakukan IPO pada Februari 2012 dengan harga penawaran US$ 38 per saham. Selama empat tahun, harga sahamnya telah naik hamper 400%, dan tidak pernah melakukan stock split. Pada 1 September 2016, saat tulisan ini diketik, saham FB tercatat US$ 126,17.

 

Investor sering memiliki konsepsi yang tidak lengkap mengenai harga saham. Saham yang harganya tinggi dianggap kemahalan. Padahal, harga saham tidak bisa dibandingkan apple to apple satu sama lain. Penggunaan Price Earnings Ratio atau Price to Book Value saja, masih harus hati-hati, karena selain hanya peta satu saat, juga diwarnai oleh karakteristik industri yang berbeda-beda, dan masih membutuhkan analisis lain untuk menangkap prospek saham ke depan.

 

Pemecahan saham merupakan aksi korporasi yang amat gencar di pasar modal Indonesia. Mungkin karena masalah likuiditas merupakan penyakit kronis di bursa efek. Repotnya, telah terbentuk paradigm seakan-akan stock splitmerupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan abnormal. Dan itu terbukti secara empiris, karena harga sahamex-split rata-rata lebih tinggi dari harga teoritisnya!

 

Ada beberapa catatan yang layak diperhatikan oleh investor tentang harga saham yang relatif mahal ini. Per tama, saham yang harganya tinggi cenderung memberikan dividen yield yang sangat rendah. Saham BRK-A bahkan tidak membayar dividen sama sekali selama 50 tahun sejak 1967! Manajemen perusahaan yang smart dan jujur akan menghitung trade off antara dividen dan pertumbuhan harga saham. Investo  yang motif investasinya adalah regular cash inflows memang harus menghindarkan saham seperti ini.

 

Kedua, saham yang tidak likuid karena harganya mahal, punya kelebihan tersendiri. Saham-saham semacam ini harganya cenderung stabil dan kurang fluktuatif, tak mudah untuk “digoreng”. Harga saham akan lebih mencerminkan fundamentalnya, ketimbang roller coaster yang digerakkan oleh kesenjangan permintaan dan penawaran jangka pendek. Tidak menarik bagi trader, tapi lebih menarik bagi investor yang memiliki horison investasi jangka panjang.

 

Hasan Zein Mahmud, Tim Ekselensi Learning Center, Pengajar pada Kwik Kian Gie School of Business

ets-small

investing.com: “I think we’re in the first inning of shifting to dividend-paying stocks,” finance professor Jeremy Siegel said Tuesday on CNBC’s Trading Nation. Even though the Fed may raises [sic] rates this year, “investors are becoming convinced they’re not going to be able to rely on CDs, their bank accounts, or even bonds as a source of income,” and may thus determine that “maybe they’d better turn to stocks,” he added.

Let me get this straight: The professor claims that investors are only just beginning to realize that bonds and cash have no yield which means that they have no alternative but to put their money into dividend-paying stocks? In other words, we are only in the “first inning” of TINA (there is no alternative – to stocks)?

Can someone please do me a favor and show Prof. Siegel the charts below? Because it seems to me investors have been reaching for yield for several years now as a direct response to 7 years of ZIRP (zero interest rate policy).

High-Yield Allocation Spikes

High-Yield Allocation Spikes

And after 7 years of reaching for yield, investors now have one of their largest allocations to stocks in history. Only at the height of the dot-com bubble did households have a greater portion of their total financial assets tied up in equities than they did recently.

Household Equity Allocation

Household Equity Allocation

Bond Allocation

The difference between today and back then is their allocation to bonds. While investors have ramped up their exposure to stocks, they have shifted almost entirely out of bonds. Even during the dotcom mania investors maintained nearly twice the current allocation to fixed income.

Household Bond Allocation

Household Bond Allocation

Finally, when you look at the ratio of equities to money market fund assets it becomes instantly obvious that investors have been embracing the concept of TINA for quite a long time now and to a degree never seen before.

Household Equity Vs. Money Market Allocation

Household Equity Vs. Money Market Allocation

So my question for Prof. Siegel is this: If investors have already shifted entirely out of bonds and money market funds, where is this new, massive shift into stocks going to come from? Per chance, you’re just feeling a bit too bullish once again?

