1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

daftar jawara kapital BEI Juni 2013/ Juli 2016/Feb 2017 … 190713_191117 19 November 2017

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:38 am

INI ALASAN UTAMA Sri Mulyani KEMBALI menjadi MENKEUrose KECIL

JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia hari ini memperingati 40 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia. Kegiatan ini juga turut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara. Salah satunya adalah Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso.

Baca juga: 40 Tahun Pasar Modal Indonesia, Menkeu Teleconference Buka Galeri Investasi ke 300

“Ibarat umur manusia, memasuki usia 40 tahun berarti Pasar Modal Indonesia telah memasuki usia matang dan siap untuk memetik hasil yang telah ditanam, Sejalan dengan tema pada peringatan HUT Pasar Modal tahun ini yakni ‘Langkah Baru Kedewasaan Pasar Modal’, kita harapkan Pasar Modal Indonesia semakin siap dan matang dalam menghadapi persaingan dan tantangan global,” kata Wimboh mengawali sambutnya di depan Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Minggu (13/8/2017).

Melalui infrastruktur yang lebih mumpuni dan dukungan emiten, regulator dan seluruh insan Pasar Modal Indonesia, OJK pun meyakini bahwa pasar modal di Indonesia mampu melesat menjadi salah satu pasar modal yang terbaik di dunia.

Menurut Wimboh, pasar modal di Indonesia saat ini sudah berkembang sangat pesat. Pada tahun 1977, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG baru berada di level 98,00 sementara per 11 Agustus kemarin IHSG sudah berada di level 5.766,13, atau meningkat lebih dari 5.000%.

“Sementara itu nilai kapitalisasi pasar yang pada tahun 1977 baru mencapai Rp2,73 miliar, maka per 11 Agustus kemarin nilai kapitalisasi pasar kita sudah mencapai Rp6.319,55 triliun, atau meningkat lebih dari 200.000%,” ujarnya.

Pasar modal Indonesia pun diyakini akan berkembang sedemikian pesat. Bahkan pasar modal di Indonesia saat ini mulai disejajarkan dengan beberapa negara maju baik di kawasan ASEAN maupun dunia.

“Pasar Modal Indonesia saat ini juga sudah menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik bagi para investor baik dalam maupun luar negeri. Pasar Modal Indonesia juga sudah berkembang menjadi salah satu sumber pendanaan jangka panjang (source of longterm financing) yang penting bagi dunia usaha dan juga bagi pemerintah untuk membiayai berbagai program pembangunan nasional, khususnya pembangunan infrastruktur, ditengah mulai terbatasnya pembiayaan dari sektor perbankan yang cenderung berjangka pendek,” ujarnya.

Saat ini pemerintah memang tengah gencar melakukan pembangunan berbagai sarana infrastruktur pendukung seperti pelabuhan, jalan tol, pembangkit listrik, jalur kereta api, dan bandara. Pembangunan ini membutuhkan dana sekira Rp5000 triliun.

Namun, APBN hanya sanggup membiayai Rp1500 triliun. Untuk itu, butuh dukungan dari pasar modal dalam melakukan pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Salah satu strategi yang saat ini dipilih oleh pemerintah untuk membangun infrastruktur adalah melalui pemanfaatan berbagai instrumen pembiayaan di sektor pasar modal, mulai dari instrumen konvensional seperti saham dan obligasi.

“Lalu berbagai instrumen investasi seperti Dana Investasi Infrastruktur berbentuk KIK, Efek Beragun Aset (EBA) termasuk EBA Surat Partisipasi, Dana Investasi Real Estate baik yang konvensional maupun Syariah, Reksa Dana Penyertaan Terbatas, Reksa Dana Target Waktu, Dana Investasi Multi Aset berbentuk KIK,” ujarnya.

(rzy)

ets-small

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Meskipun Kapitalisasi Pasar terbesar kedua di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini dipegang oleh PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), analis ragu emiten telekomunikasi ini bisa bersaing dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang saat ini memegang rekor sebagai emiten dengan kapitalisasi terbesar.

Analis Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo bilang, TLKM punya tantangan yang cukup besar. “Walau selama ini TLKM jadi primadona karena reputasi dan karakter bisnisnya, emiten ini masih memiliki kekurangan dari segi pemasaran produk,” papar Lucky, Rabu (4/10).

Menurutnya, emiten telekomunikasi terbesar di Indonesia ini masih kurang agresif dalam memasarkan produk, tidak seperti BBCA. Oleh karena itu, jika ingin bisnisnya semakin tumbuh, TLKM perlu melakukan pemasaran produk yang lebih gencar lagi serta menyediakan produk sesuai dengan kebutuhan pasar.

Di sisi lain, pengamat pasar modal Teguh Hidayat memandang pertumbuhan saham TLKM tidak sesuai dengan laju bisnisnya. Saham TLKM yang terus melaju dalam beberapa waktu belakangan tidak dibarengi dengan pertumbuhan bisnis yang memadai sehingga menjadikan saham ini memiliki valuasi yang terlalu tinggi. Berbeda dengan saham-saham di sektor bank dan konsumer yang melaju sesuai dengan pertumbuhan bisnisnya.

Teguh melihat, emiten yang bisa mengganti posisi BBCA adalah saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP). HMSP selama ini selalu bersaing dengan BBCA untuk urusan market cap.

Adapun Lucky melihat, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) punya potensi untuk bisa bersaing di pasar global. “Kuatnya posisi BMRI di bidang kredit korporasi dan sebaran kredit ritel yang kuat oleh BBRI membuat kedua bank ini bisa bersanding dengan BBCA,” kata Lucky.

dollar small

JAKARTA okezone – Harga saham selalu bergerak fluktuatif. Begitu juga dengan volume saham yang ditransaksikan, terkadang banyak terkadang sedikit.

Harga dan volume saham inilah yang membentuk kapitalisasi pasar. Jika harga naik dan volume transaksi banyak, maka kapitalisasi pasar saham akan naik.

Tapi sebaliknya, jika harga terkoreksi dan volume saham yang ditransaksikan turun, maka akan membuat kapitalisasi pasarnya mengalami penurunan.

Hal ini yang terjadi dengan saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) alias Telkom. Pada perdagangan hari ini, Jumat 22 September 2017, kapitalisais pasar saham Telkom turun menjadi hanya Rp468 triliun atau hanya 7,2% dari total kapitalisasi pasar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Baca Juga: Mulai Positif, BCA Bidik Pertumbuhan Kredit Sentuh 9%

Padahal pada perdagangan sebelumnya, Rabu 20 September, kapitalisasi pasar saham TLKM tercatat Rp473 triliun setara dengan 7,3% dari porsi transaksi yang tercatat.

Saham Telkom tercatat turun Rp50 atau 1% menjadi Rp4.640 per saham pada Jumat 22 September dibandingkan Rp4.690 yang tercatat di Rabu 20 September.

Baca Juga: Satelit Error, Kerugian Apa Saja yang Ditanggung Telkom?

Hal ini lantas membuat kapitalisasi pasar saham Telkom turun peringkat dari yang awalnya di posisi teratas, kini harus puas dengan posisi kedua. Kini, posisi kapitalisasi pasar teratas ditempati oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

Kapitalisasi pasar BCA tercatat Rp485 triliun atau 7,5% dari total kapitalisasi pasar yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat 22 September. Sementara pada Rabu 20 September, market cap BCA tercatat Rp465 triliun atau 7,2% dari total kapitalisasi pasar.

Baca Juga: Ikut Peraturan, BCA Akan Turunkan Biaya Isi Uang Elektronik Jadi Rp1.500

Saham bank swasta ini naik cukup lumayan Rp825 per saham atau 4,3% menjadi Rp19.875 per saham pada Jumat 22 September dibandingkan periode Rabu 20 September yang sebesar Rp19.050.

(mrt)

ets-small

 

DETIK X : Akhirnya Tirto Utomo menjatuhkan ultimatum pada Aqua. Saat itu, menjelang Oktober 1977, seperti biasa Tirto mengumpulkan pimpinan PT Aqua Golden Mississippi, perusahaan Aqua, di Restoran Oasis miliknya di Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat.

Agenda hari itu sangat genting, yakni memutuskan nasib Aqua. Sudah sekian lama kondisi Aqua memang tak kunjung sehat. Sejak pertama menjual air minum dalam botol pada 1 Oktober 1974, Aqua tak kunjung mendatangkan untung. Malah setiap bulan Tirto, pendiri dan pemilik Aqua, harus menombok dari kantongnya untuk membayar gaji karyawan.

Saat itu, kata Willy Sidharta, karyawan pertama dan mantan Direktur Utama Aqua Tirto menombok lumayan besar. “Sekitar Rp 5-6 juta setiap bulan,” kata Willy kepada detikX dua pekan lalu. Padahal segala cara sudah dilakukan Willy dan karyawan Aqua supaya bisa menjual air minum kemasan itu lebih banyak lagi. Pabrik Aqua di Bekasi sudah jadi rumah bagi Willy. Dia memboyong keluarganya tinggal dalam kompleks pabrik. Dan dia bekerja dari pagi hingga larut malam setiap hari.

Lantaran mesin pengolahan air di pabrik Aqua lebih banyak menganggur, Willy, yang kala itu menjabat kepala produksi, juga tak punya banyak pekerjaan. Ketimbang bengong menganggur, Willy dengan sukarela ikut membantu jualan Aqua. Dia menyetir sendiri pikap Mitsubishi milik Aqua dan berkeliling dari kampung ke kampung di Jakarta.

Semula Willy tak percaya dengan informasi dari bagian penjualan bahwa tak ada orang Jakarta yang mau beli Aqua. Dia membuktikan sendiri dengan menawarkan contoh gratis Aqua. “Kami berikan contoh gratis untuk mencoba pun orang-orang tetap tak mau,” kata Willy.

Asia Salim, karyawan Aqua yang sudah bekerja di perusahaan itu selama 41 tahun, merasakan sendiri beratnya berjualan air minum botolan kala itu. Sama seperti Willy, Salim bekerja di bagian produksi. Tapi dia juga merangkap jadi tenaga penjualan. Kecuali orang-orang asing, kata Salim, kini supervisor water treatment di pabrik Aqua di Bekasi, tak ada warga Jakarta yang biasa beli dan minum “air putih” dalam botol.

“Waktu itu kan air dari sumur masih bagus,” Salim menuturkan. Seharian berjualan, dari 65 krat Aqua yang dia bawa, biasanya hanya laku 5 krat. Pembelinya masih terbatas di lingkungan orang-orang kaya dan ekspatriat. “Orang-orang belum percaya pada Aqua,” Willy menuturkan. Seretnya penjualan membuat keuangan Aqua babak-belur.

Di depan beberapa anak buahnya, Tirto menyampaikan kabar bahwa dia tak sanggup lagi terus-menerus menopang hidup Aqua. Jika tak memberikan untung juga, kata Tirto, dia akan menutup perusahaan itu per Januari 1978. Artinya, Aqua hanya punya umur tiga bulan lagi.

Kendati Tirto sudah memberikan batas waktu, menurut Willy, mereka belum mau lempar handuk, tanda menyerah. “Pak Tirto terus mengajak kami berdiskusi mencari jalan bagaimana menyelamatkan Aqua,” kata Willy. Di satu ruangan di Restoran Oasis, di tengah kepulan asap cerutu yang diisap Tirto, mereka berdiskusi dan berdebat menentukan masa depan Aqua. “Asap cerutu Pak Tirto menyebar ke mana-mana. Saya sampai kliyengan dan harus sering-sering keluar dari ruangan.”

 
 

Barang kalau dijual terlalu murah kan kita malah curiga.”

Willy Sidharta, mantan Direktur Utama Aqua

Tirto menimbang-nimbang untuk menaikkan harga jual. “Bagian penjualan ditanya, jika harga naik segini, kira-kira penjualannya akan turun berapa?” Willy bercerita. Saat itu, satu botol Aqua dengan volume 950 mililiter dijual hanya Rp 75. Padahal saat itu produk sejenis di beberapa negara dijual sekitar US$ 1 atau Rp 350. Orang di bagian penjualan memperkirakan penjualan Aqua akan turun 30 persen.

Setelah dihitung-hitung, Tirto memutuskan harga Aqua 950 mililiter akan dijual Rp 175 atau US$ 0,5, naik hampir tiga kali lipat. Tak ada yang menyangka, keputusan nekat itu malah jadi penyelamat perahu Aqua yang hampir karam. Hingga Desember 1977, penjualan Aqua malah melompat tiga kali lipat. Willy menduga, dengan mendekati harga pasar, kepercayaan konsumen tumbuh. “Barang kalau dijual terlalu murah kan kita malah curiga,” Willy menjelaskan.

Sejak hari itu, grafik penjualan Aqua terus naik. Pasarnya juga terus melebar. Sementara semula hanya beredar terbatas di lingkungan orang asing di Jakarta, terutama di kalangan ekspatriat Jepang, sejak akhir 1970-an, Aqua sudah banyak dikenal warga lokal. Bahkan pada 1980-an, pasar lokal Aqua sudah melampaui penjualan di kalangan ekspatriat.

Apalagi dengan makin memburuknya kualitas air tanah di kota-kota besar di Indonesia, air minum dalam galon yang dirintis Aqua sejak 1975 sudah jadi minuman standar di rumah tangga perkotaan. Saat pertama dijual, Aqua belum punya tabung galon plastik seperti hari ini. Menurut Willy, mereka menjual Aqua dalam tangki yang dikemas menyerupai tabung es putar keliling. “Pelanggan pertama kami adalah Citibank,” kata Willy.

Entah mengapa, suatu kali, tabung air dingin yang dipasang Aqua di kantor Citibank dirubung semut. Pelanggan tentu mengajukan protes kepada Willy. Lantaran belum ada tabung plastik, manajemen Aqua memutuskan beralih ke tabung gelas. Mereka memanfaatkan tabung-tabung gelas bekas cuka. “Kami beli dari loakan…. Setiap hari saya berkeliling pasar loak mencari tabung cuka bekas. Untuk tutupnya, saya beli di Pasar Glodok lama,” kata Willy.

Asia Salim mengenang, mereka harus mencuci tabung-tabung gelas besar itu dengan air panas secara manual satu per satu. Air panas dimasukkan dalam tabung dan dikocok-kocok. “Kadang saya sampai pusing,” kata Asia. Belum lagi urusan distribusinya. Ketika itu, urusan distribusi air dalam galon kaca ini masih diurus sepenuhnya oleh Aqua.

Mengurus air dalam galon plastik saja sudah sulit, apalagi air dalam galon kaca yang rentan pecah. Salim pernah mengantarkan pesanan 200 galon Aqua ke Cilegon, kini di wilayah Provinsi Banten. Ternyata 200 galon air itu untuk mengisi kolam renang. Baru pada 1980, Aqua beralih ke galon plastik impor. Untuk menekan ongkos, Aqua mendirikan pabrik pembuatan galon plastik di Bekasi pada 1984. Itulah pabrik galon plastik pertama di Indonesia. Sekarang, air minum dalam galon jadi salah satu tumpuan pendapatan Aqua.

Pesaing lokal pertama Aqua adalah Oasis milik PT Santa Rosa Indonesia, yang meluncur ke pasar pada 1984. Sekarang ada banyak sekali merek lokal air minum dalam botol seperti Prim-a, Le Minerale, dan Aguaria. Namun Aqua tetap nomor satu. Di kelas botol kecil, persaingan di antara merek air minum kemasan ini benar-benar keras. Tapi, untuk pasar air dalam galon, posisi Aqua masih sangat kokoh. Pada 2014 saja, Aqua memproduksi 11 miliar liter air, terbesar di antara semua merek milik Danone, perusahaan Prancis yang menjadi pemegang saham terbesar Aqua sejak 2001.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

 ets-small

Liputan6.com, Jakarta – Kapitalisasi pasar saham induk usaha PT Freeport Indonesia yaitu Freeport McMoran terus anjlok. Lantaran saham Freeport McMoran cenderung tertekan di awal 2017.

Sepanjang 2017, saham Freeport McMoran telah turun 7,13 persen. Saham Freeport McMoran bergerak di kisaran US$ 6,55-US$ 17,06 dalam satu tahun.

Pada penutupan perdagangan saham Selasa 21 Februari 2017 waktu New York, saham Freeport McMoran turun 5,23 persen menjadi US$ 14,13. Hal itu membuat kapitalisasi pasar perusahaan tambang asal Amerika Serikat (AS) menjadi US$ 19,24 miliar atau sekitar Rp 257,18 triliun (asumsi kurs Rp 13.365 per dolar AS). Jumlah saham Freeport sekitar 1,36 miliar saham.

Kapitalisasi pasar saham Freeport McMoran Inc ternyata jauh di bawah sejumlah emiten yang tercatat di pasar modal Indonesia. Berdasarkan data BEI pada perdagangan Selasa 21 Februari 2017, kapitalisasi pasar saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mencapai Rp 442 triliun.

 

Kemudian disusul kapitalisasi pasar saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom sentuh posisi Rp 391 triliun, kapitalisasi pasar saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA sebesar Rp 378 triliun.

Selain itu, kapitalisasi saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) di posisi Rp 326 triliun, disusul kapitalisasi pasar saham PT Astra International Tbk (ASII) di kisaran Rp 321 triliun, kapitalisasi pasar saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) di kisaran Rp 291 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar saham PT Bank Mandiri Tbk mencapai Rp 258 triliun.

Posisi kapitalisasi pasar saham Freeport McMoran hanya lebih unggul dari kapitalisasi pasar saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)  sebesar Rp 116 triliun, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) sebesar Rp 116 triliun dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) sebesar Rp 96 triliun.

Seperti diketahui, kapitalisasi pasar saham dihitung dengan cara mengalikan harga saham dengan jumlah saham beredar. Kapitalisasi pasar ini menunjukkan nilai efek yang tercatat di bursa saham. Penurunan harga saham akan mengakibatkan turunnya kapitalisasi pasar saham demikian juga sebaliknya.

Sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan meminta PT Freeport Indonesia untuk bertindak proporsional. Menurut Jonan, sikap Freeport yang meributkan regulasi terkait perubahan status dari Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) terlalu berlebih.

“Dulu saat saya awal masuk ke Kementerian ESDM, saya pikir Freeport itu sebesar gajah. Ternyata hanya sebesar sapi,” kata Jonan saat menjawab pertanyaan seorang mahasiswa dalam sebuah workshop di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Jawa Timur, Selasa 21 Februari 2017.

Jonan melanjutkan, nilai kapitalisasi Freeport Indonesia jika dijual ke pasar tak sebesar yang dibayangkan. Kontribusi perusahaan asal Amerika Serikat (AS) ini baik itu berupa pajak retribusi, royalti dan sebagainya ke pemerintah Indonesia juga masih kalah jauh jika dibanding beberapa perusahaan lainnya.

Jonan menyebut dari data yang dimilikinya, nilai kapitalisasi Freeport hanya sebesar US$ 20 miliar. Masih kalah dibandingkan dengan nilai kapitalisasi pasar BCA yang sebesar US$ 29 miliar, PT Telkom senilai US$ 25 miliar atau BRI yang tercatat US$ 21 miliar.

Kapitalisasi pasar Freeport juga kalah jauh dengan Exxon yang mencapai US$ 355 miliar. Freeport hanya unggul tipis atas nilai Bank Mandiri sebesar US$ 19,5 miliar.

“Exxon saja yang mengelola Blok Cepu dan Bojonegoro, memproduksi sekitar seperempat kebutuhan minyak nasional tapi tidak pernah rewel dengan kita,” ujar Jonan.

Produksi tambang Freeport di Indonesia

Bila melihat laporan keuangan yang disampaikan Freeport McMoran dalam websitenya, dari produksi tambang Grasberg di Indonesia tercatat produksi tembaga mencapai 1.063 juta pounds pada 31 Desember 2016 dari posisi 31 Desember 2015 di kisaran 752 juta pounds. Sedangkan produksi emas 1.061 juta ounces pada 31 Desember 2016 dari posisi 31 Desember 2015 1.232 juta ounces.

ets-small

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Program pengampunan pajak (tax amnesty) disambut baik oleh pengusaha, investor, bahkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Hal ini dilihat pada pergadangan saham pekan lalu BEI mencetak rekor nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp 5.639 triliun atau sekitar 430 miliar dolar AS.

Menyikapi hal demikian, Analis & Pelaku Pasar Modal,Hendri Setiadi mengungkapkan pencapaian rekor di pasar modal ini sebelumnya telah diprediksi oleh para analis keuangan dan pelaku pasar modal.

Mereka, kata Hendri, berpendapat bahwa kebijakantax amnesty akan direspons positif oleh investor dan stakeholder yang optimis bahwa banyak dana yang akan masuk dari hasil repatriasi pengampunan pajak.

“Aliran dana investor perlahan-lahan masuk ke Indonesia yang sedang mengalami emerging market hingga bisa mengungguli negara- negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand,” ungkap Hendri, Rabu (27/7/2016).

Untuk menyukseskan program tax amnesty ini, Hendri menyebut pasar modal Indonesia terbuka. Hal itu untuk menampung dana repatriasi hasil tax amnesty, berbagai investasi pasar modal siap menyerap dana- dana tersebut.

“Berbagai investasi pasar modal tersedia untuk menampung dana reatriasi seperti saham, efek bersifat utang, unit penyertaan reksa dana, efek beragun aset (EBA) dana invstasi real estate (DIRE),” kata Hendri.

Seperti diketahui, bursa pasar modal Indonesia mencapai all time high frequency mengalahkan semua negara ASEAN. Bursa dalam negeri naik 377.000 frekuensi per hari untuk informasi Singapura hanya 74.000, Malaysia 153.000 per hari, Filipina 56.000. Peningkatan nilai kapitalisasi pasar ini menjadikan Indonesia sebagai pasar emerging market terbesar di kawasan ASEAN.

“Tax amnesty akan membawa dampak masuknya likuiditas sehingga berpengaruh pada penguatan rupiah,” kata Hendri.

Penulis: Adiatmaputra Fajar Pratama
Editor: Sanusi

spiral

Liputan6.com, Jakarta – Kapitalisasi pasar modal Indonesia melewati Malaysia dan Thailand. Nilai pasar gabungan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai US$ 416 miliar atau sebesar Rp 5.441,28 triliun (estimasi kurs: 13.080 per dolar AS).

Mengutip Bloomberg, Sabtu (16/7/2016), kapitalisasi pasar Indonesia ini mengalahkan Malaysia yang berada di angka US$ 401 miliar dan juga Thailand yang berada di angka US$ 393,55 miliar. Kapitalisasi pasar Indonesia terus berada di atas kedua negara tersebut dalam sepekan terakhir.

Dalam tiga tahun terakhir, kapitalisasi pasar Malaysia terus berada di puncak di antara negara-negara berkembang di Asia Tenggara. Namun seiring penurunan harga minyak dunia, harga saham perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa Malaysia ikut tertekan karena sebagian besar perusahaan tersebut bergerak di sektor minyak dan gas (migas).

Penurunan harga saham perusahaan-perusahaan di Malaysia ini menjadi jalan bagi Bursa Indonesia untuk mengambil alih posisi teratas. Kapitalisasi pasar Indonesia juga pernah menduduki posisi di atas Malaysia dan Thailand pada 2013 lalu. Pada waktu itu perekonomian Indonesia memang sedang tumbuh tinggi.

Sebelumnya pada 12 Juli 2016 lalu Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan kapitalisasi pasar modal Indonesia terus naik seiring pengesahan Undang-Undang Pengampunan Pajak (Tax Amensty).

“‎Kebetulan momentum sekarang bagus,‎ kemarin PT Telekomunikasi Indonesia Tbk kapitalisasi pasar atau market capitalization Rp 400 triliun, itu rekor. Mendorong market capitalization total jadi Rp 5.500 triliun,” kata dia.

Frekuensi perdagangan saham pun juga mendekati rekor. Dia menuturkan, frekuensi tertinggi di BEI mencapai 373.400 kali. “‎Frekuensi terbesar selama sejarah tahun 2014 adalah 373.400 kemarin 368.000 ribu. Insya Allah,” tambah dia.

doraemon

Bisnis.com, JAKARTA – Kapitalisasi pasar indeks harga saham gabungan (IHSG) pada akhir pekan ini telah mencapai Rp5.055 triliun.

Jumlah tersebut telah mengalami kenaikan 3,75% jika dibandingkan dengan kapitalisasi pasar di akhir 2015 yang berada di Rp4.872 triliun.

Keterangan resmi BEI Jumat (13/5/2016) menyatakan dari jumlah tersebut, sebanyak 49,75% atau kapitalisasi pasar IHSG disumbang oleh 10 emiten dengan total nilai Rp2.514 triliun.

Lima emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di IHSG berturut-turut adalah PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP) dengan nilai kapitalisasi pasar Rp460,38 triliun, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) Rp371,95 triliun, PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) Rp338,77 triliun, PT Bank Central Asia Tbk.(BBCA) Rp320,97 triliun, dan PT Astra Internasional Tbk. (ASII) Rp256,05 triliun.

Selanjutnya di posisi 6 sampai dengan 10 ada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.(BBRI) dengan nilai kapitalisasi pasar Rp241,17 triliun, disusul oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Rp214,82 triliun dan PT Gudang Garam Tbk.(GGRM) Rp137,04 triliun.

Di posisi ke 9 dan 10 ada saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.(BBNI dengan kapitalisasi pasar masing-masing mencapai Rp90,96 triliun dan Rp82,71 triliun.

Pergerakan IHSG sendiri sepanjang periode 9 Mei hingga 13 Mei 2016 telah mengalami perubahan 1,26% ke posisi 4.761,715 poin. Pada pekan sebelumnya posisi IHSG berada di level 4.822,595 poin.

Juni 2013: 

 

No
Kode Saham
Nama Perusahaan
Kapitalisasi Pasar Saham Indonesia
1
HMSP PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk
372.555.000.000.000
2
ASII PT Astra International Tbk
283.384.871.980.000
3
BBCA PT Bank Central Asia Tbk
244.084.591.200.000
4
UNVR PT Unilever Indonesia Tbk
234.622.500.000.000
5
TLKM PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
226.799.991.900.000
6
BMRI PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
207.899.999.991.000
7
BBRI PT Bank Rakyat Indonesia Tbk
189.274.145.445.000
8
PGAS PT Perusahaan Gas Negara Tbk
139.388.672.127.000
9
SMGR PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
101.428.992.000.000
10
GGRM PT Gudang Garam Tbk
97.358.852.800.000
11
INTP PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk
90.006.115.040.550
12
CPIN PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk
84.449.700.000.000
13
BBNI PT Bank Negara Indonesia Tbk
79.387.330.539.900
14
KLBF PT Kalbe Farma Tbk
73.123.303.838.400
15
ICBP PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
71.137.638.800.000
16
UNTR PT United Tractors Tbk
67.888.459.475.200
17
INDF PT Indofood Sukses Makmur Tbk
64.536.134.775.000
18
BDMN PT Bank Danamon Tbk
55.509.462.046.350
19
MNCN PT Media Nusantara Citra Tbk
43.933.567.187.500
20
EXCL PT Excelcomindo Pratama Tbk
41.178.917.468.275
Iklan
 

SELAMAT BERGABUNG @BEI, jadi INVESTOR n TRADER BERLABA ya :) (181017) 18 Oktober 2017

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:46 am
Tags:

yuk blajar ILMU MAEN saham SEDERHANA ala warteg gw

INI ALASAN UTAMA Sri Mulyani KEMBALI menjadi MENKEU

valentineEVERYsmall

analisis teknikal sederhana : BUMI

resveratrol dalam anggur merah: amat BERMANFAAT pada kondisi pembuluh darah koroner jantung

INVES + TRADING 20 saham di warteg OTC gw, TELAH MENINGKATKAN LABA gw +34% dalam periode 3 bulan, awal 2016

RESOLUSI MAEN SAHAM 2015

 

belajar MEMAHAMI FLDTT (fokus LABA dalam TREN TURUN) lage neh :), + bukti2nya

PaPa MINTA SAHAM 2016

reaction_1

market view: 1 PLIGHT OF SAVERS
The search for income has intensified in recent years as it has hit home that low growth and low interest rates are here to stay in the developed world. In the UK, the Bank of England base rate has been at an historic low of just 0.5% since March 2009 – and there’s no indication that this will change any time soon.

Darius McDermott, managing director of Chelsea Financial Services, the investment fund broker, says: “Anyone still in cash should really consider taking on a little more risk to get better returns: £10,000 left in cash when interest rates first went to 0.5% is only worth £10,234* today. If the money had been moved to the average UK equity income fund it would be worth £25,669.”

2 GREATER RISK = GREATER REWARD?
Justin Modray, founder of Candid Financial Advice, a recently-launched independent financial adviser (IFA), warns that, aside from shopping around for a better savings account, there’s no magical way of earning more interest: a higher income means taking on greater risk.

“If you can’t afford to lose money then taking risk is probably a bad idea, but if you can afford to risk some money, or already have a portfolio of investments, then other sources of income stack up well versus cash.”

* 9 March 2009 to 9 November 2015. IA Money Market and IA UK Equity Income sectors

 

3 CAPITAL PROTECTION
This doesn’t mean to say that, by steppingup the risk scale, you could end up losing your shirt: protecting capital is an essential part of any fund manager’s role.

However, equity income managers tend to be more cautious in their choice of stocks, typically looking for those that will provide steady capital growth rather than stellar returns.

For example, during the technology boom in the late 1990s and at the turn of the millennium many income managers avoided speculative technology companies. For a while these funds lagged the stock market as money flowed into the tech sector, but the strategy paid off as investors in equity income funds were shielded from the worst of the subsequent crash.

DEFINITION: defensive stock

A defensive stock is one that provides relatively constant dividends and stable earnings regardless of the state of the overall stock market or wider economy. For example, blue chip pharmaceutical and tobacco stocks are often described as defensive in nature, because people don’t stop needing life-saving drugs or quit smoking when the economy is going through a bad patch. That means these companies aren’t likely to suffer a huge drop in earnings – and will still have cash to hand back to shareholders.

4 LOWER VOLATILITY
While income funds might not shoot the lights out, income-based investing can act as a prop to performance when equity markets are in the doldrums or experiencing huge swings in volatility, as they did in August and September 2015, for example. That’s because many high-yielding stocks – the type that income fund managers tend to hold – are defensive in their nature. A company paying a good and rising dividend often communicates strong financial wellbeing, since dividends ultimately come from earnings and profits. And they are less likely to be dumped wholesale in difficult markets, because the income helps to compensate investors for any loss of capital value. In short, income investing produces an overall total return that is less volatile than the equity market as a whole.

5 SUPERIOR PERFORMANCE
In fact, investing using income as a guide to investment selection almost invariably produces long-term outperformance. Just look at the total returns from the FTSE 100 and FTSE All- Share indices compared with the IMA UK Equity Income index. Over one, three and five-year periods, stocks designed to generate an income have outperformed.

 

6 POWER OF COMPOUNDING
No other investment has endured quite like equity income. The attractions of equity income remain the same today as they have always done, a key one being the power of compounding. Income investing exploits the benefits of compounding – the earning of returns on returns already made.

In fact, reinvesting income is one of the biggest determinants of returns over time. Say you had bought £100 of gilts in 1899; your investment would be worth just 75p today in real terms if you hadn’t reinvested the income, according to the Barclays Capital Equity Gilt Study 2015. With reinvestment, you would have £457 in today’s terms.

The argument is even more powerful for equities. If you invested £100 in the UK stock market in 1899, it would today have grown to £184 in real terms without the reinvestment of dividends – but a mammoth £28,261 with reinvestment.

You don’t need to invest for more than a century to reap the benefits. The chart below shows the effect of income reinvestment on returns over five years. The blue line shows total returns for the FTSE All-Share index over that period, while the green line includes highlights the extra returns generated by investing for income and reinvesting those dividends.

 

FAST FACT: compounding A return of 7% when reinvested doubles capital in ten years. A return of 10% when reinvested will accomplish the same goal in seven years.

7 DIVIDEND GROWTH
Dividend growth over the years is vital for income-seeking investors, particularly those facing a long and hopefully fruitful retirement, and many income funds are focused on growing dividends.
Income generation is a hot topic in the financial press, but it is going to become an even more important issue in years to come as the retiring baby boomers inflate the income-seeking population, not just in the UK but throughout much of the developed world and China.

Let’s use a simple example to illustrate the importance of dividend growth. Say a 60-year-old invests £20,000 equally across two income funds. They both yield 5%, so give a starting income of £1,000 per year each.

Fund X increases its payouts by 5% per year, while fund Y manages to increase payouts by 10% a year. By age 75, 15 years later, the significance of this difference is all too clear. Income from fund X, which grew at 5% per year, has risen to almost £2,080 per year; income from fund Y, which grew at double the rate, has soared to £4,180 per year – more than twice as much.

8 INVESTMENT DISCIPLINE
As companies with strong financial wellbeing attract investment, the price goes up and the dividend yield comes down. At this stage an equity income manager will often sell, looking to reinvest in the next high-yielding opportunity. Equity income managers’ strategy therefore causes them to buy shares when they are cheap and sell when they are expensive – one of the cornerstones of successful investing.

9 CAPITAL GROWTH
It is equally important to grow capital where possible. Many income fund managers aim to identify value in areas other investors have overlooked – another key driver of performance.

The tobacco sector is a prime example of an unloved area in which some income fund managers saw potential at the turn of the century. They were handsomely rewarded: between 2000 and 2011 British American Tobacco’s share price surged by more than 780%. With dividends reinvested, the total return was 1,529%. Again, some income fund managers are focusing their attentions on medium sized and smaller companies. Historically such companies were expected to reinvest profits in the business rather than paying them out to shareholders, but canny managers such as Miton’s Gervais Williams are finding valuable income opportunities among these smaller, faster-growing enterprises.

DEFINITION: cyclical stock
A cyclical stock is one that is sensitive to business cycles and whose performance isstrongly tied to the overall economy. Cyclical companies tend to make products or provide services that are lower in demand during economic downturns and higher in demand when the economy is buoyant. Examples include car manufacturers, retailers and house-builders.

10 INFLATION PROTECTION
If your capital doesn’t keep pace with inflation, then its value is clearly being eroded. In other words, it is losing value in real terms. Inflation has not been much of an issue in recent years, but over the longer term it is likely to rise again.

Say, for example, inflation is running at around 2% (the Bank of England’s target rate). If you are a basic-rate taxpayer (paying income tax at 20%), then you’d have to achieve a return of 2.5% on a taxable savings account just to stand still. If you are a 40% taxpayer, you’d need a 3.33% return, and if you’re a 45% taxpayer you would need to earn 3.64% on your cash for it to keep pace with inflation.

Some investments, such as index-linked gilts, promise to beat inflation, albeit not by much.

As dividend-paying shares often offer a growing income plus the potential for capital growth, they can boost your chances of netting an inflation-beating return. In the last three years the average fund in the equity income sector has grown 38.21%- more than six times the rate of RPI inflation of 5.7% over the same period, figures from Chelsea Financial Services show. (Three years to 9 November 2015. FE Analytics UK IA Equity Income, Index UK Price Retail Index).

doraemon

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Beberapa emiten di bursa memiliki return on equity (RoE) yang tinggi. Rasio ini bisa menjadi indikator pelaku pasar dalam pemilihan saham. Tapi, sebelum berinvestasi di saham RoE tinggi, tetap ada beberapa pertimbangan yang patut dicermati.

Mengacu data Bloomberg, saat ini ada lima emiten dengan RoE tertinggi yakni PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) dengan RoE 201,8%, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) sebesar 157,43%, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) sebesar 137,12%, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar 112,85% dan PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) sebesar 60,99%.

Bertoni Rio, Senior Analyst Research Division Anugerah Sekuritas Indonesia mengatakan, selain mencermati RoE, perlu diperhatikan pula likuiditas saham. Ia menilai, sebagian besar emiten dengan ROE tinggi ini masih likuid. Hanya BYAN yang likuditasnya masih rendah.

“Kelebihan emiten ini, selain kinerjanya tumbuh, cashflow operasional positif, dan memiliki gross profit margin rata-rata di atas 50%,” terangnya kepada KONTAN, Selasa (17/10).

RoE tersebut mengindikasikan jumlah imbal hasil dari laba bersih terhadap ekuitas. RoE inilah yang digunakan untuk mengukur kemampuan emiten dalam menghasilkan laba dengan modal ekuitas yang sudah diinvestasikan. Ia menyebut, emiten dengan RoE di atas 20% sudah cukup menarik untuk masuk keranjang investasi.

Namun, selain memperhitungkan RoE, imbal hasil bisa lebih maksimal jika investor juga mempertimbangkan nilai buku. Rio menambahkan, dari kelima saham itu, emiten yang memiliki price to book value (PBV) murah adalah PBSA sebesar 1,4 kali, BYAN 6,99 kali, LPPF 15,57 kali, MLBI 44,38 kali, dan UNVR 77,37 kali.

Sementara itu, dari sisi valuasi harga berdasarkan price to earning ratio (PER), yang paling murah adalah BYAN dengan PER 6,69 kali dan LPPF dengan PER 10,3 kali. Sementara PER MLBImencapai 23,49 kali dan UNVR sebesar 52,37 kali.

Saham pilihan

Dari beberapa emiten dengan RoE yang tinggi, Rio menjagokan UNVR dan LPPF. Pasalnya, UNVR mampu menguasai pasar dengan brand yang kuat. Varian produknya juga beragam. Sementara itu, LPPF cukup menarik lantaran memiliki jumlah gerai yang banyak.

Reza Priyambada, Analis Binaartha Parama Sekuritas lebih menjagokan UNVR. Meskipun secara valuasi harganya mahal, namun saham UNVR sangat likuid. “Likuiditas ini penting, karena memudahkan untuk mengambil untung,” jelasnya. Karena kinerja keuangannya cenderung stabil, Reza pun merekomendasikan buy saham UNVR dengan memasang target harga Rp 51.500 per saham.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, MLBI dan LPPF menjadi emiten yang layak dilirik. Valuasi harga MLBI juga masih tergolong murah di sektornya. Selain itu, MLBI dinilai memiliki margin laba bersih tinggi sekitar lebih dari 40%. “Sehingga rekomendasi buy MLBI dengan target Rp 18.400,” imbuh Hans.

Selain MLBI, Hans juga menjagokan LPPF karena memiliki margin laba bersih 23%. Ia merekomendasikan buy LPPF dengan target harga Rp 13.800.

Rio juga merekomendasikan buy LPPF dan UNVR dengan target harga masing-masing Rp 10.800 dan Rp 51.500 per saham.

Merdeka.com – Sebuah studi dari agen pencari kerja asal Inggris, Aaron Wallis Sales Recruitment, mencatat sejumlah orang kaya dunia mengambil jurusan teknik pada saat kuliah. Selain itu, para orang kaya ini pernah merasakan bekerja menjadi tenaga pemasar atau marketing.

Dilansir dari Business Insider, Rabu (20/9), studi tersebut menunjukkan apa yang perlu anak muda pelajari di bangku kuliah untuk menjadi miliuner di masa mendatang. Obyek studi mengambil dari daftar 100 orang terkaya dunia versi Forbes.

Di mana, tercatat 75 orang dari total 100 menyelesaikan kuliahnya. Sementara, 22 dari 75 orang tersebut mengambil jurusan teknik.

Selain itu, 53 dari 100 orang memulai bekerja di perusahaan bukan milik keluarganya. Di mana, 19 persennya memulai sebagai tenaga pemasar dan 17 persen sebagai broker saham.

Sementara itu, 17 persen dari 100 orang terkaya dunia memulai karir sebagai wirausaha. Berikut 5 peringkat teratas untuk jurusan kuliah yang banyak diambil miliuner dunia:
1. Teknik – 22 orang
2. Bisnis – 16 orang
3. Keuangan dan Ekonomi – 11 orang
4. Hukum – 6 orang
5. Ilmu komputer – 4 orang

Untuk pekerjaan pertama para orang terkaya dunia, 5 teratas ialah:
1. Tenaga pemasar – 10 orang
2. Broker saham – 9 orang
3. Pengembang perangkat lunak komputer – 5 orang
4. Insinyur – 5 orang
5. Analis – 4 orang

“Sekarang, kita melihat hampir seluruh para orang top di dunia bisnis menyelesaikan kuliahnya. Status sarjana bisa menjadi langkah awal untuk mempersiapkan karir Anda di masa mendatang,” ujar Managing Director Aaron Wallis, Rob Scott.

[bim]

rose KECIL

 

JAKARTAokezone  – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memang terkenal sering melakukan perjalanan mengelilingi banyak kampus di Indonesia untuk memberikan kuliah umum kepada mahasiswa. Namun banyak yang bertanya-tanya mengapa seorang Menteri Keuangan Indonesia itu mau memberikan kuliah umum dari kampus ke kampus lainnya.

Menyusul banyaknya yang mempertanyakan hal tersebut, Sri Mulyani pun ahirnya membeberkan alasan mengapa dirinya rela untuk keliling memberikan kuliah umum kepada para mahasiswa. Menurut Sri Mulyani, sebagai Menteri Keuangan, tujuan dirinya berkeliling Indonesia untuk memberikan kuliah umum adalah untuk memperkenalkan konsep dasar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) “Saya sudah melakukan perjalanan ke seluruh Indonesia dan ke banyak kampus untuk berikan kuliah. Tujuannya Saya ingin kenalkan konsep dasar APBN yang merupakan bagian dari pendanaan publik dan negara dan Kemenkeu tanggung jawab untuk kelola dana publik ini dengan baik,” ujar Sri Mulyani dalam acara Award Ceremony for Student Essay and Photo Competition di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (3/5/2017) Sri Mulyani menilai pentingnya mengenalkan mengenai konsep dasar dari APBN kepada mahasiswa. Pasalnya APBN adalah berbicara tentang uang negara dan bagaimana cara membelanjakannya dengan baik. “Saya merasa memberikan pemahaman kepada mahasiswa sangat penting karena bukan hanya budget sebagai instrumen fiskal namun karena uangnya adalah milik bangsa Indonesia. Makanya pemajakan dan pengumpulan pajak perlu dilakukan dengan upaya yang baik dan membelanjakan dengan lebih baik,” kata Sri Mulyani. Sri Mulyani juga meminta mahasiswa untuk aktif dalam pengawasan APBN. Mahasiswa juga bisa pertanyakan kepada pihak terkait jika anggaran tersebut tidak dipakai atau digunakan sebagaimana mestinya. “Kalau dia tak lakukan fungsi itu, pembayar pajak memiliki hak untuk tanyakan, kenapa pemerintah belanjakan untuk ini bukan untuk itu? Itu adalah pertanyaan yang harus dijawab baik secara teknokrat maupun politik,” kata Sri Mulyani.
(dni)

rose KECIL

Jakarta  beritasatu- Jumlah investor domestik salip dominasi investor asing di pasar modal dalam negeri. Keberhasilan itu ternyata tak terlepas dari kesuksesan program Pemerintah terkait Amnesti Pajak (Tax Amnesty).

“Per tahun ini jumlah investor lokal menguasai pasar modal dalam negeri kita dengan 51,6 persen. Padahal dulu asing pernah sampai 75 persen menguasai dan cukup lama stuck di 65 persen. Tapi, sekarang lokal sudah menguasai faktornya Tax Amnesty,” ujar Direktur Utama KSEI Friderica Widyasari Dewi atau biasa yang disapa Kiki dalam kunjungannya ke BeritaSatu Media Holdings di BeritaSatu Plaza, Jakarta, Jumat (30/12/2016).

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tercatat bahwa jumlah Single Investor Identification (SID) per 13 Januari 2017 sebanyak 903.034 orang atau tumbuh 106,58 persen year to date. Di mana, pada Januari tahun lalu jumlah investor tercatat hanya 444.319 orang, lalu naik drastis sebulan setelah program Tax Amnesty dimulai yakni mencapai 782.511 orang pada Agustus. Jumlah investor pun terus bertambah bulan-bulan berikutnya, yakni September capai 816.811 orang, Oktober 848.482, November 875.940, dan Desember saat periode II berakhir capai 894.116.

“Dari jumlah tersebut, jumlah rekening reksa dana 453.000 orang, saham 538.000 dengan baru 18 persen yang aktif, dan surat berharga negara 105.000,” sebutnya.

Lalu total aset yang tercatat di C-BEST per 13 Januari 2017 meningkat sebesar 17,88 persen ytd mencapai Rp 3.551,93 triliun dari akhir tahun lalu Rp 3.517,86 triliun. Besaran ini juga naik signifikan bila dibandingkan Januari 2016 yang hanya Rp 2.974,24 triliun. “Aset investor lokal menurut C-BEST di akhir tahun 2016 sudah menyalip asing dengan dominasi 51,77 persen, sedangkan tahun 2015 lokal masih kalah dengan asing yakni baru 42,67 persen,” sebutnya.

Adapun, persebaran investor domestik masih didominasi Pulau Jawa dengan persentase 46,83 persen, DKI Jakarta 31,44 persen, Sumatera 12,12 persen, Kalimantan 3,75 persen, Sulawesi 2,94 persen, Bali NTT dan NTB 2,32 persen, lalu Maluku dan Papua 0,61 persen.

Sedangkan, jika dilihat dari total aset masih didominasi DKI Jakarta dengan nilai Rp 1.412,70 triliun (76,73 persen), Jawa Rp 364,24 triliun (19,78 persen), Kalimantan Rp 34,85 triliun (1,89 persen), Sumatera Rp 21,39 triliun (1,16 persen), Sulawesi Rp 4,26 triliun (0,23 persen), Bali NTT dan NTB Rp 2,68 triliun (0,15) persen, lalu Maluku dan Papua Rp 990 miliar (0,05 persen).

