valentineEVERYsmall

Badai krisis moneter (krismon) yang melanda Indonesia pada 1997-1998 juga mengempaskan bisnis kopi kemasan milik Sarman Simanjorang. Semua aset, mulai pabrik, mobil boks, hingga sarana dan prasarana produksi lainnya terpaksa dijual.

 

Bahkan, 40 karyawan terpaksa diberhentikan. Namun pria kelahiran Sumbul, Sumatera Utara, pada 14 Juni 1965, itu pantang kembali ke kampong halamannya. Sarman memilih bertahan di Jakarta, kembali memulai usaha dari titik nol.

 

Untuk bangkit dari keterpurukan tidaklah mudah. Selain harus memiliki mental pantang menyerah, kemampuan membaca peluang bisnis di tengah kolapsnya perekonomian sangatlah dibutuhkan. Hal inilah yang dimiliki Sarman Simanjorang sehingga ia bisa kembali berbisnis usai krisis.

 

“Usai krisis tak banyak peluang bisnis yang tersedia. Peluang bisnis di sektor swasta nyaris tidak ada, yang ada adalah proyek-proyek pemerintah. Di sinilah peluangnya. Sejak itu, saya masuk bisnis kontruksi, ikut menggarap proyek-proyek pemerintah,” ungkap Presiden Direktur PT Welhesa Abadi Perkasa itu kepada wartawati Investor Daily Tri Listiyarini di Jakarta, baru-baru ini.

 

Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta itu ternyata tidak pernah bermimpi menjadi pengusaha. Awalnya, Sarman hanya ingin menjadi PNS atau setidaknya pegawai kantoran berdasi nan necis.

 

Bagaimana awal mula Sarman Simanjorang menjadi pengusaha? Mengapa ia lolos dari badai krismon? Benarkah pengusaha tahan banting adalah pengusaha yang berani melangkah saat berada di titik terendah? Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.

 

Bagaimana awal mula Anda menjadi pengusaha?

Saya tidak pernah bermimpi menjadi pengusaha. Tamat SMP di Sumatera Utara pada 1981, saya merantau ke Jakarta. Modal saya hanya dua. Pertama, doa ibu saya. Kedua, nasihat ibu saya. Ibu saya bilang, kalau kamu merantau maka kamu harus lebih baik dari saya. Di Jakarta, saya melanjutkan SMA dan ikut kakak yang sudah menikah.

 

Meski saya laki-laki, saya harus tahu diri dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Saat SMA, saya sudah aktif berorganisasi. Setelah lulus, saya juga banyak mengikuti berbagai kursus. Harapannya, lulus SMA saya bisa langsung kerja, kuliah sambil bekerja saja.

 

Kenyataannya, mencari pekerjaan tidaklah mudah. Saya melamar sebagai PNS di berbagai departemen dan Pemda DKI, tapi gagal. Begitu pun di perusahaan swasta. Saya pernah melamar ke sebuah bank, ikut seleksi hingga delapan tahap, bahkan sudah diwawancarai direksi, tapi ternyata tidak diterima. Sejak itulah saya bertekad tidak akan lagi mencari pekerjaan, tapi menciptakan pekerjaan. Saya ingin menjadi

pengusaha.

 

Bisnis yang pertama kali Anda jalankan?

Saya tidak langsung menjadi pengusaha. Saya memang punya tekad, tapi modalnya dari mana? Tekad yang kuat membuat saya mencari modal sendiri dengan menjadi salesman, mulai asuransi, mobil, hingga advertising, pernah juga menjadi surveyor. Jadi salesman tidak dapat gaji, hanya komisi. Komisi inilah yang saya tabung dan dijadikan modal usaha. Pada 1991-1992, saya mendirikan PT Welhesa Abadi Perkasa.

 

Bisnis pertama yang saja jalankan adalah media publikasi dan event organizer (EO). Pengalaman saya di advertising menjadi bekal utama. Saat itu, media promosi bagi pengusaha atau perusahaan masih sangat terbatas, televisi baru ada satu, radio masih terbatas, begitupun koran. Apalagi di Jakarta, saya melihat potensinya sangat besar. Saya buat baliho, spanduk, umbul-umbul, billboard, hingga balon udara. Klien kami hingga skala nasional.

 

Bisnis Anda pernah terpuruk?

