1NVEST0R MAND1R1 maen SAHAM bener

belajar MANDIRI, akan JAUH LEBE SUKSES (SEJAK 210809)

drop out dah … 011209_10102017 10 Oktober 2017

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 11:32 am

alert02

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Delisting yang dilakukan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) atas saham PT Inovisi Infracom Tbk (INVS) memakan korban. Lebih dari Rp 2 miliar dana investor ritel ‘nyangkut’ lantaran saham emiten yang bergerak di bisnis konten IT tersebut tidak lagi bisa diperdagangkan di bursa.

Suryawan Nyoto, salah seorang investor ritel yang duitnya sekitar Rp 2 miliar nyangkut di saham INVS. Tapi, ia tidak sendiri.

Pria yang juga akrab disapa Surya itu menceritakan, bahkan ada sejawatnya yang nyangkut hingga di atas Rp 2 miliar. “Tapi, yang paling banyak nyangkut itu yang dananya kisaran Rp 50 juta hingga Rp 100 juta,” ujarnya kepada KONTAN, Senin (9/10).

Ihwal Surya masuk ke saham INVS terjadi sebelum 2014 silam. Ia tergolong investor yang cukup berpengalaman. Pasalnya, Surya berani masuk ke saham INVS saat harganya turun cukup besar. Ia masuk saat harganya masih sekitar Rp 135 per saham.

Harga itu menurutnya tergolong murah. Bukan hanya harga, valuasinya juga murah lantaran kinerja INVS kala itu dinilai moncer.

Bencana pun terjadi. Pada tahun yang sama, laporan keuangan INVS dianggap bermasalah. Buntut dari masalah tersebut, bursa melakukan suspensi saham INVS.

Upaya perbaikan dari internal INVS belum terlihat. Sehingga, saham INVS terus disuspensi.

Pada 27 September lalu, bursa mengumumkan delisting saham INVS. BEI memberikan tenggat waktu perdagangan di pasar negosiasi selama 20 hari terhitung sejak 25 September 2017 hingga 20 Oktober 2017. Setelah itu akan efektif delisting pada 23 Oktober 2017.

double arrow picSMALL

Tujuh Saham Terdepak dari Bursa
Senin, 30 2009 12:50 WIB
JAKARTA–MI: Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menghapus tujuh saham yang dulunya tercatat di Bursa Efek Surabaya (BES) dari papan pencatatan bursa, yang efektif berlaku mulai 1 Desember 2009.

Dalam keterbukaan informasi BEI, Senin, disebutkan, emiten yang dihapus itu yakni PT Jasa Angkasa Semesta Tbk (JASS), PT Courts Indonesia Tbk (MACO), PT Singleterra Tbk (SING), PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK), PT Sara Lee Body Care Indonesia Tbk (PROD), PT Sekar Bumi Tbk (SKBM) dan PT
Tunas Alfin Tbk (TALFA).

Menurut BEI, penghapusan saham itu dilakukan mengingat perusahaan-perusahaan tersebut mengalami setidaknya satu dari dua kondisi yang ditentukan oleh BEI.

Pertama, mengalami kondisi atau peristiwa yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha, baik secara finansial ataupun secara hukum atau kelangsungan status perusahaan tercatat sebagai perusahaan terbuka serta tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai.

Kedua, saham perusahaan tercatat yang akibat suspensi di pasar reguler dan pasar tunai, hanya diperdagangkan di pasar negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir.

Dengan dihapusnya ketujuh saham tersebut, maka mereka tidak lagi memiliki kewajiban sebagai perusahaan terbuka. Namun sepanjang perseroan masih menjadi perusahaan publik, maka tetap wajib memperhatikan kepentingan pemegang saham publik dan mematuhi keterbukaan informasi dan pelaporan
kepada Bapepam-LK.

Jika salah satu dari tujuh perusahaan tersebut hendak mencatatkan kembali sahamnya di BEI, maka proses paling cepat dapat dilakukan enam bulan sejak penghapusan saham dengan catatan perseroan memenuhi persyaratan pencatatan kembali saham. (Ant/OL-02)

Iklan
 

orang kaya BERANI gagal (2) … 181110_080917 27 September 2017

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 12:21 am

ezgif.com-resize

resveratrol dalam anggur merah: amat BERMANFAAT pada kondisi pembuluh darah koroner jantung

INVES + TRADING 20 saham di warteg OTC gw, TELAH MENINGKATKAN LABA gw +34% dalam periode 3 bulan, awal 2016

doraemon

Jakarta detik TUNG Desem W- Dari data Forbes, ada 10 orang Indonesia yang masuk jajaran 1.000 orang terkaya di dunia 2014. Nama-nama mereka sudah tidak asing lagi didengar di Indonesia.

Mereka menjadi tokoh sukses yang menginspirasi orang Indonesia. Kesuksesan orang-orang kaya tersebut tidak dihasilkan dengan cara yang mudah. Mereka bekerja keras untuk meraih kesuksesan bisnis mereka.

1. Jasa dan Ritel
Bisnis ritel memang cukup sulit. Tapi pasar selalu membutuhkan produk-produk jasa dan ritel. Chairul Tanjung mampu membawa orang Indonesia masuk jajaran miliuner dunia. Pada daftar peringkat 2014, Chairul Tanjung yang memiliki CT Corp berada di peringkat 375 dunia dengan nilai kekayaan US$ 4 miliar atau sekitar Rp 46 triliun.

Peringkat CT, sapaan akrabnya, naik dari 395 dunia pada 2013 dengan nilai kekayaan US$ 3,4 miliar. Ditarik mundur setahun sebelumnya, grafik naik makin terasa mengingat pada 2012, CT masih ada di peringkat 634 dunia dengan kekayaan US$ 2 miliar. “Perusahaannya CT Corp juga memiliki Bank Mega, Carrefour Indonesia dan waralaba seperti Mango dan Versace,” tulis Forbes.

2. Sumber Daya Alam
Salah satu produk unggulan Indonesia yang telah dikenal luas di dunia internasional adalah minyak sawit atau crude palm oil (CPO). Anda 3 orang kaya yang ada di sektor ini yaitu:

Nama pertama adalah Bachtiar Karim. Dalam daftar 1.000 orang terkaya dunia 2014 yang dilansir Forbes, Bachtiar Karim ada di peringkat 869. Harta kekayaannya, menurut Forbes, mencapai US$ 2 miliar. Bachtiar adalah bos dari PT Musim Mas yang bergerak di lini bisnis utama minyak sawit atau CPO.

Perusahaan yang dikelolanya memiliki kapal tanker dan terminal sendiri. Pabrik pengolahan sawit milik Musim Mas disebut-sebut sebagai yang terbesar di dunia.

Ada nama lain yang juga dikenal sebagai raja sawit Indonesia yaitu Lim Hariyanto Wijaya Sarwono. Dari laporan Forbes, harta kekayaan Lim saat ini menembus US$ 2 miliar. Dengan harta sebanyak itu, pria berusia 86 tahun ini ada di urutan 1.565 orang terkaya dunia.

Yang ketiga adalah Sukanto Tanoto. Dari data yang dilansir Forbes, harta kekayaan Sukanto Tanoto menembus US$ 2,1 miliar. Saat ini, raja sawit berusia 64 tahun ini mengendalikan bisnisnya dari Singapura. Dia sukses mengibarkan bendera PT Raja Garuda Mas yang lini bisnis utamanya kelapa sawit.

3. Infrastruktur dan alat berat
Achmad Hamami membuktikan bahwa bisnis sektor ini mampu menjadikan orang Indonesia sebagai miliuner dunia. Pria ini mulai aktif berbisnis pada dekade 1970-an. Dengan mendirikan Trakindo Utama, Achmad Hamami mendapat kepercayaan menjadi agen produk Caterpillar di Indonesia. Trakindo menjadi pemain utama bisnis sektor alat berat, konstruksi, dan infrastruktur di dalam negeri.

Di usianya yang kini menginjak 83 tahun, Achmad Hamami masih sukses bertahan di jajaran miliuner dunia. Achmad masuk 1.000 orang terkaya dunia. Menurut versi Forbes, harta kekayaan Achmad saat ini menyentuh US$ 1,6 miliar.

4. Properti
Pernah mendengar kata Iwan Sunito? Anda tahu Crown Property? Nah itulah pemiliknya. Beliau orang Indonesia tapi sukses berbisnis properti di Australia.

Kata Iwan, semua bermula dari hal kecil. “You think big in a start really small,” kata dia, mengenang masa dirinya mengerjakan apa saja pekerjaan yang ditawarkan pelanggan. Dari sekadar merenovasi pagar, garasi, atau kamar mandi, sampai membangun satu unit rumah utuh. Dan akhirnya kini Iwan Sunito bersama perusahaannya sedang mengincar untuk melakukan pembangunan sebuah Apartemen mewah di Barat Sydney. Luar biasa bukan?

Berikut adalah beberapa bidang bisnis yang mampu menjadikan Anda Seorang miliuner Dunia. Geluti apapun bisnis yang Anda tekuni saat ini, sekecil apapun usaha yang Anda miliki saat ini dapat menjadi modal untuk membangun usaha yang jauh lebih besar bagi Anda di masa depan. Semoga bermanfaat.

ets-small

NEW YORK, KOMPAS.com – Howard Schultz tidak hanya dikenal sebagai CEO jaringan gerai kopi ternama Starbucks, namun juga seorang miliarder yang merintis usahanya dari bawah.

Akan tetapi, tidak banyak yang tahu bahwa Schultz pernah begitu putus asa dan nyaris menyerah untuk membangun kopi impiannya.

Dalam sebuah seri wawancara orang tua-anak yang dirilisHuffington Post bertajuk Talk To Me, Schultz berbincang dengan sang putra, Jordan Schultz.

Ia bercerita tentang momen di mana ia hampir saja menanggalkan impiannya untuk memiliki perusahaan kopi yang sukses.

Setelah berjuang selama bertahun-tahun, Schultz hampir saja berhenti berusaha setelah terlibat pembicaraan dengan ayah mertuanya.

Sang mertua mendorong Schultz untuk berhenti melakukan hobinya, yakni berkutat dengan kopi.

Untungnya, Schultz juga sempat berbincang dengan Sheri, sang istri yang kala itu tengah mengandung dan merupakan satu-satunya pencari nafkah di dalam keluarga muda itu.

Schultz pun berubah pikiran. “Ia (Sheri) berkata, ‘Kita akan mengejar mimpi yang kau miliki ini. Kita akan melihatnya terwujud.’ Dan sampailah kita di masa seperti ini,” ujar Schultz kepada sang putra.

Schultz pun berpesan kepada para orang tua tentang pentingnya para orang tua yang sudah sukses tidak terlibat terlalu jauh dan membiarkan anak-anak mengejar mimpi mereka sendiri.

“Kami (orang tua) akan membantu kalian kalau dibutuhkan, tapi kalian harus mewujudkan mimpi kalian sendiri, apa yang kalian sukai, dan ke depannya pasti akan berbuah manis,” ungkap Schultz.

Di akhir wawancara, Schultz pun berpesan kepada sang putra untuk tidak menjadi seseorang yang hanya mengamati.

Ia meminta sang putra untuk menjadi orang yang bertindak, memiliki rasa ingin tahu, dan tak takut menciptakan perbedaan.

 dollar small

NEW YORK – Warren Edward Buffett atau Warren Buffet dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia akibat keahliannya dalam hal investasi. Namun siapa menyangka, kemampuan Buffett dalam menciptakan nilai tambah suatu investasi ternyata sudah terlihat sejak dia kecil.Seperti dilansir dari laman TIME, Selasa (10/11/2015), Buffett kecil ternyata pernah menjadi loper koran guna menambah uang sakunya ketika dia berusia 11 tahun. Dengan kombinasi keuletan serta kedisiplinan, Buffett sudah mampu meraup pendapatan sebesar USD175 per bulan atau Rp2.390.150 (kurs Rp13.658) dan bahkan melebihi guru-gurunya.

Menjadi seorang loper koran hanya salah satu dari pekerjaan yang pernah dijalankannya. Selain menjadi loper koran, Buffett kecil juga pernah menjual barang-barang bekas lainnya untuk tambahan uang sakunya.

Buffett kecil pernah menghasilkan pendapatan melalui penjualan bola golf bekas. Untuk mendapatkan bola golf bekas, dia memanfaatkan waktu luangnya untuk berkeliling lapangan golf untuk mencari bola-bola golf yang hilang.

Selain menjual bola golf bekas, dia juga menghasilkan pendapatan lainnya melalui penjualan perangko, menjadi jasa menggosok mobil, mendirikan sebuah bisnis mesin pinball, dan mengubah trayek balap kuda menjadi taman bermain yang menguntungkan.

Dengan demikian, dia berhasil meraup pendapatan sebesar USD53 ribu atau Rp723,8 juta (kurs Rp13.658) tepat saat dia berusia 16 tahun.
http://economy.okezone.com/read/2015/11/09/213/1246164/raup-rp723-juta-di-usia-16-tahun-ini-yang-dilakukan-warren-buffet
Sumber : OKEZONE.COm

bird_bbri_unvr

reuters: The vast majority of the world’s nearly two thousand billionaires are entirely self-made, according to Forbes’ annual list of the world’s billionaires.

So how did they get their start on the road to that vast wealth? For the latest in Reuters’ “First Jobs” series, we went out and asked a few of them exactly that:

James Dyson: Inventor and founder of the Dyson company

Estimated net worth on Forbes’ 2016 list: $4 billion

First job: Engineer

“In my last year at the Royal College of Art, I met Jeremy Fry, chairman of the engineering company Rotork (ROR.L). He invited me to his home for dinner, and that’s where it all began. I wanted him to invest in a building I had designed for a theater in London. He said, ‘I’m not going to give you any money, but I’ll give you a few jobs.’

“Under his wing I worked on my first engineering project, the Sea Truck, a high-speed amphibious landing craft. We built the first prototype together. He pointed me to the welding gear and said, ‘Go do it.’ I’d never used any welding gear, but I did it.

“He let me make mistakes and learn things myself. After we finished the prototype, I said, ‘Now what?’ He said, ‘We make it.’ And then? ‘We sell it.’ It was simple as that.”

Jim Goodnight: Co-founder & CEO, SAS

Estimated net worth: $8 billion

First job: Hardware store

“When I was 12, my family moved down to Wilmington, North Carolina, so my dad could open up a store called Hanover Hardware. Of course, he put me to work and I did everything from stocking shelves to waiting on customers.

“Eventually, I got paid around a dollar an hour, which I spent on things like gas for my car. Remember at the time, gas was only 25 cents a gallon.

“Later on, my dad expanded into appliances, so I had to learn how to install refrigerators and stoves and washer-dryers and air conditioners. To this day, I’m still pretty handy. At that job, I learned a lot about responsibility, how to deal with people and interact with customers. It was a good start in life – and I’ve been working ever since.”

Thomas Peterffy: Founder, Chairman & CEO, Interactive Brokers Group (IBKR.O)

Estimated net worth: $11.1 billion

First job: Land surveyor

“I got my first job during summer vacation at age 12 as a land surveyors’ helper in the Hungarian countryside. The job consisted mostly of carrying measuring instruments, food and water for the team of surveyors.

“I recall struggling with my heavy load across an endless wheat field in the August heat, trying to hide my tears. They were not supposed to hire me under 14. Living in Budapest, this was my first opportunity to see how people lived in the country. I slept in a barn on a hay loft.

“At the time, all the lands were cultivated as socialist communal farms, but each family was allowed to have about two acres of their own around their house and a few animals. This was where the bulk of the food for the nation came from.

“This experience led me to study civil engineering, and when I came to America at age 21, I eventually became a computer programmer.”

Mikhail Prokhorov: Businessman, owner of the NBA’s Brooklyn Nets and Barclays Center

Estimated net worth: $7.6 billion

First job: Unloading cargo from train cars

“When I finished my obligatory service in the Soviet army, I took a job unloading train cars while I completed my education. We made good money – 40 to 120 rubles per car, depending on the cargo. For comparison, the average monthly salary in the Soviet Union was around 200 rubles.

“Sometimes, if we did good work, we would be tipped in the product we had unloaded, as a kind of bonus. So I’d bring home a sack of tomatoes or apples to my parents and that made everyone happy. After a little while, I started to organize various brigades and sort of run the operation.

“It was hard physical labor, but looking back, I can say it was the first time I realized my leadership abilities as a businessman. It all happened kind of naturally, not consciously. I just became the organizer and ran the thing. Basically been the same way ever since!”

SOURCE: Forbes.com

(Editing by Beth Pinsker and G Crosse)

valentineEVERYsmall

Jakarta – Setelah menjatuhkan suspensi berkepanjangan, akhirnya PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus (delisting) saham PT Inovisi Infracom Tbk (INVS). Lalu bagaimana nasib investor yang uangnya nyangkut di saham INVS?

Sebenarnya nasib para pemegang saham INVS sudah terkatung-katung sejak sahamnya di-delisting pada 13 Februari 2015. Sejak saat itu, mereka yang masih menaruh uang di saham INVS tak bisa keluar, lantaran dibekukan hingga akhirnya kena delisting.

Menurut Direktur Utama BEI, Tito Sulistio, berinvestasi di pasar modal juga mengandung risiko. Dihapusnya saham INVS salah satu risiko yang dimaksud. Oleh karena itu perlu pengetahuan dan tetap berhati-hati dalam berinvestasi di pasar modal.

“Menjadi investor bukan suatu paksaan, tapi juga harus jeli membaca, melihat dan memperhatikan kinerja perseroan,” tuturnya kepada detikFinance, Selasa (26/9/2017).

Tito mengatakan, langkah BEI menghapus saham INVS sebenarnya juga bertujuan melindungi para investor. Menurutnya, emiten yang tidak jelas keberlangsungan kinerjanya patut diberikan tindakan tegas agar investor tidak dirugikan.

“Kalau investor inginnya Bursa tegas menghukum emiten yang tidak beri laporan keuangan tidak transparan, atau bursa yang loyo tidak berdaya terhadap emiten yang tidak bisa menunjukan transparansi?” tegasnya.

Memang, BEI menjatuhkan suspensi lantaran perusahaan yang dulunya bernama PT Cipta Media Rekatama itu bermasalah dalam penyajian laporan keuangan kuartal III-2014. BEI menilai banyak angka yang disajikan terkesan mencurigakan.

Sejak saat itu, saham INVS tak kunjung dicabut suspensinya, sebab belum ada upaya perseroan melakukan pembenahan. Bahkan BEI terus memperpanjang suspensi lantaran perusahaan tersebut tak membayar biaya listing tahunan. Hingga akhirnya tidak jelas keberlangsungan hidup perusahaan tersebut.

“Kami percaya tindakan ini justru membuat investor termasuk manca negara makin punya dan menambah kepercayaan terhadap kerja bursa meningkatkan pertahanan pasar modal,” tukasnya. (wdl/wdl)

 

ezgif.com-resize

JAKARTA, KOMPAS.com – Siapa tidak ingin menjadi kaya. Meskipun tidak hidup berfoya-foya, setidaknya dengan kekayaan yang cukup, Anda tidak perlu khawatir dengan masa depan Anda, pasangan, maupun buah hati Anda.

Ada yang meyakini bahwa sebenarnya semua orang memiliki kemungkinan untuk kaya. Namun, ternyata ada beberapa jenis orang yang diyakini tidak akan bisa kaya.

Mengutip Business Insider, Kamis (7/9/2017), ada tujuh tanda yang bisa menjelaskan bahwa Anda tidak akan bisa kaya. Berikut uraiannya.

(Baca: 8 Pelajaran Hidup Sederhana dari Orang-Orang Super Kaya Dunia)

1. Kerja keras, tapi tidak kerja cerdas

“Jika yang Anda lakukan sepanjang hidup Anda adalah kerja keras, Anda tidak akan menjadi kaya. Tidak cukup hanya kerja keras untuk memperoleh penghasilan,” jelas Ric Edelman, penasihat keuangan.

Menurut Edelman, salah satu cara kerja cerdas adalah menginvestasikan uang Anda di pasar saham atau dana pensiun.

Sehingga, uang Anda akan kembali menghasilkan uang. “Anda bisa melakukan ini tanpa banyak risiko, tanpa banyak usaha, dan tanpa banyak waktu,” tutur Edelman.

2. Hanya fokus pada menabung

Salah satu cara kerja cerdas lainnya adalah dengan meningkatkan pendapatan, bukan hanya menabung.

Memang, menabung sangat penting untuk membangun kekayaan, tapi jangan lupakan juga pendapatan, yang merupakan fokus para orang kaya.

“Berhenti khawatir tentang kekurangan uang dan fokuslah pada bagaimana memperoleh lebih banyak,” kata miliuner Steve Siebold.

3. Beli barang terlalu mahal

Jika Anda hidup di atas standar kehidupan yang wajar bagi Anda, maka Anda tidak akan pernah kaya. Bahkan jika pendapatan Anda mulai meningkat, jangan jadikan itu pembenaran untuk menaikkan gaya hidup.

“Saya tak beli jam atau mobil mewah sampai bisnis dan investasi saya menghasilkan banyak arus pendapatan yang aman,” ujar miliuner Grant Cardone.

4. Bahagia dengan penghasilan tetap

Rata-rata orang memilih untuk digaji berdasarkan waktu, misal bulanan atau upah per jam. Namun, orang kaya memilih digaji berdasarkan hasil dan biasanya malah berwirausaha.

“Bukan berarti tidak ada orang kelas dunia yang dibayar dengan gaji (bulanan), namun untuk sebagian besar, ini adalah langkah paling lambat untuk kemakmuran,” ungkap Siebold.

5. Tidak investasi

Salah satu cara paling efektif untuk memperoleh kekayaan adalah dengan berinvestasi. Semakin cepat Anda mulai investasi, maka semakin baik.

“Rata-rata, miliuner menginvestasikan 20 persen penghasilan mereka setiap tahun. Kekayaan mereka tak dihitung dari jumlah yang mereka hasilkan tiap tahun, namun dari bagaimana mereka berinvestasi sepanjang waktu,” terang penasihat keuangan Ramit Sethi.

6. Tidak keluar dari zona nyaman

Jika ingin kaya, sukses, atau maju dalam hidup, maka Anda harus terbiasa dengan ketidakpastian atau ketidaknyamanan. Orang-orang kaya merasa nyaman dengan ketidakpastian.

“Kenyamanan fisik, fisiologis, dan emosional adalah tujuan utama pola pikir kelas menengah. Para pemikir kelas dunia mempelajari lebih dulu bahwa menjadi miliuner tidak mudah. Mereka belajar untuk nyaman bekerja dalam ketidakpastian,” ungkap Siebold.

7. Tidak punya tujuan finansial

Jika ingin membangun kekayaan, prosesnya akan lebih mudah dan menyenangkan jika Anda memiliki tujuan yang jelas dan spesifik dalam merencanakan tujuan finansial.

Apakah Anda akan beli rumah, melancong sebulan sekali, atau menikmati masa pensiun yang tenang, tulislah semua rencana Anda untuk diwujudkan.

“Orang-orang kaya memilih untuk berkomitmen dalam memperoleh kekayaan. Butuh fokus, keberanian, pengetahuan, dan banyak usaha, namun segalanya mungkin jika Anda memiliki tujuan dan visi yang jelas,” kata miliuner T Harv Eker.

rose KECIL

Badai krisis moneter (krismon) yang melanda Indonesia pada 1997-1998 juga mengempaskan bisnis kopi kemasan milik Sarman Simanjorang. Semua aset, mulai pabrik, mobil boks, hingga sarana dan prasarana produksi lainnya terpaksa dijual.

 

Bahkan, 40 karyawan terpaksa diberhentikan. Namun pria kelahiran Sumbul, Sumatera Utara, pada 14 Juni 1965, itu pantang kembali ke kampong halamannya. Sarman memilih bertahan di Jakarta, kembali memulai usaha dari titik nol.

 

Untuk bangkit dari keterpurukan tidaklah mudah. Selain harus memiliki mental pantang menyerah, kemampuan membaca peluang bisnis di tengah kolapsnya perekonomian sangatlah dibutuhkan. Hal inilah yang dimiliki Sarman Simanjorang sehingga ia bisa kembali berbisnis usai krisis.

 

“Usai krisis tak banyak peluang bisnis yang tersedia. Peluang bisnis di sektor swasta nyaris tidak ada, yang ada adalah proyek-proyek pemerintah. Di sinilah peluangnya. Sejak itu, saya masuk bisnis kontruksi, ikut menggarap proyek-proyek pemerintah,” ungkap Presiden Direktur PT Welhesa Abadi Perkasa itu kepada wartawati Investor Daily Tri Listiyarini di Jakarta, baru-baru ini.

 

Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta itu ternyata tidak pernah bermimpi menjadi pengusaha. Awalnya, Sarman hanya ingin menjadi PNS atau setidaknya pegawai kantoran berdasi nan necis.

 

Bagaimana awal mula Sarman Simanjorang menjadi pengusaha? Mengapa ia lolos dari badai krismon? Benarkah pengusaha tahan banting adalah pengusaha yang berani melangkah saat berada di titik terendah? Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.

 

Bagaimana awal mula Andamenjadi pengusaha?