Terkait dana Tax Amnesty yang masuk ke pasar modal, Kiki menyebutkan telah masuk sekitar Rp 2 triliun dan itu paling banyak masuk ke efek saham. Catatan itu merupakan data pelaporan wajib pajak peserta Tax Amnesty melalui perusahaan efek dan manajer investasi gateway. Artinya, lanjut dia, bisa jadi yang masuk pasar modal jauh lebih besar, tapi dilakukan tidak melalui gateway. “Dana yang masuk ke pasar modal pasti lebih besar lagi, karena ada yang tidak lewat gateway,” katanya.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menunjuk tiga gateway penampung dana repatriasi yakni perbankan, manajer investasi, dan broker. Sebagai informasi, jumlah uang tebusan amnesti pajak berdasarkan penerimaan Surat Setoran Pajak (SSP) bulan ini telah mencapai Rp 100 triliun.

Untuk itu, KSEI pun terus menyosialisasikan berbagai instrumen investasi kepada gateway Tax Amnesty baik itu perusahaan efek, manajer investasi, maupun bank rekening dana nasabah (RDN).

Sampai saat ini, KSEI mencatat sudah ada 12 bank RDN dan ada dua bank lagi yang akan menjadi bank RDN pada tahun ini. “Dari bank RDN yang ada, ada dana mengendap sekitar Rp 11,6 triliun,” sebut Kiki.

Lebih lanjut, Kiki optimistis jumlah investor bisa tembus diatas 1 juta orang tahun ini. KSEI pun siap memuluskan langkah calon investor untuk berinvestasi di pasar modal. Bahkan, langkah itu meraih penghargaan Marquee Award sebagai The Best Central Securities Depository in Southeast Asia in 2016 versi Alpha Southeast Asia atau predikat sebagai Kustodian Sentral terbaik di Asia Tenggara baru-baru ini.

Seperti diketahui, sepanjang tahun 2016 beberapa pengembangan yang direalisasikan KSEI meliputi implementasi S-Invest, sistem pengelolaan investasi terpadu untuk industri reksa dana di Indonesia yang membuat alur bisnis reksa dana kini lebih efektif dan efisien. Selain itu, bekerjasama dengan Bank Indonesia, KSEI telah melakukan penerapan SID untuk SBN yang diterbitkan Bank Indonesia, sehingga data investor yang tercatat di KSEI semakin lengkap dan terkonsolidasi. KSEI juga berhasil melakukan inisasi untuk mewujudkan kerja sama pelaku pasar modal dengan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen. Dukcapil), Kementerian Dalam Negeri terkait pemanfaatan data kependudukan untuk percepatan pembukaan rekening efek dan layanan jasa pasar modal lainnya.

Tahun ini, KSEI, sambung Kiki juga akan melahirkan kembali kartu AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas). Nantinya, Kartu AKSes memungkinkan investor mendapatkan informasi portofolio efeknya secara chat online. Kartu AKSes menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan keterbukaan informasi di industri pasar modal Indonesia.

KSEI juga dipastikan akan menerapkan electronic voting alias e-voting pada akhir 2017. E-voting akan digunakan untuk mengakomodir penggunaan hak suara investor dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tanpa perlu kehadiran mereka secara fisik.

“Secara infrastruktur sudah bagus sekali, tapi jumlah investor masih sedikit. Ibarat rumahnya bagus, tapi tamunya sedikit,” ujarnya seraya menambahkan, hal ini salah satunya dihambat oleh suku bunga deposito yang masih cukup tinggi, namun pihaknya optimistis pasar modal ke depannya akan jadi pilihan investasi menarik bagi masyarakat.

 

 

Lona Olavia/FMB

Suara Pembaruan

rose KECIL

Jakarta – Jumlah investor domestik salip dominasi investor asing di pasar modal dalam negeri. Keberhasilan itu ternyata tak terlepas dari kesuksesan program Pemerintah terkait Amnesti Pajak (Tax Amnesty).

“Per tahun ini jumlah investor lokal menguasai pasar modal dalam negeri kita dengan 51,6 persen. Padahal dulu asing pernah sampai 75 persen menguasai dan cukup lama stuck di 65 persen. Tapi, sekarang lokal sudah menguasai faktornya Tax Amnesty,” ujar Direktur Utama KSEI Friderica Widyasari Dewi atau biasa yang disapa Kiki dalam kunjungannya ke BeritaSatu Media Holdings di BeritaSatu Plaza, Jakarta, Jumat (30/12/2016).

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tercatat bahwa jumlah Single Investor Identification (SID) per 13 Januari 2017 sebanyak 903.034 orang atau tumbuh 106,58 persen year to date. Di mana, pada Januari tahun lalu jumlah investor tercatat hanya 444.319 orang, lalu naik drastis sebulan setelah program Tax Amnesty dimulai yakni mencapai 782.511 orang pada Agustus. Jumlah investor pun terus bertambah bulan-bulan berikutnya, yakni September capai 816.811 orang, Oktober 848.482, November 875.940, dan Desember saat periode II berakhir capai 894.116.

“Dari jumlah tersebut, jumlah rekening reksa dana 453.000 orang, saham 538.000 dengan baru 18 persen yang aktif, dan surat berharga negara 105.000,” sebutnya.

Lalu total aset yang tercatat di C-BEST per 13 Januari 2017 meningkat sebesar 17,88 persen ytd mencapai Rp 3.551,93 triliun dari akhir tahun lalu Rp 3.517,86 triliun. Besaran ini juga naik signifikan bila dibandingkan Januari 2016 yang hanya Rp 2.974,24 triliun. “Aset investor lokal menurut C-BEST di akhir tahun 2016 sudah menyalip asing dengan dominasi 51,77 persen, sedangkan tahun 2015 lokal masih kalah dengan asing yakni baru 42,67 persen,” sebutnya.

Adapun, persebaran investor domestik masih didominasi Pulau Jawa dengan persentase 46,83 persen, DKI Jakarta 31,44 persen, Sumatera 12,12 persen, Kalimantan 3,75 persen, Sulawesi 2,94 persen, Bali NTT dan NTB 2,32 persen, lalu Maluku dan Papua 0,61 persen.

Sedangkan, jika dilihat dari total aset masih didominasi DKI Jakarta dengan nilai Rp 1.412,70 triliun (76,73 persen), Jawa Rp 364,24 triliun (19,78 persen), Kalimantan Rp 34,85 triliun (1,89 persen), Sumatera Rp 21,39 triliun (1,16 persen), Sulawesi Rp 4,26 triliun (0,23 persen), Bali NTT dan NTB Rp 2,68 triliun (0,15) persen, lalu Maluku dan Papua Rp 990 miliar (0,05 persen).

Terkait dana Tax Amnesty yang masuk ke pasar modal, Kiki menyebutkan telah masuk sekitar Rp 2 triliun dan itu paling banyak masuk ke efek saham. Catatan itu merupakan data pelaporan wajib pajak peserta Tax Amnesty melalui perusahaan efek dan manajer investasi gateway. Artinya, lanjut dia, bisa jadi yang masuk pasar modal jauh lebih besar, tapi dilakukan tidak melalui gateway. “Dana yang masuk ke pasar modal pasti lebih besar lagi, karena ada yang tidak lewat gateway,” katanya.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menunjuk tiga gateway penampung dana repatriasi yakni perbankan, manajer investasi, dan broker. Sebagai informasi, jumlah uang tebusan amnesti pajak berdasarkan penerimaan Surat Setoran Pajak (SSP) bulan ini telah mencapai Rp 100 triliun.

Untuk itu, KSEI pun terus menyosialisasikan berbagai instrumen investasi kepada gateway Tax Amnesty baik itu perusahaan efek, manajer investasi, maupun bank rekening dana nasabah (RDN).

Sampai saat ini, KSEI mencatat sudah ada 12 bank RDN dan ada dua bank lagi yang akan menjadi bank RDN pada tahun ini. “Dari bank RDN yang ada, ada dana mengendap sekitar Rp 11,6 triliun,” sebut Kiki.

Lebih lanjut, Kiki optimistis jumlah investor bisa tembus diatas 1 juta orang tahun ini. KSEI pun siap memuluskan langkah calon investor untuk berinvestasi di pasar modal. Bahkan, langkah itu meraih penghargaan Marquee Award sebagai The Best Central Securities Depository in Southeast Asia in 2016 versi Alpha Southeast Asia atau predikat sebagai Kustodian Sentral terbaik di Asia Tenggara baru-baru ini.

Seperti diketahui, sepanjang tahun 2016 beberapa pengembangan yang direalisasikan KSEI meliputi implementasi S-Invest, sistem pengelolaan investasi terpadu untuk industri reksa dana di Indonesia yang membuat alur bisnis reksa dana kini lebih efektif dan efisien. Selain itu, bekerjasama dengan Bank Indonesia, KSEI telah melakukan penerapan SID untuk SBN yang diterbitkan Bank Indonesia, sehingga data investor yang tercatat di KSEI semakin lengkap dan terkonsolidasi. KSEI juga berhasil melakukan inisasi untuk mewujudkan kerja sama pelaku pasar modal dengan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen. Dukcapil), Kementerian Dalam Negeri terkait pemanfaatan data kependudukan untuk percepatan pembukaan rekening efek dan layanan jasa pasar modal lainnya.

Tahun ini, KSEI, sambung Kiki juga akan melahirkan kembali kartu AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas). Nantinya, Kartu AKSes memungkinkan investor mendapatkan informasi portofolio efeknya secara chat online. Kartu AKSes menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan keterbukaan informasi di industri pasar modal Indonesia.

KSEI juga dipastikan akan menerapkan electronic voting alias e-voting pada akhir 2017. E-voting akan digunakan untuk mengakomodir penggunaan hak suara investor dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tanpa perlu kehadiran mereka secara fisik.

“Secara infrastruktur sudah bagus sekali, tapi jumlah investor masih sedikit. Ibarat rumahnya bagus, tapi tamunya sedikit,” ujarnya seraya menambahkan, hal ini salah satunya dihambat oleh suku bunga deposito yang masih cukup tinggi, namun pihaknya optimistis pasar modal ke depannya akan jadi pilihan investasi menarik bagi masyarakat.

 

Lona Olavia/FMB

Suara Pembaruan

doraemon

world finance: The decision by CME Group to close many of its open outcry futures trading pits in Chicago and New York came in response to trading volumes falling to just one percent of the company’s total futures volumes. Thus helping to put the final nails in the coffin of a 167-year-old tradition that, for many, embodies the very heart and soul of the global financial market, in favour of the unparalleled efficiency and speed offered by machines.

Though the decision itself was a long time in the making, as a consequence of more and more volume migrating to electronic trading screens that promise greater liquidity and price transparency, when the closing bell finally rang for the last time the mood in the pits was sombre to say the least. “It felt like losing a close friend”, recalled John Pietrzak, a corn broker for more than 35 years. “It certainly wasn’t a celebration.”

The frantic, frenzied style of trading that is a staple of the open-outcry futures pits saw traders hooting and hollering for attention, all the while throwing out bizarre hand signals…

Sentiments such as these are understandable considering his family’s long history on the trading floor. His grandfather first started at the Chicago Board of Trade (CBOT) as a runner when he was just 13 years old ferrying messages between clerks and taking phone orders from customers that would then be passed on to brokers to execute. His father would then join his grandfather in pits in his early 20s. However, his own path to the trading floor, unlike his elders, was not as immediate. Instead, opting to start his financial career as a Certified Public Accountant (CPA), though it wasn’t long before he realised that it wasn’t the right fit for him.

“There really isn’t a lot of thrill in being an accountant”, he said. “So I decided to go down to the trading floor and scream and yell and try and make a lot of money.”

Another veteran of the exchange is Scott Shellady, best known for wearing a black and white cow print jacket to help him stand out from the crowd. While he, along with many of his colleagues had recognised a long time ago that the closing of the pits was inescapable, it didn’t stop him feeling a sense of loss when the inevitable finally came to fruition.

“It was sad”, explained Shellady. “There were a lot of gold guys who came back and toured the floor before they said goodbye. It is a strictly no smoking building, but I saw one guy sit down and have a big fat cigar, which was kind of a cool thing to see. It was a real passing of the torch.”

As a member of the board of directors at the Chicago Mercantile Exchange (CME), Pietrzak knew that if the futures pits continued to transact less than one percent of total CME volume, as they had done for several years, that it would be one of the first places the exchange would look to make changes. Even so, the fact that it took as long as it did to shut down the pits, shows just how difficult a decision it was and what the tradition meant to all those involved.

Hand-to-hand combat
When the CME began the process of stripping away over half of its 35 trading pits on July 2, it wasn’t just taking away a defining feature of the Chicago’s financial centre, but one of the city’s most popular tourist attractions. The frantic, frenzied style of trading that is a staple of the open-outcry futures pits saw traders hooting and hollering for attention, all the while throwing out bizarre hand signals that have become synonymous with the market itself. But while both insiders and outsiders alike will sadly miss the pits, the CME is after all a business and has to listen to its customers.

One of the main drivers behind CME’s decision to close pits was end users demanding access to greater levels of liquidity and transparency, along with wanting an ever-lowering of transactions costs, all of which are easily provided through electronic trading screens. But while these systems may provide access to all of the above in abundance, the one thing they will never be able to emulate successfully is the fun of the floor.

“I just enjoyed the fact that the pits were a form of hand-to-hand combat”, explained Shellady. “The sights, the sounds and smells of the pit that help you make your decisions on a guttural level rather than staring at a computer screen all day and listening to the air conditioning – its just not as fun.”

Not only do the dozens of screens that he and his colleagues now sit behind fail to offer the same buzz that they felt on the floor of the exchange, but they also fail to offer an adequate feel for the market. “There used to be a great sense to the market that you picked up just from the way the crowd reacted and it is very difficult to get that from a screen”, said Pietrzak. “The screen is a machine; a bunch of algorithms, and trying to pick up the rhythm of the market on it requires a very different skillset. You can surround yourself with dozens of screens that give you information that you never had access to down on the floor, but the buzz, the electricity in the room that was always there was something you don’t get fed off of”, he added.

Tech transparency
Traders nowadays needn’t rely on flashy trading jackets or their loud voice in order to buy low and sell high, nor do they require knowledge of the vast array of hand signals designed to communicate their position in the market. Instead, they need to adapt to the speed of electronic trading, along with the many different strategies that allow them to gain the edge in a market where transparency is abundant.

Since the financial crisis in 2008, risk-averse regulators looking to more closely monitor trading activity have acted as a catalyst for the development and proliferation of electronic trading, which is meant to offer greater market efficiency. This relatively new technology is meant to provide more proficient markets by offering greater liquidity, price transparency, and counterparty anonymity, with the trader’s identity being kept a secret to all parties, except the broker nominated to execute the trade.

But while many, including the regulators, favour the transparency offered by electronic trading, many senior traders with experience of both the pit structure and CME’s trading platform GLOBEX, assert that there is a lot of meaningful information on the floor that simply cannot be replicated electronically.

“In my opinion, the screens present less transparency”, said Pietrzak. “When you were in the pit you always knew when the guys that represent hedge funds were buying or selling and when the commercials were buying or selling. But there is almost no way to discern that now.

“I’m looking at my screen right now and I can’t tell you whether the size on the bid side is a hedge fund or an algo”, he added.

In Pietrzak’s opinion the market has traded in the thrill of the floor for not just greater efficiency of trade, but also an increased certainty of trade too. He admits that when he started on the trading floor back in 1979 that often the size of orders on the bid and offer side wouldn’t match up, causing a number of missed trades.

“You’ve effectively traded a certain amount of the transparency for knowing it was Cargill buying corn or Bunge selling wheat”, he explained. “You used to know that by who was selling the orders in the pits for making sure that all those trades and positions were checked and correct. It used to be minutes to confirm a trade, but now it occurs in terra-seconds.”

Human error
The trading floor was once the place that provided the most market colour – those precious nuggets of information that helped investors and traders get a feel for the direction the market was heading that day. The best brokers were the ones that got it right more often than they got it wrong and over time a number of trends arose that helped provide investors with a handle on the market. Old adages like Tuesday reverses a Monday or Turnaround Tuesday were successful for many people in the market.

The trading floor was once the place that provided the most market colour

But with the increased efficiency of electronic trading, offering greater certainty of price, and thus allow people to know more accurately where the market is at any given time has removed the need for such pricing proverbs. But Pietrzak hopes and asserts that losing this common sense approach to the market needn’t be lost and could even be incorporated into automated systems over time.

“Common sense was always important in the pits”, he said. “Not only that, but when you’re wrong, being able to catch yourself and turn it around. Typically machines don’t do that and once they start buying they keep buying. There are some algos that don’t do this and just take advantage of inefficiencies in the market, but the problem is that most of those systems have narrowed the inefficiencies so much that their profitability is diminishing.”

Before the shift to electronic trading human error and misinformation created a lot of inefficiencies, which added greater risk and instability to the market, something that many would like to reduce as much as possible. However, it was these same discrepancies between real and perceived market value in which many traders made their fortunes.

Ultimately, the move to automated systems will provide a far more efficient and fairer market for all, but there are concerns still about a market dominated by machines.

“When you were filling orders or you were trading for yourself and the market got away from you, you could always stop”, said Pietrzak. “You could stop trying to buy and stop trying to sell and just wait for things to settle down, but now, with all the machines all going the same way at the same time that doesn’t happen. There still has to be some human interaction with the markets to make them reliable and give confidence to the investing public that it is still a true market, not just a roulette wheel or a slot machine.”

In the end, much of the fear surrounding electronic trading and the subsequent reduction of human element posing a substantial risk to the market are unfounded. In fact, it is easily argued that behind every automated system is a person tinkering away. Meaning that the human element is still present, but instead of existing in a physical form on a trading floor is incorporated into the algorithms trading strategy in digital form.

Evolve and thrive
Regardless, of the pros and cons of electronic trading, it is the direction that the market has decided to take. Though it didn’t stop a small number of traders attempting to oppose the CME’s plans by requesting the US Commodity Futures Trading Commission (CFTC) to review the potential repercussions the move would have on the market.

Their chances of success were slim to say the least, and in reality, their efforts represented a last-ditch attempt to try and delay the inevitable.

“It was futures traders who wanted to try and keep the pits open for a few more months”, explained Shellady, “but in the grand scheme of things, more people just wanted it to be over and done with. The sooner you make the career change the better”.

The cow-coat wearing trader doesn’t just talk the talk and asserts that change needn’t be seen as a bad thing. He still has a business executing customer orders on the screen, in a similar fashion to the brokers in London. “We are going to adapt and embrace the change rather than run from it”, he added.

The spectacle of the trading floor has not gone away completely, however. The floor-based S&P 500 futures market, which continues to provide an important venue for trading the underlying futures contract for the open outcry S&P 500 options market, will remain open on CME Group’s Chicago trading floor for the time being.

But for those traders that had to say goodbye to the job they love in July, the CME showed why so many refer to it as their home from home, helping floor traders who want to continue trading by making booth space available following the closure of the futures pits.

“Anybody who has been trading in the last five years has to have known that this was coming”, said Pietrzak. “Somebody who plays golf has to adjust their game as they get older and in the same way businesses have to adjust too. People who want to not only survive, but thrive in the future have to change with the times.”

spiral

Liputan6.com, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 1,11 persen dari 5.254,31 ke 5.312,84 pada perdagangan saham pekan ini (16-20 Januari 2017). Sejalan dengan itu, kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) naik 1,13 persen dari sebelumnya Rp 5.705,34 triliun menjadi Rp 5.770,04 triliun.

Kepala Divisi Komunikasi Perusahaan BEI Yulianto Aji Sadono mengatakan, rata-rata volume transaksi mengalami kenaikan yang tinggi. Tercatat, rata-rata volume transaksi perdagangan naik 65,90 persen dari 12,83 miliar saham menjadi 21,29 miliar saham.

“Rata-rata nilai transaksi saham harian selama sepekan naik 17,69 persen Rp 6,32 triliun dari Rp5,37 triliun di pekan sebelumnya,” kata dia dalam keterangan resmi BEI, Jakarta, Sabtu (28/1/2017).

Kemudian, rata-rata frekuensi meningkat 14,78 persen dari 297 ribu kali menjadi 340,89 ribu kali transaksi. Sepanjang pekan ini, investor asing mencatatkan aksi beli bersih.

“Investor asing mencatatkan beli bersih di pekan ini dengan nilai Rp 732 miliar. Sepanjang tahun ini investor asing mencatatkan beli bersih Rp 379,9 miliar,” jelas dia.

Lebih lanjut, kepemilikan saham investor domestik telah mencapai 45,88 persen. Jumlah tersebut menjadi persentasi tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

“Jumlahnya merupakan persentase investor domestik tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Capaian persentase investor domestik tertinggi dalam rentang 10 tahun terakhir sebelumnya terjadi pada 2012 dengan persentase 41,2 persen,” ungkap dia.

Sebagai tambahan, pada pekan ini BEI meresmikan IDX  Incubator di Lantai 16, Menara Mandiri, Jakarta. IDX Incubator merupakan program yang diinisiasi oleh BEI bekerja sama dengan PT Bank Mandiri Tbk untuk memajukan perusahaan start-up dan sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia.

“Peserta yang mengikuti program diharapkan dapat berkembang dan menjadi perusahaan yang layak untuk melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO),” tandas dia.

rose KECIL

INILAHCOM, Palembang – Progam “Yuk Nabung Saham” yang diluncurkan Bursa Efek Indonesia pada November 2015 telah berimbas positif pada peningkatan jumlah investor di Sumatera Selatan pada tahun ini.

Kepala Kantor Perwakilan BEI Palembang Harry Mulyono di Palembang, Jumat (2/12/2016), mengatakan kampanye Yuk Nabung Saham telah memberikan wawasan kepada masyarakat bahwa berinvestasi di pasar modal itu mudah dan murah.

“Program ini sangat sejalan dengan perkembangan pasar modal di Sumsel yang mulai berubah arah sejak tahun 2008 yakni dari pengusaha ke kalangan anak muda bahkan ibu rumah tangga,” kata Harry.

BEI Sumsel mencatat terjadi pertumbuhan jumlah single investor identification (SID) sampai 1.000 akun setelah ada Yuk Nabung Saham mulai diperkenalkan ke masyarakat.

Meski demikian, BEI belum bisa memerinci berapa transaksi yang telah dibukukan dalam program menabung saham itu.

Dia mengatakan pertumbuhan SID yang signifikan juga diikuti dengan pertumbuhan jumlah sub rekening efek (SRE).

Saat ini jumlah SRE di Sumsel tercatat sebanyak 9.807 rekening dan 8.375 SID yang mana berasal dari 15 kabupaten/kota di Sumsel.

Adapun secara sebaran wilayah, Palembang masih mendominasi jumlah investor dengan capaian sebanyak 6.433 SID dan 8.375 SRE.

BEI Palembang sendiri memiliki target bisa menggaet sebanyak 10 persen dari total jumlah penduduk Palembang yang mencapai hampir dua juta jiwa ini.

Oleh karena itu, BEI terus menggenjot sosialisasi ke berbagai segmen, termasuk ke segmen korporasi.

“Semuanya kami beri sosialisasi, kami juga tawarkan ke bagian HRD perusahaan agar pegawainya mau nabung saham,” katanya.

Kampanye Yuk Nabung Saham ini diluncurkan pada tanggal 12 November 2015 oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Bapak Muhammad Jusuf Kalla di Main Hall Gedung Indonesia Stock Exchange.

Melalui program ini, investor cukup menyediakan dana Rp100 ribu untuk mulai menambung saham melalui perusahaan sekuritas. [tar]

– See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2343218/yuk-nabung-saham-dongkrak-jumlah-investor#sthash.3qNVva9K.dpuf

ets-small

 

Sementara itu, Direktur Pengembangan BEI Nicky Hogan memproyeksikan tambahan investor saham baru pada 2017 bisa mencapai sekitar 200.000, atau meningkat 38,5% dari jumlah investor saat ini sebanyak 520.000. Sedangkan pada masa awal kampanye Yuk Nabung Saham tahun ini sudah ada 100.000 investor saham baru.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, bursa cukup agresif melakukan sosialisasi dan edukasi pasar modal kepada masyarakat dan pelajar. Hingga tahun ini BEI telah memiliki 230 galeri investasi di perguruan tinggi di berbagai wilayah Indonesia. “Hampir setiap dua minggu bursa membuka tiga galeri investasi,” ungkap Nicky, di Jakarta, Selasa (22/11).

Antusiasme mahasiswa terhadap pasar modal juga terbukti cukup tinggi. Hampir setiap bursa membuka galeri investasi, dibarengi dengan stand untuk pembukaan rekening saham.

Salah satu contoh tingginya animo mahasiswa tampak saat bursa membuka galeri investasi di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Saat membuka galeri investasi terdapat 3.700 orang yang membuka rekening saham.

Selain akan membuka galeri investasi lagi tahun depan, BEI berniat membuka kantor perwakilan (KP) di seluruh provinsi di Indonesia pada 2017. Saat ini BEI telah memiliki 23 kantor perwakilan di 23 provinsi.

Selain dari mahasiswa, investor saham baru tahun ini juga berasal dari karyawan emiten. Bursa dan anggota bursa (AB) bekerja sama dengan emiten untuk membuka tempat bagi karyawan emiten yang berminat membuka rekening saham.

“Cukup bagus juga jumlah karyawan emiten yang membuka rekening saham tahun ini,” ungkap Nicky.

Tahun depan, lanjut dia, BEI tidak akan membuat program baru untuk melakukan sosialisasi dan edukasi. “Bursa akan fokus dan memperkuat program yang telah berjalan tahun ini,” jelas dia.

http://id.beritasatu.com/home/2017-ada-tambahan-200-ribu-investor/153037
Sumber : INVESTOR DAILY

ets-small

TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Hamdi Hassyarbaini mengatakan dana repatriasi yang masuk ke pasar modal masih minim. Jumlahnya di bawah Rp 1 triliun dari Rp 41 triliun dana yang masuk. Sebanyak Rp 40 triliun berada di bank.

Hamdi mengaku ada dua kemungkinan penyebab rendahnya realisasi tersebut. “Bisa jadi karena dananya belum masuk, atau sudah masuk tapi tidak report ke BEI,” kata dia dalam diskusi Memaksimalkan Investasi Dana Repatriasi Hasil Tax Amnesty yang diselenggarakan Tempo di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis, 17 November 2016.

Menurut Hamdi, banyak wajib pajak yang tidak ingin hartanya terungkap. Sementara untuk bisa berinvestasi di pasar modal, mereka harus menyertakan surat keterangan harta. Akibatnya, mereka memilih tidak melapor kepada BEI.

Hamdi mengatakan BEI telah mengeluarkan sejumlah insentif untuk menarik minat para investor. Insentif yang diberikan berupa diskon crossing fee, diskon listing fee, dan relaksasi prosedur IPO.

Untuk listing fee, diskon diberikan mulai dari 20 hingga 45 persen tergantung besaran dana yang diinvestasikan. Diskon 20 persen diberikan untuk dana yang kurang dari Rp 500 miliar. Sementara dana senilai Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun mendapatkan diskon 30 persen; dana Rp 1 – 3 triliun 35 persen; dan Rp 3 – 5 triliun 45 persen. Sementara untuk dana di atas Rp 5 triliun diskon yang diberikan menyesuaikan.

Namun Hamdi mengatakan sampai masa berlaku diskon habis, yaitu pada periode I, tak banyak wajib pajak yang mengajukan permohonan diskon crossing fee. “Kurang dari 10 pihak,” katanya.

Namun ia mengatakan BEI akan mempertimbangkan pihak yang mengajukan permohonan di periode kedua. “Diskonnya lebih besar dibandingkan diskon biasa,” katanya.

Direktur Pelayanan, Penyuluhan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Hestu Yoga Saksama mengatakan jumlah dana realisasi repatriasi yang masuk ke pasar modal kurang dari Rp 1 triliun. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan dana yang masuk ke perbankan yaitu Rp 40.

Hestu mengatakan realisasi repatriasi baru Rp 41 triliun dari komitmen repatriasi Rp 143 triliun. Dalam program amnesti, repatriasi ditargetkan sebesar Rp 1.000 triliun.

VINDRY FLORENTIN

ets-small

Fighting the tide of economic nationalism and investing more abroad can pay off.

Globalization is under attack.

In June, Brits voted to leave the European Union, with Brexit backers vowing “to take our country back.” In July the GOP nominated a presidential candidate who vows to tear up global trade deals. And you have probably noticed that American stocks are trouncing the world’s, with the S&P 500 up 270% in this bull market, vs. 122% for an index of non-U.S. stocks. So why even bother investing abroad?

Well, that very disparity is a compelling reason to venture overseas. After a seven-year run, U.S. stocks are now more expensive, based on price/earnings ratios, than foreign shares. “Buying more U.S. stocks now is like buying the best house on a bad block,” says Russ Koesterich, head of asset allocation for the BlackRock Global Allocation Fund. “You’re likely paying too large a premium.”

On the flip side, the doom and gloom surrounding the future of the EU iscreating bargains and opportunities. Research Affiliates forecasts that foreign stocks in developed markets like Europe and Japan are likely to return 6.3% a year, after inflation, over the next decade, vs. just 1.2% for the S&P 500 index of U.S. shares. Emerging-market stocks are expected to do even better: 8.1%.

INV09

Of course, as the U.K. and EU negotiate their divorce, there will be more jolts for global stocks—an index of European shares lost 13% in the first few days after Brexit, but has since rallied more than 9%.

The challenge: How do you manage the risk while taking advantage of the opportunities?

Fly into the turbulence

It seems odd to embrace the very regions that are driving market anxiety. But if you are thoroughly diversified globally, “one shock will be balanced out by other parts of the portfolio,” says Christopher Mack of Harding Loevner Global.

The investment manager Gerstein Fisher studied U.S.-only, foreign-only, and globally diversified portfolios over more than 400 rolling 10-year periods since 1970. The firm found that global portfolios (defined as 75% U.S./25% international) delivered the same 10.2% annual return as U.S.-only portfolios—but with less rockiness, notes Gregg Fisher, the firm’s founder. The global strategy never was the worst performer (or the best) in any 10-year period. The U.S. portfolio, by contrast, did the worst 56% of the time.

Keep in mind that from January 2002 through the fall of 2007, the script was flipped. Foreign stocks gained 170%, vs. just 48% for the S&P 500. “There will be a time, I am pretty darn sure, over the next 20 to 30 years where we will get the inverse of the current trend,” says Fran Kinniry, a principal in the Vanguard Investment Strategy Group.

Strike the right balance

Kinniry says allocating 40% of your equities to overseas markets is the risk/reward sweet spot. Vanguard studied foreign diversification and found that as you increase global exposure, your portfolio grows less rocky—until you hit 40%, after which volatility kicks up again.

With a 60% stock/40% bond strategy, put 36% of your overall portfolio in U.S. stocks and stash 24% abroad. Ken Moore of Global View Investment Advisors suggests keeping five to 10 points of that foreign stake in the faster-growing but riskier emerging markets.

Hedge some of your bets

When the dollar gains strength, that reduces the value of foreign returns earned by Americans. And when the buck weakens, the reverse is true. Over time, currency swings even out, but over shorter periods political and economic uncertainty can hammer foreign portfolios that do not neutralize this risk by hedging currencies.

As the euro sank nearly 20% against the dollar in the past two years, Vanguard FTSE Europe ETF VGK -0.04% , which doesn’t hedge, fell 14%. By contrast, WisdomTree Europe Hedged ETF HEDJ -0.89% was up nearly 6%.

Scott Opsal, director of research at the Leuthold Group, says the euro could weaken further if exiting the EU becomes a central issue in upcoming elections in France, Germany, and the Netherlands. “There could be benefit to getting rid of your currency risk as we see how things evolve across Europe,” he says. You can add some currency immunity with HEDJ or Deutsche X-Trackers MSCI Europe Hedged ETF DBEU -0.93% .

dollar small

 

JAKARTA kontan. Jumlah investor pasar modal terus meningkat. Hal ini tercermin dari jumlah Single Investor Identification (SID) yang sebelumnya 430.000 di akhir 2015 bertambah  menjadi 490.000 per Juli 2016.

Jumlah SID yang aktif meningkat 50% dari sebelumnya 57.000 per bulan di akhir tahun 2015, menjadi lebih 85.000 per bulan sampai dengan tengah tahun ini.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hosea Nicky Hogan berharap, investor Indonesia dapat berkuasa di negeri sendiri. Saat ini, jumlah investor di Indonesia masih belum mencapai 1% dari total penduduk, meskipun telah terjadi peningkatan setiap tahun.

“BEI 10 tahun terakhir merupakan bursa dengan return tertinggi di dunia, kenaikan kita 20% selama setahun, kalah sedikit dengan Thailand,” ujar Nicky di Jakarta, Kamis (11/8).

Menurut Nicky, euforia menjadi investor cenderung menguat belakangan ini. Apalagi dengan banyaknya rekor-rekor baru transaksi di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2016. Ini akan mempercepat pengenalan masyarakat kepada investasi di pasar modal, dan mendongkrak jumlah investor baru.

dollar small

Bisnis.com, JAKARTA–Head of Research PT Koneksi Kapital Alfred Nainggolan memprediksikan total kapitalisasi pasar hingga akhir tahun mencapai Rp5.700 triliun. Prediksi tersebut akan tercapai dengan asumsi ada 30 perusahaan baru yang melakukan listing di BEI.

“Kapitalisasi pasar akan naik jika perusahaan yang listing bertambah, right issue dan kenaikan harga saham,” ungkapnya saat dihubungi Bisnis.com, Kamis (15/7/2016).

Alfred menuturkan kenaikan harga saham emiten sangat bergantung pada kinerja perusahaan. Namun, kapitalisasi pasar yang dinilai tumbuh optimal tersebut bisa terhempas bila ada sentimen negatif dari domestik.

Menurutnya, sentimen negatif yang biasa melemahkan pasar saham adalah jika kondisi dan indikator makro ekonomi kurang membaik. Dia mengungkapkan bila pertumbuhan ekonomi melambat, maka kinerja perusahaan pun melambat. Begitu juga sebaliknya.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencetak rekor baru dengan frekuensi harian tertinggi dengan total 377.132 kali transaksi, sepanjang 24 tahun terakhir.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengatakan rekor baru itu akan membuat BEI melangkah menjadi bursa terbesar di Asia Tenggara pada 2020 mendatang. Dia mengatakan jumlah tersebut melebihi pencapaian tertinggi pada 373.249 kali transaksi yang dibukukan pada 10 Juli 2014 silam.

oh BABY: the worst one, for now...

 

JAKARTA ID – Mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia) periode 1991-1996 Hasan Zein Mahmud menilai bahwa perkembangan pasar modal domestik saat ini cukup menggembirakan.

“Banyak indikator industri pasar modal yang maju luar biasa, diantaranya jumlah saham yang bertambah, peningkatan nilai transaksi hingga perkembangan teknologi,” ujar Hasan Zein Mahmud di sela peringatan ulang tahun sistem otomasi perdagangan Jakarta Automated Trading Systems (JATS) di Jakarta, Senin.

Kendati demikian, lanjut dia, perkembangan yang positif di pasar modal Indonesia saat ini bukan berarti tidak ada yang perlu diperbaiki lagi. Likuiditas pasar modal Indonesia masih relatif rendah jika dibandingkan bursa saham di negara tetangga.

“Kita masih tertinggal oleh bursa saham Singapura, Malaysia, dan Thailand,” katanya.

Menurut dia, penambahan jumlah perusahaan tercatat atau emiten di Bursa Efek Indonesia cenderung bejalan lamban. Saat ini jumlah perusahaan tercatat di BEI baru sebanyak 525 emiten.

“Pada 20 tahun lalu (1996), jumlah emiten sebanyak 192, sekarang tercatat sebanyak 525 emiten. Cukup lambat penambahan jumlah emitennya,” katanya.

Ia mengharapkan BEI lebih mendorong perusahaan rintisan (startup) untuk masuk ke pasar modal agar mendapatkan modal ekspansi yang akhirnya dapat berdampak positif bagi perekonomian domestik.

“Pasar modal, idealnya untuk perusahaan startup,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Hasan Zein Mahmud yang juga aktif mengajar di Kwik Kian Gie School of Business mengatakan bahwa pasar modal dunia saat ini, terjadi tren proses demutualisasi Bursa di berbagai negara. Demutualisasi, diharapkan dapat memacu keterlibatan masyarakat lebih dalam.

“Melalui demutualisasi, keterlibatan masyarakat dapat menjadi lebih luas dan Bursa boleh mencari untung atau menjadi lembaga berorientasi pada laba,” katanya.

Kendati demikian, ia mengakui bahwa realisasi demutualisasi membutuhkan proses panjang karena harus merevisi Undang-undang 8/1995 tentang Pasar Modal. Dalam UU Pasar Modal menyebutkan pihak yang diizinkan menjadi pemegang saham BEI hanyalah perusahaan sekuritas atau Anggota Bursa. (ant/gor)

doraemon

JAKARTA okezone – Bagi masyarakat, saham bukan istilah yang asing, sering didengar juga disebut. Tidak sedikit bahkan pernah mendiskusikannya, seperti saat mencuatnya kasus seorang politisi senior yang meminta jatah 20 persen saham PT Freeport Indonesia dengan mencatut nama Presiden Joko Widodo.

Kasus itu sangat menyita perhatian publik dan menjadi diskusi di hampir semua lapisan masyarakat (trending topic), hingga memunculkan anekdot fenomenal, “Papa Minta Saham.”

Walau begitu, mungkin tidak semua orang mengerti apa yang dimaksud dengan saham. Undang Undang (UU) Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007 maupun UU No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal juga tidak menyebutkan definisi dari istilah saham. Meski begitu, dari UU tersebut diketahui bahwa saham merupakan bagian dari modal perusahaan (equity).

Artinya modal sebuah perusahaan terdiri dari atau terbagi dalam saham. Seseorang yang memiliki saham berarti ikut berkontribusi memberi modal ke perusahaan dan otomatis ikut menjadi pemilik perusahaan. Makin besar persentase kepemilikan saham, maka hak dan kewajiban seseorang terhadap perusahaan juga makin besar.

Lalu saham yang merupakan tanda penyertaan atau kepemilikan (sertifikat) seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perusahaan terbatas berwujud selembar kertas (warkat) yang menerangkan siapa pemiliknya. Akan tetapi sejak tahun 2.000, di Bursa Efek Indonesia (BEI) wujud kepemilikan saham tidak lagi warkat namun sudah scripless.

Artinya kepemilikan saham tercatat secara elektronik yang tersimpan dan terdata di PT Kostudian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Dengan begitu saat transaksi jual-beli di BEI terjadi, maka penyelesaian transaksi akan semakin cepat dan mudah karena tidak melalui surat, formulir, dan prosedur yang berbelit-belit.

Kita tinggalkan dulu soal mekanisme penyelesaian transaksi saham tadi. Sebab satu hal yang cukup penting bahwa, menjadi pemegang saham perusahaan, termasuk perusahaan-perusahaan besar berskala nasional maupun multinasional kini bukan mimpi. Semua orang, bahkan dengan dana kecil sekalipun bisa menjadi pemegang saham perusahaan.

Terdapat 524 perusahaan (emiten) sahamnya terdaftar atau tercatat di BEI yang bisa dimiliki oleh publik atau masyarakat. Lagi-lagi tidak harus dengan modal dana yang besar, sebab BEI makin memudahkan masyarakat menjadi investor saham dengan menurunkan satuan lot (lot size) saham dari sebelumnya 500 lembar per lot menjadi 100 lembar per lot. Artinya bila harga saham PT Astra Internasional per lembar Rp6.700, maka orang yang menyukai perusahaan tersebut sudah bisa memiliki sahamnya hanya dengan dana Rp670.000.

Tapi kembali lagi, semakin kecil nilai kepemilikan saham seseorang maka manfaat atau keuntungan yang berpotensi diraihnya juga kecil, begitu pula tingkat risikonya. Ini terkait dengan potensi turun-naik pergerakan harga yang melekat pada saham-saham di bursa. Pergerakan harga tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh kinerja perusahaan tapi juga faktor eksternal pasar.

Tatkala harga saham menurun, maka nilai investasi investor tentu tergerus (capital loss). Sebaliknya saat harga naik, pemegang saham mendapat capital gain (selisih harga saham saat pembelian dengan harga saat saham dijual). Selain capital gain, pemegang saham juga berpotensi mendapat jatah dividen atau laba bersih emiten yang dibagikan. Jumlahnya tentu tidak merata, antara seluruh pemegang saham tapi tergantung pada jumlah atau nilai saham yang dimiliki.

Tapi perlu diingat, emiten tidak harus membagi dividen. Sebab adakalanya emiten mengagendakan ekspansi sehingga seluruh laba harus diinvestasikan atau dibelanjakan untuk mengejar pertumbuhan kinerja pada masa datang. Tidak dilakukannya pembagian dividen juga bisa disebabkan karena perusahaan membukukan kerugian.

Terkait kategorinya, saham-saham yang diperjualbelikan di bursa merupakan saham biasa (common stock). Selain berpotensi mendapat capital gain dan dividen, pemegang saham ini memiliki hak untuk ambil bagian dalam mengelola perusahaan sesuai dengan hak suara yang dimilikinya berdasarkan besar kecil saham yang dipunyai. Semakin banyak prosentase saham yang dimiliki maka semakin besar hak suara yang dimiliki untuk mengontrol operasional perusahaan. Sementara risiko yang ditanggung misalnya saat perusahaan bankrut atau pailit juga sesuai dengan kepemilikannya.

Kategori lainnya yaitu saham preferen. Pemilik saham ini memiliki hak lebih dibanding hak pemilik saham biasa. Pemegang saham preferen akan mendapat dividen lebih dulu dan juga memiliki hak suara lebih dibanding pemegang saham biasa seperti hak suara dalam pemilihan direksi, sehingga jajaran manajemen akan berusaha sekuat tenaga untuk membayar ketepatan pembayaran dividen preferen.(Tim BEI)

(dni)

doraemon

Jakarta – Penyelenggaraan Festival Pasar Modal Syariah 2016 oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), yang didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sangat diminati masyarakat. Selama emapt hari, jumlah pengunjung Festival Pasar Modal Syariah 2016 sebanyak 9.517 orang atau jauh melampaui target awal yang ditetapkan sebanyak 6.000 pengunjung.

Direktur Pengembangan BEI, Nicky Hogan, mengatakan jumlah pengunjung Festival Pasar Modal Syariah 2016 telah 1,5 kali lebih banyak dari target yang telah ditetapkan. “Total transaksi selama Festival Pasar Modal Syariah 2016 berlangsung mencapai Rp 2,30 miliar,” ujar Nicky saat menutup Festival Pasar Modal Syariah 2016 di Gedung BEI, Sabtu (2/4).

Selama Festival Pasar Modal Syariah 2016 dimulai pada Rabu (30/3) hingga Sabtu (2/4), telah terjadi sebanyak Rp 1,05 miliar transaksi keuangan di Anggota Bursa Sistem Online Trading Syariah, Manajer Investasi, dan Bank Agen Penjual Reksa Dana, serta transaksi nonkeuangan yang dilakukan di booth perusahaan tercatat senilai Rp 1,24 miliar. Total produk yang ditransaksikan oleh pengunjung selama acara ini sebanyak 4.032.

Pengunjung terlihat sangat antusias mendalami produk-produk syariah di pasar modal Indonesia yang sudah sangat beragam dengan mengelilingi 44 booth yang ada di Festival Pasar Modal Syariah. Tingginya antusiasme masyarakat juga ditunjukkan dengan jumlah pengunjung yang selalu ramai ketika acara talk show diselenggarakan.

“Bahkan, jumlah pengunjung yang hadir saat talk show melebihi jumlah tempat duduk yang disediakan sehingga banyak pengunjung tetap rela dan antusias mengikuti talk show meski tidak mendapatkan tempat duduk,” tambah Nicky dalam keterangan tertulis yang diterima Minggu (3/4) .

Nicky menambahkan, apresiasi diberikan kepada para pendukung acara Festival Pasar Modal Syariah 2016 yakni kepada sembilan Anggota Bursa Sistem Online Trading Syariah, 20 Perusahaan Manajer Investasi (Reksa Dana Syariah), delapan Perusahaan Tercatat yang termasuk dalam Daftar Efek Syariah, enam Agen Penjual Reksa Dana Syariah (Bank dan Nonbank), OJK dan Self Regulatory Organization (SRO), Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI), PT Program Penyelenggara Perlindungan Investor Efek Indonesia (P3IEI), The Indonesia Capital Market Institute (TICMI), 33 media partner, dan seluruh pengunjung yang telah memeriahkan acara Festival Pasar Modal Syariah 2016.

Melalui Festival Pasar Modal Syariah 2016, yang didukung dengan penyelenggaraan even pasar modal reguler lainnya seperti Sekolah Pasar Modal Syariah, maupun program sosialisasi dan edukasi pasar modal yang rutin diselenggarakan oleh SRO dan OJK membuat Nicky optimistis pasar modal syariah akan terus maju dan berkembang di masa depan.

Paulus Nitbani/PCN

BeritaSatu.com

alert02

INILAH, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan bahwa jumlah investor pasar modal di dalam negeri terus mengalami peningkatan. tampak terlihat dari jumlah rekening efek per Februari 2016 sebanyak 582.052 rekening.

“Jumlah itu meningkat dibandingkan Desember 2015 lalu yang sebanyak 548.384 rekening efek,” tegas Kepala Divisi Pengembangan Investor BEI Irmawati Amran di Jakarta.

Ia optimistis sejumlah program yang BEI rilis akan dapat mendorong jumlah investor di dalam negeri terus meningkat. Salah satu program yang saat ini gencar, yakni Yuk Nabung Saham.