Selama tujuh tahun, bisnis saya berjalan sangat bagus. Pada 1997, saya mencoba melakukan ekspansi dengan mendirikan pabrik kopi cap Rajawali. Tujuan saya saat itu adalah memperkenalkan kopi dari kampung saya yang memang sudah terkenal, yakni kopi Sidikalang. Saya ingin memperkenalkannya ke tingkat nasional.

 

Kami buat pabrik di Pulogadung (Jakarta Timur), membuat kopi sendiri, targetnya masyarakat kelas bawah. Kami promosikan juga dengan mengontrak bintang iklan. Tapi krismon menghantam semua perusahaan, kecil menengah- besar, termasuk bisnis kopi saya.

 

Puncaknya terjadi pada 1998. Kopi cap Rajawali waktu itu bukan tidak laku. Semua kopi habis, namun uang dari agen tidak kembali. Kami punya pelanggan 1.000 warung tegal (warteg). Waktu saya cek ke lapangan, ternyata hampir semua warteg tutup diam-diam. Bagaimana tidak tutup, para pekerja bangunan yang umumnya pelanggan warteg tidak lagi memiliki pekerjaan karena proyeknya terhenti, mereka pulang kampung. Padahal, biasanya mereka membayar kopi di warteg setelah gajian. Kalau begini siapa yang mau dituntut?

 

Saya waktu itu menghadapi dilema, kalau diteruskan begitu banyak pengeluaran, padahal pemasukan kritis. Dengan berat hati, akhirnya semua aset saya jual, mulai pabrik, mobil operasional, mobil boks, hingga aset lainnya untuk menutup pengeluaran. Karyawan juga saya rumahkan.

 

Bagaimana Anda bisa bangkit lagi?

Saya sadar bahwa pasang surut itu bagian dari hidup. Tidak semua berjalan mulus. Kegagalan adalah bagian dari gelombang hidup, kadang untung kadang rugi. Artinya, kita harus siap menghadapi segala sesuatu di depan kita. Tuhan member cobaan, pasti ada sesuatu yang perlu kita koreksi. Kalau bisnis saya mulus terus, mungkin muncul kesombongan dalam diri saya. Karena itu, ketika tiba-tiba ada krismon dan bisnis kopi saya kolaps, saya terima dan anggap itu sebagai bagian dari kehidupan, ambil hikmahnya.

 

Saya juga sadar bahwa kejadian itu bukan hanya menimpa saya. Dari situ muncul kekuatan mental dalam diri saya untuk bangkit kembali membangun usaha. Dalam kekuatan itu tersimpan semangat untuk tidak patah hati, tidak memandang bahwa itu semua sudah selesai, meskipun semua aset dalam waktu singat terkuras habis.

 

Memang tidak mudah, apalagi waktu krismon potensi bisnis sangat terbatas. Tapi saya yakin dan meyakinkan keluarga bahwa saya bisa bangkit lagi. Waktu itu yang tersedia hanyalah peluang proyek pembangunan dari pemerintah, semua proyek milik swasta tumbang. Karena itu, satusatunya jalan untuk bangkit lagi adalah masuk bisnis kontruksi, ikut mengerjakan proyek-proyek pemerintah. Dari situlah saya mulai bangkit lagi hingga sekarang.

 

Intinya, saat berada di titik terendah, kita harus berani melangkah, berani berbuat, berani memulai kembali. Saya beruntung menjadi pengusaha yang tumbuh secara alami, sehingga ketika bisnis bangkrut karena krismon saya cepat-cepat ambil keputusan mau bisnis apa lagi. Berhubung waktu itu yang jalan hanya proyek pemerintah, saya belajar untuk bagaimana menjadi rekanan pemerintah, terutama Pemda DKI, seperti dalam pengadaan barang dan jasa serta pembangunan infrastruktur.

 

Mulai 1999, saya berbisnis di bidang konstruksi serta pengadaan barang dan jasa, menjadi rekanan Pemda DKI. Sampai sekarang masih jalan, seperti rehabilitasi gedung, membangun drainase, jalan raya, pengadaan alat-alat olahraga, dan pengadaan mebel. Karena saya merupakan pengusaha alami, inovasi itu selalu ada, tidak ada patah semangat. Kalau tidak punya jiwa bisnis, saya mungkin sudah pulang kampung. Saya melihat potensi bisnis di kota besar sangat terbuka, tinggal kecerdikan dan kecakapan kita menangkap mana yang pas.