Saya tidak pernah bermimpi menjadi pengusaha. Tamat SMP di Sumatera Utara pada 1981, saya merantau ke Jakarta. Modal saya hanya dua. Pertama, doa ibu saya. Kedua, nasihat ibu saya. Ibu saya bilang, kalau kamu merantau maka kamu harus lebih baik dari saya. Di Jakarta, saya melanjutkan SMA dan ikut kakak yang sudah menikah.

 

Meski saya laki-laki, saya harus tahu diri dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Saat SMA, saya sudah aktif berorganisasi. Setelah lulus, saya juga banyak mengikuti berbagai kursus. Harapannya, lulus SMA saya bisa langsung kerja, kuliah sambil bekerja saja.

 

Kenyataannya, mencari pekerjaan tidaklah mudah. Saya melamar sebagai PNS di berbagai departemen dan Pemda DKI, tapi gagal. Begitu pun di perusahaan swasta. Saya pernah melamar ke sebuah bank, ikut seleksi hingga delapan tahap, bahkan sudah diwawancarai direksi, tapi ternyata tidak diterima. Sejak itulah saya bertekad tidak akan lagi mencari pekerjaan, tapi menciptakan pekerjaan. Saya ingin menjadi

pengusaha.

 

Bisnis yang pertama kali Anda jalankan?

Saya tidak langsung menjadi pengusaha. Saya memang punya tekad, tapi modalnya dari mana? Tekad yang kuat membuat saya mencari modal sendiri dengan menjadi salesman, mulai asuransi, mobil, hingga advertising, pernah juga menjadi surveyor. Jadi salesman tidak dapat gaji, hanya komisi. Komisi inilah yang saya tabung dan dijadikan modal usaha. Pada 1991-1992, saya mendirikan PT Welhesa Abadi Perkasa.

 

Bisnis pertama yang saja jalankan adalah media publikasi dan eventorganizer (EO). Pengalaman saya di advertising menjadi bekal utama. Saat itu, media promosi bagi pengusaha atau perusahaan masih sangat terbatas, televisi baru ada satu, radio masih terbatas, begitupun koran. Apalagi di Jakarta, saya melihat potensinya sangat besar. Saya buat baliho, spanduk, umbul-umbul, billboard, hingga balon udara. Klien kami hingga skala nasional.

 

Bisnis Anda pernah terpuruk?

Selama tujuh tahun, bisnis saya berjalan sangat bagus. Pada 1997, saya mencoba melakukan ekspansi dengan mendirikan pabrik kopi cap Rajawali. Tujuan saya saat itu adalah memperkenalkan kopi dari kampung saya yang memang sudah terkenal, yakni kopi Sidikalang. Saya ingin memperkenalkannya ke tingkat nasional.

 

Kami buat pabrik di Pulogadung (Jakarta Timur), membuat kopi sendiri, targetnya masyarakat kelas bawah. Kami promosikan juga dengan mengontrak bintang iklan. Tapi krismon menghantam semua perusahaan, kecil menengah- besar, termasuk bisnis kopi saya.

 

Puncaknya terjadi pada 1998. Kopi cap Rajawali waktu itu bukan tidak laku. Semua kopi habis, namun uang dari agen tidak kembali. Kami punya pelanggan 1.000 warung tegal (warteg). Waktu saya cek ke lapangan, ternyata hampir semua warteg tutup diam-diam. Bagaimana tidak tutup, para pekerja bangunan yang umumnya pelanggan warteg tidak lagi memiliki pekerjaan karena proyeknya terhenti, mereka pulang kampung. Padahal, biasanya mereka membayar kopi di warteg setelah gajian. Kalau begini siapa yang mau dituntut?

 

Saya waktu itu menghadapi dilema, kalau diteruskan begitu banyak pengeluaran, padahal pemasukan kritis. Dengan berat hati, akhirnya semua aset saya jual, mulai pabrik, mobil operasional, mobil boks, hingga aset lainnya untuk menutup pengeluaran. Karyawan juga saya rumahkan.

 

Bagaimana Anda bisa bangkit lagi?

Saya sadar bahwa pasang surut itu bagian dari hidup. Tidak semua berjalan mulus. Kegagalan adalah bagian dari gelombang hidup, kadang untung kadang rugi. Artinya, kita harus siap menghadapi segala sesuatu di depan kita. Tuhan member cobaan, pasti ada sesuatu yang perlu kita koreksi. Kalau bisnis saya mulus terus, mungkin muncul kesombongan dalam diri saya. Karena itu, ketika tiba-tiba ada krismon dan bisnis kopi saya kolaps, saya terima dan anggap itu sebagai bagian dari kehidupan, ambil hikmahnya.

 

Saya juga sadar bahwa kejadian itu bukan hanya menimpa saya. Dari situ muncul kekuatan mental dalam diri saya untuk bangkit kembali membangun usaha. Dalam kekuatan itu tersimpan semangat untuk tidak patah hati, tidak memandang bahwa itu semua sudah selesai, meskipun semua aset dalam waktu singat terkuras habis.

 

Memang tidak mudah, apalagi waktu krismon potensi bisnis sangat terbatas. Tapi saya yakin dan meyakinkan keluarga bahwa saya bisa bangkit lagi. Waktu itu yang tersedia hanyalah peluang proyek pembangunan dari pemerintah, semua proyek milik swasta tumbang. Karena itu, satusatunya jalan untuk bangkit lagi adalah masuk bisnis kontruksi, ikut mengerjakan proyek-proyek pemerintah. Dari situlah saya mulai bangkit lagi hingga sekarang.

 

Intinya, saat berada di titik terendah, kita harus berani melangkah, berani berbuat, berani memulai kembali. Saya beruntung menjadi pengusaha yang tumbuh secara alami, sehingga ketika bisnis bangkrut karena krismon saya cepat-cepat ambil keputusan mau bisnis apa lagi. Berhubung waktu itu yang jalan hanya proyek pemerintah, saya belajar untuk bagaimana menjadi rekanan pemerintah, terutama Pemda DKI, seperti dalam pengadaan barang dan jasa serta pembangunan infrastruktur.

 

Mulai 1999, saya berbisnis di bidang konstruksi serta pengadaan barang dan jasa, menjadi rekanan Pemda DKI. Sampai sekarang masih jalan, seperti rehabilitasi gedung, membangun drainase, jalan raya, pengadaan alat-alat olahraga, dan pengadaan mebel. Karena saya merupakan pengusaha alami, inovasi itu selalu ada, tidak ada patah semangat. Kalau tidak punya jiwa bisnis, saya mungkin sudah pulang kampung. Saya melihat potensi bisnis di kota besar sangat terbuka, tinggal kecerdikan dan kecakapan kita menangkap mana yang pas.

 

Apa sebetulnya kunci sukses Anda?

valentineEVERYsmall

Pertama, punya niat dan tekad. Modal itu nomor sekian. Saya memulai usaha dari nol, tak punya modal. Inilah yang membuat saya menjadi pengusaha yang alami. Ada teman saya memulai usaha dengan modal dari orang tuanya, tapi baru enam bulan tutup.

 

Kedua, mau bekerja keras dan jangan merasa gengsi. Kesampingkan gengsi, misalnya malu jadi salesman, padahal dari sales bisa dapat komisi untuk ditabung menjadi modal. Kalau seseorang lulus di bagian sales asuransi, ke manapun dia pergi tidak akan pernah kelaparan karena sales asuransi hanya bermodal kertas.

 

Ketiga, semangat dan jangan pernah cepat menyerah. Apabila ada salah diperbaiki, kalau gagal coba lagi. Kalau menyerah berarti semua akan selesai. Keempat, perbanyak jaringan dengan berorganisasi. Saya ikut organisasi yang mampu menciptakan jaringan dan mengasah kepemimpinan. Kepemimpinan akan tumbuh secara alami dalam sebuah organisasi karena kita akan berbaur dengan banyak orang, banyak beda pendapat, beradu argumentasi, belajar menghargai orang lain, dan mengendalikan emosi.

 

Strategi Anda untukmemajukan perusahaan?

Pertama, harus mampu dan pintar membaca peluang. Sebagai perusahaan jasa, kami tidak harus fokus di bidang tertentu. Jika ada peluang bisnis lain yang bisa dikerjakan, kenapa kita tidak ambil saja. Kedua, kita harus mampu memperbanyak jaringan (network). Saya melakukannya dengan aktif di berbagai organisasi, di organisasi biasanya banyak informasi yang dibutuhkan dan bisa kita tangkap menjadi peluang.

 

Pencapaian palingmonumental yang sudah Andaraih?

big-dancing-banana-smiley-emoticon

Ketika saya mampu mempekerjakan orang, memberikan nafkah bagi orang lain melalui pekerjaan yang saya sediakan, itu sebuah kepuasan. Ketika saya mampu menciptakan kekompakan, karyawan berlibur bersama, itu juga kepuasan bagi saya. Merintis usaha dari nol, dari tidak ada menjadi ada, itu kepuasan dan pencapaian monumental saya.

 

Gaya kepemimpinan Anda?

Pertama, di manapun saya berada, baik di perusahaan maupun di organisasi dengan jabatanjabatan tertentu, saya menerapkan pola kerja sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi).

 

Kedua, saya selalu memandang sesuatu secara positivethinking. Jangan cepat memandang sesuatu dari sisi negatif, arahkan pola berpikir untuk selalu melihat sesuatu dari sisi positifnya.

 

Ketiga, dalam sebuah manajemen atau organisasi, tujuannya hanya satu, yaitu mewujudkan visi misi yang sama. Karena itu, harus ada kekompakan dan kebersamaan untuk mencapainya. Untuk menjaga kekompakan di perusahaan, misalnya, saya buat acara liburan bersama atau olahraga bersama di waktu tertentu. Ini penting juga untuk menjaga komunikasi.

 

Filosofi hidup Anda?

rose KECIL

Hidup ini biarkan mengalir seperti air. Artinya kita bekerja keras, lakukan yang terbaik sesuai kemampuan, biarlah Tuhan yang menentukan nasib kita. Jangan menjadi seorang yang ambisius. Manusia memang harus punya ambisi, tapi jangan ambisius. Sebab, kalau sudah ambisius, kadang-kadang kita sebagai manusia akan menghalalkan segala cara. Saya sangat yakin hidup ini adalah rahasia Tuhan. Saya yakin Tuhan memiliki rencana terhadap kehidupan kita, cuma kita tidak tahu.

 

Obsesi atau mimpi yang belum Anda capai?

Mimpi dan obsesi saya hanya satu, yaitu anak-anak saya ke depan bisa berhasil lebih baik dari saya. Apa yang sudah saya capai saat ini mungkin belum sesuai yang saya inginkan. Saya akui semua pasti ada batasnya.

 

Peran keluarga dalam karierAnda?

Saya harus bersyukur memiliki istri yang mau mengalah, dalam arti tidak ngotot bekerja. Istri saya tadinya seorang guru, namun kemudian memilih mengurus keluarga. Istri saya sangat pengertian. Saya yakin apa yang saya raih saat ini tidak lepas dari doa istri yang selalu mendampingi. Dia sangat mengerti aktivitas saya dalam berwirausaha maupun berorganisasi

 

Sepulang bekerja saya masih aktif di organisasi, baru pulang pukul 11 malam. Tapi saya juga harus punya pengertian, saya usahakan Sabtu-Minggu benarbenar untuk keluarga. Jadi, dukungan keluarga begitu luar biasa bagi saya. Maka tidak salah kalau ada pernyataan bahwa kesuksesan suami tidak lepas dari dukungan perempuan di sampingnya. (*)

 

Baca juga http://id.beritasatu.com/home/memancing-untuk-menguji-kesabaran/155310

ets-small

TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA – Perasaan bahagia tak dapat disembunyikan dari wajah Bardi Syafii (53), warga Cokrokusuman, JT II, Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta.

Setelah bertahun-tahun menabung, akhirnya bapak dua anak yang sehari-hari bekerja sebagai seorang tukang parkir di jalan Mangkubumi Kota Yogyakarta ini akan berangkat naik hajibersama istrinya Rumiyati (49) pada 17 Agustus 2016.

Bardi bercerita, dia memiliki cita-cita untuk naik haji sekitar tahun 1985. Sejak niat itu tercetus, dia lantas mulai menabung untuk biaya naik haji bersama istrinya.

“Saya menabung sejak tahun 1985. Saat itu saya buka lapak jualan koran dan rokok,” ucap Bardi di sela jaga parkir di Kawasan Jalan Mangkubumi, Selasa (2/8/2016).

Uang yang ditabungnya saat itu pun tidak besar. Dalam sehari, Bardi hanya bisa menyisihkan penghasilanya Rp 500 sampai Rp 1.000.

Demi menyisihkan uang untuk naik haji, Bardi pun rela membuka lapaknya dari pagi sampai malam hari. Sebab selain mencari uang untuk menabungnaik haji, dia juga harus mencari nafkah bagi keluarga sekaligus membiayai sekolah kedua anaknya.

“Yang saya tabung itu di luar uang biaya sekolah anak. Anak-anak harus tetap sekolah, demi masa depan mereka,” tegasnya.

rose KECIL

JAKARTA, KOMPAS.com –  Lulusan perguruan tinggi Indonesia sedang mengalami dilema, sebab gelar ijazah pendidikan tinggi yang mereka raih tak lagi jadi jaminan mudah untuk mendapat pekerjaan. Kesulitan mereka terserap dunia kerja semakin bertambah berat, karena mulai 1 Januari tahun ini mereka juga bersaing dengan tenaga kerja asing dari negara-negara ASEAN sebagai dampak berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)

Sulitnya lulusan universitas lokal memperoleh pekerjaan sudah terlihat dari angka pengangguran terdidik Indonesia yang meningkat setiap tahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2014, di Indonesia ada 9,5 persen (688.660 orang) dari total penganggur yang merupakan alumni perguruan tinggi.

Mereka memiliki ijazah diploma tiga atau ijazah strata satu (S-1) . Dari jumlah itu, penganggur paling tinggi merupakan lulusan universitas bergelar S-1 sebanyak 495.143 orang.

Angka pengangguran terdidik pada 2014 itu meningkat dibandingkan penganggur lulusan perguruan tinggi pada 2013 yang hanya 8,36 persen (619.288 orang) dan pada 2012 sebesar 8,79 persen (645.866 orang).

“Tingkat pengangguran terbuka Indonesia berdasarkan pendidikan yang ditamatkan cukup membahayakan,” kata mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Djalal, pada Kompas,(27/4/2015).

Menurut Fasli, Indonesia perlu mendesain ulang konsep pendidikan tinggi agar lulusannya mudah diserap industri.

“Apa masih perlu mendidik anak selama empat tahun di perguruan tinggi atau cukup memberikan pelatihan bersertifikat internasional enam bulan agar mereka bisa langsung bekerja di sejumlah negara,” ujarnya.

Banyaknya lulusan perguruan tinggi menganggur karena adanya ketimpangan antara profil lulusan universitas dengan kualifikasi tenaga kerja siap pakai yang dibutuhkan perusahaan. Berdasarkan hasil studi Willis Towers Watson tentang Talent Management and Rewards sejak tahun 2014 mengungkap, delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai.

Masih menurut hasil studi itu, semestinya perusahaan tidak sulit mencari tenaga kerja, sebab angka pertumbuhan lulusan perguruan tinggi di Indonesia setiap tahun selalu bertambah. Sementara itu, angka permintaan perusahaan terhadap tenaga kerja selalu lebih rendah dari pada jumlah lulusannya.

“Setelah India dan Brasil, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan pertumbuhan lulusan universitas lebih dari 4 persen dan rata-rata surplus 1.5 persen per tahun. Tapi, perusahaan tetap kesulitan mendapatkan karyawan yang berpotensi tinggi,” ujar Consultant Director, Willis Tower Watson Indonesia, Lilis Halim pada diskusi A Taste Of L’oreal, Rabu (20/4/2016).

Susah terserapnya lulusan perguruan tinggi Indonesia karena tidak memiliki skill yang dibutuhkan perusahaan dan tidak punya critical skill.

Skill adalah langkah utama memasuki dunia kerja, setelah itu harus punya critical skill jika ingin berkembang dan masuk jajaran manajemen perusahaan,” kata Lilis.

Berdasarkan studi itu, Lilis mengatakan bahwa di era digital saat ini lulusan perguruan tinggi harus punya digital skills, yaitu tahu dan menguasai dunia digital. Agile thinking ability – mampu berpikir banyak skenario- serta interpersonal and communication skills – keahlian berkomunikasi sehingga berani adu pendapat.

Terakhir, menurut dia, para lulusan juga harus punya global skills.Skil tersebut meliputi kemampuan bahasa asing, bisa padu dan menyatu dengan orang asing yang berbeda budaya, dan punya sensitivitas terhadap nilai budaya.

Harus bersinergi

Pakar pendidikan Indonesia, Arief Rachman, yang juga jadi panelis dalam diskusi tersebut mengatakan bahwa kualitas lulusan perguruan tinggi yang tak sesuai kebutuhan dunia industri adalah akibat kesalahan sistem pendidikan Indonesia selama 20 tahun lalu.

“Selama ini mahasiswa hanya disuruh belajar untuk lulus jadi sarjana. Mereka hanya mengejar status bukan proses untuk menjadi sarjana. Akhirnya mereka jadi tak punya pemahaman apa-apa terhadap proses pendidikan yang sudah dilalui,” ujarnya.

Arief juga mengajak orang tua, guru dan dosen untuk  mengajarkan kepada generasi muda agar tidak takut terhadap perubahan. Ia juga mengkiritik terhadap orang yang kontra dengan perubahan kurikulum pendidikan.

“Jangan takut kurikulum pendidikan berubah, sebab perubahan itu juga untuk menyesuaikan dengan kebutuhan industri dan dunia yang dinamis,” kata Arief.

Guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu juga berharap agar pemerintah dan perguruan tinggi bisa mengajak pihak swasta untuk menyusun kurikulum yang tepat bagi perguruan tinggi.

“Kurikulum harus dibentuk juga oleh teman-teman dari swasta, sebab dari swasta kita jadi tahu pengalaman di lapangan dan itu merupakan guru paling hebat bagi mahasiswa,” ujarnya.

bird

 

the economist: IN 1998 Peter Mandelson, a leading member of Britain’s then Labour government, said he was “intensely relaxed about people getting filthy rich as long as they pay their taxes.” Today Lord Mandelson is more uptight; he worries about the rising inequality and stagnating middle-class incomes brought about by globalisation. His volte-face is typical of the global elite. The head of the IMF, Christine Lagarde, says that rising inequality casts a “dark shadow” over the global economy. A recent OECD report warns that rising inequality will be a “major policy challenge” for all countries.

In a new study, “Rich People, Poor Countries: The Rise of Emerging-Market Tycoons and their Mega Firms”, Caroline Freund of the Peterson Institute in Washington, DC, makes an important contribution to understanding this challenge. She draws a distinction between rich-world billionaires and those of the emerging economies, whose numbers have been rising at a faster rate. In 2004 the emerging world accounted for 20% of the 587 billionaires in Forbes magazine’s annual survey. By 2014 it accounted for 43% of the 1,645 billionaires on the list. In the rich world the share who were self-made, rather than heirs to a fortune, was fairly stable between 2001 and 2014, at about 60%. In the emerging world the self-made proportion rose from 56% to 79%.

Being self-made is not automatically a virtue. Some self-made tycoons acquire their fortunes through cronyish connections. But Ms Freund argues that the fastest-growing group of emerging-world billionaires consists of what might be called “Schumpeterian” entrepreneurs—people building or managing big companies that have to fight for their lives in global markets. The rise of this type of tycoon, she says, can be a healthy consequence of structural transformation and rapid development. When economies expand quickly—as they did in America in the late 19th century, say—they develop big firms that produce concentrations of wealth but that also contribute to broad growth by pioneering productive techniques and creating jobs. Such economies lift up those at the bottom of the income scale as well as enriching those at the top.

Ms Freund scrutinises the lists of billionaires, excludes those whose wealth was inherited and then classifies the self-made billionaires into four categories: those whose wealth came from government concessions and other forms of rent; those in finance or property; the founders of businesses that genuinely compete in the market; and highly paid executives at such Schumpeterian businesses. She treats only the last two categories as real entrepreneurs. In 2001 just 17% of all emerging-market billionaires made it into this classification; in 2014 roughly 35% did.

Among the leading examples is Terry Gou of Taiwan, who founded Hon Hai, an electronics giant (also known as Foxconn), in 1974 with just $7,500. Its massive expansion on the mainland has made it China’s biggest exporter, with a workforce of nearly 1m. Dilip Shanghvi founded Sun Pharmaceutical Industries in 1983 with a $1,000 loan from his father. It is now India’s largest drugmaker, with 16,000 workers and a market value of $29 billion. Zhou Qunfei started out working on the family farm in Hunan and was then a factory worker in Guangdong before starting a firm that makes touchscreens. Ms Zhou is now the world’s richest self-made woman. Her company, Lens Technology, employs 60,000 and is worth close to $12 billion. The American dream of going from rags to riches appears more achievable in developing Asia than in America itself, which seems ever more in thrall to vested interests.

The emergence of these goliaths is similar to the emergence of big companies in the United States and Europe in the late 19th and early 20th centuries, Japan in the 1950s and 1960s, and South Korea in the 1960s and 1970s. The comparison to America during the gilded age is particularly striking. Chinese tycoons such as Jack Ma of Alibaba and Robin Li of Baidu, two internet giants, are becoming fabulously wealthy by learning how to serve a huge new market in much the same way that Andrew Carnegie and John D. Rockefeller did with steel and oil. Tee Yih Jia Foods of Singapore has become a colossus of spring rolls by mechanising their production and improving marketing, much as H.J. Heinz did with sauces and pickles in 1890s Pittsburgh.

Where’s the anti-billionaire backlash?

There are significant regional variations in this happy picture. East Asia has the lion’s share of Schumpeterian billionaires, whereas Latin America still has a disproportionate share of inheritors, and South Asia and eastern Europe a continuing problem with cronyism. However, the anti-billionaire backlash that is such a marked feature of Western politics is, thus far, much less pronounced in the emerging world. This may be because emerging-market billionaires seem more dynamic: more than half of them are under 60 compared with less than a third in the rich world. But it is partly because ordinary people in the emerging world have been getting richer alongside the billionaires; in the rich world the masses have seen their incomes stagnate.

You can pick holes in Ms Freund’s arguments. The line between Schumpeterian and crony firms can be hard to draw in China, where the government exercises huge influence behind the scenes. And if a recent slowdown in emerging economies worsens, it may show that some entrepreneurial stars built their empires on sand. But if anything, she errs on the side of caution. She excludes financiers, even though they can also be wealth-creators; and heirs, even though some—such as Ratan Tata of India, who increased the value of the Tata group enormously—are Schumpeterians. Although cronyism is far from extinct, the emerging world has witnessed a big increase in the number of true entrepreneurs. They are a symptom of economic dynamism, not a cause of rising inequality.

 

reaction_1

NEW YORK – Warren Edward Buffett atau Warren Buffet dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia akibat keahliannya dalam hal investasi. Namun siapa menyangka, kemampuan Buffett dalam menciptakan nilai tambah suatu investasi ternyata sudah terlihat sejak dia kecil.

Seperti dilansir dari laman TIME, Selasa (10/11/2015), Buffett kecil ternyata pernah menjadi loper koran guna menambah uang sakunya ketika dia berusia 11 tahun. Dengan kombinasi keuletan serta kedisiplinan, Buffett sudah mampu meraup pendapatan sebesar USD175 per bulan atau Rp2.390.150 (kurs Rp13.658) dan bahkan melebihi guru-gurunya.

Menjadi seorang loper koran hanya salah satu dari pekerjaan yang pernah dijalankannya. Selain menjadi loper koran, Buffett kecil juga pernah menjual barang-barang bekas lainnya untuk tambahan uang sakunya.

Buffett kecil pernah menghasilkan pendapatan melalui penjualan bola golf bekas. Untuk mendapatkan bola golf bekas, dia memanfaatkan waktu luangnya untuk berkeliling lapangan golf untuk mencari bola-bola golf yang hilang.

Selain menjual bola golf bekas, dia juga menghasilkan pendapatan lainnya melalui penjualan perangko, menjadi jasa menggosok mobil, mendirikan sebuah bisnis mesin pinball, dan mengubah trayek balap kuda menjadi taman bermain yang menguntungkan.

Dengan demikian, dia berhasil meraup pendapatan sebesar USD53 ribu atau Rp723,8 juta (kurs Rp13.658) tepat saat dia berusia 16 tahun.
http://economy.okezone.com/read/2015/11/09/213/1246164/raup-rp723-juta-di-usia-16-tahun-ini-yang-dilakukan-warren-buffet
Sumber : OKEZONE.COM

dollar small

NEW JERSEY – Saham Berkshire Hathaway, perusahaan milik Warren Buffett, telah mengalami penurunan lebih dari 11 persen tahun ini. Lebih buruk lagi, saham Berkshire telah berada di bawah level yang diharapkan (underperform) dengan turun lebih dari 10 persen.

Penurunan harga saham Buffett ini menjadi sangat tidak biasa. Pasalnya, ketika indeks S&P meroket dan unggul, saham Berkshire malah cenderung underperform. Cukup mengherankan, mengingat rekam jejak Buffett yang selalu berhasil membuat investasinya naik dalam jangka waktu panjang.