“Yuk Nabung Saham merupakan sebuah kampanye yang mengajak masyarakat Indonesia untuk berinvestasi di pasar modal melalui ‘share saving’. Dengan berbekal mulai dari Rp100.000 setiap bulan, masyarakat dapat membeli saham melalui perusahan sekuritas,” papar dia.

Ia mengemukakan bahwa tujuan dari penyelenggaraan Yuk Nabung Saham yakni meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mulai berinvestasi di pasar modal dengan membeli saham secara rutin dan berkala.

“Jika ingin nabung saham, masyarakat dapat membuka rekening efek di perusahaan sekuritas. Setelah rekening efek jadi, masyarakat dapat menyetorkan dana secara rutin, atau menggunakan fasilitas ‘auto transfer’ di setiap periode yang telah ditentukan dan setelah itu melakukan pembelian saham secara rutin,” kata dia.

Ia mengemukakan bahwa terdapat 10 perusahaan sekuritas yang telah bekerja sama dengan BEI untuk menjalankan program itu. Sebanyak tiga perusahaan sekuritas telah memiliki produk tabungan saham yakni, PT BCA Sekuritas, PT Mega Capital Indonesia, dan PT Indo Premier Securities.

Sementara itu, tujuh sekuritas lainnya menggunakan produk yang ada, PT Phintraco Securities, PT First Asia Capital, PT Phillip Securities Indonesia, PT Maybank Kim Eng Securities, PT Henan Putihrai Securities, PT Sucorinvest Central Gani, dan PT Pacific 2000.

Sebelummnya, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Nicky Hogan mengatakan bahwa dalam rangka mengembangkan jumlah investor, BEI juga akan gencar menyosialisasikan pasar modal syariah dengan menyelenggarakan festival pasar modal syariah pada 30 Maret-2 April 2016.

“Kegiatan itu bertujuan untuk membangun kesadaran dan ketertarikan masyarakat terhadap produk investasi pasar modal berbasis syariah,” kata dia. [tar]

– See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2282871/bei-jumlah-investor-pasar-modal-terus-meningkat#sthash.eWnDrLTS.dpuf

valentineEVERYsmall

Jakarta detik -Indonesia membutuhkan investasi yang besar masuk ke dalam negeri untuk memacu pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Sulit terlalu bergantung kepada konsumsi rumah tangga, apalagi ekspor yang dimungkinkan masih terkontraksi.

“Apa yang bisa dilakukan agar ekonomi tumbuh tinggi? Kalau kami sekarang konvensional saja, yaitu undang investor. Karena bagaimana pun kita butuh investor,” ungkap Menko Perekonomian, Darmin Nasution, dalam seminar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Menara BTN, Jakarta, Rabu (2/3/2016)

Di samping itu, simpanan masyarakat Indonesia di pasar keuangan juga sangat rendah. Sehingga tidak sanggup memenuhi kebutuhan pembiayaan pembangunan di dalam negeri.

“Persoalan mendasar kita adalah saving (tabungan) kita terlalu rendah dibanding investasi yang dibutuhkan. Kelihatannya yang bisa ditempuh adalah undang investor jangka panjang karena perkembangannya jangka panjang, artinya tidak terlalu terpengaruh dengan situasi hari ini,” paparnya.

Banyak investor yang bisa dilibatkan untuk menanamkan modalnya di dalam negeri. Khususnya yang pertama adalah bidang infrastruktur dengan skema kerjasama yang juga disiapkan sebaik mungkin.

“Apakah investor negara, BUMN suatu negara atau investor yang lain melalui PPP (public private partnership) berinvestasi di bidang infrastruktur,” terang Darmin.

Setelah infrastruktur, maka bergeser ke investasi yang lebih umum, seperti pariwisata. Sektor ini memang terlihat sederhana, akan tetapi banyak hal yang harus dibenahi, baik dari regulasi hingga keterbatasan infrastruktur. Dari sektor pariwisata

“Maka kami betul-betul berusaha lahirkan beberapa kawasan yang didorong jadi destinasi tujuan wisata. Kami punya beberapa daerah yang jadi prioritas dan ada banyak yang tertarik, meski kami tahu ini tidak mudah. Mulainya gampang, tapi menjadikannya tujuan wisata butuh upaya besar. Perlu bukan hanya keindahan alam tapi harus ada kombinasi dengan budaya kesenian. Kalau di Bali malah conference hall,” paparnya.

Sektor lainnya yang siap untuk didukung adalah perikanan. Darmin melihat potensi besar dalam sektor tersebut, walaupun sekarang masih terlihat belum menjanjikan. “Perikanan yang merupakan sektor dengan potensi besar. Itu menarik,” tukasnya.

(mkl/wdl)

reaction_1

JAKARTA kontan. Faisal Basri, ekonom dan politikus kelahiran Bandung, mengapresiasi kinerja pasar saham Indonesia per 17 Februari 2016 (year-to-date).

Ekonom berusia 56 tahun ini, dalam blog-nya, faisalbasri01.wordpress.com, mengutip artikel di majalah Economist terbaru (19/02).

NULL

KInerja pasar saham Indonesia, seperti dikutip dari majalah Economist (19/02).

Artikel tersebut menyebutkan, dalam terms dollar AS, kinerja pasar Indonesia naik 5,9% dibandingkan dengan indeks akhir 2015.

“Pertumbuhan positif yang lebih tinggi dalam US$ terms dibandingkan dengan dalam rupiah disebabkan oleh nilai tukar rupiah yang menguat (apresiasi),” kutip Faisal.

Lebih lanjut, dia tambahkan bahwa kinerja pasar saham Indonesia sangat dipengaruhi oleh investor asing.

Perkembangan positif dalam dua minggu terakhir diharapkan berlanjut.

“Tidak hanya di pasar saham, tetapi juga diharapkan terjadi di pasar obligasi, dan terutama penanaman modal asing langsung,” lanjut Faisal.

Ekonom Universitas Indonesia ini mem-posting apresiasinya melalui jejaring sosial Twitter.

Dia melanjutkan, arus modal masuk asing sangat menentukan stabilitas makroekonomi karena defisit perdagangan barang dan jasa (current account)diperkirakan bakal meningkat.

“Harus pula diantisipasi risiko arus modal keluar dari emerging markets yang diperkirakan bakal terjadi cukup besar walaupun tidak sebesar tahun lalu,” tulis Faisal.

reaction_1

JAKARTA. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Nicky Hogan mengatakan, sekolah pasar modal (SPM) akan mencetak banyak calon investor baru di pasar saham Indonesia. Apalagi, pelaksanaannya hampir 13 kali dalam setiap bulan.

Dari jumlah peserta, kata Nicky, per harinya diikuti oleh 100 calon investor. Sedangkan pelaksanaannya dilakukan pada hari Selasa, Rabu, Kamis dan Sabtu di akhir bulan. Jika diambil rata-rata setiap kelas diisi oleh 50 calon investor, maka setiap bulan akan ada sekira 650 calon investor.

“Mungkin kita harapkan dari sini kalau tadi anggap sebulan katakanlah 500-600-an, saya rasa bisa lebih 5.000-6.000 sebetulnya, dan ini kita bicara baru Jakarta saja loh, SPM ini berlaku untuk seluruh kantor perwakilan bursa,” kata Nicky di BEI, Jakarta, Rabu (17/2/2016).

Nicky melanjutkan, SPM ini terdapat 19 anggota bursa yang menjadi partner. SPM kali ini juga langsung dilakukan sekaligus, di mana para calon investor pada satu sesi kelas langsung dapat membuka rekening dana nasabah.

“Mereka diwajibkan untuk membuka rekening 100 ribu, ya karena memang saat waktu level II nanti siang mereka langsung di perusahaan sekuritasnya buka rekening dan bisa melakukan transaksi langsung di hari yang sama. Jadi dari pagi enggak ngerti apa-apa, pulang bawa pulang saham, untuk hastag-nya pulang bawa saham,” tambahnya.

Dia menambahkan, saat ini beberapa kantor perwakilan bursa di daerah sudah melaksanakan SPM lebih dahulu per awal Januari 2016.

“Jakarta justru baru mulai, karena SPM kan konsepnya kegiatan rutin yang dilakukan oleh bursa, hanya mekanismenya kita padatkan seperti itu, jadi kita mengarahkan peserta itu bisa langsung menjadi investor,” tukasnya.

http://economy.okezone.com/read/2016/02/17/278/1314207/peserta-sekolah-pasar-modal-pulang-bawa-saham
Sumber : OKEZONE.COM

alert02

 

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia menggandeng 19 anggota bursa menggelar Sekolah Pasar Modal yang menyasar masyarakat.

Sekolah Pasar Modal (SPM) dan Sekolah Pasar Modal Syariah (SPMS) ialah program edukasi dan sosialisasi pasar modal yang digelar berkala oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Nicky Hogan, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, mengatakan bursa dan 19 anggota bursa akan mengedukasi peserta SPM soal investasi dan mekanisme menjadi investor saham. Juga memberikan edukasi tentang teori pemilihan saham untuk diinvestasikan.

Setiap peserta diwajibkan membuka rekening senilai Rp100.000 sehingga dapat langsung melakukan transaksi dengan perusahaan efek saat SPM digelar.

Menurut Nicky, dalam satu bulan, BEI membuka 13 kelas. Rinciannya, pada tiap pekan, Selasa diadakan SPMS, lantas Rabu dan Kamis digelar SPM. Pada hari Sabtu akhir bulan juga dibuka kelas. Satu kelas dapat menampung 100 peserta.

“Anggap satu bulan ada 650 orang. Maka, setahun ini bisa sekitar 5.000-6.000 orang,” kata Nicky, Rabu, (17/2/2016).

Perhitungan itu hanya untuk SPM dan SPMS di Jakarta. Nicky menuturkan kelas ini dibuka juga di kantor perwakilan bursa dengan kapasitas 30-50 orang per kantor perwakilan bursa.

SPM dan SPMS ini merupakan salah satu kendaraan bursa untuk menambah jumlah investor saham. Target Nicky, tahun ini minimal terjaring 200.000 investor saham baru. Hingga saat ini terdapat 450.000 investor saham berdasarkan single investor identification/ SID.

“Target minimal 200.000 tahun ini setara 50% dari total investor sekarang” ucap Nicky.

http://market.bisnis.com/read/20160217/193/519923/tambah-investor-bei-dan-19-anggota-bursa-gelar-sekolah-pasar-modal
Sumber : BISNIS.COM

oh BABY: the worst one, for now...

Bisnis.com, JAKARTA – Kapitalisasi pasar indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat naik 4,54% sepanjang tahun ini.

Berdasarkan data BEI yang dikutip Bisnis, Minggu (7/2/2016), kapitalisasi pasar IHSG per Jumat (5/2/2016) tercatat sebesar Rp5.094,26 triliun.

Nilai tersebut meningkat jika dibandingkan dengan posisi di akhir 2015 lalu yang tercatat sebesar Rp4.872,70 triliun.

Peningkatan kapitalisasi pasar IHSG juga diiringi dengan aksi beli investor asing di pasar saham yang mencapau Rp410 miliar secara tahunan (year to date) dan Rp2,73 triliun pada pekan pertama bulan ini.

IHSG pun mencatatkan kenaikan 3,98% atau 183,78 poin ke level 4.798,95 sepanjang periode perdagangan 1-5 Februari 2016. Adapun secara tahunan indeks menguat 4,48% atau 205,94 poin.

Rata-rata nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan ini mengalami kenaikan 13,3% menjadi Rp6,30 triliun dari Rp5,56 triliun di akhir pekan lalu.

Namun rata-rata volume transaksi harian mengalami koreksi 7,14% dan rata-rata frekuensi harian kenaikan 3,48%.

Direktur Utama Tito Sulistio dalam keterangan tertulis mengatakan performa positif IHSG di sepanjang pekan ini karena adanya akumulasi yang dilakukan oleh pemodal pada saham-saham berkapitalisasi besar dan memiliki pengaruh signifikan terhadap koefisien IHSG.

Saat ini ada sekitar 20 perusahaan besar yang tercatat di BEI yang menguasai 60% kapitalisasi pasar IHSG.

ets-small

JAKARTA kontan. PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyatakan bahwa hingga kemarin (22/12) data yang tercatat di KSEI menunjukkan terjadi kenaikan jumlah investor Indonesia sebanyak 20% dari tahun sebelumnya menjadi 432.571 orang.

Dari sisi data operasional perusahaan, total aset yang tercatat di C-BEST hingga akhir November lalu, menunjukkan penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 9%. Pada tahun lalu tercatat sebesar Rp 3,15 triliun dan turun menjadi Rp 2,87 triliun.

Margeret M Tang, Direktur Utama KSEI mengatakan penurunan itu terjadi sebagai imbas dari penurunan yang terjadi terhadap IHSG. Namun, jumlah efek yang terdaftar di KSEI meningkat pada akhir November lalu.

“Jumlah Efek yang terdaftar di KSEI, per akhir November 2015, meningkat dari tahun sebelumnya menjadi  1.240 Efek dari  1.130 Efek,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (23/12).

Ia mengatakan, akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi untuk investor lokal agar memiliki investment minded. Hal ini sejalan dengan pengembangan-pengembangan yang dilakukan KSEI untuk memudahkan berinvestasi di pasar modal.

“Kita sosialisasi ke investor juga, maka kita adakan sosialisasi dan edukasi investor. Kita ada 200 juta penduduk, masa investornya hanya 400 ribu orang? Kita mau, investor Indonesia punya investment minded,” lanjutnya.

Oleh karena itu, KSEI banyak melakukan perbaikan untuk dapat menarik calon investor baru. Harapannya, perbaikan tersebut akan menarik minat masyarakat berinvestasi dan memberikan dampak yang cukup baik terhadap pasar modal.

“Tahun ini, banyak pengembangan yang sedang dan telah KSEI laksanakan. Seluruhnya merupakan wujud dari dukungan KSEI terhadap pengembangan infrastruktur pasar modal Indonesia. Serta, yang paling penting adalah untuk memberikan kenyamanan bagi investor, karena ini dapat menarik calon investor baru,” pungkasnya.

oh BABY: the worst one, for now...

INILAHCOM, Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan ada kenaikan transaksi harian.

Chairudin Berlian, Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan, transaksi tersebut akan naik dari tahun sebelumnya.

“Transaksi tahun ini Rp6 triliun akan naik tahun depan menjadi Rp7 triliun,” kata dia di Jakarta, Selasa (24/11/2015).

Chairudin mengatakan, transaksi tumbuh tipis lantaran menyesuaikan dengan kapasitas investor yang melakukan transaksi.

Bagi BEI, lanjut dia, target transaksi tersebut dianggap besar karena akan naik Rp1 triliun transaksi harian. “Bagi kita lumayan, karena kita ada 430 ribu investor,” jelas dia. [jin]

– See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2254636/bei-pastikan-transaksi-harian-rp7-triliun#sthash.bHmQF8Pl.dpuf

oh BABY: the worst one, for now...

INILAHCOM, Palembang – Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Provinsi Sumatera Selatan membidik mahasiswa untuk mendokrak jumlah investor berusia muda di pasar modal.

Kepala Kantor Perwakilan BEI Sumsel Selatan Early Saputra di Palembang, Jumat (20/11/2015), mengatakan, pengenalan pasar modal pada kalangan mahasiswa ini dimaksudkan juga untuk mendapatkan sumber daya unggul lantai bursa sekitar 10 tahun ke depan.

“Seorang Warren Buffet (pelaku pasar modal kawakan asal Amerika Serikat) memulai pada usia sangat muda yakni 14 tahun, baru di tahun ke 10, dia mendapatkan buahnya, artinya perlu proses,” kata Early.

Lantaran itu, BEI sejak beberapa tahun terakhir mengajak pemangku kepentingan untuk gencar menyosialisasikan terutama ke kalangan anak muda.

Belum lama ini, BEI menyosialiasikan ke SMA Negeri 5 Palembang dengan memberikan buku-buku mengenai pasar modal ke perpustakaan sekolah tersebut.

Ia mengatakan upaya ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing pasar modal Tanah Air memasuki Era Masyarakat Ekonomi ASEAN pada akhir 2015.

“Jika dibandingkan dengan negara ASEAN, Indonesia sudah jauh tertinggal baik dari sisi jumlah investor dan emiten. Artinya jika ini tidak dikejar dari sekarang maka pasar modal Indonesia bisa benar-benar didominasi asing, karena dari infrastruktur dan Sumber Daya Manusia-nya terbilang sangat kurang,” kata dia.

Saat ini saja dari jumlah pialang, Indonesia sudah jauh tertinggal dibandingkan Malaysia, Singapura, dan Thailand. Malahan, dikenal istilah ‘kutu loncat’ dalam sekuritas Tanah Air untuk menggambarkan betapa rendahnya pertumbuhan SDM-nya.

Selain itu, jika membandingkan dari jumlah investor, Indonesia hanya memiliki 400 ribu orang dari jumlah penduduk yang mencapai 270 juta jiwa. Sementara, Malaysia sudah mencapai 4 juta investor atau 13 persen dari populasi dan Singapura memiliki 1,5 juta investor atau 30 persen dari populasi.

Mendapati kenyataan ini, maka tidak ada cara lain selain berupaya maksimal meningkatkan penetrasi pasar modal yang sejauh ini masih di bawah 3,7 persen jika dibandingkan jasa keuangan lainnya.

Salah satunya melalui galeri investasi yang saat ini ada dua kampus yakni STIE MDP dan STIE Musi Palembang.

Menurut Early, sebanyak146 galeri investasi di Indonesia telah bersumbangsih dalam penambahan jumlah investor yakni sebanyak 13 ribu per September 2015 dengan nilai transaksi mencapai Rp500 miliar.

Sementara untuk perbandingan, jumlah investor dari seluruh provinsi di Indonesia yakni ada di 19 kota berjumlah 38 ribu orang, sementara khusus untuk Jakarta berjumlah 48 ribu orang.

“Dari jumlah investor memang bertambah, tapi investor dari galeri investasi ini juga rentan tidak aktif karena umumnya hanya untuk belajar. Tapi tidak masalah, ini dimaksudkan sebagai gerbang dari kalangan muda untuk mengenal pasar modal,” ujar pialang yang mulai belajar di Galeri Investasi Universitas Andalas Padang ini. [tar]

– See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2253902/bei-bidik-mahasiswa-dongkrak-jumlah-investor-muda#sthash.25L3dFVm.dpuf

 

 

oh BABY: the worst one, for now...

Oleh Ryan Filbert
@RyanFIlbert

KOMPAS.com – Seperti biasa, setiap orang akan selalu mencari hal terbaik dalam memilih sesuatu. Memang sudah menjadi hukumnya bahwa kita akan mencari barang termurah, dengan kualitas terbaik, mencari ilmu terbaik untuk menghasilkan keuntungan tertinggi.

Sering kali saya juga ditanya mengenai strategi dan “jurus” untuk memilih saham yang menguntungkan. Tidak jarang juga satu orang dengan yang lainnya memperdebatkan dan mengklaim bahwa metode dan strateginya adalah yang terbaik.

Saya kebetulan baru 12 tahun mengenal dunia investasi dantrading pada pasar modal, baik di pasar modal Indonesia maupun dunia. Saat memulai, saya pun ingin mencari kira-kira “ilmu sakti” apa dalam saham agar bisa mendapat untung.

Apakah menguasai analisis teknikal, analisis fundamental, atau ada jurus lain, misalnya bisa mendeteksi pergerakan uang di pasar yang terkenal dekat dengan bandar agar bisa terus untung.

Alhasil, saya pun mempelajari satu per satu, meskipun sampai hari ini juga masih belajar. Sampai hari ini, saya belum menemukan satu analisis pun yang selalu menguntungkan dalam segala kondisi.

Berbeda dengan banyak pendapat orang, saya pribadi merasa bahwa apa pun metode seseorang memilih portofolio trading atau investasi baik adanya.

Tidak ada yang salah, sekalipun metode tersebut akhirnya salah. Karena ya memang tidak ada selalu benar.

Juga sama halnya, tidak ada yang salah apakah seseorang menjadi seorang investor, pedagang atau trader, atau bahkan “penjudi” di pasar modal. Mengapa demikian? Karena dari setiap kategori rupanya menghasilkan nama dan cerita kesuksesannya masing-masing.

Sangat sedih apabila saya mendengar, satu kelompok menjelekkan kelompok lainnya hanya lantaran memiliki kriteria dan strategi pemilihan yang berbeda, karena ada keunggulan dan kelemahannya masing-masing.

Contohnya, ada seseorang yang sedemikian fanatik dengan analisis teknikal dan perpaduan penghitungan saham dengan statistika, dan ada orang lain yang menjadi pelaku pasar dengan menggunakan metode pembelian saham berdasarkan laporan keuangan. Keduanya saling mengklaim sebagai yang terbaik.

Bagi saya, analisis teknikal bisa memberikan sebuah “pesan” jauh lebih cepat dalam jangka pendek dan itu hanya mengenai harga serta banyaknya minat (volume transaksi), sedangkan metode laporan keuangan adalah sebuah penilaian terhadap nilai perusahaan sesungguhnya.

Semua analisis baik adanya. Yang bisa jauh lebih berbahaya adalah bila seseorang tidak memiliki sebuah dasar dan analisis apapun. Selain itu, akan jauh lebih berbahaya bila seseorang tidak disiplin dalam bertransaksi sebagai pelaku pasar.

Yang berbahaya bukanlah orang yang siap menanggung rugi ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Yang berbahaya adalah orang yang memaksakan impiannya harus terjadi pada portofolio saham yang dia miliki.

Salam investasi untuk Indonesia

JAKARTA-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) kembali menggelar Investor Summit dan Capital Market Expo 2015 yang diikuti total 81 emiten.

Investor Summit dan Capital Market Expo 2015 (ISCME) ini akan diadakan di Jakarta pada 9-13 November 2015.

Direktur Utama BEI, Tito Sulistio di Gedung BEI, Jakarta, kemarin mengatakan mengusung tema yang sekaligus akan diluncurkan secara seremonial, “Yuk Nabung Saham”, tujuan BEI tidak semata fokus pada penambahan jumlah investor baru dan jumlah investor aktif, namun juga berupaya menanamkan kebutuhan berinvestasi di pasar modal.

“Konsep “Yuk Nabung Saham” adalah suatu kampanye pasar modal berkala nasional yang bertujuan meningkatkan awareness masyarakat terhadap pasar modal Indonesia,” katanya.

Selain itu ”Yuk Nabung Saham” merupakan ajakan kepada masyarakat, baik yang sudah menjadi investor maupun yang masih calon investor, untuk berinvestasi secara rutin dan berkala di pasar modal.

“Diharapkan investasi di pasar modal dapat menjadi salah satu sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” tuturnya.

Dalam pelaksanaannya, BEI menggandeng perusahaan tercatat, perusahaan sekuritas, manajer investasi, dan seluruh galeri investasi BEI di seluruh Indonesia untuk menjadi mitra dalam berbagai kegiatan edukasi dan pemasaran yang berkaitan dengan kampanye ini.

Untuk jumlah pengunjung per hari, BEI menargetkan sebanyak 1.000 orang dengan sasaran investor ritel, khususnya investor domestik, institusi, akademisi, profesional, eksekutif, dan masyarakat umum.

Adapun 81 emiten yang melakukan presentasi dalam ISCME 2015 adalah PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Sekar Bumi Tbk (SKBM), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA), PT MNC Land Tbk (KPIG), PT Toba Bara Sejahtra Tbk (TOBA), PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), PT Lautan Luas Tbk (LTLS), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO), PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON), PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Timah (Persero) Tbk (TINS), PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), PT PP Properti Tbk (PPRO), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Asahimas Flat Glass Tbk (AMFG), PT Metropolitan Land Tbk (MTLA), PT Soechi Lines Tbk (SOCI), PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), PT Panin Sekuritas Tbk (PANS), PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Acset Indonusa Tbk (ACST), PT BPD Jawa Timur Tbk (BJTM), PT Panorama Sentrawisata Tbk (PANR), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO),PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO), PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), PT Sumberdaya Sewatama (SSMM), PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT), PT Sentul City Tbk (BKSL), PT Tifa Finance Tbk (TIFA), PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), PT Blue Bird Tbk (BIRD), PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF), PT Bank Permata Tbk (BNLI), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI), PT MNC Investama Tbk (BHIT), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Bank Victoria International Tbk (BVIC), PT Pan Brothers Tbk (PBRX), PT Global Mediacom Tbk (BMTR), PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP), PT Astra Graphia Tbk (ASGR) dan PT Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk (RBMS).(

http://id.beritasatu.com/home/81-emiten-siap-ramaikan-investor-summit-2015/131578
Sumber : INVESTOR DAILY

reaction_1

Investasi Saham Lebih Untung Dibanding Deposito, Ini Penjelasan Dirut BEI

Michael Agustinus – detikfinance
Kamis, 15/10/2015 19:51 WIB

Jakarta -Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR hari ini, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mempromosikan potensi keuntungan yang bisa diperoleh dari investasi saham. Menurutnya, lebih baik membeli saham di pasar modal daripada menyimpan uang di deposito bank.

“Pasar modal adalah sarana investasi yang sangat cocok untuk jangka panjang. ‎Return (mbal hasil) tahunan saham lebih besar daripada deposito,” kata Tito dalam rapat kerja dengan Komisi XI di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (15/10/2015).

Tito memberikan gambaran, rata-rata keuntungan yang diperoleh dar‎I deposito bank dalam jangka waktu 5 tahun hanya 6,39% dan 7,44% dalam 10 tahun. Sementara rata-rata return tahunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam 5 tahun mencapai 16,72% dan 24,35% dalam 10 tahun, 3 kali lipat deposito.

Contoh lainnya, saham PT Astra Internasional Indonesia Tbk (ASII) return tahunannya rata-rata 18,85% dalam 5 tahun dan 39,58% dalam 10 tahun. Saham BRI (BBRI) mencapai 26,75% dalam 5 tahun dan 28,2% dalam 10 tahun. Saham Unilever (UNVR) return-nya rata-rata 24,62‎% dalam 5 tahun, 26,65% dalam 10 tahun.

Tito menambahkan, saham Unilever di Indonesia naik lebih dari 1.000 kali lipat dalam 23 tahun. Ketika mulai Initial Public Offering (IPO) pada 1982, kapitalisasi pasar Unilever masih Rp 29,21 miliar. Saat itu Unilever melepas 9,2 juta lembar saham dengan harga IPO Rp 30 per lembar.

“Sekarang kapitalisasi pasar Unilever Rp 298,33 triliun per 18 September 2015. Harga sahamnya saat ini Rp 39.100 per lembar, sudah naik lebih dari 1.000 kali lipat,”‎ ucapnya.

Tetapi meski memiliki potensi keuntungan ‎besar, sangat sedikit orang Indonesia yang mau berinvestasi saham. Menurut data BEI, jumlah investor di pasar modal Indonesia baru 407.000 orang dari total populasi 250 juta penduduk.

Dari 407.000 investor itu, hanya kurang lebih 25.000 yang merupakan investor aktif alias cuma 0,01 persen penduduk Indonesia.

Jumlah penduduk yang bertransaksi di bursa ini tergolong minim jika dibanding negara tetangga yang lebih kecil seperi Malaysia dan Thailand.‎

“Thailand yang penduduknya 67 juta, investornya di pasar modal 974.000, yang aktif 253.000,” ungkap Tito.

Karena itu, BEI melakukan berbagai cara untuk menarik masyarakat Indonesia supaya lebih banyak berinvestasi saham di bursa. Caranya dengan meningkatkan reputasi bursa efek, optimalisasi informasi kebursaan, penguatan infrastruktur, pengembangan produk, membuat aturan yang kondusif, dan sebagainya.

“Kami ingin BEI menjadi sarana pemerataan (kesejahteraan) melalui kepemilikan‎ saham,” tutup Tito.

(ang/ang)

reaction_1

, JAKARTA— Meski pasar bergejolak, PT Mandiri Sekuritas (Mansek) tidak serta merta mengendurkan pencarian investor baru.  Sepanjang tahun ini, Mansek sudah menambah sekitar 6.675 single investor identification (SID).

Dengan penambahan tersebut, total SID yang tercatat di Mansek mencapai 44.000 SID. “Kami menargetkan bisa mencapai 50.000 investor baru tahun ini,” kata Direktur Utama Mansek Abiprayadi Riyanto di Jakarta, Senin (28/9/2015).

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan Mansek baru saja terpilih sebagai perusahaan efek terbaik dengan penambahan investor terbanyak tahun ini. “ Semoga bisa terus menambah jumlah nasabahnya agar pasar saham semakin bergairah,” kata Tito.

Pada sisi lain, jumlah investor saham dan obligasi yang tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia sudah menembus 400.000.

KSEI mencatat hingga 22 September 2015 jumlah identifikasi tunggal investor (single investor identification/ SID) mencapai 404.044. Angka tersebut mencakup investor saham dan investor obligasi. Dalam jangka panjang, otoritas pasar modal menargetkan terdapat 1 juta investor.

Jakarta detik -Berinvestasi di saham bukan lagi diperuntukkan bagi kalangan atas dengan modal segudang. Saat ini, hanya dengan Rp 1 juta, investor ritel bisa memulai untuk berinvestasi di saham.

Kondisi pasar saham yang anjlok, bisa dijadikan masyarakat sebagai peluang untuk memulai investasi.

Berinvestasi di saham kini bisa dilakukan sendiri melalui online trading. Banyak perusahaan sekuritas menyediakan jasa online trading, misalnya saja BNI Securities.

Melalui esmart BNI, investor bisa melakukan transaksi saham sendiri melalui online trading. Bisa diakses menggunakan desktop, smartphone, dan web based dan operating system.

“Pasar saham lagi anjlok justru saatnya beli, saham lagi murah. Transaksi saham juga sekarang sudah murah, cuma Rp 1 juta sudah bisa buka account,” kata Equity Sales BNI Securities Nurul Qoyyimah saat disambangi detikFinance, di Indonesia Banking Expo (IBEX) 2015, di JCC, Senayan, Kamis (10/9/2015).

Dia menjelaskan, dengan investasi sebesar Rp 1 juta, investor sudah bisa punya account saham. Dengan nominal tersebut, investor bisa memilih jenis saham yang akan dibeli, tentunya disesuaikan dengan jumlah nominal yang ada.

“Nanti kita buatkan Rekening Dana Investor (RDI). Setelah mengisi formulir lengkap dan menyertakan materai nanti kita aktifkan. Nasabah juga bisa pilih sahamnya sendiri. Untuk memulai transaksi, bisa kita ajarkan dulu,” jelas dia.

Nurul menyebutkan, saat ini biaya atau fee untuk jual dipatok 0,3%, sementara fee beli 0,2%. Itu fee transaksi jika dilakukan sendiri melalui online trading.

Sementara untuk biaya transaksi menggunakan jasa broker biayanya berbeda, untuk fee jual 0,35% dan 0,25% untuk fee beli.

Nurul menambahkan, semua persyaratan akan diproses dan akan diaktivasi setelah 1-2 minggu.

“Fotokopi KTP, NPWP, materai 2 lembar yang Rp 6.000. Prosesnya 1-2 minggu. Kalau untuk cairkan dana bisa transfer ke beberapa rekening, bisa dipilih Mandiri, BNI, BCA,” kata Nurul.

Banyak cara miliarder membangun bisnisnya. Namun 1 pola pikir ini dipastikan ada dalam pemikiran 1.200 orang kaya di dunia.

Dream – Orang kaya cenderung memiliki pemikiran yang berbeda dari kebanyakan orang. Mereka punya mentalitas dalam setiap tindakan; mereka berpikir tentang uang secara logis dan mereka melihat uang sebagai teman.

Itulah yang ditemukan Steve Siebold, jutawan mandiri dan penulis “How Rich People Think,” setelah mempelajari lebih dari 1.200 orang terkaya di dunia selama 30 tahun terakhir.

Kendari memiliki pemikiran berbeda, penelitian Siebold menunjuka jika ada satu pola pikir dari 1.200 orang kaya yang sama. Mereka cenderung menghindari nostalgia.

Di saat kebanyakan orang terlena dengan manisnya masa lalu, orang-orang kaya bermimpi untuk masa depan dan selalu optimis tentang segala sesuatu yang akan datang.

“Orang-orang yang hanya memikirkan hari-hari terbaik di belakang mereka jarang mendapatkan kaya, dan sering mendapatkan ketidakbahagiaan dan depresi,” Siebold menulis dalam bukunya.

Siebold menambahkan jutawan mandiri menjadi kaya karena mereka bersedia untuk bertaruh tentang diri mereka sendiri, termasuk tentang impian, tujuan, dan ide-ide mereka di masa depan yang mungkin penuh risiko.

Pola pikir yang berorientasi masa depan ini tidak berarti mereka benar-benar mengabaikan masa lalu, Siebold menekankan. “Mereka menghargai dan belajar dari masa lalu saat berada di masa sekarang dan memimpikan masa depan.”

Tak hanya bermimpi, Siebold mengatakan orang-orang kaya yang sukses menghabiskan waktu tanpa kenal lelah dan bersabar untuk merencanakan serta mewujudkan impian mereka.

Kemampuan untuk menghindari nostalgia dan melihat ke arah masa depan yang tidak diketahui arahnya itu telah membentuk keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Bahkan mereka sangat berharap bisa keluar dari zona nyaman dan mendapat tantangan di masa depan.

“Selalu ada harga yang harus dibayar untuk menjadi kaya, tetapi jika mereka memiliki ketangguhan mental untuk menahan rasa sakit sementara, mereka dapat menuai hasil kekayaan melimpah selama sisa hidup mereka,” ujar Siebold

reaction_1

Frekuensi Transaksi Efek Meningkat 46,5 Persen
Rabu, 12 Agustus 2015 | 9:36

 

JAKARTA-Perseroan Terbatas Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat peningkatan frekuensi penyelesaian transaksi efek sebesar 46,5 persen pada semester pertama 2015 menjadi 2.178.110 kali dari 1.486.272 pada periode sama tahun lalu.

“Sejalan dengan peningkatan itu, KSEI selaku lembaga penyimpanan dan penyelesaian transaksi telah melakukan serangkaian pengembangan infrastruktur pasar modal untuk mempermudah investor,” kata Direktur Utama KSEI Margeret M. Tang dalam siaran pers di Jakarta, Selasa.

Perseroan Terbatas KSEI, kata dia, berhasil menyelesaikan salah satu “milestone” pasar modal Indonesia, yaitu fasilitas penyelesaian transaksi dana melalui Bank Indonesia Fasilitas itu, lanjut dia, memungkinkan pemegang rekening KSEI untuk melakukan penyelesaian dana secara lebih mudah dan cepat, karena menggunakan sistem Bank Indonesia yang lebih terpusat.

“Perluasan jaringan pasar modal itu, dilakukan KSEI melalui kerja sama dengan sembilan bank administrator rekening dana nasabah (RDN) yang dua di antaranya merupakan bank syariah,” katanya.

Sembilan bank RDN itu, yakni Bank Central Asia Tbk., Bank CIMB Niaga Tbk., Bank Mandiri Tbk., Bank Permata Tbk., Bank Rakyat Indonesia Tbk., Bank Central Asia Syariah, Bank Negara Indonesia Tbk., Bank Sinarmas Tbk., dan Bank Syariah Mandiri.

Sementara itu, KSEI mencatat total aset di KSEI sampai dengan 31 Juli 2015 sebesar Rp3.089,05 triliun, meningkat tipis dibanding dengan data per 25 Juli 2014 sebesar Rp3.082,77 triliun.

Total aset saham yang tercatat di KSEI sampai dengan 31 Juli 2015, kepemilikannya masih didominasi oleh investor asing. Namun, secara nilai mengalami penurunan dari Rp1.810,48 triliun (65 persen) pada tanggal 25 Juli 2014 menjadi Rp1.757,71 triliun (64 persen) pada tanggal 31 Juli 2015.

Untuk total aset obligasi korporasi dan sukuk yang tercatat sampai dengan 31 Juli 2015, kepemilikannya masih didominasi oleh investor lokal, secara nilai mengalami peningkatan dari Rp202,32 triliun pada tahun 25 Juli 2014 menjadi Rp226,61 triliun pada tanggal 31 Juli 2015. Kepemilikan investor asing juga meningkat dari Rp18,52 pada tanggal 25 Juli 2014 menjadi Rp21,96 triliun pada tanggal 31 Juli 2015.(*/hrb)

Jakarta -Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman Hadad, mengungkapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bakal meluncurkan inovasi baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam rangka memperingati hari ulang tahun pasar modal yang ke-38.

“Rangkaian kegiatan kita selain acara pagi ini cukup banyak. Di antaranya besok bersama Presiden Jokowi kita akan meluncurkan beberapa inisiatif terkait dengan keinginan kita membangun pasar modal yang lebih baik ke depan,” kata Muliaman usai acara Family Gathering Pasar Modal Indonesia di Kawasan SCBD, Jakarta, Minggu (9/8/2015).

“Besok dengan Bapak Presiden kita akan meluncurkan bagaimana kita bisa memberikan penjaminan bagi para investor. Besok kita bisa saksikan komitmen untuk lebih memajukan pasar modal,” sambungnya.

Muliaman menambahkan, inovasi-inovasi untuk memperkuat pasar modal sangat mendesak untuk dilakukan. Pasalnya, saat ini Indonesia membutuhkan banyak dana untuk membiayai proyek-proyek jangka panjang, tak semuanya dapat dibantu oleh perbankan. Karena itu, perlu penghimpunan dana yang lebih masif melalui pasar modal.

“Ketergantungan pada pembiayaan bank mungkin terbatas, apalagi untuk proyek jangka panjang. Karena itu alternatifnya adalah mengembangkan pasar modal, untuk jangka panjang bisa kita mobilisasi baik dari sumber domestik maupun asing,” dia menjelaskan.

Pihaknya mengaku sudah memiliki peta jalan untuk membangun pasar modal Indonesia sehingga dapat menjadi lebih baik lagi. “Semua ini tentu memerlukan upaya yang tidak kecil, karena itu berbagai macam program perlu dilaksanakan. Kita sudah punya road map bagaimana mengembangkan ini mulai dari sisi suplainya maupun demand-nya,” pungkasnya.

(ang/ang)

kontan Anda yang rajin membaca berita soal perkembangan pasar modal, mungkin sudah tahu bahwa jumlah investor di pasar modal saat ini masih sedikit. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), sampai April lalu, jumlah sub-rekening efek investor di pasar modal mencapai 483.776 sub-rekening efek.

Maklum, masih banyak orang yang ogah berinvestasi di pasar modal lantaran takut merugi karena tidak bisa mengelola portofolio investasinya. Banyak juga yang berdalih tidak memiliki waktu terus-menerus memantau portofolio. Dus, mereka memilih tidak berinvestasi di instrumen pasar modal.

Memang, investor bisa memilih menempatkan dananya di reksadana. Dengan demikian, investasinya akan dikelola oleh manajer investasi. Tapi mau tidak mau, investor harus pasrah mengikuti strategi investasi MI dan ketentuan yang tercantum dalam prospektus reksadana.

Padahal, tentu lebih nyaman jika investasi dikelola secara personal. Bagi orang-orang yang berkantong tebal, ia bisa memakai jasa perencana keuangan atau menjadi investor kontrak pengelolaan dana alias discretionary fund. Tapi, tak banyak pilihan tersedia bagi investor berkantong cekak.

Kini, investor tidak perlu kebingungan lagi dalam mengelola portofolio investasi mereka. “Dewa penolong” itu berwujud aplikasi yang bisa digunakan investor untuk membantu memantau dan mengelola portofolio investasinya.

Salah satunya adalah Infovesta Portofolio System (IPS) dan Infovesta Portofolio Analyzer (IPA) yang dirilis oleh PT Infovesta Utama. Keduanya adalah tools untuk memantau investasi seorang investor.

Pada dasarnya kedua aplikasi tersebut memiliki fungsi yang sama. Bedanya, IPS didesain bagi investor yang fokus portofolionya di pasar modal. Karena itu, instrumen investasi yang bisa dipantau oleh IPS adalah investasi di reksadana, saham, dan obligasi.

Sementara IPA didesain bagi investor yang memiliki portofolio investasi yang lebih tersebar. Selain investasi saham, reksadana dan obligasi, produk ini juga bisa membantu investor mengelola portofolio investasi berupa deposito, properti, kontrak penyertaan dana hingga penyertaan modal langsung.

Infovesta berpromosi, IPA juga cocok digunakan oleh investor pemula. “Soalnya perangkat yang bersifat customized ini tidak hanya memantau potensi lost dan return investasi di pasar modal, tapi juga investasi lainnya,” kata Wawan Hendrayana, research & investment Infovesta Utama, setengah berpromosi.

Hasil investasi
Investor yang ingin menggunakan program tersebut cukup memasukkan data-data terkait portofolio investasi mereka. Misalnya, data jenis instrumen dan jenis transaksi: apakah jual atau beli. Lalu data harga awal, jumlah transaksi hingga biaya-biaya yang dikeluarkan.

Program ini kemudian akan memberikan gambaran kondisi portofolio terakhir, termasuk soal keuntungan atau kerugian yang terjadi. Program ini juga akan menampilkan gambaran berupa grafik hasil investasi riil dibandingkan target yang dibuat. Jadi, investor nantinya bisa memutuskan apakah akan menyesuaikan ulang isi portofolionya atau tidak.

Misalnya, investor memiliki tiga reksadana, tiga saham dan tiga deposito. Nah, investor tinggal memasukkan data yang dibutuhkan untuk masing-masing instrumen. Program akan secara otomatis menghitung bobot masing-masing instrumen dalam portofolio investasi si investor dan menghitung keuntungan atau kerugian berdasarkan harga pasar saat itu.

Bila instrumen tersebut untung, maka hasil akan menunjukkan angka berwarna hijau. Sementara kerugian ditandai dengan angka warna merah. Data-data tersebut juga bisa diimpor dalam format Excel.

Investor yang tertarik menggunakan layanan ini harus mendaftar terlebih dahulu ke Infovesta. Di sana, investor akan dikenakan sejumlah biaya. Namun, Wawan enggan membeberkan besaran biaya yang harus dibayarkan investor.

Selain Infovesta, PT Indo Premier Securities juga memiliki program serupa. Perusahaan sekuritas ini menawarkan IPOT PLAN. Pada dasarnya ini adalah tools perencanaan keuangan. Lewat program ini, investor bisa melakukan financial check up dan mengevaluasi rencana keuangannya.

Pengguna bisa menyusun perencanaan keuangan sederhana hingga perencanaan keuangan detil. Jika investor memiliki tujuan keuangan yang tidak banyak, ia bisa memakai fitur simple financial planning. Tapi, bila ia memiliki banyak aset dan tujuan keuangan yang beragam, maka si investor bisa menggunakan customized financial planning dan detail financial planning.

Investor bisa mengakses produk ini melalui http://www.ipotplan.com. Indo Premier tidak mengenakan biaya. Investor yang berminat cukup mendaftar melalui situs tersebut.

Program ini juga memberikan rekomendasi yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan keuangan yang dibuat. Jadi, lewat program ini, investor bisa mencari petunjuk yang harus dilakukan atas portofolio investasinya. Kalau ada portofolio investasi yang kinerjanya tidak maksimal, investor bisa segera melakukan penyesuaian ulang atas portofolio itu.

Indo Premier juga memiliki program Fund Evaluator, yang dapat membantu investor mengevaluasi kinerja reksadana yang ditawarkan melalui IPOT FUND, supermarket reksadana milik IPOT. “Di Fund Evaluator tercantum kinerja 106 produk reksadana dari 25 manajer investasi yang tercatat legalitasnya,” jelas Jayawati Sukidjan, Vice President Business Development & Corporate Marketing Indo Premier.

Program ini bisa digunakan oleh investor yang menjadi klien IPOT FUND. Sejak diluncurkan pada April 2014, sudah sekitar 12% dari total klien IPOT FUND yang menggunakan fitur Fund Evaluator ini. Jayawati bilang, saat ini klien IPOT FUND sudah mencapai sekitar 50.000 orang. Artinya, ada sekitar 6.000 orang yang menggunakan Fund Evaluator.

Budi Raharjo, perencana Keuangan One Shildt Consulting, menilai, berbagai tools investasi tersebut berguna bagi investor untuk membantu membuat keputusan investasi. Tools seperti di atas, terutama berguna bagi investor pemula, untuk membantu menyusun rencana investasi. “Yang penting penggunanya juga harus bisa memahami kesimpulan yang muncul dari berbagai tools tadi dan implikasinya pada investasi yang dilakukan,” katanya.

Ruben Sukatendel, CEO Fokus Finansial, mengatakan, berbagai tools tersebut bisa digunakan untuk membantu memilih instrumen investasi. Tapi, investor harus punya langkah antisipasi bila rencana investasinya tak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. “Secara garis besar perangkat itu cukup memenuhi kebutuhan dasar dalam melakukan financial planning mandiri para pemula,” katanya.

Jadi, aneka tools tadi mungkin dapat mengobati kebingungan Anda selama ini dalam mengatur portofolio.

Editor: Edy Can

 

INILAHCOM,Jakarta – Demi menambah jumlah investor domestik, Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melakukan pendalaman pasar (market deepening). Beberapa program market deepening BEI adalah menambah jumlah varian produk investasi, salah satunya mereaktivasi perdagangan derivatif.

Kepala Divisi Project Management Office – Teknologi Informasi BEI Andre PJ Toelle di Jakarta, Rabu (27/05/2015) mengatakan berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah sub rekening efek investor di pasar modal, yang menjadi salah satu acuan jumlah investor di pasar modal per akhir April 2015 memang baru mencapai 483.776 sub rekening efek, karena itu, perlu sosialisasi yang lebih masif dari BEI, KPEI, dan KSEI untuk terus mengenalkan pasar modal kepada masyarakat.