 

Apa sebetulnya kunci sukses Anda?

valentineEVERYsmall

Pertama, punya niat dan tekad. Modal itu nomor sekian. Saya memulai usaha dari nol, tak punya modal. Inilah yang membuat saya menjadi pengusaha yang alami. Ada teman saya memulai usaha dengan modal dari orang tuanya, tapi baru enam bulan tutup.

 

Kedua, mau bekerja keras dan jangan merasa gengsi. Kesampingkan gengsi, misalnya malu jadi salesman, padahal dari sales bisa dapat komisi untuk ditabung menjadi modal. Kalau seseorang lulus di bagian sales asuransi, ke manapun dia pergi tidak akan pernah kelaparan karena sales asuransi hanya bermodal kertas.

 

Ketiga, semangat dan jangan pernah cepat menyerah. Apabila ada salah diperbaiki, kalau gagal coba lagi. Kalau menyerah berarti semua akan selesai. Keempat, perbanyak jaringan dengan berorganisasi. Saya ikut organisasi yang mampu menciptakan jaringan dan mengasah kepemimpinan. Kepemimpinan akan tumbuh secara alami dalam sebuah organisasi karena kita akan berbaur dengan banyak orang, banyak beda pendapat, beradu argumentasi, belajar menghargai orang lain, dan mengendalikan emosi.

 

Strategi Anda untuk memajukan perusahaan?

Pertama, harus mampu dan pintar membaca peluang. Sebagai perusahaan jasa, kami tidak harus fokus di bidang tertentu. Jika ada peluang bisnis lain yang bisa dikerjakan, kenapa kita tidak ambil saja. Kedua, kita harus mampu memperbanyak jaringan (network). Saya melakukannya dengan aktif di berbagai organisasi, di organisasi biasanya banyak informasi yang dibutuhkan dan bisa kita tangkap menjadi peluang.

 

Pencapaian paling monumental yang sudah Anda raih?

big-dancing-banana-smiley-emoticon

Ketika saya mampu mempekerjakan orang, memberikan nafkah bagi orang lain melalui pekerjaan yang saya sediakan, itu sebuah kepuasan. Ketika saya mampu menciptakan kekompakan, karyawan berlibur bersama, itu juga kepuasan bagi saya. Merintis usaha dari nol, dari tidak ada menjadi ada, itu kepuasan dan pencapaian monumental saya.

 

Gaya kepemimpinan Anda?

Pertama, di manapun saya berada, baik di perusahaan maupun di organisasi dengan jabatanjabatan tertentu, saya menerapkan pola kerja sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi).

 

Kedua, saya selalu memandang sesuatu secara positive thinking. Jangan cepat memandang sesuatu dari sisi negatif, arahkan pola berpikir untuk selalu melihat sesuatu dari sisi positifnya.

 

Ketiga, dalam sebuah manajemen atau organisasi, tujuannya hanya satu, yaitu mewujudkan visi misi yang sama. Karena itu, harus ada kekompakan dan kebersamaan untuk mencapainya. Untuk menjaga kekompakan di perusahaan, misalnya, saya buat acara liburan bersama atau olahraga bersama di waktu tertentu. Ini penting juga untuk menjaga komunikasi.

 

Filosofi hidup Anda?

rose KECIL

Hidup ini biarkan mengalir seperti air. Artinya kita bekerja keras, lakukan yang terbaik sesuai kemampuan, biarlah Tuhan yang menentukan nasib kita. Jangan menjadi seorang yang ambisius. Manusia memang harus punya ambisi, tapi jangan ambisius. Sebab, kalau sudah ambisius, kadang-kadang kita sebagai manusia akan menghalalkan segala cara. Saya sangat yakin hidup ini adalah rahasia Tuhan. Saya yakin Tuhan memiliki rencana terhadap kehidupan kita, cuma kita tidak tahu.

 

Obsesi atau mimpi yang belum Anda capai?

Mimpi dan obsesi saya hanya satu, yaitu anak-anak saya ke depan bisa berhasil lebih baik dari saya. Apa yang sudah saya capai saat ini mungkin belum sesuai yang saya inginkan. Saya akui semua pasti ada batasnya.