On a final note, this large-scale embracing of TINA could very well be the greatest sign of confidence in the stock market we have ever seen. And isn’t that precisely the psychological definition of a mania?

ezgif.com-resize

JAKARTA, KOMPAS.com — Kehidupan yang serba mewah pastinya melekat pada anak-anak para miliarder. Harta keluarga yang berlimpah pun membuat anak-anak para miliarder bermalas-malasan untuk bekerja dan cenderung selalu berfoya-foya.

Namun, hal tersebut tidak tecermin pada Armand Wahyudi Hartono. Dia adalah putra orang terkaya di Indonesia, Robert Budi Hartono, yang kekayaannya ditaksir mencapai 8,7 miliar dollar AS(Forbes 2015) atau setara dengan Rp 113 triliun (asumsi Rp 13.000 per dollar AS).

Putra bungsu bos Grup Djarum ini sangat apik dalam mengelola keuangannya. Tak hanya itu, dia pun tidak pernah boros bila sedang menggunakan fasilitas rumah.

“Dari listrik, kita bisa saving. Nyalain AC sebentar. Kalau sudah dingin, begitu mau tidur, kita matikan. Kan yang paling penting pas mau tidurnya, di tengah-tengah panas dikit gak apa-apalah,” ujar Armand di Jakarta, Kamis (21/4/2016).

Tak hanya hemat dalam menggunakan fasilitas rumah, pria kelahiran Semarang, 20 Mei 1975, ini pun menjunjung tinggi “SRI”.

SRI yang dimaksud Armand adalah simpanan, riset, dan Investasi. Meski tidak menyebutkan berapa saja nominal yang diinvestasikan Armand pada semua instrumen investasi, dia berkeyakinan investasi yang terukur sangatlah penting bagi kehidupan mendatang.

“Kita harus punya simpanan. Rajin menyimpan saja dulu, lalu dilakukan riset. Setelah itu baru melakukan investasi karena di investasi itu ada risiko,” tutur Armand.

Didaulat jadi Wakil Direktur Utama BCA pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tak membuat Armand merasa gengsi makan di kantin. Gaya hidup sederhana rupanya diterapkan Armand untuk tetap low profile.

“Gaya hidup harus dijaga, sederhana saja, saya makan di kantinlho. Ya kalau ada nasabah besar barulah di tempat yang bagus, masa makan di kantin,” tutur Armand sambil tertawa.

Dalam membawa BCA untuk lebih meningkatkan kinerjanya, sebagai orang Jawa, Armand tahu betul akan filosofi kecukupan orang Jawa.

Wong Jowo itu ngerti namanya cukup. Kita gak butuh untuknunjukkin diri kita jadi bank terbesar. Kita cukup nunjukkin jadi satu institusi yang sehat, konsisten di pembayaran, berikan kredit yang prudent, tambah jaringan di tempat yang membutuhkan,” kata Armand.

dollar small

JAKARTA ID – Pemahaman masyarakat Indonesia terhadap investasi di pasar modal masih kalah dibandingkan Singapura dan Tiongkok. Masyarakat masih punya persepsi bahwa pasar modal merupakan ajang spekulasi. Padahal, pasar modal menjanjikan keuntungan yang tinggi. Dalam 10 tahun terakhir, imbal hasil saham mencapai rata-rata 24%, jauh di atas deposito bank yang hanya 7,2%.

 

Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai bahwa masyarakat Indonesia belum terlalu mengenal investasi di pasar modal. Pemahaman investasi pasar modal masyarakat Indonesia masih kalah dibandingkan Singapura dan Tiongkok.

 

“Banyak hal yang menyebabkan masih sedikitnya investor di pasar modal. Antara lain karena banyak masyarakat yang menganggap pasar modal hanya sebatas spekulasi atau karena bunga deposito yang terlalu tinggi sehingga saham kurang diminati. Oleh sebab itu, masyarakat butuh edukasi untuk memahami pasar modal,” kata Wapres dalam peluncuran kampanye “Yuk Nabung Saham” di Jakarta, Kamis (12/11).

 

Wapres mengungkapkan, kondisi perekonomian nasional tercermin juga dalam indeks harga saham. Banyak indicator kesejahteraan masyarakat di antaranya adalah pertumbuhan ekonomi, pendapatan per kapita (GDP), dan jumlah penyerapan tenaga kerja. “Semua indikator itu cuma satu cara mencapainya, yaitu investasi,” ungkap dia.

 

Jusuf Kalla menegaskan, investasi di pasar modal tidak hanya mengumpulkan modal tetapi juga menciptakan kepemilikan bersama dan keadilan agar hasil dunia usaha tidak hanya dinikmati oleh pemiliknya saja tetapi juga masyarakat luas.