“Salah satu cara untuk meningkatkan daya tarik investasi di pasar modal Indonesia adalah dengan menambah varian produk investasi yang ada, termasuk mereaktivasi perdagangan produk derivatif yang dimiliki oleh BEI, ” ujar dia.

Ia mengatakan sejak perdagangannya terhenti di 2008, produk derivatif memang dianggap kurang diminati pelaku pasar karena menggunakan peraturan berbeda dengan bursa lain.

“Atas dasar tersebut, saat ini BEI sedang dalam tahap persiapan untuk mereaktivasi produk derivatif yang rencananya akan dilakukan pada akhir semester pertama di 2015 ini,” jelas dia.

Ia bilang, pengaktifan kembali kedua produk derivatif diyakini diminati investor karena telah modifikasi aturan pelaksanaan perdagangan produk derivatif, yang akan mengikuti common best practice dari beberapa bursa dunia.

“Selain itu, agar tidak terjadi kendala dalam transaksi perdagangan derivatif, BEI juga terus melakukan update terhadap sistem perdagangan serta menyiapkan pihak-pihak yang menjadi penggerak pasar (liquidity provider). Hal tersebut dilakukan untuk menjaga supply dan demand dari produk derivatif tersebut. Dengan demikian, perlu diperhatikan bahwa kesadaran berinvestasi dan mengubah masyarakat Indonesia dari masyarakat yang gemar menabung (saving society) menjadi masyarakat yang gemar berinvestasi (investment society) merupakan hal yang menjadi salah satu prioritas program pengembangan di BEI,” terang dia

“Berbagai program sosialisasi juga terus dilakukan oleh BEI bersama SRO lainnya, yaitu PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk dapat meningkatkan jumlah investor serta emiten di pasar modal Indonesia. Berbagai daerah di Indonesia menjadi tujuan program sosialisasi SRO,” kata dia. [aji]

– See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2208621/tambah-investor-domestik-bei-market-deepening#sthash.0D9qIvnR.dpuf

INILAHCOM,Jakarta-Tren peningkatan jumlah investor pasar modal menuai hasil. Ada peningkatan jumlah investor domestik.Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Tbk (BEI) Ito Warsito mengatakan, kenaikan itu sejalan dengan perbaikan iklim ekonomi.”Investasi sedemikian mudah. Artinya, investor luar negeri dan dalam negeri bisa berinvestasi secara bebas. Domestik biar tahu pasar modal. Domestik tren terus meningkat. Kalau dulu kurang 55 persen. Sekarang 59 persen dari 500 ribu rekening, Asing tren terus menurun. Walaupun tetap memiliki signifikan,” kata dia di Jakarta, Jumat (29/5/2015).Ia menyebutkan kenaikan tersebut juga berimbas kenaikan rating Indonesia dari stabil ke positif dari S&P. “Rating S&P hanya sedikit membrikan pengaruh positif tapi tak terlalu penting lagi. Tapi kepercayaan asing kepada Indonesia tetap tinggi. Jumlah kepemilikan saham 65 persen dimiliki asing sisa 38 persen saham domestik,” katanya.Selain itu, sampai kuartal pertama tahun ini perolehan dana IPO emiten dan right issue terbilang positif.”Tren lainnya jumlah penerbitan saham baik melalui ipo dan right issue melalui jumlah penerbitan saham 2014. Penerbitan obligasi semester I 2015, positif. Artinya, perusahaan masih membutuhkan ekspansi,” katanya. [jin] – See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2209210/tren-investor-domestik-merangkak-naik#sthash.2Wq9wpuF.dpuf

bisnis indonesia: Berinvestasi memang tidak sama dengan menabung. Ketika menabung, Anda sudah paham bahwa jika tidak menyetor sejumlah dana di tabungan maka bisa saldo tabungan tidak akan bertambah. Abaikan tingkat bunga tabungan yang cukup kecil saat ini, rata-rata 1%-3 % per tahun.

Dalam berinvestasi, Anda harus rajin memantau kinerja investasi secara berkala. Hal itu penting karena Anda berinvestasi bukan hanya sekedar menempatkan ‘duit nganggur’. Ada tujuan keuangan yang hendak Anda capai dalam sekian tahun lagi.

Pedomannya, jika Anda berinvestasi untuk tujuan finansial satu tahun ke depan, Anda harus memantau kinerja investasi anda secara periodik setiap bulan. Untuk rencana finansial tiga tahun lagi, evaluasi bisa dilakukan enam bulan sekali. Sedangkan jika tujuan finansial jangka panjang (di atas 3 tahun), Anda bisa melakukan evaluasi satu tahun sekali.

Jika Anda menggunakan jasa financial planner, mereka akan menjadwalkan waktu untuk melakukan evaluasi sesuai rencana keuangan Anda. Namun jika tidak, sebaiknya Anda menyisihkan waktu 1-2 hari untuk mengotak-atik spread sheet dan mengerjakan sendiri evaluasi kinerja investasi Anda.

Sebelum mengevaluasi kinerja investasi, Anda sebaiknya mengevaluasi kondisi keuangan. Sebab, sangat tidak disarankan untuk berinvestasi ketika kondisi keuangan kurang sehat.

Beberapa komponen penting dalam perencanaan keuangan adalah dana darurat dan utang. Berapa dana darurat yang harus Anda miliki? Untuk pasangan menikah yang memiliki anak, disarankan memiliki dana darurat sebesar 12x kebutuhan bulanan. Sebagai contoh, pengeluaran bulanan rumah tangga Anda adalah Rp5 juta, maka minimal Anda harus memiliki dana Rp60 juta yang ditempatkan pada instrumen yang likuid seperti tabungan atau deposito.

Selanjutnya cek berapa besar utang Anda. Besar cicilan utang maksimal adalah 30% – 35 % di bawah pendapatan bulanan. Cicilan utang ini termasuk cicilan kartu kredit, kredit pemilikan rumah (KPR), dan kredit kendaraan bermotor (KKB).

Jika kondisi keuangan Anda perlu penanganan segera, sebaiknya berkonsentrasi menyelesaikan persoalan itu terlebih dulu. Sebagai contoh, penggunaan kartu kredit yang nyaris mentok limit. Perlu diingat, kesuksesan proses berinvestasi sangat tergantung pada kondisi keuangan yang sehat.

Setelah Anda memastikan kondisi keuangan cukup sehat, Anda bisa melanjutkan investasi dengan lebih disiplin dan fokus.

Membandingkan kinerja

Bagaimana komposisi portofolio investasi Anda? Apakah sebagian besar atau seluruhnya Anda investasikan pada beberapa produk reksa dana?

Manajer investasi (MI) biasanya menggunakan rumus-rumus tertentu untuk mengevaluasi kinerja produk reksa dana yang mereka miliki. Anda bisa memanfaatkan fund fact sheet reksa dana yang dipublikasikan oleh MI secara rutin setiap bulan untuk bahan evaluasi kinerja. Atau, Anda juga dapat memanfaatkan account statement dari produk reksa dana yang Anda terima setiap bulan dari MI.

Sebagai contoh, Anda berinvestasi pada reksa dana saham ABC dan XYZ, dari dua MI yang berbeda. Investasi itu untuk keperluan biaya kuliah si kecil dengan jangka waktu 15 tahun. Saat ini investasi Anda telah berjalan selama 2 tahun. Untuk menghitung return yang Anda peroleh, Anda dapat menggunakan rumus: Tingkat Return = (NAB saat ini – NAB awal) / NAB awal x 100%.

Pada saat awal melakukan investasi pada 2 tahun lalu, Anda membeli unit Reksa Dana ABC pada harga NAB Rp5.977,68. Pada saat Anda melakukan evaluasi, harga NAB adalah Rp7.269,36. Dengan demikian, tingkat return yang anda peroleh dari Reksa Dana ABC adalah sebesar 21,61%. Sementara itu, NAB pembelian Reksa Dana XYZ adalah Rp15.865,65 dan NAB saat ini adalah Rp19.130,41. Maka, tingkat return Reksa Dana XYZ  adalah sebesar 20,58%.

Kesimpulannya adalah kedua reksa dana saham yang Anda miliki selama 2 tahun telah memberikan tingkat return sama-sama di atas 20% dengan selisih return keduanya adalah 1%.

Kita ambil contoh lain. Anda berinvestasi untuk dana pensiun pada Reksa Dana Saham EFG dan PQR, dari 2 MI yang berbeda, untuk jangka waktu 25 tahun. Saat ini, Anda telah berinvestasi rutin selama 3 tahun. Sayangnya Anda tidak mencatat harga NAB saat mulai berinvestasi, dan lembar account statement juga tidak tersimpan.

Sebagai bahan evaluasi cepat, anda dapat memanfaatkan fund fact sheet (FFS) yang dengan mudah anda peroleh dari website MI. Silahkan arahkan perhatian Anda pada bagian kinerja historis, khususnya pada tabel kinerja. Di sini, data kinerja tingkat return reksa dana umumnya disajikan dalam periode 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, year to date (YTD), 1 tahun, 3 tahun, dan sejak peluncuran awal.

Dari hasil pengamatan pada FFS, Anda memperoleh data yang menunjukkan bahwa Reksa Dana EFG dapat memberikan tingkat return sebesar 37,81% dan Reksa Dana PQR sebesar 34,24% selama 3 tahun.

Setelah memperoleh data tingkat return masing-masing reksadana saham, Anda dapat melakukan perbandingan dengan benchmark-nya, yaitu IHSG. Contohnya untuk periode 3 tahun performa IHSG adalah naik sebesar 34,19 %. Di sini terlihat bahwa reksa dana saham pilihan Anda memiliki performa kinerja setara dengan IHSG.

Selanjutnya saya sarankan Anda mencari data NAB pembelian awal reksa dana yang Anda miliki. Atau lebih baik lagi Anda mendokumentasikan harga NAB dan jumlah unit pada saat melakukan pembelian rutin setiap bulan pada spread sheet terpisah. Ini akan sangat membantu Anda pada saat melakukan evaluasi pada periode berikutnya.

Mengevaluasi target

Sekarang mari kita evaluasi rencana keuangan Anda dan sejauh mana target Anda tercapai. Pada saat Anda melakukan perhitungan target dana kuliah si kecil pada 2 tahun yang lalu, berapa target return yang anda tentukan? Jika ternyata target return anda lebih tinggi dari kinerja saat ini maka ini saatnya melakukan penyesuaian rencana keuangan. Misalnya Anda mematok target return sebesar 15 % per tahun, sementara kinerja reksa dana yang Anda miliki hanya memberikan return 20% selama 2 tahun.

Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk menyesuaikan rencana keuangan. Misalnya melakukan switching produk. Anda bisa mencari produk reksa dana saham lain yang kinerjanya lebih baik. Jika ternyata tidak ada, ini berarti kondisi pasar modal memang sedang tidak bagus. Alternatif lain adalah Anda tetap melanjutkan investasi pada produk reksa dana yang sama, tetapi dengan menambah nominal investasi rutin bulanan Anda agar target dana bisa tercapai.

Atau bisa juga Anda mengalihkan investasi pada instrumen lain. Namun, harus diingat jika mengambil langkah ini Anda harus memastikan tingkat resiko dan tingkat return-nya minimal setara dengan produk yang Anda miliki saat ini.

Langkah lainnya adalah Anda dapat melakukan diversifikasi  investasi. Investasi rutin tetap Anda lakukan pada produk reksa dana existing, tetapi Anda menambah investasi pada instrumen lain. Misalnya selama ini Anda rutin berinvestasi sebesar Rp2 juta pada reksa dana saham, kemudian Anda mulai berinvestasi langsung di pasar modal dengan membeli saham BUMN berkinerja bagus.

Masing-masing alternatif memiliki plus minus tersendiri. Anda harus mempertimbangkan masak-masak sebelum mengambil langkah karena investasi bukanlah spekulasi. Ada target yang harus Anda capai sesuai rencana keuangan yang telah dibuat.

 

Penulis:

William Henley

CEO dan Founder IndoSterling Capital

UI Siapkan Sarjana S2 Pasar Modal

sumber: Investor Daily

Jakarta – Perkembangan industri pasar modal yang signifikan beberapa tahun terakhir menuntut adanya tenaga profesional berlisensi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (MM-FEB UI) kali ini menggandeng Melbourne Business School untuk mengembangkan pendidikan pasar modal.

Kerja sama ini dilakukan dalam rangka mengembangkan pendidikan untuk menyiapkan tenaga profesional yang kompeten dan handal di bidang pasar modal. Hal ini dilakukan karena meningkatnya minat investor untuk berinvestasi di Indonesia.

“Lewat Pendidikan Manajemen Pasar Modal, UI melaksanakan kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia (SDM) andal dan berkualitas, serta mengembangkan pendidikan yang didasarkan pada kebutuhan industri,” ujar Wakil Rektor UI, Adi Zakaria Affif, saat ditemui di Jakarta, Jumat (20/3).

Hal ini sendiri dilakukan dengan cara melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pelaku industri, dan akademisi untuk mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi yang tepat sasaran.

“Dengan ini, kami harap bisa menghasilkan lulusan Manajemen Pasar Modal yang dapat berkontribusi positif dalam pertumbuhan industri pasar modal serta memberi manfaat nyata pada pertumbuhan perekonomian Indonesia di masa depan,” lanjut Adi.

Lebih lanjut, Ketua OJK, Muliaman Darmansyah Hadad menyatakan pentingnya pendidikan pasar modal karena adanya tren pergeseran pembiayaan di Indonesia.

“Kalau dulu Indonesia sangat bergantung pada industri perbankan untuk segi pembiayaan, kini sudah mulai ada pergeseran. Banyak perusahaan yang sudah mulai tertarik dengan pasar modal untuk pembiayaan perusahaannya,” ujar Muliaman saat ditemui di kesempatan yang sama.

Penulis: Riska Rahman/FMB

 

INILAH.COM, Medan – Bursa Efek Indonesia menyebutkan kendala meningkatkan jumlah investor Sumatera Utara di pasar modal adalah sebagian besar masyarakat masih menganggap investasi di sektor itu seperti bermain judi dan memerlukan modal besar.

Kepala BEI Perwakilan Medan M Pintor Nasution di Medan, Senin (6/10), mengatakan investor pasar modal di Sumut masih relatif sedikit dibandingkan jumlah penduduknya. “Salah satu penyebab masih minimnya pemain di pasar bursa adalah adanya anggapan di tengah masyarakat bahwa berinvestasi di pasar modal seperti berjudi. Padahal itu salah persepsi,” katanya pada Workshop Mekanisme Perdagangan dan Market Update Pada BEI di Medan.

Dia juga mengakui, adanya persepsi masyarakat bahwa untuk bermain di pasar modal memerlukan modal besar. “Persepsi salah itu harus dihilangkan sehingga BEI terus melakukan sosialisasi ke masyarakat luas,” katanya.

Pintor mengakui, persepsi salah itu antara lain dampak tingkat pendidikan masyarakat yang sebagian masih rendah. “Oleh karena itu BEI terus melakukan sosialisasi ke tengah masyarakat. Salah satu yang ditegaskan adalah pemahaman mengenai mekanisme investasi pasar modal yang tidak ada “wujud” dari kegiatan jual beli tersebut,” katanya.

Sosialisasi yang ditingkatkan diharapkan BEI bisa meningkatkan jumlah investor. Dewasa ini, investor paling banyak berada di Kota Medan sebanyak 15.639 orang disusul di Kabupaten Deliserdang, 996 orang dan ketiga dari Pematangsiantar sejumlah 429 orang.

Sedangkan di daerah lain masih sangat sedikit seperti di Tapanuliselatan yang investornya baru satu orang. “Tahun ini, BEI menargetkan bisa mencapai 2.000 investor baru pada tahun ini, dimana hingga Agustus sudah tercapai sebanyak 1.150 investor,”katanya.

Jakarta – Sebanyak 20 perusahaan efek yang menyediakan layanan online trading bersaing memperebutkan penghargaan “Online Trading” terbaik 2014 yang diselenggarakan Beritasatu.com. Berdasarkan seleksi awal yang dilakukan tim internal, dari 114 perusahaan efek yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 63 perusahaan mengaku memiliki layanan online trading. Namun, hasil penelusuran tim internal mulai pertengahan Oktober 2014 sampai Senin (10/11), menunjukkan terdapat 61 perusahaan yang memiliki web dan hanya 58 perusahaan efek yang menyediakan layanan online trading. Sebanyak tiga perusahaan, meski memiliki web, tetapi tidak aktif.

Dari jumlah tersebut kemudian dilakukan seleksi lanjutan dengan kriteria aksesibilitas, fitur, dan layanan lainnya, ditetapkan sebanyak 20 perusahaan efek yang berhak dinilai para juri, sekaligus dapat mengikuti polling pembaca Beritasatu.com. Para juri yang terlibat dalam ajang ini adalah pendiri Pusat Data Infrastruktur Indonesia, Toto Sugiri, Wakil Ketua Departemen PPE dan Online Trading APEI, Jimmy Nyo, pengamat pasar modal, Benny Haryanto, investor pasar modal, Jimmy Dimas Wahyu, Pemred Beritasatu.com, Primus Dorimulu, dan Head Digital Strategy BeritaSatu Media Holdings, Pingkan Irwin.

Menurut Ketua Tim Juri, Toto Sugiri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pihak-pihak terkait harus lebih gencar melakukan sosialisasi dan mengedukasi masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal. Saat ini jumlah investor di pasar modal belum bertambah signifikan, masih sekitar 300.000-an investor.

Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, kata Toto, hendaknya bisa dimanfaatkan untuk menjaring investor baru di pasar modal, khususnya kalangan muda.

“Saat ini handphone berbasis android telah dimiliki banyak orang, khususnya kalangan muda. Perusahaan efek harus lebih banyak memanfaatkan kemajuan teknologi melalui pelayanan online trading untuk menambah jumlah investor secara signifikan,” katanya.

Dari 20 perusahaan efek yang dinyatakan lolos seleksi, para juri akan memilih 10 perusahaan yang akan diwawancarai untuk menentukan tiga pemenang utama. Wawancara wakil perusahaan yang lolos seleksi akan dilakukan Selasa (18/11) dan pengumuman pemenang dilakukan pada Selasa (25/11) di BEI Jakarta.

http://www.beritasatu.com/pasar-modal/223994-20-perusahaan-efek-bersaing-rebut-penghargaan-online-trading-terbaik-2014.html
Sumber : BERITASATU.COM

 

TEMPO.CO, Jakarta – Setelah moncer di panggung hiburan, penyanyi Raisa Andriana kini menjajal peruntungan di pasar modal. Raisa dikabarkan menanamkan investasi di bursa saham dengan menjadi nasabah PT Mandiri Sekuritas. (Baca: Perdagangan Tengah Pekan, Indeks Saham Melesat)

Menurut Direktur Utama Mandiri Sekuritas Abiprayadi Riyanto, Raisa menjadi nasabahnya yang ke-33.333. Kehadiran Raisa menambah panjang daftar nasabah Mandiri Sekuritas, yang bertumbuh rata-rata 65 persen dalam tiga tahun terakhir.

Menuru Abiprayadi, nasabah Mandiri Sekuritas bertambah setelah muncul layanan Mandiri Sekuritas Online Trading (MOST) tiga tahun lalu. Hal itu yang membuat persepsi dan kepercayaan masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal meningkat.

Tingginya minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal tercermin dari nilai transaksi saham. Hingga Oktober 2014, nilai saham yang diperdagangkan melalui Mandiri Sekuritas mencapai Rp 110,73 triliun. Nilai transaksi tersebut menempatkan Mandiri Sekuritas sebagai broker lokal teraktif di pasar saham Indonesia dengan pangsa pasar 4,5 persen. (Baca: Inilah Saham-saham Pencetak Rugi)

HUSSEIN ABRI YUSUF

INVESTOR DAILY: Banyak orang yang menghindar dan enggan untuk berinvestasi di pasar saham karena pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang sering kali fluktuatif. Sebagai gantinya, orang cenderung berinvestasi pada instrumen yang memberikan kepastian dalam pemberian imbal hasil (yield).

 

Namun tidak begitu bagi pemilik nama lengkap Hary Prasetyo. Pria yang bekerja sebagai direktur keuangan di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) ini sudah menempatkan investasinya di saham sejak 1993.

 

Pada umumnya, menurut Hary, kebanyakan orang hanya berinvestasi sekadar untuk mendapatkan imbal hasil yang tinggi alias berspekulasi. Akibatnya, ketika imbal hasil tidak sesuai harapan, investor baru ini akan kecewa dan langsung antipati terhadap investasi di saham.

 

Padahal, menurut Hary, berinvestasi saham tidak boleh sekadar mendapatkan imbal hasil atau capital gain. Orang-orang dengan pola seperti ini akan terjebak berinvestasi dalam jangka waktu pendek.

 

“Investasi sesungguhnya tidak boleh dalam jangka waktu pendek. Apabila ingin terhindar dari volatilitas pasar saham haruslah berinvestasi jangka panjang, misalnya setahun,” tegas dia.

 

Bermain saham, lanjut Hari, juga perlu mentalitas tinggi. Dia mengatakan, tidak bisa berinvestasi sekedar emosi belaka, namun harus sesuai dengan kebutuhan. “Makanya main saham harus tenang,” ujar dia.

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php

JAKARTA investor daily– Jumlah orang kaya Indonesia yang tumbuh pesat merupakan potensi besar bagi pasar modal. Namun, untuk bisa menarik mereka berinvestasi di pasar modal, pemerintah perlu memberikan kepastian hukum kepada mereka. Secara administratif, orang kaya terkadang enggan berinvestasi di pasar modal Indonesia lantaran sejumlah tuntutan transparansi yang terlalu ketat.

 

Ekonom dan Analis PT Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengatakan, orang kaya biasanya berpikir dua kali berinvestasi ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah ke reksadana, karena takut dicurigai sejumlah otoritas seperti Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

 

“Terlalu ketatnya transparansi tersebut, membuat orang kaya ini cenderung mengalirkan harta kekayaannya ke luar negeri. Singapura adalah negara yang dianggap paling memungkinkan untuk berinvestasi dalam jumlah besar atas nama pribadi tanpa perlu takut diselidiki,” jelas Ekonom dan Analis PT Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih kepada Investor Daily, di Jakarta, Jumat (31/10).

 

Di Indonesia, kata Lana, orang kaya ini pun cenderung lebih memilih berinvestasi di properti. Sebab, properti adalah bentuk investasi yang lebih mudah untuk dijual ataupun dibeli. Adapun, jika individu ini memang berminat masuk ke pasar modal, mereka akan menggunakan manajer investasi untuk mengelola harta kekayaan mereka.

 

“Mereka pikir lebih aman membeli saham atau reksadana lewat pihak ketiga, bisa lewat sekuritas atau perbankan, ketimbang atas nama sendiri. Kalau di Singapura, mereka lebih leluasa masuk ke pasar modal atas nama sendiri tanpa perlu khawatir diselidiki lebih lanjut,” tutur Lana.
Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php

JAKARTA, KOMPAS.com – Blogger Gleen Marsalim mengungkapkan, generasi muda saat ini sudah tidak lagi asing dengan kegiatan menabung. Malahan, tutur Gleen, generasi yang dikenal dengan sebutan “millennials” tersebut sudah paham bahwa menabung saja tidak cukup.

Generasi tersebut memilih produk investasi sebagai cara baru menabung. “Kalau kita ngomong millenials, menabung itu tidakequal to saving lagi, tapi investasi. Misalnya, menabung dikit tapi gue punya apartemen, punya rumah,” tutur Gleen dalam acara bincang-bincang bertajuk “Uang dan Generasi Sekarang” di Jakarta, Selasa (21/10/2014).

Menurut kamus Merriam-Webster, “millennials” adalah generasi yang lahir pada tahun 1980-an hingga 1990-an. Saat ini, generasi tersebut sudah mulai meninggalkan bangku pendidikan dan mulai bekerja. Mereka menggerakkan roda perekonomian dengan berproduksi dan mengkonsumsi dalam jumlah besar. Besarnya jumlah “millennials” tersebut juga membuat Indonesia memiliki bonus demografi.

Dalam kesempatan terpisah, Director Chief Investment Officer Eastspring Investment, Ari Pitojo, mengungkapkan bahwa predikat tersebut membuat investor asing tertarik berinvestasi di Indonesia. Lantas, benarkah “millennials” ini cenderung menggunakan produk investasi dan mulai mengurangi porsi tabungan dalam menghasilannya?

Menurut Head of Preferred, Private & Wealth Management & Consumer Liabilities Business CIMB Niaga, Budiman Tanjung, sebagian dari mereka memang lebih cenderung memilih berinvestasi ketimbang menabung. Namun, hal tersebut, tuturnya, bukan contoh baik.

“Kalau misalnya mereka yang first jobber, tergantung gaya hidupnya bagaimana. Kalau kita lihat sekarang, mungkin kalau yang masih muda tingkat risiko mereka tinggi. Mereka masih bisa (mengambil risiko dan return lebih besar). Mungkin mereka cenderung berinvestasi daripada menabung. Tapi tergantung pengetahuan mereka, risk profile mereka, apakah mereka sudah pernah terekspos dengan hal seperti ini,” ujar Budiman, “Jadi harus di-mix lah. Jangan ditaruh di satu produk,” pungkasnya.


Penulis : Tabita Diela
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

Before you begin on your journey to building wealth and finding financial independence, it’s important you understand a few basics. One of the big keys is that saving and investing are two related, but independent, processes that you shouldn’t confuse. A disciplined investor could find himself with dozens of real estate rental properties but unable to pay his bills if he didn’t appreciate the balancing act between the two foundations of success.

Perhaps the best place to begin for new investors is to define the difference between saving and investing.

  • Saving is the process of putting cold, hard cash aside and parking it in extremely safe, and liquid (meaning they can be sold or accessed in a very short amount of time, at most a few days) securities or accounts. This can include FDIC insured checking accounts, savings accounts, short-term certificates of deposit, or United States Treasury Bills. It can even include FDIC insured money market accounts (but not money market funds, which are not insured). The highest goal for these funds should be captial preservation, with a secondary goal to keep pace with inflation, if possible.
  • Investing is the process of using money (called “capital”) to buy an asset that you think will generate a safe and acceptable return over time, making you wealthier with each passing year. An investment can include anything from a small business to fine art, rare wines to gold coins, comic books to stocks, mutual funds, bonds, real estate, and antiques, just to name a few. It can also include song rights, patents, trademarks, or other intellectual property, as it is often called. Good investments are the soundest way of growing wealthy but can take time, perhaps even years, to work out because we live in an uncertain world.

How Much Should I Save Versus How Much Should I Invest?

Saving always comes first. Think of it as the foundation upon which your financial house is built. The reason is simple – unless you inherit a large amount of money, it is your savings that will provide you with the capital to feed your investments.There are two primary types of savings programs you should include in your life. They are:

  • As a general rule, your savings should be sufficient to cover all of your personal expenses, including your mortgage, loan payments, insurance costs, utility bills, food, and clothing expenses for at least six months. That way, if you lose your job, you’ll be able to have sufficient time to adjust your life without the extreme pressure that comes from living paycheck to paycheck.
  • Any specific purpose in your life that will require a large amount of cash in five years or less should be savings-driven, not investment-driven. The stock market in the short-run can be extremely volatile, losing more than 50% of its value in a single year. Purchasing a home is a great example as we discussed in Best Places To Invest Your Down Payment Money.

Only after that these things are in place, and you have health insurance, should you begin investing (this really is vital – for more information on why, read Investing in Health Insurance – One of the First Lines of Defense for Your Portfolio. The only possible exception is putting money into a 401(k) plan at work if your company matches your contributions. That’s because not only will you get a substantial tax break for putting money into your retirement account, but the matching funds basically represent free cash that is being handed to you on a silver tray.

More Information About Saving Money

For more information about how you can begin saving money, read The Complete Beginner’s Guide to Saving Money . It is filled with articles, resources, essays, and lessons about how to save money, how to invest money, and how to get started on the road to wealth. It may seem daunting now, but every successful self-made person had to begin by earning money, spending less than they earned, taking those savings, and putting them to work in projects that threw off dividends, interest, and rents . They are no better than you are. If you learn the same thing, and can act as rationally so as to manage your money with discipline, you can enjoy the rewards of success, just as they did. In the end, saving money comes down to simple math. It really is as fundamental as 2+2=4.

INILAH.COM, Jakarta – PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat bahwa kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia (IHSG BEI) mendorong total nilai aset yang tercatat di “Central Depository and Book Entry Settlement System” (C-BEST) mengalami peningkatan 6,21 persen menjadi Rp3,149 triliun pada kuartal III 2014.

“Salah satu penyebab kenaikan nilai aset karena adanya pergerakan IHSG BEI yang mengalami kenaikan sejak penutupan di akhir bulan Juni hingga September 2014 sebesar 5,31 persen menjadi 5.137,57 poin,” kata Direktur Utama KSEI Heri Sunaryadi, Senin (20/10).

Ia mengemukakan bahwa total nilai aset yang tercatat di KSEI tersebut didominasi oleh jenis efek saham dengan total nilai sebesar Rp2,856 triliun atau sekitar 90 persen dari total nilai aset.

“Kepemilikan saham di dalam negeri selama triwulan III tahun 2014 masih didominasi investor asing sebesar 65 persen atau sekitar Rp1,842 triliun dari total kepemilikan saham,” kata dia.

Menurut dia, meski kondisi politik Indonesia pada masa pemilihan umum dan penentuan presiden terpilih menjadi perhatian bagi investor khususnya investor asing, namun hal itu tidak mengurangi minat investor asing untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Sedangkan kepemilikan saham investor lokal, lanjut dia, secara persentase sebesar 35 persen. Meski dari sisi persentase mengalami penurunan, namun dari sisi nilai kepemilikan saham, investor lokal mencatatkan kenaikan menjadi Rp1,014 triliun dibandingkan posisi Juni 2014 Rp 964 miliar.

Pada periode yang sama, Heri Sunaryadi juga memaparkan bahwa kegiatan aksi korporasi yang didistribusikan melalui KSEI terdapat 811 aktivitas. “Aktivitas aksi korporasi terbanyak pada periode itu yakni pembayaran bunga obligasi sebanyak 575 kali. Selama Triwulan III tahun 2014, KSEI telah melakukan distribusi pembayaran dividen dan bunga surat utang dengan total dana sebesar Rp22,.846 miliar (turun sekitar 24 persen dari triwulan II) dan 18,78 juta dolar AS (naik 500 persen dari triwulan II),” katanya.

Ia menambahkan bahwa pada periode sama, jumlah investor pasar modal Indonesia dengan mengacu Single Investor Identification (SID) yang tercatat di KSEI, tercatat naik sebesar 0,74 persen menjadi 342.663 investor. (Ant)

KONTAN Apakah Anda akhirnya tertarik untuk menjadi trader? Tapi, jangan asal tertarik lantaran iming-iming cuan gede yang bakal dikantongi, Anda juga harus menyadari risiko tinggi yang terkandung dalam kegiatan transaksi ini.

Namun, jika masih ragu pada  kemampuan untuk melakukan trading, ada beberapa poin yang patut Anda pertimbangkan sebelum memutuskan untuk terjun pada arena tersebut. Suluh Adil Wicaksono, Analis Millennium Penata Futures menyebut, seorang trader harus memiliki kemampuan untuk membaca arah pergerakan pasar. “Kalau trader mau beli produk, misal A, B, atau C, maka ia harus mampu membaca arahnya produk itu akan ke mana,” kata Suluh.

Poin kedua, trader juga harus mampu membatasi risiko. “Semisal dia beli produk A di harga 1.000. Jika terjadi sesuatu, dan harga produk itu turun, ia tak boleh membiarkan saja. Dia harus punya batas kerugian,” tambah Suluh.

Poin ketiga, trader sebaiknya punya jiwa spekulasi atau keberanian untuk berspekulasi. Namun, kedua poin sebelumnya tetap menjadi pertimbangan.
INVESTOR ITU ORANG YANG OPTIMISTIK
Trader juga harus mengenal dengan baik karakteristik instrumen trading. Apalagi, produk-produk yang akan ia transaksikan. Jargon, invest your time before invest your money sangat berlaku di sini. Itu sebabnya, Anda sebaiknya mengalokasikan waktu untuk belajar dengan serius terlebih dulu, sebelum benar-benar menginvestasikan uang Anda.

Maklum, seperti dalam kontrak berjangka komoditas, produk yang diperdagangkan punya spesifikasi dan karakteristik masing-masing. Anda harus benar-benar mengenal dan mempelajari produk komoditi, sehingga tepat dalam melakukan antisipasi. “Lihat pula jam perdagangannya, karena tidak semua komoditi diperdagangkan 24 jam,” jelas Suluh.

Rumuskan tujuan

Sama seperti kegiatan lainnya, setiap aktivitas yang dilakukan manusia pasti mempunyai tujuan. Entah itu saat bepergian, berolahraga atau aktivitas yang bersifat rutin sekalipun, misalnya makan. Demikian pula, saat seseorang menjatuhkan pilihan untuk menjadi seorang trader.

Hampir semua orang akan setuju, jika tujuan akhir dari trading adalah untuk mendapatkan profit sebesar-besarnya. Hal itu memang memungkinkan. Namun, sebelum benar-benar melakukan trading, ada baiknya trader merumuskan tujuan agar transaksi menjadi lebih terarah.TUJUAN JANGKA PANJANG BERINVESTASI yang SEBENARNYA, hidup dari maen saham

Nah, untuk membantu merumuskan tujuan Anda, seringkali perusahaan sekuritas atau futures memberikan pelatihan atau simulasi. “Untuk merumuskan tujuan itu membutuhkan skill, dan kemampuan itu harus di-asah terlebih dulu,” papar Suluh. Pasalnya, dalam trading ini mengenal timing atau waktu eksekusi yang tepat.
KENALI sekuritas yang MENGIKLANKAN DIRI INI, jadi lah PEMBELAJAR yang BAIK lebe dulu, sebelum menjadi TRADER ANDALAN

Untuk membantu merumuskan tujuan, mungkin Anda bisa berpijak pada beberapa pertimbangan berikut. Pertama, tujuan harus realistis. Artinya, tujuan yang akan dicapai harus sesuai dengan kemampuan. Setiap orang pasti ingin mencetak jutaan dollar di tahun pertamanya melakukan trading. Namun realitasnya, tidak semua orang punya kemampuan, juga keberuntungan, mencapainya.

Kedua, tujuan juga harus dapat dicapai. Mungkin ini serupa dengan realistis untuk mencapai tujuan sesuai kemampuan.

Ambil contoh, bila Anda ingin mendapat rata-rata US$ 100 –US$ 200 per hari dalam transaksi forex. Mungkin tujuan itu lebih dapat dipenuhi daripada membuat US$ 500. Dalam hal inilah peran demo trading penting, untuk mengukur kemampuan dan pencapaian Anda.

Selanjutnya, jika mencapai hasil yang baik dengan tujuan Anda saat ini, Anda bisa meningkatkan tujuan tersebut. Namun, Anda harus mulai dengan tujuan yang mungkin Anda capai dan mulai membangunnya. Sangat disarankan, Anda memulai dari tujuan yang kecil dan membesarkannya.

Ketiga, tujuan Anda harus dapat diukur. Ini adalah kesalahan yang paling sering terlihat. Tak dipungkiri, semua orang ingin menjadi kaya atau mendapatkan keuntungan dari pasar. Hal itu menjadi tujuan setiap orang.

Tapi asal Anda tahu saja, hal itu bukan merupakan tujuan yang sesungguhnya. Dalam pengukuran ini, Anda harus tahu apakah Anda masih jauh, dekat atau telah mencapai tujuan tersebut.

Apabila tujuan tersebut tidak dapat diukur, Anda tidak bisa tahu apakah Anda telah mendapatkannya atau belum. Jadi, “Trader harus bisa mengukur dirinya supaya bisa menganalisa dan berpikir dengan baik,” ucap Anggara Pramudita, seorang trader.

Buat trading plan

Tak kalah penting dari perumusan tujuan, seorang trader juga harus menyusun rencana trading. Dalam menyusun rencana trading ini, kembali Anda harus mengukur kemampuan, berikut jumlah dana yang akan ditransaksikan. “Pastikan, dana tersebut bukan dana satu-satunya,” kata Suluh.

Salah satu kesalahan umum yang dilakukan orang ketika trading, termasuk trading forex adalah tidak menggunakan “uang dingin”. Bahkan banyak orang yang keluar dari pekerjaan dan fokus jadi trader padahal ilmu dan modal yang dimilikinya belum mencukupi.

Dalam rencana trading, Anda juga harus cermat menetapkan analisa yang dipakai. Ada dua analisis yang umum dipakai, yaitu teknikal dan fundamental. Teknikal berarti melihat grafik pergerakan harga. Kalau fundamental yakni, informasi atau berita yang dalam jangka panjang atau pendek punya efek pada pergerakan harga.

Eko Endarto, Perencana Keuangan dari Finansia Consulting menyebutkan, trader lazimnya menggunakan analisis teknikal. Mereka mempelajari harga historikal sebuah produk untuk diperkirakan kemungkinan pergerakannya di masa mendatang. “Di situ mereka pelajari pola pergerakan harga, lalu tindakan apa yang harus diambil serta batas kerugian yang bisa diterima,” tutur dia.

Merujuk ke pengalaman pribadinya, Angga berkisah, seleksi alam dalam trading forex cukup ketat. Ketika ikut forum trading pertama kali pada 2008, ia bergabung bersama 96 orang.  Namun pada 2011, jumlah anggota forum menyurut hingga hanya empat orang. Kebanyakan orang berhenti melakukan trading forex karena kehabisan modal. “Penyebabnya mungkin tidak bisa mengukur diri atau memang analisa teknikalnya tidak bagus,” kata Angga.

Bagi trader pemula, Angga bilang trading bukanlah pekerjaan mudah. Trading butuh jam terbang untuk mampu memahami pasar agar tak cepat bangkrut. Minimal dalam waktu satu hingga tahun, pasang posisi bertahan alias tak serakah mengharapkan laba besar.  Apa Anda sudah mantap menjadi trader?

Editor: Edy Can

 

NERACA

MAKASSAR – Pertumbuhan pasar modal di Sulawesi Selatan (Sulsel) khususnya di Makassar terus menunjukkan trend yang positif dari tahun ke tahun yang menandakan jika daerah ini mendapat kepercayaan besar dari investor untuk menanamkan modal mereka.

Menurut Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Makassar Fahmin Amirullah, jika berdasarkan trend, dalam beberapa tahun terkahir perkembangan jumlah investor pasar modal di Sulsel terus meningkat signifikan, mulai dari 2012 jumlah investor mencapai 3.343 kemudian di 2013 jumlah Investor sebanyak 3.930 dan data terakhir di Agustus menunjukkan peningkatan signifikan di angka 4.423 investor.
Dari jumlah tersebut, kata Fahmin, tercatat nilai transaksi dari 16 perusahaan sekuritas yang ada di Makassar perbulannya di kisaran Rp600 miliar,”Jika merujuk pada angka di atas tentunya cukup menggembirakan, meski sebenarnya masih jauh dari potensi yang ada di Sulsel jika melihat dari jumlah penduduk Sulsel kurang lebih saat ini 8,3 juta jiwa yang berari kurang dari 1% masyarakat Sulsel memanfaatkan potensi investasi di pasar modal sebagai alternatif investasinya,” ujarnya di Makasar kemarin.

Dia menjelaskan, masyarakat Sulsel memang lebih condong ke investasi perdagangan yang sifatnya riil atau jual beli barang fisik. Untuk itulah, BEI terus berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai peluang investasi di pasar modal melalui program-program kegiatan seperti edukasi publik, forum calon investor, sekolah pasar modal dan SPM syariah, kerja sama dengan kampus dengan pendirian Galeri Investasi Bursa sebagai laboratorium pasar modal, serta kegiatan olimpiade pasar Modal yang baru dilaksanakan untuk tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU).

Fahmin memaparkan, setelah dilaksanakan, memang terlihat jika ketertarikan masyarakat untuk mau mengetahui seputar pasar modal begitu tinggi,”Perusahaan Efek atau sekuritas selaku perantara pedagang efek merupakan pihak yang memiliki peran penting dalam menentukan berkembang tidaknya transaksi efek di pasar modal. Terkait dengan perannya profesionalisme dan kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan efek merupakan sesuatu yang harus terus dijaga dan ditingkatkan,” paparnya

http://www.neraca.co.id/article/46440/Pertumbuhan-Investor-Kerek-Nilai-Transaksi
Sumber : NERACA.CO.ID

 

sejarah indo maen saham … 18 September 2017

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:54 am

tren ihsg 1997_2017sep

 
… sejarah tren Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia / Jakarta yang tergambar sebagai grafik tren, menunjukkan bahwa KETIDAKPASTIAN itu begitu tinggi … setidaknya ketidakpastian yang langsung terlihat dari sejarah tren ini: sejak 30 Juni 1997 s/d 15 September 2017 tlah terjadi TREN KENAEKAN ihsg dari sekira 700-an s/d 5800an… ketidakpastian ini TENTU AZA dikehendaki oleh semua pihak yang terlibat dalam BEI/BEJ, termasuk investor
… ketidakpastian seperti ini menarik disimak lebe jauh: simak dalam periode lebe singkat, yaitu 2008, saat ihsg TURUN dari 2700an k 1100an. Lalu tren ihsg NAEK lage setidaknya dalam periode 2009 s/d 30 April 2013, saat dari 1300an k 5000an. Lalu turun lage k area 4200an. Lalu naek s/d 28 Feb 2015 k 5400an, ekh turun lage k 4200an s/d Agustus 2015. Sejak bottom 4200an, maka ihsg naek lage secara relatif lebe stabil k 5800an @ 2017.
… kesimpulan kecil sederhana: periode ketidakpastian 1997-2017 diisi oleh berbagai periode ketidakpastian singkat (pasca krismon 1997-2000): 2008, 2009-2013, 2013-2015, n 2015-2017. Periode ketidakpastian panjang memang dibangun oleh periode ketidakpastian pendek.
… bwat investor, sila dipilih mo maen jangka panjang atwa jangka pendek. gw pilih keduanya demi hasil yang lebe baek daripada sekedar jangka panjang aza atwa jangka pendek aza 🙂
 

 

 

JAKARTA okezone – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso menyatakan, melalui infrastruktur yang lebih mumpuni dan dukungan emiten, regulator dan seluruh insan Pasar Modal Indonesia, OJK pun meyakini bahwa pasar modal di Indonesia mampu melesat menjadi salah satu pasar modal yang terbaik di dunia.
BERITA REKOMENDASI
Sangat Istimewa! Harga Patung Banteng Wuluh Tidak Sampai Rp1 Miliar
BUSINESS HITS: Sri Mulyani Berharap Makin Banyak Perusahaan yang IPO, Ini Alasannya!
BUSINESS HITS: Misteriusnya Asal Usul Banteng Wulung, Ikon Baru Bursa Efek Indonesia
Pasar modal di Indonesia saat ini sudah berkembang sangat pesat. Pada tahun 1977, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG baru berada di level 98,00 sementara per 11 Agustus kemarin IHSG sudah berada di level 5.766,13, atau meningkat lebih dari 5.000%. “Sementara itu nilai kapitalisasi pasar yang pada tahun 1977 baru mencapai Rp2,73 miliar, maka per 11 Agustus kemarin nilai kapitalisasi pasar kita sudah mencapai Rp6.319,55 triliun, atau meningkat lebih dari 200.000%,” ujarnya. Dia menyakini, pasar modal akan berkembang sedemikian pesat. Bahkan pasar modal di Indonesia saat ini mulai disejajarkan dengan beberapa negara maju baik di kawasan ASEAN maupun dunia. Baca juga: 40 Tahun Pasar Modal, Hebat! Kapitalisasi Pasar di Indonesia Meningkat 200.000%
(wdi)

rose KECIL

PUTRA JAYA, MALAYSIA ID- PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) meraih penghargaan sebagai kustodian sentral efek terbaik di Asia Tenggara dari majalah Alpha Southeast Asia. Penyerahan penghargaan berlangsung di Putra Jaya-Malaysia, Rabu (25/1).

 

Pencapaian itu didorong atas sejumlah pengembangan yang telah dituntaskan perseroan. Misalnya, implementasi S-Invest, penunjukan KSEI sebagai penerbit nomor SID untuk surat berharga yang diterbitkan BI.

 

Inisiatif KSEI untuk bekerja sama dengan 100 pelaku industri pasar modal dengan Dirjen Dukcapil juga ikut menjadi alasan peraihan penghargaan tersebit. KSEI sebelumnya telah memanfaatkan data kependudukan untuk mempercepat pembukaan rekening efek dari berhari-hari menjadi hanya dalam hitungan jam.

 

Dirut KSEI Frederica Widyasari Dewi mengatakan, penghargaan ini akan memotivasi KSEI untuk pasar modal Indonesia lebih reliable dan menjadi tujuan investasi lokal maupun asing. “Penghargaan ini akan memotivasi kami berkinerja lebih baij ke depan,” ungkapnya di Putra Jaya-Malaysia, Rabu(25/1).

 

KSEI sebelumnya telah menerapkan aplikasi sistem pengelolaan investasi S-Invest. Aplikasi ini dikembangkan
KSEI bekerja sama dengan Korea Securities Depository (KSD) sebagai lembaga kustodian di Korea Selatan yang telah mengimplementasikan sistem serupa di pasar modalnya.

 

S-Invest diharapkan membuat Pasar Modal Indonesia memiliki platform dan sistem yang terintegrasi untuk industri pengelolaan investasi. S-Invest juga salah satu rencana strategis KSEI selain pengembangan sistem utama C-BEST Next-G dan AKSes Financial Hub. S-InveHal juga bisa mempermudah masyarakat membeli produk pasar modal, khususnya reksa dana.

doraemon

ID: Kepala Komunikasi Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia Yulianto Aji Sadono mengatakan, pada Kamis pekan lalu (27/10), total frekuensi dan volume transaksi perdagangan saham mencapai rekor tertinggi sepanjang berdirinya PT BEI sejak 13 Juli 1992.