 

Peran keluarga dalam karier Anda?

Saya harus bersyukur memiliki istri yang mau mengalah, dalam arti tidak ngotot bekerja. Istri saya tadinya seorang guru, namun kemudian memilih mengurus keluarga. Istri saya sangat pengertian. Saya yakin apa yang saya raih saat ini tidak lepas dari doa istri yang selalu mendampingi. Dia sangat mengerti aktivitas saya dalam berwirausaha maupun berorganisasi

 

Sepulang bekerja saya masih aktif di organisasi, baru pulang pukul 11 malam. Tapi saya juga harus punya pengertian, saya usahakan Sabtu-Minggu benarbenar untuk keluarga. Jadi, dukungan keluarga begitu luar biasa bagi saya. Maka tidak salah kalau ada pernyataan bahwa kesuksesan suami tidak lepas dari dukungan perempuan di sampingnya. (*)

 

Baca juga http://id.beritasatu.com/home/memancing-untuk-menguji-kesabaran/155310

 ets-small

TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA – Perasaan bahagia tak dapat disembunyikan dari wajah Bardi Syafii (53), warga Cokrokusuman, JT II, Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta.

Setelah bertahun-tahun menabung, akhirnya bapak dua anak yang sehari-hari bekerja sebagai seorang tukang parkir di jalan Mangkubumi Kota Yogyakarta ini akan berangkat naik hajibersama istrinya Rumiyati (49) pada 17 Agustus 2016.

Bardi bercerita, dia memiliki cita-cita untuk naik haji sekitar tahun 1985. Sejak niat itu tercetus, dia lantas mulai menabung untuk biaya naik haji bersama istrinya.

“Saya menabung sejak tahun 1985. Saat itu saya buka lapak jualan koran dan rokok,” ucap Bardi di sela jaga parkir di Kawasan Jalan Mangkubumi, Selasa (2/8/2016).

Uang yang ditabungnya saat itu pun tidak besar. Dalam sehari, Bardi hanya bisa menyisihkan penghasilanya Rp 500 sampai Rp 1.000.

Demi menyisihkan uang untuk naik haji, Bardi pun rela membuka lapaknya dari pagi sampai malam hari. Sebab selain mencari uang untuk menabung naik haji, dia juga harus mencari nafkah bagi keluarga sekaligus membiayai sekolah kedua anaknya.

“Yang saya tabung itu di luar uang biaya sekolah anak. Anak-anak harus tetap sekolah, demi masa depan mereka,” tegasnya.

 rose KECIL

JAKARTA, KOMPAS.com –  Lulusan perguruan tinggi Indonesia sedang mengalami dilema, sebab gelar ijazah pendidikan tinggi yang mereka raih tak lagi jadi jaminan mudah untuk mendapat pekerjaan. Kesulitan mereka terserap dunia kerja semakin bertambah berat, karena mulai 1 Januari tahun ini mereka juga bersaing dengan tenaga kerja asing dari negara-negara ASEAN sebagai dampak berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)

Sulitnya lulusan universitas lokal memperoleh pekerjaan sudah terlihat dari angka pengangguran terdidik Indonesia yang meningkat setiap tahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2014, di Indonesia ada 9,5 persen (688.660 orang) dari total penganggur yang merupakan alumni perguruan tinggi.

Mereka memiliki ijazah diploma tiga atau ijazah strata satu (S-1) . Dari jumlah itu, penganggur paling tinggi merupakan lulusan universitas bergelar S-1 sebanyak 495.143 orang.

Angka pengangguran terdidik pada 2014 itu meningkat dibandingkan penganggur lulusan perguruan tinggi pada 2013 yang hanya 8,36 persen (619.288 orang) dan pada 2012 sebesar 8,79 persen (645.866 orang).

“Tingkat pengangguran terbuka Indonesia berdasarkan pendidikan yang ditamatkan cukup membahayakan,” kata mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Djalal, pada Kompas,(27/4/2015).

Menurut Fasli, Indonesia perlu mendesain ulang konsep pendidikan tinggi agar lulusannya mudah diserap industri.

“Apa masih perlu mendidik anak selama empat tahun di perguruan tinggi atau cukup memberikan pelatihan bersertifikat internasional enam bulan agar mereka bisa langsung bekerja di sejumlah negara,” ujarnya.

