1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

widely, wisely @investas1 (4) 16 September 2017

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:34 am

 

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0032

KONTAN.CO.ID – Ada yang mengatakan bahwa perbedaan antara orang kelas atas dan orang kelas menengah tampak dari cara pandangnya.

Cara pandang orang kelas atas selalu fokus pada satu hal yang menurutnya dapat menguntungkan dengan mempertimbangkan risikonya.

Selain itu, orang kelas atas juga selalu memiliki mimpi yang sangat tinggi sehingga bekerja keras tanpa henti untuk bisa mewujudkanya.

Walaupun begitu, orang kelas menengah kadang sering menganggap bahwa hal tersebut tidak mungkin bisa dicapai.

Perbedaan tersebut yang menjadikan mengapa orang kelas atas bisa semakin kaya. Sementara orang kelas menengah membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menjadi orang kelas atas.

Ada beberapa cara pandang yang sepertinya harus dimiliki kita ingin sukses seperti orang-orang kelas atas di luar sana. Cara pandangnya cukup sederhana dan penuh perhitungan pastinya.

Berikut ini cara pandang yang harus diubah orang kelas menengah agar bisa mengikuti langkah orang kelas atas.

1.Kelas Atas Mengejar Pemasukan, sedangkan Kelas Menengah Menumpuk Simpanan

Mungkin dari dulu hingga sekarang, kita selalu berpikir bahwa orang yang rajin menabung akan menjadi kaya.

Nyatanya, orang kelas atas bisa semakin kaya bukan karena mereka rajin menabung. Namun, karena mereka rajin memikirkan untuk terus menambah pendapatan mereka supaya semakin kaya.

Oleh sebab itu, orang kelas atas hanya fokus pada pemasukan yang diperolehnya. Orang kelas atas juga lebih berani untuk berinvestasi dengan tujuan agar pemasukannya jadi maksimal.

Namun, untuk bisa seperti itu, orang kelas atas tidak menjalankan bisnis dalam skala kecil. Hanya bisnis tertentu seperti properti yang prospeknya memang menjanjikan.

Saat orang kelas atas penuh keyakinan dalam menambah pemasukannya, orang kelas menengah malah sibuk memikirkan risiko apabila mereka juga melakukan hal yang sama.

2.Kelas Atas Membuat Uangnya Bertumbuh, Kelas Menengah Menghamburkan Uangnya

Orang kelas atas yang identik dengan banyak uang, selalu mendapat stigma sebagai orang yang boros.

Sebab orang kelas atas pasti akan belanja banyak hal, seperti barang-barang bagus, pakaian bagus, hingga makanan-makanan enak.

Tapi, tahukah Anda ternyata yang sering melakukan hal seperti ini adalah orang kelas menengah?

Saat punya uang, orang kelas menengah cenderung akan menghabiskan uang  supaya terlihat sudah punya banyak uang.

Sebaliknya, orang kelas atas malah cenderung membuat uangnya bertumbuh dengan tujuan akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi dari sebelumnya.

3.Kelas Atas Tak Puas dengan Pengetahuannya, Kelas Menengah Merasa Cukup Pintar

Ternyata orang-orang kelas atas tidak pernah merasa sudah cukup segalanya, termasuk dalam menimba ilmu tentang berbagai hal.

Orang kelas menengah selalu ingin belajar hal baru dan mengasah kemampuannya. Untuk mempelajari hal baru tersebut, kelas menengah bahkan tidak segan untuk menyediakan waktu luang cuma untuk belajar.

4.Orang Kelas Atas Jauh dari Kesan Konsumtif

Karena mungkin saat perjuangan hingga bisa berada di atas, mereka sangat menghargai hal tersebut.

Sebab untuk meraihnya tidaklah mudah. Hal tersebut juga yang membuat mereka tidak memiliki gaya hidup yang konsumtif.

Sebagian dari mereka bahkan ada yang menjalani hidup secara sederhana saja. Kelas menengah terkadang bisa lebih konsumtif dengan banyak membeli barang yang hanya diinginkan, bukan yang dibutuhkan.

5.Kelas Atas Selalu Optimis, Kelas Menengah Sebentar-Sebentar Sudah Pesimis

Berbicara soal mimpi, ternyata banyak orang kelas atas yang sukses karena punya mimpi. Seperti lagu Band Nidji, bahwa “Mimpi adalah kunci untuk menaklukan dunia”.

Antara orang kelas atas dan orang kelas menengah, mereka sama-sama punya mimpi yang sedang berusaha untuk diraih. Tapi, orang kelas atas ternyata memiliki mimpi yang sangat tinggi.

Mungkin menurut kita, mimpi orang kelas atas kadang tidak rasional dan mustahil. Namun, orang kelas atas secara spontan membentuk cara pandangnya dengan sangat baik.

Selain itu, mereka juga memusatkan seluruh usahanya untuk meraih mimpinya.

Ubah Cara Pandang Mulai dari Hal yang Sederhana

Tidak usah terlalu memaksakan diri untuk mengubah total cara pandang agar sama dengan pemikiran orang-orang kelas atas. Anda bisa mulai mengubah cara pandang dari hal-hal yang sederhana terlebih dulu.

Misalnya, lebih giat mencari tambahan pemasukan ataupun berhenti hidup boros. Jika sudah begitu, silakan Anda mulai mengikuti semua cara pandan orang kelas atas agar hidup jauh lebih baik.

Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Kompas.com, berjudul: 5 Penyebab Orang Kelas Menengah Sulit Naik Jadi Kelas Atas

Sumber Kompas.com

ets-small

Jum’at, 09 Juni 2017 | 17:05 WIB
Ingin Santai Tapi Penghasilan Besar? Begini 10 Caranya
TEMPO.CO, Jakarta – Menghasilkan uang sambil tidur? Kedengarannya sungguh tidak mungkin. Tapi karena kita hidup di era internet, ternyata tidak sulit mendapatkan ekstra penghasilan.

Berikut adalah 10 cara yang dilansir Entrepreneur agar Anda benar-benar bisa mendapatkan uang sambil tiduran atau minum kopi.

1. Menulis blog
Untuk membuat blog, Anda hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk memulai. Cukup beli nama domain dan bayar hosting saja. Lalu, mulailah membuat konten yang baik sehingga orang tertarik untuk membaca atau membagikannya ke orang lain.

Tidak perlu pusing mengenai isi blog. Cari hal yang Anda kuasai atau betul – betul Anda sukai. Misalnya, jika Anda seorang akuntan yang telah membantu pemilik usaha kecil dengan pajak mereka, jadikanlah itu blog. Anda bisa mencari topik agar tulisan populer atau bermanfaat.

 

Setelah mendapatkan orang yang mengikuti blog, Anda bisa mulai menghasilkan uang dari blog dengan berafiliasi. Anda bisa mengajak atau menampilkan produk atau layanan orang lain di situs. Pastikan produk atau layanan ini relevan dengan blog Anda. Misalnya, blog akuntansi bisa berafiliasi dengan akuntansi atau perangkat lunak faktur. Setelah menemukan mitra afiliasi, Anda akan diberi kode unik sehingga setiap kali pengunjung mengklik link di situs, Anda akan mendapatkan komisi.

Jika situs memiliki lalu lintas untuk menjadi afiliasi, mungkin cukup baik bagi pengiklan untuk membeli iklan di situs Anda. Temukan sponsor. Ini sedikit berbeda dengan hanya menjual iklan di situs. Sponsor dapat berupa konten yang bersponsor atau logo permanen yang ada di kaki blog.

2. Jual produk informasi sendiri
Jika memiliki pengetahuan di area tertentu, Anda dapat mulai membuat produk, seperti eBook atau video, dan menjualnya di blog. Mungkin dibutuhkan banyak usaha untuk menciptakan dan memasarkan produk Anda, tapi begitu semua pekerjaan selesai, Anda bisa mengatur dan mengumpulkan hasilnya.

3. Dapatkan royalti
Jika Anda seorang musisi, aktor, atau penulis berbakat, Anda bisa mendapatkan royalti dari pekerjaan. Dengan kata lain, orang akan membayar untuk menggunakan karya atau aset kreatif Anda. Jika Anda tidak cukup berbakat tapi tetap tertarik untuk mendapatkan royalti, kemudian check out Royalty Exchange. Ini adalah pasar tempat Anda bisa membeli dan menjual royalti.

4. Buat komunitas keanggotaan
Jika berhasil membuktikan diri sebagai orang yang berpengaruh, Anda dapat membuat komunitas keanggotaan di mana Anda membayar biaya bulanan untuk menerima konten berkualitas tinggi dan informasi tambahan yang tidak tersedia bagi non-anggota. Salah satu contoh adalah Timothy Sykes yang menghasilkan pendapatan pasif lebih dari USD 100.000 per bulan melalui komunitas anggotanya yang membahas bagaimana orang bisa menghasilkan uang dalam perdagangan saham.

5. Instal autoresponder
Model bisnis daring lain yang umum adalah menggunakan penjawab otomatis untuk menjual layanan, produk, atau keanggotaan. Di sinilah orang meninggalkan alamat surel mereka di situs Anda dan kemudian mereka akan menerima surel otomatis yang berisi tautan untuk mengunduh produk atau informasi berkualitas yang ditawarkan. Anda akan membutuhkan layanan seperti OptinMonster untuk membuat ini menjadi mungkin. Sebaiknya Anda membaca panduan Quick Sprout untuk memulai penjawab otomatis terebut.

6. Laman Flip
Jika Anda telah memasukkan waktu dan usaha untuk membangun sebuah situs dan telah mendapatkan banyak respons positif, Anda mungkin bisa menjualnya ke pihak yang berkepentingan dengan mencantumkan di pasar seperti Flippa. Di Flippa, Anda dapat membeli dan menjual banyak situs di sini dan menghasilkan banyak uang.