Jumlah investor aktif yang bertransaksi di perdagangan saham juga mencatatkan rekor terbanyak.

“Rekor total frekuensi perdagangan saham yang tercipta Kamis lalu sebanyak 428.640 kali, jauh di atas rekor tertinggi sebelumnya pada 13 Juli 2016 sebanyak 376.777 kali transaksi.

Volume perdagangan saham juga mencetak rekor total 39,04 miliar unit saham, dibanding rekor sebelumnya pada 8 April 2011 sebanyak 29,83 miliar unit saham.

Jumlah investor aktif yang melakukan transaksi saham juga mencapai rekor sebanyak 38.734, dibanding rekor sebelumnya pada 9 Agustus 2016 sebanyak 35.455 investor,” paparnya. (bersambung)

Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/home/bei-miliki-likuiditas-terbaik-tahun-ini/152016

spiral

Bisnis.com, JAKARTA – Rata-rata nilai transaksi harian di PT Bursa Efek Indonesia pekan ini melonjak 7,58% menjadi Rp7 triliun sepanjang pekan ini dari Rp6,5 triliun.

Kepala Komunikasi Perusahaan BEI Dwi Shara Soekarno mengatakan kenaikan tersebut juga diikuti dengan peningkatan rata-rata volume transaksi harian saham sebesar 4,41% menjadi 7,18 miliar unit saham dari 6,87 miliar unit saham.

“Meski demikian rata-rata frekuensi harian transaksi perdagangan saham pada periode 5 sampai 9 September 2016 mengalami perubahan 4,17% menjadi 249,56 ribu kali transaksi dari 260,41 ribu kali transaksi di pekan sebelumnya,” katanya dalam keterangan resmi pada Jumat (9/9/2016).

Dia menyebutkan, performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini juga ikut mengalami perubahan 1,34% ke posisi 5.281,92 poin dari 5.353,46 poin di pekan lalu.

Selama sepekan terakhir, nilai kapitalisasi pasar IHSG ikut mengalami perubahan 1,39% ke posisi Rp5.683,44 triliun dari Rp5.763,71 triliun. Investor asing mencatatkan jual bersih Rp814 miliar di periode 5 hingga 9 September 2016.

Pekan ini diramaikan dengan pencatatan Obligasi dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap IV Tahun 2016. Obligasi yang diterbitkan oleh PT Indosat Tbk. (ISAT) ini mulai dicatatkan di BEI pada Senin (5/9/2016) dengan nilai nominal sebesar Rp3,46 triliun.

ets-small

Dalam setiap aktivitas yang menyangkut sejumlah pihak, sewaktu-waktu bisa muncul persengketaan atau konflik perdata. Tak terkecuali aktivitas di pasar modal. Apabila pihak yang bersengketa tak bisa menyelesaikan sendiri persoalannya, bagaimana mengatasinya? Di pasar modal Indonesia ada lembaga yang membantu penyelesaian sengketa yaitu, Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI) atau Indonesian Capital Market Arbitration Board.

BAPMI didirikan oleh SRO (Self Regulatory Organization) yaitu Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) serta asosiasi-asosiasi di lingkungan pasar modal Indonesia. BAPMI menjadi tempat menyelesaikan persengketaan perdata di bidang pasar modal melalui mekanisme penyelesaian di luar pengadilan.

Lembaga yang didirikan pada tahun 2002 ini akan memberikan tiga alternatif penyelesaian sengketa, yaitu pendapat mengikat, mediasi, dan arbitrase. Pendapat mengikat BAPMI adalah pendapat yang diberikan oleh BAPMI atas dasar permintaan para pihak mengenai penafsiran suatu ketentuan yang kurang jelas di dalam perjanjian agar di antara para pihak tidak terjadi lagi perbedaan penafsiran yang bisa membuka perselisihan lebih jauh.

BAPMI akan memberikan pendapat mengikat secara tertulis dan ditandatangani oleh ketua BAPMI selambat-lambatnya dalam waktu 30 hari kerja setelah dimulainya pemeriksaan, yang disampaikan melalui surat tercatat, bukan dalam suatu forum pertemuan. Pendapat mengikat yang diberikan oleh BAPMI ini bersifat final dan mengikat para pihak yang memintanya, oleh karenanya tidak dapat diajukan perlawanan atau bantahan. Pendapat mengikat itu harus segera dilaksanakan dalam waktu 30 hari sejak diterbitkan, dan setiap tindakan yang bertentangan dengan pendapat mengikat merupakan pelanggaran perjanjian.

Berikutnya, mediasi BAPMI adalah cara penyelesaian masalah melalui perundingan di antara para pihak yang bersengketa dengan bantuan pihak ketiga yang netral dan independen yang disebut mediator. Sifat mediator adalah fasilitator pertemuan guna membantu masing-masing pihak memahami perspektif, posisi, dan kepentingan pihak lain sehubungan dengan permasalahan yang tengah dihadapi dan bersama-sama mencari solusi penyelesaiannya. Tujuan dari Mediasi adalah dicapainya perdamaian di antara para pihak yang bermasalah.

Proses mediasi yang dilakukan BAPMI berlangsung selama 14 hari kerja dalam pertemuan (hearing) tertutup untuk umum yang dilaksanakan di tempat yang ditetapkan oleh BAPMI atau tempat lain yang disepakati oleh para pihak.

Yang terakhir adalah arbitrase BAPMI, yaitu cara penyelesaian sengketa dengan menyerahkan kewenangan kepada pihak ketiga yang netral dan independen. Pihak ketiga disebut arbiter yang bertugas memeriksa dan mengadili perkara pada tingkat pertama dan terakhir. Keputusan yang dijatuhkan oleh arbiter tersebut bersifat final, dan mengikat bagi para pihak yang tidak dapat diajukan banding.

Pemeriksaan dalam proses arbitrase BAPMI akan berlangsung paling lama 180 hari kerja terhitung sejak arbiter tunggal/majelis arbitrase terbentuk. Arbiter dapat memperpanjang jangka waktu tersebut dengan persetujuan pemohon dan termohon. Ada dua jenis arbiter, yakni arbiter tetap (arbiter BAPMI) dan arbiter tidak tetap (ad hoc) yang diseleksi, dan diangkat oleh pengurus BAPMI berdasarkan integritas dan kompetensi di bidang pasar modal sesuai latar belakang keahliannya masing-masing. Sebagian abiter dapat berlatar belakang praktisi, ahli hukum, akuntan, dan akademisi.

http://economy.okezone.com/read/2015/01/05/278/1088106/menyelesaikan-persengketaan-di-pasar-modal

Sumber : OKEZONE.COM

big-dancing-banana-smiley-emoticon

okezone Pasar Modal Indonesia tengah merayakan HUT yang ke-37. Dibanding pasar modal di negara maju di dunia, usia pasar modal Indonesia tergolong masih belia. Usia ke-37 dihitung sejak pasar modal Indonesia dibuka kembali dan diresmikan pada masa pemerintahan Orde Baru, yakni  pada tanggal 10 Agustus 1977 seperti tertuang dalam Keputusan Presiden RI No.52 Tahun 1976.
Namun, praktik perdagangan saham di Indonesia telah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Menurut buku “Effectengids” yang dikeluarkan Vereneging voor den Effectenhandel pada tahun 1939, transaksi efek telah berlangsung sejak 1880 namun dilakukan tanpa organisasi resmi sehingga catatan tentang transaksi tersebut tidak lengkap. Pada tahun 1878 terbentuk perusahaan untuk perdagangan komuitas dan sekuritas, yakti Dunlop & Koff, di Batavia (sekarang Jakarta).

Tahun 1892, perusahaan perkebunan Cultuur Maatschappij Goalpara di Batavia mengeluarkan prospektus penjualan 400 saham dengan harga 500 gulden per saham. Empat tahun berikutnya (1896), harian Het Centrum dari Djoejacarta juga mengeluarkan prospektus penjualan saham senilai 105 ribu gulden dengan harga perdana 100 gulden per saham. Tetapi, tidak ada keterangan apakah saham tersebut diperjualbelikan. Menurut perkiraan, yang diperjualbelikan adalah saham yang terdaftar di bursa Amsterdam tetapi investornya berada di Batavia, Surabaya dan Semarang. Inilah periode permulaan sejarah pasar modal Indonesia sebagaimana tertulis dalam Wikipedia.


Ketika pemerintah Kolonial Belanda membangun perkebunan secara besar-besaran di Tanah Air, sekitar awal abad ke- 19, mulailah ditawarkan saham perusahaan perkebunan kepada masyarakat kalangan elit ketika itu. Sejak itulah pemerintahan kolonial mendirikan cabang pasar modal  Amsterdamse Effectenbueurs atau Bursa Efek Amsterdam di Batavia (Jakarta) pada tanggal 14 Desember 1912, yang menjadi penyelenggara adalah Vereniging voor de Effectenhandel dan langsung memulai perdagangan.

Bursa Efek Batavia merupakan bursa keempat tertua di Asia, setelah Bombay (1830), Hong Kong (1847), dan Tokyo (1878). Pada saat awal terdapat 13 anggota bursa yang aktif yaitu: Fa. Dunlop & Kolf; Fa. Gijselman & Steup; Fa. Monod & Co.; Fa. Adree Witansi & Co.; Fa. A.W. Deeleman; Fa. H. Jul Joostensz; Fa. Jeannette Walen; Fa. Wiekert & V.D. Linden; Fa. Walbrink & Co; Wieckert & V.D. Linden; Fa. Vermeys & Co; Fa. Cruyff dan Fa. Gebroeders.

Pada awalnya bursa ini memperjualbelikan saham dan obligasi perusahaan atau perkebunan Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang diterbitkan pemerintah (provinsi dan kotapraja), sertifikat saham perusahaan-perusahaan Amerika yang diterbitkan oleh kantor administrasi di negeri Belanda dan efek perusahaan Belanda lainnya.

Pada 1914 bursa di Batavia sempat ditutup karena meletusnya Perang Dunia I dan dibuka kembali pada tahun 1918. Karena perkembangan yang pesat, pada 11 Januari 1925 di kota Surabaya dan 1 Agustus 1925 di Semarang  dibuka pula Bursa Efek Surabaya dan Bursa Efek Semarang. Namun, pertumbuhan pasar modal yang sebelumnya pesat berubah anjlok ketika  terjadi resesi ekonomi dunia  tahun 1929 dan pecahnya Perang Dunia II. Keadaan yang semakin memburuk membuat Bursa Efek Surabaya dan Semarang ditutup terlebih dahulu. Kemudian pada 10 Mei 1940 disusul oleh Bursa Efek Batavia.

Baru pada 3 Juni 1952, ketika Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, Bursa Efek Jakarta dibuka kembali. Operasional bursa pada waktu itu dilakukan oleh PPUE (Perserikatan Perdagangan Uang dan Efek) yang beranggotakan bank negara, bank swasta dan para pialang efek. Pada tanggal 26 September 1952 dikeluarkan Undang-undang No 15 Tahun 1952 sebagai Undang-Undang Darurat yang kemudian ditetapkan sebagai Undang-Undang Bursa.

Dalam perjalanan, ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi yang menyebabkan inflasi melambung tinggi hingga mencapai 650 persen, pasar modal kembali ditutup. Baru pada Orde Baru ketika situasi perekonomian Indonesia  membaik, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden RI ke-2 Soeharto, mengeluarkan Keputusan Presiden No. 52 Tahun 1976 tentang pendirian Pasar Modal, membentuk Badan Pembina Pasar Modal, serta membentuk Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam). Saat ini pengawas pasar modal menjadi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan bursa efek yang ada di Indonesia menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI).
(//mrt)

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0032

Bursa Batavia ke Bursa Efek Indonesia

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Indeks harga saham gabungan (IHSG)
/
KAMIS, 17 SEPTEMBER 2009 | 10:12 WIB
Oleh Reinhard Nainggolan

”Perusahaan-perusahaan diberi kesempatan untuk menjual sahamnya kepada masyarakat dan masyarakat diberi kesempatan membeli saham-saham tersebut. Dengan cara ini, kita mulai melangkah maju dalam usaha kita membangun ekonomi kekeluargaan seperti yang disyaratkan Pasal 33 UUD 1945.”

Sambutan itu disampaikan Presiden Soeharto saat mengaktifkan kembali Pasar Modal Indonesia, 10 Agustus 1977. Isinya menyiratkan bahwa pasar modal Indonesia diaktifkan kembali dengan mengedepankan asas pemerataan kepemilikan saham (baca: kekayaan). Adapun kata ”diaktifkannya” menunjukkan bahwa pasar modal telah ada sebelumnya.

Namun, adanya patahan sejarah mengesankan perdagangan saham di negeri ini baru dimulai 32 tahun lalu. Patahan sejarah itu adalah terbaginya kisah pasar modal dalam tiga periode yang tak saling terkait.

Periode pertama, yaitu sejarah berdirinya pasar modal di Indonesia, yang dimulai dari kegiatan jual-beli efek tahun 1880. Saat itu saham perusahaan ataupun obligasi Pemerintah Belanda telah diperjualbelikan kepada investor di Batavia, Surabaya, dan Semarang.

Dalam buku Pasar Modal Indonesia: Retrospeksi Lima Tahun Swastanisasi BEJ diceritakan, untuk mengatur aktivitas jual beli surat berharga, Amsterdamse Effectenbueurs, yang merupakan bursa efek tertua di dunia (didirikan di Dam Square, Belanda, tahun 1611), akhirnya membuka cabangnya di Batavia 14 Desember 1912. Cabang ini kemudian dikenal sebagai Bursa Batavia yang tercatat sebagai bursa tertua keempat di Asia setelah Bursa Bombay (tahun 1830), Bursa Hongkong (1871), dan Bursa Tokyo (1878).

Pendirian Bursa Batavia ini bertujuan mendukung keuangan kolonial. Penghimpunan dana memang bukan dari orang Indonesia yang saat itu masih susah, tetapi dari pemodal Belanda, Arab, dan China.

Namun, perputaran uang dari pasar saham inilah yang menopang Belanda mengeksploitasi hasil bumi Indonesia sebesar-besarnya. Sampai pada periode ini jelas tidak ada tujuan pemerataan kekayaan melalui pasar modal di Indonesia.

Perang Dunia

Karena memiliki emiten-emiten cukup menjanjikan, Bursa Batavia berkembang menjadi bursa internasional. Saham American Motors, Anaconda Copper, dan Bethlehem Steel—yang saat itu merupakan saham unggulan di New York Stock Exchange juga diperdagangkan di Bursa Batavia.

Perkembangan ini mendorong Pemerintah Hindia Belanda membuka bursa efek di Surabaya dan Semarang tahun 1925. Namun, akibat Perang Dunia II, seluruh kegiatan pasar modal di Indonesia terhenti pada 10 Mei 1940. Saat ditutup, Bursa Batavia, Surabaya, dan Semarang telah memperdagangkan 250 jenis saham yang jika dihitung berdasarkan harga beras tahun 1982 memiliki total kapitalisasi pasar Rp 7 triliun.

Pemerintah Belanda akhirnya membuka kembali bursa efek di Jakarta pada 23 Desember 1940. Namun, aktivitas jual-beli saham tidak kunjung pulih hingga Indonesia merdeka.

Untuk menggalang dana dengan surat utang, tahun 1947 pemerintah berencana mengaktifkan kembali pasar modal, tetapi tertunda karena labilnya perekonomian. Baru tahun 1952 Menteri Keuangan Sumitro Djojohadikusumo membuka kembali bursa efek di gedung De Javasche Bank atau Bank Indonesia di Jakarta Kota.

Namun, karut-marutnya situasi politik-ekonomi saat itu, konfrontasi Irian Barat, serta nasionalisasi perusahaan asing mengakibatkan aktivitas perdagangan saham tak bergairah.

Semangat itu baru disampaikan Presiden Soeharto saat meresmikan ”Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia” tahun 1977, yang bisa disebut sebagai awal periode ketiga dari sejarah bursa saham Indonesia.

Untuk mengembangkan pasar modal, sejak itu pemerintah memberikan fasilitas berupa keringanan pajak perseroan, pendapatan, dividen, dan kesempatan bagi investor asing memiliki saham sampai 49 persen. Fasilitas itu spontan mendorong perusahaan swasta ataupun BUMN untuk go public. Era itu dikenang sebagai masa ”kasmaran” pasar modal Indonesia.

Di tengah kentalnya spekulasi itu, perkembangan pasar modal luar biasa. Kini Bursa Efek Indonesia memiliki 406 emiten dengan kapitalisasi pasar Rp 1.850 triliun dan rata-rata nilai transaksi Rp 4-5 triliun per hari.

Namun, apakah cita-cita diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia telah tercapai, yaitu terjadinya pemerataan kekayaan melalui bursa saham?

Saat ini jumlah investor domestik 300.000 orang, 0,1 persen dari populasi. Betapa rendahnya daya jangkau pasar modal Indonesia sebagai wadah pemerataan kekayaan. Tertinggal dibanding Malaysia dengan 3 juta investor (12,8 persen populasi) atau Singapura 1,26 juta investor (30 persen populasi).

Minimnya jumlah investor lokal ini juga berdampak pada mudahnya bursa dikendalikan investor asing. Pergerakan harga saham di BEI ditentukan keluar-masuknya modal asing sekalipun nilai transaksi mereka hanya 20-25 persen dari nilai transaksi keseluruhan.

Sebagian hal ini dipengaruhi minimnya pengetahuan investor lokal tentang dunia investasi dan keuangan sehingga kerap berperilaku ikut-ikutan.

Selain melalui proses edukasi dan sosialiasi, upaya peningkatan jumlah investor domestik juga sangat terkait dengan perlindungan investor. Masyarakat tidak akan tertarik berinvestasi di bursa jika masih terdengar berita praktik penggorengan saham. Apalagi, jika masih muncul kasus penyelewengan dana nasabah, seperti kasus Sarijaya Sekuritas dan Bank Century.

Karena itu, mewujudkan pasar modal yang teratur, wajar, dan efisien adalah harga mati. Tanpa itu, cita-cita memperbesar basis investor lokal hanya menjadi impian semata.

Jika demikian, pendirian Bursa Batavia yang dulu untuk kepentingan Belanda tidak berbeda dengan pasar modal Indonesia saat ini yang manfaatnya lebih banyak dikecap investor asing.

doraemon

JAKARTA okezone – Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor di pasar modal mencapai 500 ribu dengan 99 persennya merupakan investor lokal. Hal ini menunjukkan pertumbuhan pasar modal setiap tahun terus mengalami peningkatan.

“Jumlah Investor asing sekitar di bawah 10 ribu termasuk investor institusi. Tidak ada jumlah emiten, makin banyak makin bagus. Mulai dari kapitalisasi pasar, jumlah perusahaan yang mencatatkan sahamnya di pasar modal, hingga level indeks harga saham gabungan (IHSG),” ujar Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito saat ditemui di gedung BEI, Jakarta, Senin (15/9/2014).

Dia mengatakan, meski regulator pasar modal terus berupaya untuk memperkuat basis investor domestik, namun pasar modal Indonesia dapat menjadi lebih tangguh dan lebih memiliki daya tahan ketika menghadapi krisis. “Dengan demikian peran pasar modal dapat semakin optimal sebagai mesin penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, salah satu cara untuk meningkatkan basis investor adalah melalui program sosialisasi. “Dan edukasi yang lebih terpadu kepada masyarakat,” tambah dia.

Sementara itu, aksi beli investor asing dari awal tahun hingga saat ini berjumlah Rp 55 triliun. Meskipun dalam dua pekan aksi beli investor asing turun sekitar Rp2,3 triliun. “Signifikan kalau bicara minggu ini. Tapi kalau dari awal tahun, masuknya yang signifikan,” tutupnya.
(mrt)

 

 

widely, wisely @investas1 (4) 16 September 2017

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:34 am

 

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0032

KONTAN.CO.ID – Ada yang mengatakan bahwa perbedaan antara orang kelas atas dan orang kelas menengah tampak dari cara pandangnya.

Cara pandang orang kelas atas selalu fokus pada satu hal yang menurutnya dapat menguntungkan dengan mempertimbangkan risikonya.

Selain itu, orang kelas atas juga selalu memiliki mimpi yang sangat tinggi sehingga bekerja keras tanpa henti untuk bisa mewujudkanya.

Walaupun begitu, orang kelas menengah kadang sering menganggap bahwa hal tersebut tidak mungkin bisa dicapai.

Perbedaan tersebut yang menjadikan mengapa orang kelas atas bisa semakin kaya. Sementara orang kelas menengah membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menjadi orang kelas atas.

Ada beberapa cara pandang yang sepertinya harus dimiliki kita ingin sukses seperti orang-orang kelas atas di luar sana. Cara pandangnya cukup sederhana dan penuh perhitungan pastinya.

Berikut ini cara pandang yang harus diubah orang kelas menengah agar bisa mengikuti langkah orang kelas atas.

1.Kelas Atas Mengejar Pemasukan, sedangkan Kelas Menengah Menumpuk Simpanan

Mungkin dari dulu hingga sekarang, kita selalu berpikir bahwa orang yang rajin menabung akan menjadi kaya.

Nyatanya, orang kelas atas bisa semakin kaya bukan karena mereka rajin menabung. Namun, karena mereka rajin memikirkan untuk terus menambah pendapatan mereka supaya semakin kaya.

Oleh sebab itu, orang kelas atas hanya fokus pada pemasukan yang diperolehnya. Orang kelas atas juga lebih berani untuk berinvestasi dengan tujuan agar pemasukannya jadi maksimal.

Namun, untuk bisa seperti itu, orang kelas atas tidak menjalankan bisnis dalam skala kecil. Hanya bisnis tertentu seperti properti yang prospeknya memang menjanjikan.

Saat orang kelas atas penuh keyakinan dalam menambah pemasukannya, orang kelas menengah malah sibuk memikirkan risiko apabila mereka juga melakukan hal yang sama.

2.Kelas Atas Membuat Uangnya Bertumbuh, Kelas Menengah Menghamburkan Uangnya

Orang kelas atas yang identik dengan banyak uang, selalu mendapat stigma sebagai orang yang boros.

Sebab orang kelas atas pasti akan belanja banyak hal, seperti barang-barang bagus, pakaian bagus, hingga makanan-makanan enak.

Tapi, tahukah Anda ternyata yang sering melakukan hal seperti ini adalah orang kelas menengah?

Saat punya uang, orang kelas menengah cenderung akan menghabiskan uang  supaya terlihat sudah punya banyak uang.

Sebaliknya, orang kelas atas malah cenderung membuat uangnya bertumbuh dengan tujuan akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi dari sebelumnya.

3.Kelas Atas Tak Puas dengan Pengetahuannya, Kelas Menengah Merasa Cukup Pintar

Ternyata orang-orang kelas atas tidak pernah merasa sudah cukup segalanya, termasuk dalam menimba ilmu tentang berbagai hal.

Orang kelas menengah selalu ingin belajar hal baru dan mengasah kemampuannya. Untuk mempelajari hal baru tersebut, kelas menengah bahkan tidak segan untuk menyediakan waktu luang cuma untuk belajar.

4.Orang Kelas Atas Jauh dari Kesan Konsumtif

Karena mungkin saat perjuangan hingga bisa berada di atas, mereka sangat menghargai hal tersebut.

Sebab untuk meraihnya tidaklah mudah. Hal tersebut juga yang membuat mereka tidak memiliki gaya hidup yang konsumtif.

Sebagian dari mereka bahkan ada yang menjalani hidup secara sederhana saja. Kelas menengah terkadang bisa lebih konsumtif dengan banyak membeli barang yang hanya diinginkan, bukan yang dibutuhkan.

5.Kelas Atas Selalu Optimis, Kelas Menengah Sebentar-Sebentar Sudah Pesimis

Berbicara soal mimpi, ternyata banyak orang kelas atas yang sukses karena punya mimpi. Seperti lagu Band Nidji, bahwa “Mimpi adalah kunci untuk menaklukan dunia”.

Antara orang kelas atas dan orang kelas menengah, mereka sama-sama punya mimpi yang sedang berusaha untuk diraih. Tapi, orang kelas atas ternyata memiliki mimpi yang sangat tinggi.

Mungkin menurut kita, mimpi orang kelas atas kadang tidak rasional dan mustahil. Namun, orang kelas atas secara spontan membentuk cara pandangnya dengan sangat baik.

Selain itu, mereka juga memusatkan seluruh usahanya untuk meraih mimpinya.

Ubah Cara Pandang Mulai dari Hal yang Sederhana

Tidak usah terlalu memaksakan diri untuk mengubah total cara pandang agar sama dengan pemikiran orang-orang kelas atas. Anda bisa mulai mengubah cara pandang dari hal-hal yang sederhana terlebih dulu.

Misalnya, lebih giat mencari tambahan pemasukan ataupun berhenti hidup boros. Jika sudah begitu, silakan Anda mulai mengikuti semua cara pandan orang kelas atas agar hidup jauh lebih baik.

Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Kompas.com, berjudul: 5 Penyebab Orang Kelas Menengah Sulit Naik Jadi Kelas Atas

Sumber Kompas.com

ets-small

Jum’at, 09 Juni 2017 | 17:05 WIB
Ingin Santai Tapi Penghasilan Besar? Begini 10 Caranya
TEMPO.CO, Jakarta – Menghasilkan uang sambil tidur? Kedengarannya sungguh tidak mungkin. Tapi karena kita hidup di era internet, ternyata tidak sulit mendapatkan ekstra penghasilan.

Berikut adalah 10 cara yang dilansir Entrepreneur agar Anda benar-benar bisa mendapatkan uang sambil tiduran atau minum kopi.

1. Menulis blog
Untuk membuat blog, Anda hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk memulai. Cukup beli nama domain dan bayar hosting saja. Lalu, mulailah membuat konten yang baik sehingga orang tertarik untuk membaca atau membagikannya ke orang lain.

Tidak perlu pusing mengenai isi blog. Cari hal yang Anda kuasai atau betul – betul Anda sukai. Misalnya, jika Anda seorang akuntan yang telah membantu pemilik usaha kecil dengan pajak mereka, jadikanlah itu blog. Anda bisa mencari topik agar tulisan populer atau bermanfaat.

 

Setelah mendapatkan orang yang mengikuti blog, Anda bisa mulai menghasilkan uang dari blog dengan berafiliasi. Anda bisa mengajak atau menampilkan produk atau layanan orang lain di situs. Pastikan produk atau layanan ini relevan dengan blog Anda. Misalnya, blog akuntansi bisa berafiliasi dengan akuntansi atau perangkat lunak faktur. Setelah menemukan mitra afiliasi, Anda akan diberi kode unik sehingga setiap kali pengunjung mengklik link di situs, Anda akan mendapatkan komisi.

Jika situs memiliki lalu lintas untuk menjadi afiliasi, mungkin cukup baik bagi pengiklan untuk membeli iklan di situs Anda. Temukan sponsor. Ini sedikit berbeda dengan hanya menjual iklan di situs. Sponsor dapat berupa konten yang bersponsor atau logo permanen yang ada di kaki blog.

2. Jual produk informasi sendiri
Jika memiliki pengetahuan di area tertentu, Anda dapat mulai membuat produk, seperti eBook atau video, dan menjualnya di blog. Mungkin dibutuhkan banyak usaha untuk menciptakan dan memasarkan produk Anda, tapi begitu semua pekerjaan selesai, Anda bisa mengatur dan mengumpulkan hasilnya.

3. Dapatkan royalti
Jika Anda seorang musisi, aktor, atau penulis berbakat, Anda bisa mendapatkan royalti dari pekerjaan. Dengan kata lain, orang akan membayar untuk menggunakan karya atau aset kreatif Anda. Jika Anda tidak cukup berbakat tapi tetap tertarik untuk mendapatkan royalti, kemudian check out Royalty Exchange. Ini adalah pasar tempat Anda bisa membeli dan menjual royalti.

4. Buat komunitas keanggotaan
Jika berhasil membuktikan diri sebagai orang yang berpengaruh, Anda dapat membuat komunitas keanggotaan di mana Anda membayar biaya bulanan untuk menerima konten berkualitas tinggi dan informasi tambahan yang tidak tersedia bagi non-anggota. Salah satu contoh adalah Timothy Sykes yang menghasilkan pendapatan pasif lebih dari USD 100.000 per bulan melalui komunitas anggotanya yang membahas bagaimana orang bisa menghasilkan uang dalam perdagangan saham.

5. Instal autoresponder
Model bisnis daring lain yang umum adalah menggunakan penjawab otomatis untuk menjual layanan, produk, atau keanggotaan. Di sinilah orang meninggalkan alamat surel mereka di situs Anda dan kemudian mereka akan menerima surel otomatis yang berisi tautan untuk mengunduh produk atau informasi berkualitas yang ditawarkan. Anda akan membutuhkan layanan seperti OptinMonster untuk membuat ini menjadi mungkin. Sebaiknya Anda membaca panduan Quick Sprout untuk memulai penjawab otomatis terebut.

6. Laman Flip
Jika Anda telah memasukkan waktu dan usaha untuk membangun sebuah situs dan telah mendapatkan banyak respons positif, Anda mungkin bisa menjualnya ke pihak yang berkepentingan dengan mencantumkan di pasar seperti Flippa. Di Flippa, Anda dapat membeli dan menjual banyak situs di sini dan menghasilkan banyak uang.

7. Jual produk fisik
Sama seperti dengan situs blogging, ada beberapa cara untuk mendapatkan penghasilan pasif dengan menjual produk fisik, misalnya lewat eBay. Tetapi jika tidak memiliki barang yang tersisa untuk dijual, Anda bisa mulai dengan sistem drop shopping di mana Anda bisa berjualan tanpa harus pusing memikirkan soal pengiriman.

Anda juga bisa meluncurkan toko eCommerce sendiri dengan menggunakan Shopify. Mereka benar-benar memberi semua yang Anda butuhkan untuk menjual produk secara daring.

8. Berinvestasi dalam saham
Bila berinvestasi di suatu saham, maka Anda resmi menjadi pemangku kepentingan/stakeholder. Berinvestasi dalam saham telah menjadi cara yang populer untuk mendapatkan penghasilan pasif selama bertahun-tahun dan berkat internet lebih mudah daripada sebelumnya untuk meneliti dan berinvestasi pada saham sendiri. Ingatlah bahwa saham yang Anda investasikan dapat berubah sepanjang waktu.

9. Peminjaman uang dalam jaringan pertemanan
Perusahaan seperti LendingClub, Propser, dan Harmoney telah menciptakan industri baru di mana setiap orang bisa menjadi pemberi pinjaman. Mereka kemudian akan mencocokkan Anda dengan konsumen yang memiliki masalah dalam mengamankan pinjaman dari bank. Anda bisa mendapatkan tingkat bunga yang lebih tinggi atas pinjaman yang Anda keluarkan karena berhadapan langsung dengan peminjam.

10. Sewa properti
Berkat Airbnb, Anda bisa menyewakan rumah saat berlibur atau tidak digunakan. Anda juga bisa menyewakan garasi, tempat parkir, atau ruang kantor yang tidak terpakai. Cara untuk menyewakan ruangan yang Anda punya adalah dengan mengiklakannya dan mendaftarkannya daring.

TABLOIDBINTANG

ets-small

 

TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)  Muhammad Syarkawi Rauf mengatakan kini jumlah pengusaha baru di Indonesia baru 1,6 persen atau sekitar 4,6 juta jiwa dari total jumlah penduduk Indonesia.

“Jumlah pelaku usaha di tingkat nasional masih 1,6 persen dari jumlah penduduk. Idealnya kita harus punya 4 persen dari jumlah penduduk yang berprofesi sebagai wirausahawan,” kata Syarkawi kepada wartawan seusai menghadiri acara Dialog Persaingan: Mendorong Tumbuhnya Wirausaha Muda Melalui Persaingan Usaha Sehat di hotel Panghegar, Kota Bandung, Jumat, 2 Juni 2017.

Oleh karena itu KPPU akan terus menggenjot kenaikan para pelaku usaha baru guna mendongkrak pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Tingkat pertumbuhan pelaku usaha baru di Tanah Air memang terbilang rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga lainnnya di lingkup Asia Tenggara.

Menurut Syarkawi, guna mencapai target tercapainya pelaku wirausaha hingga 4 persen, maka dibutuhkan sekitar 6,6 juta pelaku usaha baru lagi. Hal ini, tentu tidak terlalu sulit asalkan adanya dorongan dari berbagai pihak dari mulai regulasi pemerintah juga sokongan pihak swasta.

Dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Tenggara, kata Syarkawi, memang jumlah pelaku usaha baru di Indonesia cukup tertinggal. Di Malaysia jumlah pelaku yang baru memulai menjalankan bisnis itu mencapai 5 persen. “Untuk di Thailand mencapai 4 persen, Singapura 7 persen, makanya kami dari KPPU salah satunya adalah mendorong pelaku usaha baru untuk tetap tumbuh,” katanya.

Strategi yang dilakukan KPPU dalah mengubah regulasi yang ditetapkan pemerintah yang justru menjadi penghambat pertumbuhan pelaku usaha baru. “Kami tahun ini fokus ke daftar periksa persaingan,” tutur Syarkawi.

Soal ini, kata Syarkawi, KPPU sudah menanyakan ke pemerintah daerah, pemerintah provinsi serta pemerintah pusat. “Intinya apakah regulasi yang dibuat menghambat terhadap pengusaha baru. Nah, kalau regulasi itu menciptakan hambatan berarti tidak pro ke persaingan dan kita akan rubah,” katanya.

Hal kedua yang dilakukan KPPU dengan mendorong pengusaha baru untuk mengoreksi struktur pasar yang notabene masih dibelenggu oleh sekelompok minoritas alias incumben pengusaha besar. Daya saing yang tidak sehat menyebabkan masyarakat enggan terjun untuk turun langsung memulai membuka usaha baru.

Syarkawi menjelaskan, jumlah pelaku di beberapa jenis komoditas usaha paling strategis hanya berkisar 2-3 pelaku usaha besar. “Sementara yang masuk ke situ agak sulit, oleh sebab itu kami ingin dorong supaya struktur pasar bisa berubah tidak terkonsentrasi,” ujarnya.

Terakhir, KPPU akan terus mendorong perubahan prilaku antar pelaku usaha baru dengan menanamkan budaya persaingan yang sehat untuk menyokong pertumbuhan perekonomian Indonesia. “Kita dorong budaya persaingan di antara pengusaha kita, sehingga tercipta struktur ekonomi yang efisien meningkatkan produktivitas kemudian ujung-ujungnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sehingga untuk mencapai visi kita secara nasional tahun 2025 itu kita harus tumbuh sekitar 6 sampai 8 persen akan tercapai,” ucap dia.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan adanya industri hulu memang menjadi salah satu kunci terciptanya pelaku usaha baru di Tanah Air. Namun, saat ini industri hulu belum juga terealisasi di Indonesia.

Ade menyebutkan saat ini konsolidasi industri untuk sektor tekstil di luar negeri terjadi tapi di Indonesia tak ada industri hulu yang sukses berkembang. “Akibatnya tak ada konsolidasi industri. Padahal itu (konsolidasi) bisa membuat 10 ribu enterpreuner jika industri hulu ada di Indonesia,” ucap Ade.

AMINUDDIN A.S.

rose KECIL

TEMPO.CO, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah menutup 13 entitas usaha yang dianggap tidak berizin sepanjang Januari dan Februari lalu. Direktur Kebijakan dan Dukungan Penyidikan OJK Tongam L Tobing mengatakan Satgas Waspada Investasi kembali menutup 6 kegiatan usaha yang tidak mengantongi izin pada bulan ini.

Baca: OJK Sebut Baru Satu Perusahaan Pinjaman Online yang Terdaftar

“Setelah menutup enam entitas pada Januari dan tujuh entitas pada Februari lalu, Maret ini Satgas Waspada Investasi kembali menghentikan enam kegiatan penghimpunan dana masyarakat atau kegiatan usaha yang tidak memiliki izin dari otoritas manapun,” ujar Tongam, melalui keterangan resminya, Ahad 26 Maret 2017.

Baca: Lagi, 7 Perusahaan Investasi Bodong Ditutup OJK

Satgas Waspada Investasi menghimbau kepada masyarakat berhati-hati sebelum menjatuhkan pilihan investasi. Berikut empat saran Satgas Waspada Investasi untuk masyarakat yang ingin berinvestasi.

1. Memastikan perusahaan yang menawarkan investasi tersebut memiliki izin usaha dari otoritas yang berwenang sesuai dengan kegiatan usaha yang dijalankan.

2. Memastikan bahwa pihak yang menawarkan produk investasi, memiliki izin dalam menawarkan produk investasi atau tercatat sebagai mitra pemasar.

3. Memastikan bahwa perusahaan atau pihak yang melakukan penawaran investasi tersebut, juga memiliki domisili usaha sesuai dengan izin yang dimiliki.

4. Jika menemukan tawaran investasi yang mencurigakan, masyarakat bisa mengkonsultasikan atau melaporkan kepada Layanan Konsumen OJK 1500655, email konsumen@ojk.go.id atau waspadainvestasi@ojk.go.id.

BISNIS

ets-small

Jakarta detik- Warren Buffett masuk ke dalam jajaran salah satu orang terkaya di dunia. Ia adalah pemilik dari perusahaan Berkshire Hathaway.

Pada tahun 2015, kekayaan yang dimiliki oleh Warren Buffett US$ 11,5 miliar. Bahkan dalam sehari, Buffett pernah kehilangan kekayaan US$ 870 juta.

Semua itu terjadi karena bursa Amerika Serikat (AS) yang volatilitasnya cukup tinggi pada tahun lalu. Kemudian di awal 2016 kemarin, kekayaan Buffett tercatat US$ 61,4 miliar. Dan pada awal tahun 2017, kekayaannya mencapai US$ 75,6 miliar versi forbes.

Meskipun mengalami penurunan kekayaan cukup besar di tahun 2015, Buffett masih tercatat sebagai salah satu miliuner dunia. Ia berada di peringkat nomor 3 sebagai orang terkaya di dunia.

Agar investor lain tak terjerumus volatilitas investasi yang cukup tinggi seperti dirinya pada 2015 lalu, Buffett memiliki beberapa pesan. Aturan yang diterapkan Buffett dalam berinvestasi sebenarnya cukup sederhana. Namun untuk melaksanakannya cukup sulit.

Buffett mengatakan, ada banyak aturan dalam berinvestasi. Namun investor sebaiknya mengingat dua peraturan yang dibuat Buffett ini.

  1. Aturan pertama adalah hindari ingin kaya dengan cepat.

Sedangkan aturan kedua adalah jangan lupa aturan nomor satu.

“Pasar saham bukan permainan yang bisa dilakukan dengan satu pukulan. Untuk bisa memenangkannya, Anda hanya menunggu waktu,” kata Buffett.

Akan tetapi, masa lalu kinerja saham bukan jaminan keberhasilan di masa depan. Buffett juga menyarankan sebaiknya menanamkan investasi di tempat yang Anda kuasai, dan menahan godaan untuk investasi yang sedang digemari oleh banyak orang.

Jika melihat di belakang, kekayaan yang dimiliki oleh Buffett memang tidak datang dengan cepat. Ia mendapat 99 persen kekayaannya saat mencapai usia 50 tahun.

Buffett menghasilkan kekayaan sebesar US$ 62,7 miliar setelah ulang tahunnya yang ke-50. Bufffet butuh waktu lama membangun bisnisnya agar sukses dan akhirnya menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

dollar small

Merdeka.com – Sekalipun krisis melanda, masih ada peluang yang tercipta dan bisa diraih. Ekonomi yang tengah dalam masa krisis memang membuat banyak orang lemah secara finansial. Ekonomi menjadi lesu karena daya beli masyarakat turun dan buntutnya banyak bisnis yang harus tutup. Ancaman PHK pun membayangi orang-orang yang berstatus sebagai karyawan. Namun, haruskah bersikap pesimis menghadapi masa krisis?

Pernah Indonesia diguncang krisis hebat pada tahun 1998. Krisis waktu itu benar-benar tidak hanya menimbulkan ketidakstabilan ekonomi, tetapi juga politik. Nilai Rupiah tidak ada artinya di hadapan Dolar. Angka pengangguran membengkak akibat banyak orang yang di-PHK. Banyak perusahaan dan bank yang kolaps. Gairah orang-orang untuk melakukan aktivitas ekonomi nyaris padam saat itu.

Dilansir cermati, Minggu (19/3), situasi tersebut lantas jangan diartikan kecilnya harapan untuk pulih kembali. Nyatanya, sejak 1998 dan bergulirnya era Reformasi, perbaikan secara bertahap dari waktu ke waktu terus menunjukkan perkembangan yang positif. Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi hingga lebih dari 5 persen dan roda perekonomian terus bergerak walaupun sesekali melamban.

Bangkitnya Indonesia dari keterpurukan terlihat dari naiknya angka kelas menengah Indonesia. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang tidak takut untuk tetap melakukan investasi. Bahkan, saat kondisi ekonomi sedang tidak baik. Mereka yakin bahwa saat kondisi ekonomi kembali membaik, tidak hanya ekonomi yang akan pulih, tetapi semua bidang lain juga akan pulih.

Berikut investasi yang bisa dilakukan saat krisis ekonomi:

1. Dolar AS

Merdeka.com – Kurs atau nilai tukar Rupiah terhadap Dolar cenderung berubah-ubah. Kadang angkanya menguat terhadap Dolar, kadang melemah di hadapan Dolar. Menjadi tugas Bank Indonesia (BI) dan peran serta Pemerintah untuk tetap menjaga agar ketidakstabilan kurs tidak membahayakan. Hingga hari ini kurs Rupiah masih bisa dijaga pergerakannya.

Jika melihat pergerakan kurs pada tahun-tahun sebelumnya, nilai tukar Rupiah berada di sekitar Rp 9.000-lebih dari Rp 11.000 per USD. Sebelum krisis 1998, nilai tukar Rupiah pernah sekitar Rp 2.000-an. Pas krisis terjadi, nilai Dolar melambung tinggi mencapai harga Rp 13.000 per USD. Nilai tukar sekitar Rp 13.000-an terjadi kembali pada tahun 2015, yang sebelumnya sekitar Rp12.000-an.

Naik turunnya nilai tukar jadi keuntungan bagi yang menyimpan uangnya dalam bentuk Dolar sebagai pilihan investasi. Bisa dibayangkan bukan berapa Rupiah yang didapat bila Anda membeli Dolar sebelum krisis dan menjualnya setelah krisis. Sebagai contoh, Anda membeli Dolar pada tahun 2012 dengan kurs sekitar Rp 9.718 per USD. Kemudian diberitakan pada 2014, Rupiah melemah dengan nilai tukar mendekati Rp 14.000. Kalau Anda menukarkan Dolar Anda pada 2014, Anda akan mendapatkan laba sekitar Rp 4.282 untuk setiap Dolar.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi naik turunnya kurs Rupiah, baik dari luar maupun dalam negeri. Bila ditinjau dari faktor luar, menguatnya ekonomi Amerika Serikat dan kenaikan suku bunga acuan The Fed berdampak negatif terhadap Rupiah. Sementara ditinjau dari faktor dalam negeri, kebijakan yang diambil Pemerintah dan Bank Indonesia berdampak langsung terhadap kurs Rupiah.

Nah, bila Anda berniat berinvestasi Dolar, mulailah rajin memperbarui informasi soal ekonomi dalam negeri dan dunia. Dapatkan informasi terbaru mengenai kurs setiap harinya. Anda bisa memanfaatkan media online untuk terus mendapat informasi. Jangan sampai Anda rugi karena tidak tepat dalam membuat keputusan. Sebab setiap pergerakan Rupiah perlu dicermati dan dianalisis lebih jauh.

2. Emas

Merdeka.com – Emas juga menjadi pilihan investasi yang diambil pada masa krisis. Bila melihat data perkembangan emas 15 tahun terakhir di Indonesia, setiap tahunnya terjadi peningkatan harga emas. Pada 2000, harga emas per gram di Indonesia sekitar Rp 72.000. Lima tahun kemudian, tepatnya tahun 2005, harganya telah mencapai Rp 118.000. Pada 2010, harganya berubah lagi menjadi Rp 500.000.

Melihat kenaikan harga tersebut, emas setidaknya lebih baik sebagai investasi ketimbang tabungan. Sebab nilai emas tidak tergerus inflasi. Sementara uang yang disimpan dalam bentuk tabungan akan susut nilainya oleh inflasi. Walaupun demikian, investasi emas bukanlah investasi yang menguntungkan dalam waktu singkat. Cukup lama untuk merasakan keuntungan dari kenaikan emas.

Naik turunnya harga emas dipengaruhi sejumlah faktor. Pertama, nilai tukar/kurs, bila nilai Dolar menguat terhadap Rupiah, harga emas cenderung turun. Sebaliknya, bila melemah, harga emas akan naik. Kedua, produksi emas di dunia, bila permintaan banyak, tetapi produksi sedikit, harga emas akan naik. Ketiga, meningkatnya permintaan industri perhiasan akan berdampak pada kenaikan harga emas. Keempat, penyimpanan emas dalam jumlah besar oleh bank sentral dunia. Kelima, persoalan politik.

Dari faktor-faktor di atas, salah satu yang memengaruhi harga emas ialah nilai tukar/kurs. Saat krisis, ciri yang paling jelas tampak adalah melemahnya Rupiah terhadap Dolar secara signifikan. Menguatnya Dolar membuat harga emas turun. Situasi ini jadi kesempatan untuk membeli emas sebagai investasi. Nantinya begitu kondisi stabil seiring perbaikan ekonomi, dengan sendirinya harga emas akan naik.