 

Di Indonesia banyak masyarakat yang lebih memilih menabung di bank dibandingkan berinvestasi di pasar modal. Namun, dengan kampanye menabung saham diharapkan masyarakat memiliki pilihan menabung yang cenderung menguntungkan. (bersambung)

 

Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/marketandcorporatenews/tito-imbal-hasil-saham-capai-24/132358

bird_bbri_unvr

Jakarta detik -Pemerintah melalui Kementerian Keuangan melakukan penjualan surat utang ritel, yaitu Obligasi Ritel (ORI) Seri 012. Instrumen investasi ini menawarkan kupon atau bunga 9%/tahun.

Dalam keterangan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, Senin (21/9/2015), masa penawaran ORI012 ini mulai dilakukan 21 September hingga 15 Oktober 2015.

“Tujuan penerbitan ORI012 adalah untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN 2015 dan mengembangkan pasar Surat Utang Negara domestik melalui diversifikasi instrumen sumber pembiayaan dan perluasan basis investor,” demikian pernyataan Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu.

Untuk memenuhi target penjualan dengan distribusi yang merata di seluruh Indonesia, Agen Penjual ORI tahun 2015 akan mengadakan kegiatan marketing ke 27 kota di seluruh Indonesia termasuk kota-kota di wilayah Indonesia Tengah dan Timur seperti di Palu, Timika, Tahuna, dan Sorong.

Tanggal penjatahan ORI012 dilakukan pada 21 Oktober 2015, dan tanggal jatuh tempo adalah 15 Oktober 2018.

Bagi anda yang mau memesan, nilai minimal pemesanan adalah Rp 5 juta dan maksimal adalah Rp 3 miliar.

Berikut agen penjual ORI012 yang ditunjuk Kemenkeu:

  • PT Bank ANZ Indonesia
  • PT Bank Bukopin Tbk
  • PT Bank Central Asia Tbk
  • PT Bank CIMB Niaga Tbk
  • Citibank, N.A
  • PT Bank Danamon Indonesia Tbk
  • PT Bank DBS Indonesia
  • The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Ltd
  • PT Bank Internasional Indonesia Tbk
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
  • PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
  • PT Bank OCBC NISP Tbk
  • PT Bank Panin Tbk
  • PT Bank Permata Tbk
  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
  • Standard Chartered Bank
  • PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
  • PT Danareksa Sekuritas
  • PT Reliance Securities Tbk
  • PT Sucorinvest Central Gani
  • PT Trimegah Securities Tbk

(dnl/dnl)

alert02

JAKARTA kontan. Dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) Tugu Mandiri mengakui tren pengalihan portofolio investasi oleh peserta juga terjadi sejalan koreksi yang terjadi di pasar modal. Mereka pun mesti bekerja keras untuk kembali mengedukasi nasabah mereka.

Maya Susiana, Group Head of DPLK Business DPLK Tugu Mandiri pihaknya terus melakukan mengedukasi kepada nasabah. Pasalnya bila melakukan pengalihan portofolio di saat pasar sudah terlalu dalam, ia menyebut peserta akan mengalami rugi besar.

Apalagi naik turunnya saham memang terbilang biasa terjadi. “Sedangkan bila pasar membaik maka peserta akan kehilangan momentum,” kata Maya akhir pekan lalu.

Ia menyebut sejumlah peserta program pensiun mereka mengalihkan portofolio investasi ke instrumen yang lebih aman. Terutama dari saham ke deposito atau surat utang.

Per akhir Agustus kemarin, dana kelolaan DPLK Tugu Mandiri sendiri mencapai sekitar Rp 1 triliun. Jumlah ini naik sekitar 7,6% dibanding posisi akhir tahun kemarin.

Penempatan dana di instrumen deposito mencapai sekitar 30% dari total dana investasi. Sedangkan 40% masih ditempatkan di instrumen surat utang. Sementara sisanya ke beberapa instrumen lain seperti pasar uang dan instrumen saham.

Editor: Yudho Winarto.

Bisnis.com, JAKARTA—Hasil survei yang diadakan oleh Manulife pada April – Mei 2015 menunjukkan bahwa investor yang berusia lebih tua di Indonesia masih belum siap menghadapi masa pensiun dan memiliki harapan yang tidak realistis tentang kondisi keuangan mereka.