7. Jual produk fisik
Sama seperti dengan situs blogging, ada beberapa cara untuk mendapatkan penghasilan pasif dengan menjual produk fisik, misalnya lewat eBay. Tetapi jika tidak memiliki barang yang tersisa untuk dijual, Anda bisa mulai dengan sistem drop shopping di mana Anda bisa berjualan tanpa harus pusing memikirkan soal pengiriman.

Anda juga bisa meluncurkan toko eCommerce sendiri dengan menggunakan Shopify. Mereka benar-benar memberi semua yang Anda butuhkan untuk menjual produk secara daring.

8. Berinvestasi dalam saham
Bila berinvestasi di suatu saham, maka Anda resmi menjadi pemangku kepentingan/stakeholder. Berinvestasi dalam saham telah menjadi cara yang populer untuk mendapatkan penghasilan pasif selama bertahun-tahun dan berkat internet lebih mudah daripada sebelumnya untuk meneliti dan berinvestasi pada saham sendiri. Ingatlah bahwa saham yang Anda investasikan dapat berubah sepanjang waktu.

9. Peminjaman uang dalam jaringan pertemanan
Perusahaan seperti LendingClub, Propser, dan Harmoney telah menciptakan industri baru di mana setiap orang bisa menjadi pemberi pinjaman. Mereka kemudian akan mencocokkan Anda dengan konsumen yang memiliki masalah dalam mengamankan pinjaman dari bank. Anda bisa mendapatkan tingkat bunga yang lebih tinggi atas pinjaman yang Anda keluarkan karena berhadapan langsung dengan peminjam.

10. Sewa properti
Berkat Airbnb, Anda bisa menyewakan rumah saat berlibur atau tidak digunakan. Anda juga bisa menyewakan garasi, tempat parkir, atau ruang kantor yang tidak terpakai. Cara untuk menyewakan ruangan yang Anda punya adalah dengan mengiklakannya dan mendaftarkannya daring.

TABLOIDBINTANG

ets-small

 

TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)  Muhammad Syarkawi Rauf mengatakan kini jumlah pengusaha baru di Indonesia baru 1,6 persen atau sekitar 4,6 juta jiwa dari total jumlah penduduk Indonesia.

“Jumlah pelaku usaha di tingkat nasional masih 1,6 persen dari jumlah penduduk. Idealnya kita harus punya 4 persen dari jumlah penduduk yang berprofesi sebagai wirausahawan,” kata Syarkawi kepada wartawan seusai menghadiri acara Dialog Persaingan: Mendorong Tumbuhnya Wirausaha Muda Melalui Persaingan Usaha Sehat di hotel Panghegar, Kota Bandung, Jumat, 2 Juni 2017.

Oleh karena itu KPPU akan terus menggenjot kenaikan para pelaku usaha baru guna mendongkrak pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Tingkat pertumbuhan pelaku usaha baru di Tanah Air memang terbilang rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga lainnnya di lingkup Asia Tenggara.

Menurut Syarkawi, guna mencapai target tercapainya pelaku wirausaha hingga 4 persen, maka dibutuhkan sekitar 6,6 juta pelaku usaha baru lagi. Hal ini, tentu tidak terlalu sulit asalkan adanya dorongan dari berbagai pihak dari mulai regulasi pemerintah juga sokongan pihak swasta.

Dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Tenggara, kata Syarkawi, memang jumlah pelaku usaha baru di Indonesia cukup tertinggal. Di Malaysia jumlah pelaku yang baru memulai menjalankan bisnis itu mencapai 5 persen. “Untuk di Thailand mencapai 4 persen, Singapura 7 persen, makanya kami dari KPPU salah satunya adalah mendorong pelaku usaha baru untuk tetap tumbuh,” katanya.

Strategi yang dilakukan KPPU dalah mengubah regulasi yang ditetapkan pemerintah yang justru menjadi penghambat pertumbuhan pelaku usaha baru. “Kami tahun ini fokus ke daftar periksa persaingan,” tutur Syarkawi.

Soal ini, kata Syarkawi, KPPU sudah menanyakan ke pemerintah daerah, pemerintah provinsi serta pemerintah pusat. “Intinya apakah regulasi yang dibuat menghambat terhadap pengusaha baru. Nah, kalau regulasi itu menciptakan hambatan berarti tidak pro ke persaingan dan kita akan rubah,” katanya.

Hal kedua yang dilakukan KPPU dengan mendorong pengusaha baru untuk mengoreksi struktur pasar yang notabene masih dibelenggu oleh sekelompok minoritas alias incumben pengusaha besar. Daya saing yang tidak sehat menyebabkan masyarakat enggan terjun untuk turun langsung memulai membuka usaha baru.

Syarkawi menjelaskan, jumlah pelaku di beberapa jenis komoditas usaha paling strategis hanya berkisar 2-3 pelaku usaha besar. “Sementara yang masuk ke situ agak sulit, oleh sebab itu kami ingin dorong supaya struktur pasar bisa berubah tidak terkonsentrasi,” ujarnya.

Terakhir, KPPU akan terus mendorong perubahan prilaku antar pelaku usaha baru dengan menanamkan budaya persaingan yang sehat untuk menyokong pertumbuhan perekonomian Indonesia. “Kita dorong budaya persaingan di antara pengusaha kita, sehingga tercipta struktur ekonomi yang efisien meningkatkan produktivitas kemudian ujung-ujungnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sehingga untuk mencapai visi kita secara nasional tahun 2025 itu kita harus tumbuh sekitar 6 sampai 8 persen akan tercapai,” ucap dia.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan adanya industri hulu memang menjadi salah satu kunci terciptanya pelaku usaha baru di Tanah Air. Namun, saat ini industri hulu belum juga terealisasi di Indonesia.

Ade menyebutkan saat ini konsolidasi industri untuk sektor tekstil di luar negeri terjadi tapi di Indonesia tak ada industri hulu yang sukses berkembang. “Akibatnya tak ada konsolidasi industri. Padahal itu (konsolidasi) bisa membuat 10 ribu enterpreuner jika industri hulu ada di Indonesia,” ucap Ade.

AMINUDDIN A.S.

rose KECIL

TEMPO.CO, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah menutup 13 entitas usaha yang dianggap tidak berizin sepanjang Januari dan Februari lalu. Direktur Kebijakan dan Dukungan Penyidikan OJK Tongam L Tobing mengatakan Satgas Waspada Investasi kembali menutup 6 kegiatan usaha yang tidak mengantongi izin pada bulan ini.

Baca: OJK Sebut Baru Satu Perusahaan Pinjaman Online yang Terdaftar

“Setelah menutup enam entitas pada Januari dan tujuh entitas pada Februari lalu, Maret ini Satgas Waspada Investasi kembali menghentikan enam kegiatan penghimpunan dana masyarakat atau kegiatan usaha yang tidak memiliki izin dari otoritas manapun,” ujar Tongam, melalui keterangan resminya, Ahad 26 Maret 2017.

Baca: Lagi, 7 Perusahaan Investasi Bodong Ditutup OJK

Satgas Waspada Investasi menghimbau kepada masyarakat berhati-hati sebelum menjatuhkan pilihan investasi. Berikut empat saran Satgas Waspada Investasi untuk masyarakat yang ingin berinvestasi.

1. Memastikan perusahaan yang menawarkan investasi tersebut memiliki izin usaha dari otoritas yang berwenang sesuai dengan kegiatan usaha yang dijalankan.

2. Memastikan bahwa pihak yang menawarkan produk investasi, memiliki izin dalam menawarkan produk investasi atau tercatat sebagai mitra pemasar.

3. Memastikan bahwa perusahaan atau pihak yang melakukan penawaran investasi tersebut, juga memiliki domisili usaha sesuai dengan izin yang dimiliki.

4. Jika menemukan tawaran investasi yang mencurigakan, masyarakat bisa mengkonsultasikan atau melaporkan kepada Layanan Konsumen OJK 1500655, email konsumen@ojk.go.id atau waspadainvestasi@ojk.go.id.

BISNIS

ets-small

Jakarta detik- Warren Buffett masuk ke dalam jajaran salah satu orang terkaya di dunia. Ia adalah pemilik dari perusahaan Berkshire Hathaway.

Pada tahun 2015, kekayaan yang dimiliki oleh Warren Buffett US$ 11,5 miliar. Bahkan dalam sehari, Buffett pernah kehilangan kekayaan US$ 870 juta.

Semua itu terjadi karena bursa Amerika Serikat (AS) yang volatilitasnya cukup tinggi pada tahun lalu. Kemudian di awal 2016 kemarin, kekayaan Buffett tercatat US$ 61,4 miliar. Dan pada awal tahun 2017, kekayaannya mencapai US$ 75,6 miliar versi forbes.

Meskipun mengalami penurunan kekayaan cukup besar di tahun 2015, Buffett masih tercatat sebagai salah satu miliuner dunia. Ia berada di peringkat nomor 3 sebagai orang terkaya di dunia.

Agar investor lain tak terjerumus volatilitas investasi yang cukup tinggi seperti dirinya pada 2015 lalu, Buffett memiliki beberapa pesan. Aturan yang diterapkan Buffett dalam berinvestasi sebenarnya cukup sederhana. Namun untuk melaksanakannya cukup sulit.

Buffett mengatakan, ada banyak aturan dalam berinvestasi. Namun investor sebaiknya mengingat dua peraturan yang dibuat Buffett ini.

  1. Aturan pertama adalah hindari ingin kaya dengan cepat.

Sedangkan aturan kedua adalah jangan lupa aturan nomor satu.