Perlu dicatat bahwa ini akan menjadi tahun pertama bahwa saham Berkshire mengalami underperform di indeks S&P 500 sejak 1990, tidak termasuk 2011, ketika S&P turun kurang dari 0,05 persen. Tahun yang paling mencolok sejak 1999, ketika saham Berkshire turun 20 persen sedangkan S&P 500 naik dengan hampir jumlah yang sama.

Saham Berkshire adalah korban dari masa sulit untuk industri transportasi dan bisnis yang Buffett miliki. Selain itu, saham-saham terbesar Buffett, IBM dan American Express telah terpukul tahun ini, sementara saham Wells Fargo dan Coca-Cola bergerak flat. Selain itu, penurunan dalam harga energi telah memukul Buffett secara keras.

“Berkshire adalah salah satu operator terbesar dari portofolio minyak dan batu bara. Seperti harga komoditas telah turun, lokomotif besar Buffett jelas telah terkena dampaknya,” kata seorang analis, Macrae Sykes, seperti dilansir dari CNBC.

Meski demikian, sejak nilainya tertekan, Berkshire belum mampu menemukan hal-hal menarik untuk dilakukan dengan semua modal usahanya. Padahal, Buffett telah berhasil menjaga dirinya tetap bekerja tahun ini.

Sebut saja akuisisi USD37,2 miliar dari pemasok kedirgantaraan bernama Presisi Castparts pada Agustus. Meski begitu, Sykes menilai kesepakatan tersebut lebih mahal dibandingkan dengan standarnya.

Meski demikian, Buffett dan Berkshire Hathaway telah menghasilkan performa yang besar dan cukup memukau di setiap jangka waktu yang panjang.
http://economy.okezone.com/read/2015/11/19/278/1252544/miliarder-warren-buffett-telan-kerugian-terbesar-sejak-1999
Sumber : OKEZONE.COM

bird_bbri_unvr

NEW YORK – Empat ratus orang terkaya di Amerika Serikat (AS) memiliki total kekayaan sebesar USD2,34 triliun di 2015. Angka ini meningkat USD50 miliar dibandingkan tahun lalu.

Seperti dilansir dari Forbes, Rabu (30/9/2015), berikut ini adalah 50 miliarder teratas dari daftar yang 400 orang terkaya di Amerika.

1. Bill Gates

Dengan total kekayaan USD76 miliar, yang bersumber dari perusahaan software Microsoft.

2. Warren Buffett

Dengan total kekayaan USD62 miliar, yang bersumber dari perusahaan investasi Berkshire Hathaway.

3. Larry Ellison

Dengan total kekayaan USD47,5 miliar, yang bersumber dari perusahaan software Oracle.

4. Jeff Bezos

Dengan total kekayaan USD47 miliar, yang bersumber dari toko online Amazon.com.

5. Charles Koch

Dengan total kekayaan USD41 miliar, yang bersumber dari diversifikasi aset dan investasi.

6. David Koch

Dengan total kekayaan USD41 miliar, yang bersumber dari diversifikasi aset dan investasi.

7. Mark Zuckerberg

Dengan total kekayaan USD40,3 miliar, yang bersumber dari jejaring sosial Facebook.

8. Michael Bloomberg

Dengan total kekayaan USD38,6 miliar, yang bersumber dari perusahaannya Bloomberg LP.

9. Jim Walton

Dengan total kekayaan USD33,7 miliar, yang bersumber dari tokok ritel Wal-Mart.

10. Larry Page

Dengan total kekayaan USD33,3 miliar, yang bersumber dari perusahaan mesin pencari Google.

11. Sergey Brin

Dengan total kekayaan USD32,6 miliar, yang bersumber dari perusahaan mesin pencari Google.

12. Alice Walton

Dengan total kekayaan USD32 miliar, yang bersumber dari Wal-Mart.

13. S. Robson Walton

Dengan total kekayaan USD31,7 miliar, yang bersumber dari Wal-Mart.

14. Christy Walton & keluarga

Dengan total kekayaan USD30,2 miliar, yang bersumber dari Wal-Mart.

15. Sheldon Adelson

Dengan total kekayaan USD26 miliar, yang bersumber dari kasino.

16. George Soros

Dengan total kekayaan USD24,5 miliar, yang bersumber dari dana lindung nilai.

17. Phil Knight

Dengan total kekayaan USD24,4 miliar, yang bersumber dari perusahaan alat olahraga Nike.

18. Forrest Mars Jr

Dengan total kekayaan USD23,4 miliar, yang bersumber dari perusahaan permen.

 

18. Jacqueline Mars

Dengan total kekayaan USD23,4 miliar, yang bersumber dari perusahaan permen.

18. John Mars

Dengan total kekayaan USD23,4 miliar, yang bersumber dari perusahaan permen.

21. Steve Ballmer

Dengan total kekayaan USD21,6 miliar, yang bersumber dari Microsoft.

22. Carl Icahn

Dengan total kekayaan USD20,5 miliar, yang bersumber dari investasi.

23. Laurene Powell Jobs & keluarga

Dengan total kekayaan USD19,1 miliar, yang bersumber dari Apple dan Disney.

23. Michael Dell

Dengan total kekayaan USD19,1 miliar, yang bersumber dari Dell.

25. Anne Cox Chambers

Dengan total kekayaan USD18 miliar, yang bersumber dari media.

26. Paul Allen

Dengan total kekayaan USD17,8 miliar, yang bersumber dari investasi.

27. Len Blavatnik

Dengan total kekayaan USD17,7 miliar, yang bersumber dari diversifikasi dan investasi.

28. Charles Ergen

Dengan total kekayaan USD16,4 miliar, yang bersumber dari TV satelit.

29. Ray Dalio

Dengan total kekayaan USD15,3 miliar, yang bersumber dari dana lindung nilai.

30. Donald Bren

Dengan total kekayaan USD15,2 miliar, yang bersumber dari real estate.

31. Abigail Johnson

Dengan total kekayaan USD14,2 miliar, yang bersumber dari pengelolaan uang.

32. James Simons

Dengan total kekayaan USD14 miliar, yang bersumber dari dana lindung nilai.

33. Thomas Peterffy

Dengan total kekayaan USD13,5 miliar, yang bersumber dari broker diskon.

34. Elon Musk

Dengan total kekayaan USD13,3 miliar, yang bersumber dari Tesla Motors.

35. Patrick Soon-Shiong

Dengan total kekayaan USD12,9 miliar, yang bersumber dari obat-obatan.

36. Ronald Perelman

Dengan total kekayaan USD12,5 miliar, yang bersumber dari akusisi perusahaan.

37. Steve Cohen

Dengan total kekayaan USD12 miliar, yang bersumber dari dana lindung nilai.

38. David Tepper

Dengan total kekayaan USD11,6 miliar, yang bersumber dari dana lindung nilai.

38. Rupert Murdoch & keluarga

Dengan total kekayaan USD11,6 miliar, yang bersumber dari media.

38. Stephen Schwarzman

Dengan total kekayaan USD11,6 miliar, yang bersumber dari investasi.

41. John Paulson

Dengan total kekayaan USD11,4 miliar, yang bersumber dari dana lindung nilai.

42. Andrew Beal

Dengan total kekayaan USD11 miliar, yang bersumber dari bank, real estate.

43. Philip Anschutz

Dengan total kekayaan USD10,9 miliar, yang bersumber dari investasi.

44. Charles Butt & keluarga

Dengan total kekayaan USD10,7 miliar, yang bersumber dari supermarket.

45. Donald Newhouse

Dengan total kekayaan USD10,6 miliar, yang bersumber dari media.

46. Samuel Newhouse Jr

Dengan total kekayaan USD10,3 miliar, yang bersumber dari media.

47. Jack Taylor & keluarga

Dengan total kekayaan USD10,1 miliar, yang bersumber dari perusahaan sewa mobil, Rent-A-Car.

48. Eric Schmidt

Dengan total kekayaan USD9,9 miliar, yang bersumber dari Google.

 

49. John Menard Jr

Dengan total kekayaan USD9,2 miliar, yang bersumber dari retail.

50. Blair Parry-Okeden

Dengan total kekayaan USD9 miliar, yang bersumber dari media.
http://economy.okezone.com/read/2015/09/30/213/1223436/daftar-orang-paling-kaya-di-amerika-serikat
Sumber : OKEZONE.COM

long jump icon

Kenapa Makin Banyak Orang Kaya Baru Indonesia
Reformasi ekonomi dan politik telah menciptakan banyak orang kaya baru Indonesia.
KAMIS, 13 JANUARI 2011, 08:18 WIB Heri Susanto

VIVAnews – Kelas menengah Indonesia terus mengalami pertumbuhan pesat. Bahkan, dalam satu dekade dari 1999 hingga 2009, kelompok ini telah melonjak dua kali lipat dari 45 juta jiwa menjadi 93 juta jiwa.
Menurut ekonom Dradjad Hari Wibowo, ada sejumlah penyebab mengapa kelompok kelas menengah ini mengalami pertumbuhan pesat. Dradjad mengistilahkan mereka sebagai kelompok orang kaya baru Indonesia.
Pertama, tingkat pendidikan masyarakat Indonesia yang semakin membaik. Belakangan ini, semakin banyak penduduk yang mengenyam akses pendidikan sejak diberlakukannya wajib belajar dulu. “Makin banyak sarjana dan pasca sarjana,” kata Dradjad kepada VIVAnews di Jakarta, Kamis, 13 Januari 2011.

Kedua, reformasi ekonomi dan politik telah menciptakan banyak orang kaya baru terutama dari perkebunan, pertambangan khususnya batu bara dan sebagian kehutanan. Kalau sebelumnya akses terhadap kekayaan sumber alam hanya dikuasai kelompok terbatas, sekarang lebih meluas ke elit-elit politik, daerah, ormas.

“Tetapi, yang punya akses relatif terbatas juga, belum meluas ke rakyat juga,” kata dia.

Ketiga, imbas dari booming sektor keuangan, teknologi informasi dan industri kreatif menciptakan orang kaya baru dari kelompok muda. Kelompok ini perlu diperbesar.

Booming ini bukan hanya terjadi di sektor industri. Namun, sektor pertanian juga berkembang lebih pesat. Ini merupakan resep yang ampuh untuk mengentaskan penduduk miskin.

Namun, pertumbuhan kelas menengah tersebut masih disertai dengan ketimpangan yang cukup besar, terutama dengan buruh, petani dan nelayan.
“Jumlah penduduk miskin yang masih di atas 31 juta jiwa perlu jadi perhatian,” kata Dradjad.
Mengacu hasil survei Badan Pusat Statistik pada 1999 dan 2009, kelompok menengah-tengah meningkat hampir tiga kali lipat ,dari 7,5 juta menjadi 22 juta jiwa. Kelompok menengah-atas bahkan naik lima kali lipat dari 0,4 juta menjadi 2,23 juta jiwa. Sedangkan, kelompok berkecukupan naik 0,1 juta menjadi 0,37 juta jiwa.
Bursa Efek Indonesia (BEI) siap memberi sanksi terhadap PT Macquarie Capital Securities Indonesia (RX), menyusul sistem perseroan diaudit oleh pihak independen.

Menurut Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Wan Wei Yiong, pekan lalu RX sudah didampingi oleh auditor independen. Ppelaksanaan audit sendiri sudah rampung. BEI tinggal menetapkan sanksi dalam waktu dekat.

“Ada sanksi tapi belum ditetapkan. Mereka Sabtu-Minggu sudah didampingi oleh independent reviewer. Sistem selama ini sudah berjalan,” ujarnya.

Ia menambahkan, sanksi kepada Macquarie kemungkinan tidak akan diumumkan kepada publik. Namun, keputusan sanksi tetap akan dilaporkan kepada Bapepam, sehingga jika Macquarie tidak menerima keputusan BEI, perseroan dapat mengajukan banding.

“Dari sisi teknis sudah selesai dan tidak perlu dipermasalahkan,” jelasnya.

Menurutnya, selama ini penetapan sanksi BEI kepada Anggota Bursa (broker) terdiri dari empat tingkatan. Sanksi paling ringan adalah teguran tertulis, kemudian meningkat sanksi denda.

Teguran tertulis dan denda, tidak diumumkan kepada publik. Sedangkan dua sanksi lain yang dipublikasi adalah peringatan tertulis, serta penghentian perdagangan (suspensi). “Kemungkinan ini sanksi (kepada Macquarie ) tidak diumumkan ke publik,” ucapnya.

Seperti diketahui, BEI Senin (8/11/2010) memanggil manajemen PT Macquarie Capital Securities Indonesia (RX) untuk meminta klarifikasi soal adanya kesalahan input order saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Menurutnya, kesalahan order yang dilakukan oleh pialang Macquarie tidak membuat sistem perdagangan karena langsung dilakukan koreksi dengan segera. “Ini data real time, tapi langsung dikoreksi. Awalnya kita tahu karena orang dari Macquarie lapor ke kita dan langsung kita perbaiki,” jelas Yiong.

Berdasarkan data transaksi perdagangan BEI seperti dikutip detikFinance akhir pekan lalu atau Jumat (5/11/2010), RX tercatat memasukkan order sebanyak 2.000 lot atau 1 juta lembar saham ICBP pada pukul 15.46.11 waktu JATS.

Transaksi terjadi di pasar negosiasi melalui mekanisme tutup sendiri (crossing). Harga per saham yang dimasukkan sebesar Rp 46.303.884 per saham, sehingga total order tersebut mencapai Rp 46,303 triliun. Kesalahan ini menyebabkan nilai transaksi IHSG membengkak tajam menjadi Rp 52,180 triliun.

Sumber: detikcom

long jump icon

Pentingnya menjadi pengusaha muda
OLEH IQBAL FARABI Wakil Ketua Komite Tetap Telematika Kadin Indonesia

Perekonomian baik bila peran swasta & masyarakat dominan Pemuda sering diiden tikkan sebagai orang yang sedang mencari jatidiri dan menyukai hal hal yang berbau tan tangan. Konsekuensi nya, mereka mudah sekali terkena dampak ne gatif dari suatu ling kungan.
Pemuda yang baik akan memilih lingkungan yang tepat dan mengelimi nasi dampak negatif dari lingkungan sekitarnya. Sikap tersebut pada akhirnya akan membentuk mental yang kuat sebagai bekal menjadi seorang pengusaha.

Pilihan menjadi seorang pengusaha mengandung banyak risiko yang terkadang lebih besar dibandingkan orang yang hanya memilih karier sebagai karyawan. Tetapi hal tersebut merupakan trade-off karena dalam ilmu ekonomi ada pepatah high riskhigh return (semakin besar risiko yang kita hadapi maka semakin besar imbalan yang dapat kita terima).

Fenomena ini jangan membuat kita takut untuk maju, tetapi harus menjadi suatu tantangan yang harus dijawab oleh semua para pengusaha maupun calon pengusaha. Banyak hal positif yang dapat diambil sebagai imbas keputusan untuk menjadi seorang pengusaha muda–selain keuntungan yang bersifat materi.

Dengan menjadi seorang pengusaha, maka secara otomatis kita akan berperan penting dalam jalannnya roda perekonomian.
Sebab secara otomatis pengusaha akan memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat dan me ningkatkan GDP di negaranya.

Menjadi pengusaha juga memperluas kesempatan untuk menambah jaringan (network), sehingga secara otomatis semakin menyambung tali silaturahim tanpa mengesampingkan kerja sama yang saling menguntungkan.

Penulis pernah mendapat wejangan dari seorang guru bahwa sebaik-baik rezeki adalah rezeki yang juga mendatangkan manfaat bagi orang lain. Dengan demikian, hanya dengan menjadi pengusaha hal ini dapat ini dapat diwujudkan.

Menjadi pengusaha juga sangat dianjurkan oleh agama dan juga contohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Hal-hal tersebut cukup menjelaskan pentingnya menjadi pengusaha, baik dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Partisipasi pengusaha dalam perekonomian nasional pada hakikatnya di topang oleh tiga pilar (the three pillars) yaitu pemerintahan, swasta (pengusaha) dan masyarakat (rakyat).

Suatu sistem perekonomian yang baik terjadi apabila peran serta masyarakat dan pengusaha lebih dominan dibandingkan dengan peran pemerintah.
Mengapa harus seperti itu?
Kalau kita identifikasi peran pemerintah dalam perekonomian adalah sebagai regulator dan pembuat kebijakan.

Peran swasta adalah pelaksana dan penggerak perekonomian. Sedangkan masyarakat sebagai pelaku berfungsi mengawasi pelaksanaan kebijakan pemerintah.

Oleh karena itu, di sini pe nulis BISNIS/ILHAM NISABAN menitikberatkan pada peran pengusaha/swasta sebagai peng gerak perekonomian, khususnya pengusaha muda. Mangapa peran pengusaha muda begitu perting?
Jawabannya karena mereka merupakan cikal bakal pengusa ha yang akan membalik paradig ma Indonesia. Saat ini paradigma pembangunan nasional adalah pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh besarnya belanja pemerintah.
Berperan ganda Pengusaha muda dapat berperan ganda yaitu di satu sisi sebagai pengger ak perekonomian, di sisi lain juga sebagai pengawas jalannya roda perekonomian.

Pengusaha muda diharapkan dapat men jadi cikal bakal peng usaha yang memegang role/ peranan penting dalam perekonomian nasional–walaupun mere ka identik dengan istilah UMKM (usaha mikro kecil dan menengah).
A Peran pengusaha muda juga siknifikan karena dapat meng gerakkan perekonomian, khu susnya di daerah yang luput dari perhatian pemerintah pusat.

Label pengusaha kecil jangan membuat para pengusaha muda terlena. Memang istilah pengusa ha UMKM sebaiknya diganti dengan UBB (usaha bakal besar) di mana akan menimbulkan semangat yang lebih tinggi dari para pengusaha untuk memacu diri menggapai yang terbaik.

Ke depan, pengusaha muda diharapkan semakin berperan dalam menjalankan perekonomian dengan tetap memegang prinsip melakukan yang terbaik untuk bangsa dan negara.

Setiap usaha yang dilakukan oleh pengusaha tidak akan optimal jika tidak ada dukungan yang baik dari pemerintah.
Peran pemerintah di sini dapat dibagi dua jenis yaitu sebagai regulator dan sebagai penyedia layanan serta fasilitas.

Sebagai regulator, pemerintah harus menjamin terciptanya iklim usaha yang baik dan keamanan yang kondusif untuk mendorong peningkatan investasi di dalam negeri.

Pemerintah juga diharapkan mampu melakukan pembenahan terhadap infrastruktur dan fasilitas publik yang menentukan kelancaran operasional perusahaan baik untuk sektor privat maupun pemerintah itu sendiri.

Salah satu caranya adalah pemerintah melakukan pendekatan money follow function.
Setiap pajak atau retribusi yang dibayarkan oleh masyarakat-yang menggunakan fasilitas negara–dipakai untuk merawat dan membangun fasilitas tambahan, sehingga ada kesediaan yang tinggi dari masyarakat untuk selalu menjalan kan setiap kewajibannya kepada negara.

Dua hal tadi semestinya diperhatikan oleh pemerintah supaya ada kesinambungan dan hubungan mutualisme antara pemerintah dan swasta.

Karena semakin besar sekup usaha sektor swasta, maka secara tidak langsung akan meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak.

Dengan demikian, pergerakan ekonomi yang dilakukan sektor swasta bisa mengurangi jumlah pengangguran, sehingga dapat meningkatkan indikator pertumbuhan ekonomi nasional. Setiap artikel yang dikirim ke redaksi hendaknya diketik dengan spasi ganda maksimal 5.000 karakter, disertai riwayat hidup (curriculum vitae) singkat tentang diri penulis. Artikel yang masuk merupakan hak redaksi Bisnis Indonesia dan dapat diterbitkan di media lain yang tergabung dalam Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI). Apabila lebih dari 1 minggu artikel yang diterima belum diterbitkan tanpa pemberitahuan lain dari redaksi, penulis berhak mengirimkannya ke media lain. Setiap tulisan yang dimuat merupakan pendapat pribadi penulis.

long jump icon
… gw SETUJU ABIS DENGAN RENCANA BERIKUT:
Setelah Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) menetapkan peraturan tentang Pengeluaran saham dengan nominal saham berbeda, institusi ini mempunyai rencana besar untuk menghapuskan nilai nominal saham. Bapepam LK berpikir, nilai nominal saham berbeda tidak relevan di pasar modal.

Menurut Fuad Rachmany, Ketua Bapepam LK, nilai nominal bukanlah hal penting. “Mau nominal Rp 50, Rp 100, Rp 300, it’s doesn’t matter,” katanya. Menurut Fuad, ke depannya, Bapepam LK akan mengarah pada penghapusan nilai harga nominal.

Tapi sayang, belum ada pembahasan secara gamblang mengenai hal ini. Jika rencana tersebut dijalankan, akan banyak hal yang harus diubah pada aturan pasar modal. Sejatinya, nominal saham ini berguna untuk menentukan modal perusahaan.

Ketua Asosiasi Emiten Indonesia, Erlangga Hartanto menjelaskan, semua perusahaan punya nominal saham untuk penentuan modal perusahaan. “Tanpa nominal saham, besaran modal menjadi tidak jelas,” terang Erlangga. Sehingga, dia menilai, penghapusan nilai nominal saham akan menjadi masalah tersendiri nantinya.

Penerbitan nilai nominal saham biasanya dilakukan di awal pendirian perusahaan. Atau bisa juga dilakukan pada aksi korporasi lain yang berkaitan dengan saham. Hanya pada saat IPO, saham bisa dibedakan menjadi beberapa kelas. Misalnya saham kelas A dan B dengan nilai nominal berbeda. Fungsi dari nominal saham berbeda ini, menurut Erlangga, untuk membedakan founder shareholder dan strategic investor pada saat rights issue.

Sumber : KOMPAS.COM

long jump icon

Selasa, 16/11/2010 07:40 WIB
Wall Street ‘Ramai’ oleh Kabar Akuisisi
Nurul Qomariyah – detikFinance

New York – Saham-saham di bursa Wall Street ditutup mixed, di tengah beragamnya data dan juga mencuatnya sejumlah rencana merger dan akuisisi. Indeks saham beragam dalam transaksi perdagangan yang sangat tipis.

Mengawali perdagangan, saham-saham sempat bergerak menguat setelah data menunjukkan angka penjualan ritel meningkat lebih cepat dari ekspektasi selama Oktober. Sektor otomotif memimpin penjualan. Menurut BPS AS, sektor ritel dan jasa makanan meningkat 1,2% dibandingkan September menjadi lebih dari US$ 373 miliar. Angka itu juga lebih tinggi dari ekspektasi analis sebesar 0,7%.

“Secara keseluruham, laporan angka penjualan ritel adalah data kunci lain yang menyatakan perekonomian AS berada pada jalur pertumbuhan yang menjadi potensi untuk menghasilkan beberapa kejutan positif,” ujar Patrick O’Hare, analis dari Briefing.com seperti dikutip dari AFP, Selasa (16/11/2010).

Pada perdagangan Senin (15/11/2010), indeks Dow Jones ditutup menguat tipis 9,39 poin (0,08%) ke level 11.201,97. Indeks Standard & Poor’s 500 melemah 1,46 poin (0,12%) ke level 1.197,75 dan Nasdaq melemah 4,39 poin (0,17%) ke level 2.513,82.

Namun sentimen itu selanjutnya tergerus oleh data yang menunjukkan sektor manufaktur negara bagian New York yang secara mengejutkan merosot selama November. Ini adalah pertama kalinya terjadi kontraksi sejak Juli 2009, ketika perekonomian AS mulai keluar dari resesi.

Para pialang juga mendapatkan sentimen dari rencana akuisisi Caterpillar senilai US$ 8,6 miliar. Produsen alat berat terbesar dunia itu menyatakan akan membeli Bucyrus International dalam sebuah kesepakatan untuk memasuki pasar emerging. Saham Bucyrus langsung melonjak 30%, saham Caterpillar naik 1%.

Kabar akuisisi lain adalah produsen alat penyimpan data EMC yang mengatakan akan membeli rivalnya, Isilon senilai US$ 2,2 miliar. Saham EMC turun 1,2% dan Isilon melonjak 28,5%.

Saham BHP Billiton melonjak 0,8% setelah raksasa pertambangan itu mengumumkan telah membatalkan rencana akuisisi produsen pupuk Potash senilai US$ 39 miliar.

Namun perdagangan berjalan sangat tipis dengan transaksi di New York Stock Exchange hanya sebesar 6,71 miliar lembar saham, di bawah estimasi rata-rata tahun lalu yang sebesar 9,65 miliar lembar saham.

(qom/qom)

long jump icon

Senin, 15/11/2010 05:24:33 WIB
40 Emiten diminta tambah porsi saham publik
Oleh: Stefanus Arief Setiaji
JAKARTA: Bursa Efek Indonesia (BEI) mendorong sekitar 40 emiten dengan porsi saham publik di bawah 10%, untuk melepas kepemilikannya melalui skema rights issue, seiring bergairahnya pasar modal dalam negeri.

Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan himbauan kepada para emiten tersebut sudah disampaikan sejak tahun lalu dengan tujuan agar valuasi saham emiten tersebut meningkat dan terbentuk harga saham yang wajar.

“Kami sudah himbau sekitar 40 emiten yang kepemilikan publiknya masih di bawah 10% untuk meningkatkan porsinya. Ada beberapa yang sudah menambah. Ini sifatnya himbauan,” ujarnya.