Hampir semua (94%) berharap akan memiliki dana cukup untuk hidup di usia tua, walaupun 42% dari mereka masih belum membuat perencanaan.

Riset Manulife Investor Sentiment Index, mengungkapkan bahwa lebih dari sepertiga investor di Indonesia (36%) belum membuat perencanaan keuangan untuk masa pensiun. Investor yang berusia lebih tua (berusia 40 tahun ke atas) justru lebih tertinggal dalam hal perencanaan masa pensiun bila dibandingkan dengan investor yang berusia lebih muda (berusia 40 tahun ke bawah).

Sebanyak 42% dari investor Indonesia yang berusia lebih tua belum memiliki perencanaan masa pensiun. Angka ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan persentase investor yang berusia lebih muda yang belum memiliki perencanaan keuangan untuk masa pensiun, yang hanya 30%.

Meskipun kurang dalam melakukan perencanaan untuk masa pensiunnya nanti, hampir setengah dari investor yang berusia lebih tua (49%) yakin bahwa mereka akan memiliki dana yang lebih dari cukup untuk hidup di usia tuanya kelak, sementara 45% lainnya meyakini bahwa mereka akan memiliki dana yang cukup untuk dapat hidup dengan cara sederhana.

Mereka juga berharap agar lebih dari seperempat (28%) penghasilannya di masa pensiun nanti berasal dari hasil investasi. Sebaliknya, hanya sedikit dari investor yang berusia lebih muda yang mengharapkan sumber penghasilan di masa pensiunnya nanti berasal dari hasil investasi. Sepertinya inilah yang menjadi alasan atas temuan lain diungkapkan dalam penelitian ini, bahwa ada lebih banyak investor yang berusia lebih muda (66%) yang memiliki program pensiun secara sukarela bila dibandingkan dengan investor yang berusia lebih tua (44%)

Dari seluruh investor yang berpartisipasi dalam survei MISI, lebih dari setengah (52%) investor yang belum mulai merencanakan masa pensiunnya masih berpikir bahwa mereka akan memiliki dana lebih dari cukup untuk dapat hidup di usia tuanya kelak. Hal ini menunjukkan adanya harapan yang tidak realistis.

“Sepertinya banyak investor yang tidak menyadari besarnya biaya yang akan dikeluarkan di masa pensiun nanti,” ujar Putut E. Andanawarih, Director of Business Development PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.

“Bagi investor yang belum melakukan perencanaan pensiun dengan tepat, rasanya tidak realistis apabila mengharapkan sebagian besar penghasilan di masa pensiunnya nanti berasal dari hasil investasi. Namun, bagi para investor yang ingin mengejar ketertinggalannya dalam menyiapkan dana untuk masa pensiunnya, mereka dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi secara regular di reksa dana saham atau pendapatan tetap,” imbuhnya.

Putut menambahkan, secara umum, dan tanpa disadari, Indonesia menghadapi populasi yang menua dengan cepat. Oleh karena itu, perlu ditanamkan kesadaran mengenai pentingnya perencanaan keuangan untuk masa depan, yang tidak hanya berguna untuk memastikan agar kebutuhannya tercukupi, tetapi juga untuk dapat mempertahankan gaya hidup.

Investor tidak berharap dapat mengandalkan dana pensiun mereka di kemudian hari, tetapi membutuhkan saran lebih lanjut tentang bagaimana menentukan investasi yang tepat

double arrow picSMALL

TEMPO.COJakarta – Krisis ekonomi yang sedang terjadi di Yunani justru mendorong orang-orang kaya di negara itu untuk berbelanja. Mereka menghabiskan tabungan di rekening karena takut pemerintah mengambil uang mereka untuk menutup utang negara.

Perhiasan, gadget, dan barang mewah lainnya dilaporkan mengalami kenaikan penjualan menyusul referendum yang menentukan apakah Yunani akan menerima dana talangan (bailout) dari Uni Eropa atau tidak.

Rakyat Yunani khawatir Uni Eropa akan memaksa Yunani memangkas rekening mereka beberapa persen. Langkah tersebut, misalnya, pernah dilakukan Uni Eropa di Cyprus saat terjadi krisis pada 2013.

“Kamis, Jumat, dan Sabtu seperti Natal,” kata Andrew, 30 tahun, seorang asisten di toko retail Apple di Athena. Menurut Andrew, orang-orang sangat ketakutan. Mayoritas berpikir mereka punya waktu tiga hari untuk menghabiskan uang sebelum uang mereka diambil negara.