“Pasar saham bukan permainan yang bisa dilakukan dengan satu pukulan. Untuk bisa memenangkannya, Anda hanya menunggu waktu,” kata Buffett.

Akan tetapi, masa lalu kinerja saham bukan jaminan keberhasilan di masa depan. Buffett juga menyarankan sebaiknya menanamkan investasi di tempat yang Anda kuasai, dan menahan godaan untuk investasi yang sedang digemari oleh banyak orang.

Jika melihat di belakang, kekayaan yang dimiliki oleh Buffett memang tidak datang dengan cepat. Ia mendapat 99 persen kekayaannya saat mencapai usia 50 tahun.

Buffett menghasilkan kekayaan sebesar US$ 62,7 miliar setelah ulang tahunnya yang ke-50. Bufffet butuh waktu lama membangun bisnisnya agar sukses dan akhirnya menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

dollar small

Merdeka.com – Sekalipun krisis melanda, masih ada peluang yang tercipta dan bisa diraih. Ekonomi yang tengah dalam masa krisis memang membuat banyak orang lemah secara finansial. Ekonomi menjadi lesu karena daya beli masyarakat turun dan buntutnya banyak bisnis yang harus tutup. Ancaman PHK pun membayangi orang-orang yang berstatus sebagai karyawan. Namun, haruskah bersikap pesimis menghadapi masa krisis?

Pernah Indonesia diguncang krisis hebat pada tahun 1998. Krisis waktu itu benar-benar tidak hanya menimbulkan ketidakstabilan ekonomi, tetapi juga politik. Nilai Rupiah tidak ada artinya di hadapan Dolar. Angka pengangguran membengkak akibat banyak orang yang di-PHK. Banyak perusahaan dan bank yang kolaps. Gairah orang-orang untuk melakukan aktivitas ekonomi nyaris padam saat itu.

Dilansir cermati, Minggu (19/3), situasi tersebut lantas jangan diartikan kecilnya harapan untuk pulih kembali. Nyatanya, sejak 1998 dan bergulirnya era Reformasi, perbaikan secara bertahap dari waktu ke waktu terus menunjukkan perkembangan yang positif. Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi hingga lebih dari 5 persen dan roda perekonomian terus bergerak walaupun sesekali melamban.

Bangkitnya Indonesia dari keterpurukan terlihat dari naiknya angka kelas menengah Indonesia. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang tidak takut untuk tetap melakukan investasi. Bahkan, saat kondisi ekonomi sedang tidak baik. Mereka yakin bahwa saat kondisi ekonomi kembali membaik, tidak hanya ekonomi yang akan pulih, tetapi semua bidang lain juga akan pulih.

Berikut investasi yang bisa dilakukan saat krisis ekonomi:

1. Dolar AS

Merdeka.com – Kurs atau nilai tukar Rupiah terhadap Dolar cenderung berubah-ubah. Kadang angkanya menguat terhadap Dolar, kadang melemah di hadapan Dolar. Menjadi tugas Bank Indonesia (BI) dan peran serta Pemerintah untuk tetap menjaga agar ketidakstabilan kurs tidak membahayakan. Hingga hari ini kurs Rupiah masih bisa dijaga pergerakannya.

Jika melihat pergerakan kurs pada tahun-tahun sebelumnya, nilai tukar Rupiah berada di sekitar Rp 9.000-lebih dari Rp 11.000 per USD. Sebelum krisis 1998, nilai tukar Rupiah pernah sekitar Rp 2.000-an. Pas krisis terjadi, nilai Dolar melambung tinggi mencapai harga Rp 13.000 per USD. Nilai tukar sekitar Rp 13.000-an terjadi kembali pada tahun 2015, yang sebelumnya sekitar Rp12.000-an.

Naik turunnya nilai tukar jadi keuntungan bagi yang menyimpan uangnya dalam bentuk Dolar sebagai pilihan investasi. Bisa dibayangkan bukan berapa Rupiah yang didapat bila Anda membeli Dolar sebelum krisis dan menjualnya setelah krisis. Sebagai contoh, Anda membeli Dolar pada tahun 2012 dengan kurs sekitar Rp 9.718 per USD. Kemudian diberitakan pada 2014, Rupiah melemah dengan nilai tukar mendekati Rp 14.000. Kalau Anda menukarkan Dolar Anda pada 2014, Anda akan mendapatkan laba sekitar Rp 4.282 untuk setiap Dolar.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi naik turunnya kurs Rupiah, baik dari luar maupun dalam negeri. Bila ditinjau dari faktor luar, menguatnya ekonomi Amerika Serikat dan kenaikan suku bunga acuan The Fed berdampak negatif terhadap Rupiah. Sementara ditinjau dari faktor dalam negeri, kebijakan yang diambil Pemerintah dan Bank Indonesia berdampak langsung terhadap kurs Rupiah.

Nah, bila Anda berniat berinvestasi Dolar, mulailah rajin memperbarui informasi soal ekonomi dalam negeri dan dunia. Dapatkan informasi terbaru mengenai kurs setiap harinya. Anda bisa memanfaatkan media online untuk terus mendapat informasi. Jangan sampai Anda rugi karena tidak tepat dalam membuat keputusan. Sebab setiap pergerakan Rupiah perlu dicermati dan dianalisis lebih jauh.

2. Emas

Merdeka.com – Emas juga menjadi pilihan investasi yang diambil pada masa krisis. Bila melihat data perkembangan emas 15 tahun terakhir di Indonesia, setiap tahunnya terjadi peningkatan harga emas. Pada 2000, harga emas per gram di Indonesia sekitar Rp 72.000. Lima tahun kemudian, tepatnya tahun 2005, harganya telah mencapai Rp 118.000. Pada 2010, harganya berubah lagi menjadi Rp 500.000.

Melihat kenaikan harga tersebut, emas setidaknya lebih baik sebagai investasi ketimbang tabungan. Sebab nilai emas tidak tergerus inflasi. Sementara uang yang disimpan dalam bentuk tabungan akan susut nilainya oleh inflasi. Walaupun demikian, investasi emas bukanlah investasi yang menguntungkan dalam waktu singkat. Cukup lama untuk merasakan keuntungan dari kenaikan emas.

Naik turunnya harga emas dipengaruhi sejumlah faktor. Pertama, nilai tukar/kurs, bila nilai Dolar menguat terhadap Rupiah, harga emas cenderung turun. Sebaliknya, bila melemah, harga emas akan naik. Kedua, produksi emas di dunia, bila permintaan banyak, tetapi produksi sedikit, harga emas akan naik. Ketiga, meningkatnya permintaan industri perhiasan akan berdampak pada kenaikan harga emas. Keempat, penyimpanan emas dalam jumlah besar oleh bank sentral dunia. Kelima, persoalan politik.

Dari faktor-faktor di atas, salah satu yang memengaruhi harga emas ialah nilai tukar/kurs. Saat krisis, ciri yang paling jelas tampak adalah melemahnya Rupiah terhadap Dolar secara signifikan. Menguatnya Dolar membuat harga emas turun. Situasi ini jadi kesempatan untuk membeli emas sebagai investasi. Nantinya begitu kondisi stabil seiring perbaikan ekonomi, dengan sendirinya harga emas akan naik.

Tertarik untuk berinvestasi emas? Selain memerhatikan faktor-faktor yang disebutkan tadi, Anda juga harus terus memantau pergerakan harga emas. Anda bisa mengetahui harga emas dari hari ke hari lewat media cetak ataupun media online.

3. Saham

Merdeka.com – Saham merupakan salah satu investasi yang paling bereaksi terhadap kondisi ekonomi di dunia dan dalam negeri. Saat terjadi krisis ekonomi, biasanya harga sahamlah yang paling pertama turun. Di sisi lain, saat ekonomi pulih, harga saham pulalah yang akan pertama kali mengalami kenaikan.

Reaksi seperti itulah yang membuat investasi saham dikategorikan sebagai jenis investasi yang berisiko tinggi. Harga saham yang selalu bertengger di atas bisa jatuh seketika bila krisis melanda. Investor yang lengah dalam mencermati situasi akan menderita kerugian karena harga jual saham lebih rendah dari harga waktu mereka beli dulu.

Bagi Anda yang ingin berinvestasi saham, masa krisis sebenarnya menjadi waktu yang tepat untuk memulainya. Lakukan pembelian saham dengan terlebih dahulu menganalisisnya secara fundamental dan teknikal. Dengan begitu, saham yang diproyeksikan akan menguntungkan pasca krisis bisa Anda temukan.

4. Reksa dana

Merdeka.com – Apabila Anda kesulitan mengatur waktu untuk mempelajari cara berinvestasi, reksa dana bisa menjadi pilihan lain investasi pada masa krisis. Anda tidak perlu membuang waktu untuk berlama-lama memantau dinamika yang terjadi di pasar keuangan. Sebab seluruh dana yang Anda investasikan dikelola sebaik mungkin oleh manajer investasi. Anda sebagai investor hanya tinggal menerima laporan dari manajer investasi.

Reksa dana yang beredar di Indonesia terbagi menjadi empat pilihan, yaitu reksa dana pasar uang, pedapatan tetap, saham, dan campuran. Anda tinggal memilih mana yang cocok dengan tujuan keuangan. Mau yang jangka pendek, pilihlah reksa dana pasar uang. Ingin yang keuntungannya besar, pilihlah reksa dana saham.

rose KECIL

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Gong Xi Fa Cai! Mengacu kalender Tionghoa, hari ini (28/1), adalah awal Tahun Baru Imlek 2.568. Memasuki Tahun Ayam Api ini, kepakan sayap bisnis dan ekonomi di Indonesia diharapkan semakin terbentang.