Menurut dia, para emiten ini harus memanfaatkan momentum pasar modal dalam negeri yang tengah bergairah, ditandai dengan semakin maraknya perusahaan yang mengincar dana segar melalui instrumen pasar bursa.

Selain itu, dia menuturkan bursa Indonesia tengah dibanjiri dana dari para investor asing yang memilih melakukan investasi di Indonesia. “Kenapa kita dorong untuk melepas porsi kepemilikannya, karena saat ini momentumnya tepat ketika banyak dana yang mengalir di pasar modal,” ungkapnya.

Sebagai gambaran, Ito membandingkan selisih beli oleh investor asing (net foreign buy) per September tahun ini mencapai lebih dari Rp20 triliun. Artinya, investor asing yang menanamkan modal di pasar bursa Indonesia optimistis dengan perkembangan pasar saat ini, sehingga tidak menarik modalnya secara cepat.

Jika mengacu data Januari-Oktober 2010, net foreign buy telah mencapai Rp20,88 triliun. Sejumlah emiten yang porsi kepemilkan saham publiknya masih di bawah 10% di antaranya PT Bank Agroniaga Tbk, PT HM Sampoerna Tbk, PT Aqua Golden Mississipi Tbk, PT Asuransi Bintang Tbk dan lainnya.(yn)

long jump icon

What You Should Know Before You Retire
Experts share some of the best ways to plan for retirement in a post-recession world.
by Julie HalpertNovember 11, 2010
Angela Jimenez / Getty Images

By the end of 2010 roughly 2.3 million people are expected to retire, according to the Social Security Administration. But on the heels of one of the country’s worst economic crises, this group of future retirees is facing far grimmer golden years. Instead of looking forward to ritualistic rounds of golf and travel to exotic places, many of them find themselves concerned that their money may not hold out for the duration of their life. According to a 2010 survey by the Employee Benefit Research Institute, 35 percent of Americans—up from 30 percent just a year ago—feel financially ill-prepared for retirement. “A distressing number [of Americans] have no savings at all,” says Jack VanDerhei, a coauthor of the survey. So how can you be sure you’re in the best position to take the plunge and leave the workforce? NEWSWEEK consulted a variety of experts, who shared some of the best ways to plan for retirement in a post-recession world.

Run a projection.
You need to know what your retirement expenses will be, and that your retirement income will cover them. There are two good ways to do this: use a retirement calculator or hire a certified financial adviser. If you plan to use a calculator, Teresa Ghilarducci, Bernard Schwartz professor of economics at the New School for Social Research, suggests using ones that presumes a zero rate of return on investments. Some good examples can be found at Choose to Save and at AARP. Or check to see whether your financial-services provider offers a calculator that can preload your information. If you would rather have a professional do the work, then consider hiring a fee-for-service financial adviser.

Once you pick a way to get projections, it’s important to distinguish between guaranteed sources of income, like pensions, and those that fluctuate over time, like 401(k)s, says Jean Setzfand, director of financial security for AARP. Then make sure the guaranteed income sources can cover your basic living expenses, like home-maintenance costs, food, and medicine.

Assess future health-care costs
According to a recent University of Michigan Law School study, medical costs are a major contributor to bankruptcy among older Americans. So it’s critical to pay special attention to this expense. Setzfand says that an important part of planning for long-term care is deciding how you’ll pay for it, since Medicare coverage will not cover most of these services. For help with the process of factoring in these costs, an estate attorney or a financial planner is the best bet.

Pay down debt.
Don’t even think about retirement until you can pay down any nondeductible debt you have, such as credit cards and car loans, says Bill Losey, a certified financial planner. If possible, Losey suggests you also pay off your mortgage, but if you can’t, make sure it’s your only outstanding debt.

Consider downsizing.
For most people, their house is their largest asset and biggest expense. Selling it and moving to a smaller residence frees up money, plus it saves on real-estate taxes, insurance, and maintenance costs, says Steven Sass, program director for the Center for Financial Literacy at Boston College. You could also consider relocating to an area with a lower cost of living, like the Sun Belt. Although it’s not the best time to sell, your home may still be worth more than one in another area. By moving from San Diego to Arizona, for example, you can reduce your cost of living by 40 percent, says Jonathan Pond, AARP’s financial ambassador.
Got God, Need Job A Connecticut church offers job seekers sandwiches, support, and networking, while a Jewish congregation encourages reluctant entrepreneurs

Hit the reset button on retirement.
There are several reasons to postpone retirement, the biggest being an added layer of safety to your nest egg. Already, the economy has caused the average person to delay retirement for three to five years, says Jim Firman, president and CEO of the National Council on Aging. But it can really pay off. For example, you can double your monthly income from Social Security and retirement by delaying retirement for eight years. Don’t want a full-time job? Working part time for an additional five years can increase your total post-retirement lifetime income by 40 percent.

Make a post-retirement résumé.
If everything goes according to plan and you retire with a comfortable amount of savings, you should still update your résumé in case you need to re-enter the workforce. John Nelson, author of What Color Is Your Parachute? For Retirement, suggests turning your leisure pursuits into transferable skills. For example, you can emphasize the leadership abilities you developed by running a local committee or club. Also, stay in touch with your professional network since you’re more likely to find a better job through your previous work contacts.

Jesse Palti Tampubolon

long jump icon

Jangan Takut Bermain Saham
inilah.com/Ahamad Munjin
Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal – Rabu, 10 November 2010 | 18:18 WIB
INILAH.COM, Jakarta – Jesse Palti Tampubolon, nasabah BNI Securities mengharapkan masyarakat agar tidak takut bermain saham. Sebab, rasa takut justru menyebabkan orang jauh dari pasar.

Orang jangan terlalu takut bertransaksi saham. Waspada boleh untuk masuk ke pasar modal. Jangan melihat pasar modal menakutkan sehingga harus menghindar, kata Jesse Palti Tampubolon, nasabah BNI Securities kepada INILAH.COM di sela acara Investor Summit & Capital Market Expo 2010, di The Ritz-Carlton Pacipic Place, Jakarta, Rabu (10/11).

Menurutnya, banyak orang yang merasa tidak cocok dengan atmosfir pasar modal. Terutama dari sisi transaksi atau mekanisme perdagangan, serta risiko yang terlalu tinggi. Namun, ia menilai hal ini disebabkan cara pandang masyarakat Indonesia yang belum mencakup semua aspek di pasar modal.
Karena itu, mereka terkendala untuk masuk ke pasar modal, ucapnya.

Jesse mengakui, calon investor kerap merasa, bahwa berinvestasi di saham selalu dibayangi adanya pihak yang bermain. Kekhawatiran akan isu goreng saham atau insider trading kadang jadi penghambat mereka masuk ke pasar modal, Padahal, itu belum tentu terbukti, ucapnya.

Ia pun memberi contoh aksi menimbun aset, yang sering ditakutkan calon investor, tidak hanya terjadi di pasar modal. Namun juga di sektor riil. Biasanya kan kita juga dengar ada yang menimbun barang di gudang kan. Sama saja itu,ucapnya.

Karena itu ia mengharapkan media bisa mendorong agar nasabah lebih memahami sudut demi sudut pasar modal. Di antaranya, dengan memberikan informasi bursa dari bursa-bursa regional, pusat keuangan dunia, Eropa, dan produk apapun yang bisa men-triger pasar. Artinya, informasi-informasi itu perlu masyarakat umum tahu. Informasi dari media sangat berharga. Media juga harus mengetahui prioritas informasi yang harus diberikan ke masyarakat pasar modal, ungkapnya.

Bagaimanapun, Jesse menilai, transaksi di pasar modal merupakan pilihan dan tergantung bagaimana investor menyikapinya. Kalau ingin gain yang cepat dan banyak, pasar modal bisa untuk investasi. Tapi kalau ingin transaksi yang smooth , pasar modal kurang pas, tutupnya. [ast]

long jump icon

Kembangkan Aset dengan Wealth Management
Rabu, 10 November 2010 – 10:24 wib

Bagi kalangan berduit, mengelola kekayaan yang jumlahnya relatif besar merupakan sebuah perkara yang tidak mudah. Layanan wealth management bisa jadi solusinya.

Perencana Keuangan dari Financial Consulting Eko Endarto mengungkapkan, pada dasarnya wealth management hampir sama dengan perencanaan keuangan. Hanya saja difokuskan kepada masyarakat yang memiliki penghasilan besar dengan fokus bukan saja investasi tetapi juga ingin mengembangkan aset.

Menurut Eko, saat ini masyarakat mudah untuk mendapatkan layanan wealth management, pasalnya hampir semua perbankan memiliki produk wealth management. Produk yang dikeluarkan tentu lebih bersifat personal. “Tentu saja, untuk golongan masyarakat ini, perbankan memberikan berbagai fasilitas khusus dan memadai,” katanya kemarin.

Kondisi ini, kata dia, sangat berbeda dengan yang terjadi di luar negeri. Di mana masyarakatnya lebih menyukai mempergunakan jasa lembaga independen wealth management yang dianggap lebih bebas dari kepentingan. “Padahal belum tentu sesuai dengan profil investasi nasabah,” paparnya.

Eko menjelaskan, masyarakat bisa saja mengelola sendiri kekayaan yang dimilikinya tanpa mempergunakan jasa lembaga perbankan. Namun, karena keterbatasan waktu yang dimiliki masyarakat, maka ada baiknya kekayaan tersebut dikelola pada institusi yang tepat.

“Belum ditambah dengan minimnya informasi sehingga kalau salah menempatkan kekayaan yang dimiliki, malah akan mengurangi nilai kekayaan. Itulah kenapa dibutuhkan strategi planner yang mumpuni,” katanya.

Dengan menempatkan kekayaan pada lembaga wealth management, lanjut dia, masyarakat bisa lebih mengetahui risiko-risiko yang dihadapi. Khususnya berbagai produk yang bisa menghasilkan keuntungan lebih tinggi dari pada tingkat inflasi. ”Bisa reksa dana, produk derivatif atau properti,” bebernya.

Perencana keuangan dari Mr Edu Mike Rini menerangkan, jasa di bidang wealth management ada karena banyak orang kaya yang ingin mengembangkan kekayaannya.

Untuk itu, perbankan sebagai produsen layanan wealth management harus menciptakan fitur layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah. Menurut Rini, pada tahun depan, produk wealth management yang masih dicari adalah yang bisa meningkatkan pertumbuhan kekayaan, namun tetap aman. Beberapa produk yang menawarkan hal seperti itu adalah fix income dan obligasi.

Dihubungi terpisah, Chief Research Officer Capital Price Roy Sembel menjelaskan, pendapatan perkapita penduduk Indonesia sudah semakin meningkat, bahkan diperkirakan mencapai USD3.000.

Tentu tidak salah kalau, semakin banyak masyarakat yang mengamankan kekayaannya kepada lembaga wealth management. ”Produk standar seperti tabungan dan deposito sudah tidak menarik lagi. Bunganya rendah dan kalah dari tingkat inflasi,” ungkapnya.

Kalaupun mempergunakan tabungan, kata dia, itu hanya untuk kepentingan jangka pendek. Sedangkan jangka panjang mempergunakan produk wealth management. Misalkan produk asuransi, atau futures. Bahkan untuk melengkapi hidupnya, sejumlah kalangan masyarakat juga mulai mengikuti perusahaan jasa warisan.

Tujuannya agar kelak, anak-anaknya bisa menikmati dan mewarisi kekayaan yang dimiliki. Ada baiknya masyarakat tidak hanya mengelola kekayaan yang dimiliki pada produk wealth management, tapi juga masuk ke sektor riil, seperti pertambangan dan komoditas. Agar ada keseimbangan dan keuntungan yang diperoleh bisa lebih maksimal.

”Saya selalu mengatakan perlu ada diversifikasi dalam mengelola kekayaan. Masuk ke sektor riil juga merupakan salah satu bentuk diversifikasi,” katanya. (hermansah/didik purwanto)(Koran SI/Koran SI/ade)

long jump icon

Enam Kiat Miliarder Top Yang Bisa Ditiru
Mereka bisa berfoya-foya dengan uang yang mereka miliki. Namun, mereka memilih hemat.
Selasa, 9 November 2010, 05:00 WIB
Antique, Nur Farida AhniarVIVAnews – Miliarder memang identik dengan kepemilikan uang “segunung”. Mereka bisa membelanjakan kekayaannya atau berfoya-foya sesuka hati. Bahkan, seolah-olah tak bakal habis meski sang miliarder sudah tutup usia.Simak saja misalnya, Carlos Slim Helu, konglomerat di bidang telekomunikasi. Menurut majalah Forbes, ia memiliki kekayaan US$60,6 miliar. Dengan asumsi tidak ada perubahan kekayaan, ia bisa menghabiskan US$1.150 per menit hingga 100 tahun ke depan sebelum ia kehabisan uang.Namun, Carlos memilih hidup berhemat. Dia, seperti beberapa contoh miliarder top dunia lainnya, juga tidak gemar berfoya-foya menghabiskan uangnya. Bahkan, beberapa sikap dan perilaku miliarder pun bisa dicontoh. Berikut beberapa contoh yang bisa ditiru:1. Tetap tinggal di rumah sederhanaSeorang miliarder mampu tinggal di apartemen yang paling ekslusif lebih dari yang Anda bayangkan. Seperti Bill Gates yang memiliki luas rumah 66.000 kaki persegi, senilai US$147,5 juta di Medina-Washington.Namun miliarder hemat seperti Warren Buffet memilih untuk tetap tinggal di rumah yang sederhana. Ia tinggal di rumah dengan lima kamar tidur di Omaha yang dibeli pada 1957 sebesar US$31.500.2. Gunakan transportasi publikMiliarder hemat seperti John Caudwell, David Cheriton dan Chuck Feeney memilih untuk jalan kaki, mengendarai sepeda, dan menggunakan transportasi publik untuk berkeliling kota.Tentu saja orang kaya itu bisa menggunakan helikopter untuk pertemuan jamuan makan siang atau naik mobil Bentleys dengan dikemudikan sopir, namun mereka memilih sedikit berolahraga atau menggunakan angkutan umum. Ini menguntungkan untuk berhemat, sekaligus juga baik untuk lingkungan.3. Membeli pakaian dari rak malBeberapa orang memakai pakaian dengan disainer ternama, namun beberapa miliarder hemat memutuskan menggunakan baju simpel, karena menurutnya baju yang mahal tidak sebanding dengan usaha mereka.Anda dapat menemukan Cheriton, profesor Stanford, pendiri Google Sergey Brin dan Larry Page yang mengenakan jins dan T shirt.Invard Kampard, pendiri perusahaan furnitur Ikea juga menghindari memakai jas, dan miliarder ponsel Caudwell membeli pakaiannya dari rak toko baju dibanding menghabiskan kekayaan dari perancang.4. Gunakan salon biasa untuk memotong rambut.

Biaya rata-rata untuk memotong rambut sekitar US$45 di Amerika, namun orang kaya dapat menghabiskan US$800 untuk mengganti model rambut. Jika dikalikan setiap enam minggu selama satu tahun, maka akan menghabiskan US$7.200. Itu tidak termasuk dengan tip.

Para miliarder itu dapat mengganti model rambutnya dengan mode paling gaya dan tarif mahal di salon mewah. Tetapi, miliarder seperti Caudwell dan Cheriton memilih memotong rambut sendiri di rumah.

5. Mengendarai mobil biasa

Sementara itu, miliarder seperti Larry Ellison (pendiri dan CEO Oracle) gemar menghabiskan jutaan uang untuk mobil, kapal, dan pesawat tapi yang lain tetap rendah hati dengan menggunakan kendaraan pilihannya.

Jim Walton (keluarga Wal Mart) mengendarai truk pick up selama 15 tahun. Azin Preji, taipan India mengendarai Toyota Corolla. Sedangkan Kamprad dari Ikea, mengendarai mobil volvo selama 10 tahun.

Mereka berpendapat, daripada untuk membeli mobil, lebih baik memilih membeli tanah. Tidak perlu mengendari mobil yang berganti dalam seminggu.

6. Hindari membeli barang mewah

Mungkin ini mengejutkan bagi kita, namun orang terkaya di dunia, Slim-orang yang bisa menghabiskan lebih dari US$1.000 per menit ternyata tidak memiliki kapal pesiar atau pesawat.

Namun, banyak miliarder lainnya memilih menghindari barang mewah. Buffet juga menghindari barang mewah kendati materi berlimpah. Menurutnya, “mainan itu kebanyakan menyebabkan sakit leher.”
• VIVAnews

long jump icon

Enam Kiat Miliarder Top Yang Bisa Ditiru
Mereka bisa berfoya-foya dengan uang yang mereka miliki. Namun, mereka memilih hemat.
Selasa, 9 November 2010, 05:00 WIB
Antique, Nur Farida Ahniar

VIVAnews – Miliarder memang identik dengan kepemilikan uang “segunung”. Mereka bisa membelanjakan kekayaannya atau berfoya-foya sesuka hati. Bahkan, seolah-olah tak bakal habis meski sang miliarder sudah tutup usia.

Simak saja misalnya, Carlos Slim Helu, konglomerat di bidang telekomunikasi. Menurut majalah Forbes, ia memiliki kekayaan US$60,6 miliar. Dengan asumsi tidak ada perubahan kekayaan, ia bisa menghabiskan US$1.150 per menit hingga 100 tahun ke depan sebelum ia kehabisan uang.

Namun, Carlos memilih hidup berhemat. Dia, seperti beberapa contoh miliarder top dunia lainnya, juga tidak gemar berfoya-foya menghabiskan uangnya. Bahkan, beberapa sikap dan perilaku miliarder pun bisa dicontoh. Berikut beberapa contoh yang bisa ditiru:

1. Tetap tinggal di rumah sederhana

Seorang miliarder mampu tinggal di apartemen yang paling ekslusif lebih dari yang Anda bayangkan. Seperti Bill Gates yang memiliki luas rumah 66.000 kaki persegi, senilai US$147,5 juta di Medina-Washington.

Namun miliarder hemat seperti Warren Buffet memilih untuk tetap tinggal di rumah yang sederhana. Ia tinggal di rumah dengan lima kamar tidur di Omaha yang dibeli pada 1957 sebesar US$31.500.

2. Gunakan transportasi publik

Miliarder hemat seperti John Caudwell, David Cheriton dan Chuck Feeney memilih untuk jalan kaki, mengendarai sepeda, dan menggunakan transportasi publik untuk berkeliling kota.

Tentu saja orang kaya itu bisa menggunakan helikopter untuk pertemuan jamuan makan siang atau naik mobil Bentleys dengan dikemudikan sopir, namun mereka memilih sedikit berolahraga atau menggunakan angkutan umum. Ini menguntungkan untuk berhemat, sekaligus juga baik untuk lingkungan.

3. Membeli pakaian dari rak mal

Beberapa orang memakai pakaian dengan disainer ternama, namun beberapa miliarder hemat memutuskan menggunakan baju simpel, karena menurutnya baju yang mahal tidak sebanding dengan usaha mereka.

Anda dapat menemukan Cheriton, profesor Stanford, pendiri Google Sergey Brin dan Larry Page yang mengenakan jins dan T shirt.

Invard Kampard, pendiri perusahaan furnitur Ikea juga menghindari memakai jas, dan miliarder ponsel Caudwell membeli pakaiannya dari rak toko baju dibanding menghabiskan kekayaan dari perancang.

4. Gunakan salon biasa untuk memotong rambut.

Biaya rata-rata untuk memotong rambut sekitar US$45 di Amerika, namun orang kaya dapat menghabiskan US$800 untuk mengganti model rambut. Jika dikalikan setiap enam minggu selama satu tahun, maka akan menghabiskan US$7.200. Itu tidak termasuk dengan tip.

Para miliarder itu dapat mengganti model rambutnya dengan mode paling gaya dan tarif mahal di salon mewah. Tetapi, miliarder seperti Caudwell dan Cheriton memilih memotong rambut sendiri di rumah.

5. Mengendarai mobil biasa

Sementara itu, miliarder seperti Larry Ellison (pendiri dan CEO Oracle) gemar menghabiskan jutaan uang untuk mobil, kapal, dan pesawat tapi yang lain tetap rendah hati dengan menggunakan kendaraan pilihannya.

Jim Walton (keluarga Wal Mart) mengendarai truk pick up selama 15 tahun. Azin Preji, taipan India mengendarai Toyota Corolla. Sedangkan Kamprad dari Ikea, mengendarai mobil volvo selama 10 tahun.

Mereka berpendapat, daripada untuk membeli mobil, lebih baik memilih membeli tanah. Tidak perlu mengendari mobil yang berganti dalam seminggu.

6. Hindari membeli barang mewah

Mungkin ini mengejutkan bagi kita, namun orang terkaya di dunia, Slim-orang yang bisa menghabiskan lebih dari US$1.000 per menit ternyata tidak memiliki kapal pesiar atau pesawat.

Namun, banyak miliarder lainnya memilih menghindari barang mewah. Buffet juga menghindari barang mewah kendati materi berlimpah. Menurutnya, “mainan itu kebanyakan menyebabkan sakit leher.”
• VIVAnews

… he3, kok mirip yang gw anut seh 🙂

 

cinta terlarang: Warren Buffett with love as always… 26 September 2017

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 1:23 am

rounding pen

marketwatch: An “efficient” stock market is a fair game in the sense that no investor can beat the market because they know something other investors don’t know. The so-called efficient market hypothesis, for instance, essentially states that what anyone knows isn’t worth knowing. The presumption is that stock prices take into account all information so that no investor can take advantage of other people’s ignorance.

Some investors do compile outstanding records. However, consider this coin-calling experiment: Suppose there are 32 players and half predict “heads” for the first flip while half predict tails. The coin is flipped and lands heads, making the first half right. The 16 people who were right then predict a second flip, with half saying heads and the other half tails. It comes up tails and the eight who have been right twice in a row now try for a third time. Again, half of them predict heads and half tails, and the coin lands tails again.

Now the remaining four who were right divide again on whether the next flip will be heads or tails. The result is tails and we’re down to two. One calls heads and the other tails. It is heads and we have our winner — the one who correctly predicted five in a row. Are you confident that this winner will call the next five flips correctly?

Some investors surely are more skilled than lucky. Their records mostly are brief, mixed, or exaggerated, and there is no sure way to separate the talented from the lucky and the liars. The stock market is not all luck, but it is more luck than nervous investors want to hear or successful investors want to admit.

That’ s because while some investors may substantially overestimate the value of a stock, other investors will err in the other direction and these errors will balance out so that the collective judgement of the crowd is close to the correct value.

The wisdom of crowds has a lot of appeal. The classic example is a jelly-bean experiment conducted by finance professor Jack Treynor. He showed 56 students a jar containing 850 jelly beans and asked them to write down how many beans they thought were in the jar. The average guess was 871, an error of just 2%. Only one student did better. This experiment has been cited as evidence that the average opinion of the value of a stock is likely to be close to the “correct” value.

Yet the analogy is not apt. As Treynor noted, the student guesses were made independently and had no systematic bias. When these assumptions are true, the average guess will, on average, be closer to the true value than are the majority of the individual guesses. That is a mathematical fact.

But it is not a fact if those assumptions are wrong. After the initial student guesses were recorded, Treynor advised the students that they should allow for air space at the top of the bean jar and that the plastic jar’s exterior was thinner than a glass jar. The average estimate increased to 979.2, an error of 15%. The many were no longer smarter than the few. Treynor wrote that, “Although the cautions weren’t intended to be misleading, they seem to have caused some shared error to creep into the estimates.”

 

Majority of Wall Street CFOs believe this stock market is “bubblicious”
There is a lot of shared error in the stock market. Investor opinions are not formed independently and are not free of systematic biases. Stock prices are rooted in fads, fancies, greed, and gloom — what economist John Maynard Keynes called “animal spirits.” Contagious mass psychology causes not only pricing errors, but speculative bubbles and unwarranted panics. Because of these human emotions, the stock market is only semi-efficient, which is good news for value investors — if they can control their emotions.

There is a crucial difference between possessing information and processing information. Possessing information is knowing something that others do not know. Processing information is thinking more clearly about things we all know.

Warren Buffett has not beaten the market for decades by having access to information that was not available to others, but by thinking more clearly about information available to everyone.

I once debated the efficient market hypothesis with a prominent Stanford University professor. I said that Buffett proves the market could be beaten by processing information better than other investors. The professor’s response was immediate and dismissive, “Enough monkeys hitting enough keys….”

He was referring the classic “infinite monkey theorem,” a version of which states that a handful of monkeys pounding away at typewriters will eventually write every book that humans have ever written. The Stanford professor’s argument was that so many people have been buying and selling stocks over so many decades, one person is bound to have been so much luckier than the rest as to appear to be a genius — when he is really just a lucky monkey.

I am unpersuaded. I have a personal interest in believing that some investors process information better than others, just as is true of doctors and lawyers. My belief in Buffett is fortified by the fact that, unlike monkeys, Buffett makes sense. His annual reports to shareholders of Berkshire Hathaway BRK.A, -0.03% BRK.B, -0.04% are exceptionally wise and well-written. They are also his own opinions, not a repackaging of what others are saying.

Other investors have prospered by watching the crowd and doing the opposite. In May 1932, with U.S. stock prices then at their lowest level, Dean Witter sent a memo to his company’s brokers and management saying: “All of our customers with money must some day put it to work — into some revenue-producing investment. Why not invest it now, when securities are cheap? Some people say they want to wait for a clearer view of the future. But when the future is again clear, the present bargains will have vanished. In fact, does anyone think that today’s prices will prevail once full confidence has been restored?”