Tertarik untuk berinvestasi emas? Selain memerhatikan faktor-faktor yang disebutkan tadi, Anda juga harus terus memantau pergerakan harga emas. Anda bisa mengetahui harga emas dari hari ke hari lewat media cetak ataupun media online.

3. Saham

Merdeka.com – Saham merupakan salah satu investasi yang paling bereaksi terhadap kondisi ekonomi di dunia dan dalam negeri. Saat terjadi krisis ekonomi, biasanya harga sahamlah yang paling pertama turun. Di sisi lain, saat ekonomi pulih, harga saham pulalah yang akan pertama kali mengalami kenaikan.

Reaksi seperti itulah yang membuat investasi saham dikategorikan sebagai jenis investasi yang berisiko tinggi. Harga saham yang selalu bertengger di atas bisa jatuh seketika bila krisis melanda. Investor yang lengah dalam mencermati situasi akan menderita kerugian karena harga jual saham lebih rendah dari harga waktu mereka beli dulu.

Bagi Anda yang ingin berinvestasi saham, masa krisis sebenarnya menjadi waktu yang tepat untuk memulainya. Lakukan pembelian saham dengan terlebih dahulu menganalisisnya secara fundamental dan teknikal. Dengan begitu, saham yang diproyeksikan akan menguntungkan pasca krisis bisa Anda temukan.

4. Reksa dana

Merdeka.com – Apabila Anda kesulitan mengatur waktu untuk mempelajari cara berinvestasi, reksa dana bisa menjadi pilihan lain investasi pada masa krisis. Anda tidak perlu membuang waktu untuk berlama-lama memantau dinamika yang terjadi di pasar keuangan. Sebab seluruh dana yang Anda investasikan dikelola sebaik mungkin oleh manajer investasi. Anda sebagai investor hanya tinggal menerima laporan dari manajer investasi.

Reksa dana yang beredar di Indonesia terbagi menjadi empat pilihan, yaitu reksa dana pasar uang, pedapatan tetap, saham, dan campuran. Anda tinggal memilih mana yang cocok dengan tujuan keuangan. Mau yang jangka pendek, pilihlah reksa dana pasar uang. Ingin yang keuntungannya besar, pilihlah reksa dana saham.

rose KECIL

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Gong Xi Fa Cai! Mengacu kalender Tionghoa, hari ini (28/1), adalah awal Tahun Baru Imlek 2.568. Memasuki Tahun Ayam Api ini, kepakan sayap bisnis dan ekonomi di Indonesia diharapkan semakin terbentang.

Optimisme juga membayangi pasar saham. Dari pasar global, Wall Street baru saja mengalami euforia. Maklum, indeks Dow Jones Industrial mencetak rekor baru, menembus 20.000.

Apa saja saham-saham yang menurut fengshui menarik di Tahun Ayam Api? Analis First Asia Capital David Nathanael Sutyanto memprediksi, tahun ini sektor energi bisa mencetak cuan. “Kalau Api mainnya masih di energi karena api baik untuk energi,” ungkap David, Kamis (26/1).

Di sisi lain, ayam agak jelek disandingkan dengan metal, sehingga saham-saham terkait metal, seperti saham keuangan, cenderung dihindari. Lantaran keberuntungan shio ayam tak terlalu bagus di tahun ayam, saham poultry juga dianggap tak terlalu bagus tahun ini.

David menilai awal tahun bakal agak berat bagi investor. Sentimen positif baru terlihat di akhir kuartal satu atau akhir semester satu.

Namun, David menilai IHSG tetap tidak akan menyentuh 6.000 tahun ini. Soal prospek saham energi, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee sepakat dengan David. “Saya memprediksikan sektor komoditas dan energi masih baik,” kata Hans.

Ini juga didukung prediksi perbaikan harga komoditas pada tahun 2017. Selain itu, tahun ayam memperlihatkan ego tinggi. Tengok saja, salah satu agenda Presiden AS Donald Trump. adalah menarik Amerika Serikat dari kerjasama perdagangan Trans-Pacific Partnership (TPP).

Berbeda dengan David, Hans justru melihat saham bank bakal menarik tahun ini. Infrastruktur dan konstruksi juga yang layak dipertimbangkan. Kepala Riset Bahana Securities, dalam riset per 25 Januari, merekomendasikan saham AKRA, TBLA, BWPT, PANR, SCMA, HMSP, ICBP dan CSAP.

Bahana memilih saham tersebut berdasarkan penerawangan Suhu Ong, seorang pembaca Bazi tenar. Sekali lagi, Gong Xi Fa Cai! Semoga investor meraup banyak angpao.(Elisabet Lisa Listiani Putri)

 ezgif.com-resize

JAKARTA bisnis.com — Otoritas Jasa Keuangan menetapkan 345 saham emiten dan perusahaan publik masuk dalam jajaran Daftar Efek Syariah untuk periode II/2016 yang berlaku mulai Desember 2016-Mei 2017. Jumlah tersebut merupakan rekor sejak 2013.

Sardjito, Deputi Komisioner Pengawasan Pasar Modal II OJK, menuturkan otoritas secara berkala melakukan penelaahan terhadap laporan keuangan emiten dan perusahaan publik, serta data dan informasi pendukung untuk menentukan Daftar Efek Syariah terbaru.

Berdasarkan penelaahan terhadap 584 laporan keuangan emiten dan perusahaan publik, OJK menerbitkan Keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan No.Kep-54/D.04/2016 tentang DES yang akan mulai berlaku pada 1 Desember 2016.

Dalam Keputusan OJK itu, 354 efek saham masuk dalam jajaran DES dan 239 saham tidak termasuk dalam DES. Saham yang masuk DES periode II/2016 terdiri dari 342 saham yang memenuhi kriteria screening saham syariah dan tiga entitas syariah, yakni PT Bank Panin Syariah Tbk., PT Bank Muamalat Tbk., dan PT Sofyan Hotel Tbk.

Menurut Sardjito, jumlah saham yang masuk dalam jajaran DES pada periode Desember 2016-Mei 2017 membukukan rekor terbanyak. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan DES periode II/2013 sebanyak 336 saham, DES periode II/2014 sebanyak 334 saham, DES periode II/2015 sebanyak 331 saham, dan DES periode I/2016 sebanyak 321 saham.

Komposisi saham DES, lanjutnya, didominasi oleh emiten sektor perdagangan, jasa dan investasi sebanyak 87 saham atau 25,22%, sektor properti, real estat, dan konstruksi bangunan 58 saham atau 16,81%, serta sektor industri dasar dan kimia 52 saham atau 14,64%.

“Ada tambahan 31 saham baru yang sebelumnya tidak masuk dalam DES periode I/2016, tetapi ada 11 saham yang keluar dari DES,” ungkapnya, Senin (28/11).

Berdasarkan data OJK, enam dari 11 emiten yang sahamnya terdepak dari DES membukukan rasio utang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset sebesar lebih dari threshold 45%. Emiten tersebut, antara lain PT Modernland Realty Tbk. dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Selain itu, lima emiten tersingkir dari DES lantaran rasio pendapatan nonhalal mencapai lebih dari 10% dari total pendapatan perseroan. Kondisi ini, misalnya, dialami oleh PT Surya Citra Media Tbk., PT Nirvana Development Tbk., dan PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Fadilah Kartikasasi, Direktur Pengawas Pasar Modal Syariah OJK, menuturkan emiten dan perusahaan publik harus konsisten menjaga rasio keuangan sesuai dengan batas yang diatur OJK. Dengan begitu, sahamnya menjadi kredibel untuk masuk dalam portofolio investor syariah atau produk-produk investasi berbasis syariah.

“Ada perusahaan yang keluar dari DES karena ada pergantian corporate secretary. Yang baru ini tidak aware. Jadi ini pendidikan kepada emiten, kalau mau stay harus penuhi prinsip syariah,” ujarnya.

LONGGAR

Menurutnya, kriteria screening dan rasio keuangan syariah yang diterapkan OJK relatif longgar dibandingkan dengan DES lain, seperti Dow Jones Islamic Index dan Suruhanjaya Sekuriti Malaysia yang menerapkan rasio utang maksimal 33% dan pendapatan nonhalal maksimal 5%.

“Kami sudah simulasi, kalau diperketat screening-nya banyak saham yang keluar dari DES. Industri kita belum siap kalau syaratnya diperketat,” kata Fadilah.

Berdasarkan simulasi, lanjutnya, saham yang keluar dari DES merupakan saham yang masuk dalam portofolio investasi reksa dana syariah. Syarat yang diperketat dikhawatirkan memicu goncangan di industri reksa dana syariah.

“Kalau menimbulkan goncangan berarti kan mudarat. Saya rasa perubahan kriteria akan sangat dinamis. Saat sahamnya sudah ribuan, bisa saja diperketat. Jadi sifatnya situasional,” pungkasnya.

DES merupakan panduan investasi bagi pihak pengguna DES, seperti manajer investasi (MI) pengelola reksa dana syariah, asuransi syariah, dan investor yang ingin berinvestasi pada portofolio efek syariah.

Hingga 25 November 2016, kapitalisasi saham syariah yang masuk dalam Jakarta Islamic Index mencapai Rp2.010,41 triliun atau naik 15,72% sepanjang tahun berjalan. Adapun kapitalisasi Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) mencapai Rp3.101,19 triliun dengan pertumbuhan sebesar 19,24% year to date.

Dari sisi kinerja, dua indeks syariah di Bursa Efek Indonesia membukukan return year to datelebih tinggi dibandingkan dengan IHSG dan LQ45. Berdasarkan data OJK, JII naik 12,37% dan ISSI naik 16,22% sepanjang Januari-25 November 2016.

“OJK akan berikan insentif supaya pasar modal syariah ini punya playing field yang sama. Bahkan di negara nonmuslim seperti Inggris juga ada insentif, apalagi di Malaysia,” tutur Sardjito.

Sardjito menambahkan, OJK sudah mengusulkan insentif terhadap instrumen investasi syariah ke Kementerian Keuangan. Insentif tersebut berupa diskon pungutan sebesar maksimal 75%. Instrumen investasi syariah yang berpotensi diberi kelonggaran yakni sukuk, saham, dan reksa dana.

“Ada berbagai macam, ada penerbitan sukuk, pungutan tahunan, reksa dana. Kami minta insentif untuk syariah, meminta kemudahan dan kelonggaran,” kata Sardjito.

Menurutnya, pasar keuangan syariah harus diberi kemudahan saat ini agar dapat bertumbuh kencang. Lewat insentif OJK berharap investor asing, terutama investor kakap, tertarik berinvestasi di instrumen keuangan syariah di Indonesia. Sardjito mengatakan, dalam waktu dekat akan ada langkah konkret dari OJK yang berkaitan dengan pasar syariah.

“Sebentar lagi ada pengumuman berkaitan dengan syariah di Indonesia. Saya tidak bisa katakan sekarang,” katanya.

 

 ets-small

ID: Eksklusivitas boleh jadi punya harga tersendiri. Di bursa saham, secara konvensional, para pemegang saham lebih berat pada likuiditas ketimbang eksklusivitas. Itu sebabnya, ketika harga saham menjadi sangat tinggi, dan nilai satu lot tidak lagi terjangkau oleh investor rata-rata, mereka cenderung melakukan pemecahan saham, stock split, agar harga satu lot saham kembali terjangkau dan likuiditas meningkat.

 

Semen Cibinong (SMCB, kini Holcim) memecah satu saham lamanya menjadi 15 saham baru ketika harga sahamnya mendekati Rp 200.000 saham. Astra (ASII) memecah tiap sahamnya menjadi 10 saham baru ketika harga saham mendekati Rp 80.000.

 

Saham PT Delta Djakarta yang pada November 2015 berada pada Rp 255.100 akhirnya juga dipecah dengan rasio 1:50, satu saham lama menjadi 50 saham baru. Artinya, nilai nominal yang tadinya Rp 1.000, kini tinggal Rp 20. Pasca-split tanggal 6 November 2015, harganya tercatat Rp 5.200.

 

Bir Bintang memang “bintang”- nya Bursa Efek Indonesia. Pada 4 November 2014, sehari sebelum melakukan split, harga saham MLBI tercatat Rp 1.250.000 per saham. Sama sekali tidak likuid, karena selain mahal bagi investor rata-rata, juga jumlah saham tercatat yang relatif sedikit. MLBI kemudian melakukan split dengan rasio terbesar sepanjang sejarah pasar modal Indonesia.

 

Satu saham lama dipecah menjadi 100 saham baru. Bir dan rokok! PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk, (HMSP) pada September 2001 melakukan stock split 1:5 pada saat harga sahamnya masih berkisar di tataran Rp 16.500. April lalu, perusahaan ini kembali melakukan split 1:25, karena harga sahamnya sutdah naik dari Rp 3.300 pasca-split 2001 menjadi Rp 97.150, pra split 2016.

 

Warren Buffett memang manusia langka. Termasuk di dunia investasi yang digelutinya seumur hidup. Saham perusahaan yang dimilikinya, Berkshire Hathaway Seri A (NYSE:BRK-A), pada 22 Agustus 2016, harganya tercatat US$ 223.020 per saham, menempatkannya sebagai saham dengan harga paling mahal di dunia.

 

Bayangkan untuk membeli satu lot saham BRK-A Anda harus menyediakan dana hamper US$ 2,5 juta (Rp 3 miliar lebih). Saham BRK-A tidak pernah melakukan stock split sepanjang sejarah. Bahkan ketika sahamnya masih berharga pada kisaran US$ 30.000 per saham, pada pertengahan tahun 1990-an, beberapa menajer investasi berniat menerbitkan unit trust yang di-back up saham BRK-A, agar investor kecil bisa ikut memiliki sahamnya melalui unit penyertaan.

 

Warren Buffett menentang keras rencana tersebut, dengan alasan: “……. threatened creation of unit trusts that would have marketed themselves as Berkshire look-alikes. In the process, they would have used our past, and definitely non-repeatable, record to entice naive small investors and would have charged these innocents high fees and commissions”.

 

Warren Buffett lebih jauh menyatakan bahwa penerbitan unit trust sebagai pecahan-pecahan kecil dari saham BRK-A membawa potensi speculative bubble yang mendorong volatilitas harga saham, yang ujungujungnya merusak reputasi gemilang saham BRK-A. Untuk mengakomodasi hasrat pemodal kecil, pada tahun 1996, Berkshire Hathaway menerbitkan saham seri B (NYSE: BRK-B) yang merupakan 1/30 saham BRK-A, dengan ketentuan yang “aneh”.

 

Pertama, walaupun BRK-B merupakan pecahan 1/30, tapi hak suaranya hanya 1/200 BRK-A. Kedua, saham BRK-A bisa ditukarkan dengan (di-split menjadi) saham BRK-B, setiap saat, tapi saham BRK-B tidak dapat di-reverse splitkembali menjadi BEK-A. Bisa dimengerti bahwa pemodal tajir tentu akan lebih memilih saham BRK-A. Dengan ketentuan yang “tidak adil” itu pun, saham BRK-B juga terus menerus mengalami kenaikan harga.

 

Pada 2010, ketika saham BRK-B berharga sekitar US$ 3.000, dilakukan stock split, satu saham lama menjadi 50 saham baru. Pada 22 Agustus lalu, saham BRK-B tercatat US$ 150, per saham. Harga saham Seaboard Corporation (NYSE: SEB) pada saat tulisan ini diketik, 1 September 2016, tercatat US$ 3.226,50 per saham.

 

Perusahaan yang bergerak dalam bidang transportasi laut, distribusi komoditas, peternakan babi dan energi di Republik Dominika, ini melakukan IPO pada tahun 1959, dan tidak pernah melakukan stock split. Harga saham Google pada saat yang sama tercatat US$ 791,40 per saham. Sejak IPO pada 19 Agustus 2004, saham Google telah mengalami kenaikan hampir 1.000%.

 

Google tidak pernah melakukan stock split. Fecebook (NASDAQ: FB) melakukan IPO pada Februari 2012 dengan harga penawaran US$ 38 per saham. Selama empat tahun, harga sahamnya telah naik hamper 400%, dan tidak pernah melakukan stock split. Pada 1 September 2016, saat tulisan ini diketik, saham FB tercatat US$ 126,17.

 

Investor sering memiliki konsepsi yang tidak lengkap mengenai harga saham. Saham yang harganya tinggi dianggap kemahalan. Padahal, harga saham tidak bisa dibandingkan apple to apple satu sama lain. Penggunaan Price Earnings Ratio atau Price to Book Value saja, masih harus hati-hati, karena selain hanya peta satu saat, juga diwarnai oleh karakteristik industri yang berbeda-beda, dan masih membutuhkan analisis lain untuk menangkap prospek saham ke depan.

 

Pemecahan saham merupakan aksi korporasi yang amat gencar di pasar modal Indonesia. Mungkin karena masalah likuiditas merupakan penyakit kronis di bursa efek. Repotnya, telah terbentuk paradigm seakan-akan stock splitmerupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan abnormal. Dan itu terbukti secara empiris, karena harga sahamex-split rata-rata lebih tinggi dari harga teoritisnya!

 

Ada beberapa catatan yang layak diperhatikan oleh investor tentang harga saham yang relatif mahal ini. Per tama, saham yang harganya tinggi cenderung memberikan dividen yield yang sangat rendah. Saham BRK-A bahkan tidak membayar dividen sama sekali selama 50 tahun sejak 1967! Manajemen perusahaan yang smart dan jujur akan menghitung trade off antara dividen dan pertumbuhan harga saham. Investo  yang motif investasinya adalah regular cash inflows memang harus menghindarkan saham seperti ini.

 

Kedua, saham yang tidak likuid karena harganya mahal, punya kelebihan tersendiri. Saham-saham semacam ini harganya cenderung stabil dan kurang fluktuatif, tak mudah untuk “digoreng”. Harga saham akan lebih mencerminkan fundamentalnya, ketimbang roller coaster yang digerakkan oleh kesenjangan permintaan dan penawaran jangka pendek. Tidak menarik bagi trader, tapi lebih menarik bagi investor yang memiliki horison investasi jangka panjang.

 

Hasan Zein Mahmud, Tim Ekselensi Learning Center, Pengajar pada Kwik Kian Gie School of Business

ets-small

investing.com: “I think we’re in the first inning of shifting to dividend-paying stocks,” finance professor Jeremy Siegel said Tuesday on CNBC’s Trading Nation. Even though the Fed may raises [sic] rates this year, “investors are becoming convinced they’re not going to be able to rely on CDs, their bank accounts, or even bonds as a source of income,” and may thus determine that “maybe they’d better turn to stocks,” he added.

Let me get this straight: The professor claims that investors are only just beginning to realize that bonds and cash have no yield which means that they have no alternative but to put their money into dividend-paying stocks? In other words, we are only in the “first inning” of TINA (there is no alternative – to stocks)?

Can someone please do me a favor and show Prof. Siegel the charts below? Because it seems to me investors have been reaching for yield for several years now as a direct response to 7 years of ZIRP (zero interest rate policy).

High-Yield Allocation Spikes

High-Yield Allocation Spikes

And after 7 years of reaching for yield, investors now have one of their largest allocations to stocks in history. Only at the height of the dot-com bubble did households have a greater portion of their total financial assets tied up in equities than they did recently.

Household Equity Allocation

Household Equity Allocation

Bond Allocation

The difference between today and back then is their allocation to bonds. While investors have ramped up their exposure to stocks, they have shifted almost entirely out of bonds. Even during the dotcom mania investors maintained nearly twice the current allocation to fixed income.

Household Bond Allocation

Household Bond Allocation

Finally, when you look at the ratio of equities to money market fund assets it becomes instantly obvious that investors have been embracing the concept of TINA for quite a long time now and to a degree never seen before.

Household Equity Vs. Money Market Allocation

Household Equity Vs. Money Market Allocation

So my question for Prof. Siegel is this: If investors have already shifted entirely out of bonds and money market funds, where is this new, massive shift into stocks going to come from? Per chance, you’re just feeling a bit too bullish once again?

On a final note, this large-scale embracing of TINA could very well be the greatest sign of confidence in the stock market we have ever seen. And isn’t that precisely the psychological definition of a mania?

ezgif.com-resize

JAKARTA, KOMPAS.com — Kehidupan yang serba mewah pastinya melekat pada anak-anak para miliarder. Harta keluarga yang berlimpah pun membuat anak-anak para miliarder bermalas-malasan untuk bekerja dan cenderung selalu berfoya-foya.

Namun, hal tersebut tidak tecermin pada Armand Wahyudi Hartono. Dia adalah putra orang terkaya di Indonesia, Robert Budi Hartono, yang kekayaannya ditaksir mencapai 8,7 miliar dollar AS(Forbes 2015) atau setara dengan Rp 113 triliun (asumsi Rp 13.000 per dollar AS).

Putra bungsu bos Grup Djarum ini sangat apik dalam mengelola keuangannya. Tak hanya itu, dia pun tidak pernah boros bila sedang menggunakan fasilitas rumah.

“Dari listrik, kita bisa saving. Nyalain AC sebentar. Kalau sudah dingin, begitu mau tidur, kita matikan. Kan yang paling penting pas mau tidurnya, di tengah-tengah panas dikit gak apa-apalah,” ujar Armand di Jakarta, Kamis (21/4/2016).

Tak hanya hemat dalam menggunakan fasilitas rumah, pria kelahiran Semarang, 20 Mei 1975, ini pun menjunjung tinggi “SRI”.

SRI yang dimaksud Armand adalah simpanan, riset, dan Investasi. Meski tidak menyebutkan berapa saja nominal yang diinvestasikan Armand pada semua instrumen investasi, dia berkeyakinan investasi yang terukur sangatlah penting bagi kehidupan mendatang.

“Kita harus punya simpanan. Rajin menyimpan saja dulu, lalu dilakukan riset. Setelah itu baru melakukan investasi karena di investasi itu ada risiko,” tutur Armand.

Didaulat jadi Wakil Direktur Utama BCA pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tak membuat Armand merasa gengsi makan di kantin. Gaya hidup sederhana rupanya diterapkan Armand untuk tetap low profile.

“Gaya hidup harus dijaga, sederhana saja, saya makan di kantinlho. Ya kalau ada nasabah besar barulah di tempat yang bagus, masa makan di kantin,” tutur Armand sambil tertawa.

Dalam membawa BCA untuk lebih meningkatkan kinerjanya, sebagai orang Jawa, Armand tahu betul akan filosofi kecukupan orang Jawa.

Wong Jowo itu ngerti namanya cukup. Kita gak butuh untuknunjukkin diri kita jadi bank terbesar. Kita cukup nunjukkin jadi satu institusi yang sehat, konsisten di pembayaran, berikan kredit yang prudent, tambah jaringan di tempat yang membutuhkan,” kata Armand.

dollar small

JAKARTA ID – Pemahaman masyarakat Indonesia terhadap investasi di pasar modal masih kalah dibandingkan Singapura dan Tiongkok. Masyarakat masih punya persepsi bahwa pasar modal merupakan ajang spekulasi. Padahal, pasar modal menjanjikan keuntungan yang tinggi. Dalam 10 tahun terakhir, imbal hasil saham mencapai rata-rata 24%, jauh di atas deposito bank yang hanya 7,2%.

 

Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai bahwa masyarakat Indonesia belum terlalu mengenal investasi di pasar modal. Pemahaman investasi pasar modal masyarakat Indonesia masih kalah dibandingkan Singapura dan Tiongkok.

 

“Banyak hal yang menyebabkan masih sedikitnya investor di pasar modal. Antara lain karena banyak masyarakat yang menganggap pasar modal hanya sebatas spekulasi atau karena bunga deposito yang terlalu tinggi sehingga saham kurang diminati. Oleh sebab itu, masyarakat butuh edukasi untuk memahami pasar modal,” kata Wapres dalam peluncuran kampanye “Yuk Nabung Saham” di Jakarta, Kamis (12/11).

 

Wapres mengungkapkan, kondisi perekonomian nasional tercermin juga dalam indeks harga saham. Banyak indicator kesejahteraan masyarakat di antaranya adalah pertumbuhan ekonomi, pendapatan per kapita (GDP), dan jumlah penyerapan tenaga kerja. “Semua indikator itu cuma satu cara mencapainya, yaitu investasi,” ungkap dia.

 

Jusuf Kalla menegaskan, investasi di pasar modal tidak hanya mengumpulkan modal tetapi juga menciptakan kepemilikan bersama dan keadilan agar hasil dunia usaha tidak hanya dinikmati oleh pemiliknya saja tetapi juga masyarakat luas.

 

Di Indonesia banyak masyarakat yang lebih memilih menabung di bank dibandingkan berinvestasi di pasar modal. Namun, dengan kampanye menabung saham diharapkan masyarakat memiliki pilihan menabung yang cenderung menguntungkan. (bersambung)

 

Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/marketandcorporatenews/tito-imbal-hasil-saham-capai-24/132358

bird_bbri_unvr

Jakarta detik -Pemerintah melalui Kementerian Keuangan melakukan penjualan surat utang ritel, yaitu Obligasi Ritel (ORI) Seri 012. Instrumen investasi ini menawarkan kupon atau bunga 9%/tahun.

Dalam keterangan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, Senin (21/9/2015), masa penawaran ORI012 ini mulai dilakukan 21 September hingga 15 Oktober 2015.

“Tujuan penerbitan ORI012 adalah untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN 2015 dan mengembangkan pasar Surat Utang Negara domestik melalui diversifikasi instrumen sumber pembiayaan dan perluasan basis investor,” demikian pernyataan Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu.

Untuk memenuhi target penjualan dengan distribusi yang merata di seluruh Indonesia, Agen Penjual ORI tahun 2015 akan mengadakan kegiatan marketing ke 27 kota di seluruh Indonesia termasuk kota-kota di wilayah Indonesia Tengah dan Timur seperti di Palu, Timika, Tahuna, dan Sorong.

Tanggal penjatahan ORI012 dilakukan pada 21 Oktober 2015, dan tanggal jatuh tempo adalah 15 Oktober 2018.

Bagi anda yang mau memesan, nilai minimal pemesanan adalah Rp 5 juta dan maksimal adalah Rp 3 miliar.

Berikut agen penjual ORI012 yang ditunjuk Kemenkeu:

  • PT Bank ANZ Indonesia
  • PT Bank Bukopin Tbk
  • PT Bank Central Asia Tbk
  • PT Bank CIMB Niaga Tbk
  • Citibank, N.A
  • PT Bank Danamon Indonesia Tbk
  • PT Bank DBS Indonesia
  • The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Ltd
  • PT Bank Internasional Indonesia Tbk
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
  • PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
  • PT Bank OCBC NISP Tbk
  • PT Bank Panin Tbk
  • PT Bank Permata Tbk
  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
  • Standard Chartered Bank
  • PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
  • PT Danareksa Sekuritas
  • PT Reliance Securities Tbk
  • PT Sucorinvest Central Gani
  • PT Trimegah Securities Tbk

(dnl/dnl)

alert02

JAKARTA kontan. Dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) Tugu Mandiri mengakui tren pengalihan portofolio investasi oleh peserta juga terjadi sejalan koreksi yang terjadi di pasar modal. Mereka pun mesti bekerja keras untuk kembali mengedukasi nasabah mereka.

Maya Susiana, Group Head of DPLK Business DPLK Tugu Mandiri pihaknya terus melakukan mengedukasi kepada nasabah. Pasalnya bila melakukan pengalihan portofolio di saat pasar sudah terlalu dalam, ia menyebut peserta akan mengalami rugi besar.

Apalagi naik turunnya saham memang terbilang biasa terjadi. “Sedangkan bila pasar membaik maka peserta akan kehilangan momentum,” kata Maya akhir pekan lalu.

Ia menyebut sejumlah peserta program pensiun mereka mengalihkan portofolio investasi ke instrumen yang lebih aman. Terutama dari saham ke deposito atau surat utang.

Per akhir Agustus kemarin, dana kelolaan DPLK Tugu Mandiri sendiri mencapai sekitar Rp 1 triliun. Jumlah ini naik sekitar 7,6% dibanding posisi akhir tahun kemarin.

Penempatan dana di instrumen deposito mencapai sekitar 30% dari total dana investasi. Sedangkan 40% masih ditempatkan di instrumen surat utang. Sementara sisanya ke beberapa instrumen lain seperti pasar uang dan instrumen saham.

Editor: Yudho Winarto.

Bisnis.com, JAKARTA—Hasil survei yang diadakan oleh Manulife pada April – Mei 2015 menunjukkan bahwa investor yang berusia lebih tua di Indonesia masih belum siap menghadapi masa pensiun dan memiliki harapan yang tidak realistis tentang kondisi keuangan mereka.

Hampir semua (94%) berharap akan memiliki dana cukup untuk hidup di usia tua, walaupun 42% dari mereka masih belum membuat perencanaan.

Riset Manulife Investor Sentiment Index, mengungkapkan bahwa lebih dari sepertiga investor di Indonesia (36%) belum membuat perencanaan keuangan untuk masa pensiun. Investor yang berusia lebih tua (berusia 40 tahun ke atas) justru lebih tertinggal dalam hal perencanaan masa pensiun bila dibandingkan dengan investor yang berusia lebih muda (berusia 40 tahun ke bawah).

Sebanyak 42% dari investor Indonesia yang berusia lebih tua belum memiliki perencanaan masa pensiun. Angka ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan persentase investor yang berusia lebih muda yang belum memiliki perencanaan keuangan untuk masa pensiun, yang hanya 30%.

Meskipun kurang dalam melakukan perencanaan untuk masa pensiunnya nanti, hampir setengah dari investor yang berusia lebih tua (49%) yakin bahwa mereka akan memiliki dana yang lebih dari cukup untuk hidup di usia tuanya kelak, sementara 45% lainnya meyakini bahwa mereka akan memiliki dana yang cukup untuk dapat hidup dengan cara sederhana.

Mereka juga berharap agar lebih dari seperempat (28%) penghasilannya di masa pensiun nanti berasal dari hasil investasi. Sebaliknya, hanya sedikit dari investor yang berusia lebih muda yang mengharapkan sumber penghasilan di masa pensiunnya nanti berasal dari hasil investasi. Sepertinya inilah yang menjadi alasan atas temuan lain diungkapkan dalam penelitian ini, bahwa ada lebih banyak investor yang berusia lebih muda (66%) yang memiliki program pensiun secara sukarela bila dibandingkan dengan investor yang berusia lebih tua (44%)

Dari seluruh investor yang berpartisipasi dalam survei MISI, lebih dari setengah (52%) investor yang belum mulai merencanakan masa pensiunnya masih berpikir bahwa mereka akan memiliki dana lebih dari cukup untuk dapat hidup di usia tuanya kelak. Hal ini menunjukkan adanya harapan yang tidak realistis.

“Sepertinya banyak investor yang tidak menyadari besarnya biaya yang akan dikeluarkan di masa pensiun nanti,” ujar Putut E. Andanawarih, Director of Business Development PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.

“Bagi investor yang belum melakukan perencanaan pensiun dengan tepat, rasanya tidak realistis apabila mengharapkan sebagian besar penghasilan di masa pensiunnya nanti berasal dari hasil investasi. Namun, bagi para investor yang ingin mengejar ketertinggalannya dalam menyiapkan dana untuk masa pensiunnya, mereka dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi secara regular di reksa dana saham atau pendapatan tetap,” imbuhnya.

Putut menambahkan, secara umum, dan tanpa disadari, Indonesia menghadapi populasi yang menua dengan cepat. Oleh karena itu, perlu ditanamkan kesadaran mengenai pentingnya perencanaan keuangan untuk masa depan, yang tidak hanya berguna untuk memastikan agar kebutuhannya tercukupi, tetapi juga untuk dapat mempertahankan gaya hidup.

Investor tidak berharap dapat mengandalkan dana pensiun mereka di kemudian hari, tetapi membutuhkan saran lebih lanjut tentang bagaimana menentukan investasi yang tepat

double arrow picSMALL

TEMPO.COJakarta – Krisis ekonomi yang sedang terjadi di Yunani justru mendorong orang-orang kaya di negara itu untuk berbelanja. Mereka menghabiskan tabungan di rekening karena takut pemerintah mengambil uang mereka untuk menutup utang negara.

Perhiasan, gadget, dan barang mewah lainnya dilaporkan mengalami kenaikan penjualan menyusul referendum yang menentukan apakah Yunani akan menerima dana talangan (bailout) dari Uni Eropa atau tidak.

Rakyat Yunani khawatir Uni Eropa akan memaksa Yunani memangkas rekening mereka beberapa persen. Langkah tersebut, misalnya, pernah dilakukan Uni Eropa di Cyprus saat terjadi krisis pada 2013.

“Kamis, Jumat, dan Sabtu seperti Natal,” kata Andrew, 30 tahun, seorang asisten di toko retail Apple di Athena. Menurut Andrew, orang-orang sangat ketakutan. Mayoritas berpikir mereka punya waktu tiga hari untuk menghabiskan uang sebelum uang mereka diambil negara.

Andrew mengaku tokonya menjual barang hingga dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Barang-barang yang dibeli antara lain laptop, komputer, tablet, iPhone, dan konsol game.

Sedangkan Maria-Ellie Xanthopoulous, pemilik toko perhiasan, mengatakan bahwa kliennya lebih memilih menghabiskan uang mereka sendiri daripada diambil pemerintah. “Dalam enam bulan terakhir, kita hampir tidak memiliki pelanggan satu pun. Namun, pada hari Sabtu, Senin, dan Selasa, banyak pelanggan yang datang dan menghabiskan uang mereka,” ujar Maria-Ellie.

Maria-Ellie mengatakan tokonya tidak menjual banyak peralatan elektronik. Namun para pelanggan menghabiskan sekitar 5.000-8.000 euro (sekitar Rp 70-120 juta) sekali datang.

Adapun masyarakat masih mengantre berjam-jam di ATM untuk menarik uang mereka secara harian, yang dibatasi menjadi 50 euro per hari.

Minggu, 5 Juli 2015, pemerintah mengumumkan hasil referendum yang memutuskan Yunani menolak dana talangan (bailout). Pemerintah Yunani tentunya tidak akan mengambil isi rekening bank mereka. Namun belum diketahui nasib barang yang sudah telanjur mereka beli.

NIBRAS NADA NAILUFAR | DAILY MAIL

rounding pen

JAKARTA – Masa pensiun merupakan masa yang harus dipersiapkan sejak saat ini juga. Hal ini dikarenakan, pendapatan di usia senja tidak sebesar di usia produktif.

Berikut 10 investasi terbaik untuk pensiun seperti dikutip dalam artikel 10 Best Retirement Investments oleh Dana Anspach.

1. Merancang portofolio investasi sendiri

Salah satu cara umum untuk menciptakan penghasilan pensiun adalah untuk membangun portofolio baik dari saham atau obligasi. Portofolio ini dirancang untuk mencapai pendapatan jangka panjang hingga 20 tahun mendatang.

Ketika Anda pensiun, pendapatan dari portofolio ini cukup menjanjikan. Namun Anda perlu memperhatikan strategi investasi.

2. Dana pensiun

Mempersiapkan dana pensiun bisa melalui potongan gaji yang umumnya dilakukan oleh perusahaan atau tabungan pensiun melalui reksa dana. Investasi tersebut dikelola dengan tujuan menghasilkan pendapatan bulanan yang dibagikan kepada Anda. Dana ini dibangun untuk memberikan paket all in one yang dirancang untuk mencapai tujuan tertentu.

Dengan dana pendapatan pensiun Anda dapat mengkontrol dan mengakses uang Anda setiap saat. Tentu saja jika Anda menarik beberapa uang pokok Anda, pendapatan bulanan masa depan Anda selanjutnya akan turun.

3. Asuransi

Anuitas sebenarnya merupakan suatu bentuk manfaat dari asuransi. Namun, ini disebut investasi terbaik karena tujuan mereka adalah untuk menghasilkan pendapatan yang Anda butuhkan di masa pensiun.

Dengan anuitas langsung Anda mengasuransikan pendapatan masa depan Anda. Perusahaan asuransi akan menjamin penghasilan untuk hidup Anda atau untuk beberapa lainnya sesuai kesepakatan waktu.

4. Obligasi

Ketika Anda membeli obligasi, Anda meminjamkan uang Anda baik pada pemerintahatau perusahaan. Peminjam setuju untuk membayar bunga Anda untuk menetapkan jumlah waktu. Ketika obligasi tersebut jatuh tempo, maka uang pokok akan dikembalikan kepada Anda. Pendapatan bunga, dapat Anda terima dari obligasi (atau dari dana obligasi) yang dapat menjadi sumber pendapatan tetap pensiun.

Obligasi memiliki peringkat kualitas untuk memberikan gambaran tentang kekuatan keuangan dari penerbit obligasi. Ada jangka pendek, jangka menengah, dan obligasi jangka panjang. Ada juga obligasi dengan suku bunga disesuaikan, serta obligasi hasil tinggi, yang membayar tingkat bunga yang lebih tinggi, tetapi memiliki peringkat kualitas yang lebih rendah.

5. Menyewakan properti

Menyewakan properti yang Anda miliki dapat memberikan sumber pendapatan yang stabil, namun akan ada kebutuhan perawatan. Sebelum Anda membeli properti untuk disewakan, Anda perlu menghitung semua biaya potensial yang mungkin dikenakan selama rentang waktu tertentu.

Investasi properti adalah bisnis, bukan proposi untuk mendapatkan kekayaan yang cepat. Bagi mereka dengan pengalaman real estate, hal ini dapat membuat investasi pensiun yang besar.

Jika Anda tidak yakin dengan investasi ini, Anda dapat memulai mempertimbangkan membaca buku-buku tentang investasi real estat, berbicara dengan investor berpengalaman, atau bergabung dengan klub investasi real estat.

6. Ambil investasi yang aman

Anda selalu ingin menyimpan sebagian dana pensiun Anda di alternatif investasi yang aman. Tujuan utama dari setiap investasi yang aman adalah untuk melindungi apa yang Anda miliki.

Namun, jangan terlalu terburu-buru mengambil keputusan untuk melakukan investasi. Anda perlu melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan pakar investasi sebelum membuat keputusan.

Semua dana pensiunan disarankan memiliki beberapa jenis rekening cadangan (dana darurat). Akun ini tidak harus dimasukkan sebagai aset yang tersedia untuk menghasilkan pendapatan pensiun. Hal ini ada sebagai jaring pengaman untuk biaya tak terduga yang mungkin muncul di masa pensiun.

7. Pendapatan dari dana tertutup (closed end funds)

Mayoritas pendapatan dari dana tertutup dirancang untuk menghasilkan pendapatan bulanan atau kuartalan. Pendapatan ini bisa berasal dari bunga ataupun dividen. Setiap dana memiliki tujuan sendiri, oleh karena itu pastikan untuk melakukan penelitian sebelum membeli.

Investor berpengalaman mungkin menemukan dana tertutup menjadi investasi yang sesuai untuk sebagian dari uang pensiun mereka. Investor yang kurang berpengalaman harus menggunakan manajer portofolio yang mengkhususkan diri dalam dana tertutup ini.

8. Dividen

Belilah saham yang memberikan dividen. Dividen dapat memberikan sumber pendapatan tetap di masa pensiun. Nilai dividen pada umumnya akan meningkat setiap tahun (Jika perusahaan meningkatkan pembayaran dividen).

Berhati-hatilah dengan dividen besar, biasanya risikonya juga besar. Imbal hasil tinggi selalu disertai dengan risiko tambahan. Jika ada Anda diberikan hasil yang lebih dari ekspektasi itu artinya perusahaan melakukannya untuk mengkompensasi risiko tambahan yang akan Anda tanggung. Ingat, jangan berinvestasi tanpa memahami risiko yang akan ditumbulkan.

9. Real Estate Investment Trust (REITs)

Kebanyakan orang menanamkan dananya pada real estat dalam bentuk investasi Real Estate Investment Trust (REIT). Instrumen investasi ni seperti sebuah tim profesional yang mengelola properti, mengumpulkan uang sewa, membayar biaya, mengumpulkan biaya manajemen, dan mendistribusikan sisa penghasilan kepada Anda selaku investor.

10. Unit link

Sebuah produk yang sama sekali berbeda dari investasi langsung. Dalam investas ini, dana Anda masuk ke portofolio investasi yang Anda pilih. Anda berpartisipasi dalam keuntungan dan kerugian dalam investasi tersebut.
http://economy.okezone.com/read/2015/05/29/457/1157255/10-investasi-agar-masa-pensiun-anda-nyaman
Sumber : OKEZONE.COM

 

JAKARTA – Pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) Go-Jek Nadiem Makarim memiliki gelar yang cukup menarik bagi seorang pebisnis. Dirinya, ternyata lulusan program Master of Business Administration (MBA) di Harvard Business School (AS).

Namun, menurutnya gelar pendidikan tinggi yang diraihnya tidak dimanfaatkan dengan bergabung di perusahaan-perusahaan hebat. Nadiem lebih memilih mempunyai perusahaan hebat ketimbang bekerja di perusahaan hebat.

“Ngapain kerja di kantoran, mendingan punya perusahaan (Go-Jek) yang benar-benar digunakan orang Jakarta yang berguna, membantu, dan meningkatkan penghasilan orang. Ya jelas kerenan Go-Jeklah,” ujarnya saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.

Mendirikan Go-Jek merupakan pekerjaan impian baginya. Nadiem sangat senang bisa mempunyai perusahaan yang laku dan dampak sosialnya besar.

“Saya bisa menginspirasi ke anak-anak muda untuk bikin bisnis sendiri. Mau apa lagi hidup ini,” katanya.

Sejak 2014 yang telah memiliki sistem jaringan mobile app, pertumbuhan Go-Jek menjadi tinggi. Hampir 200 ribu mobile app Go-Jek di-download.

“Salah satu cara menarik pelanggannya seperti memberikan voucher, tapi kebanyakan pelanggan dengarnya dari teman-teman. Di Indonesia apa-apa yang laku harus dengar dari teman dulu,” katanya sambil tertawa.

Untuk rekrutmen pengendara atau ojek, yang pertama kali dilakukannya adalah melakukan interview dengan ojek-ojek yang dikenal atau ojek-ojek yang sering mengantarkan ke mana pun Nadiem pergi. Dari hal itulah mulai ide-ide ini menjadi ide yang kental.

“Go-Jek sebelumnya tumbuh tapi organik, artinya pelan-pelan naiknya. Enggak mungkin ada perusahaan bisa meledak seperti ini tanpa investment,” katanya.

Nadiem menambahkan, tujuan untuk meneruskan Go-Jek adalah pihaknya menerima investment dan teman-teman serta keluarganya complain kepadanya karena tidak membesarkan Go-Jek.

“Saya didukung oleh keluarga. Kata keluarga saya, ngapain kerja di perusahaan,” imbuhnya.

http://economy.okezone.com/read/2015/05/26/320/1155521/lulusan-havard-ceo-go-jek-ngapain-kerja-kantoran
Sumber : OKEZONE.COM

 

Metrotvnews.com, Kuta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan aset industri asuransi melonjak mencapai sebesar Rp755,4 triliun selama 2014 atau rata-rata tumbuh sebanyak 19,2 persen selama lima tahun terakhir.

 

“Kami perkirakan peningkatan itu karena didorong ekonomi Indonesia secara makro yang tumbuh positif, menyebabkan masyarakat sadar untuk memilih program investasi,” kata Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan Perasuransian dan Dana Pensiun Industri Keuangan Non-Bank OJK Dinar Sukmasari, saat ditemui pada Pelatihan Jurnalistik Keuangan di Kuta, Bali, Selasa (12/5/2015).

 

Menurut dia, pertumbuhan asuransi pada 2011 mencapai Rp481,75 triliun dan melonjak signifikan pada 2013 yang tumbuh menjadi Rp659,73 dan terus meningkat pada 2014 hingga September menjadi Rp755,4 triliun.

 

Dia menjelaskan, pertumbuhan aset asuransi itu berkontribusi terhadap total jumlah aset IKNB selama 2014 hingga September mencapai Rp1.504 triliun bersama dengan industri keuangan non-bank lainnya yakni dana pensiun, lembaga pembiayaan dan lembaga jasa keuangan lain seperti lembaga penjaminan.

 

Dinar mengungkapkan total aset-aset IKNB itu memiliki dampak yang lebih panjang bagi perekenomian masyarakat meskipun jumlahnya masih lebih rendah dibandingkan total aset perbankan yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp5.000 triliun.

 

“Aset dana dalam industri keuangan non-bank itu merupakan sumber dana pembangunan nasional yang mencapai total Rp1.504 triliun pada 2014 hingga September,” imbuhnya.

 

Meski memiliki peran yang besar untuk pembangunan nasional, namun industri itu masih mempunyai sejumlah tantangan diantaranya masih kurangnya pemahaman masyarakat terhadap IKNB. Selain itu, sebagian besar nasabah atau peserta IKNB masih belum merata dan hanya terpusat di daerah perkotaan.