Optimisme juga membayangi pasar saham. Dari pasar global, Wall Street baru saja mengalami euforia. Maklum, indeks Dow Jones Industrial mencetak rekor baru, menembus 20.000.

Apa saja saham-saham yang menurut fengshui menarik di Tahun Ayam Api? Analis First Asia Capital David Nathanael Sutyanto memprediksi, tahun ini sektor energi bisa mencetak cuan. “Kalau Api mainnya masih di energi karena api baik untuk energi,” ungkap David, Kamis (26/1).

Di sisi lain, ayam agak jelek disandingkan dengan metal, sehingga saham-saham terkait metal, seperti saham keuangan, cenderung dihindari. Lantaran keberuntungan shio ayam tak terlalu bagus di tahun ayam, saham poultry juga dianggap tak terlalu bagus tahun ini.

David menilai awal tahun bakal agak berat bagi investor. Sentimen positif baru terlihat di akhir kuartal satu atau akhir semester satu.

Namun, David menilai IHSG tetap tidak akan menyentuh 6.000 tahun ini. Soal prospek saham energi, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee sepakat dengan David. “Saya memprediksikan sektor komoditas dan energi masih baik,” kata Hans.

Ini juga didukung prediksi perbaikan harga komoditas pada tahun 2017. Selain itu, tahun ayam memperlihatkan ego tinggi. Tengok saja, salah satu agenda Presiden AS Donald Trump. adalah menarik Amerika Serikat dari kerjasama perdagangan Trans-Pacific Partnership (TPP).

Berbeda dengan David, Hans justru melihat saham bank bakal menarik tahun ini. Infrastruktur dan konstruksi juga yang layak dipertimbangkan. Kepala Riset Bahana Securities, dalam riset per 25 Januari, merekomendasikan saham AKRA, TBLA, BWPT, PANR, SCMA, HMSP, ICBP dan CSAP.

Bahana memilih saham tersebut berdasarkan penerawangan Suhu Ong, seorang pembaca Bazi tenar. Sekali lagi, Gong Xi Fa Cai! Semoga investor meraup banyak angpao.(Elisabet Lisa Listiani Putri)

 ezgif.com-resize

JAKARTA bisnis.com — Otoritas Jasa Keuangan menetapkan 345 saham emiten dan perusahaan publik masuk dalam jajaran Daftar Efek Syariah untuk periode II/2016 yang berlaku mulai Desember 2016-Mei 2017. Jumlah tersebut merupakan rekor sejak 2013.

Sardjito, Deputi Komisioner Pengawasan Pasar Modal II OJK, menuturkan otoritas secara berkala melakukan penelaahan terhadap laporan keuangan emiten dan perusahaan publik, serta data dan informasi pendukung untuk menentukan Daftar Efek Syariah terbaru.

Berdasarkan penelaahan terhadap 584 laporan keuangan emiten dan perusahaan publik, OJK menerbitkan Keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan No.Kep-54/D.04/2016 tentang DES yang akan mulai berlaku pada 1 Desember 2016.

Dalam Keputusan OJK itu, 354 efek saham masuk dalam jajaran DES dan 239 saham tidak termasuk dalam DES. Saham yang masuk DES periode II/2016 terdiri dari 342 saham yang memenuhi kriteria screening saham syariah dan tiga entitas syariah, yakni PT Bank Panin Syariah Tbk., PT Bank Muamalat Tbk., dan PT Sofyan Hotel Tbk.

Menurut Sardjito, jumlah saham yang masuk dalam jajaran DES pada periode Desember 2016-Mei 2017 membukukan rekor terbanyak. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan DES periode II/2013 sebanyak 336 saham, DES periode II/2014 sebanyak 334 saham, DES periode II/2015 sebanyak 331 saham, dan DES periode I/2016 sebanyak 321 saham.

Komposisi saham DES, lanjutnya, didominasi oleh emiten sektor perdagangan, jasa dan investasi sebanyak 87 saham atau 25,22%, sektor properti, real estat, dan konstruksi bangunan 58 saham atau 16,81%, serta sektor industri dasar dan kimia 52 saham atau 14,64%.

“Ada tambahan 31 saham baru yang sebelumnya tidak masuk dalam DES periode I/2016, tetapi ada 11 saham yang keluar dari DES,” ungkapnya, Senin (28/11).

Berdasarkan data OJK, enam dari 11 emiten yang sahamnya terdepak dari DES membukukan rasio utang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset sebesar lebih dari threshold 45%. Emiten tersebut, antara lain PT Modernland Realty Tbk. dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Selain itu, lima emiten tersingkir dari DES lantaran rasio pendapatan nonhalal mencapai lebih dari 10% dari total pendapatan perseroan. Kondisi ini, misalnya, dialami oleh PT Surya Citra Media Tbk., PT Nirvana Development Tbk., dan PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Fadilah Kartikasasi, Direktur Pengawas Pasar Modal Syariah OJK, menuturkan emiten dan perusahaan publik harus konsisten menjaga rasio keuangan sesuai dengan batas yang diatur OJK. Dengan begitu, sahamnya menjadi kredibel untuk masuk dalam portofolio investor syariah atau produk-produk investasi berbasis syariah.

“Ada perusahaan yang keluar dari DES karena ada pergantian corporate secretary. Yang baru ini tidak aware. Jadi ini pendidikan kepada emiten, kalau mau stay harus penuhi prinsip syariah,” ujarnya.

LONGGAR

Menurutnya, kriteria screening dan rasio keuangan syariah yang diterapkan OJK relatif longgar dibandingkan dengan DES lain, seperti Dow Jones Islamic Index dan Suruhanjaya Sekuriti Malaysia yang menerapkan rasio utang maksimal 33% dan pendapatan nonhalal maksimal 5%.

“Kami sudah simulasi, kalau diperketat screening-nya banyak saham yang keluar dari DES. Industri kita belum siap kalau syaratnya diperketat,” kata Fadilah.

Berdasarkan simulasi, lanjutnya, saham yang keluar dari DES merupakan saham yang masuk dalam portofolio investasi reksa dana syariah. Syarat yang diperketat dikhawatirkan memicu goncangan di industri reksa dana syariah.

“Kalau menimbulkan goncangan berarti kan mudarat. Saya rasa perubahan kriteria akan sangat dinamis. Saat sahamnya sudah ribuan, bisa saja diperketat. Jadi sifatnya situasional,” pungkasnya.

DES merupakan panduan investasi bagi pihak pengguna DES, seperti manajer investasi (MI) pengelola reksa dana syariah, asuransi syariah, dan investor yang ingin berinvestasi pada portofolio efek syariah.

Hingga 25 November 2016, kapitalisasi saham syariah yang masuk dalam Jakarta Islamic Index mencapai Rp2.010,41 triliun atau naik 15,72% sepanjang tahun berjalan. Adapun kapitalisasi Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) mencapai Rp3.101,19 triliun dengan pertumbuhan sebesar 19,24% year to date.

Dari sisi kinerja, dua indeks syariah di Bursa Efek Indonesia membukukan return year to datelebih tinggi dibandingkan dengan IHSG dan LQ45. Berdasarkan data OJK, JII naik 12,37% dan ISSI naik 16,22% sepanjang Januari-25 November 2016.

“OJK akan berikan insentif supaya pasar modal syariah ini punya playing field yang sama. Bahkan di negara nonmuslim seperti Inggris juga ada insentif, apalagi di Malaysia,” tutur Sardjito.

Sardjito menambahkan, OJK sudah mengusulkan insentif terhadap instrumen investasi syariah ke Kementerian Keuangan. Insentif tersebut berupa diskon pungutan sebesar maksimal 75%. Instrumen investasi syariah yang berpotensi diberi kelonggaran yakni sukuk, saham, dan reksa dana.

“Ada berbagai macam, ada penerbitan sukuk, pungutan tahunan, reksa dana. Kami minta insentif untuk syariah, meminta kemudahan dan kelonggaran,” kata Sardjito.

Menurutnya, pasar keuangan syariah harus diberi kemudahan saat ini agar dapat bertumbuh kencang. Lewat insentif OJK berharap investor asing, terutama investor kakap, tertarik berinvestasi di instrumen keuangan syariah di Indonesia. Sardjito mengatakan, dalam waktu dekat akan ada langkah konkret dari OJK yang berkaitan dengan pasar syariah.

“Sebentar lagi ada pengumuman berkaitan dengan syariah di Indonesia. Saya tidak bisa katakan sekarang,” katanya.

 

 ets-small

ID: Eksklusivitas boleh jadi punya harga tersendiri. Di bursa saham, secara konvensional, para pemegang saham lebih berat pada likuiditas ketimbang eksklusivitas. Itu sebabnya, ketika harga saham menjadi sangat tinggi, dan nilai satu lot tidak lagi terjangkau oleh investor rata-rata, mereka cenderung melakukan pemecahan saham, stock split, agar harga satu lot saham kembali terjangkau dan likuiditas meningkat.

 

Semen Cibinong (SMCB, kini Holcim) memecah satu saham lamanya menjadi 15 saham baru ketika harga sahamnya mendekati Rp 200.000 saham. Astra (ASII) memecah tiap sahamnya menjadi 10 saham baru ketika harga saham mendekati Rp 80.000.

 

Saham PT Delta Djakarta yang pada November 2015 berada pada Rp 255.100 akhirnya juga dipecah dengan rasio 1:50, satu saham lama menjadi 50 saham baru. Artinya, nilai nominal yang tadinya Rp 1.000, kini tinggal Rp 20. Pasca-split tanggal 6 November 2015, harganya tercatat Rp 5.200.