That’s exactly right. Stock-market bargains appear when investors are pessimistic, not optimistic. In Buffett’s memorable words, “Be fearful when others are greedy and greedy when others are fearful.”

Fear, greed, and other human emotions often cause stock prices to overreact
Fear, greed, and other human emotions often cause stock prices to overreact, surging too high after good news and plunging too far after bad news. If investors’ emotions and herd-like instincts push stock prices too far up or down, then perhaps the road to investment success is to do the opposite. A contrarian strategy can be applied to individual stocks (buying the least-popular stocks and avoiding the most popular) and to the market as a whole (buying when other investors are the most bearish and selling when they are the most bullish).

Value investing is often an implicitly contrarian strategy. When the market overreacts and dislikes a stock too much, the price is too low relative to the company’s dividends, earnings, and assets — which makes it an attractive value investment. When the market likes a stock too much, value investors stay away.

The stock market is semi-efficient. You can’t beat the market based on news stories. But you can beat the market by resisting fear, greed, and animal spirits.

Gary Smith is the Fletcher Jones Professor of Economics at Pomona College and author of Money Machine: The Surprisingly Simple Power of Value Investing.

rose KECIL

KONTAN.CO.ID – Besok, 30 Agustus 2017, guru investasi Warren Buffett akan merayakan hari ulang tahunnya ke-87. Meskipun Buffett kian mendekati dekade ke-10 dalam hidupnya, bisnis sang miliarder belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

Pada tahun lalu, misalnya, dia berhasil mencetak pendapatan US$ 12 miliar. Dan sepanjang 2017, pendapatannya hampir mencapai US$ 2 miliar. Hal ini menjadikan Buffett sebagai satu dari lima orang terkaya di dunia.

Bagaimana dia berhasil mencetak semua uang tersebut? Well, dia adalah pimpinan Berkshire Hathaway, perusahaan konglomerasi multinasional. Pada dasarnya, Buffett dan perusahaannya memilih perusahaan lain untuk dibeli dan investasi. Beberapa perusahaan yang mereka akuisisi cukup terkenal. Sebut saja Benjamin Moore, Dairy Queen dan Geico.

Dalam lima tahun terakhir, saham-saham kelas B Berkshire yang harganya mencapai US$ 180 per saham, sudah meroket lebih dari 100%. Sementara harga saham kelas A Berkshire yang mencapai US$ 270.000.

Pada periode yang sama, indeks Dow Jones Industrial Average hanya melompat 65%. Buffett sendiri diestimasi memiliki kekayaan bersih lebih dari US$ 77 miliar. Apa rahasianya?

Jika Anda ingin seperti Buffett, berikut ada beberapa tips yang kerap diungkapkan sang miliarder di beberapa kesempatan. Tips ini bisa dijadikan pegangan untuk berinvestasi karena berlaku sepanjang masa.

1. “Mencoba merasa takut saat yang lain tamak, dan menjadi tamak saat orang lain takut.” (Buffett, 2004, dalam surat pimpinan Berkshire Hathaway dalam laporan keuangan tahunan)

Kemungkinan, quote ini merupakan quote yang paling terkenal dari Buffett-ism. Quote ini merupakan kata lain dari quote investasi yang paling populer, “Beli saat rendah, jual saat tinggi.”

Investor acapkali melakukan hal yang sebaliknya karena mentalitas yang kuat. Berbeda dengan kebanyakan orang yang secara psikologis selalu melakukan hal yang dilakukan orang banyak. Namun, menjadi orang yang berbeda bisa jadi sangat mencolok. Sebagai contoh, saat kejadian tertentu membuat investor lain hengkang dari market, Anda harus menggunakan kesempatan tersebut untuk membeli saham-saham berkualitas yang tengah terdiskon.

2. “Baik investor besar maupun kecil harus tetap menggunakan indeks dana berbiaya rendah.” (Buffett, 2016, dalam surat pimpinan Berkshire Hathaway dalam laporan keuangan tahunan)

Buffett bisa jadi merupakan pemilih saham yang terbaik. Namun ia masih mengakui kekuatan investasi sederhana dengan berpatokan pada indeks fund S&P 500 yang murah. Pada faktanya, dia sangat meyakini pendekatan ini sehingga dia bertaruh uang US$ 1 juta berdasarkan indeks ini.

Mengapa dia begitu yakin bahwa investasi pasif bisa mengalahkan manajer investasi yang aktif? Singkatnya, biaya. Dia menjelaskan, banyak manajer investasi profesional mengenakan biaya lebih besar dari yang bisa mereka dapatkan sebagai imbalan untuk klien mereka. Anda lebih baik menyimpan semua keuntungan dari seluruh indeks fund untuk diri sendiri.

3. “Investor masa kini tidak mengambil keuntungan dari pertumbuhan kemarin.” (Buffett, The Security I Like Best, December 6, 1951)

Nasehat lama ini mengingatkan kita bahwa performa masa lalu bukanlah jaminan atas hasil masa depan. Sehingga, Anda tidak bisa bergantung invetasi yang baik akan terus berlangsung. Sebaliknya, lihat masa depan. Pastikan setiap investasi yang Anda inginkan memiliki prospek baik dan dapat membantu Anda mencapai tujuan.

4. “Investasi terfavorit kami adalah yang berlaku selamanya.” (Buffett, 1988, dalam surat pimpinan Berkshire Hathaway dalam laporan keuangan tahunan)

Berbicara mengenai investasi jangka panjang. Tentu saja Buffett tidak selalu mengharapkan seseorang memegang investasi untuk selamanya. “Poin utamanya adalah Anda harus membeli sebuah perusahaan karena memang Anda menginginkannya, bukan karena ingin sahamnya terus melonjak,” kata Buffett saat diwawancara majalah Forbes pada tahun 1974.

Itu artinya, jika Anda ingin mencoba berinvestasi di saham individual, Anda harus mencari bisnis yang diyakini akan baik dan menguntungkan untuk jangka panjang. Maka, Anda harus menjualnya saat membutuhkan dana, bukan karena sudah saatnya membongkar barang-barang tak berguna.

5. “Apapun bisa terjadi di market…para analis market akan terus mengisi kuping Anda, tapi tidak pernah dompet Anda.” (Buffett, 2014, dalam surat pimpinan Berkshire Hathaway dalam laporan keuangan tahunan)

Dengarkan kata Warren, abaikan suara-suara lainnya -khususnya saat kita memiliki banyak sumber informasi. Selain itu, setiap kejadian sekecil apapun berkemungkinan menjadi headline dan menggerakkan market (setidaknya untuk jangka pendek).

Jangan biarkan hal apapun mengubah strategi investasi jangka panjang Anda. Selama Anda percaya dengan strategi dan portofolio, Anda harus tetap menjalankannya apapun yang terjadi.

6. “Seseorang duduk di tempat teduh saat ini karena dia menanam pohon sejak lama.”

Pelajaran yang bisa dipetik di sini adalah seseorang harus berpikir ke depan saat bicara soal personal finance, apakah itu investasi, menabung, atau belanja. Saat Anda memutuskan apakah akan menyisihkan sebagian dana untuk kondisi darurat, pikirkan mengenai kondisi darurat finansial yang terjadi dan bagaimana mudahnya hidup Anda jika memiliki cukup tabungan yang sudah disisihkan.

Sebagian orang bisa menjadi kaya dengan berinvestasi. Dan mayoritas orang yang mencoba, berakhir dengan kebangkrutan. Arah yang jelas untuk menuju kemakmuran yang diambil Buffett adalah membangun portofolio Anda selangkah demi selangkah dalam satu waktu. Dan tetap dengan fokus Anda untuk jangka panjang.

8. Economic moat

Buffett menemukan istilah baru ini, yang secara harafiah berarti parit perlindungan ekonomi. Tapi yang dimaksud Buffett adalah perusahaan yang punya keunggulan kompetitif.  Perusahaan bertipe economic moat dapat melindungi bisnisnya dari kompetitor karena ia punya kelebihan tersendiri.

Kelebihan ini bisa berupa merek yang kuat, paten, atau posisi geografis. Memakai prinsip ini, Buffett membeli McDonalds, Coca Cola, dan P&G.

9. Membeli saham sama dengan membeli bisnis

Jika sebuah bisnis berkinerja bagus, harga sahamnya akan mengikuti.

Bagaimana mengetahui bisnis yang bagus? Pertama-tama, Anda harus mengerjakan PR, yaitu riset fundamental perusahaan tersebut. Sebab, bagi Buffett, syarat mutlak berinvestasi adalah mengerti bisnisnya dulu. Ia berulang kali menolak berinvestasi di berbagai saham teknologi murah karena mengaku tak kenal bisnisnya. “Risiko datang ketika Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan,” tuturnya.

Karena itu, Buffett juga menyarankan untuk memastikan kekuatan manajemen perusahaan itu. Menurut buku ‘The Warren Buffett Way’, ia punya tiga pertanyaan menyangkut manajemen sebuah perusahaan. Apakah mereka rasional? Apakah mereka mengakui kesalahan? Apakah mereka bisa menahan tuntutan institusi? Buffett tak suka manajemen yang hanya mengikuti arus dan mengkopi kompetitor.

10. Beli perusahaan yang menguntungkan

Buffett lebih suka berinvestasi pada perusahaan yang membukukan keuntungan dengan konsisten. Artinya, dalam jangka panjang misalnya 10 tahun, perusahaan itu konsisten meraup keuntungan.

Ia pun mengukur tingkat keuntungan perusahaan misalnya dengan melihat return on equity (ROE), return on invested capital (ROIC), dan margin laba perusahaan, lalu membandingkannya dengan perusahaan kompetitor atau industri.

Tapi hati-hati, kadang perusahaan dengan ROE tinggi memiliki utang yang besar pula. Buffett sangat menghindari perusahaan macam ini. Ia pernah bilang, “Jika Anda berada di kapal yang bocor kronis, energi untuk mengganti kapal bakal lebih produktif ketimbang energi untuk menambal kebocoran.”

(kumpulan berbagai sumber)

rose KECIL

NEW YORK kontan. Setelah menjalani tahun 2015 yang penuh tantangan, saham perusahaan milik Warren Buffett kembali ke posisinya semula dengan mengalahkan performa market.

Berdasarkan data yang dihimpun CNNMoney, dua saham Berkshire Hathaway milik Warren Buffett -yakni saham A dan saham B- melonjak hampir 11% pada tahun ini. Bandingkan dengan kenaikan indeks S&P 500 yang hanya naik 2%.

Selain itu, saham sejumlah perusahaan yang dimiliki Buffett seperti Kraft Heinz, IBM, dan Coca Cola, juga membukukan performa ciamik. Kinerja perusahaan tersebut mampu mengimbangi penurunan yang terjadi pada Wells Fargo dan sejumlah bank lain yang juga dimiliki Berkshire.

Kondisi ini dipastikan akan membuat pemegang saham Berkshire happy pada pertemuan pekan ini di Omaha.

Tapi jangan berharap Buffett akan puas dengan kondisi ini. Dia dan wakil direktur Berkshire Charlie Munger sama-sama menekankan pentingnya berinvestasi untuk jangka panjang.

Selain itu, Berkshire sudah mengalahkan market selama berpuluh-puluh tahun.

Ini pula yang menjadi alasan banyak investor akan datang ke Omaha untuk menyaksikan Buffett dan Munger berpidato di Omaha.

Ada beberapa informasi yang sangat dinanti-nantikan investor pada pertemuan tersebut. Apa saja?

– Apakah akan ada akuisisi yang lebih besar?

Investor akan mendengarkan dengan seksama petunjuk mengenai apa yang akan diakuisisi Berkshire selanjutnya.

Buffett sudah berbelanja selama beberapa tahun terakhir. Akuisisi yang paling mendapatkan perhatian adalah akuisisi Heinz, 3G, Kraft, Burlington Northern Santa Fe, dan Precission Casparts.

Precision Castparts bernilai US$ 37,2 miliar. Ini merupakan akuisisi terbesar yang dilakukan Berkshire. Namun Buffett memang seringkali memberikan petunjuk bahwa dirinya terus berupaya untuk menjadikan Berkshire perusahaan besar.

– Mempertahankan 3G dan PHK

Tahun lalu, sejumlah pemegang saham mempertanyakan langkah Buffett yang berinvestasi di 3G.

3G dan Berkshire merupakan investor terbesar di Kraft Heinz. Berkshire juga memiliki saham di Restaurant Brands, perusahaan yang memiliki Burger King dan Tim Hortons.

Namun 3G seringkali mengumumkan PHK besar-besaran pada perusahaan yang diakuisisi. Lihat saja PHK yang dilakukan di Heinz juga Kraft.

Pada surat yang dilayangkan kepada pemegang saham, Buffett mengeluarkan pernyataan yang membela 3G. Menurutnya, langkah yang diambil 3G berhasil memangkas biaya-biaya yang tidak perlu. Bahkan dia juga bilang, ada kemungkinan Berkshire dan 3G bekerjasama lagi.

– Menyerang Trump?

Buffett, seorang Demokrat, secara terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap Hillary Clinton sebagai presiden AS berikutnya.

Sementara, meski Munger lebih ke garis kanan, tapi dia sepertinya bukan penggemar kandidat president Republik Donald Trump.

Pada pertemuan tahunan pemegang saham tahun ini, Daily Journal menulis bahwa Munger menyatakan Trump tidak memiliki kualifikasi untuk duduk di Gedung Putih. Apakah tahun ini rapat pemegang saham akan mendukung pencalonan Hillary?

– Siapa penerus Warren?

Tahun ini akan menjadi rapat tahunan ke-51 Berkshire. Usia Buffett saat ini sudah 85 tahun.

Buffett sebenarnya sudah memberikan sejumlah sinyal bahwa dirinya sudah mengetahui siapa yang akan mengambil alih posisinya. Yang pasti, itu bukan Munger yang saat ini berusia 92 tahun.

Dan Munger pada tahun lalu menulis bahwa dia menilai dua letnan Berkshire -Ajit Jain dan Greg Abel- keduanya terbukti sebagai pemimpin hebat, bahkan kehebatannya melebihi Buffett.

Banyak investor yang menginterpretasikannya sebagai sinyal bahwa Buffett menginginkan eksekutif dengan keahlian menjalankan perusahaan sebagai orang yang akan menggantikannya sebagai CEO Berkshire.

Jadi, akan sangat menarik untuk melihat apakah Buffett atau Munger kembali memberikan sejumlah petunjuk mengenai hal ini.

dollar small

advfin: And this is a good reminder for anyone who reads share articles… or even writes them. Buying is Believing!

Warren Buffet doesn’t just WRITE that he thinks that a share is good value. He doesn’t just read loads of share articles… without ever BUYING SHARES!

He’s been the RICHEST MAN IN THE WORLD by buying good companies… and HOLDING. That’s it, a multi billionaire from investing in shares.

 

So you’ve read this article NOW RESOLVE TO TAKE ACTION AND BUY SHARES WHEN YOU CAN!

big-dancing-banana-smiley-emoticon

Bisnis.com, JAKARTA–Ketika harga minyak mentah dunia terus tenggelam hingga US$25 per barel, nyaris menyentuh biaya produksi, saham emiten minyak dan gas dalam negeri pun berguguran.

Bahkan, kinerja emiten Migas yang memaksa terus berproduksi bakal kolaps. Bagaimana tidak, perusahaan-perusahaan Migas di Tanah Air harus menjual rugi hasil produksinya, lantaran biaya untuk menghasilkan Migas, tak sebanding dengan harga jual di pasaran.

Lantas, bagi investor, apakah melorotnya harga minyak dunia menjadi akhir dari portofolio investasi? Untuk menjawabnya, perlu terbang ke Amerika Serikat dan belajar dari orang terkaya ke-13 dunia, Warren Buffet, versi majalah Forbes dengan kekayaan ditaksir mencapai US$60 miliar setara dengan Rp834 triliun.

Miliarder pemilik Berkshire Hathaway Inc., Warren Buffett, memang selalu memberi kejutan. Saat harga minyak terus ambrol ke level terendah dalam 12 tahun terakhir hingga di bawah US$30 per barel, Buffet justru menambah portofolionya di perusahaan kilang minyak Philips 66.

Tak tanggung-tanggung, Buffett, seperti dilansir Bloomberg, menambah kepemilikan saham dalam 7 hari perdagangan berturut-turut. Buffett merogoh kocek hingga US$450 juta setara dengan Rp6,25 triliun (Kurs Rp13.900/US$) untuk memborong lebih dari 6 juta lembar saham Phillips 66.

Perusahaan Buffett, Berkshire, menggenggam 13% saham Phillips 66 senilai US$5,3 miliar setara Rp73,67 triliun, berdasarkan penutupan saham Kamis (14/1) pada level US$79,28 per lembar.  ()

Senjata Melawan Inflasi

 

Menabung tidak bisa membuat orang menjadi kaya. Ketika uang itu disimpan di tabungan dan diakumulasi di masa depan, kebutuhan yang diinginkan senilai yang diperkirakan di awal menabung akan jauh lebih tinggi nilainya. Artinya, uang di tabungan akan menggerus kemampuan atau daya beli seseorang.

Apa penyebabnya? Jawabannya adalah inflasi. Si inflasi inilah yang menyebabkan orang selalu mengatakan biaya hidup terus meningkat. Coba bayangkan, 10 tahun lalu harga rumah di perumahan pinggiran ibu kota bisa terbeli di kisaran harga Rp 150 juta smapai Rp 200 juta. Tetapi saat ini, rumah di lokasi yang sama sudah meningkat menjadi Rp 500 jutaan.

Peningkatan harga rumah setinggi itu disebabkan rata-rata inflasi atau kenaikan harga properti sepanjang 10 tahun sebesar 8,5 persen. Sementara kenaikan harga rumah di tengah kota, di kawasan premium, bisa lebih tinggi lagi.

Bagaimana dengan kenaikan biaya pendidikan? Ternyata angka inflasi biaya sekolah rata-rata per tahun mencapai 15 persen. Tidak heran bila uang pangkal sekolah-sekolah premium saat ini untuk masuk sekolah dasar saja, misalnya bisa mencapai Rp 20 juta. Bila seorang ayah menabung untuk uang pangkal anaknya yang baru lahir saat ini misalnya, ia berpikir cukup dengan Rp 3,3 juta per tahun, di tahun keenam ia berhasil mengumpulkan Rp 20 juta.

Apa yang terjadi, di tahun keenam, saat si buah hati siap masuk ke sekolah dasar, uang pangkal yang enam tahun lalu masih Rp 20 juta, melonjak menjadi sekitar Rp 50 juta. Si ayah tidak lagi sanggup menyekolahkan anaknya di sekolah idaman.

Benar menyimpan uang di bank ada bunga tabungan. Tetapi bunga bank paling tinggi hanya 3 persen sampai 4 persen saja. Jauh di bawah angka inflasi. Nah, bagaimana agar nilai uang yang dimiliki saat ini tidak berkurang? Jawabannya adalah menginvestasikan uang di produk investasi yang menghasilkan keuntungan di atas inflasi. Atau paling tidak menyamai inflasi barang yang ingin dibeli di masa datang.

Apa saja produk investasi? Macam-macam. Emas merupakan salah satu produk investasi. Kenaikan harga emas per tahun bila dihitung selama 10 tahun sejak 2004-2014 rata-rata 15 persen. Alternatif lain adalah berinvestasi di pasar modal. Ada banyak produk pasar modal. Saham misalnya, bila dihitung dari kenaikan rata-rata harga saham, dalam kurun waktu yang sama, selama sepuluh tahun, menghasilkan return atau keuntungan rata-rata 32,9 persen. Bisa juga memilih obligasi ritel Indonesia (ORI) yang bisa memberi kupon atau bunga sekitar 6 persen.

Apabila investor tidak terlalu memahami seluk-beluk berinvestasi saham secara langsung, reksa dana bisa dijadikan pilihan. Tetapi harus diingat, dalam berinvestasi ada rumus yang tak boleh dilupakan, yakni high risk, high return. Semakin tinggi return, risikonya semakin tinggi pula. Untuk itu, investasi pada produk dengan return tinggi hanya disarankan untuk investasi dalam jangka waktu panjang, di atas lima tahun.

 

Penulis: Putu Anggreni/AB

Sumber:Berbagai sumber, Majalah Inves

 

rose KECIL

Kamis, 25 Juni 2009 | 11:15

INVESTASI CHINA

Analis: China Sebaiknya Beli Emas dan Properti AS

LOS ANGELES. Li Lianzhong, Communist Party Research Chief mengatakan bahwa China sebaiknya membeli emas dan real estate AS ketimbang surat berharga.

Lianzhong, yang mengepalai bidang ekonomi untuk partainya, menegaskan bahwa dolar AS menyeimbangkan semuanya; membikin emas dan tanah menjadi investasi yang lebih baik bagi cadangan valas China senilai US$ 1,95 triliun.

Selain itu, Lianzhong juga menegaskan bahwa Beijing sebaiknya fokus untuk membeli sumber-sumber energi dan natural. Hal ini ditegaskan usai China Petroleum & Chemical Corp. alias Sinopec telah mencapai kesepakatan untuk membeli minyak dan gas dari Addax Petroleum Corp. senilai US$ 7,2 billion.

Femi Adi Soempeno Market Watch

spiral

Buffett Acolyte Donates $2.11 Million as Thank You (Update3)

By Erik Holm and Betty Liu

June 24 (Bloomberg) — Zhao Danyang, the hedge fund manager who paid more than $2.11 million to have lunch with Warren Buffett, said he owed his firm’s 600 percent return over the past six years to lessons he learned from the Oracle of Omaha.

Zhao, general manager of Pureheart Asset Management Co. in Hong Kong, credited a book he read on Buffett during the Asian financial crisis a decade ago with changing his investment philosophy. He said the record-breaking bid in Buffett’s charity auction last year was his way of saying thank you.

“Buffett is my teacher,” he said in a Bloomberg Television interview yesterday. “In my heart, I am really thankful to him.”

Buffett, chairman of Berkshire Hathaway Inc. and the world’s most celebrated investor, met a group assembled by Zhao for lunch today at Smith & Wollensky steakhouse in Manhattan. Zhao’s bid last year was three times the previous record for the lunch, and the largest ever for an EBay Inc.-sponsored charity auction. The proceeds benefit the Glide Foundation, a San Francisco-based charity where Buffett’s late wife volunteered.

“It was a great lunch and they were great people,” Buffett said as he emerged from the steakhouse after the three- hour meal. He declined to list the topics the group discussed. “That’s what they paid $2.1 million for,” he said. “I can’t give it to you for free.”

Lifetime Benefit

Zhao brought his wife, son and friends to the steakhouse today, and said afterward the value of the experience “can’t be measured by money.” He said Buffett’s advice would “benefit me for my whole life,” and that he would be a more confident investor as a result. Two of the friends shouldered a portion of the cost of the lunch, he said, but it was “mostly me.”

Winners typically wait a year before dining with Buffett. This year’s bidding is in its fourth day on EBay’s auction site, and is set to close June 26. The price hit $135,678 at 4:30 p.m. New York time after 56 bids. In past years, bidders waited until the last minutes of the auction before driving up the price.

Buffett, ranked the world’s second-richest man by Forbes magazine, transformed Omaha, Nebraska-based Berkshire from a failing textile maker into an enterprise with businesses ranging from ice cream and underwear to power plants. His investing acumen earned him the “Oracle of Omaha” nickname. Berkshire shareholders come from around the globe to fill that city’s Qwest Center arena at the firm’s annual meeting each year.

Investment manager Mohnish Pabrai said in an interview he and his friend Guy Spier covered 54 topics in three hours with Buffett after winning the 2007 auction with a $650,100 bid.

“I got more than my money’s worth,” he said.

‘Down and Out’

Glide, founded in the 1960s by the Rev. Cecil Williams, provides job training, medical care, counseling and other services for the homeless, the HIV-positive and victims of domestic violence. It feeds the needy three times a day. The number of meals it served increased 17 percent in the 12 months ended in May compared with the prior year.

“They help tens of thousands of people, and they believe everybody has a future and every life is as important as every other life,” Buffett said in a separate interview with Bloomberg Television today.

Alan Stillman, the founder of Smith & Wollensky, is donating $10,000 to Glide for the right to host the event. He said today that he entered his own unsuccessful bid on the lunch two years ago.

butterfly

Buying Like Buffett Beats Investing With Him Amid Stock Rebound

By Ari Levy and Erik Holm

June 25 (Bloomberg) — Warren Buffett followers who invest like the billionaire instead of with him have been rewarded since the bear market bottomed more than three months ago.

Berkshire Hathaway Inc.’s 19 percent advance since U.S. equity indexes reached their lows on March 9 lags behind 15 of the company’s top 20 stock holdings. A $1 million investment mimicking Berkshire’s portfolio would have produced a $682,300 profit through yesterday, compared with a $185,900 gain for the same-sized investment in Berkshire shares. Buffett is chairman and head of investing at Omaha, Nebraska-based Berkshire.

Buffett, 78, has seen long-standing equity positions in Wells Fargo & Co. and American Express Co. more than double from their March lows after losing over half their value in the 12 months prior. Companies Berkshire owns outright, meanwhile, had declining sales amid the global recession, and the firm’s losses from derivative positions on corporate and municipal debt may not reverse as quickly as those tied to stock markets.

