Jakarta – Tingginya harapan rata-rata investor lokal terhadap tingkat pengembalian (return) investasi tahun ini, harus diimbangi pemahaman untuk mengenal berbagai instrumen investasi. Saham dinilai bisa menjadi pilihan untuk merealisasikan harapan investor lokal tersebut.Berdasarkan hasil riset Manulife Investor Sentiment Index (MISI) kuartal IV-2014, harapan rata-rata return investasi sepanjang tahun ini adalah sebesar 14,5 persen.Riset yang dilakukan pada 500 responden yang berusia produktif, di atas 25 tahun dengan pengeluaran per bulan Rp 1,5 juta tersebut dianggap mampu merefleksikan harapan investor Indonesia secara umum.Melihat tingginya harapan tersebut, Putut menyarankan investor lokal memanfaatkan peluang investasi lainnya disamping deposito. Hal ini mengingat pada kuartal IV-2014, deposito berupa dana tunai menjadi instrumen investasi paling dikenal investor lokal dengan skor indeks 87 atau naik satu poin dibandingkan kuartal III-2014.“Kalau masih sama dengan tahun lalu dimana mayoritas investor lokal menaruh uangnya di deposito dengan rata-rata return 7 persen, tidak akan mungkin tercapai harapan return investasi 14,5 persen,” kata dia.Putut memaparkan, ke depan pemahaman investor lokal terhadap berbagai instrumen investasi harusnya diperluas. Opsi saham contohnya, mampu mempertinggi return investasi yang bisa diperoleh. Di sisi lain, dana yang harus disisihkan pun semakin kecil.“Kalau investor lokal pandai menggunakan instrumen investasi akan lebih cepat kaya. Return besar sedangkan cicilan untuk investasi kecil,” tegas dia.

Sementara itu, Analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee pun menegaskan tahun ini kemungkinan para investor lokal akan beralih dari deposito ke aset berisiko. Sepanjang tahun lalu, return investasi deposito menurun 1-2 persen dari sebelumnya pada 2013.

Ditambah lagi, tahun ini pun terdapat tendensi suku bunga (BI rate) akan kembali turun. Imbasnya, pemerintah juga meminta bank untuk menurunkan kredit begitu pula dana pihak ketiga, termasuk deposito.

“Banyak yang twist ke aset berisiko. Kalau masuk ke pasar bond agak terlambat mengingat yield bond sudah berada di level 7 persen. Lebih tepat kalau masuk ke pasar saham,” ujar dia, di Jakarta, Kamis (5/3).

Menurut Hans, pasar saham tahun ini akan menarik. Faktor pemerintahan baru diyakini mempu memacu pertumbuhan ekonomi. Hal ini mengingat ruang fiskal yang dimiliki pemerintah pun cukup banyak. Dana subsidi bahan bakar minyak (BBM) dialihkan untuk pembangunan infrastruktur secara masif. Sedangkan, sebagian lagi ditanamkan ke berbagai badan usaha milik negara (BUMN).

“Mengingat langkah yang diambil pemerintah pelan-pelan ekonomi akan naik. Meski saya kira pertumbuhan tidak sampai menyentuh 7 persen, di level 5,6-5,8 persen sudah tinggi menurut saya,” tutur Hans.

Adapun return investasi saham jelas Hans diperkirakan masih akan sama dengan tahun lalu yakni 20 persen. Hingga akhir tahun, IHSG diproyeksikan menembus level 6.000 atau tumbuh 20 persen dari awal tahun.

Penulis: Nuriy Azizah/FQ