 

Bir Bintang memang “bintang”- nya Bursa Efek Indonesia. Pada 4 November 2014, sehari sebelum melakukan split, harga saham MLBI tercatat Rp 1.250.000 per saham. Sama sekali tidak likuid, karena selain mahal bagi investor rata-rata, juga jumlah saham tercatat yang relatif sedikit. MLBI kemudian melakukan split dengan rasio terbesar sepanjang sejarah pasar modal Indonesia.

 

Satu saham lama dipecah menjadi 100 saham baru. Bir dan rokok! PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk, (HMSP) pada September 2001 melakukan stock split 1:5 pada saat harga sahamnya masih berkisar di tataran Rp 16.500. April lalu, perusahaan ini kembali melakukan split 1:25, karena harga sahamnya sutdah naik dari Rp 3.300 pasca-split 2001 menjadi Rp 97.150, pra split 2016.

 

Warren Buffett memang manusia langka. Termasuk di dunia investasi yang digelutinya seumur hidup. Saham perusahaan yang dimilikinya, Berkshire Hathaway Seri A (NYSE:BRK-A), pada 22 Agustus 2016, harganya tercatat US$ 223.020 per saham, menempatkannya sebagai saham dengan harga paling mahal di dunia.

 

Bayangkan untuk membeli satu lot saham BRK-A Anda harus menyediakan dana hamper US$ 2,5 juta (Rp 3 miliar lebih). Saham BRK-A tidak pernah melakukan stock split sepanjang sejarah. Bahkan ketika sahamnya masih berharga pada kisaran US$ 30.000 per saham, pada pertengahan tahun 1990-an, beberapa menajer investasi berniat menerbitkan unit trust yang di-back up saham BRK-A, agar investor kecil bisa ikut memiliki sahamnya melalui unit penyertaan.

 

Warren Buffett menentang keras rencana tersebut, dengan alasan: “……. threatened creation of unit trusts that would have marketed themselves as Berkshire look-alikes. In the process, they would have used our past, and definitely non-repeatable, record to entice naive small investors and would have charged these innocents high fees and commissions”.

 

Warren Buffett lebih jauh menyatakan bahwa penerbitan unit trust sebagai pecahan-pecahan kecil dari saham BRK-A membawa potensi speculative bubble yang mendorong volatilitas harga saham, yang ujungujungnya merusak reputasi gemilang saham BRK-A. Untuk mengakomodasi hasrat pemodal kecil, pada tahun 1996, Berkshire Hathaway menerbitkan saham seri B (NYSE: BRK-B) yang merupakan 1/30 saham BRK-A, dengan ketentuan yang “aneh”.

 

Pertama, walaupun BRK-B merupakan pecahan 1/30, tapi hak suaranya hanya 1/200 BRK-A. Kedua, saham BRK-A bisa ditukarkan dengan (di-split menjadi) saham BRK-B, setiap saat, tapi saham BRK-B tidak dapat di-reverse splitkembali menjadi BEK-A. Bisa dimengerti bahwa pemodal tajir tentu akan lebih memilih saham BRK-A. Dengan ketentuan yang “tidak adil” itu pun, saham BRK-B juga terus menerus mengalami kenaikan harga.

 

Pada 2010, ketika saham BRK-B berharga sekitar US$ 3.000, dilakukan stock split, satu saham lama menjadi 50 saham baru. Pada 22 Agustus lalu, saham BRK-B tercatat US$ 150, per saham. Harga saham Seaboard Corporation (NYSE: SEB) pada saat tulisan ini diketik, 1 September 2016, tercatat US$ 3.226,50 per saham.

 

Perusahaan yang bergerak dalam bidang transportasi laut, distribusi komoditas, peternakan babi dan energi di Republik Dominika, ini melakukan IPO pada tahun 1959, dan tidak pernah melakukan stock split. Harga saham Google pada saat yang sama tercatat US$ 791,40 per saham. Sejak IPO pada 19 Agustus 2004, saham Google telah mengalami kenaikan hampir 1.000%.

 

Google tidak pernah melakukan stock split. Fecebook (NASDAQ: FB) melakukan IPO pada Februari 2012 dengan harga penawaran US$ 38 per saham. Selama empat tahun, harga sahamnya telah naik hamper 400%, dan tidak pernah melakukan stock split. Pada 1 September 2016, saat tulisan ini diketik, saham FB tercatat US$ 126,17.

 

Investor sering memiliki konsepsi yang tidak lengkap mengenai harga saham. Saham yang harganya tinggi dianggap kemahalan. Padahal, harga saham tidak bisa dibandingkan apple to apple satu sama lain. Penggunaan Price Earnings Ratio atau Price to Book Value saja, masih harus hati-hati, karena selain hanya peta satu saat, juga diwarnai oleh karakteristik industri yang berbeda-beda, dan masih membutuhkan analisis lain untuk menangkap prospek saham ke depan.

 

Pemecahan saham merupakan aksi korporasi yang amat gencar di pasar modal Indonesia. Mungkin karena masalah likuiditas merupakan penyakit kronis di bursa efek. Repotnya, telah terbentuk paradigm seakan-akan stock splitmerupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan abnormal. Dan itu terbukti secara empiris, karena harga sahamex-split rata-rata lebih tinggi dari harga teoritisnya!

 

Ada beberapa catatan yang layak diperhatikan oleh investor tentang harga saham yang relatif mahal ini. Per tama, saham yang harganya tinggi cenderung memberikan dividen yield yang sangat rendah. Saham BRK-A bahkan tidak membayar dividen sama sekali selama 50 tahun sejak 1967! Manajemen perusahaan yang smart dan jujur akan menghitung trade off antara dividen dan pertumbuhan harga saham. Investo  yang motif investasinya adalah regular cash inflows memang harus menghindarkan saham seperti ini.

 

Kedua, saham yang tidak likuid karena harganya mahal, punya kelebihan tersendiri. Saham-saham semacam ini harganya cenderung stabil dan kurang fluktuatif, tak mudah untuk “digoreng”. Harga saham akan lebih mencerminkan fundamentalnya, ketimbang roller coaster yang digerakkan oleh kesenjangan permintaan dan penawaran jangka pendek. Tidak menarik bagi trader, tapi lebih menarik bagi investor yang memiliki horison investasi jangka panjang.

 

Hasan Zein Mahmud, Tim Ekselensi Learning Center, Pengajar pada Kwik Kian Gie School of Business

ets-small

investing.com: “I think we’re in the first inning of shifting to dividend-paying stocks,” finance professor Jeremy Siegel said Tuesday on CNBC’s Trading Nation. Even though the Fed may raises [sic] rates this year, “investors are becoming convinced they’re not going to be able to rely on CDs, their bank accounts, or even bonds as a source of income,” and may thus determine that “maybe they’d better turn to stocks,” he added.

Let me get this straight: The professor claims that investors are only just beginning to realize that bonds and cash have no yield which means that they have no alternative but to put their money into dividend-paying stocks? In other words, we are only in the “first inning” of TINA (there is no alternative – to stocks)?

Can someone please do me a favor and show Prof. Siegel the charts below? Because it seems to me investors have been reaching for yield for several years now as a direct response to 7 years of ZIRP (zero interest rate policy).

High-Yield Allocation Spikes

High-Yield Allocation Spikes

And after 7 years of reaching for yield, investors now have one of their largest allocations to stocks in history. Only at the height of the dot-com bubble did households have a greater portion of their total financial assets tied up in equities than they did recently.

Household Equity Allocation

Household Equity Allocation

Bond Allocation

The difference between today and back then is their allocation to bonds. While investors have ramped up their exposure to stocks, they have shifted almost entirely out of bonds. Even during the dotcom mania investors maintained nearly twice the current allocation to fixed income.

Household Bond Allocation

Household Bond Allocation

Finally, when you look at the ratio of equities to money market fund assets it becomes instantly obvious that investors have been embracing the concept of TINA for quite a long time now and to a degree never seen before.

Household Equity Vs. Money Market Allocation

Household Equity Vs. Money Market Allocation

So my question for Prof. Siegel is this: If investors have already shifted entirely out of bonds and money market funds, where is this new, massive shift into stocks going to come from? Per chance, you’re just feeling a bit too bullish once again?

On a final note, this large-scale embracing of TINA could very well be the greatest sign of confidence in the stock market we have ever seen. And isn’t that precisely the psychological definition of a mania?

ezgif.com-resize

JAKARTA, KOMPAS.com — Kehidupan yang serba mewah pastinya melekat pada anak-anak para miliarder. Harta keluarga yang berlimpah pun membuat anak-anak para miliarder bermalas-malasan untuk bekerja dan cenderung selalu berfoya-foya.

Namun, hal tersebut tidak tecermin pada Armand Wahyudi Hartono. Dia adalah putra orang terkaya di Indonesia, Robert Budi Hartono, yang kekayaannya ditaksir mencapai 8,7 miliar dollar AS(Forbes 2015) atau setara dengan Rp 113 triliun (asumsi Rp 13.000 per dollar AS).

Putra bungsu bos Grup Djarum ini sangat apik dalam mengelola keuangannya. Tak hanya itu, dia pun tidak pernah boros bila sedang menggunakan fasilitas rumah.

“Dari listrik, kita bisa saving. Nyalain AC sebentar. Kalau sudah dingin, begitu mau tidur, kita matikan. Kan yang paling penting pas mau tidurnya, di tengah-tengah panas dikit gak apa-apalah,” ujar Armand di Jakarta, Kamis (21/4/2016).

Tak hanya hemat dalam menggunakan fasilitas rumah, pria kelahiran Semarang, 20 Mei 1975, ini pun menjunjung tinggi “SRI”.