“His investments, because they’re based on such fundamental quality and traditional values, are going to continue to do better than the rest of the market,” said Frank Betz, a partner at Warren, New Jersey-based Carret Zane Capital Management, which oversees $700 million and owns Berkshire shares. Critics were wrongly declaring that Buffett had “lost his touch” earlier this year, Betz said.

Berkshire is the top shareholder in Wells Fargo, the fourth-largest U.S. bank by assets, and American Express, the biggest credit-card company by purchases. The company is the biggest owner of Goldman Sachs Group Inc., which has surged 93 percent since March 9, and the third-leading investor in U.S. Bancorp, which has climbed 74 percent.

Railroad Shares

A rally in railroad stocks has also lifted Berkshire’s investment portfolio. The company owns 23 percent of Burlington Northern Santa Fe Corp., which has gained 43 percent since March 9, and is among the top 10 holders of Union Pacific Corp. shares, up 50 percent.

The decline in world stock markets at the start of the year contributed to Berkshire’s worst loss in at least two decades in the first quarter. The company wrote down derivatives tied to corporate-debt indexes and took a charge on ConocoPhillips shares purchased when oil prices were near their peak.

Berkshire’s liability on derivatives at its finance and financial products operations widened to $15.4 billion as of March 31, from $14.6 billion three months earlier. Some of those liabilities, on derivatives tied to four of the world’s stock markets, may have reversed in the second quarter as the indexes recovered, said Whitney Tilson, managing director of T2 Partners LLC, a New York-based hedge fund that owns Berkshire shares.

Berkshire’s Value

“Berkshire is cheaper today relative to its intrinsic value than it was on March 9, when its stock portfolio was in the tank and its index puts were marked to market,” Tilson said. “The intrinsic value of Berkshire, when you just factor in those two things, is easily up well over $10,000 a share and the stock really hasn’t moved that much.”

Buffett didn’t respond to a request to comment on this story left with assistant Carrie Kizer.

Berkshire Class A shares rose $1,000 to $86,800 yesterday on the New York Stock Exchange. The gain since March 9 compares with a 33 percent advance in the Standard & Poor’s 500 Index.

The so-called equity puts reduce Berkshire net income when markets fall. They don’t represent cash paid out because the payments aren’t required until 2019 or later.

Buffett said earlier this year that the economic slump depressed revenue at Berkshire’s jewelry businesses and operations related to real estate. Profit at its retail operations, a category that includes furniture and candy stores as well as jewelry, fell by half in the first quarter to $16 million before taxes, the seventh straight decline.

Hesitant Consumers

“The change in the American consumer’s behavior in the last six months is like nothing that’s ever happened,” Buffett, said in an interview with Bloomberg Television in March. “They won’t go in our jewelry stores. They’ve got the money, but when Valentine’s comes along, they think: ‘I still love my wife, you know, but I’ll just tell her this year.’”

Berkshire last year cut jobs at units including Clayton Homes Inc., which builds manufactured housing, and brickmaker Acme Building Brands. The U.S. unemployment rate in May climbed to 9.4 percent, the highest since 1983.

Berkshire has a smaller number of derivatives tied to municipal bonds or debt issued by corporations. Berkshire, which collected $3.4 billion in premiums on the derivatives related to corporate debt as of the end of last year, paid $1.13 billion to buyers of the contracts this year through May 8.

The company may be forced to pay out more as state and local budget deficits lead public institutions to default, said Charles Ortel, managing director of New York-based Newport Value Partners, who advises clients to sell Berkshire shares short.

“It’s the next shoe to drop,” Ortel said. “We may find ourselves very quickly where not only are companies seeking bailouts but states and municipalities and school districts and other worthy entities are all clamoring for scarce capital.”

doraemon

Buying Like Buffett Beats Investing With Him Amid Stock Rebound

By Ari Levy and Erik Holm

June 25 (Bloomberg) — Warren Buffett followers who invest like the billionaire instead of with him have been rewarded since the bear market bottomed more than three months ago.

Berkshire Hathaway Inc.’s 19 percent advance since U.S. equity indexes reached their lows on March 9 lags behind 15 of the company’s top 20 stock holdings. A $1 million investment mimicking Berkshire’s portfolio would have produced a $682,300 profit through yesterday, compared with a $185,900 gain for the same-sized investment in Berkshire shares. Buffett is chairman and head of investing at Omaha, Nebraska-based Berkshire.

Buffett, 78, has seen long-standing equity positions in Wells Fargo & Co. and American Express Co. more than double from their March lows after losing over half their value in the 12 months prior. Companies Berkshire owns outright, meanwhile, had declining sales amid the global recession, and the firm’s losses from derivative positions on corporate and municipal debt may not reverse as quickly as those tied to stock markets.

“His investments, because they’re based on such fundamental quality and traditional values, are going to continue to do better than the rest of the market,” said Frank Betz, a partner at Warren, New Jersey-based Carret Zane Capital Management, which oversees $700 million and owns Berkshire shares. Critics were wrongly declaring that Buffett had “lost his touch” earlier this year, Betz said.

Berkshire is the top shareholder in Wells Fargo, the fourth-largest U.S. bank by assets, and American Express, the biggest credit-card company by purchases. The company is the biggest owner of Goldman Sachs Group Inc., which has surged 93 percent since March 9, and the third-leading investor in U.S. Bancorp, which has climbed 74 percent.

Railroad Shares

A rally in railroad stocks has also lifted Berkshire’s investment portfolio. The company owns 23 percent of Burlington Northern Santa Fe Corp., which has gained 43 percent since March 9, and is among the top 10 holders of Union Pacific Corp. shares, up 50 percent.

The decline in world stock markets at the start of the year contributed to Berkshire’s worst loss in at least two decades in the first quarter. The company wrote down derivatives tied to corporate-debt indexes and took a charge on ConocoPhillips shares purchased when oil prices were near their peak.

Berkshire’s liability on derivatives at its finance and financial products operations widened to $15.4 billion as of March 31, from $14.6 billion three months earlier. Some of those liabilities, on derivatives tied to four of the world’s stock markets, may have reversed in the second quarter as the indexes recovered, said Whitney Tilson, managing director of T2 Partners LLC, a New York-based hedge fund that owns Berkshire shares.

Berkshire’s Value

“Berkshire is cheaper today relative to its intrinsic value than it was on March 9, when its stock portfolio was in the tank and its index puts were marked to market,” Tilson said. “The intrinsic value of Berkshire, when you just factor in those two things, is easily up well over $10,000 a share and the stock really hasn’t moved that much.”

Buffett didn’t respond to a request to comment on this story left with assistant Carrie Kizer.

Berkshire Class A shares rose $1,000 to $86,800 yesterday on the New York Stock Exchange. The gain since March 9 compares with a 33 percent advance in the Standard & Poor’s 500 Index.

The so-called equity puts reduce Berkshire net income when markets fall. They don’t represent cash paid out because the payments aren’t required until 2019 or later.

Buffett said earlier this year that the economic slump depressed revenue at Berkshire’s jewelry businesses and operations related to real estate. Profit at its retail operations, a category that includes furniture and candy stores as well as jewelry, fell by half in the first quarter to $16 million before taxes, the seventh straight decline.

Hesitant Consumers

“The change in the American consumer’s behavior in the last six months is like nothing that’s ever happened,” Buffett, said in an interview with Bloomberg Television in March. “They won’t go in our jewelry stores. They’ve got the money, but when Valentine’s comes along, they think: ‘I still love my wife, you know, but I’ll just tell her this year.’”

Berkshire last year cut jobs at units including Clayton Homes Inc., which builds manufactured housing, and brickmaker Acme Building Brands. The U.S. unemployment rate in May climbed to 9.4 percent, the highest since 1983.

Berkshire has a smaller number of derivatives tied to municipal bonds or debt issued by corporations. Berkshire, which collected $3.4 billion in premiums on the derivatives related to corporate debt as of the end of last year, paid $1.13 billion to buyers of the contracts this year through May 8.

The company may be forced to pay out more as state and local budget deficits lead public institutions to default, said Charles Ortel, managing director of New York-based Newport Value Partners, who advises clients to sell Berkshire shares short.

“It’s the next shoe to drop,” Ortel said. “We may find ourselves very quickly where not only are companies seeking bailouts but states and municipalities and school districts and other worthy entities are all clamoring for scarce capital.”

 

ihsg bagian dari tren global … seh : 031009_110317 24 September 2017

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 1:25 am

tren IHSG dalam jangka panjang MENGALAHKAN TREN INDEKS BURSA SAHAM AMRIK, china, n oz

CHINA MEMANGKAS SUKU BUNGA PINJAMAN, memangkas BIAYA BISNIS n INDUSTRI supaya TUMBUH LEBE KUAT

big-dancing-banana-smiley-emoticon

 

analisis gw soal BREXIT 2016

 

BLOOMBERG menyatakan tren NAEK @ ihsg, kok, sama sperti analisis sederhana gw

JAKARTA okezone– Keterbatasan pendanaan menjadi persoalan utama yang dihadapi pemerintah dalam menjalankan program kerja. Karena itu pemerintah dan seluruh pe mang ku kepentingan sering bersinergi dalam mengeluarkan kebijakan untuk meng gali potensi pendanaan.

Diantaranya dengan mempermudah perizinan hingga mendorong pemanfaatan instrumen pasar modal untuk pembiayaan infra struktur. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso me ngatakan, OJK sangat berkepentingan mendorong dan mempercepat pemanfaatan regulasi pasar modal mengenai infrastruktur secara lebih konkret dan dalam jumlah atau ni lai yang signifikan.

”Upaya ini telah membuahkan hasil dengan telah dikeluarkannya pernyataan efektif untuk penerbitan instru men pasar modal yang di gunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur jalan tol, bandara, dan ketenagalistrikan,” katanya. Prioritas jangka pendek lain yang masih terkait dengan perwujudan dukungan pasar modal untuk pembia yaan pembangunan infrastruktur adalah mendorong pemanfaatan instrumen pasar modal untuk pembiayaan in frastruktur lainnya.

Di antaranya berupa dana investasi infrastruktur berbentuk kontrak investasi kolektif (KIK), efek beragun aset (EBA) termasuk EBA surat partisipasi, da na investasi real estat baik yang konvensional mau pun syariah, reksadana penyertaan terbatas, rek sadana target waktu, dana investasi multiaset berbentuk KIK. Selain itu penerbitan dan penyempurnaan regulasi yang memungkinkan penerbitan instrumen-instrumen pasar modal baru seperti perpetual bonds, infrastructure bond dan project bond.

Hal itu guna memfasilitasi pembiayaan pembangunan infrastruktur baik yang telah dalam taraf pengembangan (brown field projects) mau pun yang masih dalam taraf awal pembangunan (green field projects). Juga sekaligus mendalami isu atau permasalahan lintas sektor keuangan (pasar modal, perbankan, industri keuangan nonbank) maupun lintas kelembagaan (OJK, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia) yang menghambat atau berpotensi menghambat pertumbuhan instrumen pembiayaan pembangunan infrastruktur nasional.

Melalui pasar modal dari berbagai perspektif seperti dari sisi supply dan demand, harmonisasi aturan dan kebijakan, sistem dan mekanisme perdagangan, keberadaan hedging instruments di pasar uang dan pasar derivatif, serta kemungkinan pemberian insentif atau kebijakan di bidang fiskal maupun akses pembiayaan.

”Ini merupakan peran dan kontribusi pasar modal dalam mendukung program-program ekonomi prioritas Pemerintah akan signifikan, serta mempunyai dampak lebih kongkret dalam mendorong pertumbuhan sek tor riil di Tanah Air,” tuturnya. Di sisi lain pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy mengatakan, langkah yang diambil OJK tersebut tidak memberatkan pemerintah.

Dia mengungkapkan bahwa pada saat ini pemerintah sedang membutuhkan dana tidak sedikit untuk membiayai pembangunan infrastruktur. Sementara perolehan pajak belum sesuai yang diharapkan. Langkah OJK tersebut diyakini akan meningkatkan minat BUMN sektor infrastruktur untuk mencari dana mempergunakan pasar modal. Apalagi dana yang diperoleh di pasar modal relatif lebih murah daripada meminjam diperbankan.

Dana yang diperoleh pun jauh lebih besar daripada meminjam uang dari perbankan. Jika kondisi ekonomi nasional semakin membaik, maka emiten sektor lain juga akan memperluas usahanya. Salah satunya melalui ekspansi usaha dengan membuka pabrik atau membuka jaringan pemasaran baru. Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Emi ten Indonesia (AEI) Isakayoga, ekspansi yang dilakukan emiten tentunya akan membuka lapangan pekerjaan baru.

Sekaligus me ningkatkan perekonomian di daerah tersebut. ”Kalau pembangunan infrastruktur berjalan maka ekonomi semakin membaik. Tentunya emiten akan melakukan ekspansi. Dananya bisa melalui instrumen yang tersedia di pasar modal,” tuturnya. Perusahaan yang masuk kepasar modal memang akan memperoleh beberapa ke untungan. Pertama, pembiayaan dari pasar modal semestinya lebih murah.

Sebab pasar modal mempertemukan langsung kelebihan dana pada masyarakat dengan kebutuhan dana oleh perusahaan. Dengan begitu biaya dana (cost of fund) dari pasar modal menjadi lebih rendah. Keuntungan lain, perusahaan yang masuk kepasar modal bisa meningkatkan tata kelola perusahaan menjadi lebih baik. Reputasi perusahaan juga semakin meningkat dan bahkan dapat memperoleh insentif pajak.

(Trio Hamdani)

doraemon

TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hamdi Hassyarbaini mengatakan BEI merupakan salah satu bursa saham terbaik di dunia.

“Selama 10 tahun terakhir, BEI satu-satunya bursa saham terbaik dengan imbal hasil mencapai 317 persen. Itu mengalahkan bursa-bursa lainnya,” kata Hamdi dalam sambutannya pada “Investment Discussion and Economic Analysis” (IDEA) 2017 di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Sabtu 11 Maret 2017.

Hamdi mengatakan bursa saham saat ini tumbuh secara signifikan. Dia berharap IDEA 2017 dapat menarik minat pemain-pemain saham baru sehingga jumlah investor juga semakin bertambah.

“Kami berharap melalui acara ini, pasar modal Indonesia bisa lebih maju dan berkembang serta hasilnya bisa bermanfaat bagi kita semua,” tuturnya.

IDEA 2017 bertema “Membuka Potensi Pasar Modal Melalui Teknologi Keuangan Untuk Pembangunan Berkelanjutan” diadakan atas kerja sama Perum LKBN Antara dan Universitas MH Thamrin.

Diskusi yang merupakan rangkaian peringatan 10 windu Kantor Berita Indonesia Antara itu didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), Bank Rakyat Indonesia, Maybank, Panin Aset Management dan lain-lain.

BISNIS.COM

ets-small

bisnis.com: Berbagai jenis investasi menjadi pilihan masyarakat yang ingin menumbuh kembangkan uangnya.

Salah satu yang dirasakan gencar ditawarkan saat ini adalah berinvestasi di pasar modal.

BEI mulai meningkatkan promosinya.

Saat ini makin mensasarkan pelaku pasar ritel, yaitu kalangan masyarakat menengah, antara lain dengan program literasi keuangan terutama di pasmod.

Menarikkah berinvestasi di bursa saham, apalagi untuk pasar eceran?

Market saham itu dinamis. Ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi pergerakannya.

Faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah kinerja emiten, kondisi perekonomian, pola investasi investor, dan kondisi sektor riil.

Satu hal yang menarik di bursa saham adalah dari pola investasinya. Mengingat setiap keputusan yg diambil dalam berinvestasi menjadi tanggung jawab masing masing individu sebagai investor.

Untuk itu lah dikatakan bursa saham itu sebagai bagian dari investasi dengan pasar yang dinamis.

Kedinamisan investasi ini menjadi tantangan sendiri bagi pemilik modal dan karena kedinamisan inilah peluang untuk mendapat capital gain terbuka cukup lebar bagi investor.

Tentunya setiap investor memiliki prilaku yang berbeda beda. Baik dari sisi pemilihan, pendapat dan pemikiran, pengamatan, timeframe, dan emotional/psikologi

Perilaku investor seperti apa yang cocok untuk ber investasi di bursa saham?

Menurut saya, dalam hal ini mindset awal kita sudah harus benar sejak awal. Ini adalah investasi saham, bukan main saham. Namun bisa juga menggunakan istilah main untuk membuat kita enjoy dalam berinvestasi.

Mengingat begitu banyak faktor yang mempengaruhi pergerakan harga satu emiten.

Gerak saham tidak hanya bergantung kinerja positif perusahaan, karyawan emiten yang sejahtera, dan keberhasilan mencetak laba.

Gerak saham yang juga terkait dengan keamanan suatu negara, kestabilan ekonomi, kestabilan politik.

Saham itu jika kita melakukan investasi didalamnya , maka doanya tentunya semua yang diharapkan selalu berjalan baik, baik itu terhadap negara, perusahaan, bahkan dunia.

 

*William Surya Wijaya

Kepala Riset Asjaya Indosurya Securities

rose KECIL

JAKARTA. Perusahaan jasa finansial UBS Wealth Management menyatakan klien-kliennya siap untuk meningkatkan kepemilikan mereka di emerging markets.

Michael Bolliger, head of emerging-market asset allocation UBS, memprediksikan return kelas aset berdigit tunggal tahun ini.

Klien-klien UBS, dengan total aset senilai US$2,1 triliun, merasa nyaman berinvestasi di negara-negara berkembang.

Menurutnya, keinginan klien UBS tersebut berdasarkan kuatnya performa saham dan obligasi di negara berkembang dinilai pada 2016 serta berlanjutnya aliran uang pada tahun ini.

“[2016] merupakan tahun yang baik dan memberi kesan pada orang-orang. Diperlukan beberapa kuartal performa yang baik bagi mereka untuk memanas dan menjadi lebih tertarik. Inilah yang terjadi sekarang,” kata Bolliger, seperti dikutip dari Bloomberg (Rabu, 1/2/2017).

Stimulus bank sentral yang belum pernah terjadi sebelumnya telah memicu perburuan global untuk return yang lebih tinggi tahun lalu serta mendorong permintaan untuk aset negara berkembang.

Menurut data EPFR Global, minat investor masih kuat sepanjang pekan yang berakhir pada 25 Januari, dengan aliran dana untuk pembelian saham-saham emerging market senilai US$1 miliar. Jumlah tersebut adalah yang terbesar dalam tiga bulan.

http://finansial.bisnis.com/read/20170201/9/624814/ubs-investor-siap-kejar-aset-di-negara-berkembang
Sumber : BISNIS.COM

big-dancing-banana-smiley-emoticon

marketwatch: With U.S. stocks in record territory, investors need to take their emotional temperature. Emotions can be your worst enemy when it comes to money and stocks, especially during big, rapid market moves that can warp your thinking in unforgiving ways — like these:

1. Forgetting that purchase price matters (HARGA BELI mesti tetap diperhatikan, mesti rendah)

Since the presidential election, the Dow Jones Industrial Average DJIA, +0.58% the S&P 500 SPX, +0.65% the Nasdaq COMP, +0.95%  and other major U.S. stock indexes have posted big gains. Understandably, you may be wanting to throw money at stocks right now.

Not so fast. You are guaranteed a worse return with money invested today than you’ll get with money invested before the election, when U.S. stocks were considerably cheaper. Stocks are ownership units of businesses that are worth the profits they deliver in the future. Pay more for future profits, and your return necessarily declines. Wait for your pitch.

2. Giving in to greed (Keserakahan akan saham saat naik, malah akan memberangus modal saat ternyata terpaksa jual saat harga jatuh)

Maybe your allocation is too low on stocks, and you should add. But why does it take a surge in stocks to make you think you don’t have enough in stocks? The time to consider your allocation was before a big market move. Chances are your allocation isn’t too light on stocks. You just think it is because you’re being greedy. This line of thinking will lead you to add to stocks after they’ve gone up, and sell after they’ve dropped, trapping you in a vicious cycle.

3. Playing momentum

What goes up, stays up. Until it doesn’t. And the smart-money investors can never tell you when the momentum will stop. Except there is ample evidence for investors to realize when stocks have peaked. It’s when investors have thrown their last dollars at the market, because the data show investors buy high and sell low, following momentum in both directions just before it’s about to turn. The momentum factor may exist, but individual investors have proved remarkably adept at letting it punish them with losses rather than being able to exploit it.

4. Giving in to social pressure

Closely linked to momentum is social pressure. You see other people enjoying gains, and you want to enjoy them too. Also, you see other people buying stocks, so it feels safe for you to do the same thing, at any price. And even if you have a big slug of assets in stocks, you always want more. You want to enjoy the good times with everyone else to the maximum extent possible.

What if you never had to pull out an ID card at the airport, at the doctor’s office, or even at the voting poll? Here’s how biometric IDs could replace wallets, passwords, keys and tickets

Be wary. A little misanthropy can serve you well in investing. If other investors are buying stocks at nosebleed prices, sell them your shares.

5. Forgetting that earnings matter

Some investors believe corporate profits will be higher than previously thought because of Donald Trump’s election. Accordingly, higher stock prices are justified. But no one knows if earnings will be higher, or by how much. Is it justifiable, for example, that shares of United States Steel Corp. X, +0.60%  are up more than 60% since the November election? Will U.S. Steel produce so much more profits because of increased government infrastructure spending? Maybe. But anyone who tells you they’re certain is kidding themselves — and you.

 ets-small

JAKARTA. Jumlah aliran dana keluar dari pasar negara-negara berkembang di Asia mencapai sekitar US$11 miliar setelah kemenangan Donald Trump sebagai presiden terpilih AS.

Kemenangan Trump sebagai Presiden terpilih AS dalam kancah pemilihan Presiden AS 8 November lalu membawa ekspektasi kebijakan ekonominya mendorong imbal hasil obligasi naik serta memicu reli terkuat dolar dalam delapan tahun.

Menurut perhitungan data Bloomberg, India menderita kerugian aliran dana keluar dengan nilai terbesar antara 9 November dan 18 November, diikuti oleh Thailand.

Pelarian modal telah mengikis aliran dana masuk year-to-date hingga senilai US$55 miliar ke India, Indonesia, Filipina, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand.

“Aliran dana keluar dari emerging markets kemungkinan akan berlanjut untuk sementara dan kemudian para investor akan melihat apakah Trump akan menerapkan sejumlah kebijakan yang telah dicanangkan sebelum pemilihan, seperti kebijakan stimulus fiskal dan proteksionisme terhadap perdagangan,” ujar Masakatsu Fukaya, emerging markets trader dengan Mizuho Bank Ltd., seperti dilansir Bloomberg hari ini (Selasa, 22/11/2016).

Ditambahkan olehnya, kebijakan-kebijakan Trump berpotensi mendorong dolar lebih kuat dan berdampak negatif terhadap emerging markets.

Indeks dolar AS telah mencatat kenaikan terbesar sejak 2008 selama dua pekan terakhir di tengah spekulasi bahwa kebijakan Trump akan memacu suku bunga lebih tinggi.

Sebaliknya, nilai tukar won Korea Selatan telah drop 3,4%, rupiah telah melemah 2,7%, dan peso Filipina telah melandai 2,5% sejak pemilihan Presiden AS.

Dalam rilis videonya, Trump menyatakan rencananya menarik AS dari perjanjian perdagangan Trans-Pacific Partnership pada hari pertamanya sebagai Presiden AS. Dia juga telah berkomitmen mengucurkan US$1 triliun untuk membangun kembali serta memperbaiki infrastruktur negara.

http://kabar24.bisnis.com/read/20161122/19/605064/efek-trump-berikut-catatan-aliran-dana-keluar-emerging-markets-
Sumber : BISNIS.COM

 bird_bbri_unvr

JAKARTA kontan. Seperti sudah diprediksi, bank sentral Amerika Serikat (AS) masih mempertahankan Fed funds rate. Di saat yang sama, Bank Indonesia (BI) memangkas BI 7-day reverse repo rate dari 5,25% jadi 5%.

Di tengah kondisi ini, strategi investasi bagaimana yang bisa diterapkan investor? Menurut perencana keuangan Finansia Consulting Eko Endarto, saat ini merupakan kesempatan bagi investor jangka panjang mendapatkan keuntungan tinggi. “Produk jangka panjang akan naik keuntungannya,” ujar Eko.

Eko bilang, strategi investasi jangka panjang bisa diterapkan investor usia muda di bawah 30 tahun. Investor ini bisa menempatkan mayoritas portofolio investasi, yakni sekitar 75%, di saham atau reksadana saham. “Saran saya di atas tiga tahun untuk spekulasi dan di atas lima tahun untuk investasi,” ujar Eko.

Dia optimistis pasar saham bullish tahun ini. Penopangnya, suku bunga kredit yang menuju single digit, pembangunan infrastruktur serta pelaksanaan amnesti pajak. Direktur Bahana TCW Investment Soni Wibowo juga meyakini saham berpotensi membagi imbal hasil tinggi.

Ia menyarankan investor menempatkan mayoritas portofolio pada saham, yakni sekitar 96%. Porsi sama juga bisa ditempatkan pada obligasi dengan durasi jangka panjang. “Outlook kami masih sama, overweight di equity dan bond,” ujar Soni.

Instrumen lain, seperti pasar uang, emas dan properti masih underweight. Vice President Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi Riawan mengatakan, investor bisa masuk ke saham secara perlahan.