Andrew mengaku tokonya menjual barang hingga dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Barang-barang yang dibeli antara lain laptop, komputer, tablet, iPhone, dan konsol game.

Sedangkan Maria-Ellie Xanthopoulous, pemilik toko perhiasan, mengatakan bahwa kliennya lebih memilih menghabiskan uang mereka sendiri daripada diambil pemerintah. “Dalam enam bulan terakhir, kita hampir tidak memiliki pelanggan satu pun. Namun, pada hari Sabtu, Senin, dan Selasa, banyak pelanggan yang datang dan menghabiskan uang mereka,” ujar Maria-Ellie.

Maria-Ellie mengatakan tokonya tidak menjual banyak peralatan elektronik. Namun para pelanggan menghabiskan sekitar 5.000-8.000 euro (sekitar Rp 70-120 juta) sekali datang.

Adapun masyarakat masih mengantre berjam-jam di ATM untuk menarik uang mereka secara harian, yang dibatasi menjadi 50 euro per hari.

Minggu, 5 Juli 2015, pemerintah mengumumkan hasil referendum yang memutuskan Yunani menolak dana talangan (bailout). Pemerintah Yunani tentunya tidak akan mengambil isi rekening bank mereka. Namun belum diketahui nasib barang yang sudah telanjur mereka beli.

NIBRAS NADA NAILUFAR | DAILY MAIL

rounding pen

JAKARTA – Masa pensiun merupakan masa yang harus dipersiapkan sejak saat ini juga. Hal ini dikarenakan, pendapatan di usia senja tidak sebesar di usia produktif.

Berikut 10 investasi terbaik untuk pensiun seperti dikutip dalam artikel 10 Best Retirement Investments oleh Dana Anspach.

1. Merancang portofolio investasi sendiri

Salah satu cara umum untuk menciptakan penghasilan pensiun adalah untuk membangun portofolio baik dari saham atau obligasi. Portofolio ini dirancang untuk mencapai pendapatan jangka panjang hingga 20 tahun mendatang.

Ketika Anda pensiun, pendapatan dari portofolio ini cukup menjanjikan. Namun Anda perlu memperhatikan strategi investasi.

2. Dana pensiun

Mempersiapkan dana pensiun bisa melalui potongan gaji yang umumnya dilakukan oleh perusahaan atau tabungan pensiun melalui reksa dana. Investasi tersebut dikelola dengan tujuan menghasilkan pendapatan bulanan yang dibagikan kepada Anda. Dana ini dibangun untuk memberikan paket all in one yang dirancang untuk mencapai tujuan tertentu.

Dengan dana pendapatan pensiun Anda dapat mengkontrol dan mengakses uang Anda setiap saat. Tentu saja jika Anda menarik beberapa uang pokok Anda, pendapatan bulanan masa depan Anda selanjutnya akan turun.

3. Asuransi

Anuitas sebenarnya merupakan suatu bentuk manfaat dari asuransi. Namun, ini disebut investasi terbaik karena tujuan mereka adalah untuk menghasilkan pendapatan yang Anda butuhkan di masa pensiun.

Dengan anuitas langsung Anda mengasuransikan pendapatan masa depan Anda. Perusahaan asuransi akan menjamin penghasilan untuk hidup Anda atau untuk beberapa lainnya sesuai kesepakatan waktu.

4. Obligasi

Ketika Anda membeli obligasi, Anda meminjamkan uang Anda baik pada pemerintahatau perusahaan. Peminjam setuju untuk membayar bunga Anda untuk menetapkan jumlah waktu. Ketika obligasi tersebut jatuh tempo, maka uang pokok akan dikembalikan kepada Anda. Pendapatan bunga, dapat Anda terima dari obligasi (atau dari dana obligasi) yang dapat menjadi sumber pendapatan tetap pensiun.

Obligasi memiliki peringkat kualitas untuk memberikan gambaran tentang kekuatan keuangan dari penerbit obligasi. Ada jangka pendek, jangka menengah, dan obligasi jangka panjang. Ada juga obligasi dengan suku bunga disesuaikan, serta obligasi hasil tinggi, yang membayar tingkat bunga yang lebih tinggi, tetapi memiliki peringkat kualitas yang lebih rendah.