SRI yang dimaksud Armand adalah simpanan, riset, dan Investasi. Meski tidak menyebutkan berapa saja nominal yang diinvestasikan Armand pada semua instrumen investasi, dia berkeyakinan investasi yang terukur sangatlah penting bagi kehidupan mendatang.

“Kita harus punya simpanan. Rajin menyimpan saja dulu, lalu dilakukan riset. Setelah itu baru melakukan investasi karena di investasi itu ada risiko,” tutur Armand.

Didaulat jadi Wakil Direktur Utama BCA pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tak membuat Armand merasa gengsi makan di kantin. Gaya hidup sederhana rupanya diterapkan Armand untuk tetap low profile.

“Gaya hidup harus dijaga, sederhana saja, saya makan di kantinlho. Ya kalau ada nasabah besar barulah di tempat yang bagus, masa makan di kantin,” tutur Armand sambil tertawa.

Dalam membawa BCA untuk lebih meningkatkan kinerjanya, sebagai orang Jawa, Armand tahu betul akan filosofi kecukupan orang Jawa.

Wong Jowo itu ngerti namanya cukup. Kita gak butuh untuknunjukkin diri kita jadi bank terbesar. Kita cukup nunjukkin jadi satu institusi yang sehat, konsisten di pembayaran, berikan kredit yang prudent, tambah jaringan di tempat yang membutuhkan,” kata Armand.

dollar small

JAKARTA ID – Pemahaman masyarakat Indonesia terhadap investasi di pasar modal masih kalah dibandingkan Singapura dan Tiongkok. Masyarakat masih punya persepsi bahwa pasar modal merupakan ajang spekulasi. Padahal, pasar modal menjanjikan keuntungan yang tinggi. Dalam 10 tahun terakhir, imbal hasil saham mencapai rata-rata 24%, jauh di atas deposito bank yang hanya 7,2%.

 

Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai bahwa masyarakat Indonesia belum terlalu mengenal investasi di pasar modal. Pemahaman investasi pasar modal masyarakat Indonesia masih kalah dibandingkan Singapura dan Tiongkok.

 

“Banyak hal yang menyebabkan masih sedikitnya investor di pasar modal. Antara lain karena banyak masyarakat yang menganggap pasar modal hanya sebatas spekulasi atau karena bunga deposito yang terlalu tinggi sehingga saham kurang diminati. Oleh sebab itu, masyarakat butuh edukasi untuk memahami pasar modal,” kata Wapres dalam peluncuran kampanye “Yuk Nabung Saham” di Jakarta, Kamis (12/11).

 

Wapres mengungkapkan, kondisi perekonomian nasional tercermin juga dalam indeks harga saham. Banyak indicator kesejahteraan masyarakat di antaranya adalah pertumbuhan ekonomi, pendapatan per kapita (GDP), dan jumlah penyerapan tenaga kerja. “Semua indikator itu cuma satu cara mencapainya, yaitu investasi,” ungkap dia.

 

Jusuf Kalla menegaskan, investasi di pasar modal tidak hanya mengumpulkan modal tetapi juga menciptakan kepemilikan bersama dan keadilan agar hasil dunia usaha tidak hanya dinikmati oleh pemiliknya saja tetapi juga masyarakat luas.

 

Di Indonesia banyak masyarakat yang lebih memilih menabung di bank dibandingkan berinvestasi di pasar modal. Namun, dengan kampanye menabung saham diharapkan masyarakat memiliki pilihan menabung yang cenderung menguntungkan. (bersambung)

 

Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/marketandcorporatenews/tito-imbal-hasil-saham-capai-24/132358

bird_bbri_unvr

Jakarta detik -Pemerintah melalui Kementerian Keuangan melakukan penjualan surat utang ritel, yaitu Obligasi Ritel (ORI) Seri 012. Instrumen investasi ini menawarkan kupon atau bunga 9%/tahun.

Dalam keterangan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, Senin (21/9/2015), masa penawaran ORI012 ini mulai dilakukan 21 September hingga 15 Oktober 2015.

“Tujuan penerbitan ORI012 adalah untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN 2015 dan mengembangkan pasar Surat Utang Negara domestik melalui diversifikasi instrumen sumber pembiayaan dan perluasan basis investor,” demikian pernyataan Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu.

Untuk memenuhi target penjualan dengan distribusi yang merata di seluruh Indonesia, Agen Penjual ORI tahun 2015 akan mengadakan kegiatan marketing ke 27 kota di seluruh Indonesia termasuk kota-kota di wilayah Indonesia Tengah dan Timur seperti di Palu, Timika, Tahuna, dan Sorong.

Tanggal penjatahan ORI012 dilakukan pada 21 Oktober 2015, dan tanggal jatuh tempo adalah 15 Oktober 2018.

Bagi anda yang mau memesan, nilai minimal pemesanan adalah Rp 5 juta dan maksimal adalah Rp 3 miliar.

Berikut agen penjual ORI012 yang ditunjuk Kemenkeu:

  • PT Bank ANZ Indonesia
  • PT Bank Bukopin Tbk
  • PT Bank Central Asia Tbk
  • PT Bank CIMB Niaga Tbk
  • Citibank, N.A
  • PT Bank Danamon Indonesia Tbk
  • PT Bank DBS Indonesia
  • The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Ltd
  • PT Bank Internasional Indonesia Tbk
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
  • PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
  • PT Bank OCBC NISP Tbk
  • PT Bank Panin Tbk
  • PT Bank Permata Tbk
  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
  • Standard Chartered Bank
  • PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
  • PT Danareksa Sekuritas
  • PT Reliance Securities Tbk
  • PT Sucorinvest Central Gani
  • PT Trimegah Securities Tbk

(dnl/dnl)

alert02

JAKARTA kontan. Dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) Tugu Mandiri mengakui tren pengalihan portofolio investasi oleh peserta juga terjadi sejalan koreksi yang terjadi di pasar modal. Mereka pun mesti bekerja keras untuk kembali mengedukasi nasabah mereka.

Maya Susiana, Group Head of DPLK Business DPLK Tugu Mandiri pihaknya terus melakukan mengedukasi kepada nasabah. Pasalnya bila melakukan pengalihan portofolio di saat pasar sudah terlalu dalam, ia menyebut peserta akan mengalami rugi besar.

Apalagi naik turunnya saham memang terbilang biasa terjadi. “Sedangkan bila pasar membaik maka peserta akan kehilangan momentum,” kata Maya akhir pekan lalu.

Ia menyebut sejumlah peserta program pensiun mereka mengalihkan portofolio investasi ke instrumen yang lebih aman. Terutama dari saham ke deposito atau surat utang.

Per akhir Agustus kemarin, dana kelolaan DPLK Tugu Mandiri sendiri mencapai sekitar Rp 1 triliun. Jumlah ini naik sekitar 7,6% dibanding posisi akhir tahun kemarin.

Penempatan dana di instrumen deposito mencapai sekitar 30% dari total dana investasi. Sedangkan 40% masih ditempatkan di instrumen surat utang. Sementara sisanya ke beberapa instrumen lain seperti pasar uang dan instrumen saham.

Editor: Yudho Winarto.

Bisnis.com, JAKARTA—Hasil survei yang diadakan oleh Manulife pada April – Mei 2015 menunjukkan bahwa investor yang berusia lebih tua di Indonesia masih belum siap menghadapi masa pensiun dan memiliki harapan yang tidak realistis tentang kondisi keuangan mereka.

Hampir semua (94%) berharap akan memiliki dana cukup untuk hidup di usia tua, walaupun 42% dari mereka masih belum membuat perencanaan.

Riset Manulife Investor Sentiment Index, mengungkapkan bahwa lebih dari sepertiga investor di Indonesia (36%) belum membuat perencanaan keuangan untuk masa pensiun. Investor yang berusia lebih tua (berusia 40 tahun ke atas) justru lebih tertinggal dalam hal perencanaan masa pensiun bila dibandingkan dengan investor yang berusia lebih muda (berusia 40 tahun ke bawah).

Sebanyak 42% dari investor Indonesia yang berusia lebih tua belum memiliki perencanaan masa pensiun. Angka ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan persentase investor yang berusia lebih muda yang belum memiliki perencanaan keuangan untuk masa pensiun, yang hanya 30%.

Meskipun kurang dalam melakukan perencanaan untuk masa pensiunnya nanti, hampir setengah dari investor yang berusia lebih tua (49%) yakin bahwa mereka akan memiliki dana yang lebih dari cukup untuk hidup di usia tuanya kelak, sementara 45% lainnya meyakini bahwa mereka akan memiliki dana yang cukup untuk dapat hidup dengan cara sederhana.

Mereka juga berharap agar lebih dari seperempat (28%) penghasilannya di masa pensiun nanti berasal dari hasil investasi. Sebaliknya, hanya sedikit dari investor yang berusia lebih muda yang mengharapkan sumber penghasilan di masa pensiunnya nanti berasal dari hasil investasi. Sepertinya inilah yang menjadi alasan atas temuan lain diungkapkan dalam penelitian ini, bahwa ada lebih banyak investor yang berusia lebih muda (66%) yang memiliki program pensiun secara sukarela bila dibandingkan dengan investor yang berusia lebih tua (44%)

Dari seluruh investor yang berpartisipasi dalam survei MISI, lebih dari setengah (52%) investor yang belum mulai merencanakan masa pensiunnya masih berpikir bahwa mereka akan memiliki dana lebih dari cukup untuk dapat hidup di usia tuanya kelak. Hal ini menunjukkan adanya harapan yang tidak realistis.

“Sepertinya banyak investor yang tidak menyadari besarnya biaya yang akan dikeluarkan di masa pensiun nanti,” ujar Putut E. Andanawarih, Director of Business Development PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.