Ditundanya kenaikan Fed funds rate serta hasil amnesti pajak yang menggembirakan membuat iklim investasi akan cerah beberapa waktu ke depan. “Penurunan BI 7-day RR rate juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Reza.

Sebagai alternatif, perencana keuangan Fahima Advisory Dida Nurhaida menyebut investor bisa menaruh sekitar 25% dana pada sukuk. Penurunan BI 7-day RR rate membuat prospek instrumen tersebut menarik. “Sisanya bisa 25% pada logam mulia, sekitar 30% pada saham dan sisanya tabungan,” ujar Dida.

 ets-small

JAKARTA – Perkumpulan Chief Information Officer (CIO) melakukan kerjasama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menggelar iCIO Exchange . Sebuah acara program edukasi, peer interaction dan networking untuk CIO dan staf senior di bidang teknologi informasi dan teknologi (TIK).

Acara yang digelar di Main Hall Gedung BEI itu memungkinkan para CIO dan staf senior TIK untuk mendengar dan mendiskusikan berbagai tantangan dan kesuksesan dari beberapa perusahaan atau organisasi di bidang sistem. Terutama dari PT BEI yang telah sukses mengimplementasikan sistem manajemen keamanan informasi berstandar internasional dan berhasil meraih sertifikat ISO 27001 dari British Standard Institute (BSI)

“ISO 27001 telah menjadi standar pengelolaan keamanan informasi yang diakui seluruh dunia dan lebih dari 96 persen perusahaan yang telah mengimplementasikannya, mengakui pentingnya penerapan sistem manajemen keamanan informasi berbasis ISO 27001 dalam meningkatkan strategi untuk mengantisipasi ancaman serangan siber,” tutur Chairman iCIO Community Agus Wicaksono di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (8/9/2016).

Sekedar informasi BEI berhasil mendapatkan ISO 27001 pada 2014. Sertifikat itu diberikan untuk fungsi operasi teknologi informasi, manajemen proyek perkantoran teknologi informasi, pengembangan teknologi informasi, riset dan pengembangan, serta manajemen disaster recovery center (DRC).

“Komitmen BEI akan menjadi tolak ukur pengelolaan keamanan informasi. Tidak saja di bidang jasa keuangan tapi juga bisa ditularkan ke sektor lain. Dalam lingkup yang lebih luas, ketahanan siber perlu menjadi agenda nasional untuk menjaga kelangsungan bisnis dan pertumbuhan ekonomi di era digital,” kata Agus.

http://economy.okezone.com/read/2016/09/08/278/1484329/bei-adakan-pelatihan-bagi-industri-informasi-dan-teknologi
Sumber : OKEZONE.COM

 rose KECIL

bisnis.com:

JAKARTA — Membaiknya data ekonomi dan upaya reformasi anggaran yang tengah dijalankan pemerintah diyakini terus menjadi sentimen positif terhadap kinerja pasar modal sepanjang tahun ini. Aliran modal investor asing berpotensi makin deras.

Hingga penutupan perdagangan akhir pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) telah melonjak sebesar 18,01%. Catatan itu menjadi rekor tertinggi di antara bursa global sejak awal tahun ini. Indeks bertengger di level 5.420,25.

Imbal hasil atau return IHSG juga tercatat yang tertinggi di antara sejumlah bursa lain di kawasan Asia Pasifik.

Penguatan IHSG secara year to date lebih tinggi bila dibandingkan dengan bursa utama dunia seperti Thailand (17,80%), Filipina (14,65%), Inggris (8,33%), India (7,53%), Australia (4,51%), Dow Jones Amerika Serikat (4,25%), KOSPI Korea Selatan (2,89%), dan Hang Seng Hong Kong (1,06%). (Lihat ilustrasi)

Nilai beli bersih (net buy) oleh investor asing sejak Januari hingga akhir pekan lalu telah mencapai Rp32,50 triliun. Lonjakan nilai net buy paling tajam terjadi sejak pengesahan UU Pengampunan Pajak pada 28 Juni 2016. Sejak 28 Juni hingga 5 Agustus 2016, nilai beli bersih oleh asing mencapai Rp18,74 triliun atau 57,66% dari total nilai net buy.

Analis PT Bahana Securities Muhammad Wafi mengatakan merangseknya investor asing ke lantai bursa terjadi seiring dengan positifnya data-data ekonomi domestik. Dari sisi eksternal, ekonomi AS terbilang belum kondusif sejalan dengan belum dinaikkannya suku bunga acuan Fed Fund Rate oleh Federal Reserve.

Tidak hanya itu. Perekonomian Uni Eropa juga masih terguncang setelah keputusan Inggris keluar dari keanggotaan Uni Eropa. Keputusan tersebut ditengarai mengganggu stabilitas politik dan ekonomi Benua Biru.

“Akhirnya, investor kehilangan tempat untuk berinvestasi. Tujuannya sekarang adalahemerging market. Pilihan investor sangat terbatas hanya dua atau tiga negara, Indonesia salah satunya karena dari sisi politik lebih stabil dibandingkan dengan negara lain,” ujarnya, Minggu (7/8).

LEVEL BARU

Menurutnya, IHSG pekan ini berpeluang menguji level psikologis 5.400. Tidak menutup kemungkinan, IHSG bakal menembus level 6.000 pada tahun ini apabila tren masuknya investor asing ke lantai bursa terus terjaga.

Sementara itu, saham-saham sektor pertambangan yang terus meroket sejak awal tahun dinilai telah memasuki area jenuh beli. Peluang saham pertambangan untuk terkoreksi cukup besar lantaran telah terjadi sinyalemen jual.

Saham-saham sektor properti dan konstruksi dinilai mulai menggeliat. Dalam dua hari terakhir perdagangan, saham sektor properti dan subsektor konstruksi mulai menanjak.

IHSG pekan ini diproyeksi cenderung menguat dengan level resistance 5.500 dan support 5.400. Sementara itu, nilai tukar rupiah cenderung sedikit melemah dengan level Rp13.050–Rp13.200 per dolar AS.

Kepala Riset PT Nong Hyup Koorindo Securities Indonesia Reza Priyambada menuturkan IHSG berpeluang kembali menyentuh level resistance sepanjang pekan ini. “Sentimen positif datang dari pertumbuhan ekonomi, harapan realisasi tax amnesty, dan kondisi bursa global yang cenderung menguat.”

Akan tetapi, dia mengingatkan agar pelaku pasar tetap berhati-hati. Pasalnya, setiap kali IHSG menyentuh level tertinggi, maka akan dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung. Kendati demikian, dalam sejumlah aksi ambil untung, investor asing masih mencatatkan nilai beli bersih yang mencerminkan kepercayaan terhadap prospek ekonomi di Indonesia.

Reza memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2016 lebih rendah dari capaian kuartal II/2016 yang mencapai 5,18%.

Senior Market & Technical Analyst PT KDB Daewoo Securities Indonesia Heldy Arifien menilai seiring derasnya aliran modal investor asing, IHSG berpotensi menyentuh level 5.500 dengan support 5.425 dan resistance 5.480–5.525.

Menurut Heldy, pelaku pasar menilai optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal III dan IV tahun ini akan positif. Pertumbuhan ekonomi yang baru dirilis di atas ekspektasi membuat saham sektor perbankan dan big cap melambung.

“Seharusnya pekan ini masih sejalan. Lihat sektor banking masih bisa mendorong, akan ada bantuan dari sektor infrastruktur dan konsumer,” paparnya.

Kepala Komunikasi Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, Dwi Shara Soekarno mengungkapkan sepekan lalu, rerata nilai transaksi hari an naik 14,28% menjadi Rp9,83 triliun dari Rp8,6 triliun pada akhir pekan lalu.

Rerata volume transaksi harian sepanjang pekan lalu naik 16% ke posisi 7,81 miliar lembar saham dari 6,73 miliar lembar saham di akhir pekan sebelumnya.

 dollar small

JAKARTA okezone– Pasar modal Indonesia berhasil menyandang return investasi terbesar di dunia. Tercatat selama 10 tahun terakhir pasar modal Indonesia memberikan return investasi hingga 317 persen atau 15 persen per tahun.

Namun belakang ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung tertekan. Kendati begitu BEI tetap yakin pasar modal Indonesia masih tetap bisa mempertahankan predikat return investasi tertinggi di dunia tersebut.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat mengatakan, ada empat hal yang membuat pihaknya yakin akan hal tersebut. Pertama terkait upaya pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty. Diharapkan dana repatriasi tax amnesty sebagian besar bisa masuk ke pasar modal

“Kami usulkan dana hasil repatriasi ke reksadana, penyertaan terbatas obligasi dan saham di hadapan DPR. Dan kami akan mengirim surat resmi Kementerian Keuangan,” terangnya di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (25/5/2016).

Kedua, lanjut Samsul, kemungkinan penurunan harga BBM yang akan terus berlangsung juga akan berdampak tidak langsung kepada pasar modal. Pasalnya diperkirakan setiap kali ada penurunan harga BBM Rp1.000 per liter maka diperkirakan akan penambahan dana yang beredar di masyarakat sebesar Rp31 triliun.

“Ketiga belanja pemerintah ini juga akan mendukung industri. Keempat pelonggaran moneter khususnya pemangkasan suku bunga acuan. Ini yang akan mendorong pasar modal,” pungkasnya.

(mrt)

ezgif.com-resize

JAKARTA sindonews – Kepala Komunikasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Dwi Shara Soekarno mengatakan rata-rata nilai transaksi harian di BEI sepanjang pekan ketiga Mei 2016 mencatat kenaikan 11,39%. Meningkat menjadi Rp6,08 triliun dari sebelumnya Rp5,46 triliun.

Lanjut dia, peningkatan nilai transaksi di pasar saham diimbangi rata-rata volume transaksi harian yang juga naik 2,11% meski frekuensinya menurun.

“Kenaikan tersebut juga diimbangi dengan rata-rata volume transaksi harian yang juga ikut mengalami kenaikan 2,11%, walaupun rata-rata frekuensi harian mengalami perubahan 3,64%,” ujarnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (22/5/2016).

Sementara, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang periode 16-20 Mei 2016 terkoreksi 1,05% ke posisi 4.711,88 poin jika dibandingkan penutupan pekan sebelumnya yang berada di level 4.761,72 poin.

Selain itu, lanjut Dwi, nilai kapitalisasi pasar di bursa tercatat menurun dari Rp5.055,36 triliun menjadi Rp5.001,81 triliun.

“Kapitalisasi pasar BEI juga ikut mengalami perubahan menjadi Rp5.001,81 triliun dari Rp5.055,36 triliun di akhir pekan sebelumnya,” katanya.

Dia menambahkan investor asing sepanjang perdagangan pekan kemarin mencatatkan jual bersih di pasar modal Indonesia dengan nilai Rp403 miliar.

“Sementara secara tahunan, aliran dana investor asing di pasar saham masih tercatat beli bersih dengan nilai Rp2,05 triliun,” pungkasnya.

(ven)

doraemon

INILAHCOM, Jakarta Tidak semua pelaku pasar atau investor memahami benar apa yang dilakukannya saat melepas saham di pasar modal akibat gejolak ekonomi. Sebagian ikut-ikutan dan justru menambah keresahan pasar.

Menurut Ekonom Universitas Atmajaya, Prasetyantoko mengatakan, tidak sedikit pelaku market keluar dari pasar modal dan terjebak pada pada sikap sekedar ikut-ikutan. “Melepas saham akibat behaviour, enggak jelas alasannya,” kata dia di Jakarta, Selasa (15/9/2015).

Ia menilai, pasar sudah terbawa arus yang tidak rasional dengan gejolak eksternal yang berdampak ke internal. Padahal, seharusnya rupiah yang telah memicu capital outflow di pasar saham, secara fundamental mata uang RI berada di kisaran 12.500 hingga 13.000. “Walupun, realitasnya sekarang di atas Rp14 ribu per dolar AS,” timpal dia.

“Sesuatu yang sulit diprediksi untuk rupiah, nyatanya melewati asumsi APBNP 2015,” imbuhnya. [jin] – See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2237736/rupiah-melemah-investor-doyan-lepas-saham#sthash.d6hxUHKJ.dpuf

 

spiral

Tuesday 8 September 2015 06.30 BST
Last modified on Tuesday 8 September 2015 06.56 BST

 

China is planning a “circuit breaker” mechanism to prevent any further losses on its volatile stock markets as both of the country’s leading indexes continued to slide.

According to draft regulation, trading would be suspended for 30 minutes when the market rose or fell by 5%. If the index went up or down by 7% or more, trading would be suspended for the day.
Analysis China’s market turmoil: leaders’ refusal to learn lessons makes more volatility a sure bet

The mechanism could only be triggered once a day. “Circuit breaker in both directions will be conducive to curbing excessive transactions and reining in market fluctuations,” the draft from the securities regulator said.

It is the latest in a string of measures introduced by the Chinese authorities as they continue to grapple with wild fluctuations in the share market, which have fallen by 40% since June.

There were more jitters on Tuesday after figures showed that China’s foreign trade dropped 9.7% in August. Customs data showed that exports for August were down 6.1% but imports fell a whopping 14.3%, raising more questions about the strength of the country’s economy. In the first 8 months of this year, imports were down 14.6% while exports fell 1.6%.

On Tuesday, Shanghai’s Composite index was down 0.76% in trading after the lunch break with the Shenzhen Component index down almost 1%.

In Japan, the Nikkei index in Japan was off 2.4%, the Kospi index was down 0.5% in Korea but the Hang Seng in Hong Kong was up 0.7%.

It was a better day in Australia where the S&P/ASX200 was up more than 1% at 5,089 points on news of possible takeovers in the energy sector.

According to Tuesday’s draft plan, the circuit-breaker mechanism would help prevent “excessive reactions of investors”. China’s stock market investors are mostly individual investors which can lead to panic selling.
Advertisement

Yang Delong, chief strategy analyst at the Southern Fund, said the idea showed “the government’s good intentions”.

“The introduction of the circuit-breaker aims at preventing future market plunges and stabilising the market. The A-share market has seen violent plunges recently, and with the circuit breaker mechanism investors would have a cooling period before taking irrational actions.”

The stock exchanges were soliciting public opinions on the plan and the public have until 21 September to comment.

In another bid to stabilise the markets, it was announced that Chinese investors who hold their stock for over a year will be exempt from a 5% dividend tax.

The ministry of finance said in a joint statement with the taxation authority and the securities regulator on Monday that if investors sold a stock after holding it for a month or less, they would be liable for a 20% payment of income tax on the dividend they receive. Investors who held a stock for between one month and a year would pay a 10% to encourage long-term investment instead of the short selling of stocks.

On Sunday, China’s securities regulator said that the country’s stock markets had stabilised and that market transactions are now normal for the most part. In a comment to the state news agency Xinhua, the China Securities Regulatory Commission said: “Gains on the stock market had been too rapid and large, forming stock market bubbles, therefore subsequent plunges and adjustments were inevitable.”

Additional reporting by Luna Lin

 ezgif.com-resize

Bursa Saham China Berayun Akibat Penurunan Harga Tembaga

Indeks saham China berayun antara keuntungan dan kerugian seiring penguatan saham perusahaan listrik terkait prospek reformasi harga, sementara saham produsen tembaga merosot.

Indeks Shanghai Composite tergelincir sebesar 0,2 persen ke level 3,215.17 pukul 09:40 waktu setempat. Indeks acuan turun sebesar 4,5 persen dalam sepekan terakhir melalui perdagangan kemarin seiring senilai $5 triliun keluar dari pasar saham china yang mengalami kehilangan momentum pasca menhentikan reli duni mengirim indeks ke level tertingginya sejak Agustus 2009 lalu. Volume perdagangan. anjlok 60 persen di bawah moving average 30-hari untuk hari ini.

Indeks Hang Seng Hong Kong China Enterprises turun sebesar 0,3 persen. Indeks CSI 300 turun sebesar 0,1 persen. Indeks Hang Seng kehilangan kurang dari 0,1 persen. Indeks saham China-AS Bloomberg, Indeks saham perusahaan china terdaftar yang paling diperdagangkan di AS, merosot 0,8 persen di New York.

Indeks Shanghai Composite masih pemain terbaik di antara 93 indeks global yang dilacak oleh Bloomberg selama tahun lalu indeks melonjak sebesar 59 persen. Indeks diperdagangkan pada 12,3 kali 12 bulan proyeksi pendapatan pekan lalu, level tertinggi sejak Mei 2011, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg.

China mungkin merilis data pada pasokan uang, pinjaman baru dan investasi asing langsung untuk Desember sedini hari ini. Pinjaman baru mungkin mencapai 880 miliar yuan ($142.miliar) bulan lalu, dibandingkan dengan 852.700.000.000 yuan pada bulan November, menurut estimasi median dari survei Bloomberg. (izr)

Sumber: Bloomberg

dollar small

IMF: Gejolak China Bukanlah Krisis

Strategydesk – Perlambatan ekonomi China dan kejatuhan bursa sahamnya bukanlah pertanda krisis, tapi lebih sekedar penyesuian penting bagi ekonomi terbesar kedua itu.

China StockHal itu disampaikan oleh Direktur Pelaksana IMFCarlo Cottarelli dalam jumpa pers akhir pekan lalu. “Kebijakan moneter sangat agresif dalam beberapa tahun terakhir dan penyesuaian harus terjadi,”katanya. Menurutnya, terlalu dini untuk menyebut adanya krisis di China.

Data manufaktur China Jumat lalu memperlihatkan semakin dalamnya kontraksi. Bukti terbaru akan perlambatan di China menghujam saham global sepanjang akhir pekan, membuat Wall Street mengalami kejatuhan harian terbesar dalam empat tahun. Bursa saham di seluruh Eropa dan Asia juga bertumbangan. Hampir $3 triliun nilai saham global hilang.

Pejabat IMF itu mengumumkan kembali proyeksi pertumbuhan China tahun ini di 6,8%, lebih rendah dari pertumbuh 7,4% yang dicapai tahun lalu. “Ekonomi riil China melambat, tapi ini suatu hal yang lumrah terjadi. Apa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di pasar keuangan adalah gejolak yang alami,”sebutnya.

Bursa saham China sudah anjlok 30% sejak pertengahan tahun. Menyusul serangkaian data ekonomi buruk, China mendevaluasi yuan minggu lalu. Cottarelli mengatakan IMF akan meminta penjelasan pemerintah China soal keputusan melemahkan mata uang mereka.

By soegeefx|August 24, 2015 5:01 am|Bisnis & Ekonomi|

The foreign exchange market, with global daily turnover of some US$5.3 trillion, is by far the world’s largest financial market—and its importance is only expected to grow. One leading global wealth management company has suggested daily volumes could reach $8 trillion within the next decade.

“The growth of foreign exchange markets is likely to continue,” agrees Professor Mark Taylor, dean of Warwick Business School in the U.K. One of the main drivers, he says, is the continued growth of international trade and investments, though he notes that “a large amount of forex transactions are not for goods or services—or indeed for external financial transactions—but is proprietary trading.”

It is generally accepted that efficient currency markets provide an essential lubricant to global trade and investment, while floating exchange rates act as shock-absorbers during macroeconomic shifts. Yet Michael Kitson, an economist at the University of Cambridge Judge Business School in the U.K., sees “an increasing disconnect between forex markets, now driven more by speculative behaviour, and the real economy.”

“This makes exchange-rate movements less predictable,” Mr. Kitson adds, “and it is this inconsistency, rather than pure volatility, that seems to be growing.” A recent example was the euro-dollar spot rate’s rollercoaster ride in early June, rising 2% on the day that more positive data on euro-zone inflation was released (see chart) and then gyrating more than 1% as the market struggled to establish a new trading range.

Much of that turbulence was caused by traders unwinding overcrowded positions that assumed the euro zone’s continuing slide towards deflation—for many investors, a “one-way bet.” The first data suggesting otherwise caused the euro to surge, triggering stop/loss fire sales that pushed it even higher.

“Uncertainties over the timing of interest-rate rises tend to unsettle markets,” Prof. Taylor says. And then there are extreme events, he adds, such as when the policy of pegging the Swiss franc to the euro was abandoned [see chart). Many major market players—including the big Swiss banks—suffered huge losses.

Patrick Teng, founder and chief dealer of Singapore-based Six Capital, predicts: “Financial markets across all asset classes will be volatile and daily swings unprecedented,” adding that the 50% plunge in oil prices “is just the tip of the iceberg.”

Chiara Banti, lecturer in finance at the University of Essex in the U.K., who has studied the relationship between liquidity and volatility, believes that “we have seen higher volatility since the financial crisis.” And it is not just macroeconomic uncertainties or fast-moving global capital flows that are responsible.

“Given its size, the forex market is considered to be highly liquid,” Dr. Banti observes. But she has found that higher volatility can trigger illiquidity because it impacts on the funding market, making it more expensive for dealers to hold a position.

“Dealers are increasingly seeking to match customer orders in-house, without themselves having to step in and provide liquidity,” she notes. But when markets move sharply, such risk-aversion may suddenly drain liquidity and widen bid-ask spreads, thereby fuelling even greater volatility.

Mr. Kitson argues that “excess liquidity globally is generating price volatility.” Huge capital flows seeking better returns in a low-interest-rate environment only increases instability; and with the negative feedback between volatility and liquidity when markets are stressed, it looks like we are all in for a bumpy ride.

“Debating the causes has become a secondary issue,” Mr Teng says. “What matters now is how best to manage and benefit from increased volatility. We need to look the future rather than the past.”

rose KECIL

TEMPO.COJakarta – Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengakui bursa saham Indonesia sedang melemah. Menurut dia, pelemahan ekonomi ini juga dialami banyak negara, baik negara maju maupun berkembang.

Pelemahan bursa saham ini, kata dia, konsekuensi dari melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia. “Kita tidak usah merasa yang melambat ekonominya hanya Indonesia, tidak! Penegasan ini perlu, karena yang sering diangkat adalah ekonomi kita melemah, iya, tapi negara lain juga melambat,” ucapnya saat berkunjung di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Agustus 2015.

Jokowi berujar, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di peringkat lima besar dunia. “Kalau ada rasa pesimistis, menurut saya, itu keliru. Kita harus optimistis, karena negara-negara lain ada yang turun,” ujarnya.

Menurut Jokowi, pertumbuhan ekonomi negara-negara lain turun 1,5-3 persen. “Kita turun 0,3 persen saja sudah ramai. Lihat nanti semester kedua,” tuturnya.

Hari ini Jokowi hadir dalam peringatan 38 tahun pasar modal Indonesia di gedung BEI. Jokowi berharap BEI terus berbenah agar dapat mendorong inklusi investasi bagi investor dalam negeri. Dalam acara ini, hadir pula Ketua Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, pimpinan BEI, dan para pelaku pasar.

ALI HIDAYAT

doraemon

Bisnis.com, JAKARTA- Gejolak ekonomi dan pasar modal yang terjadi saat ini turut mengancam bisnis sekuritas di dalam negeri. Bisnis sekuritas tahun ini dinilai tidak menggairahkan dan diprediksi akan berkinerja di bawah tahun lalu.

Padahal, pada awal 2015, sejumlah sekuritas masih optimistis pertumbuhan pendapatan di bisnis ini bisa mencapai 20%-30% seiring mulai jalannya pemerintahan baru dan proyek infrastruktur pemerintah. Namun, di tengah tahun, sekuritas justru tidak begitu optimistis dengan bisnis ini dan memilih menghitung-hitung kembali.

Tidak begitu menggairahkannya bisnis sekuritas tahun ini sudah terlihat dari sejumlah kinerja sekuritas sepanjang kuartal I/2015. Sekuritas, khususnya sekuritas anak usaha pelat merah rata-rata mengalami penurunan pendapatan. Adapun, kinerja yang sama diprediksi akan berlanjut hingga akhir tahun seiring belum terlihatnya sentimen positif, baik dari domestik maupun global.

Direktur Strategy, Treasury & Propietary Mandiri Sekuritas C. Paul Tehusijarana mengatakan bisnis sekuritas secara keseluruhan kurang menggembirakan sepanjang semester I/2015. Kondisi pasar modal dan ekonomi yang tidak begitu mendukung, membuat kinerja masing-masing lini bisnis tidak begitu optimal.

Menurut Paul, hingga akhir tahun kinerja sekuritas belum bisa diprediksi. Namun, melihat belum adanya sentimen positif yang menghampiri, dia tidak begitu optimistis. “Tidak terlalu menggembirakan tahun ini. Lihat saja sampai akhir tahun bagaimana, kami akan melihat lagi, kami terus mengembangkan bisnis di semua lini bisnis usaha,” kata Paul, Kamis (9/7).

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, sepanjang kuartal I/2015 pendapatan usaha Mandiri Sekuritas tercatat Rp148,52 miliar atau turun 13,22% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp171,15 miliar. Sementara, sepanjang tahun lalu pendapatan Mansek tumbuh sekitar 14,42%.

Pada kuartal I/2015, penurunan pendapatan paling tajam terjadi pada bisnis kegiatan perantara perdagangan efek. Namun demikian, Paul memprediksi bisnis tersebut masih menjadi andalan yang memberikan pendapatan paling tinggi dibandingkan dengan bisnis lainnya hingga akhir tahun ini.