Banyaknya lulusan perguruan tinggi menganggur karena adanya ketimpangan antara profil lulusan universitas dengan kualifikasi tenaga kerja siap pakai yang dibutuhkan perusahaan. Berdasarkan hasil studi Willis Towers Watson tentang Talent Management and Rewards sejak tahun 2014 mengungkap, delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai.

Masih menurut hasil studi itu, semestinya perusahaan tidak sulit mencari tenaga kerja, sebab angka pertumbuhan lulusan perguruan tinggi di Indonesia setiap tahun selalu bertambah. Sementara itu, angka permintaan perusahaan terhadap tenaga kerja selalu lebih rendah dari pada jumlah lulusannya.

“Setelah India dan Brasil, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan pertumbuhan lulusan universitas lebih dari 4 persen dan rata-rata surplus 1.5 persen per tahun. Tapi, perusahaan tetap kesulitan mendapatkan karyawan yang berpotensi tinggi,” ujar Consultant Director, Willis Tower Watson Indonesia, Lilis Halim pada diskusi A Taste Of L’oreal, Rabu (20/4/2016).

Susah terserapnya lulusan perguruan tinggi Indonesia karena tidak memiliki skill yang dibutuhkan perusahaan dan tidak punya critical skill.

Skill adalah langkah utama memasuki dunia kerja, setelah itu harus punya critical skill jika ingin berkembang dan masuk jajaran manajemen perusahaan,” kata Lilis.

Berdasarkan studi itu, Lilis mengatakan bahwa di era digital saat ini lulusan perguruan tinggi harus punya digital skills, yaitu tahu dan menguasai dunia digital. Agile thinking ability – mampu berpikir banyak skenario- serta interpersonal and communication skills – keahlian berkomunikasi sehingga berani adu pendapat.

Terakhir, menurut dia, para lulusan juga harus punya global skills.Skil tersebut meliputi kemampuan bahasa asing, bisa padu dan menyatu dengan orang asing yang berbeda budaya, dan punya sensitivitas terhadap nilai budaya.

Harus bersinergi

Pakar pendidikan Indonesia, Arief Rachman, yang juga jadi panelis dalam diskusi tersebut mengatakan bahwa kualitas lulusan perguruan tinggi yang tak sesuai kebutuhan dunia industri adalah akibat kesalahan sistem pendidikan Indonesia selama 20 tahun lalu.

“Selama ini mahasiswa hanya disuruh belajar untuk lulus jadi sarjana. Mereka hanya mengejar status bukan proses untuk menjadi sarjana. Akhirnya mereka jadi tak punya pemahaman apa-apa terhadap proses pendidikan yang sudah dilalui,” ujarnya.

Arief juga mengajak orang tua, guru dan dosen untuk  mengajarkan kepada generasi muda agar tidak takut terhadap perubahan. Ia juga mengkiritik terhadap orang yang kontra dengan perubahan kurikulum pendidikan.

“Jangan takut kurikulum pendidikan berubah, sebab perubahan itu juga untuk menyesuaikan dengan kebutuhan industri dan dunia yang dinamis,” kata Arief.

Guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu juga berharap agar pemerintah dan perguruan tinggi bisa mengajak pihak swasta untuk menyusun kurikulum yang tepat bagi perguruan tinggi.

“Kurikulum harus dibentuk juga oleh teman-teman dari swasta, sebab dari swasta kita jadi tahu pengalaman di lapangan dan itu merupakan guru paling hebat bagi mahasiswa,” ujarnya.

bird

 

the economist: IN 1998 Peter Mandelson, a leading member of Britain’s then Labour government, said he was “intensely relaxed about people getting filthy rich as long as they pay their taxes.” Today Lord Mandelson is more uptight; he worries about the rising inequality and stagnating middle-class incomes brought about by globalisation. His volte-face is typical of the global elite. The head of the IMF, Christine Lagarde, says that rising inequality casts a “dark shadow” over the global economy. A recent OECD report warns that rising inequality will be a “major policy challenge” for all countries.