“Bagi investor yang belum melakukan perencanaan pensiun dengan tepat, rasanya tidak realistis apabila mengharapkan sebagian besar penghasilan di masa pensiunnya nanti berasal dari hasil investasi. Namun, bagi para investor yang ingin mengejar ketertinggalannya dalam menyiapkan dana untuk masa pensiunnya, mereka dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi secara regular di reksa dana saham atau pendapatan tetap,” imbuhnya.

Putut menambahkan, secara umum, dan tanpa disadari, Indonesia menghadapi populasi yang menua dengan cepat. Oleh karena itu, perlu ditanamkan kesadaran mengenai pentingnya perencanaan keuangan untuk masa depan, yang tidak hanya berguna untuk memastikan agar kebutuhannya tercukupi, tetapi juga untuk dapat mempertahankan gaya hidup.

Investor tidak berharap dapat mengandalkan dana pensiun mereka di kemudian hari, tetapi membutuhkan saran lebih lanjut tentang bagaimana menentukan investasi yang tepat

double arrow picSMALL

TEMPO.COJakarta – Krisis ekonomi yang sedang terjadi di Yunani justru mendorong orang-orang kaya di negara itu untuk berbelanja. Mereka menghabiskan tabungan di rekening karena takut pemerintah mengambil uang mereka untuk menutup utang negara.

Perhiasan, gadget, dan barang mewah lainnya dilaporkan mengalami kenaikan penjualan menyusul referendum yang menentukan apakah Yunani akan menerima dana talangan (bailout) dari Uni Eropa atau tidak.

Rakyat Yunani khawatir Uni Eropa akan memaksa Yunani memangkas rekening mereka beberapa persen. Langkah tersebut, misalnya, pernah dilakukan Uni Eropa di Cyprus saat terjadi krisis pada 2013.

“Kamis, Jumat, dan Sabtu seperti Natal,” kata Andrew, 30 tahun, seorang asisten di toko retail Apple di Athena. Menurut Andrew, orang-orang sangat ketakutan. Mayoritas berpikir mereka punya waktu tiga hari untuk menghabiskan uang sebelum uang mereka diambil negara.

Andrew mengaku tokonya menjual barang hingga dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Barang-barang yang dibeli antara lain laptop, komputer, tablet, iPhone, dan konsol game.

Sedangkan Maria-Ellie Xanthopoulous, pemilik toko perhiasan, mengatakan bahwa kliennya lebih memilih menghabiskan uang mereka sendiri daripada diambil pemerintah. “Dalam enam bulan terakhir, kita hampir tidak memiliki pelanggan satu pun. Namun, pada hari Sabtu, Senin, dan Selasa, banyak pelanggan yang datang dan menghabiskan uang mereka,” ujar Maria-Ellie.

Maria-Ellie mengatakan tokonya tidak menjual banyak peralatan elektronik. Namun para pelanggan menghabiskan sekitar 5.000-8.000 euro (sekitar Rp 70-120 juta) sekali datang.

Adapun masyarakat masih mengantre berjam-jam di ATM untuk menarik uang mereka secara harian, yang dibatasi menjadi 50 euro per hari.

Minggu, 5 Juli 2015, pemerintah mengumumkan hasil referendum yang memutuskan Yunani menolak dana talangan (bailout). Pemerintah Yunani tentunya tidak akan mengambil isi rekening bank mereka. Namun belum diketahui nasib barang yang sudah telanjur mereka beli.

NIBRAS NADA NAILUFAR | DAILY MAIL

rounding pen

JAKARTA – Masa pensiun merupakan masa yang harus dipersiapkan sejak saat ini juga. Hal ini dikarenakan, pendapatan di usia senja tidak sebesar di usia produktif.

Berikut 10 investasi terbaik untuk pensiun seperti dikutip dalam artikel 10 Best Retirement Investments oleh Dana Anspach.

1. Merancang portofolio investasi sendiri

Salah satu cara umum untuk menciptakan penghasilan pensiun adalah untuk membangun portofolio baik dari saham atau obligasi. Portofolio ini dirancang untuk mencapai pendapatan jangka panjang hingga 20 tahun mendatang.

Ketika Anda pensiun, pendapatan dari portofolio ini cukup menjanjikan. Namun Anda perlu memperhatikan strategi investasi.

2. Dana pensiun

Mempersiapkan dana pensiun bisa melalui potongan gaji yang umumnya dilakukan oleh perusahaan atau tabungan pensiun melalui reksa dana. Investasi tersebut dikelola dengan tujuan menghasilkan pendapatan bulanan yang dibagikan kepada Anda. Dana ini dibangun untuk memberikan paket all in one yang dirancang untuk mencapai tujuan tertentu.

Dengan dana pendapatan pensiun Anda dapat mengkontrol dan mengakses uang Anda setiap saat. Tentu saja jika Anda menarik beberapa uang pokok Anda, pendapatan bulanan masa depan Anda selanjutnya akan turun.

3. Asuransi

Anuitas sebenarnya merupakan suatu bentuk manfaat dari asuransi. Namun, ini disebut investasi terbaik karena tujuan mereka adalah untuk menghasilkan pendapatan yang Anda butuhkan di masa pensiun.

Dengan anuitas langsung Anda mengasuransikan pendapatan masa depan Anda. Perusahaan asuransi akan menjamin penghasilan untuk hidup Anda atau untuk beberapa lainnya sesuai kesepakatan waktu.

4. Obligasi

Ketika Anda membeli obligasi, Anda meminjamkan uang Anda baik pada pemerintahatau perusahaan. Peminjam setuju untuk membayar bunga Anda untuk menetapkan jumlah waktu. Ketika obligasi tersebut jatuh tempo, maka uang pokok akan dikembalikan kepada Anda. Pendapatan bunga, dapat Anda terima dari obligasi (atau dari dana obligasi) yang dapat menjadi sumber pendapatan tetap pensiun.

Obligasi memiliki peringkat kualitas untuk memberikan gambaran tentang kekuatan keuangan dari penerbit obligasi. Ada jangka pendek, jangka menengah, dan obligasi jangka panjang. Ada juga obligasi dengan suku bunga disesuaikan, serta obligasi hasil tinggi, yang membayar tingkat bunga yang lebih tinggi, tetapi memiliki peringkat kualitas yang lebih rendah.

5. Menyewakan properti

Menyewakan properti yang Anda miliki dapat memberikan sumber pendapatan yang stabil, namun akan ada kebutuhan perawatan. Sebelum Anda membeli properti untuk disewakan, Anda perlu menghitung semua biaya potensial yang mungkin dikenakan selama rentang waktu tertentu.

Investasi properti adalah bisnis, bukan proposi untuk mendapatkan kekayaan yang cepat. Bagi mereka dengan pengalaman real estate, hal ini dapat membuat investasi pensiun yang besar.

Jika Anda tidak yakin dengan investasi ini, Anda dapat memulai mempertimbangkan membaca buku-buku tentang investasi real estat, berbicara dengan investor berpengalaman, atau bergabung dengan klub investasi real estat.

6. Ambil investasi yang aman

Anda selalu ingin menyimpan sebagian dana pensiun Anda di alternatif investasi yang aman. Tujuan utama dari setiap investasi yang aman adalah untuk melindungi apa yang Anda miliki.

Namun, jangan terlalu terburu-buru mengambil keputusan untuk melakukan investasi. Anda perlu melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan pakar investasi sebelum membuat keputusan.

Semua dana pensiunan disarankan memiliki beberapa jenis rekening cadangan (dana darurat). Akun ini tidak harus dimasukkan sebagai aset yang tersedia untuk menghasilkan pendapatan pensiun. Hal ini ada sebagai jaring pengaman untuk biaya tak terduga yang mungkin muncul di masa pensiun.

7. Pendapatan dari dana tertutup (closed end funds)

Mayoritas pendapatan dari dana tertutup dirancang untuk menghasilkan pendapatan bulanan atau kuartalan. Pendapatan ini bisa berasal dari bunga ataupun dividen. Setiap dana memiliki tujuan sendiri, oleh karena itu pastikan untuk melakukan penelitian sebelum membeli.

Investor berpengalaman mungkin menemukan dana tertutup menjadi investasi yang sesuai untuk sebagian dari uang pensiun mereka. Investor yang kurang berpengalaman harus menggunakan manajer portofolio yang mengkhususkan diri dalam dana tertutup ini.

8. Dividen

Belilah saham yang memberikan dividen. Dividen dapat memberikan sumber pendapatan tetap di masa pensiun. Nilai dividen pada umumnya akan meningkat setiap tahun (Jika perusahaan meningkatkan pembayaran dividen).

Berhati-hatilah dengan dividen besar, biasanya risikonya juga besar. Imbal hasil tinggi selalu disertai dengan risiko tambahan. Jika ada Anda diberikan hasil yang lebih dari ekspektasi itu artinya perusahaan melakukannya untuk mengkompensasi risiko tambahan yang akan Anda tanggung. Ingat, jangan berinvestasi tanpa memahami risiko yang akan ditumbulkan.

9. Real Estate Investment Trust (REITs)

Kebanyakan orang menanamkan dananya pada real estat dalam bentuk investasi Real Estate Investment Trust (REIT). Instrumen investasi ni seperti sebuah tim profesional yang mengelola properti, mengumpulkan uang sewa, membayar biaya, mengumpulkan biaya manajemen, dan mendistribusikan sisa penghasilan kepada Anda selaku investor.