5. Menyewakan properti

Menyewakan properti yang Anda miliki dapat memberikan sumber pendapatan yang stabil, namun akan ada kebutuhan perawatan. Sebelum Anda membeli properti untuk disewakan, Anda perlu menghitung semua biaya potensial yang mungkin dikenakan selama rentang waktu tertentu.

Investasi properti adalah bisnis, bukan proposi untuk mendapatkan kekayaan yang cepat. Bagi mereka dengan pengalaman real estate, hal ini dapat membuat investasi pensiun yang besar.

Jika Anda tidak yakin dengan investasi ini, Anda dapat memulai mempertimbangkan membaca buku-buku tentang investasi real estat, berbicara dengan investor berpengalaman, atau bergabung dengan klub investasi real estat.

6. Ambil investasi yang aman

Anda selalu ingin menyimpan sebagian dana pensiun Anda di alternatif investasi yang aman. Tujuan utama dari setiap investasi yang aman adalah untuk melindungi apa yang Anda miliki.

Namun, jangan terlalu terburu-buru mengambil keputusan untuk melakukan investasi. Anda perlu melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan pakar investasi sebelum membuat keputusan.

Semua dana pensiunan disarankan memiliki beberapa jenis rekening cadangan (dana darurat). Akun ini tidak harus dimasukkan sebagai aset yang tersedia untuk menghasilkan pendapatan pensiun. Hal ini ada sebagai jaring pengaman untuk biaya tak terduga yang mungkin muncul di masa pensiun.

7. Pendapatan dari dana tertutup (closed end funds)

Mayoritas pendapatan dari dana tertutup dirancang untuk menghasilkan pendapatan bulanan atau kuartalan. Pendapatan ini bisa berasal dari bunga ataupun dividen. Setiap dana memiliki tujuan sendiri, oleh karena itu pastikan untuk melakukan penelitian sebelum membeli.

Investor berpengalaman mungkin menemukan dana tertutup menjadi investasi yang sesuai untuk sebagian dari uang pensiun mereka. Investor yang kurang berpengalaman harus menggunakan manajer portofolio yang mengkhususkan diri dalam dana tertutup ini.

8. Dividen

Belilah saham yang memberikan dividen. Dividen dapat memberikan sumber pendapatan tetap di masa pensiun. Nilai dividen pada umumnya akan meningkat setiap tahun (Jika perusahaan meningkatkan pembayaran dividen).

Berhati-hatilah dengan dividen besar, biasanya risikonya juga besar. Imbal hasil tinggi selalu disertai dengan risiko tambahan. Jika ada Anda diberikan hasil yang lebih dari ekspektasi itu artinya perusahaan melakukannya untuk mengkompensasi risiko tambahan yang akan Anda tanggung. Ingat, jangan berinvestasi tanpa memahami risiko yang akan ditumbulkan.

9. Real Estate Investment Trust (REITs)

Kebanyakan orang menanamkan dananya pada real estat dalam bentuk investasi Real Estate Investment Trust (REIT). Instrumen investasi ni seperti sebuah tim profesional yang mengelola properti, mengumpulkan uang sewa, membayar biaya, mengumpulkan biaya manajemen, dan mendistribusikan sisa penghasilan kepada Anda selaku investor.

10. Unit link

Sebuah produk yang sama sekali berbeda dari investasi langsung. Dalam investas ini, dana Anda masuk ke portofolio investasi yang Anda pilih. Anda berpartisipasi dalam keuntungan dan kerugian dalam investasi tersebut.
http://economy.okezone.com/read/2015/05/29/457/1157255/10-investasi-agar-masa-pensiun-anda-nyaman
Sumber : OKEZONE.COM

 

JAKARTA – Pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) Go-Jek Nadiem Makarim memiliki gelar yang cukup menarik bagi seorang pebisnis. Dirinya, ternyata lulusan program Master of Business Administration (MBA) di Harvard Business School (AS).

Namun, menurutnya gelar pendidikan tinggi yang diraihnya tidak dimanfaatkan dengan bergabung di perusahaan-perusahaan hebat. Nadiem lebih memilih mempunyai perusahaan hebat ketimbang bekerja di perusahaan hebat.

“Ngapain kerja di kantoran, mendingan punya perusahaan (Go-Jek) yang benar-benar digunakan orang Jakarta yang berguna, membantu, dan meningkatkan penghasilan orang. Ya jelas kerenan Go-Jeklah,” ujarnya saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.