In a new study, “Rich People, Poor Countries: The Rise of Emerging-Market Tycoons and their Mega Firms”, Caroline Freund of the Peterson Institute in Washington, DC, makes an important contribution to understanding this challenge. She draws a distinction between rich-world billionaires and those of the emerging economies, whose numbers have been rising at a faster rate. In 2004 the emerging world accounted for 20% of the 587 billionaires in Forbes magazine’s annual survey. By 2014 it accounted for 43% of the 1,645 billionaires on the list. In the rich world the share who were self-made, rather than heirs to a fortune, was fairly stable between 2001 and 2014, at about 60%. In the emerging world the self-made proportion rose from 56% to 79%.

Being self-made is not automatically a virtue. Some self-made tycoons acquire their fortunes through cronyish connections. But Ms Freund argues that the fastest-growing group of emerging-world billionaires consists of what might be called “Schumpeterian” entrepreneurs—people building or managing big companies that have to fight for their lives in global markets. The rise of this type of tycoon, she says, can be a healthy consequence of structural transformation and rapid development. When economies expand quickly—as they did in America in the late 19th century, say—they develop big firms that produce concentrations of wealth but that also contribute to broad growth by pioneering productive techniques and creating jobs. Such economies lift up those at the bottom of the income scale as well as enriching those at the top.

Ms Freund scrutinises the lists of billionaires, excludes those whose wealth was inherited and then classifies the self-made billionaires into four categories: those whose wealth came from government concessions and other forms of rent; those in finance or property; the founders of businesses that genuinely compete in the market; and highly paid executives at such Schumpeterian businesses. She treats only the last two categories as real entrepreneurs. In 2001 just 17% of all emerging-market billionaires made it into this classification; in 2014 roughly 35% did.

Among the leading examples is Terry Gou of Taiwan, who founded Hon Hai, an electronics giant (also known as Foxconn), in 1974 with just $7,500. Its massive expansion on the mainland has made it China’s biggest exporter, with a workforce of nearly 1m. Dilip Shanghvi founded Sun Pharmaceutical Industries in 1983 with a $1,000 loan from his father. It is now India’s largest drugmaker, with 16,000 workers and a market value of $29 billion. Zhou Qunfei started out working on the family farm in Hunan and was then a factory worker in Guangdong before starting a firm that makes touchscreens. Ms Zhou is now the world’s richest self-made woman. Her company, Lens Technology, employs 60,000 and is worth close to $12 billion. The American dream of going from rags to riches appears more achievable in developing Asia than in America itself, which seems ever more in thrall to vested interests.

The emergence of these goliaths is similar to the emergence of big companies in the United States and Europe in the late 19th and early 20th centuries, Japan in the 1950s and 1960s, and South Korea in the 1960s and 1970s. The comparison to America during the gilded age is particularly striking. Chinese tycoons such as Jack Ma of Alibaba and Robin Li of Baidu, two internet giants, are becoming fabulously wealthy by learning how to serve a huge new market in much the same way that Andrew Carnegie and John D. Rockefeller did with steel and oil. Tee Yih Jia Foods of Singapore has become a colossus of spring rolls by mechanising their production and improving marketing, much as H.J. Heinz did with sauces and pickles in 1890s Pittsburgh.

Where’s the anti-billionaire backlash?

There are significant regional variations in this happy picture. East Asia has the lion’s share of Schumpeterian billionaires, whereas Latin America still has a disproportionate share of inheritors, and South Asia and eastern Europe a continuing problem with cronyism. However, the anti-billionaire backlash that is such a marked feature of Western politics is, thus far, much less pronounced in the emerging world. This may be because emerging-market billionaires seem more dynamic: more than half of them are under 60 compared with less than a third in the rich world. But it is partly because ordinary people in the emerging world have been getting richer alongside the billionaires; in the rich world the masses have seen their incomes stagnate.

You can pick holes in Ms Freund’s arguments. The line between Schumpeterian and crony firms can be hard to draw in China, where the government exercises huge influence behind the scenes. And if a recent slowdown in emerging economies worsens, it may show that some entrepreneurial stars built their empires on sand. But if anything, she errs on the side of caution. She excludes financiers, even though they can also be wealth-creators; and heirs, even though some—such as Ratan Tata of India, who increased the value of the Tata group enormously—are Schumpeterians. Although cronyism is far from extinct, the emerging world has witnessed a big increase in the number of true entrepreneurs. They are a symptom of economic dynamism, not a cause of rising inequality.