10. Unit link

Sebuah produk yang sama sekali berbeda dari investasi langsung. Dalam investas ini, dana Anda masuk ke portofolio investasi yang Anda pilih. Anda berpartisipasi dalam keuntungan dan kerugian dalam investasi tersebut.
http://economy.okezone.com/read/2015/05/29/457/1157255/10-investasi-agar-masa-pensiun-anda-nyaman
Sumber : OKEZONE.COM

 

JAKARTA – Pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) Go-Jek Nadiem Makarim memiliki gelar yang cukup menarik bagi seorang pebisnis. Dirinya, ternyata lulusan program Master of Business Administration (MBA) di Harvard Business School (AS).

Namun, menurutnya gelar pendidikan tinggi yang diraihnya tidak dimanfaatkan dengan bergabung di perusahaan-perusahaan hebat. Nadiem lebih memilih mempunyai perusahaan hebat ketimbang bekerja di perusahaan hebat.

“Ngapain kerja di kantoran, mendingan punya perusahaan (Go-Jek) yang benar-benar digunakan orang Jakarta yang berguna, membantu, dan meningkatkan penghasilan orang. Ya jelas kerenan Go-Jeklah,” ujarnya saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.

Mendirikan Go-Jek merupakan pekerjaan impian baginya. Nadiem sangat senang bisa mempunyai perusahaan yang laku dan dampak sosialnya besar.

“Saya bisa menginspirasi ke anak-anak muda untuk bikin bisnis sendiri. Mau apa lagi hidup ini,” katanya.

Sejak 2014 yang telah memiliki sistem jaringan mobile app, pertumbuhan Go-Jek menjadi tinggi. Hampir 200 ribu mobile app Go-Jek di-download.

“Salah satu cara menarik pelanggannya seperti memberikan voucher, tapi kebanyakan pelanggan dengarnya dari teman-teman. Di Indonesia apa-apa yang laku harus dengar dari teman dulu,” katanya sambil tertawa.

Untuk rekrutmen pengendara atau ojek, yang pertama kali dilakukannya adalah melakukan interview dengan ojek-ojek yang dikenal atau ojek-ojek yang sering mengantarkan ke mana pun Nadiem pergi. Dari hal itulah mulai ide-ide ini menjadi ide yang kental.

“Go-Jek sebelumnya tumbuh tapi organik, artinya pelan-pelan naiknya. Enggak mungkin ada perusahaan bisa meledak seperti ini tanpa investment,” katanya.

Nadiem menambahkan, tujuan untuk meneruskan Go-Jek adalah pihaknya menerima investment dan teman-teman serta keluarganya complain kepadanya karena tidak membesarkan Go-Jek.

“Saya didukung oleh keluarga. Kata keluarga saya, ngapain kerja di perusahaan,” imbuhnya.

http://economy.okezone.com/read/2015/05/26/320/1155521/lulusan-havard-ceo-go-jek-ngapain-kerja-kantoran
Sumber : OKEZONE.COM

 

Metrotvnews.com, Kuta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan aset industri asuransi melonjak mencapai sebesar Rp755,4 triliun selama 2014 atau rata-rata tumbuh sebanyak 19,2 persen selama lima tahun terakhir.

 

“Kami perkirakan peningkatan itu karena didorong ekonomi Indonesia secara makro yang tumbuh positif, menyebabkan masyarakat sadar untuk memilih program investasi,” kata Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan Perasuransian dan Dana Pensiun Industri Keuangan Non-Bank OJK Dinar Sukmasari, saat ditemui pada Pelatihan Jurnalistik Keuangan di Kuta, Bali, Selasa (12/5/2015).

 

Menurut dia, pertumbuhan asuransi pada 2011 mencapai Rp481,75 triliun dan melonjak signifikan pada 2013 yang tumbuh menjadi Rp659,73 dan terus meningkat pada 2014 hingga September menjadi Rp755,4 triliun.

 

Dia menjelaskan, pertumbuhan aset asuransi itu berkontribusi terhadap total jumlah aset IKNB selama 2014 hingga September mencapai Rp1.504 triliun bersama dengan industri keuangan non-bank lainnya yakni dana pensiun, lembaga pembiayaan dan lembaga jasa keuangan lain seperti lembaga penjaminan.

 

Dinar mengungkapkan total aset-aset IKNB itu memiliki dampak yang lebih panjang bagi perekenomian masyarakat meskipun jumlahnya masih lebih rendah dibandingkan total aset perbankan yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp5.000 triliun.

 

“Aset dana dalam industri keuangan non-bank itu merupakan sumber dana pembangunan nasional yang mencapai total Rp1.504 triliun pada 2014 hingga September,” imbuhnya.

 

Meski memiliki peran yang besar untuk pembangunan nasional, namun industri itu masih mempunyai sejumlah tantangan diantaranya masih kurangnya pemahaman masyarakat terhadap IKNB. Selain itu, sebagian besar nasabah atau peserta IKNB masih belum merata dan hanya terpusat di daerah perkotaan.

 

http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/05/12/395921/pertumbuhan-aset-asuransi-melonjak-jadi-rp755-4-triliun
Sumber : METROTVNEWS.COM

bloomberg

: For a quarter of a century the name Mark Mobius has been synonymous with investing in developing markets. A bald, energetic, New York native who often dresses in white suits, Mobius is constantly tweeting and appearing on television from St. Petersburg to São Paulo encouraging investors to put money into fast-growing developing economies. A Mark Mobius comic book published in Asia in 2007 chronicled his globe-trotting exploits. (Really.) In the U.S. he was voted by his peers onto a list of the top 10 investors of the 20th century, putting him alongside Warren Buffett, Julian Robertson, and George Soros. What Bill Gross was to bonds, Mobius was to emerging markets: the King.His reign may be coming to an end. Like Gross, Mobius, 78, has posted mediocre numbers in recent years and seen investors depart. While they still make money, 11 of the 13 largest funds that Mobius oversees at Franklin Templeton Investments have underperformed their benchmarks over the past five years. At his zenith in 2011, Mobius oversaw $39 billion. Today that figure is down to $26 billion. And in December, his flagship Asian Growth Fund lost its long-held position as the region’s largest to First State Investments’ Asia Pacific Leaders Fund. “He’s one of the few well-known managers in emerging markets,” says Todd Rosenbluth, director of mutual fund and ETF research at S&P Capital IQ. “Unfortunately, the track record is below average. Investors are more frustrated.”In an e-mail, Mobius said his strategy of investing in undervalued stocks can falter in “sentiment-driven” environments, where investors focus more on the overall economic picture than on company fundamentals. “As value investors, we have to have the patience and conviction to weather sometimes long periods of volatility,” Mobius wrote. “We go into markets when others are fleeing, and while some of our fund performance has struggled at certain points in time, we believe that with our contrarian approach, our shareholders will be rewarded in the long term.”

Many emerging-markets fund managers have floundered as China’s expansion slows and former standouts such as Brazil and Russia post disappointing growth. Seventeen of the 33 U.S.-based developing-nation stock funds with more than $1 billion in assets have trailed their benchmarks over the past five years, according to data compiled by Bloomberg. “It hasn’t been a great period for any emerging-markets manager,” says Peter Walls, a money manager at Unicorn Asset Management who invests in Mobius’s funds. “He’s going to make a comeback.”

Born in Hempstead, N.Y., to a German father and a Puerto Rican mother, Mobius got his Ph.D. from the Massachusetts Institute of Technology. He joined Templeton, Galbraith & Hansberger in 1987, when investing in developing countries was still a novel idea. After being tapped by firm founder John Templeton to manage the Templeton Emerging Markets Fund, the company’s first foray into that territory, Mobius developed a reputation for sniffing out stocks that are undervalued relative to their growth potential.

He still crisscrosses continents 250 days a year, feeding on-the-ground research to his team of 50 money managers, analysts, and researchers in 18 offices worldwide handling day-to-day operations of the more than 30 funds he oversees.

The last half-decade has been a struggle for the group, which has made ill-timed bets on energy and mining companies while underinvesting in technology stocks. As of March 31, Templeton Asian Growth held 33 percent of its assets in energy and material stocks, which account for only 9 percent of the fund’s benchmark, the MSCI AC Asia ex Japan index. The fund has gained 4.3 percent annually over the past five years, compared with 8.1 percent for the index. It’s trailed 44 of 46 similar funds with assets of at least $500 million over that same time span, while charging investors 2.2 percent annually, the second most in the group.

One of the fund’s largest holdings, the stock of Sesa Sterlite, India’s top aluminum producer, has tumbled 51 percent over the past five years as slowing growth in China cut short a global commodities boom. Another, Yanzhou Coal Mining, a Chinese company, has fallen 66 percent since the end of April 2010, while the Chinese market surged. “They have a big team, but it’s not generating performance,” says Germaine Share, an analyst at Morningstar in Hong Kong.

Even with the recent under-performance, an initial investment of $100,000 in the Templeton Emerging Markets Fund 28 years ago would be worth about $3.3 million today, according to data compiled by Bloomberg. Mobius has yet to announce any plans to retire or scale back his workload. In the last days of April, he wrote a blog on foreign reserves, talked about Greece’s finances on CNBC, and celebrated the debut of Templeton’s new Romanian fund on the London Stock Exchange. Countries such as Romania and Mongolia could be the next frontier that enriches investors, he said.

“It’s clearly worrying when you have a period of three, four years that hasn’t been particularly good,” says Charles Cade, head of investment companies research at Numis Securities in London. “The track record isn’t as good as it used to be. Emerging markets is more of a mainstream play now. Adding value is a lot tougher, and it’s much harder to maintain performance.”

—With assistance from Charles Stein, Boris Korby, Shana Albuquerque, Mark Jones, Ryan Kreger, and Andrew Bachmann.

The bottom line: Mobius’s flagship fund has gained 4.3 percent annually over the past five years, trailing 44 of 46 similar funds.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s