 

http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/05/12/395921/pertumbuhan-aset-asuransi-melonjak-jadi-rp755-4-triliun
Sumber : METROTVNEWS.COM

bloomberg

: For a quarter of a century the name Mark Mobius has been synonymous with investing in developing markets. A bald, energetic, New York native who often dresses in white suits, Mobius is constantly tweeting and appearing on television from St. Petersburg to São Paulo encouraging investors to put money into fast-growing developing economies. A Mark Mobius comic book published in Asia in 2007 chronicled his globe-trotting exploits. (Really.) In the U.S. he was voted by his peers onto a list of the top 10 investors of the 20th century, putting him alongside Warren Buffett, Julian Robertson, and George Soros. What Bill Gross was to bonds, Mobius was to emerging markets: the King.His reign may be coming to an end. Like Gross, Mobius, 78, has posted mediocre numbers in recent years and seen investors depart. While they still make money, 11 of the 13 largest funds that Mobius oversees at Franklin Templeton Investments have underperformed their benchmarks over the past five years. At his zenith in 2011, Mobius oversaw $39 billion. Today that figure is down to $26 billion. And in December, his flagship Asian Growth Fund lost its long-held position as the region’s largest to First State Investments’ Asia Pacific Leaders Fund. “He’s one of the few well-known managers in emerging markets,” says Todd Rosenbluth, director of mutual fund and ETF research at S&P Capital IQ. “Unfortunately, the track record is below average. Investors are more frustrated.”In an e-mail, Mobius said his strategy of investing in undervalued stocks can falter in “sentiment-driven” environments, where investors focus more on the overall economic picture than on company fundamentals. “As value investors, we have to have the patience and conviction to weather sometimes long periods of volatility,” Mobius wrote. “We go into markets when others are fleeing, and while some of our fund performance has struggled at certain points in time, we believe that with our contrarian approach, our shareholders will be rewarded in the long term.”

Many emerging-markets fund managers have floundered as China’s expansion slows and former standouts such as Brazil and Russia post disappointing growth. Seventeen of the 33 U.S.-based developing-nation stock funds with more than $1 billion in assets have trailed their benchmarks over the past five years, according to data compiled by Bloomberg. “It hasn’t been a great period for any emerging-markets manager,” says Peter Walls, a money manager at Unicorn Asset Management who invests in Mobius’s funds. “He’s going to make a comeback.”

Born in Hempstead, N.Y., to a German father and a Puerto Rican mother, Mobius got his Ph.D. from the Massachusetts Institute of Technology. He joined Templeton, Galbraith & Hansberger in 1987, when investing in developing countries was still a novel idea. After being tapped by firm founder John Templeton to manage the Templeton Emerging Markets Fund, the company’s first foray into that territory, Mobius developed a reputation for sniffing out stocks that are undervalued relative to their growth potential.

He still crisscrosses continents 250 days a year, feeding on-the-ground research to his team of 50 money managers, analysts, and researchers in 18 offices worldwide handling day-to-day operations of the more than 30 funds he oversees.

The last half-decade has been a struggle for the group, which has made ill-timed bets on energy and mining companies while underinvesting in technology stocks. As of March 31, Templeton Asian Growth held 33 percent of its assets in energy and material stocks, which account for only 9 percent of the fund’s benchmark, the MSCI AC Asia ex Japan index. The fund has gained 4.3 percent annually over the past five years, compared with 8.1 percent for the index. It’s trailed 44 of 46 similar funds with assets of at least $500 million over that same time span, while charging investors 2.2 percent annually, the second most in the group.

One of the fund’s largest holdings, the stock of Sesa Sterlite, India’s top aluminum producer, has tumbled 51 percent over the past five years as slowing growth in China cut short a global commodities boom. Another, Yanzhou Coal Mining, a Chinese company, has fallen 66 percent since the end of April 2010, while the Chinese market surged. “They have a big team, but it’s not generating performance,” says Germaine Share, an analyst at Morningstar in Hong Kong.

Even with the recent under-performance, an initial investment of $100,000 in the Templeton Emerging Markets Fund 28 years ago would be worth about $3.3 million today, according to data compiled by Bloomberg. Mobius has yet to announce any plans to retire or scale back his workload. In the last days of April, he wrote a blog on foreign reserves, talked about Greece’s finances on CNBC, and celebrated the debut of Templeton’s new Romanian fund on the London Stock Exchange. Countries such as Romania and Mongolia could be the next frontier that enriches investors, he said.

“It’s clearly worrying when you have a period of three, four years that hasn’t been particularly good,” says Charles Cade, head of investment companies research at Numis Securities in London. “The track record isn’t as good as it used to be. Emerging markets is more of a mainstream play now. Adding value is a lot tougher, and it’s much harder to maintain performance.”

—With assistance from Charles Stein, Boris Korby, Shana Albuquerque, Mark Jones, Ryan Kreger, and Andrew Bachmann.

The bottom line: Mobius’s flagship fund has gained 4.3 percent annually over the past five years, trailing 44 of 46 similar funds.

 

utang dalam maen saham … 080113_310717 31 Juli 2017

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 6:09 am
Tags: ,

JAKARTA kontan. Besok (1/8), Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai memberlakukan aturan main suspend buy di T+4 dan forced sell di T+5. Ini berarti, investor saham mesti memiliki dana yang cukup pada rekening regulernya.

Di saat yang sama, sekuritas yang punya fasilitas transaksi margin dilarang memberikan pembiayaan ke rekening reguler maupun perpanjangan masa settlement transaksi milik nasabah.

Aturan larangan sementara membeli saham (suspend buy) akan jatuh pada T+4, jika nasabah sekuritas tak mampu menyediakan dana sesuai nilai transaksi di Rekening Dana Investasi (RDI) setelah hari ketiga transaksi (T+3).

Kelak, status akun menjadi suspend buy. Ketentuan ini tertuang di Surat Keputusan Direksi BEI Kep-00022/BEI/02-2017 tentang Perubahan Perubahan Peraturan Nomor III-I tentang Keanggotaan Margin dan/atau Short Selling.

Bahkan, beleid ini menyebutkan, bila transaksi tersebut belum usai pada T+5, maka sekuritas harus melakukan penjualan paksa (forced sell) pada saham tersebut.

Meski begitu, Presiden Direktur NH Korindo Sekuritas Jeffry Wikarsa bilang, aturan ini tak berdampak apa-apa ke sekuritas. “Selama ini pembiayaan hanya kami lakukan bagi nasabah pemilik rekening margin,” ujarnya kemarin.

Tapi, aturan itu membikin kecewa beberapa nasabah. “Adanya batasan minimum setoran membuat tak semua nasabah kami bisa memenuhi hal itu,” ungkap Jeffry.

Berbeda, investor kawakan Lo Kheng Hong memandang, aturan main tersebut tak berdampak apapun terhadap investor. Soalnya, “Ketika kami harus mengembalikan uang pada T+3, maka kami menjual juga di T+3,” kata dia.

ezgif.com-resize

JAKARTA kontan. Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar baru saham yang masuk ke dalam efek margin dan shortshell. Daftar ini mulai berlaku tanggal 1 Maret 2017.

Berdasarkan keterangan resmi BEI, Selassa (28/2), terdapat tujuh saham baru yang masuk ke dalam efek margin. Salah satunya adalah, saham Grup Bakrie PT Darma Henwa Tbk (DEWA).

Saham ini turut meramaikan enam saham lainnya, yakni saham PT Intraco Penta Tbk (INTA), PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk (JTPE), PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP), PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY), PT Nirvana Development Tbk (NIRO) dan PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM).

Selain itu, enam dari tujuh saham itu juga masuk ke dalam daftar efek shortshell. Keenamnya adalah, DEWA, INTA, JTPE, LCGP, NIRO, dan SMSM.

Ada yang masuk, berarti ada yang keluar. Saham PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM) dan PT Indonesia Pondasi Raya Tbk (IDPR) keluar dari daftar efek margin. Pada saat yang bersamaan, saham BSIM juga keluar dari daftar efek shortsell.

Jadi, total saat ini ada 185 saham yang bisa ditransaksikan menggunakan fasilitas margin dari broker dengan modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) di atas Rp 250 miliar. Lalu, untuk broker dengan MKBD di bawah Rp 250 miliar hanya diizinkan memberikan fasilitas marjin atas 45 saham.

Sementara transaksi shortsell, ada 142 saham yang bisa ditransaksikan dengan mekanisme tersebut.

ets-small

Rata-rata Outstanding Margin 2012 Cenderung Turun

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Selasa, 8 Januari 2013 | 10:53 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Rata-rata outstanding margin 2012 sebesar Rp1,2 triliun, dibandingkan 2011 yang mencapai Rp1,6 triliun.

Manajemen PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkirakan penurunan rata-rata outstanding margin pada 2012 karena anggota bursa lebih berhati-hati dalam memberikan fasilitas margin kepada pelaku pasar dan investor.

“Selain itu, suku perbankan sekarang menjadi lebih bersaing, sehingga pelaku pasar cari utang bukan ke perusahaan efek,” ujar Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Samsul Hidayat, saat ditemui wartawan di gedung BEI, Selasa (8/1/2013).

Samsul menambahkan, penurunan pemberian fasilitas transaksi marjin karena krisis ekonomi global, turut mempengaruhi bursa saham global dan Indonesia. Terutama karena pelaku pasar cenderung menahan diri. “Uang yang dimiliki anggota bursa juga terbatas, sehingga mereka cenderung untuk berhati-hati,” kata Samsul.

Samsul mengatakan, transaksi marjin sebenarnya dapat meningkatkan likuiditas di pasar. Pihaknya pun berharap, anggota bursa dapat menerapkan aturan marjin dengan baik.

Transaksi marjin adalah fasilitas yang diberikan kepada investor atau pelaku pasar untuk membeli saham dengan nilai lebih besar dari modal. Keuntungan bagi perusahaan sekuritas dengan transaksi marjin ini mendapatkan fee transaksi dan bunga dari pinjaman. Sedangkan bagi nasabah jika harga sahamnya tinggi akan mendapatkan untung berlipat, dan jika rugi maka ruginya juga besar.

Berdasarkan data BEI, rata-rata outstanding margin antara lain pada 2010 sebesar Rp1,6 triliun, 2011 sebesar Rp1,6 triliun, dan pada 2012 senilai Rp1,2 triliun. Rata-rata jumlah saham marjin pada 2010 ada 34 saham, 2011 ada 46 saham, dan 2012 ada 46 saham. Sementara itu, nilai outstanding margin per akhir Desember 2010 ada Rp1,7 triliun, 2011 sekitar Rp1,2 triliun, dan 2012 sekitar Rp900 miliar. [ast]

 

widely, wisely @inve$ta$i (2) 21 Oktober 2016

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:56 am

resveratrol dalam anggur merah: amat BERMANFAAT pada kondisi pembuluh darah koroner jantung

INVES + TRADING 20 saham di warteg OTC gw, TELAH MENINGKATKAN LABA gw +34% dalam periode 3 bulan, awal 2016

valentineEVERYsmall

What are the two most important drivers for your high net worth clients to hold wealth offshore?
Access to a greater or better range of investment options 24.0%
Better investment returns are expected from wealth managed offshore 25.4%
Client anonymity 3.5%
Local economic instability 12.7%
Local political instability 4.7%
Tax efficiency 14.8%
The local currency is expected to weaken 7.7%
They used to live in the offshore center 5.9%
Other 1.4%

Source: Verdict Financial

rounding pen

membosenKan tapi KAYA

 big-dancing-banana-smiley-emoticon
BISNIS

Bagaimana Mengakali Otak Anda untuk Bisa Menabung?

Banyak orang hidup dari kegiatan “gali lubang tutup lubang“.
Selasa, 5 Mei 2015 | 06:29 WIB
Oleh : Siti Nuraisyah Dewi
Reset otak (HaloMoney)

VIVA.co.id – Ketika membuat sebuah pilihan, pastinya Anda menginginkan hal-hal yang lebih baik.

Pendapat itu adalah asumsi dari teori pemilihan rasional. Teori tersebut, meyakini bahwa seorang individu bertindak untuk memaksimalkan keuntungan pribadi yang bisa mereka dapatkan.

Teori pemilihan secara rasional (rational choice theory) menemukan jalan menuju diktat ekonomi, terkait tindakan manusia dalam melakukan pilihan ekonomi dan menggaris bawahi bahwa setiap keputusan yang dipikirkan secara matang supaya pengambil keputusan mendapatkan keuntungan maksimal dari apa pun yang dilakukan.

Namun, pada kenyataannya kita tidak selalu bersikap rasional setiap waktu.

Kalau teori pilihan rasional itu benar, semua orang akan pergi ke bank untuk menabung dan memiliki jumlah tabungan yang banyak, karena itu adalah hal yang logis untuk dilakukan.

Tapi pada kenyataannya, kita masih bisa melihat banyak orang hidup dari kegiatan “gali lubang tutup lubang“.

Bahkan, dengan kondisinya yang seperti itu, masih banyak orang yang pergi bersenang-senang ke kafe, atau bahkan pergi berjudi dan mempertaruhkan banyak uang, meskipun kecil sekali peluang mereka untuk menang dan mendapatkan uang.

Seringkali kita mengedepankan perasaan, atau insting kita dalam mengambil keputusan. Untuk itu, seringkali kita membeli sesuai dengan dorongan emosi.

Itulah, mengapa iklan di TV seringkali muncul dalam wujud memengaruhi emosi Anda, terutama untuk membeli sebuah barang.

Jadi, bagaimana kita mengakali otak kita, sehingga mau untuk menyimpan uang dan tidak terbawa emosi, atau dorongan ingin membeli secara impulsif? Mari kita intip beberapa riset yang berkaitan dengan hal ini:

Test Marshmallow dan mengontrol diri

Tes Marshmallow adalah eksperimen yang dilakukan pada tahun 1960-an, di mana anak-anak yang mengikuti penelitian ini diberikan sebuah marshmallow dan diberikan pilihan untuk memakan marshmallow itu sekarang, atau mendapat tambahan satu marshmallow lagi, jika mereka menunggu 15 menit dan tidak memakan marshmallow pertama saat itu juga.

Tentu saja, beberapa anak tidak menunggu sampai 15 menit untuk mendapat dua marshmallow, yang mana menjadi suatu pukulan bagi teori pilihan rasional.

Studi lanjutan beberapa tahun kemudian menunjukkan bahwa mereka, anak-anak yang mempunyai kontrol diri bagus dan menunggu 15 menit kemudian untuk mendapat dua marshmallow, mempunyai performa lebih baik secara sosial dan kognitif.

Anak-anak yang bisa mengontrol diri mereka juga mempunyai gaya hidup yang lebih sehat.

Jakarta detik -Jumlah total simpanan nasabah pada bank di Indonesia hingga Februari 2015 mencapai Rp 4.222,462 triliun. Naik Rp 53,503 triliun (1,27%) dibanding bulan sebelumnya.Dari total tersebut, ada 228.689 rekening yang memiliki simpanan di atas Rp 2 miliar. Jumlah simpanan nasabah di atas Rp 2 miliar mencapai Rp 2.369,456 triliun.Dalam data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang dikutip, Sabtu (25/4/2015), jumlah rekening nasabah dengan simpanan di atas Rp 2 miliar naik 0,11% dari bulan sebelummya, yang mencapai 228.433 rekening.Sementara rekening nasabah dengan simpanan Rp 2 miliar ke bawah mencapai 161.939.414 rekening. Total simpanannya turun dari 1.855,368 triliun menjadi Rp 1.853,006 triliun.Simpanan dalam jumlah rupiah naik 1,44% dalam sebulan menjadi Rp 3.513,395 triliun. Sementara simpanan dalam valuta asing naik 0,51% dalam sebulan menjadi Rp 709,067 miliar.

(dnl/dnl)

JAKARTA – Usia 30 tahun merupakan usia yang matang dan menjadi sebuah penentu kesuksesan Anda. Pada usia tersebut, seseorang akan dihadapkan pada banyak pilihan baik yang masih lajang maupun yang sudah berumah tangga.

Anda perlu memiliki tabungan yang mencukupi untuk menentukan pilihan tersebut, seperti pembelian rumah, kendaraan dan semacamnya.

Berikut empat langkah yang perlu Anda lakukan sebelum usia 30 tahun agar berada pada kesuksesan finansial sepanjang hidup seperti dilansir dalam artikel berjudul Financial Goals to Reach by Age 30 oleh Ahli Keuangan, Miriam Caldwell, Sabtu (25/4/2015).

1. Bebas utang

Pastikan bahwa Anda terbebas dari utang sangatlah penting dilakukan sebelum usia mencapai 30 tahun. Ketika Anda mengelola dan melunasinya dengan baik, ini akan membuka pintu untuk langkah-langkah lain dalam hidup Anda, seperti memiliki rumah, mobil, dan sebagainya di usia yang matang nanti.

2. Tabungan pensiun

Anda dapat menabung untuk masa pensiun nantinya dimulai dengan pekerjaan pertama Anda. Anda harus mulai menyimpan setidaknya 15 persen dari penghasilan Anda untuk memasuki masa pensiun. Membangun kebiasaan ini dan membuatnya menjadi prioritas akan berdampak positif sehingga Anda tidak perlu khawatir tentang pensiun saat usia bertambah.

3. Simpan untuk pembayaran DP rumah

Down Payment (DP) atau uang muka cicilan rumah membuat lebih mudah untuk memenuhi syarat membeli sebuah rumah. Menyimpan uang untuk DP rumah akan membantu Anda menjadi siap ketika saatnya tiba untuk Anda membeli rumah impian Anda.

 

4. Fokus pada karier

Luangkan waktu untuk membuat jaringan profesional yang solid dan untuk membuat karier semakin cemerlang. Usia 20 tahun ke atas adalah waktu yang tepat untuk mengeksplorasi pilihan yang berbeda.

Jika Anda masih lajang, Anda dapat pindah ke berbagai kota untuk mengejar pekerjaan impian Anda dan fokus pada membangun reputasi yang baik.

5. Bentuk kebiasaan keuangan yang baik

Bangunlah kebiasaan keuangan yang baik saat Anda berada di usia 20-an tahun. Ini termasuk mengelola kartu kredit dengan baik, dan memperbaiki kesalahan seperti keterlambatan pembayaran yang telah Anda buat di masa lalu.

Selain itu, menyisihkan uang untuk dana darurat juga perlu dilakukan untuk dapat menangani hal-hal seperti Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara mendadak atau sakit yang tidak terduga.

(rzk)

 

visi 2016: cautiously optimistic @ekonomi IHSG

Filed under: Investasi dan Risiko — bumi2009fans @ 12:33 am

bird_bbri_unvr

kontan: Inilah 50 perusahaan terbaik di Indonesia 2016 versi Forbes (berdasarkan laporan keuangan 2015):

1. PT Unilever Indonesia Tbk. (Penjualan Rp36,5 triliun)
2. PT Surya Citra Media Tbk. (Penjualan Rp4,2 triliun)
3. PT Pakuwon Jati Tbk. (Penjualan Rp4,6 triliun)
4. PT Ace Hardware Indonesia Tbk. (Penjualan Rp4,7 triliun)
5. PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (Penjualan Rp103 triliun)
6. PT Bank Central Asia Tbk. (Penjualan Rp23 triliun)
7. PT Metropolitan Kentjana Tbk. (Penjualan Rp2,1 triliun)
8. PT Bumi Serpong Damai Tbk. (Penjualan Rp6 triliun)
9. PT Sumarecon Agung Tbk. (Penjualan Rp5,6 triliun)
10. PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (Penjualan Rp16 triliun)
11. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (Penjualan Rp85,4 triliun)
12. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (Penjualan Rp13,6 triliun)
13. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (Penjualan Rp71,6 triliun)
14. PT Astra International Tbk. (Penjualan Rp184 triliun)
15. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (Penjualan Rp48 triliun)
16. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (Penjualan Rp27 triliun)
17. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (Penjualan Rp32 triliun)
18. PT AKR Corporindo Tbk. (Penjualan Rp20 triliun)
19. PT Bank Tabungan Pensiunan Negara Tbk. (Penjualan Rp2,5 triliun)
20. PT Media Nusantara Citra Tbk. (Penjualan Rp6,4 triliun)
21. PT Lippo Cikarang Tbk. (Penjualan Rp2 triliun)
22. PT Modernland Realty Tbk. (Penjualan Rp3 triliun)
23. PT Cardig Aero Services Tbk. (Penjualan Rp1,7 triliun)
24. PT Industri Jamu & Farmasi Sido Muncul Tbk. (Penjualan Rp2,2 triliun)
25. PT Nusa Raya Cipta Tbk. (Penjualan Rp3,6 triliun)
26. PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk. (Penjualan Rp22 triliun)
27. PT Tempo Scan Pacific Tbk. (Penjualan Rp22 triliun)
28. PT Ciputra Surya Tbk. (Penjualan Rp2 triliun)
29. PT Bank Mayapada Internasional Tbk. (Penjualan Rp5 triliun)
30. PT Sri Rejeki Isman Tbk. (Penjualan Rp9 triliun)
31. PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. (Penjualan Rp4,7 triliun)
32. PT Siantar Top Tbk. (Penjualan Rp2,5 triliun)
33. PT Metrodata Electronics Tbk. (Penjualan Rp10 triliun)
34. PT Indonesia Paradise Property Tbk. (Penjualan Rp10 triliun)
35. PT BPD Jawa Barat & Banten Tbk. (Penjualan Rp2 triliun)
36. PT Metropolitan Land Tbk. (Penjualan Rp1 triliun)
37. PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (Penjualan Rp1,5 triliun)
38. PT Acset Indonusa Tbk. (Penjualan Rp1,4 triliun)
39. PT Intiland Development Tbk. (Penjualan Rp2,2 triliun)
40. PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk. (Penjualan Rp17 triliun)
41. PT Clipan Finance Indonesia Tbk. (Penjualan Rp1 triliun)
42. PT Bayu Buana Tbk. (Penjualan Rp2 triliun)
43. PT FKS Multi Agro Tbk. (Penjualan Rp13,4 triliun)
44. PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk. (Penjualan Rp3 triliun)
45. PT Batavia Prosperindo Tbk. (Penjualan Rp250 miliar)
46. PT Ekadharma International Tbk. (Penjualan Rp532 miliar)
47. PT KMI Wire and Cable Tbk. (Penjualan Rp3 triliun)
48. PT Perdana Gapuraprima Tbk. (Penjualan Rp416 miliar)
49. PT Panorama Sentrawisata Tbk. (Penjualan Rp2 triliun)
50. PT Sekar Laut Tbk. (Penjualan Rp745 miliar)

 ets-small

Lukas Setia Atmaja
Financial Expert – Prasetiya Mulya Business School

Dalam memilih properti ada tiga pertimbangan penting. Pertama, lokasi. Kedua, lokasi dan ketiga, lokasi.

DALAM memilih saham atau perusahaan yang bagus, tiga pertimbangan terpenting adalah pertama, manajemen. Kedua, manajemen, dan ketiga, manajemen. Dalam proses memilih saham kita batasi analisis manajemen hanya terhadap manajemen puncak atau dewan (board) sebuah perusahaan. Mereka adalah “Vitamin B (board)” saham.

Cermatilah apakah perusahaan dipimpin oleh board yang berkualitas. Ada dua sistem board of directors: one-tier dan two-tier. Negara-negara Anglo-Saxon seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris menganut sistem one-tier di mana board of directors terdiri atas executive dan non-executive directors.

Indonesia menganut sistem two-tier di mana board of directors terdiri atas dewan direksi (executive board) dan dewan komisaris (advisory board).

Apa pun sistemnya, direksi dan komisaris bertanggung jawab atas keberhasilan korporasi memberikan return yang disyaratkan pemegang saham. Bedanya, direksi bertanggung jawab pada operasional korporasi, sedangkan komisaris lebih fokus pada pengawasan dan pemberian advis kepada direksi.

Dalam konteks negara, ini mirip kelembagaan presiden dan parlemen. Direksi dan komisaris memegang peran amat penting di perusahaan karena mereka adalah otak dari perusahaan. Direktur utama (CEO) adalah pimpinan yang menginspirasi dan mengarahkan seluruh karyawan perusahaan. Dia bersama direksi lain, menyusun dan mengeksekusi strategi perusahaan.

Dia sekaligus menjadi panutan, teladan bagi seluruh karyawan. Ambil contoh, bagaimana Ignatius Jonan mengubah PT Kereta Api Indonesia (KAI) dari perusahaan yang rugi menjadi perusahaan yang menguntungkan.

Di tahun pertama Jonan menjabat direktur utama KAI, dia berhasil membalikkan kerugian Rp83,5 miliar pada 2008 menjadi keuntungan Rp154,8 miliar pada 2009. Pada 2013, keuntungan meroket menjadi Rp560,4 miliar. Pada saat yang sama, KAI berhasil meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanannya.

Aset KAI meningkat dari Rp5,7 triliun pada 2008 menjadi Rp15,2 triliun pada 2013. Contoh lain, pada 1985 dewan direksi Apple Computer memaksa Steve Jobs keluar dari manajemen. Kinerja Apple pun turun drastis di tangan dua CEO penggantinya. Ketika Steve Jobs kembali menjadi CEO Apple, dia melahirkan iPod, IPhone, dan iPad. Saham Apple naik lebih dari 1.400% dalam satu dekade setelah Steve Jobs beraksi kembali.

Penelitian empiris di Amerika Serikat mengindikasikan kematian mendadak CEO yang hebat membuat harga saham perusahaan turun signifikan. Investor juga merespons positif penggantian CEO yang dianggap kurang bagus kinerjanya. Komisaris perusahaan memiliki peran dan tanggung jawab yang tak kalah penting.

Mereka menjalankan tugas memberi nasihat dan mengawasi direksi. Di perusahaan yang memiliki tata kelola yang baik, fungsi, tanggung jawab, dan kerja sama antara direksi dan komisaris perusahaan diatur secara jelas di board manual atau board chapter. Komisaris dapat dikategorikan menjadi dua: independen dan terafiliasi.

Umumnya, komisaris dikategorikan sebagai independen jika tidak memiliki hubungan bisnis dengan korporasi di mana dia diangkat menjadi komisaris misalnya menjadi konsultan profesional atau pemasok barang.

Komisaris yang memiliki saham dengan jumlah cukup besar (misalnya 5% sering disebut substantial shareholder) atau komisaris yang memiliki hubungan dengan substantial shareholder juga dikategorikan sebagai terafiliasi.

Komisaris independen dianggap lebih bisa menjalankan peran pengawasan dalam rangka melindungi kepentingan pemegang saham, khususnya pemegang saham minoritas.

Sejumlah penelitian empiris di berbagai negara mengindikasikan bahwa komisaris independen berperan nyata dalam pengambilan keputusan strategik korporasi dan berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan.

Tak heran jika di AS, hukum mensyaratkan agar perusahaan publik memiliki board of directors dengan mayoritas independent non-executive directors (komisaris independen). Persentase komisaris independen di perusahaan publik Amerika Serikat adalah sekitar 66%.

Di Indonesia ada peraturan yang berlaku bagi perusahaan publik untuk memiliki persentase komisaris independen minimal 30%. Kesimpulannya, sebelum memutuskan untuk membeli sebuah saham, cermati siapa direksi dan komisaris perusahaan tersebut. Apakah cukup banyak komisaris independen yang bakal membela kepentingan pemegang saham minoritas? Informasi bisa diperoleh di Laporan Tahunan maupun website perusahaan.

Hindari saham perusahaan yang dipimpin oleh direksi dan komisaris yang memiliki rekam jejak yang kurang baik, dalam performa perusahaan maupun karakter. Manfaatkan mesin pencari Google untuk mempelajari direksi dan komisaris kandidat saham pilihan kita. Vitamin B akan membuat saham perusahaan makin kuat bergairah.

(izz)

ets-small

The NBER’s Asset Pricing Program was created in 1991. Today, it has more than 130 members who present and discuss their research findings at three annual meetings. These meetings take place in the Midwest in the spring, on the east coast in the summer, and on the west coast in the fall. It has been my honor to serve as Program Director for the past three years, which have been particularly interesting as the financial crisis has challenged some of the conventional wisdom about the workings of asset markets. During this time, the Program’s members have produced an impressive collection of more than 300 NBER Working Papers.

This report focuses specifically on quantitative structural asset pricing models. In recent years, the AP members have been researching models that can provide unified explanations of a wide range of phenomena in financial markets. Even before the financial crisis, some of these models provided an important base for understanding financial institutions, frictions in financial markets (such as credit constraints), liquidity, investor heterogeneity, and the potential presence of investor irrationality in some markets. Of course, since the crisis, AP Program members have intensified their analysis of models with such features.

Understanding Returns on Average and over Time

A well-known stylized fact about financial markets is that average returns on stocks, long government bonds, and corporate bonds are higher than the return on short bonds. Why do investors demand high compensation for such investments? In a frictionless model with optimizing investors, there are two possible answers: either households are highly risk averse, or they perceive these investments to be very risky.

Another well-documented stylized fact is that the returns on certain long-short strategies are predictable: low current stock valuations relative to fundamentals (for example, dividends or earnings) tend to be followed by high subsequent returns. The returns on currency carry trades are predictable based on interest rate differentials. The carry trade involving only domestic bonds is predictable based on the slope of the term structure.

Why don’t investors simply borrow and buy some more stocks when expected returns on stocks are high? An economic explanation of return predictability needs a mechanism that discourages investors from doing just that. If investors were to buy stocks in anticipation of high returns, then these purchases would drive up stock prices today, destroying return predictability.

There are two ways to discourage investors from buying in a frictionless setting with rational expectations. First, investors may be more risk averse in times when expected returns are high. In bad times, when stocks are trading at low prices, investors could be well aware that prices are likely to go up, but they may worry about taking on the extra risk associated with holding more stocks. Second, investors may be facing more risk in times when expected returns are high. During the financial crisis, for example, the Dow dropped below 7000, and still households did not want to buy more stocks. A plausible explanation is that they were worried about losing their jobs and preferred holding cash.

The early work on quantitative asset pricing asked whether models could explain one or maybe even a few of the above stylized facts in isolation. Over the last couple of years, the focus has been on whether the models can explain a wide variety of phenomena in financial markets simultaneously. This recent research has made important progress: we now have a much more consistent explanation of the size and time variation of risk premiums across different asset classes. By carefully documenting dimensions along which existing models don’t perform as well, we also have made significant progress in understanding where the theory needs improvement.

Some of the analysis of financial market equilibrium is done in a frictionless setting, where standard optimization conditions (“Euler equations”) describe household behavior, but there are many reasons to believe that these Euler equations do not hold. For example, rich households may have financial advisors who manage their money for them, in which case the advisors’ incentives may play important roles. Or, frictions such as credit constraints may be preventing households from borrowing precisely when they need the extra cash. For example, during the financial crisis, it may have been harder to get a new car loan or mortgage. In that case, optimality conditions may lead to Euler inequalities. Finally, households may not have rational expectations. As a consequence, Euler equations may hold, but under beliefs that do not represent a rational assessment of past evidence. In particular, households may not be aware when expected returns on stocks are high, and so they have no reason to buy them. I describe recent work on models with such features later in this report.

Time Varying Risk Aversion

John Y. Campbell and John H. Cochrane 1 develop a model in which investors have time-varying risk aversion. The key assumption in their model is that investors’ utility functions depend on the past history of aggregate consumption, so they capture a “Catching up with the Joneses” motive. Investors are more risk averse in recessions, when their consumption is low relative to past aggregate consumption. They are less risk averse in booms, when their consumption is high, and so gambling feels less threatening. These countercyclical movements in risk aversion make investors want to be compensated more for holding risky assets (such as stocks) in recessions. Thus, the model generates expected returns that are high in recessions.

More recent papers have studied the performance of the Campbell-Cochrane model in other asset markets. Jessica Wachter 2 shows that a quantitative implementation of a model with time-varying risk aversion can simultaneously explain the predictability of stock returns (as in Campbell-Cochrane) and long-term government bonds. Her paper provides a unified explanation of pricing for stocks and bonds. Further, the real rate is countercyclical, so long-term real bonds are assets with low payoffs in recessions. As a consequence, investors demand positive average compensation for holding these bonds, generating an upward sloping real yield curve (which helps the model generate an upward nominal yield curve as well.)

Long Chen, Pierre Collin-Dufresne, and Robert Goldstein 3 apply the Campbell-Cochrane model to corporate bond markets. A challenge in these markets is that yields on Baa-rated corporate bonds are much higher than those on Aaa-rated bonds, despite the fact that the default probabilities of Baa bonds are only slightly higher than those of Aaa bonds. A model with time-varying risk aversion can account for high Baa-Aaa spreads, because investors are sensitive to the timing of defaults: defaults of Baa bonds are more likely to happen in recessions, when risk aversion is high. Therefore, investors want to be compensated with high yields for a small average amount of exposure to default.

Adrien Verdelhan 4 explores a model with two countries that are populated by investors with risk aversion that depends on past aggregate domestic consumption. The model also has a pro-cyclical real interest rate. When domestic consumption is low, domestic investors are more risk averse and demand higher compensation for investing in risky strategies. At the same time, the domestic real interest rate is low. This mechanism explains why expected returns on the currency carry trade are high when domestic rates are low.

All of these papers have made important progress in our understanding of what models with time-varying risk aversion imply for asset pricing. Along the way, the researchers have uncovered a number of implications of these models that require more research. It has became clear, for example, that we need to settle the (empirical) question of whether real rates are pro-cyclical or countercyclical, and then modify the models to explain both bond and currency markets simultaneously.

Another implication of the Campbell-Cochrane model, pointed out by Martin Lettau and Wachter 5 , is that the strong time variation in risk premiums and thus discount rates make assets with “‘backloaded” dividends – assets that pay dividends far in the future rather than close to the present – appear riskier than assets with “‘frontloaded” dividends. Tano Santos and Pietro Veronesi 6 show that growth stocks have backloaded dividends, so habits tend to generate a “growth premium”‘ rather than the “value premium”‘ that we observe in the data.

Long Run Risk

Ravi Bansal and Amir Yaron 7 pursue the idea that investors worry about long- run risks, defined as small but persistent changes in expected consumption growth. They consider investors who demand compensation for assets that have low payoffs when bad news about future consumption growth arrives – such investors are said to have “Epstein-Zin” utility functions. Bansal and Yaron apply this model to stocks and provide a new story for the equity premium.

Recently, a large number of papers have applied this model to a variety of markets. Several of the studies investigate the model’s implications for the cross-section of stock returns. Bansal, Robert Dittmar, and Christian Lundblad 8 document that the cash flows of “value stocks,” stocks of companies with high book values relative to their market values, vary more with news about future consumption growth than the cash flows of “growth stocks,” stocks of companies with low book-to-market values. In the long-run-risk model, this larger covariance makes investors perceive value stocks as more risky. They therefore demand a higher compensation for holding them, explaining the value premium. Lars-Peter Hansen, John Heaton, and Nan Li 9 document that the covariance between cash flows and news shocks will depend on how the estimation deals with time trends.

Long-run risk provides interesting new interpretations of average premiums, but by itself implies constant premiums. Therefore, long-run risk does not explain the predictability of asset returns, or the high volatility of returns. I will discuss later some recent attempts at combining long-run risk with time variation in risk.

Most papers on long-run risk treat expected consumption growth as unobservable — that is, a latent variable. As a consequence, it can be difficult to estimate the amount of long-run risk in the data. To get a sense of the amount of long-run risk in the Bansal and Yaron (2004) model, Jason Beeler and Campbell 10 simulate data from the model and run forecasting regressions of future consumption growth based on current price-dividend ratios. They can explain more than 30 percent of the variation in the simulated data at the 5-year horizon, and so they conclude that the amount of long-run risk in this particular quantitative implementation is too large.

Martin Schneider and I 11 investigate the implications of a model with Epstein-Zin utility for nominal government bond prices. We estimate the joint dynamics of consumption growth and inflation and document that higher inflation today is bad news for future consumption growth. Since long-term bonds are assets with low payoffs in states when inflation is surprisingly high, investors demand compensation for holding long bonds. The model thus predicts that long bonds pay higher returns on average than short bonds – hence it can explain positive slope in the nominal term structure of interest rates.

Disaster Risk

In 1984, Thomas Rietz advanced the idea that rare disasters in consumption make investors worry more about holding stocks and thus may explain a large equity premium. Disasters are rare, so their frequency, size, and duration are difficult to measure. One approach is to calibrate these disasters to well-known crisis events, like the Great Depression, as I did in a 2004 paper written with Francis Longstaff. Another possibility is to treat them as peso problems, which investors fear, but which are not observed in the data sample.

Like long-run risk, disasters provide new interpretations of average premiums, but they do not provide any mechanism for volatility in stock valuations. To generate volatility, or predictability of returns, the probability of a disaster has to vary over time, so that consumption growth is heteroskedastic. I will discuss recent research later in this article that combines disasters with such time-varying risk.

Disasters often affect the returns on both stocks and bonds (for example, in most countries, stock and bond values crashed during the two World Wars). This means that they may affect the average level of returns on these assets, but not their difference — the equity premium. There are few examples in history where disasters affect only stocks (for example, the Great Depression, or Argentina in 1998-2001.) Robert Barro 12 documents these historical disasters and develops a model that allows disasters to affect stocks and bonds.

Consumption data from other countries is difficult to obtain. Many studies therefore use the more easily available GDP data to measure disasters. This is problematic, because GDP consists of consumption and investment, and what comes down most during an economic disaster is investment, not consumption (which enters the Euler equation and thus matters for pricing.) During the Great Depression, for example, real GDP fell by 30 percent but consumption only dropped by 10 percent. During the recent financial crisis, consumption fell by roughly 3 percent. Barro and Jose Ursua 13 have now put together an impressive dataset on international consumption and documented historical disasters – including their duration — observed in various countries.

Barro’s 2006 paper has inspired a substantial body of follow-up work on disaster risk. Several papers have measured the importance of disaster risk from data on options. Craig Burnside, Martin Eichenbaum, and Sergio Rebelo 14; Jakub Jurek15; and Emmanuel Farhi, Samuel Fraiberger, Xavier Gabaix, Romain Ranciere, and Verhelhan 16 each use a different approach to study the evidence in currency options. David Backus, Mikhail Chernov, and Ian Martin 17 measure the frequency and size of disasters in consumption from options on U.S. equity indexes.

Along the way, the literature has come up with new techniques that are helpful in solving models with disasters. Ian Martin 18 uses higher order cumulants to derive asset prices and returns in a model of disasters. Gabaix 19 develops a class of linearity-generating processes that lead to closed-form solutions for bond and stock prices 20.

Time-Varying Risk

Another reason why returns may be predictable is that the amount of risk in the economy varies over time. Shmuel Kandel and Robert Stambaugh 21document such time variation in the variance (“heteroskedasticity”) of aggregate consumption growth data and evaluate its asset-pricing implications with Epstein-Zin utility.

A number of papers have looked jointly at long-run risk and heteroskedasticity. For example, Ravi Bansal and Amir Yaron22 show that such a model can account for a number of facts in stock returns, including the observed predictability of returns. Hui Chen 23 shows that time-varying risk makes firm defaults more likely in recessions and more painful for claimholders, which explains both high credit spreads in corporate bond markets and low leverage ratios by firms.

Another set of papers has investigated time-varying disaster probabilities, which also capture heteroskedasticity in consumption. Francois Gourio 24 and Wachter 25 specify the disaster probability to be an autoregressive process and calibrate the parameters to match return data on stocks and bonds.

Intermediation

Motivated by recent events, members of the AP group havefurther explored models with financial institutions. In these models, the Euler equations of households do not necessarily hold because households delegate their portfolio management to institutions, such as mutual funds and hedge funds. The assumption in these models is that households cannot participate directly in these markets, but must participate through financial intermediaries.

Zhiguo He and Arvind Krishnamurthy 26 analyze a model with both stocks and bonds in which households can invest in bonds directly but not in stock. Instead, households invest with intermediaries who manage a portfolio of stocks and bonds. They further assume that the total amount of funds that households can invest with intermediaries is constrained to be less than a multiple of the intermediaries’ internal funds. This “intermediation constraint” is assumed to always bind. In response to a negative shock to the cash flows of stocks, the wealth of intermediaries falls. Because of the intermediation constraint, households have to reduce their investments with intermediaries and thus have a smaller portfolio weight on stocks. The only way for markets to clear is for intermediaries to increase their portfolio weight on stocks, which in turn increases the intermediaries’ consumption exposure to the stock market. As a consequence, risk premiums in the stock market rise in bad times.

Dimitri Vayanos and Paul Woolley 27 consider a model with a bond and many different stocks. Households can buy a passive index of these stocks or they can invest with an active portfolio manager. There are also “buy and hold” investors who hold stocks in proportions different from the passive index. The portfolio manager can generate higher returns than the passive index by buying stocks that are in low demand by these “buy and hold” investors and are thus undervalued. A key assumption is that portfolio managers can be good or bad (that is, manage money at low or high costs), and that households learn about their ability. If households receive high returns on their actively managed portfolios, then they will update their information about the manager’s ability and invest more. The model can thus explain why high past returns on an active fund will generate higher future inflows into the fund.

In papers that will be presented at the 2010 NBER Summer Institute, In Gu Kang, He, and Krishnamurthy 28 document changes in balance sheets of financial institutions over the recent financial crisis. Tobias Adrian, Emanuel Moench, and Hyun Shin 29 document that these balance sheets are informative about risk premiums in financial markets. In particular, they show that an expansion of balance sheets – higher growth rates of leverage or assets by financial institutions – predicts higher future economic activity (for example, GDP growth) and lower future excess returns (on a variety of stock portfolios, corporate bonds, and government bonds.) Of course, because the regressions involve endogenous variables, we are not sure whether these are causal relationships.

Heterogeneous Expectations

Schneider and I 30 use evidence from the Michigan survey to document that young households were forecasting higher inflation rates than older households during the late 1970s and early 1980s. Since mortgages are nominal contracts, younger households perceive real mortgage rates to be lower than older households, creating gains from trade across generations. As a consequence, young households borrow and buy houses, which are the only asset that can be used as collateral, and thereby drive up house prices. This effect is further reinforced by mortgage subsidies that increase in times of high expected inflation and also make housing more attractive than stocks as an investment. Taken together, these mechanisms help explain the house price boom and stock price decline of the late 1970s and early 1980s.

In a later paper 31 we again use Michigan survey data to document expectations about future house prices. Before the boom, a small fraction (10 percent) of households thought that now was a good time to buy a house because house prices would go up in the future. This fraction doubled towards the end of the housing boom, during the years 2004-5, when 20 percent of households believed that buying a house was attractive because house prices would go up further. We then ask whether in a model with search frictions – like the housing market – a small fraction of optimists is enough to drive up house prices. The answer is yes, because prices are measured in a small number of housing transactions. In these transactions, the most optimistic buyers are matched with sellers.

Ulrike Malmendier and Stefan Nagel 32 document that investor expectations depend on their lifetime experiences. Based on data from the Survey of Consumer Finances, they show that investors who experienced low stock returns are more pessimistic about future returns, participate less in the stock market, and invest a smaller share of their portfolio in stocks.

Other Heterogeneity

Heterogeneous agent models may do a good job in matching the heterogeneity in the data on household portfolios, but this heterogeneity may not matter for aggregates such as asset prices. For example, Dirk Krueger and Hanno Lustig 33provide various examples of economies in which uninsurable income shocks do not matter for the equity premium. Nobuhiro Kiyotaki, Alexander Michaelides, and Kalin Nikolov34 show that in their heterogeneous agent model, more lax collateral constraints do not lead to higher house prices.

However, there has been some research by AP Program members that has found encouraging evidence about incorporating heterogeneity. For example, Jonathan Parker and Annette Vissing-Jorgensen 35 document that the consumption of rich households is over five times more volatile than aggregate consumption, which may help to explain average premia in financial markets. Yi-Li Chien, Harold L. Cole, and Lustig 36 build a model in which a large fraction of households do not rebalance their portfolios in response to aggregate shocks. As a consequence, households who do rebalance need to sell more stocks in good times and buy more stocks in bad times. This mechanism generates time variation in risk premiums.

Concluding Remarks

The financial crisis has had many negative effects on the economy, but it has had positive effects in stimulating a range of new research in asset pricing. Asset Pricing Program members have begun to evaluate whether conventional models can make sense of the experience in financial markets during the crisis. Many of the assumptions and mechanisms in these models are being questioned. To borrow from the title of Malmendier and Nagel’s paper, we will see a lot more interesting research by “Crisis Babies” over the coming years.

doraemon

bisnis.com: Ini kabar baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II tahun ini mencapai 5,18%, suatu level pertumbuhan ekonomi tertinggi pada kuartal II sejak 2013. Laju pertumbuhan ekonomi tersebut juga lebih tinggi dari kuartal I yang hanya 4,93% dan kuartal II 2015 yang cuma 4,66%.

Jelas, kabar baik ini langsung disambut pelaku pasar dengan suka cita. Indikatornya jelas, nilai tukar rupiah terus menguat dan indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia terus menanjak.

IHSG bahkan menduduki posisi kinerja terbaik di Asia, dan kini digadang-gadang bakal menyentuh level 5.500-an dalam waktu dekat. Nilai tukar rupiah pun diperkirakan akan terus menguat, yang diperkirakan dapat mencapai posisi di kisaran Rp12.500-an per dolar AS.

Terlebih, banyak kabar baik lainnya, semenjak rencana pemerintah melancarkan program amnesti pajak disetujui DPR akhir Juni silam. Lalu, reshuffle kabinet menghasilkan tim ekonomi dianggap mampu memperkuat keyakinan bagi pelaku bisnis dan masyarakat.

Penunjukan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan yang baru telah memperkuat stempel Kabinet Kerja dengan komposisi tim ekonomi yang tangguh dan kredibel. Bahkan, tim ekonomi hasil reshuffle kabinet ini dianggap sebagai tim ekonomi terbaik di era reformasi.

Terlebih Sri Mulyani, yang pernah menjabat Menkeu sebelum ditunjuk sebagai Managing Director dan Chief Operating Officer Bank Dunia, langsung menggebrak dengan memangkas belanja APBN Perubahan 2016 senilai Rp133 triliun.

Langkah cepat tersebut langsung disambut positif. Banyak kalangan mengapresiasi bahwa postur APBNP 2016, akan lebih realistis guna memberikan kepercayaan bagi pelaku bisnis, baik domestik maupun internasional.

Maka dari itu, ketika Badan Pusat Statistik mengumumkan kinerja ekonomi kuartal II tumbuh signifikan, semakin kuat keyakinan bahwa perekonomian Indonesia memasuki jalur pertumbuhan yang diharapkan. Pencapaian kinerja perekonomian ini semakin memperkuat trust dan keyakinan pelaku pasar, dunia usaha dan masyarakat terhadap perekonomian nasional.