Mendirikan Go-Jek merupakan pekerjaan impian baginya. Nadiem sangat senang bisa mempunyai perusahaan yang laku dan dampak sosialnya besar.

“Saya bisa menginspirasi ke anak-anak muda untuk bikin bisnis sendiri. Mau apa lagi hidup ini,” katanya.

Sejak 2014 yang telah memiliki sistem jaringan mobile app, pertumbuhan Go-Jek menjadi tinggi. Hampir 200 ribu mobile app Go-Jek di-download.

“Salah satu cara menarik pelanggannya seperti memberikan voucher, tapi kebanyakan pelanggan dengarnya dari teman-teman. Di Indonesia apa-apa yang laku harus dengar dari teman dulu,” katanya sambil tertawa.

Untuk rekrutmen pengendara atau ojek, yang pertama kali dilakukannya adalah melakukan interview dengan ojek-ojek yang dikenal atau ojek-ojek yang sering mengantarkan ke mana pun Nadiem pergi. Dari hal itulah mulai ide-ide ini menjadi ide yang kental.

“Go-Jek sebelumnya tumbuh tapi organik, artinya pelan-pelan naiknya. Enggak mungkin ada perusahaan bisa meledak seperti ini tanpa investment,” katanya.

Nadiem menambahkan, tujuan untuk meneruskan Go-Jek adalah pihaknya menerima investment dan teman-teman serta keluarganya complain kepadanya karena tidak membesarkan Go-Jek.

“Saya didukung oleh keluarga. Kata keluarga saya, ngapain kerja di perusahaan,” imbuhnya.

http://economy.okezone.com/read/2015/05/26/320/1155521/lulusan-havard-ceo-go-jek-ngapain-kerja-kantoran
Sumber : OKEZONE.COM

 

Metrotvnews.com, Kuta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan aset industri asuransi melonjak mencapai sebesar Rp755,4 triliun selama 2014 atau rata-rata tumbuh sebanyak 19,2 persen selama lima tahun terakhir.

 

“Kami perkirakan peningkatan itu karena didorong ekonomi Indonesia secara makro yang tumbuh positif, menyebabkan masyarakat sadar untuk memilih program investasi,” kata Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan Perasuransian dan Dana Pensiun Industri Keuangan Non-Bank OJK Dinar Sukmasari, saat ditemui pada Pelatihan Jurnalistik Keuangan di Kuta, Bali, Selasa (12/5/2015).

 

Menurut dia, pertumbuhan asuransi pada 2011 mencapai Rp481,75 triliun dan melonjak signifikan pada 2013 yang tumbuh menjadi Rp659,73 dan terus meningkat pada 2014 hingga September menjadi Rp755,4 triliun.

 

Dia menjelaskan, pertumbuhan aset asuransi itu berkontribusi terhadap total jumlah aset IKNB selama 2014 hingga September mencapai Rp1.504 triliun bersama dengan industri keuangan non-bank lainnya yakni dana pensiun, lembaga pembiayaan dan lembaga jasa keuangan lain seperti lembaga penjaminan.

 

Dinar mengungkapkan total aset-aset IKNB itu memiliki dampak yang lebih panjang bagi perekenomian masyarakat meskipun jumlahnya masih lebih rendah dibandingkan total aset perbankan yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp5.000 triliun.

 

“Aset dana dalam industri keuangan non-bank itu merupakan sumber dana pembangunan nasional yang mencapai total Rp1.504 triliun pada 2014 hingga September,” imbuhnya.

 

Meski memiliki peran yang besar untuk pembangunan nasional, namun industri itu masih mempunyai sejumlah tantangan diantaranya masih kurangnya pemahaman masyarakat terhadap IKNB. Selain itu, sebagian besar nasabah atau peserta IKNB masih belum merata dan hanya terpusat di daerah perkotaan.