“Ya masih dari sana. Untuk investment banking, kami juga terus kejar, banyak penjaminan emisi yang kami lakukan tahun ini, semoga bisa mendongkrak kinerja kami,” jelasnya.

Bukan hanya Mansek yang mengalami penurunan pendapatan pada kuartal I lalu. Pendapatan usaha Bahana Securities turun 26,97% menjadi Rp31,62 miliar pada kuartal I/2015 dari perolehan periode yang sama sebelumnya, yakni Rp43,30 miliar.

Begitu juga dengan BNI Securities yang pendapatannya turun hingga 44,91% menjadi Rp24,50 miliar dari perolehan periode yang sama sebelumnya yang mencapai Rp44,48 miliar. Padahal, sepanjang tahun lalu pendapatan perseroan masih tumbuh 8,11%.

Panin Sekuritas Tbk. juga mengalami hal yang sama. Pendapatannya pada kuartal I/2015 turun 23,22% menjadi Rp148,08 miliar dari perolehan sebelumnya Rp192,88 miliar. Sementara, pada awal tahun perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan sekitar 20% hingga akhir tahun ini.

Handrata Sadeli, Presiden Direktur Panin Sekuritas mengatakan turunnya pendapatan disebabkan kondisi pasar saham yang kurang baik lantaran dipengaruhi oleh kondisi global dan perekonomian dalam negeri. Dia berharap kondisi ini tidak berlangsung lama lantaran bisa mengganggu kinerja bisnis sekuritas lebih dalam.

Adapun, penurunan kinerja tidak terjadi pada Danareksa Sekuritas yang justru naik hingga 29,61% menjadi Rp64,42 miliar dari sebelumnya yang senilai Rp49,70 miliar.

Marciano Herman, Direktur Utama Danareksa Sekuritas mengatakan sejak awal perseroan melakukan strategi yang memang tidak sensitif terhadap kondisi pasar. Hal ini membuat, gejolak di pasar modal yang sedang terjadi saat ini tidak begitu banyak memberikan pengaruh terhadap kinerja perusahaan.

“Kami mendesain strategi bisnis yang tidak rentan. Dari dulu, kinerja kami memang datar-datar saja. Namun, memang dibandingkan dengan bisnis brokerage, bisnis investment banking tahun ini akan lebih baik,” kata Marciano saat dihubungi Bisnis, Kamis (9/7).

reaction_1

EKONOMI
03/10/2009 – 05:15
IHSG Sepekan, Tertekan Data Ekonomi AS
Wahid Ma’ruf

(inilah.com/Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta – Pergerakan IHSG pada pekan ini dipengaruhi oleh faktor ekternal yang berasal dari data ekonomi AS sehingga mempengaruhi indeks Wall Street. Walaupun ekspektasi inflasi dan laporan keuangan kuartal III menahan pelemahan IHSG.

Menurut analis saham Milenium Danatama Securiteis, Ahmad Riyadi, Data ekonomi di AS yang turun mendorong pelemahan di bursa global yang diikuti penurunan di bursa regional.Sentimen positif yang masih ditunggu investor adalah keluarnya laporan keuangan kuartal III 2009 sehingga mereka lebih memilih untuk menahan beli saat ini. “Indeks masih terpengaruh pelemahan bursa global karena data ekonomi yang turun, minyak juga turun. Transaksi lebih didominasi investor lokal,” katanya.

Sentimen dari ekonomi AS yang mempengaruhi bursa pada pekan ini seperti tentang akuisisi yang dilakukan Abbot Laboratories dan Xerox Corp. Aksi korporasi ini meningkatkan kepercayaan para investor tentang pemulihan ekonomi. Data yagn jelek juga tentang pendapatan domestik bruto (PDB), dan penurunan industri manufaktur di wilayah Midwestern.Selain itu data Departemen Tenaga Kerja AS tentang jumlah klaim insentif pengangguran naik menjadi 551 ribu pada pekan lalu.

Sedangkan sentimen dari dalam negeri adalah ekspektasi dari grup Astra yang kinerja kuartal III diperkirakan akan meningkat. Dengan sentimen itu investor-investor asing melakukan pembelian masif atas saham PT Astra International Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) senilai Rp 175,36 miliar. Pembelian ini mendorong kenaikan tajam harga dua saham tersebut pada perdagangan hari Rabu lalu.

Ekspektasi investor terhadap data pengumuman BPS soal inflasi September juga sempat menahan penurunan IHSG yang saat itu bursa regional dan global tertekan dengan penurunan PDB AS. Inflasi akhirnya melebihi ekspektasi investor yaitu berada di 1,05% dari ekspektasi di bawah 1% sehingga mendorong melakukan profit taking.

Setelah libur panjang lebaran lalu, volume transaksi di BEI belum kembali ke volume normal. Untuk itu investor masih lebih memilih strategi spekulasi sehingga sering melakukan akti ambil untung. Sedangkan investor asing masih dalam posisi wait and see terhadap data kinerja emiten pada kuartal ketiga. [hid]

Indeks Kembali Tembus Rekor Tertinggi Sejak Mei 2008
Kamis, 01 Oktober 2009 | 17:10 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Indeks berhasil naik dalam tiga hari berturut-turut, sehingga mengantarkan indeks kembali mencetak level tertinggi sejak 23 Mei 2008. Pada perdagangan sore ini, indeks ditutup di 2.477,971 atau naik 10,38 poin (0,42 persen) dari posisi kemarin.

Saham BCA yang naik Rp 200 per saham, BRI Rp 150, Unilever Rp 200, Perusahaan Gas Negara Rp 50, Indocement Rp 200, Telkom Rp 50, serta Astra International yang naik Rp 150 per saham mampu menopang kenaikan indeks.

Menurut analis PT Milenium Datanama Sekuritas, Abidin, saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga, seperti saham perbankan, justru menjadi pemicu kenaikan indeks. Walau harganya saat ini sudah sangat mahal,” kata Abidin kepada Tempo di Jakarta sore ini.

Dia menambahkan, laju inflasi September yang meningkat di atas 1,05 persen yang melebihi ekpektasi pasar, tidak banyak mempengaruhi indeks. “Pasar menilai inflasi masih terkendali,” ujarnya. “Pasar juga memperkirakan minggu depan Bank Indonesia masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di 6,5 persen.”

VIVA B KUSNANDAR

 

peluank + korupsi = itu lah indonesia … 010410_300817 30 Agustus 2017

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 12:20 am

… sejak 4 dekade yang lalu KORUPSI adalah SALAH SATU TOPIK MEDIA MASSA saat itu, terutama kasus PERTAMINA dan IBNU SUTOWO … nah s/d hari ini INDON maseh TETAP NGETOP sebagai SARANG KORUPSI … tapi kayaknya gw mah jalanin hidup seperti biasa dan enjoy … well, itu juga sebabnya ketika SEMUA TEMAN gw yang tau bahwa gw maen reksa dana, bahkan sekarang maen saham, MENGKRITIK GW karena TERLALU BERANI MENGAMBIL RISIKO … karena alasan mereka, bahwa bisnis indon itu KORUP dan bursa saham itu SARANG PENGGORENG LIHAI … well, gw seh bilang, kok ihsg bisa naek seh … itu artinya khan EKSPEKTASI dan PELUANK tetap ada di indo, baik di ekonomi riilnya dan bursa sahamnya … jadi ngapain gw mencuekkan peluank seperti itu donk … yang penting DIVERSIFIKASI dan JANGAN SERAKAH … gitu aja kok repot 😛

Kutipan dari gatra.com 22 Agustus pukul 11.57, “KPK menetapkan PT Duta Graha Indah (DGI) yang kini bersulih nama PT Nusa Konstruksi Enjiniring (DGIK) sebagai tersangka karena diduga melakukanperbuatan melawan hukum untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi dalam proyek pembangunan RS Pendidikan Khusus Penyakit Infeksi dan Pariwisata Unud Bali, tahun anggaran2009 -2011”.

 

Saya awam hukum. Karena itu, lewat tulisan ini saya ingin bertanya kepada KPK atau pakar hukum bisnis, atau kepada siapa saja yang bersedia membantu mengurai kabut kebingungan saya. Saya merasa keputusan KPK dalam menetapkan DGIK sebagai tersangka korupsi mengandung banyak pertanyaan dan mengusik rasa ketidak-adilan.

 

Pertama, apa kriteria suatu badan hukum dianggap melakukan korupsi? Pertanyaan ini penting agar semua orang mendapat perlakuan yang sama di depan hukum. Mengapa PT Sentul City Tbk (BKSL) yang dirutnya sudah dinyatakan bersalah dan baru mendapatkan kebebasan bersyarat, bukan pelaku korupsi? Mengapa Permai Group yang jelas-jelas memfasilitasi serangkaian perbuatan korupsi tidak dijadikan tersangka?

 

Bagaimana pula dengan kasus korupsi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) karena dirutnya telah ditetapkan menjadi tersangka, menerima US$ 4 juta terkait pengadaan mesin Rolls-Royce untuk pesawat Airbus milik perusahaan? Bagaimana dengan PT Pal Indonesia, yang dirutnya telah dicokok KPK, karena bersama sejumlah koleganya diduga menerima suap terkait pembuatan dua kapal perang untuk pemerintah Filipina? Bahkan KPK sendiri menyatakan ada 11 kasus korupsi di BUMN dan BUMD lain. Tidak adakah di antara kasus itu yang melibatkan badan hukumnya sebagai pelaku korupsi?

 

Kedua, sadarkah mereka, petinggi KPK itu, bahwa sebelum proses hokum berjalan, mereka telah menghukum banyak orang yang tidak bersalah? Sejak dinyatakan sebagai tersangka lalu diikuti suspensi perdagangan saham DGIK di BEI, harga sahamnya sudah turun hamper 50%. Ada ribuan investor ritel yang mempercayakan uangnya dalam mekanisme pasar modal ini, yang tidak mengerti apa-apa, sekarang kehilangan tabungan yang mungkin mereka kumpulkan rupiah demi rupiah, seumur hidup. Bukankah hukum bertujuan keadilan? Bukankah banyak pakar hukum yang menyatakan bahwa hukum tertinggi adalah kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat?

 

Lalu, mengapa perilaku buruk pejabat penyelenggara negara dan eksekutif perusahaan harus dipikul-bebankan kepada masyarakat kecil? Mengapa proses hukum mastermindnya tidak diselesaikan dulu baru kemudian bisa memastikan ada atau tidaknya organized crime di dalam perusahaan? Kalau memang ada organized crime di dalam perusahaan, tentu bukan hanya dirut yang berperan, paling tidak seluruh jajaran direksi dan komisaris pasti lalai dan terlibat. Mengapa tidak dijadikan tersangka dan dibiarkan melenggang ke panggung kekuasaan?

 

Kalau DGIK terbukti bersalah, bagaimana mekanisme hukum hendak memberikan perlindungan terhadap harta para pemegang saham ritel yang hangus itu? Lebih runyam kalau DGIK dinyatakan tidak bersalah, bersediakah KPK mengganti rugi? Bisakah masyarakat luas yang dirugikan menuntut ganti rugi kepada KPK yang telah menyebabkan hilangnya kekayaan mereka? Atau kita biarkan rasa keadilan dikoyak-koyak oleh mekanisme hukum?

 

Ketiga, bagi saya, sebagai ekonom, sebuah perusahaan adalah benda mati. Manusialah yang meniupkan konsep yang menggerakkan seluruh roda perusahaan melaksanakan kegiatannya. Pengelolaan aset, termasuk keuangan, program kerja, anggaran perusahaan, corporate values and cultures, rule of conducts, etika bisnis, dst, merupakan produk pemikiran dan perilaku manusiamanusianya. Karena itu, kata “jera” untuk sebuah badan hukum, terasa absurd dan konyol. Yang harus dibikin jera adalah manusia-manusia yang meniupkan napas busuk dan perilaku biadab ke dalam organisasi usaha tersebut.

 

Ketika terjadi penipuan bubble reports dalam kasus Enron, Worldcom dll, di Amerika Serikat, yang jelas-jelas melibatkan seluruh sistem akuntasi perusahaan, yang dihukum ya pimpinan perusahaan. Bahkan kasus itu kemudian melahirkan undang-undang yang menetapkan bahwa CEO dan CFO suatu perusahaan bertanggung jawab terhadap kebenaran laporan keuangan.

 

Keempat, saya belajar bahwa di Amerika Serikat sana ada terminology corporate crimesCorporate crime is acrime committed by a corporation or business entity or by individuals who are acting on behalf of a corporation or business entity (Yolanda William 2015). Jadi tekanan corporate crime adalah sebuah skenario resmi yang dijalankan secara sistematis oleh perusahaan. Pada tahun 2014, Rite Aid Corporation menggunakan kartu belanja untuk memengaruhi pembuat resep agar mengganti obat dengan produk buatan mereka. Aktivitas itu mereka lakukan secara masif. Perusahaan kemudian dikenakan denda US$ 2.99 miliar.

 

Suatu perusahaan dianggap melakukan corporate crimes bila mekanisme kerja perusahaan dirancang sedemikian rupa untuk merugikan masyarakat dan menguntungkan perusahaan. Dalam kasus sub prime mortgages, misalnya, yang mengakibatkan krisis financial pada tahun 2008, beberapa investment banking memang secara massif melakukan miss selling, mengatakan bagus instrumen yang sejatinya tidak bagus, menyesatkan masyarakat dan mengambil keuntungan dari masyarakat yang tersesat. Dalam kasus itu, JP Morgan & Chase, –salah satu dari sekian investment bank yang terlibat—didenda sebesar US$ 15 miliar oleh US Department of Justice.

 

Apakah dalam perusahaan DGIK ada skenario semacam itu? Apakah dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) DGIK tercantum secara eksplisit upaya-upaya dan anggaran biaya menyogok untuk memenangkan proyek secara tidak sah? Kalau memang ada, maka kita bisa mengatakan telah terjadi organized crime di dalam perusahaan. Kalau itu terjadi maka seluruh personil pengurus perusahaan, anggota direksi, anggota dewan komisaris dan para eksekutif puncak bisa dipastikan ikut berperan dan ambil bagian. Jangan lupa bahwa RKAP disusun oleh direksi bersama para eksekutif, di-review oleh dewan komisaris, dan diputuskan dalam RUPS.

 

Sebaliknya, kalau kegiatan menyogok itu hanya merupakan inisiatif beberapa gelintir pimpinan perusahaan, bukan hanya melanggar peraturan perundangan yang berlaku, tapi juga menabrak standar prosedur operasi perusahaan, mengapa badan hukumnya yang harus diseret menjadi status tersangka? Apalagi dengan mengorbankan sekian banyak masyarakat yang tidak bersalah. Keadilankah yang kita cari atau pameran kekuasaan?

 

Hasan Zein Mahmud Investor saham, instruktur pada LP3M Investa

dollar small

 

Mar 31st, 2010 | Rubrik MAKRO, UTAMA
Investor Asing Menilai Indonesia Jadi Sarang Korupsi
NERACA
Jakarta – Pengamat ekonomi politik dan pakar hukum pidana membenarkan persepsi investor asing yang terangkum dari hasil riset lembaga Political and Economic Risk Consultancy (PERC), bahwa Indonesia sebagai negara terkorup di Asia Tenggara, yang merupakan pertanda belum adanya perubahan yang signifikan dalam regulasi, layanan investasi dan birokrasi yang masih berbelit-belit di negeri ini.
Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti menyatakan, para investor tetap saja menilai Indonesia sebagai sarang korupsi. Karena para pemilik modal tersebut menilai dari aspek tatanan kualitas seperti penilaian regulasi, birokrasi serta bagaimana penegakan hukum dilakukan. “Kalau tanpa ada perubahan itu, tentunya sulit akan merubah indeks korupsi negara ini walau hanya di level Asia,” ujarnya di Jakarta, Selasa (30/3)
Ray mengatakan, apa yang terjadi di dalam negeri terlihat masyarkat sebenarnya belum puas dengan penangkapan koruptor kelas teri. Sedangkan koruptor dalam kasus Bank Century, atau jaringan mafia hukum/pajak Gayus Tambunan belum tersentuh secara komprehensif.
Dengan penangkapan kelas teri pelaku korupsi tersebut, ini dapat dijadikan modus baru untuk mengelabuhi masyarakat bahwa pemerintah sudah bekerja. “Dan anehnya, masyarakat juga diam saja, merasa puas dengan penangkapan para koruptor teri. Ini terjadi, penahanan setingkat Kompol dan pengacara digembar- gemborkan, padahal bukan substansinya,” tuturnya.
Ray mengingatkan, tidak ada gunanya PNS dibayar gaji lebih tinggi tetapi masih melakukan korupsi. Sebab gaji yang besar menambah rakus si koruptor. Di lain pihak, pengawasan sudah sangat ketat tetapi tidak saja mampu dengan mengurangi korupsi. “Apa janji Menkeu Sri Mulyani, sudah barang lama. Bahkan Presiden sudah bentuk Satgas, ada Kompolnas, Irjen, semua tak berjalan, buat apa? Kami sudah patah arang, sebab secara mental tindakan pejabat itu tidak menyentuh substansi,” ujarnya.
Bangsa Malu
Pendapat senada lainnya dilontarkan pakar hukum pidana Yenti Ganarsih. Dia menilai survei yang dilakukan oleh PERC telah membuat malu bangsa Indonesia. Karena negara ini masuk dalam negara 10 besar terkorup se-Asia. Sehingga hal ini akan berpengaruh terhadap perkembangan bisnis dalam waktu ke depan. “Sebab secara otomatis pihak investor akan berpikir ulang jika ingin menanamkan modalnya ke negeri ini,“ jelasnya.
Yenti mengatakan, sebenarnya inti dari korupsi ada pada titik penyuapan. Sebab secara sadar atau tidak sadar penyuapan sering terjadi di tingkatan pebisnis. Salah satu contoh, jika pengusaha ingin memenangkan tender proyek, maka seringkali melakukan penyuapan tehadap tingkat birokrasi pemerintahan yang terkait.
“Sehingga sering sekali pelaku usaha melakukan segala macam cara untuk memenangkan suatu proyek. Namun, justeru yang mereka lakukan berdampak buruk terhadap investor asing yang ingin masuk menanamkan modalnya,“ jelasnya.
Sebelumnya lembaga riset asing PERC mengumumkan hasil riset pemeringkatan sejumlah negara di Asia pada Maret tahun ini. Dari 14 negara, Indonesia menduduki di peringkat 10 dengan skor 8,32 (terburuk). Menyusul kemudian Thailand dengan skor 7,63, Kamboja (7,25), India (7,21) dan Vietnam dengan skor 7,11.
Riset terhadap 1.700 responden pelaku bisnis menempatkan Filipina yang menjadi negara terkorup tahun 2008 ke peringkat keenam dengan skor 7,0. Sebaliknya, Singapura berada di urutan pertama dengan mendapat skor 1,07. Disusul Hongkong dan Australia masing masing mendapat skor 1,89 dan 2,4. Ketiganya menempati tiga besar negara terbersih. Khususnya, Amerika Serikat menempati urutan keempat dengan skor 2,89 sebagai negara terbersih versi PERC.
Yenti menilai, kemudian lembaga pemerintahahan yang harus dibenahi yaitu lembaga perpajakan. Sebab sering sekali lembaga tersebut mendapatkan penyuapan dari kalangan pengusaha. Intinya adalah investor asing tidak akan mau menanamkan modalnya jika negara tersebut bermasalah dalam hal perpajakan.
“Sebab di negara asing pebisnis paling takut jika berhadapan dengan urusan pajak. Maka secara otomatis jika pihak pajak bermasalah investor asing akan tidak mau memasukan dananya ke negeri ini,“ ujarnya.
Hal senada juga disampaikan pengamat ekonomi Iman Sugema. Dia menilai, dengan masuknya Indonesia sebagai negara terkorup itu hal yang biasa. Bahkan ini akan berdampak buruk terhadap investor yang akan masuk. “Hal ini akan menyebabkan investor yang masuk akan lebih sedikit dari yang biasanya. Dan ini akan berpenbgaruh tehadap perkembangan usaha yang sudah ada, “ pungkasnya.
Menanggapi pemeringkatan oleh Kementerian PAN, pengamat ekonomi dari Indef M. Iksan Modjo mengatakan, rating yang dikeluarkan Kemen-PAN tidak berdasar. Menurut dia, jika Menpan ingin membuat rating terhadap lembaga pemerinahan minimal ada dua indikator.
Pertama, Kemen-PAN harus melihat kembali kasus-kasus korupsi yang telah dibuatnya. Kedua, harus melihat apa saja yang telah diberikan kepada pemerintah oleh lembaga tersebut. Berapa penghasilan atau dana yang diberikan terhadap pemerintah baik dari pajak ataupun penghasilannya. ”Dengan melihat dua indikator tersebut saya kira yang mendekati adalah Bank Indonesia (BI). Walaupun BI telah melakukan kesalahan pada kasus Bank Century tetapi kesalahan tersebut dikarenakan faktor dari pribadi seseorang,” katanya. har/ibnu
(har/ibnu)

 

cara mencapai +60% (harga, LOT) 13 Agustus 2017

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 12:26 am

sasaran 60% by trading saham

BLACK box, proses itu PENTING @ maen saham

bahkan dalam dunia yang sempurna pun, selalu ada ketaksempurnaan aka noda. noda itu membuat semua kesempurnaan menjadi sulit diterima dengan sempurna.

sempurna itu bila semua rencana berjalan lancar n akhirnya sasaran tercapai pas sperti ekspektasi pra trading.

noda itu perubahan tren harga slalu terjadi n tak sesuai dengan rencana trading sama sekali. noda itu membuat trading berjalan LEBE LAMA n LEBE RUMIT. namun sebagai trader, gw punya waktu 1 taon untuk mewujudkan rencana sasaran PG% + 60%. NODA sekental apa pun n seluas apa pun bukan menjadi HALANGAN SEMPURNA bwat rencana trading saham gw.

seluas-luasnya noda, kesempurnaan maseh akan lebe luas. kesempurnaan bisa menutupi noda ketaksempurnaan pada akhirnya, bila gw konsisten bertrading saham secara sistematis.

bertrading saham secara sistematis merupakan cara yang pas bwat meraup imbal hasil trading saham, yang setidaknya mendekati sasaran 60%.

trading: beli n jual. lot bisa menjadi nihil, bisa juga tetap tersisa (saldo).

sistematis: direncanakan, diriset, n dimodali secara terukur.

imbal hasil: hasil penjualan saham secara total yang mencakup laba, terukur dalam persentase terhadap modal awal.

rencana trading: jual – beli = + 60% terhadap modal awal.

riset trading: baca fundamental saham, grafik teknikal analisis saham, baca fundamental ekonomi, n baca psikologi pasar saham saat itu.

modal: sisihkan dana guna pembelian saham. dana tunai gw itu 100%, nah dana untuk modali saham cukup 10% aza, karna dana sebesar itu untuk TRADING, bukan investasi (yang bisa mencapai 30%).

jadi sistematisasi trading saham itu BLACK BOX dalam meraup imbal hasil sasaran +60% p.a.

 

strategi saat trad1ng NAEK atawa TURUN , info IHSG sehari-hari 12 Agustus 2017

Filed under: Investasi Umum — bumi2009fans @ 12:06 pm

strategi TRADING ITU LEBE JITU DARIPADA INVES AZA
analisis ITU PENTING bwat trader / investor, setiap hari malah @ IHSG

JAKARTA okezone- Dalam beberapa waktu terakhir, muncul tren baru yaitu pergeseran konsumsi masyarakat kepada investasi. Pola baru ini lantas menyebabkan apa yang disebut sekarang sebagai pelemahan daya beli masyarakat. Analisa tersebut disampaikan oleh Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurut Nicky, kondisi ini ditandai oleh adanya peningkatan jumlah investor lebih dari 20%, disertai dengan penambahan jumlah investor yang melakukan transaksi sepanjang enam bulan pertama 2017.
BERITA REKOMENDASI
Transaksi Meningkat hingga 50%, Bukti Masyarakat Sering Belanja Online!
“Belanja Kurang Tidak Berarti Daya Beli Turun”
Catat! Daya Beli Tak Turun, BPS: Buktinya Masyarakat Sering Belanja Online
“Saya jadi bisa berasumsi ada pergeseran masyarakat yang konsumsi menjadi investasi,” ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta (11/8/2017). Baca Juga:
Soal Daya Beli, Sandiaga Uno: Bukan Hal yang Mengkhawatirkan
Daya Beli Tidak Turun tapi Masyarakat Tahan Belanja demi Eksis di Medsos, Ini Penjelasannya!
Adanya pergeseran pola masyarakat kepada investasi, dikatakan Nicky tidak akan berpengaruh kepada pertumbuhan sektor riil. Terlihat dari laporan kinerja keuangan yang dirilis oleh perseroan sepanjang semester I. Nicky juga mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar 5,01% terbilang bagus. Meskipun cenderung bertahan dari pertumbuhan di kuartal pertama 2017. Baca Juga:
Penjualan Mobil Naik, Bukti Daya Beli Indonesia Tak Turun!
“Kita bandingkan dengan negara lain di dunia, pertumbuhan ekonomi di atas 5% itu tinggi,” jelas dia. Sekadar informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan pertumbuhan konsumsi rumah tangga di kuartal II yang tumbuh 4,95%. Angka ini jauh lebih rendah bila dibandingkan periode yang sama pada 2016 yaitu sebesar 5,07%.
(kmj)