Harian ini menggarisbawahi, perbaikan kinerja ekonomi yang kebetulan berbarengan dengan langkah Presiden Jokowi merombak Kabinet dengan komposisi tim ekonomi yang lebih meyakinkan, adalah momentum titik balik yang tak boleh disia-siakan.

Momentum titik balik tersebut hendaknya terus dijaga dengan memperkuat kebijakan fiskal, melanjutkan sekaligus mempertegas reformasi stuktural, serta merealisasikan berbagai program jangka pendek yang telah dirancang dalam berbagai paket kebijakan ekonomi.

Ini penting, guna memperuat kepercayaan bagi sektor swasta dari dalam negeri maupun investor dari luar negeri untuk mempercepat aktivitas usaha mereka di Indonesia.

Kita tahu, penggerak utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal II tahun ini lebih banyak ditopang oleh konsumsi pemerintah melalui belanja anggaran khususnya di bidang infrastruktur. Oleh sebab itu, apabila keyakinan sektor swasta semakin menguat, ekspansi bisnis sektor swasta diharapkan terus bergeliat.

Ini akan menjadi motor penggerak tambahan bagi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III dan IV, yang akan menopang kontribusi anggaran pemerintah dalam pembangunan infrastruktur.

Apabila upaya mendorong sektor swasta ini berhasil, maka laju pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan dapat mencapai bahkan melampaui target pemerintah, yakni di kisaran 5,2%-5,4%.

Bahkan bisa jadi laju pertumbuhan ekonomi tersebut akan lebih baik lagi, manakala efektivitas kebijakan fiskal dapat ditingkatkan lagi. Meskipun sebagian belanja dipangkas demi efisiensi anggaran, realisasi anggaran yang efektif justru akan menambah kontribusi belanja pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Karena itu, kita berharap agar pemerintah benar-benar berupaya dengan segenap kemampuan, agar berbagai program yang telah dicanangkan dapat dijalankan secara simultan. Mulai dari amnesti pajak, reformasi perpajakan menyeluruh, program percepatan infrastruktur, pendalaman pasar keuangan, dukungan usaha kecil dan menengah, serta perbaikan iklim bisnis.

Implementasi yang kuat atas berbagai program tersebut, selain akan menghasilkan multiplier effect yang besar bagi perekonomian, juga akan meneguhkan stempel bahwa pemerintah benar-benar bekerja dengan efektif.

Ini akan mengukuhkan kepercayaan bagi pemerintah dan perekonomian, yang amat diperlukan untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan. Pada akhirnya, akan menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, mengatasi kesenjangan dan menyejahterakan seluruh rakyat.

 spiral

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA– Investor yang memegang saham PT Waskita Karya Tbk pasti sumringah. Sepanjang tahun ini, harga saham emiten berkode WSKT ini sudah naik sekitar 40%. Kinerja keuangannya juga ciamik.

Di kuartal satu, emiten konstruksi ini berhasil mengantongi laba bersih sebesar Rp 127,3 miliar, melesat 1026 persen dibanding tahun sebelumnya.

Tapi beda lagi dengan pemegang saham PT Agung Podomoro Land Tbk. Gara-gara petingginya terseret kasus suap reklamasi, harga saham emiten berkode APLN ini malah merosot sekitar 24% sejak awal tahun.

Tentunya, bila investor hanya menempatkan investasinya di saham APLN, ia jadi rugi besar. Namun ia bisa mengurangi kerugian tersebut bila menyebar investasinya di banyak instrumen atau banyak saham.

Menurut Lukas Setia Atmaja, Pakar Keuangan dari Prasetiya Mulya Business School, diversifikasi portofolio merupakan cara yang cukup efektif untuk mengurangi risiko investasi di pasar modal.

Secara umum, ada dua jenis risiko yang dihadapi oleh semua investor.

Pertama, risiko sistematis alias risiko pasar. Risiko ini timbul karena kejadian makro, yakni kejadian yang mau tidak mau menimpa seluruh instrumen investasi atau sektor bisnis tanpa pengecualian.

Contohnya adalah perlambatan ekonomi atau fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Sebagaimana kita lihat tahun lalu, perlambatan ekonomi membuat kinerja emiten juga melemah. Otomatis, kinerja saham juga loyo. Semua saham terkena risiko sistematis ini tanpa kecuali.

Kedua, risiko non sistematis. Ini adalah risiko yang muncul akibat kejadian mikro, yang sifatnya spesifik hanya menimpa saham tertentu atau bisnis tertentu.

Misalnya, kenaikan cukai rokok yang hanya mempengaruhi emiten-emiten produsen rokok.

Atau contoh lainnya kasus suap reklamasi yang menyeret presiden direktur Agung Podomoro Land, sehingga akhirnya harga saham emiten ini juga ikut merosot.

“Risiko sistematis tidak bisa dikurangi, tapi risiko non sistematis bisa dikurangi dengan prinsip diversifikasi,” cetus Lukas.

Jadi, kalau investor menyebar investasinya ke beberapa instrumen investasi, maka ia bisa mengurangi risiko non sistematis yang bisa terjadi.

valentineEVERYsmall

Bisnis.com, JAKARTA — Standard Chartered Bank Indonesia masih optimis dengan kondisi ekonomi Indonesia pada 2016. Melalui diversifikasi investasi, Standard Chattered mengajak nasabah untuk bijak dalam menempatkan dana yang dimilikinya.

Country Head of Retail Clients Standard Chartered Indonesia, Lanny  Hendra mengatakan tantangan perbankan masih akan dirasakan pada tahun  ini, seiring dengan terjadinya siklus ekonomi Amerika Serikat yang berdampak pada ekonomi negara berkembang. Namun, masih ada harapan untuk
investasi.

“Kami optimis bahwa kondisi ekonomi akan membaik, untuk itu kami mengajak nasabah agar beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi dengan melakukan diversifikasi terhadap portofolio investasi,” ujar Lanny saat ditemui di Jakarta, Selasa (26/1/2016).

Dari sisi produk retail seperti kartu kredit, KPA dan KPR, Standard Chartered  Bank mengakui adanya pergerakan yang melambat pada tahun ini. Namun
kondisi ini dirasa masih lebih baik dibandingkan kondisi tahun lalu.

Selain itu, regulasi pemerintah terkait pemberian tax amnesty juga dianggap  sebagai suatu sinyal positif terhadap dunia perbankan lantaran dana-dana
yang selama ini disimpan di luar negeri bisa masuk kembali ke  Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Bambang Simarno selaku Head of
Wealth Management Standard Chartered Bank Indonesia.

Akan ada  banyak dana yang akan kembali balik ke Indonesia. Hal tersebut membuat pangsa pasar kita semakin besar. Dana investor juga banyak kembali masuk
di Indonesia, ujar Bambang.

2016: kontan: membuat rencana pengembangan usaha untuk lima tahun ke depan.

Resolusi ini disebut strategis, mengingat implementasinya sudah harus mulai dilakukan saat ini secara berkelanjutan. Tanpa ada perencanaan jangka panjang, tahun demi tahun akan berjalan tanpa persiapan. Di kemudian hari, saat kebutuhan tersebut sudah di depan mata akan sangat sulit untuk bisa dipenuhi.

Hal strategis lainnya yang bisa dijadikan sebagai resolusi keuangan tahun ini adalah memulai memiliki laporan keuangan pribadi atau keluarga yang terpisah dengan laporan keuangan usaha. Banyak pengusaha mikro dan rumahan yang masih menyatukan rekening pribadi dan usaha mereka dan belum memiliki laporan keuangan secara terpisah.

Resolusi memiliki laporan keuangan boleh dibilang bersifat strategis, karena laporan keuangan bukan hanya sarana untuk mencatat aset dan utang; pemasukan dan pengeluaran; serta laba atau rugi usaha, tetapi juga sebagai sarana melakukan evaluasi dan mengukur tercapai tidaknya tujuan keuangan yang ingin diraih.

 

bloomberg: In a dismal year for emerging-market stocks, information technology and health-care companies have fallen the least, positioning those sectors to become the developing world’s top two performers for the fourth year in a row.

They are the MSCI Emerging Markets Index’s most consistent outperformers. If the rankings hold — with both down 8 percent and comfortably ahead — each will have finished in first or second place five times in the past decade. Consumer staples trail in third place.

Emerging Markets Sector Rankings

2015 YTD 2014 2013 2012 2011 2010 2009 2008 2007 2006
Health Care 1st 1st 2nd 1st 7th 4th 9th 1st 7th 10th
Info Tech 2nd 2nd 1st 2nd 5th 7th 2nd 5th 10th 9th
Cons. Staples 3rd 8th 6th 3rd 1st 2nd 6th 2nd 8th 6th
Cons. Disc. 4th 5th 3rd 6th 3rd 1st 1st 6th 9th 8th
Industrials 5th 6th 4th 5th 10th 3rd 7th 10th 1st 7th
Energy 6th 10th 9th 9th 6th 9th 4th 9th 3rd 2nd
Financials 7th 3rd 8th 4th 8th 6th 5th 7th 6th 5th
Telecom 8th 7th 5th 7th 2nd 8th 10th 4th 4th 4th
Utilities 9th 4th 7th 10th 4th 10th 8th 3rd 5th 1st
Materials 10th 9th 10th 8th 9th 5th 3rd 8th 2nd 3rd

In the MSCI World Index of developed markets, the top sectors this year are health care (3.8 percent) and consumer discretionary (3.3 percent) — such as retailers, media and services companies — with information technology third at 3.1 percent.

The developed world’s top two performers over the past decade mirror their emerging markets counterparts: In both classes, the consumer-staples and health sectors have doubled in value since the end of 2005 and are far ahead of other industries.

Some industries fare much better in the developed world than in emerging markets, and vice versa. Energy has been the worst emerging market performer over the past 10 years, falling almost three times as much as in the developed world. Financial stocks rank lowest in developed countries, but their shares are up 11 percent in emerging countries.

doraemon

JAKARTA ID – Bank Dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan di sekitar 5,3%, lebih tinggi dari perkiraan Dana Moneter Internasional (IMF) yang hanya memperkirakan pertumbuhan 5%.

 

Selain konsumsi domestik, investasi diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi pada 2016.

 

Dalam laporan terbarunya bertajuk Indonesia Economic Quarterly (IEQ) edisi Desember 2015 yang dipublikasikan Kementerian Keuangan, Bank Dunia secara khusus menyoroti serangkaian paket kebijakan ekonomi pemerintah yang telah diluncurkan sejak September 2015 lalu.

 

Menurut lembaga tersebut, paket- paket kebijakan ekonomi itu, yang mencakup kebijakan reformasi regulasi dan structural serta stimulus fiskal, berpotensi meningkatkan investasi sektor swasta yang masih rendah tahun ini.

 

“Bila diimplementasikan secara efektif, paket kebijakan dapat membantu pengurangan kendala bagi dunia usaha dan mendorong investasi swasta. Dalam jangka panjang, naiknya investasi tetap sangat penting guna kembalinya pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan perbaikan lapangan kerja,” ungkap Ekonom Utama Bank Dunia di Indonesia Ndiame Diop dalam keterangan resminya, pekan lalu.

 

Awal pekan ini, IMF menegaskan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan di angka 5% dan 4,7% untuk tahun ini. Perwakilan Tim IMF Luis E Breuer menyatakan outlook perekonomian Indonesia masih solid. Ini menilai, pemerintah telah memperkuat kerangka kebijakan sejak beberapa tahun lalu melalui kebijakan fiskal yang berkelanjutan dan moneter bias ketat, diperkuat dengan Reformasi kebijakan subsidi pada APBN-P 2015 juga dianggap memperkuat langkah-langkah tersebut.

 

“Kebijakan yang prudent telah menciptakan stabilitas makroekonomi dan menopang pertumbuhan. Tahun ini pemerintah telah memitigasi risiko ekonomi global seiring jatuhnya harga komoditas, pergeseran keuangan global dan perlambatan ekonomi negara mitra dagang. Prospek jangka menengah masih positif,” kata Breuer.

 

Breuer menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan yang akan moderat di level 5% ditopang investasi. Di satu sisi pelemahan harga komoditas dan permintaan dari mitra dagang menjadi tantangan tersendiri.

 

“Inflasi turun tajam ke level estimasi 3% di akhir tahun, dan diproyeksikan mencapai 3-5% tahun depan. Defisit transaksi berjalan tahun ini juga susut ke kisaran 2% PDB seiring menurunnya impor namun permintaan domestic yang tinggi tahun depan akan menyebabkan peningkatan deficit transaksi berjalan, masih di bawah 3% PDB,” kata dia.

 

Breuer menilai, strategi fiskal pemerintah sudah menuju arah yang tepat. APBN 2016 diarahkan untuk menciptakan lebih banyak ruang fiskal melalui peningkatan target penerimaan, merealokasi belanja subsidi ke belanja infrastruktur dan bantuan sosial yang lebih terarah. Dihapuskannya subsidi BBM, kata dia, menciptakan ruang belanja publik dan conditional cash transfer. (ns)

big-dancing-banana-smiley-emoticon

Jakarta detik -Perekonomian Indonesia tahun depan diperkirakan akan lebih baik dibandingkan tahun ini. Lebih optimistis namun dengan kewaspadaan dan hati-hati.

Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang membaik dengan jumlah pengangguran yang menurun memberikan harapan positif terhadap perekonomian ke depan.

Kenaikan suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve (the Fed) memberikan kepastian terhadap para pelaku pasar keuangan.

Di samping itu, pengumuman paket stimulus ekonomi dari pemerintah akan menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif dan mendukung pertumbuhan ekonomi di tahun 2016.

“Tahun monyet api, artinya berapi-api, jadi optimis. Monyet kan lincah, jadi pergerakannya lincah, tapi api harus diwaspadai jangan sampai terlalu besar nanti terbakar. Intinya optimis, lincah, dan waspada,” ujar Senior Financial Advisor AAM and Associates Aidil Akbar saat ditemui di Dapur Sunda, Pacific Place, Jakarta, Rabu (23/12/2015).

Dia menjelaskan, poin utama pendorong optimisme perekonomian Indonesia di tahun depan adalah soal kebijakan pemerintah di berbagai sektor. Utamanya soal pembangunan infrastruktur yang lebih agresif.

“2016 infrastruktur lebih jalan. Investor melihat sinyalemen positif, kemarin kan uncertainty, sekarang sudah lebih pasti,” katanya.

(drk/ang)

long jump icon… AWAL TAON 2015 neh, pesimisme rakyat amrik JELASssss:

bloomberg: As Americans size up a new year, optimism appears to be in short supply. Despite strong economic growth and a falling unemployment rate, gloom about the country’s long-term prospects remains pervasive. Hopes for the next generation are particularly fragile. A poll by Hart Research Associates and Public Opinion Strategies suggests that 76 percent of Americans aren’t confident that life for their children will be better than it’s been for themselves. That’s an increase from 42 percent in December 2001. Europeans are almost as pessimistic. A 2014 Pew Research poll of global attitudes found that in 10 North American and European countries, 65 percent of respondents said today’s children would be worse off financially than their parents.

With memories of the Great Recession still fresh, such pessimism is somewhat understandable. But it’s also largely ill-founded—and according to recent economic research, the attitude can be self-fulfilling. Even if our pessimism were grounded in reality, we would have a better chance of improving our economic fortunes if we pretended to be optimistic. For the sake of our children, we need to snap out of our funk about their futures.

People in rich countries do have some legitimate reasons to worry. Median household income in the U.S. is pretty much at the same level as it was in 1989, and the last few years have been grim for economies across Europe. But it’s myopic to base expectations about the next generation so heavily on the last five years of tepid recovery from an enormous economic meltdown. The idea that a whole generation will reach their parents’ age and be stuck with median incomes lower than when they started earning would be pretty much unprecedented for North America and Europe since the start of the Industrial Revolution.

Looking beyond income, there’s been enough progress over the last generation to be optimistic about the next one. The violent crime rate is a quarter the level it was in the early 1990s. Over the past three decades, life expectancy in rich countries around the world has climbed by six years. U.S. teens are less likely than the previous generation to get pregnant, drunk, or high—and they’re going to end up the most educated American generation ever. More and more countries worldwide are democracies—which very rarely go to war with each other, suggesting the possibility of sustained peace. That’s one reason the number of war deaths worldwide, the number of nuclear warheads, and the risk of global thermonuclear war are a fraction of their levels of three decades ago. In short, there’s a lot of good news out there if we care to look for it.

A richer developing world is one more reason for optimism. Low- and middle-income countries weathered the global financial crisis well: Gross domestic product per person climbed at an average rate of 4 percent a year from 2008 to 2013. And wealthier developing countries are good for the West. They help build the global innovation base that leads to cheaper renewable power, medical breakthroughs, and better communications technologies. More rapid growth in the rest of the world is also a force for more rapid growth in the wealthier nations. Ayhan Kose and his colleagues at the International Monetary Fund, writing in the American Economic Review, looked at global business cycles a few years ago and found that the overall strength of the world economy was a powerful influence on individual nations’ economic performance. Just as financial crises can be contagious across countries, strong economies can be infectious and lift conditions upward. When countries grow faster, they import more goods and invest more abroad. The developing world now accounts for an increasing percentage of global GDP (and more than three-fifths of U.S. exports). If they continue to grow quickly, low- and middle-income countries will help prop up economies in the rich world.

The faster growth in the developing world over the past few years explains why people there are comparatively optimistic, according to Pew’s polling. In China, 86 percent thought children would be better off than their parents; in India and Nigeria, it was more than 60 percent. Across 25 emerging markets, only 25 percent were pessimistic about the financial prospects of their kids.

Of course, banking instability, political turmoil, corruption, suffocating pollution, and other crises could slow growth in China, India, and the rest of the developing world. Just as Western pessimism is excessive, perhaps the developing world is too optimistic. However, research suggests overoptimism is a considerably better characteristic to possess than the opposite.

long jump icon

JAKARTA okezone- Menatap tahun 2016 yang tinggal menghitung hari, pelaku pasar modalmempunyai keyakinan besar bila tahun depan akan membawa perubahan dan arah yang positif terhadap industri pasar modal. Bahkan perusahaan reksadana Credit Suisse menyatakan laba per saham pada tahun depan akan pulih seiring dengan membaiknya perekonomian Indonesia sebagai efek dari paket kebijakan pemerintah.

”Peluang investasi pada tahun 2016 akan lebih baik sebagai efek dari diluncurkannya paket-paket kebijakan ekonomi pemerintah beberapa waktu ke belakang,” kata Kepala Riset Credit Suisse Jahanzeb Naseer di Jakarta.

Jahanzeb menilai, pada tahun depan bisa menjadi tahun pertama naiknya laba per saham dengan estimasi laba per saham bisa tumbuh di atas 10 persen atau lebih tinggi daripada 2015 yang berkisar di bawah 10 persen.

“Estimasi laba per saham sudah dipotong tiap tahun sejak 2011, kita telah melihat tanda-tanda perbaikan konsumsi dan belanja modal pada tahun 2016. Walaupun pelan, akan terfokuskan pada belanja pemerintah dan belanja sosial,” ujar dia.

Dalam 4 tahun terakhir, lanjut dia, pemangkasan laba secara drastis menyimpulkan hampir tidak adanya pertumbuhan laba per saham, yang dikatakan olehnya juga terjadi di seluruh Asia, khususnya Indonesia.

“Pendapatan mengalami peningkatan adalah pada tahun 2011, pasar saham sulit untuk memberikan kinerja yang stabil ketika pendapatan sedang direvisi turun,” katanya.

Pada masa pemulihan ekonomi yang perlahan seperti itu, menurut dia, pendapatan bisa tumbuh setidaknya 1520 persen.”Pada tiga periode terakhir, kita dapat melihat potensi pendapatan segera setelah tanda-tanda pemulihan yang makin jelas sehingga akan mendorong kinerja pasar modal,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Riset PT Koneksi Kapital, Marolop Alfred Nainggolan, kinerja pasar saham di Bursa Efek Indoensia hingga akhir tahun 2016 diperkirakan akan bertumbuh 15–18 persen atau ke level 5.400 – 5.500. Dengan catatan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 4.700 pada akhir tahun 2015.”Proyeksi ini mengasumsikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2-5,4 persen dan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) berada di level 7 persen dan juga posisi inflasi yang stabil,” ujarnya.

Katalis positif yang akan mendorong pertumbuhan pasar domestik tersebut juga berasal dari skala global, terkait dengan kebijakan kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) beberapa hari lalu sebesar 25 poin (0,25-0,5 persen). “Kebijakan ini tidak akan banyak mendorong capital outflow di pasar keuangan Indonesia sebab selisih BI Rate dan Fed Funds Rate masih sangat besar. Justru keputusan tersebut mengurangi ketidakpastian (Spekulasi) selama ini terkait kebijakan suku bunga AS tersebut,” kata Marolop.

Kendati begitu pelaku pasar tetap harus mencermati sejumlah katalis negatif yang bisa menghambat pertumbuhan pasar, terutama pelambatan ekonomi Tiongkok yang diperkirakan berada di bawah level 8 persen. “Namun sebaliknya jika di tahun 2016 Cina mampu tumbuh diatas 8 persen maka akan menjadi sentimen positif tambahan bagi IHSG,” ujarnya.

(rzy)

long jump icon

JAKARTA kontan. BNI sekuritas memandang prospek pasar saham Indonesia tahun 2016 akan lebih baik setelah tahun ini tertekan cukup tajam akibat tekanan eksternal dan juga dari dalam negeri sendiri.

Norico Gaman, Kepala Riset BNI Sekuritas melihat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun depan akan meningkat. Secara moderat, dia memperkirakan indeks di 2016 akan mencapai level 4.950 dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,17% dan laba korporasi tumbuh 14,8%.

“Kami berharap paket-paket kebijakan pemerintah terimplementasi dengan baik sehingga target pertumbuhan ekonomi tersebut dapat tercapai.” kata Norico pada KONTAN baru-baru ini.

Norico memperkirakan tahun depan, Bank Indonesia (BI) juga berpeluang menurunkan BI rate sekitar 50 basis poin (bps) sampai 75 bps ke level 7,0%-6,75% setelah berkurangnya tekanan ekternal dengan adanya kepastian kenaikan suku bunga The Fed.

Dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi tahun depan, maka konsumsi domestik akan meningkat. Peningkatan ini, menurut Norico, akan mendorong pertumbuhan penjualan sektor consumer goods. Oleh karena itu, dia melihat sektor ini akan menjadi salah satu sektor yang akan paling bersinar di tahun depan.

Selain itu, sektor infrastruktur dan industri dasar menurutnya akan prospektif seiring dengan program pemerintah mendorong pembangunan infrastruktur. Tahun depan, keduanya akan banyak memiliki ladang-ladang garapan dari proyek pemerintah.

Ketiga sektor tersebut akan lebih ekpansif tahun depan sehingga kebutuhan dana untuk ekpansi akan semakin meningkat pula. Inilah menurut Norico yang akan jadi peluang bagi sektor perbankan untuk tumbuh. “Sektor perbankan tahun depan akan prospektif,” ungkapnya.

Di sektor perbankan, Norico merekomdasikan saham-saham BBRI, BBNI, BBCA dan BBTN, sedangkan di sektor konsumer dipilihnya saham-saham blue chip yakni UNVR, INDF dan ICBP.

Untuk sektor infrastruktur, dia melihat saham-saham BUMN akan lebih menarik seperti WIKA, WSKT, PTPP dan JSMR. Sementara di sektor Industri dasar, dia merekomendasikan saham emiten yang memiliki fundamental bagus yakni SMGR dan INTP.

long jump icon

Bisnis.com, JAKARTA — Lima sektor diprediksi mengangkat kinerja pasar saham tahun depan, sejalan dengan pemulihan daya beli dan ekspansi belanja infrastruktur pemerintah. Sektor itu meliputi otomotif, konstruksi, telekomunikasi, bahan pokok, dan properti.

Kepala Riset Ekuitas Credit Suisse Jahanzeb Naseer mengatakan masa terburuk sektor otomotif telah berlalu dan potensi pemulihan mulai terlihat.

“Tanda-tanda pemulihan adalah munculnya model-model mobil baru dan peningkatan ekonomi. Volume penjualan juga mulai stabil, sekitar 80.000-90.000 unit per bulan,” katanya, Senin (21/12/2015).

Credit Suisse mengestimasi pertumbuhan 10% di sektor otomotif. Selain peluncuran model baru, pembiayaan ringan dan pemulihan ekonomi juga mendukung peluang pemulihan.

Sementara itu, sektor konstruksi akan tumbuh, terutama bersumber dari belanja infrastruktur pemerintah. Namun, sektor ini menghadapi prospek yang tidak mudah mengingat pendapatan korporasi bersifat backward looking dengan melihat kontrak, sedangkan valuasi bersifat forward looking.

Sektor berikutnya adalah telekomunikasi yang dianggap industri pokok baru. Konsumsi data terbukti lebih kuat dibandingkan dengan industri staple lainnya selama masa yang tidak stabil ini.

“Kami menyukai sektor ini untuk pertama kalinya dalam hampir lima tahun terakhir karena melihat pemulihan harga jual rata-rata seiring dengan diskon data,” tutur Naseer.

Konsolidasi industri dan akhir siklus belanja modal 3G turut meningkatkan cash flow emiten tersebut.

Emiten di sektor industri bahan pokok, seperti mi instan dan rokok, juga dipandang kebal sekalipun perlambatan ekonomi berlanjut. Belanja infrastruktur dan penurunan suku bunga akan menguntungkan emiten ini dibandingkan dengan emiten ritel.

Sementara itu, sektor properti akan diuntungkan oleh tren disinflasi, penurunan BI rate, kebijakan baru loan to value ratio, dan relaksasi persyaratan kredit pemilikan rumah.

long jump icon

Bisnis.com, JAKARTA– Sejumlah emiten baru tahun ini masih mencatatkan peningkatan harga saham meski volatilitas di pasar saham cukup tinggi.

Berdasarkan data dari Bloomberg, sekitar 10 dari 16 emiten baru tahun ini mencatatkan pertumbuhan harga saham sejak mereka listing pertama kali. Sepuluh emiten tersebut adalah PT Bank Yudha Bhakti Tbk. (BBYB) yang harga sahamnya naik hingga 195,65%.

Kemudian, PT Mitra Energi Persada Tbk. (KOPI) dan PT Bukaka Teknik Utama Tbk. (BUKK) yang merupakan emiten relisting mencatatkan pertumbuhan harga saham 78,48% dan 10,16%.

Adapun, Mega Manunggal Property Tbk. (MMLP) harga sahamnya juga naik 35,89%. Begitu juga dengan Merdeka CopperGold Tbk. (MDKA) yang naik tipis 1,5%. Pertumbuhan hingga 100% juga dialami oleh PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk. (MKNT), PT Binakarya Jaya Abdai Tbk. (BIKA) dan PT Garuda Metalindo Tbk. (BOLT) dengan masing-masing pertumbuhan 100%,114%, dan 106,36%.

Selain itu, dua emiten terbaru yang belum lama ini melantai, yakni PT Dua Putra Utama Makmur Tbk. (DPUM) dan PT Ateliers Mecaniques D’Indonesie Tbk. (AMIN) juga mencatat pertumbuhan harga saham masing-masing 45,45% dan 2,34%.

Pada sisi lain, harga saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) juga mengalami pertumbuhan yang cukup pesat dari harga perdananya Rp17.000. Sebelum melakukan stock split 10:1, harga saham MIKA sempat menyentuh Rp28.500. Namun demikian, dibandingkan dengan harga saham per Senin (27/10) lalu yang bertengger di posisi Rp2.805, harga saham MIKA per 21 Desember tercatat mengalami penurunan ke level Rp2.305.

Satrio Utomo, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia mengatakan ada sejumlah kemungkinan yang membuat harga saham emiten baru bisa bergerak naik di tengah tingginya volatilitas pasar saham. Pertama, perusahaan melakukan initial public offering/IPO ketika harga saham under value. Kemudian, minat investor terhadap saham tersebut juga tinggi.

“Hal ini membuat harga sahamnya akan naik,” kata Satrio saat dihubungi Bisnis.com, Senin (21/12/2015).

Selain itu, penjamin emisi kemungkinan besar masih menjaga harga sahamnya. Menurutnya, ketika perusahaan baru IPO, wajar saja penjamin emisi melakukan maintaince harga hingga 3 bulan-6 bulan, meski memang ada yang dilepas langsung.

“Pasar saham itu sudah mulai turun sejak awal kuartal II, kalau yang bisa naik artinya mereka cukup bertahan, minat investor terhadap saham-saham tersebut besar. Biasanya setelah IPO ada yang namanya maintenance of harga saham,” jelasnya.

Kemungkinan tersebut cukup besar mengingat tahun ini hampir semua sektor mengalami penurunan. Sehingga, bagi perusahaan yang harga sahamnya mampu tumbuh, itu sangat bagus. “Menunjukkan minat orang terhadap saham IPO. Tinggal lihat penjamin emisinya, bisa jadi memang penjamin emisinya cukup berkualitas.”

Pada sisi lain, sejumlah perusahaan yakni PT PP Properti Tbk (PPRO), PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS), PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC), PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI), dan PT Victoria Insurance Tbk. (VINS) mencatatkan penurunan harga saham.

“Artinya untuk yang turun itu kemungkinan memang tidak dijaga harganya oleh penjamin emisi,” katanya.

long jump icon

INILAHCOM, Depok – Ekonom Universitas Indonesia (UI) Rizal E Halim memprediksi, perekonomian 2016 masih akan dibayangi perlambatan global. Salah satu penyebabnya adalah penaikan The Fed Rate.

“Selain itu, anjloknya harga minyak dunia, adanya volatilitas harga komoditas, perlambatan ekonomi Tiongkok dan masih tertekannya ekonomi zona Eropa. Semuanya akan berkumpul di 2016,” kata Rizal di Depok, Jawa Barat, Selasa (15/12/2015).

Rizal menjelaskan, pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat sejak 2010 (tumbuh 5,1%), kemudian anjlok berkelanjutan di 2012 menjadi 3,8%, 2012 menjadi 3,1%, 2013 menjadi 3%, kemudian menggeliat naik 3,4% pada 2014 akibat pemulihan negara maju khususnya Amerika Serikat.

Kata Direktur Eksekutif Lingkar Studi Efokus ini, pada 2015, pertumbuhan ekonomi dunia kembali mengalami pelambatan sampai ke level 3%-3,1%. Pelambatan ini akibat dari melebarnya risiko ekonomi global seperti ketidakpastian pemulihan Amerika dan Zona Eropa, melambatnya ekonomi Tiongkok yang menyebabkan sebagian pasar negara berkembang juga menunjukkan pelemahan.

Selain itu, lanjut Rizal, pada 2015 juga dihadapkan pada risiko geopolitik seperti krisis Timur Tengah, konflik Laut Cina Selatan, ketegangan di sejumlah perbatasan negara-negara termasuk kasus penembakan pesawat Rusia oleh tentara Turki di perbatasan Turki-Syria.

Sedangkan perekonomian global 2016, menurut Rizal, akan banyak dipengaruhi oleh rencana kenaikan The Fed rate, perkembangan geopolitik di sejumlah kawasan, volatilitas harga minyak mentah dunia, dan harapan pemulihan ekonomi Tiongkok dan Eropa.

Rizal mengatakan, hal yang sama juga akan terjadi pada ekonomi di dalam negeri. Diprediksikan bahwa perekonomian Indonesia pada 2016 relatif stagnan dengan pertumbuhan 4,6-4,8%.

“Perlambatan ekonomi nasional sepanjang 2015 merupakan respon atas dinamika global, tekanan permintaan barang dan jasa dunia, tekanan nilai tukar, dan terus melemahnya daya beli masyarakat,” kata Rizal. [tar]

– See more at: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2260264/pengamat-ekonomi-di-2016-belum-membaik#sthash.Vnsbn7ye.dpuf

long jump icon

JAKARTA ID-Perekonomian Indonesia pada 2016 diprediksi masih relatif stagnan dengan pertumbuhan ekonomi nasional dikisaran 4,6 persen sampai 4,8 persen.

“Perlambatan ekonomi nasional sepanjang 2015 merupakan respon atas dinamika global, tekanan permintaan barang dan jasa dunia, tekanan nilai tukar, dan terus melemahnya daya beli masyarakat,” kataDirektur Eksekutif Lingkar Studi Efokus, Rizal E. Halim di Depok, Selasa.

Ia mengatakan pada 2015, ekonomi nasional diperkirakan hanya mampu tumbuh 4,7 persen sampai 4,8 persen (yoy) atau melanjutkan perlambatan yang telah terjadi sejak 2012. Pada 2011 pertumbuhan 6,17 persen, tahun 2012 (6,03persen); 2013 (5,58persen); 2014 (5,02persen).

Menurut dia perlambatan Tiongkok dan India memberi efek yang besar bagi ekonomi Indonesia mengingat kedua negara ini adalah negara mitra dagang terbesar Indonesia bersama dengan Jepang dan Singapura (keempat negara ini menguasai 70 persen pangsa perdagangan Indonesia).

“Kondisi perlambatan global dan kawasan juga akan menekan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2015. Bersamaan dengan itu, tahun 2015 banyak diwarnai oleh kekisruhan kabinet kerja khususnya di bidang ekonomi,” katanya Rizal yang juga dosen ekonomi Universitas Indonesia.

Dikatakannya sepanjang 2015, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah mencapai Rp13.900 per dolar AS atau terdepresiasi sekitar 8 persen periode Januari-November 2015.

Selanjutnya kinerja penerimaan pajak pada tahun 2015 diperkirakan hanya mampu mencapai Rp950 triliun atau 73 persen dari target dalam APBNP 2015 yang mencapai Rp1.294 triliun.

Ia menjelaskan rendahnya penerimaan pajak diperkirakan akan mendorong pelebaran defisit fiskal di akhir 2015. Hal ini tentunya sangat kontras dengan potensi pajak yang masih sangat besar di Indonesia.

“Strategi intensifikasi dan ekstensifikasi masih perlu ditingkatkan. Misalnya jumlah badan usaha yang terdaftar sebagai wajib pajak masih sekitar 18-23 persen dari total badan usaha terdaftar di sejumlah kementerian,” katanya.

Sebaliknya kinerja neraca perdagangan sedikit menggembirakan dengan capaian surplus 8,2 milliar dolar AS sepanjang Januari-Oktober 2015. Surplus neraca perdagangan ini mempersempit defisit neraca transaksi berjalan yang pada Q3-2015 mencapai 4,0 miliar dolar AS atau 1,86 persen dari PDB.

Untuk nilai tukar rupiah tahun 2016 berpotensi kembali melemah akibat risiko kenaikan The Fed rate yang berimbas pada potensi capital outflow. Nilai tukar rupiah terhadap USD tahun 2016 diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp14.200 sampai Rp14.500 per dolar AS.

Sedangkan indeks harga saham gabungan pada tahun 2016 akan bergerak di kisaran 4.500 (batas bawah) hingga 4.800 (batas atas) dan inflasi 2016 akan bergerak di kisaran 5,5persen (+ 1persen).(ant/hrb)

kontan: Kita mulai memasuki hari-hati terakhir di tahun 2015. Bagi pelaku pasar yang punya “posisi” di pasar modal, pertanyaan standar mereka: bagaimana outlooktahun depan? Bagaimanakah prediksi pergerakan IHSG tahun 2016?

Saya mencoba menjawab pertanyaan dengan pahit terlebih dahulu. Jika analis teknikal ingin memaksakan pendapat bearish, dia bisa menggunakan chartseperti di samping.

Menurut chart tersebut, berdasarkan pergerakan jangka panjang, IHSG sudah melewati beberapa fase. Yakni wave 1-wave 2, periode 1980-an-1997 adalah periode kelahiran. Presiden Soeharto memperkenalkan pasar modal. Perhitungan IHSG dimulai l tahun 1984 pada level 100, bergerak turun hingga titik terendah tahun 1986 di level 61,58. Setelah pemerintah melakukan berbagai paket kebijakan tahun 1987-1988, IHSG terus melejit, naik hingga 1.007,4% dan mencapai titik tertinggi di 681,94. Fase ini diakhiri dengan memburuknya ekonomi, diikuti kejatuhan Soeharto.

Fase berikut menggambarkan kondisi pasar modal pasca reformasi, diperlihatkan pada wave 3 dan wave 4. IHSG naik lebih dari 10 kali lipat (tepatnya 1.019,6%), dari titik terendah di 253,51 hingga tertinggi pada level 2.838,48, sebelum krisis subprime mortgage 2008 memangkas IHSG kembali ke 1.089,34. Setelah itu, kebijakan ekonomi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan subsidi BBM secara masif, mendorong IHSG menembus level 5.000. IHSG sempat mencapai level tertinggi di 5.524,04.

Sepertinya bagus, masuk akal dan sesuai teori. Tapi dari chart tersebut, kita bisa melihat, siklus jangka panjang tren bullish IHSG berakhir. Masa keemasan Indonesia selama 35 tahun terakhir, bakal diikuti masa kehancuran.

Dalam teori, jika sebuah impulse wave (wave 1 hingga wave 5 seperti di chart) berakhir, IHSG memiliki potensi koreksi hingga wave 4, di 1.089 2.838. Artinya ke depan, IHSG bakal terus bergerak turun dengan probabilitas cukup besar mengulang bottom di 1.089.

Sebentar. Tidakkah Anda merasa ada aneh dengan tulisan di atas? IHSG pada Jumat (4/12) masih di atas level 4.508,45. Tulisan di atas, memprediksi, IHSG terpotong hingga hanya tersisa seperempat di 1.089. Langkah rasional investor adalah beres-beres koper, jual semua aset di Indonesia, lalu pindah ke luar negeri.

Sekilas teorinya terlihat betul. Elliott Wave Theory, pemahaman koreksi hingga bottom dari wave 4 memiliki probabilitas yang tidak bisa dibilang kecil. Tapi,Elliott Wave Theory bukan harga mati. Apakah prediksi dengan teori yang benar tersebut masuk akal? Benar atau salah prediksi adalah milik masa depan.

Saya ingin memandang dari sudut pandang, jika IHSG ke level 1.089:

Apakah mengalihkan subsidi BBM ke pos pengeluaran lain yang lebih produktif itu salah?

Apakah pembangunan infrastruktur secara masif salah?

Apakah mempermudah perizinan salah?

Apakah yang dilakukan Pemerintahan Jokowi setahun ini semuanya salah?

Apakah efisiensi dengan Paket Kebijakan semuanya juga salah?

Reaksi pasar setelah kenaikan suku bunga The Fed sulit diprediksi. Apalagi Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo ketakutan terhadap langkah The Fed, sehingga tidak berani mengubah BI rate sejak awal tahun. Kalau IHSG tersungkur sebagai reaksi pasar atas keputusan The Fed, bisa saja. Ini menurut orang-orang yang masih ketakutan terhadap langkah The Fed.

Tapi, sejak akhir September 2015, Dow Jones Industrial tidak terlihat takut terhadap suku bunga Fed. Hanya, ketika quantitative easing Bank Sentral Eropa lebih kecil dari perkiraan, pasar terlihat ketakutan. Tapi Dow Jones Jumat malam lalu naik Kita sendiri masih ada dagelan konyol episode papa minta saham.

Jadi, outlook 2016 bagaimana? Saya saat ini menggunakan chart IHSG lain dengan potensi kenaikan 5.400-5.500. Kalaupun ada koreksi, 3.800-4.200 diperkirakan menjadi support kuat tahun depan.

Tapi, saya juga tidak mau mengumbar prediksi bullish, IHSG ke 6.000 tahun depan. Meski di atas 5.400-5.500 resisten selanjutnya di 6.500-6.800. Tapi, pemerintah belum memiliki track record bagus melakukan pertumbuhan ekonomi sesuai dengan harapan. Itu sebabnya, mau terlalu bullish untuk tahun depan, susah juga. Paling tidak, kita harus melihat angka pertumbuhan ekonomi hingga kuartal I-2016. Jika di atas 5,4% lagi, kita bisa melihat peluang apakah IHSG bisa ke 6.000.

So, mari kita nikmati pergerakan harga saham Desember ini. Satu hal menarik dari Desember adalah, terakhir kali IHSG terkoreksi di Desember 2000, sudah 15 tahun. Akankah tahun ini yang pertama? Semoga saja tidak.

 long jump icon

INILAHCOM, Jakarta – Tahun 2016 yang bershio monyet, Ekonom Indef (Institute for Development of Economic and Finance) Enny Sri Hartati punya prediksi ekonomi. Begini isinya.

Kata Enny, pertumbuhan ekonomi Indonesia tak akan lebih dari angka 5%. Artinya, secara secara outlook, pertumbuhan ekonomi tahun kedua pemerintahan Jokowi-JK masih di bawah ekspektasi publik.

Selain itu, Enny memproyeksikan, rata-rata nilai tukar rupiah 2016 berada di level Rp 14 ribu per US$. Namun, pandangan ini bisa meleset apabila pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) berupaya maksimal dalam memperbaiki defisit transaksi berjalan.

“Defisit transaksi berjalan diperkirakan berada pada 1,8 persen PDB (Produk Domestik Bruto). Dengan catatan, pemerintah dapat optimalkan paket kebijakan khusunya untuk mendorong ekspor dan bahan baku domestik substitusi impor,” kata Enny di Jakarta, Kamis (26/11/2015).

Seiring dengan depresiasi nilai tukar rupiah, Enny melanjutkan, inflasi diperkirakan akan berada pada tingkat 5%. “Kebijakan pemerintah di bidang harga seperti listrik maupun jalan tol juga defisit produksi pangan akan memicu harga makanan dan makanan jadi,” kata Enny.

Untuk kesejahteraan, lanjut Enny, jumlah pengangguran diperkiran berada di angka 6,1 persen, dan kemiskinan mencapai 11,1 % dari total penduduk.

“Angka tersebut didapat dari efektivitas kebijakan pemerintah terkait sektor-sektor padat karya yang masih rendah, juga perkembangan nilai tukar petani yang tidak mampu mengimbangi laju inflasi (khususnya harga beras). Sehingga dapat meningkatkan angka kemiskinan,” papar Enny. [ipe]

– See more at: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2255420/prediksi-ekonomi-jokowi-di-tahun-monyet#sthash.lalIXksI.dpuf

doraemon

JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menetapkan rata-rata nilai transaksi saham harian di 2016 sebesar Rp7 triliun. Namun target tersebut dinilai tidak realistis.

Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang, mengatakan memang perekonomian Indonesia di tahun depan akan membaik yang akan berdampak pada transaksi perdagangan saham. Namun menurut perhitungannya, nilai transaksi harian di tahun depan tidak akan tembus di level Rp7 triliun.

“Menurut saya tahun depan bisa Rp6,5 sampai Rp6,7 triliun, itu sudah maksimal. Bukannya kita pesimis, tapi menurut saya realistisnya ya segitu,” tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Senin (30/11/2015).

Menurutnya, dari perkiraan nilai transaksi harian tersebut, saham sektor perbankan yang akan menjadi pendorong utama. Pasalnya tahun depan pertumbuhan penyaluran kredit di industri perbankan akan ditingkatkan.

“Karena menurut BI tahun depan kredit perbankan bisa tumbuh 12-14 persen. Malah kalau menurut saya bisa tumbuh 13-15 persen. Jadi yang menikmati duluan perbankan, kedua konstruksi, ketiga infrastruktur, keempat konsumer dan konsumer relatif, seperti makanan minuman dan retail,” pungkasnya.

(mrt)

butterfly

JAKARTA ID– Ekonomi Indonesia tahun 2016 akan ekspansif, didukung 10 faktor yang membangkitkan optimisme dari dalam dan luar negeri. Faktor dari luar negeri adalah kepastian penaikan Fed funds rate, Eropa dan Jepang cenderung mempertahankan pelonggaran moneter, serta stimulus moneter dan fiskal RRT membuahkan hasil.

Dari dalam negeri, inflasi cenderung rendah, neraca transaksi berjalan membaik, APBN lebih sehat, belanja pemerintah terutama belanja infrastruktur lebih cepat, dan stimulus paket ekonomi yang diluncurkan pemerintah membuahkan hasil.

Selain itu, stimulus moneter BI dan stimulus keuangan OJK memungkinkan ekspansi kredit meski tidak ada penurunan BI rate. OJK juga mempermudah dan mempermurah penerbitan obligasi.

Sedangkan yang masih menjadi ancaman (threat) tahun depan adalah ketidakstabilan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta suku bunga acuan (BI rate). Namun demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2016 diperkirakan bisa naik menjadi 5,1-5,4%, dari tahun ini sekitar 4,7%. Sedangkan pertumbuhan kredit perbankan tahun depan diperkirakan berkisar 12-13%.

Demikian rangkuman pendapat Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara, Deputi Pengendalian Investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Azhar Lubis, ekonom dan Rektor Universitas Paramadina Firmanzah, pengamat pasar modal dan Dekan IPMI International Business School Roy Sembel, serta Direktur Investasi PT Aberdeen Asset Management Bharat Joshi. Mereka menjadi pembicara dalam seminar Outlook Ekonomi dan Pasar Modal 2016 yang diselenggarakan PT Aberdeen Asset Management di Jakarta, Kamis (19/11).

Bertindak sebagai moderator Pemimpin Redaksi Investor Daily, Majalah Investor, Suara Pembaruan, dan Beritasatu.com Primus Dorimulu. Acara ini juga dihadiri antara lain Direktur Utama PT Aberdeen Asset Management Sigit Wiryadi. (bersambung)

Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/macroeconomics/imf-proyeksikan-ekonomi-ri-2016-tumbuh-51/133069