 

http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/05/12/395921/pertumbuhan-aset-asuransi-melonjak-jadi-rp755-4-triliun
Sumber : METROTVNEWS.COM

bloomberg

: For a quarter of a century the name Mark Mobius has been synonymous with investing in developing markets. A bald, energetic, New York native who often dresses in white suits, Mobius is constantly tweeting and appearing on television from St. Petersburg to São Paulo encouraging investors to put money into fast-growing developing economies. A Mark Mobius comic book published in Asia in 2007 chronicled his globe-trotting exploits. (Really.) In the U.S. he was voted by his peers onto a list of the top 10 investors of the 20th century, putting him alongside Warren Buffett, Julian Robertson, and George Soros. What Bill Gross was to bonds, Mobius was to emerging markets: the King.His reign may be coming to an end. Like Gross, Mobius, 78, has posted mediocre numbers in recent years and seen investors depart. While they still make money, 11 of the 13 largest funds that Mobius oversees at Franklin Templeton Investments have underperformed their benchmarks over the past five years. At his zenith in 2011, Mobius oversaw $39 billion. Today that figure is down to $26 billion. And in December, his flagship Asian Growth Fund lost its long-held position as the region’s largest to First State Investments’ Asia Pacific Leaders Fund. “He’s one of the few well-known managers in emerging markets,” says Todd Rosenbluth, director of mutual fund and ETF research at S&P Capital IQ. “Unfortunately, the track record is below average. Investors are more frustrated.”In an e-mail, Mobius said his strategy of investing in undervalued stocks can falter in “sentiment-driven” environments, where investors focus more on the overall economic picture than on company fundamentals. “As value investors, we have to have the patience and conviction to weather sometimes long periods of volatility,” Mobius wrote. “We go into markets when others are fleeing, and while some of our fund performance has struggled at certain points in time, we believe that with our contrarian approach, our shareholders will be rewarded in the long term.”

Many emerging-markets fund managers have floundered as China’s expansion slows and former standouts such as Brazil and Russia post disappointing growth. Seventeen of the 33 U.S.-based developing-nation stock funds with more than $1 billion in assets have trailed their benchmarks over the past five years, according to data compiled by Bloomberg. “It hasn’t been a great period for any emerging-markets manager,” says Peter Walls, a money manager at Unicorn Asset Management who invests in Mobius’s funds. “He’s going to make a comeback.”

Born in Hempstead, N.Y., to a German father and a Puerto Rican mother, Mobius got his Ph.D. from the Massachusetts Institute of Technology. He joined Templeton, Galbraith & Hansberger in 1987, when investing in developing countries was still a novel idea. After being tapped by firm founder John Templeton to manage the Templeton Emerging Markets Fund, the company’s first foray into that territory, Mobius developed a reputation for sniffing out stocks that are undervalued relative to their growth potential.

He still crisscrosses continents 250 days a year, feeding on-the-ground research to his team of 50 money managers, analysts, and researchers in 18 offices worldwide handling day-to-day operations of the more than 30 funds he oversees.

The last half-decade has been a struggle for the group, which has made ill-timed bets on energy and mining companies while underinvesting in technology stocks. As of March 31, Templeton Asian Growth held 33 percent of its assets in energy and material stocks, which account for only 9 percent of the fund’s benchmark, the MSCI AC Asia ex Japan index. The fund has gained 4.3 percent annually over the past five years, compared with 8.1 percent for the index. It’s trailed 44 of 46 similar funds with assets of at least $500 million over that same time span, while charging investors 2.2 percent annually, the second most in the group.

One of the fund’s largest holdings, the stock of Sesa Sterlite, India’s top aluminum producer, has tumbled 51 percent over the past five years as slowing growth in China cut short a global commodities boom. Another, Yanzhou Coal Mining, a Chinese company, has fallen 66 percent since the end of April 2010, while the Chinese market surged. “They have a big team, but it’s not generating performance,” says Germaine Share, an analyst at Morningstar in Hong Kong.

Even with the recent under-performance, an initial investment of $100,000 in the Templeton Emerging Markets Fund 28 years ago would be worth about $3.3 million today, according to data compiled by Bloomberg. Mobius has yet to announce any plans to retire or scale back his workload. In the last days of April, he wrote a blog on foreign reserves, talked about Greece’s finances on CNBC, and celebrated the debut of Templeton’s new Romanian fund on the London Stock Exchange. Countries such as Romania and Mongolia could be the next frontier that enriches investors, he said.

“It’s clearly worrying when you have a period of three, four years that hasn’t been particularly good,” says Charles Cade, head of investment companies research at Numis Securities in London. “The track record isn’t as good as it used to be. Emerging markets is more of a mainstream play now. Adding value is a lot tougher, and it’s much harder to maintain performance.”

—With assistance from Charles Stein, Boris Korby, Shana Albuquerque, Mark Jones, Ryan Kreger, and Andrew Bachmann.

The bottom line: Mobius’s flagship fund has gained 4.3 percent annually over the past five years, trailing 44 of 46 similar funds.